Category Archives: E-newsletter

Kalam yang Menggapai Bumi 

Judul : Kalam yang Menggapai Bumi 
Penulis : Koko Hendri Lubis
Penerbit : BASABASI
Cetakan : Februari 2019
Tempat terbit : Yogyakarta
Halaman : 140 
ISBN : 978-602-5783-73-9
Resensi oleh : Nur Rizki Aini 

Ketika berbicara tentang komik akan muncul di benak kita tentang cerita bergambar yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah jalinan cerita. Tidak hanya menarik dari segi penampilan namun komik juga mempunyai beragam jenis cerita. Mulai dari cerita misteri, percintaan, drama hingga petualangan yang juga terbagi atas kategori umur. Oleh karena itu pecinta komik tidak hanya orang dewasa saja. Remaja dan anak-anak pun bisa menikmatinya. Namun, komik sempat menjadi bahan bacaan yang diperdebatkan karena dianggap mempunyai dampak buruk yang dapat merusak dan meracuni pikiran. 

Komik sempat dilarang beredar dan banyak percetakan tidak mau menerima pencetakan komik. Namun salah satu komikus Medan mulai merintis kembali penulisan komik, untuk menunjukkan komik sebagai bahan bacaan yang baik. Saat itu Zam Nuludyn membuat satu karangan pada majalah Tjergam pada 1961. Di situ ia menegaskan bahwa Tjergam sebagai istilah harus dinamis dan revolusioner. Isinya untuk membangun spirit, moral dalam kehidupan masyarakat. Sebagai pembaca kita diajak memperbaiki cara pandang dalam menilai komik yang dulunya dianggap kurang mendidik. Melalui buku ini, Koko Hendri Lubis telah menuliskan perjalanan komik yang dinamis, khususnya dalam konteks daerah Medan. 

Koko Hendri Lubis memiliki latar belakang sebagai seorang peneliti budaya pop dan tradisi lisan di Sumatera Utara. Pria kelahiran 1977 ini telah menulis banyak artikel di berbagai buletin, surat kabar dan majalah. Pada 2017 ia terpilih mengikuti program residensi penulis yang diadakan Kemendikbud dan Komite Buku Nasional di Belanda. Di sana, selama dua bulan ia meneliti arsip dan dokumentasi terkait roman-roman yang terbit di Medan. 

Buku ini merupakan kumpulan esai yang berasal dari karangan di berbagai surat kabar, ceramah dan diskusi tentang komik. Di dalam buku ini terdapat 25 karangan esai yang termasuk di dalamnya dua wawancara dengan dua orang tokoh komik. Harapan penulis bisa membuat pembaca mengerti dan memahami perkembangan komik selama lima dasawarsa belakangan ini khususnya yang ada dan terbit di Medan. Komik Medan diakui khalayak mempunyai gambar yang baik, serta mempunyai ciri khas jalan cerita dan karakter tokohnya yang unik.

Komik remaja di Indonesia pada era klasik menjadi topik di bab awal buku ini. Komik Indonesia yang bertema cerita remaja pernah jadi ikon pada tahun 1960-1970-an. Namun pada 1965-an ada beberapa komik yang dilarang beredar karena anggapan mengandung unsur erotis. Untuk mengatasi hal tersebut para komikus membuat wadah yang bernama Ikatan Seniman Cergamis Indonesia (IKASTI).

Bab kedua dan selanjutnya dari buku ini menceritakan sejarah, biografi dan perjalanan para komikus dari Medan. Ada latar belakang, proses pembuatan, serta prinsip-prinsip yang berbeda di antara para komikus. Beberapa komikus menjabarkan prosesnya dengan sangat teknis, ada pula yang konseptual. Beberapa komikus tersebut adalah Bahzar Sou’yb dengan gaya visual yang memiliki roh, Zam Nuludyn dengan segudang kisah jenakanya, dan Taguan Hardjo dengan idiom identitas bangsa. 

Selain sejarah dan biografi, buku ini juga menyajikan sedikit cuplikan komik yang dibuat oleh para komikus. Salah satunya adalah komik dari Zam Nuludyn yaitu Komik Kebesaran Dewi Krakatau. Isinya menceritakan seorang putri yang bijaksana dengan kegelisahannya soal pernikahan. 

Dalam dua bab terakhir ada dua hasil wawancara antara penulis dengan para komikus. Isinya adalah pengalaman para komikus dalam memulai perjalanan membuat komik serta keluh-kesah mereka. Mereka mempunyai cara masing-masing dalam mempertahankan dan menciptakan ide-ide karyanya. Mereka juga memberikan saran kepada para komikus baru untuk selalu belajar dan mencoba hal baru untuk membuat kreasi komik.

Buku ini cukup memberi informasi lengkap dengan menyajikan 25 esai tentang perjalanan komik khususnya di Medan. Yang menjadi titik fokus dalam kumpulan esai ini adalah dinamika pertumbuhan dan watak para komikus yang merespon sekitarnya. Kepekaan tiap komikus yang beragam dalam skena komik era 1990-an.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Titipan Umar Kayam: Sekumpulan Kolom di Majalah TEMPO

Judul Buku : Titipan Umar Kayam: Sekumpulan Kolom di Majalah TEMPO
Penulis : Umar Kayam
Editor : Tim Editor TEMPO
ISBN/ISSN : 979-9065-06-2
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Pusat Data dan Analisa TEMPO
Tahun Terbit : 2002
Tempat Terbit : Jakarta
Resensi oleh : Ahmad Muzakki

“Penulis-penulis Jawa lama itu, meskipun mereka penulis sewaan raja, mereka masih berani memanjakan fantasinya seluas-luasnya bahkan juga segila-gilanya. Itu semacam kebebasan sikap dari mereka”

-Umar Kayam, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (1972)-

Kebudayaan  merupakan segala ciptaan-ciptaan manusia yang lahir dari kesadaran pikiran dalam memenuhi hasratnya untuk menuntut kehidupan yang sesempurna-sempurnanya. Karya sastra merupakan salah satu hasil wujud kebudayaan hasil karya manusia yang cukup tua. Sastra memiliki hubungan dengan kondisi politik, ekonomi, dan sosial. Dengan kata lain, kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang ada di sekitar kita dapat melatarbelakangi perkembangan sejarah sastra. Karya sastra dapat memberikan sebuah gambaran kehidupan dan kondisi sosial pada zaman tertentu. Salah satu tokoh kebudayaan khususnya sastra Indonesia yang dikenal masyarakat ialah Umar Kayam.

Pria kelahiran  Ngawi, 30 April 1932 ini pernah menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah menyelesaikan  sarjana muda di Universitas Gadjah Mada (1955), Umar Kayam meraih gelar M.A. dari Universitas New York (1963), dan meraih gelar Ph.D. dari Universitas Cornell (1965). Ia mulai menulis karya sastra ketika mendapat kesempatan memperdalam ilmunya di Amerika. Sebelumnya, sejak masih sebagai mahasiswa di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, perhatiannya lebih difokuskan pada jenis kegiatan di bidang seni lainnya, yaitu teater dan film. Tahun 1954/1955 Umar Kayam dikenal sebagai aktivis teater Fakultas Sastra, Pedagogik, dan Filsafat UGM. Selain itu, Umar Kayam juga menulis skenario film “Jalur Penang dan Bulu-Bulu Cendrawasih” yang difilmkan pada 1978. Umar Kayam juga pernah bermain sebagai aktor dalam film “Karmila” dan “Pengkhianatan G-30-S/PKI” sebagai Bung Karno. 

Umar Kayam dikenal aktif menulis sebuah karya sastra dan menulis kolom di media surat kabar, harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta terbitan hari Selasa. Kolom-kolom itu kemudian dihimpun dan diterbitkan dalam tiga kumpulan, salah satunya adalah “Mangan Ora Mangan Kumpul”: berisi 127 kolom yang terbit antara 12 Mei 1987 hingga 30 Januari 1990. Selain harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta majalah TEMPO juga menjadi salah satu media massa yang memuat tulisan-tulisan Umar Kayam. TEMPO sebagai salah satu media massa tersohor di Indonesia beranggapan bahwa rasanya tulisan Umar Kayam itu terlalu penting untuk dibiarkan tersimpan begitu saja di halaman majalah yang nantinya akan menjadi arsip. Pertimbangan itulah yang membuat Pusat Data dan Analisis TEMPO untuk menerbitkan antologi tulisan Umar Kayam.

Tahun 2002 Pusat Data dan Analisis TEMPO akhirnya menerbitkan buku kumpulan kolom-kolom Umar Kayam. Buku ini menghimpun tulisan Umar Kayam yang pernah dimuat di majalah TEMPO dengan judul “Titipan Umar Kayam: Sekumpulan kolom di majalah TEMPO”. Buku ini terdiri dari XVI+230 halaman, menghimpun kolom-kolom Umar Kayam dalam kurun waktu tahun 1974 sampai tahun 1999. Sebuah ilustrasi foto Umar Kayam dengan latar belakang gambar pewayangan menunjukkan dengan jelas bahwa buku ini berisi tulisan-tulisan yang berhubungan dengan kebudayaan di Indonesia. 

Buku kumpulan kolom ini dibuka dengan kolom Umar Kayam yang berjudul “Potret Affandi”. Kolom ini dimuat pada 1974, berisi bagaimana kehidupan singkat sang maestro pelukis Indonesia Affandi Koesoema. Umar Kayam juga menuliskan kondisi galeri Affandi yang ada di pinggiran kali Gajah Wong, Yogyakarta. Melalui tulisannya Umar Kayam mampu membawa imajinasi pembaca untuk ikut memahami proses penciptaan sang maestro. 

Umar Kayam memilih masalah yang aktual sebagai tema tulisannya. Taufik Abdullah, rekan dekat Umar kayam, ditunjuk untuk memberikan pengantar buku ini. Melalui tulisannya yang berjudul “Ia Bercanda Sambil Berfikir ”, Taufik Abdullah berbicara bahwa kolom-kolom Umar Kayam ini bukan hanya dianggap sebagai potret sosiologi sesaat, melainkan diperlakukan pula sebagai dokumen sejarah sosial. Sifat dokumenter dari kumpulan kolom ini semakin terasa setelah perjalanan waktu yang semakin memisahkan kita dari saat ketika kolom-kolom ini ditulis.  

Kolom dengan judul “Orang – Orang Sial dan Ilmu Sosial” yang dimuat pada 1980 menggambarkan salah satu potret sosial yang ia renungkan. Melihat judulnya saja kita dapat memprediksi bahwa tulisan ini mengandung nada paradoks untuk mengkritik sebuah fenomena sosial yang ada. Kolom ini menceritakan bagaimana perjuangan hidup masyarakat petani dan nelayan. Lebih jelasnya bukan hanya perjuangan hidup, tetapi kesulitan mereka yang harus berjuang demi kehidupan keluarga mereka. Kesulitan yang semakin menjadi ketika ada jarak antara mereka dengan orang-orang birokrasi kelembagaan desa. Secara tersirat kolom ini juga menceritakan adanya perbedaan kelas sosial antara priyayi dan masyarakat biasa. Pembeberan realitas itu seolah menjadi teguran keras untuk para pujangga ilmu sosial profesional yang menguasai teori serta metodologi.

Pengalaman kesuksesan memerankan Bung Karno dalam film “Pengkhianatan G-30-S/PKI” juga ditulis Umar Kayam dalam kolomnya yang berjudul “Dua Kali Bersama Bung Karno”. Kolom ini menceritakan kekaguman Umar Kayam terhadap sang proklamator negeri ini. Ia menceritakan bagaimana dirinya mendapat kesempatan dua kali berjabat tangan langsung dengan Bung Karno. Pertama saat terjadinya revolusi di Jogja dan yang kedua saat Bung Karno sedang di ambang senja kekuasaannya. Ia juga menceritakan perasaannya saat Arifin C. Noer menunjuk dia untuk berperan sebagai Bung Karno dalam film tersebut. Ada beberapa adegan yang meninggalkan kesan membekas, yakni ketika dialog dengan Soeharto dan ketika Bung Karno akan dipindah dari Istana Merdeka menuju Wisma Yaso. 

Tahun 2002 Umar Kayam meninggal dunia. Tentu saja, buku ini bisa menjadi kumpulan peninggalan Umar Kayam untuk kita semua. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Meniti Jalan Pembebasan-Sebuah Otobiografi oleh Edhi Sunarso

Judul Buku : Meniti Jalan Pembebasan-Sebuah Otobiografi oleh Edhi Sunarso
Penulis : Edhi Sunarso
Editor : Suwarno Wisetrotomo
ISBN/ISSN : 978-602-97402-1-1
Bahasa : Indonesia
Penerbit : PT. Hasta Kreatifa Manunggal
Tahun Terbit : 2010
Tempat Terbit : Yogyakarta
Resensi oleh : Rully Adhi Perdana

Edhi Sunarso adalah seorang seniman yang juga terlibat dalam gerak “menjadi dan menjaga Indonesia”. Lahir di Salatiga, 2 Juli 1932 (Edhi mengarang sendiri tanggal lahirnya ketika menjadi tahanan perang), Edhi merupakan salah seorang seniman patung terpenting di Indonesia. Namun, jalan kehidupannya – berkat hobi atau kegemarannya menggambar – membawanya ke dunia seni rupa.

Terpisah dengan orang tua kandung dan saudara-saudara kandungnya sejak bayi, menjadi komandan regu dan tergabung dalam kesatuan Pasukan Sambernyawa Divisi I Batalion III Resimen V Siliwangi di usia 14, dan menjadi tahanan perang selama tiga tahun, merupakan fase “perjuangan” dalam hidup Edhi Sunarso sebelum memberikan dirinya seutuhnya ke dunia seni. 

Kegemarannya dalam menggambar sudah terbentuk dan mendapat kesempatan untuk berkembang ketika Edhi berada di penjara. Rupanya, kebiasaan itulah yang membuatnya mampu beradaptasi secara cepat ketika ia “ikut-ikutan” membuat sketsa bersama mahasiswa ASRI di Pasar Beringharjo. Pujian atas gambar dan sketsanya, serta ajakan untuk belajar di ASRI datang kepadanya dari seorang pengajar di ASRI kala itu, yang kemudian ia kenal sebagai Hendra Gunawan, seorang seniman tersohor. Sejak saat itu, ia bergabung sebagai siswa Toehorder ASRI (siswa luar biasa, tidak diperkenankan mengikuti pelajaran teori, tapi boleh ikut praktik bersama siswa yang lain).

Ketekunannya dalam menggambar potret, sketsa, menyalin catatan dari teman-temannya yang belajar di ASRI, serta keluwesannya dalam berkomunikasi membuat Edhi mampu mendapat tempat di rumah Hendra Gunawan dan di Sanggar Pelukis Rakyat. Pengalaman Edhi Sunarso dalam membuat patung-patung pribadi dari batu menarik perhatian Hendra. Perhatian, pendekatan, dan didikan Hendra dalam membuat patung dari bahan batu berdampak pada Edhi yang mendapat tugas untuk mengerjakan relief pada salah satu kaki Tugu Muda di Semarang.

Sejak proyek Tugu Muda, relasi antara Edhi Sunarso dengan Presiden Sukarno kian erat. Keinginan Sukarno untuk membangun monumen, patung, dan diorama mampu dieksekusi dengan tepat oleh Edhi. Tentu saja, Edhi dibantu oleh teman-temannya di ASRI, kenalannya di berbagai tempat, hingga pembuat kijing di daerah Kaliurang. Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (Jakarta), Patung Dirgantara, Monumen Pembebasan Irian Barat, Diorama di Museum Benteng Vredeburg, Museum Diorama Monumen Nasional, adalah beberapa tugas besar yang pernah dikerjakan oleh Edhi Sunarso.

Sebagai buku otobiografi, buku tersebut mampu menampilkan secara lengkap perjalanan hidup Edhi Sunarso sejak kanak-kanak hingga ketika buku tersebut diluncurkan (2010). Kisah hidupnya secara pribadi, keluarganya, keterlibatannya sebagai pejuang dan pematung, semua diceritakan secara urut dan rapi. Percakapan-percakapan penting yang terjadi dalam hidupnya dengan Hendra Gunawan maupun Presiden Sukarno, masih mampu ditulis dengan baik. Buku otobiografi ini juga terbilang lengkap karena disertai beberapa foto karya Edhi Sunarso, foto dokumentasi ketika menggelar pameran di Jogja Gallery dan Galeri Salihara, serta foto dengan (alm) Presiden Suharto ketika membicarakan salah satu proyek.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Kumpulan Esai Raihul Fadjri

Oleh Hardiwan Prayogo

Raihul Fadjri adalah salah satu pendiri Yayasan Seni Cemeti (YSC) yang pada 2007 menjelma menjadi Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Fadjri pernah menjadi ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) periode 1998-2000, lembaga yang ia dirikan bersama 11 rekan lainnya (sumber: https://aji.or.id/read/aji-kota/35/aji-yogyakarta.html). Ia juga pernah aktif sebagai jurnalis TEMPO biro Yogyakarta, dan banyak menulis artikel tentang seni-budaya, khususnya yang berkaitan dengan seni rupa. 

Cara Fadjri dalam mengulas pameran adalah dengan mendeskripsikan secara detail bentuk karya sekaligus sedikit membubuhi interpretasi. Seperti yang ia tulis kala mengulas pameran tunggal Shigeyo Kobayashi di Galeri Cemeti, Yogyakarta, 6-31 Juli 1995: 

“Coba simak karya yang berjudul “The Landscape Kept On My Mind”. Sebatang kayu sepanjang satu meter tergeletak di lantai. Kayu yang disapu dengan warna hitam itu berbentuk sosok ular dengan sisik yang berkesan dari bekas pahatan. Sebanyak dua belas biji kelereng menghiasi tubuh ular itu, dan biji saga yang berwarna merah disusun memanjang di atas punggungnya. Sementara di dekat kayu berbentuk ular itu terdapat tiga onggok saga merah membentuk bidang elips hingga mencapai pinggir dinding. Sedang di dinding tergantung obyek-obyek yang terkesan berbentuk buah-buahan dari bahan kayu. Jika diamati, susunan dan bentuk obyek-obyek itu mencitrakan kehidupan makhluk di dalam tubuh manusia ketika dilihat dari balik kaca mikroskop, atau panorama kehidupan makhluk di dalam air. Ada bentuk-bentuk seperti bakteri yang mirip dengan bentuk kecebong dengan ekornya yang lunak. Ada bentuk cacing, atau bebatuan yang sudah diselimuti kehijauan lumut.”

Di awal tulisan, Fadjri memberikan gambaran singkat terlebih dahulu tentang di mana posisi seni kriya dalam kancah seni rupa. Seni kriya yang memiliki akar seni tradisi, lebih sering dilihat hanya sebagai benda-benda fungsional, dari pada sebuah karya seni rupa yang utuh. Lantas yang mencairkan batasan ini adalah sifat kontemporer yang melanda dunia seni rupa. Maka mencair pula batasan antara seni murni dengan seni terapan. Dengan kata lain, gagasan-gagasan kontemporer diungkapkan melalui medium seni terapan, dalam hal ini kriya.

Pendekatan yang tidak jauh berbeda muncul juga dalam artikel ulasan Pameran Gambar di Galeri Dimata yang berlangsung pada 17-31 Oktober 1995. Gambar sering dinilai sebagai karya seni yang kurang populer dan bernilai ekonomi. Kehadirannya pun dinilai masih bergantung pada karya seni rupa lainnya, entah lukisan atau patung. Enam perupa yang menaruh perhatian pada situasi ini dan ikut berpameran adalah Eddi Hara, Heri Dono, Ivan Sagita, Nindityo Adipurnomo, Hari Budiono, dan Anusapati. Fadjri pun menulis dengan cukup detail karya dari setiap seniman, sekaligus merekam opini para seniman pada medium gambar. 

“Teknik dan materi (gambar) tak membebani seniman, sehingga ekspresi langsung bisa tercapai.” (Eddie Hara)

“Pada dasarnya karya seni adalah catatan-catatan, pengabadian kejadian dan saksi dari ruang dan waktu yang terus melaju.” (Heri Dono)

Heri Dono menambahkan bahwa tidaklah penting label nama sebuah karya, apakah itu gambar atau lukisan. Selama dia masih memiliki elemen estetik, yang tidak kalah penting adalah pesan personal dan aspiratif dari lingkungannya. Sebagai penutup, Fadjri menuliskan bahwa gambar mungkin akan sama posisinya dengan seni rupa lainnya. Asalkan keinginan ini tidak sekedar memberi nuansa dalam kegiatan seni rupa. Jika demikian, gambar tetap menjadi sekedar gambar uang tersuruk di lemari arsip para perupa.

Selain itu, ada beberapa tulisan menarik lainnya yang masih dalam lingkar seni rupa, hanya saja kali ini fokus pada karya fotografi terhadap aksi-aksi demonstrasi. Secara reflektif Fadjri mempersoalkan lemahnya perlindungan terhadap wartawan foto peliput aksi demonstrasi yang menerima kekerasan baik fisik maupun verbal. Fadjri mengawali dengan dicekalnya pameran foto aksi demonstrasi mahasiswa dari wartawan-wartawan Yogyakarta. Pameran foto ini bertajuk “Yogya di Mata Wartawan Yogya”, berlangsung di atrium pusat perbelanjaan Galeria Yogyakarta, 8-12 Januari 1996. Dari 100 foto yang dipamerkan, 13 foto yang paling menarik perhatian publik adalah foto aksi demonstrasi. Rupanya ini menggelisahkan aparat keamanan, hingga akhirnya foto-foto ini diturunkan dan diberi keterangan: “Satu syarat dari Kepolisian: Foto ini harus diturunkan”. Foto aksi demonstrasi ini merentang dari tahun 1974 ketika peristiwa Malari yang merembet sampai Yogyakarta, hingga refleksi sumpah pemuda 28 Oktober 1995. 

Dari pencekalan pameran foto ini, Fadjri merefleksikan bahwa setelah sekian lama, masih terdapat jurang antara kebebasan berekspresi dengan aparat keamanan yang hanya menjalankan perintah atasan dengan dalih stabilitas. Maka yang terwujud dari jurang ini adalah sisi gelap emosi manusia, yaitu kemarahan dan ketidakseimbangan. 

Selain foto demonstrasi, bersanding juga foto-foto kunjungan Pangeran Charles dan Putri Diana ke Yogyakarta, Ratu Beatrix dari Belanda, kunjungan Paus di Bandara Adisucipto, hingga rapat raksasa Bung Karno di depan gedung Agung pada 1962. Foto yang demikian justru mendominasi pameran. Fadjri menutup tulisan dengan pernyataan bahwa aparat keamanan terlalu berlebihan dalam menilai sisi gelap yang secuil itu.

Dari cara Raihul Fadjri mengulas berbagai macam pameran di atas, dari pameran tunggal hingga pameran bersama terlihat cara menulis Fadjri yang diawali dengan ilustrasi singkat konteks perkembangan gagasan seni, disambung dengan ulasan karya seni hingga profil seniman, dan diakhiri dengan refleksi. Cara menulis semacam ini mengingatkan saya pada satu pernyataan dari seorang wartawan senior, Bambang Bujono. Pada satu kesempatan ia pernah berkata bahwa tulisan/ artikel ulasan pameran berbeda dengan karya seni. Artinya, kehadirannya tidak akan bisa menggantikan posisi atau imajinasi pembaca atas karya jika belum melihatnya secara langsung. Namun dengan menuliskan sedetail mungkin bentuk karya dalam ulasan, menjadi penting untuk membawa pembaca dalam konteks yang lebih luas. Dengan kata lain memperpanjang usia pameran kesenian yang sementara ke dalam pembicaraan yang lebih jauh. Dari arsip-arsip artikel tulisan Raihul Fadjri ini, sedikit banyak muncul gambaran tentang apa yang terjadi pada dinamika dan perkembangan wacana seni. Untuk pembacaan dan eksplorasi lebih dalam, silakan kunjungi halaman dan koleksi dokumen Raihul Fadjri di laman ini.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

8 Months at IVAA: A Reflection on Internship

Konten Sorotan Magang kali ini berisi satu tulisan refleksi selama menjalankan proses magang dari Esha Jain. Esha Jain adalah peserta Bridge Year Program, sebuah program pelayanan selama sembilan bulan yang memungkinkan mahasiswa baru Universitas Princeton terlibat dalam pekerjaan pelayanan masyarakat di cakupan internasional. Sejak Oktober 2018 hingga Mei 2019 melalui lembaga Where There Be Dragons, Esha menjalankan proses magang di IVAA. 

By Esha Jain

Before coming to Indonesia, I had very little experience with the arts and archiving, which is why I was so excited to get to work with IVAA. At first, I was interested in IVAA because it had so many different components: archiving, documenting, and the public library, each of which was very new to me.  It also seemed like a great way to learn more about Jogja through a unique medium, as Jogja has more art—both formal and informal—than any other city that I have experienced. 

Working at IVAA for such an extended period of time allowed me to experience the different departments within the organization. The first few months of IVAA, I worked on documenting events and writing summaries of English books for the library. This was a fun introduction to the work that IVAA does. I enjoyed getting to go to different events, and read more about the art scene in Jogja.

However, my exposure to Jogja’s art scene grew starting in January I started walking around Jogja to document street art. This was one of my favorite parts of my time in Jogja. You can see much more detail when walking on foot around a city than when you’re zipping around in a car or on a bike.  Because I was walking with the intention of taking pictures, it forced me to slow down and take time to wander along streets and alleys I normally would not have gone down. 

The process of sorting the pictures into different categories was also really interesting. In the end, the categories of pictures ranged from soccer to tolerance to tags. The sorting process was a bit difficult at first because I did not understand all the references or topics being discussed, but with translation help I was able to learn about the topics and issues that people in the city cared about. This was another organic way to learn more about the cultural nuances of Jogja, and Indonesia at large. For example, I learned about topics ranging from the impact of increasing tourism on the city to political tensions related to the presidential election. 

This was my first time seeing a city with as much street art as Jogja. Where I live in America, it’s illegal to have street art without permission. But, in Jogja since everyone can make street art there is such a wide variety of topics and quality of art. There were some sections of the city where one person had tagged almost every store door with just his name, almost as if he or she were marking territory. Just one street over, meters-long murals tackled climate change. The longer I walked around, the more I noticed the differences in the way the art was created, whether it was by using paint, spray paint, or even stencils. As a whole, it was interesting just to observe what subjects people chose to depict, especially because everyone was able to without needing permits or approval, which could have censored their work. 

Throughout the year, I also worked on organizing the archives from Karta Pustaka. The first box I worked on contained twenty three albums with photographs from the 1970s to the 1990s. The most difficult part of this job  was translating the captions from Dutch (because they were from a Dutch organization), so that the location, event information, and date could be recorded. It was fascinating seeing the influence that the Dutch had on the types of events being held. For example, there were photographs of Christmas parties and competitions where students would create miniature fairy gardens—something not often seen in Jogja. After this first box, I then organized a bunch of film by date, and put them into binders. This was the first time I had ever seen hard film and again, it was interesting to see which specific things were deemed worthy of documenting. Then, I moved onto sorting DVD covers and VHS tapes. This was my favorite thing to sort through because I got to see the covers of Dutch movies, Indonesian visual art performances, and even American movies. The sheer magnitude of archives to sort through was striking. 

IVAA, along with other organizations, had preserved so much. Many of the materials were created before I was born, and sorting through them felt like I was touching history. Previously, I always thought of archiving as something that was done by museums and for a very select historical events. Working with IVAA’s archives illustrated to me the importance of archiving a variety of different subjects and mediums in order to get a more holistic view of history and culture. 

During my time at IVAA, I was also a part of the book club. This book club was unlike any book club that I was a part of in America. To begin, it was the first non-fiction book that I had read in a group setting. Along the Archival Grain was a book that examined the Dutch colonization of Indonesia through a lens of archiving. Reading the book not only helped me understand the history of colonization in Indonesia and the impact that it has on current issues, but detailed the broader issues of colonization and western-centric way of thinking. 

One of my favorite parts of interning at IVAA was meeting all of the other interns. Especially in the last couple of months, when I had stronger language skills in comparison to the beginning of the year, it was really fun getting to know my peers and understand why they wanted to work at IVAA. I think the one criticism that I would have for IVAA is how the events are planned. At times, it felt like the publicity was done last minute. 

Learning how to document, organizing the archives, writing for the newsletter all allowed me to gain an understanding of how an NGO functions and why cultural preservation is important, especially in a world that is rapidly changing and growing—and in the process, overriding  certain art forms. I am leaving IVAA with a greater appreciation for the necessity of archiving, and am looking forward to exploring similar opportunities back in America.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

From Statue to Pillory

Oleh Hardiwan Prayogo

Kita tentu lebih familiar bahwa monumen selalu berbentuk patung. Lantas bagaimana dengan pillory? Ini adalah sebuah konsep yang ditawarkan oleh Hans Van Houwelingen, seniman Belanda yang fokus dengan gagasan seni di ruang publik. Dalam diskusi di Rumah IVAA yang berlangsung Sabtu, 11 Mei 2019, dia mempresentasikan proyek pembuatan pillory di Belanda. Pillory secara umum dapat diartikan sebagai counter-monument, meski secara detail ia cukup berbeda karena bukan hanya menghapus monumen (ingatan buruk) tetapi justru menghadirkan pembandingnya. Itu pula kenapa diskusi ini bertajuk From Statue to Pillory ini, mempersoalkan makna monumen sebagai artefak pengetahuan dan ingatan masyarakat akan sejarah penjajahan. 

Gagasannya berangkat dari kegelisahan atas monumen yang dibangun untuk mengingat Benedictus Van Heutsz, seorang gubernur jenderal Hindia Belanda yang membantai ribuan orang dalam Perang Aceh (1873-1914). Keberadaan monumen itu dianggap bermasalah karena tidak menggarisbawahi kekejaman yang telah dilakukannya. Serta masih menganggap Van Heutsz sebagai salah satu pahlawan nasional. Hans Van Houwelingen mengajak kita untuk menilai bagaimana bangsa Belanda memaknai monumen dan sejarahnya dengan Indonesia. 

Hans memulai presentasinya dengan menunjukan video orang-orang merusak monumen dari tokoh-tokoh yang dianggap sebagai penjahat kolonial. Dia merasa masyarakat perlu mengingat memori buruk dan perlu melakukan tindakan nyata seperti melempari monumen dengan kentang hingga kotoran. Semacam menjadi pengingat supaya kejahatan-kejahatan masa lalu tidak terulang. 

Diskusi yang digelar atas kerjasama dengan Brikolase ini sengaja untuk mendengar perspektif dari orang Indonesia, sebagai pihak yang menjadi wilayah koloni. Maka diskusi yang berlangsung hampir 2 jam ini, lebih banyak mendengarkan opini dari audiens. Di antara mereka ada yang aktif sebagai aktor kesenian, seperti Agung Kurniawan, Iwan Wijono, Nindityo Adipurnomo, Sanne Oorthuizen, dan beberapa akademisi. 

Beberapa feedback menarik terlontar dari forum tersebut. Dikatakan bahwa kehadiran pillory bisa jadi akan dimaknai berbeda oleh orang Indonesia. Ini disebabkan oleh setiap masyarakat memiliki kultur tersendiri untuk mengingat peristiwa-peristiwa traumatiknya. Tidak semua lapisan masyarakat berani untuk menunjukkan kemarahan dan kebenciannya, bahkan terhadap orang-orang yang sudah jelas telah melakukan kejahatan terhadap mereka. Dengan kata lain, kita memiliki cara tersendiri untuk “berdamai” dengan ingatan. Persoalan lain yang menghinggapi adalah bagaimana cara dan untuk apa masyarakat kita memaknai sejarah dan mental serta perilaku macam apa yang perlu dirubah untuk memaknai kolonialitas.

Pada akhirnya diskusi ini memang tidak disimpulkan secara eksplisit. Namun rasanya satu hal yang dipelajari Hans dari diskusi ini adalah kita harus awas terhadap kehadiran monumen dan pemaknaan atas sejarah dan cara pandang siapa yang diwakili oleh kehadiran monumen di ruang publik. Sudah barang tentu bahwa cara masyarakat Eropa memaknai sejarah dan masa lalunya tidak akan bisa semudah itu diterapkan pada konteks  masyarakat yang pernah menjadi wilayah koloni.

View this post on Instagram

Hans Van Houwelingen sharing dan ngobrol-ngobrol soal proyek seninya yg berjudul From Statue to Pillory, yg mempersoalkan makna monumen sbg artefak pengetahuan dan ingatan masyarakat akan sejarah penjajahan. Berangkat dari monumen yg dibangun utk mengingat Benedictus Van Heutsz, seorang gubernur jenderal Hindia Belanda, yg membantai ribuan orang dlm Perang Aceh (1873-1914). Keberadaan monumen itu dianggap bermasalah karena tidak menggarisbawahi kekejaman yg telah dilakukannya. Hans Van Houwelingen mengajak kita untuk menilai bagaimana bangsa Belanda memaknai monumen dan sejarahnya dengan Indonesia. Acara ini kerjasama dengan @brikolase Di Ruang pamer Lt.2 Rumah IVAA Foto oleh Emon @rully_ap #arsipivaa #dokumentasiivaa #ivaaarchive #documentationivaa #archive #art #senirupa #visualart #arsipsenibudaya #arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa #indonesianvisualartarchive

A post shared by Indonesian Visual Art Archive (@ivaa_id) on

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Asana Bina Seni Biennale Jogja

Oleh Sukma Smita

Mengutip publikasi dalam laman Biennale Jogja, inisiasi penyelenggaraan Asana Bina Seni terinspirasi oleh Asana Bina Widya, sebuah lembaga bimbingan belajar yang ‘berfungsi’ sebagai komplemen atas materi pelajaran dari sekolah. Berangkat dari gagasan atas kebutuhan pengetahuan yang lebih luas dan mendalam pada kerja-kerja kesenian yang tidak banyak diberikan oleh lembaga pendidikan formal, Asana Bina Seni menawarkan 3 subjek utama dalam kelasnya, yaitu:

  1. Manajemen Seni
  2. Kuratorial
  3. Apresiasi Seni

Model pendidikan alternatif di luar kelas belajar formal dalam dunia kesenian sebelumnya sudah pernah dilakukan misal dalam nyantrik, yaitu praktik bagaimana seniman muda belajar dan dibimbing oleh seniman yang lebih senior melalui sanggar-sanggar. Pendidikan alternatif juga semakin naik daun belakangan ini melalui berbagai workshop artistik, kelas belajar pengembangan kapasitas, hingga kelas-kelas kajian seni yang dibuka oleh para pekerja seni dalam lingkup individu maupun kolektif di galeri-galeri. Ketika perkembangan metode eksperimen artistik dan wacana dalam seni berjalan begitu cepat, tidak mengherankan jika kebutuhan atas produksi hingga konsumsi pengetahuan juga turut bergerak cepat.

Sepanjang penyelenggaraan Asana Bina Seni, IVAA terlibat dalam penyediaan ruang belajar untuk beberapa materi Manajemen Seni dan Kuratorial. Dari total 17 materi dalam kelas tersebut, 5 diantaranya diadakan di IVAA. Kelas-kelas yang diberikan diampu oleh praktisi dan banyak membagikan pengalaman kerja harian mereka sekaligus siasat untuk mengatasi berbagai kendala dan kebutuhan. Dalam kelas Manajemen Seni pengampu yang dihadirkan adalah orang-orang yang bekerja langsung dalam pengorganisasian dan produksi seni. Untuk Materi Pengelolaan Keuangan Festival dan Lembaga Seni, Verry Handayani bercerita tentang pengalamannya sebagai pengelola keuangan berbagai festival yang diselenggarakan di beberapa daerah oleh Yayasan Umar Kayam serta pengalaman mengelola keuangan Forum Aktor Yogyakarta. Verry membagikan perihal dua pengalaman bersiasat yang jauh berbeda: soal bagaimana siasat keuangan tidak hanya tentang mengalokasikan dana dengan adil dan tepat, tapi juga memikirkan kebutuhan keberlangsungan hidup ruang maupun kegiatan yang berkelanjutan.

Dalam kelas Kuratorial, dihadirkan Mit Ja Inn, seniman Thailand yang bercerita tentang pengalamannya terlibat dan menginisiasi Chiang Mai Social Installation pada 1992. Dalam kelas yang dihadiri tidak hanya oleh peserta kelas yang terdaftar namun juga beberapa seniman dan pekerja seni undangan ini, muncul diskusi panjang tentang pembandingan peristiwa seni pada tahun yang sama di Yogyakarta. Chiang Mai Social Installation saat itu diinisiasi atas kebutuhan mendekatkan seni yang dinilai berjarak dengan publik. Pada tahun yang sama di Yogyakarta diselenggarakan pula Binal Eksperimental, sebuah pameran tandingan Biennale #3 Seni Lukis Yogyakarta yang digagas oleh seniman-seniman muda. Diskusi juga berlanjut dengan membandingkan peristiwa lain di kawasan Asia Tenggara dan bagaimana hal itu bisa seolah saling berkaitan: imajinasi macam apa yang sedang menggerakkan publik seni pada waktu itu. 

Serangkaian materi dalam kelas Asana Bina Seni seharusnya bisa lebih dari komplementari atas ilmu yang diberikan lembaga pendidikan formal. Sebagai ruang belajar alternatif  yang bertujuan untuk membagi pengetahuan seni secara lebih luas dan mendorong interaksi yang dinamis antar berbagai kelompok masyarakat, Asana Bina Seni barangkali mampu memantik diskusi yang lebih luas tentang peran-peran yang muncul dalam produksi seni. Dalam konteks produksi seni, kita kadang masih terjebak dalam pemisahan antara yang utama dan pendukung. Padahal jika ditilik lebih dalam, terutama terkait dengan perkembangan wacana seni yang semakin pesat serta bentuk kerja bersama yang semakin beragam, posisi peran satu dengan yang lain sangatlah cair dan tidak lagi tersekat oleh hirarki struktural secara kaku. 

 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

SIKLUS 1.0 

Oleh Najia Nuriyana

Sebelum menyambut bulan suci Ramadhan, pada Jumat, 3 Mei 2018 IVAA menggelar acara bertajuk “Siklus 1.0” di Rumah IVAA. Siklus 1.0 merupakan wujud kolaborasi untuk mendorong aktivasi ruang perpustakaan IVAA yang dikemas dengan cara berbeda. Terdapat beberapa rangkaian acara menarik, seperti Be Kind Rewind (pemutaran film), dongeng seniman, panggung musrary, garage sale dan lapak IVAA dengan diskonnya. 

Pukul 16.00 rangkaian acara dimulai dan diawali dengan Be Kind Rewind yang dikuratori langsung oleh Hardiwan Prayogo. Bertempat di ruang pameran IVAA lantai 2, empat film berbeda genre menjadi pilihan kali ini. Film-film yang ditawarkan merupakan koleksi arsip IVAA sekaligus menjadi salah satu contoh penggunaan arsip dalam berbagai format analog. Empat film tersebut adalah Kunjungan Spesial (2015)-sutradara: Zen Al-Ansory, Tuan Spies (2017)-sutradara: Putri Rae Harbie, Topo Pendem (2018)-sutradara: Imam Syafi’I, dan Artisan (2017)-sutradara: Ika Nur Cahyani.

Kunjungan Spesial (2015) menceritakan seorang wanita bernama Kelana yang sedang melawat binatang kesayangannya, seekor babi. Babi menjadi simbol manusia dalam cerita mitologi penunggu lilin di Indonesia. Film ini menceritakan bagaimana Kelana memperlakukan babi kesayangannya. Ia membawa makanan dengan rantang, sambil sesekali menari bebas. Film Tuan Spesies (2017) berlatar belakang Pulau Dewata Bali, menghadirkan analogi hubungan Ibu dan anak. Kehadiran Walter Spies ke Bali seperti dua sisi mata uang, saling bertentangan antara yang baik dan yang buruk. Di sini Spies berperan sebagai sosok yang akan menerima surat cinta dari Pulau Bali. Sedangkan film Topo Pendem (2018) bercerita  tentang bagaimana seorang bapak menyembuhkan anaknya dengan cara bertapa mengubur diri di dalam tanah. Yang terakhir, film Artisan (2017) bercerita tentang kehadiran artisan di balik sosok para seniman yang tersohor. 

Puncak acara dimulai pada pukul 19.30 dengan diawali beberapa guyonan dari pembawa acara, Dwi Rahmanto dan Najia, lalu dilanjutkan dengan obrolan singkat soal e-newsletter IVAA edisi Maret-April. Panggung musrary (music from library) dan dongeng seniman menjadi acara inti. Beberapa band lokal seperti Nada Bicara dan Half Eleven PM dengan lagu-lagu bertema isu-isu sosial memeriahkan musrary. Untuk dongeng seniman, IVAA mengundang Arsita Iswardhani, Umma Gumma, dan Gladhys Elliona Syahutari. Mereka menarasikan ulang transkrip rekaman radio Dialog Seni Kita (DSK) dalam bentuk dongeng. Transkrip yang dipilih adalah Wacana Seni dan Konsep karya Aminuddin Th. Siregar dan Sunardian Wirodono, serta dialog bersama Dr. Mudji Sutrisno SJ berjudul Reposisi Peran Kesenian dalam Gerakan Kebudayaan Kini. 

Tak lupa Lapak IVAA hadir melengkapi keseluruhan acara dengan berbagai koleksi buku dan merchandise yang ditawarkan dengan diskon 20%. Selain itu di sela-sela acara juga diumumkan pemenang giveaway dari IVAA Shop, dengan hadiah buku bagi empat pemenang.

 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Safari JAP (Jadikan Aku Pustakawan)

Oleh Santosa Werdoyo

Safari JAP adalah program perpustakaan IVAA untuk mengunjungi beberapa institusi perpustakaan di Yogyakarta guna belajar mekanisme pengelolaan mereka. Kali ini kami bersafari di Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman dan Perpustakaan Open Page. Safari ini diposisikan sebagai titik awal menggali informasi aktivasi perpustakaan sembari membangun jaringan sosial. Selain membagikan pengalaman safari, tulisan ini juga berisi kilas balik IVAA seputar program Library Project dan Jogjalib.net. 

Library Project merupakan sebuah jejaring perpustakaan alternatif yang diinisiasi oleh Yayasan Seni Cemeti (YSC). Salah satu outputnya adalah penerbitan direktori perpustakaan alternatif tahun 2005 dengan jumlah 36 perpustakaan alternatif yang berada di Yogyakarta. Perpustakaan alternatif tersebut  dibagi menjadi empat bagian berdasarkan bidang yang dipilih dengan spesifikasinya. Empat bagian itu adalah Seni Kebudayaan dan Tradisi, Perpustakaan Komunitas dan Anak – anak, Studi dan Kajian, serta Perpustakaan Plus. Fungsi Library Project adalah sebagai awal untuk terciptanya iklim saling mendukung dan bekerja sama, sehingga akan terbangun perluasan akses jaringan dan kebutuhan informasi yang aktual serta kemudahan akses bagi pengguna perpustakaan alternatif. Setelah Library Project ada forum lanjutan bernama Biblio yang memiliki program khusus meningkatkan kapasitas pengelolaan perpustakaan alternatif.

Setelah Library Project dan Biblio, IVAA juga menjadi anggota dari forum Jogjalib.net, sebuah jaringan yang lebih luas cakupan anggotanya dengan basis pengelolaan SLiMS (Senayan Library Management System). Jaringan yang berbasis SLiMS ini menggabungkan katalog bersama anggota-anggotanya dengan tujuan memudahkan pencarian koleksi dalam satu penelusuran di dalam satu jaringan.

Sayangnya program serta jaringan di atas sudah vakum. Oleh karena itu, IVAA mencoba menggali kembali potensi jaringan yang mungkin lebih kontekstual dengan cara bersafari menjalin kembali jaringan-jaringan tersebut, dengan tambahan perpustakaan baru yang tidak termasuk dalam jaringan keduanya. Awal kegiatan safari adalah anjang sana,  berbagi pengalaman, dengan mengantongi beberapa pertanyaan seperti bagaimana mereka mengelolanya, siapa yang mengakses koleksi, fasilitas apa saja yang ada, serta sebaran koleksinya.

Safari ini kami siapkan dengan bekal sebuah FGD yang dihadiri oleh Yayasan Umar Kayam, Gerak Budaya, Perpustakaan Gunung Kidul dan WALHI Yogyakarta. Di dalam pertemuan tersebut muncul kegelisahan yang sama terhadap pengelolaan perpustakaan, sistem, katalogisasi, pengunjung yang sepi, hingga sumber pendanaan yang minim. Kegelisahan IVAA sendiri dalam aktivasi perpustakaan adalah informasi yang kurang aktual terkait perkembangan dunia perpustakaan dan persoalan mitra berjejaring. Dari obrolan itulah ide Safari JAP muncul. Sejauh ini Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman serta Library Open Page menjadi rujukan awal. 

Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman dibuka untuk umum pada hari Senin-Jumat pada jam 09.00-14.00, kecuali hari Jumat pada jam 09.00-11.00. Di perpustakaan itu terdapat arsip-arsip jaman pemerintahan Pakualam I hingga IX. Kebanyakan adalah arsip administrasi kerajaan. Arsip-arsip tersebut disusun berdasarkan kronologi waktu raja bertahta, baru setelahnya berdasarkan tema-tema spesifik. Ada 251 koleksi manuskrip dan 500 buku yang disimpan dengan sistem Dewey Decimal Classification (DDC), sistem kategorisasi standar perpustakaan internasional. Manuskrip tertua adalah tahun 1812 yang menceritakan perjalanan Paku Alam I ketika dibuang dari kerajaan. Meski milik Pakualaman, pengelolaannya bekerja sama dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah (BPAD) Provinsi DIY.

Setiap lembar arsip dibungkus kertas dan diberi kode penyimpanan. Semua dimasukkan ke dalam kotak kardus dan disimpan di rak almari besi yang tertutup rapi. Perawatan arsip adalah dengan fumigasi dan restorasi. Fumigasi untuk mencegah serangan serangga pemakan kertas dan restorasi untuk arsip yang sudah sangat rapuh karena usia. Selain itu juga dilakukan digitalisasi terhadap semua arsipnya. Data-data digital tersebut disimpan di BPAD. 

Selanjutnya, perpustakaan Open Page menjadi tempat kunjungan kedua. Perpustakaan ini terletak kurang lebih 15 km ke arah utara kota Yogyakarta. Udara yang masih sejuk, buku koleksi yang tertata rapi, dan ruangan yang cukup lebar menjadikan perpustakaan ini sangat nyaman untuk dikunjungi. 

Perpustakaan ini memiliki koleksi buku sebanyak 5000-an buah dengan tema sosial-politik yang dominan serta berbahasa Inggris. Semuanya milik Max Lane dan Faiza Mardzoeki. Artinya, perpustakaan ini adalah perpustakaan pribadi. Meski demikian, ia dibuka untuk umum pada Sabtu, Selasa, Rabu, dan Kamis pukul 11.00. 

Sejauh ini kami belum bisa menentukan bentuk kelanjutan dari program Safari JAP. Kami masih terus meraba segala kemungkinan dengan modal jaringan serta informasi terkait perpustakaan yang sudah kami peroleh.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.

Pengarsipan untuk Institusi, Pengarsipan untuk Pengetahuan

Oleh Lisistrata Lusandiana

Pada tanggal 23 hingga 25 Mei 2019, IVAA diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam simposium dan workshop bertajuk Creating Institutional Memory, yang diselenggarakan oleh Asia Art Archive (AAA) bekerja sama dengan M+. Dilaksanakan di AAA Hong Kong, simposium dan workshop ini dihadiri oleh undangan dan partisipan yang telah mendaftar. Sebagian besar partisipan merupakan bagian dari jaringan kerja AAA dan M+, seperti AAA India, Singapore Art Museum, Bamboo Curtain Studio Taiwan, dan beberapa lembaga seni kontemporer lainnya, yang juga melakukan kerja dokumentasi serta penyimpanan dan kelola aksesnya.

Tiga hari acara ini diisi dengan berbagai acara, mulai dari presentasi narasumber, diikuti dengan tanya jawab, kemudian dilanjutkan dengan workshop dan kerja kelompok. Dibuka dengan presentasi yang dilakukan oleh Nancy Enneking dari The Getty, disambung dengan beberapa agenda acara yang pada dasarnya ditujukan bagi para arsiparis untuk membagi landasan metode dan metodologi pengelolaan penyimpanan serta pengelolaan akses dari koleksi yang dimiliki oleh tiap lembaga yang hadir pada saat itu.

Acara ini juga diinisiasi atas dasar kebutuhan lembaga penyelenggara untuk melakukan refleksi atas penyelenggaraan program Ha Bik Chuen Archive Project yang dilakukan oleh AAA, serta kebutuhan M+ untuk membangun model pengarsipan institutional yang sedang mereka kerjakan. Di sela-sela itu terdapat berbagai lembaga dokumentasi, pengarsipan serta museum, baik yang dikelola oleh swasta, pemerintah, dengan berbagai skala. Ada yang menempatkan kerja pengarsipan sebagai program utamanya, ada juga beberapa lembaga dan komunitas yang menempatkan kerja pengarsipannya sebagai kerja pendukung, baik mendukung komunitas secara administratif, ataupun secara intelektual dengan menjadi penyedia data dan informasi yang bisa diolah kapan saja untuk kepentingan penelitian.

Meski berangkat dari tema yang cukup spesifik, yakni seputar memori institusional, diskusi dan pembicaraan yang muncul dari forum ini menjadi sangat general dan luas, mengingat beragamnya lembaga dengan tantangan serta persoalannya sendiri, serta memiliki beragam cara dalam mengelola memori institusi. Salah satu hal yang juga tidak bisa ditinggalkan dalam pembicaraan seputar memori institusional ialah soal kondisi ekonomi politik dari tiap lembaga yang ada. Bahwa tidak semua lembaga memiliki sumber dana yang selalu aman dan bisa diandalkan. Tidak semua lembaga memiliki perangkat dan daya dukung yang lengkap dalam menjalankan sistem pengarsipan seperti yang sudah dilakukan oleh lembaga yang lebih lama hadir dengan sistem yang konsisten serta sumber dana yang kuat. Selain itu juga terdapat berbagai konteks sosial politik yang juga tidak bisa diabaikan. Bahwa model pengarsipan yang dikelola hari ini sudahkah berdasar pada logika akses yang selama ini dibutuhkan oleh publik dalam memproduksi pengetahuannya sehari-hari? Apakah praktik ini juga bisa mengakomodasi beragamnya model pengarsipan seni budaya yang hidup di masyarakat kita? Berbagai pertanyaan itulah yang menjadi pijakan awal dari paparan yang saya bagikan di forum tersebut.

Selain itu, berbagai narasumber juga membagikan dinamika kerja pengarsipan serta tantangan hingga kemajuannya. Alan Chan, dari AAA, membagikan pengalamannya selama terlibat dalam Ha Bik Chuen Archive Project yang dilakukan oleh AAA. Angharad McCarrick dari M+ juga memaparkan landasan filosofis dari pekerjaannya sebagai arsiparis institusional. Sementara, Michelle Harvey menuturkan sejarah MoMa dari awal mulanya yang masih sangat kecil dan sederhana hingga saat ini. Selain itu juga ada Sezin Romi dari SALT yang membagikan model pengarsipannya yang dibangun dari nol dan berbasis eksperimen.

Bagi lembaga pengarsipan seperti IVAA yang memulai segala sesuatunya dari hal-hal yang berserak, dengan sistem penyimpanan yang dibangun sambil jalan, sambil dikembangkan dan diperbaiki, di saat yang bersamaan juga memikirkan cara terbaik untuk tetap bertahan dan hadir untuk publik. Forum berbagi ini akan lebih produktif jika tidak meninggalkan pembicaraan seputar konteks. Di atas konteks apa kerja pengarsipan hadir, bagaimana kondisi sosial ekonomi hadir sebagai pendukung sekaligus tantangan dari kerja pengarsipan. Dan yang tak kalah penting dari semua pembicaraan itu ialah bahwa kerja pengarsipan, penyediaan data informasi dan mendukung penelitian tidak bisa dipisahkan dari spirit dasarnya, yakni kerja produksi pengetahuan, yang juga tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan yang beroperasi. 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.