Tag Archives: #buletinivaa_Januari2020

Poster dalam Semesta Arsip

oleh Hardiwan Prayogo

Pertengahan Januari, ketika Mikke Susanto sedang mempersiapkan Pameran Poster Seni Rupa tahun 1974-2019, yang bertajuk Masa Lalu Belumlah Usai, ia menghubungi IVAA untuk menjadi salah satu narasumber di diskusi yang digelar pada hari pembukaan pameran, yaitu 22 Januari 2020. IVAA diminta untuk membicarakan poster dalam perspektif pengelolaan arsipnya. Alhasil, guna mempersiapkan materi obrolan, saya membuka lagi ribuan lembaran arsip poster koleksi IVAA. Melihat kembali fungsi utama IVAA yang bergerak di bidang pengarsipan dan seni rupa, poster menjadi salah satu rasi dalam semesta koleksi arsip IVAA. Secara umum, poster koleksi IVAA terbagi ke dalam poster promosi peristiwa seni dan poster yang bersifat propaganda. Selanjutnya, persoalan bagaimana poster berelasi dengan arsip-arsip lainnya akan diulas dalam sorotan arsip kali ini. Lebih jauh lagi, yang akan diulas adalah arsip poster event atau peristiwa seni.

 

 

 

 

 

 

Sebagai arsip, poster terhitung sebagai arsip yang cukup jarang diakses publik. Untuk menjawab persoalan ini tentu memerlukan pelacakan lebih panjang dan mendalam di lain waktu. Terlepas dari akses dan atensi publik pada arsip poster, IVAA menyimpan lebih dari 2500-an poster mulai dari 1987 hingga awal 2020 ini. Meski belum seluruhnya terinventarisasi dalam pencatatan, pameran tugas akhir Suwarno, dan pameran Forum Komunikasi Seni tercatat sebagai poster tertua sejauh ini, dengan tahun 1987. Kenapa IVAA juga merasa perlu menyimpan poster? Salah satu alasan filosofisnya adalah IVAA meyakini bahwa arsip selalu memiliki 2 aspek, yaitu nilai informasi (informational value), dan nilai bukti (evidence value). Selain memang memiliki informational value, sebagai evidence value kehadiran poster saya kira perlu disandingkan dengan arsip-arsip lain seperti katalog, foto/video dokumentasi, hingga liputan media. 

 

 

 

 

 

 

 

Lantas informasi apa yang umumnya dimiliki oleh selembar poster? Poster selalu memiliki informasi mengenai siapa saja pelaku seni yang terlibat, judul acara, waktu dan tempat pelaksanaan. Dalam sekilas pandang sambil lalu, setidaknya sebagian informasi tersebut akan diperoleh. Beberapa poster, salah satunya dalam peristiwa seni yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta, selalu mencantumkan satu esai pengantar yang biasanya ditulis oleh kurator pameran. Informasi-informasi general dalam poster ini jelas terbatas, maka perlu dicari relasinya dengan arsip-arsip lain. Mari kita mulai membuka kembali lembaran-lembaran poster koleksi IVAA.

Contoh pertama adalah Proyek Seni Rupa Yuswantoro Adi yang berjudul Bermain & Belajar. Poster yang kemudian menjadi bagian dari event ephemera ini juga memiliki katalog. Dari sebaran arsip peristiwa seni yang dimiliki IVAA, terlihat bahwa poster event menggambarkan bahwa acara ini bertema seputar anak-anak. Namun, bagaimana anak-anak direpresentasikan dalam pameran ini? Dari arsip katalog dan dokumentasi lainnya, kita akan mendapati bahwa Yuswantoro tidak hanya menggunakan figur-figur anak kecil sebagai objek kritik sosial, tetapi juga mensetting galeri menjadi taman bermain.

Contoh kedua adalah Biennale Yogyakarta VII tahun 2003. Poster pameran ini mengilustrasikan bola dunia dengan latar belakang warna merah muda. Selain menampilkan tema pameran yaitu Countrybution, poster ini menampilkan informasi general seperti lokasi, tanggal, rangkaian program dan seniman yang terlibat. Tentu sulit melacak informasi lebih lanjut terkait pameran, terlebih isu dan konteks yang mengelilingi Biennale kali ini. Maka informasi-informasi ini bisa diperoleh melalui katalog pameran yang memuat  pengantar dari Antena Project, esai kuratorial dari Hendro Wiyanto, deskripsi karya, dan profil seniman partisipan. Hendro menyebut bahwa ini adalah pertama kalinya perhelatan Biennale Yogyakarta merujuk pada sebuah tema/ tajuk tertentu: Countrybution. Biennale Yogyakarta ini sejatinya dilaksanakan pada 2001, namun mundur 2 tahun karena persoalan dana. Tema ini dipilih karena menyoroti penyelenggaraan Biennale di negara berkembang yang umumnya menghabiskan cukup banyak biaya, sementara kebutuhan dasar yang lebih vital bagi warga belum memadai.

Contoh ketiga adalah pameran tunggal Hanafi, berjudul Waktu/ Times. Poster pameran ini menggunakan ilustrasi lukisan abstrak karya Hanafi. Tentu juga masih ada informasi general dalam poster ini. Tetapi sama seperti contoh kedua, informasi lebih jauh berada di katalog. Jim Supangkat, sebagai kurator pameran, menyebut karya Hanafi sebagai dekonstruksi seni lukis abstrak. Karena jika secara teoritis seni lukis abstrak bersifat non-representasional, karya Hanafi justru merupakan seni lukis abstrak representasional yang pada pameran ini membicarakan isu objek, ruang, dan manusia. 

Kemudian yang terakhir, serangkaian poster event Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XV tahun 2003. Selain poster utama, terdapat juga poster untuk program-program terkait yaitu pameran/ gelar seni rupa yang bertajuk Reply, dan pameran tunggal fotografi Yudhi Soerjoatmodjo berjudul Facade. Dan isu apa yang tertulis dalam katalog? Disebutkan bahwa tantangan FKY edisi ini adalah mengakomodir sebanyak-banyaknya seniman, dengan berbagai kecenderungan ragam, sekaligus menghadirkan mutu. Rain Rosidi dan Sujud Dartanto mengambil benang merah ‘anak muda’, dengan spirit bahwa ini adalah cara anak muda menjawab tantangan zaman. Seluruh seniman yang berpameran merupakan hasil pendaftaran (bukan undangan). Seperti hal paling umum dari pembacaan arsip, kita kerap menemukan problem atau isu dalam seni yang berulang-ulang dari tahun ke tahun. Hal yang sama juga muncul ketika saya membuka kembali arsip yang diawali dari pembacaan poster-poster ini. 

Poin penting apa yang muncul ketika poster disandingkan dengan arsip-arsip yang lain? Poin itu adalah posisi arsip sebagai evidence value. Ketika arsip-arsip poster dengan informational value-nya masing-masing dirangkai bersama arsip lain, maka arsip-arsip tersebut mampu berfungsi sebagai evidence value, karena mereka berpotensi memunculkan konteks yang lebih luas atas suatu peristiwa. Poster sebagai arsip memang tidak bisa berdiri sendiri. Kehadirannya sangat perlu ditunjang oleh kehadiran arsip lain agar nilai-nilai informasi yang termuat dalam selembar poster ini bisa memiliki nilai bukti yang lebih kontekstual. Bukan berarti salah ketika poster dapat ditinjau secara tunggal dari aspek desain, teknik cetak, dan hal-hal formalis lainnya. Namun, dalam konteks pembacaan yang lebih komprehensif, tentu relasi dengan material arsip lain menjadi sangat penting. 

Dalam kepentingan inilah lembaga arsip seperti IVAA bekerja, bahwa logika pengelolaan arsip perlu bertumpu pada ketelitian menemukan informasi dan menjahitnya sebagai upaya menemukan kemungkinan-kemungkinan lain dalam suatu pembacaan atas peristiwa. Singkatnya, dengan logika demikianlah arsip poster dikelola di IVAA. Lebih jauh, cara kerja demikian seturut dengan kenyataan bahwa pengetahuan yang beredar di sekitar kita, termasuk seni, memang berserak. Lanskap isu yang mengitari sebuah peristiwa tidak bisa hanya dibaca melalui satu arsip poster. Ini menjadi tantangan sekaligus harapan dari kerja pengarsipan. Sebuah tantangan, karena kerja pengarsipan itu bagai pekerjaan yang tidak pernah usai dan tidak selalu sesuai dengan satu atau dua metode baku. Dan sebuah harapan bahwa potensi pengetahuan dalam arsip tidak akan menemui titik, selalu berjalan dalam koma.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Kunjungan ACICIS ke IVAA 2020

oleh Ganesha Baja Utama

Pada 16 Januari 2020 Indonesian Visual Art Archive (IVAA) menerima tamu dari kawan kawan “The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies” (ACICIS). ACICIS adalah konsorsium pendidikan nirlaba nasional inovatif yang didirikan pada 1994 untuk mengatasi hambatan akademik, birokrasi dan imigrasi yang secara signifikan telah menghambat siswa Australia untuk melakukan studi semester di universitas-universitas dan beberapa komunitas di Indonesia. IVAA menjadi bagian dari salah satu program kunjungan mereka. Kunjungan dari kawan-kawan ACICIS ini disambut senyum hangat oleh beberapa staf IVAA, yakni Yoga, Sukma, dan Santoso. 

Kunjungan ini memang lebih banyak bercerita tentang profil IVAA (sejarah, visi-misi, dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan) hingga tanya-jawab. Salah satu pertanyaan yang muncul dari kawan-kawan ACICIS adalah soal bagaimana IVAA menentukan sesuatu sebagai arsip dan selanjutnya bisa diarsipkan. Tentu, IVAA sebagai lembaga arsip pun tidak lagi menjadi pemain tunggal kerja dokumentasi seperti dulu, sehingga mengupayakan kelengkapan arsip peristiwa seni. Sekarang IVAA lebih mengutamakan bekerja dengan basis isu yang relevan dan kontekstual. 

Sekitar pukul 11.00 sesi tanya jawab dan presentasi ditutup. Kemudian teman-teman ACICIS diajak berkeliling ruangan (room tour) yang ada di IVAA, mulai dari lantai paling bawah hingga lantai paling atas. Kunjungan ini diakhiri dengan makan dan foto bersama di ruang tengah.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Bincang Singkat Arsip, Seni dan Aktivisme – Bridge Year Program

oleh Krisnawan Wisnu Adi

Sebagai bagian dari program internship-nya di Yogyakarta, Bridge Year Program (BYP) dari Universitas Princeton bersama Where There Be Dragons menggelar sesi belajar yang mengusung beberapa tema: seni dan aktivisme, kepercayaan lokal, gender dan seksualitas, serta kelompok marjinal. Untuk masing-masing tema, mereka mengunjungi beberapa organisasi yang relevan. 

Pada Senin siang, 27 Januari 2020, sekitar pukul 13.30 WIB, mereka mengunjungi IVAA untuk berbincang singkat seputar seni dan aktivisme. Kurang lebih poin inti yang dibicarakan adalah peran IVAA sebagai lembaga pengarsipan di dalam fenomena aktivisme seni. 

Dalam kesempatan yang menyenangkan ini, tim IVAA lebih banyak membagikan pengalaman ketika mengarsipkan beberapa peristiwa seni yang berkaitan dengan isu urban, seperti aktivitas “Sakit Berlanjut” (1999), “Di sini akan dibangun mall” (2004), “Panen Terakhir” (2012), “Merti Kuto-Warga Berdaya” (2015), dsb. Selain itu, diceritakan juga proses pengarsipannya. Berawal dari suatu persoalan kemudian pengolahan isu (kontekstualisasi dengan misi lembaga dan kebutuhan publik), konsolidasi ke dalam-luar, pendokumentasian, pencatatan arsip, aktivasi arsip (aktivasi melalui buku, diskusi, serta platform online), hingga ketika arsip kembali di publik. 

Setelah duduk bercerita bersama, teman-teman BYP diajak untuk menyaksikan beberapa arsip video tentang seni dan aktivisme, serta beberapa poster propaganda karya Taring Padi.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

TELAAH VISUAL: PERWAJAHAN BUKU SASTRA JAWA MODERN (GAGRAK ANYAR) (Periode Awal 1900 hingga Roman Panglipur Wuyung)

oleh Ibnu “BENU” Wibi Winarko 

Suatu produk hasil industri agar mendapatkan sebuah tanggapan dari konsumen –terjual–, diperlukan adanya faktor pendukung, misalnya iklan, diskon, pemberian contoh produk atau sesuatu yang bisa meningkatkan penjualan. Hal yang sudah lumrah dan jamak dilakukan. Semua lini bergerak dan tak boleh kendor, agar bisa segera mendapatkan pemasukan uang dan segera mungkin untung.

Industri buku di Hindia-Belanda sudah mulai ada sejak akhir abad 19, kebanyakan milik orang Tionghoa peranakan dan Indo-Eropa. Sebagian besar menerbitkan buku-buku cerita dalam bahasa Melayu Tionghoa atau Melayu Pasar. Beberapa buku sempat diterbitkan ulang oleh penerbit Gramedia, terhenti pada seri ke-15. Salah satu penerbit yang terkenal adalah Tan Khoen Swie (TKS) di Kediri, yang berdiri pada kurang lebih tahun 1915. Pecinta buku tentu kenal dengan buku-buku terbitannya yang terbagi ke dalam 3 jenis: tulisan Jawa, tulisan Jawa latin (modern), dan Melayu. TKS menerbitkan kurang lebih 400 judul buku dengan berbagai genre. Termasuk buku-buku karangan pujangga dan sastrawan Jawa seperti Ronggowarsito, Yosodipuro, dan Ki Padmosusastro.

Lalu penerbit milik pemerintah Belanda di Hindia-Belanda yang paling tua dan ikut menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa latin adalah Landsdrukkerij atau Percetakan Negara. Berdiri pada 1809, punya tugas untuk mencetak Berita Negara dan Lembaran Negara. Apa itu? Contohnya adalah undang-undang dan peraturan pemerintah. Lokananta, sebuah perusahaan rekaman musik di Solo yang terkenal dengan rekaman piringan hitam dan kaset adalah salah satu cabang perusahaan tersebut. Percetakan Negara sekarang beralih nama menjadi Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (BUMN). Masih ada satu penerbit milik Belanda yang ada di Batavia, terdeteksi menerbitkan novel berbahasa Jawa, yakni Papyrus. 

Pada saat itu, Batavia difungsikan sebagai titik awal dan pusat perkembangan industri percetakan di Hindia-Belanda ini. Bangsa kolonial ingin memanjakan orang-orangnya yang ada di Hindia-Belanda dengan bahan bacaan informatif. Mesin cetak didatangkan dari Eropa pada pertengahan 1600. Konon, ada 6 badan penerbitan swasta yang mencetak buku almanak, kamus dan kitab suci. Baru pada 1719, VOC bisa memaksimalkan fungsi mesin cetaknya setelah mengalami pengalaman buruk pada puluhan tahun sebelumnya. Gubernur Jenderal van Immof baru menyadari bahwa percetakan dan penerbitan merupakan hal penting untuk kelangsungan kekuasaan VOC di Hindia-Belanda.

 

Sastra Jawa Modern

Sebelum membahas sampul buku-bukunya, perlu diceritakan secara singkat asal muasal genre ini. Sastra Jawa dulunya hanya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan kraton, berupa kakawin atau tembang. Selaras dengan pertunjukan seni wayang yang bisa ditanggap oleh rakyat biasa, sastra Jawa ikut keluar dari kraton. Pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19, muncul pujangga-pujangga sastra Jawa baru yang bukan dari keluarga kraton. Kebanyakan berasal dari golongan priyayi atau golongan terpelajar. Karya-karyanya menggunakan bahasa pengantar Jawa Madya (bahasa Jawa tingkat tengahan). Beberapa pujangga sastra Jawa baru (modern) adalah Jasawidagda, Hardjawiraga, Asmawinangun, Padmosoesastra dan beberapa lainnya. Keberadaan mereka didukung oleh pihak kolonial yang meminta mereka untuk membuat buku yang isinya hampir sama dengan buku-buku terbitan Eropa. 

Bale Poestaka ikut berperan menyebarkan karya-karya mereka. Sebuah lembaga penerbitan yang didirikan oleh pemerintah kolonial sebagai salah satu bentuk politik balas budi, serta untuk meredam propaganda yang mulai dikobarkan oleh pemuda dengan pemikiran modern tentang kebebasan dan kemerdekaan. Para pemuda menerbitkan tulisan-tulisannya di kota-kota kecil, sehingga pemerintah kolonial perlu meredamnya dengan mencetak buku-buku penghibur dan penenang hati rakyat, agar mereka terus “tertidur” dan melupakan ajakan para pemuda modern untuk melakukan gerak perlawanan.

George Quinn dalam Novel Berbahasa Jawa (1995) membedakan karya sastra Jawa baru menjadi 3 jenis. Pertama adalah Novel Priyayi, sebab penyunting dan penulis Jawa yang bekerja di Bale Poestaka sebagian besar adalah priyayi tingkat bawah (mendapat didikan Belanda). Novel-novel jenis ini dengan mudah mendapatkan kedudukan, kekuasaan, hak istimewa dan bersifat eksklusif di alam tata kehidupan masyarakat. Novel priyayi juga menggambarkan kehalusan watak dan penampilan fisik idealnya seorang priyayi.

Kedua adalah Novel Panglipur Wuyung. Karya sastra yang didasari arus cerita populer dalam masyarakat yang berbau lisan. Ideologi di dalamnya berdasarkan atas kenyataan hidup dan dunia adalah tempat yang tidak aman. Novel jenis ini sering menyajikan pembelaan terhadap nilai-nilai yang telah populer dan konservatif dalam masyarakat lewat sinkretisme, penyesuaian dan persatuan. Perbedaan hasil penyelesaian perkara dapat diterima oleh semua pihak asal masih berpedoman pada adat dan tenggang rasa.

Ketiga adalah Novel Modern. Quinn mengambil pembedaan ini berdasarkan buku Rites of Modernization (1968) karya James Peacock yang meneliti kesenian ludruk. Disebutkan bahwa ada alur-T (tradisional) dan alur-M (modern). Alur-M mengandung penyelesaian yang akan menghasilkan suatu hal baru atau inovatif. Alur semacam ini jarang dilakukan oleh sastrawan Jawa. Disinyalir hanya Suparta Brata yang telah menggunakannya (serial Detektif Handaka). Sedangkan cerita dengan alur-T akan menghasilkan penyelesaian yang banyak dianut sastrawan Jawa. Suatu akhir cerita yang tidak akan mengubah kondisi masyarakat sebelumnya. 

 

Sampul Novel Priyayi

Gambar 1. Serat Tjariosipoen Djaka Santosa Lan Djaka Marsoedi, Ketiga Wigjapratjeka karya Tjakardi Brata cetakan Commissie voor de Volkslectuur (Balai Pustaka) (1916). Dokumen penulis.

Apa kesan kita saat melihat penampilan seorang priyayi? Jaman dulu, seorang priyayi digambarkan sebagai pribadi yang halus dan paham adat-istiadat. Berpakaian rapi, necis, dan bersih. Gambaran mudahnya adalah seperti penampilan Minke (diperankan Iqbaal Ramadhan) dalam film Bumi Manusia, yang dibuat berdasarkan salah satu novel tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Penampilan seperti itulah yang termatup dalam novel-novel bahasa Jawa modern. Para penulis bertutur tentang pakaian dan tampilan para pemuda-pemudi dalam bahasa Jawa Madya. Bahasa Jawa Madya adalah salah satu tingkat percakapan yang digunakan dalam struktur bahasa Jawa. Biasa digunakan kepada teman atau orang lain yang belum dikenal tapi punya kesamaan usia.

Hal ini agak berhubungan juga dengan tampilan sampul-sampul buku yang dicetak. Sampul buku berpenampilan “sopan”, terdiri dari judul, pengarang, jabatan pengarang atau asal pengarang, peraturan undang-undang tentang perlindungan hak cipta, dan nama penerbit beserta kota. Tulisan-tulisan tadi kemudian dibatasi oleh kotak hingga menambah kesan kaku. Ada juga yang hanya polos tanpa hiasan apapun. Hanya beberapa saja yang menggunakan hiasan goresan garis bernuansa art nouveau sederhana. Secara visual lebih terkesan cair dan sedap dipandang mata, seperti pada judul Serat Tjariosipoen Djaka Santosa Lan Djaka Marsoedi, Ketiga Wigjapratjeka karya Tjakardi Brata cetakan Commissie voor de Volkslectuur (Balai Pustaka) pada 1916. (Gambar 1)

Sejalan dengan semakin berkembangnya dunia pustaka, pada 1917 Bale Poestaka (BP) atau Balai Pustaka (nama setelah Commissie voor de Volkslectuur) lebih banyak lagi memperkenalkan cerita-cerita dalam bahasa Jawa, Jawa latin, Sunda, Madura, dan Melayu. Tampilan sampul lambat-laun ditambahi semacam ragam hiasan berulang, ada yang kecil dan ada yang besar. Ragam hias besar menggantikan kotak yang berupa garis. Pola ragam hias ini digunakan juga untuk buku-buku di luar roman Jawa modern. Salah satu contoh adalah Woelang-Darma (M. Partadiredja dan R. Poerwasoewigja, 1922). (Gambar 2)

Gambar 2. Woelang-Darma (M. Partadiredja dan R. Poerwasoewigja, 1922). Dokumen penulis.

Untuk ragam hias yang berukuran kecil diletakan mengurung huruf BP. Bisa ditemukan pada Ichtijar Marganing Kasembadan (Wirjawarsita, 1925), Soewarsa-Warsijah (Sastradihardja, 1926), dan Botjah ing Goenoeng (M. Soeratman Sastradiardja dan K. M. Sasrasoemarto, 1930) (Gambar 3).

Gambar 3. Botjah ing Goenoeng (M. Soeratman Sastradiardja dan K. M. Sasrasoemarto, 1930). Dokumen penulis.

Ragam hias yang ditempelkan pada bawah nama pengarang dapat ditemukan pada buku berjudul Saking Papa Doemoegi Moelja (Mw. Asmawinangoen, 1928), Moengsoeh Moengging Tjangklakan (Mw. Asmawinangoen, 1929), Badan Sapata (Hector Malot dan M. Hardjawiraga, 1931) (Gambar 4), dan Asih Tan Kena Pisah (Soeman Hs dan M. Soehardja, 1932). 

Gambar 4. Badan Sapata (Hector Malot dan M. Hardjawiraga, 1931). Dokumen penulis.

Beruntung Bale Poestaka segera memperkerjakan B. Margono (lahir 1901-1959). Ilustrator handal dari Jogjakarta yang karya-karyanya mulai menghiasi sampul novel bahasa Jawa dan Jawa modern. Tercatat dimulai dari novel Tri Djaka Moelja (M. Harjadisastra, 1932), Tarzan Ketek Poetih (Edgar Rice Burroughs dan Soewignja, 1935), Tarzan Bali (Edgar Rice Burroughs dan Soewignja, 1936), Sri Koemenjar (L.K. Djodosoetarso, 1938), dan Ni Woengkoek ing Benda Growong (R.Ng. Jasa Widagda, 1938). Sebagian karya B. Margono telah dipamerkan oleh Bentara Budaya Yogyakarta tanggal 13-21 Juli 2010 dengan tajuk “Seporet”. Selain itu hanya ada sebuah buku berjudul Ali Babah karya Enno Littmann dan Soewignja (1933) yang memberi gambar ilustrasi di bagian sampulnya (tidak diketahui karya siapa). Serta sebuah novel adaptasi berjudul Ma Tjun diterjemahkan S. Sastrasoewignja (1932). Penghias kulit muka buku itu kemungkinan adalah B. Margono.

Dari data di atas, saya ambil kesimpulan sementara bahwa pemberian ilustrasi pada buku-buku novel bahasa Jawa mulai dilakukan tahun 1930-an. Hal ini mungkin dipelopori oleh Bale Poestaka karena ada pengaruh dari buku-buku terbitan luar (Belanda) yang masuk ke Hindia-Belanda. Coba perhatikan buku-buku pelajaran sekolah rakyat (SD) cetakan J.B. Wolters yang sampulnya bagus-bagus. Sampai sekarang saja masih jadi buruan kolektor buku sebab dihiasi ilustrasi halaman dalam yang ciamik. Buku-buku ini, sedikit banyak mempengaruhi perkembangan penggunaan ilustrator untuk mengerjakan bagian sampul dan isi. Gambar sampul sebagai salah-satu pemikat hati calon pembelinya. 

Memasuki periode 1940-1950, selain Bale Poestaka; ada penerbit buku berukuran kecil dari Kota Solo, yakni Poernama yang ikut meramaikan dunia pustaka. Buku novel yang diterbitkan adalah Pedoet Sala (Asmara Asri, 1941; ilustrator tidak diketahui) (Gambar 5), Kyai Franco (Asmara Asri, 1941; illustrator tidak diketahui), dan Soerja-Raja (Asmara Asri, 1941; ilustrator tidak diketahui). Ada juga Badan Penerbit Indonesia mengeluarkan buku berjudul Tri-Moerti (Ki Loemboeng, 1941; ilustrator tidak diketahui). Pada periode ini, berdasarkan buku yang dijadikan dasar penulisan, Bale Poestaka tidak mengeluarkan buku bergambar pada sampulnya.

Gambar 5. Pedoet Sala (Asmara Asri, 1941; ilustrator tidak diketahui). Dokumen penulis.

Pada kedua dasawarsa tadi, tampilan gambarnya masih menggunakan 1 warna saja. Bale Poestaka menggunakan warna hitam pada setiap gambar sampulnya. Sedangkan penerbit Poernama mulai menggunakan salah satu dari warna merah, hijau, coklat atau biru untuk sampul-sampul bukunya. Hingga akhir 1940-an, tak banyak lagi buku diterbitkan, mengingat saat itu masih dalam suasana perang; dari masuknya Jepang merebut Hindia-Belanda dan dilanjut perang kemerdekaan. Keadaan genting baru benar-benar usai setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda II pada 27 Desember 1949.

 

Novel Panglipur Wuyung

Sebuah roman picisan dalam bahasa Jawa yang mulai berkembang dan bersaing dengan terbitan dari Balai Pustaka. Masa kemunculan dan berakhirnya hampir selama dua dekade. Balai Pustaka memancing semangat penerbitan buku-buku novel berbahasa Jawa ngoko lewat Oh, Anakku karya Th. Suroto (1952) (Gambar 7) dengan penggambar sampul Abdul Rachman. Penulisan menggunakan bahasa Jawa Madya sudah tidak dipakai lagi. Disusul Djodo Kang Pinasti karya Rm. Ngabei Sri Hadidjojo (1952) (Gambar 6) , sampul oleh Abdul Rachman. Desain sampul dan gambar pada buku Djodo Kang Pinasti kelihatannya menjadi acuan bagi sampul-sampul buku sejenis di kemudian hari. Gambar tokoh utama digambar secara close-up untuk menarik perhatian agar dibeli dan dibaca.

Gambar 6. Djodo Kang Pinasti karya Rm. Ngabei Sri Hadidjojo (1952). Dokumen penulis.

Gambar 7. Oh, Anakku karya Th. Suroto (1952). Dokumen penulis.

Penerbit partikelir ibarat cendawan di musim hujan. Bermunculan di mana-mana, terutama di Surabaya, Semarang, Solo dan Jogja. Pertama yang terpancing adalah Pustaka Roman, tampil dengan seukuran buku saku yang bertahan hingga 10 edisi. Lantas disusul oleh Panjebar Semangat (PS), lewat divisi penerbitan buku menggandeng pengarang legendaris Any Asmara dan menerbitkan buku Gerombolan Gagak Mataram (1954) bersama S.Har sebagai ilustrator, sekaligus ilustrator tetap di majalah PS. Hampir semua buku-buku yang diterbitkan oleh PS, bagian sampul dikerjakan oleh S.Har, seperti Kintamani (Any Asmara, 1954), Anteping Wanita (Any Asmara, 1955), Kereme Kapal Brantas (Lu Min Nu, 1955), Gerombolan 13 (Any Asmara, 1956), dan Pusporini (Imam Supardi, 1956). 

Memasuki 1960-an, penerbitan buku-buku roman panglipur wuyung lebih menggila lagi. Lebih dari 400 judul buku dicetak dan ditawarkan kepada masyarakat. Alur cerita pada buku-buku panglipur wuyung atau “penghibur sementara” mempunyai ciri berisi percintaan dan kehidupan rakyat jelata pada umumnya. Dikemas secara sederhana –hampir 90% berukuran saku– agar mudah terbeli. Konon, jenis novel ini mengikuti tren buku cerita-cerita silat karya Kho Ping Hoo yang juga berukuran kecil. Ditambah dengan gambar-gambar sampul berwarna yang sangat menarik perhatian, buku setebal 32-48 halaman ini sangat laris. Hanya sedikit pengarang yang mengangkat alur-M (modern).

Gambar 8. Anteping Wanita (Any Asmara, 1955). Dokumen penulis.

Bisa dibayangkan, bagaimana 400 buku bersaing untuk mendapatkan ganti uang produksi? Sebagai ilustrasi, seorang calon pembeli mendatangi kios buku. Tampak berjejer-jejer buku dengan berbagai judul (misalnya 40 judul). Dalam benak si calon pembeli mungkin yang pertama dicari adalah pengarangnya. Jika tidak ditemukan, faktor selanjutnya adalah pesona aura sampul yang akan jadi pilihannya. Judul menjadi penentu terakhir untuk memilih buku mana yang akan dibawa pulang.

Faktor gambar sampul tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Faktor visual sangat penting dalam menarik perhatian konsumen. Yang menarik secara visual akan memenangkan persaingan. Hal demikian pula dilakukan oleh para penerbit buku roman panglipur wuyung. Mereka ingin sekali agar buku hasil cetakannya laku. Pengarangnya pun ambil bagian dalam menentukan siapa ilustrator sampul buku karangannya. Kedua hal yang wajar dilakukan agar modal yang dibiayakan segera kembali, untuk digunakan mencetak buku lagi. Kepuasan pengarang atas hasil gambar sampul yang bisa membantu dalam penjualan karya tentu berkorelasi dengan kerjasama selanjutnya. 

Meski demikian, bagaimana pengarang dan penerbit buku menentukan siapa ilustrator sampul terbatasi oleh faktor waktu, efisiensi dan konteks geografis. Ada kecenderungan bahwa pengarang dan penerbit yang berdomisili di wilayah Jogja akan menggunakan jasa ilustrator dari Jogja. Sebagai contoh, Any bekerja sama dengan Soedijono atau Oyi Soetomo. Any Asmara mengajak Kentardjo untuk menggarap sampul. Di Solo dan Surabaya juga begitu kejadiannya. Kwik Ing Hoo (KIH), komikus legendaris Wiro Anak Indonesia, membantu Soedharmo KD (Pini AR), Hardjana HP, J.A. Setia, dan Tanto P.S.

Gambar 9. Ilustrasi karya Jono S. Wijono. Dokumen penulis.

Ilustrator yang paling subur mengeluarkan karya adalah Jono S. Wijono. Karyanya hampir menemani sebagian besar pengarang dan penerbit di Jogja, Solo, Surabaya dan Semarang. Meski gambarnya kurang semantap S.Har, Teguh Santoso, dan Kentardjo, kenyataannya dia menjadi jawaranya ilustrator novel-novel panglipur wuyung di periode 1960-1970. Bisa dilihat pada tabel di bawah ini:


Tabel jumlah karya ilustator

Tabel di atas hanya menunjukkan jumlah karya para ilustrator yang berkarya lebih dari 10 sampul buku. Dari sampel buku yang ada, ditemukan kurang lebih 80 nama ilustrator dan terdapat 20 buku yang tidak tercantum nama ilustratornya. Sebagian besar selalu menampilkan pakem wajah seorang wanita dan atau pria dengan wajah kota. Hanya sedikit yang keluar dari pakem tersebut. Hanya pengarang kenamaan dan yang karyanya mungkin telah ditampilkan secara bersambung di majalah berbahasa Jawa yang berani keluar dari pakem itu.

Gambar 10. Ilustrasi karya Kentardjo. Dokumen penulis.

Gambar 11. Ilustrasi karya Jono S. Wijono. Dokumen penulis.

Masa keemasan novel Jawa modern dipaksa berhenti oleh negara, melalui Operasi Tertib Remaja II (Opterma II) pada awal 1967. Tujuannya adalah untuk menertibkan buku-buku bacaan yang dianggap cabul dan anti sosial. Dari 217 judul novel, ada 21 judul yang dilarang beredar. Akibatnya, pengarang dan penerbit tidak mau ambil resiko untuk mencetak buku novel berbahasa Jawa lagi. Karya-karyanya berubah ke cerita silat Jawa dan media majalah yang menggunakan bahasa Jawa seperti Panjebar Semangat, Mekar Sari, Jaya Baya dan lain-lain. 

Gambar 12. Ilustrasi karya Dibyo. Dokumen penulis.

Gambar 13. Ilustrasi karya Kwik Ing Hoo. Dokumen penulis.

Penutup

Perwajahan sebuah buku dari tahun ke tahun mengalami perubahan bentuk gambar seiring dengan tren pada masanya. Begitu pula dengan buku sastra Jawa modern dari awal 1900 hingga Roman Panglipur Wuyung. Dari yang hanya polos tapi penuh tulisan keterangan, hiasan kecil dan besar, gambar 1 warna, hingga gambar penuh warna. Jasa para illustrator lalu menjadi begitu penting untuk menggarap sampul, meski kadang kala ada juga yang tak nyambung antara isi dan sampul. Rentang perjalanan perwajahan sampul buku sastra Jawa modern ini menjadi bagian penting dalam sejarah industri penerbitan dan percetakan, baik sebagai kontrol oleh negara hingga persaingan dagang.


Ibnu “BENU” Wibi Winarko, adalah seorang kolektor gambar umbul dan buku-buku novel berbahasa Jawa. Telah beberapa kali terlibat dalam penulisan buku/ katalog seperti, Pameran Gambar Oemboel II : Thong Thong Sot di Bentara Budaya Yogyakarta (2010), Pameran Etiket Tenun dan Batik di Bentara Budaya Yogyakarta (2013), buku Gambar Oemboel Indonesia (2010), Gambar Oemboel Wajang (2015), Gambar Oemboel Tjerita (2018). Selain itu, koleksinya juga beberapa kali dipamerkan, antara lain Pameran Grafis Gambar Oemboel di Bentara Budaya Yogyakarta (2003), Pameran Tjap Petroek di Bentara Budaya Yogyakarta (2004), Pameran Komik di Bentara Budaya Yogyakarta (2004), dan Pameran Seni Rupa Alibaba di Bentara Budaya Yogyakarta (2019).

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.