Tag Archives: BuletinIVAA_Februari2017

Contemporary Art from Bali 2016

oleh: Hertiti Titis Luhung Weningtyas*

Bali, sebagai entitas dikenal dengan ciri artistik yang khas; kental dengan budaya tradisi, namun diterpa dengan derasnya arus kebudayaan modern. Pameran Seni Kontemporer Bali memberi pendekatan yang kritikal kepada sejarah seni dan budaya, baik di Bali maupun secara luas. Tujuannya melihat dan membaca ulang bagaimana pebentukan sejarah seni rupa di Bali serta pemahaman kembali apa itu seni lukis (drawing-painting). Perkembangan seni rupa Bali tradisi-modern-postmodern-kontemporer dalam konteks seni rupa Indonesia sekarang. Bagaimana gagasan maupun eksplorasi para seniman yang menunjukan potensi artistik dari cara pandang dan konsepsi yang hybrid ke dalam bentuk lukisan, drawing, maupun bentuk karya tiga dimensional.

Baru-baru ini Langgeng Art Foundation bersama Equator Art Projects mengadakan pameraran bertajuk “Contemporary Art from Bali”, tepatnya pada 15 Desember 2016-31 Januari 2017. Pameran berlokasi di Langgeng Art Foundation, Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta.

Rifky Effendy dan Gede Mahendra Yasa sebagai kurator pameran ini memilih karya-karya yang sebagian besar berupa lukisan dan drawing, serta beberapa karya tiga dimensi. Seperti tajuknya, karya-karya dalam pameran ini menujukkan kecenderungan kancah seni rupa Bali sekarang yang sangat beragam, yang diramaikan oleh seniman, baik seniman lokal (asli Bali) maupun seniman pendatang.

Seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini antara lain Ketut Sumadi, Kemalezedine, Aswino Aji, Ketut Moniarta, Ketut Susena, Teja Astawa, Marco Cassani, Natisa Jones, Wayan Mandiyasa, Wayan Upadana, Ketut Suwidiarta, Valasara, Ashley Bickerton, Putu Wirantawan, Filippo Sciascia, dan Rodney Glick.

| Klik disini untuk melihat dokumentasi foto |


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas adalah mahasiswa D3 Bahasa Perancis Universitas Gadjah Mada yang sedang mengikuti Program Magang IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”

Oleh: Hertiti Titis Luhung Weningtyas*

Berawal dari sekumpulan individu yang memiliki kecocokan dalam ideologi berkarya, serta menghadapi permasalahan yang memiliki urgensi bersama, mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi yang dinamai Milisi Fotocopy pada awal 2011. Nama Milisi Fotocopy sendiri mewakili semangat gerakan milisi yang memang ingin berbagi semangat merespon permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di Surabaya. Menurut Milisi Fotocopy bentuk kesenian-kesenian yang saat ini ada di Surabaya tidak menampilkan persoalan yang dekat dengan diri mereka sendiri, sudut pandangnya sangat mainstream, bahwa gerakan kesenian adalah kerja imajinatif dan tidak berangkat dari persoalan-persoalan nyata.

Milisi Fotocopy mengadakan pameran tunggal pertama mereka yang berjudul “Ngluruk” di Ruang Pamer Kedai Kebun Forum, Jl. Tirodipuran No.3 Yogyakarta pada 14 Januari-4 Februari 2017 lalu. Dalam pembukaan pameran “Ngluruk”, Milisi Fotocopy menyajikan karya serta dokumentasi kerja mereka dari tahun 2011 hingga 2016. Melalui pameran arsip ini mereka ingin mengemukakan pentingnya mempresentasikan kerja-kerja kolektif dalam bentuk pameran ataupun diskusi supaya terjadi saling dan tukar informasi mengenai apa yang telah mereka kerjakan dan temukan selama proses bekerja kepada publik di kota Yogyakata. Nama-nama seniman muda surabaya yang tergabung di dalam kolektif Milisi Fotocopy ini antara lain Abdoel Semute, Bagus Priyo, Cahyo Prayogo, Dimas Giswa, Eko Hariadi, Imanniar Ramadhani, Iyan Fabian, Juve Sandi, Rakhmad Dwi Septian, Rendi Murti, Riski Juniartama, Sandi Crisko, dan Tubagus Riski.

Mengiringi pameran arsip ini, ada juga pertunjukan Titer Kabared Satoe “Babu Para Gedibal”, teater dari kampung Dupak, Bangunrejo, Surabaya, sebuah kampung yang notabene merupakan lokalisasi tertua di Surabaya. Digagas sebagai pengembangan dan pemberdayaan pewacanaan pelaku teater kampung yang sementara ini di anggap sebelah mata, Naskah yang berjudul “Babu Para Gedibal” mengusung tema kehidupan sosial ekonomi keluarga masyarakat Dupak sebagai masyarakat urban kota dengan segala kerakusannya, konsumerisme, dan materialistik.

Pameran Arsip Milisi Fotocopy ini ditutup dengan serangkaian acara yang diselenggarakan bersama Basarub pada tanggal 3 dan 4 Februari, antara lain pasar pernak-pernik dan kerajinan bikinan komunitas-komunitas seni di Yogyakarta dan Surabaya, pasar ini dinamai SINDIKAT BAZAAR GELAP. Sehari setelahnya mereka mengadakan artist talk dan peluncuran zine yang disusul pertunjukan musik dari band-band lokal. Di dalam artist talk, mereka mempresentasikan projek-projek yang pernah mereka kerjakan dari tahun 2011-2016, antara lain projek riset kampung Tambak Bayan Tengan di tahun 2012-2014 dan presentasi dari kolektif Kinetik tentang karya video dalam projek Hidup dan Mati di Tanah Sengketa.


| Klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video |


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas adalah mahasiswa D3 Bahasa Perancis Universitas Gadjah Mada yang sedang mengikuti Program Magang IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.