Kuliah Umum “Fotografi Kontemporer di Amerika”

unnamed-3Oleh: Brian Arnold

Brian Arnold adalah seorang guru seni rupa dan fotografi di School of Art and Design at Alfred University di New York. Brian pernah belajar fotografi di Prancis, Amerika, China, dan Italy. Foto-fotonya telah di pamerkan di berbagai tempat antara lain Paris, New York, Boston, Beijing, dan Florence, Italia. Kali ini di RumahIVAA, Brian telah menyiapkan kuliah umum tentang kecenderungan fotografi kontemporer di Amerika (USA). Kuliah umum ini akan membahas buku-buku fotografi, dan fotografi tentang teknologi fotografi.
Kuliah umum akan dihantarkan dalam Bahasa Indonesia dengan panduan penerjemah.

Book Discussion: “dia datang, dia lapar, dia pergi” Kenangan Pak Djon, Sopir dan Asisten Pribadi, tentang Pelukis Affandi (1907-1990)

Suhardjono (kiri), Affandi (kanan), foto Felix EY
Suhardjono (kiri), Affandi (kanan), foto Felix EY

Penulis: Hendro Wiyanto, Hari Budiono

“Saya berharap anak cucu saya semua melek seni. Mereka bisa melanjutkan, bisa merawat, dan bisa menceritakan tentang lukisan saya kepada setiap orang. Maka, kalau bisa, hancurnya museum saya nanti bersamaan dengan datangnya hari kiamat.” (hal. 237)

Demikianlah suatu ketika Affandi sang pelukis, curhat pada Suhardjono, sopir dan asistennya, yang selama 30 tahun berangsur-angsur menjadi salah satu orang terdekat Affandi. Dalam “dia datang, dia lapar, dia pergi”, para penulis Hendro Wiyanto dan Hari Budiono mengisahkan Affandi dari tuturan Pak Djon tentang berbagai aspek kehidupan seorang seniman.

buku

Kami mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam bedah buku yang akan diadakan Sabtu, 5 April 2014 di Langgeng Art Foundation, Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta, mulai jam 14.00 WIB. Bedah buku ini mengundang beberapa pembicara selain para penulis Hendro Wiyanto dan Hari Budiono, Pak Djon, dengan penanggap Amir Sidharta dan Khidir Marsanto.

Sepanjang bedah buku berlangsung, buku akan dijual dengan harga khusus, yakni Rp 150,000,00.
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Sdri. Alief di 085729060770.

 

Bedah Buku “Soeka-Doeka Di Djawa Tempo Doeloe”

unnamed-2

Penulis: Olivier Johannes Raap

Tradisi serta kebudayaan yang menyelimuti kehidupan penduduk Pulau Jawa, dari usia muda sampai tua bahkan hingga meninggal, terungkap lewat kartu pos kuno. Kartu pos yang terbuat dari foto-foto menarik di masanya, merekam sejarah-sejarah kecil yang kerap dianggap remeh-temeh. Bersama 140 lebih koleksi kartu pos, yang dikelompokkan dalam 10 bab, yaitu Cantik & Tampan, Pernikahan, Keluarga Bahagia, Anak & Pendidikan, Si Kaya & Si Miskin, Kesenian, Perayaan, Permainan, Manusia & Hewan, dan Pemakaman, disertai penjelasan-penjelasan informatif, penulis Olivier Johannes Raap mengajak pembaca buku ini kembali ke satu abad silam untuk menyaksikan suka-duka di Jawa tempo dulu.

Pada buku ini, penulis secara khusus memilih tema yang berkaitan dengan sosial budaya, dan juga dengan emosi. Dari 10 bab, ada 9 yang berkaitan dengan emosi sukacita, kegiatan bersuka ria, dan 1 bab khusus dukacita karena menceritakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pemakaman. Di hampir seluruh kategori, anak-anak selalu menikmati hidup, apapun keadaannya, walaupun ada juga beberapa anak yang dipaksa bekerja dan terpaksa dinikahkan di usia sangat muda. Tak lupa, wanita sebagai makluk ciptaan Tuhan yang indah, juga menghiasi banyak bab. Dari rakyat jelata sampai putri keraton, kita dapat melihat kecantikan klasik alami para perempuan di Pulau Jawa dari berbagai suku bangsa. Kesenian mendapat tempat khusus di buku ini. Diceritakan mengenai kesenian yang ada di Pulau Jawa, yang mungkin saja generasi zaman kini sudah tidak kenal lagi.

Banyak sumber referensi yang mendukung keterangan dalam setiap narasi yang diberikan di setiap gambar kartu pos. Penulis menjelaskan pakaian yang dikenakan, ekspresi dan posisi orang dalam foto, hingga benda-benda yang tampak. Olivier akan mengantar Anda juga untuk menyelami latar belakang sisi sosial dan budaya secara lebih detil. Buku ini enak untuk dibuka-buka maupun juga untuk dibaca. Gambar-gambarnya sangat menarik untuk dilihat dan menyenangkan untuk dipakai sebagai bahan pelajaran maupun bahan hiburan semata baik bagi generasi tua maupun muda.

Semua kartu pos diproduksi dari foto-foto karya beberapa fotografer ternama dan banyak juga dari fotografer anonim. Namun semua foto merupakan karya profesional yang indah. Sebagian besar dari ilustrasi merupakan hasil karya Kassian Céphas, fotografer pribumi yang pertama, dan anaknya Sem Céphas. Di bagian introduksi buku terdapat biografi singkat Kassian dan Sem Cephas, dan di beberapa narasi, gaya pemotretan dan tata pose model-modelnya dibahas. Sebagai penutup buku, sebuah epilog berjudul Relasi Kebudayaan, Lalu dan Kini ditulis dengan menarik oleh Cahyadi Dewanto, fotografer dan pengajar di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung) yang sejak 2005 mengerjakan proyek foto dokumenter Kassian Cephas: “Jejak-jejak sang fotografer Kassian Cephas”.

Olivier Johannes Raap lahir 5 Oktober 1966 di Grootschermer, sebuah desa kecil di Belanda, dikelilingi kincir angin dan sapi. Waktu musim panas, selalu berada di desa kakek dan nenek, La Bastide-de-Sérou di Perancis. Di usia muda, terserang penyakit asma, maka dokter menyarankan untuk belajar alat musik tiup untuk melatih paru-paru. Dengan senang hati, Olivier belajar antara lain suling, oboe, dan fagot, dan sejak usia 12 tahun dia suka mencari uang saku sebagai pengamen, sekalipun dengan melawan kehendak orang tua. Setelah lulus dari sekolah menengah, dia melanjutkan pendidikan di universitas di Delft di bidang arsitektur. Saat ini dia bekerja sebagai pedagang buku di Den Haag. Walaupun sudah menjadi orang kota, ingatan masa kecil masih sering menimbulkan perasaan yang menyenangkan terhadap suasana pedesaan. Hobinya bertualang, bersepeda, memasak, musik klasik, baca buku, mempelajari sejarah, dan koleksi barang antik.

Tahun 1998 Olivier berkunjung ke Indonesia untuk pertama kalinya sebagai turis, dan mendapati pengalaman bahwa iklim tropis berkhasiat pada penyakit asma. Kemudian, entah sudah berapa kali ia mengunjungi Indonesia untuk belajar bahasa dan sejarahnya. Rasa cintanya khusus untuk Pulau Jawa, yang sudah ia anggap sebagai rumah kedua, telah menghasilkan dua buku. Pada April 2013 karya pertamanya, Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe, terbit, yang pada November 2013 dilanjutkan ke Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe. Kedua buku diberi ilustrasi dengan foto dan kartu pos kuno dari koleksi Olivier sendiri.

Respon dan antusiasme para pembaca luar biasa. September 2013, acara bedah buku “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe” digelar di enam kota di Jawa, yaitu Magelang, Kediri, Madiun, Surabaya, Bandung, dan Jakarta, yang ramai dikunjungi, dan tidak terlepas dari peran media cetak. Dikatakan bahwa Olivier berbeda dibanding para sejarawan dari Belanda yang di Indonesia, hanya menghadiri seminar dan workshop di universitas. Ia penulis publik yang secara langsung berani berkunjung ke banyak tempat dan sejumlah orang banyak di Jawa.

Sekarang buku ketiga sedang dalam persiapan: Djeladjah Perkotaan di Djawa Tempo Doeloe. Di Indonesia, Olivier biasanya dipanggil Mas Oli.

 

Bedah Buku hasil Workshop Penulisan Sejarah Kritis Seni Rupa Kontemporer “Membaca Arsip, Membongkar Serpihan Friksi, Ideologi, Kontestasi: Seni Rupa Jogja 1990-2010”

unnamedPenulis: Agnesia Linda M., Galatia Puspa Sani, Ida Fitri, Khidir Marsanto P., Muhammad AB, Pitra Hutomo, Rakai Badrika, Realisa D. Massardi, Taufik Nur Rahman, dan Umi Lestari

Bedah Buku hasil Workshop Penulisan Sejarah Kritis Seni Rupa Kontemporer

“Membaca Arsip, Membongkar Serpihan Friksi, Ideologi, Kontestasi: Seni Rupa Jogja 1990-2010”

Selain para penulis, acara ini mengundang dua orang penanggap, yakni Tia Pamungkas dan Gintani Nur Apresia Swastika, dengan moderator Umi Lestari.

10 tulisan dalam buku ini merupakan hasil dari workshop sejarah kritis seni rupa “Membongkar Friksi, Ideologi, dan Kontestasi: Workshop Penulisan Sejarah-Kritis Seni Rupa Jogja 1990-2010” proyek Des Christy, salah seorang peraih Hibah KARYA! 2013.

Versi PDF tersedia untuk diunduh di sini.

Diskusi Buku Dunia Dalam Kota – Pasar Terong Makassar

2014-04-17_DiskusiBukuPasarTerong Pembicara: Agung Prabowo, Anwar Jimpe Rahman, Ishak Salim, Zulhajar Moderator: Sita Magfira

Kali ini Yogyakarta “diserbu” Makassar. Empat orang teman muda dari berbagai latar belakang yang berasal dari Kota Makassar akan berbagi cerita, kegelisahan dan juga optimisme. Berangkat dari kerja kolaborasi bernafas panjang, berbagai komunitas dan lembaga seperti: Penerbit Ininnawa, Active Society Institut (AcSI), SADAR, TANAHINDIE, dan Makassarnolkm, terlibat bersama dan merekam denyut kehidupan Pasar Terong, Makassar. Salah satu hasil kerja bersama tersebut hadir dalam bentuk terbitan buku berjudul: Pasar Terong Makasar: Dunia Dalam Kota. Pasar Terong, sebuah pasar terpenting di Sulawesi Selatan dan Wilayah Indonesia Timur.

Pasar Terong menjadi muara pertemuan aliran komoditas dari 11 Provinsi di Indonesia. Tidak kurang sejuta petani yang ada di jazirah Sulawesi Selatan mengirim beragam bahan pokok ke sana. Pasar Terong juga merupakan salah satu dari empat pasar rujukan harga bahan pokok di Indonesia setelah Pasar Kramat Jati Jakarta, Pasar Turi Surabaya, dan Pasar Meda Kota di Sumatera Utara. Ribuan orang bekerja di pasar tersebut, menyalurkan berbagai komoditas ke berbagai wilayah nusantara. Inilah buku yang langka, menarik dan kontemporer yang membahas mengenai pasar. Antropolog, sosiolog, arsitek dan urban planner, jurnalis, sastrawan, seniman, dan juga semua kalangan aktivis dari ranah apapun, perlu datang dan ikut membicarakan buku ini.

Pasar, seperti halnya makanan, selalu tersangkut di mana kita berada. Dari meja sarapan hingga kebun bunga. Ia menjadi bagian dan menggerakkan denyut hidup kita.

Lecture – Towards a Post-Ethnographic Museum in the 21st Century

2014-05-02_PostEthnoMuseumA Lecture by Dr. Clémentine Deliss
Director, Weltkulturen Museum, Frankfurt

In 2014, an ethnographic museum appears to be out of time, its historical collection unable to combine with current understandings of today’s post-colonial worlds. What can be done to reactivate its collections? How does one build a new collection from one that is so clearly from the colonial past?

At the Weltkulturen Museum in Frankfurt, we work with over 67,000 historical artefacts from South East Asia including Indonesia, Oceania, Africa and the Americas. We have an image and film archive of around 120,000 documents, a library with over 50,000 books and journals, plus a pioneering collection of works of contemporary art from Africa that was initiated in the mid-1980s before the “global turn”. Guest artists and scholars are invited to work in the museum’s laboratory with these collections and to produce new interpretations in relation to selected objects. This work within the museum leads to the production of exhibitions, displaying both the historical artifacts and the new unfinished art works. The once dormant ethnographic museum becomes a restive, unruly kind of institution, in which new formulations of trans-cultural understanding are created through a clash of referentiality and the constructive implementation of anachronism.

Clémentine Deliss is director of the Weltkulturen Museum in Frankfurt am Main. She studied contemporary art and social anthropology in Vienna, London and Paris and holds a PhD from the University of London. From 1992 to 1995 she was the artistic director of africa95. Selected exhibitions curated by Deliss include: “Foreign Exchange (or the stories you wouldn’t tell a stranger) 2014, Weltkulturen Museum (with Yvette Mutumba); “Object Atlas – Fieldwork in the Museum”, Weltkulturen Museum, 2012; “Seven Stories About Modern Art in Africa”, Whitechapel Gallery, London, 1995 and Konsthalle Malmö, 1996; “Lotte or the Transformation of the Object”, Styrian Autumn, Graz, and Akademie der Bildenden Künste Wien, 1990; Between 1996-2007, she produced eleven issues of the international writers’ and artists’ organ Metronome first published in Dakar in 1996. Between 2002 and 2009 she directed the international research lab “Future Academy”.

Designing Narratives of Place: Interdisciplinary Approaches to Visualizing Cultural History

“Merancang Narasi Kebertempatan: Sejumlah Pendekatan Interdispliner dalam Memvisualkan Sejarah Budaya”

Kang_IVAA_150-web

Pembicara: Dr. Kristy Kang (NTU School of Art, Singapore)
Penanggap: Syafiatudina (Kunci Cultural Studies Center)

Dalam masyarakat yang semakin berbasis layar dalam kesehariannya, teknologi memediasi bagaimana kita mengalami, mengkonsumsi dan berbagi pengalaman sehari-hari. Dengan begitu, para ilmuwan dan desainer bertanggungjawab dalam mengembangkan cara-cara yang kreatif dan bermakna untuk mengintervensi dan menggali perbedaan, identitas dan komunitas dalam ruang kita yang termediasi tersebut. Hidup dalam ruang urban padat yang terus berubah pesat, kita seringkali kehilangan pandangan akan elemen manusiawi dari urbanisasi tersebut. Adalah orang-orang yang menghuni dan bergerak dari kota ke kota yang membentuk sejarah budayanya dan menggabungkan beragam narasi ruang kota yang kebanyakan pinggiran dan tak banyak diketengahkan. Bagaimana praktek desain interdisipliner membuka peluang untuk mengembangkan cara-cara yang inovatif dalam mendefinisikan rasa kebertempatan kita? Ceramah ini akan menunjukkan sejumlah pililhan project-project media baru yang menggali isu ini, memperlihatkan sejumlah pendekatan konseptual dari pemikiran desain bisa berkontribusi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang menyegarkan

Dr. Kristy H.A. Kang adalah seorang seniman media baru dan akademisi yang karyanya mengeksplorasi narasi tentang pembentukan identitas dan memori kultural. Ia meraih gelar doktoralnya di Media Arts and Practice at the University of Southern California, School of Cinematic Arts, dan sekarang ini adalah dosen tamu di School of Art, Design and Media di Nanyang Technological University, Singapura. Wilayah penelitiannya mencakup sejarah dan teori seni media digital, database film, animasi, narasi spasial dan mobile, serta media dan studi etnis antara Amerika dan Asia. Ia adalah pendiri The Labyrinth Project – sebuah inisiasi penelitian akan narasi interaktif dan digital di University of Southern California, yang telah memunculkan berbagai karya sejarah budaya interaktif dengan media baru. Karya-karya ini pernah dipresentasikan di Getty Research Institute, The ZKM Center for Art and Media, the Society for Cinema and Media Studies dan menerima banyak penghargaan termasuk Jury Award for New Forms di Sundance Online Film Festival, 2004.

“Seni Segala Abilitas” Presentasi oleh seniman-seniman dari Tutti, Inc. (AUS)


Seni Segala Abilitas

Presentasi oleh seniman-seniman dari Tutti, Inc. (AUS), Khairani Barokka, Relax Your Bones
– dengan Penanggap: Prof. Slamet Amex Thohari

Rumah IVAA, Jl. Ireda Gang Hiperkes 188 A/B, Dipowinatan, Yogyakarta 55152.
Sabtu, 28 Juni 2014, 15.30 – 17.00 WIB

Tutti, Inc. (Aus) bekerjasama dengan Khairani Barokka membuat karya-karya lintas media dan genre oleh seniman dengan berbagai abilitas, termasuk James Kurtze yang hadir dari Adelaide. Untuk beberapa tahun ke depan mereka mengeksplorasi kolaborasi antar seniman berdisabilitas di Indonesia dan Australia. Begitu juga NGO baru yang dibangun Edwina Brennan dan bertumpu pada pembangunan arts and crafts business yang berkelanjutan, Relax Your Bones. Prof. Slamet Amex Thohari dari Universitas Brawijaya akan hadir juga untuk mendiskusikan kegiatan ini dalam konteks disabilitas lokal dan internasional.

 

Art Our Way, Art By All Abilities

Tutti, Inc. is an Australian professional development organization for artists with disability, who together with Khairani Barokka and other Indonesian artists have been creating cross-media and cross-genre works by artists of all abilities, including James Kurtze who is here in Jogjakarta from Adelaide. For the next few years, they’re exploring collaborations between artists with disability iN Indonesia and Australia, as is Edwina Brennan’s new NGO Relax Your Bones, focussing on sustainable arts and craftsmaking. Hear them speak about the future of art where inclusion of all abilities is recognized as a human right, in discussion with Prof. Slamet Amex Thohari of Brawijaya University.

[ArtJOG – IVAA Public Discussion Forum] EMPOWERED: New Relations, Dynamics, and Strategies in Contemporary Asian Art Scene Today

Minggu, 8 Juni 2014 | 10.00-17.00 WIB
Langgeng Art Foundation
Jalan Suryodiningratan No. 37, Yogyakarta

(Pendaftaran diwajibkan | Terbuka untuk umum dan gratis)

Pendaftaran:
melisa@ivaa-online.org atau info@artfairjogja.com
Pendaftaran dibuka sampai dengan 7 Juni 2014

Program Agenda:
10.00-13.00
Session I: New Strategies of Artist Initiative/Community Spaces:
Speakers:
Ise Parking Project, Malaysia
Malcolm Smith, Crack, Yogyakarta
Tuan Mami, Hanoi, Vietnam
Uji Hahan Handoko/Gintani Swastika, Ace House, Yogyakarta
Indieguerillas, Yogyakarta

Discussant: Mella Jaarsma, Cemeti Art House, Yogyakarta

Moderator: Enin Supriyanto

14.00-15.00:
Session II: Role of galleries and power relations of art scene
Speakers:
Josef Ng, Shanghai Gallery of Art
Amalia Wirjono, Gagosian Gallery, Jakarta

Moderator: Mia Maria

15.30-17.00:
Concluding Session: Group Talk – Amalia Wirjono, Josef Ng, Enin Supriyanto, Mia Maria.

Moderator: Farah Wardani, IVAA

 

ArtJOG – IVAA Public Discussion Forum
EMPOWERED: New Relations, Dynamics, and Strategies in Contemporary Asian Art Scene Today

From the last 5 years or so,  there have been a rapid change in the global visual art scene, particularly in Asia. Today, there are art exhibitions and art events in new spaces and hubs flourishing in many places . Major exhibitions are increasingly getting more colossal and contemporary visual art is getting the attention of global visual art scene with more ‘blockbuster’ programs, including the Biennales in major Asian countries, Singapore Art Stage, Art Basel in Hong Kong, and including ArtJOG as a part of the whole current ecosystem of the art world.

This brings out a more complex network of art infrastructure that in many ways affects the artists and art workers regarding how they work and orientation of art making today. It offers plenty of promises and prospects yet also becomes more obscure and fast-paced than before – while the art market, as glamorous as it may seem, remain an unsteady, uncertain source of support. The art society’s culture is no longer about having regular exhibitions and visiting your local galleries but also to be a part of the vast, growing regional network, with major art events that rely on momentum and festivities become the main hubs for increasing leverage in the arts, meaning more competition among every party involved in the art scene.

How should the art scene be mapped by its own practitioners, in terms of developing their own strategies and positions withing the infrastructure and creating their own trajectories? What roles should be defined or redefined in today’s art infrastructure apart from the usual artist-gallery-curator-collector power relations? What kind of new ways can the artists follow to cope with ever-changing social, professional and cultural enviroment while maintaing their profession as well as artistic stance? And more importantly, how do art events – big or small scale – can serve as both a sustainable career-making trajectory and a significant, relevant cultural event?

‘Empowered: New Relations, Structures, and Strategies in Contemporary Asian Art Scene Today’ is one-day public forum initiated by ArtJOG and Indonesian Visual Art Archive (IVAA), in conjunction with ArtJOG 6, which will be held in June 2014. The forum will invite a number of art practitioners within the Asian region to share their perspectives regarding the issues above, to provide more insights and relevant perspectives that can be fruitful for the new art public, particularly the recent younger generation of artists and creative communities that have become one of the main network of ArtJOG and IVAA.

Location:
Langgeng Art Foundation
Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta
Time:
Sunday, 8 June 2014, 10.00 – 17.00

Presentasi Perjalanan Riset Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) ke India dan Madagaskar

Rabu, 2 Juli 2014, pukul 16.00-18.00 WIB (tersedia kudapan berbuka puasa)
di RumahIVAA (Indonesian Visual Art Archive)
Jl. Ireda, Gg. Hiperkes MG I/188 A-B, Dipowinatan, Yogyakarta

Pada 18-29 Mei 2014 yang lalu, YBY bersama dengan TBY melakukan perjalanan riset ke India dan Madagaskar. Di India, tepatnya di Bangalor, YBY dan TBY mengunjungi sekolah seni, ruang gagas seniman, dan menemui beberapa seniman dan kelompok seniman. Kunjungan ke India ini bertujuan untuk melanjutkan kerjasama yang sebelumnya terjalin melalui acara Biennale Jogja XI Equator #1 pada tahun 2011 yang lalu. Perjalanan YBY dilanjutkan ke Madagaskar. Mengapa Madagaskar? Apa tujuan perjalanan ini? dan apa hasilnya? Silakan hadir pada Rabu, 2 Juli 2014, pukul 4 sore di IVAA. Yustina Neni (Direktur YBY), Fuji Riang Prastowo (Periset YBY), dan Grace Samboh (Manajer Program Simposium Khatulistiwa) akan berbagi.