Category Archives: Sorotan Dokumentasi

BULETIN IVAA DWI BULANAN | NOVEMBER-DESEMBER 2019

Pembaca yang budiman, entah terasa atau tidak, 2019 sudah sampai di penghujung tahun. Ada banyak kegiatan yang orang-orang lakukan untuk menutup tahun babi tanah ini, entah menyusun laporan akhir, tutup buku, evaluasi tahunan, atau liburan. Newsletter IVAA juga tak mau ketinggalan; hadir untuk menemani pembaca sekalian menutup tahun dengan konten-konten yang ringkas. Berbeda dengan edisi sebelumnya yang mengulas perihal materialitas karya dalam seni rupa kontemporer secara khusus, edisi November-Desember ini lebih memuat sebaran dan beberapa refleksi kegiatan-kegiatan IVAA selama akhir 2019. Ada Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol, Pusparagam Pengarsipan: “The Possibility of Socially Engaged Archiving”, dan infografis outreach IVAA ke beberapa tempat untuk merawat jaringan. 

Selain sebagai sebentuk sajian akhir tahun kepada para pembaca sekalian, kegiatan-kegiatan itu juga upaya memperlebar definisi praktek-praktek kerja pengarsipan dan seni visual. Bahwa dua hal tersebut harus selalu dikontekstualisasikan dan tidak melulu menjadi entitas yang kaku dengan kanon-kanonnya. 
Selain itu, kehadiran teman-teman magang seperti Firda, Fika, Shifa, Bian, Nada dan Jati begitu memberi sumbangsih yang berarti untuk dinamika kerja IVAA. Mereka seolah menegaskan bahwa kerja pengarsipan tidaklah kering seperti yang orang-orang imajinasikan. 
Semoga edisi ini dapat menjadi teman baca sembari menutup tahun. Akhir kata, selamat melakukan aktivitas apapun; selamat Natal bagi yang merayakannya; selamat tahun baru 2020, dan selamat membaca!

Salam budaya!

Sorotan Dokumentasi | November-Desember 2019

Sorotan dokumentasi edisi penutup tahun ini kami fokuskan untuk menyorot dua kegiatan penting yang telah kami upayakan: Festival Sejarah: Jejak Sudirman dan Pusparagam Pengarsipan, sekaligus poin-poin refleksi. Dua kegiatan ini menjadi upaya kontekstualisasi yang terus-menerus terhadap kerja pengarsipan serta seni visual itu sendiri, dengan isu serta kebutuhan sekitar. 

Biasanya rubrik ini memang kami gunakan untuk memuat liputan peristiwa seni, wawancara atau profil seniman. Sorotan dokumentasi kali ini juga menandai upaya kerja pengarsipan kami yang berbeda, yaitu tidak melulu berangkat dari mendokumentasikan peristiwa seni. Jika dilihat kembali, maka rubrik sorotan dokumentasi selama 2019 ini mencoba menyorot seni visual dan pengarsipan dalam definisi yang luas. Mulai dari kelas-kelas literasi seni untuk dua edisi, yaitu Belajar Sama-Sama dan Sama-Sama Belajar. Kemudian sosok ‘manajer’ di balik acara kesenian, Kerja Manajerial, Kerja Kemanusiaan, dan terakhir tentang materialitas karya, Beralih Sebelum Meraih Makna. Seluruhnya tidak ada yang secara khusus menyoroti satu atau dua peristiwa seni tertentu. 

Ini merupakan hasil refleksi kami bahwa seni visual dan pengarsipan juga lahir dari inisiasi-inisiasi di luar yang tidak melulu event based. Kerangka demikian yang coba dielaborasi dalam kerja dokumentasi kami. Masih satu tarikan nafas, dua acara yang kami sorot pada edisi ini ingin menebalkan upaya memperluas definisi pengarsipan dan seni visual. Bahwa pengarsipan sebagai metode merawat pengetahuan selayaknya tidak berhenti pada otoritas institusi tunggal, dan seni visual barangkali dapat menjadi bahasa yang inklusif, tidak melulu sebagai entitas yang kaku serta elitis.

Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

Berikut adalah video dokumentasi kegiatan bersama warga Grogol IX, Parangtritis. Diawali dengan acara Siklus 2.0: Bunyi-Bunyi Masa Lalu (25 Oktober 2019) sebagai pengantar, kemudian dilanjutkan Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol (18 November 2019). Dua video dokumentasi tersebut diproduksi oleh teman-teman Kartitedjo: social enterprise yang bergerak dalam bidang audio visual, khususnya yang berkaitan dengan isu sosial dan kebudayaan lokal. 

Pada dua acara di atas, juga terdapat bincang pengalaman warga mengenai singgungan mereka soal kisah-kisah tentang Bung Karno, Sudirman, serta aktivitas masyarakat setempat yang berkaitan makanan lokal seperti rempeyek hingga sayur lodeh, dan kandang kelompok. Bincang tersebut dikemas dengan format talkshow yang rekaman suaranya dapat diakses pada tautan. 

Selain itu, untuk memperdalam refleksi atas kegiatan pengarsipan bersama warga Grogol IX ini, Eko Setyo Raharjo (perwakilan warga Grogol IX yang terlibat penuh sebagai direktur Festival Sejarah) hadir dan bercerita tentang proses pengarsipan warga tersebut. Presentasi ini digelar bersamaan dengan presentasi dari teman-teman KUNCI Study Forum & Collective (Fiki Daulay dan Nuraini Juliastuti) pada Diskusi Publik Hari 1 Pusparagam Pengarsipan di Rumah IVAA pada 19 November 2019 dengan tema Memory and Counter Memory

Moderator:
Mengingat kita pada saat bersamaan melupakan. Karena kita selalu berkomunikasi menggunakan bahasa, dan bahasa selalu reduktif. Kita diajak untuk meyakini bahwa setiap aktivitas kita atau keberadaan kita ambivalen, dan situasi kita menyimpan itu paradox, inilah yang aku tangkap dari tema diskusi ini.
Pengarsipan yang membumi, secara umum yang saya tangkap, kerja pengarsipan yang mempertahankan pengetahuan, banyak dilakukan orang/ lembaga berotoritas tertentu yang nggak jarang berjarak dengan realitas sesungguhnya yang ingin diabadikan. Membuktikan memory and counter memory berkelindan satu sama lain.

Presentasi KUNCI – Heterotropics
Fiki Daulay:
Mei–Juni 2017, KUNCI diundang untuk terlibat dalam proyek Heterotropics melihat koleksi museum Tropenmuseum. Mulai dengan mitos akademisi dan peneliti yaitu akan sangat mudah mendapatkan arsip ketika berada di Belanda. Pada kenyataannya mitos itu sudah nggak berlaku. Kedua, museum lamban melihat realitas, agak sulit berpacu dengan realitas yang ada. Ada satu object koleksi  berusia 350 tahun yang kita jadikan acuan.
Bagaimana memproblematisir pengalaman kita di sana dengan situasi hari ini? Bagaimana memahami pengalaman orang di luar museum?
Kita, alih-alih melihat museum sebagai pusat pengetahuan, kita melakukan penelitian etnografis. Mewawancarai orang yang melakukan praktik pengarsipan, namun bukan praktisi. Kita wawancarai, arsitek, seniman, sejarawan, eksil, dll. Kita mewawancara mereka, mempertanyakan praktik pengarsipan mereka dan bagaimana pengalaman ketika mengunjungi Tropenmuseum.
Pak Sarmadi, eksil yang menetap di Belanda, mengumpulkan dan mencari tahu apa yang terjadi di Indonesia sampai sekarang. Wawancara ini kami gunakan mencari tahu, adakah praktik pengarsipan lain yang dilakukan bersamaan dengan mencari tahu pengalaman mereka dengan Tropenmuseum.
Dari beberapa koleksi berumur 350 tahun, kami menemukan manekin Suwarsih Joyo Puspito, sastrawan yang ternyata di Indonesia tidak begitu populer. Kami ingin menghidupkan kembali manekin ini dan memasukan karakter yang ada di manekin ini. Kemudian manekin ini yang mewakili rangkaian proses kerja kami dalam proyek ini. Kami merekonstruksi kembali karakter Suwarsih dan menghidupkan narasi fiktif yang kami sandingkan dengan peta, yang tentu saja peta merupakan hal yang penting di era kolonial. Suara Suwarsih menjadi audio guide dalam pameran ini.
Bagaimana membagi metode, apa yang kita lakukan di sana dengan masyarakat, yaitu dengan podcast, simposium dan diskusi publik.

Nuraini Juliastuti (Nuning):
Konteks. Kita melakukan proyek ini di Belanda, dimana Belanda tidak hanya menjajah Indonesia, tapi juga negara lain.
Kita melakukan ini di Tropenmuseum, yang didirikan pertama kali sebagai colonial institution yang menyimpan semua temuan-temuan etnografis yang dijajah oleh Belanda. Yang kita hadapi di sana adalah colongan. 
Persiapan yang kita lakukan: spekulasi teori, kita menyiapkan landasan teori, kita membuat seri membaca bersama teman-teman KUNCI yang lain. Membaca buku Ann Laura Stoler (Along Archival Grain), Foucault (Archeology of Knowledge), Derrida. Ini landasan teori yang kami pertimbangkan sebelum kami berangkat ke Belanda. Poin yang kami dapatkan, pentingnya memperhatikan arsip bukan semata-semata sebagai sumber, karena itu adalah mindset yang kita pakai. Kami berusaha menggeser paradigma itu dan melihat arsip sebagai subyek. Kami menelusuri bagaimana arsip digunakan, kami melihat arsip sebagai alat surveillance (pengawasan) untuk mengendalikan kenormalan. Satu poin lain, arsip bukan dilihat sebagai kumpulan artefak atau materi yang dikumpulkan oleh orang, tapi arsip yang punya agenda, yang dikumpulkan orang-orang yang tentu saja punya agenda.
Kami sangat tertarik dengan gagasan Ann Laura Stoler. Kami tidak tertarik untuk melakukan counter, tidak tertarik melihat Belanda sebagai bekas penjajah, kami lebih tertarik untuk melihat apa ada sisa-sisa yang ditinggalkan oleh Belanda.
Kami juga tertarik dengan gagasan, bukan dengan gagasan materiality arsip, tapi lebih melihat wacana, arsip dan bagaimana dia menentukan masa depan. Saya melihat ada kebebasan untuk mengkonseptualisasi masa depan lewat pengumpulan arsip, itu yang ingin kita capai dalam proyek kita. 
Itu hal yang tentang teori. Begitu kami di sana, saya melihat Tropen sebagai museum, bukan hanya fisik tapi juga birokrasi, betapa sulitnya kita mengakses apa yang ada di sana, yang bahkan adalah berasal dari Indonesia. Itu yang jadi refleksi kita. Kita lebih tertarik untuk melihat arsip bukan sebagai legacy atau warisan, kami akhirnya lebih tertarik untuk membongkar, artist and researcher  technology. 
Bagaimana kita mencoba memproduksi gangguan kerapian dan cara artefak ditata di dalam museum itu. Dengan mewawancarai orang-orang dalam berbagai topik, dan  siaran radio, podcast di museum. Itu cara kita melakukan intervensi.
Gagasan audio guide itu, kita sampai di ujung residensi kami berpikir untuk melihat museum lebih dari sebuah institusi tapi bisa bermain-main dengan koleksi yang ada di Tropen.
Kita bertanya, bagaimana colonial archive ini engage dengan perasaan kita, dengan subyek kolonial dulu, dan bagaimana melihat arsip itu sebagai tempat kembali. Bagaimana kita pengguna memandang arsip kolonial bukan hanya sebagai pengingat, tapi bisa mempertanyakan diri sendiri. 
Momentum untuk mempertanyakan Indonesia, bagaimana kita melihat replika ini. Kita melihat Papua dalam kacamata kolonial. Makanya kita pakai Suwarsih ini untuk membaca ulang arsip kolonial.

Moderator:
Menarik bagaimana kita dikonstruksi untuk berada dalam perspektif tertentu ketika kita mengunjungi suatu museum.
Bagaimana rasanya mengarsipkan diri sendiri? 

Eko:
Saya akan bercerita mengenai proses bagaimana cara kita mengarsipkan:

  • Mengadakan workshop dokumentasi yang diadakan oleh IVAA
  • Mengadakan dokumentasi sejarah-sejarah lokal, baik itu sejarah masa lalu, maupun masa kini.
  • Identifikasi: Sejarah apa saja yang dapat kita dokumentasikan: sejarah masa lalu (sejarah Jend. Sudirman dan Bung Karno) dan sejarah yang belum lama (keberadaan gumuk pasir, rempeyek ibu-ibu, dan kandang)
  • Dokumentasi dari hasil sejarah yang telah diidentifikasi: Melakukan foto-foto pada situs, wawancara dan video.
  • Diseminasi berkaitan hasil dokumentasi yang diperoleh: Melaksanakan festival sejarah (Judul: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol)
  • Mencicipi menu favorit Jenderal Sudirman
  • Talkshow dari berbagai narasumber yang berkaitan
  • Melihat pameran hasil dokumentasi warga lokal (foto maupuan video)
  • Tour (mengunjungi situs-situs peninggalan sejarah)

Moderator
Hasil dari kerja tersebut, hal apa yang berkembang dari masyarakat?

Eko
Sebelumnya, masyarakat di area tersebut belum mengetahui adanya situs bersejarah.

Moderator:
Mungkin selanjutnya kita bisa berdiskusi ringan terkait kedua pengalaman kerja pengarsipan.

TANYA:
Mas Fiki, kenapa sosok perempuan dinarasikan sebagai sosok Suwarsih? Sepengetahuan saya Suwarsih banyak membahas karya di bidang feminisme pada saat itu. Kenapa kok Suwarsih?

JAWAB:

  • Dia menjadi bagian koleksi yang penting. Manekin yang sama dipakai berulang kali dipergunakan nama yang sama. Posisi manekin itu berkaitan dengan politik etis. 
  • Karakter ini jarang diproblematisir. Kenapa dia malah terkenal ketika bukunya diterjemahkan oleh lelaki Belanda? Itu menjadi sebuah pertanyaan.
  • Kita membayangkan museum ini sebagai kelas, yang banyak problem di dalamnya dan hal tersebut menjadi titik temu kita dengan Suwarsih ini.

TANYA:
Jika untuk Grogol, pemilihan atau klasifikasi yang layak tampil atau tidak itu dasarnya apa ya? Kenapa kok memilih hal itu?

JAWAB:

  • Karena jika Sudirman dan Soekarno karena berjasa untuk Indonesia ya.
  • Pada zaman dahulu, terdapat kandang ternak yang apabila hujan kotorannya terbawa oleh air hujan dan jadi kotor, maka ada inisiatif untuk memindahkan kandang kelompok dipindahkan ke suatu tempat khusus. Itu alasannya.
  • Jika mengenai kelompok ibu-ibu rempeyek, hal tersebut merupakan kegiatan dari generasi ke generasi.
  • Untuk gumuk pasir, itu merupakan jenis pasir yang langka. Untuk itu kami dokumentasikan.

TANYA:
Yang saya pelajari dari dua presentasi ini, satunya arsip sebagai subjek, yang satu arsip sebagai bahasa. Pertanyaan tadi juga oke, jika di Purwokerto mungkin narasi tentang Sudirman masih sangat kental ya. Ada satu hal yang hilang jika berbicara tentang arsip, jika kita ingin mendekoloni sistem arsip, kita harus mempelajari relasi kuasa. Dalam konteks itu kan audiens penting. Bisa tolong dijelaskan nanti Mas Eko dan Fiki, audiensnya siapa saja?

JAWAB:
Fiki:
Kenapa kita menggunakan suara sebagai medium, gagasan utamanya adalah untuk bisa melampaui ruang dan waktu. Suara itu sendiri punya sebuah kekuatan untuk mengetahui sebuah jarak tertentu. Jika pertanyaannya adalah audiensnya, agak sulit juga didefinisikan.

Nuning

  • Mungkin bukan audiens, tapi untuk siapa arsip itu. Dalam hal ini kita berhadapan dengan kurasi yang merupakan bagian dari power. 
  • Menurut saya yang dilakukan KUNCI di Tropenmuseum berarti kita bertemu banyak ruang untuk berapropriasi. 

Eko

  • Untuk saat ini mungkin hanya untuk warga lokal.
  • Untuk hasil identifikasi yang kita lakukan di Grogol, seperti Gumuk pasir yang langka. Setelah itu warga jadi tahu jikalau tempat itu harus dilestarikan.

Moderator
Saya menangkap dari kedua presentasi tadi yaitu: sejarah akan menemukan audiensnya sendiri.

TANYA:
Saya tertarik terkait arsip yang dijelaskan, apakah kemudian arsip itu bersifat politis? Saya penasaran teman-teman KUNCI ini seperti apa menggunakan arsip ini dan bagaimana bentuk interpretasi akan arsip tersebut?

JAWAB:

  • Tentunya, segala bentuk yang bersifat mengoleksi dan mengarsipkan memiliki elemennya sendiri. Kita harus tau siapa yang membuat dll.
  • Apa yang disebut Nuning sebagai apropriasi adalah salah satu cara relasi kuasa ini bisa dipertanyakan sebagai posisi agensi. 
  • Cara melihatnya begini, arsip menurut definisinya saja sudah politis. Bukan hanya bagaimana dikumpulkan, tapi lebih ke arah mengapa ini layak dan ini tidak? Dari situ saja sudah politis. Arsip selalu soal sertifikasi. Mengapa hal itu penting? Karena semuanya ingin punya agensi.
  • Kita berusaha menggeser paradigma, bahwa tidak mau menilai arsip dari teksnya saja. Kita kembali melakukan tawaran, tidak hanya datang, melihat, dan foto-foto. Tapi juga harus ikut berkontribusi.

Moderator:
Yang harus ditangkap adalah teman-teman KUNCI berusaha untuk mengintervensi arsip-arsip di Tropenmuseum ya. Melawan dominasi arsip lain. 

TANYA:
Aku penasaran gimana caranya berkompromi untuk melakukan apropriasi dengan Tropenmuseum?

JAWAB:

  • Satu sisi kita juga punya kesulitan untuk berurusan dengan birokrasi Museum, butuh 7  hari. Kita mencari jalan-jalan lain ya. Kita lumayan diuntungkan ya. 
  • Mereka sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kita. Dalam level sehari-hari mereka membebaskan kita ngapain aja. Kita mungkin organisasi yang cukup suka dengan ending yang menggantung, bukanlah sesuatu yang definitive, tujuan pasti. Tujuan utama kita adalah menciptakan teks yang kita bisa bermain-main dengan strukturnya.

Lisis:
Sejujurnya, keberadaan patung, dan nama-nama Jenderal Sudirman di kota-kota terlihat memuakkan. Ada nggak sih narasi-narasi di luar itu, kisah-kisah di luar itu yang muncul? Ini berangkat dari asumsi-asumsi Pak Dirman yang muncul selalu berkaitan dengan ABRI, polisi, dll. Pastinya ada alasan-alasan lain. Muncullah titik-titik yang berupa kantung pemikiran yang mengimajinasikan Indonesia ke depan. Menariknya, IVAA harus belajar pengarsipan dari warga. Karena spiritnya berbeda. 

Moderator:

  • Pengarsipan sifatnya selalu politis. Kita harus tetap mengukur sepolitis apa sih.
  • Ternyata arsip itu sendiri tidak bisa kita terima sebagai data yang mati. Harus kita curigai sebagai suatu struktur kuasa yang berkelindan.
  • Semangat dari teman-teman grogol.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

Pusparagam Pengarsipan: “The Possibility of Socially Engaged Archiving”

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

Pusparagam Pengarsipan ialah sebuah program yang mempertemukan para praktisi yang bekerja dengan arsip, arsiparis atau siapa saja yang memiliki ketertarikan dengan semesta arsip dan pengetahuan. Pusparagam Pengarsipan yang pertama ini menggarisbawahi tema “The Possibility of Socially Engaged Archiving” atau mencari arah kerja pengarsipan yang membumi. Ide ini bermula dari kebutuhan kami untuk mempelajari keberagaman model pengarsipan yang tumbuh di sekitar kita, sekaligus melihat kembali model-model kerjanya. Hal ini kita lakukan sambil mempertanyakan ulang arah pengetahuan dan pengarsipan. 

Program ini digelar selama tiga hari, 19-21 November 2019, di Rumah IVAA dengan format forum partisipatif dan diskusi terbuka. Partisipan yang terlibat dipilih melalui seleksi tulisan; dari 50 pendaftar, dipilih 24 partisipan. Masing-masing partisipan membawa konteks lokal kerja pengarsipannya. Seperti maksud dari program ini, yakni mencari arah kerja pengarsipan yang membumi, kehadiran konteks dari masing-masing partisipan menegaskan bahwa kerja pengarsipan tidak hanya beroperasi di tubuh Negara, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat dengan persoalannya. 

Kita ambil contoh praktek pengarsipan yang telah dilakukan oleh salah satu partisipan, yakni Feysa Poetry, seorang asisten akademik dan penelitian ITB. Secara kolaboratif, ia bersama warga Kampung Besukih, Sidoarjo berusaha mengumpulkan kembali ingatan kolektif mereka tentang rumah yang hilang akibat peristiwa Lumpur Lapindo. Suatu ironi, ketika Lumpur Lapindo tidak lagi dilihat sebagai dampak eksploitasi korporat melainkan disulap menjadi ikon baru kota Sidoarjo sebagai lahan turistik. Untuk mengantisipasi merebaknya ‘amnesia kolektif’, Feysa bersama warga merekonstruksi desain arsitektur rumah-rumah yang sekarang menjadi bagian dari ingatan. Sebentuk tanggung jawab masa depan arsip. 

Pemetaan kolektif bersama penduduk Kampung Besukih. Dokumentasi Feysa Poetry, 2016. 

Proses dan salah satu sketsa hasil pemetaan kolektif. Dokumentasi Feysa  Poetry, 2016. 

Berbeda lagi dengan Zainal Abidin. Ia adalah anggota dari Sivitas Kotheka, sebuah komunitas literasi di Pamekasan, Madura. Pendiri ‘Pena Aksara: Kelas Menulis Bahasa Madura’ ini melalui tulisannya menjelaskan bahwa kerja pengarsipan yang ia lakukan di komunitasnya adalah mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang digelar setiap bulan. Teks-audio-visual menjadi wujud arsip yang merepresentasikan pengelolaan diri. Tetapi ia punya keprihatinan bahwa ada banyak pengetahuan yang hanya mampu ditangkap dengan indra, tidak melulu bisa ‘diarsipkan’. Begitu pula dengan pengetahuan-pengetahuan lokal di Madura. 

Konteks lokal dalam kaitannya dengan arsip juga dibawa oleh Baskoro Pop, pendiri Yayasan Lasem Heritage. Sebagai bagian dari kerja Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan/ Pelestarian Pusaka-Pusaka/ Heritage di Lasem, arsip ia maknai sebagai elemen paling penting untuk dikelola dalam rangka produksi pengetahuan. Tidak hanya bekerja dengan arsip teks-audio-video, ia juga melihat urgensi dari pengetahuan yang beroperasi secara tutur. 

Tiga konteks di atas merupakan bagian kecil dari ragam praktek pengarsipan yang tersebar di sekitar kita. Dalam situasi ini, pusparagam menjadi upaya untuk ikut menjahit keragaman tersebut. Para partisipan tidak hanya berperan sebagai partisipan saja, karena upaya lebih lanjut pun muncul. Fransiskus Xaverius Berek, ketua Ikatan Guru Daerah Flores Timur periode 2018-2023, menulis beberapa artikel terkait Pusparagam dan pentingnya praktek pengarsipan sebagai strategi kebudayaan secara kontekstual di wilayah Flores Timur: IGI Flotim Presentasikan Kisah Besi Pare Tonu Wujo Dalam Ajang IVAA 2019, Sosiolog UIN Jakarta dan Peneliti ITB Tertarik Meneliti Situs Besi Pare Tonu Wujo Di Flores Timur, dan Besi Pare Tonu Wujo – Dewi Sri Orang Flores Timur Versi Muhan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

Mencari Arah Pengarsipan yang Membumi

oleh Lisistrata Lusandiana

Pusparagam Pengarsipan bermula dari sebuah gagasan bahwa kita hidup di tengah keragaman budaya. Kerja pengarsipan juga merupakan bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan dari dinamika masyarakatnya. Selain itu, mengingat bahwa metodologi pengarsipan yang selama ini kita praktikan merupakan warisan dari kolonialisme, kita perlu memunculkan berbagai metode dan metodologi pengarsipan lain yang juga hidup di masyarakat kita. Hal ini kita lakukan sambil mempertanyakan ulang arah pengetahuan dan pengarsipan kita. Seberapa jauh arah pengetahuan kita membutuhkan arsip? Bagaimana kerja pengarsipan ketika dihadapkan pada berbagai persoalan sosial spesifik? Bagaimana kita mengaitkan kerja pengarsipan dengan upaya mencari demokrasi yang lain? Bagaimana agar gerakan pengarsipan senafas dengan perjuangan politik?

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah akhirnya kita bertemu. Beberapa individu dengan beragam latar belakang; ada yang pekerjaannya sebagai pekerja kantoran, pengajar, penjual buku bekas, pemandu wisata, pembuat cinderamata dan mahasiswa. Latar sosialnya pun berbeda-beda, ada yang sehari-harinya tinggal di Flores Timur, Pare-pare, Surabaya, Padang Panjang, Rembang, Madura, Bandung hingga Jakarta. Keberadaan berbagai macam praktik yang dijalani dilakukan dengan bermacam-macam latar belakang. Ada yang melakukan kerja pengarsipan karena berawal dari hobi, ada yang mengarsipkan data-data murid atau anak didiknya, ada yang menggunakan arsip sebagai metode pengorganisasian, ada yang melakukan pengarsipan untuk menghidupkan medan sosial seni, ada yang menggunakan pengarsipan sebagai strategi untuk merebut kembali utopia yang telah direbut paksa oleh penguasa.

Pertemuan ini di satu sisi ingin membuktikan satu hal, bahwa keragaman praktik pengarsipan kita berserakan, tidak memiliki pola tunggal. Di sisi lain, kita juga perlu mengetengahkan keberagaman praktik tersebut untuk kita sadari dan rayakan bersama. Yang coba kami upayakan dari pertemuan tersebut adalah sebuah pertemuan produktif, yang memunculkan berbagai pengetahuan kritis, dalam konteks dekolonisasi kultural.

Ketika membicarakan soal bagaimana kebudayaan dihidupi, di sudut lain terdapat pembicaraan mengenai museum yang tidak bisa dilewatkan. Di antara upaya-upaya masyarakat yang telah tumbuh seiring sejalan dengan praktik sosial, ruang hidup dan kebudayaannya, terdapat keluhan dari para praktisi dan pegiat museum, yang dari tahun ke tahun mengeluhkan soal partisipasi masyarakat, atau melihat jarak yang terbentang antara masyarakat dan museum. Apakah transmisi pengetahuan dengan metode ‘white cube’ tradisi yang asing bagi sebagian besar masyarakat kita?

Selain itu, di tengah lahirnya berbagai produk regulasi yang bermasalah, kita semakin dibuat yakin untuk tidak begitu saja percaya pada penyelenggara negara. Di tengah keberadaan upaya mainstreaming kebudayaan, nampaknya juga terdapat agenda-agenda lain dari pusat yang tidak selalu tepat dengan kondisi akar rumput. Pekerjaan Rumah kita tentu saja masih banyak. Perjalanan untuk menebalkan keberagaman praktik pengarsipan ini juga masih jauh dari ujungnya. Kedepannya, kami akan melanjutkan perjalanan ini. Mempertemukan praktik pengarsipan dan produksi pengetahuan secara langsung di ruang dan waktu yang spesifik dengan persoalan yang lebih menukik.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

BULETIN IVAA DWI BULANAN | September-Oktober 2019

Pembaca yang budiman, menjelang penghujung 2019 kita seolah dihadapkan dengan keramaian-keramaian yang cukup menyesakkan. Mulai dari keramaian perayaan kesenian, kerusakan lingkungan, hingga riuhnya berbagai aksi massa merespon dinamika politik yang ternyata sama gerahnya dengan musim kemarau tak berkesudahan akhir-akhir ini. 

Di sela-sela keramaian itu, beriringan dengan perhelatan Biennale Jogja XV (20 Oktober-30 November), kami tetap mencoba untuk berbagi amatan melalui e-newsletter IVAA. Di edisi September-Oktober ini, kami coba menilik kembali sesuatu yang mungkin terkesan usang dalam skena seni rupa kontemporer kita. Saking usangnya, ia seolah tidak penting lagi untuk dibicarakan. Ia adalah medium, atau istilah yang kami pilih adalah materialitas karya. Alasannya sederhana saja: kebingungan publik yang kerap muncul ketika menonton karya di suatu pameran seni rupa kontemporer. Memang terdengar usang bagi kita yang bermain di lingkar terdekat ekosistem kesenian, tetapi urusan materialitas karya belum tentu tuntas di hadapan publik. 

Ketika semua benda dan praktik bisa dinobatkan sebagai karya seni kontemporer, gagasan seolah menjadi aspek yang paling penting. Kita perlu ingat bahwa sekuat-kuatnya gagasan seniman, artikulasi paling nyata di hadapan publik terletak pada objek. Memang, jika dihadapkan dengan pernyataan Farah Wardhani dalam “Media, Trend, Alternatif, dan Generasi Baru” (2004), bahwa pada akhirnya seni rupa kontemporer itu seperti assemblage yang selalu dalam keadaan transien, beralih sebelum sempat meraih maknanya, seolah pembicaraan seputar materialitas tidak akan menemukan titik terang. Tetapi dalam konteks relasi karya dengan publik, kami percaya bahwa menilik ulang materialitas karya adalah sebentuk upaya untuk menjaga kesadaran agar tidak tenggelam ketika hanyut dalam keberserakan assemblage tersebut. 

E-newsletter edisi September-Oktober ini tentu tidak akan bisa tergarap tanpa kontribusi penting dari Shifa, Firda, Fika, Bian, dan Jati. Mereka adalah rekan-rekan magang yang telah bekerja dengan keras, seraya tetap melakukan kerja-kerja harian IVAA seperti dokumentasi, pencatatan data buku, transkrip, dll. 

Semoga secuil hasil eksplorasi kami ini dapat menjadi bagian dari upaya kita bersama untuk sedikit menyegarkan obrolan kesenian yang makin lama makin ramai dan makin rumit saja. 

Selamat membaca, salam budaya!
Krisnawan Wisnu Adi


I. Pengantar Redaksi
oleh Krisnawan Wisnu Adi

II. Kabar IVAA
Sorotan Dokumentasi
oleh Krisnawan Wisnu Adi, Hardiwan Prayogo, Sukma Smita, Fika Khoirunnisa, Yulius Pramana Jati, Jafar Suryomenggolo

Sorotan Pustaka
oleh Uray Nadha Nazla, Bian Nugroho, Firda Rihatusholihah, Aisha Shifa Mutiyara, Fika Khoirunnisa, Yulius Pramana Jati

Sorotan Arsip
oleh Hardiwan Prayogo

Sorotan Magang
oleh Vicky Ferdian Saputra, Ratri Ade Prima Puspita 

III. Agenda RumahIVAA
oleh  Dwi Rahmanto, Santosa Werdoyo, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi

IV. Baca Arsip
oleh Krisnawan Wisnu Adi

Tim Redaksi Buletin IVAA September-Oktober 2019

Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana
Redaktur Pelaksana: Krisnawan Wisnu Adi
Penyunting: Krisnawan Wisnu Adi, Hardiwan Prayogo
Penulis: Dwi Rahmanto, Santosa Werdoyo, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi 
Kontributor: Ratri Ade Prima Puspita, Vicky Ferdian Saputra, Uray Nadha Nazla, Bian Nugroho, Firda Rihatusholihah, Aisha Shifa Mutiyara, Fika Khoirunnisa, Yulius Pramana Jati, Jafar Suryomenggolo
Tata Letak & Distribusi: M Fachriza Ansyari

SOROTAN DOKUMENTASI | September-Oktober 2019

Ketika kami datang dengan beberapa pertanyaan seputar materialitas karya seni, Uji “Hahan” Handoko banyak mengaitkan hal kebendaan karyanya dengan mekanisme pasar seni rupa. Beririsan dengan itu, Irene Agrivina berangkat dari fungsi terapan karya seni yang pada tahap tertentu bersinggungan dengan brand-brand massal. Di sisi lain, seniman rajut Mulyana lebih menempatkan materialitas karyanya dalam konteks permenungan eksistensi diri. Berbeda lagi dari sudut pandang kurator. Menurut Arham Rahman, aspek artikulasi dan respon dari objek itu sendiri adalah hal yang tidak boleh dilupakan. 

Selain obrolan bersama empat orang di atas, kami juga memuat sebuah tulisan ulasan pameran tentang Marie Antoinette dari Jafar Suryomenggolo ketika berkunjung ke Paris. Jafar adalah penulis, peneliti, dan asisten profesor di National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS), Tokyo, yang sering menulis seputar isu perburuhan. Tulisannya dapat kita tempatkan sebagai satu contoh bagaimana publik memahami karya seni di sebuah pameran.

Memperpanjang Kemungkinan Karya melalui Medium

oleh Krisnawan Wisnu Adi

Kurang lebih satu jam, 10 September 2019 sore, saya bersama Dwi Rahmanto berkesempatan ngobrol bersama Uji “Hahan” Handoko di Ace House. Hahan banyak bercerita kepada kami tentang bagaimana dia memaknai medium karya seninya. 

Pada masa awal kekaryaannya, keterbatasan finansial untuk mengakses “artist material (salah satunya adalah kanvas)” menjadi latar belakang pertama mengapa ia memilih benda-benda bekas seperti kayu dan bungkus makanan sebagai medium karya seninya. Selain itu, latar belakangnya sebagai orang yang dekat dengan dunia seni grafis dan budaya pop juga cukup mempengaruhi bagaimana ia memutuskan menggunakan medium non-konvensional. Misal, dari pada menggambar di kanvas yang cukup mahal dan membutuhkan energi lebih banyak, ia dan kawan-kawannya lebih memilih tembok yang sudah siap untuk dimural. 

Situasi keterbatasan yang demikian, sekitar 2007-an, justru terjadi ketika pasar seni rupa sedang menggila. Tetapi karya-karya dengan gaya kartunal, street art, ilustrasi atau istilah lain yang umumnya dikaitkan dengan budaya pop, belum diterima oleh pasar seni rupa. Situasi ini berimplikasi pada akses ke infrastruktur ruang pamer. Oleh karena itu, Hahan dan kawan-kawannya menggunakan ruang-ruang alternatif untuk mengadakan pameran kelompok. Salah satunya adalah kontrakan teman sendiri. 

Tahun 2014 menjadi titik perubahan bagaimana Hahan memaknai medium. Ketika sebelumnya medium non-konvensional digunakan karena pertimbangan keterbatasan akses, pada masa ini Hahan merasa bahwa suatu objek sudah memiliki nilai sendiri. Objek punya kekuatan untuk mengerucutkan ide atau konsep dari si seniman. 

Ia terinspirasi oleh karya seniman asal Filipina, Alvin Zafra, pada pameran Medium at Large di Singapore Art Museum (SAM), April 2014-2015. Alvin Zafra memamerkan karya serinya tentang figur-figur pejuang Filipina yang mati ditembak. Ia menggambar Pepe dan Marcial Bonifacio dengan menggunakan 5 peluru M16 di atas kertas amplas untuk masing-masing figur. Bagi Hahan, pilihan peluru dan kertas amplas sebagai medium sangat kuat untuk menyampaikan gagasan tentang bagaimana perjuangan kebebasan di Filipina terjadi. Berangkat dari inspirasi tersebut, Hahan kemudian lebih hati-hati dalam memilih medium untuk karya seninya. 

Perihal seni yang mulai menjadi hiburan, salah satunya sebagai objek foto, menjadi isu yang ia pilih untuk dieksplorasi. Konteks ini juga ia kaitkan dengan ketertarikannya sejak 2007-an, ketika kekaryaannya lebih banyak bersentuhan dengan dinamika pasar seni rupa. Hahan merasa bahwa praktik mengoleksi karya harus diperluas, tidak hanya milik kolektor privat saja. Oleh karena itu, pada 2016 ia memulai proyek Speculative Entertainment. Salah satunya adalah dengan memecah lukisannya menjadi beberapa bagian, agar publik dapat mengoleksi karya seni secara lebih demokratis. Lebih jauh lagi, pilihan objek-objek seperti proyek toys, t-shirt, dan affordable print menjadi kelanjutan upaya menjangkau publik seluas-luasnya. Satu poin penting yang Hahan katakan, 

“Bentuk-bentuk baru, objek-objek yang dekat sama kita itu adalah salah satu jalan untuk memperpanjang ide dari karya tersebut. … Aku ingin memperpanjang kemungkinan dari karya tersebut.”

Di tahun ini, Hahan sedang membuat commission work bekerjasama dengan Kota Dresden, Jerman. Dresden adalah salah satu kota di Eropa yang pernah menjadi tempat tinggal Raden Saleh selama 10 tahun. Di kota inilah pelukis modern Indonesia tersebut menemukan teman sejati dan gaya romantismenya. Pertanyaan seputar Raden Saleh selama di Dresden menjadi bekal Hahan untuk eksplorasi. Ia kemudian menemukan satu arsip foto daftar menu makanan Raden Saleh selama sebulan. Dari arsip ini Hahan kemudian berpikir bahwa bertahan hidup adalah satu hal yang paling dekat dan krusial bagi seniman. Tetapi justru dengan karya seni, kemungkinan bertahan hidup itu dapat dijembatani. 

Setelah melakukan studi arsip, perjalanan kemudian menjadi metode selanjutnya. Dalam perjalanannya Hahan menemukan sebuah lapidarium. Lapidarium secara umum dipahami sebagai sebuah ruang untuk menyimpan atau memamerkan monumen yang bersangkutan dengan kepentingan arkeologis. Dalam konteks Dresden, lapidarium yang Hahan temukan berfungsi sebagai ruang untuk menyimpan berbagai patung serta monumen lain yang rusak, atau yang tidak diinginkan secara ideologis. Ketika Perang Dunia II, Dresden beserta capaian karya di ruang publiknya diluluhlantakkan oleh sekutu. Sekarang, publik bisa mengakses benda-benda ruang publik yang masih tersisa tersebut melalui lapidarium. 

Format lapidariuim dipakai Hahan dalam proyeknya yang berjudul The Curious Deal ini. Semua hasil budaya yang ia temukan selama eksplorasi ia kumpulkan dan direpresentasikan dalam bentuk lukisan ukuran 280 cm x 900cm yang dipotong menjadi beberapa bagian. Publik Dresden dapat mengoleksi potongan-potongan lukisan tersebut dengan sistem barter; lukisan ditukar dengan objek serta cerita orang-orang yang berhubungan dengan bertahan hidup. 

Keterbatasan akses material hingga upaya memperpanjang kemungkinan karya menjadi satu perjalanan bagaimana Hahan memaknai medium karya seninya. Medium yang dekat dengan keseharian dan ingatan kolektif publik menjadi pilihannya untuk membicarakan satu elemen yang selalu membuat orang penasaran, yakni pasar seni rupa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Menjamah “Jalan Baru” Seni Rupa: Ngobrol dengan Irene Agrivina Widyaningrum

oleh Hardiwan Prayogo

Irene Agrivina Widyaningrum. Profilnya cukup mudah ditemukan di berbagai tautan jika kita ketik namanya di mesin pencarian google. Pun dapat sejenak disimak portal online archive IVAA: http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/irine-agrivina-widyaningrum. Seniman yang akrab disapa Ira ini meluangkan satu sorenya untuk ngobrol dengan tim IVAA. 

Pada kesempatan itu, kami langsung mengarahkan obrolan pada seputar topik yang sedang diangkat pada Newsletter edisi September-Oktober ini. Beberapa kata kunci yang kami ketengahkan seperti perluasan medium dan objek, distingsi sosial dan estetik seni murni dan terapan; apakah mungkin pembicaraan soal ini harus lebih maju dari pada sekadar mempersoalkan distingsi tersebut. Poin-poin ini coba kami obrolkan dengan Ira, seniman sekaligus kurator yang banyak bergelut dalam berbagai perluasan medium. Pengalamannya begitu nampak melalui karya-karya personal dan kolaborasinya bersama XXLab dan HONF (House of Natural Fiber), tetapi juga pengalamannya mengkurasi pameran seniman-seniman generasi terbaru.

Ira mengaku bahwa proses kreatifnya ingin senantiasa diperkaya dengan berbagai eksperimen atas bermacam medium. Ketertarikan utamanya pada desain, khususnya fashion, justru membawanya menemui pengalaman yang bisa dikatakan berbeda dari arus utama seni rupa. HONF, kolektif di mana ia aktif, memang memiliki prinsip medium is unlimited; bahwa medium dan tools adalah bagian dari seni itu sendiri. Sedangkan XXLab, kolektif lain yang dia bentuk bersama 4 rekannya, memiliki prinsip domestic hacking. Ini berangkat dari pengalaman kerja domestik, misal bahan-bahan dapur yang digunakan sebagai bahan-bahan laboratorium biologi. Pameran atas karya-karyanya juga memajang proses produksi, karena ia yakin bahwa proses di balik karya itu juga seni. Bagi Ira, kolaborasi seni dan teknologi adalah ketika dirinya melakukan hacking.

Hacking menjadi semacam kata kunci dari kerja kekaryaan Ira. Ini cukup menjawab pertanyaan di mana letak teknologi dalam praktiknya, karena bisa saja semua perangkat dikatakan teknologi jika fungsinya memang mempermudah kerja manusia. Hacking adalah prinsip kerja yang berangkat dari pernyataan bahwa teknologi yang membantu kerja manusia seharusnya bisa dibuat oleh siapapun dengan bahan yang murah, terlebih oleh mereka yang ada di ruang-ruang domestik. Melalui satu karya yang dipamerkan di NTU Singapura, Ira membuat fotobioreaktor dari bahan-bahan yang diambilnya dari IKEA. Pun eksperimennya di XXLab juga bermula dari gagasan untuk mengeksplorasi bahan-bahan rumahan. 

Gagasan ini bermula dari apakah mungkin seni melahirkan inovasi yang bisa diterapkan. Sebuah gagasan yang jelas bertentangan dengan pernyataan Theodor Adorno, bahwa “the function of art is its lack of function”. Pada masa Adorno, seni memang dinilai tidak bersifat sehari-hari, agar kita tidak mudah melupakannya seperti hari ini melampaui dan meninggalkan yang kemarin. Berkebalikan, Ira melihat praktiknya bisa ditujukan sebagai gagasan baru baik dalam ranah kesenian, teknologi, hingga sains. Dalam karya fotobioreaktor dari bahan IKEA, Ira meletakkan gagasan keseniannya pada representasi modern sosok dewi padi. Di samping itu, fotobioreaktor memang bisa digunakan dalam dunia pertanian. 

Terbiasa dengan pola penciptaan yang demikian, Ira menajamkan gagasan dan inovasinya dalam kerangka kerja yang lintas disiplin. Perlintasan pengetahuan ini dirasa berjalan cukup jauh meninggalkan infrastruktur dan ekosistem seni yang lebih konvensional. Ira mengaku bahwa yang lebih dapat mengapresiasi karyanya, baik secara finansial dan pemahaman atas konsep, adalah industri. Industri yang dimaksud Ira adalah brand fashion hingga telekomunikasi. Ini menarik karena dalam konteks objek, visual, dan konsep karya Ira sesuai dengan sifat produk massal. 

Ada logika berbeda dari nilai eksklusivitas yang ditawarkan oleh karya seni. Di satu sisi, Ira memprediksi bahwa ini adalah jalan lain dari rantai distribusi seni rupa yang dulu umumnya dijalankan oleh seniman-galeri/ kurator-kolektor. Ira memilih karyanya diapresiasi oleh brand-brand ini, atau setidaknya museum publik, dari pada karya menjadi collectible item yang hanya dimiliki dan bisa dinikmati oleh kolektor, atau kolega-kolega terdekatnya. Secara pribadi Ira lebih berkenan jika karyanya bisa dinikmati banyak orang. 

Pengalamannya menjadi kurator pun sedikit banyak mempertegas keyakinannya atas jalan ini. Seniman-seniman yang karyanya pernah Ira kurasi juga menempuh jalan yang kurang lebih sama. Ada kecenderungan bahwa seniman yang memulai karirnya 3-5 tahun terakhir, lebih menginginkan karyanya bisa diaplikasikan ke berbagai medium terapan. Selain itu kecenderungan berkarya dengan medium found-object juga terus berkembang. Praktik demikian memang akhirnya akan berbenturan dengan galeri seni rupa komersial. Pameran tunggal Dwiky KA (@dwikyka) yang dikurasi oleh Ira di HONF Citizen Lab, Juli 2019 lalu memang langsung menyasar pasar industri, seperti Land of Leisures (@lol.yk). Dengan langsung menjalin kerjasama sebagai commision artist untuk brand-brand demikian, seniman-seniman yang karyanya tidak terlalu dilirik publik seni rupa, tetap menemui muara pasarnya. Seniman-seniman lain yang juga menempuh jalan semacam ini adalah Ryan Ady Putra (@ryanadyputra), dan Ican Harem (@icanharem). Ira sendiri mengakui bahwa karya-karya mereka bisa saja dinilai cheesy dan tidak bernilai secara material, tetapi yang ditawarkan adalah gagasan. Meski gagasan adalah nilai yang terus akan dipertanyakan relevansi dan kontekstualisasinya.

Peluang menembus “jalan baru” ini memang terbuka. Semacam keniscayaan dalam perkembangan teknologi komunikasi digital. Jadi yang bergeser dalam wacana ini tampaknya terletak pada fungsi galeri, atau secara lebih luas, infrastruktur seni. Pertanyaan kemudian bisa dialamatkan pada infrastruktur kesenian: bagaimana menyikapi perluasan medium dan distribusi ini? Lantas di mana posisi kurator, kolektor, dan galeri?. 

Dalam obrolan sore itu, pertanyaan reflektif tersebut menjadi poin utama untuk dikontekstualisasikan dengan tema newsletter edisi September-Oktober 2019. Seperti yang diasumsikan di awal tulisan, barangkali perbincangan mengenai tema demikian tidak lagi mengulang soal distingsi terapan-murni. Perluasan rantai distribusi ternyata mempengaruhi nilai-nilai sosial dan estetis yang tersemat dalam karya seni. Termasuk institusi yang dahulu tunggal dan otoritatif membaptis apa itu seni, juga lambat laun kehilangan kuasanya. Meski demikian, pertanyaan yang tertinggal terletak pada fungsi gagasan, yang juga kerap mengiringi sebuah karya seni. Apakah dia menjadi nilai yang memang ingin dikampanyekan, atau justru menjadi pelumas laju distribusi karya seni ke pasar dan konsumen luas?

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Gurita dari Benang Itu adalah Mulyana

oleh Sukma Smitha dan Y. P. Jati

Gurita, koral, dan pernak-pernik kehidupan bawah laut lainnya menjadi visualitas yang erat dengan kekaryaan Mulyana. Seniman kelahiran Bandung, 1984 ini menggunakan benang dan kain sebagai medium untuk menciptakan karya-karya tersebut. Bukan tanpa alasan, kekaryaannya didasarkan atas refleksi perihal identitas dan peran entitas transendental secara personal yang telah menuntunnya kepada skena seni rupa kontemporer. Mulai dari masa kecil, hidup di Pondok Pesantren Gontor, menjadi mahasiswa di Pendidikan Seni Rupa UPI, Bandung, hingga sekarang yang sudah melanglang buana ke banyak tempat untuk pameran. Ia lebih memilih bawah laut dari pada daratan. Dalam konteks materialitas seni rupa kontemporer, Mulyana tidak begitu peduli karyanya dilabeli dengan kategori apa. Yang jelas, ia cukup yakin mengatakan bahwa itu semua hanyalah permainan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.