Category Archives: E-newsletter

Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul

Oleh: Himawan Kurniadi (Kontributor)

Paduan dua kata, ‘Gunungkidul’ dan ‘pariwisata’ bagi segelintir orang bermakna jalan menuju peningkatan taraf hidup. Bagi mereka yang merasa mampu berkontribusi melihat hal ini dalam kerangka proyek pengembangan potensi, sedangkan yang lain berdalih tidak ingin menjadikan warga Gunungkidul sebagai penonton. Diskusi “Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul” adalah upaya menjajaki persepsi sekelumit putra-putri asal kabupaten di sisi tenggara provinsi DI. Yogyakarta ini, khususnya mereka yang bergiat sebagai pekerja LSM, mahasiswa, hingga langganan penggarap proyek negara atau kabupaten. Tujuan diskusi di Angkringan Mrikiniki, Wonosari yang berlangsung 18 Januari 2017 lalu ini bertumpu pada refleksi dan jajak pendapat kalangan masyarakat sipil yang menguasai konteks politik dan ekonomi setempat.

Beberapa pertanyaan kunci diajukan oleh dua pemantik diskusi, Tri Wahyu dari Indonesia Court Monitoring (ICM) dan M. Thonthowi dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam), Nahdlatul Ulama Gunungkidul. Forum semakin menarik karena paparan dan diskusi yang gamblang berlangsung antara pihak-pihak non pemerintah yang merasa selama ini bekerja terpisah dari proyek-proyek pemerintah untuk pengembangan kebudayaan.

Saat membahas gencarnya upaya mencitrakan Gunungkidul sebagai wilayah administratif yang paling membutuhkan skema industrialisasi pariwisata alam dan budaya, forum ini mempertanyakan mengapa pemerintah masih menggunakan proksi dinas provinsi atau investor? Sebagian peserta diskusi juga mengeluhkan cara-cara promosi pemerintah yang abai dengan kesiapan warga di lokasi-lokasi yang terlanjur digenjot sebagai tujuan pariwisata. Seolah-olah bagi pemerintah kabupaten, naiknya kunjungan wisata hanya berdampak pada kenaikan Pendapatan Asli Daerah dari retribusi atau biaya tiket masuk ke klaster area wisata, khususnya di kawasan pesisir selatan.

Pemerintah memang menyediakan sejumlah anggaran untuk dikelola desa dan terkadang disertai intervensi langsung dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan yang mewakili tubuh provinsi di Kabupaten. Selain menyalurkan anggaran yang dikelola desa, pemerintah menempatkan sejumlah sumber daya manusia sebagai ‘Pendamping Desa Budaya’. Desa Budaya adalah salah satu turunan keistimewaan DIY yang ditetapkan dalam Pergub DIY No.36/2014. Keberadaan para pendamping adalah untuk menyelaraskan misi pengelolaan desa dengan arahan utama pertumbuhan ekonomi, melalui skema permodalan untuk Usaha Kecil dan Menengah hingga promosi lokasi tujuan wisata melalui ekspresi seni rakyat.

Percakapan tentang keberadaan para pendamping sebagai tenaga kontrak yang mendapat Upah Minimum Provinsi dari Dana Keistimewaan menggiring forum untuk menyoroti perihal basis modal di Gunungkidul. Skema industrialisasi pariwisata di bidang kebudayaan dicurigai telah mendorong adanya penyeragaman bentuk-bentuk ekspresi setempat dan malah mencabut akar kebutuhan atas seni rakyat itu sendiri. Ini terjadi misalnya untuk “Sedekah Laut” yang sebelum ‘didampingi’ sebatas menandai momen berkumpul antar warga pedukuhan suatu desa setelah panen raya. Acuan waktu yang khas terpaksa diabaikan karena acara budaya harus masuk kalender event budaya reguler Gunungkidul, dan harus dilakukan saat kunjungan tinggi pariwisata (high season).

| Klik disini untuk melihat video |


*Himawan Kurniadi (l.1986) adalah pegiat Rumah Belajar Rakyat di Siraman, Wonosari. Ia lulus dari Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta dan beberapa tahun belakangan intens dalam kerja-kerja pengorganisasian terkait isu pendidikan dan pariwisata.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Archive Showcase: Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa

Sudut Perpustakaan IVAA kini menjadi ruang kecil untuk Archive Showcase. Di tempat ini kami menyediakan sebuah komputer berisi dokumentasi foto, video, makalah & kliping digital, sepilihan katalog & buku, serta poster yang terbuka aksesnya bagi pengunjung untuk sejenak menelusuri koleksi tsb. Archive Showcase ini serupa miniatur pameran arsip karena ini merupakan hasil kurasi kami terhadap dokumentasi IVAA dalam bingkai tema tertentu yang secara rutin kami ganti. Penentuan tema Archive Showcase biasanya tersulut oleh gejala yang baru tumbuh di kancah seni rupa dan kebudayaan pada umumnya; yang kemudian menggelitik kami untuk menggalinya lebih dalam melalui bukti-bukti yang ada di penyimpanan arsip IVAA. Sejak akhir tahun 2016  kami mengamati bermunculannya pelbagai pameran yang diselenggarakan oleh para perupa asal Bali, bahkan pameran yang mengusung tajuk yang mengedepankan “Bali”. Selain menjadi tema Archive Showcase kali ini, lebih lanjut tema seni dan Bali ini juga kami rangkai dengan diskusi publik pada 16 & 17 Februari lalu, serta disusul dengan terbitnya Buletin Dwi Bulanan Edisi Jan-Feb 2017.

Archive Showcase
Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa
“Seperti berdiri di antara …, apa?”

16 Februari – 20 Maret 2017
di Rumah IVAA

Pengantar oleh: Tiatira Saputri

Akhir-akhir ini beberapa pameran diselenggarakan dengan latar ‘Kebalian’. Lalu saya sendiri bertanya, kenapa ya? Tapi kemudian saya berpikir ulang. Karena pertanyaan ‘kenapa’ ini mengarah pada kondisi di mana saya (mungkin juga publik) merasa seakan berdiri di antara ‘Bali’ dan ‘bukan Bali’. Ini bisa juga terjadi pada pameran berlatar identitas etnis lainnya. Lalu jika menggunakan identitas etnis dalam seni rupa beresiko mengkotak-kotakan, maka pertanyaannya, mengapa ia dihadirkan? Tapi apakah identitas etnis ini benar-benar hadir? Dari sini saya mencoba melihat apa yang dibicarakan oleh seni rupa mengenai identitas etnis. Apakah identitas etnis ini dalam seni rupa melulu dihadirkan oleh sekelompok perupa dari daerah yang sama? Saya berkata demikian karena melihat kecenderungan pameran berlatar identitas etnis berasal dari kelompok-kelompok dengan semangat kedaerahan. Seperti Sanggar Dewata Indonesia (SDI), Kelompok Seni Rupa Jendela, Sanggar Sakato, Sanggar Bidar Sriwijaya, Pasuruhan, dsb. Lalu apa yang dibicarakan pameran kelompok etnis ini mengenai identitas?

Ada yang bicara mengenai eksekusi obyek berdasar pada laku yang selama ini dijalankan. Seperti pengantar kuratorial Enin Supriyanto pada pameran “Cilukba!” Jendela (2007). Ia mengatakan bahwa alusi, moda komunikasi masyarakat Minang dalam bentuk kiasan mempengaruhi cara perupa Jendela (Yunizar, Handiwirman, Yusra Martunus, Jumaldi Alfi, dan Rudi Mantofani) dalam memaparkan obyeknya. Atau sebaliknya, karakter visual ini ditampilkan dari pemberontakan terhadap tradisi yang sudah mapan. Seperti yang saya dapati pada tulisan Suwarno Wisetrotomo untuk pameran “Sebelas Pelukis” SDI (1996). Bahwa gaya abstrak ekspresionis perupa Bali merupakan upaya untuk menerobos tradisi melukis dengan teknik tinggi seperti gaya Ubud, dsb. Ada pula yang berbicara mengenai filosofi melalui tema karya atau pameran. Seperti misalnya konsep BAKABA (berkabar) kelompok Sakato. Berdasar dari kaba (kabar), tradisi berkabar masyarakat Minang melalui musik, gerak tubuh, gestur, pakaian, dsb. Atau konsep makro-mikro kosmos yang tersirat pada tema-tema ekologi karya perupa-perupa Bali.

Tapi apakah identitas etnis dalam seni rupa selalu berkaitan dengan nilai lokal atau tradisi perupa dari daerah atau kelompok yang bersangkutan? Kita mengetahui bahwa di tahun 1990-an Sanggar Dewata Indonesia membuka diri untuk perupa yang tidak berasal dari Bali, begitu juga dengan Sanggar Sakato. Dialog dengan perupa dari berbagai latar belakang disadari sebagai upaya untuk berkembang. Sehingga saya rasa hari ini kurang tepat jika melihat identitas etnis dalam seni rupa sebagai gerakan primordialis. Contohnya, sekarang Kebalian pun hadir pada karya-karya perupa yang tidak punya hubungan kesejarahan atau bahkan darah dengan keturunan Bali. Itu artinya dalam seni rupa ada lebih banyak keleluasaan untuk siapa dan bagaimana merepresentasikan identitas etnis. Oleh sebab itu pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan seni berlatar identitas etnis selalu layak untuk diajukan kembali. Saya pikir kondisi demikian menjadi celah subur bagi produksi pengetahuan. Dan berangkat dari situ kami mulai mengumpulkan arsip serta pustaka yang berkaitan dengan identitas etnis dalam seni rupa.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities

Oleh: Brigitta Engla* dan Tiatira Saputri

Universitas Sanata Dharma (USD) mengadakan konferensi internasional bertajuk “International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities” yang dibuka pada Jumat (13/1) bertempat di Auditorium Driyarkara, USD, Yogyakarta. Acara ini berlangsung selama dua hari yakni 13-14 Januari 2017 di Gedung Lembaga Studi Realino, USD. Konferensi ini diadakan khusus untuk mengenang Benedict Anderson, sejarawan Indonesianis asal Amerika Serikat yang dikenal melalui bukunya “Imagined Communities”.

Konferensi ini menghadirkan para dosen, peneliti, juga mahasiswa dari beberapa negara untuk turut serta menjadi pembicara, yakni dari Indonesia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Acara dikemas menjadi dua sesi yakni pleno dan paralel, pada tiap sesi paralel diisi oleh enam pembicara. Untuk peserta yang menghadiri acara sebagai pendengar, konferensi dibuka secara gratis.

Acara dimulai tepat waktu pukul 09.00 WIB yang diawali dengan pembukaan, salah satunya dari Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku rektor Universitas Sanata Dharma. Acara dilanjutkan dengan sesi pleno yang menghadirkan dua orang pembicara dari University of the Philippines, Ramon  Guillermo dan Coeli Barry dari Mahidol University yang dimoderatori oleh Melani Budianta dari Universitas Indonesia. Ruangan seminar terlihat penuh dipadati oleh para tamu serta peserta seminar.

Dalam ulasannya, Ramon Guillermo berbicara mengenai bahasa yang merepresentasikan sebuah kultur tidak bisa dengan mudahnya diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Ada rasa yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa asing. Bagaimana kemudian menghadirkan sebuah istilah dalam sebuah kultur tidak hanya untuk dimengerti tetapi juga dapat menjadi sebuah refleksi bersama.

Lain halnya dengan Gullermo yang membahas keragaman dalam bahasa, Coeli berbicara mengenai keragaman karakter kelompok, khususnya kelompok konservatif dan kelompok ekstrim, dalam hal komunikasi politik. Coeli berpendapat harus ada upaya pendekatan dan stategi komunikasi yang berbeda dari kedua kelompok, agar benturan antara keduanya bisa diminimalisir.

Wacana kosmopolitan dalam kerangka ‘komunitas terbayang’ ala Ben Anderson ini tidak hanya dibahas dalam hal keragaman kultur bahasa dan karakter kelompok politik. Pada sesi-sesi berikutnya para pembicara juga membahas tentang dinamika masyarakat kelas bawah, penerjemahan, pertunjukan seni, dinamika kelompok-kelompok intoleran, gender serta pengaruh karya-karya Ben terhadap akademisi di Indonesia.

“Bagaimana bisa menjadi kosmopolitan tanpa menerjemahkan?”, pertanyaan pembuka ini sekaligus menjadi bekal untuk kami pikirkan selama konferensi berlangsung. Pengalaman hidup Ben Anderson sebagai penerjemah memperkenalkan bahwa tidak semua kata bisa diterjemahkan ke bahasa lain. Ini dikarenakan setiap kebudayaan memiliki konsep berbeda-beda dalam memaknai sesuatu. Roman Guillermo memberi beberapa contoh kasus dari pengalamannya bekerja bersama Ben Anderson dalam proyek penerjemahan. Misalnya, “rasa” tidak bisa diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa Inggris menjadi “feel” karena konsep “rasa” dalam bahasa Indonesia memiliki konsep yang berbeda dengan konsep Barat. Dalam bahasa Indonesia, “rasa” terkait dengan keberadaan manusia dalam jagad raya, sehingga tidak hanya terdiri dari “feel” tapi juga “sense” dan “means”. Sehingga ketika bicara “feeling” jika dalam bahasa Inggris dipahami sebagai memiliki “feel” dalam bahasa Indonesia dipahami sebagai kemampuan indrawi seseorang. Sehingga pada kasus kalimat “Perasaanku cair dan bercampur dengan mereka” yang diterjemahkan menjadi “my own feeling dissolve and mix with their” bisa saja mentah diterjemahkan menjadi “my feeling with faculty liquid and dissolve into their feeling”.

Masih bicara mengenai bahasa. Pada sesi paralel, Arief W. Djati membicarakan kuantitas masyarakat Tionghoa Surabaya sebagai masyarakat kosmopolitan dari jumlah bahasa yang mereka gunakan. Arief menggunakan teori Ben Anderson mengenai kosmopolitanisme kolonial, bahwa mereka yang disebut masyarakat kosmopolitan adalah orang-orang yang memahami beragam budaya dari kemampuan mereka menggunakan berbagai bahasa, bukan karena banyak berpergian ke berbagai tempat. Dikatakan bahwa masyarakat Tionghoa Surabaya fasih dalam menggunakan bahasa Belanda, Jawa, Hokkian dan Melayu. Hal yang juga menarik adalah presentasi dari Popi Primadevi mengenai sosial media. Hari ini sosial media memberi kita keleluasaan dalam membangun identitas sesuai dengan apa yang kita harapkan. Lalu pertanyaannya, komunitas seperti apa yang kita miliki dalam media sosial hingga memerlukan pembentukan identitas yang mungkin saja palsu? Melalui arsip-arsip ‘iseng’nya, Popi mencoba mendokumentasikan dinamika yang terjadi pada sosial media untuk melihat bagaimana image-image identitas ini diterima dan diterjemahkan kembali oleh komunitas maya.


*Brigitta Engla adalah lulusan S1 Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, mengikuti Program Magang IVAA di bulan Desember 2016 – Januari 2017.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Program Magang IVAA – 2017

IVAA membuka kesempatan magang bagi kawan-kawan mahasiswa dan umum yang ingin mendapatkan pengalaman terlibat dalam kerja-kerja pengarsipan seni rupa. Dalam kesempatan kali ini, kawan-kawan yang tertarik magang di IVAA dapat memilih 2 bidang kerja yaitu: (1). Program; dan (2). Kajian Arsip.

Program magang IVAA berlangsung minimal selama 1 (satu) bulan. Peserta magang akan mendapatkan fasilitas keanggotaan KawanIVAA dan menjadi bagian tim kerja IVAA selama periode berlangsung.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Persyaratan magang dan pertanyaan-pertanyaan mengenai program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org


* Poster oleh Beny Wijaya Cahya, mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual di Akademi Seni Rupa dan Desain MSD Yogyakarta, Beny saat ini sedang  mengikuti Program Magang IVAA di bagian Dokumentasi.


Rubrik Pengumuman Kantor ini merupakan bagian dari Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

 

Baca Arsip: Memeriksa Kembali Seni dan Bali, Melihat Pengetahuan yang Terbagi

Oleh: Tiatira Saputri

Akhir-akhir ini saya melihat ada beberapa pameran seni rupa kelompok yang diselenggarakan di Yogyakarta berangkat dengan latar Bali. Di bulan Oktober dan Desember tahun lalu ada Pameran “Benang Merah” yang diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta dan “Contemporary Art from Bali” di Langeng Art Foundation. Lalu di bulan Februari tahun ini ada Pameran “Arus Bawah” di Jogja Contemporary. Kenapa ya? Kenapa pameran-pameran tersebut menggunakan “Bali” sebagai latar pameran kelompok? Apakah karena peserta pameran kelompok itu perupa Bali? Tapi bagaimana parameter perupa Bali itu? Bagaimana selama ini kita (yang berada di Yogyakarta) mengenali perupa Bali? Jadi apa sebenarnya Bali itu?

Bicara mengenai Bali, ada dua cerita yang menarik untuk direfleksikan. Pertama cerita dari Nyoman S. Pendit pada tulisan berjudul “Menuju Kampung Halaman”. Di situ dia bercerita tentang pejalanannya dari Jakarta menuju ke Bali sekitar tahun 1970-an. Sepanjang perjalanan dia mengamati perubahan yang terjadi di sekitarnya selama beberapa tahun terakhir. Seperti tentang transportasi Mutiara (dari kereta sampai bus) yang ia tumpangi, tentang perempuan Surabaya yang berdandan menor, merokok, dan berkelakar tanpa perduli orang-orang di sekitarnya. Dan di saat bersamaan Nyoman meresahkan upacara mesesegeh untuknya. Lalu kembali dia memperhatikan perubahan (kali ini kotanya sendiri) Tabanan dengan hadirnya bank, kantor PU, dan PLN. Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa kopernya tertukar saat turun dari bus. Tapi sedikit pun dia tidak merasa khawatir karena dia tahu barang-barangnya akan aman walaupun dia tidak tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan kopernya kembali. Itu karena dia meyakini masyarakat Bali tidak ada yang punya pikiran licik untuk mencuri atau merampok. Rasa amannya itu memang terbukti benar, dengan dibantu pemuda Bali di sekitarnya, ia mendapatkan kopernya kembali. Dan upacara mesesegeh, upacara penyucian untuk orang yang sudah lama pergi dari rumah atau baru saja tertimpa musibah itu tetap diselenggarakan walaupun tengah malam. Cerita itu sederhana dan hanya mendeskripsikan apa yang Nyoman lihat serta rasakan saat itu. Tapi yang ia bagikan menggambarkan bagaimana pembangunan dan kehidupan modern di Jawa mengubah laku masyarakatnya sementara di Bali, pembangunan juga tampak dan mengubah tampilan fisiknya, tapi tidak dengan tradisi di Bali. Tradisi itulah yang membuat Nyoman S. Pendit bisa membedakan Jawa dengan Bali. Oleh sebab itu Bali bukan hanya dlihat sebagai rumah atau tempat asal untuk Nyoman S. Pendit, tapi juga tradisi.

Cerita yang lainnya lagi dari Miguel Covarrubias pada tulisannya “Manusia dan Seniman”. Pada tahun 1930-an Covarrubias mengamati adanya fenomena patung a la Brancusi (patung berbentuk cacing berdiri tegak). Dalam beberapa minggu patung dengan model serupa banyak diproduksi setelah model aslinya muncul. Yang ingin ditekankan disini adalah bagaimana budaya masyarakat Bali yang komunal itu mempengaruhi iklim berkeseniannya. Karya tidak dilihat dari autentisitasnya, tapi lebih kepada teknik dan keterampilannya. Dikuatkan dengan ceritanya tentang seorang teman ketika dipameri patung dengan pahatan indah, ia kemudian mengomentari kesalahan pada lekukan rambutnya. Ini dikarenakan patung serupa diproduksi bersamaan di satu tempat yang sama. Sebenarnya orang Bali memiliki kebebasan dalam bereksplorasi, namun semuanya itu harus sesuai dengan ketentuan lokal. Seperti misalnya watak dalam karakter pewayangan bukan berdasarkan ciri fisiknya tapi berdasarkan kostum yang menyimpan simbol-simbol ajaran Hindu-Bali. Seperti kesatria sebagai penjaga keseimbangan harus menggunakan pakaian dalam poleng (motif hitam putih papan catur sebagai simbol keseimbangan). Dan karena karya-karya lekat dengan ajaran Hindu-Bali, sulit untuk seseorang yang berada di Bali melihat sesuatu yang khas. Tapi ketika kita berada di luar Bali, karya-karya tersebut menjadi corak yang khas Bali. Dari situ saya memahami bagaimana Bali bisa juga dipahami sebagai corak.

Lalu apakah daerah asal, tradisi, maupun corak inilah yang digunakan untuk mengidentifikasi? Bagaimana identifikasi ini berlangsung di Yogyakarta? Bagaimana seni rupa Bali diwacanakan di Yogyakarta?

Bicara mengenai perupa Bali di Yogyakarta, saya langsung teringat Sanggar Dewata Indonesia (SDI). Sanggar ini adalah sanggar pertama yang mewadahi perupa dari daerah Bali yang sedang atau selesai belajar di ISI Yogyakarta sejak tahun 1970-an. Itu artinya Sanggar Dewata sudah merekam dinamika perupa Bali dari generasi ke generasi selama lebih dari 40 tahun. Jadi saya pikir relevan jika saya mencoba membaca bagaimana identifikasi perupa Bali ini melalui jejak SDI. Kemudian dari membaca tulisan I Made Bakti Wiyasa berjudul “43 Tahun Sanggar Dewata Indonesia Menembus Batas”, saya menemukan satu kata kunci. Bahwa perupa Bali yang berada di Yogyakarta adalah orang Bali yang secara geografis terlepas dari Bali. Ini mengarah pada beberapa hal. Pertama, perupa terlepas secara geografis artinya terlepas dari kehidupan berbanjar. Semangat berkelompok yang membentuk iklim berkesenian dan ekspresi karya homogen, tidak dirasakan oleh perupa Bali ketika di Yogyakarta. Dalam perkuliahan mereka justru belajar mengenai autentisitas. Kondisi berjarak memberi kesempatan pada perupa perantau untuk menilik kembali hal-hal yang selama ini disepakati dalam kelompok. Hal serupa terbaca pada cerita I Wayan Upadana mengenai karyanya saat kami wawancarai. Barong dalam bathup (yang kita tidak tahu dia adalah coklat meleleh atau sedang berendam coklat) pada karya berjudul “Euphoria Globalisasi” berangkat dari pertanyaan Upadana mengenai kesakralan sebuah benda. Banyak sekali benda yang menjadi simbol-simbol kepercayaan masyarakat Hindu-Bali disakralkan. Padahal benda-benda ini buatan manusia. Dari situ ia mencoba merubah sakral menjadi hal yang lebih profan. Mengajak, bukan saja masyarakat Bali tapi juga pada kita untuk merenungi kembali makna sakral itu sendiri. Contoh yang lain lagi, bisa kita lihat pada generasi pertama Sanggar Dewata, seperti misalnya I Wayan Sika. Dengan gaya abstrak dia bukan saja berusaha untuk melepaskan diri dari corak-corak yang selama ini disepakati sebagai kekhasan kelompok seperti gaya lukis Ubud, Batuan, dsb. Tapi juga berusaha merombak citraan yang selama ini menjadi simbol-simbol kepercayaan. Seperti misalnya bagaimana Wayan Sika merubah apa yang selama ini kita bayangkan mengenai poleng dengan goresan-goresan hitam putih yang spontan dan abstrak. Sehingga kalau kita lihat, berjarak dengan kelompok juga memberi ruang pada perupa Bali untuk berjarak dengan ritual. Dengan berjarak ini memunculkan upaya-upaya untuk membongkar simbol-simbol dalam kepercayaan Hindu-Bali yang selama ini menjadi pakem.

Kedua, kondisi terlepas secara geografis dari Bali mendorong mereka untuk membangun semangat membanjar di dalam tubuh Sanggar Dewata. Semangat berkelompok menumbuhkan eksplorasi yang cenderung homogen. Banyak perupa memilih melanjutkan eksplorasi atau keberhasilan generasi terdahulu. Mungkin ini juga alasan mengapa pada periode 90-an terjadi boom lukisan abstrak ekspresionis pada perupa Bali. Karena seperti yang dibicarakan Jean Couteau bahwa sebenarnya abstrak ekspresionisme yang diangkat oleh perupa Bali bukanlah sebuah abstraksi yang diperkenalkan oleh Jackson Pollock:

Sesungguhnya yang tampaknya dicari oleh pelukis muda ini bukanlah “abstraksi” tetapi suatu cara untuk meneruskan simbolisme tanpa kekangan pola-pola yang membayangi tradisi mereka dan tanpa formalisme “surrealism” yang menghantui Surrealisme Yogya. Kita jauh dari American Abstrack Expressionism. (Couteau: 1997)

Hal yang juga menarik pada periode 90-an adalah bahwa SDI terbuka untuk perupa yang bukan datang dari Bali, seperti misalnya Eddi Hara, Heri Dono, dan Ivan Sagito. Karya-karya yang dihasilkan seniman-seniman tersebut bersama SDI memperluas perspektif mengenai seni rupa Bali di Yogyakarta. Seni rupa Bali bukan hanya mengenai karya yang diciptakan oleh perupa dari Bali, tapi juga oleh perupa yang mengangkat Bali sebagai konten karyanya. Tapi apakah konten Bali ini sesuatu yang tetap hingga bisa dijadikan parameter bahwa sebuah karya berkonten Bali? Saya bertanya demikian karena teringat pada perbincangan antara Sita Magfira dengan perupa-perupa yang terlibat dalam pameran “Arus Bawah”. Mereka bercerita bahwa sekarang sesajen bisa saja berupa beer atau jus dalam kemasan. Perubahan material sesajen ini menjadi penanda bahwa budaya ‘siap saji’ merubah ritual masyarakat Hindu-Bali. Dan kita sendiri pun mengenal akulturasi budaya. Segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia, nantinya pun akan mengalami perubahan oleh pengaruh manusia juga. Akulturasi yang spesifik terjadi pada seni-budaya Bali juga sudah dibahas oleh Mikke Susanto melalui pendekatan hibriditas pada pengantar kuratorial pameran “Bali Art Now: Hibridity” (2008). Disitu dipaparkan bagaimana seni rupa Bali sejak awal, bahkan sejak dikenal sebagai seni lukis Bali klasik, ia merupakan perkembangan dari percampuran budaya Hindu-Buddis (Majapahit, Cina dan Asia Tenggara). Jadi kalau kebudayaan berubah dan dari sana identitas tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang tetap, bagaimana kita bisa memastikan bahwa sebuah kegiatan dilatari identitas? Pun jika tidak, lalu ‘Bali’ pada kegiatan yang akhir-akhir ini berlangsung dilihat sebagai apa? Mengapa marak sekali perhelatan seni berlatar ‘Bali’?

Kebetulan Bali akhir-akhir ini marak ditampilkan, makannya kemudian Bali menjadi satu contoh pembahasan. Karena sebenarnya pertanyaan ini berlaku juga untuk kegiatan seni yang dilatari identitas etnis apapun. Mengapa kemudian Bali, Minang, Jawa atau identitas etnis yang lainnya itu digunakan sebagai latar sebuah perhelatan seni? Apakah ia diselenggarakan hanya untuk memfasilitasi semangat solidaritas yang terbangun dalam sebuah kelompok, yang kebetulan berada di Yogyakarta? Jika demikian, lalu apakah yang bisa dipelajari oleh publik dari semangat kelompok ini hingga ia ditampilkan dalam bentuk pameran?

Saya teringat wawancara kami dengan I Gede Arya Sucitra. Dikatakan bahwa untuk masyarakat Hindu-Bali, mereka punya tradisi ngayah. Dimana kesenian merupakan bagian dari ibadah, dilakukan dengan tulus sebagai persembahan kepada Pura dan Puri. Sehigga aktualisasi manusia dalam imannya selesai ketika karya itu selesai dikerjakan. Sementara dalam seni rupa aktualisasi tidak cukup hanya dengan membuat karya. Hasil cipta ini harus bertemu dengan publik untuk mencapai aktualisasi sepenuhnya. Tapi tentu saja aktualisasi ini tidak berhenti hanya pada eksistensi. Dalam artian ketika publik mengetahui karya itu ada, maka perupa itu pun ada. Tapi lebih kepada pengetahuan yang dibagikan kepada publik dalam bentuk estetik inilah yang menjadikan perupa itu ada. Sebagai contoh, kebijakan laku manusia terhadap lingkungan dalam konsep desa-kala-patra hanya bisa kita rasakan dari refleksi perupa Bali dalam karyanya. Dan di saat itu lah kita menyadari kehadiran perupa atas apa yang ia bagikan kepada kita.

Oleh sebab itu saya berpikir tentang seberapa jauh agen-agen kesenian bisa berperan. Apakah sebuah perhelatan seni berlatarkan identitas etnis ini akan dihidupkan sebagai ladang pengetahuan atau tidak? Karena dari situ bukan hanya kehidupan perupa yang akan terpengaruhi, tapi juga bagaimana publik memahami apa itu seni, apalagi seni rupa Bali.


Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Cerita magang di IVAA

Oleh: Alexander Bloom

Selama menjalani magang di IVAA saya mendapat banyak pengalaman menarik; mulai dari mempelajari bagaimana semua orang bekerja untuk membuat organisasi ini berjalan dengan baik, hingga menambah kemampuan saya dalam menyunting video serta merekam dengan kamera video. Sebelumnya saya tidak menyangka IVAA sebegitu terlibatnya di dalam kancah kesenian di Yogyakarta saat ini, dan tidak hanya mengelola rekaman yang sudah ada, tapi IVAA juga terus-menerus mengikuti arah perkembangan dari seniman-seniman serta musisi-musisi yang hebat di Indonesia.

Pekerjaan saya di IVAA lebih banyak menyunting video, oleh sebab itu saya harus belajar menggunakan program penyuntingan standar industri yang digunakan di IVAA, tapi justru dengan demikian saya akan benar-benar merasakan manfaat dari mempelajari program ini di masa mendatang. Saya juga ditugasi untuk merekam pertunjukan secara langsung, yang mana terbukti lebih sulit dari yang saya bayangkan, mengingat bahwa di dalam video kita harus memperhatikan variabel-variabel yang tidak ada di dalam fotografi, yakni bahwa gambar di dalam video adalah gambar bergerak, dan tak ketinggalan variabel lainnya yaitu suara!

Saya sangat berterima kasih kepada Dwe dan semua staf di IVAA untuk kesempatan yang diberikan pada saya dan teman-teman pemagang lain, baik yang sedang ataupun yang pernah magang di IVAA. Efek positif dari magang bisa saya ketahui dengan pasti dengan melihat senyum yang terkembang dari para alumni magang saat berkunjung ke IVAA. Ini adalah batu loncatan untuk memasuki dunia seni yang penuh kreativitas, baik sebagai pengalaman belajar sekaligus menghubungkanmu dengan dunia di luar kantor. Saya merasa sangat diterima di sini, dan sangat menyenangkan bisa bekerja bersama orang-orang yang ramah dan penyabar. Saya harap apa yang telah saya kerjakan di sini akan berguna untuk IVAA, dan karena semua pengalaman, jaringan pertemanan, dan semua gelora yang saya rasakan, saya akan kembali ke Yogyakarta secepatnya!

Banyak cinta, Alex

_________________________________

My internship at IVAA has been a great experience; from learning about the work everyone does to make the organization function, to extending my skills in video editing and recording. I was surprised to find that IVAA is very involved in Jogja’s current art scene, and not just a record of the past -it’s constantly being updated with an array of Indonesia’s awesome musicians and exhibiting artists.

My work has mainly involved editing videos, where I have had to learn an industry standard application, which will help me on my journey significantly. Also, I’ve been recording live performances which has proved much more difficult than expected, with the range of variables that the video medium presents compared to still photography – the pictures are moving, and there’s sound!

I’m very grateful to Dwe and the team at IVAA for the opportunity they have given me as well as many other current and past interns, and it’s easy to see the positive effects by the smiles on the faces of past interns visiting the office. It’s a stepping stone into the creative arts both as a learning experience in itself which extends beyond the office environment, with opportunities to meet and network with people at exhibitions, music gigs. I have felt very welcome and it’s been a blessing to be working alongside such friendly and patient people. I hope that the work I have completed is useful to IVAA and because of this experience, the networks, and the vibe I’ll be returning to Jogja as soon as possible!

Lots of love, Alex


Alexander Bloom adalah mahasiswa Murdoch University asal Australia, dia terpilih menjadi salah satu peserta Program ACICIS Proffesional Practicum 2017. Program ini mengirimkan mahasiswa-mahasiwi dari Australia untuk magang di beberapa organisasi/studio seniman di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Dalam program magangnya Alex bergabung dengan tim dokumentasi IVAA selama satu bulan.


Artikel ini merupakan rubrik Pengumuman Kantor di dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Koleksi Arsip Moelyono

Oleh: Putri Alit Mranani

Sejak pertengahan 2016, kami disibukkan dengan digitalisasi arsip yang dikontribusikan oleh sejumlah seniman. Pada buletin edisi lalu di rubrik Sorotan Arsip kami telah mengulas arsip-arsip yang dikontribusikan oleh FX Harsono. Pada edisi kali ini kami mengedepankan kumpulan arsip dari Moelyono. Moelyono dikenal aktif dalam kegiatan seni di tengah masyarakat sejak tahun 1980. Proyek seni Moelyono selalu melibatkan masyarakat di desa atau area tertentu, kemudian dengan seni itu sendiri ia mengupayakan perubahan untuk masyarakat di area tersebut. Tentu tidak mudah menggunakan kesenian sebagai medium perubahan, dibutuhkan strategi khusus. Untuk penyusunan strategi ini Moelyono harus menetap dalam waktu yang tidak sebentar, membaur dengan masyarakat, dan melakukan pengamatan di area yang sedang ia dalami tersebut.Bersama Yayasan yang Ia dirikan tahun 1993 yaitu Yayasan Seni Rupa Komunitas (YSRK), Moelyono menjadikan seni berguna bagi masyarakat. Menurut Moelyono, seniman tidak boleh bersikap netral dengan hanya menjadikan masyarakat sebagai obyek estetik dari karyanya.

Setelah kami amati, arsip dari Moelyono ini dapat dikategorikan menjadi dua macam yakni  materi-materi yang dikumpulkan dalam rangka penelitian untuk persiapan membuat kegiatan seni di tengah masyarakat; dan berkas-berkas dokumentasi dari  kegiatan-kegiatan tersebut, seperti foto, katalog, laporan proyek, liputan media massa, dll. Beberapa proyek seni yang teridentifikasi di koleksi arsip Moelyono diantaranya adalah “Seni Rupa Penyadaran”, “Yang Diikat”, “Atopic Site”, “Consciousness Raising Art”, “Seni Pembebasan Anak Jalanan”, “Untuk Marsinah”, “Seni Rupa Instalasi Refleksi Hak Dasar”, dan “Topografi Ingatan”. Kerja-kerja seni Moelyono di tengah masyarakat telah menjadikan alumni Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia ini menerima penghargaan. Beberapa penghargaan yang telah diterimanya antara lain “Fellowship Innovator for the Public” dari Yayasan Ashoka Indonesia pada tahun 1992, dan “Hadiah Seni Gubernur Jawa Timur” pada tahun 2001.

Seluruh arsip yang dikontribusikan olehMoelyono telah selesai kami pindai. Daftar inventaris arsip dari Moelyono yang terdiri dari 9.598 berkas digital dapat dilihat di dalam tabel berikut ini: http://bit.ly/2khMSrB


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

#SorotanPustaka Buletin IVAA Dwi Bulanan Jan-Feb 2017

Oleh: Lisis dan Santosa

Rubrik Sorotan Pustaka ini akan mengabarkan perkembangan Perpustakaan IVAA sejak buletin yang lalu terbit. Koleksi perpustakaan kini telah bertambah sebanyak 21 katalog, 10 majalah, 13 buku, dan 1 skripsi. Di antara koleksi baru ini, banyak yang berasal dari sumbangsih anggota perpustakaan dan mitra/jaringan kerja IVAA yang telah bermurah hati mengkontribusikan terbitan baru maupun koleksi pustaka mereka.

Ada tiga koleksi baru yang akan kami soroti kali ini, yakni buku berjudul “Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic 1945-1965,” sebuah buku yang diterbitkan oleh Prestel Publishing di tahun 2016. Buku ini dikirimkan oleh Dr. Damian Lentini dan Daniel Milnes dari Haus der Kunst, sebuah museum seni non-koleksi di Munich, Jerman. Kedua kurator ini sempat menggunakan arsip IVAA sebagai bahan penulisannya di dalam buku ini. Buku kedua yang kami soroti adalah buku yang kami kira pasti mempesonakan banyak pecinta sejarah, berjudul “Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia,” buku ini ditulis oleh sejumlah penulis sejarah yang diberi kesempatan untuk menggali data di KITLV Leiden, diterbitkan Yayasan Obor di tahun 2013. Sedangkan buku ketiga yang kami tampilkan berjudul “Menjadi Jogja,” terbitan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, tahun 2016.


1. Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic, 1945-1965 846 Halaman
Penerbit: Prestel Publishing
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: English

Buku yang apabila judulnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Pascaperang: Seni Antara Pasifik dan Atlantik, 1945-1965” ini mengkaji seni era pascaperang dari berbagai perspektif; timur dan barat, utara dan selatan, penjajah dan terjajah, Pasifik dan Atlantik. Buku ini diterbitkan berbarengan dengan penyelenggaraan sebuah pameran yang diselenggarakan sejak 14 Oktober 2016 lalu dan masih berlangsung hingga 26 Maret 2017 mendatang di Haus der Kunst, Munich, Jerman. Di dalam pameran ini ditampilkan lukisan, patung, instalasi, performance, film, fotografi, otobiografi seniman, dan dokumen-dokumen, total lebih dari 350 karya dari 218 seniman yang berasal dari 65 negara. Baik pameran maupun buku ini memberikan gambaran mengenai periode sejarah setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945, dengan memahami wacana dan sejarah seni yang muncul secara global, mengeksplorasi persepsi individu dan formulasi pada perkembangan seni, struktur politik, pola ekonomi, dan pola kerja institusional di negara-negara Pasifik dan Atlantik yang membentang dari Jerman, Jepang, sampai Amerika Selatan. Buku ini melibatkan 35 kontributor untuk menulis baik itu sejarawan seni, kurator, ataupun akademisi.

2. Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia

446 Halaman
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit: 2013
Bahasa: Indonesia

Seperti judul bab pendahuluannya, buku ini berusaha mengajak kita memikirkan ulang historiografi Indonesia. Telah makin kita yakini bersama bahwa menulis sejarah nasional bukanlah sekedar kegiatan intelektual atau akademis, tetapi juga politis. Sehingga patutlah kita mempertanyakan kembali klaim akan kebenaran (truth-claims) yang kita konsumsi selama ini dari penulisan sejarah di masa lalu khususnya di masa Orde Baru. Pasca tumbangnya Orde Baru, penulisan ulang sejarah mulai diupayakan. Dalam meninjau historiografi Indonesia, buku ini berusaha menghindari narasi-narasi besar (grand naratives) dan membaca narasi-narasi alternatif yang dimunculkan kaum intelektual dan anggota masyarakat yang berada di pinggir kekuasaan. Selain itu buku ini juga mempertimbangkan banyak faktor, seperti menyadari pentingnya masa kini dalam mempelajari masa lalu, serta berupaya kritis terhadap upaya-upaya yang dilakukan sekarang untuk menulis sejarah-sejarah lokal yang bertujuan mendukung otonomi daerah tertentu dan melegitimasi kekuasaan elit lokal.

Sebagian besar penulis di dalam buku ini mendapat kesempatan untuk bekerja di KITLV Leiden dan menikmati segala fasilitas yang ada, baik perpustakaan, arsip, maupun koleksi foto lembaga. Pada bagian pendahuluan dikemukakan perlunya dekolonisasi historiografi Indonesia. Bagian kedua menyoroti berbagai arti yang diberikan kepada waktu sejarah (historical time), peristiwa, dan pelaku sejarah. Bagian ketiga membahas persoalan narasi sejarah dan peranan ingatan, baik ingatan kolektif maupun ingatan perorangan dalam membentuk narasi sejarah tersebut. Berkaitan dengan ini, maka bagian keempat membahas relevansi sejarah populer, kehidupan sehari-hari, dan bagaimana sejarawan menghadapi fenomena yang tampaknya sulit ditangkap ini. Sedangkan bagian kelima melihat berbagai genre penulisan sejarah, interpretasi sejarah, peranan film, dan fotografi dalam historiografi.

3. Menjadi Jogja: Memahami Jatidiri Dan Transformasi Yogyakarta377 Halaman
Penerbit Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Indonesia

Buku dengan sampul tebal dengan nuansa klasik ini mendedahkan berbagai aspek sejarah yang menjadi bagian dari bangunan narasi bernama Jogja. Diterbitkan dalam rangka ulang tahun ke 250 Kota Yogyakarta, buku ini disusun oleh Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta yang bekerjasama dengan Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.

Dibuka dengan beberapa prolog yang memperkuat narasi keistimewaan Yogyakarta, buku ini menuliskan Jogja dari awal mula berdirinya, yang terkait dengan dinamika kerajaan Mataram hingga perjanjian Giyanti tahun 1755, yang membagi Mataram menjadi dua kedudukan, di Surakarta dan di Yogyakarta.

Gambaran pada masa sebelum kemerdekaan juga terdapat dalam buku ini. Masa ketika banyak tumbuh organisasi-organisasi tokoh-tokoh kebangsaan, yang kelak menjadi embrio dari sistem pendidikan nasional yang kita kenal hingga kini, seperti Budi Utomo (20 Mei 1908), Taman Siswa (1922). Selain itu, organisasi yang berbasis agama dan pendidikan seperti Perserikatan Muhamadiyah dan NU juga lahir di Jogja dan diceritakan di buku ini.

Kemudian dari sisi arsitektur dan tata ruang kota, narasinya tidak jauh beda dengan narasi sejarah pada umumnya, yang menempatkan keraton sebagai pusat pembangunan.

Selebihnya, kita akan menemukan beberapa narasi romantis lain, perihal posisi Jogja di tengah semesta dan dunia, namun buku ini kosong dari wacana-wacana baru yang lebih mencerdaskan serta menjawab kebutuhan untuk ‘Menjadi Jogja’, bagaimana mengidentifikasi diri secara kolektif serta menentukan posisi politis.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Contemporary Art from Bali 2016

oleh: Hertiti Titis Luhung Weningtyas*

Bali, sebagai entitas dikenal dengan ciri artistik yang khas; kental dengan budaya tradisi, namun diterpa dengan derasnya arus kebudayaan modern. Pameran Seni Kontemporer Bali memberi pendekatan yang kritikal kepada sejarah seni dan budaya, baik di Bali maupun secara luas. Tujuannya melihat dan membaca ulang bagaimana pebentukan sejarah seni rupa di Bali serta pemahaman kembali apa itu seni lukis (drawing-painting). Perkembangan seni rupa Bali tradisi-modern-postmodern-kontemporer dalam konteks seni rupa Indonesia sekarang. Bagaimana gagasan maupun eksplorasi para seniman yang menunjukan potensi artistik dari cara pandang dan konsepsi yang hybrid ke dalam bentuk lukisan, drawing, maupun bentuk karya tiga dimensional.

Baru-baru ini Langgeng Art Foundation bersama Equator Art Projects mengadakan pameraran bertajuk “Contemporary Art from Bali”, tepatnya pada 15 Desember 2016-31 Januari 2017. Pameran berlokasi di Langgeng Art Foundation, Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta.

Rifky Effendy dan Gede Mahendra Yasa sebagai kurator pameran ini memilih karya-karya yang sebagian besar berupa lukisan dan drawing, serta beberapa karya tiga dimensi. Seperti tajuknya, karya-karya dalam pameran ini menujukkan kecenderungan kancah seni rupa Bali sekarang yang sangat beragam, yang diramaikan oleh seniman, baik seniman lokal (asli Bali) maupun seniman pendatang.

Seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini antara lain Ketut Sumadi, Kemalezedine, Aswino Aji, Ketut Moniarta, Ketut Susena, Teja Astawa, Marco Cassani, Natisa Jones, Wayan Mandiyasa, Wayan Upadana, Ketut Suwidiarta, Valasara, Ashley Bickerton, Putu Wirantawan, Filippo Sciascia, dan Rodney Glick.

| Klik disini untuk melihat dokumentasi foto |


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas adalah mahasiswa D3 Bahasa Perancis Universitas Gadjah Mada yang sedang mengikuti Program Magang IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”

Oleh: Hertiti Titis Luhung Weningtyas*

Berawal dari sekumpulan individu yang memiliki kecocokan dalam ideologi berkarya, serta menghadapi permasalahan yang memiliki urgensi bersama, mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi yang dinamai Milisi Fotocopy pada awal 2011. Nama Milisi Fotocopy sendiri mewakili semangat gerakan milisi yang memang ingin berbagi semangat merespon permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di Surabaya. Menurut Milisi Fotocopy bentuk kesenian-kesenian yang saat ini ada di Surabaya tidak menampilkan persoalan yang dekat dengan diri mereka sendiri, sudut pandangnya sangat mainstream, bahwa gerakan kesenian adalah kerja imajinatif dan tidak berangkat dari persoalan-persoalan nyata.

Milisi Fotocopy mengadakan pameran tunggal pertama mereka yang berjudul “Ngluruk” di Ruang Pamer Kedai Kebun Forum, Jl. Tirodipuran No.3 Yogyakarta pada 14 Januari-4 Februari 2017 lalu. Dalam pembukaan pameran “Ngluruk”, Milisi Fotocopy menyajikan karya serta dokumentasi kerja mereka dari tahun 2011 hingga 2016. Melalui pameran arsip ini mereka ingin mengemukakan pentingnya mempresentasikan kerja-kerja kolektif dalam bentuk pameran ataupun diskusi supaya terjadi saling dan tukar informasi mengenai apa yang telah mereka kerjakan dan temukan selama proses bekerja kepada publik di kota Yogyakata. Nama-nama seniman muda surabaya yang tergabung di dalam kolektif Milisi Fotocopy ini antara lain Abdoel Semute, Bagus Priyo, Cahyo Prayogo, Dimas Giswa, Eko Hariadi, Imanniar Ramadhani, Iyan Fabian, Juve Sandi, Rakhmad Dwi Septian, Rendi Murti, Riski Juniartama, Sandi Crisko, dan Tubagus Riski.

Mengiringi pameran arsip ini, ada juga pertunjukan Titer Kabared Satoe “Babu Para Gedibal”, teater dari kampung Dupak, Bangunrejo, Surabaya, sebuah kampung yang notabene merupakan lokalisasi tertua di Surabaya. Digagas sebagai pengembangan dan pemberdayaan pewacanaan pelaku teater kampung yang sementara ini di anggap sebelah mata, Naskah yang berjudul “Babu Para Gedibal” mengusung tema kehidupan sosial ekonomi keluarga masyarakat Dupak sebagai masyarakat urban kota dengan segala kerakusannya, konsumerisme, dan materialistik.

Pameran Arsip Milisi Fotocopy ini ditutup dengan serangkaian acara yang diselenggarakan bersama Basarub pada tanggal 3 dan 4 Februari, antara lain pasar pernak-pernik dan kerajinan bikinan komunitas-komunitas seni di Yogyakarta dan Surabaya, pasar ini dinamai SINDIKAT BAZAAR GELAP. Sehari setelahnya mereka mengadakan artist talk dan peluncuran zine yang disusul pertunjukan musik dari band-band lokal. Di dalam artist talk, mereka mempresentasikan projek-projek yang pernah mereka kerjakan dari tahun 2011-2016, antara lain projek riset kampung Tambak Bayan Tengan di tahun 2012-2014 dan presentasi dari kolektif Kinetik tentang karya video dalam projek Hidup dan Mati di Tanah Sengketa.


| Klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video |


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas adalah mahasiswa D3 Bahasa Perancis Universitas Gadjah Mada yang sedang mengikuti Program Magang IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.