Category Archives: E-newsletter

Poster dalam Semesta Arsip

oleh Hardiwan Prayogo

Pertengahan Januari, ketika Mikke Susanto sedang mempersiapkan Pameran Poster Seni Rupa tahun 1974-2019, yang bertajuk Masa Lalu Belumlah Usai, ia menghubungi IVAA untuk menjadi salah satu narasumber di diskusi yang digelar pada hari pembukaan pameran, yaitu 22 Januari 2020. IVAA diminta untuk membicarakan poster dalam perspektif pengelolaan arsipnya. Alhasil, guna mempersiapkan materi obrolan, saya membuka lagi ribuan lembaran arsip poster koleksi IVAA. Melihat kembali fungsi utama IVAA yang bergerak di bidang pengarsipan dan seni rupa, poster menjadi salah satu rasi dalam semesta koleksi arsip IVAA. Secara umum, poster koleksi IVAA terbagi ke dalam poster promosi peristiwa seni dan poster yang bersifat propaganda. Selanjutnya, persoalan bagaimana poster berelasi dengan arsip-arsip lainnya akan diulas dalam sorotan arsip kali ini. Lebih jauh lagi, yang akan diulas adalah arsip poster event atau peristiwa seni.

 

 

 

 

 

 

Sebagai arsip, poster terhitung sebagai arsip yang cukup jarang diakses publik. Untuk menjawab persoalan ini tentu memerlukan pelacakan lebih panjang dan mendalam di lain waktu. Terlepas dari akses dan atensi publik pada arsip poster, IVAA menyimpan lebih dari 2500-an poster mulai dari 1987 hingga awal 2020 ini. Meski belum seluruhnya terinventarisasi dalam pencatatan, pameran tugas akhir Suwarno, dan pameran Forum Komunikasi Seni tercatat sebagai poster tertua sejauh ini, dengan tahun 1987. Kenapa IVAA juga merasa perlu menyimpan poster? Salah satu alasan filosofisnya adalah IVAA meyakini bahwa arsip selalu memiliki 2 aspek, yaitu nilai informasi (informational value), dan nilai bukti (evidence value). Selain memang memiliki informational value, sebagai evidence value kehadiran poster saya kira perlu disandingkan dengan arsip-arsip lain seperti katalog, foto/video dokumentasi, hingga liputan media. 

 

 

 

 

 

 

 

Lantas informasi apa yang umumnya dimiliki oleh selembar poster? Poster selalu memiliki informasi mengenai siapa saja pelaku seni yang terlibat, judul acara, waktu dan tempat pelaksanaan. Dalam sekilas pandang sambil lalu, setidaknya sebagian informasi tersebut akan diperoleh. Beberapa poster, salah satunya dalam peristiwa seni yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta, selalu mencantumkan satu esai pengantar yang biasanya ditulis oleh kurator pameran. Informasi-informasi general dalam poster ini jelas terbatas, maka perlu dicari relasinya dengan arsip-arsip lain. Mari kita mulai membuka kembali lembaran-lembaran poster koleksi IVAA.

Contoh pertama adalah Proyek Seni Rupa Yuswantoro Adi yang berjudul Bermain & Belajar. Poster yang kemudian menjadi bagian dari event ephemera ini juga memiliki katalog. Dari sebaran arsip peristiwa seni yang dimiliki IVAA, terlihat bahwa poster event menggambarkan bahwa acara ini bertema seputar anak-anak. Namun, bagaimana anak-anak direpresentasikan dalam pameran ini? Dari arsip katalog dan dokumentasi lainnya, kita akan mendapati bahwa Yuswantoro tidak hanya menggunakan figur-figur anak kecil sebagai objek kritik sosial, tetapi juga mensetting galeri menjadi taman bermain.

Contoh kedua adalah Biennale Yogyakarta VII tahun 2003. Poster pameran ini mengilustrasikan bola dunia dengan latar belakang warna merah muda. Selain menampilkan tema pameran yaitu Countrybution, poster ini menampilkan informasi general seperti lokasi, tanggal, rangkaian program dan seniman yang terlibat. Tentu sulit melacak informasi lebih lanjut terkait pameran, terlebih isu dan konteks yang mengelilingi Biennale kali ini. Maka informasi-informasi ini bisa diperoleh melalui katalog pameran yang memuat  pengantar dari Antena Project, esai kuratorial dari Hendro Wiyanto, deskripsi karya, dan profil seniman partisipan. Hendro menyebut bahwa ini adalah pertama kalinya perhelatan Biennale Yogyakarta merujuk pada sebuah tema/ tajuk tertentu: Countrybution. Biennale Yogyakarta ini sejatinya dilaksanakan pada 2001, namun mundur 2 tahun karena persoalan dana. Tema ini dipilih karena menyoroti penyelenggaraan Biennale di negara berkembang yang umumnya menghabiskan cukup banyak biaya, sementara kebutuhan dasar yang lebih vital bagi warga belum memadai.

Contoh ketiga adalah pameran tunggal Hanafi, berjudul Waktu/ Times. Poster pameran ini menggunakan ilustrasi lukisan abstrak karya Hanafi. Tentu juga masih ada informasi general dalam poster ini. Tetapi sama seperti contoh kedua, informasi lebih jauh berada di katalog. Jim Supangkat, sebagai kurator pameran, menyebut karya Hanafi sebagai dekonstruksi seni lukis abstrak. Karena jika secara teoritis seni lukis abstrak bersifat non-representasional, karya Hanafi justru merupakan seni lukis abstrak representasional yang pada pameran ini membicarakan isu objek, ruang, dan manusia. 

Kemudian yang terakhir, serangkaian poster event Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XV tahun 2003. Selain poster utama, terdapat juga poster untuk program-program terkait yaitu pameran/ gelar seni rupa yang bertajuk Reply, dan pameran tunggal fotografi Yudhi Soerjoatmodjo berjudul Facade. Dan isu apa yang tertulis dalam katalog? Disebutkan bahwa tantangan FKY edisi ini adalah mengakomodir sebanyak-banyaknya seniman, dengan berbagai kecenderungan ragam, sekaligus menghadirkan mutu. Rain Rosidi dan Sujud Dartanto mengambil benang merah ‘anak muda’, dengan spirit bahwa ini adalah cara anak muda menjawab tantangan zaman. Seluruh seniman yang berpameran merupakan hasil pendaftaran (bukan undangan). Seperti hal paling umum dari pembacaan arsip, kita kerap menemukan problem atau isu dalam seni yang berulang-ulang dari tahun ke tahun. Hal yang sama juga muncul ketika saya membuka kembali arsip yang diawali dari pembacaan poster-poster ini. 

Poin penting apa yang muncul ketika poster disandingkan dengan arsip-arsip yang lain? Poin itu adalah posisi arsip sebagai evidence value. Ketika arsip-arsip poster dengan informational value-nya masing-masing dirangkai bersama arsip lain, maka arsip-arsip tersebut mampu berfungsi sebagai evidence value, karena mereka berpotensi memunculkan konteks yang lebih luas atas suatu peristiwa. Poster sebagai arsip memang tidak bisa berdiri sendiri. Kehadirannya sangat perlu ditunjang oleh kehadiran arsip lain agar nilai-nilai informasi yang termuat dalam selembar poster ini bisa memiliki nilai bukti yang lebih kontekstual. Bukan berarti salah ketika poster dapat ditinjau secara tunggal dari aspek desain, teknik cetak, dan hal-hal formalis lainnya. Namun, dalam konteks pembacaan yang lebih komprehensif, tentu relasi dengan material arsip lain menjadi sangat penting. 

Dalam kepentingan inilah lembaga arsip seperti IVAA bekerja, bahwa logika pengelolaan arsip perlu bertumpu pada ketelitian menemukan informasi dan menjahitnya sebagai upaya menemukan kemungkinan-kemungkinan lain dalam suatu pembacaan atas peristiwa. Singkatnya, dengan logika demikianlah arsip poster dikelola di IVAA. Lebih jauh, cara kerja demikian seturut dengan kenyataan bahwa pengetahuan yang beredar di sekitar kita, termasuk seni, memang berserak. Lanskap isu yang mengitari sebuah peristiwa tidak bisa hanya dibaca melalui satu arsip poster. Ini menjadi tantangan sekaligus harapan dari kerja pengarsipan. Sebuah tantangan, karena kerja pengarsipan itu bagai pekerjaan yang tidak pernah usai dan tidak selalu sesuai dengan satu atau dua metode baku. Dan sebuah harapan bahwa potensi pengetahuan dalam arsip tidak akan menemui titik, selalu berjalan dalam koma.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Kunjungan ACICIS ke IVAA 2020

oleh Ganesha Baja Utama

Pada 16 Januari 2020 Indonesian Visual Art Archive (IVAA) menerima tamu dari kawan kawan “The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies” (ACICIS). ACICIS adalah konsorsium pendidikan nirlaba nasional inovatif yang didirikan pada 1994 untuk mengatasi hambatan akademik, birokrasi dan imigrasi yang secara signifikan telah menghambat siswa Australia untuk melakukan studi semester di universitas-universitas dan beberapa komunitas di Indonesia. IVAA menjadi bagian dari salah satu program kunjungan mereka. Kunjungan dari kawan-kawan ACICIS ini disambut senyum hangat oleh beberapa staf IVAA, yakni Yoga, Sukma, dan Santoso. 

Kunjungan ini memang lebih banyak bercerita tentang profil IVAA (sejarah, visi-misi, dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan) hingga tanya-jawab. Salah satu pertanyaan yang muncul dari kawan-kawan ACICIS adalah soal bagaimana IVAA menentukan sesuatu sebagai arsip dan selanjutnya bisa diarsipkan. Tentu, IVAA sebagai lembaga arsip pun tidak lagi menjadi pemain tunggal kerja dokumentasi seperti dulu, sehingga mengupayakan kelengkapan arsip peristiwa seni. Sekarang IVAA lebih mengutamakan bekerja dengan basis isu yang relevan dan kontekstual. 

Sekitar pukul 11.00 sesi tanya jawab dan presentasi ditutup. Kemudian teman-teman ACICIS diajak berkeliling ruangan (room tour) yang ada di IVAA, mulai dari lantai paling bawah hingga lantai paling atas. Kunjungan ini diakhiri dengan makan dan foto bersama di ruang tengah.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Bincang Singkat Arsip, Seni dan Aktivisme – Bridge Year Program

oleh Krisnawan Wisnu Adi

Sebagai bagian dari program internship-nya di Yogyakarta, Bridge Year Program (BYP) dari Universitas Princeton bersama Where There Be Dragons menggelar sesi belajar yang mengusung beberapa tema: seni dan aktivisme, kepercayaan lokal, gender dan seksualitas, serta kelompok marjinal. Untuk masing-masing tema, mereka mengunjungi beberapa organisasi yang relevan. 

Pada Senin siang, 27 Januari 2020, sekitar pukul 13.30 WIB, mereka mengunjungi IVAA untuk berbincang singkat seputar seni dan aktivisme. Kurang lebih poin inti yang dibicarakan adalah peran IVAA sebagai lembaga pengarsipan di dalam fenomena aktivisme seni. 

Dalam kesempatan yang menyenangkan ini, tim IVAA lebih banyak membagikan pengalaman ketika mengarsipkan beberapa peristiwa seni yang berkaitan dengan isu urban, seperti aktivitas “Sakit Berlanjut” (1999), “Di sini akan dibangun mall” (2004), “Panen Terakhir” (2012), “Merti Kuto-Warga Berdaya” (2015), dsb. Selain itu, diceritakan juga proses pengarsipannya. Berawal dari suatu persoalan kemudian pengolahan isu (kontekstualisasi dengan misi lembaga dan kebutuhan publik), konsolidasi ke dalam-luar, pendokumentasian, pencatatan arsip, aktivasi arsip (aktivasi melalui buku, diskusi, serta platform online), hingga ketika arsip kembali di publik. 

Setelah duduk bercerita bersama, teman-teman BYP diajak untuk menyaksikan beberapa arsip video tentang seni dan aktivisme, serta beberapa poster propaganda karya Taring Padi.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

TELAAH VISUAL: PERWAJAHAN BUKU SASTRA JAWA MODERN (GAGRAK ANYAR) (Periode Awal 1900 hingga Roman Panglipur Wuyung)

oleh Ibnu “BENU” Wibi Winarko 

Suatu produk hasil industri agar mendapatkan sebuah tanggapan dari konsumen –terjual–, diperlukan adanya faktor pendukung, misalnya iklan, diskon, pemberian contoh produk atau sesuatu yang bisa meningkatkan penjualan. Hal yang sudah lumrah dan jamak dilakukan. Semua lini bergerak dan tak boleh kendor, agar bisa segera mendapatkan pemasukan uang dan segera mungkin untung.

Industri buku di Hindia-Belanda sudah mulai ada sejak akhir abad 19, kebanyakan milik orang Tionghoa peranakan dan Indo-Eropa. Sebagian besar menerbitkan buku-buku cerita dalam bahasa Melayu Tionghoa atau Melayu Pasar. Beberapa buku sempat diterbitkan ulang oleh penerbit Gramedia, terhenti pada seri ke-15. Salah satu penerbit yang terkenal adalah Tan Khoen Swie (TKS) di Kediri, yang berdiri pada kurang lebih tahun 1915. Pecinta buku tentu kenal dengan buku-buku terbitannya yang terbagi ke dalam 3 jenis: tulisan Jawa, tulisan Jawa latin (modern), dan Melayu. TKS menerbitkan kurang lebih 400 judul buku dengan berbagai genre. Termasuk buku-buku karangan pujangga dan sastrawan Jawa seperti Ronggowarsito, Yosodipuro, dan Ki Padmosusastro.

Lalu penerbit milik pemerintah Belanda di Hindia-Belanda yang paling tua dan ikut menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa latin adalah Landsdrukkerij atau Percetakan Negara. Berdiri pada 1809, punya tugas untuk mencetak Berita Negara dan Lembaran Negara. Apa itu? Contohnya adalah undang-undang dan peraturan pemerintah. Lokananta, sebuah perusahaan rekaman musik di Solo yang terkenal dengan rekaman piringan hitam dan kaset adalah salah satu cabang perusahaan tersebut. Percetakan Negara sekarang beralih nama menjadi Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (BUMN). Masih ada satu penerbit milik Belanda yang ada di Batavia, terdeteksi menerbitkan novel berbahasa Jawa, yakni Papyrus. 

Pada saat itu, Batavia difungsikan sebagai titik awal dan pusat perkembangan industri percetakan di Hindia-Belanda ini. Bangsa kolonial ingin memanjakan orang-orangnya yang ada di Hindia-Belanda dengan bahan bacaan informatif. Mesin cetak didatangkan dari Eropa pada pertengahan 1600. Konon, ada 6 badan penerbitan swasta yang mencetak buku almanak, kamus dan kitab suci. Baru pada 1719, VOC bisa memaksimalkan fungsi mesin cetaknya setelah mengalami pengalaman buruk pada puluhan tahun sebelumnya. Gubernur Jenderal van Immof baru menyadari bahwa percetakan dan penerbitan merupakan hal penting untuk kelangsungan kekuasaan VOC di Hindia-Belanda.

 

Sastra Jawa Modern

Sebelum membahas sampul buku-bukunya, perlu diceritakan secara singkat asal muasal genre ini. Sastra Jawa dulunya hanya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan kraton, berupa kakawin atau tembang. Selaras dengan pertunjukan seni wayang yang bisa ditanggap oleh rakyat biasa, sastra Jawa ikut keluar dari kraton. Pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19, muncul pujangga-pujangga sastra Jawa baru yang bukan dari keluarga kraton. Kebanyakan berasal dari golongan priyayi atau golongan terpelajar. Karya-karyanya menggunakan bahasa pengantar Jawa Madya (bahasa Jawa tingkat tengahan). Beberapa pujangga sastra Jawa baru (modern) adalah Jasawidagda, Hardjawiraga, Asmawinangun, Padmosoesastra dan beberapa lainnya. Keberadaan mereka didukung oleh pihak kolonial yang meminta mereka untuk membuat buku yang isinya hampir sama dengan buku-buku terbitan Eropa. 

Bale Poestaka ikut berperan menyebarkan karya-karya mereka. Sebuah lembaga penerbitan yang didirikan oleh pemerintah kolonial sebagai salah satu bentuk politik balas budi, serta untuk meredam propaganda yang mulai dikobarkan oleh pemuda dengan pemikiran modern tentang kebebasan dan kemerdekaan. Para pemuda menerbitkan tulisan-tulisannya di kota-kota kecil, sehingga pemerintah kolonial perlu meredamnya dengan mencetak buku-buku penghibur dan penenang hati rakyat, agar mereka terus “tertidur” dan melupakan ajakan para pemuda modern untuk melakukan gerak perlawanan.

George Quinn dalam Novel Berbahasa Jawa (1995) membedakan karya sastra Jawa baru menjadi 3 jenis. Pertama adalah Novel Priyayi, sebab penyunting dan penulis Jawa yang bekerja di Bale Poestaka sebagian besar adalah priyayi tingkat bawah (mendapat didikan Belanda). Novel-novel jenis ini dengan mudah mendapatkan kedudukan, kekuasaan, hak istimewa dan bersifat eksklusif di alam tata kehidupan masyarakat. Novel priyayi juga menggambarkan kehalusan watak dan penampilan fisik idealnya seorang priyayi.

Kedua adalah Novel Panglipur Wuyung. Karya sastra yang didasari arus cerita populer dalam masyarakat yang berbau lisan. Ideologi di dalamnya berdasarkan atas kenyataan hidup dan dunia adalah tempat yang tidak aman. Novel jenis ini sering menyajikan pembelaan terhadap nilai-nilai yang telah populer dan konservatif dalam masyarakat lewat sinkretisme, penyesuaian dan persatuan. Perbedaan hasil penyelesaian perkara dapat diterima oleh semua pihak asal masih berpedoman pada adat dan tenggang rasa.

Ketiga adalah Novel Modern. Quinn mengambil pembedaan ini berdasarkan buku Rites of Modernization (1968) karya James Peacock yang meneliti kesenian ludruk. Disebutkan bahwa ada alur-T (tradisional) dan alur-M (modern). Alur-M mengandung penyelesaian yang akan menghasilkan suatu hal baru atau inovatif. Alur semacam ini jarang dilakukan oleh sastrawan Jawa. Disinyalir hanya Suparta Brata yang telah menggunakannya (serial Detektif Handaka). Sedangkan cerita dengan alur-T akan menghasilkan penyelesaian yang banyak dianut sastrawan Jawa. Suatu akhir cerita yang tidak akan mengubah kondisi masyarakat sebelumnya. 

 

Sampul Novel Priyayi

Gambar 1. Serat Tjariosipoen Djaka Santosa Lan Djaka Marsoedi, Ketiga Wigjapratjeka karya Tjakardi Brata cetakan Commissie voor de Volkslectuur (Balai Pustaka) (1916). Dokumen penulis.

Apa kesan kita saat melihat penampilan seorang priyayi? Jaman dulu, seorang priyayi digambarkan sebagai pribadi yang halus dan paham adat-istiadat. Berpakaian rapi, necis, dan bersih. Gambaran mudahnya adalah seperti penampilan Minke (diperankan Iqbaal Ramadhan) dalam film Bumi Manusia, yang dibuat berdasarkan salah satu novel tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Penampilan seperti itulah yang termatup dalam novel-novel bahasa Jawa modern. Para penulis bertutur tentang pakaian dan tampilan para pemuda-pemudi dalam bahasa Jawa Madya. Bahasa Jawa Madya adalah salah satu tingkat percakapan yang digunakan dalam struktur bahasa Jawa. Biasa digunakan kepada teman atau orang lain yang belum dikenal tapi punya kesamaan usia.

Hal ini agak berhubungan juga dengan tampilan sampul-sampul buku yang dicetak. Sampul buku berpenampilan “sopan”, terdiri dari judul, pengarang, jabatan pengarang atau asal pengarang, peraturan undang-undang tentang perlindungan hak cipta, dan nama penerbit beserta kota. Tulisan-tulisan tadi kemudian dibatasi oleh kotak hingga menambah kesan kaku. Ada juga yang hanya polos tanpa hiasan apapun. Hanya beberapa saja yang menggunakan hiasan goresan garis bernuansa art nouveau sederhana. Secara visual lebih terkesan cair dan sedap dipandang mata, seperti pada judul Serat Tjariosipoen Djaka Santosa Lan Djaka Marsoedi, Ketiga Wigjapratjeka karya Tjakardi Brata cetakan Commissie voor de Volkslectuur (Balai Pustaka) pada 1916. (Gambar 1)

Sejalan dengan semakin berkembangnya dunia pustaka, pada 1917 Bale Poestaka (BP) atau Balai Pustaka (nama setelah Commissie voor de Volkslectuur) lebih banyak lagi memperkenalkan cerita-cerita dalam bahasa Jawa, Jawa latin, Sunda, Madura, dan Melayu. Tampilan sampul lambat-laun ditambahi semacam ragam hiasan berulang, ada yang kecil dan ada yang besar. Ragam hias besar menggantikan kotak yang berupa garis. Pola ragam hias ini digunakan juga untuk buku-buku di luar roman Jawa modern. Salah satu contoh adalah Woelang-Darma (M. Partadiredja dan R. Poerwasoewigja, 1922). (Gambar 2)

Gambar 2. Woelang-Darma (M. Partadiredja dan R. Poerwasoewigja, 1922). Dokumen penulis.

Untuk ragam hias yang berukuran kecil diletakan mengurung huruf BP. Bisa ditemukan pada Ichtijar Marganing Kasembadan (Wirjawarsita, 1925), Soewarsa-Warsijah (Sastradihardja, 1926), dan Botjah ing Goenoeng (M. Soeratman Sastradiardja dan K. M. Sasrasoemarto, 1930) (Gambar 3).

Gambar 3. Botjah ing Goenoeng (M. Soeratman Sastradiardja dan K. M. Sasrasoemarto, 1930). Dokumen penulis.

Ragam hias yang ditempelkan pada bawah nama pengarang dapat ditemukan pada buku berjudul Saking Papa Doemoegi Moelja (Mw. Asmawinangoen, 1928), Moengsoeh Moengging Tjangklakan (Mw. Asmawinangoen, 1929), Badan Sapata (Hector Malot dan M. Hardjawiraga, 1931) (Gambar 4), dan Asih Tan Kena Pisah (Soeman Hs dan M. Soehardja, 1932). 

Gambar 4. Badan Sapata (Hector Malot dan M. Hardjawiraga, 1931). Dokumen penulis.

Beruntung Bale Poestaka segera memperkerjakan B. Margono (lahir 1901-1959). Ilustrator handal dari Jogjakarta yang karya-karyanya mulai menghiasi sampul novel bahasa Jawa dan Jawa modern. Tercatat dimulai dari novel Tri Djaka Moelja (M. Harjadisastra, 1932), Tarzan Ketek Poetih (Edgar Rice Burroughs dan Soewignja, 1935), Tarzan Bali (Edgar Rice Burroughs dan Soewignja, 1936), Sri Koemenjar (L.K. Djodosoetarso, 1938), dan Ni Woengkoek ing Benda Growong (R.Ng. Jasa Widagda, 1938). Sebagian karya B. Margono telah dipamerkan oleh Bentara Budaya Yogyakarta tanggal 13-21 Juli 2010 dengan tajuk “Seporet”. Selain itu hanya ada sebuah buku berjudul Ali Babah karya Enno Littmann dan Soewignja (1933) yang memberi gambar ilustrasi di bagian sampulnya (tidak diketahui karya siapa). Serta sebuah novel adaptasi berjudul Ma Tjun diterjemahkan S. Sastrasoewignja (1932). Penghias kulit muka buku itu kemungkinan adalah B. Margono.

Dari data di atas, saya ambil kesimpulan sementara bahwa pemberian ilustrasi pada buku-buku novel bahasa Jawa mulai dilakukan tahun 1930-an. Hal ini mungkin dipelopori oleh Bale Poestaka karena ada pengaruh dari buku-buku terbitan luar (Belanda) yang masuk ke Hindia-Belanda. Coba perhatikan buku-buku pelajaran sekolah rakyat (SD) cetakan J.B. Wolters yang sampulnya bagus-bagus. Sampai sekarang saja masih jadi buruan kolektor buku sebab dihiasi ilustrasi halaman dalam yang ciamik. Buku-buku ini, sedikit banyak mempengaruhi perkembangan penggunaan ilustrator untuk mengerjakan bagian sampul dan isi. Gambar sampul sebagai salah-satu pemikat hati calon pembelinya. 

Memasuki periode 1940-1950, selain Bale Poestaka; ada penerbit buku berukuran kecil dari Kota Solo, yakni Poernama yang ikut meramaikan dunia pustaka. Buku novel yang diterbitkan adalah Pedoet Sala (Asmara Asri, 1941; ilustrator tidak diketahui) (Gambar 5), Kyai Franco (Asmara Asri, 1941; illustrator tidak diketahui), dan Soerja-Raja (Asmara Asri, 1941; ilustrator tidak diketahui). Ada juga Badan Penerbit Indonesia mengeluarkan buku berjudul Tri-Moerti (Ki Loemboeng, 1941; ilustrator tidak diketahui). Pada periode ini, berdasarkan buku yang dijadikan dasar penulisan, Bale Poestaka tidak mengeluarkan buku bergambar pada sampulnya.

Gambar 5. Pedoet Sala (Asmara Asri, 1941; ilustrator tidak diketahui). Dokumen penulis.

Pada kedua dasawarsa tadi, tampilan gambarnya masih menggunakan 1 warna saja. Bale Poestaka menggunakan warna hitam pada setiap gambar sampulnya. Sedangkan penerbit Poernama mulai menggunakan salah satu dari warna merah, hijau, coklat atau biru untuk sampul-sampul bukunya. Hingga akhir 1940-an, tak banyak lagi buku diterbitkan, mengingat saat itu masih dalam suasana perang; dari masuknya Jepang merebut Hindia-Belanda dan dilanjut perang kemerdekaan. Keadaan genting baru benar-benar usai setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda II pada 27 Desember 1949.

 

Novel Panglipur Wuyung

Sebuah roman picisan dalam bahasa Jawa yang mulai berkembang dan bersaing dengan terbitan dari Balai Pustaka. Masa kemunculan dan berakhirnya hampir selama dua dekade. Balai Pustaka memancing semangat penerbitan buku-buku novel berbahasa Jawa ngoko lewat Oh, Anakku karya Th. Suroto (1952) (Gambar 7) dengan penggambar sampul Abdul Rachman. Penulisan menggunakan bahasa Jawa Madya sudah tidak dipakai lagi. Disusul Djodo Kang Pinasti karya Rm. Ngabei Sri Hadidjojo (1952) (Gambar 6) , sampul oleh Abdul Rachman. Desain sampul dan gambar pada buku Djodo Kang Pinasti kelihatannya menjadi acuan bagi sampul-sampul buku sejenis di kemudian hari. Gambar tokoh utama digambar secara close-up untuk menarik perhatian agar dibeli dan dibaca.

Gambar 6. Djodo Kang Pinasti karya Rm. Ngabei Sri Hadidjojo (1952). Dokumen penulis.

Gambar 7. Oh, Anakku karya Th. Suroto (1952). Dokumen penulis.

Penerbit partikelir ibarat cendawan di musim hujan. Bermunculan di mana-mana, terutama di Surabaya, Semarang, Solo dan Jogja. Pertama yang terpancing adalah Pustaka Roman, tampil dengan seukuran buku saku yang bertahan hingga 10 edisi. Lantas disusul oleh Panjebar Semangat (PS), lewat divisi penerbitan buku menggandeng pengarang legendaris Any Asmara dan menerbitkan buku Gerombolan Gagak Mataram (1954) bersama S.Har sebagai ilustrator, sekaligus ilustrator tetap di majalah PS. Hampir semua buku-buku yang diterbitkan oleh PS, bagian sampul dikerjakan oleh S.Har, seperti Kintamani (Any Asmara, 1954), Anteping Wanita (Any Asmara, 1955), Kereme Kapal Brantas (Lu Min Nu, 1955), Gerombolan 13 (Any Asmara, 1956), dan Pusporini (Imam Supardi, 1956). 

Memasuki 1960-an, penerbitan buku-buku roman panglipur wuyung lebih menggila lagi. Lebih dari 400 judul buku dicetak dan ditawarkan kepada masyarakat. Alur cerita pada buku-buku panglipur wuyung atau “penghibur sementara” mempunyai ciri berisi percintaan dan kehidupan rakyat jelata pada umumnya. Dikemas secara sederhana –hampir 90% berukuran saku– agar mudah terbeli. Konon, jenis novel ini mengikuti tren buku cerita-cerita silat karya Kho Ping Hoo yang juga berukuran kecil. Ditambah dengan gambar-gambar sampul berwarna yang sangat menarik perhatian, buku setebal 32-48 halaman ini sangat laris. Hanya sedikit pengarang yang mengangkat alur-M (modern).

Gambar 8. Anteping Wanita (Any Asmara, 1955). Dokumen penulis.

Bisa dibayangkan, bagaimana 400 buku bersaing untuk mendapatkan ganti uang produksi? Sebagai ilustrasi, seorang calon pembeli mendatangi kios buku. Tampak berjejer-jejer buku dengan berbagai judul (misalnya 40 judul). Dalam benak si calon pembeli mungkin yang pertama dicari adalah pengarangnya. Jika tidak ditemukan, faktor selanjutnya adalah pesona aura sampul yang akan jadi pilihannya. Judul menjadi penentu terakhir untuk memilih buku mana yang akan dibawa pulang.

Faktor gambar sampul tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Faktor visual sangat penting dalam menarik perhatian konsumen. Yang menarik secara visual akan memenangkan persaingan. Hal demikian pula dilakukan oleh para penerbit buku roman panglipur wuyung. Mereka ingin sekali agar buku hasil cetakannya laku. Pengarangnya pun ambil bagian dalam menentukan siapa ilustrator sampul buku karangannya. Kedua hal yang wajar dilakukan agar modal yang dibiayakan segera kembali, untuk digunakan mencetak buku lagi. Kepuasan pengarang atas hasil gambar sampul yang bisa membantu dalam penjualan karya tentu berkorelasi dengan kerjasama selanjutnya. 

Meski demikian, bagaimana pengarang dan penerbit buku menentukan siapa ilustrator sampul terbatasi oleh faktor waktu, efisiensi dan konteks geografis. Ada kecenderungan bahwa pengarang dan penerbit yang berdomisili di wilayah Jogja akan menggunakan jasa ilustrator dari Jogja. Sebagai contoh, Any bekerja sama dengan Soedijono atau Oyi Soetomo. Any Asmara mengajak Kentardjo untuk menggarap sampul. Di Solo dan Surabaya juga begitu kejadiannya. Kwik Ing Hoo (KIH), komikus legendaris Wiro Anak Indonesia, membantu Soedharmo KD (Pini AR), Hardjana HP, J.A. Setia, dan Tanto P.S.

Gambar 9. Ilustrasi karya Jono S. Wijono. Dokumen penulis.

Ilustrator yang paling subur mengeluarkan karya adalah Jono S. Wijono. Karyanya hampir menemani sebagian besar pengarang dan penerbit di Jogja, Solo, Surabaya dan Semarang. Meski gambarnya kurang semantap S.Har, Teguh Santoso, dan Kentardjo, kenyataannya dia menjadi jawaranya ilustrator novel-novel panglipur wuyung di periode 1960-1970. Bisa dilihat pada tabel di bawah ini:


Tabel jumlah karya ilustator

Tabel di atas hanya menunjukkan jumlah karya para ilustrator yang berkarya lebih dari 10 sampul buku. Dari sampel buku yang ada, ditemukan kurang lebih 80 nama ilustrator dan terdapat 20 buku yang tidak tercantum nama ilustratornya. Sebagian besar selalu menampilkan pakem wajah seorang wanita dan atau pria dengan wajah kota. Hanya sedikit yang keluar dari pakem tersebut. Hanya pengarang kenamaan dan yang karyanya mungkin telah ditampilkan secara bersambung di majalah berbahasa Jawa yang berani keluar dari pakem itu.

Gambar 10. Ilustrasi karya Kentardjo. Dokumen penulis.

Gambar 11. Ilustrasi karya Jono S. Wijono. Dokumen penulis.

Masa keemasan novel Jawa modern dipaksa berhenti oleh negara, melalui Operasi Tertib Remaja II (Opterma II) pada awal 1967. Tujuannya adalah untuk menertibkan buku-buku bacaan yang dianggap cabul dan anti sosial. Dari 217 judul novel, ada 21 judul yang dilarang beredar. Akibatnya, pengarang dan penerbit tidak mau ambil resiko untuk mencetak buku novel berbahasa Jawa lagi. Karya-karyanya berubah ke cerita silat Jawa dan media majalah yang menggunakan bahasa Jawa seperti Panjebar Semangat, Mekar Sari, Jaya Baya dan lain-lain. 

Gambar 12. Ilustrasi karya Dibyo. Dokumen penulis.

Gambar 13. Ilustrasi karya Kwik Ing Hoo. Dokumen penulis.

Penutup

Perwajahan sebuah buku dari tahun ke tahun mengalami perubahan bentuk gambar seiring dengan tren pada masanya. Begitu pula dengan buku sastra Jawa modern dari awal 1900 hingga Roman Panglipur Wuyung. Dari yang hanya polos tapi penuh tulisan keterangan, hiasan kecil dan besar, gambar 1 warna, hingga gambar penuh warna. Jasa para illustrator lalu menjadi begitu penting untuk menggarap sampul, meski kadang kala ada juga yang tak nyambung antara isi dan sampul. Rentang perjalanan perwajahan sampul buku sastra Jawa modern ini menjadi bagian penting dalam sejarah industri penerbitan dan percetakan, baik sebagai kontrol oleh negara hingga persaingan dagang.


Ibnu “BENU” Wibi Winarko, adalah seorang kolektor gambar umbul dan buku-buku novel berbahasa Jawa. Telah beberapa kali terlibat dalam penulisan buku/ katalog seperti, Pameran Gambar Oemboel II : Thong Thong Sot di Bentara Budaya Yogyakarta (2010), Pameran Etiket Tenun dan Batik di Bentara Budaya Yogyakarta (2013), buku Gambar Oemboel Indonesia (2010), Gambar Oemboel Wajang (2015), Gambar Oemboel Tjerita (2018). Selain itu, koleksinya juga beberapa kali dipamerkan, antara lain Pameran Grafis Gambar Oemboel di Bentara Budaya Yogyakarta (2003), Pameran Tjap Petroek di Bentara Budaya Yogyakarta (2004), Pameran Komik di Bentara Budaya Yogyakarta (2004), dan Pameran Seni Rupa Alibaba di Bentara Budaya Yogyakarta (2019).

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

BULETIN IVAA DWI BULANAN | NOVEMBER-DESEMBER 2019

Pembaca yang budiman, entah terasa atau tidak, 2019 sudah sampai di penghujung tahun. Ada banyak kegiatan yang orang-orang lakukan untuk menutup tahun babi tanah ini, entah menyusun laporan akhir, tutup buku, evaluasi tahunan, atau liburan. Newsletter IVAA juga tak mau ketinggalan; hadir untuk menemani pembaca sekalian menutup tahun dengan konten-konten yang ringkas. Berbeda dengan edisi sebelumnya yang mengulas perihal materialitas karya dalam seni rupa kontemporer secara khusus, edisi November-Desember ini lebih memuat sebaran dan beberapa refleksi kegiatan-kegiatan IVAA selama akhir 2019. Ada Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol, Pusparagam Pengarsipan: “The Possibility of Socially Engaged Archiving”, dan infografis outreach IVAA ke beberapa tempat untuk merawat jaringan. 

Selain sebagai sebentuk sajian akhir tahun kepada para pembaca sekalian, kegiatan-kegiatan itu juga upaya memperlebar definisi praktek-praktek kerja pengarsipan dan seni visual. Bahwa dua hal tersebut harus selalu dikontekstualisasikan dan tidak melulu menjadi entitas yang kaku dengan kanon-kanonnya. 
Selain itu, kehadiran teman-teman magang seperti Firda, Fika, Shifa, Bian, Nada dan Jati begitu memberi sumbangsih yang berarti untuk dinamika kerja IVAA. Mereka seolah menegaskan bahwa kerja pengarsipan tidaklah kering seperti yang orang-orang imajinasikan. 
Semoga edisi ini dapat menjadi teman baca sembari menutup tahun. Akhir kata, selamat melakukan aktivitas apapun; selamat Natal bagi yang merayakannya; selamat tahun baru 2020, dan selamat membaca!

Salam budaya!

Sorotan Dokumentasi | November-Desember 2019

Sorotan dokumentasi edisi penutup tahun ini kami fokuskan untuk menyorot dua kegiatan penting yang telah kami upayakan: Festival Sejarah: Jejak Sudirman dan Pusparagam Pengarsipan, sekaligus poin-poin refleksi. Dua kegiatan ini menjadi upaya kontekstualisasi yang terus-menerus terhadap kerja pengarsipan serta seni visual itu sendiri, dengan isu serta kebutuhan sekitar. 

Biasanya rubrik ini memang kami gunakan untuk memuat liputan peristiwa seni, wawancara atau profil seniman. Sorotan dokumentasi kali ini juga menandai upaya kerja pengarsipan kami yang berbeda, yaitu tidak melulu berangkat dari mendokumentasikan peristiwa seni. Jika dilihat kembali, maka rubrik sorotan dokumentasi selama 2019 ini mencoba menyorot seni visual dan pengarsipan dalam definisi yang luas. Mulai dari kelas-kelas literasi seni untuk dua edisi, yaitu Belajar Sama-Sama dan Sama-Sama Belajar. Kemudian sosok ‘manajer’ di balik acara kesenian, Kerja Manajerial, Kerja Kemanusiaan, dan terakhir tentang materialitas karya, Beralih Sebelum Meraih Makna. Seluruhnya tidak ada yang secara khusus menyoroti satu atau dua peristiwa seni tertentu. 

Ini merupakan hasil refleksi kami bahwa seni visual dan pengarsipan juga lahir dari inisiasi-inisiasi di luar yang tidak melulu event based. Kerangka demikian yang coba dielaborasi dalam kerja dokumentasi kami. Masih satu tarikan nafas, dua acara yang kami sorot pada edisi ini ingin menebalkan upaya memperluas definisi pengarsipan dan seni visual. Bahwa pengarsipan sebagai metode merawat pengetahuan selayaknya tidak berhenti pada otoritas institusi tunggal, dan seni visual barangkali dapat menjadi bahasa yang inklusif, tidak melulu sebagai entitas yang kaku serta elitis.

Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

Berikut adalah video dokumentasi kegiatan bersama warga Grogol IX, Parangtritis. Diawali dengan acara Siklus 2.0: Bunyi-Bunyi Masa Lalu (25 Oktober 2019) sebagai pengantar, kemudian dilanjutkan Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol (18 November 2019). Dua video dokumentasi tersebut diproduksi oleh teman-teman Kartitedjo: social enterprise yang bergerak dalam bidang audio visual, khususnya yang berkaitan dengan isu sosial dan kebudayaan lokal. 

Pada dua acara di atas, juga terdapat bincang pengalaman warga mengenai singgungan mereka soal kisah-kisah tentang Bung Karno, Sudirman, serta aktivitas masyarakat setempat yang berkaitan makanan lokal seperti rempeyek hingga sayur lodeh, dan kandang kelompok. Bincang tersebut dikemas dengan format talkshow yang rekaman suaranya dapat diakses pada tautan. 

Selain itu, untuk memperdalam refleksi atas kegiatan pengarsipan bersama warga Grogol IX ini, Eko Setyo Raharjo (perwakilan warga Grogol IX yang terlibat penuh sebagai direktur Festival Sejarah) hadir dan bercerita tentang proses pengarsipan warga tersebut. Presentasi ini digelar bersamaan dengan presentasi dari teman-teman KUNCI Study Forum & Collective (Fiki Daulay dan Nuraini Juliastuti) pada Diskusi Publik Hari 1 Pusparagam Pengarsipan di Rumah IVAA pada 19 November 2019 dengan tema Memory and Counter Memory

Moderator:
Mengingat kita pada saat bersamaan melupakan. Karena kita selalu berkomunikasi menggunakan bahasa, dan bahasa selalu reduktif. Kita diajak untuk meyakini bahwa setiap aktivitas kita atau keberadaan kita ambivalen, dan situasi kita menyimpan itu paradox, inilah yang aku tangkap dari tema diskusi ini.
Pengarsipan yang membumi, secara umum yang saya tangkap, kerja pengarsipan yang mempertahankan pengetahuan, banyak dilakukan orang/ lembaga berotoritas tertentu yang nggak jarang berjarak dengan realitas sesungguhnya yang ingin diabadikan. Membuktikan memory and counter memory berkelindan satu sama lain.

Presentasi KUNCI – Heterotropics
Fiki Daulay:
Mei–Juni 2017, KUNCI diundang untuk terlibat dalam proyek Heterotropics melihat koleksi museum Tropenmuseum. Mulai dengan mitos akademisi dan peneliti yaitu akan sangat mudah mendapatkan arsip ketika berada di Belanda. Pada kenyataannya mitos itu sudah nggak berlaku. Kedua, museum lamban melihat realitas, agak sulit berpacu dengan realitas yang ada. Ada satu object koleksi  berusia 350 tahun yang kita jadikan acuan.
Bagaimana memproblematisir pengalaman kita di sana dengan situasi hari ini? Bagaimana memahami pengalaman orang di luar museum?
Kita, alih-alih melihat museum sebagai pusat pengetahuan, kita melakukan penelitian etnografis. Mewawancarai orang yang melakukan praktik pengarsipan, namun bukan praktisi. Kita wawancarai, arsitek, seniman, sejarawan, eksil, dll. Kita mewawancara mereka, mempertanyakan praktik pengarsipan mereka dan bagaimana pengalaman ketika mengunjungi Tropenmuseum.
Pak Sarmadi, eksil yang menetap di Belanda, mengumpulkan dan mencari tahu apa yang terjadi di Indonesia sampai sekarang. Wawancara ini kami gunakan mencari tahu, adakah praktik pengarsipan lain yang dilakukan bersamaan dengan mencari tahu pengalaman mereka dengan Tropenmuseum.
Dari beberapa koleksi berumur 350 tahun, kami menemukan manekin Suwarsih Joyo Puspito, sastrawan yang ternyata di Indonesia tidak begitu populer. Kami ingin menghidupkan kembali manekin ini dan memasukan karakter yang ada di manekin ini. Kemudian manekin ini yang mewakili rangkaian proses kerja kami dalam proyek ini. Kami merekonstruksi kembali karakter Suwarsih dan menghidupkan narasi fiktif yang kami sandingkan dengan peta, yang tentu saja peta merupakan hal yang penting di era kolonial. Suara Suwarsih menjadi audio guide dalam pameran ini.
Bagaimana membagi metode, apa yang kita lakukan di sana dengan masyarakat, yaitu dengan podcast, simposium dan diskusi publik.

Nuraini Juliastuti (Nuning):
Konteks. Kita melakukan proyek ini di Belanda, dimana Belanda tidak hanya menjajah Indonesia, tapi juga negara lain.
Kita melakukan ini di Tropenmuseum, yang didirikan pertama kali sebagai colonial institution yang menyimpan semua temuan-temuan etnografis yang dijajah oleh Belanda. Yang kita hadapi di sana adalah colongan. 
Persiapan yang kita lakukan: spekulasi teori, kita menyiapkan landasan teori, kita membuat seri membaca bersama teman-teman KUNCI yang lain. Membaca buku Ann Laura Stoler (Along Archival Grain), Foucault (Archeology of Knowledge), Derrida. Ini landasan teori yang kami pertimbangkan sebelum kami berangkat ke Belanda. Poin yang kami dapatkan, pentingnya memperhatikan arsip bukan semata-semata sebagai sumber, karena itu adalah mindset yang kita pakai. Kami berusaha menggeser paradigma itu dan melihat arsip sebagai subyek. Kami menelusuri bagaimana arsip digunakan, kami melihat arsip sebagai alat surveillance (pengawasan) untuk mengendalikan kenormalan. Satu poin lain, arsip bukan dilihat sebagai kumpulan artefak atau materi yang dikumpulkan oleh orang, tapi arsip yang punya agenda, yang dikumpulkan orang-orang yang tentu saja punya agenda.
Kami sangat tertarik dengan gagasan Ann Laura Stoler. Kami tidak tertarik untuk melakukan counter, tidak tertarik melihat Belanda sebagai bekas penjajah, kami lebih tertarik untuk melihat apa ada sisa-sisa yang ditinggalkan oleh Belanda.
Kami juga tertarik dengan gagasan, bukan dengan gagasan materiality arsip, tapi lebih melihat wacana, arsip dan bagaimana dia menentukan masa depan. Saya melihat ada kebebasan untuk mengkonseptualisasi masa depan lewat pengumpulan arsip, itu yang ingin kita capai dalam proyek kita. 
Itu hal yang tentang teori. Begitu kami di sana, saya melihat Tropen sebagai museum, bukan hanya fisik tapi juga birokrasi, betapa sulitnya kita mengakses apa yang ada di sana, yang bahkan adalah berasal dari Indonesia. Itu yang jadi refleksi kita. Kita lebih tertarik untuk melihat arsip bukan sebagai legacy atau warisan, kami akhirnya lebih tertarik untuk membongkar, artist and researcher  technology. 
Bagaimana kita mencoba memproduksi gangguan kerapian dan cara artefak ditata di dalam museum itu. Dengan mewawancarai orang-orang dalam berbagai topik, dan  siaran radio, podcast di museum. Itu cara kita melakukan intervensi.
Gagasan audio guide itu, kita sampai di ujung residensi kami berpikir untuk melihat museum lebih dari sebuah institusi tapi bisa bermain-main dengan koleksi yang ada di Tropen.
Kita bertanya, bagaimana colonial archive ini engage dengan perasaan kita, dengan subyek kolonial dulu, dan bagaimana melihat arsip itu sebagai tempat kembali. Bagaimana kita pengguna memandang arsip kolonial bukan hanya sebagai pengingat, tapi bisa mempertanyakan diri sendiri. 
Momentum untuk mempertanyakan Indonesia, bagaimana kita melihat replika ini. Kita melihat Papua dalam kacamata kolonial. Makanya kita pakai Suwarsih ini untuk membaca ulang arsip kolonial.

Moderator:
Menarik bagaimana kita dikonstruksi untuk berada dalam perspektif tertentu ketika kita mengunjungi suatu museum.
Bagaimana rasanya mengarsipkan diri sendiri? 

Eko:
Saya akan bercerita mengenai proses bagaimana cara kita mengarsipkan:

  • Mengadakan workshop dokumentasi yang diadakan oleh IVAA
  • Mengadakan dokumentasi sejarah-sejarah lokal, baik itu sejarah masa lalu, maupun masa kini.
  • Identifikasi: Sejarah apa saja yang dapat kita dokumentasikan: sejarah masa lalu (sejarah Jend. Sudirman dan Bung Karno) dan sejarah yang belum lama (keberadaan gumuk pasir, rempeyek ibu-ibu, dan kandang)
  • Dokumentasi dari hasil sejarah yang telah diidentifikasi: Melakukan foto-foto pada situs, wawancara dan video.
  • Diseminasi berkaitan hasil dokumentasi yang diperoleh: Melaksanakan festival sejarah (Judul: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol)
  • Mencicipi menu favorit Jenderal Sudirman
  • Talkshow dari berbagai narasumber yang berkaitan
  • Melihat pameran hasil dokumentasi warga lokal (foto maupuan video)
  • Tour (mengunjungi situs-situs peninggalan sejarah)

Moderator
Hasil dari kerja tersebut, hal apa yang berkembang dari masyarakat?

Eko
Sebelumnya, masyarakat di area tersebut belum mengetahui adanya situs bersejarah.

Moderator:
Mungkin selanjutnya kita bisa berdiskusi ringan terkait kedua pengalaman kerja pengarsipan.

TANYA:
Mas Fiki, kenapa sosok perempuan dinarasikan sebagai sosok Suwarsih? Sepengetahuan saya Suwarsih banyak membahas karya di bidang feminisme pada saat itu. Kenapa kok Suwarsih?

JAWAB:

  • Dia menjadi bagian koleksi yang penting. Manekin yang sama dipakai berulang kali dipergunakan nama yang sama. Posisi manekin itu berkaitan dengan politik etis. 
  • Karakter ini jarang diproblematisir. Kenapa dia malah terkenal ketika bukunya diterjemahkan oleh lelaki Belanda? Itu menjadi sebuah pertanyaan.
  • Kita membayangkan museum ini sebagai kelas, yang banyak problem di dalamnya dan hal tersebut menjadi titik temu kita dengan Suwarsih ini.

TANYA:
Jika untuk Grogol, pemilihan atau klasifikasi yang layak tampil atau tidak itu dasarnya apa ya? Kenapa kok memilih hal itu?

JAWAB:

  • Karena jika Sudirman dan Soekarno karena berjasa untuk Indonesia ya.
  • Pada zaman dahulu, terdapat kandang ternak yang apabila hujan kotorannya terbawa oleh air hujan dan jadi kotor, maka ada inisiatif untuk memindahkan kandang kelompok dipindahkan ke suatu tempat khusus. Itu alasannya.
  • Jika mengenai kelompok ibu-ibu rempeyek, hal tersebut merupakan kegiatan dari generasi ke generasi.
  • Untuk gumuk pasir, itu merupakan jenis pasir yang langka. Untuk itu kami dokumentasikan.

TANYA:
Yang saya pelajari dari dua presentasi ini, satunya arsip sebagai subjek, yang satu arsip sebagai bahasa. Pertanyaan tadi juga oke, jika di Purwokerto mungkin narasi tentang Sudirman masih sangat kental ya. Ada satu hal yang hilang jika berbicara tentang arsip, jika kita ingin mendekoloni sistem arsip, kita harus mempelajari relasi kuasa. Dalam konteks itu kan audiens penting. Bisa tolong dijelaskan nanti Mas Eko dan Fiki, audiensnya siapa saja?

JAWAB:
Fiki:
Kenapa kita menggunakan suara sebagai medium, gagasan utamanya adalah untuk bisa melampaui ruang dan waktu. Suara itu sendiri punya sebuah kekuatan untuk mengetahui sebuah jarak tertentu. Jika pertanyaannya adalah audiensnya, agak sulit juga didefinisikan.

Nuning

  • Mungkin bukan audiens, tapi untuk siapa arsip itu. Dalam hal ini kita berhadapan dengan kurasi yang merupakan bagian dari power. 
  • Menurut saya yang dilakukan KUNCI di Tropenmuseum berarti kita bertemu banyak ruang untuk berapropriasi. 

Eko

  • Untuk saat ini mungkin hanya untuk warga lokal.
  • Untuk hasil identifikasi yang kita lakukan di Grogol, seperti Gumuk pasir yang langka. Setelah itu warga jadi tahu jikalau tempat itu harus dilestarikan.

Moderator
Saya menangkap dari kedua presentasi tadi yaitu: sejarah akan menemukan audiensnya sendiri.

TANYA:
Saya tertarik terkait arsip yang dijelaskan, apakah kemudian arsip itu bersifat politis? Saya penasaran teman-teman KUNCI ini seperti apa menggunakan arsip ini dan bagaimana bentuk interpretasi akan arsip tersebut?

JAWAB:

  • Tentunya, segala bentuk yang bersifat mengoleksi dan mengarsipkan memiliki elemennya sendiri. Kita harus tau siapa yang membuat dll.
  • Apa yang disebut Nuning sebagai apropriasi adalah salah satu cara relasi kuasa ini bisa dipertanyakan sebagai posisi agensi. 
  • Cara melihatnya begini, arsip menurut definisinya saja sudah politis. Bukan hanya bagaimana dikumpulkan, tapi lebih ke arah mengapa ini layak dan ini tidak? Dari situ saja sudah politis. Arsip selalu soal sertifikasi. Mengapa hal itu penting? Karena semuanya ingin punya agensi.
  • Kita berusaha menggeser paradigma, bahwa tidak mau menilai arsip dari teksnya saja. Kita kembali melakukan tawaran, tidak hanya datang, melihat, dan foto-foto. Tapi juga harus ikut berkontribusi.

Moderator:
Yang harus ditangkap adalah teman-teman KUNCI berusaha untuk mengintervensi arsip-arsip di Tropenmuseum ya. Melawan dominasi arsip lain. 

TANYA:
Aku penasaran gimana caranya berkompromi untuk melakukan apropriasi dengan Tropenmuseum?

JAWAB:

  • Satu sisi kita juga punya kesulitan untuk berurusan dengan birokrasi Museum, butuh 7  hari. Kita mencari jalan-jalan lain ya. Kita lumayan diuntungkan ya. 
  • Mereka sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kita. Dalam level sehari-hari mereka membebaskan kita ngapain aja. Kita mungkin organisasi yang cukup suka dengan ending yang menggantung, bukanlah sesuatu yang definitive, tujuan pasti. Tujuan utama kita adalah menciptakan teks yang kita bisa bermain-main dengan strukturnya.

Lisis:
Sejujurnya, keberadaan patung, dan nama-nama Jenderal Sudirman di kota-kota terlihat memuakkan. Ada nggak sih narasi-narasi di luar itu, kisah-kisah di luar itu yang muncul? Ini berangkat dari asumsi-asumsi Pak Dirman yang muncul selalu berkaitan dengan ABRI, polisi, dll. Pastinya ada alasan-alasan lain. Muncullah titik-titik yang berupa kantung pemikiran yang mengimajinasikan Indonesia ke depan. Menariknya, IVAA harus belajar pengarsipan dari warga. Karena spiritnya berbeda. 

Moderator:

  • Pengarsipan sifatnya selalu politis. Kita harus tetap mengukur sepolitis apa sih.
  • Ternyata arsip itu sendiri tidak bisa kita terima sebagai data yang mati. Harus kita curigai sebagai suatu struktur kuasa yang berkelindan.
  • Semangat dari teman-teman grogol.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

Pusparagam Pengarsipan: “The Possibility of Socially Engaged Archiving”

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

Pusparagam Pengarsipan ialah sebuah program yang mempertemukan para praktisi yang bekerja dengan arsip, arsiparis atau siapa saja yang memiliki ketertarikan dengan semesta arsip dan pengetahuan. Pusparagam Pengarsipan yang pertama ini menggarisbawahi tema “The Possibility of Socially Engaged Archiving” atau mencari arah kerja pengarsipan yang membumi. Ide ini bermula dari kebutuhan kami untuk mempelajari keberagaman model pengarsipan yang tumbuh di sekitar kita, sekaligus melihat kembali model-model kerjanya. Hal ini kita lakukan sambil mempertanyakan ulang arah pengetahuan dan pengarsipan. 

Program ini digelar selama tiga hari, 19-21 November 2019, di Rumah IVAA dengan format forum partisipatif dan diskusi terbuka. Partisipan yang terlibat dipilih melalui seleksi tulisan; dari 50 pendaftar, dipilih 24 partisipan. Masing-masing partisipan membawa konteks lokal kerja pengarsipannya. Seperti maksud dari program ini, yakni mencari arah kerja pengarsipan yang membumi, kehadiran konteks dari masing-masing partisipan menegaskan bahwa kerja pengarsipan tidak hanya beroperasi di tubuh Negara, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat dengan persoalannya. 

Kita ambil contoh praktek pengarsipan yang telah dilakukan oleh salah satu partisipan, yakni Feysa Poetry, seorang asisten akademik dan penelitian ITB. Secara kolaboratif, ia bersama warga Kampung Besukih, Sidoarjo berusaha mengumpulkan kembali ingatan kolektif mereka tentang rumah yang hilang akibat peristiwa Lumpur Lapindo. Suatu ironi, ketika Lumpur Lapindo tidak lagi dilihat sebagai dampak eksploitasi korporat melainkan disulap menjadi ikon baru kota Sidoarjo sebagai lahan turistik. Untuk mengantisipasi merebaknya ‘amnesia kolektif’, Feysa bersama warga merekonstruksi desain arsitektur rumah-rumah yang sekarang menjadi bagian dari ingatan. Sebentuk tanggung jawab masa depan arsip. 

Pemetaan kolektif bersama penduduk Kampung Besukih. Dokumentasi Feysa Poetry, 2016. 

Proses dan salah satu sketsa hasil pemetaan kolektif. Dokumentasi Feysa  Poetry, 2016. 

Berbeda lagi dengan Zainal Abidin. Ia adalah anggota dari Sivitas Kotheka, sebuah komunitas literasi di Pamekasan, Madura. Pendiri ‘Pena Aksara: Kelas Menulis Bahasa Madura’ ini melalui tulisannya menjelaskan bahwa kerja pengarsipan yang ia lakukan di komunitasnya adalah mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang digelar setiap bulan. Teks-audio-visual menjadi wujud arsip yang merepresentasikan pengelolaan diri. Tetapi ia punya keprihatinan bahwa ada banyak pengetahuan yang hanya mampu ditangkap dengan indra, tidak melulu bisa ‘diarsipkan’. Begitu pula dengan pengetahuan-pengetahuan lokal di Madura. 

Konteks lokal dalam kaitannya dengan arsip juga dibawa oleh Baskoro Pop, pendiri Yayasan Lasem Heritage. Sebagai bagian dari kerja Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan/ Pelestarian Pusaka-Pusaka/ Heritage di Lasem, arsip ia maknai sebagai elemen paling penting untuk dikelola dalam rangka produksi pengetahuan. Tidak hanya bekerja dengan arsip teks-audio-video, ia juga melihat urgensi dari pengetahuan yang beroperasi secara tutur. 

Tiga konteks di atas merupakan bagian kecil dari ragam praktek pengarsipan yang tersebar di sekitar kita. Dalam situasi ini, pusparagam menjadi upaya untuk ikut menjahit keragaman tersebut. Para partisipan tidak hanya berperan sebagai partisipan saja, karena upaya lebih lanjut pun muncul. Fransiskus Xaverius Berek, ketua Ikatan Guru Daerah Flores Timur periode 2018-2023, menulis beberapa artikel terkait Pusparagam dan pentingnya praktek pengarsipan sebagai strategi kebudayaan secara kontekstual di wilayah Flores Timur: IGI Flotim Presentasikan Kisah Besi Pare Tonu Wujo Dalam Ajang IVAA 2019, Sosiolog UIN Jakarta dan Peneliti ITB Tertarik Meneliti Situs Besi Pare Tonu Wujo Di Flores Timur, dan Besi Pare Tonu Wujo – Dewi Sri Orang Flores Timur Versi Muhan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

Mencari Arah Pengarsipan yang Membumi

oleh Lisistrata Lusandiana

Pusparagam Pengarsipan bermula dari sebuah gagasan bahwa kita hidup di tengah keragaman budaya. Kerja pengarsipan juga merupakan bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan dari dinamika masyarakatnya. Selain itu, mengingat bahwa metodologi pengarsipan yang selama ini kita praktikan merupakan warisan dari kolonialisme, kita perlu memunculkan berbagai metode dan metodologi pengarsipan lain yang juga hidup di masyarakat kita. Hal ini kita lakukan sambil mempertanyakan ulang arah pengetahuan dan pengarsipan kita. Seberapa jauh arah pengetahuan kita membutuhkan arsip? Bagaimana kerja pengarsipan ketika dihadapkan pada berbagai persoalan sosial spesifik? Bagaimana kita mengaitkan kerja pengarsipan dengan upaya mencari demokrasi yang lain? Bagaimana agar gerakan pengarsipan senafas dengan perjuangan politik?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah akhirnya kita bertemu. Beberapa individu dengan beragam latar belakang; ada yang pekerjaannya sebagai pekerja kantoran, pengajar, penjual buku bekas, pemandu wisata, pembuat cinderamata dan mahasiswa. Latar sosialnya pun berbeda-beda, ada yang sehari-harinya tinggal di Flores Timur, Pare-pare, Surabaya, Padang Panjang, Rembang, Madura, Bandung hingga Jakarta. Keberadaan berbagai macam praktik yang dijalani dilakukan dengan bermacam-macam latar belakang. Ada yang melakukan kerja pengarsipan karena berawal dari hobi, ada yang mengarsipkan data-data murid atau anak didiknya, ada yang menggunakan arsip sebagai metode pengorganisasian, ada yang melakukan pengarsipan untuk menghidupkan medan sosial seni, ada yang menggunakan pengarsipan sebagai strategi untuk merebut kembali utopia yang telah direbut paksa oleh penguasa.

Pertemuan ini di satu sisi ingin membuktikan satu hal, bahwa keragaman praktik pengarsipan kita berserakan, tidak memiliki pola tunggal. Di sisi lain, kita juga perlu mengetengahkan keberagaman praktik tersebut untuk kita sadari dan rayakan bersama. Yang coba kami upayakan dari pertemuan tersebut adalah sebuah pertemuan produktif, yang memunculkan berbagai pengetahuan kritis, dalam konteks dekolonisasi kultural.

Ketika membicarakan soal bagaimana kebudayaan dihidupi, di sudut lain terdapat pembicaraan mengenai museum yang tidak bisa dilewatkan. Di antara upaya-upaya masyarakat yang telah tumbuh seiring sejalan dengan praktik sosial, ruang hidup dan kebudayaannya, terdapat keluhan dari para praktisi dan pegiat museum, yang dari tahun ke tahun mengeluhkan soal partisipasi masyarakat, atau melihat jarak yang terbentang antara masyarakat dan museum. Apakah transmisi pengetahuan dengan metode ‘white cube’ tradisi yang asing bagi sebagian besar masyarakat kita?

Selain itu, di tengah lahirnya berbagai produk regulasi yang bermasalah, kita semakin dibuat yakin untuk tidak begitu saja percaya pada penyelenggara negara. Di tengah keberadaan upaya mainstreaming kebudayaan, nampaknya juga terdapat agenda-agenda lain dari pusat yang tidak selalu tepat dengan kondisi akar rumput. Pekerjaan Rumah kita tentu saja masih banyak. Perjalanan untuk menebalkan keberagaman praktik pengarsipan ini juga masih jauh dari ujungnya. Kedepannya, kami akan melanjutkan perjalanan ini. Mempertemukan praktik pengarsipan dan produksi pengetahuan secara langsung di ruang dan waktu yang spesifik dengan persoalan yang lebih menukik.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

SOROTAN PUSTAKA | November-Desember 2019

Sejauh ini koleksi perpustakaan IVAA bertambah begitu signifikan, yakni sebanyak 1823 koleksi. Dari koleksi-koleksi tersebut, 176 buku adalah hibah dari Daniel Viko; 879 komik dari Akademi Samali; 134 koleksi dari KUNCI Study Forum & Collective, dan sisanya berasal dari pembelian buku, kunjungan pameran, dan anjang sana ke beberapa komunitas seni dan budaya di beberapa lokasi. 

Pengunjung perpustakaan masih terdiri dari mahasiswa, peneliti dan kurator. Mereka mengakses koleksi perpustakaan sebanyak 316 pustaka (174 buku literatur, 107 katalog, dan sisanya 35 koleksi seperti majalah, makalah dan skripsi/ tesis). 

Selain peminjaman reguler, beberapa koleksi perpustakaan IVAA yang terdiri dari buku, katalog, kliping, hingga majalah juga digunakan sebagai materi resource room pameran seni rupa Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019, Biennale Jogja Equator #5 2019 untuk materi dengan tema seputar gender, komunitas, dan aktivisme di kawasan Asia Tenggara. Selain dua kegiatan itu, pameran tunggal Ugo Untoro juga menggunakan khazanah arsip IVAA tentang Ugo Untoro. Terdiri dari 60 lembar kliping, katalog, foto, dan DVD dokumentasi yang berkaitan dengan Ugo Untoro menjadi materi yang dikaji untuk memperkaya narasi pameran. 

Selanjutnya, di dalam edisi penutup tahun 2019 ini, ada 4 buku yang kami ulas, yaitu