Category Archives: E-newsletter

Bertukar Tangkap dengan Lepas: Meneroka Penahbisan Seniman Muda di Era Digital

Oleh Mega Nur Anggraeni Simanjuntak

Zaman bergerak, manusianya berarak mengorbit pada lini masa yang bisa jadi benar-benar baru. Perubahan menjadi mahar yang tertunaikan di setiap geliat zaman, menandakan bahwa kondisi sosial masyarakat begitu dinamis. Para penulis kemudian menjadi garda depan dalam proses pencatatan narasi sejarah dari satu generasi ke generasi berikutnya—yang objektivitasnya tentu saja dapat dipertanyakan kembali. Dan hari ini, belum terlambat kiranya untuk mengucapkan selamat datang di era digital, era di mana perkembangan teknologi informasi menawarkan ragam kemudahan dan fantasi sekaligus menimbulkan patologi sebagai konsekuensi.

Tersebutlah internet sebagai salah satu penemuan paling mutakhir abad 20. Kehadirannya di Indonesia awal 90-an, di mana Soeharto masih memegang tampuk kekuasaan, mampu menjadi jalan tikus untuk mengabarkan perlawanan. Sebab di internet, pengawasan yang dilakukan pemerintah sebelumnya melalui tayangan televisi, media cetak, atau radio, dirasa tidak terlalu ketat. Diskusi politik dilakukan melalui mailing list (milis), di mana hal tersebut kurang memungkinkan jika dilakukan melalui media arus utama atau bahkan digelar di ruang publik. Meski bukan satu-satunya jalan mengantarkan Soeharto pada senjakala kekuasaannya, internet—meminjam Geert Lovink—melalui jejaringnya tidak hanya mampu mengakhiri sejarah, melainkan memproduksi sesuatu sesuai jalur politiknya.[1]

Berkaca pada realitas hari ini, di mana internet menyaru sebagai bahasa sehari-hari dalam berkomunikasi melalui ragam platform berjejaring yang tersedia, menarik kemudian menyoal kembali bentuk ‘perlawanan’ terhadap arus utama—baik secara langsung maupun tidak. Belum pudar di ingatan tentang munculnya idola-idola baru yang tenar melalui ragam platform tersebut. Di tahun 2016 misalnya, santer terdengar adagium “Youtube lebih dari Tv, boom!” yang dilontarkan para youtuber. Atau di Instagram, para idola ini lebih dikenal sebagai selebgram di mana jumlah pengikut (follower) mencapai puluhan ribu. Para mikro-seleb ini semacam memiliki jalan pintas untuk menjadi tenar tanpa melalui agensi—seperti yang dilakukan kebanyakan selebritas papan atas. Mengacu Lovink, kehadiran mikro-seleb ini menunjukkan perlawanan tersendiri yang diakomodir oleh jejaring dunia maya. Dalam artian, perlawanan tidak melulu mengenai menumbangkan orde, melainkan mencari jalan baru untuk mendapatkan posisi juga merupakan bentuk resistensi. Sebab, mereka mampu menghimpun massa dan menyebarkan pengaruhnya.

Lantas, apa hubungannya paparan demikian dengan seni rupa? Alih-alih sifat internet yang demokratis, di mana siapa pun dapat menjadi apa pun, pola tersebut di atas terjadi pula pada laku perupa muda hari ini. Melalui Instagram, platform berjejaring berbasis visual ini cukup digandrungi untuk mendistribusikan karyanya. Banyak bermunculan kemudian nama-nama yang cukup asing di medan sosial seni rupa Yogyakarta namun gemanya sudah sampai ke belahan lain dunia. Fenomena ini seakan menggoyahkan status quo medan seni rupa kurang lebih tiga dekade ke belakang. Lebih jauh, geliat perupa muda di jejaring Instagram seolah membongkar patronase yang terjadi. Katakanlah, berpameran di ruang-ruang berlabel ‘angker’ seperti Cemeti, Kedai Kebun Forum, diliput oleh Tempo, dan sebagainya, bukan lagi menjadi jalan satu-satunya yang harus ditempuh untuk ‘diakui’ sebagai seniman. Tentu saja, asumsi demikian perlu diteliti lebih dalam agar tidak menimbulkan kerancuan dan berhenti pada sinisme belaka atau simplifikasi terhadap fenomena. Lantas, bagaimana proses pentahbisan sebagai seorang seniman di Instagram? Menggunakan pendekatan milik Pierre Bourdieu, tulisan ini mencoba mendedah singgungan yang terjadi antara internet dengan medan seni rupa di Yogyakarta kaitannya dengan pentahbisan.

 

Penahbisan: Identitas dan Posisi

St. Sunardi dalam tulisannya bertajuk Strategi Identifikasi Lewat Seni memaparkan setidaknya ada empat macam identitas yang bisa dipakai sebagai pintu masuk untuk berbicara seni di Indonesia: identitas seniman (identitas yang muncul sebagai hasil negosiasi antara seniman dengan image tentang seniman dalam masyarakat), identitas politis (identitas yang muncul sebagai hasil tarik ulur antar seniman baik secara pribadi maupun kelompok dan kekuatan politik atau negara), identitas etnik atau kultural (identitas seni dalam menghadapi tradisi), dan identitas profesional (identitas seniman yang diciptakan oleh sistem pembagian kerja kapitalis).[2] Dalam artikel tersebut, ia lebih menjelaskan mengenai identitas seniman, di mana menurutnya identitas tersebut merupakan konsesi yang muncul di masyarakat berdasar laku hidup dan kecenderungan dari penampilan. Ia juga memberikan gambaran bahwa identitas seniman menyimpan paradoksnya sendiri: seniman sebagai Tuhan sekaligus pariah. Dalam artian, seniman dapat mengekspresikan daya serapnya terhadap dinamika masyarakat melalui bungkusan estetis. Namun, di sisi lain ia terasing dari masyarakat karena menjalankan nilainya sendiri yang kerap kali berbeda dari nilai-nilai umum.

Berpijak pada pemaparan St. Sunardi mengenai identitas melalui empat kategori tersebut, menarik kemudian untuk menjabarkan identitas profesional di era digital ini. Sementara itu, Agung Hujatnikajennong melalui Kurasi dan Kuasa: Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer di Indonesia menyebutkan bahwa dekade 1990-an merupakan era penting bagi medan seni rupa kontemporer di Indonesia. Identitas kurator mulai marak digunakan; ia terpampang dalam setiap poster publikasi pameran dan sebagainya—di mana sebelumnya masih sangat jarang. Seiring perkembangannya, identitas tersebut menyaru sebagai profesi. Adalah globalisasi sebagai tegangan yang tidak dapat dihindarkan. Dalam proses globalisasi, apa yang terjadi di medan seni rupa lokal selalu bertaut dengan yang terjadi di luar lokal, dan sebaliknya.[3] Ia juga tidak menampik kalau internet sebagai riak globalisasi, kemudian, memiliki sumbangsih terhadap medan seni rupa. Lantas, bagaimana dampaknya terhadap seniman kaitannya dengan identitas profesional?

Menyitir Farah Wardhani dalam artikelnya di majalah seni rupa Visual Arts, infrastruktur seni mencakup pendidikan seni, praktik seni, kesempatan pameran, wacana kritis, sektor komersial—jual-beli, dukungan komunitas independen, dan dukungan sektor publik serta institusional.[4] Enam elemen ini secara tersurat menunjukkan jalan yang seyogianya ditempuh oleh seseorang untuk dapat ditahbiskan sebagai seniman. Berpameran di galeri seni, misalnya, menjadi salah satu pintu yang sebaiknya dijelajahi untuk menambah modal seniman. Sebab karya seni, meminjam Bourdieu, merupakan karya yang dianggap sebagai aset simbolis (dan bukan sebagai aset ekonomi, yang bisa jadi juga ada).[5] Selain itu, ketika sebuah karya mampu hadir di ruang-ruang yang sebelumnya telah dimistifikasi atau karya tersebut dibeli oleh kolektor ternama, secara otomatis akan menambah modal simbolik bagi si seniman. Proses demikian adalah kultur yang terus direproduksi untuk menginstitusionalisasikan seni. Lebih lanjut menurut Bourdieu, ikhwal tersebut merupakan doxa atau aturan main tidak tertulis yang direproduksi terus menerus kemudian diamini secara begitu saja oleh agen-agen di dalamnya. Aturan tersebut diproduksi oleh agen-agen yang menempati posisi tertentu. Sehingga, praktik yang terjadi merupakan hasil dari subjektivitas objektif individu terhadap lingkungannya. Bahwa ketika seseorang telah ditahbiskan atau mendapatkan legitimasi, dengan serta merta ia menduduki posisi tertentu dalam sebuah struktur—dalam hal ini medan seni rupa. Semakin dekat posisi agen dengan sumber kekuasaan atau legitimasi, semakin besar peluangnya untuk mengakumulasikan modal-modal yang dimilikinya.

 

Instagram: Jalan Tikus bagi Perupa Muda dari Arus Utama

Tersebutlah lema perupa muda yang kembali populer di beberapa poster pameran atau diskusi seni rupa sepuluh tahun belakangan. Demikian itu dapat ditemukan dalam beberapa gelaran seperti Pameran Perupa Muda (Paperu) yang diselenggarakan tahunan oleh Festival Kesenian Yogyakarta, Pameran Perupa Muda oleh Sangkring Art Space, atau sebuah acara bertajuk Young Artist Who’s Talking About Young Artist yang digagas Ace House Collective. Dari sekian definisi mengenai siapa itu perupa muda, menarasikan perupa muda masih sebatas usia. Sementara membaca pemuda merupakan ihwal yang rumit (tricky). Daripadanya, menggunakan pendekatan Karl Mannheim mengenai generasi untuk menarasikan siapa itu perupa muda berdasarkan generasi dapat menjadi jalan tengahnya.

Konsep mengenai generasi pertama kali digaungkan Mannheim, sosiolog asal Jerman, dalam esainya bertajuk The Problem of Generation pada 1923. Mannheim mengejawantahkan generasi sebagai sekumpulan individu-individu yang hidup dalam satu era serta mengalami kejadian bersejarah—di mana kejadian itu menjadi arus utama peradaban. Pula, ikhwal demikian mampu membentuk kesadaran umum hanya jika mereka yang hidup di era tersebut berusia muda, memiliki kesadaran sosial, dan terlibat di dalamnya. Sebagai penegasan, sebuah generasi terlahir tidak hanya semata-mata berdasarkan rentang tahun kehadirannya di bumi, melainkan terbentuk pula karena pengaruh sosio-historisnya. Selain itu, Mannheim menggarisbawahi terdapat konflik antar generasi yang bisa jadi sangat sublim dan menjadi faktor mengapa sebuah generasi baru terlahir.

Dalam sejarah seni rupa Indonesia, situasi sosial-politik kerap kali mempengaruhi dinamikanya, di mana kemudian mampu menjadi tonggak perubahan dalam setiap generasi. Hari ini, tonggak tersebut adalah pengaruh dari perkembangan teknologi. Pada sub-bab sebelumnya, telah dipaparkan mengenai masifnya penggunaan Instagram oleh kalangan muda menengah perkotaan sebagai bahasa visual atas kesehariannya. Sedang bagi perupa muda, Instagram mampu menjadi jalan tikus dari dominasi aturan main dalam medan seni rupa. Jika tujuan dari menggelar pameran adalah mempertemukan seniman dengan publik, maka hari ini ihwal demikian tidak terbatas pada ruang fisik. ‘Kebebasan’ dalam mengkurasi, menyematkan narasi, perjumpaan dengan sektor komersial, juga berinteraksi dengan publik, terfasilitasi di Instagram. Seperti halnya yang dilakukan oleh Ryan Ady Putra (@ryanadyputra) dan Alberto Piliang (@albertopiliang), dua perupa muda berbasis di Yogyakarta yang namanya jarang muncul dalam peta medan seni rupa Yogyakarta namun sudah cukup dikenal publik yang tidak terbatas pada teritori.

Ryan Ady Putra sebenarnya sudah memulai geliatnya di seni rupa pada 2008 ketika ia berkuliah di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Ia pun pernah menjadi artisan salah satu seniman di Yogyakarta. Persinggungannya dengan generasi sebelumnya, memberikan kesadaran untuk memilih beredar di luar patron yakni melalui internet. Sebelumnya, ia menggunakan platform berjejaring lainnya seperti Facebook dan Tumblr, sedang pada 2013 ia secara intensif menggunakan Instagram. Karyanya banyak menyoal keseharian anak muda dengan kemasan “fun”. Kedekatannya dengan dunia skateboard, memberikan kemungkinan lain bagi karir kesenimanannya. Geliatnya mengunggah karya di Tumblr, membuahkan undangan baginya untuk berpameran di California dengan basis karya skate-graphic. Selain itu, konsistensinya mengunggah karya membuatnya menarik perhatian brand-brand kenamaan seperti Volcom dan Hurley, sehingga ia diminta untuk menjadi commission artist. Tidak hanya itu, ia pernah diliput oleh Juxtapoz Magazine online pada 2014 ketika berpameran “Permanent Vacation” di Deus Ex Machina, Bali. Bagai efek domino, tawaran lainnya mengalir dengan sendirinya. Terlebih, ketika ia membuat brand sendiri dengan nama: domestik.

Sedikit berbeda, Alberto Piliang baru menggunakan Instagram pada 2015. Sejak saat itu, ia dapat dikatakan sangat jarang berpameran di ruang-ruang fisik. Persinggungan dengan generasi sebelumnya memberikan kesadaran serupa dengan Ryan. Ia lebih sering menggunakan Instagram untuk mendistribusikan karyanya yang bergaya surealis dan kerap kali menyoal hiruk-pikuk eksistensi. Paling tidak, rata-rata ada empat karya terjual berupa drawing maupun digital print. Kedekatannya dengan musik alternatif, kerap mendatangkan tawaran baginya untuk membuat sampul album dari band-band tersebut atau menjadi commission artist pada majalah serupa.

Menariknya, kedua seniman muda ini dapat dikatakan tidak melewati ruang-ruang yang telah dimistifikasi di Yogyakarta: mereka memilih jalan tikus melalui Instagram. Di sana, laku yang dijalankan sebenarnya sama; untuk dikenali oleh publik di media sosial tersebut, menjadi sebuah keharusan untuk tekun mengunggah karyanya. Sebab dari situlah proses identifikasi oleh publik berlangsung.

Ada pun bentuk penahbisan yang terjadi, dapat dikategorikan ke dalam tiga babak, di mana proses legitimasi di internet menjadi bentuk yang cair. Babak pertama, dilakukan oleh diri seniman sendiri. Bentuk legitimasi seperti ini merupakan jalan keluar dari perdebatan identitas seniman di kalangan elit. Serta, difasilitasi pula oleh Instagram di mana setiap akun berhak memilih predikatnya sendiri dalam profil, tidak terkecuali predikat sebagai seniman. Babak kedua terletak pada infrastruktur seni yang mengalami pergeseran: ruang pamer bukan lagi galeri fisik, melainkan akun di Instagram; publik seni menjadi lebih luas, pasar bisa diciptakan di depan layar, wacana kritis menjadi pilihan—di mana caption merupakan narasi pendukung. Babak ketiga, merupakan penangguhan di luar agen-agen sebelumnya yakni media massa, baik alternatif maupun arus utama. Melalui media, setidaknya terdapat mata ketiga yang cukup objektif—terlepas dari kepentingannya—untuk memberitakan seniman kepada publik. Bentuk legitimasi ini biasanya dimulai dari lingkup-lingkup terdekat. Seperti misalnya, gaya surealis dan kegelapan Alberto Piliang diulas dalam majalah online yang juga dekat dengan isu-isu tersebut atau di kalangan skena musik alternatif. Sedangkan Ryan yang dekat dengan imaji-imaji skate-board dibungkus nuansa gembira, diberitakan dalam majalah online seperti Juxtapoz Magz.

Potret serupa itu sangat mungkin terjadi, mengingat arena merupakan ruang artikulasi kelindan habitus dan modal untuk memperebutkan legitimasi. Ketika agen tidak mendapatkan posisi tertentu atau mengalami dominasi oleh agen atau struktur di dalamnya, ia cenderung resisten terhadap struktur yang ada. Adalah rahasia umum ketika seniman muda tidak dengan mudahnya mendapatkan posisi dalam medan seni rupa. Maka dari itu, ketika para seniman muda ini memiliki kesadaran akan hal tersebut, mereka memilih untuk beredar di luar medan yang telah dilalui oleh generasi sebelumnya. Sejalan dengan perkembangan zaman, laku yang dijalankan oleh seniman muda ini melalui internet mengantarkan mereka pada pemaknaan baru atas identitas seniman.

Sementara itu, identitas yang terkonstruksi kemudian merupakan ulang-alik antara identitas seniman dan identitas profesional. Ketika perjumpaan fisik digantikan oleh layar, maka laku identitas seniman menjadi kurang dapat terbaca. Dalam artian, karyanya berbicara, namun kepribadian si seniman bisa jadi tidak begitu tampak. Muncul kemudian penilaian berupa, “Dia bukan seniman, melainkan ilustrator”. Sebab, yang lebih tampak ialah identitas profesional, di mana seniman muda ini lebih banyak bergerak di sektor komersil. Ulang-alik karena kedua hal tersebut saling beririsan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa doxa dalam medan seni rupa Yogyakarta mulai mengalami pergeseran dengan adanya internet melalui ragam platform khususnya Instagram sebagai heterodoxa. Bentuk penahbisan yang terjadi setidaknya mengalami pergeseran, yakni perbedaan ruang dan bentuk legitimasi itu sendiri menjadi lebih cair di dunia maya. Terlebih, mengingat keduanya merupakan generasi yang tumbuh kembangnya diasuh oleh kemajuan zaman berupa teknologi, narasi besar akan kanonisasi atau mistifikasi ruang-ruang di Yogyakarta bisa jadi tidak lagi penting. Sebab mereka dapat mengakses apa pun dan berjejaring dengan siapa pun. Namun, bagaimana jadinya ketika usaha yang sedang dilakukan tersebut kemudian terputus jika platform-platform internet tersebut ditutup?

 

***

Kalimat “Bertukar Tangkap Dengan Lepas” merupakan penggalan puisi dari Amir Hamzah berjudul “Padamu Jua”. Juga pernah digunakan oleh Teater Garasi sebagai judul kumpulan esai 20 tahun Teater Garasi.

DAFTAR PUSTAKA

Becker, Howard Saul. 1982. Art Worlds. London: University of California Press.

Bourdieu, Pierre. 2010. Arena Produksi Kultural: Sebuah Kajian Sosiologi Budaya. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Bourdieu, Pierre., Wacquant, Loic J. D. 1992. An Invitation to Reflexive Sociology. Cambridge: Polity Press.

Grenfell, Michael. 2008. Pierre Bourdieu Key Concepts. Stocksfield: Acumen Publishing.

Hujatnikajennong, Agung. 2015. Kurasi dan Kuasa: Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer di Indonesia. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

Lovink, Geert. 2005. The Principle of Notworking: Concepts in Critical Internet Culture. Hogeschool van Amsterdam: HVA Publiciaties.

Palfrey, John., Grasser, Urs.. 2008. Born Digital: Understanding The First Generation of Digital Natives. New York: Basic Book.

Majalah Seni Rupa Visual Art Vol. 4, No. 24, April-Mei 2008

Vincent, Alice. 2014. How Has The Internet Changed Art terarsip dalam http://www.telegraph.co.uk/culture/art/art-features/11130492/How-has-the-internet-changed-art.html diakses pada 18 Januari 2018

http://ucca.org.cn/wp-content/uploads/2014/07/PAI_booklet_en.pdf diakses pada 18 Januari 2018

http://www.telegraph.co.uk/culture/art/art-features/11130492/How-has-the-internet-changed-art.html diakses pada 18 Januari 2018

 

[1] Dr. Geert Lovink. 2005. The Principle of Notworking: Concepts in Critical Internet Culture. Hogeschool van Amsterdam: HVA Publiciaties. Hal. 9

[2]St. Sunardi. ‘Strategi Identifikasi Lewat Seni’ dalam ‘Sorak-Sorai Identitas’. Hlm 66

[3] Agung Hujatnikajennong. 2015. Kurasi dan Kuasa: Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer di Indonesia. Tangerang Selatan: Marjin Kiri. (Hlm. 4)

[4] Farah Wardani. Urgently Needed: Art Managers: Ketika Seni Rupa Jadi Industri  terarsip dalam majalah seni rupa Visual Art Vol. 4, No. 24, April-Mei 2008. Hlm. 66

[5] Pierre Bourdieu. 2010. Arena Produksi Kultural: Sebuah Kajian Sosiologi Budaya. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Hlm. 166

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2019.

Magang IVAA Periode April-Juni 2019

Mengajak kawan-kawan untuk belajar bersama di IVAA dalam bidang:

  1. Pengarsipan yang meliputi kerja dokumentasi, pencatatan hingga pengolahan materi dan data.
  2. Perpustakaan yang meliputi kerja pengisian katalog perpustakaan online hingga menulis ringkasan buku koleksi perpustakaan IVAA.

Catatan:

  1. Bersedia mengikuti program magang minimal 3 bulan dengan minimal kehadiran 4 hari kerja atau 32 jam dalam satu minggu, di bulan April-Juni 2019.
  2. Bersedia melewati masa uji coba magang selama satu minggu sebagai bagian dari seleksi.
  3. Mengirimkan resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi dan surat motivasi (termasuk pilihan bidang). Jika mendaftar di bidang pengarsipan, sertakan contoh hasil dokumentasi berupa foto atau video.
  4. Menyertakan surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa).
  5. Detail persyaratan dan pertanyaan-pertanyaan mengenai Program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org, dengan subjek email: Magang A 2019.
  6. Pendaftaran magang dibuka sampai tanggal 21 Maret 2019.

Artikel ini merupakan rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2019.

Riset Pelaku Seni dan Pengguna Arsip IVAA

Arsip dan pengarsipan IVAA adalah entitas serta praktik yang tidak konstan dan terbatas. Sangat layak untuk melihat dan memahaminya sebagai fenomena yang terus berkembang. Sepanjang perjalanannya, arsip-arsip IVAA telah banyak diaktivasi, baik oleh IVAA hingga ekosistem seni rupa yang lebih luas. Memasuki 2019, ada pertanyaan reflektif dari tim arsip IVAA, antara lain:

1. Sejauh dan sudah menjadi apa saja arsip-arsip IVAA yang diaktivasi menjadi sumber-sumber penelitian hingga karya seni?
IVAA sebagai lembaga arsip seringkali menjadi rujukan peneliti, kurator, hingga seniman untuk mencari referensi, baik foto dokumentasi, katalog, digitalisasi karya, atau referensi buku. Hanya saja sejauh ini, IVAA sulit melacak secara pasti feedback apa yang diterima oleh IVAA. Persoalan utama bukan tentang keuntungan material, tetapi ingin mendapat gambaran secara lebih luas, di mana posisi arsip-arsip yang dimiliki dan dikelola oleh IVAA dalam perkembangan wacana seni rupa? Apakah selama ini sudah selaras dengan visi jangka panjang dan kerja harian IVAA? Apakah kerja pengarsipan IVAA yang berjalan telah menjadi salah satu pilar wacana dominan atau berada dalam kutub perkembangan yang berbeda?

2. Sejauh apa user/ pengakses online archive (OA) IVAA menjelajahi arsip yang mereka butuhkan?
Catatan mengenai ini secara umum terlihat dalam data statistik google analytics. Hanya saja, kami memerlukan pembacaan yang lebih detail mengenai, misal: kenapa laman-laman di OA yang paling banyak diakses adalah profil seniman/ kelompok seni angkatan Basoeki Abdullah, Affandi, Persagi, SIM, dll.

3.  Bagaimana pribadi/ lembaga/ inisiator peristiwa seni membayangkan praktek pengarsipan terhadap peristiwa seni itu sendiri? Selama ini pengarsipan macam apa yang sudah dilakukan?Masih terkait dengan pertanyaan poin 2, kerja harian IVAA sejauh ini sangat digerakkan oleh kerja dokumentasi, terutama dokumentasi peristiwa seni baik berbasis pameran, seminar, diskusi, aksi massa, dll. Sementara itu, berdasarkan data awal yang diperoleh dari google analytics, halaman peristiwa seni tidak banyak diakses. Dengan pertanyaan poin 3 ini, kami ingin mendapat gambaran lebih detail mengenai fenomena yang diarsipkan atau basis kerja pengarsipan IVAA dengan kebutuhan publik akan data, termasuk penyelenggara atau inisiator peristiwa seni.

4. Terakhir, di dalam era digital, di mana semua orang bisa mendokumentasikan (yang kami anggap sebagai langkah pertama kerja pengarsipan), keterbukaan akses data semakin mudah, pertanyaan yang hendak kami ajukan adalah: bagaimana menyelaraskan kerangka kerja pengarsipan dengan wacana seni yang berkembang?

Rangkaian pertanyaan ini ingin kami elaborasi bersama dengan para pelaku seni dan pengguna arsip IVAA yang terdiri dari mahasiswa, dosen, peneliti, seniman, kurator, hingga manajer galeri dan event. Kuesioner menjadi salah satu instrumen di dalam metode riset yang sedang kami kerjakan. Data statistik mengenai perilaku user pada periode Februari 2018-Januari 2019 yang kami peroleh dari google analytics menjadi titik tolak keberangkatan kami memulai riset yang lebih spesifik. Data statistik dari google analytics tersebut akan kami dialogkan dengan data dari riset kami yang lebih spesifik ini. Kuesioner akan didistribusikan dalam durasi kurang lebih 2 bulan, terhitung Maret-April, secara digital.

Ini merupakan cara untuk memperoleh umpan-balik dari kerja-kerja pengarsipan, yang meliputi dokumentasi, penyediaan, dan aktivasi yang selama ini dilakukan oleh IVAA. Juga, kami berniat untuk sekaligus membawa kerja dan paradigma pengarsipan IVAA berjalan beriringan dengan produksi pengetahuan dalam skena seni rupa. Maka dari itu, Tim Arsip IVAA ingin mengajak seluruh kawan-kawan IVAA mewujudkan hal tersebut, dengan sejenak meluangkan waktu mengisi e-kuesioner pada tautan berikut ini:

http://bit.ly/RisetArsipIVAA 

Artikel ini merupakan rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2019.

#NgobrolIVAA:  Warisan Kolonial & Seni Kontemporer – Jithinlal N R dan Kerstin Winking

#NgobrolIVAA
Warisan Kolonial & Seni Kontemporer
.
Thursday, 21st February 2019
4-6 PM
At Rumah IVAA


.
Hai Kawan IVAA,
Jithinlal N R dan Kerstin Winking akan mampir ke IVAA dan membagikan kisahnya dalam mempersiapkan pameran berjudul ‘Mindful Circulations’. Mempertemukan 12 seniman dari Indonesia, India dan Belanda, ‘Mindful Circulations’ mengeksplorasi tema seputar warisan kolonial dan kaitannya dengan praktik seni kontemporer, dan akan berlangsung di Museum Dr. Bhau Daji Lad, Mumbai, India.
Jithinlal N R ialah seniman dari Kerala yang berdomisili di Vadodara, India, yang banyak menaruh perhatian pada representasi komunitas terpinggirkan di negara asalnya. Melalui keterlibatannya ia memeriksa sejauh mana struktur sosial berdampak pada gagasan, identitas dan estetika.
Sampai Besok…
.
.
Dear Kawan IVAA,
Jithinlal N R and Kerstin Winking will visit IVAA and share the exhibition concept of ‘Mindful Circulation’. The exhibition features 12 artists from Indonesia, India and Netherland who engage with colonial legacies in relation to contemporary art. The exhibition will take place in Dr. Bhau Daji Lad Mumbai City Museum, India.
Jithinlal N R is India based artist who pays much attention to the representation of marginalized communities in his home country. Through his social involvement he examined the extent to which social structures have an impact on ideas, identity and aesthetics.
Please come and join the talk 🙂

#arsipivaa#dokumentasiivaa #ivaaarchive#documentationivaa #archive #art#senirupa #visualart #arsipsenibudaya#arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa#indonesianvisualartarchive

Jogja Noise Bombing: From The Street To The Stage, a documentary book about Jogja Noise Bombing

.

@warningbooks & Jogja Noise Bombing present:

Book launching and discussion by
Sean Stellfox @bossbattle_
@IndraMenus
@SoniTriantoro
@AzziefKhaliq
.

Performance by:
1. Mahamboro @ahamborr x Tesla Manaf
2. Eira
3. Made Dharma @rustynailsssss
4. Pierre Pierre Pierre (France)
.

26th January 2019
7-9 PM
At @IVAA_id
Gang Hiperkes 188 A-B Jalan Ireda, Dipowinatan Keparakan, Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta.

.
Supported by:
@warningmagz
@warningbooks
@bukuakik
@ykbooking .

Seni Rupa di Lombok thn 1960-1990an

Hai..hai.. Sasih Gunalan akan mampir ke IVAA & bercerita tentang Seni Rupa di Lombok thn 1960-1990an. Bersama dg tim riset biennale jogja juga, acara ngobrol-ngobrol santai ini tentunya bisa diikuti oleh teman-teman yg berminat.
Seni rupa Lombok merupakan salah satu wacana kehidupan seni rupa yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Sebagai daerah yang, berada jauh dari pusat seni rupa yang ada di pulau Jawa. Lombok memiliki kehidupan sendiri yang ditopang oleh berbagai aspek yang lain. Kehidupan seni rupa modern di Lombok, yang tidak begitu menyeruak pada medan seni rupa nasional. Menjadi sebuah pemicu bagaimana menariknya menelusuri jejak-jejak kehidupan seni rupa Lombok yang tidak pernah diperbincangkan. Semoga, dengan segudang pundi-pundi karya seniman yang tertinggal, mampu menghantarkan kita bercerita banyak tentang berbagai aspek yang menghantarkan karya-karya tersebut dilahirkan.

Besok jumat, 25 januari. Pukul 15:00 di. RumahIVAA.

 

BULETIN IVAA DWI BULANAN | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Pembaca yang budiman, telah sampai kita pada penghujung tahun, buletin dwi bulanan IVAA menyapa kita dengan berbagai ulasan yang berisi beragam gelaran seni budaya di sekitar kita.

Sedikit berbeda dari edisi-edisi sebelumnya, Rubrik Baca Arsip kali ini tidak diisi oleh ulasan ataupun tulisan hasil elaborasi tim arsip dalam pembacaannya atas arsip IVAA secara tematik. Di Rubrik Arsip edisi ini kita menjumpai salah satu tulisan dari salah seorang partisipan yang telah selesai mengikuti program kelas belajar dan pengarsipan “TELUSUR”. Seusai keseluruhan proses, tulisan dari para partisipan ini akan dimuat satu persatu di buletin dwi bulanan IVAA. Pada edisi ini kita berkesempatan untuk membaca ulasan dari Gladhys Elliona Syahutari, berjudul “Kerja Berjejaring Seniman Muda Jakarta: Studi Kasus Buka Warung”. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa hubungan sosial dalam seni tidak bisa lepas dari kapitalisasi.

Di rubrik lain, kita masih bisa menjumpai gelaran yang sengaja kami garis bawahi dan ulas untuk memperluas ruang eksplorasi dan pembelajaran kami atas berbagai macam peristiwa seni yang hidup di sekitar kita. Catatan dari kawan magang juga kita sajikan di edisi ini. Tak lupa kita ketengahkan kabar dari Rumah IVAA yang selama setahun ini banyak berbenah diri, serta membuat berbagai perencanaan dalam menghadapi tantangan-tantangan di masa mendatang.

Selamat natal kami ucapkan, juga selamat hari Raya Galungan dan Kuningan pada kawan-kawan IVAA yang merayakan. Semoga tahun panas 2019 bisa kita hadapi dengan hati dingin.
Akhir kata, selamat membaca!

Lisistrata Lusandiana
Pemimpin Redaksi


I. Pengantar Redaksi
Oleh: Lisistrata Lusandiana

II. Kabar IVAA
Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi, Muhammad Indra Maulana

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa, Esha Jain, Muhammad Indra Maulana


Oleh: Ulva Ulravidah, Nisa Adzkiya


Oleh: Andya Sabila, Nurul Fajri

III. Agenda RumahIVAA
Oleh: Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi, Sukma Smita

IV. Baca Arsip

Baca Arsip
Oleh: Oleh Gladhys Elliona Syahutari
Kerja Berjejaring Seniman Muda Jakarta: Studi Kasus Buka Warung

V. Pengumuman Kantor
Oleh: Sukma Smita

Tim Redaksi Buletin IVAA November-Desember 2018

Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Krisnawan Wisnu Adi ⚫ Penyunting: Lisistrata Lusandiana dan Krisnawan Wisnu Adi ⚫ Penulis: Dwi Rahmanto, Krisnawan Wisnu Adi, Santosa, Hardiwan Prayogo, Sukma Smita ⚫ Kontributor: Andya Sabila, Muhammad Indra Maulana, Nurul Fajri, Ulva Ulravidah, Esha Jain, Nisa Adzkiya, Gladhys Elliona Syahutari ⚫ Tata Letak & Distribusi: M Fachriza Ansyari

SOROTAN DOKUMENTASI | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Oleh Dwi Rahmanto

Dari empat puluh acara seni-budaya yang telah kami kumpulkan dan seleksi, acara yang kami pilih untuk dokumentasikan adalah Undisclosed Territory (festival seni pertunjukkan skala internasional di Surakarta), diskusi dan presentasi proyek seni dengan isu gender dari penerima hibah Cipta Media Ekspresi, simposium dengan isu seni dan teknologi yang digagas oleh HONF, Kongres Kebudayaan Indonesia di Jakarta, ARISAN Tenggara (forum dan jejaring antar kolektif seni lingkup Asia Tenggara), pameran arsip dan seni rupa-seni politik oleh ISI Yogyakarta dan Taring Padi yang bertajuk Bara Lapar Jadikan Palu, kemudian Penanda Kosong pameran tunggal Nindityo Adipurnomo, pameran tiga seniman dari Asia (Arahmaiani, Lee Mingwei, dan On Kawara ) berjudul The Past Has Not Passed yang diselenggarakan oleh Museum MACAN, proyek seni “situs seni” di kampung petilasan Keraton Mataram di Bantul, pameran arsip sejarah kelompok sepak bola PSIM This Is Away oleh Dimaz Maulana di Kedai Kebun Forum, pementasan teater Selamatan Anak Cucu Sumilah, sebuah proyek seni untuk rekonsiliasi yang melibatkan penyintas 65 di Fisipol UGM oleh Teater Tamara, dan diskusi buku Cita-Cita Seni Lukis Indonesia Modern 1900-1995 karya Helena Spanjaard.

Banyak sekali isu yang menjadi muatan dari acara-acara seni-budaya di atas, seperti gender, politik, teknologi, sejarah komunitas dan kampung, aktivisme, lingkungan, kesetaraan, dan HAM. Beragam isu ini menjadi catatan penting bagi kami untuk mengetahui lebih jauh kerja-kerja kesenian yang muncul di bulan-bulan ini; sejauh mana kesenian memunculkan perkembangannya.

Selain itu, beberapa kawan kami di Bali, Malang, Jakarta, dan Yogyakarta yang berbagi arsip untuk kami kelola, di Bali dari Kulden Art Space Bali, pameran oleh Firmansyah berjudul Suka Ria, Di Kota Batu dan Malang kita mendapat dokumentasi pameran September Art Project oleh Studio Jaring Malang, dari Galeri Semarang kita mendapatkan dokumentasi aktifitas mereka selama tahun 2018, di Yogyakarta kawan kawan seni rupa mengadakan acara Serufo Day Anagata di Jogja National Museum.

Di sepanjang proses pembacaan dan pengelolaan arsip, beberapa dari kami berkesempatan untuk menjadi pemantik diskusi dalam beberapa forum, yakni Festival Film Dokumenter di IFI Yogyakarta, peluncuran buku Yayasan Kelola di UGM, Urban Social Forum di Lokananta Record Surakarta. Semua informasi singkat seputar kegiatan tersebut dapat dilihat di sosial media kami (www.instagram.com/ivaa_id).

Tentu kami tidak lupa bahwa dalam mengelola arsip kami dibantu oleh beberapa kawan magang dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, dan satu kawan dari New Jersey, Amerika Serikat. Kerja-kerja mengelola arsip beserta masalah-masalah yang menyertainya kami diskusikan baik secara rutin maupun dalam pertemuan-pertemuan yang mendadak. Semoga proses ini menjadi pembelajaran yang mampu diterapkan oleh kawan-kawan magang, sekaligus membangun kesadaran pengarsipan secara lebih luas.

Di samping itu kami juga masih terlibat dalam kerja-kerja lain seperti, workshop, perancangan sistem pengarsipan offline, pengelolaan beberapa permintaan arsip onsite dan online melalui online archive, dan kunjungan para mahasiswa kearsipan UGM, peneliti, serta para kolega lain yang tentu menambah riuh senang pekerjaan kami. Akhir kata, keriuhan yang menyenangkan ini beriringan dengan upaya kami, secara khusus pada bagian Arsip, untuk bereflekai dan merancang program kerja selama lima tahun mendatang.

Sorotan Dokumentasi November-Desember 2018
Oleh: Dwi Rachmanto, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi, Muhammad Indra Maulana

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Undisclosed Territory #11: We Are What We Eat

Oleh: Hardiwan Prayogo

Undisclosed Territory tahun 2018 ini telah memasuki gelaran ke 11. Event performance art ini mengawali rangkaian acaranya dengan berbagai macam diskusi hingga kuliah umum. Dengan mengambil tema We Are What We Eat, gagasan mengenai performance art dibawa dalam melihat ulang relasi manusia dengan makanan. Bagaimana makanan menjadi salah satu penanda dalam ritus-ritus hidup manusia. Bagaimana makanan menjadi elemen tradisi yang penting dan mewujud dalam simbol-simbol dalam makanan. Lebih jauh, seniman-seniman performance menampilkan karya dengan merespon isu-isu tersebut.

Berlangsung dari 6 hingga 11 November 2018 di studio Plesungan, Karanganyar. 6-8 November berlangsung PALA Project dan Sound Scoring Workshop. Diskusi panel pada 9 November. Kemudian pertunjukan dimulai dari 9 sampai 11 November. Tim IVAA berkesempatan hadir menyaksikan langsung pada hari Minggu, 11 November.

Meskipun bernama studio, Studio Plesungan bukanlah berbentuk bangunan, tapi didominasi oleh tanah lapang dengan pohon rimbun di sekelilingnya. Pertunjukan pertama dimulai pada pukul 15.00, bertajuk “Pseudo Delight” dari Fransisca Retno, yang mereka ulang postingan makanan-makanan mewah di Instagram. Dengan membuat instalasi satu set meja makan lengkap dengan menu makanannya, dengan dikelilingi kursi yang diatasnya diletakkan makanan. Menu makanan yang ditampilkan seperti serabi, gembus, pukis, dan lain-lain. Disampaikan Fransisca bahwa karya ini semacam “rasa iri” memandang kawan-kawan karibnya yang hampir setiap hari memamerkan santapannya di sosial media. Maka pertunjukan ini pun bersifat interaktif, mengajak audiens untuk membuat menu makanannya sendiri, kemudian diunggah ke sosial media masing-masing. Set makanan ini dipertahankan hingga malam.

Sementara itu, dalam waktu yang berdekatan, dimulai juga pertunjukan dari Sakinah Alatas dengan judul “Sekarang Saya Sudah Mau Makan Itu?”. Sakinah menggantung kain putih transparan di satu ranting pohon. Pada kain tersebut dijahitnya suatu benda berwarna coklat berukuran kecil. Seluruh performance menampilkan Sakinah menjahit yang berlangsung selama sekitar 60 menit.

Di tempat lain, Jef Carnay sudah memulai pertunjukannya yang berjudul “Sweet Dreams”. Berbeda dari yang lain, pertunjukan Jef menggunakan iringan musik dan berlokasi di dalam ruangan. Dengan hanya menampung sekitar 20 orang dalam ruang terbatas, pertunjukan ini terasa lebih intens. Jef menampilkan tubuh yang didalam mulutnya sedang menyimpan sesuatu dan berusaha mengeluarkannya. Di akhir pertunjukan, apa yang di dalam mulutnya dikeluarkan dan diletakkan di atas tumpukan yang tampak seperti gula.

Usai pertunjukan Jef, langsung disambut oleh performance dari Ragil Dwi Putra, yang berjudul “I Trace Myself”. Kembali mengambil lokasi di luar ruang, berdekatan dengan instalasi pertunjukan Fransisca Retno. Ragil menampilkan tubuh yang berjongkok di bawah meja. Di atas meja terdapat piring dan gelas yang berisi minyak. Ragil mencoba berdiri sambil membopong meja tersebut. Dalam kesulitannya untuk menyeimbangkan diri, kakinya juga disibukkan dengan melipat-lipat kertas minyak. Pertunjukan ini berakhir ketika Ragil sudah melipat kertas dengan ukuran terkecil.

Tidak lama, penonton diajak berpindah lagi ke satu spot yang memang nampak seperti “panggung” pertunjukan. Graciela Ovejero Postigo, dengan performancenya yang berjudul “Why An Elm Should Give Pears?”. Pertunjukan ini juga menggunakan unsur makanan, yaitu jagung, juga properti lain seperti kain putih, kursi, sapu lidi, dan beberapa bilah bambu. Graciela seperti ingin menunjukan relasi antara makanan dan perempuan pekerja. Penampilannya dilakukan tanpa iringan musik, suara hanya berasal dari aktivitas Graciela menyeret karung berisi jagung, memainkan kain putih dan bambu, membenamkan diri dalam tumpukan jagung. Graciela adalah penutup dari sesi pertama pada hari itu.

Pertunjukan kembali dilanjutkan setelah jeda 60 menit. Dimulai dari Retno Sulistyorini, tampil di lokasi yang sama dengan Graciela. Penonton bisa menyaksikan dengan jarak lebih dekat, berada satu area dengan panggung pertunjukan, melingkari Retno yang tampil berdua dengan seorang pria. Retno lebih menampilkan koreografi tari ketimbang performance seperti penampil-penampil lainnya. Menggunakan iringan musik bersuasana mistis, tarian Retno dan rekannya memperlihatkan intensitas yang cukup dalam. Dengan gerakan sederhana namun terlihat sangat menguras tenaga. Terlihat dari deras keringat yang mengalir dari keduanya. Pertunjukan berakhir setelah 15 menit yang terlihat sangat melelahkan. Penonton pun kembali ke tempat duduknya, sementara panitia bergegas menyiapkan properti pertunjukan performer berikutnya.

Wilawan Wiangthong, seniman asal Thailand ini membawa streamer berisi air berwarna putih, dan satu potongan ranting pohon.  Wilawan membasuhkan air tersebut ke kepalanya, mengangkat satu tempat nasi berisi air ke atas kepalanya, dan berjalan menyeimbangkan diri di atas ranting pohon. Wilawan terus mengulangi aktivitas ini sampai ranting pohon tersebut patah. Alhasil, panggung pertunjukan menjadi penuh tumpahan air dan patahan ranting pohon.

Penampil terakhir adalah Skank. Melati Suryodharmo memperkenalkannya sebagai seniman performance dari Jepang yang sudah sering terlibat proyek kerjasama dengan Studio Plesungan. Skank tidak menggunakan banyak properti, hanya satu pengeras suara berukuran besar yang dibawanya. Pertunjukan ini menjadi satu-satunya yang melibatkan dialog. Skank mengajak satu rekan yang beradegan menanyakan seputar kewarganegaraan, kepercayaan agama, hingga orientasi seksual. Pertanyaan berbahasa Indonesia ini hanya dijawab Skank dengan “Yes” atau “No”. Antara Skank dengan si penanya, selalu dipisahkan jarak antara penonton dan panggung. Jika Skank di panggung, maka si penanya ada di barisan penonton, begitu sebaliknya. Total ada sekitar 50 pertanyaan yang diajukan yang terbagi dalam 3 bagian. Setiap bagian selalu diakhiri dengan Skank yang melompat hingga kelelahan. Pertunjukan diakhiri ketika keduanya bertemu di panggung. Skank menjadi penampil terakhir sekaligus menutup rangkaian acara Undisclosed Territory #11.

Narasi pergelaran festival performance art ini secara umum ingin membicarakan tentang posisi makanan tradisi dan struktur masyarakat tertentu. Sebelum hari pertunjukan, seniman juga diajak untuk berkunjung ke pasar-pasar di Karanganyar. Makanan diyakini sebagai bagian organik dari sebuah tatanan masyarakat. Mulai dari makanan sebagai kebutuhan primer, sebagai mata pencaharian, sebagai gaya hidup, hingga pemaknaan filosofis tentang makanan sebagai metafora atas proses identifikasi diri. Ini jelas nampak dari beragamnya tafsir masing-masing seniman atas makanan. Harus diakui meski publik penikmat kesenian ini terbatas. Namun upaya Undisclosed Territory dalam mendekatkan narasinya melalui persoalan yang relational dengan publik, yaitu makanan, bisa dimaknai secara reflektif sebagai upaya menghadirkan kesenian secara lebih dekat dengan publiknya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

 

Penanda Kosong: Pameran Tunggal Nindityo Adipurnomo

Oleh: Hardiwan Prayogo

Nindityo Adipurnomo, seniman yang bermain dengan berbagai medium. Ini yang tampak dari pameran tunggalnya Penanda Kosong. Pameran yang dilangsungkan di Gallery Semarang dari 22 November-30 Desember 2018 ini memamerkan karya-karya 2 dan 3 dimensional. Pameran ini dibuka dengan sambutan dari beberapa orang, yang intinya ingin membicarakan tentang posisi Nindityo sebagai seniman dengan refleksi dan pemaknaan ulang mendalam atas realitas yang terwujud dalam karya-karyanya.

Dengan menggunakan 2 lantai galeri, audiens akan disuguhkan lebih banyak karya 3 dimensional di lantai pertama. “Penanda Kosong #13” adalah karya yang dibuat dari konstruksi rotan pirit dan kasur lurik. Berjumlah 5 karya, didesain sedemikian rupa, dengan display menggantung dan diletakkan di lantai. Selain itu karya 3 dimensional lainnya berjudul “Gamelan Toa”. Karya ini ingin mengedepankan pengalaman aural audiens. Dengan menampilkan 7 kain batik berukuran besar, dan di antaranya terdapat semacam cetakan wajah. Karya ini mengajak kita untuk berinteraksi, dengan meletakkan kepalanya di cetakan wajah, maka audiens tidak akan bisa melihat apapun, hanya mendengar suaranya sendiri. Karya ini sebelumnya pernah dipamerkan di pameran Serupa Bunyi Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, 2018.

Karya lainnya didominasi karya 2 dimensional. Hampir seluruhnya diberi judul “Penanda Kosong” yang diikuti dengan tanda pagar. “Penanda Kosong #11”, bermedium cetak flat bed di atas tikar mendong. Medium ini tentu bukan yang lazimnya digunakan untuk karya 2 dimensional, khususnya seni lukis. Karya lain berjudul “Penanda Kosong #1”, dengan medium charcoal, gouache, dan cetak flat bed di atas kertas. Kemudian medium charcoal, gouache, pastel, dan cetak flat bed di atas kertas untuk karya berjudul “Penanda Kosong #3” dan “Penanda Kosong #5”. Selain itu masih banyak karya dengan bahan serupa. Satu yang juga menarik adalah disediakannya 3 album foto yang berisi kliping, potongan pamflet, hingga dokumentasi yang berkaitan dengan isu yang dominan diangkat Nindityo, yaitu religiusitas. Total terdapat 22 seri karya berjudul “Penanda Kosong”. Dari sedemikian banyak karya, “Penanda Kosong #17” bisa dikatakan yang paling provokatif dan eksplisit. Pesan dan isu yang diangkat sangat jelas, yaitu agama.

Pameran Tunggal Nindityo kali ini nampaknya ingin lebih dekat dengan isu aktual, meski tidak seluruh karyanya secara eksplisit mewujudkan itu. Bisa jadi ini bagian dari cara tutur Nindityo dalam membahasakan ulang realitas. Seperti seri karya Konde, yang dibuatnya untuk membicarakan tentang perempuan, jawa, dan sensualitas. Maka Penanda Kosong, tidak hanya ingin dimaknai dari aspek kesenian yaitu eksplorasi medium, tetapi juga menyentuh konteks yang lebih aktual, yaitu agama dan kepercayaan. Kewajiban beragama seolah hanya menjadi penanda kosong dalam kolom KTP. Lebih jauh, Nindityo tidak hanya ingin mewujudkan gagasan melalui karya seni, tetapi melalui konstruksi kompleksitas pameran dan keterkaitannya dengan sistem kerja medan seni rupa kontemporer saat ini. Penanda kosong juga merupakan upaya pemaknaan ulang atas tanda-tanda yang diklaim secara sepihak dan melekat pada diri dan sekitar kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.