Tag Archives: buletinivaa_desember2016

Biennale Sumatra Ketiga: Identitas Setempat dan Pertanyaan tentang “Biennale” Daerah

Ditulis oleh Katherine Bruhn, diterjemahkan oleh Pitra Hutomo, sebagai bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin Dwi Bulanan edisi November-Desember 2016.

Biennale Sumatra Ketiga diadakan 19-22 November 2016 di Taman Budaya Jambi, menampilkan karya-karya 60 seniman yang membawa identitas kedaerahan dari 10 propinsi di Sumatra. Perhelatan ini sekaligus menunjukkan bahwa seniman-seniman di Sumatra senantiasa berupaya memantapkan keberadaan dan pertumbuhan mereka kepada kalangan seni Indonesia yang kompetitif dan Jawasentris. Walaupun perhelatan ini semestinya mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk memamerkan karya-karya seniman peserta dan gambaran pertumbuhan seni rupa di Sumatra, acara pembukaan dan penyelenggaraannya justru mengesankan sebaliknya; karakter “biennale” nyaris tak nampak di perhelatan ini. Hadir di pembukaan membuat saya bertanya-tanya tentang peran pemerintah dalam pengembangan seni di daerah, kemudian bagaimanakah makna istilah “biennale” saat diterapkan pada pameran lukisan yang sedikit lebih megah dari biasanya?

Pameran tahun ini menandai ketiga kalinya penyelenggaraan Biennale Sumatra dan untuk pertama kalinya pameran diselenggarakan di Jambi. Sebelumnya pada 2012 dan 2014, Sumatra Barat (Padang) menjadi tuan rumah Biennale Sumatra sekaligus “Pra Biennale” tahun 2011. Dengan membawa perhelatan ini ke Jambi dan selanjutnya ke daerah-daerah lain di Sumatra sesuai rencana, para seniman yang terlibat mengharapkan Biennale Sumatra menjadi serupa daya dorong yang dibutuhkan untuk mengembangkan seni rupa di Sumatra – hasrat yang jamak ditemui dan semakin menguat setelah penyelenggaraan Pameran Lukisan dan Dialog Perupa Se-Sumatra tahun 1993 (PLDPS). Bagaimanapun, Biennale Sumatra Ketiga menunjukkan bahwa upaya mengerahkan daya dorong pun masih terbentur keterbatasan infrastruktur dan utamanya ketersediaan sumber daya manusia, yakni massa kritis yang mampu menyikapi isu-isu dalam wacana seni kontemporer.

Setibanya ke Taman Budaya Jambi, saya terheran-heran mengetahui bahwa bunga papan sebagai penghargaan atas dibukanya Biennale Sumatra Ketiga juga bertuliskan selamat atas dibukanya Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera XIX (PPSS). PPSS yang diadakan bergiliran di Taman-taman Budaya Propinsi di Sumatra setiap tahun sejak 1997, ditujukan untuk memamerkan seni rupa sekaligus mempertunjukkan seni tradisi. Di Jambi, kombinasi dua perhelatan ini sangat kentara saat acara pembukaan yang berlangsung Sabtu malam. Sembari menyaksikan peresmian acara dengan pidato para pejabat pemerintahan antara lain Kepala Taman Budaya Jambi, Anggota Komisi X DPR, dan Gubernur Jambi, di dalam ruang pertunjukan yang penuh sesak, hadirin menyaksikan tarian tradisional dan “fashion show” pakaian adat dari tiap propinsi di Sumatra. Kurator Biennale Sumatra, Suwarno Wisetrotomo maupun seniman peserta pameran tidak menyampaikan pidato. Bahkan hadirin baru bisa memasuki ruang pamer untuk Biennale Sumatra setelah jam 10 malam. Bisa dibayangkan pada jam tersebut sebagian hadirin memilih untuk pulang daripada menonton pameran. Baru belakangan saya tahu bahwa kedua perhelatan ini, Biennale Sumatra Ketiga dan PPSS, digabungkan untuk menarik animo pengunjung Taman Budaya Jambi, terlebih karena mereka tidak menempatkan pegawai khusus untuk mengelola audiens seni kontemporer di Jambi.

Betapapun politisnya, Biennale Sumatra Ketiga layak mendapatkan selamat karena telah berhasil mendatangkan karya-karya dari seniman yang mewakili keragaman propinsi-propinsi di Sumatra. Dalam esai kuratorialnya, Suwarno Wisetrotomo menyatakan bahwa umumnya identitas suatu Biennale terfokus pada kota saja, misalnya di Venezia atau di kota-kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Makassar. Sehingga keinginan merepresentasikan suatu pulau yang terdiri dari beragam kelompok etnis atau suatu kewilayahan di dalamnya seperti Jawa Timur atau yang baru saja berlangsung, di Jawa Tengah, memiliki tantangan tersendiri. Barangkali pertanyaan awal yang harus diajukan adalah seberapa besar kemungkinan untuk menyelenggarakan pameran yang mampu menghadirkan konsep, atau bahkan identitas “Sumatra”?

Pameran tahun ini diselenggarakan dengan menyeleksi karya dari pendaftaran terbuka sekaligus karya-karya yang mewakili seniman visual (pelukis) senior Jambi yang dianggap berperan maupun berpengaruh dalam pengembangan seni rupa di propinsi tersebut. Menurut Suwarno Wisetrotomo para seniman yang melalui proses seleksi dari pendaftaran terbuka adalah generasi muda Sumatra yang akan menentukan arah perkembangan seni kontemporer di Sumatra. Dengan menghadirkan seniman junior yang saat ini aktif bersamaan dengan seniman senior yang sebagian telah meninggal dunia, para hadirin mendapat kesempatan untuk melihat langsung bagaimana estetika seni modern dan kontemporer telah berkembang, khususnya di lingkup Propinsi Jambi. Menarik juga untuk mengamati bagaimana aspek biennale ini dilanjutkan di Biennale 2018 yang akan kembali diselenggarakan di Padang; suatu keputusan yang diambil dalam salah satu “parallel events”, yakni suatu diskusi antar seniman yang diselenggarakan sebagai perpaduan acara biennale dengan PPSS.

Dalam diskusi tersebut para seniman juga diajak mengunjungi kompleks kuil Buddha di kawasan Muaro Jambi, sebagai bagian dari kegiatan sketsa sehari on-the-spot. Di hari yang sama diselenggarakan pula lokakarya untuk guru-guru tentang sejarah seni Indonesia dan apresiasi seni di Taman Budaya Jambi. Lokakarya diampu oleh Tubagus Andre Sukmana, Kepala Galeri Nasional Indonesia dan Suwarno Wisetrotomo. Saya yang mengamati acara-acara ini perlu memuji panitia penyelenggara secara khusus, karena walaupun singkat, acara-acara ini telah memberikan kesempatan untuk para seniman dari penjuru Sumatra untuk tahu lebih banyak tentang kehidupan prasejarah dan kebudayaan tradisional di Jambi. Lokakarya pun telah memberikan pengenalan tentang sejarah seni secara partisipatoris untuk para guru. Acara-acara inilah yang bagi saya menunjukkan perbedaan Biennale Sumatra/PPSS dengan pameran lukisan skala besar lain di Sumatra.

Akhir kata, meskipun penyelenggaraan biennale di Indonesia senantiasa menimbulkan pertanyaan tentang kualitas dan tujuan, acara ini adalah pameran seni rupa (terutama lukisan) yang solid dan diselenggarakan oleh seniman asal Sumatra yang terutama aktif di Sumatra. Kenyataan ini saja merupakan fakta yang butuh dicermati. Selanjutnya, bagaimanakah sumber daya manusia di Sumatra Barat menyelenggarakan Biennale berikut dua tahun mendatang? Bagaimana mereka akan menyelenggarakan suatu acara yang diadakan selaras dengan biennale-biennale lain di Indonesia, untuk senantiasa menunjukkan keberadaan seni rupa di Sumatra sebagai hal yang unik jika dibandingkan dengan seni kontemporer yang ada di Yogyakarta maupun Bandung?

 


image-1
[Gambar 1 – Fashion Show pakaian adat dari 10 propinsi di Sumatra dalam Pembukaan c]

image-2
[Gambar 2 – Para pejabat pemerintahan meresmikan dibukanya Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera XIX]
image-3
[Gambar 3 – Sketsa on the spot di Kompleks Kuil Buddha Muaro Jambi]
 

image-4
[Gambar 4 – Menyusul kunjungan ke Kompleks Kuil Muaro Jambi, para seniman makan siang setelah disiapkan oleh Komunitas Mahligai, suatu komunitas asal kawasan Muaro Jambi yang bekerja untuk mengelola kebudayaan tradisional. Dalam gambar ini adalah para anggota Komunitas Mahligai yang menyambut para seniman]
image-5
[Gambar 5 – Lokakarya melukis untuk guru-guru sekolah di Jambi, presentasi oleh kurator Biennale Sumatra ke Tiga Suwarno Wisetrotomo tentang sejarah seni Indonesia]
image-6
[Gambar 6 – Suasana pameran Biennale Sumatra ke Tiga di Taman Budaya Jambi]
image-7
[Gambar 7 – Suasana pameran Biennale Sumatra ke Tiga di Taman Budaya Jambi]
image-8
[Gambar 8 – Suasana pameran Biennale Sumatra ke Tiga di Taman Budaya Jambi]
image-9
[Gambar 9 – Suasana pameran Biennale Sumatra ke Tiga di Taman Budaya Jambi]

Kembali ke Buletin IVAA edisi Nov/Des 2016.

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Nov-Des 2016 | Gejala Riset dalam Praktik Berkesenian Kita

unnamed

greeting

Gejala Riset dalam Praktik Berkesenian Kita

Salam jumpa kembali pembaca yang budiman. Dua bulan telah berlalu, di edisi penghujung akhir tahun ini tim redaksi telah menyiapkan beberapa sajian ringan untuk dibagikan. Pada edisi lalu, kami mengupas fenomena residensi. Sebagai istilah, barangkali istilah residensi relatif baru di telinga kita, namun sebagai aktivitas, residensi, pertukaran, mondok atau praktik bermukim sementara ini memiliki kesejarahan yang menarik. Aktivitas ini sudah lama jadi modus produksi bagi para seniman kita. Tentu dengan model dan motivasi yang beragam. Belum lagi ketika dikaitkan dengan konteks diplomasi kebudayaan nasional yang berubah dari satu rezim ke rezim berikutnya.

Pada edisi kali ini kami berupaya mendekati istilah ‘riset artistik’ dan mempelajarinya pelan-pelan. Dalam rubrik baca arsip, istilah dan fenomena riset artistik ini kami dekati dengan membuka satu persatu halaman masa lalu dari praktik para seniman yang terekam. Pembacaan ini kami lakukan dalam rangka memecahkan kecurigaan kami atas keberadaan usia praktik ini. Sekilas kami melihat, bahwa dalam proses kreatif, sudah hampir pasti, seniman melakukan riset. Jika begitu mengapa penggunaan istilah ini baru marak belakangan? Kemudian, jika kita mau mundur sedikit, sepertinya juga tidak berlebihan jika kita mengembangkan tanya, riset itu kita tempatkan di mana? Apakah pada proses pengolahan karya atau penyajiannya? Posisi ‘artistik’ sendiri juga bisa kita pertanyakan lagi. Apakah subjek, metode, analisis, atau penyajiannya yang bisa dikatakan artistik? Apa yang lantas membedakan riset artistik ini dengan penelitian yang sudah dikenal, dalam sosial humaniora misalnya?

Untuk mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami mulai dari langkah yang paling sederhana. Kami kumpulkan beberapa peristiwa dan proyek seni yang menggunakan istilah riset yang muncul di sekitar kita. Hal ini kami lakukan semata untuk menangkap fenomena ini sebagai gejala. Selanjutnya, kami akan meneruskan penyelidikan. Harapannya, kita bisa ungkap bersama, masalah yang memunculkan gejala tersebut. Bisa jadi fenomena ini merupakan gejala dari dominasi ilmu sosial pada aktivitas kesenian. Bisa jadi. Meski, bagi kami, terlalu prematur untuk mengatakan demikian. Walaupun bolehlah menempatkannya sebagai hipotesa.

Selebihnya, di beberapa rubrik lainnya, kami mengabarkan berbagai kegiatan dan fragmen program yang kami selenggarakan. Kilasan peristiwa seni yang terjadi akhir-akhir ini juga kita bagikan. Selain itu, beberapa tambahan koleksi perpustakaan dan arsip IVAA yang bisa kita gunakan bersama juga dibagikan di sini. Kami juga ingin mengucapkan banyak terima kasih pada FX. Harsono dan Moelyono yang telah bersedia memberikan arsip koleksinya pada kami.

Di penghujung suatu tahun yang penuh dengan gejolak dan tidak selalu produktif membawa perubahan ini kami sepakat untuk menjaga kekhawatiran. Dengan demikian, dinamika akan tetap terjaga. Terutama ketika menyangkut pelbagai perhelatan budaya yang juga kian marak di Yogyakarta dan sekitarnya.

Akhir kata, kami hanya ingin mengucapkan selamat berdinamika bagi kita semua. Selamat Natal bagi yang merayakannya, dan selamat menyambut tahun baru 2017.

Salam budaya!

Baca Arsip

Sebuah Pengantar untuk Mendekati Fenomena Riset dalam Praktik Artistik
Oleh: Tiatira Saputri

Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Sekilas Kabar Pendokumentasian Perhelatan Seni
Oleh : Dwi Rahmanto
Wang Sinawang: Sesrawungan
Bercocok Tanah
Tanah/Impian
Biennale Sumatra Ketiga (oleh Katie Bruhn)
Simposium Khatulistiwa 2016 (oleh K. Wisnu Adi)

Sorotan Arsip
Koleksi Harsono
Oleh: Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh : Santosa & Rahma
– Katalog International Symposium on Art Archives 2016, – Katalog Taiwan Annual #1,
– Katalog Between Declaratios and Dreams: Art of Southeast Asia since the 19th Century,
– Jurnal Skripta Volume 04/Semester 2/2016,
– Majalah GALERI Media Komunikasi Galeri Nasional Indonesia No. 20

Agenda RumahIVAA
Pengantar Meraba Wajah Sosial Kota: Sebuah Catatan Tentang Pojok Arsip IVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Pengumuman Kantor
Alur Baru Layanan Arsip IVAA
Oleh: Melisa Angela

Selamat Natal dan Tahun Baru 2017

Sebuah Pengantar untuk Mendekati Fenomena Riset dalam Praktik Artistik

Oleh: Tiatira Saputri

Belakangan ini, kami banyak menerima undangan seminar, diskusi, fgd hingga perhelatan seni yang menggunakan istilah riset sebagai bagian dari metode kerjanya. Baik yang dilakukan oleh institusi, kolektif, komunitas dan ruang seni. Sebagian contohnya ialah seminar internasional yang diselenggarakan oleh program pascasarjana ISI Surakarta. Sekira kurang dalam satu semester ini terdapat beberapa acara yang berkaitan dengan riset artistik. Belum lagi ketika mengingat beberapa proyek seni berbasis komunitas dan dengan model kerja kolaborasi. Banyak yang memposisikan riset sebagai bagian dari kerja kolaboratif, yang dilakukan baik oleh seniman, bersama dengan kurator dan penelitinya, di suatu lokasi, isu atau tema tertentu. Pameran atau proyek seni berbasis riset, tentu tidak hanya satu dua tahun ini kita dengar gemuruhnya. Beberapa perhelatan, baik itu proyek seni komunitas maupun helat sebesar Biennale dan proyek seni berbasis kota lainnya saya jadikan contoh dalam membahas kecenderungan model kerja yang berbasis pada riset atau melibatkan riset sebagai bagian dari runutan kerjanya.

Ada dua forum yang baru-baru ini diselenggarakan yang kami jadikan sampel, yang pertama ialah penyelenggaraan fgd Rumah Seni Cemeti yang digagas oleh Arham Rahman terkait proyek seni “Kolektif Kolegial”, dan yang kedua ialah forum berjudul Seminar Internasional Artistic Research, yang diselenggarakan oleh program pasca sarjana ISI Surakarta. Kemudian yang menjadi pertanyaan, mengapa riset artistik seakan baru muncul ke permukaan baru-baru ini? Jika dilihat dari sudut pandang institusi yang menginisiasi forum, tentu kita tidak bisa menemukan alasan yang sama persis. Tapi ada satu hal yang meresahkan terlihat pada kedua diskusi tersebut, yaitu penggunaan istilah baru: ‘riset artistik’.

Selain dari dua model forum yang berbeda tersebut, kita juga bisa melihat kecenderungan-kecenderungan ini dari beberapa platform seni. Ambil contoh saja Biennale Jogja Equator XIII 2015. Dengan gagasan produksi kolaboratifnya platform ini membawa kita melihat bagaimana cita-cita Biennale Equator mengembangkan perspektif yang diwujudkan melalui ke ragaman interaksi. Biennale Equator mensyaratkan adanya kerja-kerja penelitian agar para seniman bisa menerjemahkan elaborasi gagasan mereka dalam bahasa karya. Tulisan kurator rekanan dari Afrika, Jude Anogwih pada naskah kuratorialnya menyebutkan secara gamblang “Enam dari daftar seniman ini (Aderemi Adegbite, Ndidi Dike, Victor Ehikhamenor, Amarachi Okafor, Olarenwaju Tejuosho dan Emeka Udemba) menjalankan terlebih dahulu residensi selama sebulan di Yogyakarta untuk melakukan penelitian, menganalisis, berinteraksi, dan terlibat dalam proses artistik dalam mengolah pertemuan mereka”. Dalam hal ini Biennale Equator terbuka pada metode kerja yang melibatkan riset. Di sini yang perlu kita waspadai ialah bahwa pembahasan soal riset artistik baik di Cemeti, ISI Surakarta, dan juga pada tulisan ini, tidak memiliki kepentingan dengan pengkotak-kotakan karya menjadi berbasis atau tidak berbasis riset.

Platform seni yang mewadahi keterlibatan publik secara langsung bisa dilihat dari model kerjanya yang mempertemukan seniman dan masyarakat. Atau dengan menggunakan cara lain yakni dengan meletakkan proses penciptaan di tengah masyarakat. Jakarta Biennale 2015 secara khusus mempraktikkan gagasan ini untuk merespon permasalahan di sekitar warga Jakarta, dengan metode intervensi artistik di ruang kota. Praktik artistik di ruang publik menjadi salah satu cara Jakarta Biennale 2015 mengupayakan lahirnya gagasan-gagasan kritis dari para agen artistik, baik warga maupun seniman. Selain itu ada juga perhelatan yang secara khusus membuat program workshop riset artistik, seperti yang dilakukan oleh Indonesian Dance Festival. Melalui workshop ini para koreografer diharapkan dapat memperkaya persepektif serta semakin kritis.

Kembali lagi pada Jakarta Biennale 2015. Selaku penyelenggara, mereka mengejar praktik-praktik riset dan kolaborasi untuk mewadahi pengalaman artistik warga, ekspresi baru seniman, serta pengetahuan-pengetahuan yang dipertukarkan dalam ruang kota, seperti paparan Ade Darmawan selaku direktur eksekutif Jakarta Biennale 2015, “Di tataran selanjutnya, sangat penting untuk melihat praktik-praktik seni rupa yang melibatkan diri dengan persoalan sosial masyarakat ini sebagai bagian dari pergumulan sehari-hari, agar tak cuma dirayakan tapi juga dipertanyakan, dikritisi, dan dioptimalkan. Oleh karena itu Jakarta Biennale kali ini memfokuskan diri pada karya-karya berbasis proyek riset, kerja lintas disiplin, maupun kerja bersama komunitas yang melibatkan partisipasi warga”. Kerja-kerja Jakarta Biennale seperti itu, oleh ruangrupa disebut sebagai mediasi publik.

Selama ini medasi publik sendiri menjadi strategi sosial sekaligus visi artistik ruangrupa. Dan menghasilkan proyek-proyeknya yang banyak diselenggarakan dalam format festival atau setidaknya pada situasi yang tidak berjarak dan mengundang banyak orang dari berbagai layer. Tetapi untuk bisa berada pada posisi tidak berjarak dengan masyarakat, dibutuhkan pembacaan-pembacaan aktual pada lingkungannya. Seperti pada salah satu programnya, “Apartement Project” (2003), ruangrupa memfasilitasi penelitian berbasis residensi dengan apartement sebagai isu, obyek, sekaligus lokasi seniman beresidensi, seperti yang dituturkan Tomoko Take pada c atatan p enelitian Apartement Project-nya “Tiba-tiba saya berada di dunia lain. Tinggal di Jakarta bersama lima orang yang belum saya kenal. Di sini segalanya berbeda, sehingga saya tidak begitu merasa nyaman pada awalnya. Karena itu saya tertarik untuk menemukan persamaan yang kami miliki. Jika saya lebih dapat menemukannya, segalanya akan menjadi lebih mudah. Kami melakukan penelitian dari wawancara yang menitikberatkan pada Apartemen Rasuna dan daerah kumuh sekitarnya, serta Rumah Susun sebagai hunian kelas menengah kebawah”. Pada proyek ini seniman berkarya melalui beberapa metode, yaitu penelitian dan residensi. Serta melibatkan kerja observasional dengan pengalaman bermukim sementara di wilayah yang sedang dipelajari.

Proyek serupa di tahun 2006 juga diselenggarakan oleh Yayasan Seni Cemeti, dan dalam catatan kuratorial “Shortwave”, Pius Sigit menuliskan “Pproyek ini adalah proyek yang melibatkan seniman untuk diterjunkan ke Sindang, Indramayu, Jawa Barat, untuk melakukan proyek tamu tinggal berbaur dengan masyarakat selama kurang lebih 14 hari. Di lokasi tersebut seniman akan melakukan riset singkat di mana hasilnya akan mereka tuangkan dalam karya-karya visual”. Jelas bahwa riset digunakan sebagai dasar, pendekatan, pengenalan dan proses pengolahan dalam penciptaan karya. Selain itu juga ada program residensi ‘Landing Soon’, yang menempatkan riset sebagai salah satu modal seniman untuk bisa mendekati dan menyentuh satu kebudayaan baru yang ditemuinya. Seperti yang diungkapkan Michiel Morel selaku rekan penyelenggara, pada buku 25 tahun Cemeti “Bagi Heden program seniman residensi penting untuk mempersatukan para seniman dengan suatu budaya non Barat dan memberi mereka peluang mengeksplorasi berbagai praktik seni di Indonesia. Refleksi mendalam, riset, dan eksplorasi praktik seni dalam lingkungan yang beragam merupakan bagian dari tujuan yang hendak dicapai”.

Dari kumpulan pernyataan di atas, kita bisa melihat bagaimana di periode 2000-an wacana seni kita ramai dengan praktik-praktik berbasis riset. Tapi pertanyaannya kemudian, apa yang hendak kita kembangkan dari penggunaan istilah baru ini, ‘riset artistik’ Menilik dari terminologinya sebagai produksi pengetahuan, apakah yang bisa disumbangkan ‘riset artistik’ di luar wilayahnya? Apakah penggunaan nama ‘riset artistik’ menandai bahwa dalam praktiknya ia benar-benar dijalankan sebagai satu tawaran segar untuk disiplin ilmu yang lain, atau semata-mata hanya untuk mempercanggih praktik seni itu sendiri? Karena jika ia berhenti pada percanggihan praktik seni, kecenderungannya praktik ‘riset artistik’ ini hanya akan menjadi satu genre baru.


Bahan :
1. Transkrip Seminar Internasional “Artistic Research”
2. Transkrip Diskusi Kolektif Kolegial

Alur Baru Layanan Arsip IVAA

(please scroll down for English)

KawanIVAA yang berbahagia,
Melalui surat ini kami bermaksud menyampaikan informasi mengenai pembaruan alur layanan arsip yang diberlakukan sejak memasuki tahun 2017 ini.

Prosedur permintaan arsip kami ilustrasikan melalui gambar di bawah ini:

Penjelasan gambar di atas adalah sebagai berikut:
1A. Anda disarankan untuk terlebih dahulu mencari arsip yang dibutuhkan di Arsip Online IVAA, http://archive.ivaa-online.org/
2A. Setelah menemukan kebutuhan arsip Anda
3A. Silakan menggunakan dengan mencantumkan sumbernya.

Tapi bila,
2B. Anda tidak dapat menemukan arsip yang dibutuhkan di Arsip Online IVAA, barangkali arsip tersebut belum sempat diunggah,
3B. Bila Anda belum terdaftar sebagai KawanIVAA, maka,
4B. Anda perlu mendaftar terlebih dahulu melalui tautan ini http://bit.ly/2k9F3W2 Keanggotaan ini berlaku untuk seterusnya tanpa masa kadaluarsa.

Sementara itu apabila,
3C. Anda telah terdaftar sebagai anggota KawanIVAA,
4C. Silakan menghubungi Arsiparis IVAA melalui alamat email archive@ivaa-online.org atau mengisi formulir “Kontak” di Arsip Online IVAA.
5C. Mohon menunggu respon dari Arsiparis IVAA selambat-lambatnya 3 hari kerja,
6C. Anda diminta mengisi formulir Permintaan Arsip secara online dan menjelaskan keperluan penggunaan arsip di formulir tersebut. Anda tidak bisa mengisi formulir ini apabila Anda belum terdaftar,
7C. Bila arsip akan digunakan untuk keperluan penelitian saja, maka Anda bisa langsung menuju nomor 10,

Sedangkan bila,
7D. Arsip akan digunakan untuk keperluan yang hasil akhirnya akan dipublikasikan atau direproduksi,
8D. Anda diharuskan untuk meminta izin penggunaan kepada pemilik arsip yang sebelumnya (misal: pemegang hak, seniman, keluarga seniman, dll)
9D. Silakan mengabari Arsiparis ketika Anda telah mendapatkan izin penggunaan arsip,

10. Anda diminta membayar biaya pemrosesan data atau pengirimannya, bila ada,
11. Anda akan diminta mendepositkan sejumlah uang,
12. Arsiparis mengirimkan arsip yang Anda butuhkan,
13. Anda sangat diharapkan untuk menyumbangkan salinan penelitian/dokumentasi projek Anda terkait arsip yang digunakan dalam bentuk tercetak atau berkas digital,
14. Setelah mendapatkan salinan penelitian/dokumentasi projek Anda, Arsiparis akan mengembalikan uang deposit.

Demikian informasi dari kami. Silakan menghubungi Arsiparis IVAA apabila ada ada hal-hal yang ingin ditanyakan melalui alamat email archive@ivaa-online.org.

Terima kasih atas perhatiannya dan selamat menggunakan layanan arsip IVAA.

Salam hangat,
Melisa Angela
Kepala Arsip
Indonesian Visual Art Archive

———-

Dear KawanIVAA,
By this letter we would like to inform you about IVAA’s new public service on archive request, that starts from January 2017.

This picture illustrates the archive request procedure:​

​Explanation of the picture above:
1A. You are kindly expected to search the archive needed from IVAA Online Archive, at: http://archive.ivaa-online.org/ before contacting the archivist,
2A. When you have found the required archive at the IVAA Online Archive,
3A. Feel free to use it and please include the source.

But,
2B. If the required archive is not available on IVAA Online Archive, it is possible the specific archive is not yet uploaded. Then,
3B. You need to be a registered member,
4B. Feel free to be a member at http://bit.ly/2k9F3W2 This is a lifetime membership.

Meanwhile, if,
3C. You are already registered as a member of KawanIVAA,
4C. Please contact IVAA’s archivist via email at archive@ivaa-online.org, or fill the available contact form at IVAA Online Archive,
5C. Allow us to respond within three working days,
6C. You will be asked to fill Archive Request Form and verify KawanIVAA member ID,
7C. If you intend to use the archive for research only, then you can go directly to number 10.

But,
7D. If you intend to publish or reproduce the archive,
8D. Please proceed by asking permission from previous archive holders (e.g. owner to rights, family, etc.)
9D. Once you obtained the permission, please inform the archivist,

10. Please process payment for data processing & delivery,
11. You will be required to deposit a certain amount,
12. Copies of requested archives will be sent to you via preferred delivery,
13. Please send us a copy of your research in print or electronic files,
14. The archivist will return your deposit upon receiving your research copy.

Please contact our archivist at archive@ivaa-online.org for any further questions.

Selamat Hari Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 | Merry Christmas 2016 and Happy New Year 2017

greetingivaa

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Natal dan Tahun Baru 2017

Menyambut Natal dan Tahun Baru 2017, Perpustakaan & Layanan Publik IVAA tutup pada 25-26 Desember 2016
dan 1-2 Januari 2017

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wishes you

a Merry Christmas and Happy New Year 2017
Welcoming the feast of Christmas and New Year 2017, IVAA Library and Public Service closed from December 25 to 26, 2016
and January 1-2, 2017

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas
Diskusi Berseri, 17 – 16 November 2016, di RumahIVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

“Your Trip, Our Adventure” merupakan rangkaian dua hari diskusi yang berupaya melihat fenomena pertukaran budaya secara mendalam dan meluas. Di hari pertama, fenomena ini ditempatkan sebagai soal yang perlu dibongkar tajam dan dicari relasi kuasanya, semacam usaha untuk zoom in. Sementara diskusi hari ke dua merupakan upaya zoom out, dengan menempatkan fenomena residensi ini pada konteksnya, yakni di tengah usaha percepatan pembangunan dan masifnya pengembangan industri wisata.

Pada diskusi hari pertama, Tiatira hadir sebagai pemantik diskusi. Sebagai peneliti soal residensi yang dilakukan bersama tim kajian arsip IVAA, ia memberikan paparan sejarah residensi, baik ketika ditempatkan sebagai istilah maupun kegiatan. Setelah itu Malcolm Smith, salah satu anggota kolektif Krack! memaparkan sebagian kecil dari penelitiannya soal program pertukaran budaya dan kaitannya dengan struktur kelas sosial. Ia juga memberikan penjelasan soal bagaimana agenda penyandang dana memainkan pengaruhnya dalam aktivitas pertukaran budaya. Sementara di sisi lain terdapat logika pemerintah suatu negara yang selalu ingin menjadi pusat. Elia Nurvista, seniman yang banyak melakukan residensi, membagikan motivasinya dalam melakukan residensi, di tengah konteks kesenimanannya.

Sementara diskusi hari ke dua dengan tema ‘Budaya Berpindah dan Arah Gerak Kota’ lebih membawa pembahasan pada kondisi kota Yogyakartayang laju perubahannya semakin dikencangkan melalui berbagai macam rezim penataan. Dari paparan yang diberikan serta diskusi yang kemudian bergulir selama kurang lebih tiga jam, forum ini mampu mengeksplisitkan berbagai persilangan kuasa dan rezim yang merupakan elemen dari percepatan pembangunan, yang banyak menentukan wajah kota Yogyakartayang dipaksa menjadi urban.Dimulai dari paparan Pitra Hutomo, arsiparis dan peneliti IVAA, yang mengartikulasikan arah gerak perubahan Yogyasebagai ruang hidup beserta peran seniman dalam laju perubahan tersebut. Setelah itu, Maria Adriani, dosen arsitektur UII sekaligus perencana ruang urban, memberikan paparan menyeluruh dari hulu sampai hilir soal bagaimana Yogyakartadipaksa menjadi ruang urban. Sementara pemantik diskusiketiga ialah Rosyid Adiatma, akademisi, yang sedang melakukan penelitian soal identitas dan perebutan ruang. Ia tengah melakukan tahap awal dari penelitian di desa Tambakharjo, Tugurejo, Karanganyar. Dalam paparannya ia membagikan beberapa cara pandangnya yang dipakai dalam penelitiannya tersebut.

Kedua forum ini berlangsung sebagai ruang berbagi masukan, pemikiran, posisi dan strategi hingga sebagai sarana kritik dan otokritik bagi para pelaku dan penggerak aktivitas seni budaya.

Pengantar Meraba Wajah Sosial Kota: Sebuah Catatan Tentang Pojok Arsip IVAA

Pengantar Meraba Wajah Sosial Kota: Sebuah Catatan Tentang Pojok Arsip IVAA

Archive Showcase, 17 November – 31 Desember 2017, di Rumah IVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sekira kurang lebih satu semester ini IVAA secara rutin gelar pojok arsip, yang setiap dua bulan sekali berganti tema. Kali ini, kami menghimpun beberapa kepingan peristiwa yang sengaja kami susun untuk menggarisbawahi berbagai tonggak yang menjadi penanda arah gerak ruang hidup kita. Sebagai warga yang merasa memiliki ruang ini, sebagian dari kita tentu sudah bisa merasakan bahwa kota ini sedang bergerak ke arah yang tidak kita suka atau tidak kita sepakati.

Di satu sisi hampir setiap hari kita terus dihadapkan pada berbagai narasi yang menguatkan model pengembangan dan pembangunan kota dengan narasi istimewanya. Sementara di sisi lain, di tengah narasi dominan keistimewaan, terdapat geliat warga yang tidak diam, merespon situasi ini sebagai kondisi yang tidak baik-baik saja. Terhitung sejak masa reformasi, geliat dan dinamika politik kewargaan hampir selalu ada. Sementara posisi seniman dan pekerja budaya yang hidup di kota Yogyakarta Jogja ini sering kali menjadi bagian di dalamnya.

Peristiwa dan catatan sejarah yang dihadirkan di sini tidak melulu terkait langsung dengan soal peristiwa jadi yang sudah berupa acara dan kegiatan yang kemudian diberi nama peristiwa seni dan budaya. Di tengah proses hadirnya karya ataupun acara selalu terdapat konteks ataupun udara yang membuat nafas dari peristiwa kultural tidak mungkin hidup tanpanya.

Berbagai tonggak, yang tidak harus besar dan monumental, sengaja kami hadirkan, mengingat kecenderungan kita yang memiliki ingatan pendek. Kita seringkali lupa atas beberapa peristiwa yang telah lewat, sehingga tidak jarang kita melakukan pengulangan yang tidak perlu.

Harapannya, kita tidak kemudian begitu saja larut pada wajah kota kita yang dibuat seolah ‘istimewa’, namun lebih terpancing untuk bertanya sambil meraba wajah lainnya yang sesungguhnya lebih nyata. Karena di situlah terdapat wajah sosial dari suatu ruang hidup. Pojok arsip yang sempit ini tentu tidak mampu merepresentasikan seluruh wajah sosial yang berdinamika saat ini. Namun setidaknya ini menjadi awalan dan sebagian kecil dari proses kerja tim program, yang sedang mengumpulkan model-model kerja seni budaya yang ada di sekitar kita dan kaitannya dengan arah gerak ruang hidup yang bernama Yogyakarta. Semoga kita tidak terlalu lama larut dalam lamunan massa.

Sorotan Pustaka | November – Desember 2016

2016-international-symposium-on-art-archives

1. 2016 International Symposium on Art Archives
Katalog
28 Halaman
Penerbit: National Taiwan University of Arts
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Chinese / English

Terbitan ini merupakan buklet yang berisi daftar para pemateri serta urutan acara International Symposium on Art Archives 2016 (ISOAA 2016) yang diselenggarakan di Taiwan pada 10-11 November yang lalu. Simposium internasional ini diselenggaakan oleh National Taiwan University of Arts dan bekerjasama dengan Kementrian Kebudayaan Taiwan. Para pembicara dalam simposium tersebut adalah para arsiparis yang mewakili institusi ataupun pelaku arsip individu (pengumpul arsip), serta para ahli arsip kebudayaan yang berprofesi sebagai peneliti, dosen, maupun perwakilan dari museum. Selain negara penyelenggara yakni Taiwan, di dalam simposium ini dihadirkan perwakilan dari berbagai negara antara lain Kamboja, Singapura, Indonesia, Prancis, Swis, dan Amerika Serikat.

2. Taiwan Annual #1taiwan-annual-2016
Katalog
383 Halaman
Penerbit: Association of the Visual Arts in Taiwan (AVAT)
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Chinese / English

Sejak berdiri pertama kali pada tahun 2001, Association of the Visual Arts in Taiwan (AVAT) telah mengorganisir ARTIST FAIR dan membuatnya menjadi platform pameran alternatif untuk para seniman individu dan bukan seperti model galeri-galeri yang kita biasa lihat pada pameran biasanya. Ketika mereka merayakan peringatan hari jadi ke-15 tahun, mereka  mengganti nama itu dan membuatnya menjadi TAIWAN ANNUAL, sebuah pembeda bagi tren seni kontemporer yang biasanya menamai pameran internasional dengan nama “biennale” atau “trienniale”.

Pada edisi terakhir ARTIST FAIR tahun 2015, mereka telah memetakan sebuah masa depan berkesenian bagi Taiwan Annual: sesi “art project call for proposals”, mereka sangat terbuka bagi projek pameran free-style untuk lebih mempromosikan eksplorasi seni kontemporer. Mereka juga menaikkan jumlah proposal yang diterima dalam “Curators Program” dan “Cinema” untuk mendorong para kurator lokal supaya lebih semangat berkarya.

3. Betbetween-declararions-and-dreamsween Declaratios and Dreams: Art of Southeast Asia since the 19th Century
Katalog
291 Halaman
Penerbit: National Gallery Singapore
Tahun Terbit: 2015
Bahasa: English

Katalog ini berisi kumpulan karya seni rupa di Asia Tenggara. Katalog bertajuk “Between Declarations and Dreams” ini berisi perjalanan sejarah negara-negara di Asia Tenggara dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga paska kemerdekaan. Katalog ini mencoba melihat konsep dari seni itu sendiri di kawasan Asia Tenggara, tentang bagaimana mereka membagi pengalamannya dan terkoneksi satu sama lain. Bagaimana kita melihat kejadian yang mempengaruhi produksi dan bagaimana seni disambut. Katalog yang diterbitkan tahun 2015 oleh National Gallery Singapore ini berisi 4 tulisan kuratorial setebal 291 halaman.

skripta-vol-4

4. Skripta Volume 04/Semester 2/2016
Jurnal
74 Halaman
Penerbit: Soap (Study on Art Practices)
Tahun Terbit:  Volume 04/Semester 2, 2016
Bahasa: Bahasa Indonesia

Jurnal Skripta edisi ke empat ini mengemukakan perihal praktik kuratorial dan perkembangan wacana di sekitarnya. Terdiri dari empat esai. Esai pertama, yang ditulis oleh Arham Rahman, mengulik soal tradisi kritik seni yang salah satunya melahirkan kurator. Serta dijelaskan bagaimana terjadinya pergeseran tradisi kritik, dari kritik seni ke kritik kuratorial. Esai kedua yang ditulis oleh Irham Anshari mengenai kelindan wacana pasar seni dan politik pendanaan yang sering kali luput dibicarakan oleh kurator atau seringkali sengaja dibuat absen dari wacana kekuratoran. Sementara esai ketiga yang ditulis oleh Lisistrata Lusandiana merupakan pembacaan teks kuratorial beberapa pameran bertema gender, yang biasanya diikuti oleh sekelompok seniman perempuan. Melalui pembacaan yang ditempatkan dalam frame perjuangan identitas gender, beberapa teks tersebut justru menunjukkan ketidakmampuannya lepas dari jebakan esensialisme identitas. Pada esai terakhir, Sita Magfira mengulas soal fenomena kemunculan kurator dan kondisi kultural yang membuatnya semakin berkembang. Keunikan kondisi kultural di Indonesia inilah yang diulas. Mulai dari kemunculan forum-forum kurator muda, lokakarya dan pelatihannya serta model kerja kurator yang juga beragam dan dekat dengan eksperimentasi.

galeri-edisi-20

5. GALERI Media Komunikasi Galeri Nasional Indonesia No. 20
Majalah
96 Halaman
Edisi: 20/2016
Penerbit: Galeri Nasional Indonesia
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Indonesia

Majalah Galeri edisi 20 ini memberitakan keberlangsungan WCF (World Culture Forum) 2016 ke-2, yang dihelat di bulan Oktober silam di Bali. WCF 2016 terdiri dari berbagai acara yaitu seminar, kunjungan wisata, karnaval, pertunjukan kesenian, mural dan lukisan, serta reproduksi karya dua maestro Indonesia Raden Saleh dan Affandi. Sementara di rubrik selanjutnya, tersaji laporan soal Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia 2016 yang diselenggarakan di Kota Manado, Sulawesi Utara, yang melibatkan sekitar 80 pelajar dan mahasiswa serta berbagai komunitas di Manado. Ulasan soal Pameran 100 Tahun Otto Djaya pada bulan September hingga Oktober lalu juga dihadirkan di sini. Dalam ulasan tersebut juga disebutkan bahwa pameran tersebut berhasil menghadirkan 171 lukisan Otto Djaya.

Pada bagian selanjutnya terdapat ulasan yang menengahkan soal sudut pandang romantik dalam lukisan-lukisan Basoeki Abdullah dan Fernando Amorsolo. Sudut pandang romantik yang ditemukan dari keduanya didapat karena adanya perubahan lingkungan di istana negara, dari istana negara yang ekslusif menjadi lebih inklusif dengan berbagai sentuhan kultural. Sementara di Bangkok, Raja menurunkan puluhan lukisan karya seniman Eropa yang ada di Istana Popporo, Istana Chakri, Istana Chitralada, serta gedung pemerintahan Ananda Samakhom. Menariknya, semua lukisan itu kemudian diganti dengan karya karya Basoeki Abdullah (1915-1993). Pemasangan lukisan-lukisan Basoeki tersebut dipertahankan sampai raja yang dicintai rakyatnya ini mangkat beberapa waktu lalu.

Selebihnya masih ada beberapa rubrik menarik yang mengulas dinamika seni budaya di berbagai tempat dengan skala yang juga beragam.

Sorotan Dokumentasi November – Desember 2016

Selama dua bulan kami Tim Dokumentasi IVAA, Dwi Rachmanto dibantu para peserta program Magang IVAA telah mengumpulkan sejumlah 46 dokumentasi dari berbagai perhelatan yang kami rekam, dan ditambah pula dengan dokumen-dokumen yang kami terima secara langsung dalam wujud rekaman baik video, foto, maupun katalog. Banyak perhelatan menarik di penghujung tahun ini, salah satunya adalah pameran para eksponen GSRB di Kampus ISI Yogyakarta yang disertai dua sesi seminar. Selain itu kami juga menjadi saksi seremoni yang menandai perubahan Rumah Seni Cemeti menjadi Cemeti Institut Seni dan Masyarakat dengan disertai perubahan kepengurusan pula. Beberapa perhelatan besar juga kami hadiri antara lain Jateng Biennale, Sumatera Biennale, 4th Jakarta Contemporary Ceramic Biennale, serta festival performance art internasional Undisclosed Territory #10. Kami juga dipercaya untuk menjadi tim dokumentasi resmi untuk penyelenggaraan Simposium Khatulistiwa 2016. Di dalam simposium 2 hari ini setiap harinya berlangsung 1 kelas umum dilanjutkan 3 kelas yang berlangsung bersamaan, di masing-masing kelas berlangsung 3 sesi. Sehingga total terdapat 20 kelas yang kami dokumentasikan.

Pada Buletin Daring edisi ini kami menyoroti 5 perhelatan yang kami rekam dalam media video ataupun foto. Dan istimewanya ada dua perhelatan diulas secara komprehensif oleh dua penulis tamu. Pertama adalah Katherine Bruhn (Katie) yang mengulas Biennale Sumatra Ketiga. Katie adalah seorang peraih gelar Ph.D untuk Studi Asia Tenggara di UC Berkeley yang sedang berfokus meneliti tentang aktivitas seni rupa di wilayah Sumatra Barat. November lalu Katie menghadiri perhelatan Biennale Sumatra Ketiga di Jambi, juga dalam rangka kepentingan penelitiannya. Penulis tamu ke dua adalah Krisnawan Wisnu Adi, seorang mahasiswa tingkat akhir di FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sedang mengikuti Program Magang IVAA. Wisnu menulis catatan perjalanannya saat menjadi peserta Simposium Khatulistiwa 2016 dengan sangat teliti. Silakan simak sorotan-sorotan dokumentasi di bawah ini.


1. “Wang Sinawang: Sesrawungan”
16-30 November 2016 | Di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), Yogyakarta

2. “Bercocok Tanah”
Pameran Tunggal Ismal Muntaha (Sunday Screen & Jatiwangi art Factory)
Dikuratori oleh Grace Samboh
23 Desember 2015-23 Januari 2016| di ACE HOUSE, Yogyakarta

3. Tanah/Impian
Pameran Kolektif oleh Krack!
5 Juni-6 Juli 2016 di Krack! Studio

4. Biennale Sumatra Ketiga
19-22 November 2016 di Taman Budaya Jambi, Telanaipura, Jambi

5. Simposium Khatulistiwa 2016
29-30 Oktober 2016 | di Prodi Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Kembali ke Buletin IVAA edisi Nov/Des 2016.

Koleksi Harsono

Koleksi Harsono
Oleh: Putri Alit Mranani

Sejak pertengahan 2016, Tim Arsip disibukkan dengan digitalisasi arsip yang disumbangkan sejumlah seniman. Salah satu seniman yang menyumbangkan arsipnya adalah FX Harsono. Yang disumbangkannya adalah kumpulan slide dan negative film koleksinya, terutama yang berkaitan dengan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI), serta foto-foto lain yang dihasilkannya kala Harsono masih sering memotret menggunakan kamera analog setiap menghadiri pameran-pameran seni rupa. Perupa eksponen GSRB yang karyanya selalu relevan dengan isu sosial di Indonesia ini memang dikenal aktif mendokumentasikan peristiwa-peristiwa terkait kegiatan seni dan aktivisme.

Kami mengidentifikasi arsip FX Harsono menjadi tiga kategori, yaitu (1). kegiatan pribadi, (2). kegiatan yang berhubungan dengan kekaryaannya, dan (3). pameran atau kegiatan yang dianggap penting olehnya. Ia melakukan inisiatif pendokumentasian dengan tujuan sebagai koleksi pribadi sekaligus sebagai bahan presentasi. Yang dipotret Harsono cukup beragam dengan rentang waktu mulai 70 hingga 90-an, mulai dari PIPA hingga Binal Eksperimetal Art 92, ada pula dokumentasi Pameran Keramik Hildawati Sidharta, dokumentasi kekaryaan Moelyono, dan masih banyak lagi. “Karena pada waktu itu saya pikir tidak ada yang fokus terhadap pendokumentasian”, ungkap seniman yang bekerja di salah satu biro periklanan di Jakarta selama hampir dua dekade ini ketika ditanya apa motivasinya untuk mengumpulkan dokumentasi.

Tak kurang sejumlah 3904 foto sumbangan FX Harsono telah selesai didigitalisasi, dan kini masih dalam proses dilengkapi datanya. Daftar inventarisasi dokumen sumbangan arsip FX Harsono dapat dilihat di dalam tabel ini : https://docs.google.com/spreadsheets/d/1qYpjI6sECu6qgKl1zzSK6h1HqC7hqh6l32Vhd_qzh0k/edit?usp=sharing