Category Archives: E-newsletter

Seni dan Advokasi: Seniman Belajar Undang-Undang

Pada bulan Juli lalu, Joned Suryatmoko membuka forum diskusi terbatas untuk 12 orang di Umar Kayam, membicarakan undang-undang dengan materi UU no 39 thn. 1999 mengenai HAM, UU no. 11 thn. 2005 mengenai hak ekonomi, sosial, dan budaya, dan UU no. 12 thn. 2005 mengenai hak Sipil dan Politik. Tujuan awalnya adalah untuk membekali serta membuka kembali pemahaman seniman mengenai undang-undang mengingat represi yang terjadi belakangan, baik yang dilakukan ormas maupun polisi. Dalam menghadapi represi tersebut, pembelaan kelompok seniman melulu dengan argumen soal kebebasan berekspresi, tanpa bisa menindaklanjuti menjadi upaya advokasi. Selain itu, metode, alur dan bahan pembelajaran juga dievaluasi oleh forum. Forum ini dihadiri oleh para pekerja seni budaya untuk membagi pengalamannya berhadapan dengan hukum dan potensi represi, juga Ikhwan Sapta Nugraha dari LBH Yogya yang bercerita sekaligus memberi komentar soal sistematika kelas belajar hukum bagi seniman. Ikhwan membenarkan metode kelas belajar yang dimulai dari pembacaan HAM, studi kasus serta pembacaan UU terkait.

IMG-20160826-WA0001

Seniman belajar hukum memang bukan pertama kali, namun upaya untuk terus melakukan kontekstualisasi itu selalu perlu. Diskusi yang dilakukan di hari Jumat, 29 Juli 2016 ini memang ditujukan untuk menajamkan pemahaman bersama soal keberadaan hukum, aparat serta upaya aliansi antar elemennya, agar kita terbuka dengan model-model advokasi yang terkait dengan aktivitas seni budaya.  

 

 

Ruang Publik: Antara Kompetisi dan Interaksi

Oleh: Lisis

Jumat, 5 Agustus 2016, RumahIVAA bekerja sama dengan komunitas Malioboro yang tergabung dalam COMA, menggelar diskusi soal Apeman dan Seni Ruang Publik. Apeman merupakan festival yang diinisiasi oleh COMA dan telah dihelat hingga ke tujuh kalinya. Acara ini berlangsung di sepanjang trotoar Malioboro dan beberapa titik di kota di sepanjang bulan Juni 2016.

Sementara diskusi yang berlangsung di RumahIVAA dimaksudkan untuk menjadi ruang temu dan refleksi antar pegiat budaya dan ruang publik. Imam Rastanegara, inisiator dari festival ini menjadi pembicara pertama yang berbagi kisah soal sejarah Apeman, dari Apeman 1 hingga sekarang. Tak lupa ia juga menceritakan semangat Apeman, yang dimulai dari lingkar yang sangat kecil hingga menjadi acara yang banyak didukung oleh banyak individu serta komunitas tanpa bantuan dana dari pemerintah. Pembicara kedua ialah Wiwiek Pungki, salah seorang seniman yang terlibat dalam perhelatan Apeman dan bekerja dengan bahan bekas.

13891885_1229101317123319_4283639222041687937_n

13902618_1229101440456640_7990778552287353867_n

Kemudian pembicara ketiga ialah Edial Rusli, seorang dosen Fotografi ISI yang sedang berkutat dengan soal reproduksi ingatan di Malioboro, sebagai bagian dari disertasinya. Selain itu, pengalaman hidupnya yang sangat dekat dengan Malioboro membuat kisahnya soal Malioboro menjadi lebih hidup. Pada kesempatan itu, ia menyayangkan arah perubahan yang terjadi di Malioboro. Malioboro seharusnya bisa dikembangan menjadi area wisata sejarah yang edukatif, tidak hanya wisata belanja. Baginya tidak perlu upaya yang terlampau sulit untuk mengubah hal tersebut. Karena di sepanjang Malioboro tersebut terdapat setidaknya 12 cagar budaya yang seharusnya dijadikan pengetahuan yang bisa ditransformasikan dari generasi ke generasi.

13921100_1229101447123306_5205360694826090778_n

13873005_1229101450456639_5248862732808739534_n

Obrolan tersebut kemudian ditanggapi oleh Elanto Wijoyono, seorang pemerhati isu ruang publik yang aktif menyuarakan pendapatnya seputar pembangunan kota yang lebih ramah modal ini. Isu yang berhasil dieksplorasi dalam diskusi tersebut tidak jauh dari soal fungsi dan hakikat Malioboro sebagai ruang publik. Bagaimana pergeseran fungsi-fungsi tersebut menurut kita, sebagai warga, baik sebagai warga kota dan warga budaya. “Idealnya, ruang publik harus dimaksimalkan menjadi ruang interaksi, bukan ruang kompetisi.” Ujar Elanto Wijoyono di bagian akhir diskusi.

Festival Kathok Abang: peringatan 1 tahun perjuangan warga Pantai Watu Kodok

 

jagalah lingkungan

Festival Kathok Abang merupakan acara yang dihelat warga di sekitar area pantai Watu Kodok, Kelor Kidul, Kecamatan Tanjung Sari, Wonosari pada 25 Mei 2016. Acara ini dihelat atas dasar inisiatif warga yang kemudian bekerjasama dengan beberapa komunitas, baik yang berada di kabupaten maupun kota. Pada 25 Mei 2016 tersebut, warga memperingati satu tahun perjuangannya dalam mempertahankan lahan hidup di sekitar Pantai Watu Kodok, yang terancam rusak oleh rencana pembangunan area wisata berskala besar. Tidak hanya kerusakan alam yang dikhawatirkan oleh warga, hubungan dan interaksi antara manusia pun juga dikhawatirkan akan bergeser, dari interaksi sosial yang lebih organik, menjadi interaksi yang lebih berorientasi sempit pada bisnis.

13244727_10153121809449229_2434386999470759691_n

13237660_10153121808814229_501043637309589490_n

Upacara bendera menjadi puncak dari festival ini, yang kemudian dilanjutkan dengan orasi-orasi kebudayaan. Dalam upacara bendera ini, semua warga yang terlibat mengenakan seragam merah putih, seragam anak sekolah dasar. Di sini warga memainkan hinaan yang pernah ditujukan pada mereka, yang sempat ditujukan oleh salah seorang dari pihak investor, yang  meremehkan usaha dari warga untuk bertahan di lahan yang mereka jaga dan hidupi.

investor rakus

Bagi pihak investor, warga yang sebagian besar merupakan lulusan SD, hanya ber-kathok abang, tidak akan berhasil memenangkan lahannya. Hinaan tersebut terus tersimpan di benak para warga, hingga setahun kemudian pada bulan Mei 2016, warga kemudian menghelat Festival Kathok Abang, yang secara khusus ditujukan secara khusus untuk menertawai hinaan yang sempat ditujukan pada mereka.

performance art

Dari Kritikus sampai Kolektor: Menyoal peran yang berkelindan dalam wacana seni rupa thn. 1960 – sekarang

ilustrasi oleh Hendra Blankon
ilustrasi : Hendra ‘Blankon’ Priyadhani

Oleh: Tiatira

Tulisan ini berangkat dengan mengutip paragraf pertama tulisan Sanento Yuliman pada Koran Pikiran Rakyat Bandung bulan Juli, 1990, berjudul Ke Mana Seni Lukis Kita? Boom Seni Lukis: Kemelut, demikian:

Boom seni lukis yang ramai dibicarakan orang itu bersangkut-paut dengan berbagai pihak atau unsur yang sedikit atau banyak, langsung atau tidak, berperan di dalamnya – mempengaruhi dan dipengaruhi olehnya. Kita telah menyebutkan beberapa diantaranya: pelukis, galeri, sponsor, dan ‘pembutuh’ (yaitu pihak yang membutuhkan atau timbul kebutuhannya akan) lukisan, baik orang maupun badan, kolektor maupun bukan. Tentu masih ada pihak atau unsur lain

Di situ dikatakan bahwa peran dalam kesenian bukan hanya seniman. Kata peran sendiri menunjuk pada fungsi khas individu dalam dunia seni rupa, yang bisa dilihat dari kesamaan praktik dan lahan atau bidangnya. Dan setiap peran saling mempengaruhi secara langsung ataupun tidak langsung. Tetapi mengingat hari ini kita mengenal banyak sekali peran baik dari Diksirupa (seperti kolekdol, kolektor, kritikus, kurator) atau pun dari artikel seni rupa (seperti art dealer, art broker), sebenarnya peran apa saja yang fungsinya terlihat jelas pada medan seni rupa Indonesia? Dari sini kita akan mencoba melihat persepsi terhadap peran dengan menelusuri jejak kemunculannya melalui kondisi yang melatari serta pengaruhnya pada medan seni rupa melalui keberlangsungan fungsi dari kumpulan arsip IVAA tahun 1960 hingga hari ini.

Di tahun 1960-an, segala bentuk penulisan seni rupa seperti esai, berita, atau pun kritik dikenal dengan sebutan jurnalisme seni rupa, contohnya tulisan Oesman Effendi ataupun Sanento Yuliman mengenai seni lukis Indonesia. Informasi berbentuk pembacaan praktik seni rupa melalui berbagai sudut pandang pada saat itu merupakan bentuk paling sering ditemukan sebelum tahun 1970-an kritik seni rupa mendominasi media massa. Yang oleh Sanento Yuliman pada tahun 1990-an dibahas sebagai satu keutuhan jurnalisme seni rupa, dimana tidak boleh hanya kritik seni saja yang disoroti, khususnya pada media massa, karena akan terjadi kepincangan informasi pada medan seni rupa berikutnya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa konteks penulisan sebagai sumber informasi kepada masyarakat saat itu lebih banyak mengeluarkan evaluasi kritis dari suatu objek.

Bicara mengenai kritik dari kritikus seni, sebutan yang juga melekat pada Sanento Yuliman sendiri  hadir sejak kritik terhadap lukisan mooi indie muncul di era 40-an. Walaupun sudah ada kritik pada tahun 1937 ketika Sudjojono mengkritisi pameran koleksi PA. Regnault, tapi kritik seni pertama kali dituliskan oleh Sudjojono berjudul Seni Loekis, Kesenian dan Seniman, pada Penerbit Indonesia Sekarang tahun 1946. Setelah itu kritik terhadap kesenian semakin marak di media massa, ditulis oleh Trisno Sumardjo, Basuki Resobowo, Oesman Effendi, dsb dengan benang merah corak kesenian Indonesia.

Sudjojono sendiri di tahun yang sama, secara khusus menulis bahwa ternyata persebaran seni menjadi lebih cepat dengan adanya kritikus dalam membahasakan seni kepada publik dan mampu mempengaruhi arah perkembangan seni. Ideologi bulat para kritikus saat itu bisa dirasakan melalui semangat yang melahirkan Seni Rupa Modern Indonesia, sehingga posisi kritikus dalam hidup kesenian saat itu menjadi dipertimbangkan. Tapi kemudian muncul kekhawatiran bahwa arah kesenian Indonesia bisa jadi terbawa pada satu ideologi kritik yang paling kuat. Yang sejak awal pun Sudjojono sudah berpesan bahwa kritikus harus bersikap objektif, ia harus berdiri lepas dari golongan apapun[i].

Di era 60-an akhirnya muncul kritik terhadap kritikus yang tidak objektif. Pada saat itu, Sanento menyebut dengan istilah “kritik atas nama”, kritik yang muncul dari suatu pemahaman sempit mengenai sikap kritikus dan ideologi kritiknya pada surat kabar Sinar Harapan pada tahun 1969:

Lebih dari sebagai antjaman artistik dan moril, kritik-atas-nama kerapkali merupakan antjaman sosial dan fisik bagi seniman2 kita. Orang2 Indonesia mempunjai kehidupan spiritual jang sungguh sangat tinggi: mereka mudah sekali membabi-buta dalam spirit kebentjian jang memuntjak

Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa lingkungan seni saat itu belum terbiasa dengan kritik. Model kritik berupa sanjungan tanpa ada evaluasi merupakan bentuk permakluman lingkungan yang belum mempunyai budaya kritik, sehingga subjektivitas kritikus saat itu justru memunculkan kondisi di mana kritik melahirkan kritik baru kepada dirinya sendiri. Salah satu contohnya adalah kritik Kusnadi terhadap tulisan Mara Karma mengenai pameran karya-karya Nashar, dengan menyinggung tentang pedoman penulisan seni rupa, mempertanyakan lalu menjawabnya dengan dugaan-dugaan sendiri tentang pentingnya memaparkan realita yang berdasarkan pada teknis kerja seni, dan bukan hanya sanjungan belaka[ii]. Perbincangan mengenai acuan kritik seni pun bergulir di era 70-an hingga awal 80-an yang dituliskan oleh Sudarmaji, Kusnadi, Dan Suwaryono. Di tahun 1983 untuk pertama kalinya diadakan diskusi mengenai penulisan seni rupa yang secara umum memberikan gambaran besar mengenai perkembangan dan posisi penulisan seni rupa saat itu dari respon seniman serta kajian sejarah seni rupa Indonesia. Pedoman kritik seni rupa pada tahun 1997 dibukukan dalam Beberapa Pandangan Kritik Seni Rupa berisi tentang empat azas kritik yang garis besarnya memaparkan pokok kritik seni rupa sebagai apresiasi kritis berupa interpretasi yang mampu menggambarkan realitas sebuah karya berdasarkan kriteria yang digunakan kritikus dalam menganalisa, di mana harus ada keterbukaan mengenai pengetahuan dan informasi yang dimiliki dan dibagikan sehingga evaluasi mengenai seni rupa yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan sebagai nilai mutu sebuah karya.

Namun sepertinya nilai yang diberikan oleh sebuah kritik seni pada era 80-90-an kalah kuat dengan kehadiran kolektor. Memang pengaruhnya bukan pada idealisme seni rupa tapi lebih pada tingkat produksi seni, khususnya seni lukis. Bung Karno adalah kolektor pertama yang mengoleksi lukisan pada tahun 1942 di masa pengasingan dan yang pertama kali memperkenalkan budaya mengoleksi lukisan pada publik melalui “Pameran Lukisan Koleksi Enam Kolektor Djakarta” tahun 1952 . Pada saat itu pembelian karya adalah bentuk apresiasi terhadap teknik ataupun gagasan seorang seniman. Beda halnya dengan kondisi setelah tahun 1990-an di mana krisis menyebabkan harga rupiah turun. Seperti aji mumpung untuk kolektor manca negara, mereka berlomba-lomba berburu lukisan Indonesia baik sebagai gaya hidup atau pun investasi. Selain itu kemunculan kolektor mancanegara juga disebabkan oleh banyaknya balai lelang internasional beroperasi di Indonesia pada tahun 1993 dan memberikan wacana internasional mengenai seni lukis Indonesia. Di tahun 1994,  secara khusus lelang lukisan mengenai dan dari Indonesia diadakan di Singapura. Hal ini menjadikan seni lukis Indonesia sebagai primadona yang mendominasi balai lelang Asia. Sanento Yuliman dalam tulisan boom seni lukisnya bukan hanya mengkritik tendensi komersial sebuah fenomena boom seni lukis tapi juga memperlihatkan bagaimana wajah medan seni saat itu[iii], di mana kolektor berada di jalur utama dan menjadi barometer baru setelah kritikus.

Hal tersebut dibicarakan pula pada diskusi Forum Seni Rupa mengenai Lukisan Biennale pada tahun 1989 yang mengkritisi penilaian sebuah karya pada era 80-an dengan menyebutkan tiga poin penilaian sebuah karya yaitu dilihat dari hitungan nominal atau harga jual, tingkat popularitas seniman, dan nama-nama kolektor yang pernah mengoleksi karya-karya seniman tersebut. Jika dilihat dari runutan sebab-akibat, sebenarnya tiga poin tersebut seluruhnya terikat pada poin terakhir. Bahwa popularitas seniman sesungguhnya bergantung pada nilai jual karya yang terbeli oleh kolektor. Di tahun 2000-an, keinginan untuk mempublikasikan dan memamerkan koleksinya membuat banyak kolektor mencetak daftar koleksi menjadi buku atau membuka ruang-ruang seperti museum pribadi atau rumah seni atas koleksinya. Sehingga pada saat itu kolektor bukan hanya menentukan nilai sebuah karya tetapi juga berkontribusi terhadap wacana seni rupa Indonesia. Dari situ muncul harapan ideal mengenai figur kolektor di tengah era industri kesenian, yang dipaparkan oleh Rizki A. Zaelani pada majalah Visual Art edisi Januari 2008. Dalam kerangka seni rupa, kolektor adalah individu yang memiliki pengetahuan seni rupa dan naluri estetik dalam aktivitas mengoleksi dan menyadari historiografi seniman sehingga pada suatu masa, harapannya,  koleksinya memberi kontribusi signifikan pada dunia seni rupa.

Kemudian, salah satu peran yang kehadirannya pada tahun 90-an layak diperhitungkan ialah kurator.  Pada awal tahun 90-an memang kurator cenderung diposisikan sebagai alat pembuka peluang pasar oleh kepentingan komersial galeri. Kehadirannya sebagai mediator kreasi-apresiasi pada galeri antara seniman dengan kolektor tidak jauh berbeda dengan kehadiran art dealer sebagai mediator jual beli pada bursa seni. Sehingga pada saat itu persepsi seniman terhadap kurator memang seperti melihat seorang event organizer. Sekitar tahun 2005 beberapa kurator seperti Kuss Indarto, Jim Supangkat, dan Enin Supriyanto berusaha meluruskan peranan kurator dalam medan seni. Pada Harian Umum Kedaulatan Rakyat tahun 2005 Kuss Indarto memaparkan sistem kerja kurator menjadi dua tipe. Yang pertama ialah dengan mengolah gagasan, berangkat dari riset mengenai suatu soal untuk dijadikan pedoman dalam memilih karya atau seniman sesuai konteks gagasan. Yang kedua ialah, dengan cara membaca kembali dan membongkar pemaknaan kumpulan artefak karya yang sudah ada. Dan di tahun yang sama lokakarya Multi-Faceted Curator membuka wawasan kurator mengenai peran dan identitas kurator dari refleksi kurator-kurator Internasional. Dari inisiasi-inisiasi yang sudah terlaksana, kemapanan peran kurator semakin terlihat.

Pada tahun-tahun berikutnya gagasan kurator selalu hadir di hampir setiap pameran, baik pada agenda berskala kecil atau pun agenda tahunan. Maraknya pameran yang diselenggarakan dengan minimnya jumlah kurator seakan menguras kemampuan kognitif kurator untuk mencerap permasalahan di sekitarnya, baik mengenai seniman ataupun publik seni. Sehingga semakin sedikit wacana baru yang diproduksi oleh kurator kala itu. Hal tersebut dikritisi oleh Agung Kurniawan di tahun 2008 pada koran Tempo. Dalam tulisannya ia memposisikan diri sebagai praktisi seni rupa yang melihat kondisi medan seni rupa. Menurutnya tidak ada wacana seni rupa baru di tengah maraknya agenda besar seni rupa saat itu. Seakan skala besar pada agenda-agenda kesenian tersebut hanya berlaku pada skala ruang, bukan ideologinya. Minimnya kurator yang membawa gagasan baru mengakibatkan seni rupa Indonesia hanya berhasil menembus art fair ketika orientasinya adalah go internasional. Tuntutan bahwa kurator harus memberikan wacana baru memperlihatkan bahwa fungsi dan kualitas kurator sudah diakui saat itu. Hanya saja distribusi wacana saat itu memang berporos pada ruang-ruang independen dan kolektif seniman. Kerja kolektif memang menjadi satu bentuk baru yang hadir di tahun 2000 ke atas seperti Jogja Biennale: Hacking Conflict. Sehingga kurator berada di posisi sebagai kolaborator proses penciptaan dan pengembangan gagasan dilakukan kolektif seniman bersama-sama menginisiasi satu proyek atau bahkan membangun satu sistem seni.

Lahan kurator dalam penulisan seni rupa sendiri memiliki ruang yang berbeda dengan jurnalis atau pun kritikus seni. Kendati semuanya merupakan mediator seniman dan masyarakat, namun posisi kurator tidak bisa disamakan dengan posisi penulis seni rupa lainnya. Jika dikembalikan pada pembahasan awal bahwa jurnalisme seni rupa terdominasi oleh kritik seni di tahun 1980-an, hari ini kita tidak bisa menudingkan tuduhan serupa pada kurator mengenai tenggelamnya kritikus seni hari ini karena kuratorial tidak memakan lahan kritikus sebagai apresiator kritis dalam media massa dan tidak juga menggantikan posisi kritikus dalam bagan jurnalisme seni rupa sebagai sumber informasi kritis suatu objek atau agenda seni.

Sampai di situ pembacaan atas berbagai macam peran yang berkelindan dalam medan seni rupa hingga hari ini. Baik kritikus, kolektor, maupun kurator sama-sama menyokong struktur kesenian. Hanya saja belum ada rumusan yang tepat mengenai bagaimana peran-peran tersebut bergerak secara seimbang pada medan seni rupa.


[i] Sudjojono S. 1946.  Seni Lukis, Kesenian, dan Seniman. Yogyakarta: Indonesia Sekarang.
[ii] Kusnadi. 1971. Penilaian Seni untuk Menjandjung Memang “Quo Vadis”. 22 Desember.
[iii] Yuliman, Sanento. 1990. Medan Seni Lukis Kita: Permasalahan. Media Indonesia. 20 Januari.

IVAA berpartisipasi di dalam ASIA OPEN DATA HACKATHON

IMG-20160728-WA0017

Linimasa Acara:
30 Juli 2016
Technical Meeting & International Event. Klik ini untuk bergabung dalam keriuhan: http://bit.ly/RoadToAODH
Live streaming: http://bit.ly/2aqy2cH
14 Agustus 2016
Asia Open Data Hackathon

Lokasi:
Kudoplex 2
Jl. Radio Dalam Raya No. 9, Gedung Grand Lucky Lt. 2-3, DKI Jakarta

Asia Open Data Hackathon yang sebelumnya bernama Cross Country Hackathon merupakan kerjasama tiga negara dalam memanfaatkan open data untuk membuat aplikasi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang dipilih oleh masing-masing negara.

Indonesia sebagai salah satu negara yang terlibat memilih tema Seni dan budaya dalam Hackathon kali ini.

Open Data Asia Hackathon hadir sebagai sarana bagi para tech savy di Thailand, Taiwan, dan Indonesia dalam menjawab problem yang sama-sama sedang dihadapi ketiga negara tersebut melalui kompetisi pembuatan aplikasi web dan mobile. Hackathon ini merupakan hasil kerja sama antara Data Science Indonesia, Codepolitan dan Universitas Islam Indonesia dengan Industrial Development Bureau Taiwan dan Electronic Government Agency Thailand.

Indonesia membuat tantangan untuk menciptakan inovasi dalam menjawab masalah pelestarian kesenian dan kebudayaan (art & culture) dengan memanfaatkan open data.

Sementara Thailand akan memberi tantangan untuk memberi solusi atas isu yang berkaitan dengan agrikultur, dan Taiwan akan mengatasi masalah di bidang layanan publik (public service). Kompetisi akan diadakan tanggal 14 agustus di Jakarta (kudoplex 1)

Tantangan dari Indonesia
– Melindungi karya seni, keberagaman, dan kebebasan dalam berekspresi dalam konteks perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia
– Meningkatkan kualitas pengarsipan data art & culture di Indonesia yang berkaitan dengan seluruh aktivitas seni, pelaku seni, segala bentuk benda seni, dll.
– Mendukung dan meningkatkan ekosistem dan art space bagi pelaku seni di Indonesia

Siap menjadi juara di Asia?
Kami menyambut kerjasama para seniman, budayawan dan juga developer untuk membuat aplikasi juara di Asia yang dapat menjawab tantangan kami
> Ajukan Solusimu

Facebook Asia Open Data Hackathon
Twitter @cchackathon2016 Instagram @cchackathon2016

crosscountryhackathon.id

Kesempatan Magang di IVAA

14690881_1290500704316713_223858476972001973_n

IVAA membuka kesempatan magang bagi kawan-kawan mahasiswa dan umum yang ingin mendapatkan pengalaman terlibat dalam kerja-kerja pengarsipan seni rupa. Kawan-kawan yang tertarik dapat memilih bidang-bidang kerja di IVAA yaitu: (1). Pengelolaan Arsip dan Pustaka; (2). Kajian Arsip; (3). Pengelolaan Ruang; (4). Dokumentasi Peristiwa Seni. Program magang IVAA berlangsung minimal selama 1 (satu) bulan. Peserta magang akan mendapatkan fasilitas keanggotaan KawanIVAA dan menjadi bagian tim kerja IVAA selama periode berlangsung.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Persyaratan magang dan pertanyaan-pertanyaan mengenai program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org

Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global)

Bincang Sore Rumah IVAA, 13 Juni 2016

Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global)

Dalam seri Diskusik (Diskusi Asik) kali ini Roemansa Gilda bekerja sama dengan Rumah IVAA menyelenggarakan Bincang Sore dengan tema Pasar Seni (Redefinisi Go International). Diundang dalam diskusi ini dua pembicara yaitu Rully Sabhara (musikus, praktisi musik, berkarya di Zoo, Senyawa, Raung Jagat) dan Ismail Basbeth (sutradara, praktisi film). Beberapa karyanya Another Trip to The Moon, dan Mencari Hilal yang diajak untuk menggali wacana ‘go international’ melalui cara pandang dan pengalaman mereka. Rully dan Ismail berbicara bahwa tidak hanya keberuntungan, namun juga kerja keras, sikap profesional, pembangunan, pengelolaan jaringan, hingga pengembangan potensi merupakan beberapa hal penting yang membuat karya mereka dikenal di dunia internasional. Selain itu diundang pula Irham Anshari (Penggemar Film dan Peneliti SOAP: Study On Art Practice) sebagai penanggap yang berbagi hasil penelitiannya tentang fenomena ‘go international’.

Ketika menempatkan perbincangan ini dalam konteks hubungan geopolitik, Irham menyampaikan pandangan kritisnya bahwa penyelenggaraan program internasional tidak pernah lepas dari politik budaya suatu negara, baik berupa motif promosi negara serta dalam rangka menggeser pusat kebudayaan. Meski di sisi lain, kemandirian para aktor-aktor budaya, seperti para pembicara di atas tetap perlu kita apresiasi. Karena pada akhirnya, menjadi bagian dari dunia internasional bukanlah satu-satunya tujuan. Tujuan utama tetap terletak pada proses, hasil berkualitas serta strategi di tengah jalan dalam menghidupi idealisme dan kreatifitas di tengah dunia yang sudah sedemikian pragmatis.

Foto dokumentasi Bincang Sore Rumah IVAA: Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global) dapat dilihat melalui tautan ini.

Menelusuri Jejak Pembelaan Praktik Seni Rupa di tengah Krisis Demokrasi

Menelusuri Jejak Pembelaan Praktik Seni Rupa di tengah Krisis Demokrasi
Bagian 1: Otonomi Seni, Milisi, dan Ilusi Harmoni Kehidupan
oleh : Pitra Hutomo

Catatan ini ditulis menyusul serangan milisi sipil reaksioner ke Survive!garage Sabtu, 2 April 2016 dan IAM Space Senin, 30 Mei 2016. Dalam sistem basis data IVAA, keduanya adalah pelaku kolektif yang mengelola ruang seni untuk menampilkan karya melalui kegiatan seni misalnya pameran. Sistem basis data IVAA menerjemahkan variabel-variabel seni rupa Indonesia terutama untuk mendukung penulisan sejarahnya sendiri. Sejarah sebagai ilmu diakronis mengutamakan pencatatan peristiwa secara runtut agar bisa menganalisis dampak perubahan pada variabel tertentu.

Penyerangan ruang seni bukan hanya kondisi aktual yang mengagetkan bagi para pelakunya. Dua kejadian di Yogyakarta yang hanya berselang sebulan ini menunjukkan terjadinya krisis di ruang-ruang demokrasi di Indonesia. Cara pandang meluas ini terungkap di media jejaring sosial dan melalui pernyataan solidaritas. Konon milisi berbaju ormas Islam menyerang acara LadyFast di Survive!garage karena “isu LGBT”. IAM Space harus menghadapi protes warga karena “menampilkan pornografi”. Kejadian-kejadian lain yang marak sepanjang April s.d Juni 2016 adalah kekerasan yang dilakukan milisi, polisi, dan TNI dengan pembenaran antara lain “mencegah penyebaran paham komunis” dengan sweeping buku atau membubarkan acara nonton bareng dan diskusi.

Kejadian Survive!garage dan IAM Space belum diperjuangkan di ranah hukum negara. Kedua kasus ini baru tercatat oleh SAFENET bersama 48 kasus lain di seluruh Indonesia sejak 1 Juli 2015 hingga 30 Mei 2016. Pelaporan mandiri melalui Formulir Pelarangan ini masih memungkinkan adanya tambahan dari total sementara 14 kejadian di wilayah DIY. Kejadian yang dilaporkan berupa tindak kekerasan gabungan dari pelarangan, intimidasi, pembredelan, pembubaran paksa, hingga pengrusakan. Ironisnya, seluruh kejadian berlangsung di ruang-ruang yang mudah diakses siapa saja, yakni perguruan tinggi, ruang diskusi, penerbit buku, dan ruang kegiatan kreatif. Jumlah tersebut menunjukkan sekurang-kurangnya satu kasus terjadi tiap bulan di DIY. Namun, ketika warga negara tidak punya tempat mengadu dan merasa negara tidak bisa melindunginya, ingatan tentang kekerasan hanya tersimpan sebagai pengalaman buruk segelintir orang.

Tribun Jogja
Jepretan dari http://jogja.tribunnews.com/2016/05/10/puluhan-ormas-datangi-polresta-yogyakarta-minta-polisi-tegas-berantas-komunis (diakses 22 Juni 2016)

Penyensoran oleh Sipil dan Identifikasi Masalah oleh Kalangan Seni Rupa
Agar bisa melihat persoalan dengan jernih saya mengumpulkan pertanyaan untuk membatasi ruang lingkup membaca kronik seni rupa di Yogyakarta. Pembatasan perlu dilakukan untuk melacak praktik seni rupa terdahulu yang memiliki kemiripan variabel dengan penyerangan ke Survive!garage dan IAM Space. Maka kejadian yang menjadi rujukan perlu memiliki variabel antara lain kegiatan seni rupa, ruang seni, pelaku seni rupa, dan pelaku intimidasi beridentitas sipil. Acuan waktu saya batasi pasca 1998 sebagai penanda era baru yang mendukung kebebasan berekspresi.

Kemiripan variabel ditemukan terutama pada intimidasi dan gugatan hukum dari Front Pembela Islam (FPI) terkait karya “Pinkswing Park” (2005). FPI menggugat ketua tim kurator Jim Supangkat, kedua seniman yang berpameran: Agus Suwage dan Davy Linggar, dan dua model dalam karya tersebut: Anjasmara dan Isabel Jahja. Gugatan diajukan Oktober 2005 atas dasar tuduhan pornografi dan penistaan agama. FPI datang ke lokasi pameran di Museum Bank Indonesia, Jakarta sebagai massa dari kelompok tertentu (Media Indonesia, 28 September 2005) yang menimbulkan kontroversi, sehingga CP Biennale telah menjadi ajang sengketa konflik keagamaan (Harian Seputar Indonesia, 28 September 2005). Laporan dua media massa tersebut terbit setelah Konferensi Pers dalam rangka menutup pameran CP Biennale 2005 Urban/Culture pada 27 September 2005, yakni delapan hari sebelum jadwal resmi penutupan.

biennale
Jepretan dari http://biennale.cp-foundation.org/2005/featured_agus_davy.html (diakses 23 Juni, 2016)

Pernyataan menutup CP Biennale 2005 Urban/Culture yang disampaikan Jim Supangkat ini memicu protes kalangan seni rupa. Sekelompok seniman peserta yang mempresentasikan proyek “Urban Cartography v.01: Bandung Creative Communities” menyatakan menarik diri dari keikutsertaan sebagai bentuk simpati terhadap penutupan karya Agus Suwage dan Davy Linggar oleh panitia CP Biennale 2005. Pernyataan sikap lain disampaikan oleh Forum Peduli Seni dan Budaya dengan lima poin yang menolak monopoli tafsir atas seni melalui fatwa haram/halal dan acuan kontekstualnya dapat dipertanggungjawabkan melalui dialog. Sedangkan dalam wawancara dengan Perspektif Baru 10 November 2005, Agus Suwage menyebutkan adanya distorsi informasi yang sampai ke publik melalui infotainment yang menghalangi penyampaian tema dan konsep utuh karya. Agus juga menyesalkan tidak berlangsungnya dialog sebelum pameran ditutup, baik antara seniman dengan FPI maupun seniman dengan penyelenggara.

Polemik ideologi dan tafsir seni muncul di media massa seiring gerakan sosial menolak Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (2006 – 2008). Terbit Manifes Seni Rupa pada 15 Februari 2006 di Jakarta atas prakarsa beberapa kurator dan penulis seni rupa. Manifes tersebut mengangkat perihal wilayah otonomi seni rupa karena ia adalah bidang kerja dan keahlian yang memiliki aturannya sendiri. Manifes juga menyatakan bahwa seni rupa memiliki pranata pendukung yang membuatnya mampu mengatur dan mengelola kehidupannya sendiri.

Kondisi yang diungkapkan dalam Manifes Seni Rupa di atas menjadi bukti dari kemapanan seni rupa dan keinginannya untuk mendobrak sempitnya tafsir atas praktik penciptaan. Para perumusnya seolah terkejut bahwa mereka harus berhadapan dengan orang-orang yang menolak dialog. Bukankah demokrasi harusnya meliputi perlindungan menyatakan dan mempertahankan pendapat antara pihak-pihak yang saling berbeda ideologi? Mampukah pranata pendukung seni rupa -yang telah menjadikannya mandiri- menerobos penilaian karya yang tidak ada sangkut pautnya dengan disiplin dan keahlian seni rupa?

Sensibilitas pelaku seni: metode berkarya dan hidup sebagai warga
Kabar tentang ricuh di Survive!garage menyebar dalam hitungan menit kemudian secara simultan masuk ke telepon genggam para pekerja seni di Yogyakarta. Tanggapan di media jejaring sosial yang mengekspresikan keterkejutan, kecemasan, kecurigaan, dukungan, harapan baik, dsb. tidak ada yang mencantumkan runtutan peristiwa. Maka media jejaring sosial hanya memenuhi fungsi scrapbook yang diedarkan untuk kalangan sendiri yakni kalangan seni (rupa).

wikipedia
Jepretan entri wikipedia bahasa Inggris tentang scrapbooking (pencarian via google, 18 Juni 2016)

Ekspresi di media jejaring sosial dan komunikasi simultan antar kalangan seni khususnya di Yogyakarta hanya menimbulkan gambaran abstrak tentang kejadian. Pekerja seni seolah bersahutan menabuh kentongan sebagai tanda bahaya tanpa tahu harus berjaga di mana. Maka tepat jika Bayu dan Fitri memilih untuk memetakan masalah sebelum kembali beroperasi sebagai Survive!garage. Keduanya lalu bergabung dengan Forum Solidaritas Yogyakarta Damai yang terbentuk beberapa jam setelah konferensi pers di Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, 4 April 2016.

keep the fire on
Diambil dari katalog pameran “Keep The Fire On!: Merayakan Keberagaman”, 2 Juni – 2 Juli 2016, Survive!garage

Genap dua bulan setelah serangan milisi, Survive!garage membuka kembali ruangnya dengan pameran dan rangkaian kegiatan bersama warga. Kegiatan-kegiatan ini dibawakan dengan riang melalui halaman Facebook mereka. Sambil menyusuri dokumentasi kegiatan, terbersit pertanyaan: Apakah kalangan seni masih membicarakan tindak kekerasan yang berlangsung di lingkungan terdekat mereka?

Di tengah derasnya arus informasi, siapapun dijadikan konsumen yang berjarak. Pemiskinan, pelecehan seksual dan ketimpangan jender, konflik tanah dan sumber daya alam, fasisme, pelanggaran HAM, dan skema-skema opresi-represi-supresi, dianggap bagian hidup sehari-hari yang kita percakapkan dengan sinis. Ironis! rakyat menertawakan kekonyolan negara, pejabat militer, politisi, karena merasa tidak bisa mengubah keadaan selain untuk bertahan hidup. Pekerja seni tak terkecuali. Kita yang terlatih bekerja dengan medium artistik pasti terdorong untuk mencurahkan kegelisahan melalui karya, menyelenggarakan peristiwa yang mengangkat permasalahan sosial, berdiskusi, hingga berkomentar di media jejaring sosial.

Namun setelah itu apa? Apakah seniman masih membayangkan perubahan bisa berlangsung dari karya-karya sublim yang semata-mata dijadikan sarana katarsis penikmatnya? Bagaimana seniman bisa meyakinkan diri mereka bahwa kontribusinya untuk manusia lain, untuk kehidupan, adalah hanya dengan berkarya dalam skema produksi-konsumsi? Apakah seniman dan pekerja seni memilih mengerjakan hal lain dan mencopot label profesinya agar bisa berkontribusi? Jika demikian, validkah pernyataan bahwa seni bukan hanya diberlangsungkan untuk kepentingan kalangan seni? Bisakah kita menyimpulkan bahwa seni telah melanggengkan ruang hampa yang tidak terakses oleh sebagian besar rakyat Indonesia? Dorongan mengintervensi dan menyiasati ruang-ruang hampa ini bisa jadi sudah berhasil mendatangkan sejumlah orang untuk berbagai helat besar seperti festival, kompetisi, atau biennale. Namun apakah pekerja seni benar-benar perlu mengambil tanggung jawab meluaskan praktik tanpa menjelajahi kedalamannya? Apakah riuh rendah seni pelibatan, seni publik, seni kerakyatan, dan lain-lain yang dikomodifikasi pelakunya telah meleburkan atau justru menajamkan dikotomi kerja seni dengan kerja sosial?

Seni dan Intoleransi

648db5c4-fe81-4926-9726-15da36dee29a

Ilustrasi: Terra Bajraghosa

Oleh: Lisistrata Lusandiana dan Tiatira Saputri

Pada bulan April lalu, acara bertajuk Lady Fast yang diinisiasi oleh Kolektif Betina serta digelar di Survive!garage berakhir pada pembubaran paksa oleh organisasi massa. Tidak lama kemudian, acara pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta untuk memperingati hari kebebasan pers 3 Mei 2016 di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) juga dibubarkan paksa oleh polisi bersama dengan segerombolan orang berpakaian ormas FKPPI. Sebelum rentetan peristiwa tersebut terjadi, di awal tahun 2016 pesantren Al-Fatah yang menjadi ruang belajar agama serta beraktivitas bagi para waria juga disegel oleh Front Jihad Indonesia (FJI). Dan baru-baru ini Selasa 31 Mei 2016, terjadi penyitaan lukisan yang sudah dipajang selama lebih dari sepekan di Galeri Independent Art-Space & Management (I AM), dengan tudingan mengandung isu LGBT. Tak hanya itu, mural yang dikerjakan secara kolaborasi oleh dua seniman yang terlibat dalam pameran ini juga dihapus.

Selain beberapa pembubaran di atas, jika kita lihat sedikit ke belakang, maka kita akan temui peristiwa penutupan CP Biennale 2005, terkait dengan karya instalasi Agus Suwage-Davy Linggar, Pinkswing Park yang dianggap mengandung pornografi. Lalu di tahun 2015 performance art yang seharusnya membuka pameran tunggal Petrus Agus Herjaka di Rumah Budaya Tembi ditiadakan oleh aparat keamanan untuk menghindari bentrokan yang mungkin terjadi dengan ormas karena konten hanya mengangkat satu figur sebuah agama, yaitu Yesus dengan jalan salibNya. Pertunjukan Monolog Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah, di IFI Bandung pada 23-24 Maret 2016 dibatalkan oleh FPI karena dianggap ‘berbau kiri’. Masih karena tudingan terkait isu ‘65, publik juga sempat ramai dengan berita pembubaran acara nonton bareng film besutan Joshua Oppenheimer, baik film Jagal maupun Senyap.

Terkait dengan peristiwa penutupan CP Biennale tahun 2005 dan hebohnya karya instalasi Pinkswing Park, St Sunardi mengulasnya dari berbagai sisi. Dalam esainya1, pembacaan peristiwa ini tidak dilepaskan dari pembacaan atas karya itu sendiri, serta keterlibatan media, terutama infotainment, yang menambah lapisan persoalan dalam peristiwa ini. Di esai ini kita akan temukan deskripsi karya beserta pembacaannya yang, secara sadar diakui, melibatkan subjektivitas. Dari pembacaan karya tersebut, kita bisa mendapatkan kehadiran beberapa lapisan wacana. Pembacaanpun kemudian dilanjutkan ke pembahasan peristiwa yang terjadi di sekitar kontroversi dan penutupan CP Biennale. Mulai dari ulasan yang melibatkan berbagai lapisan dalam realitas media, hubungan seni dan seks, hingga urgensi dan pembelajaran dari peristiwa semacam ini, yakni perlunya menciptakan keragaman wacana.

Barangkali cara baca demikian yang paling menyeluruh. Idealnya, dalam kepentingan penciptaan wacana dan pembelajaran bersama, tiap-tiap peristiwa dibahas dan dibongkar beserta kaitannya dengan karya ataupun peristiwa, serta elemen-elemen yang menjadi persoalan. Namun, mempertimbangkan banyaknya kejadian yang terjadi dalam waktu yang relatif singkat, serta banyaknya aktor terlibat serta motifnya, artikel ini hanya bisa kita tempatkan menjadi semacam pintu masuk untuk eksplorasi lanjutan ketika melihat persoalan dalam wilayah seni dan intoleransi.

Dengan asas kebebasan berekspresi, yang menjadi bagian dari Hak Asasi Manusia, kita bisa mengawali pembahasan atas berbagai peristiwa pembubaran dan represi yang terjadi, baik dalam ruang lingkup dunia seni maupun ruang-ruang demokrasi lainnya. Jika dilihat dari serangkalian peristiwa pembubaran di atas, maka kita bisa melihat beberapa isu yang menjadi sasaran, mulai dari isu ’65 dan kritik terhadap dominasi wacana sejarah Orde Baru, penggunaan istilah atau sebutan yang berbau ‘kiri,’ intoleransi antar agama, juga isu soal LGBT.

Mengingat maraknya aksi pembubaran ini, dari sesempit pembacaan kami, kami hanya bisa melihat bahwa musuh kita saat ini memang bukan Orde Baru, namun warisannya yang sangat laten dan masih hidup di alam bawah sadar sebagian masyarakat kita. Sehingga, yang patut kita waspadai saat ini tidak hanya aparat, baik militer ataupun polisi, namun juga sipil yang tidak jarang lebih militeristik, seperti yang kini kita temui dalam wujud aksi-aksi represi ormas.

Selebihnya, ketika kita harus menilik kembali alasan ataupun motivasi dari tiap pembubaran, maka kita masih harus menghadapi berbagai macam persimpangan, dari persoalan makro dan mikro. Mulai dari kebutuhan akan informasi yang membongkar ada-tidaknya konspirasi bisnis militer di tingkat elit, yang dalam beberapa hal membutuhkan ‘situasi kacau’ untuk membenarkan praktik atau programnya. Pengetahuan soal bagaimana ideologi-ideologi tertentu bekerja untuk melakukan monopoli tafsir, dan juga menemukan penjelasan atas hal-hal yang menopang kehadiran ormas-ormas tersebut di luar soal ideologi, seperti soal ekonomi dan politik. Tak bisa diabaikan pula kita harus bisa melihat dinamika kehidupan kita di tengah warga.

 

Merefleksikan Posisi Seni dalam Ruang Demokrasi

Dari serangkaian peristiwa pembubaran dan ancaman sensor, yang terjadi setelah era yang katanya reformasi, kita tidak bisa mengabaikan adanya pelajaran yang bisa kita petik. Jika hal itu kita tarik ke konteks yang lebih sempit, dalam membicarakan dinamika wacana seni dan arah perkembangan pengetahuan misalnya, kita bisa melihat satu persatu, wacana yang dihasilkan dari polemik yang menyertai peristiwa-peristiwa tersebut. Ketika menelusuri jejak-jejaknya, tiap ancaman represi di suatu jaman menuai reaksinya masing-masing.

Dari jejak polemik yang ditinggalkan oleh peristiwa Pinkswing Park, kita bisa memetik berbagai wacana yang saat itu diperdebatkan oleh para kritikus yang menulis di media massa, seperti Enin Supriyanto, Hendro Wiyanto dan Jim Supangkat. Polemiknya saat itu, secara langsung dipicu oleh Manifesto Seni Rupa yang dirumuskan oleh beberapa orang yang selama ini aktif di dunia seni rupa kontemporer, seperti Aminudin TH Siregar, Arief Ash Shiddiq, Hendro Wiyanto, Enin Supriyanto, Rifky Effendy.

Beberapa hal yang menjadi polemik diantaranya ialah perihal ideologi seni yang menjadi landasan atau spirit dari Manifesto Seni Rupa, yang menempatkan kesenian di posisi elit. Kritik ini secara lugas diajukan oleh Jim Supangkat melalui tulisannya di media massa2 yang mengatakan bahwa ideologi seni yang menjadi landasan dari Manifesto Seni Rupa itu justru patut diwaspadai karena mempertahankan posisi nabi dari seniman beserta privilege-nya. Argumentasi ini dibangun dengan menelusuri sejarah dan latar belakang pemikiran yang mendasari lahirnya ideologi seni untuk seni.

Sementara itu, di kubu lain, Enin Supriyanto juga menyahut, berbalas argumentasi di media massa, merespon opini yang dibangun oleh Jim Supangkat serta membangun argumentasinya seputar kebebasan berekspresi. Di antara riuh rendah perdebatan tersebut, ada yang kurang begitu dieksplorasi secara mendalam, yakni ulasan karyanya sendiri. Beruntung saat itu, esai St. Sunardi hadir dan tidak melepaskan polemik ini dari konteks dasarnya, yakni konteks kekaryaan, sehingga ulasannya mampu mencakup pandangan estetika yang tidak terlepas dari dinamika pengetahuan serta perkembangan agama dan seni yang berada tidak terpisah satu sama lain.

Ketika kini kita sudah berjarak dari polemik tersebut, serta ingin memetik pelajaran dan mengkontekstualisasikannya dengan hari ini, kita mendapat asupan wacana yang lumayan bisa dijadikan pegangan. Kita sekaligus mendapatkan pembanding ketika membicarakan potensi polemik yang terjadi hari ini, lantas menilai sejauh apa polemik yang dihasilkan pada hari ini mampu menghasilkan wacana yang memperkaya dinamika kesenian kita. Apa yang terjadi akhir-akhir ini memang menunjukkan kecenderungan yang berbeda, barangkali konteks peristiwa yang menjadi sasaran penyerangan juga berada di frekuensi yang tidak sama, meski sama-sama berada dalam wilayah aktivitas seni.

Barangkali memang kita akan segera bereaksi ketika kepentingan kita secara langsung terusik. Bagi para pegiat seni, serangkaian peristiwa pembubaran di atas merupakan tanda bahaya sekaligus ancaman bagi kebebasan berekspresi, yang menjadi ruang utama bagi kerja-kerja kesenian. Meski di sisi lain, ada atau tidaknya ancaman fisik, ancaman bagi dunia seni juga tetap hadir ketika membicarakan relasi modal. Dalam esainya St Sunardi menulis Kita hidup dalam masyarakat yang terlalu rumit untuk dibicarakan hanya oleh para politisi, terlalu halus untuk hanya dibicarakan oleh para intelektual, terlalu emosional hanya diatur oleh para penjaga moral, dan terlalu berharga untuk dikelola hanya oleh para kapitalis. Di sela-sela itulah kiranya para seniman bisa merebut tempatnya sebelum direbut habis oleh mereka.3

Secara umum kita bisa tempatkan fungsi seni dengan cara demikian. Ketika dilihat dari konteks yang lebih spesifik, di tengah maraknya aksi, reaksi dari serentetan peristiwa pelarangan, pembubaran dan represi ini, posisi seni, untuk kesekian kalinya, perlu kita negosiasikan lagi.

Dalam konteks yang lebih sempit, ketika membicarakan seni dan intoleransi, sekilas pandang, kita bisa melihat upaya solidaritas di kalangan pekerja seni budaya dalam YuK, 2006, sebagai reaksi atas munculnya Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Sementara bentuk solidaritas yang muncul akhir-akhir ini juga berupa penggalangan solidaritas melalui Forum Solidaritas untuk Yogya Damai. Dalam banyak hal, aksi massa sangat diperlukan, mengingat daya dan kekuatannya yang cukup efektif dalam menekan suatu garis politik tertentu. Di beberapa sisi, selalu terdapat keluhan dan pertanyaan seputar keterlibatan seniman dalam forum dan gerakan solidaritas untuk perubahan. Jawaban yang muncul cukup beragam. Di satu sisi kita tidak bisa mengabaikan keberadaan seniman yang memang tidak mau mengambil sikap kolektif untuk kerja-kerja bersama, namun di sisi lain, barangkali kita perlu bertanya soal metode dan strategi kita untuk bersiasat menghadapi segala terpaan, baik dari rezim intoleran maupun rezim lainnya yang selalu mengambil posisi dominan.

Barangkali kita harus bisa berbesar hati, bahwa di luar sana tentu banyak orang yang juga gelisah akan kondisi represif yang terjadi di sekitar kita akhir-akhir ini, namun tidak ingin terlihat heroik dalam mengupayakan perubahan. Banyak yang mungkin tergerak untuk turut serta dalam komunikasi untuk menyuarakan kondisi yang tidak baik-baik saja, serta terlanjur nyaman dengan medium komunikasi spesifik yang telah sekian lama digeluti.

Akhir kata, ketika membicarakan soal hak sebagai warga negara untuk mendapat jaminan atas kebebasan berkumpul dan berekspresi, kita bisa menabuh genderang bahaya, bahwa peristiwa penyerangan-penyerangan yang terjadi akhir-akhir ini patut menjadi peringatan bersama. Bagi yang masih berharap pada fungsi negara beserta aparatnya untuk memberikan jaminan ini, lantas kecewa, karena negara dianggap absen. Sementara kelompok lainnya, yang sudah tidak memiliki secuil harapan pun pada negara, akan berujar ‘buat apa kita berharap pada negara, yang sedari lahir sudah merepotkan.’

1 Esai ini pernah dimuat di majalah Basis dan di buku kumpulan esai Vodka dan Birahi Seorang Nabi, berjudul Pinkswing Park: Pohon Kemboja Berdaun Palma.
2 Polemik Seni Rupa: Nabi-isme, Ideologi Seni, Kebebasan Berekspresi. Kompas, 02 Juli 2006.
3 Rupa-Rupa Seni Rp. Seni dalam Festival dan Pasar. Dalam buku kumpulan esai Vodka dan Birahi Seorang Nabi.

 

Koleksi Baru Perpustakaan IVAA!

Sorotan Koleksi Perpustakaan Januari-Mei 2016

mes56Cerita Sebuah Ruang, Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang MES 56

Buku ini merupakan upaya reflektif MES 56 membaca diri dan dibaca orang lain setelah lebih dari 10 tahun berkiprah, dengan mengundang penulis-penulis melihat eksistensi MES 56 dari berbagai sudut pandang, yang lebih luas dari perkara kekaryaan, menempatkan konteks kesejarahan seni dan fotografi.

Buku ini disusun berdasar tiga pokok bahasan, yaitu sejarah fotografi di Indonesia, fotografi dalam konteks seni rupa di Indonesia dan diakhiri oleh upaya reflektif yang bergerak ulang alik melihat sejarah dan pertanyan-pertanyaan mendasar yang muncul dari perjalanan MES 56 sendiri.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Agung Nugroho Widhi
Bahasa  : Indonesia
Penerbit : IndoArtNow
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 770 Soe C

 

Sesudah AktivismeSesudah Aktivisme, Sepilihan Esai Seni Rupa 1994–2015

Buku ini merupakan kumpulan esai-esai kuratorial yang menampilkan kekayaan berpikir Enin Supriyanto:

  1. Memikirkan kesejarahan (seni rupa) seperti dalam Belajar dari feminisme; Tak Perlu Mencetak dengan Darah; Yang Terus Putus dan Retak; Ibu Seni Rupa Modern Indonesia?; Ihwal Kritik Seni Rupa yang Berwibawa.
  2. Reflektif terhadap ranah seni rupa secara garis besar berikut beserta infrastrukturnya seperti dalam Lorong-lorong Alternatif; Mencari Jejak, Mencari Pijakan, Mencari Ruang; Bulutangkis, Seni Rupa, dan Fisika; Omong-Omong Soal Pembangunan Kesenian; Boom! Belasan Tahun Kemudian.
  3. Menjadi pengamat sekaligus pencatat perkembangan senirupa Indonesia dalam perspektif seorang kurator seperti dalam Seratus Tahun untuk atau Satu atau Dua Wacana; Reformasi, Perubahan dan Peralihan; Bingkai Waktu (Catatan tentang Masa Lalu, Sejarah, dan Seni Rupa Indonesia); Menjadi Kontemporer, Menjadi Global.

Dari sejumlah naskah praktik kekuratorannya bisa dikenali apa saja latar belakang kerja kekuratoran Enin jalankan, dan bagaimana manifestasinya dalam bentuk esai kuratorial.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Enin Supriyanto
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Hyphen
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Sup S

 

obat kuatObat Kuat

Buku ini berisi kumpulan iklan obat kuat selama 100 tahun yang dikumpulkan dan dijadikan bahan penelitian oleh Malcom Smith, serta direproduksi ulang sebagai karya oleh Krack Studio. Proyek berjudul Obat Kuat ini merupakan proyek lanjutan dari Tanah/ Impian (Dream/ Land), yang mengeksplorasi sejarah iklan cetak di Indonesia, dan secara khusus melihat bagaimana iklan mencerminkan dan membangun bayangan-bayangan kultural di Indonesia. Iklan obat kuat sendiri dilihat sebagai cerminan pemahaman masyarakat Yogyakarta mengenai gender, seksualitas, dan hasrat, yang memperlihatkan adanya dominasi konstruksi maskulinitas di Yogyakarta. Bahkan bisa dilihat hingga hari ini bagaimana spanduk berbicara mengenai penolakan terhadap homoseksual dan represi terhadap kelompok-kelompok perempuan.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Malcolm Smith
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Krack Studio
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 702 Smi O

 

Between DeclarationsBetween Declarations and Dreams: Art of Southeast Asia Since the 19th Century

Pameran Seni Asia Tenggara yang dilaksanakan oleh Gallery Nasional Singapore ini merangkum pengalaman banyak seniman di wilayahnya, dengan menangkap keberadaan mereka diantara deklarasi dan mimpi, atau personal dan politikal. Pameran ini mencoba melihat konsep dari seni itu sendiri di Asia Tenggara, tentang bagaimana mereka membagi pengalamannya dan terkoneksi satu sama lain di Asia Tenggara. Serta melihat kejadian yang mempengaruhi produksi dan bagaimana seni disambut di Asia Tenggara.

Buku yang disumbangkan oleh Resource Centre of National Gallery Singapore ini diterbitkan tahun 2015 berisi 4 tulisan kuratorial setebal 291 halaman.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Low Sze Wee
Bahasa : English
Penerbit : National Gallery Singapore
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Wee B Ref

 

perjalanan Seorang KolektorPerjalanan Seorang Kolektor Seni Lukis Modern di Indonesia

Buku yang disumbangkan oleh Hendro Tan untuk Perpustakan IVAA ini menampilkan lebih dari 60 karya koleksi Jusuf Wanandi yang dikumpulkan selama 30 tahun. Koleksi Jusuf Wanandi ini masuk dalam kelompok seni modern dalam batasan yang mengacu pada Barat – mengingat modernisme pada sejarah seni lukis Indonesia sangat berbeda dengan Barat. Selera pribadinya tidak mewakili kekhawatiran banyak orang mengenai ambiguitas seni lukis Indonesia. Melalui katalog ini kita diajak untuk tidak canggung mengapresiasi seni lukis ‘bervisi lama’ tersebut.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Garrett Kam
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Centre for Strategic and International Studies and Neka Museum
Tahun Terbit : 1996
No. Panggil : 701 Wan A ref