Category Archives: E-newsletter

#GILAVINYL: Obat keusangan, racun untuk pencintanya

Judul : #GILAVINYL Seluk-Beluk Mengumpulkan Rekaman Piringan Hitam
Penulis : Wahyu Acum
Editor : Dandy Nugraha.
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman : 268
Resensi oleh : Yulius Pramana Jati 

Benarlah jika kata usang merupakan kata sifat bagi segala sesuatu yang lekang jaman layaknya batu bara sebagai bahan bakar kereta api, lontar sebagai medium tulis, dan pak pos sebagai penghantar surat cinta kepada yang tersayang. Yang usang seringkali tak bertahan bukan tanpa alasan, karena sesuatu menjadi usang biasanya disebabkan kegunaannya yang tak lagi efektif dan efisien dalam menunjang kebutuhan manusia. Tetapi ada paham yang mampu membuat keusangan bertahan hingga kini, paham itu sering disebut romantisme.

Romantisme secara umum adalah perasaan yang amat takjub terhadap sesuatu, tidak peduli apapun keadaannya baik itu murah, mahal, usang, kekinian, dan sebagainya. Perasaan itu cenderung membuat orang yang ternaung di dalamnya menjadi penuh harapan serta berjuang keras untuk mendapatkan apa yang dia sukai dan biasanya juga disertai imajinasi yang tinggi terhadap segala hal yang ia sukai tersebut. Ketika ketakjuban ini menjadi kegilaan dalam mengakses hingga pengumpulan (mengoleksi) objek-objek kesayangannya, maka ini sering disebut sebagai hobi. Hobi sendiri muncul pada diri seseorang karena pengaruh internal atau eksternal yang sengaja maupun tidak sengaja, seperti dari memori masa lampau, pertukaran pengalaman antar pribadi, hingga pengaruh/ hasutan (dalam konteks kekinian sering disebut sebagai racun). Seringkali sikap-sikap seperti itu tersemat pada suatu objek dan objek yang terpengaruh oleh romantisme ini biasanya mengalami sebuah transformasi dari fungsi awalnya. Salah satunya yaitu vinyl record atau yang sering kita sebut sebagai piringan hitam.

Vinyl merupakan media penyimpanan suara analog yang ditemukan oleh Emile Berliner dan dipatenkan pada 1887. Hingga tulisan ini ditulis, bisa dibilang penemuan ini bertahan selama 133 tahun sebagai medium penyimpanan suara analog, terlebih sebagai media rekam musik. Sebelum kaset, CD, hingga kini yang hanya berupa file, vinyl lebih banyak berfungsi sebagai medium pemuas akan kebutuhan hati dan telinga penikmatnya. Pada awalnya pun vinyl dikoleksi untuk pengkayaan bank data musik atau dokumen rekaman penggunanya. Tetapi kini kegiatan pengoleksiannya bertransformasi menjadi sebuah hobi yang tak hanya sebagai wujud pemuasan diri akan kekhasan suara, melainkan juga pada bentuknya yang eksotis. Bentuk piringan hitam ini tanpa perlu dieksotisasi sudahlah eksotis. Sehingga seringkali vinyl dijadikan pajangan dan ornamen dekorasi. Maka dari itu tidak mengherankan jika objek ini sangat prestisius bagi orang yang menenteng atau memamerkannya kepada orang lain.

Buku #GILAVINYL karya Wahyu Acum ini secara tersirat menggambarkan apa yang saya jabarkan sebelumnya yakni bagaimana hobi vinyl kini sudah masuk ke tataran romantisme yang menggugah nurani pencintanya dalam mencapai sebuah romansa. Melalui buku ini Wahyu Acum menjelaskan apa itu definisi gila dan hobi dalam konteks #GILAVINYL yang memiliki arti: terlanda perasaan sangat suka akan vinyl/ piringan hitam. Judul #GILAVINYL pun juga terintegrasi dengan sosial media yakni Twitter dan Instagram di mana khalayak bisa mengakses tagar tersebut ketika sedang membaca sembari bersosial media guna menambah pemahaman tentang isi buku atau meracuni diri agar masuk ke hobi ini. 

Selain menjelaskan arti #GILAVINYL di track (bab) awal, Wahyu juga menceritakan bagaimana ia bisa masuk ke dalam hobi vinyl ini. Ia menceritakan dinamika perjalanannya berpindah-pindah hobi dari mengoleksi perangko, kartu basket, korek kayu, kaset, CD, hingga akhirnya menemukan kecintaannya, yakni vinyl. Hobi bagi penulis dalam buku #GILAVINYL ini merupakan sebuah pertanda perjalanan manusia yang bahagia. Saya sangat setuju dengan penulis, yakni ketika bisa memiliki sekaligus melakukan hobi itu sangatlah membahagiakan. Mengapa? Karena bagi saya hobi adalah kunci dari segala kunci dalam menemukan waktu tersendiri yang intim bahkan sangat meditatif saat menyatu di dalamnya, dan waktu khusus yang didapatkan saat berhobi ini kerennya disebut “Me time”. Tentunya, “Me Time” ini akan sukses ketika beberapa kewajiban seperti deadline pekerjaan, tugas kuliah, skripsi, dan nafkah bulanan kita sudah tuntas semuanya. Tanpa ketuntasan itu, hobi hanyalah seonggok batu neraka sarat dosa. Percayalah…

Setelah menguak perjalanan spiritualnya akan hobi vinyl, Wahyu selanjutnya memberikan pengantar tentang seluk beluk teknis vinyl meliputi jenis material apa saja yang digunakan dalam pembuatan vinyl, ukuran, fungsi, dan lainnya. Pengantar teknis yang diberikan sudahlah cukup sebagai pengetahuan awal ketika ingin masuk ke dalam hobi ini. Poin menarik adalah penjelasan setelahnya, yakni perihal kenapa vinyl layak dipilih sebagai hobi. Di sini ia menjelaskan beberapa alasan yang umumnya menghinggapi khalayak sehingga mau terikat dengan vinyl ini, seperti putaran vinylnya serta kerepotannya dalam memutar vinyl yang sebenarnya alasan-alasan tersebut sangat personal menurut saya. Tetapi apalah arti hobi jika tidak menghadirkan pengalaman personal bukan?

Setelah berkutat dengan pengantar singkat tentang seluk beluk vinyl, di track (bab) berikutnya Wahyu mengajak pembaca untuk ikut ke dalam petualangannya menyusuri berbagai lokasi penyedia vinyl, dan penelusurannya ini ia sebut dengan istilah “piknik”. Di sini ia memberikan beberapa lokasi penyedia vinyl beserta pengalaman yang ia dapat ketika mencari vinyl-vinyl tercintanya itu. Beberapa lokasi yang ia ceritakan ada di beberapa daerah baik di dalam negeri dan luar negeri seperti Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Bali, Jakarta, Singapura, dan Thailand. Tak hanya offline store yang ia informasikan, melainkan juga bagaimana mendapatkan vinyl melalui online store seperti Ebay dan Stockroom. Ada yang unik dengan Stockroom yakni soal bagaimana online store ini membuat hari Kamis menjadi hari yang sakral bagi para penghobi vinyl dalam mendapatkan objek kecintaan mereka.

Tak hanya itu, Wahyu juga menjelaskan bagaimana serunya Record Fair sebagai perhelatan di mana setiap aktor peng-#GILAVINYL berkumpul dalam perputaran ekonomi serta pengetahuan akan vinyl. Berbagai pengalaman demi pengalaman ia jelaskan, terkesan personal tapi influentif menurut saya. Salah satu pengalaman yang membuat saya terkesan adalah tentang bagaimana ketika “piknik” ia mampu menemukan 20 nama artis dan 10 album baru yang belum pernah ia dengar dalam waktu sehari. Dari pengalamannya tersebut ia menyadari jika kegiatan ini bukan tentang collecting vinyl saja, melainkan perihal penemuan kembali terhadap sesuatu yang lampau namun terlupakan dan ini salah satu kerja pengarsipan.

Track selanjutnya sangat jelas jika tak akan lengkap tanpa menyuguhkan pengalaman personal tiap penghobinya. Di bab ini yaitu “track III: Mereka”, Wahyu mengajak untuk membaca pembacaan yang dilakukan tiap peng-#GILAVINYL dalam membaca hobi mereka ini. Baik tentang pengalaman mereka dalam mendapatkan nilai lebih dalam mengakses vinyl hingga transformasi diri yang didapatkan setelah menggeluti hobi ini. Rata-rata yang diangkat adalah para public figure industri hiburan tanah air. Di sini saya merasa ada yang kurang terhadap pemetaan pelaku yang dilakukan oleh Wahyu, mengingat banyak sekali pelaku di luar kategori tersebut yang bisa dikatakan legend di dunia per-vinyl-an dan saya yakin itu. Dengan pemetaan yang menyeluruh pastilah pembacaan tentang vinyl akan semakin luas beserta kemungkinan-kemungkinan lain yang pasti mengiringinya. Kecuali jika Wahyu memang hanya ingin menstimulasi pembacanya dari tahap interest menuju tahap action selayaknya iklan produk dengan artis-artis sebagai presenternya. Bagi saya sah-sah saja, namanya juga meng-influence. Melakukan hobi jika sendirian juga tidak asik karena cenderung tidak akan ada perputaran pengetahuan yang empiris.

Setelah semua track tersebut terjabarkan, Wahyu menutup dengan bab/ track bertajuk bonus. Di dalam track ini ia menyertakan direktori berbagai penyedia vinyl di Indonesia dan glosarium istilah-istilah yang sering digunakan dalam hobi ini. Ditambah foto-foto dokumentasi selama ia melakukan pencarian vinyl-vinyl di berbagai daerah  yang memicu imajinasi para penggila atau nyaris gila vinyl. Jelas, penutup ini semakin mempersiapkan, bahkan benar-benar berniat mengajak pembaca untuk masuk ke dalam hobi ini. Bagaimana dengan saya? Ya.. Tunggu saja ketika saya dapat rejeki nanti. Apakah saya akan ingat atau lupa pada hobi ini, pokoknya tergantung restu istri.

Bagi saya membaca buku ini seperti dihadapkan pada aplikasi katalog hotel. Ketika memutuskan ingin menginap kita akan disuguhkan profil berbagai hotel beserta lokasi-lokasinya lengkap dengan testimoni para pelanggan yang pernah menginap di sana. Bedanya ada pada pengalaman estetik yang menyentuh nurani manusianya. Sekali lagi, ini perihal pencapaian romansa dan ini kelebihan buku #GILAVINYL. Romansa-romansa ini disajikan dengan bahasa yang ringan tanpa membuat pembaca berpusing-pusing kembali ke teks sebelumnya guna mengartikan bahasa-bahasa tulis yang canggih.

“The whole experience of vinyl is what we’re after. If we don’t see something moving, we lose romance. There’s no romance for me to sing to you about an iPod. But why? Because nothing is moving.”—Jack White

Dengan romantisme pada akhirnya sangat tidak tepat jika menyebut vinyl adalah medium rekaman suara yang usang. Di luar kelebihan dan kekurangannya dalam teknologi, piringan vinyl memiliki sisi romantisnya yang mampu membuatnya sebagai objek yang layak dicintai hingga kini. Di lain sisi proses transmisi vinyl pun mengalami transformasi karena romantisme ini, dari medium rekam suara saja, kini berubah fungsi menjadi objek kolektif bahkan sangat prestisius bagi pencintanya. Transmisi vinyl berlanjut bukan sebagai medium penyimpan lagu dan suara yang ingin kita dengar saja, tetapi kini bertransformasi menjadi vinyl yang memiliki peran dalam menyajikan “rasa” yang membahagiakan kolektornya, bahkan hingga ke ranah yang sangat meditatif.

Memang buku ini terkesan hanya menjabarkan romantisme yang dirasakan penulis beserta penghobi lainnya tentang bagaimana awal hobi mulai bersemi; mengakses berbagai tempat yang menyediakan koleksi piringan vinyl yang tersebar di berbagai tempat. Namun terlihat jelas jika penulis juga memetakan medan sosial dari hobi vinyl ini sehingga kita tahu siapa saja, di mana saja, dan bagaimana kita bisa mengakses medium tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penulis memiliki harapan besar jika komunitas pecinta vinyl ini dapat meluas hingga menyentuh berbagai kalangan. Tetapi barangkali ada kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat digali dari hobi koleksi vinyl, misalnya sebagai medium pembacaan arsip. Entah ada berapa banyak pengetahuan yang terserak di luar ruang penyimpanan arsip formal yang barangkali justru ada di tangan para penggila vinyl ini. Sehingga tak hanya #GILAVINYL yang menyertai, tapi juga #VINYLGILA yang memberkati hobi ini guna menunjukkan potensialitasnya sebagai laku pengetahuan. Aminnnn!!!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Bersama Dullah, Melihat Bung Karno dari Sudut Pandang yang Lain

Judul : BUNG KARNO Pemimpin, Presiden, Seniman
Penulis : Dullah
Editor : Mike Susanto
Penerbit : Museum Dullah
Tahun Terbit : 2019
Resensi Oleh : Ganesha Baja Utama

Buku ini berisi kumpulan tulisan yang dimuat di harian Minggu Merdeka, yang mana merupakan ingatan dan catatan ketika Dullah tinggal di Istana. Catatan-catatan tersebut berisi banyak hal yang apabila dibaca akan memunculkan sudut pandang, imajinasi, fantasi lain mengenai kehidupan seorang presiden, kehidupan pribadi seorang Dullah, dan kehidupan yang terjadi di Istana pada masa itu. Dullah sendiri adalah seorang pelukis yang berperan penting dalam dunia seni rupa di Indonesia. 

Buku ini tidak hanya menyoroti perihal seni. Hal-hal kecil lain yang ternyata merupakan peristiwa penting, seperti keseharian Bung Karno dengan anak-anaknya, Bung Karno dalam menyiapkan pidatonya, kisah cinta, dan bahkan sifat-sifat yang dimiliki oleh Bung Karno dibahas dalam buku ini. Membaca buku ini akan membawa seseorang seolah terjun untuk berfantasi dan membayangkan apa yang dialami Dullah pada saat itu.

Catatan-catatan ini menjadi sebuah warisan karya yang penting bukan hanya untuk dunia seni, melainkan juga untuk sejarah bangsa, dan untuk masyarakat Indonesia sendiri. Bukan semata-mata tulisan yang dikumpulkan dan dirangkai menjadi sebuah buku, kumpulan tulisan ini menjadi jembatan penting bagi kita dalam memahami apa yang telah dilakukan oleh Dullah selain sebagai ahli gambar. Disertai dengan sejumlah foto keterangan terkait hal yang diceritakan dalam tulisan tersebut, membuat saya mudah untuk membayangkan dan seolah mampu menarik mundur waktu, pergi ke situasi di saat foto-foto itu diambil. 

Disebutkan bahwa kumpulan tulisan ini merupakan catatan-catatan selama satu dekade Bung Karno, yaitu pada 1950-1960. Rangkaian catatan yang juga bisa dikatakan sebagai bentuk romantisme seorang Dullah kepada Istrinya. “Ibune Kenung”, begitu panggilan romantis Dullah kepada istrinya dalam catatan-catatan di buku ini. Dullah melukis Fatimah atau Ibune Kenung secara simultan sepanjang waktu, dan benar saja dalam lukisan Dullah tidak ada model yang sering dilukis terkecuali istrinya sendiri. Terlepas dari hubungan antara Dullah dengan Bung Karno ataupun dengan istrinya, buku ini memberi keterangan bahwa sebenarnya hanya terdapat 59 artikel. Bahwa terdapat kekeliruan penomoran oleh redaksi Harian Merdeka pada artikel nomor 23 yang sebenarnya tidak ada. Selain itu judul-judul yang ada pada setiap artikel di buku ini sebenarnya juga tidak ada. Judul-judul ini diberikan digunakan sebagai penanda apa yang akan dibaca oleh pembaca pada setiap artikel.

Setiap catatan benar-benar menggambarkan bagaimana suatu hubungan terjalin. Hubungan yang saya maksud adalah hubungan antara Dullah dan Bung Karno. Pada beberapa artikel Dullah menggambarkan bagaimana dirinya bisa menjadi akrab dengan presiden pertama Indonesia ini. Dullah digambarkan seperti bayangan seorang Sukarno. Bagaimana tidak, di setiap catatan Dullah selalu menceritakan bagaimana dirinya diajak Sukarno bepergian, melukis, menata panggung pentas 17-an, dan banyak kegiatan yang melibatkannya. Setiap pagi seniman besar ini menemani Bung Karno berolahraga, jalan kaki mengelilingi istana. Hubungan ini membuat Dullah dekat dengan keluarga Bung Karno serta paham betul bagaimana si presiden memiliki jiwa seni.

Hal menarik lainnya bagi saya ketika membaca buku ini adalah bahwa Dullah tidak hanya menceritakan tentang Bung Karno, istana, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya. Dullah juga selalu memberikan gambaran bagaimana rakyat menyambut kedatangan seorang Bung Karno ketika mengunjungi daerah-daerah. Catatan-catatan yang telah dituliskan dengan lengkap oleh Dullah ini menjadi tulisan yang layak untuk dibaca dalam rangka memahami Bung Karno dari sudut pandang yang lain.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Komunitas dan Pekerja Seni Malaysia

Judul : PERSPEKTIF Naratif Seni Rupa Malaysia
Penulis : Nur Hanim Khairuddin
Penerbit : RogueArt
Cetakan : Cetakan Pertama
Tahun Terbit : 2019
Halaman : 348 halaman
ISBN : 978-967-10011 9 6
Resensi Oleh : Gagas Dewantoro

Buku yang berisi kumpulan makalah dari 2011 hingga 2017 ini berisi berbagai pandangan masyarakat Malaysia tentang seni rupa. Dengan format seri, buku ini merupakan jilid keempat atau terakhir yang memberikan gambaran komunitas dalam dunia seni di Malaysia. 

Sebagian dari mereka pada dasarnya tidak dikenal sebagai artis tetapi sebagai pekerja kreatif, pendongeng dan pembuat mitos berdasarkan keahlian yang telah mereka dapatkan. Kajian sosiologis oleh Howard Becker pada 1948 yang berjudul Art Worlds menggambarkan bahwa karya seni adalah wujud hasil usaha banyak orang yang membentuk dan mencorak karya seni itu. Sehingga karya seni memiliki nilai serta maknanya di dalam sebuah masyarakat. Nilai yang diberikan kepada sebuah karya seni merupakan usaha bersepadu untuk melahirkan sebuah penghargaan publik terhadap kerja-kerja kreatif oleh para seniman.

Pada dasarnya komunitas merupakan sekumpulan orang yang mempunyai hubungan antara satu sama lain. Hasil hubungan sosial bukan hanya berdasarkan hubungan silsilah keluarga, namun lebih soal ikatan kekeluargaan. Dalam buku ini penulis melihat hubungan seni dengan kehidupan sosial di dalam sebuah komunitas masyarakat yang luas. Keterlibatan sosial menjurus kepada berbagai cara di mana orang melibatkan diri dalam masyarakat, komunitas dan kehidupan politik. Melalui proses ini, seni digunakan sebagai medium untuk mengangkat isu-isu dalam lingkungan masyarakat. Oleh sebab itu secara tidak langsung seni mendapatkan ruang yang khas dalam masyarakat dan wacana. 

Seniman dapat mewujudkan lebih banyak sintesis; mengasimilasi dan menyesuaikan diri ke dalam budaya, konteks sosial tempatan, politik dan ekonomi melalui proses pelibatan dan performance. Seni yang berinteraksi secara langsung dengan masyarakat sosial meliputi pengkuratoran terbuka dan bersifat kolaboratif dalam proses yang menghasilkan. Dalam konteks operasi antara praktis seni dan penghasil wacana tentang seni, kurator adalah hal penting dalam membentuk apa dan bagaimana kita melihat dan mengalami seni yang dihasilkan  pada zaman ini dan yang lalu.

Pemahaman kurator menurut beberapa orang memang berbeda-beda termasuk dari seorang Nur Hanim Khairuddin yang memahami peranan kurator dengan keterlibatan pemilihan tema, seniman dan karya, menyusun objek di ruang pameran, dan dalam beberapa kasus menyumbang teks ringkas yang menerangkan kerja-kerja dan seniman yang terlibat. Namun saat ini dunia kurasi di Malaysia begitu holistik, rumit, bermacam dan banyak peringkat. Kurator memimpin dan mengawal keseluruhan proses pembuatan pameran, serta membangun tema dan konsep berdasarkan kajian mendalam dan rujukan melalui ruang, aliran, konteks dan wacana pameran, untuk menyusun teks kuratorial dan promosi, serta melaksanakan program sampingan. Namun yang paling penting, kurator berfungsi sebagai perantara antara berbagai komponen: seniman, karya seni, institusi, penonton, media, masyarakat umum, bahkan kolektor. Ini menunjukan bahwa kurator memainkan peranan yang lebih aktif.

Pada tahap tertentu, nampaknya terdapat peralihan dalam peranan dan kuasa kurator juga. Dahulu, kita melihat kurator hanya berfungsi sebagai pemilih seniman dan bekerja untuk pameran tanpa memberikan sembarang respons dan kritik. Sekarang mereka merupakan pencipta atau pengarah acara yang mengambil keseluruhan proses menganjurkan pameran dengan sendiri atau bekerja sama dengan kolaborator lain. Lebih jauh lagi muncul juga fenomena kurator sebagai seniman, di mana kurator menganggap pameran yang mereka usahakan sebagai “objek” seni dalam dirinya sendiri.  

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Menjelajah Relasi: Medium dengan Persentuhan Problematika Seni Rupa Era Kontemporer

 Judul : Relasi dan Ekspansi Medium Seni Rupa
Penulis : Para staf pengajar di Program Studi Seni Rupa, FSRD, ITB
Penerbit : Direktorat Pengembangan Seni Rupa, ITB
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun : 2018
Resensi oleh : Prima Abadi Sulistyo

Memahami dan membaca seni rupa kiranya juga tak hanya menyoal karya seni rupa yang berdiri sendiri. Membaca seni rupa juga melibatkan persoalan relasi medium. Rizki A. Zaelani, dalam tulisannya mengutip gagasan Achille Bonito Olivia, “Tidak ada kesadaran intelektual terhadap seni”. Tentunya ungkapan tadi ingin menjelaskan adanya sikap ragu bahwa seni mampu merumuskan maknanya secara menyeluruh. Rizki pun mengungkapkan, istilah “medium” bukan hanya sebatas permasalahan bahan/ material seni rupa, tapi lebih soal makna (ekspresi) seni rupa itu sendiri. 

Buku ini seolah dihadirkan karena selama ini peristiwa seni cenderung dipandang sebagai cipta seni, hasil akhir/ produk dari seorang seniman. Buku ini hadir sebagai salah satu alternatif; soal bagaimana untuk meningkatkan dan memahami proses apresiasi yang mempunyai makna, diperlukan perangkat pengetahuan yang memadai. Sebagai bagian proses pemahaman dan penghayatan terhadap suatu karya seni oleh apresiatornya, yaitu pengetahuan seni (art knowledge).

Terbit pada 2018, buku ini digarap oleh staf pengajar perwakilan studio yang ada di Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Teknologi Bandung (ITB). Ditulis oleh 12 penulis yang secara garis besar bicara dalam ranah medium seni rupa, macam-macam seni rupa dan kajiannya, sejarah seni rupa, refleksi seni rupa Indonesia, serta seni rupa kontemporer. Berterbalkan 322 halaman, buku ini dibagi ke dalam beberapa sub tema yang mereka tulis dan kembangkan dari pemikiran mereka.

Tulisan pertama oleh A. Rikrik Kusmara membahas tentang medium seni rupa: konsep, struktur dan perkembangannya. Sedikit banyak membahas tentang fungsi medium, medium dan estetika, serta tipologi medium. Rikrik membagi tipologi medium seni rupa ini ke dalam perspektif modern dan tradisional. Secara deskriptif-naratif ia  juga menjelaskan macam-macam medium seni rupa mulai dari drawing, seni lukis, patung, seni media baru, mixed media, fotografi, video art, sampai seni instalasi.

Di tulisan selanjutnya Didik Sayahdikumullah membahas soal mooi indie dan seni lukis bentang alam. Ia menuliskan bagaimana sejarah seni Indonesia seakan beranggapan bahwa relasi antar manusia dan alam sering dikategorikan sebagai lukisan bentang alam atau mooi indie. Hal ini terasa ketika para pemikir Indonesia dalam menggambarkan “beauty” selalu sebagai fenomena yang merujuk pada seni rupa barat. Fenomena lukisan mooi indie dianggap sebagai sebuah kedangkalan pelukis barat dalam memahami realitas kehidupan sehari-hari negeri tropis ini. Dalam perbedaan cara pandang memahami mooi indie inilah yang kemudian seolah mempresentasikan awal mula konflik estetik yang dipertentangkan oleh sebagian pelukis indonesia. Didik mencoba menelaah dari segi sejarah bagaimana perkembangan lukisan bentang alam ala eropa di masa East India Company, yang selanjutnya menimbulkan pemaknaan dan terminologi lukisan mooi indie di negeri jajahan Belanda. Didik juga membahas ruang lingkup lukisan bentang alam dan mooi indie, serta kemunculan mooi-scape pasca lukisan bentang alam. Tulisan ini kemudian disusul oleh Bambang Ernawan yang mengulas seputar seni lukis abstrak. Dia lebih bercerita soal pengalaman pribadinya yang empiris ketika mencoba melukis lukisan abstrak.

Lain lagi dengan Willy Himawan, ia mencoba mengejawantahkan topik pilar kultural dalam seni lukis Indonesia. Diawali dengan tulisan kunci dari Sanento Yuliman yang berjudul “Seni Lukis Indonesia: persoalan-persoalannya, dulu dan sekarang”, Willy mencoba mendedah seni lukis dari ranah tradisi dan kultur suatu wilayah, semisal seni lukis diaspora Bali. Ia juga menambahkan terkait seni lukis (yang) kultural, yang menurut hemat saya berarti bahwa seni lukis berposisi sebagai sebuah hal yang dinamis dan aplikatif. Seni lukis juga menjadi bagian kultural (relief di candi) dan bagian modern dalam perhelatan di ruang seni rupa macam ARTJOG.

Pada tulisan selanjutnya yang berjudul Seni dan Ruang Publik, Budi Adi Nugroho mencoba mengejawantahkan persoalan seni di ruang publik sebagai seni yang lahir direncanakan dan diproduksi untuk dimiliki oleh masyarakat luas. Ia menjelaskan gagasannya dengan konsep piramida terbalik. Awalnya ia menjelaskan soal sejarah seni dan ruang publik. Kemudian ia menyebutkan macam-macam tipologi seni ruang publik. Melalui pengambilan contoh general genealogi seni ruang publik di Indonesia, Budi kemudian membahas genealogi seni ruang publik di Bandung sebagai salah satu studi kasus seni dan ruang publik. 

Pada tulisan selanjutnya, Setiawan Sabana melalui Seni Grafis di Indonesia dan Tantangannya mencoba menelaah definisi seni grafis dan irisannya dengan cabang seni rupa lainnya. Setiawan Sabana juga mengambil banyak studi seni grafis yang berada di Indonesia. Seni keramik kontemporer juga tak luput dari pembahasan. Lalu Nurdian Ichsan mencoba merunut perkembangan seni keramik dari paradigma craft, paradigma seni modern, lalu paradigma seni kontemporer. Dalam tulisannya yang lain ia juga ingin bicara soal Refleksi Kritis Seni Rupa Kontemporer di Indonesia pada 1990-an. Dilanjutkan oleh Asmudjo J. Irianto dengan judul Fotografi Seni: Modern, Postmodern, Kontemporer yang mencoba menjelaskan bagaimana fotografi berkembang dan menjadi sebuah pertanyaan. Soal bagaimana akhirnya peran dan posisi fotografi di dalam perkembangan seni rupa dewasa ini. 

Tisna Sanjaya dengan tulisannya yang berjudul Imah Budaya (IBU) Cigondewah membahas riset seni atau artistic research yang acap kali sering dianggap oleh seniman sebagai bagian yang jarang dibahas dan diungkapkan. Melalui studi kasus riset seni budaya (IBU) Cigondewah, ia mencoba menjelaskan bagaimana pada akhirnya ,melalui riset, seni juga bisa membuat sebuah alternatif penciptaan dan solusi permasalahan lingkungan hidup. Hemat saya, hal ini difokuskan pada revitalisasi budaya dan pemberdayaan masyarakat melalui seni lingkungan. Senada dengan Tisna Sanjaya yang berkenaan dengan riset seni berbasis lingkungan, Muksin Md memilih tema unsur-unsur tradisi sebagai inspirasi. Muksin mengatakan di dalam seni rupa kontemporer, pemanfaatan unsur-unsur tradisi juga bisa diolah. Sebut saja unsur-unsur tradisi seperti material/ benda tradisi (lokal), kesenian maupun budaya dan tema tema di dalamnya.

Setiawan Sabana melalui Refleksi Spiritualitas dalam Seni Rupa Kontemporer ingin memberikan tanggapan atas situasi dan perkembangan “era ekonomi” ASEAN yang ditandai dengan kegiatan bersama dan bebas dalam bidang perdagangan (AFTA). Adapun dampak dari kebijakan itu juga berpengaruh pada dimensi seni maupun budaya yang sangat terkait dengan aktivitas perdagangan. Hal inilah yang kemudian dipertanyakan oleh beliau. Bahwa seni itu lebih merujuk kepada nilai batin pada diri manusia, sedangkan perdagangan sebaliknya. Ia menggambarkan Asia Tenggara sebagai satu kesatuan budaya dengan ciri-ciri yang hampir sama. Ia mencoba menjelaskan secara singkat tentang kebangkitan kebudayaan Asia Tenggara yang juga terjadi dalam dunia seni rupa Asia Tenggara. Pada poin terakhir kemudian dituliskan mengenai refleksi dalam pencarian nilai (spiritualitas) dalam memahami ekspresi seni rupa kiwari ini.

Pada sub tema lainnya, Dadang Sudrajat menulis soal spiritualitas dalam seni. Ia beranggapan bahwa seniman adalah juga penempuh jalan spiritual, penempuh laku Suluk. Dengan contoh bagan, Dadang mencoba menghubungkan seni, mistisisme, dan keindahan. Penjelasan spiritual dan hubungan dengan salah satu sisi agama juga dijelaskan olehnya dalam memahami spiritualitas seni dan hubungannya dengan individu yang bersifat personal.

Tulisan terakhir dari Rizki A. Zaelani dengan judul yang menarik perhatian, Melihat dengan Ibarat. Dengan pendekatan mistisisme Islam/ tasawuf, Rizki mengatakan bahwa “melihat dengan ibarat” pada prakteknya bukan hanya persoalan melihat (seeing). Lebih dari itu, ia juga soal mengingat (remembering, remembrance) dengan Tuhan sebagai pusat ingatannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Poster dalam Semesta Arsip

oleh Hardiwan Prayogo

Pertengahan Januari, ketika Mikke Susanto sedang mempersiapkan Pameran Poster Seni Rupa tahun 1974-2019, yang bertajuk Masa Lalu Belumlah Usai, ia menghubungi IVAA untuk menjadi salah satu narasumber di diskusi yang digelar pada hari pembukaan pameran, yaitu 22 Januari 2020. IVAA diminta untuk membicarakan poster dalam perspektif pengelolaan arsipnya. Alhasil, guna mempersiapkan materi obrolan, saya membuka lagi ribuan lembaran arsip poster koleksi IVAA. Melihat kembali fungsi utama IVAA yang bergerak di bidang pengarsipan dan seni rupa, poster menjadi salah satu rasi dalam semesta koleksi arsip IVAA. Secara umum, poster koleksi IVAA terbagi ke dalam poster promosi peristiwa seni dan poster yang bersifat propaganda. Selanjutnya, persoalan bagaimana poster berelasi dengan arsip-arsip lainnya akan diulas dalam sorotan arsip kali ini. Lebih jauh lagi, yang akan diulas adalah arsip poster event atau peristiwa seni.

 

 

 

 

 

 

Sebagai arsip, poster terhitung sebagai arsip yang cukup jarang diakses publik. Untuk menjawab persoalan ini tentu memerlukan pelacakan lebih panjang dan mendalam di lain waktu. Terlepas dari akses dan atensi publik pada arsip poster, IVAA menyimpan lebih dari 2500-an poster mulai dari 1987 hingga awal 2020 ini. Meski belum seluruhnya terinventarisasi dalam pencatatan, pameran tugas akhir Suwarno, dan pameran Forum Komunikasi Seni tercatat sebagai poster tertua sejauh ini, dengan tahun 1987. Kenapa IVAA juga merasa perlu menyimpan poster? Salah satu alasan filosofisnya adalah IVAA meyakini bahwa arsip selalu memiliki 2 aspek, yaitu nilai informasi (informational value), dan nilai bukti (evidence value). Selain memang memiliki informational value, sebagai evidence value kehadiran poster saya kira perlu disandingkan dengan arsip-arsip lain seperti katalog, foto/video dokumentasi, hingga liputan media. 

 

 

 

 

 

 

 

Lantas informasi apa yang umumnya dimiliki oleh selembar poster? Poster selalu memiliki informasi mengenai siapa saja pelaku seni yang terlibat, judul acara, waktu dan tempat pelaksanaan. Dalam sekilas pandang sambil lalu, setidaknya sebagian informasi tersebut akan diperoleh. Beberapa poster, salah satunya dalam peristiwa seni yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta, selalu mencantumkan satu esai pengantar yang biasanya ditulis oleh kurator pameran. Informasi-informasi general dalam poster ini jelas terbatas, maka perlu dicari relasinya dengan arsip-arsip lain. Mari kita mulai membuka kembali lembaran-lembaran poster koleksi IVAA.

Contoh pertama adalah Proyek Seni Rupa Yuswantoro Adi yang berjudul Bermain & Belajar. Poster yang kemudian menjadi bagian dari event ephemera ini juga memiliki katalog. Dari sebaran arsip peristiwa seni yang dimiliki IVAA, terlihat bahwa poster event menggambarkan bahwa acara ini bertema seputar anak-anak. Namun, bagaimana anak-anak direpresentasikan dalam pameran ini? Dari arsip katalog dan dokumentasi lainnya, kita akan mendapati bahwa Yuswantoro tidak hanya menggunakan figur-figur anak kecil sebagai objek kritik sosial, tetapi juga mensetting galeri menjadi taman bermain.

Contoh kedua adalah Biennale Yogyakarta VII tahun 2003. Poster pameran ini mengilustrasikan bola dunia dengan latar belakang warna merah muda. Selain menampilkan tema pameran yaitu Countrybution, poster ini menampilkan informasi general seperti lokasi, tanggal, rangkaian program dan seniman yang terlibat. Tentu sulit melacak informasi lebih lanjut terkait pameran, terlebih isu dan konteks yang mengelilingi Biennale kali ini. Maka informasi-informasi ini bisa diperoleh melalui katalog pameran yang memuat  pengantar dari Antena Project, esai kuratorial dari Hendro Wiyanto, deskripsi karya, dan profil seniman partisipan. Hendro menyebut bahwa ini adalah pertama kalinya perhelatan Biennale Yogyakarta merujuk pada sebuah tema/ tajuk tertentu: Countrybution. Biennale Yogyakarta ini sejatinya dilaksanakan pada 2001, namun mundur 2 tahun karena persoalan dana. Tema ini dipilih karena menyoroti penyelenggaraan Biennale di negara berkembang yang umumnya menghabiskan cukup banyak biaya, sementara kebutuhan dasar yang lebih vital bagi warga belum memadai.

Contoh ketiga adalah pameran tunggal Hanafi, berjudul Waktu/ Times. Poster pameran ini menggunakan ilustrasi lukisan abstrak karya Hanafi. Tentu juga masih ada informasi general dalam poster ini. Tetapi sama seperti contoh kedua, informasi lebih jauh berada di katalog. Jim Supangkat, sebagai kurator pameran, menyebut karya Hanafi sebagai dekonstruksi seni lukis abstrak. Karena jika secara teoritis seni lukis abstrak bersifat non-representasional, karya Hanafi justru merupakan seni lukis abstrak representasional yang pada pameran ini membicarakan isu objek, ruang, dan manusia. 

Kemudian yang terakhir, serangkaian poster event Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XV tahun 2003. Selain poster utama, terdapat juga poster untuk program-program terkait yaitu pameran/ gelar seni rupa yang bertajuk Reply, dan pameran tunggal fotografi Yudhi Soerjoatmodjo berjudul Facade. Dan isu apa yang tertulis dalam katalog? Disebutkan bahwa tantangan FKY edisi ini adalah mengakomodir sebanyak-banyaknya seniman, dengan berbagai kecenderungan ragam, sekaligus menghadirkan mutu. Rain Rosidi dan Sujud Dartanto mengambil benang merah ‘anak muda’, dengan spirit bahwa ini adalah cara anak muda menjawab tantangan zaman. Seluruh seniman yang berpameran merupakan hasil pendaftaran (bukan undangan). Seperti hal paling umum dari pembacaan arsip, kita kerap menemukan problem atau isu dalam seni yang berulang-ulang dari tahun ke tahun. Hal yang sama juga muncul ketika saya membuka kembali arsip yang diawali dari pembacaan poster-poster ini. 

Poin penting apa yang muncul ketika poster disandingkan dengan arsip-arsip yang lain? Poin itu adalah posisi arsip sebagai evidence value. Ketika arsip-arsip poster dengan informational value-nya masing-masing dirangkai bersama arsip lain, maka arsip-arsip tersebut mampu berfungsi sebagai evidence value, karena mereka berpotensi memunculkan konteks yang lebih luas atas suatu peristiwa. Poster sebagai arsip memang tidak bisa berdiri sendiri. Kehadirannya sangat perlu ditunjang oleh kehadiran arsip lain agar nilai-nilai informasi yang termuat dalam selembar poster ini bisa memiliki nilai bukti yang lebih kontekstual. Bukan berarti salah ketika poster dapat ditinjau secara tunggal dari aspek desain, teknik cetak, dan hal-hal formalis lainnya. Namun, dalam konteks pembacaan yang lebih komprehensif, tentu relasi dengan material arsip lain menjadi sangat penting. 

Dalam kepentingan inilah lembaga arsip seperti IVAA bekerja, bahwa logika pengelolaan arsip perlu bertumpu pada ketelitian menemukan informasi dan menjahitnya sebagai upaya menemukan kemungkinan-kemungkinan lain dalam suatu pembacaan atas peristiwa. Singkatnya, dengan logika demikianlah arsip poster dikelola di IVAA. Lebih jauh, cara kerja demikian seturut dengan kenyataan bahwa pengetahuan yang beredar di sekitar kita, termasuk seni, memang berserak. Lanskap isu yang mengitari sebuah peristiwa tidak bisa hanya dibaca melalui satu arsip poster. Ini menjadi tantangan sekaligus harapan dari kerja pengarsipan. Sebuah tantangan, karena kerja pengarsipan itu bagai pekerjaan yang tidak pernah usai dan tidak selalu sesuai dengan satu atau dua metode baku. Dan sebuah harapan bahwa potensi pengetahuan dalam arsip tidak akan menemui titik, selalu berjalan dalam koma.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Kunjungan ACICIS ke IVAA 2020

oleh Ganesha Baja Utama

Pada 16 Januari 2020 Indonesian Visual Art Archive (IVAA) menerima tamu dari kawan kawan “The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies” (ACICIS). ACICIS adalah konsorsium pendidikan nirlaba nasional inovatif yang didirikan pada 1994 untuk mengatasi hambatan akademik, birokrasi dan imigrasi yang secara signifikan telah menghambat siswa Australia untuk melakukan studi semester di universitas-universitas dan beberapa komunitas di Indonesia. IVAA menjadi bagian dari salah satu program kunjungan mereka. Kunjungan dari kawan-kawan ACICIS ini disambut senyum hangat oleh beberapa staf IVAA, yakni Yoga, Sukma, dan Santoso. 

Kunjungan ini memang lebih banyak bercerita tentang profil IVAA (sejarah, visi-misi, dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan) hingga tanya-jawab. Salah satu pertanyaan yang muncul dari kawan-kawan ACICIS adalah soal bagaimana IVAA menentukan sesuatu sebagai arsip dan selanjutnya bisa diarsipkan. Tentu, IVAA sebagai lembaga arsip pun tidak lagi menjadi pemain tunggal kerja dokumentasi seperti dulu, sehingga mengupayakan kelengkapan arsip peristiwa seni. Sekarang IVAA lebih mengutamakan bekerja dengan basis isu yang relevan dan kontekstual. 

Sekitar pukul 11.00 sesi tanya jawab dan presentasi ditutup. Kemudian teman-teman ACICIS diajak berkeliling ruangan (room tour) yang ada di IVAA, mulai dari lantai paling bawah hingga lantai paling atas. Kunjungan ini diakhiri dengan makan dan foto bersama di ruang tengah.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Bincang Singkat Arsip, Seni dan Aktivisme – Bridge Year Program

oleh Krisnawan Wisnu Adi

Sebagai bagian dari program internship-nya di Yogyakarta, Bridge Year Program (BYP) dari Universitas Princeton bersama Where There Be Dragons menggelar sesi belajar yang mengusung beberapa tema: seni dan aktivisme, kepercayaan lokal, gender dan seksualitas, serta kelompok marjinal. Untuk masing-masing tema, mereka mengunjungi beberapa organisasi yang relevan. 

Pada Senin siang, 27 Januari 2020, sekitar pukul 13.30 WIB, mereka mengunjungi IVAA untuk berbincang singkat seputar seni dan aktivisme. Kurang lebih poin inti yang dibicarakan adalah peran IVAA sebagai lembaga pengarsipan di dalam fenomena aktivisme seni. 

Dalam kesempatan yang menyenangkan ini, tim IVAA lebih banyak membagikan pengalaman ketika mengarsipkan beberapa peristiwa seni yang berkaitan dengan isu urban, seperti aktivitas “Sakit Berlanjut” (1999), “Di sini akan dibangun mall” (2004), “Panen Terakhir” (2012), “Merti Kuto-Warga Berdaya” (2015), dsb. Selain itu, diceritakan juga proses pengarsipannya. Berawal dari suatu persoalan kemudian pengolahan isu (kontekstualisasi dengan misi lembaga dan kebutuhan publik), konsolidasi ke dalam-luar, pendokumentasian, pencatatan arsip, aktivasi arsip (aktivasi melalui buku, diskusi, serta platform online), hingga ketika arsip kembali di publik. 

Setelah duduk bercerita bersama, teman-teman BYP diajak untuk menyaksikan beberapa arsip video tentang seni dan aktivisme, serta beberapa poster propaganda karya Taring Padi.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

TELAAH VISUAL: PERWAJAHAN BUKU SASTRA JAWA MODERN (GAGRAK ANYAR) (Periode Awal 1900 hingga Roman Panglipur Wuyung)

oleh Ibnu “BENU” Wibi Winarko 

Suatu produk hasil industri agar mendapatkan sebuah tanggapan dari konsumen –terjual–, diperlukan adanya faktor pendukung, misalnya iklan, diskon, pemberian contoh produk atau sesuatu yang bisa meningkatkan penjualan. Hal yang sudah lumrah dan jamak dilakukan. Semua lini bergerak dan tak boleh kendor, agar bisa segera mendapatkan pemasukan uang dan segera mungkin untung.

Industri buku di Hindia-Belanda sudah mulai ada sejak akhir abad 19, kebanyakan milik orang Tionghoa peranakan dan Indo-Eropa. Sebagian besar menerbitkan buku-buku cerita dalam bahasa Melayu Tionghoa atau Melayu Pasar. Beberapa buku sempat diterbitkan ulang oleh penerbit Gramedia, terhenti pada seri ke-15. Salah satu penerbit yang terkenal adalah Tan Khoen Swie (TKS) di Kediri, yang berdiri pada kurang lebih tahun 1915. Pecinta buku tentu kenal dengan buku-buku terbitannya yang terbagi ke dalam 3 jenis: tulisan Jawa, tulisan Jawa latin (modern), dan Melayu. TKS menerbitkan kurang lebih 400 judul buku dengan berbagai genre. Termasuk buku-buku karangan pujangga dan sastrawan Jawa seperti Ronggowarsito, Yosodipuro, dan Ki Padmosusastro.

Lalu penerbit milik pemerintah Belanda di Hindia-Belanda yang paling tua dan ikut menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa latin adalah Landsdrukkerij atau Percetakan Negara. Berdiri pada 1809, punya tugas untuk mencetak Berita Negara dan Lembaran Negara. Apa itu? Contohnya adalah undang-undang dan peraturan pemerintah. Lokananta, sebuah perusahaan rekaman musik di Solo yang terkenal dengan rekaman piringan hitam dan kaset adalah salah satu cabang perusahaan tersebut. Percetakan Negara sekarang beralih nama menjadi Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (BUMN). Masih ada satu penerbit milik Belanda yang ada di Batavia, terdeteksi menerbitkan novel berbahasa Jawa, yakni Papyrus. 

Pada saat itu, Batavia difungsikan sebagai titik awal dan pusat perkembangan industri percetakan di Hindia-Belanda ini. Bangsa kolonial ingin memanjakan orang-orangnya yang ada di Hindia-Belanda dengan bahan bacaan informatif. Mesin cetak didatangkan dari Eropa pada pertengahan 1600. Konon, ada 6 badan penerbitan swasta yang mencetak buku almanak, kamus dan kitab suci. Baru pada 1719, VOC bisa memaksimalkan fungsi mesin cetaknya setelah mengalami pengalaman buruk pada puluhan tahun sebelumnya. Gubernur Jenderal van Immof baru menyadari bahwa percetakan dan penerbitan merupakan hal penting untuk kelangsungan kekuasaan VOC di Hindia-Belanda.

 

Sastra Jawa Modern

Sebelum membahas sampul buku-bukunya, perlu diceritakan secara singkat asal muasal genre ini. Sastra Jawa dulunya hanya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan kraton, berupa kakawin atau tembang. Selaras dengan pertunjukan seni wayang yang bisa ditanggap oleh rakyat biasa, sastra Jawa ikut keluar dari kraton. Pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19, muncul pujangga-pujangga sastra Jawa baru yang bukan dari keluarga kraton. Kebanyakan berasal dari golongan priyayi atau golongan terpelajar. Karya-karyanya menggunakan bahasa pengantar Jawa Madya (bahasa Jawa tingkat tengahan). Beberapa pujangga sastra Jawa baru (modern) adalah Jasawidagda, Hardjawiraga, Asmawinangun, Padmosoesastra dan beberapa lainnya. Keberadaan mereka didukung oleh pihak kolonial yang meminta mereka untuk membuat buku yang isinya hampir sama dengan buku-buku terbitan Eropa. 

Bale Poestaka ikut berperan menyebarkan karya-karya mereka. Sebuah lembaga penerbitan yang didirikan oleh pemerintah kolonial sebagai salah satu bentuk politik balas budi, serta untuk meredam propaganda yang mulai dikobarkan oleh pemuda dengan pemikiran modern tentang kebebasan dan kemerdekaan. Para pemuda menerbitkan tulisan-tulisannya di kota-kota kecil, sehingga pemerintah kolonial perlu meredamnya dengan mencetak buku-buku penghibur dan penenang hati rakyat, agar mereka terus “tertidur” dan melupakan ajakan para pemuda modern untuk melakukan gerak perlawanan.

George Quinn dalam Novel Berbahasa Jawa (1995) membedakan karya sastra Jawa baru menjadi 3 jenis. Pertama adalah Novel Priyayi, sebab penyunting dan penulis Jawa yang bekerja di Bale Poestaka sebagian besar adalah priyayi tingkat bawah (mendapat didikan Belanda). Novel-novel jenis ini dengan mudah mendapatkan kedudukan, kekuasaan, hak istimewa dan bersifat eksklusif di alam tata kehidupan masyarakat. Novel priyayi juga menggambarkan kehalusan watak dan penampilan fisik idealnya seorang priyayi.

Kedua adalah Novel Panglipur Wuyung. Karya sastra yang didasari arus cerita populer dalam masyarakat yang berbau lisan. Ideologi di dalamnya berdasarkan atas kenyataan hidup dan dunia adalah tempat yang tidak aman. Novel jenis ini sering menyajikan pembelaan terhadap nilai-nilai yang telah populer dan konservatif dalam masyarakat lewat sinkretisme, penyesuaian dan persatuan. Perbedaan hasil penyelesaian perkara dapat diterima oleh semua pihak asal masih berpedoman pada adat dan tenggang rasa.

Ketiga adalah Novel Modern. Quinn mengambil pembedaan ini berdasarkan buku Rites of Modernization (1968) karya James Peacock yang meneliti kesenian ludruk. Disebutkan bahwa ada alur-T (tradisional) dan alur-M (modern). Alur-M mengandung penyelesaian yang akan menghasilkan suatu hal baru atau inovatif. Alur semacam ini jarang dilakukan oleh sastrawan Jawa. Disinyalir hanya Suparta Brata yang telah menggunakannya (serial Detektif Handaka). Sedangkan cerita dengan alur-T akan menghasilkan penyelesaian yang banyak dianut sastrawan Jawa. Suatu akhir cerita yang tidak akan mengubah kondisi masyarakat sebelumnya. 

 

Sampul Novel Priyayi

Gambar 1. Serat Tjariosipoen Djaka Santosa Lan Djaka Marsoedi, Ketiga Wigjapratjeka karya Tjakardi Brata cetakan Commissie voor de Volkslectuur (Balai Pustaka) (1916). Dokumen penulis.

Apa kesan kita saat melihat penampilan seorang priyayi? Jaman dulu, seorang priyayi digambarkan sebagai pribadi yang halus dan paham adat-istiadat. Berpakaian rapi, necis, dan bersih. Gambaran mudahnya adalah seperti penampilan Minke (diperankan Iqbaal Ramadhan) dalam film Bumi Manusia, yang dibuat berdasarkan salah satu novel tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Penampilan seperti itulah yang termatup dalam novel-novel bahasa Jawa modern. Para penulis bertutur tentang pakaian dan tampilan para pemuda-pemudi dalam bahasa Jawa Madya. Bahasa Jawa Madya adalah salah satu tingkat percakapan yang digunakan dalam struktur bahasa Jawa. Biasa digunakan kepada teman atau orang lain yang belum dikenal tapi punya kesamaan usia.

Hal ini agak berhubungan juga dengan tampilan sampul-sampul buku yang dicetak. Sampul buku berpenampilan “sopan”, terdiri dari judul, pengarang, jabatan pengarang atau asal pengarang, peraturan undang-undang tentang perlindungan hak cipta, dan nama penerbit beserta kota. Tulisan-tulisan tadi kemudian dibatasi oleh kotak hingga menambah kesan kaku. Ada juga yang hanya polos tanpa hiasan apapun. Hanya beberapa saja yang menggunakan hiasan goresan garis bernuansa art nouveau sederhana. Secara visual lebih terkesan cair dan sedap dipandang mata, seperti pada judul Serat Tjariosipoen Djaka Santosa Lan Djaka Marsoedi, Ketiga Wigjapratjeka karya Tjakardi Brata cetakan Commissie voor de Volkslectuur (Balai Pustaka) pada 1916. (Gambar 1)

Sejalan dengan semakin berkembangnya dunia pustaka, pada 1917 Bale Poestaka (BP) atau Balai Pustaka (nama setelah Commissie voor de Volkslectuur) lebih banyak lagi memperkenalkan cerita-cerita dalam bahasa Jawa, Jawa latin, Sunda, Madura, dan Melayu. Tampilan sampul lambat-laun ditambahi semacam ragam hiasan berulang, ada yang kecil dan ada yang besar. Ragam hias besar menggantikan kotak yang berupa garis. Pola ragam hias ini digunakan juga untuk buku-buku di luar roman Jawa modern. Salah satu contoh adalah Woelang-Darma (M. Partadiredja dan R. Poerwasoewigja, 1922). (Gambar 2)

Gambar 2. Woelang-Darma (M. Partadiredja dan R. Poerwasoewigja, 1922). Dokumen penulis.

Untuk ragam hias yang berukuran kecil diletakan mengurung huruf BP. Bisa ditemukan pada Ichtijar Marganing Kasembadan (Wirjawarsita, 1925), Soewarsa-Warsijah (Sastradihardja, 1926), dan Botjah ing Goenoeng (M. Soeratman Sastradiardja dan K. M. Sasrasoemarto, 1930) (Gambar 3).

Gambar 3. Botjah ing Goenoeng (M. Soeratman Sastradiardja dan K. M. Sasrasoemarto, 1930). Dokumen penulis.

Ragam hias yang ditempelkan pada bawah nama pengarang dapat ditemukan pada buku berjudul Saking Papa Doemoegi Moelja (Mw. Asmawinangoen, 1928), Moengsoeh Moengging Tjangklakan (Mw. Asmawinangoen, 1929), Badan Sapata (Hector Malot dan M. Hardjawiraga, 1931) (Gambar 4), dan Asih Tan Kena Pisah (Soeman Hs dan M. Soehardja, 1932). 

Gambar 4. Badan Sapata (Hector Malot dan M. Hardjawiraga, 1931). Dokumen penulis.

Beruntung Bale Poestaka segera memperkerjakan B. Margono (lahir 1901-1959). Ilustrator handal dari Jogjakarta yang karya-karyanya mulai menghiasi sampul novel bahasa Jawa dan Jawa modern. Tercatat dimulai dari novel Tri Djaka Moelja (M. Harjadisastra, 1932), Tarzan Ketek Poetih (Edgar Rice Burroughs dan Soewignja, 1935), Tarzan Bali (Edgar Rice Burroughs dan Soewignja, 1936), Sri Koemenjar (L.K. Djodosoetarso, 1938), dan Ni Woengkoek ing Benda Growong (R.Ng. Jasa Widagda, 1938). Sebagian karya B. Margono telah dipamerkan oleh Bentara Budaya Yogyakarta tanggal 13-21 Juli 2010 dengan tajuk “Seporet”. Selain itu hanya ada sebuah buku berjudul Ali Babah karya Enno Littmann dan Soewignja (1933) yang memberi gambar ilustrasi di bagian sampulnya (tidak diketahui karya siapa). Serta sebuah novel adaptasi berjudul Ma Tjun diterjemahkan S. Sastrasoewignja (1932). Penghias kulit muka buku itu kemungkinan adalah B. Margono.

Dari data di atas, saya ambil kesimpulan sementara bahwa pemberian ilustrasi pada buku-buku novel bahasa Jawa mulai dilakukan tahun 1930-an. Hal ini mungkin dipelopori oleh Bale Poestaka karena ada pengaruh dari buku-buku terbitan luar (Belanda) yang masuk ke Hindia-Belanda. Coba perhatikan buku-buku pelajaran sekolah rakyat (SD) cetakan J.B. Wolters yang sampulnya bagus-bagus. Sampai sekarang saja masih jadi buruan kolektor buku sebab dihiasi ilustrasi halaman dalam yang ciamik. Buku-buku ini, sedikit banyak mempengaruhi perkembangan penggunaan ilustrator untuk mengerjakan bagian sampul dan isi. Gambar sampul sebagai salah-satu pemikat hati calon pembelinya. 

Memasuki periode 1940-1950, selain Bale Poestaka; ada penerbit buku berukuran kecil dari Kota Solo, yakni Poernama yang ikut meramaikan dunia pustaka. Buku novel yang diterbitkan adalah Pedoet Sala (Asmara Asri, 1941; ilustrator tidak diketahui) (Gambar 5), Kyai Franco (Asmara Asri, 1941; illustrator tidak diketahui), dan Soerja-Raja (Asmara Asri, 1941; ilustrator tidak diketahui). Ada juga Badan Penerbit Indonesia mengeluarkan buku berjudul Tri-Moerti (Ki Loemboeng, 1941; ilustrator tidak diketahui). Pada periode ini, berdasarkan buku yang dijadikan dasar penulisan, Bale Poestaka tidak mengeluarkan buku bergambar pada sampulnya.

Gambar 5. Pedoet Sala (Asmara Asri, 1941; ilustrator tidak diketahui). Dokumen penulis.

Pada kedua dasawarsa tadi, tampilan gambarnya masih menggunakan 1 warna saja. Bale Poestaka menggunakan warna hitam pada setiap gambar sampulnya. Sedangkan penerbit Poernama mulai menggunakan salah satu dari warna merah, hijau, coklat atau biru untuk sampul-sampul bukunya. Hingga akhir 1940-an, tak banyak lagi buku diterbitkan, mengingat saat itu masih dalam suasana perang; dari masuknya Jepang merebut Hindia-Belanda dan dilanjut perang kemerdekaan. Keadaan genting baru benar-benar usai setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda II pada 27 Desember 1949.

 

Novel Panglipur Wuyung

Sebuah roman picisan dalam bahasa Jawa yang mulai berkembang dan bersaing dengan terbitan dari Balai Pustaka. Masa kemunculan dan berakhirnya hampir selama dua dekade. Balai Pustaka memancing semangat penerbitan buku-buku novel berbahasa Jawa ngoko lewat Oh, Anakku karya Th. Suroto (1952) (Gambar 7) dengan penggambar sampul Abdul Rachman. Penulisan menggunakan bahasa Jawa Madya sudah tidak dipakai lagi. Disusul Djodo Kang Pinasti karya Rm. Ngabei Sri Hadidjojo (1952) (Gambar 6) , sampul oleh Abdul Rachman. Desain sampul dan gambar pada buku Djodo Kang Pinasti kelihatannya menjadi acuan bagi sampul-sampul buku sejenis di kemudian hari. Gambar tokoh utama digambar secara close-up untuk menarik perhatian agar dibeli dan dibaca.

Gambar 6. Djodo Kang Pinasti karya Rm. Ngabei Sri Hadidjojo (1952). Dokumen penulis.

Gambar 7. Oh, Anakku karya Th. Suroto (1952). Dokumen penulis.

Penerbit partikelir ibarat cendawan di musim hujan. Bermunculan di mana-mana, terutama di Surabaya, Semarang, Solo dan Jogja. Pertama yang terpancing adalah Pustaka Roman, tampil dengan seukuran buku saku yang bertahan hingga 10 edisi. Lantas disusul oleh Panjebar Semangat (PS), lewat divisi penerbitan buku menggandeng pengarang legendaris Any Asmara dan menerbitkan buku Gerombolan Gagak Mataram (1954) bersama S.Har sebagai ilustrator, sekaligus ilustrator tetap di majalah PS. Hampir semua buku-buku yang diterbitkan oleh PS, bagian sampul dikerjakan oleh S.Har, seperti Kintamani (Any Asmara, 1954), Anteping Wanita (Any Asmara, 1955), Kereme Kapal Brantas (Lu Min Nu, 1955), Gerombolan 13 (Any Asmara, 1956), dan Pusporini (Imam Supardi, 1956). 

Memasuki 1960-an, penerbitan buku-buku roman panglipur wuyung lebih menggila lagi. Lebih dari 400 judul buku dicetak dan ditawarkan kepada masyarakat. Alur cerita pada buku-buku panglipur wuyung atau “penghibur sementara” mempunyai ciri berisi percintaan dan kehidupan rakyat jelata pada umumnya. Dikemas secara sederhana –hampir 90% berukuran saku– agar mudah terbeli. Konon, jenis novel ini mengikuti tren buku cerita-cerita silat karya Kho Ping Hoo yang juga berukuran kecil. Ditambah dengan gambar-gambar sampul berwarna yang sangat menarik perhatian, buku setebal 32-48 halaman ini sangat laris. Hanya sedikit pengarang yang mengangkat alur-M (modern).

Gambar 8. Anteping Wanita (Any Asmara, 1955). Dokumen penulis.

Bisa dibayangkan, bagaimana 400 buku bersaing untuk mendapatkan ganti uang produksi? Sebagai ilustrasi, seorang calon pembeli mendatangi kios buku. Tampak berjejer-jejer buku dengan berbagai judul (misalnya 40 judul). Dalam benak si calon pembeli mungkin yang pertama dicari adalah pengarangnya. Jika tidak ditemukan, faktor selanjutnya adalah pesona aura sampul yang akan jadi pilihannya. Judul menjadi penentu terakhir untuk memilih buku mana yang akan dibawa pulang.

Faktor gambar sampul tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Faktor visual sangat penting dalam menarik perhatian konsumen. Yang menarik secara visual akan memenangkan persaingan. Hal demikian pula dilakukan oleh para penerbit buku roman panglipur wuyung. Mereka ingin sekali agar buku hasil cetakannya laku. Pengarangnya pun ambil bagian dalam menentukan siapa ilustrator sampul buku karangannya. Kedua hal yang wajar dilakukan agar modal yang dibiayakan segera kembali, untuk digunakan mencetak buku lagi. Kepuasan pengarang atas hasil gambar sampul yang bisa membantu dalam penjualan karya tentu berkorelasi dengan kerjasama selanjutnya. 

Meski demikian, bagaimana pengarang dan penerbit buku menentukan siapa ilustrator sampul terbatasi oleh faktor waktu, efisiensi dan konteks geografis. Ada kecenderungan bahwa pengarang dan penerbit yang berdomisili di wilayah Jogja akan menggunakan jasa ilustrator dari Jogja. Sebagai contoh, Any bekerja sama dengan Soedijono atau Oyi Soetomo. Any Asmara mengajak Kentardjo untuk menggarap sampul. Di Solo dan Surabaya juga begitu kejadiannya. Kwik Ing Hoo (KIH), komikus legendaris Wiro Anak Indonesia, membantu Soedharmo KD (Pini AR), Hardjana HP, J.A. Setia, dan Tanto P.S.

Gambar 9. Ilustrasi karya Jono S. Wijono. Dokumen penulis.

Ilustrator yang paling subur mengeluarkan karya adalah Jono S. Wijono. Karyanya hampir menemani sebagian besar pengarang dan penerbit di Jogja, Solo, Surabaya dan Semarang. Meski gambarnya kurang semantap S.Har, Teguh Santoso, dan Kentardjo, kenyataannya dia menjadi jawaranya ilustrator novel-novel panglipur wuyung di periode 1960-1970. Bisa dilihat pada tabel di bawah ini:


Tabel jumlah karya ilustator

Tabel di atas hanya menunjukkan jumlah karya para ilustrator yang berkarya lebih dari 10 sampul buku. Dari sampel buku yang ada, ditemukan kurang lebih 80 nama ilustrator dan terdapat 20 buku yang tidak tercantum nama ilustratornya. Sebagian besar selalu menampilkan pakem wajah seorang wanita dan atau pria dengan wajah kota. Hanya sedikit yang keluar dari pakem tersebut. Hanya pengarang kenamaan dan yang karyanya mungkin telah ditampilkan secara bersambung di majalah berbahasa Jawa yang berani keluar dari pakem itu.

Gambar 10. Ilustrasi karya Kentardjo. Dokumen penulis.

Gambar 11. Ilustrasi karya Jono S. Wijono. Dokumen penulis.

Masa keemasan novel Jawa modern dipaksa berhenti oleh negara, melalui Operasi Tertib Remaja II (Opterma II) pada awal 1967. Tujuannya adalah untuk menertibkan buku-buku bacaan yang dianggap cabul dan anti sosial. Dari 217 judul novel, ada 21 judul yang dilarang beredar. Akibatnya, pengarang dan penerbit tidak mau ambil resiko untuk mencetak buku novel berbahasa Jawa lagi. Karya-karyanya berubah ke cerita silat Jawa dan media majalah yang menggunakan bahasa Jawa seperti Panjebar Semangat, Mekar Sari, Jaya Baya dan lain-lain. 

Gambar 12. Ilustrasi karya Dibyo. Dokumen penulis.

Gambar 13. Ilustrasi karya Kwik Ing Hoo. Dokumen penulis.

Penutup

Perwajahan sebuah buku dari tahun ke tahun mengalami perubahan bentuk gambar seiring dengan tren pada masanya. Begitu pula dengan buku sastra Jawa modern dari awal 1900 hingga Roman Panglipur Wuyung. Dari yang hanya polos tapi penuh tulisan keterangan, hiasan kecil dan besar, gambar 1 warna, hingga gambar penuh warna. Jasa para illustrator lalu menjadi begitu penting untuk menggarap sampul, meski kadang kala ada juga yang tak nyambung antara isi dan sampul. Rentang perjalanan perwajahan sampul buku sastra Jawa modern ini menjadi bagian penting dalam sejarah industri penerbitan dan percetakan, baik sebagai kontrol oleh negara hingga persaingan dagang.


Ibnu “BENU” Wibi Winarko, adalah seorang kolektor gambar umbul dan buku-buku novel berbahasa Jawa. Telah beberapa kali terlibat dalam penulisan buku/ katalog seperti, Pameran Gambar Oemboel II : Thong Thong Sot di Bentara Budaya Yogyakarta (2010), Pameran Etiket Tenun dan Batik di Bentara Budaya Yogyakarta (2013), buku Gambar Oemboel Indonesia (2010), Gambar Oemboel Wajang (2015), Gambar Oemboel Tjerita (2018). Selain itu, koleksinya juga beberapa kali dipamerkan, antara lain Pameran Grafis Gambar Oemboel di Bentara Budaya Yogyakarta (2003), Pameran Tjap Petroek di Bentara Budaya Yogyakarta (2004), Pameran Komik di Bentara Budaya Yogyakarta (2004), dan Pameran Seni Rupa Alibaba di Bentara Budaya Yogyakarta (2019).

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

BULETIN IVAA DWI BULANAN | NOVEMBER-DESEMBER 2019

Pembaca yang budiman, entah terasa atau tidak, 2019 sudah sampai di penghujung tahun. Ada banyak kegiatan yang orang-orang lakukan untuk menutup tahun babi tanah ini, entah menyusun laporan akhir, tutup buku, evaluasi tahunan, atau liburan. Newsletter IVAA juga tak mau ketinggalan; hadir untuk menemani pembaca sekalian menutup tahun dengan konten-konten yang ringkas. Berbeda dengan edisi sebelumnya yang mengulas perihal materialitas karya dalam seni rupa kontemporer secara khusus, edisi November-Desember ini lebih memuat sebaran dan beberapa refleksi kegiatan-kegiatan IVAA selama akhir 2019. Ada Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol, Pusparagam Pengarsipan: “The Possibility of Socially Engaged Archiving”, dan infografis outreach IVAA ke beberapa tempat untuk merawat jaringan. 

Selain sebagai sebentuk sajian akhir tahun kepada para pembaca sekalian, kegiatan-kegiatan itu juga upaya memperlebar definisi praktek-praktek kerja pengarsipan dan seni visual. Bahwa dua hal tersebut harus selalu dikontekstualisasikan dan tidak melulu menjadi entitas yang kaku dengan kanon-kanonnya. 
Selain itu, kehadiran teman-teman magang seperti Firda, Fika, Shifa, Bian, Nada dan Jati begitu memberi sumbangsih yang berarti untuk dinamika kerja IVAA. Mereka seolah menegaskan bahwa kerja pengarsipan tidaklah kering seperti yang orang-orang imajinasikan. 
Semoga edisi ini dapat menjadi teman baca sembari menutup tahun. Akhir kata, selamat melakukan aktivitas apapun; selamat Natal bagi yang merayakannya; selamat tahun baru 2020, dan selamat membaca!

Salam budaya!

Sorotan Dokumentasi | November-Desember 2019

Sorotan dokumentasi edisi penutup tahun ini kami fokuskan untuk menyorot dua kegiatan penting yang telah kami upayakan: Festival Sejarah: Jejak Sudirman dan Pusparagam Pengarsipan, sekaligus poin-poin refleksi. Dua kegiatan ini menjadi upaya kontekstualisasi yang terus-menerus terhadap kerja pengarsipan serta seni visual itu sendiri, dengan isu serta kebutuhan sekitar. 

Biasanya rubrik ini memang kami gunakan untuk memuat liputan peristiwa seni, wawancara atau profil seniman. Sorotan dokumentasi kali ini juga menandai upaya kerja pengarsipan kami yang berbeda, yaitu tidak melulu berangkat dari mendokumentasikan peristiwa seni. Jika dilihat kembali, maka rubrik sorotan dokumentasi selama 2019 ini mencoba menyorot seni visual dan pengarsipan dalam definisi yang luas. Mulai dari kelas-kelas literasi seni untuk dua edisi, yaitu Belajar Sama-Sama dan Sama-Sama Belajar. Kemudian sosok ‘manajer’ di balik acara kesenian, Kerja Manajerial, Kerja Kemanusiaan, dan terakhir tentang materialitas karya, Beralih Sebelum Meraih Makna. Seluruhnya tidak ada yang secara khusus menyoroti satu atau dua peristiwa seni tertentu. 

Ini merupakan hasil refleksi kami bahwa seni visual dan pengarsipan juga lahir dari inisiasi-inisiasi di luar yang tidak melulu event based. Kerangka demikian yang coba dielaborasi dalam kerja dokumentasi kami. Masih satu tarikan nafas, dua acara yang kami sorot pada edisi ini ingin menebalkan upaya memperluas definisi pengarsipan dan seni visual. Bahwa pengarsipan sebagai metode merawat pengetahuan selayaknya tidak berhenti pada otoritas institusi tunggal, dan seni visual barangkali dapat menjadi bahasa yang inklusif, tidak melulu sebagai entitas yang kaku serta elitis.