Tag Archives: #buletinivaa_Juli2020

Tentang Jagat Perayaan Akhir-akhir Ini

Tentang Jagat Perayaan Akhir-akhir Ini
Fragmen Jejak Vol. 4 | Buletin IVAA Dwi Bulanan | Juli-Agustus 2020

Halo para pembaca yang budiman!

Meski cukup terlambat, akhirnya newsletter IVAA edisi Juli-Agustus 2020 terbit juga. Mohon maaf untuk perkara ini. Walau demikian, keterlambatan kami cukup terkait dengan tema yang sedang diusung. Tentang jagat perayaan akhir-akhir ini. Kalau rekan-rekan mampir ke IVAA, suasana yang agak semrawut jadi pemandangannya. Barangkali seperti rekan-rekan pegiat kebudayaan yang saat ini sedang tergopoh menyiapkan beragam perayaan, mengejar tenggat waktu, susah payah kompromi dengan nalar tutup buku. Sudah biasa sebenarnya untuk konteks semester kedua. Namun, jadi tidak biasa ketika masih berdampingan dengan wabah Corona. 

Keriuhan yang tidak biasa itu menjadi tema yang kami usung. Berbeda dengan edisi kemarin (Mei-Juni) yang lebih menyoroti ragam siasat bertahan medan seni-budaya, kali ini kami mencoba menerka perubahan dan kecenderungan apa yang muncul dari perayaan-perayaan yang nyatanya tetap digelar. 

Ulasan-ulasan itu dapat rekan-rekan baca dari subrubrik Sorotan Dokumentasi, Sorotan Arsip, dan rubrik Baca Arsip. Secara khusus, untuk Baca Arsip, kami memuat tulisan dari Nurfadillah tentang ritus Menre Bola Baru masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan. 

Tak lupa kami tetap menyoroti beberapa buku baru koleksi perpustakaan IVAA melalui Sorotan Pustaka. Dua buku karangan Suwarno Wisetrotomo, yaitu Kuratorial dan Ombak Perubahan, serta Pasfoto Sang Iblis karangan Sanento Yuliman.  Juga, tak kalah menarik cerita singkat kami yang sedang asyik pingpong-an dalam Agenda Rumah IVAA. 

Semoga edisi ini jadi teman waktu luang yang menyenangkan. 

Selamat membaca!

Krisnawan Wisnu Adi.

*Foto sampul adalah dokumentasi karya berjudul “VIP – Festival”, dari Anton Adinugroho dalam Pameran Jakarta 32° C tahun 2006.


I. Pengantar Redaksi
oleh Krisnawan Wisnu Adi

II. Kabar IVAA
Sorotan Dokumentasi
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi dan Lisistrata Lusandiana
Perayaan Akhir-akhir Ini: Sebuah Impresi Awal

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa Werdoyo, Krisnawan Wisnu Adi, Lisistrata Lusandiana, dan Sukma Smita

Sorotan Arsip
Oleh Hardiwan Prayogo

III. Agenda Rumah IVAA
Oleh Edy Suharto

IV. Baca Arsip
Oleh Nurfadillah


Pemimpin Redaksi: Krisnawan Wisnu Adi
Redaktur Pelaksana: Krisnawan Wisnu Adi
Penyunting: Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi
Penulis: Sukma Smita Brillianesti, Edy Suharto, Santosa Werdoyo, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi, Lisistrata Lusandiana
Kontributor: Nurfadillah
Dokumentasi: Dwi Rahmanto
Tata Letak: M Fachriza Ansyari

Perayaan Akhir-akhir Ini: Sebuah Impresi Awal

oleh Krisnawan Wisnu Adi dan Lisistrata Lusandiana

Biasanya semester kedua itu dipenuhi oleh perayaan-perayaan seni-budaya, entah pameran, pertunjukan, seminar, festival dan lain-lainnya. Juga, semester kedua identik dengan bulan-bulan wisata. Banyak wisatawan mancanegara maupun domestik yang piknik menikmati waktu luang. Wisata dan perayaan seolah menjadi paket liburan yang menyenangkan. 

Wabah corona kemudian memukul berat dunia perayaan dan wisata sejak awal 2020. Meski begitu, pada semester kedua ini suasananya agak beda. Wisata memang masih belum seramai biasanya, tapi tidak untuk perayaan. Ada beberapa hajatan seni-budaya yang tetap digelar dengan menyesuaikan situasi yang serba terbatas. Sebagian besar mengandalkan wahana daring, sebagian lainnya mencoba luring. Dua-duanya seolah sama-sama gagap. Yang daring susah payah mengupayakan komunikasi virtual secara maksimal, yang luring kesulitan menghadapi publik yang tidak sepenuhnya menerapkan protokol kesehatan dan pendaftaran kunjungan. 

Kami cukup penasaran, membayangkan bagaimana perayaan yang biasanya dipenuhi kerumunan orang di suatu tempat tertentu, harus berhadap-hadapan dengan perubahan saat ini. Dinamika keruangan macam apa yang muncul? 

Merayakan Yang Virtual

Festival Sumonar bisa dibilang cukup getol menyambut perubahan sosial akhir-akhir ini. Secara khusus, melalui tema ‘Mantra Lumina’ (5-13 Agustus 2020) festival seni cahaya ini mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan baru dari ruang maya. Kemungkinan baru yang dimaksud adalah interaktivitas. 

Melalui “Optimisme dalam Hiperteks” dalam e-katalognya, Sujud Dartanto sebagai kurator mengurai bahwa acara ini bukan acara dokumentasi dari karya-karya yang terekam, namun, melalui wahana ‘online’ ini makna ritual akses sesungguhnya sudah berbeda dengan ritual akses dalam cara ‘offline’. Ritual akses secara ‘online’ menandai cara mengada (ontologi) acara ini yang berbeda dengan cara mengada ‘offline’. Cara mengada berdampak pada bentuk presentasi dan interaksi yang terjadi. Pengakses akan membuka laman situs, berselancar di dalamnya, dan menikmati karya-karya ‘architectural projection/ video mapping’ dan instalasi cahaya dengan kebebasan melakukan ‘play’ kapan saja, di mana saja. 

Festival Sumonar memandang kultur digital macam ini sebagai peluang dan inspirasi dari keniscayaan perubahan. Menegaskan pengalaman estetika baru, ketika karya bisa terus direproduksi, disebarkan secara massif, dan bahkan direspon oleh pengunjung. 

Galeri Nasional melalui pameran dua tahunannya, Manifesto, juga tak kalah ketinggalan merespon perubahan besar ini. Untuk perayaan Manifesto VII (8 Agustus-6 Desember 2020), Galeri Nasional menggelar pameran daring bertema ‘Pandemi’ yang menyuguhkan 217 karya video dari 204 peserta lolos seleksi. Semua berupa karya video. Melalui pameran ini, Galeri Nasional ingin melebarkan sebaran peserta pameran. Selain mereka yang punya karir seni, boleh mengirimkan karya. Harapannya, Manifesto VII mampu menjadi saksi sejarah, menandai zaman. 

Serentak virtual nampaknya jadi pemantik untuk mempertegas kultur teknologi era 2000-an ini. Bicara soal itu, ada tulisan menarik dari Antariksa, Nuraini Juliastuti dan Djudjur T. Susilo (2000) berjudul “NetArt: Penyelidikan Awal”. Tulisan yang dibuat untuk acara diskusi NetArt di Galeri Benda Yogyakarta pada 12 Juni 2000 ini bicara soal virtualitas dalam konteks pertemuan internet dan seni. 

Dengan merujuk gagasan Nicholas Mirzoeff, mereka menulis bahwa virtualitas merupakan ruang yang tidak nyata tapi tampak (that is not real but appears to be). Sesuatu yang berada di antara, seperti halnya ketika kita sedang bertelepon. Peralihan dari realitas eksternal tiga dimensional ke realitas internal poli-dimensi. Dalam konteks ruang sosial pameran, peralihan ini bergerak dari ruang sosial di mana pengunjung dapat mengakses karya (virtual antiquity), lalu representasi dari karya (pictorial space), hingga ruang mental pengunjung ketika representasi bertemu persepsi. 

Seiring berjalannya waktu, virtualitas bergeser dari ruang mental ke ruang arsitektur virtual, utamanya ketika internet hadir. Perbedaan menonjol terletak pada interaksinya. Pengunjung punya kontrol untuk merespon karya. Pengalaman estetik bukan lagi perihal kontemplasi, melainkan aksi. Otentisitas dan orisinalitas sang seniman diruntuhkan. 

Sepertinya menarik kalau kita coba hadapkan penyelidikan awal 20 tahun silam itu dengan fenomena hari ini. Mari kita lihat kembali Festival Sumonar. Ada sekitar 25 seniman yang terlibat: 11 untuk projection mapping dan 14 untuk instalasi cahaya. Semua karya itu ditampilkan secara daring melalui website Festival Sumonar. Jika kita lihat dengan paradigma virtualitas dalam pengertian ruang arsitektur virtual, kebebasan pengunjung memang menonjol. Kita dapat leluasa menentukan kapan akan menyaksikan karya-karya tersebut. Ruang pamer virtualnya pun begitu artifisial; berdiri di tengah perempatan 0 km Jogja melalui layar, bebas mau dari kiri atau kanan sembari memilih ruang mana yang mau kita tengok. Festival Sumonar nampak betul-betul menyambut perubahan besar ini secara serius. Mereka membangun secanggih mungkin arsitektur ruang virtualnya. 

Akan tetapi dalam hal interaksi dengan karya, setidaknya hanya ada satu karya yang betul-betul menunjukkan aspek itu. “E-xorcism: A Self Digital Exorcism” dari Krack Studio. Karya berwujud video ini menampilkan ‘mantra’ yang diambil dari percakapan keseharian yang disesuaikan dengan aura pengunjung. Masing-masing penglihat akan melihat warna aura yang berbeda, begitu pula mantra-mantra dan musik yang muncul setelah mengklik tombol ‘interact with artwork’. Namun, jika kita cermati keseluruhan karya dalam pameran ini, rasa-rasanya belum menciptakan interaktivitas yang betul-betul melahirkan reproduksi lanjut oleh pengunjung. Seolah, Festival Sumonar belum terlalu ikhlas kalau orisinalitas karya dicabut begitu saja. Memang ini perkara rumit, apalagi berkaitan dengan teknologi digital yang butuh kemahiran berbeda dari produksi seni non-NetArt. 

Manifesto VII dari Galeri Nasional, meski juga ada dalam posisi yang sama, punya fokus yang agak lain. Mereka memanfaatkan metode daring untuk menghapus sekat antara seniman profesional dengan yang bukan. Ada karya-karya yang dibuat oleh dokter, guru, pegawai, ibu rumah tangga, perawat dan pelajar. Tepat sekali kalau gebyar virtual ini dipandang sebagai momen menghapus sekat. Akan tetapi entah kenapa hanya karya berbentuk video yang diterima. Argumen ‘mengutamakan durasi’ seperti yang dijelaskan di pengantar-pengantarnya terasa kurang meyakinkan, dan agak bertabrakan dengan kemungkinan-kemungkinan lain dari wacana seni dan internet. 

Dua perayaan di atas, dan mungkin juga beberapa perayaan lainnya, menyambut ‘yang virtual’ secara lebih tegas. Jika perubahan ini menjadi rezim ke depan, nalar keruangan seni tentu akan semakin kompleks. Memang, interaktivitas baru sebagai kemungkinan yang dibayangkan mungkin belum sepenuhnya NetArt, kalau meminjam gagasan dalam tulisan Antariksa dkk. Akan tetapi, atas nama eksperimentasi seni, perayaan ‘yang virtual’ ini sangat patut diapresiasi. 

Arus Balik: Refleksi dan Kritik atas Ruang yang Timpang

Tak semua perayaan getol menyambut gebyar virtual. Ada beberapa perayaan yang bergerak dengan dinamika keruangan yang berbeda. 

ArtJog dengan tema ‘Resiliensi’ mencoba menempatkan hajatan pada 2020 ini sebagai momentum refleksi, memikirkan ulang perjalanan mereka selama 12 tahun. “Kami memberanikan diri untuk menyelenggarakan lagi bukan karena latah untuk mengikuti tata kebiasaan baru. Festival tahun ini tidak hanya didasari oleh keinginan untuk bangkit, tapi lebih pada upaya untuk menguji kembali ketahanan kita, melihat lagi apa-apa yang sudah kami capai sebagai sebuah festival yang telah 12 tahun berjalan. Kami juga ingin melihat apa yang bisa kami perbuat di tengah situasi yang masih tidak menentu ini. Kami harus bisa beradaptasi dengan berbagai keadaan, bahkan di masa yang sulit sekalipun”, ungkap Heri Pemad dalam press release

Selain menggunakan platform online untuk menampilkan karya, mereka tetap menyiapkan mekanisme pameran secara fisik di Jogja National Museum dengan protokol kesehatan. Nampaknya mereka belum mau terlalu yakin bahwa ruang arsitektur virtual betul-betul menjamin pengalaman estetik. Pembauran luring dan daring jadi pilihan.

Kehati-hatian mereka ini begitu nampak dari pembukaan pamerannya. Dikemas dalam bentuk videotaping, sudut-sudut ruang Jogja National Museum tetap menjadi latar tempatnya, bukan green screen. Diawali dengan ruang demi ruang yang kosong, pernyataan dan sambutan dari kurator, seniman, hingga pejabat pemerintah dipantulkan ke tembok menggunakan proyektor. Elemen fisik seolah tetap ingin dihadirkan, sebagai kehati-hatian sekaligus kerinduan. 

Sikap untuk tidak terburu-buru itu semakin dipertegas dengan refleksi yang muncul dari beberapa seniman yang bicara. Salah satunya adalah Ugo Untoro, “Karya seni memang tidak bisa langsung berhubungan atau memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Sekarang ketika perkembangan teknologi demikian cepatnya, saya melihat ada gejala makin menjauhnya perupa dengan masyarakatnya. Perupa lebih banyak terlibat atau melibatkan diri dalam art market daripada melibatkan diri dengan masyarakat, walaupun ada beberapa komunitas yang turun langsung ke masyarakat.” Di tengah gebyar virtual ini, ArtJog mengajak publik seni untuk selain berefleksi juga mengkritik jagat seni itu sendiri. 

Sikap yang lain juga muncul dari kolaborasi biennale (Jakarta, Jogja, dan Makassar). Ketika solidaritas global dielu-elukan bersamaan dengan gebyar virtual yang serentak, mereka tetap mencoba untuk mengajukan kritik atas internasionalisme. Kritik yang sempat panas pada awal masa pandemi mereka teruskan melalui jalan kesenian. Secara spesifik tawaran ini muncul dari narasi yang dibawa oleh Biennale Jogja dan Makassar Biennale. Kalau Jogja mengusulkan ‘menggeser pusat’ dari ketimpangan sumber daya alam dan ekonomi dunia (melanjutkan agenda Biennale Equator-nya), Makassar mengajak merespon lebih lanjut praktik-praktik pengobatan lokal yang muncul kembali sebagai tanda kerentanan sistem global. Jakarta, lebih menarik problem pandemi ini ke ranah yang luas, seperti disrupsi digital, krisis lingkungan, hak asasi manusia, dsb. 

Semacam arus balik, tak mau terburu-buru menyambut virtualitas baru. Entah karena memang tak mau dicap latah atau tidak, perayaan-perayaan dalam wilayah ini justru ingin mengajak publik untuk merayakan optimisme dengan cara lain. Bahwa ada persoalan ketimpangan dan perebutan ruang yang terus bergulir, seiring dengan gerak maju kultur teknologi digital. 

Berada di frekuensi yang sama, beberapa bulan yang lalu (Juni hingga pertengahan Agustus 2020) juga telah digelar Kongres Kebudayaan Desa di Panggungharjo, Bantul, DIY. Acara ini digelar oleh Sanggar Inovasi Desa yang bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemendesa (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), dan GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit). Pandemi memantik inisiatif perlawanan dan perumusan tatanan baru kemasyarakatan. Desa menjadi titik awal gerakan ini, karena desa diyakini sebagai entitas terdekat dengan pemerintahan. 

Berawal dari riset dan diperkaya dengan serangkaian diskusi webinar, kongres ini berupaya untuk membayangkan tatanan baru yang berangkat dari desa dengan segala persoalannya. Langkah konkret yang disasar adalah pembentukan RPJMDes. Festival Kebudayaan Nusantara sebagai sebuah perayaan juga digelar untuk memeriahkan niat ini, sekaligus menguatkan representasi desa-desa sebagai ruang yang dipinggirkan. 

Kita tahu bahwa desa sempat mendapatkan angin segar dengan adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014. Bertriliun-triliun uang digelontorkan untuk mendukung gerak hidup masyarakat desa yang telah lama terpinggirkan. Bukan tanpa persoalan, kehadiran UU itu juga tak menyiutkan jumlah kasus korupsi di birokrasi pemerintah desa. Ditambah lagi, perkembangan infrastruktur dan pemasukan dari sektor wisata seolah sudah sah mewakili inisiatif dari bawah. 

Melalui Kongres Kebudayaan Desa, warga berupaya untuk mendobrak tekanan-tekanan ini, menempatkan kembali desa sebagai subjek negara. Tak hanya mengutamakan sektor wisata dan infrastruktur, problem kesenian dan ruang turut dibicarakan. Salah satunya, dalam diskusi webinar “Mengkonstruksi Ulang Alam Pikiran Nusantara sebagai Basis Peradaban dan Tata Nilai Indonesia Baru” pada 6 Juli 2020, Rachmi Diyah Larasati mengutarakan opininya yang relevan dengan konteks perayaan dan dinamika keruangan saat ini. Bahwa seni dalam konteks gebyar virtual harus betul-betul dicermati; seberapa jauh mampu menjawab tantangan di dalam konteks konstituen desa. 

Setidaknya ada dua kecenderungan. Pertama, perubahan sosial yang ditandai dengan serentak virtual disambut dengan cukup tegas. Bahwa kultur teknologi digital sebagai keniscayaan harus ditanggapi dengan pencarian segala kemungkinan. Ruang arsitektur virtual menjadi eksperimentasi awal untuk mengupayakan interaktivitas baru dalam jagat perayaan kebudayaan. Meski, kecurigaan-kecurigaan soal klaim, latah, dan lain-lainnya tetap penting untuk mengawal hasrat ini. Kedua, lebih pada suasana peralihan, perubahan sosial ini ditanggapi dengan begitu hati-hati. Bahwa wacana dan praktik alih wahana tak melulu soal ruang arsitektur virtual, melainkan juga persoalan ruang sosial yang timpang hingga kritik atas ekosistem seni itu sendiri yang jangan-jangan memang bobrok, arogan tapi rentan. 

Masing-masing perayaan mungkin sudah menentukan posisinya yang beda satu sama lain. Yang jelas, ada satu benang merah. Semegah atau secanggih apapun perayaannya, persoalan kedekatan dunia seni-budaya dengan ruang sosialnya akan terus jadi pekerjaan rumah, tak cukup hanya jargon. Kurang lebih seperti itulah impresi awal kami setelah mencermati perayaan dan dinamika keruangannya akhir-akhir ini. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Hibah Pustaka dan Arsip

oleh Santosa Werdoyo

Koleksi perpustakaan IVAA, bisa diperoleh dari membeli buku atau menerima hibah. Pembelian buku baru akan berdasar pada kebutuhan penelitian hingga melengkapi referensi dan literatur, yang berkait dan memperdalam wawasan seni-budaya. Sedangkan hibah diperoleh dari kolega dekat IVAA, baik dari perorangan maupun lembaga. 

Hibah pustaka dan arsip bulan Juli-Agustus 2020 dari Melani Setiawan dan Irsan Aditya. Irsan adalah lulusan Pendidikan Seni Kerajinan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pernah mengikuti program magang di IVAA tahun 2015 silam. Irsan sekarang menjadi  guru Seni dan Budaya di MTS Negeri 1 Kendal, Jawa Tengah. Sumbangan dari Irsan berjumlah 29 buku. Empat belas di antaranya berkenaan dengan buku pendidikan untuk tingkat SMA. Selain itu juga ada beberapa buku pegangan tentang kriya keramik dan batik tingkat mahasiswa/ perguruan tinggi. Tentu buku ini dihibahkan tidak hanya agar dirawat lebih baik, tetapi juga pengetahuan di dalamnya bisa diakses orang lebih banyak. Terlebih koleksi pustaka IVAA terkait tema kriya keramik dan batik memang belum terlalu banyak.

Sedangkan hibah dari Melani Setiawan berupa jenis arsip yang beragam. Di antaranya, 49 kliping yang bersumber dari majalah dan surat kabar. Selain itu juga ada beberapa arsip undangan dan 9 katalog pameran seni rupa. Hibah katalog dari Bu Melani ini berasal dari dalam dan luar negeri, seperti Hongkong, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Australia, Belanda dan beberapa dari Amerika Serikat.

Bicara mengenai koleksi katalog, sebaran yang dimiliki IVAA memang masih didominasi koleksi dari Yogyakarta. Maka dari itu, katalog hibah sangat membantu IVAA untuk  bisa menjangkau koleksi dari wilayah yang lebih luas. Mengoleksi katalog juga merupakan langkah yang penting mengingat di dalamnya terdapat berbagai potensi pengetahuan. Mulai dari catatan atau pengantar kuratorial, profil seniman, hingga dokumentasi dan deskripsi karya. Memang setiap katalog memiliki kelengkapan informasi yang berbeda-beda. Tetapi kehadirannya tetap penting sebagai bagian dari arsip-arsip ephemera.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Tegur Sapa untuk Pak Warno

Judul : KURATORIAL Hulu Hilir Ekosistem Seni
Penulis : Suwarno Wisetrotomo
Editor : Desy Novita Sari
Penerbit : Penerbit Nyala
Tahun terbit : 2020
Resensi oleh : Krisnawan Wisnu Adi

Saya belum pernah menjadi murid Suwarno Wisetrotomo. Tapi ketika baca buku ini, saya merasa sejenak ikut kelas Pak Warno untuk mata kuliah Kuratorial, jurusan Tata Kelola Seni. Bagaimana tidak, buku ini berisi kumpulan penjelasan tentang kuratorial, mulai dari apa itu kurator, bagaimana kerjanya, hingga kiat sukses menghadapi kritik. Sangat cocok untuk siapa saja yang baru pertama kali tahu istilah kurator dan ingin mengenalnya lebih jauh. 

Apa saja isinya? Saya tidak akan mengulas semuanya. Kalau ingin tahu detailnya, silakan beli buku ini. Cukup dengan 70 ribu rupiah, teman-teman bisa mendapatkannya di IVAA Shop. Oleh karena itu, tulisan ini lebih merupakan tegur sapa saya sebagai pembaca atas isi buku, seperti yang diharapkan Pak Warno melalui Pengantar-nya. 

Buku ini dibagi ke dalam 6 bab: “Kurator dan Tata Kelola Seni”, “Seni dan Ekosistemnya”, “Kurator dan Produknya”, “Kurasi dan Pendekatannya”, “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”, serta “Kurator dan Masa Depannya”. Pada bab “Kurator dan Tata Kelola Seni”, Pak Warno begitu menekankan pentingnya merumuskan tata kelola seni ala Indonesia. Urgensinya adalah ketika tata kelola seni modern semakin meminggirkan praktik-praktik gotong royong, yang menurut beliau menjadi basis penting model tata kelola seni kita. Sejak dari bab ini, saya sudah lumayan ragu dengan gagasan itu. Jangan-jangan tata kelola seni ‘gotong royong’ yang dibayangkan tidak bisa jauh dari kontrak sosial, sebuah konsep klasik tentang dasar pembentukan komunitas politik modern. Keraguan ini sebenarnya berkaitan dengan apa yang disampaikan di Pengantar; bahwa penting melihat dengan saksama praktik tata kelola seni model ‘kita’, dengan mengedepankan profesionalitas, efektivitas, efisiensi, transparansi, dan tanggung jawab. Jelas itu semua atribut modern. 

Lanjut pada bab “Seni dan Ekosistemnya”, Pak Warno banyak menulis tentang perbedaan seni modern dan kontemporer. Ia juga menekankan pentingnya tata kelola seni yang mumpuni, seiring dengan perkembangan ekosistem kesenian yang makin beragam juga kepentingannya. Tak luput juga secara khusus mengulas kritik seni. Bahwa sekarang medan seni lebih suka menghindari perdebatan. Para perupa cenderung tidak membaca kritik seni, dan akhirnya kritik seni sepi peminat. 

Dalam hal atribut identitas, mungkin memang tidak banyak atau belum ada yang mendaku diri sebagai kritikus seni. Tapi dalam hal praktik, saya kira aktor-aktor medan seni cukup gemar berkritik ria. Hanya saja, kadang sulit membedakan mana yang kritik seni, mana yang kritik populer. Yang kedua bisa disebut sebagai penghalusan dari praktik nyinyir cum sentimen personal. 

Pak Warno menganalogikan kurator itu seperti konduktor dalam sebuah orkestra. Layaknya konduktor, kurator adalah ujung tombak sebuah pameran atau pertunjukan seni. Karena itu, kurator harus memenuhi standar ideal. Paparan ini begitu nampak pada bab “Kurator dan Produknya”, “Kurasi dan Pendekatannya”, serta “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”. Apa saja syarat menjadi seorang kurator, bagaimana bentuk ideal produknya, serta langkah-langkah menyusun pameran, semua dibahas di sini. 

Sangat modern, profesional dan formal nampaknya menjadi impresi yang saya dapat dari paparan tersebut. Misal, pada bab “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”, ada beberapa indikator untuk keberhasilan suatu perhelatan seni. Mulai dari jumlah pengunjung, jumlah liputan media massa, polemik yang muncul, serta serapan pasar (jika memang komersil). Cukup kontradiktif dengan gagasan awal, bahwa buku ini dimaksudkan sebagai bagian dari upaya merumuskan tata kelola seni yang Indonesia banget (baca: Indonesia yang alamiah), tidak jauh dari konsep dan praktik gotong royong. Saya justru membayangkan, anggota tim manajemen yang bebas dari kambuhnya asam lambung selama proses kreatif, juga indikator keberhasilan yang penting. 

Meski demikian, saya setuju dengan pernyataan beliau tentang manajemen konflik pada bab “Kurasi dan Pendekatannya”. Utamanya konflik ketika menghadapi kebobrokan anggota tim manajemen yang meraih keuntungan pribadi di tikungan proses, serta ketika menghadapi segala bentuk kritik. Kita tahu, bahwa perhelatan seni-budaya sudah umum menjadi rutinitas untuk mengawinkan kepentingan serapan anggaran serta komodifikasi sana-sini, banyak mafia bertopeng pegiat seni yang siap menikung. “Langkah terbaik adalah tim manajemen mendepak dari tim kerja, karena akan merusak tatanan dan tujuan.” 

Soal bagaimana kurator menghadapi kritik atas suatu perhelatan, ada satu hal yang saya rasa luput. Memang, “jangan grogi dan hiraukan kritik bernada sentimen personal” menjadi pesan beliau. Tapi pesan itu secara khusus dirancang untuk menghadapi kritik yang dilemparkan melalui kanal-kanal formal seperti media massa atau forum diskusi. Bagaimana dengan kritik nyinyir netizen? Menurut saya ini penting, karena tentu banyak calon kurator muda generasi kini yang semakin sering menjumpai modus kritik demikian. Tidak semudah itu diabaikan seperti saran Pak Warno. Model manajemen konfliknya berbeda. Tidak lucu kalau mereka jadi depresi, sakit mental, amit-amit bunuh diri karena urusan seni-senian.

Pak Warno menutup buku ini dengan bab “Kurator dan Masa Depannya”. Kalau ditilik dari sub judul buku, “Hulu Hilir Ekosistem Seni”, saya membayangkan bahwa bab terakhir akan cenderung berarus tenang dan tak banyak bebatuan besar. Layaknya hilir sungai sebelum menuju ke laut lepas. Tapi ternyata tidak. Beliau justru memilih melemparkan perahunya ke samudera. Wabah Covid-19 menjadi ombak-ombak besarnya sekaligus titik perubahan tata kelola seni. Kurator harus menyesuaikan diri. 

Sebagai pembaca yang juga belum lama mengenal istilah kurator, saya jadi makin ragu dengan berbagai materi kuliah Kuratorial dan wejangan-wejangan Pak Warno dalam buku ini. Tapi saya, dan mungkin teman-teman sekalian, perlu untuk membaca buku beliau selanjutnya, Ombak Perubahan: Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan. Barangkali ada cerita menarik tentang bagaimana perahu kuratorial menerka gelombang samudera. 

Sekian tegur sapa dari saya. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Cek Ombak (Perubahan)

Judul Buku : Ombak Perubahan: Problem Sekitar Seni dan Kritik Kebudayaan
Penulis : Suwarno Wisestrotomo
Penerbit : Nyala
Tahun Terbit : 2020
Resensi oleh : Sukma Smita

Perubahan, satu kata yang sungguh populer beberapa dekade belakangan. Reformasi 1998 menandai perubahan sistem pemerintahan Indonesia. Perkembangan teknologi turut mendorong perubahan perilaku hidup masyarakat. Termasuk digunakannya kembali istilah Revolusi Mental oleh pemerintah saat ini, seturut diikuti jargon Revolusi Teknologi, Reformasi Birokrasi dan sebagainya. Hingga hari ini, wabah Covid-19 ikut mendongkrak popularitas diksi ‘perubahan’ pada level tertinggi. Bulan demi bulan sepanjang tahun 2020 tidak dilalui dengan hal yang bisa dikatakan sebagai rutinitas. Semua orang harus berjaga-jaga untuk memulai hal baru. Selalu bersiap untuk beradaptasi pada tata kebiasaan yang sewaktu-waktu berubah. 

“Ombak Perubahan”, adalah judul utama buku. “Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan” lalu menggenapinya sebagai sub judul buku karya Suwarno Wisetrotomo ini. Pada bagian sampulnya, ada lukisan Entang Wiharso, yang dalam pengantar buku dituliskan bahwa karya tersebut mampu mengilustrasikan situasi saat ini yang penuh gejolak, mampu menggarisbawahi berbagai gelombang yang bergulung-gulung di sekitar dunia seni dan budaya hari ini.

——

Suwarno mengilustrasikan situasi seni dan budaya kita sebagai laut lepas, samudra yang tidak lepas dari berbagai ombak dan badai. Buku ini bermula dari obsesi Suwarno untuk melanjutkan diskusi pidato orasi yang disampaikan dalam Dies Natalis ISI Yogyakarta. Dengan huruf tebal, ia juga menyebut bahwa orasi tersebut diwarnai dengan spirit mencambuk atau secara sarkastis dibilang menghardik para dosen dan generasi muda. Bermula dari orasi, diteruskan menjadi buku yang dibagi dalam beberapa judul-judul pembahasan.

Memasuki halaman buku, pada bagian pengantar dan prolog saya merasa sedikit terasing. Buku ini merupakan bukti cinta kepada seluruh warga ISI Yogyakarta, begitu Suwarno menuliskannya. Dari dua sub bab tersebut, saya sempat merasa bahwa sebagai orang yang hanya berteman dengan mahasiswa ISI Yogyakarta, tidak ada rasa cinta yang ditujukan pada saya. Tapi saya putuskan tetap melanjutkan ke halaman berikutnya untuk mencari tahu lebih jauh, dan cek ombak dulu sebelum lebih jauh menyimpulkan atau baper.

Sesuai pembabakan judul, Bab I: Zaman Bergerak, adalah cerita panjang tentang bagaimana dunia dan peradaban manusia selalu bergerak, bergeser dan berubah yang kemudian memunculkan disrupsi. Suwarno mengutip dari buku Rhenald Kasali bahwa disrupsi adalah sebuah inovasi yang menggantikan sistem lama. Ia menghasilkan suatu kebaruan yang lebih efisien dan efektif namun juga bersifat kreatif dan destruktif. Dari kutipan tersebut, Suwarno melanjutkan dalam paragraf`-paragraf berikutnya bahwa berbagai kemajuan menunjukkan sisi ironisnya, karena disertai hasrat dan ketamakan. Ia menyebut bahwa para pengguna berbagai kemajuan teknologi digital hari ini berada dalam posisi rentan dan cepat atau lambat akan menjadi korban.

Dari bab pertama, saya membayangkan rasa cinta seperti apa yang dimaksud Suwarno di awal tulisan. Kurang lebih seperti rasa khawatir orang tua pada anak remajanya yang selalu asik sendiri dengan gawai dan berbagai aplikasinya. Kemudian pada bab kedua, saya melihat banyak pernyataan asumtif dengan mengedepankan subjektivitas perspektifnya. Suwarno menyebut berbagai perubahan hari ini berjalan beriringan dengan sejumlah ironi serta paradoks. Situasi tersebut menurutnya terjadi karena rendahnya literasi, minat baca dan miskinnya nalar masyarakat kita. Dipaparkan pula berbagai tulisan dan artikel ilmiah tentang brutalitas dunia maya dalam era post truth yang kerap menjerembabkan warganet dalam kubangan hoax maupun fake news. Bab ini diakhiri dengan pertanyaan, apa yang bisa dilakukan oleh seni dan dunia pendidikan (tinggi) seni? Apakah fungsi dan posisi seni atau karya seni hari ini? Hingga apa yang bisa kita pikir dan lakukan terkait dengan organisasi, kepemimpinan, gerak dan kritik kebudayaan? Rangkaian pertanyaan tersebut menarik saya untuk mulai sedikit demi sedikit berenang dan menyelami buku ini setelah cek-cek ombak di pengantar dan prolog buku. 

Bab ketiga buku ini seolah berisi pendalaman atas rasa cinta dan kedekatan Suwarno pada dunia pendidikan tinggi seni. Suwarno memulai dengan pertanyaan tentang situasi dunia pendidikan seni hari ini. Bahwa pendidikan tinggi seni hari ini berhadapan dengan ragam realitas. Secara runut dipaparkan, berangkat dari pemikiran tentang seni interdisiplin, multidisiplin dan transdisipliner, sesungguhnya seni adalah sains. Dua hal tersebut tidak terpisah. Ini bisa diartikan bahwa penciptaan seni merupakan implementasi pengetahuan. Dari runutan tersebut, dilanjutkan dengan pertanyaan tentang kesiapan pendidikan seni hari ini pada perubahan. Beberapa paragraf menerangkan tentang terobosan yang harus dilakukan dunia pendidikan seni. Kemudian dilanjutkan dengan kritik pada situasi birokrasi dunia pendidikan, salah satunya tentang pimpinan yang alergi terhadap kata terobosan. Paragraf-paragraf berikutnya menuliskan 3 poin asumsi atas situasi mental tenaga pendidik, diikuti serangkaian nasehat dan saran.

Pada bab keempat Suwarno memaparkan satu klaim bahwa komik dan animasi merupakan dua ekspresi seni yang mampu mengikuti perkembangan teknologi. Komik dianggap berada dalam puncak piramida influencer bagi khalayak muda hari ini. Berbagai komik dan animasi yang mudah didistribusikan melalui platform digital mampu mengekspresikan dan mengampanyekan pesan-pesan sosial untuk kawula muda. Bab-bab berikutnya berisi uraian pentingnya positioning bagi seorang seniman. Bahwa berkesenian selayaknya memiliki kesadaran memihak: ‘ke atas atau ke bawah’. Ketika para pegiat seni telah memutuskan keberpihakannya, itulah yang menggerakan praktik berkesenian. Pentingnya keberpihakan ini diulas lebih jauh pada bab terakhir dengan mencontohkan beberapa nama kelompok seni dan seniman yang memiliki titik pijak mantap dalam praktiknya dan tergolong dalam kategori ‘seni menggerakkan’. 

——

Suwarno menyatakan bahwa buku ini merupakan upayanya untuk memaparkan realitas hari ini dengan analogi lautan lepas. Situasi hari ini bagaikan gelombang lautan, pasang surut, tidak pernah stabil dan selalu bergantung pada besaran dan arah angin. Ia juga menyebut bahwa buku ini adalah bentuk perhatian atau catatan atas fenomena mutakhir, mulai dari merebaknya pandemi Covid 19 serta pembahasan ulang perkara pergeseran dan perubahan ketimbang perkara kemajuan. Sejak halaman-halaman awal, saya sudah sedikit banyak dapat menangkap perubahan seperti apa yang dimaksud Suwarno, tentang bagaimana pandemi menjungkirbalikan laku dan tata kehidupan kita hari ini. Namun ketika menggunakan laut lepas sebagai analogi, bagi saya laut lepas dan samudra lebih dari badai dan gelombang ombak yang bergulung tinggi. Laut juga berisi beragam kekayaan biota, pemandangan indah, angin yang menyegarkan dan berbagai hal menyenangkan lainnya. “Laut yang tenang tidak melahirkan pelaut yang tangguh”. Saya menemukan pepatah tersebut suatu hari melalui cuitan di Twitter. Tidak tahu siapa yang menciptakannya, saya  langsung merasa ‘pas’ saja. Pepatah tersebut tentu bisa menjadi perspektif lain atas situasi penuh gelombang besar hari ini. 

Dengan sub judul buku Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan, sebenarnya cukup samar untuk bisa menangkap permasalahan pada praktik seni-budaya yang dimaksud. Kritik memang banyak ditujukan untuk dunia pendidikan seni dan seluruh elemennya, namun ini pun tidak banyak dielaborasi. Perubahan praktik dan pertanyaan tentang fungsi seni juga lebih banyak dijabarkan melalui pendapat. Memuat nasehat maupun arahan tentang seperti apa seharusnya seni bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Di satu sisi, saya sepakat bahwa beberapa nama pelaku yang disebut memang dapat digolongkan sebagai seni menggerakkan. 

Selain kata perubahan yang tentu bertebaran dalam buku ini, setidaknya kata milenial disebut lebih dari 6 halaman. Milenial merujuk pada pengertian umum atas kata ini, yaitu generasi hari ini, pemuda, seniman muda, mahasiswa dan lain sebagainya. Dalam pendapat pribadi saya, buku ini memposisikan generasi milenial seni sebagai generasi beruntung karena lahir di era yang serba dimudahkan oleh teknologi, memiliki kuasa penuh atas akses informasi namun tidak begitu peka sejarah, sembrono dan memerlukan dukungan institusi pendidikan tinggi (seni) agar tidak terjerembab dan menjadi korban kemajuan teknologi. Di sini Suwarno seolah melihat pergeseran dan perubahan hari ini terutama kaitannya dengan teknologi seperti sebuah palung laut, tampak aman untuk direnangi namun membahayakan, menjebak dan menenggelamkan. 

Kembali pada pepatah yang saya temukan di Twitter. Mungkin kita bisa melihat segala perubahan hari ini, mulai dari tata kehidupan yang dijungkir balikan oleh virus, cepatnya kemajuan teknologi seiring dengan perubahan perilaku dan praktik seni generasi milenial dan generasi Z melalui perspektif yang lain. Bagi saya beberapa pernyataan Suwarno dalam buku ini sedikit terburu-buru, klise dan seperti yang telah saya sebut sebelumnya, subjektif. Melihat pergerakan, perkembangan dan perubahan hari ini, seharusnya tidak bisa lepas dari ragam eksperimentasi dan siasat generasi muda tersebut untuk bertahan pada gelombang tinggi perubahan melalui teknologi. Kita bisa menyebut beberapa nama populer seperti Greta Thunberg atau Malala Yousafzai. Atau lebih dekat dalam skena seni budaya, kelompok seni yang berisi anak zaman now, yang juga memiliki prestasi dan karya besar, tersebar di seluruh Indonesia. Taruhlah para pelaku seni seperti Ketjilbergerak, HONF, Piring Tirbing, Tromarama, Milisi Film atau Ipeh Nur yang karya-karyanya selalu kritis berangkat dari kegelisahan personal, mengambil banyak sumber sejarah namun tetap kontekstual dengan situasi hari ini. Kritikan atau komentar atas situasi sosial politik budaya hari ini juga banyak dilontarkan melalui meme di sosial media, karya audio visual di YouTube hingga aplikasi TikTok.

Saya sebenarnya membayangkan buku ini memberi penawaran dan cara pandang lain dalam melihat dan menikmati lautan luas. Generasi milenial dan generasi Z, di luar segala hardikan dari generasi sebelumnya, memiliki tantangan hidup yang jauh lebih kompleks. Mulai dari minimnya ruang hidup karena okupasi industri, sampai harus berhadapan dengan berbagai kerentanan kesehatan mental, eksploitasi kerja dunia kreatif, dan lain sebagainya. Bagi saya risiko bahaya atas perubahan situasi hidup dan perkembangan teknologi hari ini bukan hanya mengancam generasi muda, namun semua orang yang menggunakan teknologi, lintas generasi. Perubahan situasi hidup kita hari ini berjalan lurus dengan segala inovasi teknologi yang juga beriringan dengan adaptasi dan siasat hidup. 

Sampai kapanpun situasi sosial politik budaya dalam lautan kehidupan kita akan terus bergerak dan berubah. Generasi hari ini adalah yang turut berinovasi pada teknologi hingga memaksimalkannya dalam kehidupan keseharian, maupun sebagai medium praktik seni. Justru inilah bentuk nyata menyiasati jaman. Kita tidak harus bergantung dan pasrah saja pada pasang surut laut. Kita bisa menurunkan layar dan jangkar untuk tak terombang-ambing angin dan badai-badai, bertahan dari gelombang besar dengan meningkatkan sistem aerodinamis kapal, dan berbagai kendali siasat yang lain. Entah dengan berenang, berselancar, menyelam atau bahkan hanya diam menikmati pemandangan laut di senja hari juga merupakan bentuk penyesuaian. Memang, untuk memilih dan menyiasati cara mengarungi lautan lepas kehidupan kiwari, harus dengan cek-cek ombak dulu.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Sebuah Teater Bernama Indonesia

Judul buku : Pasfoto Sang Iblis
Penyunting dan Esai Pengantar : Hendro Wiyanto 
Penerbit : Gang Kabel 
Tahun terbit : Juni 2020
Resensi oleh : Lisistrata Lusandiana

“Adalah bangsa yang besar – bangsa yang dapat menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan–pekerjaan biasa.” 

Petikan di atas menjadi akhir dari esai berjudul “Dalam Bayangan Sang Pahlawan”. Satu dari sekian banyak esai yang menarik perhatian saya. Ketika sampai di titik ini, seketika saya ‘mak deg’ karena kedahsyatan penutup esai tersebut. Penggunaan bahasanya sangat sederhana dan mengena. Saya deg-degan senang sekaligus menyesal. Menyesal karena kenapa tidak dari dulu saya membaca tulisan-tulisan Sanento Yuliman yang sudah banyak disebut-sebut sebagai kritikus seni rupa di Indonesia. Memang buku kumpulan esai Pasfoto Sang Iblis ini baru terbit, tetapi sebelum-sebelumnya sudah ada kumpulan esai Dua Seni Rupa dan Estetika yang Merabunkan. Kita bersyukur ada kerja keras yang telah mewujudkan penyusunan buku ini. 

Kembali ke esai yang membuat saya deg-degan. Ia berjudul “Dalam Bayangan Sang Pahlawan”. Dipublikasikan pertama kali pada 25 Februari 1968, di Mahasiswa Indonesia, Sanento Yuliman menyoroti nilai heroisme yang pada masa itu kian menguat. Penanaman nilai heroisme itu dilakukan sejak kita, masyarakat Indonesia, masih berada dalam kandungan. Artinya, penanaman nilai ini dilangsungkan sebagai proyek kebudayaan di periode yang tidak singkat, dalam suatu pertunjukan teater bernama Indonesia. Mengapa teater Indonesia? Karena dalam proses pembangunan kebudayaannya, ia menekankan penggunaan berbagai elemen teater patriotik; mulai dari penggunaan kostum-kostum, penyelenggaraan upacara-upacara dalam melegitimasi kekuasaan, penekanan pada retorika yang mampu menyihir kerumunan, kehadiran dramaturgi konflik, penggunaan iring-iringan musik, hingga kehadiran penonton yang ditempatkan sebagai subjek yang menangkap pesona dan keagungan ‘sang pahlawan’ dalam teater bernama Indonesia. 

Jika sekilas kita baca demikian, maka jelas, esai ini merupakan sindiran atas hegemoniknya politik retoris ala bung besar. Akan tetapi, kritik ala Sanento Yuliman tidak berhenti pada kritik kekuasaan. Lebih jauh ia mengembangkan esainya sebagai kritik kebudayaan. Ia menyasar pada nilai heroisme yang menjadi penyakit dari masyarakat kita, yang bisa menjangkiti siapa saja, termasuk aku, kamu, dan kita semua.

Problemnya sudah jelas, bahwa kebesaran nilai heroisme ini menempatkan gerakan massa sebagai hal yang terpenting dalam kehidupan. Pada saat yang bersamaan, ia menelan kekuatan individu yang sesungguhnya berperan penting sebagai subjek politik. Sanento Yuliman sangat keberatan jika kehadiran subjek hanya ditempatkan sebagai perantara kebenaran. Sementara politik retoris yang hidup pada saat itu, menempatkan masyarakat di posisi tersebut. Di tengah politik yang kebesaran mulut itu, ia menekankan pentingnya hal-hal yang sifatnya keseharian, kecil dan rutin, yakni kerja-kerja konkret yang dilakukan dan dinikmati oleh individu, sehingga memunculkan kualitas kerja. Bagi Sanento Yuliman, di situlah letak kesenian. Seni sebagai kualitas kerja, yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Sekali lagi, siapa saja yang melakukan kerja-kerja konkret! 

Dari satu esai ini saja, kita mendapati daya analitis sekaligus kemarahan seorang aktivis yang reflektif. Saya sebut aktivis karena sorotan tajamnya pada kekuasaan, sekaligus reflektif karena ketajamannya untuk sensitif pada bahasa-bahasa kekuasaan yang berpotensi menjadi virus-virus sosial. Dan YA, tulisan dengan nada semarah ini ditulis oleh Sanento Yuliman, yang kelak dikenal sebagai kritikus seni rupa Indonesia. 

Pasfoto Sang Iblis ini merupakan bunga rampai esai-esai yang pernah dipublikasikan pada 1966-1990. Dari sini, kita bisa menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman sebelum ‘seni rupa banget’. Tulisan-tulisan dengan nada marah. Tulisan-tulisan yang sudah sangat peka pada cara-cara subtil kekuasaan beroperasi atau bekerja. Tulisan-tulisan yang sudah menunjukkan ketajaman sikap politik sebelum masuk ke ranah kuasa yang lebih subtil, yakni seni.

Membaca kumpulan esai ini, saya seperti diingatkan bahwa pendekatan lintas disiplin dalam membaca fenomena sosial tidak hanya dikenalkan oleh para teorisi kajian budaya. Sejak 1960-an, esai-esai ini sudah menunjukkan bahwa tradisi meneropong dan menulis lintas disiplin sudah hidup sejak kita dipaksa untuk hidup di tengah berbagai tantangan dan konflik. Hanya saja, disiplin ilmu kadang khilaf, sering lupa untuk melibatkan unsur ‘heteronomi kehidupan’ kita dalam tradisi belajar yang sudah terlalu nyaman berada dalam kotaknya. 

Selebihnya, catatan baca ini hanyalah remah-remah dari keripik kenikmatan yang muncul dari lembar demi lembar hingga halaman 232. Tentu saja tidak ada pembacaan yang sempurna. Sama halnya dengan tulisan. Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dibuat. Untuk itulah buku hadir dalam kehidupan kita, agar ia bisa menemani heteronomi keseharian kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Buku dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Spirit Revivalis yang Menandai Masa Krisis

oleh Hardiwan Prayogo

Awal April 2020, ketika Covid-19 di Indonesia mencapai angka 1000 kasus, berbagai lini merespon dengan berbagai cara. Berbagai webinar digelar untuk bersama-sama mendiskusikan bagaimana wabah ini berdampak bagi kesenian; bagaimana siasat-siasat perlu dilakukan dan pengetahuan apa yang mungkin bisa diekstraksi dari situasi ini. Salah satu webinar yang berjudul “Festival Warga di Masa Krisis” menunjukkan bagaimana para pelaku festival sedang mencari siasat bagaimana sebuah acara kesenian tetap digelar dengan pembatasan sosial. Di samping itu juga ada dorongan untuk memaknai ulang perayaan, dalam hal ini festival, dan relevansinya dengan situasi mutakhir. 

Akhir Agustus 2020, kasus Covid-19 di Indonesia telah menyentuh angka 200.000. Belum terlihat tanda-tanda kurva akan melandai. Namun, dalam pandangan sekilas mata pun terlihat bahwa respon masyarakat sudah berbeda dari ketika kasus baru mencapai 1000. Bisa jadi memang bukan lagi pada kuantitas angka kasus yang membuat warga resah, tetapi tentang bagaimana nasib ketahanan dan cara bertahan hidup dalam situasi wabah ini. 

Situasi krisis kali ini tampaknya membuat orang-orang cenderung melihat kembali nilai-nilai lokal dalam dirinya. Upaya tersebut terlihat dalam beberapa festival kesenian berskala cukup besar yang tetap digelar pada semester kedua 2020. Beberapa di antaranya seperti ArtJog 2020 Resilience, Sumonar 2020: Mantra Lumina, Makassar Biennale: Maritim: Sekapur Sirih, dan Biennale Jogja: Cur(e)ating the Earth, Shifting the Center: Tata Bumi Baru, Tata Seni Baru.

Jika ditarik dari premis bahwa situasi krisis membuat orang melihat kembali laku dan nilai-nilai lokal, krisis ekonomi dan politik tahun 1998, dan krisis karena gempa dan erupsi Merapi tahun 2006 menunjukan tren serupa. 

Pertama adalah Ruwatan Bumi ‘98. Disebutkan dalam arsip tersebut, menurut kitab Sabdhatama, pada jaman krisis, tidak ada aktivitas kesenian yang lebih relevan selain ruwatan. Selama April 1998, para pekerja budaya, pelaku seni, cendekiawan, melakukan 170-an kegiatan, mulai dari pameran, pertunjukan, ceramah, dll. Kegiatan ini dilakukan di desa-desa di lereng Merapi, pulau Samalona di lepas pantai Makassar, hingga Berkeley, Amerika. Salah satu karya yang ditampilkan adalah karya dari Jemek Supardi, yang mengumumkan dan melakukan prosesi kematiannya sendiri di tengah Kota Yogyakarta. Kegiatan yang tersebar ini telah menunjukkan hubungan patron non-hirarkis, komunikasi luwes dan cepat, menandai lahirnya mass society.

Sementara itu, menurut David Riesman, mass society yang terbentuk karena teknologi adalah lonely crowd (kerumunan yang kesepian). Ini ditandai dengan karakteristik seperti mundurnya kehidupan keluarga, teralienasi karena pekerjaan, kemunduran komunitas lokal, memudarnya nilai-nilai etnik, agama, dll, dan merosotnya atensi pada kegiatan-kegiatan sukarela. Identitas baru dari orang-orang yang tercerabut dari akar ini kemudian diciptakan oleh teknologi media. Hal ini semakin didesak karena lahirnya situasi krisis. 

Salah satu pernyataan dari Ruwatan Bumi adalah “modernisme dalam kesenian tidak memiliki konsep mengenai keselamatan”. Prosedur yang ditempuh adalah pemberontakan terhadap konvensi. Padahal konsep keselamatan dalam masyarakat merupakan totemisme, acuan terhadap kosmologi bersama yang ekologis; melakukan upacara keselamatan bersama, membebaskan diri dari bala bencana, dan membersihkan desa dari roh jahat. Dalam kacamata budaya, kegiatan ruwatan ini diklaim oleh penyelenggara sama pentingnya dengan aksi mahasiswa. Ruwatan 1998 ini menandai masa di mana simpul jaringan kebudayaan bisa dilakukan oleh setiap individu, dengan isu sentral kehidupan manusia Indonesia yang dibingkai dalam kerangka masyarakat kontemporer.

Delapan tahun kemudian, pada 2006, Yogyakarta diguncang gempa dan erupsi Merapi dalam waktu yang berdekatan. Komunitas Merapi menggelar pameran bertajuk Mengerti Merapi di Arta Pustaka, 6-12 Agustus 2006. Pameran yang menampilkan lukisan, patung, dan hasil pertanian organik warga Kecamatan Turi, Pakem, serta Cangkringan ini berangkat dari kegelisahan warga lereng Merapi yang resah karena gunung itu yang bagi masyarakat setempat adalah sumber kehidupan, dijadikan alat kepentingan politik dan proyek. Warga setempat hanya dijadikan objek dramatis. Kepekaan warga lokal terhadap Merapi dianggap irasional oleh teknologi modern dan pembuat kebijakan. Padahal ini justru menghilangkan ikatan antara Merapi dengan manusianya. 

Lain lagi dengan Stefan Buana, yang coba merespon gempa Jogja 2006 dengan karya batik Parang Lindu. Batik deformatif dari motif batik Parang Rusak ini tak lagi menampilkan dimensi eksklusivitas pemakainya, namun telah menjelma menjadi motif kain yang menengarai kentalnya pola relasi sosial yang inklusif. Lindu atau gempa, bagi Stefan, memberi inspirasi yang kuat dalam menumbuhkan spirit kolektivitas dan inklusivitas tersebut. Karyanya ini ditampilkan pada pameran berjudul Homo Lindhuicus, di Taman Budaya Yogyakarta, 10-20 Agustus 2006. 

Dari arsip-arsip di atas, ruwatan, kepekaan warga lokal terhadap Merapi, dan motif batik, adalah laku-laku lokalitas yang ditilik kembali di masa krisis. Maka kecenderungan tema pada pergelaran dan festival seni yang disebutkan pada awal tulisan bukanlah hal yang baru muncul pada krisis karena Covid-19 ini. Meski tentu kita sepakat bahwa krisis kali ini berbeda dari 1998 dan 2006. Tetapi bahwa godaan arus balik atau revivalisme ini kembali mencuat sebagai narasi utama. Jika 1998 sudah coba melakukannya, dan pola serupa terjadi kembali tahun 2006, pertanyaan lebih lanjut adalah nilai dan laku lokalitas apa yang tertinggal dan terasa hingga kini? Kemudian bagaimana dengan konteks 2020 ini? Guna merefleksikan pertanyaan-pertanyaan tersebut, konsep ko-imunisme cukup menarik untuk dielaborasi.

~~

Co-immunism (ko-imunisme), sebuah konsep dari Peter Sloterdijk tentang sistem kekebalan tubuh yang ditumbuhkan dan disadarkan secara kolektif. Ini berangkat dari tesis bahwa jaman teknologi algoritma membuat manusia semakin jauh dari perasaan yang sama secara kolektif. Sementara itu, wabah Covid-19 melampaui batasan-batasan spasial dan rasial. Maka kekebalan atas virus ini seharusnya tidak terbatas pada organisme individu, tetapi berbentuk mutualisme yang dicapai secara kolektif.

Fidelis Regi Waton, dalam tulisannya Resiliensi dan ‘Ko-Imun’ di Harian Kompas, 11 Agustus 2020,  berujar bahwa krisis adalah awal masa depan dan peluang melahirkan pola hidup baru. Pola baru yang dilahirkan oleh krisis kali ini harus mengkonstruksi bangunan hidup yang lebih tangguh. Langkah nostalgia dinilai salah kaprah. Membayangkan dunia kembali seperti jaman pra-corona adalah kesia-siaan. Resiliensi dan ko-imunisme, digarisbawahi sebagai kata kunci untuk merancang kebiasaan baru yang lebih tangguh dari ancaman krisis. 

Berbagai perayaan dan peristiwa seni yang tetap digelar pada semester kedua 2020 ini akan bisa dimaknai sebagai resiliensi, jika pada praktiknya tidak hanya menjadi P3K. Tetapi bahwa berbagai macam inovasi teknologi dan interaksinya menjadi pengetahuan yang bisa dilakukan, ketika segala macam pembatasan karena wabah ini sudah dilalui, seperti yang pernah dielaborasi pada Sorotan Arsip edisi Mei-Juni 2020, yang berjudul Apa yang Berlalu Jika Pandemi Sudah Pergi?

Sedangkan ko-imunisme, bisa dilihat dari praktik-praktik ruwatan. Cukup memberi gambaran bagaimana masyarakat mencoba menuju kekebalan kolektif tersebut. Ruwatan, atau praktik semacamnya, selalu melibatkan masyarakat secara kolektif dan berbagai lintas latar belakang. Ruwatan Sengkolo di Klaten, Ruwatan Tolak Bala di Jepara, dan lain sebagainya menjadi contoh peristiwa mutakhir pada masa pandemi Covid-19.

~~

Sorotan Arsip edisi ini ingin melihat bagaimana revivalisme menjadi semacam kecenderungan untuk bertahan di masa krisis, bagaimanapun pola dan model krisisnya. Kehidupan modern sudah tidak perlu ditegaskan kerentanannya. Salah satu yang paling kentara adalah situasi bahwa kehidupan masyarakat modern bertumpu pada keuntungan finansial (profit) untuk dapat bertahan hidup. Berbagai pembatasan sosial karena Covid-19 menjadi badai yang mengguncang tatanan itu. Di tengah badai, manusia akan mencari pegangan. Kecenderungan untuk menilik kembali laku-laku dan nilai lokalitas menjadi salah satu wujudnya. 

Wajar jika berbagai konsep, inovasi, hingga jargon-jargon dan berbagai klaim yang terlihat baru banyak muncul pada situasi extraordinary. Spirit revivalis, jika dilihat dari pola yang ada sejak krisis 1998 hingga 2020, muncul sebagai upaya untuk membuat pergelaran kesenian tetap relevan dengan konteks sekarang. Tetapi seperti yang kita tahu, bahwa relevansi memiliki relativitas sesuai dengan konteks jamannya.

Festival dan berbagai pergelaran seni 3 bulan terakhir ini dengan cukup jelas mengucapkan bagaimana kita harus bertahan di tengah krisis dengan nilai-nilai dan laku lokalitas. Dan yang tidak terucap adalah sebaliknya, bagaimana nilai dan laku ini masih akan bertahan di masyarakat pasca krisis berlalu. Dari krisis-krisis yang sebelumnya pernah terjadi, nilai dan laku ini memang masih bertahan, tetapi cuma sebagai tema sebuah perayaan acara kesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Ayo Pingpong di IVAA!

oleh Edy Suharto

Kurang lebih tiga bulan sejak masa pandemi kami sudah mulai bekerja seperti biasa, meski tetap dengan protokol kesehatan. Masing-masing orang mengerjakan apa-apa saja yang harus dikerjakan dan update setiap dua minggu sekali. Akses publik di Rumah IVAA juga sudah dibuka, meski awalnya memang dengan sistem janjian. Tentu, rasa was-was tetap kami rasakan ketika bertemu tamu atau pengunjung perpustakaan. Kadang jadi parno, langsung reflek jaga jarak. 

Jaga jarak saja tidak cukup kalau badan tidak benar-benar sehat. Oleh karena itu, kami mencoba berolahraga, yang ringan-ringan saja tapi cukup bikin berkeringat. Pingpong adalah pilihan yang tepat. Akhirnya kami membeli perlengkapannya, dari meja hingga bola. Beli di daerah Jalan Kaliurang setelah membanding-bandingkan dengan lapak-lapak lainnya. Harga miring, gratis ongkos kirim. Dan jadilah kami berolahraga di hampir setiap sore selepas bekerja. Untungnya ada area parkir depan yang bisa disulap jadi lapangan tenis meja. 

Bicara soal pingpong, ternyata jenis olahraga ini masuk ke Indonesia pada sekitar 1930. Saat itu orang-orang Belanda yang mengenalkannya dengan memainkan tenis meja di balai-balai pertemuan. Hanya pribumi golongan pamong yang boleh ikut bermain. Untuk sekarang mungkin sudah lumrah kalau di setiap balai pertemuan itu ada meja pingpong untuk warga. Tapi secara profesional, warga Indonesia betul-betul ikut ajang pingpong ketika masuk era 1970-an. Pada 1973, Abdul Rojak mendapatkan peringkat 11 di ajang World Tennis Table. Selanjutnya muncul insan-insan berprestasi seperti Sugeng Utomo dan Anton Suseno. Tak ketinggalan Rossy Pratiwi Dipoyanti Syechabubakar yang berhasil menyabet 13 medali emas di ajang SEA GAMES pada 1990-an. 

Bicara soal olahraga, IVAA punya satu arsip yang menarik. Sebuah pameran bertajuk Olympics yang digelar di The Pakubuwono Residence, Kebayoran Baru, Jakarta pada 20 Agustus-2 September 2004, dan diorganisir oleh Nadi Gallery, perupa Astari Rasjid dengan kurator Enin Supriyanto. Pameran ini dimaksudkan untuk merespon sebuah perhelatan di Athena, Yunani, yakni Olimpiade. 

Wicaksono Adi dalam tulisannya yang berjudul “Melihat Seniman Belajar Olahraga”, mencatat bahwa di dalam pameran tersebut muncul tiga kelompok dengan kecenderungan respon yang berbeda. Kelompok pertama: para perupa yang melihat olahraga dalam bentuk wantahnya, sebagai teks yang mengacu pada sesuatu yang sensous dan stereotype dari kegiatan fisik dengan karya seni sebagai wadah penampungnya. Kelompok kedua: para perupa yang menautkan pertanda formal Olimpiade dengan konteks yang lebih luas, seperti gender, budaya pop, hingga seks dan tubuh. Kelompok ketiga: para perupa yang melihat seni dan olahraga sebagai hubungan teks dan meta-teks; dari yang subversif sampai memainkan bahasa. Intinya, Wicaksono Adi menggarisbawahi bahwa pameran ini berhasil memunculkan kesan bahwa seni dan olahraga ternyata tidak jauh-jauh amat. 

Lalu, kalau soal arsip dan olahraga, dekat atau jauh? Biasanya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 17.07 WIB, saya dan Mas Santosa menyiapkan tempat untuk bermain pingpong. Lalu satu per satu teman-teman lainnya keluar, menunggu giliran main sambil memberi semangat dan sesekali mengejek. Tak jarang, Master Pro aka Mas Santosa menjadi partner dan membantu teman-teman yang sedang belajar cara bermain. Suasana jadi menyenangkan. Dalam konteks ini saya tidak tahu apakah hubungan arsip dan olahraga itu dekat atau jauh. Yang jelas, dekat untuk para arsiparisnya. Dekat yang tidak muluk-muluk, tapi sehari-hari. 

Olahraga itu mengajarkan bagaimana kita mengikuti aturan yang berlaku, mengajarkan kita rasa lega ketika menang, dan kecewa ketika kalah. Hal seperti ini juga kita temukan dalam kehidupan sehari-hari kita. Salam olahraga jaya!

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Tradisi Menre Bola Baru (Naik Rumah Baru) di Tengah Pandemi

oleh Nurfadillah

Wabah Covid-19 telah mengacak-mengacak seluruh tatanan kehidupan hampir di seluruh dunia termasuk di bumi pertiwi Indonesia. Dampak dari wabah tersebut mempengaruhi seluruh sistem dan siklus kehidupan, dari kesehatan, ekonomi, hingga praktik-praktik kebudayaan. Semua sistem sosial dan tatanan masyarakat mengalami disorganisasi sosial, dan sebagian besar manusia ternyata tidak siap. 

Kehidupan yang sebelumnya normal kini menjadi “abnormal”, dimana kegiatan berkumpul bersama seperti pengajian, arisan, seminar, pernikahan, hajatan, hingga ritus sosial kini dibatasi bahkan ditiadakan. Padahal, masyarakat kita dicirikan sebagai masyarakat komunal yang doyan ngumpul-ngumpul dan bergerombol dalam sebuah unit sosial yang saling berjejaring. Namun, wabah Covid-19 memaksa kita untuk mengubah habitus macam itu.

Kini, kebijakan new normal membuat masyarakat kembali lagi beradaptasi, menjalankan aktivitas seperti semula, namun dengan menerapkan protokol kesehatan. Meskipun jumlah pasien Covid-19 di Indonesia masih fluktuatif, berbagai acara yang sempat tertunda mulai digelar. 

Acara yang paling cepat muncul di permukaan adalah ritus sosial seperti pernikahan dan selametan. Misalnya, masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan sudah kembali ramai menggelar aktivitas sosial budaya. Salah satunya ritus sosial selametan Menre Bola Baru atau “naik rumah baru”. Penulis akan menggambarkan bagaimana dinamika tradisi yang mengumpulkan banyak orang sebagai bentuk solidaritas sosial macam ini berhadapan dengan pandemi, melalui mini riset yang dilakukan oleh penulis.

Selayang Pandang Tradisi Menre Bola Baru 

Secara etimologis Menre artinya naik. Kata naik yang digunakan merujuk pada rumah adat Bugis yang khas dengan rumah panggung yang terbuat dari kayu. Sedangkan Bola Baru adalah rumah baru. Jadi, secara umum Menre Bola adalah tradisi lokal masyarakat Bugis, ketika sebuah keluarga akan memasuki atau pindah ke rumah baru. Rumah kayu Bugis muncul dalam catatan di abad ke-17 hingga kini, dapat dikategorikan sebagai rumah model Asia Tenggara jenis Melayu yang dapat ditemukan di Aceh, Sumatera, dan Kalimantan (Pelras, 2005).

Rumah panggung kayu Bugis secara arsitektural juga memiliki makna filosofis di mana masyarakat Bugis memaknai makrokosmos atau alam semesta ini terdiri dari tiga bagian, yaitu dunia atas, tengah, dan bawah. Dunia atas disebut dengan Botting Langi. Langi atau langit merupakan atap kehidupan manusia. Kedua, dunia tengah atau Ale Kawa yang merupakan tempat manusia hidup. Ketiga, dunia bawah atau Buri Liung.

Pada Botting Langi terdapat Rakkeang (loteng) yang merupakan simbol dari dunia atas di mana Dewata Seuwae (Tuhan Yang Maha Kuasa) bersemayam. Ruang ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi. Kemudian Ale Bola direfleksikan sebagai manifestasi Ale Kawa, simbol dari dunia tengah dan menjadi tempat utama bagi penghuni rumah untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kemudian bagian ketiga yaitu Awe Bola atau kolong rumah merupakan simbol dunia bawah dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat-alat pertanian, kendaraan, tempat untuk beternak, bermain dan aktivitas lainnya. Secara fungsional, rumah orang Bugis memiliki fungsi kenyamanan dan rasa aman bagi pemiliknya (Farid Makkulau, 2007). 

 Gambar 1. Rumah panggung Suku Bugis, Sulawesi Selatan.

Bagi masyarakat Bugis, Menre Bola merupakan simbol kehidupan. Simbol tersebut mencerminkan harapan, kejayaan, masa depan, semangat dan harmoni. Oleh sebab itu, Menre Bola memiliki rangkaian acara yang diawali dengan ritual yang tidak boleh diabaikan sekaligus sebagai wujud syukur atas anugerah rumah yang telah diperoleh. Sebagai suatu tradisi, ritual ini sarat dengan makna dan nilai-nilai kearifan lokal. Segala elemen dalam tradisi Menre Bola memiliki makna, mulai dari jenis-jenis hidangan atau makanan tradisional yang disajikan hingga penentuan hari dan waktu yang baik untuk menggelar perayaan. 

Menre Bola Baru: Elemen dan Maknanya

Sebelum memasuki rumah baru, dalam keyakinan masyarakat Bugis ada waktu-waktu tertentu untuk melaksanakan setiap kegiatan yang bersifat sakral seperti pernikahan, selametan, hajatan dan sebagainya. Saransi (2003) menulis bahwa sebagian masyarakat Sulawesi Selatan percaya tentang hari-hari pantangan atau yang disebut nakasa. Hari-hari nakasa merupakan hari-hari yang dianggap terlarang untuk melakukan berbagai kegiatan yang dianggap penting dan bersejarah. Setiap orang akan menentukan terlebih dahulu hari-hari baik yang tepat agar jangan sampai jatuh pada hari nakasa. Nakasa terbagi dua, yaitu setiap tanggal satu Muharram dan dalam sepanjang tahun hari tanggal jatuhnya Muharram itu.

Sebagai contoh, jika tanggal satu Muharram (tahun Hijriah) jatuh pada hari Senin, maka sepanjang tahun itu hari Senin merupakan hari nakasa sampai akhir bulan Zulhijjah. Sebaliknya, pada tanggal sepuluh Muharram, orang Bugis percaya bahwa hari itu adalah hari baik yang disebut sebagai hari asyura. Hal tersebut menjadi prioritas utama dalam memulai setiap kegiatan penting. Waktu penyelenggara upacara ini disesuaikan dengan waktu yang baik menurut ketentuan adat. Pemilihan waktu yang baik sangat penting untuk memastikan hasil positif sebuah usaha serta menjadi perhatian utama untuk memulai sebuah perjalanan.

Selain itu ada juga beberapa bulan dalam hitungan Hijriah yang dianggap baik oleh masyarakat Bugis, di antaranya Bulan Safar, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Syaban, Ramadhan, Zulqaidah, dan Zulhijjah. Beberapa bulan tersebut dianggap baik untuk mendirikan rumah, selametan atau menyelenggarakan pernikahan, karena akan senantiasa memperoleh keuntungan dan kebahagiaan dan dijauhi dari marabahaya. Sedangkan bulan yang lain seperti Muharram, Rabiul Awal, Jumadil Akhir, Rajab, dan Syawal dianggap kurang baik, karena akan mendapatkan kesusahan, penderitaan, musibah, sakit-sakitan, dan bahaya lainnya.

Sementara itu, karena efek pandemi beberapa kegiatan sempat tertunda sehingga aktivitas sosial tidak terlaksana. Namun, situasi new normal sejak Juni seakan memberikan angin segar kepada masyarakat. Ada kelonggaran untuk mulai beraktivitas seperti biasa meski tetap wajib mengikuti protokol kesehatan. Angin segar yang bertepatan dengan bulan Zulhijjah yang jatuh pada Agustus, bulan yang dianggap baik oleh masyarakat Bugis dan di beberapa daerah lain. Hampir seluruh masyarakat di seluruh penjuru mata angin mulai ramai menggelar sejumlah ritus sosial terutama pernikahan dan naik rumah baru seperti yang ada di salah satu daerah Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Barru.

Menurut Panrita Bola (orang yang ahli dalam melihat seluk-beluk rumah), selain pertimbangan waktu, perayaan tradisi menre bola juga harus memperhatikan elemen lain seperti hidangan. Biasanya semua perlengkapan berupa makanan akan diletakkan di Posi Bola (pusar rumah) yaitu tempat atau tumpuan pertama pada saat mendirikan Sao Raja atau rumah kayu. Hal ini hampir sama dengan peletakan batu pertama. 

Adapun makanan hingga buah-buahan yang harus disiapkan ketika memasuki rumah baru adalah 7 rupa kue tradisional khas Bugis, seperti kue lapis, jompo-jompo, onde-onde (klepon), cangkuling, bedda, buah seppang, dan kue oto. Bahan dasar kue tersebut kebanyakan menggunakan tepung beras ketan dan gula merah yang disimbolkan sebagai penghalau bencana atau bala yang dapat menimpa penghuni rumah. 

Ada juga makanan manis sebagai harapan kehidupan bahagia, seperti tebu, buah pandan, otti mattunrung (pisang bertandan) dan gula merah. Kemudian kaluku mattunrung (satu ikat buah kelapa) yang bejumlah ganjil (5, 7, atau 9). Angka ganjil adalah angka kehidupan, sedangkan angka genap adalah kematian. Simbol kelapa adalah sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang karena keseluruhan dari pohon kelapa dapat berguna. Kemudian beras, air, nasi dalam panci dan satu buah telur di atasnya serta sayur nangka dimaknai sebagai sumber kehidupan dan keselamatan.

 

 

 

Gambar 2. Tujuh rupa kue tradisional khas Bugis (kiri), dan buah-buahan, air, beras, tebu, gula merah, hingga nasi sebagai perlengkapan ritual (kanan).

Upacara ini berfungsi sebagai permohonan doa restu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar rumah yang didirikan itu diberkahi dan dilindungi dari pengaruh-pengaruh roh jahat yang mungkin akan menganggu penghuninya. Upacara ini diadakan di tempat atau lokasi di mana rumah itu didirikan, sebagai bentuk penyampaian kepada roh-roh halus dan penjaga-penjaga tempat tersebut; bahwa orang yang pernah memohon ijin pada waktu yang lampau, sekarang sudah datang dan mendirikan rumahnya.

Menre Bola di Masa New Normal

Selain sebagai ritus tradisi, Menre Bola juga sebenarnya merupakan salah satu mekanisme solidaritas sosial-ekonomi masyarakat. Secara konkret hal ini nampak dari bagaimana masyarakat menyuguhkan hidangan-hidangan. Makanan yang disajikan dalam upacara ini sesuai dengan kemampuan ekonomi pemilik rumah. Bagi mereka yang kurang mampu secara finansial, biasanya menyajikan beras ketan dan barobbo. Sedangkan bagi mereka yang lebih berkecukupan biasanya menyajikan nasi ketan hitam, putih, kuning, beragam kue tradisional, dan bahkan menyembelih sapi atau kerbau. Semua proses menghidangkan makanan, baik itu dari penyembelihan hingga memasak, dilakukan secara gotong-royong. Hasilnya pun dimakan bersama pada saat hari upacara. Tetangga dan sanak keluarga diundang untuk menikmati sajian. 

Selain itu masyarakat Bugis juga memiliki nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam hal siassijingeng (sistem kekerabatan orang Bugis). Seluruh kerabat yang berasal dari generasi yang sama, saudara laki-laki, saudara perempuan atau sepupu dimasukkan ke dalam kategori “sumpung lolo” atau ”silessureng” atau ”seajing” (saudara satu asal). Itulah mengapa jika melakukan kegiatan atau perayaan yang sakral maka seluruh keluarga dekat maupun keluarga jauh yang dianggap seajing akan diundang untuk berkumpul sebagai bagian dari assedi-seddingeng (sikap persatuan dalam masyarakat Bugis). Hal inilah yang kemudian sangat sulit untuk dibatasi di tengah pandemi, meski hanya temporer. Pembatasan pertemuan sebagai bagian dari dampak pandemi Covid-19 bertabrakan dengan kebiasaan masyarakat Bugis.

Menghentikan budaya komunal untuk sementara demi mencegah persebaran Covid-19 tentu saja bukan persoalan mudah bagi masyarakat kita. Tentu saja ada perasaan ganjil, kikuk, dan tidak lazim ketika mereka melakukan “ritual sosial” tidak sebagaimana biasanya. Pasti ada sesuatu yang hilang ketika masyarakat kita dipaksa merubah kebiasaan sosial tersebut, karena ada kontradiksi kognitif antara nalar kesehatan seperti menjaga jarak sosial (social distancing) dengan nalar komunal tersebut. Bukan hanya dalam hal merawat tradisi atau kearifan lokal, menghentikan sementara tradisi Menre Bola, di satu sisi sama saja menghentikan satu putaran roda sosial-ekonomi-budaya masyarakat. Sebuah dilema. 

 

Referensi:

  • Makkulau, M. Farid 2007. Potret Komunitas Bissu di Pangkep. Pangkep: Dinas Pariwisata dan Budaya Pemerintah Kabupaten Pangkep.
  • Pelras, Christian 2006. Manusia Bugis. Jakarta: Nalar.
  • Rustan, Ahmad Sultra. 2018. Pola Komunikasi Orang Bugis: Kompromi Antara Islam dan Budaya. Cet. Ke-1 Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Saransi, Ahmad. 2003. Tradisi Masyarakat Islam di Sulawesi Selatan. Makassar. Biro KAPP-LPPTM-Lamacca Press.

Nurfadillah adalah alumni program pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan aktif di komunitas SRILI (Srikandi Lintas Iman Yogyakarta).

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.