Tag Archives: #buletinivaa_april2018

BULETIN IVAA DWI BULANAN | MARET-APRIL 2018

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Maret-April 2018

Salam jumpa bagi para pembaca sekalian. Senang rasanya kami bisa kembali berbagi kabar dan kisah kerja dalam dua bulan ini. Pada edisi lalu, kami menggarisbawahi tema artistic citizenship, sebuah frase yang harapannya mampu memberi warna dan menambah diksi dalam medan sosial seni kita. Kali ini, kami ingin mengkhususkan perhatian pada persoalan posisionalitas dalam pameran-pameran yang memiliki tema atau singgungan tema dengan gagasan dan agenda pascakolonial.

Program keredaksian newsletter kali ini sengaja kami jadikan paralel dengan program-program lainnya di IVAA. Paralelitas tema dari beberapa program ini kami putuskan bersamaan dengan perubahan paradigma yang dijadikan landasan dari tim pengarsipan. Sadar akan tema yang cukup luas dan problem yang cukup rumit, kami memulainya dengan menguatkan spirit pemula. Menyadari kepemulaan dalam diri kita berarti memperbanyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, memperbanyak penelusuran serta memutuskan batasan-batasan kajian.

Spirit pemula inilah yang juga digarisbawahi oleh Anne Shakka dalam penelusuran soal politik identitas dalam pameran-pameran dengan tema poskolonialitas dan menggarisbawahi titik temu dalam politik kawasan. Tidak ada temuan baru selain memunculkan pertanyaan-pertanyaan tambahan yang mengarahkan kita pada bacaan-bacaan dan penelusuran lanjutan.

Sementara Rumah IVAA makin berwarna dengan kehadiran beberapa kawan magang yang datang dengan semangat belajar dan berprosesnya. Di sinilah staf IVAA menemukan pertukaran energi yang cukup produktif, di tengah tuntutan kerja administrasi yang hampir membuat kita kadang lupa akan cita-cita, serta lupa akan bahaya dari berbagai rezim di sekitar kita. Di titik inilah kami cukup merasa prihatin sekaligus menyalakan tanda bahaya bagi diri kita sendiri, para pekerja budaya yang juga tidak dapat terhindar dari alienasi. Tanda bahaya inilah yang setidaknya bisa kita hidupkan lagi di tanggal 1 Mei ini.

Selamat hari buruh, selamat membaca dan memperbanyak tanya!

Lisistrata Lusandiana

Pemimpin Redaksi


I. Pengantar Redaksi
Oleh: Lisistrata Lusandiana

II. Kabar IVAA
Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto, Hardiwan Prayogo, Sagita Rani,  M.S Fitriansyah dan Andya Sabila

A. Sorotan Pustaka
Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa, Diatami Muftiarini, dan Khanza Putri

B. Sorotan Arsip
Oleh: Didit Fadilah
Arsip Batara Lubis

III. Agenda RumahIVAA
Oleh: Dwi Rahmanto, Hardiwan Prayogo, M.S Fitriansyah, dan Andya Sabila

IV. Baca Arsip
Oleh: Anne Shaka
Posisionalitas dan Pameran Pascakolonial, Mencari posisi dalam ruang seni

Tim Redaksi Buletin IVAA Maret-April 2018

Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Anne Shaka ⚫ Penyunting: Lisistrata Lusandiana dan Hardiwan Prayogo ⚫ Penulis: Dwi Rahmanto, Anne Shaka, Santosa, Hardiwan Prayogo ⚫ Kontributor: Sagita Rani, Andya Sabila, M.S Fitriansyah, Diatami Muftiarini, Khanza Putri, Didit Fadilah  Ilustrasi Foto Sampul: Dwi Rahmanto ⚫ Tata Letak & Distribusi: Fachriza Ansyari

#SOROTANDOKUMENTASI Maret-April 2018

oleh Dwi Rachmanto

Satu pekerjaan penting di periode ini adalah menyeleksi dan mengedit hasil dokumentasi dari tahun 2005-2017, di bantu oleh Sebastian Advent (mahasiswa pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Era digital memang membuat pengambilan foto atau video semakin mudah, kemudian berikutnya yang sangat penting adalah menyeleksi dokumen dengan kriteria standar yang kami terapkan di arsip IVAA. Kami juga dibantu kawan magang bernama Sagita Rani (mahasiswa jurusan fotografi Institut Seni Indonesia Surakarta), secara khusus membantu peliputan dan dokumentasi foto-video. Rani juga mengerjakan repro dokumentasi keluarga Batara Lubis yang berjumlah kurang lebih 800 foto.

Tercatat hingga 10 April kami memperoleh 52 dokumentasi peristiwa seni yang kami rekam sejak awal tahun 2018. Selain peristiwa yang belangsung di Rumah IVAA, kami juga secara aktif meliput acara di luar IVAA sebagai pengayaan arsip IVAA. Pada saat bersamaan, kami juga menginisiasi kerja sama dengan lembaga lain dalam kontribusi arsip mereka. Kami bekerjasama dengan Tyaga Art Management Malang dan Redbase Foundation untuk mengirimkan dokumentasi Pameran Tunggal Citra Sasmita pada IVAA. Sinergi dengan keinginan IVAA untuk aktif dalam distribusi informasi, baik arsip lampau hingga sekarang. Kami menampilkannya di halaman Peristiwa Seni di Online Archive IVAA, diharapkan ini bisa menjembatani penyebaran informasi peristiwa seni yang digagas kawan-kawan perupa dan galeri.

Beberapa highlight peristiwa yang kami catat adalah antara lain Launching Buku Henk Ngantung di Sekolah Pascasarjana UGM, Akuisisi Arsip Keluarga Batara Lubis, Diskusi Gagal 1 Tumbuh 1000 di Mes56, Diskusi Ngaji Dewa Ruci bersama ST Sunardi dan Katrine Bandel di Pondok Pesantren Kaliopak, Pameran Titik Temu di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK), Pameran Dwi Rupa Bumi di Jogja Gallery, Pameran Tunggal Dian Suci Rahmawati di Kedai Kebun Forum, Diskusi Peristiwa dan Romantika di ISI Yogyakarta, Pameran Lukisan Abstrak Ronald Effendi dan Santi Ardi di Musem dan Tanah Liat (MDTL), Pameran Bersama Estetika Domestika di IFI-LIP, Diskusi Buku Melampaui Citra dan Ingatan di Universitas Sanata Dharma, Pameran Tunggal Alie Gopal dan Pameran Tungggal Jupri Abdullah di Taman Budaya Yogyakarta, Pameran Bersama Pengilon dan Pameran Tunggal Budiyono Kampret di Bentara Budaya Yogyakarta.

Dalam periode ini, tidak lupa kami juga aktif upload video dokumentasi di channel Youtube IVAA. 25 video telah bertambah dalam daftar koleksi video kami, antara lain seri diskusi forum Made In Common yang diinisiasi oleh Kunci Cultural Studies dan kolega, wawancara Ong Harry Wahyu, wawancara Keluarga Batara Lubis,  Wawancara dengan Alie Gopal, Musrary #7-#9, Aksi Seni ISI Tolak HTI, Survive Garage – Merayakan Keberagaman, dan Pirsa Kuasa Ingatan.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Ngaji Dewa Ruci: Kondisi Keterjajahan Kita Dewasa Ini

Oleh: Hardiwan Prayoga

Ngaji Dewa Ruci, adalah acara diskusi berkonsep sarasehan setiap Selasa malam di Pesantren Kali Opak, Klenggotan, Srimulyo, Piyungan, Bantul. Acara bertajuk “Ngaji” ini adalah diskusi ilmiah tentang persoalan yang bersinggungan dengan kajian budaya hingga pascakolonial. Tidak mengherankan jika tagline dari acara acara ini adalah “Mendialogkan Ilmu-Ilmu Pesantren, Kaweruh Jawa, dan Humaniora Barat”. “Pengajian” pertama 13 Maret 2018 dengan pembicara St. Sunardi dengan tema “Quo Vadis Kajian Budaya Indonesia?”, kemudian pada 20 Maret 2018 bersama Katrin Bandel dengan topik kajian “Kondisi Keterjajahan Kita Dewasa Ini”. Catatan berikut khusus mengulas tentang edisi diskusi bersama Katrin Bandel yang berbicara mengenai colonial present.

Katrin Bandel adalah salah satu pengajar di Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Karir akademiknya fokus pada kajian seputar pascakolonial, gender, dan kesusastraan. Diskusi malam itu berangkat dari pembacaan atas buku Derek Gregory yang berjudul The Colonial Present. Katrin mengawali dengan bagaimana kajian pascakolonial umumnya diajarkan, yaitu seputar bagaimana kolonialisme dan implikasi kolonialisme terhadap budaya. Tentang bagaimana hubungan yang tidak imbang antara negara-negara terjajah dengan negara penjajah, dengan imbas yang cukup panjang di sektor budaya dan ekonomi. Dalam buku The Colonial Present, ditemukan bahwa peristiwa 11 September (9/11) sebagai momen penting atas apa yang disebut sebagai kolonial atau imperialisme baru. Pasca 9/11 retorika dari Amerika Serikat terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah mulai digencarkan. Retorika ini disebut war on teror.

Menurut Gregory, tindakan menjajah, to colonize, masih terjadi dalam bentuk sangat nyata. Jadi bukan sekadar ideologi imperialis, tetapi memang penjajahan secara fisik masih terjadi. Gregory yang berlatar belakang pendidikan geografi, melihat bahwa batasan geografis bukan sesuatu yang terberi, melainkan berkaitan dengan bagaimana sebuah tempat diambil, yang tidak jarang dengan kekerasan. Salah satu konsepnya yang terpengaruh Edward Said adalah Imaginative Geography. Ini terkait dengan konstruksi stereotype, selalu dikonstruksi bahwa oposisi antara modernitas, yang dikaitkan dengan Barat (kolonial), dihadapkan dengan budaya liyan. Jadi narasi yang muncul selalu “kita vs mereka”. Wilayah-wilayah geografi ini dianggap sebagai papan catur, di mana orang harus berstrategi dengan mengambil, memasuki wilayah tertentu, menguasai manusianya. Gregory mengawalinya dengan melihat ke masa lalu, di mana batas negara selalu warisan kolonial, dan sebagian masalah yang ada sampai saat ini selalu berasal dari momen-momen awal itu. Masalah-masalah yang ada di saat ini sebenarnya berawal dari penarikan garis batas antar Negara, yang berawal dari hanya mengikuti kepentingan kolonial, bukan mengikuti realitas masyarakat setempat.

Barat selalu dikonstruksikan sebagai pusat dunia, dengan kata lain memposisikan diri sebagai pusat dunia yang harus membawa kemajuannya ke tempat-tempat lain. Sementara itu, salah satu spirit dari paskakolonial adalah bahwa masa lalu belum berlalu. Masa lalu yang belum berlalu ini selalu bersifat plural, dalam arti, ada sekian narasi tentang masa lalu. Sekian kejadian di masa lalu, dan pemahaman orang tentangnya kemudian hadir secara riil memengaruhi perilaku orang di masa kini.  Wacana war on terror menjadi usaha baru untuk membuat sebuah narasi tunggal. Di mana otoritas untuk penarasi ada pada pihak tertentu. Dalam kasus pasca 9/11 adalah Amerika Serikat. Jadi ada persoalan penting yaitu narasi tentang geografi, tentang siapa kita-siapa mereka, siapa diri Barat, siapa Timur yang menjadi the Other, juga tentang masa lalu hingga masa kini, dan kemudian persoalan siapa yang punya otoritas untuk bercerita. Ini adalah persoalan relasi kuasa yang sangat penting. Sejak zaman kolonial hingga kini, ruang-ruang tertentu digambarkan/ diwacanakan sebagai asing. Di sini kemudian, Gregory merujuk konsep Edward Said tentang Orientalisme. Orientalisme adalah sebuah repertoar atas sekian imaji yang digunakan sesuai kebutuhan. Pada tingkat lebih lanjut menjadi bangunan arsitektur permusuhan yang performatif. Performatif dalam artian terus-menerus melalui praktik keseharian.

Gregory kemudian fokus membahas bentuk-bentuk awal wacana yang bereaksi terhadap 9/11 di Amerika. Dengan memposisikan diri sebagai korban, Amerika mengajukan pertanyaan, “Why do they hate us?”. Jawaban atas ini dicari pada mereka, pada the Other. Dalam wacana kolonial, selalu penjajah berbicara tentang the Other, yang dijajah, memandang yang lain, memutuskan atau memikirkan bagaimana the Other harus disikapi dengan pandangan yang sangat searah. Pada level selanjutnya, the Other dilihat bukan sebagai manusia dengan kompleksitas historis tertentu, tapi sebagai satu kesatuan yang buruk, yang seakan-akan seperti iblis. Retorika ini kemudian menjadi legitimasi kekejaman, hingga kemudian narasi retorika-retorika berikutnya selalu terasa masuk akal. Dari sekian banyak kelompok manusia dengan ideologi-ideologi yang berbeda, tujuannya berbeda, sejarahnya berbeda, semuanya oleh media Barat disebut sebagai “Islamis”.

Katrin kemudian menyinggung tentang konteks di Indonesia, di mana saat ini pembicaraan tentang ekstremisme cukup mengemuka. Sering kali ada diskusi publik tentang bahaya ekstremisme tidak secara spesifik membedakan antara sekian kelompok dan gejala terkait. Kelompok ini sebetulnya sangat beragam dengan sejarah dan tujuan masing-masing, yang juga berbeda-beda. Katrin mengungkapkan akan jauh lebih menarik kalau dalam hal ini Derek Gregory bisa dijadikan contoh, dengan melihat secara kritis fenomena-fenomena ini, dengan lebih spesifik melihat sejarah dan detail-detail orang/ kelompok yang terlibat di situ. Membaca aspek historisitas kecenderungan retorika masing-masing pelaku, sehingga bisa terlihat konstruksi apa yang sedang dibangun.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Pameran Tunggal Alie Gopal: Main

Oleh: Sagita Rani (Kawan Magang IVAA)

“Main, Bermain, Main-Main” adalah tema dari pameran tunggal Alie Gopal yang diselenggarakan pada 15 Maret – 22 Maret 2018 di Taman Budaya Yogyakarta. Alie adalah perupa yang terakhir kali berpameran tunggal pada tahun 2008. Semenjak itu, Alie merasa memiliki hutang yang harus dilunasi. Berawal dari celotehan beberapa teman saat pembukaan pameran tunggalnya Januari 2008 lalu, bahwa mungkin Alie bisa berpameran tunggal dengan karya-karya khasnya sepuluh tahun lagi. Kalimat itu terngiang terus dalam benaknya, Alie terus berupaya untuk merealisasikannya.

Akhirnya Maret 2018 ini, Alie berhasil melangsungkan pameran tunggal ketiganya, seperti apa yang dibayangkannya sepuluh tahun silam. Pameran bertajuk Main ini menceritakan tentang dunia Alie bermain-main. Bermain dalam berbagai presentasi karya seni rupa dua dan tiga dimensi, dengan medium dan ukuran yang beragam tersaji dalam pameran ini. Karya-karya ini dibuat dalam rentang waktu sepuluh tahun, dari 2008 hingga 2018. Dalam hal karya, Alie mengakui jika dirinya lebih nyaman dengan cara berkarya yang bebas dan tidak berpatok. Ia mengaku sangat senang bereksperimen dengan berbagai media. Bereksperimen melalui berbagai media rupanya telah di lakukan oleh Alie jauh sebelum menjadi seorang seniman. Sejak kecil ia mengakui sering membuat benda-benda di rumahnya menjadi bahan eksperimen. Sedikit banyak inilah yang mengilhami judul dan tema pameran tunggalnya kali ini. Alie bercerita bahwa dengan orang tua berlatar belakang militer, sulit baginya untuk tidak mendapat penolakan keras tentang kecintaan dan gairahnya pada dunia seni. Hingga akhirnya, Alie bersekolah di Yogyakarta untuk mendalami seni rupa, perlahan-lahan dukungan dari keluarga datang juga, hingga akhirnya keluarga kemudian sangat mendukung karirnya.

Jarak tahun antar pameran tunggal yang cukup jauh ini disebabkan oleh berbagai macam alasan. Di samping Alie tetap berusaha konsisten dengan setiap hari terus menerus menghasilkan karya berbentuk apapun. Tetapi, banyaknya ajakan pameran bersama membuatnya bimbang, di satu sisi tidak ingin dianggap sombong jika menolak ikut serta, di sisi lain dia harus mengumpulkan karya untuk pameran tunggal yang sudah dijanjikan pada dirinya sendiri. Adanya kesadaran bahwa eksistensi seorang seniman harus tetap terwujud dalam karya-karyanya, membuat Alie memutuskan beberapa kali “mencomot” karya yang sudah disiapkannya untuk diikutsertakan dalam beberapa pameran bersama.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini pula, Alie lebih sering berperan sebagai partner seniman berkarya. Saat mengikuti pameran bersama pun, karya Alie lebih sederhana dan tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan karya-karya seniman lainnya. Membantu kawan-kawannya untuk mempersiapkan karya dan pameran dalam diskusi yang insentif, bisa jadi membuat Alie kehilangan banyak waktunya sendiri untuk berkarya. Namun, Alie mengakui justru ini adalah proses mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman untuk menghasilkan karya-karya baru. Pameran tunggal ketiganya ini merupakan perwujudan dari proses panjang dan berliku ini, dengan tetap meletakkan imaji-imajinya yang khas.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Pameran Fotografi Sukarno, Pemuda & Seni

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Suatu galeri seni di sudut Alun-Alun Utara menyuguhkan pameran yang tidak biasa. Dianggap tidak biasa karena subjek yang diangkat dalam pameran ini adalah bapak revolusi Indonesia. Tepatnya di Jogja Galery, Seminar dan Pameran Sukarno, Pemuda, dan Seni yang digelar oleh Komunitas Kinara Vidya, resmi dibuka pada 27 September 2017 lalu. Pameran bisa dinikmati pengunjung pada 27-30 September 2017 pukul 09.00-21.00 WIB. Seminar dan pembukaan diisi oleh Mikke Susanto sebagai pembicara sekaligus kurator. Sukarno merupakan pribadi yang menarik untuk ditelusuri. Selain negarawan dengan pidatonya yang menggelegar, Ia menaruh perhatian besar dalam dunia seni. Gairahnya diwujudkan dalam koleksinya yang berjumlah ratusan.

Menurutnya karya seni bukan hanya sebagai hiasan saja, namun juga sebagai wujud perjuangan bangsa. Ia tak hanya berjuang untuk kemerdekaan bangsa, namun juga membuka peluang ruang kreativitas. Sukarno pun turut bergelut dalam pusaran seni rupa Indonesia. Tidak hanya sekadar mengagumi keindahan hasil karya seni rupa, Ia juga bisa menggambar. Siapa sangka jika founding father yang dikenal sebagai orator ulung ini pernah berkata bahwa Ia ingin menjadi pelukis ketimbang presiden.

Perjalanan estetikanya tidak lepas dari peranan sang ibunda, perempuan Bali bernama Ida Ayu Nyoman Ra. Selain itu, Sukarno mulai bergaul dengan banyak seniman sejak kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng, atau sekarang lebih dikenal Institut Teknologi Bandung (ITB). Sejumlah seniman terkenal Indonesia dan berbagai penjuru dunia menjadi kawan akrabnya. Beberapa seniman bahkan didapuk langsung untuk menjadi pelukis istana, sepeti Basuki Abdullah, Dullah, dan Lee Man Fong. Angan-angan nya untuk menjadi pelukis memang tak terwujud, namun koleksinya memberikan makna pada dinamika seni Indonesia. Koleksinya berjumlah ribuan dan masih banyak yang belum sempat terekspos. Koleksi lukisan Sukarno berjumlah ribuan, sampai-sampai Mikke Susanto yang menjadi konsultan kurator lukisan istana kepresidenan, baru mampu mengidentifikasi dua ratusan karya saja. Hal itu dikarenakan senimannya bukan hanya dari Indonesia saja, melainkan dari seluruh penjuru dunia.

Pameran ini menampilkan 130 potret yang menjadi saksi hidup Sukarno, mulai dari kehidupan sehari-hari di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur 56, kegiatan bernegara di istana kepresidenan, maupun lawatan ke luar negeri. Dibalik setiap foto menampilkan kisah yang beragam, seolah-seolah barisan potret yang bercerita pada pengunjung. Koleksi ini merangkum peristiwa dalam periode 1940-1960an. Selain foto-foto reproduksi, buku-buku literatur yang memuat tentang Sukarno dan seni rupa juga ikut serta dalam pameran ini. Pameran ini dihadiri sejumlah pengunjung baik dari pelajar, mahasiswa, jurnalis, dan masyarakat yang memiliki ketertarikan dengan sosok Sukarno dan seni rupa.

Hal menarik ditandai dalam salah satu rangkaian foto, yaitu ketika istana presiden mendapat kunjungan dari tamu-tamu kenegaraan. Sukarno sendiri yang memandu mereka. Ia menjelaskan tiap detil lukisan yang terpampang di ruangan istana. Tamu akan diberi informasi mengenai kisah-kisah dibalik lukisan-lukisan itu mulai dari proses kreatif, siapa senimannya, makna objek lukisannya, hingga perjuangan mendapat lukisan itu. Hal menarik lain perihal interaksi antara Sukarno dan seni rupa adalah dalam kunjungan Sukarno ke luar negeri, Ia selalu menyempatkan untuk berkunjung ke museum seni atau studio milik seniman di negara setempat.

Sukarno juga melibatkan seniman dalam pembuatan ikon-ikon kenegaraan. Langkah ini dimulai dengan menggaet pematung Edhi Sunarso untuk merancang Patung Selamat Datang, Patung Dirgantara dan Patung Pembebasan Irian Barat. Edhi Sunarso merupakan seorang perupa alumni Akademi Seni Rupa Indonesia/ ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta yang diibaratkan sebagai tangan terampil Sukarno. Dalam sub kurasi, ditampilkan foto-foto saat peresmian Patung Pembebasan Irian Barat. Hal ini menujukan seni rupa menjadi bagian penting dalam negara. Oleh Sukarno, melalui seni, bangsa Indonesia diimajinasikan sebagai bangsa yang besar dan kuat.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Serial Diskusi Agraria #3: Agraria dan Seni sebagai Media Pergerakan: Diskusi Agraria, Seni untuk Melawan

Oleh: M.S Fitriansyah (Kawan Magang IVAA)

Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (KAPSTRA) Fisipol UGM menggelar Serial Diskusi Agraria #3 di Selasar Barat Fisipol UGM, Senin (19/3). “Diskusi tersebut merupakan rangkaian dari serial diskusi sebelumnya. Jadi diskusi diadakan tiga kali, pertama 19 Februari dengan tema Dasar-Dasar Agraria, kedua 5 Maret Agraria dan Industrailisasi, dan terakhir Agraria dan Seni sebagai Media Pergerakan.” ungkap Suci selaku ketua bidang keilmuan. Pada diskusi kali ini KAPSTRA menghadirkan tiga pembicara, yaitu Andrew (Teman Temon), Dwi Rahmanto (Indonesia Visual Art Archive/ IVAA), dan Pitra Ayu (peneliti dan project coordinator Engage Media Yogyakarta).

Diskusi dibuka dengan lantunan lagu Bunga dan Tembok yang dipopulerkan oleh Fajar Merah, dibawakan salah seorang mahasiswa UGM. Lagu tersebut begitu relevan dengan keadaan sekarang di mana perampasan tanah atas nama pembangunan marak dilakukan, begitu sedikit pengantar dari moderator diskusi Asri Widayanti.

Andrew mengawali pembicaraan dengan menceritakan keadaan warga terdampak penggusuran New Yogyakarta International Airport (NYIA). Untuk merespon itu, menurut Andrew, Teman Temon sering melakukan kegiatan. Selain itu seni berperan penting dalam menjalin komunikasi antar warga. “Seni berperan sebagai medium komunikasi dengan warga, dan juga mengomunikasikannya keluar” ungkap Andrew. Andrew mencontohkan, saat mereka membuat mural di salah satu rumah, warga lainnya menyambut dengan ingin juga dibuatkan mural. Andrew dan kawan-kawan mengatakan bahwa tidak menyarankan warga harus ikut seni tertentu, itu hanyalah salah satu cara. Namun, alih-alih seni, Andrew lebih sepakat dengan menyebutnya sebagai produk kreatif.

Pembicara kedua, Dwi Rahmanto yang menguasai seni dan kaitannya dengan agraria mencoba membeberkan catatan-catatan di IVAA, di antaranya merespon isu-isu agraria dan kebutuhan air di kota yang dibalut dalam bentuk aksi dan festival. Menurutnya pembangunan mall dan bangunan vertikal lainnya di Yogyakarta sebenarnya sudah dibayangkan sebelumnya, dan sekarang isu-isu tersebut benar adanya. Dwi menambahakan adanya dorongan karya seni untuk melibatkan masyarakat. Menurutnya ada unsur-unsur bagaimana masyarakat juga berperan, sehingga memang karya seni harus kontekstual dengan masyarakatnya. “Dari hampir semua kemunculan karya-karya itu, kemudian banyak hal yang muncul di sana, salah satunya adalah forum-forum dengan pembahasan spesifik mengenai seni rupa dan sosial” ungkapnya.

Sedang menurut Pitra, ada upaya untuk menggiring orang pada sesuatu. Terkadang menemukan proses pembekuan kerja seni tanpa mengajak pihak-pihak yang mengaksesnya memahami, dan bersama-sama memetakan persoalan. Ini memang, menempatkan seni dalam strata lebih rendah, sehingga jadi betul-betul bisa menjadi alat peraga. “Ada suatu masa yang mempersoalkan seni sebagai alat sehingga ia dihaluskan menjadi medium atau sarana.” Ungkap Pitra. Ia membagi karya menjadi ilustratif, dokumentatif, dan kontemplatif. Katanya, mungkin masalahnya ada pada yang ketiga, ketika mencoba melepaskan diri dari persoalan.

Dari serial diskusi agraria tersebut Suci menyatakan bahwa, tujuan acara ini diadakan agar civitas akademik bisa sadar terhadap berbagai macam isu mengenai agraria. Peserta yang hadir pun tergolong banyak, terdiri dari berbagai macam latar belakang. Suci mengungkapkan bahwa secara akumulatif, diskusi dalam tiga hari ini diikuti total sebanyak 250 peserta.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

#SOROTANPUSTAKA Maret-April 2018

Perpustakaan dan Arsip adalah salah satu bidang garap di IVAA yang saling terkait, bahan-bahan konten yang ada di archive.ivaa-online.org beberapa sumber dari katalog, buku, klipping surat kabar ataupun makalah yang  fisiknya berada di perpustakaan.

Dalam  bulan maret 2018 kami dibantu 3 kawan magang dari Program Studi Kearsipan Sekolah Vokasi UGM untuk memilah, menata, dan menyimpan arsip. Dalam penataannya kita bedakan  menurut jenisnya: Undangan, Poster, Brosur, Pustaka, Administrasi Kantor dan Keuangan. Undangan dan poster diurutkan dan dikelompokkan berdasar tahun, sedangkan brosur dikelompokkan menurut institusi, baik Institusi Seni, maupun Institusi Pendidikan, sedangkan berkas administrasi kantor dan keuangan akan ditinjau ulang jangka waktu penyimpanannya, apakah akan dimusnahkan, dinilai kembali, atau dipermanenkan. Sedangkan makalah ataupun tulisan seni akan dibendel dijadikan bahan pustaka. Kemudian untuk  majalah, katalog, komik dan bahan pustaka lainnya akan diinventarisasi, diklasifikasi, dan di-input ke library.ivaa-online.org.

Dalam input  memasukkan metadata yang ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS) di bantu juga oleh 2 kawan magang, baik pustaka baru maupun pustaka lama yang belum di-input. Dalam tambahan pustaka baru ada 4 yang akan diulas di sini, pertama Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernur PKI, kedua Komik Merebut Kota Perjuangan: Sebagai Politik Pencitraan Soeharto, ketiga Kelola Seni: Lukisan, Wayang, Film Hingga Jazz dan terakhir Andy Warhol The King of Pop.

Oleh: Santosa, Khanza Putri, Diatami Muftiarini

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Henk Ngantung, Saya bukan gubernurnya PKI

Penulis : Obed Bima Wicandra
Penerbit : CV Budi Utama
Tebal : XXVI,154 Halaman
Ukuran : 14×20 cm

Oleh: Santosa

Buku ini merupakan hasil dari penelitian-penilitian riwayat Gubernur DKI Jakarta, yang pada khususnya Henk Ngantung, dengan nama lengkap Hendrik Joel Hermanus Ngantung. Buku ini menggunakan rujukan primer catatan pers. Awal buku ini menceritakan ikhwal perjalanan berkesenian Henk Ngantung. Henk di usia 15 tahun sudah menekuni satu bidang seni rupa, orang pada zaman itu menyebutnya “Tukang Gambar”. Di usia sebelia itu, dia sudah berpameran atas dorongan guru dan mantan kepala sekolah, menjual lukisan dari rumah ke rumah. Ketekunan dan etos kerja ini yang mengantarkannya ke Jakarta. Dalam perjalanan berkesenian, kematangan seni gambarnya diperoleh dalam rentang tahun 1937-1940 saat menetap di Bandung. Di sini Henk belajar melukis, satu satunya murid dari Professor Zrudolf wengkart, seorang akademisi dan pelukis dari Wina, Austria. Juga di kota Bandung-lah Henk berkenalan dengan pelukis besar Affandi, yang kemudian mengantar lukisannya pameran di toko milik orang Italy di jalan Braga. Henk termasuk salah satu dari sedikit kaum bumiputra yang berkesempatan pameran di sana.

Tahun 1940 Henk Ngantung hijrah ke Jakarta mengikuti pameran pameran yang diselenggarakan oleh Gabungan Lingkaran Seni Batavia, sejak didirikan 1916 banyak melukis pemandangan dan potret diri. Henk menjadi bagian dari kelompok Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi ) yang dimotori oleh S. Sudjojono, seiring itu didirikan Pusat Kebudayaan oleh penguasa Jepang di Indonesia yang dinamakan Keimin Bunka Sidhoso. Pada periode yang sama, tahun 1942 Henk ikut menandai Pameran Besar Seni Lukis. Salah satu karya karya terbaik yang mendapat penghargaan adalah Henk Ngantung. Pada tahun 1943 membuat karya monumental yang menjadi saksi revolusi Indonesia Karya dengan media tripleks berukuran 152 cm x 152 cm berjudul Memanah. Karya ini mengantar kedekatan Henk dengan Sukarno.

Henk juga berorganisasi dan terjun ke dunia politik. Tahun 1959 di Solo, Henk tercatat sebagai sekretaris Umum Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sedangkan di salah satu bidang Lekra, yaitu Lembaga Seni Rupa (Lesrupa) Henk menjabat sebagai ketua. Selain itu juga menjadi anggota Dewan Nasional yang kemudian berganti nama menjadi Dewan Pertimbangan Agung. Namanya perlahan merangkak dan menjadi panitia anggota Sayembara Tugu Nasioanal yang melibatkan seniman – seniman Lekra. Sayembara ini banyak ditentang oleh oposan Sukarno. Kemudian Henk menjadi anggota parlemen Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Henk Ngantung juga merupakan anggota parlemen dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal tersebut membuktikan bila Henk lihai dalam melukis tetapi juga piawai dalam berorganisasi, terutama politik.

Henk Ngantung menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta selama 3 tahun setelah ditunjuk oleh Sukarno. Henk kemudian menjadi gubernur selama 9 Bulan, diberhentikan menjadi Gubernur pada bulan Juli 1965, dan Dr. Soemarno (Gubernur lama) kembali menjabat sebagai Gubernur yang kali ini dirangkapnya dengan jabatan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah sejak 16 Juli 1965. Dalam buku ini tidak disebutkan secara jelas mengapa Henk diberhentikan menjadi Gubernur, hanya disebutkan karena tenaga dan pikiran Henk diperlukan pada bidang lain.

Dalam masa baktinya yang singkat, Henk berkontribusi dalam capaian artistik tata kota, tentu saja ini merupakan buih dari latar belakangnya sebagai seniman. Henk terlibat dalam perencanaan pembuatan Patung Selamat Datang yang berdiri megah di depan Hotel Indonesia (HI) tahun 1959. Patung yang dibuat dalam rangka Asian Games 1962 dimana Indonesia menjadi tuan rumah. Patung yang terletak dibundaran HI dengan tinggi 20 meter. Dengan ide dari Sukarno, sketsa dikerjakan oleh Edhi Soenarso, Trubus dan Henk Ngantung. Pengerjaan dilakukan oleh Edhi Soenarso dengan pengawas Henk Ngantung. Landskap lain yang dibuat dalam periode kepemimpinan Henk adalah pembuatan air mancur tahun 1962. Termasuk pembuat lambang baru Provinsi DKI Jakarta. Diawali dengan diadakannya sayembara yang diikuti 93 peserta, namun tidak ada satupun yang masuk kriteria. Akhirnya Henk menangani sendiri pembuatan lambang Jakarta Raya dengan ilustrasi Jakarta sebagai kota revolusi, kota proklamasi kemerdekaan, dan Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain di ranah artistik, pembangunan dibidang ruang publik, industri dan birokrasi juga dilakukan. Mulai dari pembenahan kawasan kumuh, mendorong dibangunnya rumah-rumah sederhana untuk ditempati masyarakat kurang mampu, membangun Masjid Istiqal, Kantor Pencatatan Sipil, dan Kantor Perekonomian. Proyek pembangunan Jakarta by Pass, meskipun praktiknya terjadi penggusuran penggusuran yang pastinya menimbulkan kecaman dari masyarakat. Industrialisasi dan modernisasi pasar-pasar tradisional diwujudkan dengan renovasi pasar menjadi lebih modern. Melakukan sensus industri yang diharapkan akan menjadi proyek percontohan kota-kota besar di Indonesia, Sensus industri ini meliputi perusahaan Industri kecil maupun besar, asing maupun dalam negeri, milik pemerintah ataupun swasta. Ide-ide ini diperoleh dari lawatan Henk ke luar negeri, dengan menyediakan fasilitas hiburan bagi masyarakat Jakarta, salah satunya mendirikan Nigcht Club dan departement store.

Henk Ngantung diberhentikan menjadi Gubernur pada bulan Juli 1965. Pasca Gerakan 30 September 1965 nama Henk Ngantung tidak luput dari pemeriksaan militer, walaupun tidak pernah sampai mendekam di balik jeruji besi. Cap komunis karena keterlibatannya secara aktif di Lekra yang merupakan underbow PKI mau tidak mau tetap melekat. Henk tinggal di rumah kecil di gang Cawang, Jakarta Timur hingga akhir hayatnya di bulan Desember 1991. Kehadiran buku ini menjadi salah satu upaya untuk berkontribusi dalam penulisan sejarah. Henk Ngantung sebagai seniman yang terlibat aktif dalam politik dan pernah memiliki jabatan strategis di pemerintahan, tidak banyak dibekukan kiprahnya baik di bidang politik maupun seni.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Andy Warhol; Andy Warhol, The King of Pop Art

Penulis : Florentia Senojati
Penerbit : Tomato Books
Tebal : XVII + 337 Hal.
Ukuran : 13 x 19 cm

Oleh Diatami Muftiarini (Kawan Magang IVAA)

Buku Andy Warhol, The King of Pop Art ditulis oleh Florentia Senojati, merupakan biografi Andy Warhola—kemudian lebih dikenal Andy Warhol–yang dimulai dari lingkungan masa kecil di Pittsburgh sampai gemerlap kehidupan glamor di New York. Dalam 16 BAB, buku ini bercerita tentang fragmen-fragmen sepanjang hidup Warhol yang sangat tertutup, bahkan dari orang-orang terdekatnya. Penulis mengumpulkan data dari berbagai publikasi di media massa. Jejak-jejak Warhol tersebut dikumpul dan disusun, kemudian paling tidak memberi sekelebat informasi mengenai kehidupan dingin Warhol, dari perihal seksualitas, musik, film, politik, dan tentu saja seni rupa.

Warhol dikenal sebagai seorang seniman jenius dan ikon dari gerakan Pop Art yang mendobrak perspektif seni rupa pada tahun 1960. Jika pada tahun ’60-an seni rupa memiliki citra serius dan eksklusif, oleh Warhol seni rupa diubah menjadi barang yang dapat diproduksi massal, seperti mesin, dengan teknik blotted line (sablon). Ia menyalin desain-desain sampul produk sehari-hari yang biasa ditemukan di supermarket, baliho di sepanjang jalan, atau potret selebritas yang muncul setiap hari di media massa. Campbell Soup Cans, Coca Cola, potret Marilyn Monroe, dan Elvis Parsley adalah segelintir dari karya-karyanya yang dipamerkan dan melejit pada tahun tersebut.

Karya Warhol yang dinilai ‘dangkal’ dan sederhana oleh banyak seniman dan kritikus, sejatinya menyimpan banyak suara kritis yang ditujukan pada budaya kapitalisme dan konsumerisme di Amerika saat itu. Pola repetisi yang digunakan Warhol dalam karya-karyanya mengingatkan kita pada citra yang terpapar lewat konsumsi media massa sehari-hari. Konten media massa yang sepanjang hari ditujukan pada kita, biasanya hanya menampilkan beberapa pilihan realita yang serupa. Sehingga kerapkali, produk media massa kehilangan makna realita itu sendiri.

Gerakan Pop Art yang dipelopori oleh Warhol pada tahun produktifnya sepanjang 1960-1970 berhasil meruntuhkan dikotomi antara high-art dan low-art, meruntuhkan anggapan bahwa karya seni diperuntukan hanya untuk kalangan elit dan eksklusif. Dengan begitu, penting rasanya untuk memahami Andy Warhol sebagai seniman Pop Art yang berpengaruh dalam sejarah seni dunia.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan pustaka] Komik Merebut Kota Perjuangan Sebagai Politik Pencitraan Soeharto

Penulis : Aldino Widya Putra
Penerbit : PolGov
Tebal : XXIV+140 Halaman
Ukuran : 14, 5 x 21 cm

Oleh Santosa

Dalam bab awal, buku ini mengulik sejarah komik di Indonesia, teori-teori penelitian, analisa ataupun cara pandang membaca komik dari sisi politik dan membandingkan dari media dan tokoh lain dengan tujuan yang sama, yaitu mengemas citra tokoh kepada publik. Latar cerita ini tentang kiprah Letnan Kolonel Soeharto dalam serangan umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta dengan topik perang bernarasi bersifat politis, komik dibangun sebagai narasi historis, sedangkan sejarah dilihat dari fenomena politik.

Kemunculan komik Merebut Kota Perjuangan di tahun 1984 merupakan imbas dari krisis energi minyak, penerimaan sektor migas yang menurun, serta defisit anggaran yang meningkat. Menyadari posisinya tidak aman, Soeharto mengambil langkah strategis guna mengangkat pamornya sebagai pemimpin. Diantaranya membangun citra pribadi melalui beberapa lewat karya seni, dalam bahasan buku ini adalah komik Merebut Kota Perjuangan.

Menurut runutan hasil penelitian komik Merebut Kota Perjuangan adalah cerita latar, yaitu latar waktu terjadi peristiwa benar-benar ada atau bukan fiksi. Sedangkan kejangggalan pada cerita komik ini adalah menghilangkan tokoh penting dalam sejarah, terkait Serangan Umum 1 Maret 1949 yakni kontribusi kolonel Bambang Sugeng yang secara hirarki adalah atasan langsung dari Letkol Soeharto. Kolonel Bambang Sugeng adalah aktor dibalik keluarnya surat untuk melancarkan serangan terhadap pendudukan Belanda di Yogyakarta. Selain itu juga menghilangkan peran penting Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Mengkerdilkan peran Sultan yang disinyalir sebagai salah satu pemrakarsa Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah bukti nyata, bagaimana citra Soeharto sebagai aktor tunggal di balik keberhasilan Serangan Umum 1 Maret ingin dikonstruksi.

Analisa politik yang kemudian muncul adalah adanya upaya penggambaran Soeharto sebagai komandan yang bijaksana. Soeharto adalah pribadi pemberani. Soeharto adalah pahlawan, adalah tokoh utama dalam porsi kemunculan yang lebih banyak diantara tokoh-tokoh lain. Sejatinya sudah menjadi rahasia umum dimana seni juga dijadikan salah satu medium pembentuk citra elit politik. Konstruksi ini bisa dibentuk secara dogmatis atau dengan cara yang jauh lebih subtil. Komik ini merupakan sejumput perwujudan bahwa karya seni bagaimanapun tetap menjadi representasi ideologi dominan pada masanya.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.