Category Archives: E-newsletter

#Sorotanpustaka Mei-Juni 2018

Oleh: Santosa

IVAA sebagai perpustakaan alternatif, mempunyai koleksi katalog pameran seni yang dihimpun sejak IVAA berdiri tahun 1995 dengan nama Yayasan Seni Cemeti (YSC). Katalog–katalog tersebut ditata dan disimpan dalam 4 rak dengan jumlah katalog pameran seni 7237, seluruhnya bisa diakses oleh publik dan ditelusuri di http://library.ivaa-online.org/index.php. Katalog – Katalog tersebut berasal dari kontribusi individu maupun pameran. Terdiri dari katalog pameran tunggal maupun pameran bersama yang diselenggarakan di dalam negeri maupun luar negeri. Meski demikian, koleksi katalog pameran yang dikoleksi IVAA masih didominasi katalog pameran yang berlangsung di sekitar pulau Jawa terutama Yogyakarta mengingat lokasi dan keterbatasan jangkauan IVAA.

Sementara basis data yang dimiliki IVAA juga telah dibaca dan dijadikan katalog, dihimpun pada tahun 2011 dalam buku Seri Katalog Data IVAA yang terdiri dari  4 tema, yaitu Rupa Tubuh: Wacana Gender Dalam Seni Rupa Indonesia (1942 – 2011), Reka Alam: Praktek Seni Visual Dan Isu Lingkungan Indonesia Dari Mooi Indie Hingga Reformasi, Kolektif Kreatif: Dinamika Seni Rupa Dalam Perkembangan Kerja Bersama Gagasan Dan Ekonomi (Kreatif) (1938-2011), Interkultur: Pengolahan Gagasan dan Ekspresi Seni Visual serta Media Alternatif dalam Konteks Keragaman (1935 – 2011). Sedangkan tahun 2017 IVAA juga menerbitkan buku Katalog Data IVAA: Seni, Aksi Dan Jogja Sebagai Ruang Urban dirangkai dan dikumpulkan dari berbagai peristiwa seni dan budaya atau yang berkaitan dengannya, yang mengiringi perubahan dan pergeseran arah gerak Yogyakarta sebagai ruang urban pasca-1998. Secara sengaja, beberapa peristiwa yang terhimpun tidak melulu peristiwa yang sudah begitu saja diterima sebagai peristiwa seni visual. Tema-tema ini dibingkai dalam katalog data IVAA sebagai produk pengetahuan kerja dokumentasi IVAA, lebih lanjut sebagai upaya pengembangan wacana pengetahuan dan pemantik untuk penelitian kedepan.

Newsletter edisi kali ini mengulas dua buku, pertama Sebab Jalan Belum Berujung Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro, yang ditulis oleh OPée Wardany dan Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 – 2005. Karena pembahasan di kedua buku tersebut berada pada kisaran dua nama seniman, yakni Ugo Untoro dan Semsar Siahaan, kami kemudian membuka koleksi yang juga terkait dengan kedua nama itu, beberapa diantaranya ialah: Ugo Untoro Menggugat… Sisipus tertawa, Papers and Ugo Untoro, Ugo Untoro My Lonely Riot, Sciascia|Untoro, Solo Show By Ugo Untoro, Melupa, Passage Ugo Untoro: Retropective Exhibition, Corat – Coret 91 – 95. Sedangkan yang berkenaan dengan Semsar Siahaan perpustakaan IVAA juga mempunyai antara lain: Semsar Siahaan: Art Liberation dan beberapa katalog pameran kelompok. Selain kedua buku tersebut, satu koleksi baru yang diulas pada edisi ini ialah Tesis berjudul Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian, yang ditulis oleh Stanislaus Yangni dalam menuntaskan kuliahnya di Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

[Sorotan Pustaka] Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 -2005

Penulis : Semsar Siahaan, Melati Suryodarmo,Halim HD,
Yayak Yatmaka, Mohamad Cholid, Sanento Yuliman, Danarto, Sujiwo Tejo, Yvonne
Owens, Bre Redana, Astri Wright
Penerbit : Yayasan Jakarta Biennale 2017 dan Penerbit Nyala Yogyakarta
Tebal : x+196 halaman
Ukuran   : 13,8 x 20,3 cm

Oleh: Santoso

Buku  Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 – 2005 terbagi dalam beberapa tulisan sebagai pembuka buku, yang ditulis oleh sahabat Semsar Siahaan di ITB, yaitu Yayak Yatmaka dan Halim HD, kemudian tulisan – tulisan Semsar sendiri dan 6 esai tentang Semsar yang dilengkapi dengan arsip gambar dan arsip kliping surat kabar.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Jakarta Biennale dan Nyala ini menunjukkan cara Semsar melihat peran seni secara kritis dan kaitannya terhadap kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM). Dari sini juga kemudian kita bisa melihat keterlibatannya dalam berbagai aktivitas sosial politik, lingkungan hidup, hingga pendidikan anak. Catatan biografis, esai dan ulasan kritis ini menjadi bagian penting dari mozaik sejarah seni rupa Indonesia. Salah satunya dengan melihat Semsar Siahaan dari aspek kesejarahan melalui perspektif biografi personal, dan perjalanan proses kreatif yang berkaitan dengan posisi serta sumbangsih seniman pada jamannnya.

Semsar Siahaan adalah ikon seniman yang dekat dengan isu-isu sosial politik di Indonesia. Ia menempatkan seni sebagai upaya pembebasan masyarakat dari kemiskinan dan ketidakadilan. Keindahan seni justru muncul dari upaya pembebasan yang dilakukan oleh seniman. Pada 1981, Semsar menggegerkan dunia seni rupa Indonesia dengan mengabukan patung karya Sunaryo, gurunya. Karya itu baru saja kembali dari pameran seni patung internasional di Fukuoka, Jepang. Semsar membakar hangus patung itu, membungkusnya dengan daun pisang, dan menyajikan nasi kuning. Ia menyebutnya “seni kejadian” dan kena skors dari kampus. Bagi Semsar, seni modern Indonesia memuja keindahan estetik. Para seniman memanipulasi seni tradisi untuk kepentingan ego mereka sendiri. Estetika modern ini abai terhadap kenyataan sosial di negeri sendiri, yang sebagian besar terdiri atas kaum agraris miskin (petani dan nelayan). Pada masa Orde Baru, hak-hak dasar rakyat itu dihilangkan dan kemanusiaan mereka ditindas. Semsar meninggal dunia pada 25 Februari 2005 di Bali dan dibawa ke Jakarta untuk disemayamkan di Taman Ismail Marzuki, dan kemudian dimakamkan di Bengkel Teater yang terletak di belakang rumah Rendra.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

[Sorotan Pustaka] Sebab Jalan Belum Berujung: Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro

Penulis : OPée Wardany
Penerbit : Pustaka Sempu
Tebal : xi + 213 halaman
Ukuran : 17 x 24 cm

oleh Didit Fadilah (Kawan Magang IVAA)

Sebagai seniman, Ugo Untoro bisa dikatakan telah berproses dengan kesenian sedari kecil. Hal ini tidak lepas dari peran kakeknya yang seorang dalang. Meskipun demikian, Ugo Untoro baru bisa dikatakan mulai berkarir sebagai seniman ketika mulai dan selesai mengenyam pendidikan di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Lulus perkuliahan di tahun 1995, Ugo Untoro telah melakukan banyak pameran serta meraih beberapa penghargaan bidang kesenian selama periode perkuliahan sampai saat ini. Tidak hanya berkarya secara individu, ia juga menginisiasi ruang seni bernama Museum Dan Tanah Liat (MDTL).

Di luar itu, dari banyak pameran tunggal atau pameran kolektif yang diikuti oleh Ugo, OPée Wardany menyoroti satu pameran tunggal Ugo yang bertajuk Melupa. Pameran Melupa, oleh Ugo Untoro, ini diselenggarakan pada tahun 2013 di Ark Galerie, Yogyakarta. Pameran Melupa ini menjadi menarik karena mengetengahkan teks dengan berbagai macam material sebagai lukisan. Adapun lukisan-lukisan itu berisikan teks-teks Ugo yang berbentuk parafrase, kalimat pendek, atau kumpulan kalimat panjang dalam paragraf-paragraf utuh. Mengingat karya-karya Ugo sebelum pameran ini cenderung menyuguhkan obyek alam, benda, dan manusia. Proses kreatif munculnya obyek teks dalam pameran Melupa tentunya hal yang sangat menarik ditelusuri lebih dalam. Hal inilah yang dipilih penulis sebagai landasan bukunya yang berjudul Sebab Jalan Belum Berujung Proses Kreatif Melupa Ugo Untoro.

Penjelasan proses kreatif tidak hanya seputar proses Ugo Untoro berkarya, tetapi juga dijelaskan pula tentang proses kreatif sebagai sebuah konsep sehingga terdapat batasan jelas yang bisa didapatkan. Selain itu, unsur-unsur yang juga hadir dan terlibat dalam proses kreatif pameran Melupa Ugo Untoro juga dipaparkan. Adapun cara pandang yang digunakan untuk menjelaskan unsur-unsur itu ialah teori yang dituliskan Howard Saul Becker dalam Art World. Dengan menggunakan paradigma Sosiologi, teori ini memperlihatkan bahwa proses kreatif seniman juga dapat dipengaruhi oleh unsur di luar tubuh seniman.

Lebih lanjut, buku ini juga menjelaskan tentang tahapan-tahapan di dalam proses kekaryaan Melupa. OPée Wardany, selaku penulis buku ini, beranggapan bahwa proses kreatif seni merupakan sebuah proses penciptaan, sehingga cara kerjanya seharusnya tidak berbeda jauh dengan proses penciptaan semesta. Oleh karenanya, penjelasan tahapan-tahapan proses kreatif Melupa menggunakan dasar teori proses dari Alfred North Whitehead. Sebuah teori yang menjelaskan bahwa ada fase-fase yang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah kesatuan baru yang utuh. Di dalam banyaknya proses yang ada, pengaruh dari banyak tulisan, pengetahuan, pengalaman hidup, kepribadian ataupun eksplorasi material yang dilalui Ugo di periode sebelum berlangsungnya pameran Melupa, merupakan peristiwa aktual yang melebur menjadi kesatuan baru sampai memunculkan lukisan teks Melupa.

Proses kreatif yang dialami oleh Ugo dalam karya lukisan teks Melupa tidak hadir secara sepintas lalu melalui kekosongan. Akan tetapi, proses kreatif yang terjadi merupakan sebuah hasil dari pengalaman-pengalaman masa lalu Ugo serta adanya interaksi sosial oleh Ugo sebagai seniman. Meskipun demikian, di samping proses kreatif yang turut menjadi kunci kekaryaan Ugo, keberadaan ideologi yang dimiliki seniman juga memiliki peranan penting sebagai pengarah orientasi seniman. Tentunya proses kreatif seniman satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan. Apabila anggapan yang lalu muncul bersesuai dengan judul yang dipilih oleh buku ini, mengibaratkan proses kreatif dengan jalan, maka jalan itu tidak akan menemui ujung selama seniman masih terus melakukan proses berkesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

[Sorotan Pustaka] Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian

Penulis : Stanislaus Yangni
Tesis : Pengkajian Seni Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Tebal : x + 216 Halaman
Ukuran : 29×20,5 cm

Oleh Diatami Muftiarini (Kawan Magang IVAA)

Riset estetika seni rupa ini bermula dari kegelisahan peneliti, Stanislaus Yangni, terhadap karya seni lukis Indonesia yang kehilangan ekspresi atau gregetnya—meminjam istilah Sanento Yuliman (2001). Ini tertuang dalam tesisnya yang berjudul Sketsa sebagai Proses Kreatif dalam Seni Lukis: Kajian Sketsa dalam Estetika Deleuzian. Seniman Indonesia pada tahun 1940-1960, antara lain Affandi, S. Sudjojono, Kartono, Hendra Gunawan, Nyoman Gunarsa, Widayat, Martian Sagara, Lim Keng, Sudjana Kerton, Butet, Henk Ngantung, Krijono dan Ipe Ma’aruf, mampu membuat sketsa dengan garis spontan atau goresan di atas kertas maupun kanvas. Sketsa menjadi embrio atau ancangan dari melukis, secara tidak langsung merekam gerak seniman yang peka terhadap lingkungan dan masyarakatnya.

Sementara pelukis saat ini cenderung takut untuk menggores secara spontan, serta kehadiran teknologi representasi (kamera, komputer, proyektor, dan sebagainya) seakan telah menggantikan posisi dan fungsi sketsa. Juga mengubah irama berkesenian dan mentalitas seniman. Goresan dalam sketsa ini kemudian menjadi apa yang disebut greget oleh Sanento, telah hilang di jagad seni lukis saat ini.

Melangkanya seniman yang sketching secara langsung dan on the spot, menumpulkan pengalaman estetik yang berasal dari pengalaman tubuh seniman. Pengalaman ini dalam kajian estetika dikenal dengan pengalaman haptic, yang merujuk pada pengalaman estetik, pengalaman visual yang terjadi pada mata, bukan sekadar merujuk pada yang manual taktikal. Tetapi, lebih dari sekadar perihal sentuhan tangan pada kanvas, sentuhan fisik, melainkan pengalaman yang dihasilkan oleh mata ketika ia merasa menjadi tangan.

Pengalaman estetis-kreatif dalam sketsa, diuraikan Deleuze melalui diagram. Sketsa sebagai diagram, mengeksplorasi proses kreatif seniman lewat elemen garis spontannya. Sketsa mampu melampaui bentuk-bentuk klise, lalu menggantinya dengan apa yang ada di depan mata. Konsepsi oleh Deleuze ini dikenal dengan paradigma estetika Deleuzian, yang kemudian digunakan peneliti sebagai limitasi dalam penelitian.

Tesis ini menjawab hipotesa awal penulis bahwa sketsa sebagai embrio, sebagai ancangan, dari melukis hingga ia menjadi bagian vital dalam seni lukis. Meski tidak semua sketsa, terdapat syarat-syarat yang memungkinkannya menjadi embrio. Pada bagian ini, menjadi letak kekuatan sketsa dalam menghidupkan seni lukis.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Arsip Poster dan Iklan Film

Oleh Hardiwan Prayoga

Tercatat bahwa pemutaran film (dulu disebut gambar idoep) pertama di nusantara ada di Surabaya. Data ini diperoleh dari pamflet iklan film tahun 1896. Poster dan iklan film, dapat digunakan untuk melihat interseksi dunia seni visual mainstream dengan budaya pop. Selain itu, sekaligus gambaran singkat mengenai perkembangan selera penonton. Poster dan iklan film terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tahun 1930an, iklan film menekankan pada jalan cerita. Bahasa yang dominan digunakan adalah bahasa melayu pasar. Didominasi oleh visual yang ramai dengan teknik kolase.

Film Indonesia mengalami fase mati suri pada awal hingga pertengahan 1940an. Pada masa ini didominasi film propaganda, hingga akhirnya tahun 1948, Darah dan Doa dinyatakan sebagai film nasional pertama. Memasuki 1950an, Indonesia memasuki masa produktif film nasional hingga terjadi persaingan yang ketat dengan film impor. Selebaran iklan koran, dan majalah sangat banyak digunakan kala itu. Setelah mengalami kelesuan tahun 1960an, film nasional kembali menggeliat pada 1970an. Pada masa ini poster dan iklan film masih menggunakan corak lukisan dan fotografi sederhana. Mulai hilang tulisan panjang mengenai jalan cerita, namun lebih ditekankan pada slogan dan gambar yang sensual dan emosional.

Akhirnya kini di era pasca reformasi, merespon keterbukan teknologi dan politik, memungkinkan film diproduksi secara gerilya, bahkan hingga tingkat distribusi. Iklan film kini terpusat pada trailer, dan poster mulai beralih dari cetak ke digital dengan berbagai macam versi. Catatan mengenai dinamika poster dan iklan film dapat dilihat melalui koleksi yang disumbangkan oleh Christopher Allen Woodrich, peneliti yang berdomisili di Yogyakarta. Koleksi digitalnya dapat diakses dengan datang ke Rumah IVAA.

Checklist Arsip Poster dan Iklan Film: https://bit.ly/2sKxNBV

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Rangkaian kunjungan ke Rumah IVAA Studi Ekskursi Program Studi Arsitektur UTY  dan Balai Penelitian Batik

Oleh Elis Sriwahyuni (Kawan Magang IVAA)

IVAA adalah suatu lembaga arsip yang membuka peluang informasi bagi setiap masyarakat, baik dari lembaga hingga universitas, dan berbagai kalangan (peneliti, mahasiswa, waratan, seniman, kurator, dan lain-lain) dengan tidak membatasi siapa saja yang mau berkunjung. Seperti halnya pada tanggal 3 mei 2018, IVAA mendapatkan kunjungan sekitar 80 mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) dari program studi Arsitektur, Fakultas Sains & Teknologi dalam rangka kegiatan Studi Ekskursi mata kuliah Sejarah Arsitektur Indonesia.

Kunjungan ini menjadi kesempatan berbagi pengalaman, cerita tentang ruang seni, konsep ruang, dan pengarsipan. Para mahasiswa ini cukup antusias dan merespon dengan baik penjelasan dari IVAA, yang diwakili oleh Dwi Rachmanto, Hardiwan Prayoga, dan Santosa. Mereka bertiga bercerita cukup panjang tentang sejarah berdirinya IVAA, lengkap dengan dinamika ruangnya. IVAA yang berdiri pada 1995 telah melakukan 2 kali perpindahan, pertama di Ngadisuryan, kemudian pindah ke Patehan Tengah, dan sejak 2011 mulai menempati “rumah” sendiri di Dipowinatan. Dwi Rachmanto dan Santosa yang sudah bergabung dengan IVAA sejak 2003 bercerita bahwa konsep Rumah IVAA yang sekarang, disebut sebagai yang paling ideal karena sudah milik sendiri. Dengan kata lain, desain ruang IVAA dibuat senyaman mungkin untuk kegiatan belajar dan diskusi. Namun sekaligus tidak melupakan standar keamanan, karena juga berfungsi sebagai rumah penyimpan arsip. Desain rumah yang didominasi oleh bahan kayu, dimaksudkan agar Rumah IVAA jauh dari kesan mewah yang dapat membuat sungkan publik untuk berkunjung. Setelah sesi “kuliah” singkat ini, para mahasiswa ini berkeliling melihat-lihat setiap ruangan yang ada di IVAA. Mereka melihat dengan cukup detail mulai dari perpustakaan di lantai 1 dan 2, ruang arsip, ruang server, dan ruang editing dokumentasi.

Dalam kesempatan berbeda 18 Mei 2018, IVAA juga mendapat kunjungan dari Balai Penelitian Batik. Kunjungan ini lebih dalam tujuan melihat IVAA mengelola arsip dan hal-hal teknis yang berkaitan dengannya. Balai Penelitian Batik dalam waktu dekat ini sedang akan membangun basis kerja kearsipan, yang sesuai dengan kebutuhan baik secara penelitian maupun kelembagaan. IVAA sebagai lembaga yang bekerja untuk publik, selalu membuka kesempatan bertukar pengalaman dan cerita dengan siapapun tentang bagaimana mengelola ruang seni sebagai salah satu wadah diseminasi pengetahuan.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Musrary #11 Stickman

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Musrary sebagai agenda bulanan Rumah IVAA kembali hadir untuk menyajikan penampilan dan membuka ruang interaktif antara musisi dan pendengarnya. Musrary #11 berlangsung pada hari Kamis, 25 April 2018 pukul 19.00-selesai. Menampilkan live session dari band asal Yogyakarta, Stickman. Mereka tampil di Rumah IVAA setelah merilis album pertamanya Lawan Diri, pada bulan Februari lalu dibawah label Otakotor Record. Stickman terdiri dari Kiat Istiqomah (lead vocal & bass), Muhammad Rifqi Rihza Rahman (gitar & backing vocal), Satya Chandra (gitar), Riska Nopitawati (backing vocal) dan Aditya Nugraha Surya Saputra (drum). Format dari kelima personil ini awalnya adalah trio yang sudah beberapa tahun dipertahankan. Nama “Stickman” diperoleh dari ketiga pendiri band ini yang kesemuanya adalah drummer. Trio drummer ini berinisiatif untuk membentuk satu grup musik. Kini, ketiganya justru tidak memainkan drum, beralih ke instrumen lain.

 

Seiring berjalan nya waktu, mereka bertemu dengan kawan-kawan dari satu lingkup yang turut membantu dalam proses eksplorasi musik Stickman. Kemudian menciptakan format yang lebih luas dengan bertambahnya personil. Dipertemukan dalam satu organisasi musik kampus, Riska hadir menjadi bagian dari para mantan drummer ini. Kehadiran Riska sebagai backing vocal perempuan, menambah daya tarik tersendiri bagi Stickman. Suara vokal yang dibawakan memiliki warna dan ciri tersendiri yang merupakan sinkronisasi dari lead dan backing vocal. Mereka mengklaim sebagai band yang beraliran indiepop, namun tidak memberi batasan pada pendengar nya untuk menafsirkan sendiri jenis musik apa yang mereka mainkan. Stickman mengusung lirik-lirik yang religius, magis dan puitis yang dikemas secara apik. Sudut pandang mereka mengutarakan tentang pesan dan perjalanan hidup yang direpresentasikan melalui setiap lagu dalam album Lawan Diri

Penampilan di gelaran Musrary #11 merupakan kali pertama bagi Stickman berformat akustik. Malam itu tidak semua personil hadir dan diganti dengan additional player. Lagu yang mereka bawakan diambil dari album pertama yang baru dirilis, berisikan tujuh buah lagu. Seperti yang berjudul “Iyakan Yang Tidak dan Sebaliknya”. Lagu ini sangat unik karena lirik nya yang repetitif dan durasi lagu yang singkat namun sarat akan makna. Kemudian lagu “Lawan Diri” yang diambil dari album perdana nya dengan judul yang sama. “Kembalikan Indonesia” dibawakan pula oleh mereka. Lagu ini adalah single pertama dari Stickman yang dirilis pada 2014, dan menjadi bagian dari album kompilasi Mabes Musik UAD. Lagu ini sebenarnya diciptakan tahun 2013, terinspirasi dari puisi sastrawan Taufik Ismail yang berjudul Kembalikan Indonesia Kepadaku.

Setelah “Kembalikan Indonesia”, mereka merilis lagu berjudul “A.T.N.I.C” pada tahun 2017, yang juga dibawakan pada malam itu. Lagu ini bahkan sudah memiliki video music, dan dapat disaksikan di kanal YouTube Otakotor Record. Dalam video musicnya, “A.T.N.I.C” menampilkan performing art hasil arahan Vikri Ihsan Rohmadi. “A.T.N.I.C” sendiri merupakan kebalikan dari kata C.I.N.T.A.. Lagu yang diciptakan Kiat, sang vokalis, berceritakan tentang hubungan dengan sang pencipta dan sesama manusia. Cinta yang dimaksudkan disini bermakna secara universal. Kiat mempersilahkan pendengar nya untuk memaknai sendiri tentang lagu ini. Stickman akan terus berkarya, meskipun pasti ada rintangan yang menghadang ditengah karir bermusik nya. Setidaknya, karya yang pernah dihasilkan Stickman merupakan artefak dari perjalanan hidup.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Musrary #10 Sombanusa

Oleh Didit Fadilah (Kawan Magang IVAA)

Sombanusa ialah nama panggung dari pria bernama asli Muhammad Asy’ari. Pria kelahiran Ambon ini menggunakan bahasa Tana, bahasa asli daerah-daerah Maluku, untuk menamai proyeknya ini. Sombanusa sendiri terdiri atas dua kata yaitu, Somba yang berarti ‘menyembah atau berbakti’ serta Nusa yang memiliki arti ‘pulau atau tanah’. Bimbim, panggilan Muhammad Asy’ari, lantas berpendapat bahwa Sombanusa dapat diartikan sebagai ‘berbakti pada tanah yang kita tinggali’. Sempat memiliki sebuah band di periode 2017 dengan nama Asteroidea, bahkan membuat grup hiphop di tahun 2009. Bimbim kini lebih memantapkan diri untuk bermusik seorang diri agar tak perlu lagi menemui permasalahan-permasalahan internal dalam sebuah kelompok.

Malam itu, Kamis, 29 Maret 2018, Sombanusa bekesempatan hadir mengisi Musrary #10. Membawakan lima lagu dalam penampilannya, Sombanusa juga menyuarakan pandangannya terkait isu hangat yang sedang terjadi di Kulonprogo. Sebagai salah satu aktivis yang ikut terlibat membela petani Temon, Sombanusa cukup sering terlibat dalam beberapa kegiatan yang menyangkut isu penggusuran Kulonprogo. Hal ini pula yang menginspirasi salah satu karya Sombanusa yang berjudul “Gadis dan Telaga”.

Dengan berdiri memegang gitar akustik serta diterangi cahaya lampu, Sombanusa memulai penampilan sederhananya dengan lagu bertajuk “Menyulam Renjana”. Judul yang cukup romantis meskipun tidak demikian dengan alasan di baliknya. Lagu ini tercipta atas keresahan Sombanusa pada sikap pemuda-pemudi yang melupakan diri untuk peduli pada hal yang terjadi di sekitarnya. Di masa kini, masa yang menurut Sombanusa tidak baik-baik saja, orang-orang lebih memilih untuk bersenang-senang memuaskan eksistensi diri daripada peduli tentang hal-hal yang tidak benar.

Selanjutnya, “Hikayat Nelayan” lantas lalu dimainkan. Sebuah lagu yang sangat dekat dengan pengalaman pribadi Sombanusa. Sebagai seorang yang besar di Pulau Buru, Sombanusa merasakan terdapat pergeseran kebudayaan di sana. Keresahan atas sikap yang mulai melupakan kegiatan yang bersifat adat membuat Sombanusa menciptakan lagu “Hikayat Nelayan” dengan harapan memunculkan instropeksi atas sikap yang telah dipilih. Dimainkan secara apik dengan ciri khas suaranya, Sombanusa kemudian memainkan lagu ciptaan rekannya.

Sebelum penampilannya ditutup dengan lagu “Bahagia Melawan Lupa”, “Gadis dan Telaga” dimainkan terlebih dahulu. Dengan semangat perlawanan atas isu penggusuran yang terjadi, Sombanusa menjelaskan bahwa lagu ini terinspirasi oleh peristiwa di Kulonprogo. Berisikan narasi tentang cinta yang memiliki makna sangat dekat dengan perdamaian, lagu ini memiliki lirik yang sangat tegas menginginkan perdamaian itu dengan frasa “perlawanan abadi” yang berulang.

Sombanusa ialah sebuah kesatuan utuh tentang perlawanan yang menginginkan perdamaian bagi yang tertindas. Di luar itu, pada Musrary ini pula, selain penampilan musik yang dibawakan dengan sederhana nan intim oleh Sombanusa, diselingi pula dengan sedikit dialog terkait isu yang terjadi di Kulonprogo dari beberapa aktivis yang terlibat. Akhir yang adil tentu yang diharapkan atas peristiwa ini. Mengutip kalimat yang sering dibaca dalam media sosial Sombanusa, “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta”.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

 

Diskusi Lintas Generasi “Setelah Dua Dekade: Seni Setelah 20 Tahun Reformasi”

Oleh Putri R.A.E. Harbie (Kawan Magang IVAA)

Dalam rangka memperingati 20 tahun reformasi, Koalisi Seni Indonesia (KSI) mengadakan diskusi dengan tema seni sebelum dan pasca-reformasi, Senin (27/5) di Rumah IVAA. Sesi diskusi pertama, yang berlangsung dari pukul 13.00-15.30, fokus pada praktik seni pada masa sebelum hingga transisi reformasi dengan moderator Alia Swastika. Muhamad “Ucup” Yusuf, Gunawan Maryanto, Aji Wartono dan Yustina Neni adalah pembicara dalam sesi pertama ini. Sesi kedua lebih membicarakan praktik seni setelah 1998 dengan moderator Brigitta Isabella dari Kunci Cultural Studies. Sesi ini juga menghadirkan 4 pembicara yaitu Fitri DK, Wok The Rock, Heni Matalalang dan Linda Mayasari. Peserta yang hadir juga beragam, dari yang sepantaran usia dengan pembicara di sesi pertama, hingga generasi sesi kedua yang fokus berkarir pada periode tahun 2000an. Diskusi ini diharapkan menjadi jembatan untuk mengatasi kekhawatiran atas gap generasi.

Setelah uraian singkat dari FX Harsono tentang profil KSI, Alia Swastika membuka sesi pertama dimulai dengan mmepersilakan menceritakan kisahnya bersama ASRI, sikapnya dalam menghadapi kerusuhan tahun 1998 hingga terbentuknya Taring Padi generasi pertama. “Ternyata di ruangan tersebut, masih ada teman-teman yang muncul dan kami membuat sebuah organisasi kesenian dan kebudayaan dengan modal buku-buku putih milik kami. Saat itu diberi nama Komite Pemuda Rakyat Perjuangan atau KPRP”, cerita Ucup tentang awal terbentuknya organisasi yang kemudian disebut Taring Padi.

Pembicara kedua yaitu Gunawan Maryanto dari Teater Garasi, yang aktif berpraktik di ranah seni pertunjukan. Gunawan aktif di dunia berkesenian sejak 1994. Saat itu dia tidak begitu mengerti dan menyadari situasi politik yang bergejolak. Gunawan hanya teringat kenangan masa kecilnya, saat disuruh melambaikan tangan pada iringan rombongan presiden Soeharto. Perkenalannya dengan Teater Garasi menjadi permulaan dirinya menjadi lebih peka terhadap politik. Sebagai salah satu aktivitas di kampus, kegiatan Teater Garasi diawali dengan naskah-naskah adaptasi yang kemudian ditampilkan dalam Malam Apresiasi Seni dan Politik sejak tahun 1993. Meski melalui banyak regulasi dan proses pra-sensor terhadap naskah teater mereka, pertunjukan tersebut menjadi katarsis karena didominasi dialog yang tidak mungkin diizinkan berada di luar gedung pertunjukan.

Aji Wartono sebagai pembicara ketiga menceritakan problem represi yang tidak jauh berbeda. Pada masa sebelum reformasi, seluruh musisi wajib memberikan daftar lagu-lagu yang dinyanyikan, tema acara, serta panitia yang bertanggung jawab terhadap kegiatan tersebut. Setiap acara musik selalu dijaga satuan pengamanan. Beberapa teman musisi yang dianggap melanggar, bisa tiba-tiba digiring ke kantor polisi setempat.

Pembicara keempat yaitu Yustina Neni, yang aktif sebagai manajer dan produsen acara seni sejak 1990 dan dikenal sebagai pemilik Kedai Kebun Forum (KKF). Neni bercerita bahwa perencanaan kegiatan kesenian sebelum reformasi tidak selalu wajib mengurus perizinan kepada pihak pemerintah secara formal. Lewat publikasi acara, pihak kepolisian pasti sudah mengetahui pelaksanaan acara tersebut dengan sendirinya. Neni juga menceritakan pengalaman mendapat ancaman misterius via telepon sebelum pembukaan sebuah pameran di KKF.

Sesi ini ditutup dengan tanya jawab. Satu yang menarik, ketika salah seorang peserta diskusi menceritakan pengalamannya menerima kartu pos hasil fotokopi karya Taring Padi saat terjadi konflik horizontal di Sulawesi. Akunya, banyak siswa sekolah menengah di lokasi konflik merasa memiliki harapan baru dari menerima gambar tersebut. Tanggapan berbeda muncul dari Nindityo Adipurnomo, yang juga merupakan seniman pada masa transisi reformasi. Menurutnya seniman tidak melulu merespon tragedi 1998 secara politik. Ada kecenderungan beberapa seniman yang memanfaatkan isu ini sebagai ajang mencari sensasi dan meningkatkan popularitas. Nindityo menekankan bahwa memaknai reformasi seharusnya lebih dalam dari sekedar bumbu-bumbu, tetapi bagaimana fenomena makro ini direfleksikan dalam praktik yang paling mikro.

Tanpa jeda yang terlalu lama, sesi kedua mulai dibuka oleh Brigitta Isabella. Fitri DK menjadi pembicara pertama dalam sesi kedua ini. Fitri menceritakan pengalamannya bergabung dalam organisasi kesenian Sanggar Caping hingga Taring Padi. Meski berkarir pada masa pasca reformasi, Fitri dan rekan-rekannya masih mengalami perlakuan traumatis dari organisasi masyarakat saat pameran Lady Fast 2016 di Survive Garage, Yogyakarta. Mereka disebut melakukan kegiatan asusila dan berbagai kata-kata merendahkan lainnya. Namun pada masa itu, pihak aparat juga tidak memberikan solusi selain mengunci diri di tempat pameran tersebut tanpa melindungi mereka dari oknum-oknum yang mengancam.

Selanjutnya, Wok The Rock membagi perspektif musik setelah reformasi. Wok adalah seniman instalasi dan video, namun dalam diskusi ini lebih fokus membahas kancah musik pada masa tersebut. Di masa awal pasca reformasi, musisi mengalami titik jenuh dari pertunjukan musik yang harus seremonial, akses untuk sampai ke dapur rekaman harus mahal serta banyak lirik yang penuh restriksi. Akhirnya muncul semangat independen untuk membuat pertunjukan kecil seadanya, rekaman dan penggandaan dengan jumlah dan kualitas terbatas, serta distribusi berbasis komunitas.

Kemudian, Heni Matalalang menceritakan perkembangan film pasca reformasi, khususnya film dokumenter. Diakuinya, perkenalannya dengan film cukup traumatis. Saat kelas 3 SD, Heni diwajibkan pemerintah untuk pergi ke bioskop dan menonton film propaganda militer. Heni yang aktif di masa-masa awal berdirinya Festival Film Dokumenter (FFD), menyadari peran film khususnya dokumenter identik  dengan propaganda. Kemudian Heni mencetuskan kegiatan School Docs dengan menontonkan film-film dokumenter ke sekolah-sekolah. Upaya ini dilakukan dengan misi memperkenalkan ulang bahwa dokumenter tidak melulu soal propaganda seperti yang dilakukan oleh Orde Baru. Misi lain yang dibawa adalah menstimulasi lahirnya dokumentaris Indonesia di masa mendatang.

Linda Mayasari menjadi pembicara penutup sesi kedua. Pengalamannya di bidang seni pertunjukan diperoleh dengan pernah bekerja di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), hingga terlibat sebagai peneliti dan kurator Indonesian Dance Festival (IDF). Memori Linda tentang 1998 tidak terlalu jelas karena saat itu masih duduk di bangku SMP, Linda hanya ingat bahwa teman-temannya yang beretnis Tionghoa diamankan oleh aparat saat pecah kerusuhan. Selebihnya Linda justru tidak terlalu menandai reformasi sebagai momentum praktik berkeseniannya secara pribadi.

Sesi ini juga ditutup dengan tanya jawab. Brigita sebagai moderator lebih memprioritaskan respon dari pelaku seni yang segenerasi dengan pembicara-pembicara di sesi kedua. Respon yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan reflektif seputar sejauh apa reformasi benar-benar menjadi tonggak titik balik praktik kesenian yang lebih ekspresif. Dan sejauh apa momentum reformasi dimaknai di seluruh wilayah Indonesia, terutama hingga pelosok daerah Indonesia bagian timur.

Pada akhirnya, reformasi masih menjadi topik yang begitu menarik untuk terus direfleksikan dan dikontekstualisasi. Terlebih memasuki Mei 2018 yang bertepatan dengan 20 tahun reformasi. Begitu banyak acara diskusi mengambil tema serupa, baik dengan irisan politik, sosial, agama, hingga termasuk seni. KSI melihat momentum ini juga sekaligus sebagai ajang sosialisasi peran-peran strategisnya dalam medan kesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.