Category Archives: Festival Arsip

Menuju Festival Arsip: Peluncuran dan Bedah Buku “JEJAK”

Oleh: Galih Ristia (Peserta Magang IVAA)

“Acara peluncuran buku Jejak ini adalah pre-event dari acara Festival Arsip. Festival Arsip digagas oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA) sebagai upaya membangun gerakan pengarsipan, sekaligus menegaskan posisi kita sebagai basis dari pengetahuan dunia melalui penguatan nilai kesejarahan, terutama sejarah seni rupa Indonesia,” ungkap salah satu peserta lokakarya yang menjadi pembawa acara peluncuran dan bedah buku Jejak ini.

Ruang IVAA dipenuhi oleh para peserta lokakarya, tamu undangan, dan peserta diskusi pada Jumat (11/8). Mereka berkumpul untuk berdiskusi membedah Buku Jejak. Acara ini dimoderatori oleh Lisistrata Lusandiana (IVAA). Dihadiri oleh Fairuzul Mumtaz dan Sita Magfira sebagai pembicara. Fairuzul Mumtaz adalah penulis dan editor. Pada lokakarya ini, Fairuzul Mumtaz bertugas sebagai editor. Sita Magfira adalah penulis dan sering terlibat pada kerja-kerja seni nasional dan internasional. Pada acara bedah buku ini ia sebagai penanggap dan pemantik diskusi.

“JEJAK: Seni dan Pernak-Pernik Dunia Nyata” merupakan kumpulan tulisan dari para peserta Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa yang berlangsung Mei-Juni 2017. Terdiri dari 11 penulis muda dengan berbagai latar belakang dan menghasilkan tema yang beragam pula. Untuk itulah, judul “Jejak” kemudian dipilih. Jejak disini juga dimaknai sebagai jejak pembelajaran.

Fairuzul Mumtaz dalam 30 menit berbicara mengenai proses pendampingan peserta lokakarya dari awal hingga akhir selama dua bulan. Dari 13 peserta, 11 peserta akhirnya lolos seleksi. “Peserta pada awalnya kebingungan mencari tema dan mau menulis apa. Peserta yang tidak pada bidangnya juga akhirnya menulis tidak berdasarkan data, tapi berdasarkan asumsi-asumsi yang ada”, ungkapnya. Dengan begitu, Fairuzul mengaku bahwa dalam proses lokakarya ini, ia sengaja menjadi editor “ganas” di hadapan para peserta. Hal ini sengaja dilakukan untuk membuat para peserta memiliki semangat menulis dan saling suportif di antara mereka.

Berbicara mengenai rentang waktu, yakni dua bulan untuk pelaksanaan lokakarya ini, Fairuzul dengan tegas mengatakan bahwa ia sering menolak tawaran kegiatan workshop atau lokakarya lain dengan jangka waktu yang pendek. “Workshop tidak cukup dengan waktu yang pendek, karena peserta butuh pendampingan,” ucap Fairuzul. Dua bulan untuk lokakarya kali ini menjadi ketertarikan sendiri, dikarenakan adanya nilai pendampingan yang musti diperhatikan pada setiap acara workshop atau lokakarya.

Hal tersebut juga diakui menarik oleh Sita Magfira. Tidak hanya rentang waktu, hal yang menarik bagi Sita ialah karena hasil proses akhir peserta lokakarya dibukukan dan hal semacam ini patut diapresiasi.

Sita ikut terlibat pada awal perumusan lokakarya. Ia memperhatikan bahwa pada awal lokakarya ini terdapat kata “seni rupa” yang disematkan dalam judul Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa. Namun, ketika melihat buku yang telah para peserta susun, bahasannya menjadi lebih meluas dan beragam, tidak hanya pada seni rupa, misalnya film. “Ini bisa terjadi karena peserta punya ketertarikan spesifik personal yang mungkin tidak baik jika dipaksakan. Atau mungkin juga bisa terjadi karena proses lokakaryanya yang tidak terlalu ketat, sehingga para peserta tidak dikondisikan khusus mendekati ‘seni rupa’ pada proses lokakarya ini,” kata Sita. Walau demikian, Sita mengaku dengan adanya bahasan tulisan yang meluas dan beragam membuatnya menjadi tahu hal-hal yang belum ia tahu, misalnya menemukan beberapa seniman yang menurutnya belum pernah ia dengar namanya. Hal ini menjadi wawasan tambahan bagi Sita ataupun calon pembaca lainnya.

Secara personal, pada pembahasan mengenai karya dan seniman, Sita menemukan beberapa tulisan mengenai alasan yang cukup tidak jelas mengapa para peserta mengangkat karya atau tema tersebut. Akan lebih menarik lagi jika peserta bisa menjelaskan pernyataan yang cukup jelas mengenai tema yang diangkat. Di beberapa tulisan lainnya, Sita juga mengaku tidak menemukan rumusan masalah atau persoalan, sehingga mengakibatkan fokus dari tulisan peserta menjadi kabur.

Lisis sebagai moderator kemudian menanyakan mengenai kritik Buku Jejak pada Fairuzul dan Sita. Fairuzul memberi kritik perihal rencana pembuatan buku dari tulisan peserta lokakarya, ada baiknya apabila rencana ini diinformasikan kepada para peserta di awal masuk lokakarya. Fairuzul yakin, dengan demikian akan semakin memancing semangat peserta untuk berlomba menulis lebih bagus, sehingga mereka memiliki gairah menulis yang tinggi. Sita melanjutkan dengan menyarankan proses lokakarya ini ada baiknya ketika para peserta mengirimkan esai, mereka juga diminta untuk mengirimkan proposal tulisan yang akan ia hasilkan dari proses lokakarya, sehingga peserta memiliki bayangan akan menulis apa yang sesuai dengan tema. Sita juga mengkritik mengenai materi lokakarya yang dirasa tumpang tindih, khususnya pada judul “Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa.” Sita menanyakan apakah peserta akan dibekali praktik ataukah wacana. Jikalau keduanya, bagaimana agar hal tersebut tidak jadi hal yang melelahkan bagi peserta.

“Buku Jejak ini akan dijual dengan harga promo 75.000 rupiah. Hasil penjualan ini akan digunakan untuk menyelenggarakan lokakarya selanjutnya,” papar Lisis memberi jeda setelah diskusi. Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap karya tulis peserta lokakarya, membeli Buku Jejak sama halnya dengan berusaha memperkaya diri. Fairuzul menegaskan bahwasannya buku ini menjadi salah satu sumbangan para peserta bagi perkembangan seni rupa dalam perspektif personal yang sebelumnya dikenal menjadi sebaiknya dikenal. Sita dengan mantap menjawab jika buku ini tidak dibaca, tentunya calon pembaca tidak akan tahu bagaimana generasi muda memandang medan seni atau hal visual lainnya yang terjadi pada hari ini.

Terakhir, acara dilanjutkan dengan penandatanganan 11 peserta lokakarya pada Buku Jejak. Kemudian diakhiri dengan pemotongan tumpeng oleh Dewan Penasihat IVAA, Yustina Neni, serta doa yang dipimpin oleh Fairuzul Mumtaz.

“Berpikir jauh itu harus ada yang pertama. Jadikan sesuatu itu untuk menjadi yang pertama,” pesan Neni ketika menutup pengantarnya. Sesuatu yang pertama salah satunya telah terwujud pada pembuatan Buku Jejak yang kini telah diresmikan, sekaligus menjadi penanda satu langkah lebih dekat menuju Festival Arsip “Kuasa Ingatan”.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Q&A Festival Arsip

Tanya Jawab dengan Panitia Festival Arsip IVAA

Pewawancara: Martinus Danang (Peserta Magang IVAA)

Nama: Elia Nurvista
Tempat, Tanggal Lahir: Yogyakarta, 24 Januari 1983
Alamat: Perumahan Griya Surya Asri I blok G/3 Yogyakarta
Jabatan Panitia: Koordinator Program Edukasi Publik

  • Bagaimana persiapan dari Festival Arsip sejauh ini?
    Sejauh ini berjalan lancar, ya paling ada satu dua kendala adalah hal yang wajar tarik ulur kerja bersama orang-orang yang terlibat di satu perhelatan kan wajar dan justru dari situ kita bisa belajar bekerja dengan tim.
  • Bagaimana konsep yang ingin panitia tunjukkan dalam Festival Arsip?
    Yang ingin ditunjukan dalam festival bertajuk “Kuasa Ingatan” ini adalah pentingnya praktik pengarsipan di mana dari situ kita bisa melihat banyak hal lain; misal politik dan etika pengarsipan. Proses membaca arsip itu kan tidak lepas dari soal memilih dan membuang, mana yang penting dan mana yang tidak penting tergantung visi dan misi. Lewat festival inilah harapannya kita bisa membicarakan potensi praktik pengarsipan beserta dinamika-dinamika dan problemnya, yang semoga berguna baik untuk IVAA sendiri maupun pengarsip lain serta publik yang turut menggunakan arsip-arsip.
  • Apakah ada yang istimewa dari pagelaran Festival Arsip ini dibandingkan dengan festival yang lainnya?
    Mungkin tidak ada yang begitu istimewa tapi perlu dicatat bahwa festival ini penting! Pentingnya ya itu tadi, politik pengarsipan yang jelas dan punya visi misi akan membentuk identitas yang juga jelas. Selain itu  problem kurangnya ketersediaan arsip-arsip kita, sebagai negara bekas jajahan, misalnya lalu dari sini apa yang bisa kita lakukan bersama. Misal kita bisa mendefinisikan bersama-sama apa yang kemudian kita anggap sebagai arsip, yang secara umum masih banyak dibayangkan berupa sesuatu yang sangat tekstual.
  • Mengapa memilih arsip sebagai media untuk festival?
    Banyak yang bilang kerja-kerja pengarsipan adalah kerja yang sunyi dan tidak butuh di-spotlight, sehingga mungkin tidak banyak diapresiasi. Maka festival ini adalah salah satu cara menghargai kerja pengarsipan dan membawanya ke publik yang lebih luas.
  • Apa yang ingin dicapai dari Festival Arsip ini?
    Ada 2 hal yang ingin dicapai dalam Festsip ini. Minimal adalah menunjukan pentingnya kerja-kerja pengarsipan beserta dinamika didalamnya. Selain itu juga untuk saling mengenal, berjejaring, saling berbagi pengetahuan untuk orang-orang yang melakukan pengarsipan dalam berbagai skala dan jenisnya, juga saling kritis agar kerja pengarsipan semakin baik. Yang kedua, tujuan terbesar dari pameran arsip adalah agar publik bisa tergerak akan potensi arsip dan kemudian menggunakannya untuk berbagai kebutuhan dan pengetahuan.
  • Mengapa masyarakat perlu untuk datang ke acara ini?
    Pertama karena kita bisa melihat potensi arsip, misalnya dalam pameran utama di mana ada banyak karya seni yang berbasis arsip. Kemudian dari situ kita bisa bersama-sama belajar soal arsip, mulai dari mendefinisikan arsip hingga membayangkan dan berimajinasi fungsi pengarsipan dalam kehidupan kita.
  • Mengapa masyarakat perlu tahu tentang arsip?
    Arsip adalah sesuatu yang sangat dekat dengan sejarah. Dengan belajar sejarah, baik sejarah yang besar maupun dengan narasi kecil dan personal, tentunya kita bisa mengenal diri kita lebih baik. Bagaimana hal-hal yang mikro selalu menjadi bagian dari sejarah makro.
  • Apa pentingnya arsip seni budaya?
    Arsip seni dan budaya adalah sesuatu yang tertinggal dan tercatat dari peristiwa seni budaya. Pentingnya arsip ini ya tentu saja bisa kita jadikan alat belajar mulai dari hal yang besar seperti bagaimana dinamika seni budaya kita berjalan dari peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, hingga narasi kecil yang membentuk diri kita sekarang.
  • Ada apa dengan arsip seni budaya selama ini?
    Arsip seni dan budaya kita sangat banyak, meskipun saya dengar-dengar juga bahwa masih banyak peristiwa seni budaya yang tidak ada arsipnya, atau catatan-catatan tentangnya. Mungkin dulu praktek pengarsipan belum dianggap penting. Lalu dari arsip yang banyak itu, problem yang sering terdengar adalah arsip yang terbengkalai, tidak tahu mau diapakan, serta tidak tau ingin ditampilkan ke publik seperti apa. Dengan terus menerus menguji coba kerja-kerja pengarsipan, termasuk dengan menggunakannya kembali, saya pikir kita sedang bersama membenahi dan mencari bentuk yang ideal, yang tentu saja bukan kerja yang jangka pendek dan segera terlihat hasilnya.
  • Acaranya apa saja dari Festival Arsip ini dan tujuannya apa saja dari masing-masing acara?
    Ada Pameran Arsip dimana kita bisa melihat kerja-kerja artistik atau karya berbasis arsip, yang tujuannya agar publik bisa tergerak akan potensi arsip dan kemudian menggunakannya untuk berbagai kebutuhan dan pengetahuan. Ada Seminar Internasional di mana menjadi wadah untuk membicarakan isu-isu termutakhir dalam praktek pengarsipan secara akademis. Ada Pameran Komunitas sebagai tempat bertemu, berjejaring, dan belajar bersama para pelaku pengarsipan dari berbagai skala, institusi, dan bidang.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Menuju Festival Arsip: Cerita di Balik Lemari Arsip IVAA

Penulis:  Melisa Angela

Terhitung tinggal satu bulan lagi Festival Arsip akan dimulai. Tim Program sebagai penanggungjawab utama telah berjibaku melawan waktu yang semakin terasa cepat berlalu, merapatkan barisan, melancarkan strategi, bersiasat, dan tentu saja melihat kembali koleksi dokumentasi yang menjadi materi utama festival ini. Tak ketinggalan, Tim Arsip pun menjadi salah satu pilar dalam menentukan nyawa dari Fest!Sip. Sederet topik pilihan dan rangkaian pembacaan telah ditentukan, fungsinya sebagai pisau pilah, untuk menentukan mana yang menjadi ‘penting’ untuk ditampilkan dan mana yang tidak. Keberadaan pisau pilah ini tentu tidak dapat ditawar. Bila tidak, bagaimana kami akan memilah dan memilih arsip yang akan ditampilkan dari 10 juta berkas digital yang ada dan masih terus bertambah ini?

Pada era informasi saat ini, begitu mudahnya kita menciptakan data. Saat seseorang menulis, tak perlu lagi ia khawatir salah ketik, karena tinggal hapus dan ganti saja tulisan yang salah, revisi bisa dilakukan tak perlu membuang kertas selembar pun. Untuk mengirimkan sebuah dokumen tidak perlu repot untuk pergi ke kantor pos, langsung dikirim dari smartphone di tangannya pun bisa. Undangan pameran dalam sepersekian detik sudah sampai di puluhan kotak penerimaan alamat email yang dituju; di samping itu masih pula ia berkeliaran tidak keruan hingga muncul di notifikasi dan linimasa akun sosial media kita. Belum lagi kita membicarakan undangan yang muncul di layar smartphone tanpa menunggu persetujuan pemiliknya melalui aplikasi chat messenger.

Kami memang melakukan kerja-kerja dokumentasi acara seni setiap hari. Dengan kapasitas dan jangkauan yang kami miliki, akhirnya kami memang harus memilih acara seni mana saja yang direkam. Setelah melalui tahap seleksi, dalam setahun terkumpul sedikitnya 250 rekaman acara seni. Artinya jika dirata-rata, maka dalam 3 hari Tim Dokumentasi merekam 2 acara seni. Bila satu acara seni difoto sebanyak 50 frame, dan direkam sepanjang 1 jam, maka dalam setahun terkumpul 12.500 frame foto, dan 250 jam atau 10 hari 6 jam video. Padahal pada kenyataannya, lantaran menggunakan kamera digital, jumlah frame foto dan durasi video bisa jadi lebih banyak dari hitungan kasar. Kita asumsikan hitungan tersebut hanya dalam satu tahun. Sedangkan kerja pendokumentasian yang dilakukan IVAA dengan perangkat digital sudah berjalan sejak tahun 2005. Untuk mengetahui koleksi IVAA secara kasar, tinggal kita kalikan saja hasil hitungan kasar di atas dengan jumlah tahunnya. Belum lagi jika ditambah dengan data-data yang kami peroleh dengan cara lain, yakni kontribusi. Karena sejauh ini, beberapa seniman, keluarga, penulis, peneliti atau bahkan galeri dan komunitas banyak yang menyumbangkan dokumentasinya. Dan masih ditambah lagi dengan file hasil digitalisasi berkas-berkas kertas seperti kliping, katalog lama, majalah lama, poster, kaset audio, kaset video, slide presentasi dan film negatif yang dikumpulkan sejak awal mula IVAA berdiri.

Lalu bagaimana cara mengolah timbunan dokumen itu? Yang pertama kami lakukan adalah berusaha mengelolanya. Timbunan dokumen yang tidak terkelola bisa menjadi kesulitan besar, oleh sebab itu, untuk menghindarinya maka sejak dari awal kedatangan sebuah dokumen, ia harus tercatat. Jika ada yang penasaran apa sebetulnya kerja yang dilakukan oleh seorang pengarsip, maka jawabannya adalah mencatat. Catatan yang dimaksud ialah catatan yang tersistematisasi dan memiliki konsistensi yang kita sepakati. Apabila tiba waktunya menemukan dokumen yang miskin data, maka inilah yang disebut petaka bagi pengarsip. Dibutuhkan curahan energi spesial untuk melakukan siasat pencatatan dengan semangat ‘arkeologi’, sehingga catatannya akan lebih banyak mengisi kolom deskripsi, baik mengenai penampakannya maupun kontennya (bila berupa arsip tekstual). Catatan yang dibuat oleh pengarsip inilah yang di kemudian hari memudahkan pencarian dan menjadi semacam penunjuk arah bagi peneliti maupun pengarsip sendiri yang sedang membantu peneliti.

Dengan semangat keterbukaan akses, diseminasi, dan pertukaran pengetahuan, maka IVAA membuat sistem arsip dalam jaringan. Siapapun di manapun bisa membuka situs ini, bisa pula mengunduh dokumen-dokumen yang terkandung di dalamnya, baik berformat teks, audio, foto, maupun video. Bagi yang membutuhkan resolusi foto lebih besar, durasi video lebih panjang, maka mereka bisa menghubungi pengarsip, melalui prosedur tertentu. Lantas apakah artinya semua yang terkandung di situs archive.ivaa-online.org itu merupakan semua isi perut IVAA? Tentu tidak. Dengan jumlah arsip seperti yang digambarkan di atas, kerja pencatatan menjadi pekerjaan yang tidak mudah dan tidak singkat. Bila tidak percaya, bisa dibuktikan dengan cara mencoba melakukannya, kami selalu membuka lowongan pengarsip sukarelawan. Maka tak heran pengarsip IVAA lebih sering disibukkan mengumpulkan dokumen-dokumen untuk peneliti-peneliti yang menghubungi kami lantaran tak menemukan arsip yang dibutuhkan di arsip online IVAA yang disebut @rsipIVAA itu.

Pekerjaan pencatatan dan pelayanan yang begitu menyita waktu itu tidak melunturkan semangat pembacaan. Meski berbekal catatan yang belum sepenuhnya rapi dan mungkin belum cukup membantu, namun semangat membaca arsip terus kami hidupi. Salah satunya dengan menerbitkan buletin dan menggelar archive showcase sederhana setiap dua bulan sekali, dan yang paling akbar yang akan datang ini adalah serangkaian program dalam Festival Arsip dengan tajuk ‘Kuasa Ingatan’. Mengapa semangat pembacaan ini terus kami pompa? Karena tak urung kami yang berada paling dekat dengan arsip IVAA adalah yang paling paham dengan medan dan liku-likunya. Maka, apa salahnya jika kami terus hidupkan meski dengan cara yang sederhana dan jauh dari sempurna.

Meski demikian, di antara pekerjaan harian dan timbunan arsip tersebut tidak membuat kami merasa cukup. Banyaknya arsip yang kami kelola belumlah sebanding secara lengkap tentu jika berbicara dalam konteks sejarah seni rupa Indonesia. Sampai hari ini masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus dikerjakan, masih banyak area kegelapan yang miskin dokumen, bahkan miskin mitos dan gosip dalam perjalanan seni rupa kita. Percayalah, bahwa kita tidak sendiri. Di sekitar kita masih banyak yang memiliki daya dalam membukakan jalan di area-area yang masih gelap tersebut.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Juli – Agustus 2017.

Merajut Arsip Menyulam Penelitian

Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana*

Seorang perempuan muda dengan getol asyik membaca sambil menuangkan pikirannya ke dalam laptop pribadinya. Dia tampak asyik sendiri menuliskan banyak ide-ide yang dia dapatkan. Dengan luwes dan lincah jari-jarinya menari mengetikkan berbagai macam kata-kata dalam laptopnya. Dengan serius dia menyelesaikan penelitiannya dalam lokakarya ini. Dia adalah Annisa Rachmatika Sari (26 tahun) yang kerap disapa Nisa, salah seorang peserta lokakarya IVAA.

Tahun ini IVAA berecana mengadakan Festival Arsip atau FEST!SIP IVAA, yang bertajuk “Kuasa Ingatan”. Dengan tema yang digagas ini IVAA berharap dapat menekankan pada pentingnya ingatan dan masa lalu yang tergambarkan melalui arsip.

Dalam mempersiapkan FEST!SIP tahun ini IVAA secara khusus menyelenggarakan Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa. Lokakarya ini sendiri diadakan mulai bulan Mei-Juni 2017 yang lalu di Rumah IVAA. Antusiasme peserta yang mendaftar cukup banyak yakni 32 orang. Namun setelah proses seleksi, panitia meloloskan 13 orang untuk mengikuti lokakarya.

Tujuan dari lokakarya ini sendiri adalah untuk mengajak para peserta belajar melakukan penelitian di bidang seni budaya  dengan menggunakan arsip. Bahkan IVAA juga mengajak peserta untuk berkarya lewat tulisan-tulisan. “Sebenarnya saya ikut lokakarya awalnya ingin belajar nulis dan tertarik dengan kesenian secara khusus,” tutur Nisa.

Banyak dari peserta yang mengikuti program lokakarya IVAA ini berawal dari keinginan untuk belajar menulis. Apalagi dalam proses pembekalannya mereka dibekali langsung oleh Muhidin M. Dahlan yang kondang dalam penulisannya. Dari sana peserta diajak untuk menyalurkan ide-ide penelitian mereka lewat budaya tulis-menulis sehingga menghasilkan sebuah karya penelitian yang baik.

IVAA juga mengajak peserta lokakarya untuk menyentuh arsip sebagai sebuah bahan untuk penelitian. Sesuai dengan misi dan tujuannya di mana IVAA ingin mendekatkan arsip seni rupa sebagai bahan untuk belajar bersama. IVAA sendiri melihat arsip sebagai sebuah bahan yang paling penting untuk dihadirkan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga masyarakat tidak lagi memandang arsip sebagai benda yang asing yang disimpan dalam lemari dengan suhu yang rendah, namun arsip dihadirkan untuk dekat kepada masyarakat sesuai dengan tujuan lokakarya ini.

Lewat lokakarya ini para peserta diajak untuk bersentuhan dengan arsip dalam melakukan penelitian kesenian. Peserta diajak untuk menggunakan arsip sebagai sumber yang digunakan selama proses penelitian. Selain itu, dalam lokakarya ini peserta juga diajak untuk mengenali sistem pengarsipan ala IVAA, yang disampaikan dalam sesi metodologi pengarsipan seni rupa IVAA. Melalui lokakarya ini, IVAA berharap bisa melanjutkan upaya regenerasi serta melakukan persebaran ilmu dan gagasan yang mendukung produksi pengetahuan. Menariknya, banyak generasi muda yang cukup antusias dengan proses ini. Sehingga banyak pengalaman menarik yang bisa saling dipertukarkan.

Banyak keuntungan yang didapat dari penelitian dengan menggunakan arsip. “Dalam lokakarya ini saya meneliti tentang Ullen Sentalu, dengan menggunakan arsip ternyata didapatkan bahwa konstruksi bangunan Ullen Sentalu memiliki kepentingan tersendiri,” ungkap Nisa ketika menyelesaikan penelitiannya dalam lokakarya kemarin.

Bahkan Nisa beranggapan bahwa penelitian dengan menggunakan arsip sangat membantu sekali dalam penelitian. Arsip sebagai sumber yang sangat penting dalam melakukan proses penelitian. Sehingga dengan menggunakan arsip dapat mengobyektifkan berbagai permasalahan-permasalahan dalam penelitian. Inilah segelintir pengalaman dari Nisa salah satu peserta lokakarya dalam penelitiannya dalam menggunakan arsip.

Kini para peserta lokakarya telah menyelesaikan penelitiannya dan bersiap untuk mengorbitkan pengalamannya dalam penelitian berbasis arsip kepada khalayak umum. Lewat program lokakarya ini, IVAA berupaya agar arsip semakin dekat dengan masyarakat, yang bukan sebatas benda yang disusun secara rapi di lemari pendingin.


*Martinus Danang Pratama Wicaksana, (l.1995) mahasiswa asal Surabaya ini aktif berorganisasi sejak SMP. Di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pun ia aktif di Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Natas USD. Di Natas, ia mengawalinya dengan bertanggung jawab sebagai Redaktur Pelaksana hingga kini menjadi Pemimpin Redaksi. Martin memulai magangnya di IVAA pertengahan Juni ini selama dua bulan dan akan diperbantukan dalam Program Biennale Forum yang merupakan kerja sama IVAA-Biennale Jogja tahun ini.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Open Call: Volunteer Festival Arsip “Kuasa Ingatan”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kami mengundang teman-teman dan siapa saja yang tertarik terlibat dalam penyelenggaraan Festival Arsip “Kuasa Ingatan” IVAA, untuk mendaftarkan diri sebagai volunteer melalui formulir http://bit.ly/2re3EvP

Batas waktu pengumpulan: 30 Juni 2017.

> Posisi Volunteer yang kami tawarkan:
Liaison Officer
Documentation
Exhibition Guide

>Waktu Kerja Volunteer:
Festival Arsip “Kuasa Ingatan” akan berlangsung September – Oktober 2017. Jadwal kerja di Festival Arsip akan disesuaikan dengan pekerjaan dan rutinitas sukarelawan.

>Fasilitas yang didapatkan:
Pengganti uang transport
Sertifikat
Jejaring kerja yang luas
Pengalaman kerja

>Syarat menjadi Volunteer:
Berusia 20 – 30 tahun
Memiliki waktu luang min. 5 jam/hari
WNI, atau WNA fasih berbahasa Indonesia
Bisa bekerjasama dalam tim
Disiplin
Komunikatif

>Prosedur melamarkan diri menjadi volunteer Festival Arsip:
Mengisi formulir yang disediakan oleh Festival Arsip, link
Sertakan foto berwarna ukuran 3R, 8.0×12.7cm, atau 1051 pixel × 1500 pixel
Sertakan CV
Sertakan KTP
Sertakan Jadwal rutinitas (kerja, kuliah,kursus, dsb)

CP. Putri Alit Mranani  (0813-9286-2384)
e-mail: public@festivalarsip.id

Program Magang Dokumentasi – Festival Arsip 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Festival Arsip IVAA membuka peluang magang di bidang Dokumentasi, Desain, dan Pembuat Video Pendek

Kirim portfolio dan 3 (tiga) contoh karya terbaru sesuai bidang magang yang ingin diikuti ke program.festivalarsip@gmail.com paling lambat 5 Mei 2017

1. Dokumentasi
– Mahasiswa/Umum
– Mampu mengoperasikan kamera Foto (60D) dan Handycam
– Menguasi teknik dasar Fotografi dan Videografi
– Periode Magang minimal 1 (satu) bulan, mulai awal bulan Mei

2. Desain
– Mahasiswa/Umum
– Mampu mengoperasikan software desain (Photoshop, Corel Draw, Adobe Illustrator)
– Periode magang miniman 1 (satu) bulan, mulai awal bulan Mei

3. Shortclip Making
– Mahasiswa/Umum
– Mampu mengoperasikan software editing (Adobe Premier, Adobe Audition, Audacity, Adobe After Effect)
– Periode magang miniman 1 (satu) bulan, mulai awal bulan Mei

Usaha Menjaring Pengarsip dan Penulis Muda

Oleh: Sita Magfira

Sepanjang Februari sampai Maret 2017, IVAA membuka pendaftaran Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa. IVAA menerima 32 berkas pendaftar dari berbagai daerah (Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Solo, dan Mataram). Sejak 5 April kemarin, telah terpilih 15 orang peserta lokakarya. Peserta dipilih, khususnya, berdasar contoh tulisan yang mereka kirimkan. Seluruh rangkaian lokakarya ini akan dilangsungkan selama kurang lebih 2 minggu sejak Mei 2017. Selama masa lokakarya, para peserta bukan hanya mendapatkan materi terkait arsip dan pengarsipan seni rupa (praktik dan wacana tentangnya). Mereka juga akan mendapatkan materi-materi lainnya macam sejarah seni rupa, sejarah dan perkembangan sosial humaniora dan seni rupa, serta dasar-dasar penulisan. Selain itu, peserta akan diminta untuk melakukan penelitian mandiri dengan dampingan mentor. Sebagai gong dari pelaksanaan lokakarya, peserta akan diarahkan untuk melakukan kerja-kerja berbasis pengarsipan dan penulisan dalam persiapan Pameran “Kuasa Ingatan” Festival Arsip IVAA (Fest!Sip).

Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa pada dasarnya adalah salah satu rangkaian acara Fest!Sip. Fest!Sip digagas oleh IVAA sebagai usaha untuk memproduksi pengetahuan dan memancing gairah publik pada kerja pengarsipan. Format festival sengaja dipilih untuk menggerus pandangan soal arsip sebagai sesuatu yang kaku dan sangar. Arsip sudah seharusnya dimaksimalkan sebagai sesuatu yang tidak ajeg. Ia bisa diolah untuk memproduksi pengetahuan dan menjadi sumber inspirasi bagi karya/kerja kesenian dan kebudayaan. Sementara pengarsipan sendiri adalah praktik yang perlu ditinjau dan direfleksikan secara terus-menerus guna menemukan metodologi yang sesuai dengan semangat jaman dan kondisi masyarakat bekas jajahan macam Indonesia.

Mengamati dinamika medan sosial seni rupa Indonesia dalam beberapa tahun ke belakang, lokakarya sebenarnya bukanlah hal yang baru. Beberapa institusi selain IVAA telah melakukan inisiatif serupa, bahkan sudah dalam kurun waktu yang cukup lama. Yang membedakan, IVAA secara khusus mengintegrasikan penulisan seni rupa berbasis arsip dan pengetahuan dasar pengarsipan dalam lokakaryanya. Sebagai institusi yang fokus pada arsip dan pengarsipan, IVAA hendak mengenalkan praktik dan wacana terkait arsip dan pengarsipan lewat lokakarya ini, khususnya kepada generasi muda. Dalam lingkup yang lebih luas, IVAA melihat adanya kebutuhan akan tenaga baru sebagai pengarsip dan penulis seni rupa di Indonesia. Lokakarya ini diharapkan bisa jadi wadah bagi munculnya individu-individu baru dalam praktik tersebut. Kehadiran individu-individu baru dalam praktik pengarsipan dan penulisan seni rupa diharapkan bukan saja membuat medan sosial seni rupa Indonesia jadi makin dinamis tapi juga makin segar dan berkualitas.


Sita Magfira (l.1991) adalah kurator paruh waktu, tergabung dalam komunitas Ketjil Bergerak dan Lifepatch. Pada tahun 2014 Sita terpilih menjadi satu dari tiga peserta yang lolos workshop kuratorial yang diselenggarakan oleh Japan Foundation untuk kemudian mengikuti Next Generation Curators of Southeast Asia Program di Jepang. Proyek seni terakhirnya antara lain “Jinayah Sisayah” dan pameran “Arus Bawah”.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2017.

Pengumuman Peserta Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masa seleksi peserta Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa telah berakhir. Dengan demikian tim Lokakarya Festival Arsip mengumumkan peserta yang terpilih, sebagai berikut:

Aam Endah
Alwan Brilian Dewanta
Annisa Rachmatika Sari
Arga Aditya
David Ganap
Evan Sapentri
Hardiwan Prayogo
Ignatia Nilu
Isma Swastiningrum
Izzatul Kamilia
Muhammad Irvan
Prashasti Wilujeng
Rio Raharjo
Sadida Inani
Tri Wahyudi

Tim Lokakarya akan mengirimkan agenda kegiatan pada setiap peserta. Tunggu update informasi dari kami. Terima kasih!

Salam,
Tim Lokakarya Festival Arsip

 

Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa

Dibuka!
Pendaftaran lokakarya penulisan dan pengarsipan seni rupa

Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa merupakan salah satu rangkaian kegiatan Festival Arsip (FestSip) IVAA yang berlangsung tahun 2017.  Dalam lokakarya ini, peserta akan dibekali dengan materi-materi terkait pengarsipan seni rupa (praktik dan wacana tentangnya), sejarah seni rupa Indonesia, teknik penulisan, serta pendampingan dalam proses penelitian dan penulisan berbasis arsip seni rupa. Kelak, peserta yang telah mengikuti seluruh rangkaian lokakarya akan dijadikan kolaborator/pendamping seniman partisipan pameran FestSip IVAA. Untuk jangka panjang, peserta lokakarya ini diharapkan bisa menjadi individu-individu baru dalam praktik pengarsipan dan penulisan seni rupa serta menjadi bagian dari dinamika seni budaya Indonesia.

Persyaratan

  • Peserta berusia 23 – 35 tahun
  • Memiliki ketertarikan terhadap dunia seni dan budaya
  • Memiliki ketertarikan terhadap dunia penulisan, pengarsipan, dan penelitian
  • Mengirimkan CV dan satu esai dengan tema terkait seni dan budaya minimal 1000 kata
  • Pendaftar yang terpilih bersedia membayar biaya lokakarya sebesar Rp 150.000,-
  • Bersedia mengikuti seluruh rangkaian program lokakarya penulisan dan pengarsipan selama 6 minggu di Yogyakarta

Ketentuan Lain:

  • Pendaftaran dibuka sampai tanggal 24 Maret 2017 pukul 24.00 WIB. Berkas-berkas terkait sila dikirimkan ke lokakaryaarsip@gmail.com
  • 10 peserta terpilih akan dihubungi melalui surel dan diumumkan di website dan sosial media IVAA

 

Narahubung : Sita (0822 2013 0610)
lokakaryaarsip@gmail.com

Kontekstualisasi Arsip, Redefinisi Seni dan Politik

Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sekira kurang dari satu semester, tim program IVAA tengah menyiapkan katalog data dengan tema Seni, Aksi, dan Jogja sebagai Ruang Urban. Buku Katalog Data IVAA ini disusun dari berbagai peristiwa seni budaya yang mengiringi berubahnya arah gerak kota Jogja pasca 1998. Penyusunan buku ini dilatarbelakangi dengan semangat untuk menggarisbawahi beragam aksi seni budaya yang mengambil bagian cukup penting dalam kritik sosial serta produksi pengetahuan. Selain itu, penerbitan ini juga merupakan usaha untuk melakukan kontekstualisasi data dan peristiwa, dengan menarik pembacaan ke ranah persoalan.

Persoalan yang dimaksud di sini ialah berbagai hal yang hadir ketika kota ini sedang digerakkan menuju standar tertentu, seperti standar kota global ataupun untuk mengejar predikat tertentu, sebagai kota wisata budaya dsb. Tepat ketika Yogyakarta sedang digerakkan ke arah tertentu, berbagai respon kreatif juga hadir mewarnai, baik yang datang dari kelompok seniman maupun inisiatif warga. Subjek seni disini juga sengaja kami longgarkan, untuk memeriksa berbagai model kolaborasi yang selama ini sering disebut sebagai metode yang terbuka.

Kehadiran buku katalog data ini kelak akan dijadikan pijakan narasi untuk festival Arsip IVAA yang akan dihelat di jelang penghujung tahun ini. Harapannya, tujuan dan maksud yang menjadi spirit kami untuk menghidupkan arsip sekaligus membuat kerja pengarsipan kontekstual dengan jaman juga tetap terjaga. Selain untuk melakukan kontekstualisasi atas berbagai aksi seni dan budaya yang selama ini dilakukan selama hampir dua dekade pasca 1998.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.