Category Archives: E-newsletter

Senisono: Ruang Bersama, Hak Siapa?

Oleh : Annisa Rachmatika Sari

Perluasan wilayah Gedung Istana Kepresidenan Yogyakarta pada tahun 1995, membawa persoalan serius dalam iklim kesenian di Yogyakarta. Pusat kesenian yang awalnya terpusat di Senisono menjadi berpindah ke Purna Budaya – sebelum adanya galeri-galeri seperti saat ini. Gunawan Raharjo salah satu pendiri PAKYO (Paguyuban Kartunis Yogyakarta), merasakan bahwa perpindahan basis kesenian telah mempersulit masyarakat dari berbagai kelas untuk mengapresiasi kesenian, “dulu di Senisono, tukang becak aja bisa nonton pameran”.  

Posisi Senisono berada di kawasan Maliboro, tepatnya di selatan Gedung Agung, di ujung perempatan titik nol, bersebrangan dengan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Kawasan tersebut menjadi pusat keramaian masyarakat dari berbagai kelas di Yogyakarta – begitu pula saat ini.

Di masa penguasaan Belanda, Senisono difungsikan sebagai tempat hiburan malam. Banyak orang-orang Belanda yang menghabiskan waktu untuk bermain bilar ataupun berdansa di gedung yang kerap disebut “Kamar Bola” tersebut. Senisono pernah juga beralih fungsi menjadi bioskop, sebelum kemunculan Bioskop Indra dan Permata. Pernah juga menjadi gedung Kongres Pemuda Indonesia di tahun 1945. Baru sekitar tahun 1968, pengelolaan gedung Senisono diserahkan kepada seniman.  

Hampir setiap hari Senisono tidak pernah sepi acara kesenian. “Ya di tempat itu, semua seniman dari semua bidang dan kelas kumpul, yang dari Jakarta njujugnya ya kesitu dulu, rame mbak pokoknya…” ujar Gunawan Raharjo di sela-sela obrolan kami.  

Sumber: Badan Pusat Arsip Daerah DIY

Metamorfosis Senisono sebagai basis kesenian di Yogyakarta, tumbuh secara organik. Gunawan Raharjo menyebut Senisono menjadi barometer seni di masa itu. “Keberadaan seniman akan diakui kesenimannya ketika telah berkesenian di gedung tersebut” tutur Jemek Supardi.

Mengapa aktifitas kesenian di gedung tersebut tidak pernah sepi? Ternyata hal ini disebabkan oleh faktor pengelolaan infrastruktur yang memudahkan seniman membuat kegiatan dan lokasi Senisono yang berada dekat dengan Malioboro, sebagai pusat keramaian di Yogyakarta. Sehingga memudahkan seniman untuk menarik perhatian penikmat karya. “Sewa gedung Senisono cukup murah, dapat subsidi juga. Jadi harga sewa yang 75.000 cukup kami bayar 30.000 rupiah saja. Kemudian memberi uang kebersihan dan uang makan buat yang kerja” ungkap Jemek. Terlebih, kondisi di atas didukung dengan keadaan Yogyakarta yang belum diramaikan oleh ruang pamer seperti saat ini. “Dulu ada Purna Budaya, tapi lokasinya di utara, jauh dari keramaian” tambah Gunawan Raharjo.  

Keberadaan Senisono dengan latar belakangnya sebagai gedung pemerintah – tidak dimiliki swasta – membuka peluang bertumbuhnya seniman-seniman baru. Biaya sewa gedung dirasa terjangkau oleh semua kalangan. Pengunjungnya tidak dibatasi, siapapun boleh hadir menikmati.

Sebagai satu dari 48 gedung bersejarah yang tercatat dalam Dinas Purbakala DIY, sehingga layak untuk dilestarikan dan dilindungi, Senisono saat itu memainkan peran sosial di masyarakat Yogyakarta. Sangat mudah untuk bertemu, lebih-lebih wedangan bersama Rendra, Sawung Jabo, hingga Djoko Pekik dan Affandi. Kondisi ini yang membangun seni di Yogyakarta ibarat “makanan yang dapat dijangkau seluruh masyarakat”.   

Kontroversi Seputar “Renovasi”
Wacana renovasi Senisono telah berhembus sejak tahun 1976, namun gejolaknya muncul di tahun 1980-an akhir. Media cetak seperti Bernas, Kedaulatan Rakyat, Kompas, serta Tempo mencatat upaya perlawanan dari seniman dalam menolak wacana pemerintah tersebut. Banyak seniman yang melihat renovasi gedung, dapat dapat menghilangkan sejarah kota Yogyakarta.

Artikel Kedaulatan Rakyat (KR) berjudul “Senisono: Aku Sakit, Tapi Jangan Kau Bunuh”, mencatat usaha Bambang Paningron untuk menolakan pemugaran Senisono. Selain Bambang Paningron, banyak seniman lain yang “menyurati pemerintah” untuk menghentikan rencana pemugaran, sebut saja WS. Rendra, YB. Mangunwijaya, Emha Ainun Nadjib, dan masih banyak lagi.

Usaha untuk tetap mempertahankan Senisono juga dilakukan secara diplomatis. Pada tanggal 12 April 1991, Emha Ainun Nadjib mendapatkan undangan dari Mensesneg. Dari peristiwa yang dicatat oleh Kompas, pada pertemuan tersebut nampak bahwa Setyawan Djody dan Eros Djarot memberi dukungan pada seniman Yogyakarta saat itu. Namun, persoalan ini semakin carut marut ketika Djody dan Eros, malah memberi peluang pemerintah untuk menekankan penyelesaian masalah Senisono dengan pemberian fasilitas berupa gedung kesenian baru.

Bagi Emha – sebagai perwakilan seniman Yogya yang ditunjuk, penyelesaian masalah ini bukan pada pemberian gedung kesenian baru. Namun lebih pada pemugaran Senisono dan membiarkannya tetap ada. “Dengan banyaknya bukti nilai historis dan manfaat besar Senisono bagi kota kebudayaan seperti Yogya, mengapa Senisono harus dibongkar. “Senisono seharusnya justru dipugar, dikembalikan pengelolaannya kepada para seniman” tuturnya kepada Kompas.

Kondisi gedung memang tidak layak, ini menjadi persoalan berat bagi para seniman untuk memenangkan Senisono. Kepada Kompas, Pak Marto, Juru Kunci Senisono, mengakui bahwa Gedung Senisono sudah tidak layak pakai mulai tahun 1985. “Kondisinya memprihatinkan, banyak bocor di mana-mana.” Puncaknya terjadi ketika sebagian atap gedung tersebut ambrol pada 1 Maret 1993, pukul 14.30 WIB. Marto menambahkan bahwa jarang ada seniman yang mau memanfaatkan Gedung Senisono walaupun sewanya sangat murah.

Sebelum peristiwa ambrolnya atap, para seniman menggalang dana untuk perbaikan gedung melalui Aksi Solidaritas Dewan Seniman Muda Indonesia. Pada acara tersebut seniman akan menyumbangkan 75 persen hasil penjualan karya untuk renovasi Senisono. Harga karya mulai dari 50.000 hingga 500.000 rupiah. Kompas mencatat, sekitar 100 lebih karya terjual dalam acara tersebut.   

Orasi di Senisono, Rangkaian Kegiatan Aksi Cinta Kasih dalam Menolak Pembongkaran Senisono Sumber: http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/3089

Pemerintah Yogyakarta mengakui bahwa renovasi Senisono merupakan keputusan dari pusat – Jakarta. Pemerintah Daerah hanya menjalankan tugas. Menurut Djoko Sutono, Kepala Rumah Tangga Istana Kepresidenan Yogyakarta tahun 1996, dan Drs. Sujatmo, Ketua BAPPEDA DIY tahun 1996, Senisono tidak akan dipugar untuk kepentingan perluasan Istana Negara, melainkan hanya direnovasi. Kepada KR mereka menegaskan bahwa, usaha renovasi merupakan cara pemerintah untuk memuliakan gedung bersejarah, terlebih nantinya renovasi ini dapat mendukung kegiatan seniman – di masa itu. Namun, secara terpisah Djoko Sutono menegaskan kepada KR, bahwa pihak pemerintah tidak dapat memastikan fungsi Senisono akan berjalan seperti semula.        

Secara personal, Djoko Sutono menyampaikan kepada KR bahwa pihak Istana Negara terkadang merasa malu, ketika mendapat kunjungan dari pejabat tinggi. Sebagai gedung yang berdekatan dengan Istana Negara, Senisono yang terkesan kumuh sehingga merusak pemandangan dan citra Gedung Istana Negara yang megah dan agung.    

Jemek Supardi berpendapat lain, keadaan Senisono saat itu tidak kumuh, malah ruang akustiknya sangat bagus jika dibandingkan dengan gedung-gedung yang saat ini – menunjuk TBY. Ada dua bagian yang bisa digunakan untuk pertunjukan, ada pendopo dan Gedung Senisono. “Pendopo itu yang membangun Romo Mangun, buat temen-temen seniman yang enggak mampu bayar sewa gedung, Senisono itu tidak kumuh, jarang saya liat ada gelandangan yang tidur sembarangan di sana, ya karena mereka sungkan sama seniman. Tapi memang di sekitar sana banyak pohon-pohon beringin saja”.  

Persoalan pemerintah ini dipandang lain oleh beberapa pihak. Banyak yang menilai bahwa usaha perobohan Senisono bukan berasal dari pusat. Misalnya Tempo yang mencatat celetukan Bagong Kussudiardja yang menyebut “Tak mungkin pak Harto memerintahkan membongkar Senisono. Karena beliau cinta kesenian”.

Namun, kepada Tempo pula, Sudomo menjelaskan bahwa perintah pembongkaran datang dari Presiden Soeharto. Ketika Pak Harto memandang selatan Beteng Vredeburg, setelah memantau hasil renovasi, dirinya meminta kawasan itu dibenahi. Pembongkaran dilaksanakan berdasarkan surat Mensesneg kepada Menteri PU tentang rencana pengembangan kawasan Malioboro dan penampungan kegiatan Senisono. Surat No.B 665/M. Sesneg/3/1990 tanggal 12 Maret 1990.

Adapun, renovasi Senisono dipandang lain oleh Hardi, salah satu eksponen Seni Rupa Baru Indonesia. Menurutnya Senisono layak digusur. Kepada Kompas, Hardi bercerita bahwa yang dibutuhkan seniman adalah kesadaran profesional. Bentuk aktual kesadaran ini berupa penggarapan ruang gelar seni yang “representatif,” tidak kumuh, tidak berdinding lembab, tidak berlantai miring dan tambal sulam. Yogyakarta memerlukan pusat kesenian yang berada dalam suatu wilayah, di mana masing-masing cabang memiliki gedung gelar seni sendiri. Wacana tersebut, dapat memanfaatkan momentum renovasi Senisono, sebagai pemantik untuk memperjuangkan eksistensi Seniman Yogyakarta.

Menurutnya, hal ini mungkin terjadi, sebab Yogyakarta memiliki seniman yang dapat diperhitungkan, seperti Romo Mangun, Umar Kayam, Bagong Kussudiardja, Widayat, Emha Ainun, Linus Suryadi, dan Butet Kertaradjasa. Terlebih Yogyakarta memiliki seorang Sultan yang dianggap Hardi memiliki budi bowo leksono. Melalui artikelnya di kompas, Hardi menekankan kepada seniman Yogyakarta, untuk tidak hanya berputar pada wacana klise, seperti simbol kesenian, sejarah, gedung memiliki hak perlindungan, dalam menyoal renovasi Senisono. Sebab, mereka akan berhadapan dengan Visit Indonesia Year Deparpostel.

Senisono Ruang Siapa?
Dari sekian ingatan dan kisah mengenai Senisono, terlihat bahwa keberadaannya mampu mengkondisikan Yogyakarta sebagai kota yang memiliki gelombang sendiri dalam kesenian. Berbeda dengan Bandung, Jakarta maupun kota-kota lainnya.  

Perdebatan Senisono sendiri tidak hanya persoalan romantisme sejarah, melainkan lebih dari itu. Gedung pusat kesenangan yang mulanya terkhusus pada kelas-kelas tertentu, telah meleburkan seni sebagai panganan khas masyarakat Yogyakarta. Hingga pada suatu ketika, panganan ini menubuh menjadi identitas dari suatu wilayah. Kehadiran Senisono, telah menghapus tembok yang melegalkan seni sebagai permainan kaum borjuis.      

Di balik kekalahan seniman dalam mempertahankan Senisono muncul pertanyaan, yakni “Siapa yang berhak atas Senisono?” Masyarakat, sebagai subjek yang melahirkan wilayah Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya? Atau pemerintah yang menempatkan Senisono sebagai obat was-was dari cibiran tamu-tamu Kota Yogyakarta?


Annisa Rachmatika Sari, (l.1990) mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta dengan minat Pengkajian Film ini sejak kuliah di Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” sudah mempelajari berbagai metode produksi program televisi dan radio. Sedari SMA tertarik untuk menulis hingga menghantarkan almamaternya menjuarai Lomba Mading antar SMA se-Jateng. Selain itu Nisa juga menyediakan jasa fotografi sebagai penghasilan sampingan. Ketertarikannya pada seni rupa berawal ketika menjadi peserta diskusi Study on Art Practices (SoAP) Ark Galerie 2016. Nisa magang di IVAA sejak akhir Maret, dan mulai Mei lalu mengikuti Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa yang IVAA selenggarakan.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Seminar “Meme dan Persebarannya: Diskusi Kritis Mengenai Fenomena Dunia Maya”

Oleh: Annisa Rachmatika

27 April 2017, di Hall PKKH UGM kompleks Bulak Sumur, Forum Umar Kayam merespon pesoalan media kini, melalui diskusi berjudul “Meme dan Persebarannya.” Agan Harahap, Budi Irawanto, dan Seno Gumira Ajidarma dipertemukan untuk membaca ulang fenomena Cyber Culture. Ketiganya dipandu oleh Dyna Herlina, seorang pengamat media yang aktif dalam Rumah Sinema.

Diskusi ini dimulai dengan wacana persoalan klasik dunia maya kini, berupa semunya batas kenyataan yang membuat karya,khususnya meme, dapat  diapresiasi dalam perasaan campur aduk, antara lucu, kasihan, merasa bodoh, marah, atau perasaan lainnya.

Sebagai seniman yang memanfaatkan media sosial, Agan Harahap mengaku tidak memiliki tujuan khusus pada karyanya. Dia hanya merespon fenomena masyarakat yang sensitif dengan isu-isu tertentu, tanpa berusaha untuk membela satu kelompok. Misalnya saja karya ikan louhan PKI-nya yang mendapat respon beragam, baik perorangan hingga media berita nasional.

Perlu disadari bahwa ketika karya dipamerkan, benda tersebut berada dalam posisi yang bebas tafsir. Dalam artian, penikmat karya bebas memaknai, tanpa perlu memperdulikan batasan benar salah, serta mempertimbangkan gagasan dari pembuat. Adapun, reaksi emosional seperti tertawa dan lain-lain termasuk bagian dari wujud memaknai karya.

Saat masyarakat memaknai, posisinya menjadi tidak netral. Pengetahuan subyektif yang berperan secara alamiah dalam proses tersebut, menjelaskan bahwa bercanda masuk dalam kategori aktifitas serius. Aktifitas tidak sadar yang melibatkan pemikiran mendalam.             

Budi Irawanto mejelaskan persoalan meme melalui kutipan yang diambil dari buku Richard Dawkins berjudul “The Selfish Gene.” Istilah “meme” pertama kali dikenal pada 1976, sebagai penyebaran gagasan yang bersifat viral. Istilah meme berasal dari kata “minema” dalam bahasa Yunani. Minema berarti sesuatu yang ditiru atau diimitasi. Cara hidup meme diibaratkan seperti gen dalam tubuh manusia, yakni memiliki fase replikasi diri dan berpindah dari seorang ke seseorang. Dengan meminjam kacamata Limor Shifman, Budi pun melihat potensi meme, sebagai alat pembangun fenomena sosial yang diterima bersama. Alat yang mampu mengalahkan rasionalitas para Sarjana.


Annisa Rachmatika Sari, (l.1990) mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta dengan minat Pengkajian Film ini sejak kuliah di Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” sudah mempelajari berbagai metode produksi program televisi dan radio. Sedari SMA tertarik untuk menulis hingga menghantarkan almamaternya menjuarai Lomba Mading antar SMA se-Jateng. Selain itu Nisa juga menyediakan jasa fotografi sebagai penghasilan sampingan. Ketertarikannya pada seni rupa berawal ketika menjadi peserta diskusi Study on Art Practices (SoAP) Ark Galerie 2016. Nisa magang di IVAA sejak akhir Maret, dan mulai Mei lalu mengikuti Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa yang IVAA selenggarakan.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Archive Showcase: Jejak Kesenian di Malioboro

Berlangsung 11 Juli – 4 September 2017
di RumahIVAA

Archive Showcase kali ini ingin menampilkan jejak-jejak kesenian di Malioboro, mengingat pada tahun 1970-an Malioboro banyak berperan sebagai rumah kesenian di Yogyakarta. Konon, Malioboro adalah rumah kedua atau ruang belajar seniman setelah ISI. Hingga hari ini, Malioboro masih juga menjadi ruang ekspresi bagi kesenian di Yogyakarta. Apa yang menjadi daya Malioboro hingga ia mampu menjadi ruang hidup kesenian di Yogyakarta? Berangkat dari pertanyaan tersebut, kami mencoba mengumpulkan arsip-arsip IVAA dengan harapan melalui seni kita bisa melihat kembali bagaimana kondisi atau posisi Malioboro sebagai denyut seni di Yogyakarta.

Melihat rangkaian sejarahnya, Malioboro memiliki daya negosiasi yang terkondisikan sejak abad ke-10. Sebagai jalan utama kerajaan ia banyak menjadi ruang kegiatan seremonial. Pada masa kolonial, Malioboro pun hidup sebagai ruang diplomasi, memfasilitasi agenda-agenda pertemuan Kesultanan dengan pejabat-pejabat Eropa. Semangat ini masih bisa kita rasakan hingga periode 90-an. Apalagi setelah Senisono diaktifkan sebagai ruang seni di tahun 60-an dan seni mulai hidup di wilayah Malioboro, kita bisa melihat bagaimana seni pun menjadi moda negosiasi masyarakat Yogyakarta. Seperti misalnya Panggung Solidaritas yang digelar  oleh Teater Jiwa atau happening art “Aksi Cinta Kasih” di tahun 1990-an, sebagai respon atas rencana pemerintah dalam menghancurkan Senisono.

 Namun di tahun 2000-an, Malioboro mulai kehilangan karismanya. Pengembangan Malioboro menjadi wilayah bisnis mempengaruhi pola interaksi di dalamnya. Logika kapling menjadikan publik melihat lahan Malioboro sebagai ruang investasi. Sehingga yang menjadi masalah bukan hanya kondisi ruang bersama yang semakin minim, tapi juga masyarakat yang semakin individualis, memikirkan ruang personal di ruang publik bernama Malioboro. Pun jikalau ada, negosiasi terjadi bukan karena tiap individu memahami posisinya masing-masing melainkan sebuah bentuk kewaspadaan satu terhadap yang lainnya. Di sinilah seni mengambil posisi dan mencari celah, menjadi cara negosiasi yang tanpa syarat dan kewaspadaan. Seperti yang dilakukan oleh teman-teman komunitas Malioboro (COMA) atau komunitas Pinggir Kali (Girli), melalui kegiatan tahunan seperti Apeman dan Gelar Kreativitas Girli. Dari sana mereka berdialog dengan masyarakat untuk membangun Malioboro menjadi ruang yang lebih cair. Persis seperti apa yang sastrawan Umbu Landu Paranggi pernah paparkan, bahwa mau dijungkir-jempalikan seperti apapun, kondisi Malioboro bergantung pada manusia yang menghidupkannya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Sorotan Pustaka | Mei – Juni 2017

1. Sanggar Melati Suci (1974 – 1994)
Oleh: Santosa

Judul Buku: Sanggar Melati Suci (1974-1994)
Redaksi: A.Hari Santosa, Drs. Rakhmat Supriyono, St Nyoman Sigit, Asbiyantoro
Halaman: 98
Tahun Terbit: 1994
Penerbit: Sanggar Melati Suci

Sanggar Melati didirikan tahun 1979 sebagai sanggar lukis bagi anak-anak. Pendirinya adalah A. Hari Santosa, Moralistyo, dan Wahyu Hardianto. Beberapa pameran yang diikuti dan prestasi yang telah dicapai sanggar Melati Suci di ceritakan dalam halaman awal dalam buku ini.

Buku ini diterbitkan di tahun 1994, bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Sanggar Melati Suci yang ke-15. Buku ini merupakan bunga rampai yang ditulis oleh beberapa penulis baik yang berasal dari kalangan seniman maupun akademisi, dalam tujuan saling mempertukarkan pengetahuan dan pengalaman tentang situasi pendidikan kesenian usia TK dan SD di Indonesia dan sekaligus mengajak kita memikirkan berbagai skenario usaha peningkatan mutunya.

Buku ini berusaha disusun berdasarkan klasifikasi masalah dan urutan artikel yang membahas kiat-kiat, jurus-jurus, maupun telaah cara pendidikan kesenian. Walaupun ada beberapa artikel yang terulang atau hampir sama sebut saja di halaman 31 dan 39 tentang gaya corat-coret pada periodisasi anak usia 2-4 tahun.

Bagian selanjutnya berisi catatan-catatan tentang data penyelenggaraan lomba seni lukis anak-anak tahun 80-an khususnya di Jakarta. Fakta menarik yang dipaparkan di sini adalah bahwa jumlah peserta lomba lukis anak-anak yang diselenggarakan di tahun 80-an senantiasa mencapai angka yang fantastis. Di tahun 1982 misalnya, sekitar 20.000 karya anak-anak masuk ke meja panitia. Sayangnya tidak ditemukan data untuk kota-kota lain di Indonesia. Buku ini juga mencurigai adanya sebuah kencenderungan bahwa dunia seni lukis anak dieksploitasi sebagai komoditas. Dengan mengampanyekan seni lukis sebagai media pengembangan kreativitas anak, sekaligus sebagai sarana hiburan bermanfaat “pebisnis lomba seni lukis anak” lantas menata taktik untuk meraup keuntungan.

Anak-anak belajar melukis ternyata sudah merupakan barang lama di Indonesia. Di Museum Sono Budoyo tersimpan segepok lukisan anak-anak bertarikh 1939 dan 1959. Di tahun 1978 ada pameran 84 buah lukisan anak-anak yang telah 29 tahun di simpan oleh gurunya, Dullah. Kemunculan sanggar-sanggar lukis anak ditengarai sejak tahun 1970-an dan tumbuh subur pada dekade berikutnya. Tercatat pernah ada 30 sanggar lukis anak hanya di wilayah DIY saja. Dari data itu lantas muncul pertanyaan, ke manakah sekarang pelukis-pelukis cilik itu?

2. Decade for Culture of Peace and Non-Violence for The Children of The World 2001-2010
Oleh : Prastica Malinda

Judul buku : “Decade for Culture of Peace and Non-Violence for The Children of The World 2001-2010”
Kurator : A. Agung Suryahadi dan M. Dwi Marianto
Artistik : Basuki Sumariono
Diproduksi oleh : PPPG Kesenian Yogyakarta Vedac, Yogyakarta
Tahun terbit : 2006

Ketika melihat lukisan anak-anak, yang terbayangkan adalah dua gunung dengan matahari di sela-selanya dan di ujugnya terdapat jalan menurun ataupun persawahan yang terkadang dilengkapi rumah atau pohon kelapa. Pola ini seperti pada umumnya terbentuk sejak anak-anakmulai mengenyam bangku sekolah dasar. Barangkali pola ini ada lantaran para guru pendidikan kesenian pun memiliki pola yang sama..

Dalam buku berjudul “Decade for Culture of Peace and Non Violence for The Children of The World 2001-2010,” kita bisa menjumpai lukisan anak-anak dari berbagai negara anggota Unesco. Khususnya yang menjadi peserta pameran lukisan anak berjudul sama, yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta, pada 11-17 November 2006. Gambar-gambar atau lukisan yang dihasilkan oleh anak-anak peserta pameran ini merefleksikan bagaimana kehidupan mereka sehari-hari di negaranya masing-masing. Dari mengamati lukisan-lukisan tersebut, saya melihat betapa besar daya imajinasi dan kreatifitas anak-anak. Anak-anak itu memiliki konsep tersendiri yang jujur dan unik. Mereka juga sudah mampu memadupadankan warna dan berani bermain dengan warna-warna cerah, sehingga menjadi satu lukisan atau gambar yang hidup dan memiliki cerita.

Melihat lukisan para peserta dari Indonesia kita bisa langsung mudah saja terhubung dengan kondisi nyata anak-anak Indonesia. Menarik ketika mengamati karya anak-anak dari Paraguai yang menggambarkan situasi konflik atau peperangan mencekam, namun di lukisan lain mereka ingin memperlihatkan  betapa tabahnya orang-orang Paraguai melalui lukisan matahari yang tersenyum berwarna cerah.

Anak-anak selalu mengisyaratkan kejujuran melalui lukisan, tetapi banyak orang tua abai atas kondisi tersebut. Perlu adanya dukungan dan pendekatan lebih dari orang tua terhadap anak-anaknya termasuk pada aktivitasnya saat melukis untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri mereka.

3. Aditya Novali
Oleh: Prastica Malinda

Judul buku : Aditya Novali
Penyunting : Agus Darmawan T.
Penerbit : Yayasan Seni Rupa AIA, Jakarta
Tahun terbit : 1996
Dicetak oleh : Graphos Prima, Jakarta

Buku setebal 99 halaman ini menjelaskan tentang bagaimana gaya lukisan Aditya Novali kecil menjelma menjadi Aditya Novali remaja. Buku ini terdiri dari 14 halaman uraian, dan di 85 halaman berikutnya kita bisa menjumpai kumpulan foto karya Aditya Novali.

Pada bagian uraian terdapat narasi pengantar yang ditulis oleh pengamat seni rupa, Agus Dermawan T., di situ ia bercerita soal perjalanan karir melukis Aditya Novali semenjak seniman itu masih kanak-kanakhingga beranjak remaja. Disusul kata pengantar dari Direktur Eksekutif penyelenggara. Selain itu beberapa pihak lain sebutlah sederet nama pelukis hingga pengajar seni pun juga ikut memberikan kata sambutan terhadap karya lukisan Aditya Novali

Gaya lukisan Aditya Novali tak jauh dari kegiatan sehari-hari. Kemampuan melukisnya dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Perubahan-perubahan tersebut bisa dilihat semasa ia kecil hingga beranjak dewasa. Semasa kecil, lukisan Aditya Novali banyak dipengaruhi tema religi, budaya, dan wayang. Aditya Novali kecil memang gemar mendalang, ini yang banyak mempengaruhi gaya lukisannya.

Saat memasuki usia remaja, lukisan Aditya Novali mengajak kita kembali pada ingatan indah pada masa kecil yang secara ironis telah berubah. Di satu sisi terdapat pemandangan yang indah permai, namun di sisi yang lain terlihat adegan kekacauan masyarakat yang ketakutan. Seperti karyanya yang berjudul “Banjir” (1985). Ada pula lukisan yang menggambarkan gelapnya peperangan, seperti dalam lukisan berjudul “Karya Tanding” dan  “Arjuna Wiwaha”, dua lukisan pewayangannya yang ia lukis pada tahun 1989, dan sisi lain kita bisa melihat sisi religius Aditya Novali pada lukisan-lukisannya berjudul “Yesus Naik Ke Surga”,dan “Yesus Memanggul Salib” yang ia hasilkan pada tahun 1983.

Buku ini menceritakan perjalanan seni Aditya Novali sejak ia kecil hingga beranjak remaja, terangkum rapi dalam semacam katalog ini. Membaca buku ini terbilang tidak memakan waktu lama karena buku ini lebih banyak terdiri dari foto-foto karya. Namun saya mengalami sedikit kesulitan untuk memahami beberapa karya Aditya Novali, karena tidak ada penjelasan yang menyertai setiap lukisannya. Meski lukisan Aditya Novali cukup mudah dipahami dengan mengamati obyek apa yang ia lukiskan, namun bagi orang yang awam dengan dunia seni lukis seperti saya, teks penjelasan barangkali akan membantu saya memahami lukisan tanpa harus mengerutkan kening terlalu lama.


*Prastica Malinda Putri (l.1991) adalah lulusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia. Linda magang di IVAA atas inisiasi pribadi, bukan karena kewajiban dari pihak kampus. Dan ini bukan kali pertama Linda menjadi sukarelawan, karena ia pernah juga melakukannya untuk Greenpeace. Di luar itu ia memang suka berkegiatan, terlibat pada penyelenggaraan acara seni dan pensi juga tidak hanya sekali dilakoninya. Sejak awal Mei lalu, Linda tekun membantu kerja pengelolaan koleksi pustaka IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Berbagi Pengetahuan dalam Pelatihan di Perpustakaan ISI Surakarta

Oleh: Melisa Angela

Pertengahan Mei lalu IVAA mendapat undangan dari ISI Surakarta, lebih tepatnya dari UPT Perpustakaan kampus, yang dulunya bernama STSI Surakarta itu. UPT Perpustakaan yang setiap tahun memiliki program pelatihan, pada tahun ini mengangkat persoalan budaya digital dan teknologi informasi yang kini tak pelak menjadi dunia yang kita hadapi dan hidupi. Perpustakaan, sebuah tempat di mana sekumpulan buku dan dokumen disimpan untuk kemudian ditemukan oleh pihak yang memerlukan referensi ataupun bukti penguat dalam penelitiannya tidak juga terhindar dari rambahan budaya digital ini. Maka dari itu, supaya bisa menggunakan kemudahan dan alih-alih terjegal oleh kemajuan teknologi ini, tidak ada cara lain daripada menguasainya secara teknis serta memahami konsep-konsep dasarnya.

Pelatihan berjudul “Pengemasan Audio Visual sebagai Bahan Informasi Digital di Media Sosial” ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan kemajuan infrastruktur teknologi informasi kepada para pustakawan, baik yang bekerja di UPT Perpustakaan ISI Surakarta, maupun yang dari luar lingkungan kampus tersebut; juga kalangan umum yang tertarik memperdalam pengetahuannya tentang hal ini.

Di acara ini IVAA diundang sebagai pembicara di hari kedua pelatihan yang berlangsung 16-17 Mei 2017 tersebut. Di hari pertama, pelatihan dipandu oleh Pascalis PW., seorang ahli media/multimedia yang berkecimpung di bidang promosi dan pengembangan brand perusahaan. Sedangkan IVAA dipercaya untuk memberikan pengantar mengenai manajemen pengelolaan dokumen audio visual, hingga teknik-teknik dasar dalam membangun sistem temu kembali (retrievel system) yang baik. Kami pun menyambut baik undangan ini, sebagai kesempatan berbagi pengetahuan dari pengalaman kami mengelola arsip IVAA selama ini. Dwi Rahmanto dan saya bertandem untuk mengisi materi pelatihan di hari kedua, penyampaian saya lebih pada dasar-dasar pembangunan sistem temu kembali dengan mengenalkan konsep-konsep dasar mengenai database, diagram konteks, dan diagram relasi antar entitas. Sedangkan Dwi Rahmanto lebih membahas penyimpanan materi audio visual dan pengemasannya secara sederhana menggunakan aplikasi-aplikasi yang dapat dipasang di telepon pintar.

Pelatihan yang kebanyakan pesertanya adalah staf dari instansi perpustakaan dan pengarsipan pemerintahan maupun swasta ini berjalan dengan baik, kendati acap kali terhambat koneksi internet yang tersendat-sendat. Namun pada dasarnya para peserta mendapatkan gambaran tentang pengelolaan berkas audio visual elektronik. Perbincangan pun masih berlanjut di luar forum resmi setelah pelatihan berakhir.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Pameran Kartunis GM Sudarta “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom”

Oleh: Dwi Rahmanto

Siapa tidak kenal dengan sosok yang mengenakan jas bertambal, dengan topi golf di kepalanya, yang berbicara dengan balon-balon kata mengenai kondisi sosial yang sedang berlangsung di Indonesia? Ialah Oom Pasikom, yang kehadiran pertama kalinya dimuat di Harian Kompas pada April 1967.

Sampai kini terhitung 50 tahun sudah ia konsisten muncul di harian yang terbit berskala nasional itu. Pada 9-15 Mei 2017 Bentara Budaya Yogyakarta memamerkan karya-karya terpilih GM Sudarta, dengan tajuk pameran “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom.” Di pameran ini dipajang 120 edisi kartun Oom Pasikom yang merupakan hasil seleksi dari semua yang pernah diterbitkan sejak 1967 hingga 2017.

Keseluruhan karya yang sudah diterbitkan sejak tahun 1967 hingga 2017 sudah mencapai 120 edisi. GM Sudarta lahir dengan nama Gerardus Mayela Sudarta, namun setelah berganti keyakinan ia mengubah namanya menjadi Gafur Muhamad Sudarta. Beliau lahir di Klaten, Jawa Tengah, 20 September 1945. Usai menamatkan SMA di Klaten, tahun 1965 ia meneruskan pendidikan ke ASRI Yogyakarta. Meski GM Sudarta sangat identik dengan karya kartun Oom Pasikom, pada mulanya beliau rajin sekali melukis. Sudarta juga pernah menjadi kartunis di majalah Merah Putih, Jakarta 1966. Di tahun yang sama, beliau bekerja sama dengan Pramono merancang diorama Monumen Nasional. Ia juga ikut andil dalam desain pembangunan Monumen Pahlawan Revolusi Lubang Buaya.

Bagai terlepas dari belenggu, kartun Oom Pasikom semakin kritis sejak Orde Baru berakhir. Pandangan dan ide segarnya bercampur dengan celetukan khas, menjadi cerminan dari situasi yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tinggal di Indonesia, menurut Sudarta, ibarat hidup di tengah pasar malam. Ada sandiwara, ada sirkus, ada dagelan, dan sebagainya. Menurut beliau kehidupan sekarang seperti sebuah dagelan, kendati pun terkadang sangat menyedihkan. Kartun sendiri bagi Sudarta menjadi salah satu media kritik yang sangat efektif. Menurut Sudarta, kartun harus bisa mengukir senyum supaya pihak yang dikritik tidak marah. Dalam hal ini kartun digunakan sebagai upaya perbaikan di ranah sosial.

Saat ini GM Sudarta lebih banyak tinggal dan berkarya di Klaten, Jawa Tengah. Pameran ini menurutnya penting sebagai kilas balik sejarah dan perjalanan politik Indonesia. Menyaksikan pameran ini menyadarkan kita bahwa ada peristiwa yang dulu sudah terjadi, yang kini berulang, lagi dan lagi.

| Klik disini untuk melihat video |


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#SorotanArsip | Dinamika Festival Kesenian Yogyakarta Tahun 1989-2013

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2013 lalu, dalam rangka pembuatan buku “25 Tahun Festival Kesenian Yogyakarta: Refleksi, Retrospeksi, Reposisi,” IVAA mendapatkan banyak sekali arsip terkait Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Total 10.335 berkas digital terkumpul dan terarsipkan di IVAA. Arsip-arsip tersebut terdiri dari foto, video, audio, kliping media massa, poster, undangan, proposal terkait FKY sejak tahun 1989 sampai 2013. Selain merupakan koleksi dokumentasi IVAA, arsip lainnya diperoleh dari berbagai sumber diantaranya; Taman Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Komunitas Gayam 16, Keluarga Bagong Kussudiarjo, Dewan Kesenian Yogyakarta, Panitia FKY, Arief Sukardono, Timboel, Aji, dan Bambang Paningron.

Daftar inventaris arsip Festival Kesenian Yogyakarta dari 1989-2013 dapat dilihat dalam tabel berikut: http://bit.ly/arsipfky. Untuk mendapatkan file-file arsip FKY, silakan menghubungi alamat surel Arsiparis IVAA, archive@ivaa-online.org.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Bioscil 10: Berkunjung ke Dipowinatan

Oleh: Putri Ratna

“Bioscil” merupakan kependekan dari bioskop kecil dan keliling. Layaknya bioskop namun dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kecil yang juga dimaksud di sini menunjuk pada segmen publik yang ingin dilibatkan, yakni anak-anak. Keliling merupakan salah satu konsep yang ditawarkan Bioscil, yang pada mulanya dimaksudkan untuk memfasilitasi penonton usia anak di lokasi yang jauh dari bioskop.

Sebagai ruang alternatif menonton film, Bioscil diinisiasi oleh duo seniman asal Yogyakarta yaitu Hindra Setya Rini (Hindra) dan Rifqi Mansur (Kiki) sejak akhir tahun 2011. Selain sebagai ruang alternatif menonton film-film pendek yang inspiratif, harapannya Bioscil dapat memfasilitasi proses pertemuan kreatif dan interaktif anak-anak dan remaja.

Berawal dari banyaknya anak-anak dari Dipowinatan dan sekitar Rumah IVAA yang sering main game online melalui telepon pintar mereka dengan memanfaatkan wifi IVAA, beberapa orang dari IVAA kemudian terpancing untuk membuat pemutaran film dengan tema yang dekat dengan dunia anak, termasuk soal game online. Pada 18 April 2017 lalu, Bioscil singgah di Rumah IVAA dengan memutarkan dua buah film yang berjudul “Ayo Main” garapan Bambang ‘Ipoenk’ KM dan “Singsot” garapan Wahyu Agung Prasetyo.

Melalui program Bioscil ini, IVAA berupaya mendekatkan diri pada warga sekitar, terutama anak-anak yang sering datang di Rumah IVAA, namun minim interaksi.  Selain sebagai ruang apresiasi, program ringan semacam ini utamanya menekankan pada indahnya interaksi.


*Putri Ratna Dewi Werdiningsih, mahasiswa angkatan 2013 Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang banyak terlibat kegiatan kemahasiswaan di kampusnya; antara lain tergabung dalam Komunitas Lensa 18, Paduan Suara Miracle Voices V, dan Kampung Komunikasi. Dalam magangnya di IVAA sejak awal Maret hingga akhir Mei 2017, Putri membantu kerja pendokumentasian kegiatan seni dan pengelolaan hasil dokumentasi.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Musrary bersama Umar Haen

Oleh: Padma Kurnia

Dalam sembilan lagu yang dibawakannya bersama Arok (nama pemain perkusinya), terlihat berbagai usahanya dalam mengolah tema-tema seputar usia dan waktu.  Petikan senar gitar yang menenangkan mampu menggambarkan kegentingan dari pesan-pesan yang hendak dimunculkan. Umar Haen, solois berambut gondrong ini mengungkapkan bahwa lagu bisa menjadi ‘kulkas emosi.’

Beberapa kisah dimunculkan Umar Haen dalam lagu “Racau di Malam Kacau” dan “Tentang Generasi Kita.” Para penonton yang hadir di RumahIVAA diajak untuk mengingat kampung halaman masing-masing melalui “Kisah Kampungku”, sambil mengintip kampung halaman Umar di Temanggung yang terekam dalam sebuah video pendek.

Anak-anak muda di desanya tidak banyak yang mau tinggal lalu menggarap sawah. “…jadi memang di kampung saya itu, hampir sebagian besar pemuda yang sudah lulus sekolah itu impiannya adalah untuk merantau…” ungkapnya. Sejauh ini Umar belum pernah menemukan pemuda di desanya yang ingin meneruskan bekerja di sawah.

“Kisah Kampungku” juga memuat penggalan kelam program transmigrasi Orde Baru yang berdalih pemerataan pembangunan. Akibatnya, merantau kian membudaya. Pada saat yang bersamaan, generasi di atasnya dibungkam dengan program pangan Orba. Dalam lagu yang berjudul “Nasihat Kakek; Jangan Jual Tanahmu”, Umar teringat akan wejangan kakeknya untuk tidak menjual tanah warisan dan menganggapnya sebagai pamali.

Sebagai lagu penutup, Umar menafsir bagaimana mahasiswa tumbuh di Yogyakarta dengan lagu berjudul “Di Jogja Kita Belajar”. Sembilan lagu yang Umar bawakan merupakan materinya di album pertama yang rencananya rilis setelah Ramadhan.

Hampir semua lagu Umar ciptakan di sepertiga malamnya karena dia merasa waktu itu adalah waktu di mana semua pikiran; ingatan, emosi, dan kegelisahan dipertajam. Musik metal menjadi inspirasi Umar dalam menciptakan lagunya. Tak hanya itu Umar pun punya saluran Youtube favorit yang bisa menginspirasinya pula. Sedangkan untuk inspirasi lirik, Umar banyak mendapatkannya dari buku.

Mendengarkan komposisi musik dan lirik lagu-lagu Umar malam itu, tidak heran jika sudah banyak yang menunggu albumnya. “Semua karya saya memang saya ciptakan di sepertiga malam saat semua orang sudah terlelap. Semoga habis lebaran nanti bisa terealisasi,” ungkap Umar sebagai kalimat penutup pertunjukannya malam itu.

| klik disini untuk melihat video |


*Wahyu Padma Kurnia, (l.1995) mahasiswa kelahiran Kota Tulungagung ini jauh-jauh datang ke IVAA khusus untuk magang. Ia adalah mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Negeri Malang angkatan 2013. Magangnya dimulai pertengahan Mei lalu hingga dua bulan ke depan. Kurnia membantu kerja Tim Dokumentasi, terutama dalam kerja dokumentasi kegiatan seni dan pengolahan file video dan foto.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H | EID MUBARAK!

Pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta V Tahun 1993. Koleksi Taman Budaya Yogyakarta.

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Menyambut Idul Fitri, IVAA akan tutup pada 23 Juni 2017,
dan akan kembali buka pada 3 Juli 2017

Salam hangat,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wish you

Happy Eid 1438H

Welcoming the feast of Eid, IVAA will be closed from the 23th of June 2017
and will be back to operations on the 3th of July, 2017.

Warm regards,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)


Artikel ini merupakan Rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.