Category Archives: E-newsletter

Archive Showcase: Jejak Kesenian di Malioboro

Berlangsung 11 Juli – 4 September 2017
di RumahIVAA

Archive Showcase kali ini ingin menampilkan jejak-jejak kesenian di Malioboro, mengingat pada tahun 1970-an Malioboro banyak berperan sebagai rumah kesenian di Yogyakarta. Konon, Malioboro adalah rumah kedua atau ruang belajar seniman setelah ISI. Hingga hari ini, Malioboro masih juga menjadi ruang ekspresi bagi kesenian di Yogyakarta. Apa yang menjadi daya Malioboro hingga ia mampu menjadi ruang hidup kesenian di Yogyakarta? Berangkat dari pertanyaan tersebut, kami mencoba mengumpulkan arsip-arsip IVAA dengan harapan melalui seni kita bisa melihat kembali bagaimana kondisi atau posisi Malioboro sebagai denyut seni di Yogyakarta.

Melihat rangkaian sejarahnya, Malioboro memiliki daya negosiasi yang terkondisikan sejak abad ke-10. Sebagai jalan utama kerajaan ia banyak menjadi ruang kegiatan seremonial. Pada masa kolonial, Malioboro pun hidup sebagai ruang diplomasi, memfasilitasi agenda-agenda pertemuan Kesultanan dengan pejabat-pejabat Eropa. Semangat ini masih bisa kita rasakan hingga periode 90-an. Apalagi setelah Senisono diaktifkan sebagai ruang seni di tahun 60-an dan seni mulai hidup di wilayah Malioboro, kita bisa melihat bagaimana seni pun menjadi moda negosiasi masyarakat Yogyakarta. Seperti misalnya Panggung Solidaritas yang digelar  oleh Teater Jiwa atau happening art “Aksi Cinta Kasih” di tahun 1990-an, sebagai respon atas rencana pemerintah dalam menghancurkan Senisono.

 Namun di tahun 2000-an, Malioboro mulai kehilangan karismanya. Pengembangan Malioboro menjadi wilayah bisnis mempengaruhi pola interaksi di dalamnya. Logika kapling menjadikan publik melihat lahan Malioboro sebagai ruang investasi. Sehingga yang menjadi masalah bukan hanya kondisi ruang bersama yang semakin minim, tapi juga masyarakat yang semakin individualis, memikirkan ruang personal di ruang publik bernama Malioboro. Pun jikalau ada, negosiasi terjadi bukan karena tiap individu memahami posisinya masing-masing melainkan sebuah bentuk kewaspadaan satu terhadap yang lainnya. Di sinilah seni mengambil posisi dan mencari celah, menjadi cara negosiasi yang tanpa syarat dan kewaspadaan. Seperti yang dilakukan oleh teman-teman komunitas Malioboro (COMA) atau komunitas Pinggir Kali (Girli), melalui kegiatan tahunan seperti Apeman dan Gelar Kreativitas Girli. Dari sana mereka berdialog dengan masyarakat untuk membangun Malioboro menjadi ruang yang lebih cair. Persis seperti apa yang sastrawan Umbu Landu Paranggi pernah paparkan, bahwa mau dijungkir-jempalikan seperti apapun, kondisi Malioboro bergantung pada manusia yang menghidupkannya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Sorotan Pustaka | Mei – Juni 2017

1. Sanggar Melati Suci (1974 – 1994)
Oleh: Santosa

Judul Buku: Sanggar Melati Suci (1974-1994)
Redaksi: A.Hari Santosa, Drs. Rakhmat Supriyono, St Nyoman Sigit, Asbiyantoro
Halaman: 98
Tahun Terbit: 1994
Penerbit: Sanggar Melati Suci

Sanggar Melati didirikan tahun 1979 sebagai sanggar lukis bagi anak-anak. Pendirinya adalah A. Hari Santosa, Moralistyo, dan Wahyu Hardianto. Beberapa pameran yang diikuti dan prestasi yang telah dicapai sanggar Melati Suci di ceritakan dalam halaman awal dalam buku ini.

Buku ini diterbitkan di tahun 1994, bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Sanggar Melati Suci yang ke-15. Buku ini merupakan bunga rampai yang ditulis oleh beberapa penulis baik yang berasal dari kalangan seniman maupun akademisi, dalam tujuan saling mempertukarkan pengetahuan dan pengalaman tentang situasi pendidikan kesenian usia TK dan SD di Indonesia dan sekaligus mengajak kita memikirkan berbagai skenario usaha peningkatan mutunya.

Buku ini berusaha disusun berdasarkan klasifikasi masalah dan urutan artikel yang membahas kiat-kiat, jurus-jurus, maupun telaah cara pendidikan kesenian. Walaupun ada beberapa artikel yang terulang atau hampir sama sebut saja di halaman 31 dan 39 tentang gaya corat-coret pada periodisasi anak usia 2-4 tahun.

Bagian selanjutnya berisi catatan-catatan tentang data penyelenggaraan lomba seni lukis anak-anak tahun 80-an khususnya di Jakarta. Fakta menarik yang dipaparkan di sini adalah bahwa jumlah peserta lomba lukis anak-anak yang diselenggarakan di tahun 80-an senantiasa mencapai angka yang fantastis. Di tahun 1982 misalnya, sekitar 20.000 karya anak-anak masuk ke meja panitia. Sayangnya tidak ditemukan data untuk kota-kota lain di Indonesia. Buku ini juga mencurigai adanya sebuah kencenderungan bahwa dunia seni lukis anak dieksploitasi sebagai komoditas. Dengan mengampanyekan seni lukis sebagai media pengembangan kreativitas anak, sekaligus sebagai sarana hiburan bermanfaat “pebisnis lomba seni lukis anak” lantas menata taktik untuk meraup keuntungan.

Anak-anak belajar melukis ternyata sudah merupakan barang lama di Indonesia. Di Museum Sono Budoyo tersimpan segepok lukisan anak-anak bertarikh 1939 dan 1959. Di tahun 1978 ada pameran 84 buah lukisan anak-anak yang telah 29 tahun di simpan oleh gurunya, Dullah. Kemunculan sanggar-sanggar lukis anak ditengarai sejak tahun 1970-an dan tumbuh subur pada dekade berikutnya. Tercatat pernah ada 30 sanggar lukis anak hanya di wilayah DIY saja. Dari data itu lantas muncul pertanyaan, ke manakah sekarang pelukis-pelukis cilik itu?

2. Decade for Culture of Peace and Non-Violence for The Children of The World 2001-2010
Oleh : Prastica Malinda

Judul buku : “Decade for Culture of Peace and Non-Violence for The Children of The World 2001-2010”
Kurator : A. Agung Suryahadi dan M. Dwi Marianto
Artistik : Basuki Sumariono
Diproduksi oleh : PPPG Kesenian Yogyakarta Vedac, Yogyakarta
Tahun terbit : 2006

Ketika melihat lukisan anak-anak, yang terbayangkan adalah dua gunung dengan matahari di sela-selanya dan di ujugnya terdapat jalan menurun ataupun persawahan yang terkadang dilengkapi rumah atau pohon kelapa. Pola ini seperti pada umumnya terbentuk sejak anak-anakmulai mengenyam bangku sekolah dasar. Barangkali pola ini ada lantaran para guru pendidikan kesenian pun memiliki pola yang sama..

Dalam buku berjudul “Decade for Culture of Peace and Non Violence for The Children of The World 2001-2010,” kita bisa menjumpai lukisan anak-anak dari berbagai negara anggota Unesco. Khususnya yang menjadi peserta pameran lukisan anak berjudul sama, yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta, pada 11-17 November 2006. Gambar-gambar atau lukisan yang dihasilkan oleh anak-anak peserta pameran ini merefleksikan bagaimana kehidupan mereka sehari-hari di negaranya masing-masing. Dari mengamati lukisan-lukisan tersebut, saya melihat betapa besar daya imajinasi dan kreatifitas anak-anak. Anak-anak itu memiliki konsep tersendiri yang jujur dan unik. Mereka juga sudah mampu memadupadankan warna dan berani bermain dengan warna-warna cerah, sehingga menjadi satu lukisan atau gambar yang hidup dan memiliki cerita.

Melihat lukisan para peserta dari Indonesia kita bisa langsung mudah saja terhubung dengan kondisi nyata anak-anak Indonesia. Menarik ketika mengamati karya anak-anak dari Paraguai yang menggambarkan situasi konflik atau peperangan mencekam, namun di lukisan lain mereka ingin memperlihatkan  betapa tabahnya orang-orang Paraguai melalui lukisan matahari yang tersenyum berwarna cerah.

Anak-anak selalu mengisyaratkan kejujuran melalui lukisan, tetapi banyak orang tua abai atas kondisi tersebut. Perlu adanya dukungan dan pendekatan lebih dari orang tua terhadap anak-anaknya termasuk pada aktivitasnya saat melukis untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri mereka.

3. Aditya Novali
Oleh: Prastica Malinda

Judul buku : Aditya Novali
Penyunting : Agus Darmawan T.
Penerbit : Yayasan Seni Rupa AIA, Jakarta
Tahun terbit : 1996
Dicetak oleh : Graphos Prima, Jakarta

Buku setebal 99 halaman ini menjelaskan tentang bagaimana gaya lukisan Aditya Novali kecil menjelma menjadi Aditya Novali remaja. Buku ini terdiri dari 14 halaman uraian, dan di 85 halaman berikutnya kita bisa menjumpai kumpulan foto karya Aditya Novali.

Pada bagian uraian terdapat narasi pengantar yang ditulis oleh pengamat seni rupa, Agus Dermawan T., di situ ia bercerita soal perjalanan karir melukis Aditya Novali semenjak seniman itu masih kanak-kanakhingga beranjak remaja. Disusul kata pengantar dari Direktur Eksekutif penyelenggara. Selain itu beberapa pihak lain sebutlah sederet nama pelukis hingga pengajar seni pun juga ikut memberikan kata sambutan terhadap karya lukisan Aditya Novali

Gaya lukisan Aditya Novali tak jauh dari kegiatan sehari-hari. Kemampuan melukisnya dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Perubahan-perubahan tersebut bisa dilihat semasa ia kecil hingga beranjak dewasa. Semasa kecil, lukisan Aditya Novali banyak dipengaruhi tema religi, budaya, dan wayang. Aditya Novali kecil memang gemar mendalang, ini yang banyak mempengaruhi gaya lukisannya.

Saat memasuki usia remaja, lukisan Aditya Novali mengajak kita kembali pada ingatan indah pada masa kecil yang secara ironis telah berubah. Di satu sisi terdapat pemandangan yang indah permai, namun di sisi yang lain terlihat adegan kekacauan masyarakat yang ketakutan. Seperti karyanya yang berjudul “Banjir” (1985). Ada pula lukisan yang menggambarkan gelapnya peperangan, seperti dalam lukisan berjudul “Karya Tanding” dan  “Arjuna Wiwaha”, dua lukisan pewayangannya yang ia lukis pada tahun 1989, dan sisi lain kita bisa melihat sisi religius Aditya Novali pada lukisan-lukisannya berjudul “Yesus Naik Ke Surga”,dan “Yesus Memanggul Salib” yang ia hasilkan pada tahun 1983.

Buku ini menceritakan perjalanan seni Aditya Novali sejak ia kecil hingga beranjak remaja, terangkum rapi dalam semacam katalog ini. Membaca buku ini terbilang tidak memakan waktu lama karena buku ini lebih banyak terdiri dari foto-foto karya. Namun saya mengalami sedikit kesulitan untuk memahami beberapa karya Aditya Novali, karena tidak ada penjelasan yang menyertai setiap lukisannya. Meski lukisan Aditya Novali cukup mudah dipahami dengan mengamati obyek apa yang ia lukiskan, namun bagi orang yang awam dengan dunia seni lukis seperti saya, teks penjelasan barangkali akan membantu saya memahami lukisan tanpa harus mengerutkan kening terlalu lama.


*Prastica Malinda Putri (l.1991) adalah lulusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia. Linda magang di IVAA atas inisiasi pribadi, bukan karena kewajiban dari pihak kampus. Dan ini bukan kali pertama Linda menjadi sukarelawan, karena ia pernah juga melakukannya untuk Greenpeace. Di luar itu ia memang suka berkegiatan, terlibat pada penyelenggaraan acara seni dan pensi juga tidak hanya sekali dilakoninya. Sejak awal Mei lalu, Linda tekun membantu kerja pengelolaan koleksi pustaka IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Berbagi Pengetahuan dalam Pelatihan di Perpustakaan ISI Surakarta

Oleh: Melisa Angela

Pertengahan Mei lalu IVAA mendapat undangan dari ISI Surakarta, lebih tepatnya dari UPT Perpustakaan kampus, yang dulunya bernama STSI Surakarta itu. UPT Perpustakaan yang setiap tahun memiliki program pelatihan, pada tahun ini mengangkat persoalan budaya digital dan teknologi informasi yang kini tak pelak menjadi dunia yang kita hadapi dan hidupi. Perpustakaan, sebuah tempat di mana sekumpulan buku dan dokumen disimpan untuk kemudian ditemukan oleh pihak yang memerlukan referensi ataupun bukti penguat dalam penelitiannya tidak juga terhindar dari rambahan budaya digital ini. Maka dari itu, supaya bisa menggunakan kemudahan dan alih-alih terjegal oleh kemajuan teknologi ini, tidak ada cara lain daripada menguasainya secara teknis serta memahami konsep-konsep dasarnya.

Pelatihan berjudul “Pengemasan Audio Visual sebagai Bahan Informasi Digital di Media Sosial” ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan kemajuan infrastruktur teknologi informasi kepada para pustakawan, baik yang bekerja di UPT Perpustakaan ISI Surakarta, maupun yang dari luar lingkungan kampus tersebut; juga kalangan umum yang tertarik memperdalam pengetahuannya tentang hal ini.

Di acara ini IVAA diundang sebagai pembicara di hari kedua pelatihan yang berlangsung 16-17 Mei 2017 tersebut. Di hari pertama, pelatihan dipandu oleh Pascalis PW., seorang ahli media/multimedia yang berkecimpung di bidang promosi dan pengembangan brand perusahaan. Sedangkan IVAA dipercaya untuk memberikan pengantar mengenai manajemen pengelolaan dokumen audio visual, hingga teknik-teknik dasar dalam membangun sistem temu kembali (retrievel system) yang baik. Kami pun menyambut baik undangan ini, sebagai kesempatan berbagi pengetahuan dari pengalaman kami mengelola arsip IVAA selama ini. Dwi Rahmanto dan saya bertandem untuk mengisi materi pelatihan di hari kedua, penyampaian saya lebih pada dasar-dasar pembangunan sistem temu kembali dengan mengenalkan konsep-konsep dasar mengenai database, diagram konteks, dan diagram relasi antar entitas. Sedangkan Dwi Rahmanto lebih membahas penyimpanan materi audio visual dan pengemasannya secara sederhana menggunakan aplikasi-aplikasi yang dapat dipasang di telepon pintar.

Pelatihan yang kebanyakan pesertanya adalah staf dari instansi perpustakaan dan pengarsipan pemerintahan maupun swasta ini berjalan dengan baik, kendati acap kali terhambat koneksi internet yang tersendat-sendat. Namun pada dasarnya para peserta mendapatkan gambaran tentang pengelolaan berkas audio visual elektronik. Perbincangan pun masih berlanjut di luar forum resmi setelah pelatihan berakhir.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Pameran Kartunis GM Sudarta “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom”

Oleh: Dwi Rahmanto

Siapa tidak kenal dengan sosok yang mengenakan jas bertambal, dengan topi golf di kepalanya, yang berbicara dengan balon-balon kata mengenai kondisi sosial yang sedang berlangsung di Indonesia? Ialah Oom Pasikom, yang kehadiran pertama kalinya dimuat di Harian Kompas pada April 1967.

Sampai kini terhitung 50 tahun sudah ia konsisten muncul di harian yang terbit berskala nasional itu. Pada 9-15 Mei 2017 Bentara Budaya Yogyakarta memamerkan karya-karya terpilih GM Sudarta, dengan tajuk pameran “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom.” Di pameran ini dipajang 120 edisi kartun Oom Pasikom yang merupakan hasil seleksi dari semua yang pernah diterbitkan sejak 1967 hingga 2017.

Keseluruhan karya yang sudah diterbitkan sejak tahun 1967 hingga 2017 sudah mencapai 120 edisi. GM Sudarta lahir dengan nama Gerardus Mayela Sudarta, namun setelah berganti keyakinan ia mengubah namanya menjadi Gafur Muhamad Sudarta. Beliau lahir di Klaten, Jawa Tengah, 20 September 1945. Usai menamatkan SMA di Klaten, tahun 1965 ia meneruskan pendidikan ke ASRI Yogyakarta. Meski GM Sudarta sangat identik dengan karya kartun Oom Pasikom, pada mulanya beliau rajin sekali melukis. Sudarta juga pernah menjadi kartunis di majalah Merah Putih, Jakarta 1966. Di tahun yang sama, beliau bekerja sama dengan Pramono merancang diorama Monumen Nasional. Ia juga ikut andil dalam desain pembangunan Monumen Pahlawan Revolusi Lubang Buaya.

Bagai terlepas dari belenggu, kartun Oom Pasikom semakin kritis sejak Orde Baru berakhir. Pandangan dan ide segarnya bercampur dengan celetukan khas, menjadi cerminan dari situasi yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tinggal di Indonesia, menurut Sudarta, ibarat hidup di tengah pasar malam. Ada sandiwara, ada sirkus, ada dagelan, dan sebagainya. Menurut beliau kehidupan sekarang seperti sebuah dagelan, kendati pun terkadang sangat menyedihkan. Kartun sendiri bagi Sudarta menjadi salah satu media kritik yang sangat efektif. Menurut Sudarta, kartun harus bisa mengukir senyum supaya pihak yang dikritik tidak marah. Dalam hal ini kartun digunakan sebagai upaya perbaikan di ranah sosial.

Saat ini GM Sudarta lebih banyak tinggal dan berkarya di Klaten, Jawa Tengah. Pameran ini menurutnya penting sebagai kilas balik sejarah dan perjalanan politik Indonesia. Menyaksikan pameran ini menyadarkan kita bahwa ada peristiwa yang dulu sudah terjadi, yang kini berulang, lagi dan lagi.

| Klik disini untuk melihat video |


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#SorotanArsip | Dinamika Festival Kesenian Yogyakarta Tahun 1989-2013

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2013 lalu, dalam rangka pembuatan buku “25 Tahun Festival Kesenian Yogyakarta: Refleksi, Retrospeksi, Reposisi,” IVAA mendapatkan banyak sekali arsip terkait Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Total 10.335 berkas digital terkumpul dan terarsipkan di IVAA. Arsip-arsip tersebut terdiri dari foto, video, audio, kliping media massa, poster, undangan, proposal terkait FKY sejak tahun 1989 sampai 2013. Selain merupakan koleksi dokumentasi IVAA, arsip lainnya diperoleh dari berbagai sumber diantaranya; Taman Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Komunitas Gayam 16, Keluarga Bagong Kussudiarjo, Dewan Kesenian Yogyakarta, Panitia FKY, Arief Sukardono, Timboel, Aji, dan Bambang Paningron.

Daftar inventaris arsip Festival Kesenian Yogyakarta dari 1989-2013 dapat dilihat dalam tabel berikut: http://bit.ly/arsipfky. Untuk mendapatkan file-file arsip FKY, silakan menghubungi alamat surel Arsiparis IVAA, archive@ivaa-online.org.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Bioscil 10: Berkunjung ke Dipowinatan

Oleh: Putri Ratna

“Bioscil” merupakan kependekan dari bioskop kecil dan keliling. Layaknya bioskop namun dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kecil yang juga dimaksud di sini menunjuk pada segmen publik yang ingin dilibatkan, yakni anak-anak. Keliling merupakan salah satu konsep yang ditawarkan Bioscil, yang pada mulanya dimaksudkan untuk memfasilitasi penonton usia anak di lokasi yang jauh dari bioskop.

Sebagai ruang alternatif menonton film, Bioscil diinisiasi oleh duo seniman asal Yogyakarta yaitu Hindra Setya Rini (Hindra) dan Rifqi Mansur (Kiki) sejak akhir tahun 2011. Selain sebagai ruang alternatif menonton film-film pendek yang inspiratif, harapannya Bioscil dapat memfasilitasi proses pertemuan kreatif dan interaktif anak-anak dan remaja.

Berawal dari banyaknya anak-anak dari Dipowinatan dan sekitar Rumah IVAA yang sering main game online melalui telepon pintar mereka dengan memanfaatkan wifi IVAA, beberapa orang dari IVAA kemudian terpancing untuk membuat pemutaran film dengan tema yang dekat dengan dunia anak, termasuk soal game online. Pada 18 April 2017 lalu, Bioscil singgah di Rumah IVAA dengan memutarkan dua buah film yang berjudul “Ayo Main” garapan Bambang ‘Ipoenk’ KM dan “Singsot” garapan Wahyu Agung Prasetyo.

Melalui program Bioscil ini, IVAA berupaya mendekatkan diri pada warga sekitar, terutama anak-anak yang sering datang di Rumah IVAA, namun minim interaksi.  Selain sebagai ruang apresiasi, program ringan semacam ini utamanya menekankan pada indahnya interaksi.


*Putri Ratna Dewi Werdiningsih, mahasiswa angkatan 2013 Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang banyak terlibat kegiatan kemahasiswaan di kampusnya; antara lain tergabung dalam Komunitas Lensa 18, Paduan Suara Miracle Voices V, dan Kampung Komunikasi. Dalam magangnya di IVAA sejak awal Maret hingga akhir Mei 2017, Putri membantu kerja pendokumentasian kegiatan seni dan pengelolaan hasil dokumentasi.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Musrary bersama Umar Haen

Oleh: Padma Kurnia

Dalam sembilan lagu yang dibawakannya bersama Arok (nama pemain perkusinya), terlihat berbagai usahanya dalam mengolah tema-tema seputar usia dan waktu.  Petikan senar gitar yang menenangkan mampu menggambarkan kegentingan dari pesan-pesan yang hendak dimunculkan. Umar Haen, solois berambut gondrong ini mengungkapkan bahwa lagu bisa menjadi ‘kulkas emosi.’

Beberapa kisah dimunculkan Umar Haen dalam lagu “Racau di Malam Kacau” dan “Tentang Generasi Kita.” Para penonton yang hadir di RumahIVAA diajak untuk mengingat kampung halaman masing-masing melalui “Kisah Kampungku”, sambil mengintip kampung halaman Umar di Temanggung yang terekam dalam sebuah video pendek.

Anak-anak muda di desanya tidak banyak yang mau tinggal lalu menggarap sawah. “…jadi memang di kampung saya itu, hampir sebagian besar pemuda yang sudah lulus sekolah itu impiannya adalah untuk merantau…” ungkapnya. Sejauh ini Umar belum pernah menemukan pemuda di desanya yang ingin meneruskan bekerja di sawah.

“Kisah Kampungku” juga memuat penggalan kelam program transmigrasi Orde Baru yang berdalih pemerataan pembangunan. Akibatnya, merantau kian membudaya. Pada saat yang bersamaan, generasi di atasnya dibungkam dengan program pangan Orba. Dalam lagu yang berjudul “Nasihat Kakek; Jangan Jual Tanahmu”, Umar teringat akan wejangan kakeknya untuk tidak menjual tanah warisan dan menganggapnya sebagai pamali.

Sebagai lagu penutup, Umar menafsir bagaimana mahasiswa tumbuh di Yogyakarta dengan lagu berjudul “Di Jogja Kita Belajar”. Sembilan lagu yang Umar bawakan merupakan materinya di album pertama yang rencananya rilis setelah Ramadhan.

Hampir semua lagu Umar ciptakan di sepertiga malamnya karena dia merasa waktu itu adalah waktu di mana semua pikiran; ingatan, emosi, dan kegelisahan dipertajam. Musik metal menjadi inspirasi Umar dalam menciptakan lagunya. Tak hanya itu Umar pun punya saluran Youtube favorit yang bisa menginspirasinya pula. Sedangkan untuk inspirasi lirik, Umar banyak mendapatkannya dari buku.

Mendengarkan komposisi musik dan lirik lagu-lagu Umar malam itu, tidak heran jika sudah banyak yang menunggu albumnya. “Semua karya saya memang saya ciptakan di sepertiga malam saat semua orang sudah terlelap. Semoga habis lebaran nanti bisa terealisasi,” ungkap Umar sebagai kalimat penutup pertunjukannya malam itu.

| klik disini untuk melihat video |


*Wahyu Padma Kurnia, (l.1995) mahasiswa kelahiran Kota Tulungagung ini jauh-jauh datang ke IVAA khusus untuk magang. Ia adalah mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Negeri Malang angkatan 2013. Magangnya dimulai pertengahan Mei lalu hingga dua bulan ke depan. Kurnia membantu kerja Tim Dokumentasi, terutama dalam kerja dokumentasi kegiatan seni dan pengolahan file video dan foto.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H | EID MUBARAK!

Pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta V Tahun 1993. Koleksi Taman Budaya Yogyakarta.

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Menyambut Idul Fitri, IVAA akan tutup pada 23 Juni 2017,
dan akan kembali buka pada 3 Juli 2017

Salam hangat,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wish you

Happy Eid 1438H

Welcoming the feast of Eid, IVAA will be closed from the 23th of June 2017
and will be back to operations on the 3th of July, 2017.

Warm regards,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)


Artikel ini merupakan Rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Maret-April 2017

Ilustrasi GIF oleh Irindhita “Ayash” Laras Putri

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Maret-April 2017

Yogyakarta dan Dinamika Ruang Perupa

Pembaca yang budiman, buletin dwi bulanan IVAA kali ini menyapa kita semua dengan beberapa ulasan serta laporan yang merekam berbagai gelaran seni rupa di sekitar kita.

Ulasan yang hadir melalui Rubrik Baca Arsip di edisi ini mengetengahkan soal dinamika ruang seni, terutama yang diinisiasi oleh para perupa. Penelusuran yang dilakukan oleh tim riset IVAA diawali dengan berbagai rasa penasaran, seperti; kaitan perkembangan ruang dan gejolak pasar (boom pasar lukisan), perluasan pasar hingga ke ruang individu, juga soal pengelolaan ruang, kebutuhan publik dan perluasan kawasan yang disebut ‘kota’. Di kisaran itulah percakapan-percakapan bergulir dengan para pemilik ruang yang secara khusus didatangi oleh tim riset. Selain hadir melalui ulasan dalam buletin ini, berbagai jejak yang menunjukkan dinamika ruang seni rupa di kota Yogyakarta ini juga dihadirkan melalui pameran sederhana yang setiap dua bulan menyertai munculnya buletin ini, yakni Archive Showcase yang digelar di salah satu pojok di RumahIVAA.

Selain ulasan, beberapa laporan dari ‘lapangan’ juga sudah kami siapkan. Kehadiran beberapa teman yang magang di IVAA beberapa minggu ini banyak menghadirkan warna dan nuansa baru, seperti yang bisa kita nikmati dalam tulisan-tulisannya. Kehadiran energi-energi baru ini ternyata juga memancing kami untuk menggulirkan sebuah program baru, Musrary (Music from the Library), sebuah ruang apresiasi sederhana yang digagas oleh Dwi Rachmanto, yang harapannya, kelak akan menjadi embrio dari gerakan pengarsipan skena musik indie di kota ini.

Sementara itu, ada kabar menarik juga dari kamar kerja pengarsipan yang selama ini dianggap senyap. Arsip dari Seniwati Gallery (Bali) yang disumbangkan oleh Mary Northmore juga kini sudah mulai bisa diakses oleh publik. Seluruh arsip tersebut telah melalui serangkaian proses, hingga kini selesai kami pindai dan daftarnya juga bisa diakses oleh publik.

Kehadiran buletin di edisi ini juga tidak akan lengkap tanpa mengabarkan dinamika persiapan Festival Arsip yang tengah kami lakukan. Program terdekatnya ialah workshop pengarsipan dan penulisan yang akan dilakukan bersama 15 teman-teman yang telah mendaftar dan lolos seleksi.

Akhir kata, selamat membaca!

Pemimpin Redaksi


I. Baca Arsip

Perupa dan Ruangnya di Jogja Setelah Boom Pasar Lukisan 2008
Oleh: Pitra Hutomo

II. Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
⦁ Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!
⦁ Muara Market, Kanal Baru Pemasaran Produk Seni di Solo
⦁ “Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi
⦁ Menjaring Kesan, Merakit Tema: Metode Kuratorial Biennale Jogja XIV Equator #4
⦁ Dramaturgi Ruang Pamer Biennale Jogja XIV Equator #4
Bloom in Diversity: Orkestrasi Rintisan Identitas Baru

Sorotan Arsip
Menyimpan Apa yang Ditinggalkan Seniwati Gallery

Sorotan Pustaka
⦁ Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese
⦁ Ace House Collective Workbook
⦁ Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja

Agenda RumahIVAA
⦁ Seni, Bali, dan Identitas Etnis
⦁Archive Showcase: Dinamika Ruang Seni Jogja setelah Boom Pasar Lukisan 2008
⦁ Terasiring: Bercerita Tentang Kerinduan dan Kenangan

Pengumuman Kantor
Program Magang Perpustakaan IVAA 2017

III. FestSip! “Kuasa Ingatan”

Usaha Menjaring Pengarsip dan Penulis Muda
Oleh: Sita Magfira


Tim Redaksi Buletin IVAA Maret-April 2017

Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Sukma Smita ⚫ Penyunting: Melisa Angela, Lisistrata Lusandiana ⚫ Riset: Pitra Hutomo, Tiatira Saputri ⚫ Penulis: Dwi Rahmanto, Putri Alit Mranani, Sukma Smita, Pitra Hutomo, Melisa Angela, Lisistrata  ⚫ Kontributor: Sita Magfira, Annisa Rachmatika, Grace Ayu, David Ganap, Wibi Palgunadi, Hertiti Titis ⚫ Ilustrasi Sampul: Irindhita ‘Ayash’ Laras Putri ⚫ Tata letak & Distribusi: Tiatira Saputri, Putri Alit Mranani Continue reading Buletin IVAA Dwi Bulanan | Maret-April 2017

Perupa dan Ruangnya di Jogja Setelah Boom Pasar Lukisan 2008

Oleh: Pitra Hutomo

Percakapan antar pekerja seni rupa dan pertunjukan kiranya akan selalu sampai pada pembahasan mengenai ruang. Konsep yang dibubuhkan pada ruang yang bisa menjadi nama program reguler tempat tersebut memiliki banyak ragam. Beberapa tempat menyebutnya rumah (Rumah Budaya Tembi, Rumah Seni Cemeti, Rumah Seni Sidoarum), hingga belakangan muncul juga sebutan untuk ruangan kecil dalam rumah layaknya kamar atau art room (Tahunmas Artroom, Wangi Artroom). Ada studio kerja yang bisa dipakai seniman lain (misal: Studio Kalahan, Kersan Art Studio, Studio Grafis Minggiran, Krack!, Studio Sempu, KOMHARO Studio, Miracle Prints Studio); dan ada pula art space yang diterjemahkan sebagai ruang seni (misal: Pendhapa Art Space, Nalarroepa Ruang Seni, Sewon Art Space, Sangkring Art Space).

Yogyakarta Contemporary Art Map (YCAM) versi 2016 mencatat 56 nama tempat yang bisa dan mau menyelenggarakan pameran, pertunjukan, atau kerja seni sejenis. Kemudian ada Almanak Seni Jogja 1999-2009 yang mengidentifikasi jelajah Warga Seni Rupa Jogja dalam Galeri, Manajemen Seni, Museum, Festival, Sentra Industri Kerajinan, dan Toko Seni. Upaya memetakan tempat mengakses kesenian pernah dilakukan Yayasan Kelola dan The Japan Foundation dengan menerbitkan daftar dan kumpulan profil dalam bentuk direktori seni budaya. Setelah pasar karya seni kontemporer disebut boom oleh media massa nasional dan internasional sepanjang 2008 hingga 2010, kunjungan kelompok dan individu ke ruang-ruang seni di Jogja menjadi agenda berkala setiap ada perhelatan besar seni rupa seperti ART|JOG atau Biennale Jogja.

Memasuki awal tahun 2000-an, Dialog Seni Kita dan Surat YSC mulai mengangkat perihal tumbuhnya tempat-tempat mengakses seni visual dan pertunjukan kontemporer di kota-kota besar yang bisa dijangkaunya karena satu dan lain hal (Jakarta, Bandung). Jogja adalah istilah yang dipakai untuk menyebut Kota Yogyakarta. Di Jogja, meski terkadang secara administratif termasuk kabupaten lain, tapi sepanjang masih berada di dalam ring road, suatu area biasanya masih dianggap ‘kota’.

Ketika membicarakan pertumbuhan ruang seni di kota Jogja, dinamika ruang-ruang yang diinisiasi oleh seniman menunjukkan kisahnya sendiri. Secara umum, ruang inisiatif seniman hampir-hampir tidak memiliki pola khas dalam pengelolaan. Sebagaimana berkarya, ruang inisiatif seniman dikelola secara intuitif oleh pendiri atau orang yang ditunjuk sebagai pengelola, dari mulai pendanaan hingga bentuk seni yang dihadirkannya. Ruang seni yang menjadi ruang kerja bersama suatu kelompok seni, jarang menempati bangunan permanen, biasanya karena ruang seni tidak sama maknanya dengan rumah tinggal. Berbeda dengan ruang inisiatif untuk pameran dan pertunjukan yang berada satu kompleks dengan rumah pendirinya, ruang kelompok sejak awal 2000-an adalah rumah kontrakan bersama yang ditinggali sebagian atau seluruh anggota kelompok tersebut.

Jika kita mundur lagi ke belakang untuk melihat kembali awal kelahiran ruang kelompok non pemerintah, kita bisa telusuri dari maraknya sanggar seni di Jogja dan beberapa kota lain, jelang masa kemerdekaan. Foto-foto kunjungan Presiden Soekarno ke Sanggar Pelukis Rakyat misalnya, menunjukkan bahwa sanggar bisa sewaktu-waktu dijadikan ruang pamer yang menerima kunjungan kepala negara meskipun ada gedung kesenian daerah. Beberapa dekade setelahnya, rumah kontrakan dibuka jadi ruang pamer dan pertunjukan karena mendapati gedung kesenian daerah tidak mampu mengakomodasi gagasan mereka. Para pembuka ruang seni ini menciptakan kantung-kantung di tengah permukiman yang terkadang mengundang warga sekitar, namun lebih sering menempatkan tokoh warga sebagai pihak yang meresmikan acara atau sekadar orang yang dimintakan izin penyelenggaraan acara.

Membahas soal peran dari gedung kesenian daerah, sejauh yang kami pantau, keberadaannya masih dimanfaatkan sebagai ruang pamer jika skala acaranya dinilai cukup besar dan persiapannya cukup panjang. Tidak jarang gedung kesenian daerah di Jogja menjadi tempat pameran bersama perupa luar Jogja, sebagaimana Galeri Nasional Indonesia atau kompleks Taman Ismail Marzuki digunakan tidak hanya oleh seniman berdomisili DKI Jakarta. Gedung kesenian daerah sesungguhnya terus digunakan tanpa pekerjanya mencari seniman yang ingin menggunakan ruang. Jadwal gedung kesenian seperti Taman Budaya Yogyakarta dan Societeit Militer bisa jadi sudah padat sepanjang tahun dengan agenda dinas terkait, seperti Dinas Kebudayaan DIY. Sehingga, seniman yang ingin berpameran perlu memasukkan proposal jauh-jauh hari. Pameran atau pertunjukan umumnya berstatus menyewa ruang dan seluruh penyelenggaraan acara dikelola pihak penyewa.

Museum Benteng Vredeburg, Purna Budaya, P4TK Kesenian, Karta Pustaka, Lembaga Indonesia Prancis, dan Bentara Budaya Yogyakarta adalah ruang-ruang yang dituju mahasiswa seni dan seniman Jogja sebelum maraknya ruang pamer di rumah kontrakan, dan sebelum banyak seniman membuka ruangnya sendiri. Seiring berjalannya waktu ruang-ruang tersebut tutup, berubah nama, atau mengalami perubahan organisasional.

Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) adalah yang relatif tidak berubah sistemnya dan masih dijadikan pilihan tempat berpameran. BBY juga meluaskan khalayak mereka dengan membuka ruang untuk dikelola komunitas seperti acara reguler “Jazz ‘mben Senen”. Purna Budaya yang menjadi cikal bakal Taman Budaya Yogyakarta (TBY) berdiri 1977 hingga 2003. Bekas gedung kesenian daerah ini selama beberapa waktu dimanfaatkan hanya oleh UGM untuk kegiatan kemahasiswaan seperti seminar atau upacara wisuda. Tahun 2007, UGM mengajukan agar bangunan tersebut difungsikan kembali sebagai tempat kegiatan seni budaya umum, maka terbentuklah Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH). Sejarah PKKH yang berbeda dengan sejarah tempat pertunjukan dan pameran di lingkungan perguruan tinggi negeri lain, seperti galeri dan auditorium di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta atau Universitas Negeri Yogyakarta turut mempengaruhi kebijakan pengelola ruang. Dalam hal ini, perguruan tinggi negeri seni atau perguruan tinggi negeri dan swasta yang membuka jurusan seni atau ilmu kebudayaan, tidak menentukan aktifnya kegiatan seni budaya dalam lingkungan akademis tertentu. Perguruan tinggi seperti Universitas Sanata Dharma misalnya, memutuskan membuka Galeri Gejayan tahun 2015 di ruang depan Perpustakaannya, setelah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan kebudayaan yang diikuti umum atau selain mahasiswa dan anggota fakultas. Sedangkan setelah ISI pindah dari kampus Gampingan, didirikan Jogja National Museum (JNM) yang tidak secara langsung berhubungan dengan ISI maupun Dinas Kebudayaan. Meskipun bernama Museum, JNM dan Museum dan Tanah Liat (MDTL) tidak mengampu tanggung jawab mengelola koleksi permanen, berbeda dengan Museum yang didirikan Affandi atau Taman Tino Sidin yang didirikan keluarga Tino Sidin.

Lihat daftar ruang yang kami observasi di sini. (https://docs.google.com/spreadsheets/d/1sB8HqzASE04B2m_P3S9DxE9OTJPi5lspSZRWs9yaY_0/edit?usp=sharing)


Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.