Category Archives: E-newsletter

Sorotan Dokumentasi November – Desember 2016

Selama dua bulan kami Tim Dokumentasi IVAA, Dwi Rachmanto dibantu para peserta program Magang IVAA telah mengumpulkan sejumlah 46 dokumentasi dari berbagai perhelatan yang kami rekam, dan ditambah pula dengan dokumen-dokumen yang kami terima secara langsung dalam wujud rekaman baik video, foto, maupun katalog. Banyak perhelatan menarik di penghujung tahun ini, salah satunya adalah pameran para eksponen GSRB di Kampus ISI Yogyakarta yang disertai dua sesi seminar. Selain itu kami juga menjadi saksi seremoni yang menandai perubahan Rumah Seni Cemeti menjadi Cemeti Institut Seni dan Masyarakat dengan disertai perubahan kepengurusan pula. Beberapa perhelatan besar juga kami hadiri antara lain Jateng Biennale, Sumatera Biennale, 4th Jakarta Contemporary Ceramic Biennale, serta festival performance art internasional Undisclosed Territory #10. Kami juga dipercaya untuk menjadi tim dokumentasi resmi untuk penyelenggaraan Simposium Khatulistiwa 2016. Di dalam simposium 2 hari ini setiap harinya berlangsung 1 kelas umum dilanjutkan 3 kelas yang berlangsung bersamaan, di masing-masing kelas berlangsung 3 sesi. Sehingga total terdapat 20 kelas yang kami dokumentasikan.

Pada Buletin Daring edisi ini kami menyoroti 5 perhelatan yang kami rekam dalam media video ataupun foto. Dan istimewanya ada dua perhelatan diulas secara komprehensif oleh dua penulis tamu. Pertama adalah Katherine Bruhn (Katie) yang mengulas Biennale Sumatra Ketiga. Katie adalah seorang peraih gelar Ph.D untuk Studi Asia Tenggara di UC Berkeley yang sedang berfokus meneliti tentang aktivitas seni rupa di wilayah Sumatra Barat. November lalu Katie menghadiri perhelatan Biennale Sumatra Ketiga di Jambi, juga dalam rangka kepentingan penelitiannya. Penulis tamu ke dua adalah Krisnawan Wisnu Adi, seorang mahasiswa tingkat akhir di FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sedang mengikuti Program Magang IVAA. Wisnu menulis catatan perjalanannya saat menjadi peserta Simposium Khatulistiwa 2016 dengan sangat teliti. Silakan simak sorotan-sorotan dokumentasi di bawah ini.


1. “Wang Sinawang: Sesrawungan”
16-30 November 2016 | Di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), Yogyakarta

2. “Bercocok Tanah”
Pameran Tunggal Ismal Muntaha (Sunday Screen & Jatiwangi art Factory)
Dikuratori oleh Grace Samboh
23 Desember 2015-23 Januari 2016| di ACE HOUSE, Yogyakarta

3. Tanah/Impian
Pameran Kolektif oleh Krack!
5 Juni-6 Juli 2016 di Krack! Studio

4. Biennale Sumatra Ketiga
19-22 November 2016 di Taman Budaya Jambi, Telanaipura, Jambi

5. Simposium Khatulistiwa 2016
29-30 Oktober 2016 | di Prodi Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Kembali ke Buletin IVAA edisi Nov/Des 2016.

Koleksi Harsono

Koleksi Harsono
Oleh: Putri Alit Mranani

Sejak pertengahan 2016, Tim Arsip disibukkan dengan digitalisasi arsip yang disumbangkan sejumlah seniman. Salah satu seniman yang menyumbangkan arsipnya adalah FX Harsono. Yang disumbangkannya adalah kumpulan slide dan negative film koleksinya, terutama yang berkaitan dengan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI), serta foto-foto lain yang dihasilkannya kala Harsono masih sering memotret menggunakan kamera analog setiap menghadiri pameran-pameran seni rupa. Perupa eksponen GSRB yang karyanya selalu relevan dengan isu sosial di Indonesia ini memang dikenal aktif mendokumentasikan peristiwa-peristiwa terkait kegiatan seni dan aktivisme.

Kami mengidentifikasi arsip FX Harsono menjadi tiga kategori, yaitu (1). kegiatan pribadi, (2). kegiatan yang berhubungan dengan kekaryaannya, dan (3). pameran atau kegiatan yang dianggap penting olehnya. Ia melakukan inisiatif pendokumentasian dengan tujuan sebagai koleksi pribadi sekaligus sebagai bahan presentasi. Yang dipotret Harsono cukup beragam dengan rentang waktu mulai 70 hingga 90-an, mulai dari PIPA hingga Binal Eksperimetal Art 92, ada pula dokumentasi Pameran Keramik Hildawati Sidharta, dokumentasi kekaryaan Moelyono, dan masih banyak lagi. “Karena pada waktu itu saya pikir tidak ada yang fokus terhadap pendokumentasian”, ungkap seniman yang bekerja di salah satu biro periklanan di Jakarta selama hampir dua dekade ini ketika ditanya apa motivasinya untuk mengumpulkan dokumentasi.

Tak kurang sejumlah 3904 foto sumbangan FX Harsono telah selesai didigitalisasi, dan kini masih dalam proses dilengkapi datanya. Daftar inventarisasi dokumen sumbangan arsip FX Harsono dapat dilihat di dalam tabel ini : https://docs.google.com/spreadsheets/d/1qYpjI6sECu6qgKl1zzSK6h1HqC7hqh6l32Vhd_qzh0k/edit?usp=sharing

“Wang Sinawang: Sesrawungan”

“Wang Sinawang: Sesrawungan”
16-30 November 2016
Di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), Yogyakarta

Acara ini lebih menyerupai festival seni budaya tinimbang pameran seni rupa. Di dalamnya ditampilkan berbagai pertunjukan wayang, teater, musik, pameran karya seni, maupun artefak keagamaan dan kebudayaan. Ada 6 komunitas seni yang dilibatkan di dalama acara ini, mewakili 6 agama yang ada di Indonesia, antara lain Buddha Maitreya, Khilafah Arts Network (KHAT), Khonghucu, Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit, Narayana Smrti Ashram, dan Seni Rupa Kristen Indonesia (Seruni). Selain pameran dan pertunjukan, pada rangkaian acara ini juga diadakan serangkaian presentasi dari keenam komunitas, serta satu diskusi yang menjadi penutup rangkaian acara Wang Sinawang Sesrawungan. Acara yang diinisiasi oleh PKKH UGM ini membahas persoalan pluralisme di Indonesia. Akhir-akhir ini kita cenderung berusaha menutup-nutupi perbedaan dan mencari titik persamaan dengan tujuan menghindari konflik. Namun justru dengan demikian masyarakat menjadi tidak terbiasa melihat adanya perbedaan. Menjadi menarik perhatian (kalau tidak dibilang mengundang kontroversi) ketika KHAT dipilih untuk mewakili unsur agama Islam di dalam perhelatan ini, mengingat bahwa KHAT adalah komunitas yang dikenal aktif mengkampanyekan khilafah atau negara Islam, yang sebetulnya bila dicermati prinsipnya bertentangan dengan Pancasila.

ba

diskusi

pembukaan

|klik disini untuk melihat dokumentasi video|

Tanah/Impian

Tanah/Impian
Pameran Kolektif oleh Krack!
5 Juni – 6 Juli 2016 di Krack! Studio

Mundur ke tahun 2014 ada pameran berejudul Tanah Impian yang berlangsung di Krack! Studio, Yogyakarta. Pameran ini digagas oleh Malcom Smith dan kolega-koleganya di Krack! Studio., Mengambil judul “Tanah/Impian”, pameran ini mencoba menjelajahi aspirasi Indonesia sepanjang 100 tahun yang tercermin dalam budaya popular. Pameran ini menyoroti perbedaan—yang acap kali mencolok—antara “Mimpi” dan “Kenyataan”.

Sebanyak 24 karya yang ditampilkan merupakan rancang ulang poster iklan, sampul buku, majalah, kaset hingga korek api yang dikumpulkan dari rentang waktu 100 tahun dan dianggap merepresentasikan mimpi Indonesia pada setiap era. Karya dalam pameran ini pertama kali dipamerkan di Krack! pada 5 Juni 2014, diteruskan ke satu galeri di Footscray Community Art Center, Melbourne dan di Flux Kit, Italia. Dalam pameran pertamanya pada Juni 2014, bertepatan dengan akan diadakannya Pilpres di Indonesia, di mana dalam suasana Pilpres banyak muncul mimpi-mimpi baru dari orang baru, era baru, bahkan kehidupan baru. Karya dalam pameran ini dibuat menggunakan  teknik sablon, merancang ulang gambar-gambar iklan sejak sebelum  Indonesia berdiri, mengumpulkan data tentang poster-poster propaganda yang juga harapan atas berdirinya negara. Mimpi-mimpi yang dibuat ulang dalam konteks sekarang, yang menjadi cerminan harapan Indonesia di masa lalu ditampilkan dalam bentuk karya poster yang kadang satir. Pameran Tanah impian adalah Project dari Krack! Studio dan kolaborasi antara Malcolm Smith, Prihatmoko Moki, Rudi ’Lampung’ Hermawan, serta Antariksa.

img_1680

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Simposium Khatulistiwa sebagai Resistensi Kultural: Sebuah Catatan Perjalanan Seorang Hadirin

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Tulisan ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin Dwi Bulanan edisi November-Desember 2016.

“MEMBANGUN DUNIA KEMBALI: Visi Alternatif dari Khatulistiwa.”

Serangkaian kata dalam kalimat yang cukup ambisius di atas adalah tema untuk Simposium Khatulistiwa kali ini. Sebagai bagian dari rangkaian acara Biennale Jogja XIV Seri Equator #4 2017, Yayasan Biennale Yogyakarta menyelenggarakan sebuah simposium guna mengenalkan kepada publik terkait tema besar yang diangkat. Selain itu, simposium ini juga menjadi ruang kolektif untuk berbagi gagasan dalam mengupas beberapa topik atau isu relevan seputar dunia seni rupa kontemporer.

Simposium Khatulistiwa periode ini digelar pada Sabtu dan Minggu, 29 & 30 Oktober 2016, di Gedung Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Baik Sabtu maupun Minggu, acara dimulai pada pukul 09.00 WIB hingga kurang lebih pukul16.30 WIB. Berbeda dengan simposium sebelumnya, kali ini sistem pemberian dan diskusi materi dilakukan dengan sistem kelas, layaknya mahasiswa yang kuliah bersama dosen. Di masing-masing hari, terdapat tiga sesi (pagi, siang, dan sore). Lalu di setiap sesi, diselenggarakan kelas dengan waktu yang bersamaan. Maka peserta mau tidak mau harus memilih salah satu kelas di setiap sesi.

Taman Beringin Soekarno menjadi tempat yang dipilih untuk mengawali simposium ini sekaligus perjumpaan awal dengan publik. Bukan sembarang memilih saya kira, karena Taman Beringin Soekarno cukup menghadirkan memori tentang sosok Bung Karno yang menginisiasi peristiwa Konferensi Asia-Afrika pada 1955 di Bandung. Sebuah peristiwa yang telah menginspirasi langkah tim Biennale Seri Equator untuk mewujudkan visi alternatifnya.

Imperialisme Inggris di Abad ke -19 dan Asia Tenggara Modern
Sesi pertama yang saya ikuti bertajuk “Imperialisme Inggris di Abad ke-19 dan Asia Tenggara Modern” oleh Tyson Tirta, seorang sejarahwan dan peneliti sosial. Dalam topik ini, Tyson hendak menghadirkan studi sejarah imperialisme Inggris dengan pendekatan sejarah global. Pendekatan ini memiliki empat poin inti, yakni; bukan sekedar sejarah peradaban dunia, tetapi juga pemahaman fragmen-fragmen kecil yang saling terkait; bersifat disiplin karena bukan hanya ilmu sejarah yang terlibat; menawarkan konsep kesetaraan bukan sekedar stratifikasi; dan batasan (geografis dan kultural) yang ada tidak membatasi pemahaman akan suatu peradaban, tapi lebih sebagai suatu narasi besar yang mengalami modernisasi.

Ada ungkapan yang menarik dalam kelas itu, bahwa imperialisme Inggris adalah cara yang sama seperti Inggris mendefinisikan dirinya. Artinya adalah imperialisme yang dilakukan Inggris bukan semata-mata praktik eksploitasi manusia dan alam bangsa jajahan. Mereka juga mengusahakan beberapa hal untuk keteraturan dan kemajuan, entah pendidikan atau perdagangan, di wilayah yang dijajah itu.

Sebagai penanggap, Rosyid, mahasiswa pascasarjana Fakultas Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma mengatakan bahwa, meski dengan pendekatan yang demikian setaranya, bagi dia semua itu masih dan tetap saja pada kerangka inferioritas kapitalisme. Narasi kesetaraan yang diwujudkan melalui proses ‘mengadabkan’ negara jajahan sebenarnya hanya sebagai bungkus.

Ia menambahkan bahwa kita perlu melihat sejarah global sebagai strategi. Strategi untuk melihat realitas bukan sekedar yang metafisis, melainkan secara nyata tentang ke mana realitas itu terjadi. Contohnya adalah fenomena pembentukan ASEAN sebagai strategi baru untuk menanggapi situasi global pada kala itu.

Ruang Politis yang Abu-Abu: Dekolonisasi dan Dewesternisasi
Kelas berikutnya yang saya pilih bertajuk “Ruang Politis yang Abu-Abu: Dekolonisasi dan Dewesternisasi” oleh Wayne Lim. Ia adalah seorang seniman dari Singapura yang sedang studi master di Dutch Art Institute.

Situasi mempertanyakan ruang publik dan privat nampaknya menjadi titik tolak gagasan. Bahwa karena laju modernisasi yang sangat kompleks, batasan ruang publik dan privat menjadi kabur. Bahkan yang publik, seperti sekolah, pun sudah diprivatkan untuk kepentingan tertentu dan bersandar pada sumber pengetahuan ‘modern’. Bagi Lim, sangat penting untuk menciptakan sekolah yang mengajarkan self-organizing, meningkatkan intuisi siswa tentang sekolah. Kemandirian tanpa tergantung institusi formal merupakan cara alternatif untuk menanggapi dilema aktivitas di ruang publik atau privat, yang berdasarkan kepentingan kekuasaan.

Selanjutnya dekolonisasi dan dewesternisasi bagi Lim merupakan konsep kunci untuk hidup di era modern. Konsep ini mampu memberikan akses pengetahuan yang otonom, terbebas dari belenggu modernitas neo-kolonialisme. Konferensi Bandung dapat dilihat sebagai titik tolak perjuangan melawan neo-kolonialisme dengan gagasan dekolonisasi dan dewesternisasi.

Rosyid, sebagai penanggap, menambahkan bahwa gagasan di atas sebenarnya adalah masalah yang hampir dialami oleh semua orang; problem ruang, manusia, dan kapitalisme. Melalui resistensi kultural, kiranya problem tersebut dapat diminimalisir secara perlahan. Aktivitas seni-budaya seperti biennale dapat dilihat sebagai sebuah ruang negosiasi baru. Ruang negosiasi baru yang menjadi pintu pembuka untuk membongkar masalah struktural di level makro, yang secara bersama-sama mencoba mendefinisikan kedirian negara-negara dunia ketiga.

Ruang negosiasi secara kultural ini juga berpotensi membentuk kewargaan baru dalam ruang yang sudah dibentuk oleh kapitalisme. Mungkin seperti apa yang dimaksud oleh Lim dengan ruang abu-abu, ruang negosiasi kultural dapat menjadi representasinya. Kerja ruang abu-abu yang tidak hanya merespon ruang publik-privat secara fisik, melainkan juga merujuk kepada level suprastruktur. Level suprastruktur yang di dalamnya terdapat hubungan tiga aspek, seperti apa yang digagas oleh Althusser, yakni aparatus ideologis, lalu turun ke level negara melalui pendidikan dan media massa, dan ide tentang bagaimana kita harus berpikir dan bertindak (kesadaran palsu).

Biennale sebagai ruang negosiasi baru secara kultural telah menjadi bukti keberadaan ruang abu-abu. Tidak hanya itu, ia telah menjadi praktik resistensi kultural dalam rujukannya kepada level suprastruktur, untuk mengusahakan akses pengetahuan baru dalam bingkai negara-negara ekuator; menciptakan kewargaan baru untuk saling terhubung dalam rangkaian diskursus yang memang terlalu abu-abu untuk didefinisikan.

Menyikapi Perubahan Lingkungan Hidup dan Bermasyarakat  
Sesi kali ini sedikit berbeda dengan sesi-sesi sebelumnya, karena yang menjadi bahasan bukan perihal konsep-konsep seni rupa atau sejarah yang rumit, melainkan lebih kepada pengalaman aksi nyata yang dibagikan. Dua narasumber yang dihadirkan adalah Mas Kaca dan Mas Kendal. Mas Kaca adalah pembudidaya burung hantu untuk mendukung keberlangsungan sawah atau kebun dari gangguan hama. Sedangkan Mas Kendal adalah sarjana sosiologi UGM yang memutuskan untuk menjadi petani di tempat asalnya, Kulon Progo.

Awal kisah Mas Kaca berangkat dari peristiwa makan siang bersama temannya di sebuah warung makan. Saat itu ia mendengar keluh kesah dari si penjaja warung makan bahwa mereka akan mendapat ancaman gagal panen padi. Sontak Mas Kaca merasakan situasi yang janggal; ia dan rekannya bisa makan nasi dengan lahap saat seorang penjaja warung makan mengeluh soal gagal panen padi yang menjadi ancaman. Jika gagal panen padi benar-benar terjadi, lantas apa yang akan dimakan orang-orang yang bergantung padanya? Pertanyaan di atas terus mengganggu benak Mas Kaca, dan akhirnya membuat ia dan rekannya berinisiatif untuk menemukan solusi mencegah gagal panen padi.

Kebanyakan faktor yang membuat padi serta tanaman lain seperti buah dan sayur menjadi rusak adalah keberadaan hama. Salah satu hama yang paling dibenci adalah tikus. Menipisnya predator ular membuat jumlah tikus tak terkendali. Oleh karena itu Mas Kaca bersama timnya memutuskan untuk melakukan pembudidayaan burung hantu. Dengan menggunakan salah satu ruang kosong di rumah seorang warga, beberapa burung hantu dikembangbiakkan untuk memangsa hama tikus. Segala perhitungan jarak penempatan kandang, pemantauan aktivitas burung hantu, pertumbuhan anak burung hantu, menjadi aktivitas yang terus mereka lakukan. Tujuannya adalah agar menghasilkan upaya pemberantasan hama secara maksimal.

Berbeda dengan Mas Kaca, Mas Kendal membagikan pengalaman aksi lingkungannya sebagai seorang petani; tentang bagaimana mendorong warga untuk mau bangkit mandiri dalam berkebun dan bertani. Upaya yang dilakukan olehnya adalah dengan sedikit demi sedikit memanfaat lahan kosong di rumahnya untuk dijadikan kebun dan sawah secara organik. Meski tidak cukup luas dan banyak cibiran dari warga yang meragukan, ia sudah beberapa kali merasakan panen padi dari tanah sendiri.

Tidak menggunakan zat kimia seperti pestisida adalah prinsip dari Mas Kendal dalam mengusahakan pertaniannya. Ia memiliki misi mendorong warga untuk tidak tergantung pada pasar dan dapat memenuhi kebutuhan primer dari tanah sendiri, tanpa harus membeli. Perlahan, niatnya ini mendapat dukungan dari warga. Bagi Mas Kendal, kota tidak akan bertahan tanpa keberadaan desa dengan segala potensinya.

Sampai sekarang ia terus mencari cara yang tepat untuk menciptakan pembasmi hama secara natural, bukan dengan bahan kimia. Salah satu cara yang pernah ia terapkan adalah dengan mengembangbiakkan laba-laba sebagai predator untuk hama belalang.

Dua pengalaman yang dibagikan oleh Mas Kaca dan Mas Kendal dapat dipandang sebagai respon masyarakat atas situasi lingkungan hidup yang kian berubah. Simbiosis mutualisme antara masyarakat dan lingkungan yang seharusnya dipahami bukan sebagai eksploitasi alam.

Perihal Kawasan dalam Perspektif Seni Rupa
Memasuki hari ke dua, pada sesi pertama, saya memilih kelas “Perihal Kawasan dalam Perspektif Seni Rupa”. Pius Sigit Kuncoro (kurator untuk Biennale kali ini), Woto Wibowo alias Wok the Rock (kurator untuk Biennale sebelumnya), dan Charles Esche (penulis, kurator, dan direktur Van Abbemuseum, Belanda) menjadi pemateri. Sesi ini dimoderatori oleh Enin Supriyanto (kurator dan pejabat pelaksana Simposium Khatulistiwa).

Banyak sekali detail materi yang masing-masing pemateri sampaikan, tetapi dalam tulisan ini saya hendak mengutarakan poin inti saja. Menyinggung perihal kawasan, sepenangkapan saya kawasan yang dimaksud adalah persoalan atau konteks wilayah tertentu sebagai latar belakang dari kerja seni yang sedang dioperasikan. Khatulistiwa (negara-negara di dalamnya) dapat dilihat sebagai sebuah kawasan yang terbentang luas dengan segala masalah dan tantangan yang dihadapi.

Charles Esche dalam presentasinya mengatakan bahwa Eropa selama ini nampak seperti hanya berkaca di depan cermin secara egois. Hanya diri mereka yang dilihat, tak ada yang lain. Berbagai penemuan teknologi dan ilmu pengetahuan oleh bangsa ‘yang dianggap tidak beradab’ dalam sejarahnya hanya diklaim bangsa Eropa untuk menciptakan orientasi terpusat yang universal. Kemudian sebuah proses panjang terjadi hingga muncul rasionalitas ala barat sebagai tolak ukur menentukan arah modernitas. Hasilnya? Masih ada pembagian antara negara dunia pertama dan dunia ketiga. Pandangannya ini terkuatkan ketika ia ikut berdinamika di Biennale Indonesia, khususnya Jakarta. Suatu kerja seni rupa yang berbeda dari barat. Seakan bersifat postmodern namun juga bukan postmodern. Hal ini ia perkuat dengan gagasan bahwa postmodern, selain tepat digunakan untuk kritik, menjadi kebuntuan serta revisi teoritis yang masih dalam bingkai modernisme. Sedangkan Biennale seri Equator memiliki misi yang besar untuk suatu perubahan solutif melalui kerja seni-budaya.

Selanjutnya Wok the Rock lebih banyak berbagi pengalamannya ketika menjadi kurator Biennale Seri Equator sebelumnya bersama Nigeria. Ia menceritakan dinamika suka dan duka yang dialami. Dari sulitnya menyamakan persepsi dengan seniman Nigeria, hingga sedikitnya dana yang dimiliki untuk menjalankan misi yang sedemikian ambisius. Ia juga menceritakan fenomena para seniman yang lebih tertarik untuk bekerja di Eropa atau Amerika, daripada di negara-negara sepenanggungan yang lebih layak dimitrakan. Ini membuktikan adanya pandangan Eropa-Amerika sentries hasil dari kolonialisme dan imperialisme, bahkan dalam diri segolongan seniman.

Pius Sigit, dalam presentasinya, lebih menjelaskan arah Biennale Equator kali ini. Ia mengawali dengan sebuah pengalaman pribadi yang cukup unik. Ketika ia tahu bahwa negara yang akan menjadi rekan adalah Brazil, ia lantas berpikir bagaimana caranya agar bisa sampai ke sana untuk melakukan proses negosiasi? Bahkan rute pesawat Indonesia-Brazil pun ternyata harus melalui transit di Inggris (baca: negara kaya). Pengalaman ini justru menjadi analogi untuk menjelaskan posisi negara-negara berkembang yang selalu berada di bawah intervensi negara kaya. Akan tetapi justru dari situasi semacam ini, arah Biennale Equator menjadi semakin kuat dan relevan untuk dioperasikan.

Memeriksa Kembali Praktik Seni Rupa Kontemporer dalam Bingkai Pertukaran dan Interaksi Transkultural
Sesi ini dibawakan oleh Jajang Supriyadi, seorang seniman dan pengajar di FDKV Universitas Widyatama, Bandung. Cukup berbeda dari kelas-kelas yang saya ikuti sebelumnya, kelas kali ini cukup berat karena banyak berbicara tentang konsep abstrak dan berani dalam dunia seni rupa kontemporer.

Jajang berusaha menyampaikan bahwa praktik seni rupa kontemporer selama dua dekade terakhir nampaknya telah bertautan dengan situasi regional hingga global. Tentu di dalamnya terdapat proses pertukaran dan interaksi transkultural. Bahkan, ia berpendapat bahwa justru terjadi pencarian imajiner melalui proyeksi lain. Serangkaian proyeksi tersebut menjadi refleksi utuh tentang diri.

Pertukaran dan interaksi transkultural semakin nampak ketika Jajang menggunakan konsep zona kontak. Praktik seni rupa kontemporer telah menghadirkan zona kontak; ruang untuk menafsirkan globalisasi dan kontestasi keberagaman. Ruang transkultural untuk mengatasi keterpilahan fragmentasi budaya yang heterogen.

Jajang juga mengatakan bahwa Biennale telah menjadi sebuah praktik seni rupa kontemporer yang mengandung kecenderungan di atas. Selain itu, Biennale Seri Equator dilihat sebagai usaha untuk menjadi antitesis dari determinisme budaya, dengan cara melihat ‘yang lain’. Lebih beraninya lagi, ia melihat adanya kecenderungan untuk melakukan kreolisasi dalam praktik seni rupa kontemporer. Strategi linguistik yang diadopsi untuk tujuan sama, yakni membangun kekuatan antar negara jajahan.

Pada Akhirnya
Melalui simposium ini tim Biennale Jogja mencoba memberi tahu kepada publik mengenai latar belakang serta arah dari Biennale seri Equator sebagai kerja seni yang kompleks. Satu poin yang saya garis bawahi adalah persoalan hubungan horizontal antara negara-negara berkembang sebagai sebuah upaya resistensi kultural terhadap modernitas yang tak kunjung memenuhi janji. Berkaca dari peristiwa politik Konferensi Asia Afrika 1955, hubungan antar negara jajahan menjadi kembali penting untuk diperjuangkan. Masing-masing bangsa khatulistiwa memiliki epistemologi sendiri untuk menjalankan roda kehidupannya. Melalui kerja di berbagai bidang, khususnya seni-budaya, kekuatan horizontal antar bangsa jajahan dibangun untuk menciptakan ‘modernitas kami’, bukan ‘modernitas mereka’. Yang menjadi lain adalah ketika upaya menghubungkan ini bukan berada di jalur politik, melainkan jalur seni-budaya. Seperti apa yang digagas oleh Walter Mignolo, dalam tulisannya yang berjudul The Darker Side of Modernity, seniman dan museum (atau kerja seni-budaya) memiliki peran penting untuk mengaplikasikan pemikiran dekolonial. Menjadi kondisi yang penting juga bahwa cara ini hanya bisa diwujudkan dalam operasi skala global. Jika saya hubungkan dengan simposium ini, maka bolehlah saya mengatakan bahwa Biennale seri Equator menjadi kerja seni-budaya sebagai resistensi kultural melawan universalisme pemikiran dan praktik modernisme barat di ranah global.

*Krisnawan Wisnu Adi, seorang mahasiswa tingkat akhir di FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sedang mengikuti Program Magang IVAA. Tulisan ini telah mengalami penyuntingan. Silakan unduh artikel ini dalam versi utuh di sini.

Kembali ke Buletin IVAA edisi Nov/Des 2016.

“Bercocok Tanah”

“Bercocok Tanah”
Pameran Tunggal Ismal Muntaha (Sunday Screen & Jatiwangi art Factory) | Dikuratori oleh Grace Samboh
23 Desember 2015 – 23 Januari 2016 di ACE HOUSE, Yogyakarta

Pameran Bercocok Tanah ini merupakan program “mengekspor seniman” yang dilakukan Jatiwangi art Factory (JaF) dalam rangkaian Tahun Tanah 2015. Sebagaimana kita ketahui di dalam Kurikulum Tanah JaF tidak hanya mendatangkan seniman (“mengimpor seniman”) untuk menggunakan moda artistiknya dalam konteks Jatiwangi, tetapi juga mendorong para perupa muda yang merupakan bagian dari JaF untuk menguji-coba praktik artistik pribadinya melalui kegiatan pameran di luar konteks Jatiwangi. Ismal Muntaha meski tumbuh dan besar di Bandung di kemudian hari jatuh cinta pada semangat hidup dan menghidupi di Jatiwangi. Ismal yang kemudian tinggal dan bekerja di Jatiwangi telah menganggap Jatiwangi sebagai kampung halamannya. Grace Samboh yang juga terlibat dalam berbagai perhelatan sebelumnya dalam rangkaian Tahun Tanah 2015 mengemas karya-karya Ismal Muntaha untuk dipamerkan di ruang pamer Ace House, Yogyakarta. Ismal Muntaha merupakan salah satu seniman JaF yang “diekspor”, bersama seniman lain di antaranya Al Ghorie dan Pandu Rahadian.

img_20160125_175430

|klik disini untuk melihat dokumentasi video|

dan

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Buletin Daring IVAA Dwi Bulanan | Sep-Okt 2016 | Menyoal Residensi

en_banner_oct

Menyoal Residensi

Salam jumpa bagi pembaca semua. Senang bisa menyapa kembali melalui buletin dwi-bulanan kami. Di edisi September-Oktober 2016 ini tim redaksi IVAA tengah menyiapkan berbagai sajian untuk dibagikan.

Pada edisi Juli-Agustus lalu, kami menyuguhkan rangkaian analisa dan data terkait dengan sejarah kritik seni rupa di Indonesia, serta menggarisbawahi peran Sanento Yuliman di medan tersebut. Berbagai pergeseran dan patahan yang terdapat dalam sejarah kritik seni rupa Indonesia telah kami suguhkan di situ. Tak lupa kami juga sajikan ragam istilah yang berkelindan di semesta kritik seni rupa. Hal itu kami suguhkan terutama untuk mengingatkan kita akan pentingnya melihat tiap peran demi peran yang turut andil dalam dinamika kritik, di saat kita hidup di tengah zaman yang serba ambigu, merindukan kritikus sekaligus tidak tahan dengan kritik.

Di edisi ini kami mengupas istilah ‘residensi’ yang memiliki asosiasi praktik pekerja seni di luar domisilinya. Beberapa ruang seni bahkan menggunakannya untuk model-model kerja intensif antara pengelola dengan seniman atau pekerja seni lain, tanpa mengharuskan perbedaan domisili. Pelaku residensi seni hari ini telah merangkul keragaman sebutan pelaku selain seniman, misalnya peneliti dan administratur seni. Residensi seni tidak terbatas pada disiplin tertentu dan teknis penyelenggaraannya bisa sangat khas pada keinginan pengampu program. Residensi, live-in, atau mondok yang kami angkat dalam edisi ini, adalah suatu modus operandi seni kontemporer melalui undangan atau kompetisi, yang mengizinkan pekerja seni Indonesia menjalani perannya secara profesional sebagai program suatu inisiatif seni.

Dalam menghadapi ramainya residensi, baik sebagai istilah maupun aktivitas, kami menghadapinya dengan melakukan penelusuran. Penelusuran ini kami lakukan dengan pendekatan sejarah, yang kemudian dikontekstualisasikan dengan dinamika praktik residensi yang hingga kini masih subur dan semakin jauh dari surut. Dimensi pertukaran, interaksi serta pengalaman keterasingan menjadi elemen yang tidak dapat ditinggalkan dari aktivitas budaya tersebut. Dari sinilah kiranya kita bisa melihat kedekatan antara seni dengan mobilitas, yang menjadi kecenderungan manusia jaman sekarang. Harapannya, kita tidak berhenti dan berpuas diri dengan melihat dan menjadi bagian dari residensi, namun turut melancarkan kritik serta berani bertanya pada diri sendiri.

Ulasan dan hasil eksplorasi yang ada di edisi ini sebaiknya memang tidak dipandang sebagai sebuah hasil jadi, namun sebagai bagian dari proses kami dalam berdinamika dengan masyarakat dan kuasa yang berkelindan di sekitar kita, dalam konteks kesenian. Selebihnya, kita tetap perlu jujur bahwa tulisan ataupun produk tulisan semacam ini tidak dapat menggantikan tatap muka, pertemuan dan interaksi antar manusia.

Selamat membaca dan salam budaya.

Baca Arsip

Pekerja Seni Mukim Sementara: Residensi sebagai Modus Operandi Seni Visual Indonesia
Oleh: Pitra Hutomo dan Tiatira Saputri

Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi

Sekilas Kabar Pendokumentasian dan Hibah Arsip dari Seniman
Oleh: Dwi Rachmanto

Sorotan Arsip

Residensi dengan Target, Perlu atau Tidak?
Oleh: Melisa Angela

Sorotan Pustaka

Katalog “Seni dan Politik Posisi”
Oleh: Sukma & Lisistrata

Agenda RumahIVAA

Bedah Buku “Karya-karya Sugiarti Siswadi”
oleh: Tiatira Saputri

IVAA dalam Perhelatan Buku Andalan
Oleh: Sukma Smita

Diskusi dan Bedah Buku “Sejarah Estetika”
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Ketika Seni dan Sejarah Beririsan: Ulasan Kuliah Umum Seni dan Sejarah
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pemutaran dan Diskusi Film “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman”
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pengumuman Kantor

Kawan-kawan Pemagang IVAA
Oleh: Melisa Angela

Pekerja Seni Mukim Sementara: Residensi sebagai Modus Operandi Seni Visual Indonesia

Oleh: Pitra Hutomo dan Tiatira Saputri

Dalam artikel Pulang Retret di Tirtodipuran muncul dua istilah yang mengganti penyebutan ‘residensi seniman’, yakni mondok dan retret. Keduanya merujuk pada fakta bahwa seniman visual yang mengikuti Program Residensi Rumah Seni Cemeti bermukim sementara di venue untuk berkarya lalu berpameran. Program residensi periodik berjudul Landing Soon (2006-2009) ini menyediakan tiga bulan “untuk  sepenuhnya konsentrasi bekerja dan melakukan uji coba dan interaksi dengan sesama seniman, profesional, maupun komunitas tertentu”.

Residensi adalah salah satu istilah yang melekat pada praktik sehingga telah menjadi modus operandi seni visual Indonesia. Berbagai pihak senantiasa mereproduksi makna residensi sambil membongkar pasang teknik penggarapannya. Residensi seni bisa jadi serupa dengan mondok, retret, live-in, karena ia bermaksud menciptakan atmosfer spesifik untuk kerja-kerja seni. Setidaknya sejak satu dekade terakhir, residensi seni (kontemporer) merambah ranah kerja pengelolaan melalui penyelenggaraan program untuk manajer pameran dan kurator. Kosa kata yang kerap dibubuhkan menyertai paparan residensi antara lain uji coba, belajar, pertukaran, eksplorasi, keragaman, dan idiom lain yang mengamplifikasi kebutuhan atas proses.

RRREC Fest in The Valley menghadirkan kegiatan yang berupaya untuk mengintegrasikan seni dan ilmu pengetahuan alam secara komprehensif melalui Program Residensi Seniman. Program ini memberikan kesempatan bagi seniman untuk melakukan penelitian, kolaborasi, presentasi dan juga produksi dengan menggunakan sumber daya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
RRREC Fest in The Valley menghadirkan kegiatan yang berupaya untuk mengintegrasikan seni dan ilmu pengetahuan alam secara komprehensif melalui Program Residensi Seniman. Program ini memberikan kesempatan bagi seniman untuk melakukan penelitian, kolaborasi, presentasi dan juga produksi dengan menggunakan sumber daya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Makna bermukim sementara bagi seniman (Indonesia) akan lekat pada kondisi masyarakat di mana mereka berasal. Tanpa menutup mata pada kultur masyarakat adat yang mewajarkan perjalanan dan mobilitas fisik, Indonesia bukan negara yang terkenal handal menyediakan moda transportasi publik. Sehingga, menempuh perjalanan darat, laut, dan udara di dalam Indonesia hampir sama sulitnya dengan ke luar negeri. Proyek desentralisasi yang menyangkut jaminan akses apalagi pemerataan kualitas hidup masih tertatih-tatih. Pusat seni Indonesia berada di Jawa bagi banyak penduduk luar Jawa, sedangkan pusat seni dunia berada di negara maju bagi banyak pekerja seni Indonesia. Hubungan global dan lokal mensyaratkan kontak antara pusat dan pinggiran. Sehingga mobilitas gagasan dan transaksi pengetahuan dibayangkan berlangsung simultan di kawasan pusat-pinggiran (peripheral centres) dengan seni kontemporer sebagai salah satu kursnya.

Catatan tentang seniman Indonesia yang menempuh studi ke luar negeri kerap dimulai sejak Raden Saleh. Residensi, betapapun terstrukturnya tidak serta merta diklasifikasikan sebagai pendidikan formal seni. Namun memperoleh (beasiswa) residensi mampu mendatangkan prestise dan terutama akses pada pusat maupun pusat-pinggiran seni. Keberadaan fisik yang terikat pada lokasi geografis akan berkorespondensi dengan kecenderungan sosial-antropologisnya. Lebih luas lagi, relasi kuasa yang hinggap pada ruang-ruang liminal akan patuh pada intensi politik ekonomi. Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, analisis praktik residensi seni perlu berangkat dari kesadaran atas ruang dan transaksi kepentingan di dalamnya.

Pada tahun 1940-an hingga pasca kemerdekaan, semangat nasionalisme menuntun seniman pada gagasan perwujudan identitas. Kebijakan budaya pemerintahan Soekarno seolah mendambakan agenda-agenda kesenian pada perwujudan identitas ke-Indonesia-an yang berdiri di atas keragaman (etnis), di mana tidak ada dikotomi Barat-Timur ataupun komunis anti-komunis pada tubuh Indonesia.

Namun bukankah menjelang kup yang dilakukan Orde Baru, Soekarno justru menunjukkan kuatnya relasi kebudayaan Indonesia dengan negara-negara sosialis-komunis? Apalagi dengan berdirinya LEKRA yang semakin mengukuhkan keinginan mengidentifikasi kebudayaan nasional sebagai laku kerakyatan. Karena itulah ketika jejak kebudayaan di dua dekade awal kemerdekaan RI selalu penting untuk dikaji ulang. Keterbatasan bahan rujukan menunjukkan bahwa masa itu sengaja dibumihanguskan oleh rezim pemerintahan selanjutnya, dan belum pernah secara resmi dijadikan bagian sejarah kebudayaan nasional hingga hari ini.

Anggota Ensembel “Gembira” pentas di Beijing, 1963 untuk merayakan Hari Nasional RRC tanggal 1 Oktober. Sumber: “LEKRA and ensembles: Tracing the Indonesian musical stage” oleh Rhoma Dwi Aria Yuliantri dalam “Heirs to World Culture”, KITLV, 2012.

Rancangan kebudayaan nasional yang dipublikasikan dalam Majalah Budaya Maret 1954/Tahun ke III oleh Mr. Muh. Yamin berjudul Hubungan Internasional dilapangan Pengadjaran dan Kebudajaan, menunjukkan tiga ragam persetujuan khusus yang perlu dibuat dalam hubungan persahabatan dan pelaksanaan politik bebas aktif. Persetujuan terkait pengajaran dan kebudayaan dianggap tidak mungkin dijalankan serentak sehingga perlu dipisahkan, namun kerja diplomatis ini berlangsung di atas suatu persetujuan kembar yang pencetusannya serempak. Negara-negara yang dianggap cukup strategis untuk model perjanjian khusus ini antara lain Mesir, Syria, Pakistan, India – Barat, dan RR Tiongkok.

Yamin memaparkan bahwa Indonesia tidak hanya menerima fellowship ataupun scholarship dari negara lain, tetapi juga memberikan bantuan kepada pelajar dari undeveloped countries. Beberapa seniman seperti Affandi, Trubus, dan Henk Ngantung turut mewakili Indonesia untuk misi tersebut. Istilah undeveloped/underdeveloped countries yang terjemahan langsungnya negara belum berkembang, merujuk pada kriteria tertentu dalam hal perkembangan kesejahteraan manusia di suatu negara. Dari tulisan Yamin kita mengetahui bahwa pemerintah Indonesia menetapkan strategi diplomasi kebudayaan melalui: (1) Tuntutan pengembalian artefak, arsip, dan catatan fisik tentang kebudayaan Indonesia di Belanda, (2) Pemberian beasiswa belajar ke luar negeri, (3) Penempatan 8 orang atase kebudayaan di Eropa, Amerika, Mesir, New Delhi, Bangkok, Peking, dan (4) Melakukan lobi pada Sekretaris Jenderal UNESCO untuk menempatkan wakilnya di Badan Pekerja di Paris.

Kembali ke artikel di awal tulisan, Rumah Seni Cemeti adalah perintis hubungan-hubungan kebudayaan antar negara di bidang seni kontemporer, khususnya seni rupa. Theodora Agni yang ditunjuk sebagai manajer residensi, mengafirmasi bahwa program yang dia kelola berangkat dari keinginan menyediakan prasyarat penciptaan gagasan di tengah hiruk pikuk seni global. Dapat dikatakan bahwa seniman, kurator, atau peneliti yang mondok di Rumah Seni Cemeti mendapat beasiswa belajar kebudayaan di Yogyakarta. Sedangkan ujian atas kesempatan tersebut diletakkan di penghujung proses melalui event yang jamaknya berbentuk pameran dan artist talk.

Mengapa seniman membutuhkan dinamika ruang hidup untuk mendukung penciptaan? Menurut Ari Bayuaji, peserta residensi di Redbase Contemporary Yogyakarta, setelah 11 tahun menetap di Montreal, Kanada, selalu ada kebutuhan menengok lagi (apa yang berlangsung di) Indonesia. Keputusan Ari untuk hidup di tempat yang memudahkannya menjangkau pusat-pusat seni, menunjukkan bahwa keputusan individulah yang berperan membentuk lintasan karir seniman. Namun, ketika dia memilih untuk residensi di Yogyakarta sebagai pusat seni di Jawa/Indonesia, persinggungan budaya yang berlangsung sepanjang masa mukim sementara inilah penentu gagasan penciptaannya.

Mungkinkah berlangsung hubungan kebudayaan antara Indonesia dan Kanada melalui keinginan individu seperti Ari Bayuaji? Tentu kemungkinan ini tidak hanya perlu ditelusuri dari kebutuhan praktis seperti biaya dan kepesertaan. Visi hubungan diplomatis kedua negara yang tersirat dalam kebijakan kebudayaan nasional pasti mempengaruhi karakter penyelenggaraan program.

Setelah jenuh dengan penyempitan makna misi kebudayaan ala Orde Baru, para pekerja seni memanfaatkan pergeseran agenda negara pasca Reformasi terkait desentralisasi dengan menumpang di atas perjanjian-perjanjian ekonomi politik tingkat regional. Ranah seni visual mengalami gejolak pasar karya dan sumber daya manusia menjelang penghujung dekade awal milenium kedua. Dinamika ini telah mempercepat gerak kebudayaan Indonesia dengan mengalihkan sejenak dominasi Jawa dan menggiring publik seni pada cara-cara apresiasi baru.

Di sinilah perbedaan pendidikan formal seni dengan residensi. Bagi pekerja seni di Jawa, berpindah-pindah adalah kesempatan yang belakangan relatif mudah didapat. Meskipun pekerja seni di luar Jawa saat ini masih cenderung menunggu inisiatif pemerintah daerah atau ‘orang-orang Jawa’ untuk membangun di daerahnya, keinginan mendobrak batas-batas geografi-ekonomi-sosial-politik telah nampak melalui operasi pertukaran yang difasilitasi event skala besar yang periodik seperti Festival Kebudayaan dan Biennale.

Asialink adalah salah satu penyelenggara residensi seniman Australia ke Indonesia yang beroperasi sejak penghujung 90-an.
Asialink adalah salah satu penyelenggara residensi seniman Australia ke Indonesia yang beroperasi sejak penghujung 90-an.

Residensi seni, studi banding, mondok, atau retret adalah pengalaman meruang yang mewadahi kontestasi gagasan di luar modus operandi standard seperti pameran atau pertunjukan. Tantangan terbesar bagi para pekerja seni adalah bagaimana ruang-ruang ini mampu mendobrak kemapanan cara kerja seni sekaligus memperkaya nilai interaksi hajat seni dengan publiknya.

Hal terpenting, program residensi seni perlu digugat jika tidak dimanfaatkan melampaui fungsinya hari ini, yakni sebagai titian karir atau pembuktian profesionalisme pekerja seni.

Pemutaran dan Diskusi Film “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman”

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Sekitar pukul 13.00 WIB pada Senin, 3 Oktober 2016 IVAA kembali menyelenggarakan pemutaran serta diskusi film. “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman” adalah film yang kali ini dihadirkan di RumahIVAA. Diskusi ini juga dihadiri langsung oleh sutradara film yakni Subi serta seorang penanggap dari Kunci Cultural Studies Center, Fiky Daulay. Beberapa mahasiswa, pegiat seni, dan kurator pun datang untuk mewarnai diskusi, seperti Wahyudin (kurator independen Yogyakarta) dan Budi Dharmawan (fotografer independen, penulis, dan kurator). Diskusi seusai pemutaran film dimoderatori oleh Lisistrata Lusandiana. Dengan ditemani teh hangat serta cemilan, kehadiran mereka membuat suasana diskusi semakin nikmat.

Film ini mengisahkan perjalanan hidup Raden Saleh, sebagai seorang Jawa yang berdinamika di dunia seni rupa dalam konteks kolonialisme Hindia-Belanda. Sebuah perjalanan Raden Saleh dari lahir, proses formatio-nya di Eropa, hingga kembalinya ia di tanah Jawa. Ada beberapa hal menarik dari film tersebut. Salah satunya adalah pernyataan dari Peter Carey, “Sebagai anak muda, Saleh merupakan orang dengan kecerdasan yang luar biasa dan unik. Dan saya rasa itu merupakan ‘kutukan’ tersendiri. Ia bukan bangsawan yang biasa atau priyayi pada umumnya. Ia tidak bisa menjadi bangsawan normal. Ia juga tidak bisa menjadi orang Jawa biasa karena ia terlahir sebagai bangsawan dan sangat berpendidikan.” Kedirian semacam ini sangat bernuansa dilematis ketika di satu sisi Raden Saleh hidup sebagai orang Jawa di masa kolonialisme, yang memaksa sebagian masyarakat Jawa untuk berperang melawan Belanda, sementara di sisi lain, ia juga banyak bergaul dengan bangsawan Eropa. Seorang antek kolonialiskah Raden Saleh? Atau justru seorang nasionalis yang menggunakan cara lain untuk berperang?

Pada awal penjelasannya, Subi menekankan bahwa film ini dibuat sebagai syarat akademis, untuk menuntaskan kuliahnya di Institut Kesenian Jakarta. Di dalamnya, terdapat narasi yang menyampaikan posisi seorang Raden Saleh dalam dunia seni rupa Indonesia hingga sekarang. Seperti apa yang dikatakan di bagian awal film oleh Suwarno Wisetrotomo, “Betapa kita itu bisa eksotik, bisa penting, bisa berbicara di forum penting di dunia.” Ungkapan dari Suwarno nampaknya dipakai untuk menunjukkan kontribusi Raden Saleh di kancah seni rupa internasional. Meski di sisi yang berbeda juga mengandung soal, jika dikaitkan dengan posisi raden saleh dan cara pandang orang Eropa terhadap Raden Saleh.

radensaleh1

Ketika berkesempatan untuk memberi tanggapan, Fiky menjelaskan bahwa ada kelemahan dan kekuatan yang terkandung di dalam film karya Subi ini. Kekuatannya adalah terletak pada momentum yang diambil, yakni suasana pameran di Galeri Nasional. Pameran menjadi konteks tempat dan suasana di awal dan akhir cerita yang membingkai film tersebut. Akan tetapi ia menyayangkan mengapa film ini tidak mengambil persepsi seniman era sekarang dalam melihat sosok Raden Saleh. Bagi dia akan lebih menarik jika Subi memasukkan unsur tersebut. Sependapat dengan Fiky, Budi mengatakan demikian, “…. bagaimana sosok Raden Saleh dalam konteks masanya, dan bagaimana dia juga hadir kembali dalam konteks sekarang.” Tidak sekedar cerita Raden Saleh dari lahir sampai mati, akan tetapi semesta seperti apa yang terbentuk dari dulu hingga sekarang yang akhirnya memungkinkan kita bisa berbicara soal Raden Saleh, ungkap Budi.

Selain Fiky dan Budi, kritik dari Wahyudin juga cukup berarti. Menurutnya film ini belum menyampaikan sikap atau pandangan dari si sutradara. Subi hanya menggarisbawahi pengetahuan tentang Raden Saleh yang sebenarnya sudah diketahui oleh publik. Artinya adalah bahwa Subi belum menawarkan hal baru untuk menjadi bibit diskursus dalam kajian seni video atau sejarah seni rupa. Apalagi dalam keterkaitan profil Raden Saleh dengan konteks sosial politik Hindia-Belanda, tentang posisinya sebagai orang Jawa yang dekat dengan pemerintah kolonial. Bagi Wahyudin akan lebih menarik jika Subi mampu mengambil satu elemen saja yang masih luput dari pandangan publik.

screeningfilmradensaleh1screeningfilmradensaleh2

Sebenarnya ada banyak sekali poin menarik dan penting yang muncul dalam diskusi ini. Namun kiranya ada satu hal yang memang perlu menjadi perhatian khalayak, yakni bahwa suatu pernyataan atau sikap atas suatu hal, menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi ketika berbicara soal produksi suatu karya. Tidak terbatas dalam karya film atau tulisan jurnalistik atau seni yang lain. Tanpa adanya statement dari pembuat, suatu karya akan datar dan tawar untuk dinikmati. Diskusi ini ditutup dengan komentar dari Ari Bayuaji perupa Indonesia yang berdomisili di Kanada, yang tengah mengikuti program residensi di Redbase. Menurut Ari, film ini akan sangat bermanfaat bila ditemukan dengan audiens yang tepat. Misalnya bagi pelajar SMA atau mahasiswa non-seni rupa, film ini dapat menjadi pengantar yang tepat untuk mulai mengenal sosok Raden Saleh.

Diskusi dan Bedah Buku “Sejarah Estetika”

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Senin (19/9) pukul 19.00-21.30 WIB IVAA bersama beberapa komunitas lain, seperti Kedai Kebun Forum (KKF), KUNCI Cultural Studies, BRIKOLASE, Impian Studio, Jogja Medianet, dan Indie Book Corner mengadakan diskusi dan bedah buku ‘Sejarah Estetika’ di KKF. Acara ini merupakan bagian dari pameran Buku Andalan 2016. Secara khusus, diskusi ini dihelat dalam rangka melakukan apresiasi secara adil, baik bagi penulis dan publik. Di satu sisi harus adil bagi penulis, karena penulis perlu mendapatkan masukan dari pembacaan yang tidak sebatas glorifikasi dan puja-puji, sementara yang dimaksud adil bagi publik ialah bahwa publik juga layak membaca karya yang berkualitas dan setidaknya mendekati komprehensif. Martin Suryajaya sebagai penulis buku Sejarah Estetika turut hadir sebagai pembicara, menceritakan perjalanan penulisan buku ini. Selain itu, hadir juga dua pembahas, yakni Stanislaus Yangni (penulis dan kritikus seni rupa) dan Wahmuji (pegiat Mediasastra.com dan lingkar belajar kritik sastra). Tak kalah seru, diskusi ini dimoderatori oleh Arham Rahman.

Diskusi dan bedah buku ini diawali dengan sambutan oleh Yustina Neni sebagai tuan rumah KKF sekaligus salah satu pemrakarsa pameran Buku Andalan 2016. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya semangat berdagang sebagai kekuatan dan jalur untuk mengusahakan pergerakan secara sosial dan ekonomi. Dari situlah KKF menjadi ruang alternatif untuk menggelar beberapa aktivitas sosial humaniora, salah satunya adalah diskusi dan bedah buku ‘Sejarah Estetika’.

img_2461

img_2466

Martin menjelaskan bahwa porsi utama dalam bukunya ini adalah tentang kajian pemikiran estetika atau filsafat seni. Pada awalnya juga diceritakan latar belakang proyek penulisan yang disponsori oleh Indonesia Contemporary Art Network (ICAN), yang kemudian menjadi alasan bagi Martin dalam menentukan porsi tulisan. Tentu, alasan di atas membawa dampak adanya beberapa kekurangan dalam buku Martin. Diskusi ini diharapkan dapat membuka kritik dan evaluasi yang kelak  dipertimbangkan.

Latar belakang tersebut juga disampaikan Martin pada kuliah umum di gedung pascasarjana ISI Yogyakarta beberapa jam sebelumnya. Dalam kuliah umum tesebut Martin mengatakan secara lebih mendasar bahwa keberadaan buku ini dilatarbelakangi oleh usaha untuk memberi sumbangan kritik seni (seni rupa) dalam bingkai filsafat. Fokus buku ini adalah pada kebaharuan atau perubahan pemikiran manusia tentang estetika dari periode klasik (pra-sejarah) hingga kontemporer. Tujuannya adalah untuk mendobrak bias estetika modernis yang menciptakan pembedaan kesenian secara biner. Dengan menggunakan sumber primer, Martin melakukan penelitian selama setahun untuk menghasilkan buku dengan ketebalan mendekati 1000 halaman tersebut.

Beberapa penilaian muncul dari para pembahas. Wahmuji, memberikan ulasan dengan memblejeti metodologi sejarah atau historiografi yang dipakai oleh Martin. Ia berpendapat bahwa buku karangan Martin lebih tepat disebut ‘Sejarah Estetika Barat’. Sedikitnya ulasan tentang sejarah pemikiran estetika timur, membuat buku ini didominasi oleh pemikiran para tokoh barat. Lalu ia menilai bahwa historiografi yang dilakukan Martin cenderung berkutat pada perdebatan konsep-konsep besar secara dialektis, selalu dalam alur yang bertentangan satu sama lain. Selain itu ia juga berpendapat bahwa buku ini tidak memiliki fokus spesifik pada kritik seni bidang tertentu.

Sementara ulasan kedua diutarakan oleh Stanislaus Yangni (kerap dipanggil Sius). Sius merasa bahwa pembahasan pemikiran tokoh-tokoh di dalam buku ini sudah cukup asik, meski di saat asik-asiknya mengikuti perjalanan konsep dari tiap pemikir, ia harus kecewa karena harus terputus, lalu pindah ke pemikir beserta pemikiran yang lain. Pernyataan Wahmuji soal alur buku yang dialektis juga diiyakan oleh Sius. Bagi Sius, dalam penyusunan sejarah, tidak harus melulu berkutat pada perdebatan dialektis, relasi atau tiap pergeseran estetika nampaknya juga perlu untuk diperlihatkan. Selain itu, ia melihat adanya perubahan posisi estetika paska fenomenologi, di mana estetika semakin lama tidak lagi menjadi objek yang dibicarakan. Estetika menjadi cara bicara itu sendiri. Di sinilah, penulisan sejarah estetika Martin menemui ketidakmungkinannya, namun tetap ditulis. Bagi Sius, penulisan sejarah estetika di bagian-bagian setelah fenomenologi menjadi terasa sangat gamang.

1

Ruang diskursif semakin hidup ketika Martin merespon beberapa kritik di atas. Terkait anggapan terhadap bukunya yang terlalu ‘barat’, Martin menjelaskan bahwa keterbatasan waktu penulisan menjadi faktor awal. Di samping itu kajian sejarah estetika timur membutuhkan metode penelitian yang lama dan tentu dengan dana besar. Terpencarnya berbagai sumber primer di konteks masyarakat timur akan membuat peneliti mengeluarkan tenaga ekstra untuk menelitinya.

Martin menambahkan bahwa buku ini memang ditujukan untuk pemula, pembaca jenjang S1 (bidang seni, filsafat, dan sastra), dan siapapun yang tertarik seputar topik estetika. Ia mengakui bahwa hal ini menyebabkan kurangnya penjelasan yang detail dan lebih bernuansa general. Nuansa demikian diantisipasi Martin dengan menggunakan fokus pada perdebatan konsep-konsep besar secara dialektis. Bagi dia, cara tersebut mampu membantu pembaca untuk mendapat peta pemikiran dengan masing-masing argumennya.

Terkait estetika sebagai pembicaraan, sebagai yang bukan objek lagi, Martin merespon bahwa akan menjadi sangat rumit ketika hal ini diterapkan dalam penulisan buku Sejarah Estetika-nya. Pembaca akan merasa kesulitan memahami isi dari buku. Kendati di sana-sini terdapat kekurangan mendasar dalam penulisan sejarah estetika, buku ini tetap penting sebagai peta yang terbentang untuk mempelajari rimba pemikiran estetika yang luas nan rumit.