Category Archives: E-newsletter

Sihir Rumah Ibu; Menyidik Sosial Politik dengan Kacamata Budaya

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Agus Dermawan T.
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2015
Deskripsi Fisik: x+317 Hlm
No. Panggil: 701 Der S

Sebagai seorang pengamat yang biasa mengerjakan kritik seni, laporan, esai, dan juga features, Agus Dermawan T. memandang bahwa kegiatan tulis-menulisnya adalah sebagai aktivitas berekspresi. Buku Sihir Rumah Ibu: Menyidik Sosial Politik dengan Kacamata Budaya ini berisi tentang kajian yang dilakukan oleh Agus terhadap persoalan isu sosial dan politik melalui kacamata kesenian dan kebudayaan. Ada sejumlah figur (orang lain) yang sengaja dibicarakan dalam buku ini, karena bagi Agus orang yang dibicarakan itu telah melahirkan sebuah peristiwa. Peristiwa-peristiwa ini kemudian disampaikan kepada pembaca melalui kacamata kesenian dan kebudayaan. Setiap situasi dalam peristiwa itu Agus simbolkan melalui beberapa contoh karya seni dan cerita pewayangan. Agus juga memainkan kode semiotik dalam setiap paragrafnya, sehingga pembaca akan merasa ada keterhubungan antara karya seni dengan peristiwa yang sedang dibahas.

Penjelasan kondisi politik Indonesia dari waktu ke waktu dijabarkan secara renyah di dalam buku ini. Agus juga menceritakan citra seni yang turun akibat pemikiran sempit seniman, dimana mereka menganggap bahwa politik posisinya lebih tinggi dari seni. Pemikiran ini memunculkan seniman yang secara tiba-tiba, dalam kondisi buta politik dan hanya mengandalkan modal keartisannya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Hal itu cukup untuk membuat gusar Agus terhadap kondisi kesenian saat ini. Selain itu juga terdapat beberapa esai yang mengulas tentang ketidakadilan terhadap pelukis istana yang masa tuanya tidak diperlakukan layaknya staf istana yang lain. Hal tersebut menjadi sebuah keprihatinan tersendiri di mata penulis kelahiran 1952 ini. Agus merasa para pelukis ini berkontribusi bagi negara dalam durasi yang panjang.

Sebagian tulisan dalam buku ini telah dimuat di beberapa media massa, seperti Kompas, Gatra, Koran Tempo, Koran Sindo, Intisari, Visual Arts, dan sebagainya. Beberapa tulisan ada juga yang berstatus ineditum atau tidak/ belum dipublikasikan. Buku ini merupakan seleksi dari ratusan artikel yang ditulisnya sejak 2008. Tentu telah melalui tahap penyuntingan, pengembangan, aktualisasi, hingga kontekstualisasi. Buku ini membicarakan segala ihwal yang terbuka lebar. Berbagai sisi sudut pandang disediakan, mulai dari tulisan-tulisan dengan ulasan jenaka, ironis, dramatis, parodi, gila, waras, estetis, politis, bahkan mungkin juga nihilis. Semua tulisan dalam buku ini dipayungi sikap kritis terhadap persoalan sosial politik dari kacamata kesenian dan kebudayaan. Sebaliknya, buku ini akan membuat pembacanya merefleksikan kesenian dan kebudayaan dari perspektif sosial politik.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

SOULSCAPE ‘The Treasure of Spiritual Art’

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Sulebar M. Soekarman, AA. Nurjaman, Netok Sawiji_Rusnoto Susanto, ANton Larenz
Penerbit: Yayasan Seni Visual Indonesia
Tahun: 2009
Deskripsi Fisik: 246 Hlm
No. Panggil: 701 Soe S

Buku ini merupakan seri buku abstrak Indonesia yang kedua. Menceritakan pameran seni lukis abstrak yang dilaksanakan sejak 2005, dan diikuti oleh 7 perupa abstrak Indonesia yaitu AT Sitompul, Dedy Sufriadi, Notok Sawiji_Rusnoto Susanto, Nunung WS, Sulebar M. Soekarman, Utoyo Hadi, dan Yusron Mudhakir. Pameran ini berlangsung di beberapa tempat seperti Taman Budaya Yogyakarta, Galeri Nasional Indonesia, dan Tony Raka Art Gallery, Bali.

Buku ini disusun menjadi suatu rangkuman holistik, tentang pemahaman dan keyakinan para perupa abstrak di Indonesia berkaitan dengan prosesnya berkesenian. Buku ini ditulis oleh dua orang dari dalam pameran, yaitu Sulebar M. Soekarman dan Netok Sawiji_Rusnoto Susanto yang menguraikan tentang keyakinan, semangat, perjalanan spiritual, pemikiran serta impian dan kerja keras perupa abstrak. Selain itu ada dua orang dari ‘luar’ yaitu AA Nurjaman dan Anton Larenz, bercerita tentang latar belakang kesejarahan seni abstrak Indonesia. Keduanya juga mengulas karya seni dan pemikiran dibalik proses penciptaan karya seni secara personal.

Ide dasar dari judul Soulscape adalah ‘pemandangan-jiwa’ yang tentunya sangat bertolak belakang dengan pemandangan alam (landscape) atau pemandangan laut (seascape) ataupun lainnya yang mengangkat sesuatu yang kasat mata, materi yang ada di alam, yang secara visual dapat dilihat atau dirasakan dengan panca indera kita. Dalam pembahasannya, soulscape lebih cenderung kepada hati nurani, perasaan yang paling mendalam (inner feeling). Lebih lanjut, gagasan pemikiran secara intelektual tentang kemurnian penciptaan yang memiliki kandungan keindahan pribadi sekaligus universal.  Soulscape menjadi sebuah pendalaman materi dan tantangan. Sekaligus proses pengakraban, pencerahan dan penyerahan diri secara total dari 7 perupa abstrak tersebut yang saling berinteraksi untuk melakukan transmisi budaya serta penggalian kreativitas pribadi masing-masing. Kemudian menjadi kesadaran tertinggi, dan menjadi sebuah konsep tentang kembali ke timur.

Dalam akhir bab buku ini terdapat sebuah rangkuman laku kerja 7 perupa abstrak soulscape, dimana perubahan dan perkembangan zaman akan selalu melahirkan kaidah baru, ungkapan baru, situasi dan lingkungan yang berbeda. Tetapi bagaimanapun berubah dan berkembangnya zaman, ada suatu nilai spiritual yang menjadi benang merah untuk penghubung semua itu.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Dansaekhwa 1960s-2010s : Primary Documents on Korea Abstract Painting

Oleh: Nabila Warda Safitri (Kawan Magang IVAA)

Pengarang: Koo Jin-Kyung, Yoon Jin Sup, Lee Phil, Chung Moojeong
Penerbit: Korean Art Management Service
Tahun: 2017
Deskripsi Fisik: 303 Hlm
No. Panggil: 701 Ufa D

Dansaekhwa lahir dari tradisi masa lalu dan menjadi kecenderungan gaya baru dalam periode waktu yang signifikan dalam sejarah sosio-politik Korea. Secara permukaan, karakteristiknya mengarah pada asimilasi dan persaingan modernisme Barat, dan ‘pembebasan’ dari tradisi yang ketat dari warisan seni Korea. Lantas Apa itu yang disebut-sebut sebagai Dansaekhwa? secara harfiah berarti ‘lukisan monokrom’ dalam bahasa Korea, dan mengacu pada gaya lukisan yang muncul selama paruh kedua tahun 1970-an di Korea Selatan. Dansaekhwa tumbuh menjadi wajah internasional seni kontemporer Korea, dan menjadi landasan seni kontemporer Asia. Hal ini terjadi karena banyak dipromosikan. KAMS (Korean Art Management Service) salah satunya, mempromosikan seni kontemporer Korea. Publikasi pertama adalah Resonance of Dansaekhwa, menyajikan berbagai sudut pandang dari genre Dansaekhwa. Kemudian sumber kedua hadirlah buku Dansaekhwa 1960s-2010s : Primary Documents on Korea Abstract Painting untuk memperluas pemahaman internasional dari Dansaekhwa, atau yang dikenal sebagai seni lukis monochrome yang mewakili corak dari seni abstrak di Korea. Juga dengan harapan agar menyebarluaskan estetika dan nilai sejarah Dansaekhwa dan memperluas pemahaman global tentang gaya seni di kawasan Korea. Dansaekhwa masih hidup dalam seni masa kini, dan masih digunakan meskipun telah berlangsung lebih dari 40 tahun.

Dalam menjabarkan tentang Dansaekhwa, buku ini terbagi dalam 4 periode. Mencangkup di dalamnya sebaran artikel-artikel dan teks. Periode pertama yang merupakan tahap pertumbuhan Dansaekhwa, yaitu awal tahun 1960an hingga pertengahan tahun 1970an. Dalam periode kedua, yang mencakup periode antara pertengahan tahun 1970an hingga pertengahan 1980an, ketika Dansaekhwa mulai berkembang. Tulisan-tulisan dari seniman– seniman penting seperti: Lee Ufan, Park Seo-Bo, Chung Sang-Hwa, Ha Chong Hyun, Yun Hyong keun, Kwon Young-Woo, Kim Guiline, Suh Seung Won, dan Choi Myoung Young pada periode kedua cenderung membahas estetika yang hidup pada masa itu. Catatan menarik adalah wacana pameran penting di Tokyo-Korea, yaitu Five Artist, Five Whites, sebuah pameran yang diselenggarakan di Tokyo Galeri tahun 1975, dan Korea : Facet of Contemporary Art yang diselenggarakan tahun 1977 di Tokyo Central Museum Art. Hal ini menarik karena memungkinkan kita untuk membandingkan pandangan kritikus seni Korea dan Jepang. Periode ketiga membahas fase kedewasaan Dansaekhwa, yaitu antara pertengahan tahun 1980-an dan 1999, pada periode ini mencakup tahap ketika seniman Dansaekhwa mengadakan sejumlah pameran besar , memajukan metodologi referensi mereka, dan menjelajahi beragam media. Periode ini lebih mengacu pada teks-teks dari kritik seni, karena mencakup pemeriksaan tajam terhadap estetika Dansaekhwa. Periode keempat  membahas tentang tahun 2000-an, lebih mengeksplorasi meningkatnya minat dan keuntungan dari Dansaekhwa, baik dalam komunitas seni internasional maupun domestik. Di Korea, keinginan untuk memeriksa kembali Dansaekhwa telah menghasilkan banyak proyek penelitian akademis. Pada periode keempat ini juga termuat beberapa teks yang memberi kesaksian tentang internasionalisasi Dansaekhwa sejak awal tahun 2000an. Melalui buku ini kita dapat memahami sejarah Dansaekhwa dari tahap pertumbuhannya hingga go international. Buku ini bisa jadipenting dalam rujukan mempelajari perkembangan seni di Korea.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Majalah Budaya | Edisi : 6 Juli 1954 Tahun Ke III

Oleh: Santosa Werdoyo

Edisi : 6 Juli 1954 Tahun Ke III
Pengarang: Kusnadi
Jumlah: 41 Halaman

Majalah Budaya adalah terbitan bulanan dari Djawatan Kebudayaan Kementerian P.P.K  selama tahun 1953-1962. Edisi No. 6, Djuli 1954 Tahun III, Kusnadi menulis kesan–kesannya tentang eksposisi Seni Rupa International di kota Sao Paulo, Brazil. Dalam rangka perayaan Biennale  II tanggal 12 Desember 1953 – 12 Maret 1954. Terangkum secara baik dalam 41 halaman.

Dalam Biennale Sao Paulo ini, Kusnadi memaparkan karya – karya yang dipamerkan  lebih dari 75% seni setelah era kubisme Picasso, seni yang kubistik dan abstrak , surealistik dan futuristik. Sisanya berbentuk realis, dari impresionisme hingga ekspresionisme. Selain itu, terdapat satu karya naturalis di ruang Norwegia, 1 di ruang Belgia, 3 di ruang Indonesia, dan 10 lukisan sejarah di ruang Brasil. Ruang lainnya seperti Perancis, Inggris, Belanda, Israel Yugoslavia, Argentina, Mexico, dan Amerika Serikat, menampilkan seni abstrak. Ruang lainnya yaitu Italia, Spanyol, Portugal, Swis, Brazil, Venezuela, Jerman, Austria, Norwegia separuh realistik, separuh abstrak. Sedangkan ruang Indonesia  dengan 95% impresionisme dan ekspresionisme, dan 5% sisanya naturalisme.

Ini adalah kali pertama Indonesia turut serta dalam ajang Biennale International. Menghadirkan 34 karya dari 25 seniman Indonesia. 25 seniman itu antara lain Affandi, S.Sudjojono, Harijadi, Suromo, Rusli, Wakidjan, Hendra Gunawan, Trubus, Sudarso, Rustamadji, Sholihin, Kusnadi, Sesongko, Sjahri, Zaini, Oesman Effendi, Basuki Resobowo, Trisno Sumardjo, Handrijo, Nasjah, Agus Djaya, Supini, Kartono, Ida Bagus Made dan Ida Bagus Togog. Affandi pada kesempatan ini menampilkan 20 lukisannya. Dalam hal ini tidak dijelaskan bagaimana seniman – seniman dan karya – karya itu bisa terpilih dan mewakili Indonesia. Dari pengamatan sekilas terhadap karya – karyanya, ditemukan hubungan antara karya seni rupa baik teknik dengan gaya yang  dimiliki beberapa seniman, serta bagaimana antara seniman sezaman saling mempengaruhi.

Majalah Budaya edisi 6 Juli tahun 1954 ini secara runut menceritakan bagaimana pengalaman seniman-seniman Indonesia ‘go internasional’. Meski tulisan Kusnadi ini cenderung deskriptif, cukup menjadi gambaran tentang kancah seni rupa dipertemukan dalam arena pameran yang lebih luas. Catatan ini menjadi penting mengingat konteks tahun 1954 yang ramai digalakkan misi-misi kebudayaan oleh Sukarno. Ini bisa menjadi pendamping referensi bagi peneliti untuk memperkaya literatur dalam pencarian nilai-nilai dan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dari sebuah karya seni. 

Koleksi pustaka ini dapat diakses dengan datang ke Perpustakaan IVAA.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Koleksi Arsip Lukis Kaca Rastika dan Kusdono

Oleh: Hardiwan Prayogo

Seni lukis kaca dapat mengungkapkan segi-segi kemanusiaan masyarakat kecil yang terpinggirkan. Pernyataan tersebut dikutip dari sambutan Edi Sunaryo untuk pameran Berkaca Pada Lukisan Kaca, tahun 2012 lalu di Galeri Seni ISI Yogyakarta. Dalam pameran yang mempertemukan pelukis-pelukis kaca dari seluruh Jawa dan Bali tersebut, terlibat juga dua seniman dari Gegesik, Cirebon, yaitu Rastika. Dengan teknik melukis yang rumit, dengan figur-figur yang didominasi oleh wayang, lukis kaca bagaikan hidup dalam dunia sendiri pada kancah seni rupa. Aksi-aksi kreatif seniman dalam mengeksplorasi medium kaca, membuatnya lebih dari sekedar benda fungsional. Fungsional dalam artian kaca sebagai properti rumah dan bercermin.

Hermanu dalam tulisan pengantar pameran lukis kaca Berkaca Pada Kaca tahun 2018 di Tahunmas Artroom, menyebutkan bahwa lukisan kaca yang identik dengan corak tradisional sudah marak sejak 1937 di Yogyakarta. Penelitian terhadap ini dilakukan oleh J.H. Hooykaas-Van Leeuwen Boomkamp, dengan menyambangi toko souvenir hingga pasar malam sekaten. Dia membagi gambar kaca dalam 3 tema, antara lain Wayang Purwa, Legenda Rakyat, dan gambar kaca Islami. Pelukis kaca pun biasanya merangkap profesi sebagai pembuat wayang sampai pemain gamelan.

Lukis kaca memang identik dengan tema demikian, tidak terkecuali Rastika dan Kusdono. Dua seniman ini menjadi bahan penelitian Tan Zi Hao, mahasiswa S3 Kajian Asia Tenggara, National University of Singapore. Zi Hao sedang menyelidiki penggambaran hewan-hewan mitos di Nusantara, terutamanya lambang-lambang kerajaan dan keraton di Cirebon, dari segi budaya politik dan kesejarahan simbolnya. Zi hao membaginya dalam 3 poin utama, pertama mengapa hewan-hewan tertentu dipilih dan dimuliakan oleh kerajaan, pelukis, dan pengrajin. Kedua mengapa hewan-hewan sering dijadikan metafora kekuasaan manusia. Dan ketiga apakah filosofi dibalik pemilihan epistemik makhluk setengah hewan. Kendatipun hewan-hewan mitos sering dianggap sebagai satu fragmen ‘imajinasi’, tetapi barangkali terdapat imajinasi kekuasaan penguasa. Melalui penelitian terhadap lukisan-lukisan kaca dari Cirebon, akan  coba dianalisis apa yang sedang ingin dikonstruksikan.

Sebagai salah satu bentuk pertukaran arsip, setelah mengakses arsip IVAA, Zi Hao mendonasikan arsip Kusdono dan Rastika. Terdapat 7 lukisan, dan 1 ukir kayu dari karya Rastika. Sedangkan terdapat 28 lukisan dengan tanda tangan tertulis Kusdono dan Rastika. Kusdono adalah putra keempat dari Rastika, tidak heran karakter lukisan keduanya mirip. Bedanya, jika Rastika masih menggambar wayang dengan ornamen klasik, sedangkan untuk lukisan bertanda Kusdono dan Rastika, menggabungkannya dengan gaya kaligrafi. Arsip karya kedua seniman ini dapat diakses pada tautan http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/rastika

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Setelah 1 Tahun Musrary

Oleh: Dwi Rahmanto

Sudah 12 kali, Rumah IVAA didatangi berbagai kelompok musik dengan aneka genre, mulai dari etnik, rock, pop, folk, dan sebagainya. Kawan-kawan ini berbagi keriuhan dan kreatifitasnya di ruang Amphitheater dan perpustakaan IVAA. Kegiatan ini kami beri nama Musrary, singkatan dari Music from The Library.

Bukan hal yang baru sebenarnya mengadakan acara di Rumah IVAA, selain umumnya IVAA mengadakan forum diskusi, presentasi, artist talk, focus group discussion seputar seni dan budaya. Namun pertunjukan musik agaknya baru rutin diadakan dalam program Musrary ini.

Awal gagasan program dimulai sejak awal tahun 2017 lalu, bersama Danto ‘Sisir Tanah’, dan Anggito Rahman salah satu personel Sungai yang membuat mini konser bersama kawan kawan musik Terasering dengan memilih ruang kami. IVAA kemudian merasa perlu untuk mengeksplorasi gagasan ruang dengan suasana dan audience yang lebih luas dari kalangan seni rupa. Melihat bahwa IVAA adalah ruang terbuka dan mempertemukan kemungkinan-kemungkinan pengetahuan seni, konsep pertunjukan musik dirasa sejalan dengan upaya tersebut. Sebelumnya  juga IVAA pernah terlibat acara-acara warga di lingkungan kami tinggal, seperti arisan ibu-ibu kampung Dipowinatan, peringatan 17-an, hingga workshop yang melibatkan anak-anak di Kampung Dipowinatan.

Sistem kurasi Musrary sejauh ini sangat cair, kadang siapa yang bertemu paling cepat dia yang akan mengisi acara selanjutnya, atau ada proposal dari kawan-kawan yang ingin terlibat mengisi acara. Sebagai acara pun konsep kami sangat cair, karena ruang yang tidak terlalu luas, bisa membangun kedekatan antara musisi dan penonton. Jarak yang begitu dekat antara penonton dengan penampil menciptakan interaksi yang kadang spontan dan menyenangkan. Juga selalu terselip obrolan tentang lagu, instrumen, lirik, album, hingga soal mimpi dan imajinasi.

Setiap edisi Musrary selalu kami dokumentasikan dengan rapi baik audio hingga visual. Tidak berselang lama, dokumentasi ini selalu kami unggah ke kanal Youtube IVAA. ini merupakan bentuk penghargaan kami terhadap musisi yang meluangkan diri dan waktu mengadakan mini konser di Rumah IVAA.

12 kali edisi ini merupakan titik jeda untuk Musrary. Selain karena kondisi bangunan IVAA yang sedang dalam renovasi, momen jeda ini kami gunakan untuk mengevaluasi sekaligus melanjutkan eksplorasi gagasan-gagasan selanjutnya. Banyaknya komunitas beragam latar belakang yang terlibat dan berpartisipasi dalam kegiatan ini merupakan harapan kami untuk melanjutkan kegiatan Musrary serta potensi pengetahuan yang ada di dalamnya. Semoga ke depannya kita bisa semakin erat dalam berkegiatan. Mari bertemu kembali di Rumah IVAA untuk mewujudkan angan agar tidak berlalu menjadi angin.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

MUSRARY #12 : NINA ALEXIA BRAZZO

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Jumat, 6 Juli 2018, penerangan perpustakaan IVAA bersumber pada lilin dan di balut dengan lampu berwarna kuning. Suasana remang-remang pun tercipta. Di mini amphitheater IVAA, Nina Alexia Brazzo menyihir para penonton dengan musikalisasi puisinya yang memiliki diksi religius, diiringi musik folk dengan perkusi yang terdengar khidmat. Suasana pun seolah  kembali di bulan suci Ramadhan.

Pada hari itu Musrary genap memasuki edisi ke 12, artinya program ini telah berlangsung selama satu tahun. Musrary #12 ini juga merupakan rangkaian Nina ke enam dalam project Pelangi Tour Indonesia di delapan kota. Acara ini berlangsung pukul 20.00, dibuka dengan pertunjukan musik dari grup indie asal Yogyakarta Swara-Swara. Dengan alunan musik bergenre akustik, dikolaborasikan dengan beberapa alat musik klasik dan tradisional, Swara-Swara berhasil menciptakan nada yang terkesan syahdu dan menyihir  penonton untuk terpaku dalam menikmati alunan musiknya instrumentalnya.

Waktupun berlanjut, Nina Alexia Brazzo memulai penampilannya dengan menggelar sajadah yang dihiasi 5 lilin menyala di hadapannya. Nina tampak sedang berdzikir dengan membawa tasbih di tangan kanannya. Diiringi backsound ‘Ya Hakimhu, Ya Qadrhu, Ya Rahman, Ya Raheem diputar berulang-ulang, bunyi ini seolah menjadi ritme atau alunan musik yang mengiringinya dalam membacakan puisi berjudul ‘One and Only (True Love)’ dan ‘The tree of Good Nature’.

Nina seperti sedang ingin berinteraksi dengan Tuhan melalui dzikir dan puisi. Nina membawakannya dengan puitis sehingga penonton terpaku dan hanyut dalam suasana yang hening. Adapun beberapa judul puisi yang dibawakan Nina saat itu adalah, ‘One and Only (True Love)’, ‘The Tree Of Good Nature’, ‘Kunci Hatiku’, ‘Own Love (Allah)’, ‘Another Workin’day’, ‘Surat untuk Shayk saya’, ‘Her Tears’, ‘Didn’t know I could love again’, ‘To My Mother Nusaybah’, dan yang terakhir ‘The Kiss’.

Acara yang berlangsung selama satu jam itu ditutup dengan tarian lilin Nina yang diiringi puisi ‘The Kiss’. Suasana saat itu tiba-tiba menjadi tegang ketika Anissa Razali memasuki amphitheater IVAA dengan tarian tongkat apinya. Terjadilah sebuah kolaborasi yang begitu elok di mata penonton. Ruangan gelap yang dikombinasikan dengan tarian api tersebut memecahkan tepuk tangan penonton.

Selepas pertunjukan itu, Dwi Rahmanto membuka sesi Tanya jawab dengan penonton. Nina menjelaskan bahwa pertunjukannya ini adalah tentang penyerahan diri dan mengingat Allah. Sebagian puisinya dedikasikan untuk Tuhan Yang Maha Kuasa dan seorang lelaki yang mengubah cara pandangnya dalam hidup dan membuatnya jatuh cinta, hingga akhirnya Nina menjadi mualaf.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

TELUSUR : Salah Satu Alternatif Transfer Ilmu dan Penambahan Pemahaman Baru.

Oleh Nilna Faza Mardiyatin

Kelas Belajar Telusur memancing partisipan dengan rentetan pertanyaan, sejak kapan masyarakat mulai berpindah? Bagaimana kaitan antara perpindahan dan sejarah seni rupa Indonesia? Ke arah manakah politik pengetahuan kita dibawa? Untuk apakah kita menggunakan arsip? Bagaimana kita menghadapi ragam ‘profesi – profesi’ baru dalam medan seni? Apa kabar kritik seni hari ini? Dan pertanyaan–pertanyaan lainnya terus bermunculan dalam kelas, yang menjadi titik awal diskusi dan eksplorasi.

Penemuan baru terkait hal – hal yang berhubungan dengan seni rupa akan selalu ada, karena tidak ada yang bisa membakukan definisi seni itu sendiri. Salah satu cara untuk menghubungkan beberapa pemikiran yang satu dengan yang lainnya adalah dengan diskusi, atau adanya transfer pengetahuan. Tak kalah penting dari itu semua adalah perlu adanya catatan tentang bukti pertukaran pengetahuan tersebut, sehingga kegiatan ini akan terikat dan ada material untuk memeriksa sejauh mana pertukaran itu tersampaikan.

Maka dari itu kelas Telusur muncul untuk menjadi salah satu tempat bertemunya pertukaran pengetahuan dan perluasan wawasan. Kelas Telusur merupakan kelas belajar penulisan dan pengarsipan yang diinisiasi oleh IVAA, kelas ini hadir untuk mendukung upaya dinamisasi penulisan kritik seni di Indonesia. Program ini terdiri dari beberapa aktivitas seperti diskusi intensif dengan para pemateri, pembacaan arsip dan penulisan.

Pelaksanaan kelas Telusur dimulai dari tanggal 23 Juli hingga 7 Agustus 2018. Bekerjasama dengan Ace House dan Krack Studio, kelas ini berlangsung selama 13 hari. Kelas diisi dengan materi beragam yang saling bersangkutan satu dengan yang lainnya. Peserta kelas Telusur terdiri dari peserta penuh dan peserta dengar. Bedanya peserta penuh dituntut untuk membuat tulisan setelah kelas selesai, dengan melalui pendampingan. Sedangkan peserta dengar adalah mereka yang mengikuti kelas Telusur tanpa ada kewajiban untuk membuat tulisan. Peserta penuh kelas Telusur kali ini berjumlah 4 orang, dengan 3 peserta dari Three Musketeers Project. Jumlah ini masih ditambah peserta dengar yang rata-rata berjumlah 7-8 orang setiap kelas. Peserta sejumlah ini terhitung cukup banyak, namun masih dalam situasi kondusif untuk serangkaian kelas belajar yang dipantik oleh satu pemateri di tiap sesinya.

Selama 13 hari, kelas terbagi dalam materi berikut ini:

  1. Bekerja dengan dan Melalui Sejarah Seni, oleh Brigitta Isabella
  2. Kritik dan Kurasi, oleh Arham Rahman
  3. Perkembangan Praktek Kurasi dan Ruang Alternatif di Yogyakarta, oleh Syafiatudina
  4. Manajemen Seni : Kebutuhan atau Imajinasi?, oleh PR Seni
  5. Dari Tangan Seniman ke Mata Pengunjung , oleh Riki Zoels
  6. Pengantar Kajian Budaya (Metode Penelitian), oleh Wahmuji
  7. Kosmopolitanisme dan Strategi Kebudayaan, oleh Alia Swastika
  8. Seni dan Internasionalisme : Kosmopolitanisme dari Masa ke Masa (Residensi), oleh Linda Mayasari
  9. Seni dan Regulasi Kota : Dinamika Budaya Sebelum dan Sesudah UUK, oleh Kus Sri Antoro
  10. Pengetahuan Seni dan Institusionalisme: Pemetaan Seni dan Genealogi Institusi, oleh Rain Rosidi
  11. Pengarsipan dan Politik Pengetahuan oleh Dwi Rachmanto dan Hardiwan Prayogo
  12. Kritik Seni Kontemporer, oleh St. Yangni
  13. Jurnalisme dan Kritik Seni, oleh Raihul Fadjri
  14. Dasar Penulisan, oleh Fairuzul Mumtaz

Seluruh rangkaian materi dan jadwal telah disusun dan dipersiapkan oleh tim konten yang terdiri dari Lisistrata Lusandiana, Hendra Himawan, Rjo Rahardjo, dan Hardiwan Prayogo. Materi ini sengaja disusun agar sesuai dengan tema yang diangkat pada kelas Telusur kali ini, yaitu ‘Mobilitas dan Kuasa Dalam Medan Sosial Seni – Budaya’. Seperti telah disinggung sebelumnya kelas ini merupakan kelas penulisan seni rupa, maka tujuan dari kelas ini adalah tulisan/ esai kritis yang dibuat oleh peserta penuh kelas Telusur.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Subandi Giyanto; Seniman Pengrajin Wayang dan Eksplorasi Mediumnya

Oleh: Silvy Wahyuni (Kawan Magang IVAA)

Subandi Giyanto adalah seniman yang dominan memakai corak tradisional pada karyanya. Fenomena baru yang diangkat pada karya beliau yang berbentuk mobil, berawal dari perjalanan panjang pencarian identitasnya. Terhitung sejak 2009, karya Subandi berkembang cukup pesat berkat saran-saran dari Samuel Indratma. Samuel selalu mendorongnya untuk melahirkan berbagai inovasi. Seperti membuat sebuah mural di jembatan layang Lempuyangan. Dari seringnya diskusi dengan Samuel, seniman senior, juga kolega-kolega lama, akhirnya jadilah karya-karya yang mulai memasukkan ciri khasnya. Seperti gambaran tubuh-tubuh wayang kulit yang direkonstruksi seperti tubuh manusia, dan gambaran seperti mobil sport dan tubuh kuda berlari.

Subandi setelah lulus dari Sekolah Seni Rupa di Yogyakarta tahun 1979, diminta untuk mengajar kursus melukis kaca di sanggar Bambu. Itulah pertemuan pertama Subandi dengan lukis kaca. Ada pelajaran baru yang dia dapatkan dari pengalaman tersebut. Subandi menyadari bahwa lukis kaca saat ini mulai memudar dan kalah sohor dari lukisan kanvas. Eksplorasi medium karyanya mulai serius diujicobakan sejak dirinya kuliah di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY).

Dengan berlatar belakang pengrajin/ pembuat wayang, Subandi berkarya tidak jauh dari corak wayang. Subandi lahir dan tumbuh dalam keluarga pembuat wayang kulit di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Ayah dan paman-pamannya adalah para pengrajin wayang, yang mulai mengajaknya belajar  menatah wayang di umur 7 tahun.

Eksplorasi karyanya terhitung cukup banyak, berawal dari membuat kulit dipotong-potong kecil seperti tempat halma atau catur kemudian digambari seperti kolase, kemudian berkembang hingga karyanya dikoleksi sampai Taiwan, Prancis dan Jepang. Ini adalah karya-karya yang dibuatnya dalam periode tahun 80 hingga 86.

Setelah itu Subandi mengeksplorasi medium kertas. Wayang dengan menggunakan kertas dan sempat membuat pameran bersama Diana Anggraini dan Risan Kristianto. Dalam pameran ini, karya Subandi cukup laris. Alasan inilah yang membuat Subandi hingga sekarang masih menggunakan warna-warna yang minim, karena karya-karya dengan warna minimnya sangat laku. Subandi kembali ke medium kanvas setelah mendapat orderan membuat lukisan berukuran 1×1 meter untuk 104 kamar hotel ambarukmo. Pekerjaan besar ini dikerjakannya dengan kurun waktu dua tahun.

Menurut Subandi, sebagai seniman dan pengrajin wayang, dalam membuat wayang memang ada teknik-teknik yang harus dikuasai terlebih dulu, dan tidak perlu terlalu dalam memahami filosofi wayang. Yang penting, pengrajin wayang mengetahui watak wayang tersebut, dalam hal ini insting pengrajin harus bisa diandalkan. Hal pertama yang dipelajari ketika membuat wayang adalah bagaimana cara menatah wayang dengan benar, bagaimana cara memegang dan memukul tatah dengan benar, ini adalah awal dari hasil tatahan yang baik dan halus. Pengertian tatahan yang baik dan halus adalah udomamah, yaitu ketika wayang kecil ditatah dengan tatah kecil, wayang sedang ditatah dengan tatah yang sedang, dan wayang besar ditatah dengan tatah yang besar. Karena ketika ada wayang besar ditatah kecil maka karakternya akan berubah, banyak orang yang tidak paham mengenai hal ini.

Gagasan yang masih dipegangnya hingga saat ini adalah soal bagaimana menggabungkan seni klasik dan modern menjadi suatu karya yang benar-benar baru. Subandi mengaku  ingin memasukkan unsur ekspresif juga dalam karyanya. Unsur-unsur inilah yang sebenarnya ingin diperjuangkan saat ini, tentunya ini adalah upaya eksistensi posisinya sebagai seniman di era seni kontemporer.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

IVAA Berbenah

oleh: Sukma Smitha

Rumah IVAA berbenah. Satu bulan terakhir ini jika berkunjung ke Rumah IVAA akan terdengar suara keras pukulan palu, mesin molen beton hingga banyaknya debu yang terbang menempel pada bangunan atau buku-buku di perpustakaan IVAA. Kami mohon maaf jika hal-hal tersebut menimbulkan ketidaknyaman. Rumah IVAA saat ini tengah menjalani proses renovasi.
Renovasi pengembangan Rumah IVAA merupakan salah satu program Bantuan Pemerintah untuk Fasilitasi Revitalisasi Infrastruktur Fisik Ruang Kreatif yang didukung oleh Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Renovasi pengembangan Rumah IVAA berlangsung sejak Juli hingga Oktober 2018. Pekerjaan renovasi yang dilakukan antara lain perbaikan ruang penyimpanan arsip fisik, penambahan ruang pamer arsip hingga dibuatnya kamar-kamar sederhana sebagai ruang tinggal peneliti yang akan bekerja bersama IVAA.

Selain revitalisasi ruang fisik, IVAA juga mendapat bantuan berupa fasilitas Sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) juga oleh Deputi Infrastruktur BEKRAF. Pengembangan fisik Rumah IVAA serta bantuan sarana TIK ini akan sangat mendukung kerja-kerja harian mulai dari pengumpulan, pengolahan maupun penyebarluasan arsip serta hasil penelitian yang dilakukan IVAA, juga sangat mendukung program-program jangka panjang yang saat ini tengah kami rancang.

Semoga Kawan IVAA antusias menantikan hasil renovasi pengembangan Rumah IVAA, karena kami juga sangat bersemangat untuk segera bisa memulai dan menjalankan program-program baru yang lebih menarik dan segar dengan sarana kerja yang lengkap dan suasana Rumah IVAA yang nyaman.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.