Tag Archives: #buletinivaa_april2018

[sorotan pustaka] Kelola Seni: Lukisan, Wayang, Film Hingga Jazz

Penulis : Arinta Agustina Hamid, Citra Aryandari, Indiria Maharsi, Irwandi, Kasidi Hadiprayitno, M. Dwi Maryanto, Mikke Susanto, Sumaryono, Timbul Raharjo
Penerbit : Ombak
Tebal : X+137 Halaman
Ukuran : 16 X 24 Cm

Nomor panggil IVAA Library: 701 Mar K

Oleh Khanza Putri  (Kawan Magang IVAA)

Buku ini adalah kumpulan dari 9 tulisan yang berbicara dalam disiplin tata kelola seni. Bisa disebut sebagai salah satu wantah atas perkembangan dunia seni, ranah tata kelola menjadi bahasan yang semakin banyak dibicarakan. Manajemen seni semakin dibutuhkan karena secara filosofis, pengelolaan seni mengalami sublimasi pemikiran dari ranah teknik menuju seni sebagai strategi pemikiran. Sehingga, mengelola seni bukan saja persoalan bersifat fisik seperti penataan ruang, pemasangan karya, menyosialisasikan karya tapi juga meliputi strategi dalam mengolah persepsi, imajinasi dan intuisi penonton. Lebih jauh lagi, dunia manajemen seni juga dapat difungsikan sebagai pencipta tren, style maker, penggubah peristiwa sampai sebagai analis budaya.

Penyunting menganggap bahwa sembilan artikel yang ada di dalam bunga rampai ini memerlukan klasifikasi khusus. Buku ini tidak bisa digolongkan dalam dua klasifikasi seperti Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, karena masing-masing artikel memiliki keterkaitan antar jenis kesenian. Maka dari itu buku ini terbagi menjadi dua bagian yakni bagian pertama yang membahas ranah teoritis dan bagian kedua yang membahas ranah empiris. Tulisan mengenai ranah teoritis memuat empat tulisan yang ditulis oleh M. Dwi Marianto, Sumaryono, Kasidi dan Mikke Susanto. Sedangkan tulisan mengenai ranah empiris, akan memayungi isu yang menjadikan jenis seni tertentu atau perhelatan khusus sebagai kasus dalam penelitian atau kajian tersebut. Lima tulisan itu ditulis oleh Timbul Rahardjo, Citra Aryandari, Irwandi, Miria Maharsi, dan Arinta Agustina Hamid.

Semua artikel di buku ini menarik karena disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan mengangkat peristiwa ataupun karya yang masih hangat di masyarakat. Seperti misalnya tulisan “SITI: Ketika Film Indie Bertarung di Pasar Mainstream”, ditulis oleh Arinta Agustina Hamid. Menceritakan bagaimana SITI yang mengusung spirit independen, lebih populer dengan sebutan film indie. Mencoba mematahkan stigma bahwa film indie sulit bahkan tidak akan pernah memasuki pasar mainstream. Strategi dan format pemasaran film SITI dikupas oleh penulis untuk memahami bagaimana SITI bisa bermain di pasar mainstream dan meraih banyak penghargaan baik di dalam dan luar negeri. Penulis memaparkan bahwa film ini didistribusikan melalui kantong-kantong komunitas, bioskop alternatif, hingga festival. Pergerakan distribusi melalui jalur festival paling banyak ditempuh karena dinilai akan memberikan poin lebih terhadap karya mereka. Terbukti setelah film SITI melanglang buana di berbagai festival, berbagai tulisan yang mengulas baik dari juri, pengamat, kritikus film membawa perjalanan SITI masuk pasar mainstream.

Gaya penulisan yang mudah dimengerti juga tampak dalam tulisan teoritis di bagian pertama. Tulisan “Kesadaran Sebagai Subjek”, dibuka oleh M. Dwi Marianto yang mengeluhkan gersangnya jalan utama di kawasan Bantul, terutama semenjak Pemda Bantul menginstruksikan penebangan pepohonan di sepanjang jalan. Dalam tulisan ini, M. Dwi Marianto menyampaikan bahwa seseorang yang bermental subjek adalah orang yang berani memimpikan sesuatu dan berusaha mewujudkannya. Penulis kemudian mengkritik mental “wis ngene wae ra papa” (sudah begini saja tidak apa-apa) yang terjadi di aktivitas pameran membuat penyelenggara kurang memperhatikan perbaikan hal-hal kecil yang kerap terjadi seperti pengunjung yang merokok di dekat karya, sound system yang baik tidak disediakan, orang-orang yang seenaknya berbicara dan bergurau saat sambutan yang seharusnya suasana hening dan sebagainya. Di bidang penciptaan, pengkajian, dan tata kelola seni seseorang yang bermental subjek adalah seorang pelaku yang berani merencanakan, mencari upaya dan jalan untuk merealisasikan hal yang digagas.

Secara keseluruhan buku ini cukup memberikan gambaran awal kajian teori dan praktik tata kelola seni, sekaligus “berita” tentang tren pemikiran manajemen seni. Buku ini bisa membantu mahasiswa, pegiat, pecinta, dan segala pilar yang berada di ruang seni-budaya, sosial, manajemen, komunikasi, hingga permuseuman. Mengenali tata kelola seni berarti juga mengenali “medan tempur” dunia kesenian.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

#SorotanArsip | Arsip Batara Lubis

Oleh: Didit Fadilah (Kawan Magang IVAA)

Ada tujuan dan keinginan tersendiri dari terselenggaranya pameran sketsa Batara Lubis di Museum Taman Tino Sidin pada periode 16 Februari hingga 2 Maret lalu. Dari kembali mengingatkan publik tentang kekaryaan Batara Lubis hingga mengenalkan sosok Batara Lubis dan karyanya kepada generasi masa kini. Dengan suksesnya pameran tersebut, Gina Lubis, putri Batara Lubis, mengakui bahwa sasaran yang sejak semula diinginkan dari terselenggaranya pameran telah tercapai. Tidak berselang lama setelah pameran terselenggara, tim arsip IVAA mengunjungi kediaman Gina Lubis (putri sulung Batara Lubis) dengan beberapa pertanyaan seputar arsip dan sosok ayahnya.

Sedikit membahas tentang penyelenggaraan pameran, pemilihan sketsa sebagai karya yang dipamerkan merupakan suatu hal lain yang menarik. Hal ini dikarenakan sosok Batara Lubis dikenal akan kekhasan lukisan-lukisannya. Akan tetapi, pemilihan sketsa sebagai karya yang dipamerkan tentu memiliki perhitungan tersendiri. Gina Lubis selaku inisiator pameran, mengatakan bahwa pemilihan sketsa didasari atas alasan menghindari rasa bosan publik atas Batara Lubis.

Sebagai seorang seniman, menurut Gina Lubis, ayahnya sudah sangat sadar tentang proses pengarsipan. Hal ini pula yang memudahkan keluarga untuk merawat atau mendata keberadaan karya Batara Lubis. Selain itu, kesadaran Batara Lubis tentang arsip juga tampak pada cerita yang menjelaskan bahwa seputar peristiwa 1965, Batara Lubis menyelamatkan beberapa karya milik sesama seniman yang berada di Sanggar Pelukis Rakyat, yang lalu dititipkan pada tetangga agar karya-karya tersebut tidak dihancurkan. Hal ini menunjukkan kepedulian Batara Lubis sebagai seniman yang sadar tentang arsip.

Meskipun beberapa karya Batara Lubis mengalami kerusakan, tetapi pengarsipan yang telah dilakukan membuat karya tersebut masih bisa dan mudah diakses. Dengan jumlah karya yang lebih dari 500, pengarsipan yang dilakukan keluarga tentu tidak mudah karena keterbatasan ruang simpan yang dimiliki. Ada keinginan dari keluarga untuk melakukan pengelolaan arsip-arsip Batara Lubis secara lebih baik ke depannya. Adapun keinginan lain yang ingin diwujudkan adalah perawatan terhadap karya yang tentunya memakan biaya cukup besar, serta keinginan lain keluarga Batara Lubis untuk bisa memiliki museum yang berisikan karya-karya Batara Lubis.

Dalam 2 kali kunjungan tim arsip IVAA ke rumah keluarga Batara Lubis, kami telah mendigitalisasi 866 arsip Batara Lubis yang terdiri dari sketsa, foto dokumentasi kegiatan/pameran, makalah, hingga catatan perjalanan. Selain itu juga terdigitalisasi 299 arsip pelukis rakyat berupa sketsa, foto, dan sebagainya. Untuk mengakses ini, publik diperkenankan untuk langsung mengunjungi perpustakaan IVAA.

Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Musrary #7 Agoni

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Nama Agoni diambil dari kata dasar Agonia yang merujuk pada salah satu tulisan St. Sunardi berjudul “Suara Sang Kala di Tepi Sungai Gajahwong” dalam buku kumpulan esai Vodka dan Birahi Seorang Nabi. Kata Agoni dipilih sebagai representasi dari lagu-lagu mereka. Awalnya ada beberapa rekomendasi dari pemilihan nama, akhirnya dipilih nama Agoni, karena yang dibicarakan banyak mengenai persoalan tentang makna dari kata itu. Diambil dari tiga fase berkesenian; agonia, ekstase, dan joy. Agonia adalah kondisi di mana saat sedang sangat gelisah dan ingin mengungkapkannya tapi tidak bisa. Fase kedua, Ekstase berarti fase di mana si seniman mencurahkan keresahannya lewat media seni. Sedangkan joy adalah satu fase saat sudah selesai membahasakan soal kegelisahan itu.

Mereka merasakan lagu yang lahir dari Agoni itu berasal dari keresahan yang awalnya sulit dibicarakan. Dengan membicarakannya lewat lagu, diharapkan dapat mencapai fase ekstase dan joy. Pendengar diajak untuk merasakan pengalaman yang sama dengan musisi. Akhirnya dipilih fase yang pertama, karena orang cenderung berambisi mencapai joy tanpa melewati fase ekstase dan agoni. Fase agoni cukup penting karena tidak banyak dibicarakan dalam konteks masa sekarang.

Band ini digawangi oleh muda-mudi asal Yogyakarta yakni Fafa (vokal & gitar), Erda (bass), dan Dimas (drum). Agoni dipilih oleh IVAA bukan hanya karena relasi pertemanan saja, melainkan juga ide-ide lewat lagunya yang menarik untuk masyarakat dengar. Lagu-lagu Agoni adalah jelmaan dari perjalanan hidup yang peristiwanya tidak mudah diceritakan. Sejak 2010, Erda dan Fafa hanya sekadar band-band-an, tidak pernah terbayangkan untuk terus ditekuni. Ternyata, Fafa sudah berbakat dalam menulis sejak masih duduk dibagku SMP, dan kemudian mencoba merangkai lirik lebih mendalam. Pada awalnya, Agoni hanya terdiri dua orang, dalam perjalanannya, perlu materi yang lebih lengkap dengan kehadiran drummer. Untuk Musary #7 ini, diajak pula Dicky dan Adam sebagai additional player. Mereka justru menemukan keasyikan dengan berganti-ganti additional player, sebab memiliki warna musik yang beragam.

Musrary #7 merupakan kali pertama IVAA terlibat dalam sebuah acara peluncuran album musik. Berlangsung di Rumah IVAA, Sabtu, 9 Desember 2017. Pertunjukan musik bertajuk Mencari Matahari dilaksanakan dalam launching mini album berjudul Merajut Badai dari Agoni. Sama dengan event-event Musrary yang telah terselenggara sebelumnya, penonton disuguhkan penampilan musik dengan suasana yang intim. Penonton bisa berinteraksi langsung dengan sang musisi.

Malam minggu syahdu penonton disuguhkan 7 lagu dari mini album Merajut Badai, dan satu lagu yang akan ada dalam album full album perdana mereka. Penampilan pertama dibuka dengan “Aku Harap Laguku” yang menyejukan. Lagu kedua adalah “Jantung Kota” yang bercerita tentang keresahan pada kota sendiri. Lagu ini didedikasikan warga Temon, Kulonprogo, masyarakat terdampak proyek pembangunan New Yogyakarta International Airport. Selain perform, juga dijual beberapa merchandise yang keuntungannya disumbangkan pada petani-petani di Kulonprogo yang sedang berjuang mempertahankan hak hidup bersama “Jogja Darurat Agraria”. Lagu berikutnya berjudul “Jurnalis Palsu”, mewakili Fafa dan Erda yang pada saat kuliah aktif dalam pers mahasiswa. Lagu ini terilhami dari pengalaman saat melakukan liputan dan intens bergulat dengan isu-isu yang diangkat.

Musik dipilih sebagai ruang aktualisasi. Menurut Erda, dengan bermusik, ia merasakan apa yang dinamakan katarsis, dan membutuhkannya dalam menjalani kehidupan. Dalam perjalanan karir bermusiknya, mereka sempat “merasa kecil” karena pernah tampil di depan orang-orang yang mereka lawan. Mereka pun pernah mendapat persekusi dari ormas tertentu. Penampilan Sabtu malam itu ditutup dengan lagu “Merajut Badai” yang berkolaborasi dengan Danto (Sisir Tanah), Gonjes (KePAL SPI/ Keluarga Seni Pinggiran Anti-Kapitalisasi Serikat Pengamen Indonesia), Fitri (Dendang Kampungan). Sudah hampir tiga tahun Agoni konsisten mengangkat tema tentang kehidupan manusia, baik dalam masa kegelisahan maupun suka cita. Momentum ini sekaligus dijadikan sebagai penutupan simbolis pada proses penggarapan panjang mini album Merajut Badai.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Musrary #9 Rio Satrio

Oleh: Dwi Rahmanto

Rio Satrio, sejujurnya nama ini masih asing di kancah musik Jogja. Tetapi setelah mendengarkan karyanya, saya yakin musisi ini layak diapresiasi lebih. Dikenal dengan nama panggung Rio Satrio, singer-songwriter asal Samarinda kelahiran 21 Januari 1994 ini bernama asli Muhammad Janwar Rien Satrio. Memulai karir bermusik di usia muda dengan bergabung di berbagai band bermacam aliran. Rio akhirnya menemukan jalur terbaiknya dengan bersolo karir.

Malam 19 Februari 2018 lalu menjadi spesial bagi Musrary #9 dengan kehadiran Rio Satrio. Kali kedua berkunjung ke Yogyakarta sekaligus melakukan mini tour dan mini konser di sejumlah gigs Jogja. Berpakaian serba hitam, dan konser mini dimulai dengan cerita dongeng tentang pengembara dan hujan, juga sosok pria tua dan gubug yang sangat jelek. Dalam kisahnya pengembara dan pria tua saling bertanya setelah melihat hujan sangat lebat, dalam gubug tidak layak huni itu si pengembara melihat si pria tua sangat bahagia dan berteriak. Pria tua sepakat bahwa hujan membawa keberuntungan bagi tanah kita, dan gubug yang hancur bisa dibuat lagi hingga ratusan kali.

Rio Satrio telah merilis sebuah album berjudul Cerita Daun dan Bumi, single dengan judul yang sama menjadi andalan album pertamanya ini. Sisanya berisi 8 single yang menarik untuk didengarkan. Rio membawakan musik folk yang sederhana namun kaya nada. Lirik lagu yang diciptakan biasanya bercerita tentang pengalaman pribadi, kisah orang-orang terdekat, persoalan dan pelajaran hidup, serta kecintaan pada alam. Di akhir mini konsernya, Rio ditantang untuk membuat lagu secara spontan tentang apapun, khususnya yang dia temukan di Rumah IVAA. Lagu dadakan tentang IVAA menjadi penutup meriah dan semakin mencairkan suasana, dibalas dengan tepuk-tangan panjang dan bahagia hadirin Musrary kali ini.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Pelatihan Menulis Wikipedia: Bias Gender Dalam Seni

Oleh: M.S Fitriansyah (Kawan Magang IVAA)

Sebelum 23 maret 2018, Wikipedia Indonesia baru memiliki 46 halaman pelukis dan pematung Indonesia. Terlebih hanya ada tiga profil seniman perempuan. Beranjak dari kegelisahan bahwa pengetahuan harus bisa diakses siapapun secara bebas dan gratis, Wikimedia selaku lembaga yang menangani produksi artikel di laman wikipedia indonesia, bersama IVAA dan Kunci Cultural Studies mengadakan acara untuk menaikan seniman perempuan Indonesia ke permukaan. Kemudian digelarlah kegiatan Edit-A-Thon: Wikipedia Seni dan Perempuan. Kegiatan tersebut berlangsung di Rumah IVAA. Pemilihan tema perempuan pelaku seni tidak hanya pertimbangan akan kurangnya jumlah halaman tentang seni di Wikipedia Indonesia, namun juga mempersoalkan bias gender dalam dinamik dunia seni.

Kegiatan tersebut dihelat pada Jumat, 23 Maret 2018 dan diikuti sekitar 21 peserta umum. Lisis mengungkapkan latarbelakang acara tersebut adalah berangkat dari penulisan sejarah seni rupa yang bias gender. “Acara ini bagi IVAA sebagai pengingat, karena kita mengarsipkan dan lumayan berpartisipasi dalam penulisan sejarah. Kalau kita tidak diingatkan, penulisan sejarah seni rupa Indonesia itu sexist, nah itu lumayan bahaya,” ungkapnya,” saat memberi sambutan pada acara tersebut, Jumat (23/3). Lisis berharap bahwa acara tersebut tidak cuma di sini, tetapi didorong kelanjutannya oleh semua pihak. Dalam acara ini IVAA bertindak sebagai fasilitator ruang, dan referensi baik buku maupun tautan digital.

Argumen juga dilontarkan Gita dari perwakilan Kunci. Gita berpendapat bahwa peran perempuan di dalam ranah seni seperti dilupakan begitu saja. “Mungkin standar-standar yang diciptakan dunia seni cukup patriarkis,” katanya. Bagi Gita dunia secara umum membuat perempuan tidak dapat berperan aktif sebagai seniman, misalnya karena urusan-urusan domestik. Harapannya, lanjut Gita, selain menulis lebih banyak seniman perempuan, juga harus terus bersama-sama memikirkan aktifitas kehidupan sehari-hari, misalnya pembagian kerja domestik tadi.

Peserta cukup antusias dalam mengikuti alur kegiatan yang dipandu oleh mentor dari wikimedia. Acara yang berlangsung selama 4 jam ini menarik perhatian khalayak luas, dari berbagai kalangan dan latar belakang. Peserta yang hadir pun tidak hanya datang dari perempuan, tetapi ada pula kaum adam ikut serta dalam kegiatan tersebut. Setelah peserta berlatih step by step menulis di Wikipedia Indonesia, dilakukan diskusi pendek yang membahas peran seniman perempuan di Indonesia.

Obrolan berjalan cukup intens ketika terjadi tarik menarik soal konsistensi penggunanaan istilah, apakah mau menggunakan seniman perempuan, pelaku seni perempuan, perempuan pelaku seni, ataru justru seniwati. Akhirnya setelah berdiskusi, istilah yang disepakati adalah perempuan pelaku seni. Dengan pertimbangan bahwa istilah pelaku seni mencakup lebih banyak profesi di bidang seni, tidak hanya seniman namun juuga kurator, manajer seni, wartawan dan lain-lain. juga meletakkan kata perempuan di depan sebagai rujukan orangnya, bukan orientasi karyanya. Acara berakhir sekitar pukul 17.00 WIB.

Perempuan pelaku seni yang di-input adalah sebagai berikut: Yustina Neni, Tamara Pertamina, Mary Northmore, Tintin Wulia, Mia Bustam, Marida Nasution, I GAK Murniasih, Nunung WS, Erna Pirous, Siti Adiyati, Hildawati Soemantri, Kelompok Nuansa, Umi Dachlan, Edith Ratna, Trijoto Abdullah.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Mozaik Mimpi Koalisi Seni

Oleh: Hardiwan Prayogo

Berangkat dari semangat untuk melakukan perubahan dan perbaikan ekosistem kesenian di Indonesia, Koalisi Seni Indonesia (KSI) pada 17-18 Maret 2018 berlokasi di Westlake Resto mengadakan pertemuan yang diberi tajuk Mozaik Mimpi Koalisi Seni. Dengan agenda utama berupa Focus Group Dicussion (FGD) antara anggota KSI di area Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. IVAA diwakili oleh Lisistrata Lusandiana dan Hardiwan Prayoga berkesempatan untuk terlibat dalam diskusi antara berbagai sektor pelaku seni ini.

Pada Sabtu 17 Maret 2018, diskusi terbagi dalam beberapa sesi, pertama adalah sesi “Percakapan #1 Pembelajaran”. Tujuan dari sesi ini adalah mendengar capaian dan strategi masing-masing pelaku seni, baik individu maupun kolektif dalam praktek kesenimanannya. Lingkungan seni, khususnya di Yogyakarta, tidak membentuk kultur/ perilaku seniman yang berpikir panjang. Dengan kata lain strategi yang ditempuh adalah kerja-kerja yang taktis, bukan strategis. Maka secara organik akan lahir jarak antara kebutuhan pelaku seni yang jangka pendek dengan logika kerja KSI yang cenderung jangka panjang. Kemudian diskusi bergulir hingga kondisi bahwa sebenarnya sumber dana selalu ada di sekitar kita, salah satunya adalah dana desa. Perlu dibangun kesadaran bahwa persoalan mengenai dana tidak melulu harus diselesaikan di pusat. Dengan demikian, pelaku seni sekaligus akan menjadi salah satu pilar yang aktif dalam struktur masyarakat, tampil sebagai salah satu kontributor utama dalam sektor riil. Para anggota berharap bahwa KSI menjadi jembatan atau platform akan akses ini. Bahwa seniman bukan hanya soal berkarya, tetapi juga memikirkan posisi sosial dari kerja infrastruktur.

Sesi kedua berjudul “Percakapan #2 Inspirasi”. Setelah saling berbagi tentang bagaimana selama pelaku seni bertahan hidup dengan berbagai macam cara, para anggota mencoba mencari bentuk ideal dari cara kerja KSI yang implementatif dengan kebutuhan anggotanya. Diawali dengan kesadaran bahwa kesenian kini semakin multidisiplin, KSI perlu menjadi wadah yang inklusif antar anggota untuk saling berbagai pengetahuan dan potensi. Pada dasarnya pelaku seni dimanapun senantiasa membutuhkan jejaring dalam lingkup regional, terutama dalam rangka memperkaya refrensi tekstualnya. Lebih lanjut agar semua sektor kesenian ikut terlibat dalam peningkatan daya apresiasi seni dari publik.
Sesi ketiga hari pertama ini ditutup dengan sosialisasi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan (UUPK). Undang-Undang ini adalah kebijakan yang secara aktif dikawal oleh KSI dalam 5 tahun terakhir. Disampaikan bahwa UUPK bersifat ofensif, dengan tidak menganggap globalisasi sebagai ancaman, namun justru peluang untuk pengkayaan teks dan jejaring. Objek UUPK ada 10, yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat, ritus, pengetahuan tradisi, seni, bahasa, teknologi tradisional, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. Pemilahan ini tidak bersifat kategoris, tetapi tagging, artinya satu produk/bidang bisa terdiri lebih dari satu objek. UUPK menggunakan logika pemajuan, bukan pelestarian karena menuntut untuk dikembangkan, tidak hanya dilestarikan. Dalam hal ini yang dikembangkan adalah relasi antara kajian dan penciptaan, memberikan kesempatan berkesenian yang sama, dan lain-lain.

UUPK dimulai dengan dokumen perencanaan bernama Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang disusun dari partisipasi masyarakat di tingkat kabupatan/kota, lalu diajukan ke tingkat provinsi, kemudian akan dikumpulkan dalam satu rumusan strategi kebudayaan nasional. Ini adalah tahap pertama dari implementasi UUPK berskala nasional namun dilaksanakan berdasar pada potensi dan urgensi setiap daerah.

Hari kedua, 18 Maret 2018, dimulai dengan sesi “Percakapan #3 Aspirasi”. Sesi ini membagi peserta dalam kelompok diskusi yang lebih kecil, 2-3 orang per kelompok. Antar kelompok diberi tugas berbeda yang secara garis besar menyusun strategi dan program ideal KSI untuk periode 2017-2022. Kelompok yang bertugas merumuskan strategi mengawali dengan bahasan bahwa secara umum publik seni masih canggung untuk mengartikulasikan bahwa seni adalah klaim politik. Berkaca pada fakta bahwa seni di Indonesia tidak pernah kritis secara jumlah, menunjukkan bahwa persoalan tidak terletak pada sumber dana, tetapi keberanian publik seni mengeksplisitkan klaim politiknya. Dalam kerangka ini KSI perlu menjadi lembaga yang juga bisa mengadvokasi, memberi perlindungan dan solidaritas jika ada anggotanya yang tertekan akibat klaim politik tertentu. Diakui bahwa kultur berkoalisi secara organik sudah tumbuh di daerah-daerah, terutama daerah yang infrastruktur seninya terbilang minim. Dengan kata lain KSI perlu mendorong sosialisasi paralegal, agar anggotanya memiliki kesadaran hukum. Di sisi lain, KSI sangat perlu untuk memperluas/ menambah anggota, dengan tidak melupakan syarat yaitu jejaring yang solid. Kemudian secara program, KSI perlu membuat peta, atau mapping kebutuhan infrastruktur seni setiap daerah, dan menyasar tokoh strategis sebagai sasaran audiensi. Dengan asumsi bahwa setiap responden akan aktif dan dapat mengidentifikasi problem, yang lebih penting adalah melakukan campaign apa keuntungan terbesar dari anggota yang aktif.

Hari kedua yang sekaligus menjadi hari penutup ini berlangsung dengan lebih cair. Semua gagasan yang mencuat dalam 2 hari ini akan dijadikan pegangan oleh para pengurus KSI. Pegangan agar KSI menjadi lembaga inklusif yang menjembatani keterbatasan dan kepanjangan tangan dari publik seni di Indonesia. KSI sendiri melanjutkan agenda serupa di daerah lain, yaitu Temu Anggota Jakarta, Jawa Barat dan Sumatra, dan Temu Anggota Indonesia Timur dan Bali.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Pengumuman Kantor: Menakar Kuasa Ingatan

Pertangah Maret lalu, akhirnya terbit buku dari Festival Arsip IVAA berjudul Menakar Kuasa Ingatan: Catatan Kritis Festival Arsip IVAA 2017. Buku ini terbit setelah festival ini selesai Oktober 2017. Untuk memperkaya sudut pandang, kami mengundang sejumlah penulis untuk terlibat dalam buku ini, mereka adalah Alia Swastika, Zuhdi Sang, Erie Setiawan, Elia Nurvista, Brigita Isabella, Taufiq Nur Rachman, Eliesta Handitya, Jonet Suryatmoko, Nisa Ramadani, Barasub, Helly Minarti, Fiky Daulay, M. Margareth Ratih Fernandez, Ikun SK, juga tidak ketinggalan para penyelenggara, mulai dari Direktur Festival Arsip, Tim Artistik, Tim Seminar, dan Tim Edukasi Publik. Buku ini di harapkan menjadi modal untuk melakukan pembacaan kritis terhadap posisi festival, arsip, dan dinamikanya. Sekaligus menjadi bagian dari refleksi atas terselenggaranya festival yang pertama di lakukan IVAA.

Tidak jauh berselang, kami mengungah video dokumentasi Festival Arsip berjudul Pirsa Kuasa Ingatan. Rekaman audio visual tentang momen-momen terbaik, memperihatkan irisan-irisan penting dari pembahasan dan isu yang di kelola oleh festival. Dalam video ini diperlihatkan aktivitas festival dengan ragam arsip yang dihidupkan, melalui bermacam instrumen tanpa membuatnya kehilangan konteks jamannya. Video ini dikerjakan oleh Muhammad Dzulqurnain bersama penanggung jawab dokumentasi Dwi Rahmanto, beserta Tim Konten IVAA.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

BACA ARSIP: Posisionalitas dan Pameran Pascakolonial, Mencari posisi dalam ruang seni

Oleh: Anne Shakka

Saya ini belum genap satu tahun bergelut dengan dunia seni-senian. Dengan sekolah formal yang berlatar belakang psikologi yang begitu scientific dan positivis, dunia seni, seni rupa pada khususnya, adalah hal yang sangat jauh dari diri saya. Sebelum masa hampir satu tahun ini, saya tidak pernah tahu aktivitas seni di Yogyakarta selain yang begitu populernya seperti ArtJog, itu saja belum tentu saya datangi. Jadi ketika karena satu dan lain hal saya nyemplung begitu saja pada dunia seni ini, saya jadi menyadari bahwa saya begitu buta dengan apa yang ada di dunia seni ini, baik secara umum, maupun dunia seni di Yogyakarta secara khusus, yang ternyata begitu hidup dan meriah.

Diawali dengan tugas untuk membaca catatan kuratorial suatu pameran seni dan bagaimana posisi pameran tersebut dalam konteks pascakolonial, yang ternyata sampai habis tenggat saya tidak bisa memproduksi apapun. Akhirnya setelah dengan permakluman yang begitu baik hati, saya diizinkan untuk menuliskan bagaimana pengalaman saya dalam membaca bahan-bahan bacaan tersebut yang tentu saja masih belum seberapa ini. Ya bisa dibilang pengantar ini adalah permintaan maaf dan sebuah alasan untuk tulisan saya yang entah bagaimana jadinya nanti.

Saya mengawali pembacaan saya dengan catatan kuratorial dari pameran yang bertajuk Concept Context Contestation, Art and the Collection in Southest Asia. Pameran ini diadakan di Bangkok Art and Culture Centre pada 13 Desember 2013 sampai dengan 2 Maret 2014. Pameran seni rupa yang melibatkan empatpuluh satu seniman Asia Tenggara kelas satu dan menghadirkan lebih dari limapuluh karya seni, sebagaimana yang dikatakan oleh Luckana Kunavichayanont—Direktur dari Bangkok Art and Culture Centre dalam pengantarnya di buku yang sama. Pameran ini juga melibatkan tiga orang kurator dari tiga negara yaitu Iola Lenzi dari Singapura, Agung Hujatnikajennong dari Indonesia dan Vipash Purichanont dari Thailand. Catatan kuratorial pertama dalam hidup yang saya baca.

Iola Lenzi mengawali tulisannya dalam katalog tersebut dengan menelusuri perkembangan seni kontemporer di Asia Tenggara. Sebagaimana yang saya tangkap, seni rupa di Asia Tenggara ini masih terasa gagap untuk untuk membicarakan kekontemporeran dirinya, tentu saja ketika hal itu dihadapkan pada linimasa perkembangan seni rupa barat yang dianggap lebih mapan dengan sejarahnya yang begitu panjang. Pemahaman atau definisi kontemporer di sini pastinya tidak bisa dikotakkan dengan bingkai yang sama dengan apa yang tumbuh dan dipahami oleh seni rupa barat. Bahan lain yang bisa kita perdebatkan lagi lain waktu.

Asia Tenggara sendiri sebagai suatu kawasan, dianggap tidak memiliki sejarahnya sendiri apalagi jika dibandingkan dengan peradaban-peradaban tetangga seperti Cina dan India yang dianggap sudah lebih mapan.[1] Ia seakan-akan muncul begitu saja sebagai suatu konsep pada tahun 1967 yang merupakan respon terhadap perang dingin antara blok Barat dan Timur pada masa itu. Kawasan yang terdiri dari negara-negara yang belum genap satu abad mengenyam kemerdekaannya dan bukan suatu kawasan yang homogen. Asia Tenggara terdiri dari berbagai latar belakang agama, etnis, dan kebudayaan yang membuatnya begitu beragam, tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa kawasan ini juga memiliki ciri khas dan kesamaan budayanya sendiri.[2]

Kondisi dari kawasan ini menjadi salah satu titik pijak dalam pembuatan karya di dalam pameran CCC. Karya-karya seni yang dihadirkan merupakan suatu ekspresi sosial yang menghadirkan realitas masyarakat dalam ruang pamer. Narasi-narasi yang dibawa oleh para seniman di sini banyak berangkat dari apa yang menjadi keprihatinan dan kritik mereka terhadap pemerintahan di negaranya masing-masing. Karya yang juga menemukan konteksnya ketika didialogkan atau mengajak keterlibatan dari penontonnya.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah karya dari FX. Harsono yang berjudul “Apa yang Anda Lakukan jika Krupuk ini adalah Pistol Beneran?” Karyanya berupa setumpuk krupuk berbentuk pistol dengan bahan yang tampaknya sama seperti cone es dung-dung yang biasa kita temui berkeliling di kampung-kampung. Di situ dia juga menempatkan sebuah buku catatan sebagai tempat memberikan jawaban-jawaban dari pengunjung yang mau merespon karya tersebut. Beberapa jawaban yang diberikan seperti, “menembakkannya pada Thaksin Sinawatra,”[3] Perdana Menteri Thailand yang digulingkan dengan kudeta pada 19 September 2006.

Kritik terhadap negara dan ketidakadilan dalam masyarakat juga muncul dalam karya dari Manit Sriwanichpoom yang berjudul The Election of Haterd. Manit menampilkan poster para peserta pemilihan umum tahun 2011 yang dirusak. Karya ini berhasil memprovokasi para penontonnya untuk menyadari realitas sosial yang ada di sekitar mereka dan pada saat itu, karya ini juga menjadi kontekstual karena Thailand sendiri juga akan mengadakan pemilu lagi pada tahun 2014 tersebut. Menarasikan atau menghasilkan karya dari apa yang menjadi temuan dan keprihatinan dalam masyarakat menjadi salah satu strategi yang dilakukan untuk memunculkan ke-Asia Tenggara-an yang membedakan diri dari yang lain.

Membaca catatan tersebut dan beberapa artikel lain yang diharapkan bisa membantu untuk bersuara. Saya melihat bahwa sebagai suatu pameran seni yang berasal dari pinggiran (periphery), suatu negara dunia ketiga jika kita perbandingkan dari spektrum Barat dan Timur, seni di Asia Tenggara ataupun di Indonesia selalu dihadapkan dengan liyan besar yaitu dunia seni barat. Dunia seni yang menjadi patron dan memberikan standar bagi sepertinya seluruh kesenian yang ada di dunia ini. Dan strategi untuk mencari identitas atau seni yang asli timur, asli Asia tenggara, atau asli Indonesia, sering kali, jika tidak mau dikatakan selalu, menjadi permasalahan yang banyak diangkat.

Hal yang senada juga saya temukan dalam membaca dua artikel dari Arham Rahman. Satu berjudul Seni Zaman Now artikel yang saya dapatkan dari orangnya langsung, jadi saya tidak tahu itu diterbitkan di mana, dan artikel yang lain adalah Dari “Kritik Seni” ke “Kritik Kuratorial”[4] Kedua tulisan tersebut berbicara mengenai dominasi dari sejarah dan standar barat yang di satu sisi menjadi panduan dalam melakukan sesuatu, seperti di bidang kuratorial yang dianggap lebih terstandar dengan sistem yang lebih terlembaga.

Hal yang senada juga saya tangkap dari S. Sudjojono ketika dia mengkritisi seni yang bercorak mooi Indie yang mengeksotiskan diri sendiri. Di satu sisi Sudjojono menyadari akan adanya orientalisme yang terjadi terhadap Indonesia, tetapi dia juga berusaha untuk mencari ciri khas atau identitas dari seni Indonesia itu sendiri.

Dominasi dalam bentuk apapun, termasuk dalam dunia seni rupa, selalu memunculkan sempalan-sempalan yang membuat subjek di luar kelompok tersebut mencari identitasnya sendiri. Jika ditarik dalam konteks pascakolonial, kecenderungan atau keinginan untuk mencari yang asli, yang pribumi, yang ada sebelum terjadinya kolonialisme, merupakan sesuatu yang banyak terjadi. Ketika identifikasi terhadap liyan yang menjajah itu gagal, dan pasti akan terus gagal. Orang-orang yang terjajah akan mencari kembali akar aslinya, sesuatu yang dianggap masih murni sebelum kedatangan penjajah atau yang biasa dikenal dengan nativisme.

Nativisme sendiri adalah suatu istilah yang menunjukkan adanya keinginan atau gerakan untuk menemukan atau memunculkan kembali kebudayaan asli atau kebudayaan sebelum kolonialisme terjadi.[5] Pandangan ini berangkat dari pandangan bahwa memang ada sebuah budaya yang asli yang ada sebelum kolonialisme terjadi, dan bahwa budaya yang “asli” tersebut bisa diraih kembali. Hal ini dimunculkan untuk mengatasi atau melampaui kolonialisme yang seringkali mendiskriminasikan atau merendahkan orang-orang yang dikoloni, sebagai contohnya yang terjadi pada orang-orang kulit hitam.

Salah satu gerakan yang muncul untuk melawan kolonialisme yang terjadi pada orang kulit hitam adalah gerakan yang dikenal dengan Négritude. Gerakan ini pada awalnya dimunculkan oleh para intelektual Afrika dan Caribia yang berada di Paris seperti Leopold Sedar Senghor dan Aime Césaire pada sekitar era perang dunia kedua.[6] Négritude sendiri adalah suatu gerakan orang-orang kulit hitam yang muncul melalui tulisannya yang membawa semangat untuk memperbaiki gambaran orang kulit hitam dengan mengekspresikan atau mengafirmasi kehitaman.[7] Dalam gerakan ini muncul kecenderungan untuk merayakan kehitaman yang selama ini berada dalam posisi inferior dibandingkan dengan kulit putih. Négritude, sebagai suatu gerakan, bisa dianggap malah menjadi gerakan yang “rasis” karena mengafirmasi superioritas atas kulit putih.[8] Pandangan esensialis akan adanya suatu identitas hitam juga menjadi dasar dari munculnya gerakan ini, walaupun dalam retorika yang diajukan identitas kehitaman tersebut dibicarakan secara positif dan dirayakan.

Saya tidak tahu apakah permasalahan mengenai mencari identitas asli ini sudah terjawab atau belum dalam dunia seni rupa. Atau sudah ada yang menjawab dan saya belum menemukan orang yang menjawab permasalahan tersebut, juga bisa jadi. Saya masih belajar. Tetapi apakah memang ada yang bisa disebut sebagai sesuatu yang asli? Asli Indonesia saja lah. Tidak perlu membahas yang seluas Asia Tenggara.

Menelusur kembali pada kesejarahan kawasan nusantara, kawasan ini sendiri sudah menjadi kawasan yang kosmopolit dengan adanya perdagangan dengan berbagai negara sejak abad ke-13. Hubungan perdagangan yang baik ini terjadi karena kepulauan Nusantara sudah terkenal sebagai daerah yang kaya dan merupakan penghasil berbagai hasil bumi. Suasana yang kosmopolit ini juga yang membuat orang dari berbagai tempat asing dapat tinggal dan membaur dengan penduduk setempat.[9] Di sini dapat diartikan bahwa sudah terjadi percampuran antara orang setempat dengan berbagai budaya yang datang dan masuk ke Nusantara. Dalam dunia seni, sebagaimana yang diceritakan oleh Claire Holt bahwa sejak awal kedatangannya, bangsa barat dan para raja di Nusantara sudah saling bertukar artefak dan karya seni, yang di sini pasti terjadi pertukaran juga pengetahuan yang pastinya akan saling memengaruhi. “Pengaruh-pengaruh Barat pada seni di Indonesia mungkin telah mulai dengan sedikit gambar-gambar yang dibawa oleh para agen Kompani India Timur Belanda (VOC) sebagai hadiah-hadiah kepada para penguasa lokal…”[10]

Mempertahankan binaritas dan dikotomi antara Barat dan Timur, atau antara negara maju dan kita yang dianggap sebagai negara dunia ketiga, rasanya sama saja dengan tetap mempertahankan diri kita dalam kotak kolonialisme. Dengan semua pertemuan dan percampuran yang terjadi dari abad ke-13 sampai saat ini, mencari yang menyatakan diri sebagai Indonesia atau Asia Tenggara, apakah sesuatu yang masih bisa dilakukan? Bukankah negara ini sendiri juga adalah sebuah konsep yang bahkan belum sampai satu abad adanya?
Menyatakan diri dengan mengangkat dan menarasikan isu lokal, isu dalam masyarakat di mana seniman itu bergumul dengan permasalahan sosial di dalamnya, bisa jadi itu malahan menjadi seni yang menjadi identitas suatu kawasan. Seni yang bisa menyelamatkan atau minimal mewakili masyarakatnya untuk menyatakan diri dari berbagai ketidakadilan yang dialami. Bisa jadi demikian.

Sumber:
Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths and Helen Tiffin (1998). Key Concepts in Post-Colonial Studies. London, Routledge.

Bujono, Bambang & Wicaksono, Adi (ed). (2012). Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esai. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta

Concept Context Contestation, Art and the Collection in Southest Asia. 13 Desember 2013-16 Maret 2014. Ed. Iola Lenzi. katalog Pameran

Gordon, Lewis R. (2015). What Fanon Said. New York, Fordham University Press.

Holt, Claire. (2000) Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Bandung: arti.line

Lombard, Denys (1996b). Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia. Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama

Taylor, Nora. A. Art Without History? Southeast Asian Artist and Their Communities in tha Face of Geography, dalam Art Journal, Vol. 70, No. 2 (Summer 2011), pp. 6-23. Diunduh dari http://www.jstor.org/stable/41430719 pada 20 Maret 2018

Rahman, Arham. Seni Zaman Now. Artikel
Jurnal SKripta Volume 04/Semester 2/2016

[1] Taylor, Nora. A. Art Without History? Southeast Asian Artist and Their Communities in the Face of Geography, dalam Art Journal, Vol. 70, No. 2 (Summer 2011), pp. 6-23.

[2] Agung Hujatnikajennong, Trajectories/Contingencies, Indonesia contemporary art and the regional context dalam Concept Context Contestation, Art and the Collection in Southeast Asia. Hal 26

[3] Vipash Purichanont, Contesting Communities dalam Concept Context Contestation, Art and the Collection in Southeast Asia. Hal 34

[4] Arham Rahman, Dari “Kritik Seni” ke “Kritik Kuratorial” dalam SKripta Volume 04/Semester 2/2016 hlm.2-21

[5] Ashcroft, Griffiths et al, 1998: 161

[6] Ibid, p 161

[7] Gordon, Lewis R. (2015). What Fanon Said. New York, Fordham University Press. p. 53

[8] Ibid. p. 52

[9] Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia (1996). Hlm 45

[10] Claire Holt. (2000) Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Bandung: arti.line

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.