Tag Archives: BuletinIVAA_April2017

Usaha Menjaring Pengarsip dan Penulis Muda

Oleh: Sita Magfira

Sepanjang Februari sampai Maret 2017, IVAA membuka pendaftaran Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa. IVAA menerima 32 berkas pendaftar dari berbagai daerah (Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Solo, dan Mataram). Sejak 5 April kemarin, telah terpilih 15 orang peserta lokakarya. Peserta dipilih, khususnya, berdasar contoh tulisan yang mereka kirimkan. Seluruh rangkaian lokakarya ini akan dilangsungkan selama kurang lebih 2 minggu sejak Mei 2017. Selama masa lokakarya, para peserta bukan hanya mendapatkan materi terkait arsip dan pengarsipan seni rupa (praktik dan wacana tentangnya). Mereka juga akan mendapatkan materi-materi lainnya macam sejarah seni rupa, sejarah dan perkembangan sosial humaniora dan seni rupa, serta dasar-dasar penulisan. Selain itu, peserta akan diminta untuk melakukan penelitian mandiri dengan dampingan mentor. Sebagai gong dari pelaksanaan lokakarya, peserta akan diarahkan untuk melakukan kerja-kerja berbasis pengarsipan dan penulisan dalam persiapan Pameran “Kuasa Ingatan” Festival Arsip IVAA (Fest!Sip).

Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa pada dasarnya adalah salah satu rangkaian acara Fest!Sip. Fest!Sip digagas oleh IVAA sebagai usaha untuk memproduksi pengetahuan dan memancing gairah publik pada kerja pengarsipan. Format festival sengaja dipilih untuk menggerus pandangan soal arsip sebagai sesuatu yang kaku dan sangar. Arsip sudah seharusnya dimaksimalkan sebagai sesuatu yang tidak ajeg. Ia bisa diolah untuk memproduksi pengetahuan dan menjadi sumber inspirasi bagi karya/kerja kesenian dan kebudayaan. Sementara pengarsipan sendiri adalah praktik yang perlu ditinjau dan direfleksikan secara terus-menerus guna menemukan metodologi yang sesuai dengan semangat jaman dan kondisi masyarakat bekas jajahan macam Indonesia.

Mengamati dinamika medan sosial seni rupa Indonesia dalam beberapa tahun ke belakang, lokakarya sebenarnya bukanlah hal yang baru. Beberapa institusi selain IVAA telah melakukan inisiatif serupa, bahkan sudah dalam kurun waktu yang cukup lama. Yang membedakan, IVAA secara khusus mengintegrasikan penulisan seni rupa berbasis arsip dan pengetahuan dasar pengarsipan dalam lokakaryanya. Sebagai institusi yang fokus pada arsip dan pengarsipan, IVAA hendak mengenalkan praktik dan wacana terkait arsip dan pengarsipan lewat lokakarya ini, khususnya kepada generasi muda. Dalam lingkup yang lebih luas, IVAA melihat adanya kebutuhan akan tenaga baru sebagai pengarsip dan penulis seni rupa di Indonesia. Lokakarya ini diharapkan bisa jadi wadah bagi munculnya individu-individu baru dalam praktik tersebut. Kehadiran individu-individu baru dalam praktik pengarsipan dan penulisan seni rupa diharapkan bukan saja membuat medan sosial seni rupa Indonesia jadi makin dinamis tapi juga makin segar dan berkualitas.


Sita Magfira (l.1991) adalah kurator paruh waktu, tergabung dalam komunitas Ketjil Bergerak dan Lifepatch. Pada tahun 2014 Sita terpilih menjadi satu dari tiga peserta yang lolos workshop kuratorial yang diselenggarakan oleh Japan Foundation untuk kemudian mengikuti Next Generation Curators of Southeast Asia Program di Jepang. Proyek seni terakhirnya antara lain “Jinayah Sisayah” dan pameran “Arus Bawah”.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2017.

Dramaturgi Ruang Pamer Biennale Jogja XIV Equator #4

Oleh: Annisa Rachmatika Sari

Selasa, 22 Maret 2017, Yayasan Biennale Yogyakarta menggelar Focus Grup Discussion di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada (PKKH UGM) dalam rangka menentukan tema Biennale Jogja XIV Equator #4. Acara ini dihadiri 27 seniman pilihan kurator biennale, Pius Sigit Kuncoro bersama tim kerjanya. Beberapa tawaran ide, mulai dari dasar seleksi hingga konsep pameran yang mengandung misi membangun harapan dalam situasi ketidakpastian disampaikan di forum itu.

Seleksi seniman didasarkan pada dua perbedaan karakter negara – Indonesia dan Brazil – dalam berekspresi, yang disebabkan latar belakang sejarah kehidupan masyarakat.

Pius Sigit menawarkan konsep pameran yang menduplikasi fase psikologi manusia ketika berhadapan dengan realitas. Hal ini direalisasikan melalui pembagian ruang – gedung Jogja Nasional Museum (JNM) – ke dalam tujuh wilayah.

Wilayah pertama berada di lantai pertama sayap kiri gedung JNM. Wilayah ini dimaknai sebagai ruang penampakan realitas semu manusia. Ruang ini ditujukan untuk seniman yang memiliki karya berkarakter glamour, menyenangkan, dan menggoda.

Wilayah kedua dimaknai sebagai ruang yang menunjukkan sisi terdalam dari bersenang-senang, yakni sebuah kenyataan hidup. Ruangan menampung karya-karya yang menyuguhkan sudut pandang seniman dalam tema keras, radikal, dan mengandung nilai-nilai penolakan. Wilayah kedua berada di lantai kedua sayap kiri gedung JNM.

Puncak dari keseluruhan rangkaian ruang pamer berada di wilayah ketiga, keempat, dan kelima. Ketiganya direncanakan untuk menghadirkan perasaan putus asa, pasrah, dan penghiburan dalam kesenyapan.

Wilayah ketiga mengusung karya-karya yang bertema keputusasaan atas kenyataan hidup yang keras, radikal, dan tertolak. Wilayah keempat, meneruskan perasaan putus asa menjadi pasrah. Kemudian di wilayah kelima, perasaan putus asa dan pasrah diredakan melalui karya-karya bertema menghibur. Ketiga tema tersebut di tampilkan pada lantai tiga gedung JNM.

Setelah selesai dengan persoalan batin, pengunjung pameran diarahkan untuk masuk ke dalam wilayah keeenam. Wilayah keenam, direncanakan menjadi ruang yang membangun kesadaran baru pada diri pengunjung melalui karya-karya yang memiliki kesan menggairahkan.

Pengalaman bergairah kemudian diteruskan menuju suasana haru, melalui karya-karya di wilayah tujuh.

Menurut Pius Sigit, konsep pembagian ruang bertujuan untuk membangun pengalaman menonton sebagai pemurni diri. Pemurnian adalah pengalaman penonton ketika memasuki ruang pamer dan melupakan persoalan pribadi. Pius menyebutnya sebagai ‘drama pelarian dari realitas’. Paparan di atas memancing pertanyaan dari salah satu perupa yang mempertanyakan cara dalam merealisasikan konsep yang ditawarkan. Adapun sampai dengan berakhirnya FGD di hari tersebut, nampaknya forum belum berhasil mendapatkan tema Biennale Jogja XIV Equator #4 itu sendiri.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Annisa Rachmatika Sari (l.1990) mahasiswa semester IV Program Studi Pengkajian Film di Pasca-sarjana ISI Surakarta. Nisa magang di bagian program publik IVAA sejak akhir Maret lalu.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2017.

Seni, Bali, dan Identitas Etnis

Oleh: Hertiti Titis dan Sukma Smita

Secara harfiah, Arus Bawah berarti aliran air yang mengalir di bawah permukaan. Sedangkan sebagai idiom, ia merujuk pada perasaan atau tendensi tersembunyi yang sering kali berbeda dengan apa yang mudah dilihat dan dipahami.

Kalimat di atas merupakan kutipan tulisan pembuka Sita Magfira dalam katalog Pameran “Arus Bawah” yang diselenggarakan di Jogja Contemporary, 7-24 Februari lalu. Pameran ini diikuti oleh enam orang seniman asal Bali yang masih menyandang status sebagai mahasiswa Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta, yaitu I Made Agus Darmika (Solar), I Putu Adi Suanjaya (Kencut), Kadek Marta Dwipayana (Temles), Ngakan Putu Agus Arta Wijaya (Dewo), Pande Giri Ananda (Rahwono), serta Putu Sastra Wibawa (Sas). Judul “Arus Bawah” dipilih demi merangkum proses bekerja para seniman, serta untuk melihat ulang karya keenam seniman tersebut, mempertanyakan corak kebalian menurut pandangan mereka sekaligus mencari tahu ada tidaknya corak kebalian itu sendiri di dalam karya-karya mereka.

Sebagai bagian dari rangkaian pameran, Jogja Contemporary bersama IVAA menggagas serial diskusi bertajuk “Seni, Bali, dan Identitas Etnis” yang berlangsung selama dua hari pada 16-17 Februari 2017, di Rumah IVAA. Seri diskusi tersebut dimoderatori oleh Sita Magfira yang ikut terlibat dan mengamati proses berkaya keenam seniman, kemudian menuliskan pengalaman dan temuan-temuannya di dalam katalog Pameran “Arus Bawah”.

Wicara Seniman
Pada acara hari pertama yang berbentuk wicara seniman ini dihadirkan enam seniman peserta Pameran “Arus Bawah” untuk bercerita mengenai karya mereka, baik latar belakang maupun proses kreatif yang mereka lalui. Perbincangan yang dimulai pukul 15.30 dan dimoderatori Sita Magfira ini diawali cerita Dewo dan Solar tentang kesenian di Bali. Menurut Dewo, memandang kesenian di tempat asalnya itu tak lepas dari konsep dasar Hindu Bali; Satya (kebenaran), Siwam (kesucian), dan Sundaram (keindahan). Ketiganya merupakan unsur yang selalu ada dalam kegiatan ritual keagamaan maupun kehidupan masyarakat Bali sehari-hari, tak lepas pula di dalam kesenian.

Hampir mirip dengan yang dikatakan Dewo, Solar yang dalam pameran tersebut menampilkan karya instalasi berupa berbagai macam kue sesaji dalam ritual keagamaan menyatakan bahwa kesenian sudah sebegitu mengakarnya dalam kehidupan masyarakat Bali, namun ini tidak mereka rasakan, karena sejak mereka kecil kehidupan yang mereka jalani sudah seperti itu. Justru sejak berjarak dengan tempat asalnya itu, Solar bisa melihat bahwa segala aspek dalam kehidupan di Bali tak lepas dengan kesenian.

Kencut berusaha bercerita tentang isu sosial yang ada di sekitarnya melalui karyanya yang berbentuk boneka. Dalam pandangan Kencut orang-orang selalu ingin menjadi yang paling terlihat. Seniman keempat yaitu Rahwono, lahir di keluarga pandai besi di Bali. Karena terbiasa melihat bagaimana proses pembuatan keris, Rahwono membayangkan dirinya adalah Empu Gandring yang terlahir kembali, kemudian ia melukiskan senjata-senjata modern baru khayalannya. Karyanya yang berupa ukir-ukiran memakai teknik plototan juga dipengaruhi oleh pengalamannya bekerja sebagai pengukir di pura. Seniman selanjutnya Temles adalah yang paling gemar berpetualang dengan berbagai jenis medium. Ia bercerita tentang perjalanannya mengeksplorasi berbagai teknik dan medium mulai dari plototan cat dan kemudian plototan lem kayu. Ia selalu menghadirkan bentuk atau figur manusia dalam setiap karyanya. Pada tahun 2012, Temles mencoba bereksperimen dengan media lidi, tampah, robekan kardus bekas, hingga mencoba menganyam kanvas.

Sas merupakan seniman terakhir yang mendapat kesempatan bicara. Masa kecilnya di area Sukawati yang bertebaran dengan tempat produksi maupun pasar seni sempat membuat Sas merasa jenuh dengan kesenian, ditambah lagi ia pun terlahir di keluarga perupa. Kejenuhan tersebut membuatnya berusaha keluar dari seni. Tapi malangnya saat mencoba kuliah di jurusan ekonomi otaknya tak sanggup mempelajari ilmu tersebut, dan semenjak itu pula ia menyadari bahwa ia tak bisa lepas dari kesenian. Maka ia pindah ke Yogya untuk melanjutkan kuliah di bidang seni. Sas tertarik untuk mengeksplorasi berbagai bahan maupun teknik, kini ia gemar menghadirkan plat aluminium dalam bidang kanvasnya. Objek dalam lukisannya pun terus berubah, mulai dari figur perempuan hingga titik, garis, maupun bidang.

Serangkaian proses eksperimen dan eksplorasi yang dilakukan keenam seniman dalam kekaryaan mereka mengundang pertanyaan dari salah satu hadirin, yakni tentang hasil apa yang sudah dicapai dari berbagai eksplorasi yang dilakukan, hal tersebut berkaitan dengan banyaknya seniman ternama asal Bali yang memiliki ciri khas kuat dalam karyanya. Pertanyaan tersebut ditanggapi keenam seniman dengan cukup menarik. Yang pertama bahwa sebagai seniman muda mereka masih ingin sebebas mungkin menjajaki berbagai kemungkinan teknik maupun medium. Kedua, proses pencarian ciri khas ini justru mereka anggap sebagai suatu hambatan, karena tidak semua ide bisa divisualisasikan di dalam kekhasan yang ingin dibangun. Bahkan salah seorang seniman, Temles, mempertanyakan makna dari ‘ciri khas’, apakah karakter seniman ditentukan oleh seniman itu sendiri atau muncul seiring proses kesenimanannya.

Seni Bali dan Identitas Etnis
Pada perbincangan hari kedua yang juga dimoderatori oleh Sita Magfira, dihadirkan dua  orang pemantik diskusi, yakni Tiatira Saputri yang menyajikan hasil pendalamannya tentang seni rupa dan Bali. Pemantik kedua adalah A. Anzieb yang menyampaikan pandangannya tentang identitas etnis. Tia yang merupakan salah satu staf IVAA bagian Kajian Arsip mengutip pernyataan Arya Sucitra bahwa, “Orang Bali itu sejauh-jauhnya dia pergi dari Bali pasti akan kembali lagi ke Bali, karena mereka terikat dengan banjar”. Fakta mengenai banjar ini rupanya memancing keingintahuan Tia mengenai banjar itu sendiri. Banjar merupakan kesatuan masyarakat yang sifatnya komunal, di mana kelompok lebih dominan dari individu. Iklim berkesenian di Bali juga sangat dipengaruhi oleh budaya komunalnya, mereka lebih melihat teknik dan keterampilan daripada autentisitas karya masing-masing. Ini terlihat dari karya-karya yang bersifat homogen. Poin kedua yang disampaikan adalah tentang laku mereka yang selalu terikat dengan kepercayaan. Walau di dalam kesenian mereka dibebaskan untuk berekspresi, tapi sering kali tetap dijumpai beberapa elemen yang menyiratkan pengetahuan yang mereka yakini. Para perupa Bali yang tinggal di Yogya, karena berjarak dengan kelompoknya mencoba mendalami autentisitas karya masing-masing. Sebagai upaya paling dasar, mereka merombak apa yang selama ini sudah disepakati di dalam kelompoknya. Di sisi lain Tia juga melihat pembentukan Sanggar Dewata Indonesia (SDI) salah satunya adalah sebagai wujud rasa kehilangan yang dialami para perupa Bali yang berkuliah di Yogya saat terlepas dari banjarnya, dengan kata lain sanggar didirikan sebagai representasi dari banjar. Akibatnya mereka pun cenderung kembali lagi pada iklim berkarya yang homogen. Fakta menarik adalah bahwa di tahun 90-an SDI membuka keanggotaannya untuk perupa selain Bali seperti Heri Dono, Eddie Hara, Ivan Sagito dll. Dengan hal tersebut, kita tak lagi bisa mengatakan landasan pendirian SDI hanya kesamaan tempat asal saja. Keterbukaan ini juga menandakan bahwa SDI ingin terlepas dari homogenitas yang menjadi stereotip yang acap kali ditujukan pada perupa Bali.

Pemantik diskusi kedua A. Anzieb, merupakan kurator pameran SDI tahun ini. Anzieb memberikan pemaparan tentang identitas dan etnis dalam seni rupa. Menurutnya SDI merupakan komunitas seni rupa pertama yang dibentuk di Yogyakarta atas dasar kesamaan etnis. Mereka secara bersama-sama ‘mengeksklusifkan diri’ di dalam bidang sosial kesenian. Asumsi Anzieb mengenai digunakannya kesamaan etnis sebagai identitas komunitas adalah karena ada kecanggungan atau ketidakpercayadirian dalam berkarya secara individu. Pengertian identitas dalam seni rupa itu sendiri menjadi sangat luas, pemahaman identitas bisa mengarah pada persoalan asal-usul budaya, ada tidaknya kebudayaan, dan lain sebagainya. Lagi pula untuk mendefinisikannya persoalan identitas dibutuhkan ruang dan waktu tersendiri. Anzieb berpendapat bahwa identitas terbentuk atas dua konstruksi kata, yaitu kodefikasi dan komersialisasi. Kodefikasi berguna untuk memahami kode-kode visual yang lebih dekat dengan seniman-seniman — terutama seniman muda — di mana hal tersebut tentu merupakan modal usaha yang menjadi keniscayaan. Sementara komersialisasi sangat dekat dengan bisnis, terkait sifatnya yang berantai dari tangan ke tangan, dari relasi ke relasi. Komersialisasi membutuhkan pelantang sebagai corong media, selain juga strategi atau kemasan yang lebih dekat dengan pasar.

Para hadirin perbincangan pun menanggapi pemaparan para pemantik. Salah satunya yang menarik adalah hadirin yang berpandangan saat ini tidak hanya pameran kelompok yang mengatasnamakan etnis, di banyak kesempatan masalah kewilayahan dielaborasikan dalam perhelatan. Yang perlu dipertanyakan adalah sejauh mana kita membawa persoalan-persoalan kewilayahan ataupun identitas di tengah tarik-menarik kepentingan antara rezim wisata yang menjual ekosistem lokal dengan nilai tinggi, di sisi lain ada pula penyeragaman yang mengatasnamakan globalisasi.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas (l.1995) adalah mahasiswa D3 Bahasa Prancis Universitas Gadjah Mada, mengikuti program magang di bagian arsip sejak awal Februari 2017 selama dua bulan.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Muara Market, Kanal Baru Pemasaran Produk Seni di Solo

Oleh: Pitra Hutomo

Pertemuan dengan Tatuk Marbudi yang menginisiasi Muara Market Solo berlangsung hampir tanpa sengaja. Dokumentator IVAA, Dwi Rahmanto adalah kawan lama Tatuk yang mengajak kami mampir sebelum ke tempat tujuan, lokasi diresmikannya Perjanjian Giyanti tahun 1755 di Karanganyar.

Muara Market Solo diresmikan Agustus 2016 di lokasi bekas ruko di Pasar Legi. Karena kami datang lepas tengah hari, belum nampak bagaimana orang Solo memanfaatkan tempat yang mengidentifikasi dirinya sebagai ruang kreatif tersebut. Tatuk datang sekitar 30 menit setelah kami sampai dan kami bercakap-cakap hingga menjelang sore. Percakapan kami direkam oleh Alex Bloom, mahasiswa asal Australia yang sedang bekerja praktik (magang) pada tim arsip IVAA.

Bagi Alex, tempat seperti Muara yang menyebut dirinya market atau pasar di tengah kondisi seni populer yang ia temui di Indonesia, pasti memiliki motif tersendiri. Apalagi ketika pasar yang dimaksud merujuk pada ekosistem yang mendorong seniman berproduksi tanpa mengarahkannya menjadi hajat seni tinggi atau praktik merchandising.

Dengan antusias Tatuk menjelaskan bahwa Muara Market Solo memang didirikan karena tingginya minat berproduksi anak muda Solo. Terang-terangan dia menyebut bahwa orang Solo itu lebih erat dengan budaya dagang jika dibandingkan Yogya. Karena itu, saat tawaran mendirikan UMKM menjadi solusi dari kanal pemasaran produk dari Solo, para produsen rumahan ini tidak terwadahi karena ukuran maupun indikator UMKM berbeda dengan motif dan cara produksi mereka selama ini.

Generalisasi yang dilakukan pemerintah di sektor kebudayaan ataupun industri ini mendorong penjelajahan segelintir orang yang dianggap senior di kalangan produsen indie, di antaranya Tatuk. Dengan gesit, dia dan kedua rekannya mengambil kesempatan untuk memanfaatkan salah satu kompleks ruko yang belum sempat laku selama beberapa lama. Bagi Tatuk, mimpi mereka sederhana dan kiranya mewakili semangat pekerja seni Solo yang ingin menciptakan iklim produksi kompetitif secara organik. Salah satu cara yang selalu mereka tempuh adalah meminta setiap orang yang berniat menggunakan Muara Market Solo untuk menggali mimpi masing-masing dan bersedia berdiskusi tentang pelaksanaannya.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Archive Showcase: Dinamika Ruang Seni Jogja setelah Boom Pasar Lukisan 2008

Archive Showcase: Dinamika Ruang Seni Jogja setelah Boom Pasar Lukisan 2008
24 April – 9 Juni 2017, di Perpustakaan IVAA
Oleh: Tiatira Saputri

Tema ruang seni sebenarnya berangkat dari perbincangan kami mengenai hadirnya ruang fisik di Yogyakarta yang dibangun dan diinisiasi oleh seniman. Asumsi pertama, boom seni di periode 2000-an memicu tumbuh lebih banyak ruang seni yang memfasilitasi transaksi jual-beli langsung dari tangan pertama, sehingga ruang seni ini bisa dikatakan merupakan bagian dari investasi seniman. Atau mungkin seniman-seniman yang mendapatkan rezeki dari boom seni saat itu hanya sekedar ingin berbagi ruang apresiasi dengan seniman lain. Pun jika keduanya benar, apa yang mereka angankan sebagai investasi dan ruang apresiasi? Bukankah kebutuhan tersebut sudah terfasilitasi oleh ruang-ruang seperti galeri atau ruang alternatif? Pertanyaan ini ada kaitannya dengan asumsi yang kedua, bahwa kepentingan dari dibukanya ruang-ruang tersebut tidak jauh berbeda dengan kepentingan seniman dalam menggunakan ruang publik. Ada semacam kebutuhan untuk mendekati publik, hanya saja dengan cara mendatangkan publik ke wilayah teritorinya. Apa yang menjadi motivasi seniman ketika membuka ruangnya untuk publik? Dari sini kami mencoba menelusuri dan melihat apa fungsi dan di mana posisi ruang-ruang tersebut sebagai bagian dari semesta seni. Karena dari melihat dinamika ruang seni di tahun 2009 hingga hari ini, ada cukup banyak ruang yang muncul dan berhenti beroperasi, seperti Kedai Belakang, Coral Gallery, Galeri Biasa, Ars Longa, V-art Gallery, Tujuh Gallery, Roomate, dsb. Namun demikian, hingga hari ini kita pun masih melihat ruang-ruang baru hadir di Yogyakarta, seperti Redbase Foundation, Sewon Art Space, Sesama, dsb. Sehingga bisa jadi kita memang masih membutuhkan banyak ruang seni. Hanya saja mungkin bentuk ruang yang dihadirkan belum sesuai dengan fungsi yang hendak dijalankan.

Beberapa ruang seni yang pernah ada di Yogyakarta. Sumber: dokumentasi IVAA

Bicara ruang dan seni, Yogyakarta memberikan kita pengalaman meruang yang sangat khas. Kita dimudahkan untuk membaca arah mata angin dengan garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi di utara dengan pesisir Pantai Selatan. Kemudian Keraton yang terletak di titik tengah garis imajiner tersebut menjadi landmark sekaligus sumbu perkembangan Yogyakarta. Di bidang kebudayaan, hal tersebut ditandai dengan berkembangnya ruang seni dari wilayah Keraton ke arah Selatan. Mengapa demikian pun menjadi kekhasan Yogyakarta. Karena dua titik yang menentukan arah perkembangan ruang seni di Yogyakarta sebenarnya berasal dari infrastruktur pemerintah yang dibangun pada tahun 80-an. Titik tersebut ditandai dengan kehadiran ruang-ruang yang memfasilitasi kesenian dan kemudian dikenal oleh publik, seperti Seni Sono, gedung pertunjukan Societet Militer, dan ruang pamer Benteng Vredeburg yang berada di sekitar wilayah Keraton atau titik nol Yogyakarta. Kemudian di wilayah selatan Yogyakarta tepatnya di Sewon, Bantul dibangun kampus baru Institut Seni Indonesia yang sebelumnya bertempat di area Gampingan, masih segaris dengan titik nol, kampus baru ini resmi digunakan sejak 1998. Namun demikian, pada perkembangannya di tahun 90-an ruang seni di Yogyakarta hadir secara organik bahkan tanpa campur tangan pemerintah. Berangkat dari njeron beteng, lahir ruang-ruang seni dari kegiatan kolektif dan dikelola secara mandiri oleh seniman dan pekerja seni. Seperti MES56, KUNCI Cultural Studies Center, dan YSC. Mengapa kemudian njeron beteng menjadi pilihan mereka sebagai lokasi membuka ruang seni? Kalau menurut Alia Swastika dalam tulisannya “Seni dan Pertumbuhan Dinamika Sosial Politik Masyarakat Urban”, njeron beteng menjadi pilihan karena lokasinya yang dekat dengan wilayah kampus dan kental dengan suasana kampung. Apakah betul demikian? Bisa jadi ada benarnya, karena pola serupa masih terjadi hingga hari ini. Ruang-ruang seni tumbuh semakin ke selatan, mendekati lingkungan kampus ISI dan berdiri di tengah kampung, jauh dari kepadatan kota.

Pemetaan ruang seni di Yogyakarta tahun 1996 Sumber: Buku “Sanggar-Museum-Galeri Seni Rupa di Yogyakarta” edisi pertama, 1992.
Pemetaan ruang seni oleh Yogyakarta Open Studio tahun 2016Sumber: http://yogyakartaopenstudio.com/map/

 

Dari mewawancarai Djoko Pekik mengenai Plataran, perbincangan mengenai kedekatan seniman dengan masyarakat ini sempat terbahas. Menurut beliau, seniman perlu berada di tengah masyarakat untuk bisa mengolah rasa. Dan itu ia dapatkan di wilayah selatan yang olehnya disebut sebagai wilayah yang masih manusiawi. Jika melihat peta pengembangan kota Yogyakarta, memang wilayah barat-utara-timur diperuntukan sebagai wilayah bisnis, perkantoran, pendidikan, dan fasilitas pelayanan kota lainnya. Hal ini dikarenakan posisi ring road barat-utara-timur menjadi penghubung utama Yogyakarta dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga wilayah yang dilalui jalan arteri barat-utara-timur menjadi wilayah strategis untuk pengembangan kebutuhan kota. Efeknya, kebutuhan jasa yang meningkat menghadirkan lebih banyak pendatang di wilayah barat-utara-timur. Pembawaan yang sangat individualis dari para pendatang inilah yang kemudian disebut sebagai ‘tidak manusiawi’ oleh Djoko Pekik. Dan baginya kondisi demikian tidak kondusif untuk seniman mengolah rasa. Selain itu, dari segi ekonomi, wilayah strategis barat-utara-timur tentunya memiliki kriteria harga lahan yang lebih tinggi dari selatan. Ini juga yang menjadi alasan seniman memilih wilayah selatan sebagai tempat tinggal atau pun ruang produktifnya. Dari empat seniman yang kami wawancarai, tiga di antaranya dengan gamblang mengakui bahwa ‘murah’ menjadi salah satu penentu keputusan mengapa mereka memilih lokasi tersebut. Namun kemudian, apa yang membuat seniman-seniman ini memutuskan untuk membuka ruang teritorinya kepada publik?

Dari wawancara dengan beberapa seniman pemilik ruang seperti Pendhapa Art Space Dunadi, Plataran Djoko Pekik dan Nalarroepa Dedy Sufriadi, ruang-ruang tersebut bertumbuh sebagai ruang seni secara organik. Mereka mengakui bahwa sebelumnya ruang-ruang tersebut memang dibangun hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka akan studio, ruang pajang, atau ruang simpan karya. Tapi dengan adanya permintaan atau inisiatif pihak luar untuk menggunakan ruang mereka, lama kelamaan ruang-ruang ini dibuka untuk publik. Kelayakan ruang untuk menjadi ruang interaksi antara seni dengan publik merupakan latar belakang bagaimana ruang-ruang ini dipilih. Seperti Pendhapa Art Space, ruang yang awalnya adalah ruang produksi patung Dunadi ini kemudian menjadi ruang seni karena teman-teman seni pertunjukan melihatnya sebagai ruang yang sesuai untuk sebuah pertunjukan. Demikian pula dengan Nalarroepa, ruang yang tadinya ditujukan sebagai ruang simpan karya kemudian menjadi ruang pamer karena teman-teman Dedy Sufriadi merasa bahwa fasilitas ruang tersebut memenuhi kriteria ruang pamer. Oleh sebab itu jika dilihat dari perencanaan pembangunannya, gagasan studio untuk publik atau yang biasa disebut artist’s open studio ini bukanlah bagian dari rencana awal mereka membangun ruangan tersebut.

Gagasan open studio di Yogyakarta ini sebenarnya pertama kali dimunculkan oleh Antena Project. Wadah yang oleh Antena Project diberi nama “Yogyakarta Open Studio” ini adalah bentuk upaya Antena Project untuk memaparkan kepada masyarakat mengenai salah satu ruang yang menjadi aspek penting skena seni Yogyakarta, yaitu studio. Hal tersebut diwujudkan dengan menawarkan pada publik waktu berkunjung ke beberapa studio, seperti di tahun pertama (2013), ada Black Goat Studio, PartNER, OFCA International, Studio Yunizar, dan Studio Handiwirman. Sebenarnya program studio visit ini bukanlah hal baru karena kegiatan seperti ini sudah menjadi salah satu agenda yang umumnya ditawarkan oleh tuan rumah residensi dan dilakukan oleh seniman atau pekerja seni yang melakukan residensi di Yogyakarta.

Salah satu kegiatan studio visit oleh seniman “Pasang Air#1” Rumah Seni Cemeti Sumber: http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/4452

 

Tentunya keperluan studio visit seniman dan publik berbeda. Kunjungan residen ke studio seniman memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan, sementara studio visit untuk publik lebih sebagai bentuk lain dari ruang apresiasi. Lalu apa bedanya dengan ruang apresiasi pada galeri? Pertama, jika dilihat dari fungsi dasarnya, galeri baik komersil atau alternatif, merupakan wadah apresiasi publik pada seni. Sehingga yang diutamakan adalah perjumpaan publik dengan karya atau hasil akhir dari gagasan seorang seniman. Sedangkan studio, adalah ruang kreatif seniman, sehingga yang mungkin terjadi adalah perjumpaan publik dengan proses kreatif seniman. Kedua, jika dilihat dari pengelolaannya, galeri bergantung pada program untuk mempertemukan publik dengan seni. Artinya, diperlukan kuratorial dan perencanaan operasional untuk menentukan apa dan kapan seni disuguhkan kepada publik. Sedangkan di studio seniman, untuk mempertemukan publik dengan seni cukup dengan agenda pertemuan dan izin empunya studio. Apa yang akan publik lihat bergantung pada apa yang ada atau sedang terjadi di studio seniman. Itu artinya, studio tidak memerlukan program spesifik untuk bisa mempertemukan seni dan publiknya. Sehingga jika kita kembali pada perbincangan awal mengenai bentuk ruang seni dengan kesesuain fungsi, bisa dikatakan artist’s open studio adalah bentuk baru ruang seni dalam memfasilitasi perjumpaan seni dan publiknya.

Sebenarnya dokumen hasil kerja perekaman IVAA yang berkaitan dengan pembahasan mengenai ruang seni ini cukup banyak dan tidak bisa seluruhnya dirangkum dalam satu tulisan. Oleh sebab itu kami menggunakan kesempatan Archive Showcase yang berlangsung 24 April hingga 9 Juni 2017 untuk menampilkan materi yang kami miliki.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2017.

Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!

Oleh: Grace Ayu Permono Putri

Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Narkotika yang tergabung dalam Paguyuban Tiyang Biasa (PASTI BISA) mengelar Pameran “Perbedaan Itu Indah” dengan tema “Rukun Agawe Santoso”, di Lapas Narkotika Kelas II A pada 2 hingga 4 Februari 2017 lalu. Berbagai macam karya seni ditampilkan, terdapat lukisan, patung, sablon, dan sebagainya. Rangkaian acara lain yang bisa ditemukan ialah workshop cukil serta aktivitas melukis di atas kanvas yang membentang sepanjang 30 meter dan pertunjukan musik hadroh Al-Taibun.

Selain itu ada diskusi seni dengan tema “Seni Penjara dan Posisinya dalam Diskursus Kesenian Indonesia”. Dalam diskusi itu AC. Andre Tanama serta Iwan Wijono menjadi pemantik, sementara yang menjadi moderator ialah salah seorang narapidana. Dalam diskusi tersebut, Andre Tanama mengatakan bahwa ia tidak berkompeten soal ‘seni penjara’ karena narapidanalah yang dapat merasakan apa itu seni di dalam penjara, maka ia pun menjelaskan dengan perspektif pengamat. Ia mengelaborasi makna penjara dalam arti fisik maupun non-fisik. Di lain pihak Iwan Wijono sebagai pemantik kedua menambahkan tentang bagaimana melihat penjara dalam arti spiritual.

“Acara ini merupakan bukti banyaknya agenda dan program positif serta membangun yang dilangsungkan di lapas sebagai wadah aktivitas dengan kreatifitas seni dengan segala keterbatasan yang ada,” ujar Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika kelas II Yogyakarta, Erwedi Supriyatno dalam siaran persnya. Erwedi Supriyatno juga kemudian berkisah bahwa ia pernah menjadi pelukis kaki lima Malioboro pada tahun 1989-1990, sehingga ia bisa memahami warga binaannya yang membutuhkan ruang, waktu, dan kesempatan untuk tetap berkreasi.

Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan ‘makan nasi penjara’ dengan menu berupa sayur, ikan, dan nasi yang menurut beberapa seniman rasanya cukup enak.

Kakanwil Kemenkumham DIY, Dewa Putu Gede, mengatakan bahwa kegiatan yang diinisiasi oleh lapas dan paguyuban seniman-seniman ini dapat mengembangkan segala potensi dalam berkesenian dari setiap warga binaan di lapas. Tujuannya untuk membantu warga binaan meningkatkan kemampuan dalam mengurangi ketergantungan obat-obatan. Harapannya, dengan berkesenian mereka akan kembali mendapatkan dunianya.

Di salah satu rangkaian acaranya yakni mural bersama, seniman senior Kartika Affandi putri dari maestro Indonesia Affandi turut memeriahkannya. “Papi saya jadi seniman besar juga tanpa narkoba, jadi usahakan jangan diulangi lagi ya,” Kartika berpesan.

Pameran yang menampilkan lebih dari 100 karya itu menampilkan cerita dari masing-masing penghuni lapas dengan sebaran tema yang beragam. Dari tema personal yang berbasis pengalaman selama di penjara, lingkungan, hingga tema-tema sosial, yang berupaya menjadi bagian dari kritik atas pembangunan.

Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik Lapas Khusus Narkotika Yogyakarta Marjiyanto mencatat per 2 Februari 2017 ada 226 penghuni lapas dan 35 di antaranya seniman atau memiliki hobi seni; ada perupa, pematung, dan pemusik. Dari situlah lahir Paguyuban Tiyang Biasa pada Desember 2016, yang diketuai oleh Santoso Ari.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


*Grace Ayu Permono Putri (l.1996), mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Tatakelola Seni di kampus ISI Yogyakarta yang sangat tertarik dengan pengelolaan perhelatan acara seni. Maka Grace banyak terlibat di dalam berbagai kepanitiaan pensi, pameran seni rupa, maupun perhelatan budaya lainnya. Dalam magangnya di IVAA, Grace membantu penyelenggaraan kegiatan di RumahIVAA serta menulis resensi sebagai bagian dari kerja pendokumentasian IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Terasiring: Bercerita Tentang Kerinduan dan Kenangan

Oleh: Grace Ayu Permono Putri

Rarya Lakshito (selo) dan Ringga Ferdian (vokalis dan gitar) adalah duo akustik yang menamai diri mereka ‘Terasering.’ Terasering sendiri adalah proyek musik yang dibuat di tahun 2016 dan akan segera merilis mini album. Pada 24 Maret lalu Terasering membawakan 9 buah lagu dalam pertunjukan mini yang digelar oleh IVAA dan sekaligus menjadi awalan program rutin Musrary. Diselingi dengan obrolan ringan dan kuis kecil-kecilan, acara tersebut berlangsung meriah dengan penonton yang memadati ruang pertemuan IVAA sejak pukul 19.00 hingga 21.00.

Sembilan lagu dibawakan dengan apik oleh Rarya dan Ringga dalam beberapa sesi. Diawali dengan 4 lagu pertama, yaitu Kawa, Fatamorgana, Lighthouse Man, dan Terimakasih. Lalu sesi kedua dibawakan 4 buah lagu dengan judul Sweet Afternoon, Catatan Perpisahan, Serumah, serta Air Mata Juli. Sementara di sesi terakhir ditutup dengan Suara Kerinduan.

Melalui program Musrary yang rencananya akan dihelat sebulan sekali ini, IVAA menekankan fungsi ruangnya sebagai ruang apresiasi. Walaupun sehari-harinya IVAA digunakan sebagai ruang kerja, ruang penyimpanan arsip seni rupa, dan perpustakaan publik, namun sebetulnya ruang IVAA tidak tertutup untuk aneka kegiatan yang bersifat ringan, menghibur, namun sesungguhnya merupakan hasil kebudayaan anak muda Indonesia sekarang yang berkualitas. Selain sebagai ruang apresiasi, harapan Musrary cukup sederhana, yakni menyediakan ruang temu antar pegiat musik, yang saling memotivasi dan menghidupkan inspirasi.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#SorotanArsip Menyimpan Apa yang Ditinggalkan Seniwati Gallery

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2012 lalu, atas undangan Mary Northmore tim arsip IVAA bertandang ke Seniwati Gallery yang terletak di Jalan Sriwedari 2B, Banjar Taman, Ubud. Atas berbagai pertimbangan Mary Northmore akan menutup Seniwati Gallery. Oleh sebab itu beliau menawarkan arsipnya untuk dialihformatkan IVAA menjadi arsip digital dan disimpan.

Seniwati Gallery merupakan galeri satu-satunya di Bali yang memberi tempat untuk seniman perempuan berkarya. Mulai beroperasi pada tahun 1991, Mary Northmore menginisiasi berdirinya Seniwati Gallery yang ditujukan untuk pelatihan seni dan ruang pamer seniman perempuan yang tinggal di Bali. Sebelum pulang ke negaranya untuk beberapa waktu pada tahun 2012, Mary Northmore memutuskan untuk tidak meneruskan operasional ruang Seniwati Gallery. 21 tahun mengelola Seniwati Gallery bukan waktu sebentar, telah banyak seniman perempuan Bali yang belajar melukis di sini hingga menjadi seniman perempuan yang mewarnai dinamika seni rupa Indonesia, I GAK Murniasih salah satunya. Mendiang dulunya adalah salah satu remaja peserta pelatihan melukis Seniwati Gallery yang memiliki bakat orisinal hingga di kemudian hari karya-karyanya dikenal di kancah internasional. Setelah menutup Seniwati Gallery, Mary Northmore memutuskan energinya yang tidak sebanyak dulu akan difokuskan untuk kehidupan pribadinya sambil mengelola arsip kekaryaan milik almarhum suaminya yang merupakan seniman Indonesia dari era revolusi, Abdul Aziz. Namun demikian beberapa kegiatan yang dulunya menjadi program Seniwati Gallery seperti kursus melukis untuk perempuan dan anak-anak tetap diteruskan oleh Ni Nyoman Sani, salah satu seniman perempuan yang dahulu pernah bertumbuh bersama Seniwati Gallery.

Arsip Seniwati Gallery yang disumbangkan oleh Mary Northmore terdiri dari kumpulan album foto dan katalog. Arsip foto di sini merupakan foto dokumentasi pameran yang pernah mereka selenggarakan dan foto-foto karya yang dipamerkan. Beberapa foto karya seniman yang ditemui adalah karya oleh Amilia Amini, Cok Mas Astiti, Gusti Ayu Suartini, Sri Haryani, Muntiana Tedja, Ni Made Sriasih. Sedangkan katalog pameran yang menjadi arsip di Seniwati Gallery antara lain Katalog Pameran “Life Style”, Katalog “Great Painters of Indonesia” (Pameran Pelukis Besar Indonesia), Katalog pameran “Fantasi Tubuh” oleh I GAK Munarsih. Selain itu terdapat juga laporan penelitian oleh Tjok Istri Mas Astiti dan beberapa artikel surat kabar.

Seluruh arsip yang disumbangkan oleh Seniwati Gallery telah selesai kami pindai. Daftar inventaris arsip dari Seniwati Gallery yang terdiri dari 1.482 berkas digital dapat dilihat di dalam tabel berikut ini: http://bit.ly/2oMKpph


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.