Category Archives: E-newsletter

Kesempatan Magang di IVAA

14690881_1290500704316713_223858476972001973_n

IVAA membuka kesempatan magang bagi kawan-kawan mahasiswa dan umum yang ingin mendapatkan pengalaman terlibat dalam kerja-kerja pengarsipan seni rupa. Kawan-kawan yang tertarik dapat memilih bidang-bidang kerja di IVAA yaitu: (1). Pengelolaan Arsip dan Pustaka; (2). Kajian Arsip; (3). Pengelolaan Ruang; (4). Dokumentasi Peristiwa Seni. Program magang IVAA berlangsung minimal selama 1 (satu) bulan. Peserta magang akan mendapatkan fasilitas keanggotaan KawanIVAA dan menjadi bagian tim kerja IVAA selama periode berlangsung.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Persyaratan magang dan pertanyaan-pertanyaan mengenai program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org

Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global)

Bincang Sore Rumah IVAA, 13 Juni 2016

Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global)

Dalam seri Diskusik (Diskusi Asik) kali ini Roemansa Gilda bekerja sama dengan Rumah IVAA menyelenggarakan Bincang Sore dengan tema Pasar Seni (Redefinisi Go International). Diundang dalam diskusi ini dua pembicara yaitu Rully Sabhara (musikus, praktisi musik, berkarya di Zoo, Senyawa, Raung Jagat) dan Ismail Basbeth (sutradara, praktisi film). Beberapa karyanya Another Trip to The Moon, dan Mencari Hilal yang diajak untuk menggali wacana ‘go international’ melalui cara pandang dan pengalaman mereka. Rully dan Ismail berbicara bahwa tidak hanya keberuntungan, namun juga kerja keras, sikap profesional, pembangunan, pengelolaan jaringan, hingga pengembangan potensi merupakan beberapa hal penting yang membuat karya mereka dikenal di dunia internasional. Selain itu diundang pula Irham Anshari (Penggemar Film dan Peneliti SOAP: Study On Art Practice) sebagai penanggap yang berbagi hasil penelitiannya tentang fenomena ‘go international’.

Ketika menempatkan perbincangan ini dalam konteks hubungan geopolitik, Irham menyampaikan pandangan kritisnya bahwa penyelenggaraan program internasional tidak pernah lepas dari politik budaya suatu negara, baik berupa motif promosi negara serta dalam rangka menggeser pusat kebudayaan. Meski di sisi lain, kemandirian para aktor-aktor budaya, seperti para pembicara di atas tetap perlu kita apresiasi. Karena pada akhirnya, menjadi bagian dari dunia internasional bukanlah satu-satunya tujuan. Tujuan utama tetap terletak pada proses, hasil berkualitas serta strategi di tengah jalan dalam menghidupi idealisme dan kreatifitas di tengah dunia yang sudah sedemikian pragmatis.

Foto dokumentasi Bincang Sore Rumah IVAA: Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global) dapat dilihat melalui tautan ini.

Menelusuri Jejak Pembelaan Praktik Seni Rupa di tengah Krisis Demokrasi

Menelusuri Jejak Pembelaan Praktik Seni Rupa di tengah Krisis Demokrasi
Bagian 1: Otonomi Seni, Milisi, dan Ilusi Harmoni Kehidupan
oleh : Pitra Hutomo

Catatan ini ditulis menyusul serangan milisi sipil reaksioner ke Survive!garage Sabtu, 2 April 2016 dan IAM Space Senin, 30 Mei 2016. Dalam sistem basis data IVAA, keduanya adalah pelaku kolektif yang mengelola ruang seni untuk menampilkan karya melalui kegiatan seni misalnya pameran. Sistem basis data IVAA menerjemahkan variabel-variabel seni rupa Indonesia terutama untuk mendukung penulisan sejarahnya sendiri. Sejarah sebagai ilmu diakronis mengutamakan pencatatan peristiwa secara runtut agar bisa menganalisis dampak perubahan pada variabel tertentu.

Penyerangan ruang seni bukan hanya kondisi aktual yang mengagetkan bagi para pelakunya. Dua kejadian di Yogyakarta yang hanya berselang sebulan ini menunjukkan terjadinya krisis di ruang-ruang demokrasi di Indonesia. Cara pandang meluas ini terungkap di media jejaring sosial dan melalui pernyataan solidaritas. Konon milisi berbaju ormas Islam menyerang acara LadyFast di Survive!garage karena “isu LGBT”. IAM Space harus menghadapi protes warga karena “menampilkan pornografi”. Kejadian-kejadian lain yang marak sepanjang April s.d Juni 2016 adalah kekerasan yang dilakukan milisi, polisi, dan TNI dengan pembenaran antara lain “mencegah penyebaran paham komunis” dengan sweeping buku atau membubarkan acara nonton bareng dan diskusi.

Kejadian Survive!garage dan IAM Space belum diperjuangkan di ranah hukum negara. Kedua kasus ini baru tercatat oleh SAFENET bersama 48 kasus lain di seluruh Indonesia sejak 1 Juli 2015 hingga 30 Mei 2016. Pelaporan mandiri melalui Formulir Pelarangan ini masih memungkinkan adanya tambahan dari total sementara 14 kejadian di wilayah DIY. Kejadian yang dilaporkan berupa tindak kekerasan gabungan dari pelarangan, intimidasi, pembredelan, pembubaran paksa, hingga pengrusakan. Ironisnya, seluruh kejadian berlangsung di ruang-ruang yang mudah diakses siapa saja, yakni perguruan tinggi, ruang diskusi, penerbit buku, dan ruang kegiatan kreatif. Jumlah tersebut menunjukkan sekurang-kurangnya satu kasus terjadi tiap bulan di DIY. Namun, ketika warga negara tidak punya tempat mengadu dan merasa negara tidak bisa melindunginya, ingatan tentang kekerasan hanya tersimpan sebagai pengalaman buruk segelintir orang.

Tribun Jogja
Jepretan dari http://jogja.tribunnews.com/2016/05/10/puluhan-ormas-datangi-polresta-yogyakarta-minta-polisi-tegas-berantas-komunis (diakses 22 Juni 2016)

Penyensoran oleh Sipil dan Identifikasi Masalah oleh Kalangan Seni Rupa
Agar bisa melihat persoalan dengan jernih saya mengumpulkan pertanyaan untuk membatasi ruang lingkup membaca kronik seni rupa di Yogyakarta. Pembatasan perlu dilakukan untuk melacak praktik seni rupa terdahulu yang memiliki kemiripan variabel dengan penyerangan ke Survive!garage dan IAM Space. Maka kejadian yang menjadi rujukan perlu memiliki variabel antara lain kegiatan seni rupa, ruang seni, pelaku seni rupa, dan pelaku intimidasi beridentitas sipil. Acuan waktu saya batasi pasca 1998 sebagai penanda era baru yang mendukung kebebasan berekspresi.

Kemiripan variabel ditemukan terutama pada intimidasi dan gugatan hukum dari Front Pembela Islam (FPI) terkait karya “Pinkswing Park” (2005). FPI menggugat ketua tim kurator Jim Supangkat, kedua seniman yang berpameran: Agus Suwage dan Davy Linggar, dan dua model dalam karya tersebut: Anjasmara dan Isabel Jahja. Gugatan diajukan Oktober 2005 atas dasar tuduhan pornografi dan penistaan agama. FPI datang ke lokasi pameran di Museum Bank Indonesia, Jakarta sebagai massa dari kelompok tertentu (Media Indonesia, 28 September 2005) yang menimbulkan kontroversi, sehingga CP Biennale telah menjadi ajang sengketa konflik keagamaan (Harian Seputar Indonesia, 28 September 2005). Laporan dua media massa tersebut terbit setelah Konferensi Pers dalam rangka menutup pameran CP Biennale 2005 Urban/Culture pada 27 September 2005, yakni delapan hari sebelum jadwal resmi penutupan.

biennale
Jepretan dari http://biennale.cp-foundation.org/2005/featured_agus_davy.html (diakses 23 Juni, 2016)

Pernyataan menutup CP Biennale 2005 Urban/Culture yang disampaikan Jim Supangkat ini memicu protes kalangan seni rupa. Sekelompok seniman peserta yang mempresentasikan proyek “Urban Cartography v.01: Bandung Creative Communities” menyatakan menarik diri dari keikutsertaan sebagai bentuk simpati terhadap penutupan karya Agus Suwage dan Davy Linggar oleh panitia CP Biennale 2005. Pernyataan sikap lain disampaikan oleh Forum Peduli Seni dan Budaya dengan lima poin yang menolak monopoli tafsir atas seni melalui fatwa haram/halal dan acuan kontekstualnya dapat dipertanggungjawabkan melalui dialog. Sedangkan dalam wawancara dengan Perspektif Baru 10 November 2005, Agus Suwage menyebutkan adanya distorsi informasi yang sampai ke publik melalui infotainment yang menghalangi penyampaian tema dan konsep utuh karya. Agus juga menyesalkan tidak berlangsungnya dialog sebelum pameran ditutup, baik antara seniman dengan FPI maupun seniman dengan penyelenggara.

Polemik ideologi dan tafsir seni muncul di media massa seiring gerakan sosial menolak Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (2006 – 2008). Terbit Manifes Seni Rupa pada 15 Februari 2006 di Jakarta atas prakarsa beberapa kurator dan penulis seni rupa. Manifes tersebut mengangkat perihal wilayah otonomi seni rupa karena ia adalah bidang kerja dan keahlian yang memiliki aturannya sendiri. Manifes juga menyatakan bahwa seni rupa memiliki pranata pendukung yang membuatnya mampu mengatur dan mengelola kehidupannya sendiri.

Kondisi yang diungkapkan dalam Manifes Seni Rupa di atas menjadi bukti dari kemapanan seni rupa dan keinginannya untuk mendobrak sempitnya tafsir atas praktik penciptaan. Para perumusnya seolah terkejut bahwa mereka harus berhadapan dengan orang-orang yang menolak dialog. Bukankah demokrasi harusnya meliputi perlindungan menyatakan dan mempertahankan pendapat antara pihak-pihak yang saling berbeda ideologi? Mampukah pranata pendukung seni rupa -yang telah menjadikannya mandiri- menerobos penilaian karya yang tidak ada sangkut pautnya dengan disiplin dan keahlian seni rupa?

Sensibilitas pelaku seni: metode berkarya dan hidup sebagai warga
Kabar tentang ricuh di Survive!garage menyebar dalam hitungan menit kemudian secara simultan masuk ke telepon genggam para pekerja seni di Yogyakarta. Tanggapan di media jejaring sosial yang mengekspresikan keterkejutan, kecemasan, kecurigaan, dukungan, harapan baik, dsb. tidak ada yang mencantumkan runtutan peristiwa. Maka media jejaring sosial hanya memenuhi fungsi scrapbook yang diedarkan untuk kalangan sendiri yakni kalangan seni (rupa).

wikipedia
Jepretan entri wikipedia bahasa Inggris tentang scrapbooking (pencarian via google, 18 Juni 2016)

Ekspresi di media jejaring sosial dan komunikasi simultan antar kalangan seni khususnya di Yogyakarta hanya menimbulkan gambaran abstrak tentang kejadian. Pekerja seni seolah bersahutan menabuh kentongan sebagai tanda bahaya tanpa tahu harus berjaga di mana. Maka tepat jika Bayu dan Fitri memilih untuk memetakan masalah sebelum kembali beroperasi sebagai Survive!garage. Keduanya lalu bergabung dengan Forum Solidaritas Yogyakarta Damai yang terbentuk beberapa jam setelah konferensi pers di Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, 4 April 2016.

keep the fire on
Diambil dari katalog pameran “Keep The Fire On!: Merayakan Keberagaman”, 2 Juni – 2 Juli 2016, Survive!garage

Genap dua bulan setelah serangan milisi, Survive!garage membuka kembali ruangnya dengan pameran dan rangkaian kegiatan bersama warga. Kegiatan-kegiatan ini dibawakan dengan riang melalui halaman Facebook mereka. Sambil menyusuri dokumentasi kegiatan, terbersit pertanyaan: Apakah kalangan seni masih membicarakan tindak kekerasan yang berlangsung di lingkungan terdekat mereka?

Di tengah derasnya arus informasi, siapapun dijadikan konsumen yang berjarak. Pemiskinan, pelecehan seksual dan ketimpangan jender, konflik tanah dan sumber daya alam, fasisme, pelanggaran HAM, dan skema-skema opresi-represi-supresi, dianggap bagian hidup sehari-hari yang kita percakapkan dengan sinis. Ironis! rakyat menertawakan kekonyolan negara, pejabat militer, politisi, karena merasa tidak bisa mengubah keadaan selain untuk bertahan hidup. Pekerja seni tak terkecuali. Kita yang terlatih bekerja dengan medium artistik pasti terdorong untuk mencurahkan kegelisahan melalui karya, menyelenggarakan peristiwa yang mengangkat permasalahan sosial, berdiskusi, hingga berkomentar di media jejaring sosial.

Namun setelah itu apa? Apakah seniman masih membayangkan perubahan bisa berlangsung dari karya-karya sublim yang semata-mata dijadikan sarana katarsis penikmatnya? Bagaimana seniman bisa meyakinkan diri mereka bahwa kontribusinya untuk manusia lain, untuk kehidupan, adalah hanya dengan berkarya dalam skema produksi-konsumsi? Apakah seniman dan pekerja seni memilih mengerjakan hal lain dan mencopot label profesinya agar bisa berkontribusi? Jika demikian, validkah pernyataan bahwa seni bukan hanya diberlangsungkan untuk kepentingan kalangan seni? Bisakah kita menyimpulkan bahwa seni telah melanggengkan ruang hampa yang tidak terakses oleh sebagian besar rakyat Indonesia? Dorongan mengintervensi dan menyiasati ruang-ruang hampa ini bisa jadi sudah berhasil mendatangkan sejumlah orang untuk berbagai helat besar seperti festival, kompetisi, atau biennale. Namun apakah pekerja seni benar-benar perlu mengambil tanggung jawab meluaskan praktik tanpa menjelajahi kedalamannya? Apakah riuh rendah seni pelibatan, seni publik, seni kerakyatan, dan lain-lain yang dikomodifikasi pelakunya telah meleburkan atau justru menajamkan dikotomi kerja seni dengan kerja sosial?

Seni dan Intoleransi

648db5c4-fe81-4926-9726-15da36dee29a

Ilustrasi: Terra Bajraghosa

Oleh: Lisistrata Lusandiana dan Tiatira Saputri

Pada bulan April lalu, acara bertajuk Lady Fast yang diinisiasi oleh Kolektif Betina serta digelar di Survive!garage berakhir pada pembubaran paksa oleh organisasi massa. Tidak lama kemudian, acara pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta untuk memperingati hari kebebasan pers 3 Mei 2016 di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) juga dibubarkan paksa oleh polisi bersama dengan segerombolan orang berpakaian ormas FKPPI. Sebelum rentetan peristiwa tersebut terjadi, di awal tahun 2016 pesantren Al-Fatah yang menjadi ruang belajar agama serta beraktivitas bagi para waria juga disegel oleh Front Jihad Indonesia (FJI). Dan baru-baru ini Selasa 31 Mei 2016, terjadi penyitaan lukisan yang sudah dipajang selama lebih dari sepekan di Galeri Independent Art-Space & Management (I AM), dengan tudingan mengandung isu LGBT. Tak hanya itu, mural yang dikerjakan secara kolaborasi oleh dua seniman yang terlibat dalam pameran ini juga dihapus.

Selain beberapa pembubaran di atas, jika kita lihat sedikit ke belakang, maka kita akan temui peristiwa penutupan CP Biennale 2005, terkait dengan karya instalasi Agus Suwage-Davy Linggar, Pinkswing Park yang dianggap mengandung pornografi. Lalu di tahun 2015 performance art yang seharusnya membuka pameran tunggal Petrus Agus Herjaka di Rumah Budaya Tembi ditiadakan oleh aparat keamanan untuk menghindari bentrokan yang mungkin terjadi dengan ormas karena konten hanya mengangkat satu figur sebuah agama, yaitu Yesus dengan jalan salibNya. Pertunjukan Monolog Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah, di IFI Bandung pada 23-24 Maret 2016 dibatalkan oleh FPI karena dianggap ‘berbau kiri’. Masih karena tudingan terkait isu ‘65, publik juga sempat ramai dengan berita pembubaran acara nonton bareng film besutan Joshua Oppenheimer, baik film Jagal maupun Senyap.

Terkait dengan peristiwa penutupan CP Biennale tahun 2005 dan hebohnya karya instalasi Pinkswing Park, St Sunardi mengulasnya dari berbagai sisi. Dalam esainya1, pembacaan peristiwa ini tidak dilepaskan dari pembacaan atas karya itu sendiri, serta keterlibatan media, terutama infotainment, yang menambah lapisan persoalan dalam peristiwa ini. Di esai ini kita akan temukan deskripsi karya beserta pembacaannya yang, secara sadar diakui, melibatkan subjektivitas. Dari pembacaan karya tersebut, kita bisa mendapatkan kehadiran beberapa lapisan wacana. Pembacaanpun kemudian dilanjutkan ke pembahasan peristiwa yang terjadi di sekitar kontroversi dan penutupan CP Biennale. Mulai dari ulasan yang melibatkan berbagai lapisan dalam realitas media, hubungan seni dan seks, hingga urgensi dan pembelajaran dari peristiwa semacam ini, yakni perlunya menciptakan keragaman wacana.

Barangkali cara baca demikian yang paling menyeluruh. Idealnya, dalam kepentingan penciptaan wacana dan pembelajaran bersama, tiap-tiap peristiwa dibahas dan dibongkar beserta kaitannya dengan karya ataupun peristiwa, serta elemen-elemen yang menjadi persoalan. Namun, mempertimbangkan banyaknya kejadian yang terjadi dalam waktu yang relatif singkat, serta banyaknya aktor terlibat serta motifnya, artikel ini hanya bisa kita tempatkan menjadi semacam pintu masuk untuk eksplorasi lanjutan ketika melihat persoalan dalam wilayah seni dan intoleransi.

Dengan asas kebebasan berekspresi, yang menjadi bagian dari Hak Asasi Manusia, kita bisa mengawali pembahasan atas berbagai peristiwa pembubaran dan represi yang terjadi, baik dalam ruang lingkup dunia seni maupun ruang-ruang demokrasi lainnya. Jika dilihat dari serangkalian peristiwa pembubaran di atas, maka kita bisa melihat beberapa isu yang menjadi sasaran, mulai dari isu ’65 dan kritik terhadap dominasi wacana sejarah Orde Baru, penggunaan istilah atau sebutan yang berbau ‘kiri,’ intoleransi antar agama, juga isu soal LGBT.

Mengingat maraknya aksi pembubaran ini, dari sesempit pembacaan kami, kami hanya bisa melihat bahwa musuh kita saat ini memang bukan Orde Baru, namun warisannya yang sangat laten dan masih hidup di alam bawah sadar sebagian masyarakat kita. Sehingga, yang patut kita waspadai saat ini tidak hanya aparat, baik militer ataupun polisi, namun juga sipil yang tidak jarang lebih militeristik, seperti yang kini kita temui dalam wujud aksi-aksi represi ormas.

Selebihnya, ketika kita harus menilik kembali alasan ataupun motivasi dari tiap pembubaran, maka kita masih harus menghadapi berbagai macam persimpangan, dari persoalan makro dan mikro. Mulai dari kebutuhan akan informasi yang membongkar ada-tidaknya konspirasi bisnis militer di tingkat elit, yang dalam beberapa hal membutuhkan ‘situasi kacau’ untuk membenarkan praktik atau programnya. Pengetahuan soal bagaimana ideologi-ideologi tertentu bekerja untuk melakukan monopoli tafsir, dan juga menemukan penjelasan atas hal-hal yang menopang kehadiran ormas-ormas tersebut di luar soal ideologi, seperti soal ekonomi dan politik. Tak bisa diabaikan pula kita harus bisa melihat dinamika kehidupan kita di tengah warga.

 

Merefleksikan Posisi Seni dalam Ruang Demokrasi

Dari serangkaian peristiwa pembubaran dan ancaman sensor, yang terjadi setelah era yang katanya reformasi, kita tidak bisa mengabaikan adanya pelajaran yang bisa kita petik. Jika hal itu kita tarik ke konteks yang lebih sempit, dalam membicarakan dinamika wacana seni dan arah perkembangan pengetahuan misalnya, kita bisa melihat satu persatu, wacana yang dihasilkan dari polemik yang menyertai peristiwa-peristiwa tersebut. Ketika menelusuri jejak-jejaknya, tiap ancaman represi di suatu jaman menuai reaksinya masing-masing.

Dari jejak polemik yang ditinggalkan oleh peristiwa Pinkswing Park, kita bisa memetik berbagai wacana yang saat itu diperdebatkan oleh para kritikus yang menulis di media massa, seperti Enin Supriyanto, Hendro Wiyanto dan Jim Supangkat. Polemiknya saat itu, secara langsung dipicu oleh Manifesto Seni Rupa yang dirumuskan oleh beberapa orang yang selama ini aktif di dunia seni rupa kontemporer, seperti Aminudin TH Siregar, Arief Ash Shiddiq, Hendro Wiyanto, Enin Supriyanto, Rifky Effendy.

Beberapa hal yang menjadi polemik diantaranya ialah perihal ideologi seni yang menjadi landasan atau spirit dari Manifesto Seni Rupa, yang menempatkan kesenian di posisi elit. Kritik ini secara lugas diajukan oleh Jim Supangkat melalui tulisannya di media massa2 yang mengatakan bahwa ideologi seni yang menjadi landasan dari Manifesto Seni Rupa itu justru patut diwaspadai karena mempertahankan posisi nabi dari seniman beserta privilege-nya. Argumentasi ini dibangun dengan menelusuri sejarah dan latar belakang pemikiran yang mendasari lahirnya ideologi seni untuk seni.

Sementara itu, di kubu lain, Enin Supriyanto juga menyahut, berbalas argumentasi di media massa, merespon opini yang dibangun oleh Jim Supangkat serta membangun argumentasinya seputar kebebasan berekspresi. Di antara riuh rendah perdebatan tersebut, ada yang kurang begitu dieksplorasi secara mendalam, yakni ulasan karyanya sendiri. Beruntung saat itu, esai St. Sunardi hadir dan tidak melepaskan polemik ini dari konteks dasarnya, yakni konteks kekaryaan, sehingga ulasannya mampu mencakup pandangan estetika yang tidak terlepas dari dinamika pengetahuan serta perkembangan agama dan seni yang berada tidak terpisah satu sama lain.

Ketika kini kita sudah berjarak dari polemik tersebut, serta ingin memetik pelajaran dan mengkontekstualisasikannya dengan hari ini, kita mendapat asupan wacana yang lumayan bisa dijadikan pegangan. Kita sekaligus mendapatkan pembanding ketika membicarakan potensi polemik yang terjadi hari ini, lantas menilai sejauh apa polemik yang dihasilkan pada hari ini mampu menghasilkan wacana yang memperkaya dinamika kesenian kita. Apa yang terjadi akhir-akhir ini memang menunjukkan kecenderungan yang berbeda, barangkali konteks peristiwa yang menjadi sasaran penyerangan juga berada di frekuensi yang tidak sama, meski sama-sama berada dalam wilayah aktivitas seni.

Barangkali memang kita akan segera bereaksi ketika kepentingan kita secara langsung terusik. Bagi para pegiat seni, serangkaian peristiwa pembubaran di atas merupakan tanda bahaya sekaligus ancaman bagi kebebasan berekspresi, yang menjadi ruang utama bagi kerja-kerja kesenian. Meski di sisi lain, ada atau tidaknya ancaman fisik, ancaman bagi dunia seni juga tetap hadir ketika membicarakan relasi modal. Dalam esainya St Sunardi menulis Kita hidup dalam masyarakat yang terlalu rumit untuk dibicarakan hanya oleh para politisi, terlalu halus untuk hanya dibicarakan oleh para intelektual, terlalu emosional hanya diatur oleh para penjaga moral, dan terlalu berharga untuk dikelola hanya oleh para kapitalis. Di sela-sela itulah kiranya para seniman bisa merebut tempatnya sebelum direbut habis oleh mereka.3

Secara umum kita bisa tempatkan fungsi seni dengan cara demikian. Ketika dilihat dari konteks yang lebih spesifik, di tengah maraknya aksi, reaksi dari serentetan peristiwa pelarangan, pembubaran dan represi ini, posisi seni, untuk kesekian kalinya, perlu kita negosiasikan lagi.

Dalam konteks yang lebih sempit, ketika membicarakan seni dan intoleransi, sekilas pandang, kita bisa melihat upaya solidaritas di kalangan pekerja seni budaya dalam YuK, 2006, sebagai reaksi atas munculnya Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Sementara bentuk solidaritas yang muncul akhir-akhir ini juga berupa penggalangan solidaritas melalui Forum Solidaritas untuk Yogya Damai. Dalam banyak hal, aksi massa sangat diperlukan, mengingat daya dan kekuatannya yang cukup efektif dalam menekan suatu garis politik tertentu. Di beberapa sisi, selalu terdapat keluhan dan pertanyaan seputar keterlibatan seniman dalam forum dan gerakan solidaritas untuk perubahan. Jawaban yang muncul cukup beragam. Di satu sisi kita tidak bisa mengabaikan keberadaan seniman yang memang tidak mau mengambil sikap kolektif untuk kerja-kerja bersama, namun di sisi lain, barangkali kita perlu bertanya soal metode dan strategi kita untuk bersiasat menghadapi segala terpaan, baik dari rezim intoleran maupun rezim lainnya yang selalu mengambil posisi dominan.

Barangkali kita harus bisa berbesar hati, bahwa di luar sana tentu banyak orang yang juga gelisah akan kondisi represif yang terjadi di sekitar kita akhir-akhir ini, namun tidak ingin terlihat heroik dalam mengupayakan perubahan. Banyak yang mungkin tergerak untuk turut serta dalam komunikasi untuk menyuarakan kondisi yang tidak baik-baik saja, serta terlanjur nyaman dengan medium komunikasi spesifik yang telah sekian lama digeluti.

Akhir kata, ketika membicarakan soal hak sebagai warga negara untuk mendapat jaminan atas kebebasan berkumpul dan berekspresi, kita bisa menabuh genderang bahaya, bahwa peristiwa penyerangan-penyerangan yang terjadi akhir-akhir ini patut menjadi peringatan bersama. Bagi yang masih berharap pada fungsi negara beserta aparatnya untuk memberikan jaminan ini, lantas kecewa, karena negara dianggap absen. Sementara kelompok lainnya, yang sudah tidak memiliki secuil harapan pun pada negara, akan berujar ‘buat apa kita berharap pada negara, yang sedari lahir sudah merepotkan.’

1 Esai ini pernah dimuat di majalah Basis dan di buku kumpulan esai Vodka dan Birahi Seorang Nabi, berjudul Pinkswing Park: Pohon Kemboja Berdaun Palma.
2 Polemik Seni Rupa: Nabi-isme, Ideologi Seni, Kebebasan Berekspresi. Kompas, 02 Juli 2006.
3 Rupa-Rupa Seni Rp. Seni dalam Festival dan Pasar. Dalam buku kumpulan esai Vodka dan Birahi Seorang Nabi.

 

Koleksi Baru Perpustakaan IVAA!

Sorotan Koleksi Perpustakaan Januari-Mei 2016

mes56Cerita Sebuah Ruang, Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang MES 56

Buku ini merupakan upaya reflektif MES 56 membaca diri dan dibaca orang lain setelah lebih dari 10 tahun berkiprah, dengan mengundang penulis-penulis melihat eksistensi MES 56 dari berbagai sudut pandang, yang lebih luas dari perkara kekaryaan, menempatkan konteks kesejarahan seni dan fotografi.

Buku ini disusun berdasar tiga pokok bahasan, yaitu sejarah fotografi di Indonesia, fotografi dalam konteks seni rupa di Indonesia dan diakhiri oleh upaya reflektif yang bergerak ulang alik melihat sejarah dan pertanyan-pertanyaan mendasar yang muncul dari perjalanan MES 56 sendiri.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Agung Nugroho Widhi
Bahasa  : Indonesia
Penerbit : IndoArtNow
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 770 Soe C

 

Sesudah AktivismeSesudah Aktivisme, Sepilihan Esai Seni Rupa 1994–2015

Buku ini merupakan kumpulan esai-esai kuratorial yang menampilkan kekayaan berpikir Enin Supriyanto:

  1. Memikirkan kesejarahan (seni rupa) seperti dalam Belajar dari feminisme; Tak Perlu Mencetak dengan Darah; Yang Terus Putus dan Retak; Ibu Seni Rupa Modern Indonesia?; Ihwal Kritik Seni Rupa yang Berwibawa.
  2. Reflektif terhadap ranah seni rupa secara garis besar berikut beserta infrastrukturnya seperti dalam Lorong-lorong Alternatif; Mencari Jejak, Mencari Pijakan, Mencari Ruang; Bulutangkis, Seni Rupa, dan Fisika; Omong-Omong Soal Pembangunan Kesenian; Boom! Belasan Tahun Kemudian.
  3. Menjadi pengamat sekaligus pencatat perkembangan senirupa Indonesia dalam perspektif seorang kurator seperti dalam Seratus Tahun untuk atau Satu atau Dua Wacana; Reformasi, Perubahan dan Peralihan; Bingkai Waktu (Catatan tentang Masa Lalu, Sejarah, dan Seni Rupa Indonesia); Menjadi Kontemporer, Menjadi Global.

Dari sejumlah naskah praktik kekuratorannya bisa dikenali apa saja latar belakang kerja kekuratoran Enin jalankan, dan bagaimana manifestasinya dalam bentuk esai kuratorial.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Enin Supriyanto
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Hyphen
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Sup S

 

obat kuatObat Kuat

Buku ini berisi kumpulan iklan obat kuat selama 100 tahun yang dikumpulkan dan dijadikan bahan penelitian oleh Malcom Smith, serta direproduksi ulang sebagai karya oleh Krack Studio. Proyek berjudul Obat Kuat ini merupakan proyek lanjutan dari Tanah/ Impian (Dream/ Land), yang mengeksplorasi sejarah iklan cetak di Indonesia, dan secara khusus melihat bagaimana iklan mencerminkan dan membangun bayangan-bayangan kultural di Indonesia. Iklan obat kuat sendiri dilihat sebagai cerminan pemahaman masyarakat Yogyakarta mengenai gender, seksualitas, dan hasrat, yang memperlihatkan adanya dominasi konstruksi maskulinitas di Yogyakarta. Bahkan bisa dilihat hingga hari ini bagaimana spanduk berbicara mengenai penolakan terhadap homoseksual dan represi terhadap kelompok-kelompok perempuan.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Malcolm Smith
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Krack Studio
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 702 Smi O

 

Between DeclarationsBetween Declarations and Dreams: Art of Southeast Asia Since the 19th Century

Pameran Seni Asia Tenggara yang dilaksanakan oleh Gallery Nasional Singapore ini merangkum pengalaman banyak seniman di wilayahnya, dengan menangkap keberadaan mereka diantara deklarasi dan mimpi, atau personal dan politikal. Pameran ini mencoba melihat konsep dari seni itu sendiri di Asia Tenggara, tentang bagaimana mereka membagi pengalamannya dan terkoneksi satu sama lain di Asia Tenggara. Serta melihat kejadian yang mempengaruhi produksi dan bagaimana seni disambut di Asia Tenggara.

Buku yang disumbangkan oleh Resource Centre of National Gallery Singapore ini diterbitkan tahun 2015 berisi 4 tulisan kuratorial setebal 291 halaman.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Low Sze Wee
Bahasa : English
Penerbit : National Gallery Singapore
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Wee B Ref

 

perjalanan Seorang KolektorPerjalanan Seorang Kolektor Seni Lukis Modern di Indonesia

Buku yang disumbangkan oleh Hendro Tan untuk Perpustakan IVAA ini menampilkan lebih dari 60 karya koleksi Jusuf Wanandi yang dikumpulkan selama 30 tahun. Koleksi Jusuf Wanandi ini masuk dalam kelompok seni modern dalam batasan yang mengacu pada Barat – mengingat modernisme pada sejarah seni lukis Indonesia sangat berbeda dengan Barat. Selera pribadinya tidak mewakili kekhawatiran banyak orang mengenai ambiguitas seni lukis Indonesia. Melalui katalog ini kita diajak untuk tidak canggung mengapresiasi seni lukis ‘bervisi lama’ tersebut.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Garrett Kam
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Centre for Strategic and International Studies and Neka Museum
Tahun Terbit : 1996
No. Panggil : 701 Wan A ref

Archive Showcase: Indonesian Performance Art from 1990 to Present

Archive showcase

Perdebatan kami dimulai ketika tiba saatnya mengkelompokkan beberapa dokumen yang IVAA miliki ke dalam kategori performance art (seni rupa pertunjukkan). Dimulai dari pertanyaan apakah ada ‘panggung’ pada performance art? Lalu apa yang membedakan performance art dengan teater yang mencoba melepaskan diri dari mediumnya jika kesadaran akan ‘panggung’ itu juga ada pada performance art? Hal apa sajakah yang perlu kita ketahui untuk bisa menyebut karya sebagai performance art? Walaupun tentu saja dalam satu karya bisa memuat keseluruhan kategori itu. Tapi bagaimana caranya menghadapi kebingungan kami mengolah tumpukan dokumen dengan minimnya kajian mengenai performance art di Indonesia?

Pendekatan kemudian kami lakukan dengan melihat medium performance art itu sendiri. Ini kami pilih karena medium adalah hal yang paling mudah diamati di tengah minim kajian mengenai performance art di Indonesia. Informasi kami dapatkan dari diskusi yang diselenggarakan tahun 2002 oleh Jurnal Karbon dan ruangrupa yang menyampaikan beberapa refleksi dari para penggiat performance art, seperti Pius Sigit Kuncoro yang mengungkapkan bahwa karya Geber Modus Operandi yang saat itu digolongan ke dalam performance art, hadir dari sebuah perlawan terhadap disiplin ilmu mereka masing-masing. Mereka menyadari bahwa keberadaan pelaku yang ditonton dan menonton – serta waktu, adalah elemen dari performance art. Pada Korban yang Terbakar (1998), kesadaran FX. Harsono akan publik dan ruangnya terlihat dari keinginannya mempertontonkan proses penciptaannya yang dilakukan dengan kegiatan ‘merusak’. Sama halnya dengan Arahmaiani yang melibatkan publik dalam karya His-story (2000) dengan mengundang mereka untuk menulis atau menggambar sesuatu pada tubuhnya.

Dari situ lalu kata kunci kami dapatkan, bahwa relasi tubuh performer dengan penonton, ruang, serta waktu adalah kesatuan medium yang dimiliki performance art. Pengalaman dirasakan bersama-sama pada ruang dan waktu yang spesifik, sehingga ketiganya tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu memungkinkan bagi orang di luar seniman – yang memiliki ide – untuk merespon sesuai keinginannya, terlibat aktif pada momen tersebut. Dari situlah kemudian ia disebut sebagai happening art.

Menjadi menarik ketika kami harus membaca koleksi dokumen kami yang berupa video karena membutuhkan kejelian untuk memahami dan menjelaskan kembali perbedaan video yang merekam performance art dengan video yang disebut sebagai video performance itu sendiri. Dalam perkembangannya, performance art bereksplorasi dengan melepaskan tubuh yang secara fisik hadir menjadi tubuh yang maya melalui video. Interaksi terjadi antara individu-individu yang hadir dengan sosok dalam video tersebut, dari sinilah performance art kemudian disebut sebagai video performance. Namun ada juga tubuh-tubuh yang digantikan dengan robot-robot atau media lain, yang kemudian disebut sebagai multimedia performance.

Metode pengkategorian menggunakan medium adalah hal paling dasar dalam seni rupa sehingga apa yang kami bagikan ini lebih cocok disebut sebagai “tutorial pembacaan performance art untuk pemula”. Semoga saja setalah ini akan ada diskursus performance art yang akan membantu IVAA memberi hashtag spesifik mengenai performance art pada perkembangan seni rupa di Indonesia.

Tiatira Saputri, Yogyakarta, 2016

 

“Belum Menggali, Sudah Ketemu” – Pojok Arsip IVAA di Ring of Performance

Hari Sabtu dan Minggu pekan ini (13-14 Februari 2016), IVAA memajang seleksi reproduksi materi untuk menyertai catatan pengamatan arsip Performance Art Indonesia. Kegiatan ini adalah respon IVAA atas undangan partisipasi dalam Ring of Performance, Jaringan Performance Art Nusantara.

Tiatira Saputri, anggota tim Kajian IVAA, menulis pengantar di bawah ini untuk pengamatan dan seleksi yang berlangsung sejak Januari 2016. Tulisan lain oleh Pitra Hutomo disampaikan dalam diskusi yang berlangsung di Melting Pot Eatery & Coffee, Jl. Suryodiningratan 37 B, Yogyakarta, 13 Februari 2016 mulai jam 15.00 WIB.

sket-performanceart-ind

“Belum Menggali, Sudah Ketemu”

Catatan praktis pengamatan arsip performance art di IVAA

Kumpulan dokumen yang dimiliki IVAA saat ini, memperlihatkan pertumbuhan dalam tubuh performer dari periode 90an hingga kini. Pola umum yang terlihat adalah adanya perkembangan dari tubuh performer menjadi kebutuhan massa. Dari yang awalnya adalah individu atau kelompok dengan pemahaman dan konsepsi yang sama mengenai performance lalu berkembang menjadi penggabungan dari individu ataupun kelompok yang berbeda-beda konsep mengenai performance. Keragaman yang terjadi itu menciptakan ruang dimana didalamnya terdapat kejadian-kejadian dan interaksi yang bukan hanya performance.

Kami mencoba melihat performance melalui kacamata kebutuhan perekaman performance sebagai dokumen yang nantinya bisa disalurkan kembali sebagai arsip. Performance art sebagai salah satu kesenian yang paling lengkap memanfaatkan pengindraan manusia dalam ikatan ruang dan waktu memiliki karakter dasar yang bisa ditangkap media rekam. Yaitu yang pertama adalah penggunaan atau ruang yang disasar, bisa berupa ruang seni seperti museum, galeri, dsb. Atau ruang publik seperti toilet umum, bus, pusat perbelanjaan, dsb. Dari karakter tersebut akan ditemukan konten respon yang berbeda. Pada kedua ruang tersebut bisa diprediksi tingkat kontrol terhadap respon audience, tetapi pada ruang publik performer harus lebih fleksibel dengan kondisi yang tidak terkontrol karena sifatnya performer mendatangi ruang tersebut, bukan audience yang mendatangi ruang tersebut. Sehingga terkontrol atau tidaknya respon menjadi karakter kedua. Hal ini juga bergantung pada keterlibatan audience di dalamnya. Ketika performance melibatkan audience, terkadang alur performance pun bergantung pada audience yang terlibat, sehingga kontrol justru pada audience bukan performer.

Harapannya tiga hal tersebut membantu memudahkan manusia awam untuk memancing dirinya sendiri mempertanyakan kehadiran performance art itu sendiri, seperti misalnya mengapa dilakukan di ruang publik, apa yang disasar, hal apa saja yang berusaha disalurkan oleh pelaku kepada audience hingga membutuhkan keterlibatan, atau sejauh apa tingkat kesadaran audience yang menjadi target performer hingga melepaskan kontrol dari performance yang terlaksana?

 

Februari 2016

tiatirasa@gmail.com

 

Performance Art dalam Arsip: (Isu) apa, (oleh) dan (untuk) siapa?

Pernyataan penulis:

Saat tulisan ini disusun, saya sedang mempertimbangkan ragam komunikasi yang evaluatif. Tulisan dalam bahasa yang saya kenal terasa selalu mengungkung makna dari pengamatan; karenanya, reduksi dihadirkan dengan pendekatan subyektif.

Aspek lain yang menjadi pijakan penulisan adalah pengalaman pribadi berinteraksi dengan para pelaku Performance Art, menjadi performer, hadir untuk menonton, hingga belakangan lebih banyak membaca rekaman visual dan teks.

Setiap rujukan dipilih untuk mencari alternatif cara pandang, dengan harapan bisa mencapai narasi yang luas sebagai bahan diskusi lanjutan.

 

Performance Art dalam Arsip: (Isu) apa, (oleh) dan (untuk) siapa?

Mencermati penyelenggaraan Ring of Performance tidak bisa dilepaskan dari upaya lacak balik performance art sebagai praktek seni rupa. Pertama-tama, saya hendak menyamakan istilah yang digunakan dalam tulisan ini, sebagai berikut:

  1. Performance art tidak diterjemahkan menjadi seni performans supaya para pelakunya, termasuk akademisi seni, tetap tergelitik mencari padanan yang tepat dengan ragam praktek dan wacana pendamping di Indonesia.
  1. Istilah performance (saja) telah mewakili naluri bongkar pasang dan meleburkan aneka ekspresi. Karena itu, performance meliputi terjadinya pinjam meminjam praktek seni menjadi tindakan.
  1. Performer adalah pihak yang diidentifikasi melakukan performance, dengan atau tanpa kesadaran menjadikannya kesenian. Sebutan seniman performance dipertahankan, dan latar belakang disiplin tertentu tidak menjadi perhatian pokok.
  1. Indonesia digunakan dengan kesadaran bahwa cakupan isu yang diekspresikan performer merefleksikan opini dalam konteks sosial-politik-budaya lokal dan nasional.
  1. Nusantara barangkali menjadi alternatif yang dicetuskan untuk mengusung solidaritas, sekaligus sindiran untuk keterbatasan pemerintah Indonesia dalam memahami sejarah.

Diskusi tentang tulisan ini bisa saja mengubah cara mengarsipkan performance art. Sebagai subyek, ia telah menjadi bagian dari telaah praktek seni di Indonesia selama kurang lebih lima dekade. Performance art jamak diikat pada lingkup seni rupa atau visual, karena rasionalisasi dari tindak soliter seniman membuat karya rupa. Di sisi lain, jika pelakunya berlatar belakang disiplin seni pertunjukan, performance art jamak diduga performing art.

Kondisi di atas biasanya disiasati dengan mencari penjelasan dari pelaku, demi memperoleh kejelasan motif. Bagaimanapun, paparan motif berkarya menjadi kaya jika pemberi dan penerima informasi tidak terburu-buru melakukan kategorisasi praktek. Validitas penjelasan dari pelaku menjadi tidak mutlak karena yang mutlak sebagai karakter kerja kreatif adalah pertumbuhan.

Perbedaan performer dengan seniman performance memang pada pilihan lintasan yang ingin ditekuni. Seorang performer bisa bertumpu pada keinginannya semata untuk berekspresi dan mengkomunikasikan pendapatnya dengan tindakan. Penyebutan performer dalam konteks ini terikat pada siapa yang menyebutnya demikian, misalnya seorang seniman performance.

Seniman performance bisa saja melihat kesehariannya sebagai performance art. Namun kesehariannya butuh ketertiban layaknya orang yang bekerja sebagai seniman: seniman lukis melukis, seniman teater menyajikan pertunjukan, dsb. Dalam perjalanannya, seorang seniman menemui konteks yang khas, di mana konteks tersebut sekarang tidak bisa dipisahkan dari mekanisme industri. Ketika berkesenian adalah pekerjaan, maka dengan sendirinya internalisasi gagasan melibatkan pula stimuli dari pergaulan, dan tindakan dalam ruang pikir-laku yang sistemik.

Maka ketika arsip dihasilkan dari perekaman, yang eksplisit adalah identifikasi siapa, di mana, kapan, dan seolah-olah tentang apa. Pilihan bekerja sebagai seniman performance erat dengan logika sistem yang menggiring tercetusnya pola. Ekspresi seorang seniman performance menjadi karya, sehingga perlu apresiasi, perlu penonton. Pertanyaan lanjutan yang kadang muncul adalah mengapa. Mengapa memilih isu tersebut? Mengapa modus penyampaiannya begitu? Mengapa pakai properti? Mengapa telanjang? Mengapa ada panggung?

Tapi pernahkah sesama pekerja seni bertanya, mengapa perlu menyelenggarakannya sebagai hajat/event?

Bagi seorang perekam, pertanyaan di atas pasti mengubah tradisi dokumentasi seni kontemporer. Performance art menjadi sangat butuh perekaman karena sifat penyajiannya yang fana. Upaya pengekalan bisa ditempuh dengan meninggalkan jejak, menjadikannya ritual, menghadirkan sebanyak-banyaknya orang supaya terbentuk memori kolektif, perekaman, atau cara-cara lain yang saya belum tahu.

Namun, perlukah ia menjadi kekal?

Saya mengurungkan niat untuk memperoleh jawaban ya atau tidak. Secara pragmatis, atas nama pelestarian memori kolektif, rekaman video menghasilkan produk yang lebih luwes sejak manusia tidak lagi canggung menghadapi layar televisi. Penonton rekaman video performance art sekarang dengan segera bisa mengubahnya jadi video yang sama sekali berbeda. Secara gradual, upaya klasifikasi ‘video art’, ‘video performance, ‘dokumentasi video dari performance’ turut lebur. Maka, digunakanlah data untuk mengeksplisitkan rekaman menjadi arsip, demi menjadikan rekaman tersebut obyektif.

 

Kritik terhadap obyektivitas arsip

Bukan barang baru. Membuat arsip sebagai acuan (yang juga adalah kata ganti dari objective) adalah upaya menyajikan informasi, berita, memvalidasi bisik-bisik menjadi fakta.

Untuk masyarakat yang terdidik dengan sistem pendidikan di Indonesia, mengarsipkan adalah warisan kolonial. Saya rasa terlalu dini jika kita bersegera mendekonstruksi makna arsip, semata-mata karena Derrida menegaskan kehadiran otoritas mutlak tak terhindarkan untuk tindak klasifikasi. Apakah resolusinya adalah mengujicobakan berbagai sistem klasifikasi, karena bangunan pengetahuan arsip di antara masyarakat Indonesia belum mengadaptasi bentuk-bentuk pasca-kolonial?

Orang Indonesia terlanjur mengenal Pancasila, terdesak menjadi nasionalis, dan dengan ringan mengamini solidaritas. Penyederhanaan saya bertujuan untuk menyampaikan bahwa sistem (pengelolaan) masyarakat Indonesia dibangun di atas landasan absolut. Maknanya, sistem musyawarah untuk mufakat atau gotong royong, mengarahkan masyarakat untuk percaya pada konsep demi kebaikan bersama. Sistem tersebut kemudian diangkat pada hirarki tertentu, misalnya nilai tradisi dan warisan bangsa, juga diasosiasikan untuk proses memahami demokrasi.

Saya juga urung menggeser kegelisahan saya pada obyektivisme menurut Ayn Rand, yang menyatakan bahwa nilai ditentukan dan relatif pada pencetus atau penerimanya. Untuk tujuan penulisan ini, arsip performance art esensinya bukan untuk melayani kebutuhan relatif seniman performance, atau semata-mata melayani kebutuhan medan sosial seni. Karena toh, ia tidak berperan signifikan untuk menjadikan performer sebagai seniman performance. Memori kolektif tentang ritual, ekspresi dan opini yang tidak dilestarikan kolonial, terlanjur pupus dan kita hanya bisa meratapi nasib. Dalam masa remang-remang seperti sekarang, pahlawan sejarah dirayakan, dan kita berjanji sepakat untuk tidak mengulangi kealpaan yang sama.

ANRI melakukannya untuk catatan pemerintahan dan kaleidoskop sosial budaya; pendirian museum negara dan swasta disertai misi preservasi benda non artefak; seniman mempercayai ekspresinya akan lestari melalui diversifikasi media -konon hal pertama yang ditanyakan seniman pada pihak yang membantu penyelenggaraan hajat seninya adalah dokumentasi.

Kabar (gembira?) untuk para seniman, belakangan museum kontemporer skala internasional lebih gencar mengumpulkan (membeli) arsip dari hajat temporer, terutama yang berbasis partisipatoris dan asumsinya mengandung dialektika praktek seni.

Perbedaan tujuan pengumpulan museum dengan peneliti atau pengajar seni tercermin pada produknya. Museum adalah suatu sistem yang mengelola bahan/materi, sedangkan peneliti menggunakan sistem untuk mensintesis bahan dengan teori(nya). Keduanya bisa bekerja bersama, biasanya dalam sistem yang lebih mapan dan taktil. Kecenderungan baru ini masih marak dipromosikan oleh kalangan akademis dan pemerintah, agaknya sebagai reaksi dari pengakuan gradual atas teori pusat dan pinggiran dalam pengelolaan pengetahuan.

 

Penutup

Tulisan ini dihadirkan menyertai laku sistematis medan sosial seni: hajat performance art yang masih signifikan untuk pertumbuhan melalui pertukaran bahasa ungkap. Saya mengandaikan Ring of Performance ini sebagai wadah profesi, seperti Ikatan Dokter Indonesia atau Paguyuban Pemuka Adat.

Optimisme saya tidak terletak pada glorifikasi demokratisasi latar belakang, pinggiran menginflitrasi pusat atau bahkan mengandaikan pusat selain institusi pemerintah di Indonesia itu ada. Sebagai salah satu pencatat, saya optimis bahwa jika performance art tidak lagi mampu bernegosiasi di medan sosial seni, ia perlu diujicobakan pada konstruksi lain yang lebih bisa memanfaatkannya.

 

Februari 2016

pitra.hutomo@gmail.com

 

 

// Kabar IVAA: Desember 2015 – Kegiatan dan Koleksi // Selamat Natal dan Tahun Baru! //

Lihat tampilan html

ivaa-christmas-newyear
Arsip Sanggar Bambu (1968)

Halo KawanIVAA!

Selamat Natal 2015 dan Menyambut Tahun 2016 dengan gemilang!

Telah dua bulan berlalu dari terbitan kabar elektronik IVAA yang pertama. Sepanjang masa itu pula, tim dengan koordinator Dwi Rahmanto panen rekaman dari perhelatan seni rupa dua tahunan: Makassar Biennale 2015, Biennale Jogja XIII Equator #3, Biennale Jatim 6, Jakarta Biennale 2015. Laporan khusus akan kami sampaikan dua bulan dari terbitnya kabar elektronik ini.

Kami hendak membagi kisah-kisah di balik beberapa kegiatan yang berlangsung setahun belakangan, antara lain
Menanam Arsip, Pameran Arsip IVAA di National Gallery Singapore, Hibah Penelitian Seni Rupa, dan Pembangunan Basis Data Pameran Temporer sekaligus Pemetaan Seniman Nusantara, kerja sama IVAA – Galeri Nasional Indonesia.

Album foto dari kegiatan di Ruang Bertemu RumahIVAA telah terunggah
di sini.

Simak juga sorotan rekaman audio visual dari beberapa bulan terakhir, dengan penambahan signifikan dari serial wawancara dengan para pelaku seni Indonesia. Daftar lengkapnya dapat diunduh
di sini.

Sedangkan, daftar penambahan koleksi pustaka IVAA sepanjang 2015 tersedia
di sini.

Kegiatan Terseleksi 2015
Menanam Arsip pada Tanah yang digawangi Yoshi Fajar berangkat dari pengalaman IVAA berinteraksi dengan Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN). Serial diskusi dengan komunitas pengumpul dan penyedia arsip budaya nusantara ini, gagasannya dirintis sejak IVAA menyelenggarakan Hibah KARYA! (2013) dan tahun berikutnya menerbitkan kumpulan esai berjudul Arsipelago: Kerja Arsip dan Pengarsipan Budaya di Indonesia. Simak refleksi Yoshi di sini.

Untuk Pameran Arsip IVAA di National Gallery Singapore, tim IVAA membawa sejumlah hasil penelitian terseleksi tentang seni, seni rupa, pendidikan, dan makna bekerja sebagai seniman di Indonesia. Berkas-berkas ini direproduksi, dirangkai, dan diinterpretasi ulang sebagai materi audio visual dan bahan bacaan yang meliputi dinamika ranah seni rupa Indonesia sejak pra Kemerdekaan hingga pasca Reformasi. Pengantar pameran oleh Pitra Hutomo dapat dibaca di sini.

Setelah melalui proses penyelenggaraan Hibah KARYA! 2013, tim IVAA melanjutkan dengan Hibah Penelitian Seni Visual 2015. Awal Desember 2015, para pemenang hibah telah menyelesaikan esai mereka dan menyerahkannya pada kami.

Ikuti terus Kabar IVAA, karena di edisi mendatang kami akan menyediakan hasil-hasil penelitian melalui situs web @rsipivaa.

Tahun ini adalah tahap ketiga kerja sama IVAA dengan Galeri Nasional Indonesia (GNI).
Melisa Angela menuliskan refleksinya mengkoordinir Pemetaan Seniman Nusantara. Basis data Pameran Temporer GNI saat ini telah dibuka aksesnya melalui tautan ini.

Pembaruan Organisasi
Sepanjang 2015, IVAA menyelenggarakan rangkaian pertemuan internal untuk mempelajari dinamika keorganisasian yang berlangsung sejak 2007. Proses kami lakukan perlahan dan menyeluruh, di tingkat struktur maupun program. Memasuki 2016, RumahIVAA akan tutup mulai 4 hingga 15 Januari 2016, karena kami melakukan beberapa perubahan di Ruang Baca sekaligus pertemuan internal untuk merancang kerja satu tahun ke depan.
Melalui kabar elektronik ini, kami sekaligus hendak memperkenalkan wajah-wajah yang bisa Anda temui melalui layanan online maupun di RumahIVAA. Mari bertegur sapa!

Memasuki tahun 2016, IVAA kembali membuka kesempatan magang dan kerja praktek untuk mahasiswa S1 tanpa spesifikasi jurusan. Tiga muda-mudi bersemangat dari FSMR ISI Yogyakarta telah usai dan meluluskan program kerja prakteknya di IVAA sepanjang Oktober-Desember 2015. Anda dapat simak profil mereka di sini.

Tak lupa, kami selalu mengundang partisipasi Anda: pelaku, penggerak, dan pencinta seni Indonesia, untuk bersama-sama memasuki tahun 2016 sembari menghidupi dinamika pengetahuan yang terinspirasi seni. Kontribusi Anda selama ini telah memberi makna pada keberadaan IVAA. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan, semoga daya upaya yang telah kita kerahkan turut membangun rakyat Indonesia pada kehidupan yang lebih baik.

Salam,
Pitra, Christy, Melisa, Yoshi, Dwi, Santosa, Rosa, Edy, Alit, Sukma, Tia.

** // Highlights //
————————————————————


Jogja Street Sculpture Project 2015 (JSSC), merupakan pameran yang menampilkan karya 32 seniman patung. Pameran ini mengambil tema “Antawacana” yang dalam pewayangan berati dialog. Menurut ketua JSSP 2015 Hedi Hariyanto, pameran ini bertujuan membangun dialog melalui patung, serta karena di Jogja sendiri banyak orang dari berbagai latar belakang saling bertemu, untuk saling berdialog. Pameran dibuka pada 30 Oktober 2015 dan berlangsung hingga 15 Desember 2015, di sepanjang jalan Mangkubumi hingga Kleringan Yogyakarta.


Trashgender, Alternative Queer Performance Art Night
Diselenggarakan di Indonesian Contemporary Art Network (iCAN), 10 Oktober 2015. Selama 2 minggu Ming Wong (Singapura-Berlin) bersama dengan 4 seniman lainnya dari Indonesia dan Australia: Otniel Tasman, Shahmen Suku, Tamara Pertamina, dan Bradd Edwards, melakukan workshop dan belajar mengenai tari klasik Jawa maupun tari kontemporer. Ming dan rekan-rekannya memilih Yogyakarta karena nilai sejarah dan mitos yang kuat mampu berinteraksi dengan kebudayaan kontemporer. Proyek ini menghasilkan karya video dan dokumentasi pendukung dari proses workshop. Video dan pertunjukan di iCAN ini dibawa lagi untuk berpartisipasi dalam The 8th Asia Pacific Triennial di Brisbane, Australia.


Ratmakan Taman Bertumbuh Permainan Hari Siapa Saja/ Playground Open Day
Setelah tinggal dan bekerja di Kampung Ratmakan, Jorgen Doyle dan Hannah Ekin akhirnya membuka “Alun-Alun Ratmakan : Junk Playground”. Minggu, 18 Oktober 2015, Alun-alun Ratmakan dimeriahkan dengan bom air, perang tepung, bermain air semprot-menyemprot, bermain cat, flying fox, dan perosotan. Dimeriahkan pula dengan penampilan Barongsai, K-Pop dan I-pop dance generasi penerus Ratmakan, acara musik serta hiburan lainnya. Di area yang diberi nama alun-alun Ratmakan itu, kita bisa melihat dan belajar “Junkology” yaitu pemanfaatan sampah menjadi sebuah karya. Bertempat di tanah kosong bantaran Kali Code, Jorgen dan Hannah bekerja setiap hari membongkar timbunan sampah, memilah-milah tanah, dan mengumpulkan barang bekas yang semuanya itu kemudian digunakan untuk membangun sebuah taman bermain yang terus bertumbuh. Proyek ini difasilitasi oleh Jogja Independent Residency Project (JIRP) dan Ketjilbergerak.

** // Interview Series //
————————————————————

Frigidanto Agung dan kisah prakteknya sebagai kurator dan produsen acara seni.

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Muhammad Yatim Mustafa (Medan)

https://www.youtube.com/watch?v=ZFcqJT_SR_E

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Rasinta Tarigan (Medan)


Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Kelompok Simpassri – Simpaian Seniman Senirupa Indonesia (Medan)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Husin Nanang (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Lalu M. Syaukani (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Handono Hadi (Medan)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Agus Priyatno (Medan)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Franky Pandana (Medan)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
I Nyoman Putra ‘Mantra’ Ardhana (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Joko Prayitno (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Fitri Evita (Medan)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Komunitas Pasir Putih (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Tarfi Abdullah (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
I Wayan Pengsong (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Kepala Taman Budaya Nusa Tenggara Barat

============================================================

// February 2016 Edition:
Art Biennale(s) in Indonesia, a study of thematic approach //

Program Diskusi Keliling: Menanam Arsip pada Tanah

Menanam Arsip Pada Tanah merupakan program “berkeliling” IVAA untuk menginisiasi perjumpaan antar orang dan komunitas di berbagai tempat, untuk saling berbagi, sekaligus  mendorong lahirnya inspirasi (dan jaringan) baru mengenai kerja pengarsipan. Apa itu yang dianggap arsip; Apa saja yang perlu diarsipkan; Untuk apa dan untuk siapa kerja pengarsipan dikerjakan, dan; Bagaimana cara mengarsipkan; dan lain sebagainya… merupakan beberapa pertanyaan dasar yang akan terus-menerus digali dengan kritis dalam kerja arsip dan pengarsipan, dan sekaligus menjadi dasar dari Program Menanam Arsip Pada Tanah.

Arsip dan pengarsipan di ranah kebendaannya selalu terkait dengan operasi kuasa (pengetahuan, ekonomi, dan estetika). Operasi kuasa hadir dalam konteks kolonialisme, dalam konteks developmentalisme, maupun di dalam pusaran pasar komoditas. Operasi kuasa telah menghadirkan arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari sumber produksi pengetahuan, ekonomi, dan estetika “mereka yang berkuasa”. Di dalam pasar, arsip dan pengarsipan menjadi sumber estetika produksi-distribusi-konsumsi dari nilai komoditas yang ditawarkan. Menghadirkan wacana, nilai, dan sense yang lepas dari problem sosial-budaya-politik masyarakat. Arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari politik klaim, akses, dan estetika dari operasi kuasa.

Meskipun begitu, banyak dijumpai di dalam kenyataan, berbagai individu, lembaga, atau komunitas masyarakat di luar pemerintah dan perusahaan, telah mengembangkan kerja arsip dan pengarsipan di dalam kerangka konsep dan metodologi produksi pengetahuan yang disesuaikan dengan kegelisahan, kebutuhan, dan persoalan-nya sendiri. Pemahaman mengenai arsip dan kerja pengarsipan meluas, melintasi aspek waktu dan kebendaannya,  memasuki ranah bahasa, tubuh, dan ingatan. Proses dan sikap keberpihakan pada realitas yang penuh persoalan lebih diutamakan di dalam kerja arsip dan pengarsipan, menghadirkan berbagai produk pengetahuan, estetika, dan sense yang lebih kongkrit dalam arus pinggiran modernitas-globalisasi.

Arsip dan kerja pengarsipan sesungguhnya sangat penting untuk terus-menerus dipikir ulang, dipraktikkan, dan dieksplorasi di dalam konteks negara bekas jajahan yang terus bergerak dan tidak pernah fiks dalam (identitas) kehidupannya, seperti Indonesia. Sebuah negara bangsa yang tidak pernah bisa menciptakan museumnya dengan benar, yang selalu terengah-engah mengabstraksikan sejarah pengetahuannya, dan yang selalu punya siasat untuk mengacak-acak tatanan fungsinya. Namun, pada semua itulah justru seringkali terletak energi kreatif orang-orangnya: membuat hidup (yang berat) menjadi hidup. Kita, barangkali mempunyai pemahaman arsip dan kerja pengarsipan yang beragam. Museum, ditafsirkan dan dikerjakan dengan cara yang lain.

Arsip dan kerja pengarsipan pada akhirnya tidak hanya perkara mengumpulkan dan memulung dokumen-dokumen serta potongan-potongan rekaman mengenai apa yang pernah terjadi dalam kehidupan (sebagai nation state), namun juga menjadi sebuah lahan luas untuk terus digali dan diolah kembali secara kreatif untuk mengisi celah-celah kosong infrastruktur, ilmu, dan sejarah di negeri ini. Arsip sebagai -bukan hanya- sebuah kebendaan, ataupun sarana yang digunakan sebagai media kerja bersama produksi pengetahuan dan estetika, namun lebih dari itu, ia juga sebuah proses, praktik, dan alam bawah sadar dari strategi kultural kehidupan masyarakat setempat.

Kota-kota yang sudah disinggahi IVAA untuk mengadakan sarasehan “Menanam Arsip Pada Tanah”, yaitu:

1. Malang, Jawa Timur.
Waktu: Sabtu, 29 Agustus 2015 | Jam 15.00 – 18.00 WIB
Tempat: Kafe Pustaka Universitas Muhammadiyah Malang, Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia

Pembicara:
1.    Aji Prasetyo (Tjangkir17, Malang)
2.    Bramantyo Prijosusilo (Akademi Sekaralas, Madiun)
3.    Yoshi Fajar Kresno Murti (IVAA, Yogyakarta)

Moderator:
Francis Hera (CCFS, Malang)

Lihat album foto di sini.

2. Singapura.
Waktu: Selasa, 22 September 2015 | Jam 16.00 (Singapura)
Tempat: Block 47 Malan Road, #01-25 Singapore Art Archive Project Space By Koh Nguang How, Former NTU CCA Singapore Artist-in-Residence

Lihat album foto di sini.

3. Padang, Sumatra Barat.
Waktu: Sabtu, 7 November 2015 | Jam 15.00 – selesai
Tempat: Taman Budaya, Padang, Sumatera Barat

Pembicara:
1.    Gusti Asnan (Guru besar sejarah, Universitas Andalas, Padang)
2.    Muhidin M Dahlan (iBOEKOE, Yogyakarta)
3.    Yoshi Fajar Kresno Murti (IVAA, Yogyakarta)

Moderator:
Koko Sudarmoko (RKB, Padang)

Lihat album foto di sini.