Category Archives: E-newsletter

[Sorotan Dokumentasi] MACAN di Antara Museum Seni di Indonesia

Dari Grand Launching Musuem Macan
Oleh: Dwi Rahmanto

Haryanto Adikoesoemo, seorang kolektor senior Indonesia, telah menekuni bidangnya kurang lebih 25 tahun. Ia telah mengumpulkan berbagai karya seni rupa, baik dari Indonesia, Asia maupun Eropa. Di antara koleksinya itu, terdapat pula karya-karya dari seniman terkemuka dunia seperti Raden Saleh, I Gusti Nyoman Lempad, Andy warhol sampai Takashi.

Pencapaian selama seperempat abad itu kemudian dipersembahkan dan dipresentasikan dalam Grand Opening The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN) di AKR Tower Level MM, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada 4 November 2017 – 15 Maret 2018. Pameran inagurasi yang menghadirkan 90 karya seniman Indonesia dan Internasional ini memilih tajuk, “Seni Berubah. Dunia Berubah. Menjelajahi Koleksi Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara”.

Pameran yang dikuratori oleh Agung Hujatnika dan Charles Esche ini, menyuguhkan karya berdasarkan periode. Pada periode awal, tampil karya-karya maestro seperti Raden Saleh, Miguel Covarubias, dan Walter Spies. Periode selanjutnya adalah periode kemerdekaan yang diwakili oleh karya-karya Dullah, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, dan Henk Ngantung.

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya-karya dari A.D. Pirous, Ahmad Sadali, Andy Warhol, dan Arahmaiani muncul sebagai representasi periode 1950 – 1960-an. Dan sebagai perwakilan untuk melihat perkembangan periode saat ini, kurator memilih karya-karya dari Cai Gou-Qiang, FX Harsono, Ai Weiwei, dan I Nyoman Masriadi. Untuk pelengkap peristiwa sejarahnya, dihadirkan pula arsip-arsip berupa katalog pameran, kliping berita, dan dokumen terkait perjalanan seni rupa Indonesia dari masa ke masa. Dalam kesempatan istimewa ini, IVAA dan DKJ turut diundang dalam melengkapi arsip pameran.

Pembukaan museum ini merupakan langkah besar dari tumbuhnya infrastruktur seni rupa di Indonesia, selain museum asuhan pemerintah seperti Galeri Nasional dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang berada dalam satu kompleks dengan Museum Fatahilah. Kehadiran museum yang diinisiasi oleh pihak swasta khusus koleksi pribadi ini, juga mengingatkan kita pada Museum OHD yang menyimpan karya-karya seni modern Indonesia.

Tujuan utama dari Museum MACAN adalah sebagai wadah edukasi publik, selain sebagai ruang untuk memamerkan karya. Diharapkan juga, museum tersebut mampu menjadi ikon di level region Asia Tenggara. Kerja keras ini kemudian perlu melihat pada sejauh mana program-program paralelnya mendukung museum tersebut menjadi tempat edukasi yang dinasmis dan eksploratif. Meski sumber dan koleksinya sudah memperlihatkan keberagaman dari sisi sejarah, artistik, dan makna, akan tetapi masih harus dihidup-hidupkan dengan perbagai program.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

#Sorotan Pustaka September-Desember 2017

Judul Buku: Memoar Oei Hiem Hwie dari Pulau Buru sampai Medayu Agung
Penulis: Heru Kridianto (ed.)
Penerbit: PT. Wastu Lanas Grafika
Cetakan: Pertama, September 2015
Tebal: x + 258
Ukuran: 16,5 x 21,5 cm

Cerita atas peristiwa, tokoh yang berhubungan dengannya atau rekaman tentang pengalaman hidupnya yang bisa menjelma menjadi pelurusan sejarah ataupun sebagai sejarah, penting bagi sebuah negeri. Hal inilah yang tampak pada Memoar Oei Hiem Hwie dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung.

Oei Hiem Hwie Lahir 26 November 1935 walau dalam surat dokumentasi tertulis 26 Nop 1938, dilahirkan di Malang, Jawa Timur. Indonesia adalah negara dan kebangsaan yang diperolehnya secara susah payah dan getir. Oei Hiem Hwie memilih menjadi orang Indonesia meskipun ia adalah putra dari seorang papa kelahiran Nan An, Hokkian, Tiongkok.

Kenangan masa kanak-kanaknya di Kota Malang ketika zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan awal kemerdekaan Republik Indonesia. Menjalani zaman ini, bukan perkara mudah bagi seorang yang berasal dari kaum ‘minoritas’ Tionghoa. Kisah-kisah ini mengawali bagian pertama buku tersebut.

Bagian kedua memoar, Hwie yang sudah remaja mulai tumbuh kesadaran politiknya. Ia masuk ke dalam organisasi Baperki dan PPI (1965). Dua organisasi tersebut menjadi ‘rumah’ sekaligus alat untuk mewujudkan isi kepalanya tentang perjuangan menghilangkan diskriminasi, serta bagaimana berintegrasi dengan rakyat lainnya.

Oei Hiem Hwei juga sempat menjadi wartawan di harian Trompet Masjarakat. Aktivitasnya  sebagai wartawan Trompet Masjarakat terhenti berbarengan dengan pecahnya gerakan 1 Oktober 1965. Wartawan-wartawan pengurus PWI pun dipecat dan ditangkap dengan tuduhan sebagai pendukung G30S.

Tanggal 24 November 1965, Hwie ditangkap tentara dengan tuduhan sebagai anggota Baperki dan wartawan Trompet Masjarakat yang berhaluan Soekarnois. Ia ditahan di Kamp Gapsin, Batu. 12 Januari 1966, ia dipindah ke Penjara Lowak waru, Malang, Masuk Blok 10-11. Selama 1970-1978 ia menjadi tahanan politik di Pulau Buru.

Di pembuangan dan penjara ini, ia dipertemukan dengan Pramoedya Ananta Toer. Di masa akhir hukumannya, ia bertemu dengan Haji Masagung dan bekerja di perusahaannya setelah bebas.

Kita bisa belajar dari Pak Hwie bagaimana bisa bertahan hidup, bagaimana menjalani hidup setelah dibebaskan dari penahanan tanpa pengadilan di Pulau Buru, membangun kembali kehidupan pribadi dan sosialnya, serta bagaimana Pak Hwie berkontribusi pada pembangunan untuk menuju masyarakat yang lebih baik. Satu di antara upaya-upayanya adalah mendirikan Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.

Judul Buku: Film, Ideologi, dan Militer
Penulis: Budi Irawanto
Penerbit: Warning Books & Jalan Baru
Cetakan: Kedua, Juli 2017
Tebal: xxxiii + 266
Ukuran: 13×19 Cm

Buku ini berisi kajian semiotik atas tiga ‘film sejarah’, yakni Enam Djam di Jogja (1951) yang diproduksi pada masa Orde Lama, Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar yang diproduksi di masa Orde Baru. Dalam bab awal buku ini, banyak mengulik teori-teori penelitian, metode ataupun cara pandang menggunakan kajian semiotik atas film, khususnya di Indonesia. Penulis juga mengulas teori film dari perspektif substansi film, yaitu film tidak lagi dimaknai sekadar sebagai karya seni, tetapi lebih sebagai praktik sosial serta komunikasi masa.

Buku ini menuturkan bahwa persebaran film pada 1900 dikuasai oleh Eropa dan Amerika. Industri film Barat itu kemudian melakukan ekspansi ke Indonesia pada 1920-an. Sementara pihak yang berwenang melakukan sensor atas film yang masuk ataupun yang diproduksi di Indonesia diatur oleh Belanda. Sistem sensor buatan penjajah ini bahkan dipakai sampai Indonesia merdeka.

Masa-masa awal perkembangan perfilman Indonesia banyak diproduksi oleh etnis Cina. Pada perkembangannya, terutama awal 1960, dua organisasi kebudayaan yang berafiliasi pada partai politik, memainkan peran penting dalam perjuangan dan ketegangan di dunia perfilman Indonesia. Yaitu antara LEKRA dan Manifes Kebudayaan.

Melalui film-film yang diklaim oleh penguasa sebagai film sejarah, keunggulan militer atas sipil sengaja diproduksi. Tiga film sejarah di atas dengan gamblang merepresantasikan keunggulan modus perjuangan bersenjata yang dilakukan oleh militer dibandingkan dengan modus perjuangan diplomasi yang dilakukan elit politik sipil.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

Lokakarya #2 “Jogja Kota Acara”

 

 

 

 

 

 

Dibuka!
Pendaftaran lokakarya penulisan dan pengarsipan seni rupa #2 “Jogja Kota Acara”
Banyaknya acara seni budaya di sekitar kita tentu bukanlah hal baru. Membicarakan ragam tema, sebaran serta posisi strategisnya, kali ini memang bukan kesempatan pertama. Yang dimaksud ‘acara’ di konteks ini merupakan acara-acara yang terbuka untuk publik, yang secara umum sering disebut sebagai ruang seni budaya. Ajakan untuk membicarakan posisi ruang seni budaya di sini merupakan sebuah usaha untuk melakukan pembacaan bersama atas fenomena yang semakin marak dan jauh dari surut. Di atas itu, ini adalah upaya untuk menjaga daya reflektif dan kritis atas perkembangan yang terjadi di sekitar kita. Banyak elemen yang bisa dibahas dan diperdalam dari fenomena ini, mulai dari kaitannya dengan regulasi di tingkat provinsi dan pusat, kaitannya dengan wisata, juga kecenderungan estetiknya. Apakah peningkatan ruang seni-budaya secara kuantitas berbanding lurus dengan mutunya? Sejauh mana ruang seni budaya tersebut mampu menjadi ruang semai pemikiran yang mampu menyediakan cara dalam membincangkan persoalan masyarakat? Atau justru menjadi persoalan itu sendiri?

Persyaratan

  • Peserta berusia max. 35 tahun
  • Memiliki ketertarikan terhadap dunia seni dan budaya
  • Memiliki ketertarikan terhadap dunia penulisan, pengarsipan, dan penelitian
  • Mengirimkan CV dan satu esai terkait tema, 1000-1500 kata.
  • Pendaftar yang terpilih bersedia membayar biaya lokakarya sebesar Rp 150.000,-
  • Bersedia mengikuti seluruh rangkaian program lokakarya penulisan dan pengarsipan yang terdiri dari:
    2 minggu pelatihan (18 – 30 Desember 2017)
    2 minggu penulisan (1 -9 Januari 2018)
    di Yogyakarta.

Ketentuan Lain:

  • Pendaftaran dibuka sampai tanggal 10 Desember 2017 pukul 24.00 WIB. Berkas-berkas terkait dikirimkan ke lokakaryaarsip@gmail.com
  • 10 peserta terpilih akan dihubungi melalui surel dan diumumkan di website dan sosial media IVAA

 

Narahubung : Tiatira (0877-3821-0811)
lokakaryaarsip@gmail.com

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Juli-Agustus 2017

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Juli-Agustus 2017

EDISI KHUSUS FESTIVAL ARSIP “KUASA INGATAN”

Salam hangat bagi pembaca yang budiman. Memasuki bulan Juli-Agustus 2017 merupakan momen yang genting sekaligus mendebarkan. Pertama karena Festival Arsip yang sudah dipersiapkan beberapa bulan terakhir, kini sudah mulai hitung mundur. Festival ini akan dimulai 18 September s/d 1 Oktober 2017, dan bulan September sudah di depan mata. Kedua, memasuki bulan Juli berarti harus bersiap dengan kesibukan kota Jogja yang biasanya ramai perayaan dan kegiatan, baik berupa festival, pameran dan bahkan Biennale dan segala macam persiapannya. Selain itu, tim program IVAA bersama dengan sahabat IVAA (para alumni Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa jilid I) juga sedang menggagas rencana pelaksanaan lokakarya jilid II. Selain itu tentu saja pekerjaan harian tim arsip dan penyusunan pengembangan program untuk tahun mendatang juga tidak kami lupakan.

Atas dasar pertimbangan itulah, newsletter IVAA Juli-Agustus kali ini sengaja kami susun sebagai edisi khusus. Terdapat satu rubrik yang sengaja kami hilangkan di sini, yakni rubrik Baca Arsip, yang biasanya menyajikan suatu pembacaan atas tema tertentu, mengidentifikasi data yang bisa di dapat dari Arsip IVAA, melengkapinya jika dirasa kurang kemudian menyusunnya menjadi esai utuh dengan sedikit analitis. Rubrik tersebut sengaja kami hilangkan atas pertimbangan manajemen energi dan perhatian. Namun aktivitas yang terkait dengan pemilahan data dan upaya pembacaannya tidak begitu saja kami hilangkan dari kerja-kerja harian. Dalam persiapannya, tim Festival Arsip juga menyusun beberapa desain narasi dan karya yang didukung oleh kerja pendokumentasian, inventarisasi atau bahkan penyusunan sistem basis data baru.

Selain tim Festival Arsip yang berjibaku, kesibukan dan keceriaan Rumah IVAA juga tak luput akan kami bagikan di edisi ini. Aktivitas Rumah IVAA yang lebih banyak berlangsung di bulan Juli sudah kami siapkan juga sebagai sajian. Sementara di bulan Agustus hingga September kami akan mengurangi porsi kegiatan Rumah IVAA, selain yang masih berkaitan dengan persiapan Festival Arsip dan Biennale Jogja. Karena pada penyelenggaraan Biennale Jogja ke XIV kali ini, IVAA sedikit terlibat dalam persiapannya. Tim program IVAA mengambil peran dalam penyusunan dan pelaksanaan Biennale Forum. Selebihnya, aktivitas harian IVAA yang padat di tambah dengan berbagai ragam programnya, menjadi lebih berwarna dan berenergi karena kehadiran teman-teman magang. Bahkan newsletter yang sedang berada di hadapan kita ini merupakan hasil kerja dari magang IVAA yang kami percaya menjadi redaktur pelaksana. Terima Kasih banyak Martinus Danang atas kerja kerasnya.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan gelora yang besar dalam menderivasi mimpi menjadi pekerjaan harian. Selamat membaca!

Lisistrata Lusandiana
Pemimpin Redaksi


I. FestSip! “Kuasa Ingatan”

Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana, Galih Ristia

II. Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Annisa Rachmatika, Dwi Rahmanto.

Sorotan Arsip
Menuju Festival Arsip: Cerita di Balik Lemari Arsip IVAA
Oleh: Melisa Angela

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa dan Martinus Danang Pratama Wicaksana

Agenda RumahIVAA
Oleh:  Anggie Noorida, Annisa Rachmatika, Artia L. Yohana, Era D.S.,


Tim Redaksi Buletin IVAA Juli-Agustus 2017
Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Martinus Danang Pratama Wicaksana ⚫ Penyunting: Melisa Angela ⚫ Penulis: Dwi Rahmanto, Melisa Angela, Santosa ⚫Kontributor:  Anggie Noorida, Annisa Rachmatika, Artia L. Yohana,   Era D.S, Galih Ristia, Martinus Danang Pratama Wicaksana ⚫Ilustrasi Sampul: Nanda Putri  ⚫ Tata Letak & Distribusi: Tiatira Saputri

[Sorotan Pustaka] Soekarno: Biografi Politik

Penulis: Santosa

Judul: Sukarno: Biografi Politik
Penulis: Kapitsa M.S. & Maletin N.P.
Penerjemah: B. Soegiharto, Ph.D.
Editor: Bilven
Edisi bahasa Indonesia ini pertama kali diterbitkan oleh Ultimus
Cetakan 2, Juni 2017
xx + 396 hlm.; 14,5 x 20,5 cm
ISBN 978-602-8331-04-3

Nomor panggil IVAA Library: 900 Kap S

Nama Bung Karno mempunyai daya tarik tidak hanya di tanah air, namun juga di kalangan masyarakat internasional. Sejarah kehidupan beliau dalam buku ini diawali masa kanak-kanak Soekarno yang berasal dari kalangan bangsawan bawah, putra seorang muslim dan ibunya Hindu. Diberi nama Koesno, waktu kecil ia sakit-sakitan. Bapaknya mengira bahwa pemberian namanya tidak cocok maka namanya diubah menjadi Soekarno, yang berarti ksatria yang gagah perkasa dan baik. Di usia 12 tahun, anak ini sudah diakui sebagai pemimpin oleh kawan-kawan sebayanya.

Bung Karno sebagai pemimpin perjuangan untuk Indonesia Merdeka dalam buku ini digambarkan berbeda dari analisa-analisa barat, khususnya Belanda yang menuduh Soekarno berkolaborasi dengan Jepang. Para penulis justru memberikan gambaran bahwa itu adalah taktik Soekarno untuk menggunakan bala tentara Jepang dengan tujuan mengenyahkan Belanda dari Indonesia, ini sama saja dengan memintas jalan ke arah kemerdekaan. Bagaimana Soekarno menyatukan kekuatan politik, friksi-friksi Soekarno dengan Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan lainlain yang anti-kolonialisme dengan menggunakan konsep persatuan dalam menghadapi musuh utama, penjajahan Belanda.

Soekarno meletakkan ideologi Pancasila dalam pidatonya 1 Juni 1945. Prinsip Pancasila sebagai perjuangan anti-kolonial, anti imperialis, dan anti-kolonialisme dengan mewujudkan bangsa yang merdeka dan demokratis.

Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya dinilai melahirkan konsepsi yang memperkuat rezim otoriternya. Walau sebenarnya konsep ini muncul karena dorongan dari kekuatan-kekuatan politik yang ada waktu itu, baik kekuatan kanan maupun kiri. Dengan pertumbuhan sistem demokrasi terpimpin yang pada mulanya ditujukan untuk membatasi kekuatan kaum kanan (Masyumi, PSI, kaum militer kanan), akhirnya justru sedikit demi sedikit berubah ke arah sebaliknya. Dalam situasi ini kekuatan kaum kanan kemudian menjadi yang lebih cepat memobilisasi kekuatan politik ke pihaknya dengan menggunakan UU Keadaan Bahaya. UU yang telah meningkatkan peran militer dan penguasaan sektor negara yang dibentuk dari perusahaan asing yang telah dinasionalisasi, khususnya dengan alasan momok komunisme.

Disoroti juga tentang politik konfrontasi Bung Karno dalam menghadapi Malaysia, di mana Soekarno memutuskan Indonesia keluar dari PBB karena Malaysia telah diangkat sebagai anggota sementara PBB. Para penulis menjelaskan radikalnya politik luar negeri Soekarno dikarenakan kedekatannya dengan Peking. Ini berkaitan juga dengan pertentangan di dalam gerakan komunis Tiongkok, hingga Indonesia terseret masuk ke dalam pusarannya.

Mengenai peristiwa 30 September, dalam buku ini dianalisa bahwa ada dukungan masyarakat secara luas dalam peristiwa ini, khususnya di Jateng dan Jatim, dan dukungan dari kalangan militer (AL, AU, Polisi, dan sebagian AD), mereka mencoba merebut kekuasaan presiden dengan memberikan tekanan, intimidasi penggerakan massa dan demonstran, penggunaan mahasiswa dan pelajar (KAMI dan KAPPI) untuk turun ke jalan dengan dukungan dari AD, dan ini berlangsung hampir 3 tahun. Soekarno memang tidak menghendaki perang saudara walaupun jika mau ia mampu mengobarkannya. Soekarno mengeluarkan surat perintah “Supersemar” dan beliau menandaskan surat tersebut bukan pelimpahan kekuasaan negara, tetapi hanya merupakan tugas praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban.

Bung Karno pun sampai di akhir karir politik praktisnya, sebagai seorang profesional-revolusioner yang berjuang sendirian menghadapi keroyokan lawan-lawan politik lamanya yang kemudian melahirkan Orba.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

[Sorotan Pustaka] S. Sudjojono: Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya

Penulis: Martinus Danang Pratama Wicaksana (Pemagang IVAA)

Judul: S. Sudjojono: Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya
Penulis: S. Sudjojono
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Tebal: 304 hal
ISBN: 987-602-424-307-4

Nomor panggil IVAA Library: 709 Sud S

Kisahnya tidak hanya sebagai seorang pelukis saja tetapi dalam dunia politik mengantarkannya sebagai perwakilan PKI dalam anggota parlemen. Sayang kisah cintanya dengan Rose Pandanwangi membuat dirinya harus berpisah dengan PKI.

Sudjojono dikenal sebagai salah satu pelukis Indonesia yang namanya masih harum hingga kini. Meskipun sudah tiada namun keberadaannya sebagai pelukis Indonesia masih terasa hingga saat ini. Melalui lukisan-lukisannya yang hingga kini masih terpajang dengan rapi dalam bekas sanggarnya yang telah menjadi S. Sudjojono Center. Bahkan kini lewat autobografinya ini S. Sudjojono kembali hidup di tengah-tengah sejarah seni lukis Indonesia.

Sebagai seorang pelukis sekaligus politikus, karya-karya Sudjojono berbeda dari yang lain di masa itu. Di masa penjajahan Belanda minat pelukis Indonesia didominasi oleh tema-tema Mooi Indie, di mana mereka melukiskan keindahan alam Hindia Belanda.  Namun lain bagi seorang Sudjojono yang sama-sama hidup pada masa penjajahan Belanda, Sudjojono mengatakan ia anti terhadap tema-tema Mooi Indie. Kedekatan Sudjojono terhadap politik seperti kedekatannya dengan Soekarno dan Adam Malik membuat Sudjojono kemudian memiliki minat untuk menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia di dalam lukisan-lukisannya.

Kedekatan Sudjojono tidak hanya sebatas pada Soekarno dan Adam Malik saja tetapi juga dengan Ki Hadjar Dewantara yang kemudian mengantarkannya menjadi guru. Sebelum menjadi pelukis yang dikenal, Sudjojono merupakan seorang guru di Taman Siswa hingga mengantarkannya ke Rogojampi sebagai guru pembantu di desa terpencil di Banyuwangi itu (hlm 25).

Bagi Sudjojono pekerjaannya sebagai guru sangat diminatinya meskipun dia juga menyambinya dengan melukis. Hal ini tidak terlepas dari dua kata yang diucapkan langsung oleh Ki Hadjar Dewantara kepada Sudjojono “Djon, bekerjalah!” dua kata yang menjadi inspirasi Sudjojono dalam melakukan pekerjaannya sebagai guru (hlm 29). Dididik langsung di bawah arahan Ki Hadjar Dewantara di Taman Siswa ia pun terilhami bahwa pendidikan sangatlah penting bagi anak-anak.

Namun pada akhirnya Sudjojono tidak melanjutkan minatnya dalam bidang pendidikan melainkan memilih untuk berkonsentrasi pada minatnya sebagai pelukis. Pilihannya ini pun tak salah,  Sudjojono bersama teman-temannya berhasil mengadakan pameran lukisan oleh pelukis bangsa Indonesia tanpa campur tangan orang Belanda. Hal ini malahan mengejutkan banyak pihak bagi orang Belanda sendiri bahkan pameran mereka ditolak banyak pihak terutama orang Belanda.

Hal ini menimbulkan kebencian Sudjojono terhadap perlakuan pihak Belanda kepada pelukis-pelukis pribumi ini. Hingga suatu hari Sudjojono bersama teman-temannya mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Sebuah perkumpulan yang sama-sama menyuarakan kemerdekaan namun Persagi lewat lukisan. Sebuah perkumpulan yang sangat politis menyuarakan kemerdekaan mengingat nama perkumpulan tersebut memakai nama Indonesia yang cukup berani pada masa penjajahan Belanda.

Tidak hanya melalui Persagi saja, perjuangan Sudjojono berlanjut pada masa Jepang dengan keberadaan pusat kebudayaan yang dibentuk oleh Jepang. Jepang sangatlah pandai dalam menyuarakan propagandanya melalui kesenian (hlm 72). Bahkan beberapa seniman Persagi begitu pun Sudjojono tergabung secara langsung dalam pusat kebudayaan tersebut. Layaknya Poetera yang diisi oleh Soekarno dan kawan-kawan. Pusat kebudayaan yang dibuat Jepang dimanfaatkan Sudjojono untuk menyuarakan kemerdekaan.

Minat Sudjojono kepada politik juga mengantarkannya masuk ke dalam PKI. Bahkan mengantarkan Sudjojono ke dalam panggung politik yakni ke dalam anggota parlemen mewakili PKI. Namun, Sudjojono kemudian berpisah di tengah jalan dengan PKI karena perbedaan pendapat mengenai keberadaan Tuhan, posisi anggota partai dengan partai yang lain dan rasa cintanya terhadap Rose Pandanwangi yang kemudian menjadi istrinya (hlm 100).

Bagi Sudjojono hal yang paling krusial ketika dia harus berpisah jalan dengan PKI adalah kisah cintanya dengan Rose Pandanwangi. Sudjojono dan Rose telah sama-sama memiliki pasangan yang sah dan anak. Hal inilah yang ditentang oleh Aidit pemimpin PKI saat itu. Namun Sudjojono membalas perkataan Aidit “Tidak adakah rupanya dalam benak Das Kapital tentang cinta?” perkataan yang cukup berani yang dilontarkan Sudjojono kepada Aidit hingga membuat Sudjojono keluar dari PKI (hlm 104).

Setelah keluar dari PKI kemudian Sudjojono menikahi Rose Pandanwangi dan dimulailah petualangan mereka sebagai sepasang suami istri. Pasang surut kehidupan keluarga mereka terus dijalani bersama, apalagi kini Sudjojono tidak berpolitik lagi dan hanya fokus dengan profesinya sebagai pelukis. Bahkan gonjang-ganjing keluarga mereka ketika lukisan-lukisan Sudjojono tidak laku dipasaran akibat fitnahan yang berasal dari anggota PKI. Namun, mereka tetap sabar dan tetap semangat dalam mengarungi kehidupan keluarga mereka.

Bahkan kesabaran mereka mengantarkan Sudjojono kepada karya ciptanya yang besar yakni lukisan “Pertempuran Sultan Agung dan J.P. Coen” yang kini tersimpan baik di Museum Nasional Jakarta. Mahakarya Sudjojono ini menjadi sebuah karya terbaik Sudjojono yang bahkan diminati oleh para pemimpi  negara sahabat. Tidak hanya itu saja, Sudjojono juga sering mengadakan pameran lukisan yang langsung dikoordinir oleh Rose Pandanwangi.

Buku ini menceritakan dengan detail kisah perjalanan Sudjojono untuk menjadi pelukis yang dikenal hingga kini. Bahkan perjalanannya ini dia tulis sendiri. Ssesuatu hal yang sangat perlu diperhatikan lebih detail dalam memperlajari sejarah seni rupa Indonesia. Buku ini menjadi salah satu peninggalan Sudjojono yang akan terus hidup dalam sejarah seni rupa Indonesia, tidak hanya lukisan-lukisannya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

[Sorotan Pustaka] Kisah Mawar Pandanwangi

Penulis: Martinus Danang Pratama Wicaksana (Pemagang IVAA)

Judul:  Kisah Mawar Pandanwangi
Penulis: Sori Siregar & Tim S. Sudjojono Center
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Tebal:  68 hal
ISBN: 978-602-424-317-3

Nomor panggil IVAA Library: 709 Sir K

Kisah cintanya dengan Sudjojono membuat sosok perempuan ini menjadi inspirasi Sudjojono dalam setiap lukisannya.

Rose Pandanwangi begitulah nama panggungnya sebagai penyanyi seriosa kebanggaa Indonesia bahkan kebanggaan Soekarno sendiri. Nama awalnya adalah Rose namun kemudian hari ditambah Pandanwangi oleh Sudjojono dengan alasan bahwa Rose janganlah mendompleng nama Sudjojono untuk menjadi terkenal. Sudjojono ingin Rose dikenal dengan namanya sendiri bukan numpang ketenaran nama Sudjojono.

Rose dikenal sebagai penyanyi seriosa terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Namanya mulai bersinar ketika mengikuti Festival Pemuda di luar negeri mewakili Indonesia. Bahkan namanya juga tidak pernah absen dalam pagelaran bintang radio sehingga membuat dia terus-terusan menjadi langganan juara. Suaranya juga dipuji oleh Soekarno ketika diundang bernyanyi di istana “Apakah kalian dengar? Ini namanya bernyanyi” (hlm 48).

Sama dengan para seniman yang lainnya pada masa awal-awal kemerdekaan di mana kesenian sebagai alat untuk memperjuangkan kemerdekaan. Rose pun ketika awal kemerdekaan Indonesia juga turut memperjuangkan kemerdekaan lewat suaranya di kancah internasional yakni dalam Forum Pemuda. Hal inilah yang menarik bahwa ketika awal kemerdekaan, masyarakat Indonesia masih menenteng senjata mempertahankan kemerdekaan bagi Rose perjuangannya adalah lewat menyanyi.

Pencapaian Rose dalam seni suara membuat nama Indonesia dikenal oleh kalangan internasional. Tidak hanya itu tetapi nama Rose juga dikenal dalam dunia tarik suara secara internasional. Hal ini tidak terlepas dari latihan-latihannya yang keras dalam bernyanyi seriosa. Bakat seriosanya ketika itu berbeda dengan kebanyakan penyanyi lainnya. Suara seriosa Rose memiliki suara yang khas Indonesia begitulah yang dipuji oleh kebanyakan orang yang mendengarkannya.

Perjuangan Rose dalam mengenalkan Indonesia dalam kancah internasional juga mengantarkannya Rose dalam pertemuan pertama dengan Sudjojono. Ketika itu delegasi Indonesia yang juga terdapat Sudjojono berangkat ke Berlin untuk mengikuti festival kesenian. Pada saat itulah pertemuan pertama mereka secara tidak sengaja yakni ketika Rose meminta tanda tangan Sudjojono, namun ketika itu Rose masih belum mengenal siapa itu Sudjojono. Ketika meminta tanda tangan Sudjojono pulpen dari Rose tertinggal dan dibawa oleh Sudjojono. Inilah yang membuat mereka semakin lama semakin dekat.

Kedekatan Sudjojono dengan Rose ditentang banyak pihak salah satunya adalah PKI yang di mana Sudjojono adalah anggota partai tersebut bahkan menjadi wakil dalam dewan. Hal ini dikarenakan bahwa Rose dan Sudjojono sama-sama memiliki pasangan yang sah dan juga sama-sama memiliki anak. Mereka berdua berkeinginan untuk menikah dan menceraikan pasangannya.

Meskipun kisah cintanya banyak ditentang banyak orang, namun kisah cinta mereka mampu mengalahkannya. Meskipun cinta mereka yang menang akibat yang ditanggung pun cukup besar. Salah satunya adalah Sudjojono harus keluar dari PKI yang sebelumnya berbeda pendapat mengenai pilihan cinta Sudjojono. Sehingga Sudjojono harus menghidupi keluarganya hanya dengan mengandalkan profesinya sebagai pelukis (hlm 58).

Tidak hanya itu saja tetapi Sudjojono sampai difitnah oleh beberapa anggota PKI sehingga membuatnya harus kehilangan banyak pelanggan untuk melukis. Hal ini membuat Rose semakin marah atas fitnahan yang dilontarkan oleh anggota PKI. Bahkan Rose sampai harus menantang fitnahan PKI karena rasa cintanya terhadap Sudjojono.

Rasa cinta Rose yang besar terhadap Sudjojono pun juga terlihat ketika penangkapan simpatisan PKI setelah geger 1965. Rose tidak terima dengan penangkapan Sudjojono, hal ini dikarenakan bahwa Sudjojono sudah lama keluar dari PKI dan tidak tahu menahu dengan peristiwa 1965 itu. Sehingga Rose meminta Adam Malik teman dari Sudjojono yang masuk dalam pemerintahan untuk mencari tahu keberadaan Sudjojono. Tidak berselang lama Sudjojono pun kembali ke keluarga.

Rose menjadi salah satu inspirasi Sudjojono dalam melukis. Kadangkala Sudjojono melukis Rose dengan berbagai aktivitasnya ketika Sudjojono kesusahan dalam menuangkan ide-idenya itu. Tidak hanya itu bahkan Rose sampai menunggui Sudjojono ketika melukis bahkan sampai malam menjelang Rose dengan setia mendampingi Sudjojono.

Kisah cinta Sudjojono dengan Rose tergambarkan dengan baik dalam buku ini. Rose tidak hanya dikenal sebagai penyanyi seriosa terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Tetapi Rose juga sebagai inspirator bagi Sudjojono dalam segala karya-karyanya. Inilah sebuah kisah Rose yang mengantarkan Sudjojono hingga namanya menjadi harum semerbak.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Musrary Edisi ke-4: Arsip Berjalan Ingatan Kota

Penulis: Era D.S. (Peserta Magang IVAA)

Perpustakaan IVAA disulap oleh Izyudin “Bodhi” Abdussalam (Ruang Gulma) menjadi ruang seperti ruang teater, dia mengeset ruang perpustakaan IVAA dengan pernak-pernik lampu belajar sejumlah lima buah. Sebelum pertunjukan dimulai, ruangan dibuat sedemikian gelap sehingga panggung dan penataannya terlihat begitu anggun. Malam itu penonton memenuhi ruangan IVAA yang berkapasitas maksimal 80 orang itu sehingga terlihat penuh tetapi hangat dan sangat dekat dengan bibir panggung.

Malam itu panggung diisi oleh kelompok band bernama Kota dan Ingatan, mereka adalah Aditya Prasanda (pelafal teks), Addi Setyawan (bass), Indradi Yogatama (gitar), Maliq Adam (gitar), dan Alfin Satriani (drum). Sejak berdiri di tahun 2016 mereka berkali-kali menghiasi panggung musik Yogyakarta khususnya dan memberi pendekatan lain dengan musik dan lirik yang sangat berbeda. Mereka beberapa juga terlibat dalam sebuah gerakan seni dan sosial di Yogyakarta dengan membuat lirik mereka di beberapa lagu begitu lantang tetapi masih sangat puitis.

Penampilan Kota dan Ingatan dalam Musrary edisi ke-4 berlangsung selama satu jam dengan diselingi sesi tanya jawab. Aditya Prasanda dengan kumis uniknya membawakan sembilan lagu. Sesekali pria berkumis unik ini memegang mikrofon dengan kedua tangannya dan merem melek sepertinya terlihat sangat menghayati lagunya.

Proses bermain musik Kota dan Ingatan merupakan upaya mendokumentasikan. Kota dan Ingatan merekam apa yang terjadi di jalan-jalan, di tengah keramaian, di hiruk pikuk kota yang sesak dengan gedung tinggi, dan rencana-rencana tata kota yang berterbangan. Kejadian-kejadian yang begitu marak untuk ditulis, begitu banyak, begitu riuh. Hasil amatan tersebut kemudian dicatat dalam musik. Bermusik adalah mencatat, mencatat guna mengingat.

Di dalam konser mini tunggal mereka ini beberapa lagu masih dalam tahap perekaman dan akan dijadikan album mereka. Materi-materi Kota dan Ingatan beberapa sudah diluncurkan dan dibagi di sosial media, antara lain lagu-lagu yang berjudul Alur dan Peluru. “Alur” adalah sebuah catatan tentang kekerasan serta konflik horizontal yang akhir-akhir ini sering terjadi.

Kesempatan konser ini mereka maksimalkan dengan memberi visual yang digarap oleh Bodhi juga, dari lagu ke lagu visual ditampilkan secara bergantian dengan visual-visual seperti perkotaan dan sebagainya, yang diproyeksikan dalam ukuran besar di rak-rak buku perpustakaan sebagai latarnya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Mural #OTEWE4

Penulis: Anggie Noorida (Peserta Magang IVAA)

Mural #OTEWE4 kali ini bekerja sama dengan IVAA, dengan merespon lantai amphitheater yang ada di Rumah IVAA. Pengerjaan mural selama 2 hari di tanggal 17-18 Juli 2017 dan peluncurannya di 22 Juli 2017, bersamaan dengan acara #UpdateYourCity dari Kindmagz. Untuk konsep sendiri mereka membuat peta Yogyakarta dari sudut pandang yang berbeda. “Pada saat memilih peta Yogyakarta, aku ngobrol dengan Kotrek. Bagaimana jika menggambarkan masalah yang ada di Yogyakarta dengan cara yang berbeda? Sepertinya asik… Kemudian muncullah beberapa karakter di peta seperti Sleman dengan karakter Gunung Merapi, Kulon Progo dengan karakter Bandara, Yogyakarta, Bantul, dan Gunung Kidul dengan karakter manusia yang ada di dalamnya. Bagaimana masyarakat menanggapi adanya pembangunan,” kata Kotrek.

Sebenarnya proyek ini bagi Ismu Ismoyo dan Kotrek sendiri berkenaan dengan proyek Otewe yang sedang mereka garap tentang alat transportasi di Yogyakarta yaitu sepeda. “Ironis ketika Yogyakarta sebagai kota sepeda tapi ternyata minim ruang publik sepeda di Yogyakarta,” ungkap Ismu. Sebelumnya mereka sudah membuat mural di beberapa titik, yaitu Alun-alun Kidul, Nitiprayan, Giwangan, dan di IVAA adalah lokasi ke-4. Untuk mural sendiri rencana mereka ingin membuat 7 sampai 10 mural. Di setiap titiknya menceritakan permasalahan transportasi sepeda yang ada di daerah itu. Untuk gambar yang ada di Rumah IVAA konsepnya adalah bagaimana menceritakan cara pandang kondisi kota Yogyakarta, yang pasti sepeda ada di dalamnya.

Dalam proyek #Otewe ada 3 hal yang menjadi harapan sang inisiator, yaitu membangun ingatan orang tentang kota Yogyakarta sebagai kota sepeda, yang kedua adalah melihat bahwa kota Yogyakarta tidak dirancang untuk kendaraan besar jadi sepeda itu bisa menjadi solusi mengurangi kemacetan, dan yang ketiga adalah membangun sedikit nostalgia seperti sepeda membuat dialog tersendiri dengan warga yang lain (pengguna sepeda). Sebenarnya penggunaan sepeda di kota Yogyakarta besar akan tetapi fasilitas belum mendukung seperti marka jalan yang ada di jalan, ataupun ruang tunggu yang ada di lampu merah.

Lewat pengerjaan mural ini diharapkan segala permasalahan di Yogyakarta dapat direfleksikan lewat kegiatan berkeseniaan, danmural ini salah satunya. Mengkritik Yogyakarta tidak hanya lewat tulisan saja, tetapi berbicara juga bisa melalui jalan kesenian. Hal inilah yang ingin disampaikan Kind Magz kepada publik Yogyakarta.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Art in Context: Seni Dari Warga, Oleh Warga, dan Untuk Warga

Penulis: Artia L. Yohana (Peserta Magang IVAA)

Kamis, 20 Juli 2017, Goethe-Institut Program Jogja mengadakan peluncuran buku dan diskusi yang bekerja sama dengan Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Buku yang diluncurkan adalah sebuah buku yang dikembangkan dari program lokakarya yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia di November 2015 silam yang berjudul “Art In Context”. Acara peluncuran buku dan diskusi ini bertempat di Rumah IVAA.

Selain peluncuran dan bedah buku, acara ini juga disertai dengan diskusi tentang seni kolektif serta berbagi cerita dari pengalaman pembicara. Acara ini kemudian dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama dimulai dengan bedah buku yang menghadirkan Djuwadi dari Taring Padi sebagai pembicara. Djuwadi merupakan salah satu peserta yang terlibat dalam lokakarya tersebut. Dalam sesi ini dipandu oleh Christina Schott (Tina) penanggung jawab dari Goethe-Institut Program Jogja. Pada sesi ini membahas tentang isi dari buku “Art In Context” serta pengalaman dari Djuwadi sebagai peserta yang mengikuti residensi selama 12 hari di Kuala Lumpur. Workshop atau Master Class ini berjudul “Transaction in the Fields”, dihadiri seniman dari 10 negara di Asia salah satunya adalah Indonesia.

Menurut pemaparan Tina, acara yang telah dilaksanakan pada tahun 2015 ini mengambil tema partisipatory art atau socially engaged art, fusion public art, art activation community, dan art education. Kemudian ide dari penerbitan buku ini sendiri menurut Djuwadi tercipta setelah program workshop 12 hari penuh, akhirnya diputuskan untuk mendokumentasikan seluruh hasil kegiatan yang telah dilaksanakan dan di publikasikan dalam bentuk buku. Pembuatan buku ini sendiri memakan 2 tahun yang kemudian diterbitkan oleh Goethe-Institut.

Setelah berbagi pengalaman dari Djuwadi, terdapat pertunjukan kecil yang pernah dibawa Djuwadi ke Malaysia ketika workshop. Pertunjukan yang dilakukan adalah tutorial memanfaatkan sampah sebagai hiasan. Menurutnya ide ini muncul ketika mengikuti karnaval kostum sampah, ia memungut sampah yang ditemuinya sepanjang jalan dan kemudian membentuknya menjadi sebuah hiasan untuk pakaian dengan mengunakan peniti. Karya ini juga merupakan salah satu karya yang di presentasikan oleh Djuwadi ketika mengikuti workshop di Kuala Lumpur.

Sesi kedua diisi dengan diskusi tentang wacana seni partisipatoris yang bersinggungan dengan sifatnya yang kolektif serta bersosialisasi dengan masyarakat. Dalam sesi ini terdapat dua pembicara yang dimoderatori oleh Hardiawan Prayoga. Pembicara yang dihadirkan adalah Djuwadi dari Taring Padi dan yang kedua adalah Ketjilbergerak yang di wakili oleh Britto. Kedua komunitas ini pada garis besarnya bergerak dalam konteks art in community atau dapat dikatakan karya-karya mereka dipersembahkan untuk berpartisipasi dalam membantu masyarakat. Karya seni yang mereka buat bersinggungan dengan isu-isu terbaru yang ada di lingkungan masyarakat.

Sebelum diskusi dimulai, ditampilkan beberapa video dari para pembicara. Djuwadi menampilkan cuplikan hasil kegiatan lokakarya yang telah dibahas sebelumnya. Sedangkan dari Ketjilbergerak menampilkan video hasil karya mereka yang berjudul “Energi Mudamu, Senjatamu!.” Menurut Britto, video yang ditampilkan oleh Ketjilbergerak ini merepresentasikan bahwa Ketjilbergerak memiliki tiga program, yaitu pendidikan alternatif berbasis kesenian, yang kedua adalah bergerak dengan anak muda agar mereka bisa rensponsif dan dapat membaca lingkungan, dan yang terakhir adalah penguatan warga agar mereka dapat membaca dan memahami serta mengambil sikap yang tepat dalam merespon perubahan atau perkembangan yang ada di lingkungan.

Dalam sesi ini juga dibahas latar belakang komunitas tersebut dan fokus dari komunitas serta kegiatan yang dilakukan oleh kedua komunitas tersebut. Menurut pemaparan Djuwadi, Taring Padi merupakan sebuah komunitas yang terlahir di tahun 1998 sebagai organisasi budaya progresif. Taring Padi ini banyak mendedikasikan hasil karya seni mereka untuk berpartisipasi dalam aksi solidaritas bersama masyarakat dengan kata lain membantu masyarakat dalam mengekspresikan maupun mengutarakan pendapat mereka melalui karya kesenian.

Sedangkan Ketjilbergerak merupakan komunitas yang terlahir di tahun 2006 sebagai komunitas kreatif berbasis anak muda sebagai orang yang berjiwa muda. Menurut Britto Ketjilbergerak ini pada awalnya muncul dari keinginan dan niat untuk terjun langsung pada warga. Salah satu karya dari Ketjilbergerak ini salah satunya yaitu pembuatan video yang isinya mengkritik kondisi permasalahan saat itu. Britto memberikan pemaparan tentang alasan mengapa mereka memilih berkarya di musik video walaupun tetap juga aktif berkarya di seni lainnya, menurutnya karena Ketjilbergerak mempunyai metode untuk bergerak dengan media yang menyenangkan sehingga gerakan tersebut tidak membebani.

Kemudian para pembicara juga memaparkan bagaimana mereka berkegiatan di masyarakat. Taring Padi maupun Ketjilbergerak mempunyai metode yang hampir sama ketika mereka mulai berkarya untuk masyarakat. Tujuan dari karya mereka pun sejalan, yaitu menguatkan warga agar mereka dapat membaca situasi atau kondisi yang ada sehingga mampu mengambil sikap atas situasi tersebut. Kemudian mereka juga memaparkan bahwa karya-karya seni yang dihasilkan itu berasal dari ide-ide masyarakat yang kemudian dikembangkan dan dibuat bersama-sama dengan masyarakat. Kemudian ide tersebut berkembang menjadi sebuah hasil karya seni yang berisi ungkapan, suara, pendapat warga tentang situasi atau isu yang berada dilingkungan tersebut. Selain itu, alasan bahwa ide tersebut harus berasal masyarakat adalah karena Ketjilbergerak serta Taring Padi tidak akan selamanya berada di tempat tersebut, sehingga dengan belajar bersama, harapannya masyarakat pada akhirnya mampu berkarya sendiri ketika tidak ada Ketjilbergerak atau Taring Padi.

Secara umum acara ini merupakan sebuah diskusi dan bedah buku di mana tema atau garis bersarnya adalah kolektif seni. Baik buku yang diluncurkan maupun diskusi yang dilaksakan membahas tentang bagaimana seni dapat menjadi sebuah alat untuk mengungkapkan ekspresi, pendapat, dan ide dari masyarakat; sehingga seni tidak hanya dianggap yang hasilnya berupa karya untuk ditampilkan atau dipamerkan, tetapi juga dapat sebagai suatu alat untuk membangun kesadaran masyarakat.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.