Category Archives: E-newsletter

#SorotanArsip | Arsip Red District Project

Oleh: Revano Septian (Peserta Magang IVAA)

Red District Project (RDP) merupakan kegiatan bersama dengan warga yang diinisisasi oleh seniman bernama Lashita Situmorang. Kegiatan yang dimaksud meliputi unsur penelitian dan pengorganisasian, berlokasi di kampung Sosrowijayan, lebih tepatnya Sosrowijayan Kulon. Setelah dua kali penyelenggaraannya, dokumentasi dari kegiatan ini sangat melimpah, mulai dari catatan administratif, foto kegiatan, hingga keseharian warga.

Keberadaan dokumentasi tentang Sosrowijayan ini memang tidak selalu disukai warga, karena banyaknya pemberitaan stereotip terhadap mereka. Dimana semata menampilkan Sosrowijayan sebagai wilayah prostitusi, dan menutup diri dari berbagai potensi dan prestasi. Padahal banyak aspek dan elemen kolaborasi warga yang hidup.

Dokumentasi dan data seputar RDP yang telah dikumpulkan oleh Lashita Situmorang saat ini telah terdata dan memungkinkan untuk dijadikan sumber data, sejauh mengetahui secara terukur kerangka dan tujuan dari penelitian ataupun proyek seni kita. Di atas itu, jika ada kebutuhan untuk meninjau dan menggunakan dokumentasi dari RDP ini, baiknya diawali dengan berkomunikasi dengan Lashita Situmorang.

Link Katalog RDP 

Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Diskusi: Europalia dan Wacana Pseudo Internasionalisme

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pada Jumat, 19 Januari 2018 di Rumah IVAA pukul 15.30, digelar diskusi dengan tajuk “Europalia dan Wacana Pseudo Internasionalisme”. Diskusi tersebut membicarakan dinamika keterlibatan Indonesia di Europalia, sebuah festival budaya dan seni internasional yang diselenggarakan di Belgia dan negara-negara tetangga. Perwakilan seniman dan kurator yang terlibat, yakni Agung Kurniawan, Hestu Setu Legi, Sita Magfira dan Agung ‘Geger’ Firmanto (Lifepatch), serta Alia Swastika hadir sebagai pembicara. Irham Nur Anshari hadir sebagai moderator.

Setelah dibuka oleh Irham, Alia mengawali diskusi ini dengan memberikan penjelasan singkat tentang Europalia. Alia mengatakan bahwa Europalia merupakan acara atau misi kebudayaan untuk kesenian Indonesia di luar negeri. Sebelum Europalia, Indonesia pernah menyelenggarakan misi kebudayaan demikian, 25 tahun silam di era Soeharto pada 1990-1991 dengan nama Pameran KIAS (Kebudyaan Indonesia di Amerika Serikat). Jika KIAS merupakan inisiatif dari pemerintah, Europalia berbeda. Indonesia menjadi negara Asia keempat yang diundang oleh Eropa untuk menjadi tamu setelah Turki, India, dan Cina. Semua pameran dikuratori oleh dua pihak, yakni Indonesia dan Eropa. Bagi Alia, keterlibatan negara dalam situasi globalisasi ini menjadi hal yang menarik.

Namun, bicara soal keterlibatan, Alia menyayangkan adanya ketimpangan dialog, ketika kurator Barat dalam perumusan pameran sudah menawarkan tiga kata kunci konsep yang sulit ditembus. Tiga kata tersebut adalah Archipelago (ke-nusantara-an), Ancestor, dan Biodiversity. Pembiayaan acara yang diberikan oleh Indonesia sekitar 70-80% tidak sebanding dengan keseimbangan perdebatan antara kurator Indonesia dan Barat. Gagasan kurator Indonesia terkait konsep pameran tidak diakomodasi lebih lanjut.

Kemudian Alia sedikit menceritakan pengalamannya ketika menjadi kurator di beberapa pameran saat itu. Salah satunya adalah pameran dari Iswanto Hartono yang digelar di Oude Kerk, salah satu gereja tertua di Amsterdam. Bentuk karyanya adalah patung lilin J. P. Coen, pahlawan besar Belanda, yang dinyalakan di salah satu ruang gereja. Melalui karya ini Iswanto mencoba mengulik koneksi sejarah antara Oude Kerk, yang terkenal sebagai monumen para pahlawan (penjajah); simbol etnosentrisme Eropa pada abad ke-17, dengan masa kolonialisme di Banda. Karya yang dibuat oleh Iswanto ini bisa dilihat sebagai pernyataan politik, apalagi ketika patung lilin J. P. Coen yang dibakar menjadi pembicaraan media nasional dan para akademisi di sana.

Pameran kedua yang diangkat adalah On Paradise yang dibuat oleh Jompet Kuswidananto. Jompet mencoba mencari hubungan antara agama dan politik dengan membuat karya lampu gantung dengan cahaya yang gemerlap. Alia mengatakan bahwa konsep dari karya ini berangkat dari fenomena pemberontakan di Banten pada 1888. Sedikit tentang anti modernisme, tetapi sebenarnya lebih kepada keinginan untuk membangun surga yang utopis. Juga yang menarik adalah ketika masuk ke ruang pameran ini, pengunjung seolah tidak melihat fakta sejarah. Mereka hanya melihat karya visual yang dipamerkan.

Selain Iswanto dan Jompet, Agung ‘Geger’ Firmanto dari Lifepatch juga turut serta memamerkan karya yang dikuratori oleh Alia. The Tale of Tiger and Lion menjadi judul pameran mereka. Melalui pameran ini Sita Maghfira mengatakan bahwa Lifepatch mencoba mengulik hubungan antara dua tokoh kunci sejarah Kolonial Belanda di Indonesia – Hans Christoffel dan Si Singamangaraja XII. Dengan menggabungkan artefak sejarah, materi arsip, dan karya seni, mereka menyampaikan hasil penelitian mereka terhadap koleksi Christoffel (artefak jajahan yang ia bawa ke Belgia) dan temuan di lapangan, yakni daerah Toba, Sumatera Utara. Geger juga menambahkan bahwa Lifepatch ingin menghadirkan narasi sejarah versi pemenang (pemerintah dan akademisi), dan versi lain yang muncul dari kebiasaan atau adat tanah Toba. Sita menambahkan bahwa melalui proyek ini Lifepatch menjadi belajar lebih banyak tentang sejarah, bahwa narasi sejarah tidak pernah tunggal.

Tidak ketinggalan, Hestu Setu Legi juga turut memberikan kontribusi pada ajang internasional ini. Melalui koridor Performance Club, Hestu merespon landscape yang ada di ruang pamer dan sekitarnya. Sesuai ciri khasnya, dengan menggunakan tanah liat untuk membuat mural bentuk pohon lambang kesuburan, situasi industri yang terinspirasi fenomena Kendeng, dan lain-lain.

Di koridor lain, Power and Other Thing, Agung Kurniawan juga memamerkan karyanya. Charles Esche menjadi salah satu kurator yang bekerja bersama Agung untuk proyek ini. Dengan bentuk video mapping, Agung menghadirkan kembali karyanya yang berjudul Gejolak Malam Keramat yang bicara isu ‘65. Apa yang menarik dari karya Agung adalah, ia memilih ruang bawah tanah sebagai lokasi pameran. Bagi dia ruang bawah tanah dimaknai sebagai tempat para tikus bersarang; juga seperti mausoleum (kuburan orang-orang Yahudi), yang mencerminkan perjuangan harkat kemanusiaan. Dalam karya ini, Agung berusaha memaknai koneksi konteks ’65 dengan Eropa yang ternyata ada secara geopolitik.

Setelah cukup lama para pembicara membagikan pengalamannya, sesi diskusi mulai dibuka. Sebuah pertanyaan menarik muncul dari Ngakan Made Ardana. Ia mempertanyakan istilah pseudo yang dipakai; apa yang sebenarnya ingin disampaikan? Kegagalan Europalia? Atau apa?

Pertanyaan tersebut direspon oleh Alia dengan cerita pengalamannya ketika berdebat dengan para kurator Barat. Baginya, label internasional yang disandang Europalia tidak sesuai dengan keterbukaan terhadap kebudayaan lain secara faktual. Alia mengatakan, “Selama proses, standar-standar mereka sulit ditembus.” Maka globalisasi seni tidak terjadi dan konsep internasionalisme yang dibangun masih kuno.

Sedikit berbeda dengan respon Agung yang mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang lain. Ia mengatakan bahwa secara strategis, tujuan dari festival ini belum nampak jelas. Diplomasi kebudayaan yang terlihat perlu untuk diulik lagi. Namun, ada aspek yang cukup melegakan ketika tidak ada batasan untuk seniman yang terlibat. Buktinya, beberapa seniman bisa membuat karya yang cukup sensitif.

Menyambung pembicaraan yang cukup serius ini, Nindityo Adipurnomo ikut bertanya, “Bagaimana dialog bilateralnya? Pertanyaan itu muncul atas kecurigaan terhadap kecenderungan-kecenderungan negara ‘penjajah’ yang ingin mengembalikan artefak-artefak yang telah dicuri. Padahal kita hidup di jaman komunikasi virtual, tapi barang-barang curian itu hendak dikembalikan; barang-barang yang sudah tidak punya konteks. “Ini sama saja menghidupkan mitos yang sudah mati,” ungkap Nindityo. Geger kemudian merespon kegelisahan Nindityo dengan sebuah dialognya bersama Opung Bakara ketika melakukan studi lapangan di Tanah Toba. Ada tiga pandangan dari Opung Bakara terkait artefak dalam konteks kolonialisme dan masa sekarang. Menurut Opung Bakara ada tiga bentuk aktivitas membeli suatu barang: membeli barang dengan membayar, membeli barang dengan barter, dan membeli barang dengan membunuh/ merampas. Bagi beliau, bentuk yang ketiga itulah yang harus diungkap. Bukan persoalan barang, tetapi lebih kepada hal membunuh atau merampas-nya.

Diskusi semakin terkesan serius ketika Linda Mayasari memberikan kritik terhadap para seniman yang terlibat. Berangkat dari pengalamannya yang melihat pameran tersebut secara langsung, ia mengatakan bahwa, “Seniman-seniman di sana dijadikan arkeolog, di-etnografis-kan.” Bagi dia wacana kolonialisme yang masih berkembang kurang diangkat. Agung pun merespon kritik Linda tersebut dengan cukup tegas, bahwa arkeologi itu bukan sesuatu yang cacat. Ia juga merupakan hal besar. “Seniman tidak lebih tinggi dari etnografer. Ia juga bertugas mencatat.” Terkait eksotisme, Agung lebih melihat ini sebagai perjumpaan. “Saya berjumpa dengan rasa kehilangan akan masa lampau,” ungkap Agung. Nindityo, sebagai bentuk keprihatinan, juga menambahkan bahwa kita nampaknya sedang loncat menggunakan legitimasi mereka (Barat) untuk melihat benda-benda kita. Lantas Linda dengan tegas meluruskan apa yang telah dikatakannya dengan, “Aku lebih menekankan pendekatannya, bukan hirarki seniman dan arkeolog.”

Terkait kelanjutan atau pertanggungjawaban dari festival Europalia ini, Agung mengatakan bahwa ia setuju jika pameran tersebut dibawa dan dipamerkan di Indonesia. Baginya pameran itu mampu mengolah aspek intelektual dari benda. Irham menutup diskusi dengan statement yang kurang lebih sama. Harapannya di era globalisasi ini, misi kebudayaan Indonesia tidak terbungkus ke dalam wacana internasionalisme yang semu.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Musrary Edisi ke-6: Slipping Pills

Oleh: Wimpy Nabila F.Z. (Peserta Magang IVAA)

Di akhir Januari ini, menonton konser musik “Musrary” menjadi salah satu alternatif hiburan.  Musrary (Music Library) merupakan program rutin bulanan yang diadakan oleh IVAA. Konsep yang disajikan pada acara ini ialah eksplorasi suara, visual, kolaborasi dengan seniman dan sebagainya untuk merespon ruang perpustakaan IVAA.

Pembeda Musrary dengan acara konser musik lainnya adalah tidak ada pembatas antara penonton dengan performer. Artinya penonton dipersilahkan bertanya dan mengulik tentang karya atau bahkan proses berkarya musisi performer di setiap jeda pertunjukan.

Musrary sempat off selama 2 bulan, akan tetapi pada bulan Desember Musrary kembali  mengadakan pertunjukan dengan menghadirkan Slipping Pills. Mengaku sebagai sebuah ruang untuk bermain dan bergembira, menyiasati dunia yang semakin tua. Dibentuk pada tahun 2011 oleh musisi Teguh Hari Prasetya dan Purnawan Setyo Adi. Slipping Pills beranggotakan Teguh Hari Prasetya (Vokal dan Bass), Hengga Tiyasa (Gitar), Aga Yoga Perkasa (Gitar), dan Gendra Wisnu Buana (Drum). Pada tahun 2012 Slipping Pills telah merilis mini album pertamanya “Kpd. ytc. Lies”.

Dengan dekorasi payung-payung di panggung yang sederhana, menambah kesan teduh malam itu. Slipping Pills membuka pertunjukan dengan lagu yang berjudul “69 di 98”, dianggapnya sebagai lagu politis karena berkaitan dengan negara. Penonton terlihat khidmat menghayati setiap lagu yang dinyanyikan oleh Teguh sang vokalis yang sesekali menghisap rokok. Suasana pecah gelagak tawa penonton menyambar ketika masing-masing personil unjuk kebolehan memainkan alat musiknya. Pesan-pesan yang disampaikan di setiap lagu Slipping Pills sangat dalam.

Dalam Musrary kali ini, Slipping Pills membawakan kurang lebih 8 lagu. Yang menarik adalah ketika Teguh menyampaikan petuah kepada penonton bahwa “Cinta beda agama bukan bagaimana cintanya tapi bagaimana negara sudah masuk ke dalam ranjangnya”. Bisa dibilang lagu-lagu mereka merupakan lagu pemberontakan, salah satunya dengan mengangkat isu terkait pernikahan beda agama di negara Indonesia yang tidak diterima secara sah. Lirik-lirik yang dihadirkan sebagai sindiran, sekaligus pembelaan bagi para penikmatnya.

Di akhir pertunjukan, di tutup dengan penampilan Teguh bernyanyi solo membawakan lagu yang baru saja dibuatnya pagi hari sebelum pertunjukan Musrary dan diberinya judul “perselingkuhan” yang menurut dia sangat zaman now.

 

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Launching IVAA Shop dan Musrary Edisi ke-8: Olski

Oleh: Yeni Arista

Tepat pada 26 Januari 2018 telah dilaksanakan launching IVAA shop. Kali ini IVAA shop muncul dengan wajah baru, dengan tatanan interior yang lebih menarik dan tentu koleksi barang – barang yang bertambah. IVAA shop menjual aneka barang berupa baju, buku, CD dan berbagai pernik lainnya dengan harga bervariasi. Selain itu, IVAA shop juga menerima barang titipan untuk dijual. Apabila anda tertarik untuk mengunjungi IVAA shop atau hendak menitipkan barang yang ingin dijual maka silakan berkunjung ke Rumah IVAA, buka setiap hari Senin–Jumat pukul 09.00-17.00 WIB.

Masih dengan suasana jual beli, pada hari itu juga IVAA mengadakan garage sale, berbagai barang dari gudang IVAA diobral dengan harga yang bersahabat dan bisa dinego. Semua yang dijual adalah barang yang masih layak pakai seperti meja, rak, tape, lensa, monitor dan sebagainya. Pada hari yang sama, Rumah IVAA diramaikan oleh pengunjung yang ingin membeli barang di IVAA shop dan garage sale IVAA.

Masih dengan serangkaian acara yang sama, setelah siang hari disibukan oleh orang– orang yang berdatangan untuk membeli barang, menjelang sore hari ruang perpustakaan IVAA disulap menjadi ruang pertunjukan sederhana. Malam yang dinantikan pun tiba, malam pertunjukan yang akan dimeriahkan oleh Olski. Olski merupakan band dari Jogja, beraliran pop dengan konsep akustik dengan gaya yang manis nan lucu. Pertama kali terbentuk pada tahun 2013, band ini beranggotakan 4 orang :  Febrina Claudya (Vokalis), Shohih Febriansyah (Glockenspil, Pianika, Toy Keyboard), Atika Putri (Perkusi dan Drum) dan Dicki Mahardika (Gitar dan Ukulele). Lagu-lagu yang dibawakan bercerita tentang kehidupan sehari-hari, seperti diary seorang gadis kecil. Olski telah merilis 3 buah single, yaitu “Titik Dua dan Bintang” (2014), “Colors” (2015) dan “Tunggu” (2017). Pada akhir tahun 2017 Olski merilis album pertamanya “In the Wood”.

Sinar lampu remang–remang di ruang perpustakaan IVAA membuat penonton semakin menghayati lagu yang dinyanyikan. Penonton yang memenuhi ruangan IVAA antusias mendengarkan lagu dan candaan di sela – sela penampilan. Penampilan Olski berlangsung sekitar 2 jam dengan menyanyikan 4 lagu, diselingi dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Candra dan Mukti sepasang komika dari Jogja. Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung dengan santai itu ada beberapa hal yang menarik yaitu; walaupun berkarir dalam satu kelompok band ternyata masing–masing dari mereka mengidolai musisi yang berbeda aliran musiknya. Meski demikian, mereka memiliki harapan yang sama untuk tahun 2018 yaitu melakukan konser tunggal. Penampilan Olski dan sesi tanya jawab malam itu diakhiri dengan sebuah pernyataan oleh Dicki Mahardika, bahwa dengan bermusik hal yang “serius” dapat menjadi “fun”, dan hal yang “fun” pun dapat menjadi serius.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Baca Arsip: Membaca Kewargaan Artistik, Mendaratkan Refleksi Filosofis pada Peristiwa

Oleh:  Krisnawan Wisnu Adi

Perkenalan saya dengan dunia kesenian, khususnya seni rupa, belumlah lama. Padahal mungkin ia sudah melekat dalam kehidupan saya sehari-hari. Namun karena saya tidak terlalu merasakan atau bahkan melihatnya, jadi perkenalan ini seolah menjadi baru. Perkenalan yang baru ini mau tidak mau melibatkan latar belakang saya yang berangkat dari ilmu sosial. Akhirnya muncullah pertanyaan besar dalam benak saya tentang apa hubungan seni dan kehidupan masyarakat, antara ‘yang estetis’ dan ‘yang sosial’.

Saya rasa, dan memang muncul dari banyak buku serta diskusi, pertanyaan serta perdebatan mengenai hubungan tersebut sudah menjadi renungan yang tidak kunjung henti. Antara seni dan masyarakat, estetika dan sosial, galeri dan jalanan, dan bentuk lainnya yang (seolah) kontradiktif. Sampailah pertemuan saya pada suatu istilah menarik, yang mungkin secara terminologi, sejauh pengalaman saya, belum terlalu akrab digunakan di ruang-ruang diskusi seni-budaya di Yogyakarta. Ia adalah kewargaan artistik. Meski demikian, perbincangan terkait seni dan kewargaan setidaknya muncul dalam Katalog Data IVAA 2017 yang berjudul Seni, Aksi dan Jogja sebagai Ruang Urban (sejak reformasi hingga kini) dan Biennale Forum #2 Forum #4 pada 16 November 2017 di PKKH UGM. Kewargaan artistik selanjutnya menjadi titik berangkat saya untuk mengenal dan bertanya.

Dalam tulisan ini saya hendak mempertanyakan bagaimana seni atau ‘yang estetis’ itu hadir di dalam kehidupan masyarakat atau ‘yang sosial’. Bagi saya, dan saya harap publik juga merasakan hal sama, pertanyaan ini akan senantiasa penting diajukan, apalagi ketika melihat konflik dari level lokal hingga internasional selalu eksis. Mulai dari sengketa tanah hingga status kebangsaan dalam perjumpaan internasional. Apa sumbangsih dari seni? Bagaimana ia dihadirkan di tengah masyarakat?

Kewargaan artistik bukan merupakan teori tunggal, melainkan lebih kepada asumsi yang merefleksikan keberadaan seni di tengah masyarakat. Kewargaan dan artistik seolah nampak berseberangan, ketika kewargaan lebih merujuk pada status ketat yang dibentuk oleh negara dan artistik sebagai sesuatu yang berasosiasi dengan roh individualisme atau kebebasan sang seniman. David J. Elliott, dalam bukunya yang berjudul Artistic Citizenship, Artistry, Social Responsibility, and Ethical Praxis yang ditulis pada 2016, menjelaskan bahwa konsep ini sebenarnya dilandaskan atas anggapan bahwa seni pada dasarnya adalah fenomena sosial dan selalu begitu. Praktik dan nilai artistik sudah eksis jauh sebelum gagasan Eropa pada abad 18 tentang ‘seni untuk seni’. Sebagai contoh, dalam kasus musik, perkusi batu sudah menjadi bagian dari praktik personal-sosial-musikal dan kultural dari para pendahulu kita, ketika mereka berpindah dari habitat asli di Afrika pada sekitar 120.000 tahun lalu.

Kewargaan artistik merupakan konsep yang dengannya kita berharap dapat merangkum keyakinan bahwa kesenian itu melibatkan tanggung jawab emansipatoris-humanis-sosial-sipil, kewajiban untuk terlibat dalam pengembangan kebaikan sosial. Istilah artistik di sini bukan dimaksud untuk menghadirkan seni sebagai sesuatu yang eksklusif dan elitis. Justru, maksud dari penggunaan istilah ini adalah untuk melibatkan orang dari seluruh usia dan tingkat pencapaian teknis dengan tujuan utama membuat perbedaan secara positif. Sementara itu kewargaan artistik berimplikasi pada komitmen untuk bertindak dengan berbagai cara mendorong orang-orang secara emosional; dalam arti memobilisasi mereka sebagai agen perubahan yang positif. Warga negara yang artistik berkomitmen untuk terlibat dalam tindakan artistik dengan cara yang dapat membuat orang secara bersama-sama meningkatkan kesejahteraan komunal, dan berkontribusi secara substansial terhadap kemajuan manusia.

Elliot menuliskan setidaknya ada tiga asumsi dasar terkait hubungan seni dan kewargaan. Pertama, seni itu dibuat oleh dan untuk orang-orang. Semua bentuk seni didasarkan atas usaha dan perjumpaan sosial. Pertimbangan sosial ini tidak bersifat insidentil, melainkan penting bagi makna, nilai, dan usaha artistik. Tindakan artistik serta interaksi menjadi sangat penting bagi penciptaan identitas kolektif serta individual manusia. Kedua, seni tidak bisa diletakkan di tumpuan estetika (gedung konser, galeri, museum, dll) untuk konsumsi dan kepuasan kontemplasi. Kesalahan terbesar adalah ketika melihat seni sebagai entitas belaka yang tidak memiliki hubungan dengan keseharian. Ketiga, jika seni adalah praktik sosial yang inheren, mereka harus dipandang, dipelajari, dan dipraktikkan sebagai bentuk kewargaan yang dipandu secara etis. Tiga asumsi tersebut bagi saya menunjukkan bahwa seni itu sejatinya sosial dan harus menjadi bagian dalam proses kewargaan.

Asumsi di atas nampaknya menjadi lebih konkret dan relevan ketika saya menilik tulisan dari Zuhdi Sang yang berjudul “Tanah Air dan Masyarakat di Batas Cinta: Sebuah Pendahuluan Menuju ‘Patriotisme Anarko-Estetis”, sebagai esai yang dipresentasikan dalam Biennale Forum #2, November 2017. Dalam tulisan itu Zuhdi menyampaikan kegelisahannya atas situasi masyarakat NKRI saat ini. Ada dua pertanyaan besar yang diajukan: apakah mungkin pada era digital‐neoliberal ini kita masih bisa mewujudkan sebuah kesatuan identitas yang solid? Ataukah memang kesatuan sosial‐politis kita sudah sampai pada batas ketidakmungkinannya, sehingga kita perlu membayangkan sikap dan bentuk baru yang mampu menampung cinta, sejarah, dan semangat kebangsaan yang kita tanggung?

Bagi Zuhdi, kita telah kehilangan identitas kebangsaan ketika gemerlap pesta politik tidak pernah menjadikan ‘masyarakat’ sebagai pijakan dan tujuan. Di saat yang sama kita juga telah mengalami dilema patriotisme, ketika kesatuan masyarakat sudah hancur oleh penguasa dan ritus politik yang beroperasi. Namun, identitas sebagai Indonesia yang estetis, menubuh, berhubungan dengan lokalitas, ruang lingkup kehidupan sehari-hari menjadi satu-satunya pijakan. Hanya seni yang mampu mengajarkan sensitivitas memaknai identitas yang estetis ini.

“Untuk bisa melampau semua itu, kita butuh identitas yang otentik. Tak ada satu pun yang mampu menjawab kebutuhan itu selain tubuh kita sendiri: tubuh sebagai jembatan penghantar untuk kita bisa berhubungan dengan ruang sosio‐material. Dan tak ada yang mampu mengajarkan pada kita tentang hal itu selain seni. ….. Itulah hubungan estetis, satu‐satunya sumber mata air terakhir kemanusiaan untuk kita bisa mencintai.”

Ia memberi kesimpulan yang cukup erat dengan konsep kewargaan artistik, bahwa gagasan dari kegelisahannya itu bisa disebut sebagai “Patriotisme Anarko‐Estetis: adalah cinta dan loyalitas pada primordialitas lokal, cinta yang juga diwarisi dari para pejuang kemerdekaan. Atau dengan kata lain, menjadi benar‐benar Indonesia adalah merawat dan menjaga hubungan estetis dengan ruang hidup sehari‐hari yang kita cintai dan pijaki, meskipun harus melawan pemerintah sendiri.” tulisnya di akhir esai. Bagi saya gagasan ini dapat dilihat sebagai refleksi atas keterlibatan seni atau ‘yang estetis’ dalam masyarakat. Bahwa seni dilihat sebagai laku yang potensial ketika identitas kewargaan dalam koridor politik formal telah pudar.

Selain tulisan dari Zuhdi Sang, ada istilah lain yang kiranya menjadi irisan dari kewargaan artistik, yang saya pikir sudah cukup akrab digunakan dalam dinamika kesenian di Indonesia, khususnya Jawa. Istilah itu adalah ‘Seni Rupa Penyadaran’ yang banyak dikenal berangkat dari Moelyono. Dalam bukunya yang berjudul Seni Rupa Penyadaran, 1997, dijelaskan bahwa istilah ‘penyadaran’ (concientization) menurut pengertian Paulo Freire yaitu belajar memahami kontradiksi sosial politik dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari realitas tersebut.

Kesenian, khususnya seni rupa, dalam bayangan Moelyono (meskipun Moelyono banyak terinspirasi dari Teater Pembebasan-nya Eugene van Erven yang berakar dari Augusto Boal serta Paulo Freire) harus menempatkan dialog sebagai metode untuk penyadaran. Dalam dialog semua orang menjadi subjek yang sama tanpa hirarki; bahwa rakyat bawah juga merupakan subjek kebudayaan.

Melalui dialog, Seni Rupa Penyadaran bertujuan untuk memelihara kesadaran kritis. Mansour Fakih menulis dalam pengantarnya, bahwa kesadaran (kebudayaan) kritis yang dimaksud adalah lebih melihat kaitan antara ideologi dan struktur sosial sebagai sumber masalah. Ia bukan kesadaran magis ataupun naif. Tugas kebudayaan kritis adalah menciptakan ruang agar rakyat terlibat dalam menciptakan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Aksi kultural ini adalah suatu bentuk praktis untuk membebaskan manusia, dan karenanya tidak mungkin netral.

Moelyono juga menuliskan bahwa dalam proses dialog, realitas sosial, diperlukan kepedulian, keterlibatan, pemihakan, partisipasi, kontribusi dari pendamping pekerja seni rupa yang telah profesional atau dari perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan dasar gerakan Seni Rupa Penyadaran yang bukan sekedar ‘kerja sosial’ belaka. Juga sesuai dengan asumsi ketiga dari Elliott yang bicara soal seni sebagai praktik sosial yang perlu dipandu secara etis. Artinya perlu keseriusan yang beradab, memanusiakan manusia.

Apa yang digagas oleh Moelyono ini juga dilandaskan atas pengertian estetika sebagai persepsi sensitif atau sensitibilitas yang berangkat dari tulisan Ursula Meyer dalam Conceptual Art, 1972. Hal ini sesuai dengan gagasan Zuhdi terkait peran seni dalam merawat sensibilitas terhadap identitas Indonesia yang menubuh, erat dengan lokalitas, keseharian, yang menjadi satu-satunya pijakan untuk patriotisme dalam konteks neoliberal-kosmopolitan.

Namun menurut saya, jika mau membandingkan dua gagasan di atas, Seni Rupa Penyadaran condong lebih dekat secara praktis dengan konsep kewargaan artistik. Dialog kritis sebagai metode menjadi jalur untuk melihat bagaimana seni dan seniman dihadirkan di tengah-tengah masyarakat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Campbell dan Randy Martin, 2006, dalam bukunya yang berjudul Artistic Citizenship: A Public Voice for the Arts, bahwa kunci kewargaan artistik terletak pada pemahaman atas bagaimana seni dan seniman dibawa ke dalam dunia. Sedangkan, gagasan Zuhdi, yang memang sifat tulisannya adalah sebagai ‘pendahuluan patriotisme anarko-estetis’, agaknya lebih kepada refleksi filosofis atas keterlibatan seni sebagai satu-satunya medium yang tepat dalam merespon persoalan kohesi sosial dalam menghadapi rezim neoliberalisme kosmopolit.

Untuk sedikit mendaratkan atas apa yang disebut sebagai kewargaan artistik di atas, saya rasa sangat perlu untuk menilik peristiwa yang sudah terjadi. Sejeblog Neighborhood Street Art yang diadakan pada April 2017 menjadi salah satu gelaran kesenian yang dilakukan di tengah-tengah masyarakat Dusun Jeblog, Kasihan, Bantul. Galeri Seni Sesama bersama dengan Ikatan Pemuda-Pemudi Jeblog bekerja sama menyelenggarakan kegiatan ini; membuat karya seni mural di beberapa tembok warga. Sejauh ini tujuan digelarnya kegiatan tersebut, berdasarkan liputan dari beberapa media online lokal, adalah untuk mendobrak stereotype vandalisme yang melulu dilekatkan kepada pemuda dan seniman jalanan. Selain itu untuk memancing terbukanya potensi ekonomi warga melalui label kampung seni kreatif dan wisata edukasi.    

Pada 6 Februari 2018 saya bersama rekan magang IVAA, Lauren Paterson, mendapat kesempatan untuk berbincang dengan salah satu seniman yang terlibat. Ia adalah Anagard, seniman street art (stensil) yang berdomisili di Yogyakarta. Dalam perbincangan itu Anagard bercerita tentang proses bagaimana ia dan para seniman bersama warga menjalin kerja sama.

Anagard mengatakan bahwa para seniman dan warga, terutama pemuda bekerja sama untuk membuat karya mural di tembok-tembok rumah. Sesama adalah pihak yang pertama kali mengajak Anagard untuk ikut berpartisipasi. Lalu bersama pemuda Jeblog mereka mendiskusikan gelaran kesenian itu secara lebih lanjut, sehubungan dengan hal itu Anagard menuturkan demikian,

“Setiap seniman dia harus terlibat dengan pemuda lokal, warga; apakah fungsi warga itu bebas, apakah angkat-angkat, menggambar, yang penting terlibat, dialog. Jadi buat acara di kampung adalah fungsinya tidak hanya berkarya tapi bagaimana seniman dan pelaku seni atau warga punya komunikasi. Menjadi media komunikasi.”

Selain sebagai media komunikasi, proyek ini juga dibuat guna mengajak warga untuk mengkritisi sistem nilai saat itu yang melabeli street art sebagai semata praktik vandalisme destruktif. Melalui kerja kolaboratif harapannya adalah muncul pemaknaan baru. Tujuannya, street art tidak melulu dilihat secara negatif, melainkan juga bisa dilihat sebagai medium kritik dan edukasi yang lebih membumi.

“Jadi Jeblog itu menjadi ruang terbuka. Sebetulnya ketika tempat itu digambari itu menjadi sebuah simbol bahwa masyarakat itu terbuka dengan nilai-nilai baru. Street art itu sendiri sebenarnya seni dari kota, kemudian datang ke desa. …. Fungsi vandal ya itu, tujuannya untuk kritik. Kalau tidak ada vandal, kita tidak bisa kritik dengan ilegal. Ia menjadi media yang anarkis, independen.”

Dialog menjadi poin penting dalam proyek tersebut, ketika para seniman dan warga bersama-sama berdiskusi serta bekerja. Hal ini sepertinya senada dengan apa yang digagas oleh Moelyono, bahwa dalam seni rupa penyadaran dialog menjadi prinsip utama. Selain itu kesadaran kritis juga kiranya nampak dari usaha para seniman untuk membongkar stereotype vandalisme dengan menghadirkan street art. 

Namun saya belum bisa menyimpulkan bahwa proyek ini sudah menunjukkan bentuk kewargaan artistik, ketika sebenarnya ada banyak hal yang harus ditinjau. Salah satu hal itu adalah proses bagaimana para seniman dan karyanya hadir di tengah masyarakat Jeblog. Memang sudah ada dialog yang dilakukan, tetapi apakah dialog tersebut sudah mampu menjadi wakil dari bentuk tanggung jawab emansipatoris-humanis-sosial-sipil? Lalu, apa yang didapatkan warga Jeblog ketika kita membicarakan persoalan kewargaan? Apakah ketika warga menerima vandalisme (atau praktik artistik lainnya) atau terbuka untuk membangun struktur kesadaran kritis baru, kemudian mereka menjadi kritis terhadap kekuasaan?  

Pembahasan ini kemudian bisa kita dekatkan dengan peristiwa yang belum lama terjadi. Pada saat tulisan ini dibuat, 14 Februari 2018, pameran bertajuk ‘Tanah Istimewa’ yang dijadwalkan berlangsung di Galeri Lorong, Nitiprayan, Kasihan Bantul, dibubarkan tanpa alasan yang jelas. Berdasarkan pemberitaan dari www.selamatkanbumi.com yang berjudul Batalnya Pameran Solidaritas Tolak Bandara di Desa Budaya Nitiprayan, dituliskan bahwa pembubaran tersebut berlangsung karena permintaan Kepala Dukuh 03 Jeblog, Joko Pramono. Ia mengaku mendapat himbauan dari salah satu warga anggota Forkompida (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah) yang mempersoalkan legalitas acara tersebut. Ketika ditanya mengenai hubungan pembubaran dengan solidaritas perjuangan warga menolak bandara di Kulon Progo, secara spesifik Joko mengatakan bahwa ada keresahan dan ketakutan terhadap salah satu elemen dalam poster acara.

“Ya, saya sih nggak berkepentingan (dengan pembangunan Bandara NYIA). Lebih karena di pamfletnya itu ada (keterangan waktu acara) jam 18.00 sampai menang atau apa gitu? Ini kan, kalimat apa, ya? Saya juga kan, resah gitu lho.”

Joko Pramono selanjutnya berkoordinasi dengan Babinsa (Bintara Pembina Desa) dan Kapolsek Kasihan untuk membubarkan pameran ini. Elemen poster acara dan legalitas menjadi alasan mengapa pameran ini dibubarkan. Tentu tidak hanya sebatas itu. Aspek pandangan dan ekspresi politis terkait pembangunan bandara di Kulon Progo kiranya menjadi faktor utama pameran ini dibubarkan.

Peristiwa di atas bukan semata persoalan legal atau ilegal. Jika kita selama ini melabeli Nitiprayan sebagai kampung seniman dan hubungan warga serta seniman diasumsikan secara otomatis hadir, maka asumsi tersebut diuji disini.

Pada akhirnya saya tetap ingin mengatakan bahwa seni atau ‘yang estetis’, entah itu beranjak dari konsep kewargaan artistik, seni rupa penyadaran, atau patriotisme anarko-estetis, harus menerapkan tanggung jawab emansipatoris-humanis-sosial-sipil. Sebagai bagian dari realitas sosial ia harus dihadirkan di tengah masyarakat secara kritis. Kontemplasi yang diemban oleh praktik seni akan lebih efektif ketika ia membumi dalam aksi yang aktif.

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Selamat Hari Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 | Merry Christmas 2016 and Happy New Year 2017

 

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Natal dan Tahun Baru 2018

Menyambut Natal dan Tahun Baru 2017, Perpustakaan & Layanan Publik IVAA tutup pada 26 Desember 2017
dan 1 Januari 2018

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wishes you

a Merry Christmas and Happy New Year 2018
Welcoming the feast of Christmas and New Year 2017, IVAA Library and Public Service closed from December 26, 2017
and January 1, 2018

BULETIN IVAA DWI BULANAN | SEPTEMBER-DESEMBER 2017

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi September-Desember 2017

EDISI KHUSUS PASCA FESTIVAL ARSIP
“SETELAH PERAYAAN”

Salam hangat, Pembaca. Pada purnama terakhir setiap tahunnya, Jogja selalu dirubung oleh acara-acara seni budaya yang semakin lama kian beragam dan tersebar di berbagai penjuru kota. Selain acara rutin tahunan, ada juga acara rutin dua tahunan, seperti Biennale Jogja yang tahun ini menyajikan tema “Age of Hope” di perhelatan yang ke XIV. Beberapa festival film juga secara rutin hadir di penghujung tahun, seperti JAFF dan Festival Film Dokumenter.

Pun demikian dengan acara musik seperti Ngayogjazz dan Pasar Keroncong di Kotagede. Belum lagi sebaran acara seni lainnya, baik berupa pameran seni rupa maupun pertunjukan yang berlangsung di berbagai ruang seni, rumah budaya, dan galeri. Seluruh acara itu seolah menandakan bahwa Jogja bergembira menutup tahun ini, juga riang menyambut tahun selanjutnya.

Di waktu yang sama, IVAA juga cukup padat dengan berbagai kewajiban akhir tahun, baik dari sisi kewajiban organisasi maupun program. Berbagai program sedang kami kerjakan saat ini, di antaranya ialah penyusunan buku Post-event Festival Arsip (Fest!Sip) serta Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Jilid II. Kegiatan kelembagaan yang terkait dengan penguatan organisasi dan visi IVAA, juga menjadi agenda penting yang tak dapat digeser.

Di keriuhan momen itulah, kami memutuskan untuk menghadirkan buletin ke ruang baca Anda dengan edisi khusus. Beberapa rubrik yang biasanya Anda temukan, sengaja kami sembunyikan sementara waktu. Hanya sementara. Sebab di antara paralel kegiatan, kami membutuhkan jeda, sebagaimana Anda butuh piknik di sela kesibukan. Tapi sayangnya, jeda itu bukan piknik bagi kami, melainkan menjadi ruang refleksi, baik untuk kerja IVAA secara keseluruhan maupun kerja IVAA dalam Festival Arsip.

Dalam konteks Festival Arsip misalnya, kami merasa perlu untuk memposisikan keberadaan IVAA sebagai lembaga arsip seni rupa yang sedang berupaya mengevaluasi dan berbenah diri. Festival Arsip ialah satu di antara cara-cara untuk memanen berbagai komentar dan masukan dari publiknya. Dua hal itu menjadi satu dasar dari serentetan titik pijak bagi kami untuk merumuskan arah IVAA di tahun-tahun mendatang. Berbagai penilaian yang muncul pada saat penyelenggaraan Festival Arsip tentu kami hargai sebagai bentuk apresiasi.

Sebagai salah satu acara yang menawarkan konten dan berupaya kerja secara kontekstual, tim Festival Arsip berikhitar untuk menjaga agar Fest!Sip dapat mencengkeram kuat dalam ingatan publik. Harapan kami sederhana. Kami ingin Fest!Sip IVAA diingat melalui kompilasi catatan kritisnya, karena kerja kebudayaan merupakan kerja bersama, kerja kolektif. Sehingga kekurangan dan “bolong”nya suatu acara kebudayaan bisa menjadi catatan bersama, sebab kerja kebudayaan akan terus bergulir dan berlanjut secara estafet.  

Semoga kita semua selalu diberi semangat kebersamaan dalam mewujudkan kerja kebudayaan yang kritis dan berorientasi pada kemanusiaan dan pengetahuan. Selamat menyambut tahun yang baru, selamat membaca dan berdinamika!

Lisistrata Lusandiana
Pimpinan Redaksi


Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto

Sorotan Arsip
Koleksi Arsip IVAA; Poster Peristiwa Seni 1987 – 2015
Oleh: Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa
Sorotan Pustaka September-Desember 2017


Tim Redaksi Buletin IVAA Mei-Juni 2017
Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Sukma Smita ⚫ Penyunting: Fairuzul Mumtaz ⚫ Penulis: Santosa, Dwi Rahmanto, Putri Alit Mranani ⚫ Kontributor: Rudy Rinaldi  ⚫ Ilustrasi Sampul dan Desain Postcard Natal – Tahun Baru: Dwi Rachmanto ⚫ Tata Letak & Distribusi: Tiatira Saputri, Melisa Angela

#Sorotan Arsip September-Desember 2017

Koleksi Arsip IVAA; Poster Peristiwa Seni 1987 – 2015

Oleh: Putri Alit Mranani

Pada 2016, Tim Arsip IVAA dibantu tenaga outsource Esza Parapaga dan Sujatmiko menata ulang serta mendigitalisasikan koleksi poster peristiwa seni yang tersimpan di ruang storage IVAA. Tercatat ada 2.244 poster dalam kurun 1987 – 2015 yang sudah didigitalisasi. Koleksi arsip poster ini diperoleh dari kiriman yang diterima dan dipasang pada papan pengumuman IVAA, serta beberapa poster merupakan sumbangan.

Koleksi arsip poster IVAA yang paling tua adalah poster Pameran Seni Grafis. Pameran itu diselenggarakan oleh Fakutas Seni Rupa dan Desain (FSRD), ISI, Yogyakarta, sebagai pameran tugas akhir Suwarno pada 1987. Di tahun yang sama, terdapat poster bertajuk Forum Komunikasi Seni, yang menginfokan adanya pameran oleh Handrio, V.A. Sudiro, dan Aming Prayitno di Sasana Aji Yasa FSRD, ISI, Yogyakarta.

Tidak semua koleksi poster di IVAA tentang pameran seni rupa. Oleh sebab itu, perlu dikategorisasi sesuai peristiwanya seperti pameran, pertunjukkan, undangan residensi, konser musik, artist’s talk, festival, diskusi, presentasi, bedah buku, workshop, hibah, seminar, konferensi, pemutaran film, peluncuran buku, pembukaan galeri/studio, bazaar, sayembara, penggalangan dana, kompetisi, lowongan pekerjaan, poster band, dan propaganda.

Daftar koleksi poster tersebut dapat dilihat melalui tautan  http://bit.ly/2BsLlVY. Sementara untuk mengakses arsip poter dan koleksi lainnya, silakan membuka tautan http://bit.ly/2nc3vrV. Jadilah KawanIVAA!


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

#Sorotan Dokumentasi September – Desember 2017

Seni Sibuk di Akhir Tahun 2017;
Sekilas Sorotan Dokumentasi

Oleh: Dwi Rachmanto

Salah satu agenda dalam perhelatan Biennale Jogja (BJ) XIV 2017 adalah program bersama komunitas dan galeri seni di Yogyakarta, yang dirangkum dalam Paralel Event. Agenda ini bercabang menjadi 47 program dalam 30 ruang dan melibatkan 300 seniman sepanjang putaran satu purnama lebih, 29 Oktober – 03 Desember 2017.

Kuantitatif event ini cukup membuktikan bahwa Yogyakarta sebagai pusat perhelatan seni rupa di Indonesia. Apresiasi pun tak pernah surut, baik oleh penyelenggara event, seniman, penikmat seni maupun masyarakat umum atas presentasi karya seni yang tanpa henti.

Berjalan mundur dari penyelenggaraan Paralel event Biennale Jogja XIV, kita bisa melihat berbagai kegiatan dengan turunan program dalam jumlah cukup besar. Sebut saja Jogja International Art Festival pada 22 – 26 Oktober 2017. Sejumlah seniman dari Asia –Eropa turut terlibat dalam pameran bersama ini.

Keterlibatan seniman internasional juga terlihat dalam Jogja Street Sculpture Project #2, yang dimulai bersamaan dengan Hari Kesehatan Jiwa Nasional. Event yang dikelola oleh Asosisasi Pematung Indonesia (API) ini, melibatkan seniman patung dari Yogyakarta sendiri, luar kota, dan luar negeri. 54 karya dari 50 pematung menghias wilayah heritage Kotabaru, Yogyakarta.

Sementara itu, Indonesian Visual Art Archive (IVAA) juga urun dalam meramaikan seni di Yogyakarta sejak 19 September – 1 Oktober 2017. Selama 12 putaran matahari itu, IVAA menyelenggarakan Festival Arsip di Pusat Kebudayaan Hadisoemantri (PKKH) dan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Rangkaiannya, selain pameran seni rupa berbasis Arsip yang melibatkan 15 seniman atau kelompok, juga ada pameran komunitas, bursa arsip, dan Seminar Internasional. Secara kuantitatif, keterlibatan seniman, pekerja seni, serta komunitas seni dan budaya tidak kurang dari angka 300.

Dua bulan sebelum IVAA, Studio Grafis Minggiran bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY menyita perhatian warga Yogyakarta selama 18 – 31 Juli 2017. Mereka menggelar Pekan Seni Grafis Yogyakarta untuk kali pertamanya di Jogja Nasional Museum.

522 KM dari Yogyakarta, di Jakarta ada Inaugurasi Museum MACAN dengan judul “Seni Berubah. Dunia Berubah.” Melalui pameran ini, kita diajak menjelajahi koleksi Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) yang memajang 90 karya seniman Indonesia dan internasional sebagai koleksi dari museum itu sendiri. Dikurasi bersama oleh Agung Hujatnika dan Charles Esche, karya-karya yang ditampilkan mengeksplorasi narasi sejarah seni Indonesia dengan dunia dalam kurun waktu 178 tahun.

Di sisi lain ibu kota, perhelatan Jakarta Biennale 2017 dengan judul “JIWA” digelar. Penyelenggaraan event tahunan ini berpusat di Gudang Sarinah Ekosistem, sebuah gudang seluas 3000 meter persegi. Sepanjang 4 November – 10 Desember 2017, rangkaian event ini ingin mempertemukan karya seni dengan lapisan masyarakat yang lebih luas. Beberapa museum pun digaet demi keberhasilan kegiatan Museum Sejarah Jakarta, Museum Tekstil, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Taman Prasasti, dan Museum Wayang.

Jakarta Biennale 2017 dirancang melalui kolaborasi antara Melati Suryodarmo yang bertindak sebagai Direktur Artistik, dengan Annissa Gultom, Vit Havranek, Philippe Pirotte, dan Hendro Wiyanto. Biennale kali ini melibatkan 52 seniman dari dalam negeri maupum mancanegara.

Selain Yogyakarta dan Jakarta, beberapa kota lain juga menggelar event yang serupa dan waktunya tidak terlalu terpaut jauh. Di Makassar kita mengenal Makassar Biennale, yang tahun ini bertajuk Maritim. Event ini dibuka di Pelataran Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar. Selain itu, ada juga Biennale Jatim yang diselenggarakan di Jawa Timur.

Tidak kurang dari 55 event yang berhasil dirangkum oleh Tim Dokumentasi IVAA sepanjang Oktober – November 2017. Dokumentasi itu kini disimpan dan dikelola secara rapi dan tertata. Dari seluruh kegiatan tersebut, Festival Arsip menduduki peringkat pertama dalam hal jumlah agenda, yakni 103 agenda. Pendokumentasi sekian banyak kegiatan itu tidak dilakukan oleh awak IVAA sendiri, melainkan dibantu oleh mahasiswa magang dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, baik dari Jurusan Tata Kelola Seni maupun Media Rekam.



Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

[Sorotan Dokumentasi] Biennale Jogja XIV: Merangkum Peristiwa Sosial dalam Peristiwa Seni

Oleh: Rudi Rinaldi

Biennale Jogja tahun ini fokus bekerja sama dengan negara Brasil, yang secara letak geografisnya sejajar dengan Indonesia, yaitu dilewati oleh garis khatulistiwa. Biennale Equator menjadi upaya nyata untuk membangun definisi baru berkaitan dengan gagasan antarnegara, serta memberikan alternatif terhadap relasi antarnegara dalam kancah globalisasi secara umum.

Pameran Utama

Tujuan dari kerja sama dengan negara dari Benua Amerika tersebut adalah untuk mewujudkan pameran seni rupa sebagai agenda utama dalam gelaran besar dua tahunan ini. Dengan mengangkat tema “Stage Of Hopelessness”, pameran Biennale Jogja XIV: Equator #4 diselenggarakan pada 2 November hingga 10 Desember 2017.

Seluruh gedung pamer Jogja Nasional Museum (JNM) Yogyakarta digunakan sebagai ruang utama pameran yang melibatkan 39 perupa undangan. 27 di antaranya merupakan perupa WNI yang aktif berkarya dalam enam tahun terakhir, 12 sisanya adalah perupa asal Brasil. Tiga di antaranya kemudian mengikuti residensi di Yogyakarta. Pemilihan perupa dari Brasil tersebut berdasarkan rekomendasi Gabriel Bogossian, seorang kurator dan organisasi video asal Brasil.

Bertindak sebagai kurator adalah Sigit Pius Kuncoro, dibantu oleh Forum Ceblang Ceblung sebagai Direktur Artistik. Keduanya bekerja sama merespon ruang pamer dengan format tujuh poin yang bebas diinterpretasi oleh para perupa peserta pameran. Tujuh poin itu adalah Penyangkalan atas Kenyataan, Kemarahan pada Keadaan, Keputusasaan atas Kehilangan, Kepasrahan atas Ketiadaan, Penghiburan atas Kehilangan, Kesadaran pada Keadaan, dan Penerimaan atas Kenyataan.

Selain lukisan, pameran utama ini juga menampilkan beragam medium seperti patung, desain grafis, instalasi, video, dan fotografi. Karya-karya itu ditempatkan di ruang-ruang yang dirancang secara strategis untuk menguatkan masing-masing tema yang disampaikan. Sementara di luar gedung, sebuah karya ditampilkan yang secara eksplisit berintegrasi dengan karya-karya di ruang pamer.

Mencermati karya para seniman, nyaris seluruhnya adalah karya baru. Beberapa karya memang pernah tampil di hadapan publik sebelumnya, namun telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan tema utama pameran. Meski demikian, hal ini tidak akan mengganggu Anda dalam menikmati keseluruhan karya yang dipamerkan.

Agenda Pendukung

Parallel Event diselenggarakan pada 28 Oktober hingga 3 Desember 2017. Program ini terdiri dari pameran di beberapa titik di Yogyakarta dengan merangkul keterlibatan ruang dan komunitas seni yang lebih luas. Pelibatan ini menjadi sangat penting untuk membangun pemahaman bahwa seni bisa dilihat sebagai satu produksi pengetahuan yang tidak hanya ‘terpusat’ pada satu titik tertentu.

Selain agenda di atas, dibentuk pula Biennale Forum sebagai penyelenggara diskusi, kuliah umum, simposium, artist talk, dan workshop yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang kritik serta ruang pembacaan. Agenda ini terlaksana dari 4 November hingga 7 Desember 2017 di beberapa titik di Yogyakarta. Biennale Forum selalu mengangkat tema yang berbeda dan aktual pada setiap sesinya. Hal ini dimaksudkan untuk merespon isu-isu peristiwa seni atau berbagai peristiwa yang sehari-hari menjadi perbincangan hangat di masyarakat kita.

Bagian terakhir dari agenda pendukung pameran utama Biennale Jogja adalah Festival Equator. Diagendakan pada 10 Oktober hingga 2 November 2017, Festival Equator menjadi rangkaian peristiwa untuk mengawali sekaligus mendukung acara sebelum pembukaan Biennale Jogja. Festival ini mengundang beberapa seniman untuk membuat karya yang berhadapan langsung dengan kenyataan sosial. Dengan demikian, diharapkan masyarakat merasakan semangat hajatan berkesenian di tengah dinamika kehidupan sosial.

Tiga Narasi Besar

Sigit Pius Kuncoro selaku kurator secara spesifik menjelaskan 3 narasi besar yang dibangun berkenaan pengelenggaran Biennale Jogja XIV tahun ini, yaitu:

  1. Organizing Chaos

Bagian atau mengorganisasi kekacauan ini menjadi permulaan dari seluruh rangkaian acara yang diwujudkan dalam Festival Equator. Organizing chaos dalam hal ini membicarakan tentang ketidaklaziman yang sulit untuk dimengerti di tengah-tengah masyarakat hingga merebaknya wabah kegilaan sebagai penanda akan terjadinya perubahan.

2. Stage of Hopelessness

Bentuk dari narasi ini adalah pameran utama Biennale Jogja XIV. Di dalamnya terdapat tujuh poin yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.

3. Managing Hope

Bagian ini mengelola harapan, mencoba menawarkan percakapan-percakapan produktif yang dilandasi kesadaran akan hadirnya momen-momen traumatik dalam kehidupan kita sebagai momen estetik.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.