Category Archives: E-newsletter

Menuju Festival Arsip: Cerita di Balik Lemari Arsip IVAA

Penulis:  Melisa Angela

Terhitung tinggal satu bulan lagi Festival Arsip akan dimulai. Tim Program sebagai penanggungjawab utama telah berjibaku melawan waktu yang semakin terasa cepat berlalu, merapatkan barisan, melancarkan strategi, bersiasat, dan tentu saja melihat kembali koleksi dokumentasi yang menjadi materi utama festival ini. Tak ketinggalan, Tim Arsip pun menjadi salah satu pilar dalam menentukan nyawa dari Fest!Sip. Sederet topik pilihan dan rangkaian pembacaan telah ditentukan, fungsinya sebagai pisau pilah, untuk menentukan mana yang menjadi ‘penting’ untuk ditampilkan dan mana yang tidak. Keberadaan pisau pilah ini tentu tidak dapat ditawar. Bila tidak, bagaimana kami akan memilah dan memilih arsip yang akan ditampilkan dari 10 juta berkas digital yang ada dan masih terus bertambah ini?

Pada era informasi saat ini, begitu mudahnya kita menciptakan data. Saat seseorang menulis, tak perlu lagi ia khawatir salah ketik, karena tinggal hapus dan ganti saja tulisan yang salah, revisi bisa dilakukan tak perlu membuang kertas selembar pun. Untuk mengirimkan sebuah dokumen tidak perlu repot untuk pergi ke kantor pos, langsung dikirim dari smartphone di tangannya pun bisa. Undangan pameran dalam sepersekian detik sudah sampai di puluhan kotak penerimaan alamat email yang dituju; di samping itu masih pula ia berkeliaran tidak keruan hingga muncul di notifikasi dan linimasa akun sosial media kita. Belum lagi kita membicarakan undangan yang muncul di layar smartphone tanpa menunggu persetujuan pemiliknya melalui aplikasi chat messenger.

Kami memang melakukan kerja-kerja dokumentasi acara seni setiap hari. Dengan kapasitas dan jangkauan yang kami miliki, akhirnya kami memang harus memilih acara seni mana saja yang direkam. Setelah melalui tahap seleksi, dalam setahun terkumpul sedikitnya 250 rekaman acara seni. Artinya jika dirata-rata, maka dalam 3 hari Tim Dokumentasi merekam 2 acara seni. Bila satu acara seni difoto sebanyak 50 frame, dan direkam sepanjang 1 jam, maka dalam setahun terkumpul 12.500 frame foto, dan 250 jam atau 10 hari 6 jam video. Padahal pada kenyataannya, lantaran menggunakan kamera digital, jumlah frame foto dan durasi video bisa jadi lebih banyak dari hitungan kasar. Kita asumsikan hitungan tersebut hanya dalam satu tahun. Sedangkan kerja pendokumentasian yang dilakukan IVAA dengan perangkat digital sudah berjalan sejak tahun 2005. Untuk mengetahui koleksi IVAA secara kasar, tinggal kita kalikan saja hasil hitungan kasar di atas dengan jumlah tahunnya. Belum lagi jika ditambah dengan data-data yang kami peroleh dengan cara lain, yakni kontribusi. Karena sejauh ini, beberapa seniman, keluarga, penulis, peneliti atau bahkan galeri dan komunitas banyak yang menyumbangkan dokumentasinya. Dan masih ditambah lagi dengan file hasil digitalisasi berkas-berkas kertas seperti kliping, katalog lama, majalah lama, poster, kaset audio, kaset video, slide presentasi dan film negatif yang dikumpulkan sejak awal mula IVAA berdiri.

Lalu bagaimana cara mengolah timbunan dokumen itu? Yang pertama kami lakukan adalah berusaha mengelolanya. Timbunan dokumen yang tidak terkelola bisa menjadi kesulitan besar, oleh sebab itu, untuk menghindarinya maka sejak dari awal kedatangan sebuah dokumen, ia harus tercatat. Jika ada yang penasaran apa sebetulnya kerja yang dilakukan oleh seorang pengarsip, maka jawabannya adalah mencatat. Catatan yang dimaksud ialah catatan yang tersistematisasi dan memiliki konsistensi yang kita sepakati. Apabila tiba waktunya menemukan dokumen yang miskin data, maka inilah yang disebut petaka bagi pengarsip. Dibutuhkan curahan energi spesial untuk melakukan siasat pencatatan dengan semangat ‘arkeologi’, sehingga catatannya akan lebih banyak mengisi kolom deskripsi, baik mengenai penampakannya maupun kontennya (bila berupa arsip tekstual). Catatan yang dibuat oleh pengarsip inilah yang di kemudian hari memudahkan pencarian dan menjadi semacam penunjuk arah bagi peneliti maupun pengarsip sendiri yang sedang membantu peneliti.

Dengan semangat keterbukaan akses, diseminasi, dan pertukaran pengetahuan, maka IVAA membuat sistem arsip dalam jaringan. Siapapun di manapun bisa membuka situs ini, bisa pula mengunduh dokumen-dokumen yang terkandung di dalamnya, baik berformat teks, audio, foto, maupun video. Bagi yang membutuhkan resolusi foto lebih besar, durasi video lebih panjang, maka mereka bisa menghubungi pengarsip, melalui prosedur tertentu. Lantas apakah artinya semua yang terkandung di situs archive.ivaa-online.org itu merupakan semua isi perut IVAA? Tentu tidak. Dengan jumlah arsip seperti yang digambarkan di atas, kerja pencatatan menjadi pekerjaan yang tidak mudah dan tidak singkat. Bila tidak percaya, bisa dibuktikan dengan cara mencoba melakukannya, kami selalu membuka lowongan pengarsip sukarelawan. Maka tak heran pengarsip IVAA lebih sering disibukkan mengumpulkan dokumen-dokumen untuk peneliti-peneliti yang menghubungi kami lantaran tak menemukan arsip yang dibutuhkan di arsip online IVAA yang disebut @rsipIVAA itu.

Pekerjaan pencatatan dan pelayanan yang begitu menyita waktu itu tidak melunturkan semangat pembacaan. Meski berbekal catatan yang belum sepenuhnya rapi dan mungkin belum cukup membantu, namun semangat membaca arsip terus kami hidupi. Salah satunya dengan menerbitkan buletin dan menggelar archive showcase sederhana setiap dua bulan sekali, dan yang paling akbar yang akan datang ini adalah serangkaian program dalam Festival Arsip dengan tajuk ‘Kuasa Ingatan’. Mengapa semangat pembacaan ini terus kami pompa? Karena tak urung kami yang berada paling dekat dengan arsip IVAA adalah yang paling paham dengan medan dan liku-likunya. Maka, apa salahnya jika kami terus hidupkan meski dengan cara yang sederhana dan jauh dari sempurna.

Meski demikian, di antara pekerjaan harian dan timbunan arsip tersebut tidak membuat kami merasa cukup. Banyaknya arsip yang kami kelola belumlah sebanding secara lengkap tentu jika berbicara dalam konteks sejarah seni rupa Indonesia. Sampai hari ini masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus dikerjakan, masih banyak area kegelapan yang miskin dokumen, bahkan miskin mitos dan gosip dalam perjalanan seni rupa kita. Percayalah, bahwa kita tidak sendiri. Di sekitar kita masih banyak yang memiliki daya dalam membukakan jalan di area-area yang masih gelap tersebut.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Juli – Agustus 2017.

Batas yang Tidak Ada

Presentasi Penelitian “Gazing at The Other: Orientalism, Dance Bodies and Myth about the Exotic Self”

Penulis: Annisa Rachmatika (Peserta Magang IVAA dan Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa)

“Selama ini kalo ngomongin sejarah tari modern atau kontemporer, selalu dipisahkan. Ini Barat ini Timur. Saya bilang enggak! Ini dua-duanya berkaitan! Barat dan Timur sebenernya tidak benar-benar berbatas, mereka itu saling berhubungan”

Tuturannya dengan nada bicara yang meninggi disertai gerakan tangan yang menegaskan, telah menunjukkan kegelisahan Helly Minarti dalam wacana sejarah tari modern. Dalam proses penelitiannya yang sedang berlangsung tersebut, Helly menemukan pola yang mengekalkan batas pemisah antara dunia Barat dan Timur. Temuan ini yang kemudian ditiliknya lebih dalam, hingga menemukan premis bahwa tembok pemisah dunia Barat dan Timur sebenarnya tidak ada.   

Pada diskusi di Cemeti Institute For Art and Society tanggal 18 Juli 2017, Helly menyampaikan bahwa tatapan (gaze) kepada liyan, dalam hal ini tatapan bangsa penjajah terhadap kaum terjajah (Indonesia), menjadi peristiwa yang perlu tercatat pada sejarah tari modern. Lebih detailnya, peristiwa tersebut memiliki andil dalam membentuk estetika tari di Indonesia, dan dunia sekarang ini. Seperti datanya pada kasus Tari Kecak di Bali yang mulanya tidak bernarasi, menjadi bernarasi (bercerita) akibat konsep kolonialisme yang menempatkan Bali sebagai wilayah turistik.        

Estetika tari tersebut menjadi reaksi dari tatapan. Reaksi lainnya nampak pula dalam karya Ruth St. Danis, sebagai orang penting yang tercatat dalam sejarah tari modern dunia. Ruth St. Danis menarikan tarian yang terinspirasi dari Srimpi. Helly menegaskan bahwa yang ditarikan Ruth St. Danis adalah ekspresi diri atas tatapan setelah menyaksikan Srimpi ketika berpergian di Yogyakarta.         

Selain itu, ketika penjajahan kaum Barat mencapai puncaknya di tahun 1889, muncul kegandrungan pada “eksotisisme” sebagai reaksi tatapan di kawasan Eropa. Helly menemukan data bahwa pertunjukkan yang menggunakan kata “eksotis” dalam judul dan menampilkan penari beratribut tari-tarian Jawa seperti, Topeng Cirebon dan lain sebagainya ketika pentas, selalu menarik banyak penonton. Kemudian pertunjukkan empat penari asal Wonogiri (Indonesia) di Universal Exibition Paris, tahun 1889, yang mengispirasi beberapa pelukis dalam berkarya.

Peristiwa yang ditampilkan Helly sebagai data ini menunjukkan bahwa dunia khususnya dalam kesenian tidak benar-benar terpisah, menjadi Barat dan Timur. Pertukaran ide sebagai cikal kemunculan produk. Terjadi peristiwa saling tatap baik pada diri maupun Liyan.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Pekan Seni Grafis Yogyakarta

Penulis: Dwi Rachmanto

Saat itu (18/7) Yogyakarta diguyur hujan lebat menjelang malam pembukaan Pekan Seni Grafis Yogyakarta (PSGY). PSGY merupakan pameran karya seni grafis yang digagas oleh Studio Grafis Minggiran yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Pembukaannya dimulai pukul 19.00 WIB di ruang pamer Jogja National Museum, pamerannya sendiri berlangsung 18 Juli 2017 hingga 31 Juli 2017.

Malam pembukaan PSGY dimeriahkan oleh pertunjukan musik band-band kenamaan asal kota Yogyakarta, yang mana personelnya kebanyakan adalah pegrafis. Sebut saja Sangkakala, Seek Six Sick, Mulyakarya Band, dan Roll Ringtones, kebanyakan dari personel band-band ini pernah mengenyam pendidikan seni grafis di kampus ISI Yogyakarta. Dan seperti biasa, acara dibuka dengan sambutan perwakilan Dinas Kebudayaan Yogyakarta.

Wacana seni grafis sendiri di Yogyakarta selalu menarik, karena populasi seniman grafis di Yogyakarta bisa dibilang banyak, tetapi aktivitas seni grafis kian menurun. PSGY memiliki harapan untuk bisa menjadi wadah yang mempertemukan para pelaku seni grafis, mempopulerkan kembali seni grafis, sekaligus mewadahi wacana bagaimana mempersatukan antara wilayah seni dan bisnis. Dalam cetak grafis sendiri masyarakat akrab dengan teknik sablon dan stempel karena sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Padahal di dalam seni grafis banyak teknik yang bisa digunakan, dan bisa menjadi bidang eksplorasi seniman. Masuknya seni cetak digital juga menambah satu lembaran teknik cetak yang kini memperkaya eksplorasi seni grafis.

Bambang ‘Toko’ Witjaksono (dosen, kurator, seniman) ditunjuk sebagai kurator PSGY perdana ini. Dalam acara tersebut dipamerkan tak kurang dari 42 karya-karya grafis yang tercipta sejak tahun 1940 hingga 2017. PSGY melibatkan juga Jurusan Seni Grafis ISI Yogyakarta untuk memamerkan 15 karya koleksi kampus.

Menariknya, di dalam pameran ini panitia juga menyuguhkan karya maestro Salvador Dali berjudul “Espana.” Karya ini merupakan koleksi seniman komik dan tato ‘Atonk’ Sapto Raharjo. Menurut keterangan Bambang ‘Toko’ Witjaksono, karya grafis Salvador Dali ini sangat terbatas edisinya karena hanya berjumlah 300. Karya grafis “Espana” ini merupakan duplikat dari karya lukisan Dali sendiri dengan judul yang sama. Lukisan “Espana” diciptakan Dali pada tahun 1938, dan diperbanyak menjadi karya grafis di sekitar tahun 1940-an.

Dalam rangkaian PSGY terdapat pula kegiatan lokakarya 7 teknik cetak dalam seni grafis; yaitu cukil kayu, stensil, alugrafi, photolitografi, etsa, screen printing, dan ukiyo-e (teknik grafis tertua berasal dari Jepang). Program lokakarya ini melibatkan 7 komunitas seni grafis antara lain Grafis Minggiran, Krack! Studio, PQX Studio, Club Etsa, Tori Triastama, Grafis Huruhara,  dan Baren Studio. Digelar pula seminar bertajuk “Perkembangan Seni Grafis dari Teknik Maupun Wacana Seni Grafis di Indonesia” yang sekaligus menjadi kegiatan penutup dari PSGY.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Mei-Juni 2017

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Mei-Juni 2017

Senisono: Bukan Sekedar Romantisme

Pembaca yang baik, Buletin IVAA edisi Mei-Juni 2017 kali ini akan mengajak kita menelusuri berbagai hal dengan ragam nuansa. Mulai dari pemaparan kabar dari riuh rendah kota Yogyakarta selama ArtJog dan keramaian acara yang diinisiasi oleh berbagai ruang seni, hingga penelusuran ruang yang sempat berperan banyak sebagai pusat kegiatan seni, Senisono.

Penelusuran soal Senisono pada edisi ini dituangkan oleh tim peneliti IVAA dalam Rubrik Baca Arsip. Rubrik ini selalu berangkat dengan semangat ‘belajar dari masa lalu’, agar kita selalu ingat dan tidak terburu-buru untuk besar kepala karena merasa telah menciptakan hal baru. Penelusuran atas Senisono kali ini lebih ditekankan pada fungsi, nilai hingga kontroversi soal pembongkarannya dalam konteks tarik-menarik kuasa antara negara dan masyarakat. Di titik inilah penelusuran yang dilakukan tidak berhenti pada romantisme masa lalu, karena terdapat dimensi struktural yang banyak memberi pengaruh pada medan sosial seni. Membahas keberadaan Senisono tentu tidak bisa kita lepaskan dari kekuatan Malioboro sebagai rumah bagi aktivitas sosial dalam berbagai perwajahannya. Ulasan pada edisi kali ini juga didukung dengan Archive Showcase yang menampilkan berbagai peristiwa yang terjadi di jantung kota, hingga menjadi denyut kehidupan seni itu sendiri. Untuk menyaksikan Archive Showcase, silakan mengunjungi salah satu sudut Perpustakaan IVAA.

Selain itu, kita juga menyajikan berbagai kisah dari lapangan, dari hingar bingar perayaan seni rupa di sepanjang perhelatan ArtJog hingga aksi protes menolak pameran tunggal Sitok Srengenge. Kabar dari ruang kerja pengarsipan IVAA juga tak luput kami sajikan di edisi ini. Selain itu, dua arsiparis IVAA juga membagikannya dalam pelatihan yang diselenggarakan Perpustakaan ISI Surakarta, dengan fokus bahasan soal teknologi digital dan dokumentasi.

Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan IVAA yang diikuti oleh 13 peserta, dinamikanya juga sangat menarik dan memberikan energi tersendiri di Rumah IVAA. Pengetahuan yang menjadi dasar dalam mendasari kerja harian pengarsipan dan penelitian, kita bagikan dan eksplorasi bersama teman-teman baru dalam lokakarya pengarsipan dan penelitian. Esai-esai yang dihasilkan melalui proses ini juga sedang dikompilasi dan akan diterbitkan menjadi buku berjudul “Jejak”. Proses ini sekaligus menjadi awal dari serangkaian pra-kegiatan yang mendukung persiapan FestSip IVAA yang akan dilangsungkan pada tanggal 18 September hingga 1 Oktober 2017.

Selebihnya, simak terus kabar di seputar persiapan FestSip Kuasa Ingatan serta berbagai kegiatan Rumah IVAA bersama para sahabat dan kawan-kawan yang semangat dalam berkegiatan dan saling berbagi pengetahuan.

Akhir kata, selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Selamat membaca dan salam budaya!

Pemimpin Redaksi


I. Baca Arsip

Jejak Senisono
Oleh: Tiatira Saputri
Senisono: Ruang Bersama, Hak Siapa?  
Oleh: Annisa Rachmatika Sari

II. Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rahmanto, Martinus Danang Pratama Wicaksana, Annisa Rachmatika

Sorotan Arsip
Dinamika Festival Kesenian Yogyakarta Tahun 1989-2013
Oleh: Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa dan Prastica Malinda

Agenda RumahIVAA
Oleh: Tiatira Saputri, Putri Ratna, Padma Kurnia, Melisa Angela

Pengumuman Kantor
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H | Eid Mubarak!

III. FestSip! “Kuasa Ingatan”

Merajut Arsip Menyulam Penelitian
Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana


Tim Redaksi Buletin IVAA Mei-Juni 2017
Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Sukma Smita ⚫ Penyunting: Melisa Angela, Lisistrata ⚫ Peneliti: Tiatira Saputri, Annisa Rachmatika Sari ⚫ Penulis: Santosa, Dwi Rahmanto, Putri Alit Mranani, Tiatira, Melisa, Lisistrata ⚫ Kontributor: Annisa, Martinus Danang Pratama Wicaksana, Prastica Malinda, Putri Ratna Dewi Werdiningsih, Wahyu Padma Kurnia ⚫ Ilustrasi Sampul: Ipeh Nur ⚫ Desain Kartu Lebaran: Anggoro Anwar Prasherio  Tata Letak & Distribusi: Tiatira, Alit

“Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” Sebuah Kisah Baru Strategi Kebudayaan

Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana

Budaya tidak boleh dikesampingkan karena budaya yang baik adalah Indonesia hebat,” ungkap pria paruh baya Prof. Panut Mulyono yang masih segar-segarnya menjabat rektor UGM yang baru dalam pidato pembukaan simposium kebudayaan.

Ruangan auditorium pasca sarjana UGM dipenuhi oleh para aktivis dan pegiat kebudayaan pada Kamis (15/6). Ruangan yang sedianya muat oleh 200 orang terisi penuh oleh lautan manusia dari berbagai kalangan. Mereka berkumpul untuk mengadakan diskusi bersama dalam tajuk “Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM.

Simposium kebudayaan kali ini terasa begitu spesial dengan hadirnya Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Kedatangan Hilmar Farid disambut antusias dari para kalangan aktivis dan pegiat kebudayaan yang berkumpul di auditorium. Selama kurang lebih setengah jam Hilmar Farid menyampaikan pidato kebudayaan untuk mengajak setiap lapisan masyarakat lebih peduli dalam mengembangkan kebudayaan nasional.

Menurut Hilmar Farid simposium kebudayaan yang bertajuk strategi kebudayaan ini sudah banyak dibicarakan. Bahkan strategi kebudayaan sudah pernah dicetuskan oleh Ali Moertopo pada masa Orde Baru. Namun, Hilmar beranggapan bahwa strategi kebudayaan ini perlu diadakan terus-menerus karena situasi yang berubah-ubah sehingga perlu dibahas untuk menyesuaikan dengan perubahan keadaan yang sedang terjadi.

“Situasi bangsa kini telah berubah maka strategi kebudayaan juga turut berubah sehingga perlu dibicarakan kembali,” ungkap Aprianus Salam ketua Pusat Studi Kebudayaan UGM. Aprianus setuju bahwa strategi kebudayaan perlu didiskusikan setelah krisis nasionalisme melanda Indonesia. Sehingga bagi Aprianus untuk menanamkan jiwa nasionalisme itu sendiri perlu melakukan pendekatan kebudayaan lewat strategi kebudayaan.

“Strategi kebudayaan berangkat dari Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Hal ini yang perlu dikritisi bahwa kebudayaan itu berkembang bebas jangan diatur oleh undang-undang,” ungkap Hilmar dalam pidatonya. Ini menunjukkan bahwa Himar beranggapan bahwa kebudayaan tidak perlu diatur sedemikian rupa seperti gerak tari yang detail sehingga gerakan tari sama semua. Tetapi pemerintah cukup mendukungnya saja dengan tidak mengekang kebudayaan tersebut.

Dalam pidatonya Hilmar juga menyampaikan strategi kebudayaan yang sangat relevan menurutnya. Bagi Hilmar yang diperlukan dalam strategi kebudayaan adalah mengembangkan budaya literasi dalam masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah berita-berita bohong yang dapat memecah bangsa Indonesia. Sehingga dengan membiasakan masyarakat dengan budaya literasi mereka mampu mengurangi kebiasaan untuk percaya dengan berita bohong. Inilah strategi kebudayaan yang disampaikan Hilmar dalam pidato kebudayaannya.

Mukhtasar Syamsuddin dosen filsafat UGM menyampaikan materi dalam simposium beranggapan senada bahwa kebudayaan itu tidak statis tetapi bersifat dinamis. Sehingga kebudayaan selalu berubah-ubah seturut perkembangan zaman dan tidak bisa diatur. Bagi Mukhtasar melihat kebudayaan yang bersifat dinamis ini perlu adanya strategi kebudayaan untuk mencapai Indonesia yang mandiri.

Hermin Indah Wahyuni seorang dosen ilmu komunikasi UGM dalam materinya di simposium kebudayaan menawarkan strategi kebudayaan lewat Pancasila. Hermin berpendapat bahwa strategi kebudayaan dapat dilakukan dengan cara mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Pancasila sendiri merupakan cerminan dari kebudayaan Indonesia. Sehingga bagi Hermin dengan mengimplementasikan Pancasila dalam strategi kebudayaan juga turut serta mengajarkan tentang nasionalisme.

Salah satu peserta dalam simposium kebudayaan yakni Faiza Mardzoeki seorang pegiat seni menyampaikan gagasannya mengenai strategi kebudayaan. “Untuk memudahkan anak-anak mengetahui tentang Pancasila perlu didekatkan pada sastra, lewat sastra anak-anak dapat belajar untuk mengetahui berbagai macam karakter,” ungkapnya. Bagi Faiza mendekatkan anak-anak pada nasionalisme lewat budaya literasi.

Wening Udasmoro, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM juga menyampaikan materinya tentang strategi kebudayaan. Bagi Wening sudah saatnya nasionalisme perlu dikembangkan dan dibicarakan kembali dalam menetapkan strategi kebudayaan. Hal ini dikarenakan sudah lama Indonesia tidak pernah berbicara tentang nasionalisme hanya seputaran demokrasi saja hingga dampaknya saat ini krisis akan nasionalisme menurut Wening.

Wening juga berpendapat bahwa intolerasansi saat ini berkembang karena lunturnya nasionalisme itu sendiri kurang digelorakan. “Intoleransi berkembang karena para nasionalis sendiri masih belum mau bernarasi sehingga mereka dikalahkan oleh kelompok intoleran yang berteriak begitu kencang,” ungkap Wening. Dalam hal ini Wening mengajak setiap lapisan berani bernarasi menyuarakan nasionalisme untuk mencegah intoleransi.

Hairus Salim yang juga ditunjuk untuk menyampaikan materi dalam simposium kebudayaan ini juga punya pendapat lain. Bagi Hairus perlu diganti dalam penamaan strategi kebudayaan menjadi kebijakan kebudayaan. Hal ini dilakukan Hairus karena strategi kebudayaan kental kaitannya dengan Orde Baru. Supaya tidak terjadi pengulangan dan kesamaan dengan Orde Baru, papar Hairus, maka sebaiknya strategi kebudayaan diganti nama menjadi kebijakan kebudayaan. Sebab kebudayaan saat ini sangatlah berbeda dengan kebudayaan pada masa Orde Baru menurut Hairus.

Sudah banyak strategi kebudayaan yang disampaikan oleh para akademisi yang ditunjuk sebagai pemateri dalam simposium kebudayaan ini. Tujuannya jelas bahwa dengan adanya simposium kebudayaan ini ditawarkan mengenai strategi-strategi kebudayaan dalam menghadapi situasi zaman saat ini. Tawaran-tawaran strategi kebudayaan sudah disampaikan kini tinggal para pegiat kebudayaan bersama masyarakat menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


*Martinus Danang Pratama Wicaksana, (l.1995) mahasiswa asal Surabaya ini aktif berorganisasi sejak SMP. Di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pun ia aktif di Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Natas USD. Di Natas, ia mengawalinya dengan bertanggung jawab sebagai Redaktur Pelaksana hingga kini menjadi Pemimpin Redaksi. Martin memulai magangnya di IVAA pertengahan Juni ini selama dua bulan dan akan diperbantukan dalam Program Biennale Forum yang merupakan kerja sama IVAA-Biennale Jogja tahun ini.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Jejak Senisono

Oleh: Tiatira Saputri

Di tahun 1990-an, publik seni gelisah dengan rencana pembongkaran gedung Senisono. Gedung yang berdiri sejak tahun 1915 tersebut sudah menjadi rumah bagi beragam kegiatan seni sejak tahun 1968. Sejarah juga mencatat bahwa pada tahun 1945 gedung ini menjadi lokasi Kongres Pemuda. Selain bersejarah, keberadaan gedung ini juga mencatat berbagai dinamika seni budaya serta menjadi saksi dari berbagai peristiwa bernilai. Oleh sebab itu, banyak seniman berupaya menegosiasikan pembatalannya ketika pemda berencana membongkar Senisono. Sebut saja peristiwa happening art bertema “Aksi Cinta Kasih” yang digelar di Malioboro, pembuatan instalasi patung di titik nol kilometer, dan Panggung Solidaritas Senisono oleh Teater Jiwa. Meskipun pada akhirnya, di tahun 1995 Senisono tetap saja dibongkar.

Sumber: koleksi IVAA http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/3085

 

Jauh sebelum Senisono dibongkar, ada baiknya jika kita menilik ke belakang untuk melihat sejauh apa Senisono dihidupi dan menghidupi dinamika kesenian di Yogyakarta. Menilik lokasi Senisono yang berada di penghujung ruas Malioboro, maka ketika membicarakannya berarti kita juga membicarakan Malioboro. Sebagai jantung dari sebuah kota, Malioboro sudah punya sejarah panjang sebagai ruang diplomasi. Di abad ke-10, Malioboro yang diposisikan sebagai jalan utama kerajaan atau yang dalam bahasa Sansekerta disebut rajamarga, jalan ini juga sekaligus menjadi ruang pertemuan raja dengan rakyatnya. Ia dimaknai sebagai ruang penghubung antara manusia dengan kosmosnya serta menjadi pusat kegiatan seremonial kerajaan yang dibuka untuk publik. Pada masa kolonial, Malioboro yang tadinya meliputi seluruh wilayah dari Keraton hingga Tugu Jogja, kemudian terbagi menjadi dua setelah pemerintahan Belanda membuka jalur kereta dan mendirikan Stasiun Tugu. Kendati demikian, Malioboro justru semakin hidup sebagai ruang diplomasi. Malioboro yang menjadi sebatas Keraton Ngayogyakarta hingga Stasiun tugu itu, akhirnya menjadi ruang untuk pertemuan yang diselenggarakan kerajaan, baik dengan warga maupun pejabat-pejabat tinggi Eropa.

Di tahun 70-an sampai 80-an, ketika kita bicara tentang seni di Yogyakarta, beberapa kali nama Malioboro dan Senisono disebut. Mungkin ini ada kaitannya dengan kehadiran Senisono sebagai ruang yang memfasilitasi kegiatan seni, baik dari diskursus sampai proses kreatif seni itu sendiri. Salah satu yang pernah menjadi sorotan di tahun 70-an adalah ketika Kelompok Kepribadian Apa, yang kemudian menjadi PIPA, gagal mengadakan pameran di Senisono, dikarenakan tampilan serta konten pameran dianggap terlalu vulgar atau bisa dikatakan frontal mengkritisi pemerintahan Orde Baru. Namun, bentuk kesenian yang dibawakan oleh kelompok PIPA ini justru menjadi oase segar untuk seni rupa saat itu. Dari sana PIPA kemudian dipandang sebagai salah satu percikan awal hidupnya seni kontemporer di Yogyakarta. Sama halnya ketika di tahun 1980-an Eddi Hara menampilkan performance art di Malioboro, dari situlah seni rupa mulai hadir di titik keramaian ruang terbuka, yang kemudian kita kenal dengan sebutan seni ruang publik.

Gambar: Pameran Seni Kepribadian Apa tahun 1977 Sumber: koleksi IVAA

Sebagai rumah dari beragam bentuk kesenian beserta komunitas yang menghidupi, beberapa nama besar yang kita kenal sekarang, juga sempat tercatat telah menjadikan Malioboro sebagai rumahnya, diantaranya ialah  Sawung Jabo di tahun 1970-an dan Ugo Untoro di tahun 1990-an.

Pada tahun 1990-an Apotik Komik juga membuat mural bertema “Sakit Berlanjut”di sekitar Maliboro, sebagai bagian dari Festival Kesenian Yogyakarta. Sejak saat itu mural menjadi lebih populer digunakan sebagai medium komunikasi, yang masih berlangsung hingga kini. Tidak hanya mural, berbagai kegiatan berbasis komunitas yang juga merupakan suara warga atas perubahan kotanya juga bisa kita temui di sekitar Malioboro. Seperti misalnya Apeman yang diselenggarakan Komunitas Malioboro (COMA) atau Gelar Kreativitas Girli setiap tahunnya.

Sumber: koleksi IVAA http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/138

 

Di tahun 2000-an perbincangan mengenai Malioboro banyak mengarah pada pembahasan mengenai perebutan kepentingan atas ruang publik. Sejak Walikota Soejono AJ di tahun 1970-an membuat kebijakan untuk membangun trotoar di kawasan Malioboro sebagai fasilitas pejalan kaki, pada saat itulah kawasan Malioboro justru penuh pedagang kaki lima. Sampai akhirnya di tahun 1987 muncul kebijakan mengenai penggunaan lahan Malioboro. Salah satu kebijakannya adalah dengan mengalih fungsikan trotoar bagian timur Malioboro sebagai lahan parkir, sebagai respon atas padatnya pengunjung berkendara di wilayah Malioboro. Itu artinya, di tahun 1980-an, pemerintah mulai menyetujui dan memaksimalkan pertumbuhan wilayah Malioboro sebagai ruang niaga. Malioboro dinilai perkapling, setiap jengkalnya memiliki nilai investasi. Ini menjadikan wilayah yang seharusnya milik publik kini menjadi ruang personal. Orang menjadi sangat perhatian dengan wilayahnya masing-masing, sehingga tidak heran, jika di tahun 1990-an masyarakat mulai banyak mengeluhkan kondisi Malioboro yang tidak nyaman. Jangankan untuk berinteraksi, berjalan menyusuri trotoar pun membuat kita harus sering beradu bahu lantaran sempit dan banyaknya wisatawan berbelanja. Lahirnya komunitas di Malioboro seperti komunitas Pinggir Kali (Girli) atau pun COMA bisa jadi merupakan bagian dari respon terhadap perubahan tersebut.

Girli misalnya, yang ada sejak tahun 1981 dan terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, seniman, aktivis, sampai warga kampung setempat ini selalu berupaya merangkul masyarakat Malioboro. Karena bukan saja warga lokal dan wisatawan, tapi juga anak-anak jalanan banyak menjadi korban kekerasan di Malioboro, seperti misalnya copet, mafia asuransi, mafia pengemis, atau korban pertengkaran antar kelompok di area Malioboro. Melihat kasus-kasus seperti itu seakan kita sudah tidak bisa lagi berkompromi di ruang Malioboro. Untuk itulah komunitas seperti COMA rutin mengadakan Apeman di wilayah Malioboro. Karena selain melestarikan tradisi, Apeman juga salah satu cara untuk bernegosiasi dengan warga sekitar tentang bagaimana mengupayakan ruang hidup yang lebih cair di Malioboro melalui kesenian dan kegiatan berbagi. Sehingga jika kita lihat kembali, kesenian hari ini di Malioboro tidak melulu dari seniman, tapi juga dari warga yang memiliki kepentingan untuk berdialog dengan rakyat banyak.

Di tahun 1980-an, ketika seni eksperimental masih sangat baru dan menjadi materi eksplorasi yang sangat segar bagi perupa, muncul beberapa praktik seni, seperti yang pernah dilakukan Eddi Hara di tahun 1987 dengan menelusuri wilayah Malioboro, dari stasiun Tugu, Sosrowijayan, sampai Senisono Art Gallery dalam waktu 24 jam. Kerja seni yang idenya diambil dari “Hardship Art” dalam buku Art in America ini sesungguhnya merupakan cara lain Eddi Hara untuk merasakan sensasi tradisi mati raga, puasa membisu, atau puasa mati geni melalui kesenian.

Dari berbagai ragam peristiwa yang terjadi, terutama di Malioboro, mulai dari aktivitas niaga, diplomasi hingga kebudayaan dalam berbagai pemaknaannya, terdapat satu nilai dominan yang tidak bisa dilepaskan dari Malioboro, yakni ruang dialog karena keberadaannya sebagai pusat kota dan kerumunan.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#SorotanDokumentasi Mei-Juni 2017

Oleh: Dwi Rahmanto

Sepanjang Mei-Juni, Yogyakarta menjelma sebagai kota seni super sibuk. Momentum bursa seni rupa megah—Artjog, digunakan banyak pelaku seni sebagai ‘bulan baik’ penyelenggaraan kegiatan. Selama sepuluh tahun penyelenggaraannya, Artjog telah memantik bertumbuhnya kegiatan hingga ruang-ruang seni rupa baru di Yogyakarta. Tak ayal, jika banyak para seniman atau pelaku seni lainnya menyebut moment Artjog sebagai “Lebaran Seni Jogja”. Momen ini menjadi titik bertemunya seluruh penghuni medan seni, mulai dari pelaku, pemerhati, dan pendukung seni rupa hingga pelaku industri kreatif seperti musik dan craft.

Di Rumah IVAA sendiri sejak pertengahan Mei telah berlangsung “Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa”. Acara yang menjadi pembuka dari Festival Arsip di September mendatang, telah menunjukkan partisipasi IVAA pada momentum Yogyakarta kala itu. Lokakarya ini diikuti sekitar 13 partisipan dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa sejarah hingga komikus. Acara berlangsung selama kurang lebih dua minggu, dari pukul 15:00 hingga malam hari, disesuaikan dengan kebutuhan pembahasan. Setelah itu para peserta lokakarya melakukan penelitian mandiri dan beberapa sesi penyuntingan.

Kami selaku Tim Dokumentasi bekerja untuk mengumpulkan dan merekam berbagai peristiwa kesenian. Tidak hanya itu, kami juga bertugas untuk mengelola materi-materi hasil perolehan dari kerja pengumpulan dan perekaman, baik berupa dokumen video, foto, audio, maupun tekstual hingga siap dikelola oleh Tim Arsip dan Pelayanan Publik. Kali ini kami dibantu dua kawan magang, yang sedang kuliah di Universitas Islam Indonesia dan Modern School of Desain. Sejak awal Mei sampai dengan pertengahan Juni 2017 ini kami mencatat telah merekam 63 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan beberapa kota lain.

Dari serangkaian acara dan peristiwa seni budaya yang kami coba dokumentasikan, terdapat satu rapor merah, yakni peristiwa pembredelan pameran drawing “Tribute to Wiji Thukul” oleh Andreas di PUSHAM UII. Sebuah peristiwa yang menandai masih adanya pemberangusan kebebasan berekspresi melalui seni tentu penting untuk kami abadikan. Di sisi lain, ada juga demonstrasi oleh sejumlah aktivis perempuan Yogyakarta atas pameran tunggal Sitok Srengenge yang di laksanakan di Langit Art Space. Sitok seperti kita ketahui, terlibat kasus tindakan asusila yang proses peradilannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di sinilah muncul pertanyaan, apakah pribadi semacam ini patut diamini sebagai seniman, sedangkan seni itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari sisi kemanusiaan. Kami juga merekam acara demonstrasi para alumnus dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang memprotes keberadaan kelompok Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) di ranah civitas akademi ISI Yogyakarta. Demo ini bukan yang pertama, setelah pada tahun 2016 pernah berlangsung demo serupa di kampus tersebut. Dokumentasi dari peristiwa-peristiwa tersebut tersedia di IVAA, dan bisa diakses dengan terlebih dahulu menghubungi Arsiparis IVAA.

Di Rubrik Sorotan Dokumentasi edisi ini kami berbagi rekaman tiga peristiwa (1) “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom” pameran oleh kartunis GM Sudarta di Bentara Budaya Yogyakarta; (2) seminar bertajuk “Meme dan Persebarannya: Diskusi Kritis Mengenai Fenomena Dunia Maya” dengan menghadirkan tiga pembicara: Agan Harahap (seniman), Budi Irawanto (dosen program studi Ilmu Komunikasi UGM), Seno Gumira Ajidarma (dosen Institut Kesenian Jakarta/IKJ) dan dimoderatori oleh Dyna Herlina (dosen Ilmu Komunikasi UNY); dan (3) “Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM.

Simak uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya di bawah ini.


  1. Pameran Kartunis GM Sudarta “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom”
  2. Seminar “Meme dan Persebarannya: Diskusi Kritis Mengenai Fenomena Dunia Maya”
  3. “Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” Sebuah Kisah Baru Strategi Kebudayaan

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Senisono: Ruang Bersama, Hak Siapa?

Oleh : Annisa Rachmatika Sari

Perluasan wilayah Gedung Istana Kepresidenan Yogyakarta pada tahun 1995, membawa persoalan serius dalam iklim kesenian di Yogyakarta. Pusat kesenian yang awalnya terpusat di Senisono menjadi berpindah ke Purna Budaya – sebelum adanya galeri-galeri seperti saat ini. Gunawan Raharjo salah satu pendiri PAKYO (Paguyuban Kartunis Yogyakarta), merasakan bahwa perpindahan basis kesenian telah mempersulit masyarakat dari berbagai kelas untuk mengapresiasi kesenian, “dulu di Senisono, tukang becak aja bisa nonton pameran”.  

Posisi Senisono berada di kawasan Maliboro, tepatnya di selatan Gedung Agung, di ujung perempatan titik nol, bersebrangan dengan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Kawasan tersebut menjadi pusat keramaian masyarakat dari berbagai kelas di Yogyakarta – begitu pula saat ini.

Di masa penguasaan Belanda, Senisono difungsikan sebagai tempat hiburan malam. Banyak orang-orang Belanda yang menghabiskan waktu untuk bermain bilar ataupun berdansa di gedung yang kerap disebut “Kamar Bola” tersebut. Senisono pernah juga beralih fungsi menjadi bioskop, sebelum kemunculan Bioskop Indra dan Permata. Pernah juga menjadi gedung Kongres Pemuda Indonesia di tahun 1945. Baru sekitar tahun 1968, pengelolaan gedung Senisono diserahkan kepada seniman.  

Hampir setiap hari Senisono tidak pernah sepi acara kesenian. “Ya di tempat itu, semua seniman dari semua bidang dan kelas kumpul, yang dari Jakarta njujugnya ya kesitu dulu, rame mbak pokoknya…” ujar Gunawan Raharjo di sela-sela obrolan kami.  

Sumber: Badan Pusat Arsip Daerah DIY

Metamorfosis Senisono sebagai basis kesenian di Yogyakarta, tumbuh secara organik. Gunawan Raharjo menyebut Senisono menjadi barometer seni di masa itu. “Keberadaan seniman akan diakui kesenimannya ketika telah berkesenian di gedung tersebut” tutur Jemek Supardi.

Mengapa aktifitas kesenian di gedung tersebut tidak pernah sepi? Ternyata hal ini disebabkan oleh faktor pengelolaan infrastruktur yang memudahkan seniman membuat kegiatan dan lokasi Senisono yang berada dekat dengan Malioboro, sebagai pusat keramaian di Yogyakarta. Sehingga memudahkan seniman untuk menarik perhatian penikmat karya. “Sewa gedung Senisono cukup murah, dapat subsidi juga. Jadi harga sewa yang 75.000 cukup kami bayar 30.000 rupiah saja. Kemudian memberi uang kebersihan dan uang makan buat yang kerja” ungkap Jemek. Terlebih, kondisi di atas didukung dengan keadaan Yogyakarta yang belum diramaikan oleh ruang pamer seperti saat ini. “Dulu ada Purna Budaya, tapi lokasinya di utara, jauh dari keramaian” tambah Gunawan Raharjo.  

Keberadaan Senisono dengan latar belakangnya sebagai gedung pemerintah – tidak dimiliki swasta – membuka peluang bertumbuhnya seniman-seniman baru. Biaya sewa gedung dirasa terjangkau oleh semua kalangan. Pengunjungnya tidak dibatasi, siapapun boleh hadir menikmati.

Sebagai satu dari 48 gedung bersejarah yang tercatat dalam Dinas Purbakala DIY, sehingga layak untuk dilestarikan dan dilindungi, Senisono saat itu memainkan peran sosial di masyarakat Yogyakarta. Sangat mudah untuk bertemu, lebih-lebih wedangan bersama Rendra, Sawung Jabo, hingga Djoko Pekik dan Affandi. Kondisi ini yang membangun seni di Yogyakarta ibarat “makanan yang dapat dijangkau seluruh masyarakat”.   

Kontroversi Seputar “Renovasi”
Wacana renovasi Senisono telah berhembus sejak tahun 1976, namun gejolaknya muncul di tahun 1980-an akhir. Media cetak seperti Bernas, Kedaulatan Rakyat, Kompas, serta Tempo mencatat upaya perlawanan dari seniman dalam menolak wacana pemerintah tersebut. Banyak seniman yang melihat renovasi gedung, dapat dapat menghilangkan sejarah kota Yogyakarta.

Artikel Kedaulatan Rakyat (KR) berjudul “Senisono: Aku Sakit, Tapi Jangan Kau Bunuh”, mencatat usaha Bambang Paningron untuk menolakan pemugaran Senisono. Selain Bambang Paningron, banyak seniman lain yang “menyurati pemerintah” untuk menghentikan rencana pemugaran, sebut saja WS. Rendra, YB. Mangunwijaya, Emha Ainun Nadjib, dan masih banyak lagi.

Usaha untuk tetap mempertahankan Senisono juga dilakukan secara diplomatis. Pada tanggal 12 April 1991, Emha Ainun Nadjib mendapatkan undangan dari Mensesneg. Dari peristiwa yang dicatat oleh Kompas, pada pertemuan tersebut nampak bahwa Setyawan Djody dan Eros Djarot memberi dukungan pada seniman Yogyakarta saat itu. Namun, persoalan ini semakin carut marut ketika Djody dan Eros, malah memberi peluang pemerintah untuk menekankan penyelesaian masalah Senisono dengan pemberian fasilitas berupa gedung kesenian baru.

Bagi Emha – sebagai perwakilan seniman Yogya yang ditunjuk, penyelesaian masalah ini bukan pada pemberian gedung kesenian baru. Namun lebih pada pemugaran Senisono dan membiarkannya tetap ada. “Dengan banyaknya bukti nilai historis dan manfaat besar Senisono bagi kota kebudayaan seperti Yogya, mengapa Senisono harus dibongkar. “Senisono seharusnya justru dipugar, dikembalikan pengelolaannya kepada para seniman” tuturnya kepada Kompas.

Kondisi gedung memang tidak layak, ini menjadi persoalan berat bagi para seniman untuk memenangkan Senisono. Kepada Kompas, Pak Marto, Juru Kunci Senisono, mengakui bahwa Gedung Senisono sudah tidak layak pakai mulai tahun 1985. “Kondisinya memprihatinkan, banyak bocor di mana-mana.” Puncaknya terjadi ketika sebagian atap gedung tersebut ambrol pada 1 Maret 1993, pukul 14.30 WIB. Marto menambahkan bahwa jarang ada seniman yang mau memanfaatkan Gedung Senisono walaupun sewanya sangat murah.

Sebelum peristiwa ambrolnya atap, para seniman menggalang dana untuk perbaikan gedung melalui Aksi Solidaritas Dewan Seniman Muda Indonesia. Pada acara tersebut seniman akan menyumbangkan 75 persen hasil penjualan karya untuk renovasi Senisono. Harga karya mulai dari 50.000 hingga 500.000 rupiah. Kompas mencatat, sekitar 100 lebih karya terjual dalam acara tersebut.   

Orasi di Senisono, Rangkaian Kegiatan Aksi Cinta Kasih dalam Menolak Pembongkaran Senisono Sumber: http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/3089

Pemerintah Yogyakarta mengakui bahwa renovasi Senisono merupakan keputusan dari pusat – Jakarta. Pemerintah Daerah hanya menjalankan tugas. Menurut Djoko Sutono, Kepala Rumah Tangga Istana Kepresidenan Yogyakarta tahun 1996, dan Drs. Sujatmo, Ketua BAPPEDA DIY tahun 1996, Senisono tidak akan dipugar untuk kepentingan perluasan Istana Negara, melainkan hanya direnovasi. Kepada KR mereka menegaskan bahwa, usaha renovasi merupakan cara pemerintah untuk memuliakan gedung bersejarah, terlebih nantinya renovasi ini dapat mendukung kegiatan seniman – di masa itu. Namun, secara terpisah Djoko Sutono menegaskan kepada KR, bahwa pihak pemerintah tidak dapat memastikan fungsi Senisono akan berjalan seperti semula.        

Secara personal, Djoko Sutono menyampaikan kepada KR bahwa pihak Istana Negara terkadang merasa malu, ketika mendapat kunjungan dari pejabat tinggi. Sebagai gedung yang berdekatan dengan Istana Negara, Senisono yang terkesan kumuh sehingga merusak pemandangan dan citra Gedung Istana Negara yang megah dan agung.    

Jemek Supardi berpendapat lain, keadaan Senisono saat itu tidak kumuh, malah ruang akustiknya sangat bagus jika dibandingkan dengan gedung-gedung yang saat ini – menunjuk TBY. Ada dua bagian yang bisa digunakan untuk pertunjukan, ada pendopo dan Gedung Senisono. “Pendopo itu yang membangun Romo Mangun, buat temen-temen seniman yang enggak mampu bayar sewa gedung, Senisono itu tidak kumuh, jarang saya liat ada gelandangan yang tidur sembarangan di sana, ya karena mereka sungkan sama seniman. Tapi memang di sekitar sana banyak pohon-pohon beringin saja”.  

Persoalan pemerintah ini dipandang lain oleh beberapa pihak. Banyak yang menilai bahwa usaha perobohan Senisono bukan berasal dari pusat. Misalnya Tempo yang mencatat celetukan Bagong Kussudiardja yang menyebut “Tak mungkin pak Harto memerintahkan membongkar Senisono. Karena beliau cinta kesenian”.

Namun, kepada Tempo pula, Sudomo menjelaskan bahwa perintah pembongkaran datang dari Presiden Soeharto. Ketika Pak Harto memandang selatan Beteng Vredeburg, setelah memantau hasil renovasi, dirinya meminta kawasan itu dibenahi. Pembongkaran dilaksanakan berdasarkan surat Mensesneg kepada Menteri PU tentang rencana pengembangan kawasan Malioboro dan penampungan kegiatan Senisono. Surat No.B 665/M. Sesneg/3/1990 tanggal 12 Maret 1990.

Adapun, renovasi Senisono dipandang lain oleh Hardi, salah satu eksponen Seni Rupa Baru Indonesia. Menurutnya Senisono layak digusur. Kepada Kompas, Hardi bercerita bahwa yang dibutuhkan seniman adalah kesadaran profesional. Bentuk aktual kesadaran ini berupa penggarapan ruang gelar seni yang “representatif,” tidak kumuh, tidak berdinding lembab, tidak berlantai miring dan tambal sulam. Yogyakarta memerlukan pusat kesenian yang berada dalam suatu wilayah, di mana masing-masing cabang memiliki gedung gelar seni sendiri. Wacana tersebut, dapat memanfaatkan momentum renovasi Senisono, sebagai pemantik untuk memperjuangkan eksistensi Seniman Yogyakarta.

Menurutnya, hal ini mungkin terjadi, sebab Yogyakarta memiliki seniman yang dapat diperhitungkan, seperti Romo Mangun, Umar Kayam, Bagong Kussudiardja, Widayat, Emha Ainun, Linus Suryadi, dan Butet Kertaradjasa. Terlebih Yogyakarta memiliki seorang Sultan yang dianggap Hardi memiliki budi bowo leksono. Melalui artikelnya di kompas, Hardi menekankan kepada seniman Yogyakarta, untuk tidak hanya berputar pada wacana klise, seperti simbol kesenian, sejarah, gedung memiliki hak perlindungan, dalam menyoal renovasi Senisono. Sebab, mereka akan berhadapan dengan Visit Indonesia Year Deparpostel.

Senisono Ruang Siapa?
Dari sekian ingatan dan kisah mengenai Senisono, terlihat bahwa keberadaannya mampu mengkondisikan Yogyakarta sebagai kota yang memiliki gelombang sendiri dalam kesenian. Berbeda dengan Bandung, Jakarta maupun kota-kota lainnya.  

Perdebatan Senisono sendiri tidak hanya persoalan romantisme sejarah, melainkan lebih dari itu. Gedung pusat kesenangan yang mulanya terkhusus pada kelas-kelas tertentu, telah meleburkan seni sebagai panganan khas masyarakat Yogyakarta. Hingga pada suatu ketika, panganan ini menubuh menjadi identitas dari suatu wilayah. Kehadiran Senisono, telah menghapus tembok yang melegalkan seni sebagai permainan kaum borjuis.      

Di balik kekalahan seniman dalam mempertahankan Senisono muncul pertanyaan, yakni “Siapa yang berhak atas Senisono?” Masyarakat, sebagai subjek yang melahirkan wilayah Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya? Atau pemerintah yang menempatkan Senisono sebagai obat was-was dari cibiran tamu-tamu Kota Yogyakarta?


Annisa Rachmatika Sari, (l.1990) mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta dengan minat Pengkajian Film ini sejak kuliah di Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” sudah mempelajari berbagai metode produksi program televisi dan radio. Sedari SMA tertarik untuk menulis hingga menghantarkan almamaternya menjuarai Lomba Mading antar SMA se-Jateng. Selain itu Nisa juga menyediakan jasa fotografi sebagai penghasilan sampingan. Ketertarikannya pada seni rupa berawal ketika menjadi peserta diskusi Study on Art Practices (SoAP) Ark Galerie 2016. Nisa magang di IVAA sejak akhir Maret, dan mulai Mei lalu mengikuti Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa yang IVAA selenggarakan.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Seminar “Meme dan Persebarannya: Diskusi Kritis Mengenai Fenomena Dunia Maya”

Oleh: Annisa Rachmatika

27 April 2017, di Hall PKKH UGM kompleks Bulak Sumur, Forum Umar Kayam merespon pesoalan media kini, melalui diskusi berjudul “Meme dan Persebarannya.” Agan Harahap, Budi Irawanto, dan Seno Gumira Ajidarma dipertemukan untuk membaca ulang fenomena Cyber Culture. Ketiganya dipandu oleh Dyna Herlina, seorang pengamat media yang aktif dalam Rumah Sinema.

Diskusi ini dimulai dengan wacana persoalan klasik dunia maya kini, berupa semunya batas kenyataan yang membuat karya,khususnya meme, dapat  diapresiasi dalam perasaan campur aduk, antara lucu, kasihan, merasa bodoh, marah, atau perasaan lainnya.

Sebagai seniman yang memanfaatkan media sosial, Agan Harahap mengaku tidak memiliki tujuan khusus pada karyanya. Dia hanya merespon fenomena masyarakat yang sensitif dengan isu-isu tertentu, tanpa berusaha untuk membela satu kelompok. Misalnya saja karya ikan louhan PKI-nya yang mendapat respon beragam, baik perorangan hingga media berita nasional.

Perlu disadari bahwa ketika karya dipamerkan, benda tersebut berada dalam posisi yang bebas tafsir. Dalam artian, penikmat karya bebas memaknai, tanpa perlu memperdulikan batasan benar salah, serta mempertimbangkan gagasan dari pembuat. Adapun, reaksi emosional seperti tertawa dan lain-lain termasuk bagian dari wujud memaknai karya.

Saat masyarakat memaknai, posisinya menjadi tidak netral. Pengetahuan subyektif yang berperan secara alamiah dalam proses tersebut, menjelaskan bahwa bercanda masuk dalam kategori aktifitas serius. Aktifitas tidak sadar yang melibatkan pemikiran mendalam.             

Budi Irawanto mejelaskan persoalan meme melalui kutipan yang diambil dari buku Richard Dawkins berjudul “The Selfish Gene.” Istilah “meme” pertama kali dikenal pada 1976, sebagai penyebaran gagasan yang bersifat viral. Istilah meme berasal dari kata “minema” dalam bahasa Yunani. Minema berarti sesuatu yang ditiru atau diimitasi. Cara hidup meme diibaratkan seperti gen dalam tubuh manusia, yakni memiliki fase replikasi diri dan berpindah dari seorang ke seseorang. Dengan meminjam kacamata Limor Shifman, Budi pun melihat potensi meme, sebagai alat pembangun fenomena sosial yang diterima bersama. Alat yang mampu mengalahkan rasionalitas para Sarjana.


Annisa Rachmatika Sari, (l.1990) mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta dengan minat Pengkajian Film ini sejak kuliah di Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” sudah mempelajari berbagai metode produksi program televisi dan radio. Sedari SMA tertarik untuk menulis hingga menghantarkan almamaternya menjuarai Lomba Mading antar SMA se-Jateng. Selain itu Nisa juga menyediakan jasa fotografi sebagai penghasilan sampingan. Ketertarikannya pada seni rupa berawal ketika menjadi peserta diskusi Study on Art Practices (SoAP) Ark Galerie 2016. Nisa magang di IVAA sejak akhir Maret, dan mulai Mei lalu mengikuti Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa yang IVAA selenggarakan.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Archive Showcase: Jejak Kesenian di Malioboro

Berlangsung 11 Juli – 4 September 2017
di RumahIVAA

Archive Showcase kali ini ingin menampilkan jejak-jejak kesenian di Malioboro, mengingat pada tahun 1970-an Malioboro banyak berperan sebagai rumah kesenian di Yogyakarta. Konon, Malioboro adalah rumah kedua atau ruang belajar seniman setelah ISI. Hingga hari ini, Malioboro masih juga menjadi ruang ekspresi bagi kesenian di Yogyakarta. Apa yang menjadi daya Malioboro hingga ia mampu menjadi ruang hidup kesenian di Yogyakarta? Berangkat dari pertanyaan tersebut, kami mencoba mengumpulkan arsip-arsip IVAA dengan harapan melalui seni kita bisa melihat kembali bagaimana kondisi atau posisi Malioboro sebagai denyut seni di Yogyakarta.

Melihat rangkaian sejarahnya, Malioboro memiliki daya negosiasi yang terkondisikan sejak abad ke-10. Sebagai jalan utama kerajaan ia banyak menjadi ruang kegiatan seremonial. Pada masa kolonial, Malioboro pun hidup sebagai ruang diplomasi, memfasilitasi agenda-agenda pertemuan Kesultanan dengan pejabat-pejabat Eropa. Semangat ini masih bisa kita rasakan hingga periode 90-an. Apalagi setelah Senisono diaktifkan sebagai ruang seni di tahun 60-an dan seni mulai hidup di wilayah Malioboro, kita bisa melihat bagaimana seni pun menjadi moda negosiasi masyarakat Yogyakarta. Seperti misalnya Panggung Solidaritas yang digelar  oleh Teater Jiwa atau happening art “Aksi Cinta Kasih” di tahun 1990-an, sebagai respon atas rencana pemerintah dalam menghancurkan Senisono.

 Namun di tahun 2000-an, Malioboro mulai kehilangan karismanya. Pengembangan Malioboro menjadi wilayah bisnis mempengaruhi pola interaksi di dalamnya. Logika kapling menjadikan publik melihat lahan Malioboro sebagai ruang investasi. Sehingga yang menjadi masalah bukan hanya kondisi ruang bersama yang semakin minim, tapi juga masyarakat yang semakin individualis, memikirkan ruang personal di ruang publik bernama Malioboro. Pun jikalau ada, negosiasi terjadi bukan karena tiap individu memahami posisinya masing-masing melainkan sebuah bentuk kewaspadaan satu terhadap yang lainnya. Di sinilah seni mengambil posisi dan mencari celah, menjadi cara negosiasi yang tanpa syarat dan kewaspadaan. Seperti yang dilakukan oleh teman-teman komunitas Malioboro (COMA) atau komunitas Pinggir Kali (Girli), melalui kegiatan tahunan seperti Apeman dan Gelar Kreativitas Girli. Dari sana mereka berdialog dengan masyarakat untuk membangun Malioboro menjadi ruang yang lebih cair. Persis seperti apa yang sastrawan Umbu Landu Paranggi pernah paparkan, bahwa mau dijungkir-jempalikan seperti apapun, kondisi Malioboro bergantung pada manusia yang menghidupkannya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.