Category Archives: E-newsletter

Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990

Title : Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990
Edited : Stephen H Whiteman, Sarena Abdullah, Yvonne Low, Phoebe Scott
Book Description : 248 x 172 mm, 335 pages
Publisher: Power Publications and National Gallery Singapore
Originally published July 2018
Call Number: 701 Whit A

Reviewed by : Esha Jain

Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990 seeks to separate the art of the Southeast Asian countries from the stereotypes, expectations, and assumptions traditionally “Western” societies hold about it that are byproducts of the Cold War. It consists of ten essays created in partnership between “eastern” and “western” institutions such as the National Gallery Singapore and the University of Sydney’s Power Institute. The pretense of the book in itself is unique. It created “a regional network of emerging and senior scholars” in one year, with an emphasis on archiving. The archival lens provides a unique historical and cultural perspective throughout the book.

As a result of returning to the art of the era long after the influential events have occurred, the authors are able to explore the lasting impact the era had on the country, artist, and culture. Not only does the basis of archiving allow the reader to have an enhanced reading experience with visual aids, but it also enables both the audience and author to explore a facet of culture from the perspective of an often overlooked historical context in conjunction with the examination of artwork. The archiving and documenting aspect allows the audience to understand the cultural implication both during the time period, as well as the impacts on preservation and expression today.

For example, the process of collecting research and archiving was heavily reflective of the impact of the Cold War on countries in the region. For instance, Cambodia’s art experienced mass and systematic destruction at the hands of the Khmer Rouge. In the essay “‘The Work the Nation Depends On’: Landscapes and Women in the Paintings of Nhek Dim,” Roger Nelson describes the difficulties he faced in trying to obtain documents pertaining to the work of Dim. However, because Nelson has a background in archiving, he was able to provide an underrepresented perspective into the impact foreign involvement in Cambodia had on cultural preservation.

The book’s strength lies not only in its archival lens, but in that it does not attempt to broadly generalize “Southeast Asian art” during 1945-1990. Rather, each author investigates in depth one person, topic, or event. This allows for specific issues to be explored from a fresh, focused lens. Specifically, in terms of Indonesia, the book explores both the impact of Indonesia remaining neutral during the Cold War as well as art movements after the 1965 killings. Especially regarding the incidents of 1965, the author was able to explore a taboo topic. Even today, communism and the acts of 1965 are still widely left out of conversation. The essay investigates how, “…this traumatic period impacted Indonesian modern art history from the perspective of those who witnessed it firsthand.” As an archivist and art historian, Wulan Dirgantoro was able to review a largely untouched subject through art, providing a perspective on the emotional toll of a national tragedy.

Ultimately the book attempts to remove the western lens from Southeast Asian art. Each author attempts to separate themselves from what they have been taught through traditional Eurocentric education. Too often, parts of history are written over by hegemonic powers. Stories are left unread and undiscovered, creating a single narrative, often unrepresentative of large swaths of the world. This collection of essays seeks to share these overlooked stories.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Gunungkidulan

Judul : Gunungkidulan
Pengarang : Wonggunung
Penerbit : BaturAgung
Tahun : 2018
Deskripsi : 823 Halaman + XVI ; 17,6 x 25 Cm
No Panggil : 300 Won g

Resensi oleh : Muhammad Indra Maulana

Mitos adalah pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (arbitrer) sehingga sesuatu dianggab alamiah. Mitos, melalui fakta yang bisa digambarkan konsekuensinya, adalah Bahasa. Mitos adalah bentuk wicara” – Roland Barthes

Lahirnya kumpulan tulisan “gunungkidulan” ini hanya pemenuhan-emosional atas panguda-rasa penulis terhadap pawacana, atau paralambang purwa yang telah tergelar dengan cetha-ngegla di bumi Gunungkidul khususnya dan Jawa umumnya. Berdasarkan ilmu para winasis yang ia pahami, penulis membuat jejaring secara ala kadarnya. Cukup menarik bagi saya, ketika penulis menyarankan agar jangan terlalu serius membaca kumpulan tulisan ini. Jika membacanya terlalu serius, bisa jadi isinya menjadi tak serius dan banyak yang ngawur.

Terdapat banyak kumpulan mitos-mitos Gunungkidul di buku yang berhalaman 823 ini, yang akan membuat Anda mengantuk pada lembar-lembar awal. Jadi masuk akal ketika penulis menyarankan agar jangan terlalu serius membacanya. Salah satu mitos yang menarik untuk dibaca adalah “Gadhung”. Mitos ini dibungkus dalam sebuah esai yang membahas pohon sebagai materi yang ingin hidup. Artinya, oleh kapedal yang mewakili opini sekelompok orang atau masyarakat umum, dianggap mati. Aneh, bukan? Ya, itulah mitos.

Mitos adalah sistem komunikasi. Di dalamnya tersimpan pesan-pesan. Mitos merupakan sebentuk Bahasa. Bahasa mitos tak hanya berbentuk Bahasa yang berasal dari tulisan. Benda-benda, mahkluk, foto, dsb bias dimaknai sebagai tulisan, asalkan memiliki  ‘kosa kata’. Kata-kata, khususnya dalam kebudayaan kulawangsa Gunungkidul (Jawa), tentu memiliki sejarah epistemologinya sendiri. Maka inilah ikatan temalinya: mitos Gunungkidulan adalah pengungkapan kata-kata atas berbagai gambar, bentuk, benda, konsep hingga pemikiran Gunungkidulan.

Sempat terpikir kenapa sang penulis ini menggunakan dua bahasa dalam buku ini, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa jawa. Sebenarnya, jika dikaitkan dengan ilmu-ilmu guru dan murid dalam khasanah pengetahuan Jawa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa adalah tunggal guru: sama-sama berguru pada bahasa induk atau indung Nusantara. Artinya kedua bahasa ini memiliki sifat universal dari sesuatu yang disebut bahasa, yakni komunikatif. Bahwa bahasa adalah penyatu keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam seluruh kegiatannya.

Nalar penokohan si simbok seperti Dewi Sri, Nawang Wulan, Talang Warih, R(L)embayung, Rara Resmi, Rara Sudarmi, Rara kuning, Gadhung Mlati, dan penyebutan lainnya adalah gambaran penalaran peradaban Gunungkidul yang telah terikat kuat dengan ‘sejarah’ Siti atau Bumi Gunungkidul. Gambaran ini juga sekaligus metafora atas kontrak sosial masyarakat Gunungkidul dengan paralambang atau simbol yang amat dihormati dan ditinggikan: indu(k/ng).

Ketika di Eropa, pada dekade 40-an, Barthes selama dua tahun menulis tentang mitos-mitos (pos)modern orang Perancis seperti bubuk sabun dan deterjen, mainan anak-anak, otak Einstein dan lain-lain. Penulis, lewat pepenthan tulisan ini, mencoba bercerita tentang mitos-mitos wangsa tradisional Gunungkidul yang beberapa di antaranya berhubungan erat dengan bidang kerja keseharian para simbok (perempuan) di desa, seperti dhudhuh, tela, gathot, endhang-endhang, laron, weksa, menthol, pencok, thiwul, tempe, jangan lombok, ngliwet, utri dan lainnya. Tentu, topik-topik yang diinterpretasikan melalui buku ini bisa diasumsikan menggambarkan penalaran kehidupan wanita Jawa yang muncul dari beraneka totem tersebut, yang seakan-akan berbeda kutub dengan apa yang dilakukan Barhes. Seolah seperti mitos pramodern versus mitos (pos)modern.

Mitos bukanlah hal yang asing dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, buku ini sangat menarik untuk diselami agar kita selalu ingat bahwa kita senantiasa hidup berdambingan dengannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Soembawa, 1900-1950: Arsip Foto Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal

Judul : Soembawa, 1900-1950: Arsip Foto Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal
Penulis : Yuli Andari Merdikaningtyas
Penerbit : CV. Esa Media Tama, bekerjasama dengan Sumbawa, dan didukung oleh Lembaga Adat Tana Samawa
Halaman dan Ukuran : 120 hlm; 13 x 20 cm

Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Buku ini ditulis berdasarkan foto-foto yang dimiliki keluarga Sultan Muhammad Kaharuddin III di Bala Kuning (1931-1952).  Komunitas Sumbawa Cinema Society dan KITLV Digital Image Library adalah pihak yang mengoleksi katalog foto-foto tersebut. Dari dua sumber arsip foto yang berbeda, digunakan dua perspektif untuk meresponnya. Untuk sumber arsip foto pertama kacamata orang Eropa yang melihat dan mengimajinasikan Sumbawa sebagai tempat tinggal di Hindia Belanda menjadi perspektif yang digunakan. Sedangkan untuk sumber arsip kedua, perspektif yang digunakan lebih untuk membaca representasi Indonesia. Seleksi foto dilakukan dengan memilah foto-foto berangka tahun yang sama dengan sumber pertama.

Mengacu pada metodologi disiplin sejarah, posisi arsip dilihat sebagai sumber sejarah yang menempati kedudukan  tertinggi dibandingkan dengan sumber sejarah lainnya, atau dapat dikatakan sebagai sumber sejarah primer. Dalam pengantar buku ini,  disampaikan bahwa penulisan sejarah lokal sangat kering karena jauh dari pusat kekuasaan. Juga, tidak banyak yang berminat menulis sejarah lokal. Selanjutnya, pembicaraan tentang sejarah lokal Sumbawa yang bersumber dari foto dibicarakan di halaman 34 dengan berdirinya studio foto Sinar di Kota Sumbawa Besar. Tentu, untuk mampu membaca arsip foto, kita memerlukan konteks. Oleh karena itu,  diperlukan sumber-sumber lain, seperti teks foto, catatan harian penulis, maupun arsip lain yang mendukung dan relevan dengan arsip foto yang dimaksud.

Dalam halaman-halaman terakhir, foto-foto bernarasi dipaparkan. Foto-foto itu banyak tentang keluarga, pejabat-pejabat pemerintahan Belanda dan Kerajaan Sumbawa, dan sebuah perayaan maupun aktivitas yang diselenggarakan oleh kerajaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial dan Kemanusiaan

Judul : Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial dan Kemanusiaan
Penyusun : Agus Aris Munandar, Joko Madsono, Aris Ibnu Darodjad, Irna Trilestari, Linda Sunarti, dan Budi Eriyoko
Penerbit : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Museum Basoeki Abdullah

Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Buku ini merupakan salah satu kajian tentang karya lukis Basoeki Abdullah yang dilakukan oleh Museum Basoeki Abdullah. Dengan berangkat dari tema-tema lukisan Basoeki Abdullah secara berkesinambungan pada 2009, kajian pertama diterbitkan dengan judul Lukisan Basoeki Abdullah: Tema Dongeng, Legenda, Mitos, dan Tokoh Kajian. Kajian kedua, pada 2011, berjudul Lukisan Potret Basoeki Abdullah. Sedangkan kajian ketiga, dituangkan ke dalam buku pada 2018, bertema Perjuangan Bangsa, Kehidupan Sosial dan Kemanusiaan.

Secara singkat, buku ini terdiri atas dua bagian. Pertama, lebih kepada penjelasan soal kerangka dan metode-metode kajian. Selanjutnya, baru mengulas soal tema yang dikaji beserta objek lukisan-lukisan Basoeki Abdullah, baik yang disimpan di museum, perorangan, ataupun tempat lain yang masih berada di Indonesia.

Dalam buku ini lukisan-lukisan yang dikaji telah dikumpulkan dan dikelompokkan secara tematis, disertai tabel beserta deskripsi lukisan. Dari ketiga tema yang disuguhkan, untuk tema Perjuangan terdapat 7 lukisan dengan 2 peristiwa yang digambarkan yaitu 4 Gerakan Non Blok dan 2 Sketsa Revolusi. Untuk tema Sosial dan Kemanusiaan terdapat 16 lukisan, antara lain lukisan aktifitas di sawah, di pasar, di pelabuhan, figur nenek dan monyet, dan figur anak. Selain itu, beberapa lukisan karya Basoeki Abdullah juga dibandingkan dengan lukisan-lukisan karya pelukis lain dengan kriteria kesamaan objek yang digambar.

Penutup dalam buku ini berisi kesimpulan dari bab-bab yang dijelaskan sebelumnya, bahwa lukisan-lukisan Basoeki Abdullah cenderung realis. Dengan tidak melepaskan unsur keindahan dalam objek yang dilukis, pada perbandingan karya lukis Basoeki Abdulah dengan Dullah, Henk Ngantung, dan Rustamaji, hakekatnya adalah sama; bahwa lukisan mereka itu menyampaikan peristiwa sejarah dan visualisasi keadaan sosial.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

SOROTAN ARSIP | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Oleh: Hardiwan Prayogo

Rubrik sorotan arsip biasanya kami tempatkan sebagai ulasan atas arsip-arsip kontribusi. Tidak hanya mengulas, tetapi juga bagian dari apresiasi kami terhadap publik atas partisipasinya dalam kerja pengarsipan. Juga meletakan arsip dalam relasi data dan wacana yang kami coba letakkan secara kontekstual.

Arsip adalah salah satu sumber pengetahuan, penelitian, hingga penciptaan karya seni. Edisi ini, dua arsip yang kami ulas adalah film tentang Nyoman Gunarsa dan Tino Sidin. Ulasan ini ditulis oleh dua kawan magang, Nisa Adzkiya dan Ulva Ulravidah. Ni Luh Putu Indra Dewi Anjani, menyutradarai film tentang jejak karya Nyoman Gunarsa, kisah perantauannya ke Yogyakarta, dan dorongan merangkul kawan-kawannya dari Bali untuk memperkaya jaringan dalam film berjudul Spirit I Nyoman Gunarsa. Sedangkan tentang kisah dedikasi Tino Sidin yang dijuluki “Guru Gambar Sejuta Umat” ada dalam film Sang Guru Gambar yang disutradarai Kiki Natez.

Selain menjadikan orang-orang terdekat, seperti keluarga hingga kawan kedua seniman di atas, kedua film ini cukup banyak menggunakan potongan gambar/ footage. Arsip tentang Nyoman Gunarsa menggambarkan pengalamannya berinteraksi dengan Presiden, dari era Soeharto hingga Jokowi. Sedangkan Tino Sidin lebih banyak mengambil adegan ketika dirinya sedang mengajar gambar di salah satu program TVRI.

Sorotan Arsip November-Desember 2018
Oleh: Ulva Ulravidah, Nisa Adzkiya

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Tino Sidin: Sang Guru Gambar

Oleh Ulva Ulravidah

Tino Sidin, seorang seniman gambar yang selalu gemar memberi motivasi bahwa sebenarnya tidak ada orang yang tidak bisa menggambar. Dengan metode beliau yang sederhana dan santai, orang seakan diajak untuk memaknai praktik menggambar sebagai aktivitas yang mudah. Ketika orang bisa menulis angka atau huruf, itu sudah menjadi modal untuk menggambar. Gambar adalah bentuk dari ekspresi pikiran seseorang yang tidak boleh hanya dinilai dari wujudnya. Dengan menggunakan konsep Kinder Garden ala Taman Siswa, layaknya kerja LSM atau pendamping, anak-anak dididik agar mempunyai rasa kemerdekaan berimajinasi, berekspresi dengan medium gambar.

Tino sendiri mengajar menggambar untuk anak anak bukan agar mereka kelak menjadi seniman, tetapi agar mereka mencintai kesenian. Terciptanya daya berpikir, berimajinasi, dan kepemilikan rasa kebebasan mengutarakan isi pikiran melalui menggambar oleh anak-anak usia dini adalah harapan Tino. Beliau mengajarkan agar anak-anak dapat menghadapi realita sosial, ketika imajinasi mereka mampu untuk mengubah sesuatu menjadi goresan bentuk. Tino selalu mengakhiri proses menggambar dan mengajarnya dengan kata “bagus”. Bukan sekedar kata yang biasa saja, “bagus” menjadi dorongan semangat untuk terus berkarya.

Dedikasi Tino Sidin yang dijuluki “Guru Gambar Sejuta Murid”, terwujud dalam film Sang Guru Gambar yang disutradarai Kiki Natez. Boleh dikata, julukan ini lahir karena ketekunananya  yang selalu mengajarkan cara menggambar yang interaktif dan imajinatif.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Spirit I Nyoman Gunarsa

Oleh Nisa Adzkiya

Nyoman Gunarsa adalah seorang seniman lukis yang mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia. Kemudian ia menjadi dosen di almamaternya tersebut lebih dari 15 tahun mengajar sketsa yang pada akhirnya mengundurkan diri, dan kembali ke tempat dimana ia dilahirkan yaitu Bali. Pria kelahiran 15 April 1944 ini menorehkan kesan yang berarti bagi anak, mahasiswa, dan teman-teman di sekitarnya.

Anaknya, Gde Artison menyatakan bahwa ayahnya berbeda dari seniman lainnya. Masyarakat biasanya menilai bahwa seniman adalah orang yang berpakaian tidak rapi dan asal-asalan. Namun, Nyoman memiliki perspektif berbeda. Ia berpakaian rapi dan memakai udeng, pakaian khas dari asalnya, Bali. Gde Artison juga menjelaskan bahwa ayahnya mengenalkan seni sedari ia kecil dengan selalu melibatkan keluarganya (istri dan anak) dalam proses seninya.

Adik kelas dan murid-murid dari Nyoman Gunarsa seperti Made Djirna, Gede Supada, dan Made Wianta menjelaskan bahwa Nyoman Gunarsa dalam melukis tidak asal lukis, tetapi merasakan apa yang akan dilukis dan selalu mengangkat tema budaya Bali yang dibuat lebih modern. Gunarsa berani menjual karya seninya secara door to door yang pastinya berbeda dari seniman pada biasanya.

Gunarsa membangun museum seni lukis pada 1990, bertempat di Bali yang kemudian pada 2017 lalu dikunjungi oleh Presiden Joko Widodo bersama istrinya. Pada penghujung 2017, Nyoman Gunarsa meninggal dunia pada 10 September yang disebabkan oleh serangan jantung.

Film garapan Ni Luh Putu Indra Dewi Anjani ini menggunakan rentetan pengalaman orang-orang terdekat Gunarsa selama meniti karir sebagai seniman.  Dalam potongan arsip video di awal dan akhir film pun kita masih dapat merasakan energi besarnya dalam setiap gestur dan tutur kata yang meluncur dari tubuhnya. Pengalaman dari setiap orang yang berbeda ini memiliki satu tarikan nafas, yaitu tentang dedikasi, keberanian, dan totalitas Gunarsa dalam berkesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

SOROTAN MAGANG | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Di Sorotan Magang edisi kali ini, kami memuat dua tulisan dari dua kawan yang telah menyelesaikan masa magangnya di IVAA. Dua tulisan ini merupakan refleksi dan impresi mereka selama ikut bekerja bersama dengan IVAA.

Pertama, Andya S. (Sasa), mahasiswi jurusan Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta, membagikan refleksinya selama magang di bagian Divisi Arsip dan Dokumentasi pada periode Maret-Mei dan Oktober-November 2018. Sebagai mahasiswi yang lekat dengan studi ilmu sejarah, seiring dengan pengalaman magangnya, cukup menarik ketika Sasa berefleksi bahwa sejarawan juga sekali-kali harus melebur diri sebagai arsiparis. Selanjutnya, Nurul Fajri (Ruri), dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan Profesi (KKLP) dari Universitas Fajar, Makassar, bekerja di bidang keredaksian selama tiga bulan (Agustus-Oktober 2018). Ruri adalah seorang mahasiswi jurusan jurnalistik. Dengan mengaitkan latar belakangnya sebagai seorang Bugis, Ruri menceritakan proses kerja yang ia lakukan beserta refleksi yang ia dapat.

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Pengalaman dan Refleksi Magang di IVAA Selama Dua Periode

Oleh: Andya S

Kembali ke awal tahun 2018, saya sedang asyik memantau linimasa. Ada hal yang membuat saya antusias ketika mengetahuinya, bahwa Indonesian Visual Art Archive (IVAA) telah membuka perekrutan magang. Inilah momentum yang ditunggu sejak setahun lalu sebab saya belum berkesempatan pada waktu itu. Saya mulai magang pada periode Maret-Mei. Namun kembali lagi untuk periode Oktober-November dalam rangka memenuhi persyaratan mata kuliah wajib semester 7. Niat awal untuk magang di instansi kearsipan milik kerajaan Belanda di ibu kota sudah pupus karena suatu hal. Itu bukan merupakan suatu penyesalan. Lagi pula di sini saya dapat sekaligus melakukan penelusuran sumber (heuristik) untuk skripsi saya yang berkaitan dengan seni rupa. Selain sumber literatur, saya juga bisa mendapat sumber lisan dari link yang sekiranya bisa jadi informan.

Keputusan saya untuk magang di IVAA berangkat dari keingintahuan dan ketertarikan terhadap seni rupa, khususnya perkembangan skena seni rupa kontemporer di Jogja. Namun yang dititikberatkan pada IVAA bukan melulu soal seni rupanya saja. Yang utama adalah proses kerja pengarsipan itu sendiri. Saya adalah seorang mahasiswa jurusan Ilmu Sejarah, yang tentunya bila menulis sejarah membutuhkan sumber data berupa arsip. Arsip merupakan sumber primer sejaman yang mana merupakan komponen utama dalam penulisan sejarah. Meminjam perkataan sejarawan Jerman, Leopold von Ranke, bahwa No Document, No History. Berarti saya tidak dapat menulis jika tiada disertai arsip. Di sini, peran saya hanya sebatas pengakses yang terima jadi. Saya belum paham betul bagaimana proses di balik pengarsipan itu dilakukan. Magang di IVAA bisa saya katakan sebagai simulasi menjadi seorang arsiparis. Ini pengalaman baru dan memberi tantangan tersendiri bagi saya. Adanya kedekatan dengan bidang yang saya tempuh ini menjadi perhatian saya. Rasa-rasanya, sejarawan juga sekali-kali harus melebur dalam diri arsiparis.

Bagi seorang peminat seni dan budaya, tentunya saya sangat menikmati pekerjaan yang diberikan. Secara umum, pekerjaan yang telah dilakukan selama dua kali magang ini hampir sama. Banyak hal yang bisa saya pelajari, terutama dari pengalaman saya membantu kerja divisi arsip dan dokumentasi. Pada bagian arsip, saya ditugaskan untuk mengunggah berkas digital ke arsip online & offline dan menulis profil pelaku seni. Sesekali memperbarui kalender acara seni di situs IVAA. Hal yang paling menarik dalam kerja di bagian ini adalah saat saya mengunggah berkas-berkas digital ke basis data arsip offline yang belum lama dibuat itu. Walaupun pekerjaan ini dilakukan berulang setiap harinya dan kadang membosankan, justru itu memberi pengetahuan baru bagi saya. Saya berkutat dengan dokumen yang berisi tentang pelaku seni, peristiwa dan kekaryaannya. Banyak hal tak terduga dan tidak saya ketahui sebelumnya saat saya membaca dokumen tersebut untuk keperluan pemberian informasi metadata. Dokumen berupa artikel dari media cetak menyediakan informasi tentang peristiwa seni rupa di masa lalu. Dari sini saya dapat memahami, menafsirkan dan mengingat peristiwa seni di masa yang telah lampau.

Selain itu, saya juga turut ambil bagian dalam kegiatan penciptaan arsip, yakni mendokumentasi/ merekam peristiwa seni. Kegiatan inilah yang mengantarkan saya pada pertemuan dengan sosok yang berpengaruh dalam dunia seni visual dan rupa. Dari sekian kegiatan dokumentasi peristiwa seni, pengalaman yang berkesan adalah saat saya melawat ke Bandung untuk memotret karya pameran tunggal Sunaryo, Lawangkala dan SSAS/ AS/ Ideas. Di samping itu juga mewawancarai kurator Chabib Duta. Pada kesempatan itu, saya sempat bertegur sapa dengan Pak Sunaryo, namun tidak sampai pada obrolan panjang karena beliau sedang mendampingi tamunya. Ulasan tentang kunjungan saya ke Bandung bisa dibaca di sorotan dokumentasi e-newsletter IVAA September-Oktober 2018. Secara keseluruhan kegiatan magang di IVAA mendorong saya untuk mempelajari seni visual/ seni rupa Indonesia lebih mendalam lewat pengorganisasian data arsip, perekaman dan penulisan.

Beberapa orang mungkin masih berpikir, bergelut dengan arsip adalah hal remeh temeh. Perihal yang lampau dianggap telah usang. Padahal, sejatinya masa yang telah berlalu tidak enyah begitu saja. Meskipun demikian setiap jejak-jejak peristiwanya tetap melekat dalam ingatan kolektif. Inilah fungsi arsip sebagai sarana merawat ingatan. Kesadaran untuk mengumpulkan dokumen amat sangat diperlukan. Mengingat banyaknya kejadian penting yang terekam akan menjadi bukti bagi keberadaan seni di masa sekarang, sekaligus alat untuk mempelajarinya di masa depan. IVAA sudah melakukan gebrakan yang sangat luar biasa dalam menghimpun rekam jejak seni visual Indonesia. Pekerjaan arsiparis dirasa sungguh mulia dalam menyelamatkan sejarah. Jangan biarkan sejarah dimanipulasi pihak yang berkuasa. Akhir serta pendek kata, ars longa, vita brevis!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Catatan Magang Nurul Fajri

Oleh: Nurul Fajri

Brooks was here… tulis salah satu pemeran dalam film The Shawsank Redemption di dinding kamar apartemen tuanya. Saya mengutipnya bukan karena saya merasa tak berguna, kesepian, tua dan ingin mati, seperti aktor yang berperan menulis kalimat tersebut. Saya mengutipnya dengan intensi menyorot pada …was here, bahwa saya juga pernah berada di suatu tempat, dan bagi saya tempat itu berarti banyak.

Agustus lalu, saya mengambil mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan Profesi (KKLP) di kampus. KKLP pada dasarnya adalah program magang yang harus dilakukan mahasiswa di instansi pilihannya masing-masing. Untuk dapat meraih gelar sarjana, KKLP adalah wajib. Karena tanpa lulus mata kuliah tersebut, mahasiswa tidak bisa mengajukan judul skripsi, proposal, dan seterusnya. KKLP selanjutnya dalam tulisan ini akan saya sebut sebagai magang.

Di tengah kebingungan menentukan tempat magang, pada suatu malam di awal bulan Juli, saya browsing di internet lalu menemukan IVAA. Saya kemudian mencari tahu soal IVAA, membuka lamannya, men-stalking akun Instagramnya, dan mencoba menemukan apakah ada bidang pekerjaan di IVAA yang bersesuaian dengan konsentrasi jurusan saya di kampus, yakni jurnalistik. Ternyata, IVAA mempunyai program magang untuk bidang keredaksian. Singkat cerita, saya akhirnya menjalani masa magang di keredaksian IVAA untuk periode Agustus-Oktober 2018.

Di keredaksian, saya banyak diperbantukan untuk melengkapi teks profil seniman untuk laman arsip online IVAA. Saya, yang sebelumnya hanya tahu Affandi dari buku pelajaran Seni Budaya ketika sekolah, akhirnya menemui banyak sekali nama-nama seniman lain yang begitu asing bagi saya. Menulis profil seniman ini juga membuat saya mau tidak mau membaca sepak terjang mereka, yang semakin menambah kekaguman saya tentang bagaimana mereka melihat kehidupan sekitar, dan bagaimana mereka mengekspresikan diri melalui karya seni. Dulu saya berpikir, seniman itu mestilah hanya mementingkan diri sendiri, tetapi persepsi saya ternyata tak sepenuhnya benar. Mereka keren. Itu sudah!

Bersama dengan seorang rekan dari bidang dokumentasi, saya juga terlibat dalam peliputan peristiwa seni. Saya belum pernah menghadiri agenda-agenda kesenian di kota asal saya, Makassar, sebanyak yang saya lakukan ketika meliput peristiwa seni di Yogyakarta selama periode magang. Mungkin karena agenda kesenian di Makassar tidak seintens di Yogyakarta, atau mungkin karena saya yang terlalu malas keluar rumah.

Bidang keredaksian IVAA bertanggungjawab untuk mengerjakan buletin dwibulanan IVAA. Sebagai anak magang, saya dan kawan magang lainnya turut dilibatkan sebagai kontributor tulisan untuk buletin tersebut. Saya menulis tentang dua peristiwa seni dan satu tulisan review buku untuk buletin IVAA edisi September-Oktober 2018. Beberapa waktu lalu, ketiga tulisan tersebut mendapat respon positif dari dosen penguji saya ketika seminar untuk ujian magang ini, saya merasa diapresiasi karenanya.

Sebagai pribadi yang tertutup, staf IVAA yang hangat dan gemar guyon cukup membantu proses adaptasi saya selama magang. Pun staf IVAA yang sehari-harinya berkomunikasi dengan bahasa Jawa, adalah salah satu tantangan terbesar saya selama magang. Ya, saya berlatarbelakang Bugis dan sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa. Acapkali saya kadang tertawa untuk hal yang tidak saya mengerti hanya karena sekeliling saya semua tertawa. Pengalaman yang sungguh lucu untuk dikenang.

Tidak berlebihan jika saya katakan membawa pulang banyak pengalaman yang berkesan. Sepulangnya ke Makassar, teman-teman saya langsung menodong dengan rentetan pertanyaan seputar pengalaman magang saya dan hal-hal tentang IVAA. Mereka menyambut antusias apa yang saya ceritakan kendati saya bukan tipikal pencerita yang baik.

Semoga IVAA ke depan semakin maksimal dalam digitalisasi koleksi arsipnya, teks untuk profil senimannya semakin lengkap, dan besar harapan saya juga, IVAA bisa meng-cover lebih banyak lagi peristiwa seni di luar Yogyakarta dan pulau Jawa. Di luar sana, para pegiat seni mestilah sedang bergerilya juga untuk menghidupkan kesenian di daerah mereka. Akhir kata, kepada mbak/ mas staf IVAA, terima kasih atas kesempatan mengenal dan mengalami kerja-kerja IVAA yang mungkin kesempatan seperti ini tidak datang setiap saat dalam hidup saya.

Panjang umur, IVAA!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.