Tag Archives: #buletinivaa_Juli2019

Sekolah yang Lain

Judul : Sekolah Salah Didik Uji Coba 1
Editor : Antariksa, Brigitta Isabella, Fiky Daulay, Gatari Surya Kusuma, Khoril Maqin, Nuraini Juliastuti, Rifki Afwakhoir, dan Zita Laras
Penerbit : KUNCI Publication
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Yogyakarta
Halaman : 223
ISBN : 978-602-19692-4-3
Resensi oleh : Muhammad Ziauddin Rosyad Arroyhan

Apa yang terbayangkan di benak kita ketika mendengar kata “sekolah”? Sebagian mungkin akan langsung memikirkan tentang sebuah bangunan atau ruang kelas di mana proses belajar mengajar dilakukan dengan tuntunan seorang guru. Barangkali selama ini guru seolah menjadi titik sentral dari proses transfer informasi dan pengetahuan kepada murid-muridnya. Hubungan mereka menjadi hirarkis. Lantas, apakah kita pernah membayangkan sebuah sekolah di mana hubungan guru-murid itu benar-benar sejajar, teman-teman sekelas yang sama-sama tidak tahu materi apa yang akan dibahas? Sebuah situasi yang mengkondisikan kita untuk belajar sesuatu yang baru. Kira-kira kacau atau tidak?

Itu adalah apa yang coba dilakukan oleh KUNCI Cultural Studies Center melalui program Sekolah Salah Didik (SSD) yang diikuti oleh beberapa partisipan dari latar belakang masyarakat yang berbeda. Hasil dari program tersebut ialah rapor yang diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul SSD Uji Coba 1. Buku ini berisi esai, gambar, puisi, peta, transkrip, dan hasil diskusi dari kegiatan mereka selama 1,5 tahun dari November 2016 sampai April 2018. 

Kejemuan terhadap model sekolah yang telah membentuk murid-murid selama ini menjadi latar belakang program SSD. Apa yang dilakukan KUNCI bagi saya cukup unik, karena mereka berusaha mencari model-model sekolah atau produksi pengetahuan alternatif yang berada di luar model dominan, yang ternyata telah eksis dan bahkan telah dipraktikkan di Indonesia pada masa lalu. 

Salah satu metode yang digunakan adalah metode Jacotot. Sebuah metode yang mengacu pada buku karangan Jacques Ranciere berjudul The Ignorant School Master. Metode ini merupakan satu bentuk produksi pengetahuan di mana hirarki antara guru-murid, antara yang tahu dan yang tidak tahu, berusaha dibongkar. Dalam prosesnya KUNCI hanya berperan  sebagai fasilitator penyedia ruang dan perkakas belajar yang turut berproses secara setara sebagai sesama murid yang ingin belajar mengenai cara belajar. Apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara belajarnya ditentukan secara bersama-sama. Para partisipan semula menjalani proses adaptasi guna memahami satu sama lain. Lalu dalam praktiknya mereka menggunakan beragam medium untuk belajar seperti bahasa isyarat, youtube, film, dll. 

Setelah metode Jacotot, metode kedua yang digunakan adalah ‘turba’ (turun ke bawah), salah satu metode penciptaan seni yang dipratikkan oleh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Banyak seniman pada tahun 50-an bekerja dengan metode ini, pergi ke desa-desa untuk melihat dan memahami kondisi aktual masyarakat pada jaman itu.  turba sendiri memiliki prinsip 1-5-1, yaitu meluas dan meninggi; tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, memadukan tradisi yang baik dan kekinian yang revolusioner, memadukan kreativitas individu dan kearifan massa, serta memadukan realisme sosialis dan romantik revolusioner, melalui cara kerja turun ke bawah. Metode ini juga punya konteks sejarah pada era Soeharto. Kita mengenal Kuliah Kerja Nyata (KKN) di mana mahasiswa diterjunkan ke berbagai daerah pelosok, biasanya desa-desa, untuk melihat realitas dan memahaminya. Dalam konteks SSD, metode ini digunakan untuk menguji kembali relevansi ‘turun ke bawah’ dalam artian turun ke masyarakat. 

Pada praktiknya para partisipan SSD dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil sesuai minat yang ingin dipelajari. Ada yang pergi menjadi petani, tukang ojek online, turun ke lokasi konflik di Kulon Progo, berdinamika di kampung seniman Cilekong, Bandung, serta bersekolah di Ponorogo. Setelah melakukan praktik turba, banyak diskusi dan pelajaran yang muncul. Secara umum topik yang banyak dibahas adalah tentang kerentanan sosial dalam masyarakat. Pengalaman-pengalaman itu kemudian ditulis ulang dan direfleksikan kembali melalui buku ini.

Banyak temuan-temuan yang ditemukan dan lalu dituliskan oleh para murid SSD dengan latar belakang berbeda. Ada yang memulai tulisan dengan ketertarikan mereka terhadap kelas SSD, pengalaman dan hambatan saat proses belajar, hingga perubahan yang terjadi pada masing-masing peserta setelah mengikuti kelas. Berbagai pengalaman tersebut juga dibahas secara personal dengan berbagai perspektif. Beberapa di antaranya adalah pengalaman peserta yang belajar cara menanam padi, bagaimana kondisi guru honorer mendapat cap sebagai pekerjaan kelas bawah, serta soal bagaimana pendidikan formal hari ini yang cenderung menutup pintu eksplorasi dan berjarak dengan realitas kehidupan. 

Banyak pengalaman dari mereka yang dapat kita renungkan dan kita banding-bandingkan dengan pengalaman personal kita masing-masing. Hubungan guru-murid yang begitu cair, kebebasan memilih tempat, waktu, cara belajar dan materi yang ingin dipelajari berdasarkan asas kebersamaan terasa sangat berbeda dengan pendidikan formal pada umumnya. Pendidikan formal cenderung menyeragamkan, mulai dari pakaian, potongan rambut, materi ajar beserta waktu kapan diajarkan, dan peraturan antara guru dan murid. Penyeragaman ini barangkali telah mewariskan ingatan bahwa sekolah itu selalu identik dengan nilai rapor, bangku-bangku, dan papan tulis. Selain itu, kebutuhan industri cenderung lebih diutamakan dari pada masyarakat luas. Lantas, bagaimana jika para lulusan sekolah formal itu dihadapkan dengan realitas bersama masyarakat? 

Buku dengan ilustrasi lucu dari Onyenho ini memuat proses SSD yang berlangsung selama kurang lebih 1,5 tahun. Alih-alih jawaban, sebagai rapor buku ini justru menyuguhkan berbagai pertanyaan yang nampak sepele tapi hampir selalu luput untuk dibicarakan. Apa itu sekolah? Apa itu ruang belajar? Seiring dengan doa dan harapan yang tak sengaja terucap dalam hati seusai membaca buku ini, muncul sebuah refleksi: bukankah pertanyaan adalah awal dari usaha manusia untuk belajar?

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Ketika Mereka Berseru “Cina!”

Judul  : Cilik-cilik Cina Suk Gedhe Meh Dadi Apa? – Autoetnografi Politik Identitas
Penulis  : Anne Shakka
Penerbit  : Sanata Dharma University Press
Tahun Terbit  : 2019
Tempat Terbit   : Yogyakarta
Halaman  : 138
ISBN  : 978-602-5607-92-9
Resensi buku dan diskusi oleh  Gladhys Elliona Syahutari dan Ratri Ade Prima Puspita

“Kecil-kecil sudah Cina! Besok besar mau jadi apa?”, begitu seruan seseorang di lingkungan sekitar Anne pada saat ia kecil. Sejak Anne masih kanak-kanak, ia semacam dipaksa familiar dengan label etnis yang ada pada dirinya, walaupun tak dipungkiri kemudian, ia memang seorang keturunan Tionghoa yang besar di Jawa. Anne di usia sekolah dasar tidak pernah mengerti mengapa orang-orang di sekitarnya sering memberinya label “Cina”. Anne hanya tahu kalau ia selalu bicara dengan bahasa Jawa dan besar bersama orang-orang Jawa. Baginya ia itu sama dengan yang lain. Tetapi pertanyaan mulai muncul seiring waktu: jika orang di sekitar Anne mempunyai julukan tersendiri untuknya, adakah perbedaan yang berarti pada dirinya dibandingkan orang lain? Apakah maksud “Cina” yang sering digaungkan padanya?

Berangkat dari kegelisahan Anne yang begitu personal, ia kemudian menuliskan riset autoetnografi tentang pengalamannya tersebut. Buku “Cilik-cilik Cina, Suk Gedhe Meh Dadi Apa?” adalah tulisan berdasarkan tesis Anne Shakka sewaktu menempuh studi di Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dalam penelitian tesisnya, ia menjadikan dirinya sendiri dan pengalaman budayanya yang spesifik sebagai subyek penelitian. Begitulah bagaimana autoetnografi umumnya bekerja; memberikan sudut pandang yang bersifat dekat dengan penulis dan mengedepankan aspek penting dari subjektivitas dalam penulisannya. Keberpihakan dan kepemilikan Anne terhadap identitas budaya yang ia teliti ini membuat data dan paparan yang ditawarkan menjadi komprehensif, seakan membuat penelitian lebih hidup karena tidak berjarak.

Buku dan tesis Anne menjadi pelengkap di antara sekian banyak penelitian akademis maupun non-akademis yang mengangkat tema utama diaspora keturunan Tiongkok di Indonesia. Dalam penelitiannya, Anne mengambil contoh tulisan dan penelitian tentang bagaimana dinamika kehidupan orang keturunan Tionghoa pasca rezim Orde Baru. Salah satunya adalah tulisan I. Wibowo berjudul “Setelah Air Mata Kering”. Dari sana terlihat bagaimana keberadaan orang-orang keturunan Tionghoa benar-benar terkait erat dengan bagaimana rezim politik memperlakukan mereka. 

Melalui buku ini Anne juga memperjelas bagaimana orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia akan terus memiliki krisis identitas dan pengakuan keberadaan. Misalnya dengan bagaimana perlunya ada surat ganti nama atau surat pernyataan melepas kewarganegaraan Tiongkok dan menjadi warga negara Indonesia. Bahkan sedekat dengan kehidupan sehari-hari, di mana secara fisik ia terlihat berbeda dan cukup distingtif dari kebanyakan orang sekitar, tetapi secara kultural dan afektif ia punya rasa memiliki terhadap lingkungan Jawa Tengah atau secara lebih besar, Indonesia. 

Anne juga sedikit banyak mengangkat bagaimana keberadaan dan dinamika kehidupan orang-orang keturunan Tionghoa tidak lepas dari label yang disebabkan oleh relasi mayoritas-minoritas dan stereotipe tertentu yang sudah melekat sejak zaman kolonial. Adanya penilaian sepihak dan kecurigaan antar kelompok ini kemudian menimbulkan keberjarakan berarti. Orang-orang keturunan Tionghoa dipandang sebagai liyan, padahal sama-sama berbicara dan bernaung di bawah satu keterikatan sebagai Indonesia. 

Mungkin ini juga yang kemudian membuat Anne mengambil metode autoetnografi dan mengantar pembaca ke narasi yang begitu pribadi. Tidak seperti penelitian objektif atau ilmu sosial lainnya, membaca tulisan Anne seperti mengintip buku harian seseorang yang sedang mencoba mengenal identitas dan akar dirinya. Anne bahkan tidak ragu mengekspresikan perasaannya sebagai bagian dari pendokumentasian, seperti bagaimana ia merasa ada ketakutan sebagai orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Cina. Ia gelisah atas apa yang terjadi: diskriminasi di era kepemimpinan Donald Trump serta kasus persekusi Ahok. 

Anne menggunakan kata ganti orang pertama dalam setiap ceritanya. Bagi kami ini adalah sebuah pernyataan tegas. Karena mengedepankan subjektivitas dalam penulisannya, isi yang ditawarkan nampak seperti curahan hati yang diilmiahkan. Kadang di beberapa kalimat dan bagian jurnal muncul kegelisahan yang meletup-letup. Walau di sisi lain hal ini menampakkan ekspresi sejujur-jujurnya. Anne menawarkan sebuah cara yang menarik, mengajak pembaca untuk ikut merasakan, namun tetap dengan usaha ilmiah di waktu yang sama. Ia mengajak kita menelusuri sebuah sudut pandang ilmiah yang baru: bagaimana ilmu dan budaya tidak terikat pada pandangan objektif dan keberjarakan, tapi justru melekat pada apa yang ada di sekitar kita secara aktual.

Walau ia sering mengangkat tulisan Fratz Fanon yang berjudul “Black Skin White Mask” sebagai salah satu referensi utama, Anne menyadari betul bahwa ada perbedaan konteks relasi mayoritas-minoritas antara orang keturunan Tionghoa dan Jawa dengan orang kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat. Orang Cina sering dianggap kaya dan mayoritas Jawa mempersekusi dengan alasan-alasan yang berhubungan dengan ekonomi, pencapaian, dan privilese. Padahal, sama seperti kelompok etnis lain, ada orang-orang keturunan Tionghoa yang hidup berbeda, tidak seindah atribut yang ditambatkan kepada mereka. Anne mengajak pembacanya untuk berpikir keluar kotak dan perlahan menghapus stereotipe yang mengakar. 

Buku yang menarik ini juga didiskusikan di Indonesian Visual Art Archive (IVAA) pada Selasa, 30 Agustus 2019, mulai jam 15.00 hingga selesai jam 17.30. Melalui diskusi itu, Anne mengungkapkan latar belakang penulisan yang lebih tanpa tedeng aling-aling. Meskipun tidak mengalami masa-masa kelam yang menimpa etnis minoritas seperti yang dialami oleh orang tuanya, tetapi, bagi Anne, menjadi seorang keturunan Cina bukanlah hal yang menyenangkan. Salah satunya adalah bayangan akan dikucilkan atau akan mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan sebagai PNS. Ia juga pernah punya keinginan untuk sebisa mungkin berkulit cokelat, membiasakan diri berkomunikasi dengan bahasa lokal, hingga hasrat mencari pasangan hidup orang Jawa supaya kecinaannya tidak tampak.

Diskusi ini juga dihadiri oleh FX. Harsono, seniman yang sudah akrab bekerja dengan isu seputar Tionghoa. Ia mengulas sejarah hitam keturunan Tionghoa sejak peristiwa Geger Pecinan, masa Orde Lama, hingga pemerintahan Orde Baru. Runutan sejarah yang seolah terwariskan pada diri Anne. Setidaknya ada dua poin utama yang muncul: pertama, masing-masing orang memiliki trauma sendiri-sendiri di tengah aneka perbedaan; kedua, diskusi menjadi ruang temu menghilangkan stereotipe tentang Cina. Bahwa Cina itu bukan setan. Tidak semua Cina itu setan dan tidak semua Cina itu dewa

Kami rasa memang tepat jika Anne mengangkat banyak teori pascakolonialisme dalam penelitian ini. Keberadaan stereotipe terhadap keturunan Tionghoa yang terbentuk sejak zaman kolonial dan sampai sekarang masih terus direproduksi itu menandakan bahwa apa yang disebut colonial hangover masih dilanggengkan. Secara tidak disadari, masih terdapat keterjajahan pikiran dan perasaan rendah diri akan identitas bangsa yang dilestarikan lewat label-label serta praktik meliyankan kelompok etnis tertentu. Tentu, buku ini adalah salah satu usaha kecil dekolonisasi yang penting dimulai dengan perlahan namun pasti. Maka suatu hari, jika seseorang berseru “Cina!” dengan tujuan menjatuhkan dan meliyankan, semestinya kita bisa menatap mereka balik dengan pandangan tegas dan penuh kasihan karena masih terkungkung pada keterjajahan pikiran dan identitasnya sendiri.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Kesenian, Karir, dan Cinta Sang Hanoman

Judul : Basoeki Abdullah, Sang Hanoman Keloyongan 
Penulis : Agus Dermawan T
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun Terbit : 2015
Tempat Terbit : Jakarta
Halaman : 280 hlm; 15 cm x 23 cm 
ISBN : 978-978-91-0904-0
Resensi oleh : Vicky Ferdian Saputra

Sejak bangsa Indonesia merasa memiliki seni lukis, nama Basoeki Abdullah (1915-1993) termasuk paling sering disebut sebagai pelukis bangsa. Popularitasnya menyandingi kenangan sebagian besar masyarakat atas Raden Saleh dan Affandi, juga atas S. Sudjojono yang pernah menjadi “musuh” dalam perbedaan pandangan ideologi seni. Basoeki Abdullah memang telah memilih jalan kesenilukisannya sendiri. Jalan naturalisme (yang diromantisasi) membuat Basoeki tidak duduk di kursi terdepan, tidak pula di belakang, tapi menjadikannya pusat penglihatan banyak orang.

Raden Basoeki Abdullah lahir di desa Sriwedari, Solo, pada 27 Januari 1915, atau Rabu Legi, 10 Rabiulawal (Mulud) dalam kalender Jawa. Ia adalah anak dari Raden Abdullah Suriosubroto, seorang pelukis naturalis yang mencatatkan nama tebal dalam sejarah seni lukis Indonesia. Ibunya adalah Raden Ayu Sukarsih, istri kedua Abdullah. Sukarsih tercatat sebagai salah seorang keluarga Kasunanan Solo yang di kemudian hari memperoleh nama keningratan: Raden Nganten Ngadisah. R.N. Ngadisah memiliki keterampilan dalam membatik. Ia sanggup menghasilkan karya-karya batik yang halus dan memikat. Itu sebabnya anak-anak Abdullah dan Ngadisah sebagian menjadi pelaku seni, termasuk Basoeki Abdullah.

Sejak dini Basoeki hidup dikelilingi tradisi istana Kasunanan Solo. Kehidupan ini jelas membawa pengaruh kepada jiwa pribadinya untuk menjadi aristokratis. Jiwa aristokratis ini kemudian terjelaskan oleh apa yang ia ciptakan lewat pensil atau cat minyak, sebagai bagian dari kecenderungan melukis bangsawan dan para tokoh bangsa terkemuka di sekitarnya. Salah satu figur yang sering ia gambar tentulah sang kakek, dokter Wahidin Sudirohusodo.

Singkat cerita, Basoeki mulai beranjak dewasa. Petualangannya dimulai dengan dirinya yang dipermandikan sebagai seorang Katolik. Ia harus memilih nama sakramen yang dalam tradisi Katolik dianggap sebagai materai bahwa ia sudah disahkan sebagai umat. Fransiscus Xaverius Agustinus Raden Basoeki Abdullah adalah nama sakramen yang ia pilih dengan tujuan agar menjadi pelukis yang (akan) berjalan jauh mengembara, dengan berbekal jiwa kuat penuh toleransi, berpikiran cerdas dan terbuka dengan kritik-kritik. 

Setelah dipermandikan ia kembali ke rumah ayah dan ibunya di Solo. Namun ia tak lama berada di situ, karena tiba-tiba dipanggil ke Bandung oleh keluarga Drs. R.M.P. Sosrokartono, kakak kandung pejuang emansipasi wanita Indonesia R.A. Kartini. Di dalam keluarga ini Basoeki Abdullah dibesarkan. Ia sering mendengarkan pembicaraan Sosrokartono dengan para tamu yang notabene para cendekiawan dan tokoh pergerakan. Basoeki sangat mengagumi pemikiran Sosrokartono. Banyak prinsip hidup yang ia dapat dari Sosrokartono. Pada masa-masa ini pula karir Basoeki dipertaruhkan sekaligus dicerahkan, karena untuk pertama kalinya lukisan Basoeki dibeli orang.

Pada akhir 1933, Basoeki Abdullah berkesempatan bertolak ke negeri Belanda. Di Belanda Basoeki langsung menuju ke kota Den Haag dan mendaftarkan diri sebagai murid Koninklijke Academie van Beeldenden Kunsten, akademi seni lukis yang dikelola Kerajaan Belanda. Masa-masa awal di akademi dia gunakan sepenuhnya untuk melihat-lihat galeri dan museum di sejumlah kota di Belanda, sehingga ia pun memiliki sejumlah pelukis idola, seperti Gerrit Dou, Frans Snyders, Pieter Janzs S., Anthony van Dyck dan lain sebagainya. Basoeki resmi menempuh pendidikan di akademi pada Januari 1935 dan selesai pada Maret 1937, lebih cepat 10 bulan dibanding ketentuan akademik yang menuntut tiga tahun masa studi.

Di Belanda pula Basoeki muda bertemu dengan “malaikat buku”, sosok wanita Belanda bernama Josephine yang pada akhirnya menjadi istri pertama Basoeki Abdullah. Pada 1937, Basoeki yang berusia 22 tahun memberanikan diri untuk menikahi Josephine yang berumur 20 tahun di sebuah gereja Katolik di Den Haag. Setelah melakukan perjalanan tamasya ke Batavia, pengantin baru ini tiba-tiba memutuskan untuk tinggal di Indonesia saja. Josephine ingin jauh ayah-ibunya yang sesungguhnya kurang setuju dengan pernikahan mereka. Namun, lantaran iklim dan cuaca di Batavia kurang cocok dengan orang Belanda, mereka pun pindah ke Bandung yang lebih sejuk. Di kota ini, Josephine melahirkan anak pertamanya, Saraswati, pada 1938.

Sampai suatu ketika, Basoeki memutuskan untuk kembali ke Batavia dan tinggal di Jalan Gambir Buntu. Di Batavia kehidupan seni lukis Basoeki mulai menyala secara profesional. Lukisannya banyak dikoleksi orang, sehingga ia mampu membeli mobil Ford Cabriolet yang lumayan keren. Kemampuan Basoeki makin diperhatikan komunitas seni kelas atas. Karena itu ia lantas disponsori untuk berpameran di galeri toko buku Kolff, Jalan Noordwijk, Jakarta pada 21-31 Januari 1939. Sambutan yang datang di luar dugaan. Bahkan pada pameran tersebut para pejabat tinggi Belanda menyempatkan diri untuk hadir. Peristiwa yang langka untuk pelukis bumiputera Indonesia.

Namun, reputasi Basoeki yang kian mengemuka dalam pameran itu sepertinya tidak berkenan bagi sebagian publik seni rupa di Indonesia. Serangan dari sejumlah pelukis dan kritikus dilontarkan kepada lukisan-lukisan Basoeki dan lukisan ayah serta kakaknya. Mereka menilai konsep dan gaya lukis Abdullah Suriosubroto, Basoeki Abdullah, Sudjono Abdullah, serta para pelukis Hindia Belanda lainnya menganut “Mooi Indie” (Hindia Jelita) yang cuma menghamba pada selera turis. Kritik pedas yang ia terima lantas tidak menjadikannya patah dalam berkarya. Justru Basoeki menjadi tambah semangat untuk membuka jalannya sendiri di medan seni rupa Indonesia.

Pada 1939 ia memulai muhibahnya. Berbekal puluhan karya, ia berkunjung dan berpameran di Surabaya, Yogyakarta, Bandung, hingga Medan. Pameran muhibah itu memunculkan kekaguman, pujian, sekaligus aneka kritik. Menurut dia, sebuah perjalanan seni memang bukan sekadar mencari pengakuan, tetapi juga menatap panorama kritis yang dapat melucuti semangat kemajuan. Secara umum, respon positif atas karir Basoeki muncul dari pers. Bersamaan dengan kesibukan Basoeki memetik pujian, kritik dan popularitas, kehidupan bahagia Basoeki dan Josephine tampak mengalami erosi. Setelah melewati berbagai peristiwa keluarga, pada akhir 1941 mereka sepakat bercerai.

Babak baru perjalanan hidup Basoeki Abdullah diceritakan bersamaan dengan kekuatan baru yang menguasai Indonesia. Terselubungi oleh dalih mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, kini giliran Jepang yang memegang kendali. Di Jakarta, Basoeki diceritakan bergabung dengan Poetera (Poesat Tenaga Rakjat). Di organisasi ini, ia lantas diserahi tugas memegang bagian kebudayaan bersama Affandi dan S. Sudjojono, rekan seprofesi yang menjadi sparring partner-nya. Pada jaman Jepang dunia kesenilukisan Basoeki tetap meluncur lancar. Kegiatan organisasi yang ia ikuti menjadikannya semakin dekat dengan sosok Soekarno, yang menurut Agus Dermawan, Basoeki dan Sukarno ini ibarat dua kutub magnet yang saling tarik-menarik.

Di punggung buku ini dijelaskan bahwa Basoeki Abdullah menyebut dirinya sebagai “Hanoman keloyongan” atau Hanoman yang berjalan ke mana-mana karena hampir separuh umur Basoeki digunakan untuk mengembara dan berkarya di luar negeri. Namun, sesungguhnya sosok Hanoman muncul karena permintaan seorang wanita. Dalam kesibukannya mengurus persiapan pameran di Amsterdam, Basoeki berjumpa dengan seorang wanita belanda bernama Maria Michel. Ia adalah seorang penyanyi seriosa yang telah mengenal Basoeki sebelumnya. Di dalam pertemuan tersebut, mereka saling berbalas kisah mulai dari musik klasik sampai cerita tokoh pewayangan. Dari situ Maria sangat terkesan kepada Hanoman dan menyebut Basoeki sebagai Hanoman. “Basoeki harus jadi Hanoman”, kata wanita itu.

Basoeki melamar Michel dan mereka akhirnya menikah. Karena pelafalan nama Maria sangat mirip dengan bunyi “maya”, Basoeki mengindonesiakan Maria menjadi Maya. Maria senang dengan nama ini karena artinya misterius; ada tetapi tidak ada. Basoeki hidup bahagia dengan Maya. Mereka hidup berpindah-pindah, dari Belanda, Singapura, lalu Jakarta. Namun, lagi-lagi pernikahan mereka harus kandas oleh isu politik yang memicu perselisihan antara Basoeki dan Maya, ditambah fakta bahwa Basoeki diam-diam mengagumi wanita Jepang yang pada akhirnya gagal ia nikahi karena tidak memegang restu dari ayah wanita Jepang tersebut.

Sebelum bercerai dengan Maya, karir kesenian Basoeki semakin menuju puncak, sampai pada akhirnya ia diminta untuk menjadi pelukis Istana Kerajaan Thailand. Keluarga istana sangat mencintai Basoeki dan karyanya. Ia mendapat studio yang nyaman dan upah yang lebih dari cukup. Basoeki yang jomblo itu hidup enak dan hedonis. Statusnya sebagai pelukis Istana ia manfaatkan untuk menarik perhatian seorang wanita. Somwang Noi adalah gadis bar yang akhirnya terpikat oleh figur Basoeki. Namun, hubungan mereka tidak mendapat restu oleh keluarga Istana. Meskipun demikian, cinta akhirnya mengalahkan segalanya. Basoeki nekat menikahi Noi. Dan benar adanya, hubungan mereka hanya berlangsung dua tahun. Lagi-lagi Basoeki ditinggalkan karena alasan playboy.

Pernikahan keempat dan kelima Basoeki dilakukan bersama satu wanita Bangkok bernama Nataya Nareerat. Pernikahan keempatnya harus dimanipulasi demi mengelabuhi regulasi hukum Thailand yang melarang kewarganegaraan asing untuk memiliki tanah di Thailand. Perceraian pun dilakukan sebagai siasat Basoeki dan Nataya agar mereka dapat membeli tanah di Thailand. Setelah mereka memiliki sebidang tanah, mereka kembali menikah secara hukum dan hidup bahagia bersama. Pada 13 Oktober 1972, Nataya melahirkan seorang anak bernama Cicilia Sidhawati.

Sampai di sini, lika-liku kisah cinta Basoeki tidak lagi menjadi sorotan. Nataya adalah cinta terakhir Basoeki. Topik pembahasan berganti menjadi kegelisahan Basoeki atas kondisi di negaranya, Indonesia. Situasi kesenian sedang tidak kondusif. Ketika itu muncul lembaga-lembaga kebudayaan kiri maupun kanan. Gesekan-gesekan politik di antara kedua kubu membuat ia gundah untuk kembali tinggal di Indonesia. Secara pribadi Basoeki sependapat dengan Manifesto Kebudayaan, namun ia tidak ingin terlalu mencampuri perbedaan pendapat tersebut. Ia takut kalau hubungan persahabatannya dengan Sukarno yang sangat tidak sependapat dengan Manifesto Kebudayaan akan terganggu.

Basoeki melanjutkan karirnya di luar negeri seperti biasa. Ia bertolak dari satu negara ke negara lain. Setelah Thailand, ia sempat menjadi pelukis Sultan Brunei Darussalam, Istana Presiden Filipina, sampai akhirnya ia bisa kembali berkesenian di Indonesia. Kembalinya ia ke Indonesia berawal karena paksaan Presiden Soeharto yang menginginkannya untuk melukis potret di Istana dengan alasan bahwa Basoeki Abdullah adalah satu-satunya pelukis potret terbaik yang dimiliki Indonesia. 

Bagian-bagian akhir dari buku ini adalah bagian paling menarik yang akhirnya melengkapi kisah kehidupan Basoeki yang keloyongan. Menyenangkan dan lega rasanya mengetahui rivalitas Basoeki dengan S. Sudjojono berakhir dengan canda tawa, terkejut ketika pertemanannya dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX berakhir kurang baik, dan sedih rasanya harus mengetahui bahwa Raden Basoeki Abdullah (Hanoman) harus mengakhiri kisahnya dengan tragis.

Agus Dermawan T, melalui buku ini menceritakan perjalanan hidup Basoeki Abdullah dengan cukup detail. Alur cerita yang kronologis memudahkan pembaca dalam memahami isi cerita dan peristiwa yang ada. Kisah yang dimuat tidak melulu soal seni (lukis), tapi juga kisah cinta dan pernikahan Basoeki yang berkali-kali gagal, serta hal-hal mistis yang ia jalin dengan Nyi Roro Kidul. Buku ini yang seolah sangat personal ini bagi saya memberikan pandangan lebar dalam melihat figur Basoeki Abdullah sebagai seorang pelukis maupun Sang Hanoman yang “keloyongan”.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Menonton ‘Panggung Depan’ dan ‘Panggung Belakang’ Pergelaran Reyog Ponorogo

Judul : Play and Display: Dua Moda Pergelaran Reyog Ponorogo di Jawa Timur
Penulis : G.R. Lono Lastoro Simatupang 
Penerbit : Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Yogyakarta 
Halaman : xvi + 286
ISBN : 978-602-73120-3-6
Resensi oleh : Hardiwan Prayogo

Penulis buku ini, G.R Lono Lastoro Simatupang, lahir dan besar di Yogyakarta. Pengalaman pertamanya dalam menyaksikan reyog Ponorogo justru tidak terjadi di Ponorogo, atau bahkan Jawa Timur, tetapi di Yogyakarta. Pada akhir 1960-an, untuk pertama kalinya, Lono menyaksikan secara langsung pertunjukan reyog Ponorogo. Lono menyebut pertunjukan ini sebagai versi ‘tulen’ reyog Ponorogo. Ia sebut demikian karena saat itu dia ingat betul setiap babak atau episode hingga detail kostum yang digunakan. Perjumpaan kedua terjadi sekitar 30 tahun kemudian, yaitu pada 1997 di Ponorogo, lebih tepatnya saat digelar lomba reyog di Ponorogo. Kali ini, secara detail, banyak yang berbeda dari reyog yang dia saksikan pada kisaran 1960-an. 

Buku yang ditulis dalam rangka disertasi ini kemudian berangkat dari asumsi bahwa reyog adalah sebuah pertunjukan tari yang kerap berbeda-beda dan mungkin berubah. Lono melakukan penelusuran lebih jauh, merambah pada peletakan kesenian ini dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat, khususnya Ponorogo yang juga senantiasa berubah. Apa makna-makna lokal yang dilekatkan pada reyog Ponorogo? Mengapa masyarakat Ponorogo mempergelarkan reyog Ponorogo dari masa ke masa? Bagaimana menyelami seluk-beluk hubungan antara cerita asal-muasal/ teks dan pergelaran reyog Ponorogo? Beberapa pertanyaan seputar teks dan konteks itulah yang dielaborasi dalam buku ini. 

Lono menawarkan bagaimana memperdalam sebuah penelitian, khususnya terhadap kesenian tradisional, yang lebih dari sekadar mencari fungsi, bentuk, dan makna. Bisa jadi tidak semua pembaca sepakat bahwa buku ini sedang menawarkan hal tersebut. Lono melakukan pendalaman teoritis atas fenomena pergelaran, yang lebih lanjut dalam buku ini disebut sebagai performance studies. Tarikan penelusuran ini berasal dari perspektif fenomenologis. Ia menekankan pergeseran dari “sebab-akibat” ke dalam teori-teori embodiment. Maka yang dilakukan Lono untuk meninjau kasus reyog Ponorogo adalah mengambil peristiwa pergelaran sebagai titik tolak, bukan dari kisah dan cerita dalam pertunjukan. Inilah titik di mana Lono ingin memperdalam penelusurannya lebih dari fungsi, bentuk, dan makna, karena ketiganya justru ditentukan dari perspektif pergelaran. Singkat kata, peristiwa pergelaran adalah teks yang teraktualisasi, terus menggulirkan artikulasi dan cipta-ulang makna-makna. Hal-hal bersifat fenomenologis ini kemudian disebut sebagai ‘panggung belakang’. Dengan menemukan banyak data di lapangan melalui metode etnografi yang dilakukan, Lono memperluas spektrum analisisnya. 

Istilah ‘panggung depan’ kemudian dimunculkan untuk melihat praktik pergelaran dari perspektif peneliti, sekaligus penonton dan orang dari luar Ponorogo. Salah satunya adalah dari kacamata hegemoni negara dan negosiasi seniman. Tekanan negara, khususnya pada masa Orde Baru, yang turut serta menggunakan kesenian sebagai salah satu medium propaganda program pemerintah, berhadapan dengan seniman yang memiliki kepentingannya sendiri. Adalah suatu kehati-hatian bahwa tinjauan atas kepentingan-kepentingan ini bisa jadi tergelincir dalam penilaian yang cenderung normatif dan pragmatis.

Tanpa perlu ditegaskan lagi, metodologi dan analisis pasti akan memerlukan penyesuaian jika ingin diterapkan pada studi kasus yang berbeda. Buku ini kemudian dapat ditempatkan sebagai referensi untuk meneliti bagaimana meninjau kesenian, dalam bingkai spasial, temporal, dan material; melihatnya sebagai fenomena pengalaman yang diintensifkan oleh kesenian. Tertulis secara jelas bahwa kajian ini ingin melahirkan pemahaman tentang upaya mencari pengalaman-pengalaman yang dikonstruksikan dalam pergelaran reyog Ponorogo, dan juga bingkai yang membawa penajaman pengalaman tersebut. 

Membaca kajian reyog Ponorogo dalam buku ini membuat saya teringat pada satu artikel di koran Pikiran Rakyat edisi Jumat, 12 September 1986. Artikel ini berisi liputan tentang sarasehan kebudayaan di Studi Teater Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), yang menghadirkan Sanento Yuliman dan Emha Ainun Nadjib. Sarasehan tersebut membicarakan seputar sejauh apa nilai-nilai budaya Indonesia terpengaruh oleh dominasi budaya barat. Di penghujung artikel, Emha berpendapat bahwa paradigma budaya, khususnya kesenian, antara orang Indonesia dan barat berbeda. Jika orang barat mengenal seni dengan proses ‘tahu’, ‘mengerti’, dan ‘bisa’, orang Indonesia melaluinya dengan ‘bisa’ lebih dahulu. 

Dengan berawal dari dari asumsi demikian, kita memang berhak untuk selalu mengajukan pertanyaan di mana posisi kajian dalam ekosistem kesenian, sejauh apa kehadirannya bekerja secara dialektis di antara teori dan praktik. Kembali pada buku ini, kajian yang menitikberatkan pada analisis fungsi, bentuk, dan makna mungkin sebenarnya tidak terlalu relevan dengan bagaimana kerja seni sebagai bagian dari produksi pengetahuan di konteks masyarakat kita. Pendekatan dan perspektif yang digunakan secara tidak relevan dan menukik pada kajian sen barangkali berpotensi melebarkan jarak epistemologis antara kajian seni dengan praktik yang terjadi.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Koleksi Komik Akademi Samali

oleh Hardiwan Prayogo

Apotik Komik, sebuah kolektif seniman komik yang banyak bergerak di wilayah penciptaan dan peredaran komik independen, serta seni di ruang publik. Salah satu proyeknya adalah ketika terlibat dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XI tahun 1999. Ketika itu, judul karya kolektif mereka adalah “Sakit Berlanjut” yang berangkat dari pengamatan terhadap situasi sosial politik di Indonesia. Adanya reformasi, Sidang Istimewa (SI) MPR 1998, pemilu, KPU dan berbelit-belitnya proses hukum yang penuh distorsi, ternyata belum menyembuhkan luka bangsa akibat rezim otoriter Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun.

“Sakit Berlanjut” menampilkan sekitar seratus karya komik yang akan dipajang di tempat-tempat umum di sekitar Yogyakarta. Ini adalah upaya untuk memecah arak antara karya seni dengan masyarakat. Tujuh perupa yang tergabung dalam Apotik Komik adalah Samuel Indratma, Bambang Toko Witjaksono, Popok Tri Wahyudi, Arie Dyanto, Anne Blume, Sisdaryono, dan Rico Emor. 

Selain itu ada pula proyek mural kota “Sama-Sama” pada 2002. Ini adalah proyek kerjasama antara Apotik Komik dengan 6 seniman dari San Fransisco, Amerika Serikat. Karya-karya yang dihasilkan menggunakan tembok-tembok di sekitar Kota Yogyakarta sebagai kanvasnya. Beberapa titik yang menjadi lokasi mural antara lain, bioskop Permata, gudang listrik Kota Baru, Etnik Kafe, dan tembok Stasiun Tugu. Arsip proyek mural ruang publik ini dapat dijelajahi di laman berikut ini, atau dengan mengunjungi perpustakaan IVAA.

Komik memang memiliki sejarah perjalanannya sendiri. Pun sebagai karya seni, komik tentu pernah singgah dalam benak anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Kehadiran Apotik Komik dengan proyek keseniannya yang banyak mengaktivasi ruang publik sebagai ‘galeri’, adalah sebagian kecil dari perkembangan wacana komik di Indonesia. Terhitung semenjak komik strip berseri dengan tokoh Put On karya Kho Wong Gie terbit di surat kabar Sin Po pada 1931, perkembangan komik telah melaju bersama dengan dinamika sosial, politik, hingga teknologi.

Dikutip dari harian Kompas, terbitan Jumat, 13 Oktober 2006, ada 13 komikus berkumpul di sebuah rumah di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan pada Sabtu, 7 Oktober 2006. Mereka ikut meramaikan “24 Hour Comics Day”. Inti dari acara yang diperingati seluruh dunia bersama 16 negara lain ini adalah menggambar komik dalam kertas berukuran A4 setebal 24 halaman secara maraton dalam 24 jam. Gerakan yang digagas oleh dua komikus Amerika bernama Scott McCloud dan Nat Gertler pada 2004 ini kemudian menyebar menjadi semacam ‘tantangan’ bagi komikus-komikus di berbagai negara. Artikel mengenai kegiatan ini dapat dibaca di perpustakaan IVAA.

Di Indonesia sendiri, acara ini diikuti oleh sekitar 70 komikus yang tersebar di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Alasan partisipasinya adalah karena mereka merasa bahwa komik Indonesia membutuhkan panggung untuk lebih banyak dikenal khalayak dari berbagai penjuru dunia. Dengan kata lain, ada upaya dari komikus-komikus ini untuk mencari momentum. Tentu situasinya berbeda dengan sekarang di mana akses teknologi informasi sudah lebih terbuka. 

Setahun sebelumnya, Maret 2005 di Jakarta, Beng Rahardian (Tehjahe Studio), Hikmat Darmawan (Studio 9), dan Zarki (Studio Ginuk) mendirikan Akademi Samali. Dilansir dari laman http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/69, komunitas ini berangkat dari semangat merangkul berbagai pihak yang ingin mengembangkan komik Indonesia. Maka, selain mengumpulkan komik-komik independen, Akademi Samali juga aktif terlibat dalam pameran, mengadakan diskusi, hingga workshop

Terhitung sejak Mei 2019, Akademi Samali menghibahkan koleksi komiknya pada IVAA. Menurut Beng, komik-komik ini adalah hasil koleksi yang dikumpulkan sejak tahun 1990 hingga pertengahan dekade pertama tahun 2000. Salah satu hal yang menarik ketika saya membaca komik-komik koleksi Akademi Samali ini adalah kita disuguhi berbagai ragam tema dan narasi dalam bahasa visual. Dengan kata lain, komik bukanlah soal mana yang paling lihai menggambar, tetapi perkara kemampuan bercerita dalam bahasa visual yang memikat imajinasi. Koleksi yang berjumlah lebih dari 800 komik ini dapat diakses dengan langsung mengunjungi Rumah IVAA. 

Checklist koleksi komik Akademi Samali

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Terlibat Langsung Mencipta Arsip

oleh Ahmad Muzakki

Perkembangan seni budaya di Yogyakarta sangat dinamis. Yogyakarta banyak melahirkan seniman-seniman baru yang mampu berkontribusi dalam perkembangan seni budaya di Indonesia. Selain dengan banyaknya lembaga pendidikan kondisi ini juga didukung oleh banyaknya ruang alternatif yang berguna bagi para seniman muda untuk berproses dan berkarya. Seorang budayawan bernama Goenawan Mohammad, dalam sebuah diskusi sastra di Yogyakarta, pernah menyatakan bahwa Yogyakarta merupakan ibu kota seni rupa di Asia Tenggara. Pernyataan ini semakin menebalkan anggapan bahwa Yogyakarta menjadi sebuah lingkungan yang sangat mendukung proses kreatif seni di dalamnya.

Inilah satu alasan kenapa saya menginjakkan kaki di kota ini. Selain untuk menimba ilmu saya juga memiliki keinginan untuk ikut berproses secara langsung dalam proses kreatif suatu penciptaan karya seni. Secara personal, saya juga tertarik dengan tulisan-tulisan mengenai seni-budaya di media massa. Akhirnya saya memutuskan untuk menanggapi ketertarikan ini ke dalam proses tugas akhir kuliah. 

Pada pertengahan 2018, di tengah proses pencarian sumber untuk penelitian skripsi, saya melihat pengumuman program magang dari Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Akhirnya pada April 2019 saya memutuskan untuk mengikuti program tersebut selama tiga bulan. Beruntung sekali karena saya diterima dan bergabung bersama kawan-kawan magang lainnya. Perpustakaan menjadi bidang yang kemudian saya kerjakan. 

IVAA didirikan pada April 2007 sebagai organisasi nirlaba yang berkembang dari Yayasan Seni Cemeti (YSC) (1995-2007). Pengumpulan dan eksplorasi arsip menjadi aktivitas utama organisasi ini. Beragam koleksi arsip serta buku yang dimiliki juga dapat difungsikan sebagai sumber penelitian. Dalam catatan biografinya IVAA menyatakan percaya bahwa seni, dalam hal ini seni rupa, mampu membuka wawasan dan pemahaman atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Pemikiran kritis dan aspirasi warga perlu dicatat, ditelaah, dan disosialisasikan. Sebagai salah satu upaya eksplorasi arsip, IVAA menyadari pentingnya membawa kisah-kisah yang terkandung dalam arsip kepada khalayak. Melalui pameran arsip, sejarah dihadirkan sebagai pengalaman yang cair dan hangat.

Selama kurang lebih tiga bulan bergabung dengan keluarga IVAA, saya mendapatkan pengalaman yang sungguh luar biasa. Tidak hanya teori namun juga keterlibatan langsung dalam sebuah proses pengarsipan maupun pendokumentasian proses penciptaan karya seni. Saya percaya bahwa dalam seni dan sastra, pengalaman secara langsung menjadi kebutuhan wajib di samping mendengar teori. Berangkat dari hal tersebut saya memantapkan diri berproses di IVAA. 

Bekerja di bidang perpustakaan sangat menguntungkan bagi saya, karena wacana mengenai kesenian yang saya miliki semakin bertambah. Walaupun berbeda bidang dengan empat kawan magang lainnya, pada dasarnya pekerjaan yang kami tekuni masih berkesinambungan. Artinya secara tidak langsung saya dapat menyimpulkan bahwa perpustakaan dan arsip adalah dua hal penting yang saling terhubung.

Banyak orang mengira arsip adalah sebuah hal yang kurang menarik. Mungkin arsip hanya dibutuhkan oleh orang-orang seperti para mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan studinya. Namun, sebenarnya arsip merupakan catatan sejarah dan bukti paling konkret atas suatu peristiwa. Begitu juga dalam ranah seni rupa maupun bidang seni lainnya. Seorang seniman dan karyanya tidak akan selamanya bertahan di dunia ini. Akan tiba masa di mana mereka mati secara fisik. Di titik ini, arsip punya peran penting. Ia akan menjadi bukti kehidupan dan saksi semangat dari sebuah proses penciptaan karya seni. Artinya, dengan keterlibatan arsip, ruh dari seni yang telah mati secara fisik akan senantiasa hidup mewakili olah raga dan rasa dari penciptanya. 

Era digital seperti saat ini memberikan dimensi kemudahan sekaligus tantangan. Para pekerja kebudayaan dan pengarsipan dituntut untuk selalu dapat memposisikan diri secara kontekstual mendekatkan kerja-kerja tersebut dengan publik. Salah satu hal yang secara konsisten diupayakan IVAA adalah memproduksi media daring berisi tulisan-tulisan seni-budaya yang juga menyuguhkan koleksi arsipnya. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa lingkarang seni rupa yang sudah ada menjadi modal IVAA. Melalui e-newsletter yang rutin diterbitkan, IVAA menjaga eksistensinya di tengah jaman digital yang serba praktis dan instan ini. Tulisan-tulisan di dalamnya akan ikut membangun wacana untuk masyarakat luas dan menjadi media baca alternatif di tengah minat baca yang masih rendah. 

Saya dan empat kawan magang lainnya dilibatkan secara langsung dalam proses penulisan e-newsletter tersebut. Kami menjadi kontributor tulisan untuk dua edisi terbitan Maret-April dan Mei-Juni. Proses ini membuka ruang pengalaman baru bagi para kawan magang untuk turun ke lapangan secara langsung; melakukan riset literatur hingga lapangan, serta berdialog dengan seniman yang bersangkutan. 

Khusus untuk edisi Maret-April, saya melakukan dialog dengan para aktivis JES (Jembatan Edukasi Siluk) di Imogiri, Bantul. Bersama kawan magang lainnya, saya menjadi tahu bagaimana perjuangan warga Jembatan Siluk mendidik anak-anak sekaligus merawat kreativitas mereka di tengah kondisi pendidikan yang semakin menjemukan. Melalui dialog dengan Mas Kuart, sebagai penggagas ruang kreatif ini, kami dapat mendengar suka-duka yang mereka alami.

Pada edisi selanjutnya, Mei-Juni, saya juga berkesempatan untuk menulis artikel tentang Gerilya Project, sebuah program edukasi para pelajar di Yogyakarta yang pernah dilaksanakan YSC. Kesempatan ini juga memberikan saya pengalaman untuk berdialog dengan salah satu pengajar yang terlibat pada masa itu, dan dengan Aisyah Hilal. Ia adalah salah satu pendiri IVAA sekaligus salah satu penggagas Gerilya Project. 

Selain keterlibatan di proses produksi e-newsletter, saya juga melakukan kerja-kerja liputan acara-acara kesenian seperti pameran. Tapi saya tidak akan menuliskan secara detail pada kesempatan kali ini. Yang jelas, banyak sekali ilmu serta pengalaman yang saya dapat ketika mengikuti program magang di IVAA. Jika diberi kesempatan lagi, tentu saya akan bersedia untuk berproses di sana kembali. Saya punya harapan besar agar IVAA dapat menjadi media alternatif yang mampu memberikan wawasan soal pentingnya pengarsipan bagi khalayak. Terima kasih untuk kesempatan ini. Salam budaya!!!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Arsip Seni Rupa dan Aktivisme: Catatan dari Kuliah Nuraini Juliastuti

oleh Gladhys Elliona

Pertengahan Juli 2019 lalu, di ruang arsip Rumah IVAA, Nuraini Juliastuti (akrab disapa Nuning), seorang peneliti dan akademisi seni, menggelar kuliah kecil yang dihadiri belasan peneliti dan mahasiswa dari Victorian College of the Arts, University of Melbourne, Australia. Nuning menjelaskan soal perkembangan sejarah seni Indonesia kepada peserta. Ia memulai dari menerangkan dengan bagaimana Indonesia digambarkan sejak masa Hindia-Belanda. Bagaimana lukisan-lukisan yang didominasi oleh gambar lanskap Indonesia — yang disebut mooi indie atau hindia molek — adalah bentuk dari orientalisme, pandangan eksotis bangsa kolonial terhadap keadaan di Hindia-Belanda waktu itu. Dilanjutkan pada masa menjelang kemerdekaan, hingga beberapa tahun setelahnya, lukisan Indonesia diwarnai oleh gaya-gaya realisme sosial. Tema tersebut menitikberatkan keadaan Indonesia yang menjadi negara baru dan memberikan pandangan senyatanya dengan narasi yang dibangun oleh bangsa Indonesia sendiri. Bukan hanya untuk merepresentasikan Indonesia dengan semacam eksploitasi keindahan geografis, tetapi juga menyorot pada apa yang terjadi di dinamika sosial Indonesia.

Kemudian, dengan perkembangan pembangunan infrastruktur serta naiknya Orde Baru, fokus dalam seni lukis dan seni rupa Indonesia secara keseluruhan beralih. Beriringan dengan mencuatnya industrialisasi, komunitas seniman secara langsung maupun tidak membuat diskursus tentang kontrasnya hidup di kota dan desa, serta pandangan akan ketimpangan ekonomi maupun gaya hidup yang semakin jauh. Peralihan pandangan tentang urbanisasi, transmigrasi yang kadang dipaksakan, serta distribusi populasi yang selalu menjadi masalah menjadi turunan diskursus tersebut. Wacana seni rupa pun berubah menjadi ‘manusia dan alam melawan teknologi serta perkembangan industri’. Terjadinya krisis ekonomi di akhir Orde Baru menggiring Indonesia ke era Reformasi. Selama Soeharto memimpin dari 1966-1998, pemerintah membangun pusat-pusat budaya di setiap provinsi. Institusi seni yang digagas pemerintah tersebut menjadi semacam kontrol atas rakyat, bahwa setiap karya seni mesti disetujui oleh lembaga pemerintah.

Nuning juga menjelaskan peran aktivisme seni saat era Reformasi, ketika gelombang perlawanan dari mahasiswa menguat pada 1994, tahun pertama saat Nuning berkuliah. Aktivisme dan seni berkelindan dimulai dari bagaimana orang-orang mengklaim kembali ruang-ruang di Jogja, termasuk ruang kebudayaan untuk mengekspresikan kritiknya atas pemerintahan. Dari sana, membuat karya seni yang kritis terhadap pemerintahan menjadi penting dilakukan. Setelah Reformasi terjadi, tepatnya pasca 1998, aktivisme mulai memiliki tempat yang cair dalam seni, seperti seni rupa, film, media, dan di semua bentuk yang biasanya dikuasai oleh propaganda pemerintah.

Berkenaan dengan arsip sebagai salah satu bagian dari politik budaya, salah satu peserta kuliah bertanya perihal seni visual apa yang kemudian berhak diarsipkan dan dianggap sebagai arsip. Nuning menjelaskan bahwa arsip sangat bergantung dengan era yang sedang terjadi, karena bagaimana masa dan institusi mendeskripsikan arsip berubah seiring waktu dan kepentingannya. 

Nuning menambahkan bahwa penting untuk menghubungkan arsip dan aktivisme. Dari situ kita bisa meninjau ulang makna-makna aktivisme dalam tiap karya seni visual — terlebih pasca Reformasi. Di sini kemudian juga muncul satu poin bahwa pengarsipan sebenarnya adalah bagian dari aktivisme itu sendiri. Bahwa kemudian arsip menjadi sebuah gerakan yang memiliki ketahanan, dan dimaksudkan sebagai aktivitas jangka panjang. Nuning menegaskan, bahwa keberadaan Indonesian Visual Art Archive, sebagai lembaga alternatif dan mengusung aktivisme dengan cara lain, merupakan satu dari beberapa lembaga lain yang bertahan lama, menimbang sebagian besar kelompok, kolektif atau institusi alternatif rata-rata berumur pendek di Indonesia.

Seni dan aktivisme di Indonesia juga tidak lepas dari isu-isu global seperti konservatisme agama dan penerimaan gender ketiga, isu-isu berkenaan dengan kelompok queer atau gender non-biner. Dua kubu itu tentu tidak bisa saling bertemu dan perselisihan sering tak terelakkan. Ruang-ruang alternatif kemudian memberikan tempat bagi aktivisme gender. KUNCI Cultural Studie Center mengadakan pemutaran film oleh sutradara transgender Tamara Pertamina. Film-film yang dihadirkan pun berguna untuk membuka pengetahuan Bissu sebagai gender kelima dan budaya Sulawesi Selatan. Namun, acara ini tidak diumumkan secara masif karena masih adanya ketakutan akan tanggapan masyarakat serta kesadaran atas ancaman dari kaum konservatif. 

Di akhir kuliah, Nuning kemudian menjelaskan beberapa kolektif seni yang dapat menyuarakan pendapat dan ekspresi seni sebagai kegiatan politis, misalnya praktik kelompok Taring Padi. Beberapa gerakan seni juga berorientasi pada masyarakat dan kewargaan yang tidak secara literal menasbihkan diri sebagai gerakan politik, tetapi bentuk tersebut juga dapat dimasukkan ke dalam seni yang mengusung aktivisme, seperti Mulyono yang membuat Kesenian Unit Desa: mengajak serta memberdayakan warga desa dan kampung kota untuk berkegiatan seni dan menyuarakan pendapat dari praktik artistik. 

Dari sini pula, seni sebenarnya sangat bergantung pada ruang aman untuk para seniman dengan identitas dan karyanya, untuk tetap menyelipkan aktivisme dan atau isu yang ingin mereka usung dalam setiap kerja artistiknya. Hal ini menandakan bahwa posisi seniman di Indonesia umumnya masih prekariat dan berada dalam keadaan rentan akan tanggapan sosial serta pandangan bahwa karya yang dihasilkan akan selalu melawan norma-norma yang ada. Padahal, tujuan aktivisme dalam seni adalah untuk menampakkan realita yang direpresi, serta menjadikan seniman sebagai warga berdaya, warga yang juga terlibat pada diskursus politik untuk menipiskan sekat antara suara rakyat dan pemerintah.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

PENGUMUMAN KANTOR: Perpindahan Lokasi Parkir Sementara

Salam KawanIVAA!

Kami mengumumkan bahwa akan berlangsung perbaikan saluran air di area Kampung Dipowinatan yang meliputi Gang Hiperkes atau jalan utama menuju RumahIVAA. Perbaikan direncanakan memakan waktu selama kurang lebih 1 (satu) bulan terhitung mulai 2 s.d. 30 September 2019.

Berkaitan dengan hal tersebut, bagi kawan-kawan yang membawa kendaraan pribadi dan hendak mengakses koleksi perpustakaan ataupun arsip secara langsung di RumahIVAA pada rentang tanggal tersebut, sila memarkirkan kendaraannya di Kantor Hiperkes (sisi utara Rumah IVAA).

Layanan Perpustakaan dan Arsip IVAA tetap buka seperti biasa pada hari Senin-Jumat, mulai pukul 09.00-17.00, kecuali pada hari libur nasional/ keagamaan. 

Tabik,

IVAA