Category Archives: Sorotan Dokumentasi

Perayaan Akhir-akhir Ini: Sebuah Impresi Awal

oleh Krisnawan Wisnu Adi dan Lisistrata Lusandiana

Biasanya semester kedua itu dipenuhi oleh perayaan-perayaan seni-budaya, entah pameran, pertunjukan, seminar, festival dan lain-lainnya. Juga, semester kedua identik dengan bulan-bulan wisata. Banyak wisatawan mancanegara maupun domestik yang piknik menikmati waktu luang. Wisata dan perayaan seolah menjadi paket liburan yang menyenangkan. 

Wabah corona kemudian memukul berat dunia perayaan dan wisata sejak awal 2020. Meski begitu, pada semester kedua ini suasananya agak beda. Wisata memang masih belum seramai biasanya, tapi tidak untuk perayaan. Ada beberapa hajatan seni-budaya yang tetap digelar dengan menyesuaikan situasi yang serba terbatas. Sebagian besar mengandalkan wahana daring, sebagian lainnya mencoba luring. Dua-duanya seolah sama-sama gagap. Yang daring susah payah mengupayakan komunikasi virtual secara maksimal, yang luring kesulitan menghadapi publik yang tidak sepenuhnya menerapkan protokol kesehatan dan pendaftaran kunjungan. 

Kami cukup penasaran, membayangkan bagaimana perayaan yang biasanya dipenuhi kerumunan orang di suatu tempat tertentu, harus berhadap-hadapan dengan perubahan saat ini. Dinamika keruangan macam apa yang muncul? 

Merayakan Yang Virtual

Festival Sumonar bisa dibilang cukup getol menyambut perubahan sosial akhir-akhir ini. Secara khusus, melalui tema ‘Mantra Lumina’ (5-13 Agustus 2020) festival seni cahaya ini mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan baru dari ruang maya. Kemungkinan baru yang dimaksud adalah interaktivitas. 

Melalui “Optimisme dalam Hiperteks” dalam e-katalognya, Sujud Dartanto sebagai kurator mengurai bahwa acara ini bukan acara dokumentasi dari karya-karya yang terekam, namun, melalui wahana ‘online’ ini makna ritual akses sesungguhnya sudah berbeda dengan ritual akses dalam cara ‘offline’. Ritual akses secara ‘online’ menandai cara mengada (ontologi) acara ini yang berbeda dengan cara mengada ‘offline’. Cara mengada berdampak pada bentuk presentasi dan interaksi yang terjadi. Pengakses akan membuka laman situs, berselancar di dalamnya, dan menikmati karya-karya ‘architectural projection/ video mapping’ dan instalasi cahaya dengan kebebasan melakukan ‘play’ kapan saja, di mana saja. 

Festival Sumonar memandang kultur digital macam ini sebagai peluang dan inspirasi dari keniscayaan perubahan. Menegaskan pengalaman estetika baru, ketika karya bisa terus direproduksi, disebarkan secara massif, dan bahkan direspon oleh pengunjung. 

Galeri Nasional melalui pameran dua tahunannya, Manifesto, juga tak kalah ketinggalan merespon perubahan besar ini. Untuk perayaan Manifesto VII (8 Agustus-6 Desember 2020), Galeri Nasional menggelar pameran daring bertema ‘Pandemi’ yang menyuguhkan 217 karya video dari 204 peserta lolos seleksi. Semua berupa karya video. Melalui pameran ini, Galeri Nasional ingin melebarkan sebaran peserta pameran. Selain mereka yang punya karir seni, boleh mengirimkan karya. Harapannya, Manifesto VII mampu menjadi saksi sejarah, menandai zaman. 

Serentak virtual nampaknya jadi pemantik untuk mempertegas kultur teknologi era 2000-an ini. Bicara soal itu, ada tulisan menarik dari Antariksa, Nuraini Juliastuti dan Djudjur T. Susilo (2000) berjudul “NetArt: Penyelidikan Awal”. Tulisan yang dibuat untuk acara diskusi NetArt di Galeri Benda Yogyakarta pada 12 Juni 2000 ini bicara soal virtualitas dalam konteks pertemuan internet dan seni. 

Dengan merujuk gagasan Nicholas Mirzoeff, mereka menulis bahwa virtualitas merupakan ruang yang tidak nyata tapi tampak (that is not real but appears to be). Sesuatu yang berada di antara, seperti halnya ketika kita sedang bertelepon. Peralihan dari realitas eksternal tiga dimensional ke realitas internal poli-dimensi. Dalam konteks ruang sosial pameran, peralihan ini bergerak dari ruang sosial di mana pengunjung dapat mengakses karya (virtual antiquity), lalu representasi dari karya (pictorial space), hingga ruang mental pengunjung ketika representasi bertemu persepsi. 

Seiring berjalannya waktu, virtualitas bergeser dari ruang mental ke ruang arsitektur virtual, utamanya ketika internet hadir. Perbedaan menonjol terletak pada interaksinya. Pengunjung punya kontrol untuk merespon karya. Pengalaman estetik bukan lagi perihal kontemplasi, melainkan aksi. Otentisitas dan orisinalitas sang seniman diruntuhkan. 

Sepertinya menarik kalau kita coba hadapkan penyelidikan awal 20 tahun silam itu dengan fenomena hari ini. Mari kita lihat kembali Festival Sumonar. Ada sekitar 25 seniman yang terlibat: 11 untuk projection mapping dan 14 untuk instalasi cahaya. Semua karya itu ditampilkan secara daring melalui website Festival Sumonar. Jika kita lihat dengan paradigma virtualitas dalam pengertian ruang arsitektur virtual, kebebasan pengunjung memang menonjol. Kita dapat leluasa menentukan kapan akan menyaksikan karya-karya tersebut. Ruang pamer virtualnya pun begitu artifisial; berdiri di tengah perempatan 0 km Jogja melalui layar, bebas mau dari kiri atau kanan sembari memilih ruang mana yang mau kita tengok. Festival Sumonar nampak betul-betul menyambut perubahan besar ini secara serius. Mereka membangun secanggih mungkin arsitektur ruang virtualnya. 

Akan tetapi dalam hal interaksi dengan karya, setidaknya hanya ada satu karya yang betul-betul menunjukkan aspek itu. “E-xorcism: A Self Digital Exorcism” dari Krack Studio. Karya berwujud video ini menampilkan ‘mantra’ yang diambil dari percakapan keseharian yang disesuaikan dengan aura pengunjung. Masing-masing penglihat akan melihat warna aura yang berbeda, begitu pula mantra-mantra dan musik yang muncul setelah mengklik tombol ‘interact with artwork’. Namun, jika kita cermati keseluruhan karya dalam pameran ini, rasa-rasanya belum menciptakan interaktivitas yang betul-betul melahirkan reproduksi lanjut oleh pengunjung. Seolah, Festival Sumonar belum terlalu ikhlas kalau orisinalitas karya dicabut begitu saja. Memang ini perkara rumit, apalagi berkaitan dengan teknologi digital yang butuh kemahiran berbeda dari produksi seni non-NetArt. 

Manifesto VII dari Galeri Nasional, meski juga ada dalam posisi yang sama, punya fokus yang agak lain. Mereka memanfaatkan metode daring untuk menghapus sekat antara seniman profesional dengan yang bukan. Ada karya-karya yang dibuat oleh dokter, guru, pegawai, ibu rumah tangga, perawat dan pelajar. Tepat sekali kalau gebyar virtual ini dipandang sebagai momen menghapus sekat. Akan tetapi entah kenapa hanya karya berbentuk video yang diterima. Argumen ‘mengutamakan durasi’ seperti yang dijelaskan di pengantar-pengantarnya terasa kurang meyakinkan, dan agak bertabrakan dengan kemungkinan-kemungkinan lain dari wacana seni dan internet. 

Dua perayaan di atas, dan mungkin juga beberapa perayaan lainnya, menyambut ‘yang virtual’ secara lebih tegas. Jika perubahan ini menjadi rezim ke depan, nalar keruangan seni tentu akan semakin kompleks. Memang, interaktivitas baru sebagai kemungkinan yang dibayangkan mungkin belum sepenuhnya NetArt, kalau meminjam gagasan dalam tulisan Antariksa dkk. Akan tetapi, atas nama eksperimentasi seni, perayaan ‘yang virtual’ ini sangat patut diapresiasi. 

Arus Balik: Refleksi dan Kritik atas Ruang yang Timpang

Tak semua perayaan getol menyambut gebyar virtual. Ada beberapa perayaan yang bergerak dengan dinamika keruangan yang berbeda. 

ArtJog dengan tema ‘Resiliensi’ mencoba menempatkan hajatan pada 2020 ini sebagai momentum refleksi, memikirkan ulang perjalanan mereka selama 12 tahun. “Kami memberanikan diri untuk menyelenggarakan lagi bukan karena latah untuk mengikuti tata kebiasaan baru. Festival tahun ini tidak hanya didasari oleh keinginan untuk bangkit, tapi lebih pada upaya untuk menguji kembali ketahanan kita, melihat lagi apa-apa yang sudah kami capai sebagai sebuah festival yang telah 12 tahun berjalan. Kami juga ingin melihat apa yang bisa kami perbuat di tengah situasi yang masih tidak menentu ini. Kami harus bisa beradaptasi dengan berbagai keadaan, bahkan di masa yang sulit sekalipun”, ungkap Heri Pemad dalam press release

Selain menggunakan platform online untuk menampilkan karya, mereka tetap menyiapkan mekanisme pameran secara fisik di Jogja National Museum dengan protokol kesehatan. Nampaknya mereka belum mau terlalu yakin bahwa ruang arsitektur virtual betul-betul menjamin pengalaman estetik. Pembauran luring dan daring jadi pilihan.

Kehati-hatian mereka ini begitu nampak dari pembukaan pamerannya. Dikemas dalam bentuk videotaping, sudut-sudut ruang Jogja National Museum tetap menjadi latar tempatnya, bukan green screen. Diawali dengan ruang demi ruang yang kosong, pernyataan dan sambutan dari kurator, seniman, hingga pejabat pemerintah dipantulkan ke tembok menggunakan proyektor. Elemen fisik seolah tetap ingin dihadirkan, sebagai kehati-hatian sekaligus kerinduan. 

Sikap untuk tidak terburu-buru itu semakin dipertegas dengan refleksi yang muncul dari beberapa seniman yang bicara. Salah satunya adalah Ugo Untoro, “Karya seni memang tidak bisa langsung berhubungan atau memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Sekarang ketika perkembangan teknologi demikian cepatnya, saya melihat ada gejala makin menjauhnya perupa dengan masyarakatnya. Perupa lebih banyak terlibat atau melibatkan diri dalam art market daripada melibatkan diri dengan masyarakat, walaupun ada beberapa komunitas yang turun langsung ke masyarakat.” Di tengah gebyar virtual ini, ArtJog mengajak publik seni untuk selain berefleksi juga mengkritik jagat seni itu sendiri. 

Sikap yang lain juga muncul dari kolaborasi biennale (Jakarta, Jogja, dan Makassar). Ketika solidaritas global dielu-elukan bersamaan dengan gebyar virtual yang serentak, mereka tetap mencoba untuk mengajukan kritik atas internasionalisme. Kritik yang sempat panas pada awal masa pandemi mereka teruskan melalui jalan kesenian. Secara spesifik tawaran ini muncul dari narasi yang dibawa oleh Biennale Jogja dan Makassar Biennale. Kalau Jogja mengusulkan ‘menggeser pusat’ dari ketimpangan sumber daya alam dan ekonomi dunia (melanjutkan agenda Biennale Equator-nya), Makassar mengajak merespon lebih lanjut praktik-praktik pengobatan lokal yang muncul kembali sebagai tanda kerentanan sistem global. Jakarta, lebih menarik problem pandemi ini ke ranah yang luas, seperti disrupsi digital, krisis lingkungan, hak asasi manusia, dsb. 

Semacam arus balik, tak mau terburu-buru menyambut virtualitas baru. Entah karena memang tak mau dicap latah atau tidak, perayaan-perayaan dalam wilayah ini justru ingin mengajak publik untuk merayakan optimisme dengan cara lain. Bahwa ada persoalan ketimpangan dan perebutan ruang yang terus bergulir, seiring dengan gerak maju kultur teknologi digital. 

Berada di frekuensi yang sama, beberapa bulan yang lalu (Juni hingga pertengahan Agustus 2020) juga telah digelar Kongres Kebudayaan Desa di Panggungharjo, Bantul, DIY. Acara ini digelar oleh Sanggar Inovasi Desa yang bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemendesa (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), dan GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit). Pandemi memantik inisiatif perlawanan dan perumusan tatanan baru kemasyarakatan. Desa menjadi titik awal gerakan ini, karena desa diyakini sebagai entitas terdekat dengan pemerintahan. 

Berawal dari riset dan diperkaya dengan serangkaian diskusi webinar, kongres ini berupaya untuk membayangkan tatanan baru yang berangkat dari desa dengan segala persoalannya. Langkah konkret yang disasar adalah pembentukan RPJMDes. Festival Kebudayaan Nusantara sebagai sebuah perayaan juga digelar untuk memeriahkan niat ini, sekaligus menguatkan representasi desa-desa sebagai ruang yang dipinggirkan. 

Kita tahu bahwa desa sempat mendapatkan angin segar dengan adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014. Bertriliun-triliun uang digelontorkan untuk mendukung gerak hidup masyarakat desa yang telah lama terpinggirkan. Bukan tanpa persoalan, kehadiran UU itu juga tak menyiutkan jumlah kasus korupsi di birokrasi pemerintah desa. Ditambah lagi, perkembangan infrastruktur dan pemasukan dari sektor wisata seolah sudah sah mewakili inisiatif dari bawah. 

Melalui Kongres Kebudayaan Desa, warga berupaya untuk mendobrak tekanan-tekanan ini, menempatkan kembali desa sebagai subjek negara. Tak hanya mengutamakan sektor wisata dan infrastruktur, problem kesenian dan ruang turut dibicarakan. Salah satunya, dalam diskusi webinar “Mengkonstruksi Ulang Alam Pikiran Nusantara sebagai Basis Peradaban dan Tata Nilai Indonesia Baru” pada 6 Juli 2020, Rachmi Diyah Larasati mengutarakan opininya yang relevan dengan konteks perayaan dan dinamika keruangan saat ini. Bahwa seni dalam konteks gebyar virtual harus betul-betul dicermati; seberapa jauh mampu menjawab tantangan di dalam konteks konstituen desa. 

Setidaknya ada dua kecenderungan. Pertama, perubahan sosial yang ditandai dengan serentak virtual disambut dengan cukup tegas. Bahwa kultur teknologi digital sebagai keniscayaan harus ditanggapi dengan pencarian segala kemungkinan. Ruang arsitektur virtual menjadi eksperimentasi awal untuk mengupayakan interaktivitas baru dalam jagat perayaan kebudayaan. Meski, kecurigaan-kecurigaan soal klaim, latah, dan lain-lainnya tetap penting untuk mengawal hasrat ini. Kedua, lebih pada suasana peralihan, perubahan sosial ini ditanggapi dengan begitu hati-hati. Bahwa wacana dan praktik alih wahana tak melulu soal ruang arsitektur virtual, melainkan juga persoalan ruang sosial yang timpang hingga kritik atas ekosistem seni itu sendiri yang jangan-jangan memang bobrok, arogan tapi rentan. 

Masing-masing perayaan mungkin sudah menentukan posisinya yang beda satu sama lain. Yang jelas, ada satu benang merah. Semegah atau secanggih apapun perayaannya, persoalan kedekatan dunia seni-budaya dengan ruang sosialnya akan terus jadi pekerjaan rumah, tak cukup hanya jargon. Kurang lebih seperti itulah impresi awal kami setelah mencermati perayaan dan dinamika keruangannya akhir-akhir ini. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Meraba Wajah Praktik Seni-Budaya di Atas Tanah yang Bergeser: Catatan Sederhana tentang Pengarsipan di Kala Pandemi

Oleh Lisistrata Lusandiana dan Krisnawan Wisnu Adi

Semakin ke sini, ingatan menjadi semakin berharga tapi juga semakin sulit dikelola. Percepatan dunia yang dimulai oleh revolusi digital seolah membuat kita semakin gelagapan berurusan dengan ingatan, kesenian, dan bahkan peristiwa. Harapan banyak orang bahwa era teknologi digital dapat mengabadikan banyak hal di ‘ruang angkasa’, beriringan dengan potensi hilangnya ingatan di belantara data, atau paling tidak tersesat atau keracunan di dalamnya. Itulah tantangan pengarsipan sekarang.

Tantangan macam itu semakin dipertegas oleh kehadiran pandemi saat ini. Arus dunia digital makin dipercepat ketika ‘jaga jarak’ menjadi kebiasaan. Interaksi virtual menjadi kebutuhan yang membludak. Segala cara hidup beserta perspektifnya seolah sedang diombang-ambing di atas tanah yang bergeser tanpa bisa kita raba dengan jelas arahnya. 

International Council on Archives (ICA) mendeklarasikan pentingnya pengarsipan di tengah situasi pandemi. Bahwa tugas untuk mendokumentasikan tidak berhenti semasa krisis. Kehadirannya justru jadi lebih penting sebagai sumber historis untuk melihat lagi bagaimana negara, masyarakat dan komunitas internasional menghadapi krisis. Mengafirmasi pernyataan UNESCO, mengubah ancaman Covid-19 menjadi peluang untuk pendokumentasian, karena arsip adalah sumber terpercaya untuk menjamin keamanan dan transparansi administratif. Lebih spesifik, arsip dan manajemennya menjadi elemen kunci untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 dalam kaitannya dengan akses informasi.

Pernyataan ICA terkait peran pengarsipan di tengah pandemi yang menjadi lebih penting dan mendesak tersebut, tentu saja tidak salah. Tetapi tidak bisa begitu saja kita terima mentah-mentah. Dalam pernyataannya, ICA lebih banyak didorong oleh kepentingan-kepentingan di sekitar perwujudan tata kelola pemerintah transparan, terbuka dan terukur. Karena hal-hal itulah yang menjadi prasyarat demokrasi. Singkat kata, pengarsipan untuk mendorong praktik good governance. Di Indonesia, perihal ini juga cukup konkret, bisa terlihat dari sengkarut penyaluran bantuan. Akan tetapi, yang menjadi tantangan saat ini yaitu bahwa kita juga perlu menempatkan urgensi pengarsipan, tidak hanya di hadapan kepentingan good governance. Tantangan kita saat ini ialah menempatkan urgensi pengarsipan di atas tanah kebudayaan. 

Kebutuhan merekam peristiwa juga muncul untuk kepentingan nilai kesejarahan dalam koridor disiplin ilmu. A Journal of the Plague Year dari School of Historical, Philosophical and Religious Studies, Arizona State University, melalui laman Share Your Story, mengundang publik untuk mengirimkan arsip mereka yang berkaitan dengan pandemi dalam format digital. Dengan mengantongi keyakinan bahwa penting untuk membayangkan apa yang bisa ditulis oleh para sejarawan mendatang mengenai pandemi, arsip sudah sedari lahir diciptakan untuk kepentingan historis. Orientasi partisipasi publik dengan pandangan sejarah masa kini (history of the present) menjadi kecenderungan yang semakin dipertegas di masa pandemi ini. 

Tidak hanya dilakukan oleh institusi-institusi formal dan melulu berorientasi administratif serta historis, inisiatif pendokumentasian juga dilakukan oleh individu dengan orientasi personal, sepersonal bercerita layaknya kultur sosial media. Rebecca A. Adelman melalui Coronavirus Lost and Found: A Pandemic Archive, mencoba mengundang publik untuk membagikan cerita tentang apa yang hilang dan lahir sebagai habitus baru. Inisiatif ini ia lakukan atas dasar ketertarikannya terhadap peran emosi dalam situasi penderitaan dan bertahan hidup. Selain itu, ada juga betweenyounme.nl oleh Mirjam Linschooten. Melalui laman ini, Mirjam mengajak publik untuk membagikan cerita tentang perubahan objek (personal) apa yang terjadi ketika pandemi. Perhatian atas inisiatif pengarsipan secara individual ini muncul atas dasar kebutuhan orang untuk berbagi cerita, dan/ atau impresi personal. 

Sembari terus berusaha mewujudkannya, kami percaya bahwa pengarsipan harus selalu kontekstual. Ketika semua praktik seni bergeser karena pandemi, kami mencoba untuk merekamnya. Tentu saja tidak mudah untuk merekam praktik-praktik seni-budaya yang bergeser ini, ketika hampir semua mendadak virtual. Akses memang mudah, tetapi agresivitas informasi tak bisa dihiraukan. Oleh karena itu, perlu kami akui bahwa bukan keutuhan dan kemapanan catatan peristiwa yang kami sasar, melainkan tangkapan atomistik tentang bagaimana ekosistem seni-budaya bertarung dengan keadaan, yang mungkin dapat menjadi kontribusi refleksi serta produksi pengetahuan kini dan kelak. 

Dari data-data yang kami kumpulkan, baik itu dari media massa, publikasi sosial media, hibah arsip dari publik, webinar, dan sedikit wawancara, ada tiga klaster yang kami tawarkan kepada publik sebagai bingkai. Pertama, Semesta Bertahan: praktik-praktik bertahan hidup yang dilakukan oleh para pegiat seni-budaya, seperti solidaritas pangan, pameran merespon pandemi secara tematik untuk kepentingan kekaryaan dan donasi, advokasi dan kerumitannya, serta bursa dan arisan karya. Kedua, Olah-alih Medium dan Kajian: beberapa pameran yang beradaptasi menggunakan platform digital serta pembicaraan di seputar itu. Ketiga, Potret Pustaka: tentang bagaimana dunia literasi berdinamika di saat pandemi. 

Pengarsipan yang kami lakukan tentu tidak bisa menjadi acuan tunggal untuk melihat dinamika ekosistem seni-budaya semasa pandemi. Meski demikian, paling tidak kami mencoba untuk meraba wajah praktik seni-budaya, terutama dari tradisi seni visual yang juga sedang berupaya beradaptasi dan mempertahankan nafasnya. 

Pengarsipan tidak hanya menjadi penting di atas tanah yang sedang bergeser. Bahwa sesungguhnya, ingatan akan selalu memiliki urgensinya ketika manusia belum punah. Tanpa menunggu pandemi, ingatan selalu menyimpan kenyataan bahwa kita selalu hidup di tengah bayang-bayang krisis. Kerentanan kita di kala pandemi justru menunjukkan bahwa mungkin kita selalu menyangkal, mengabsenkan keterdesakan untuk keterdesakan lain yang tidak jarang hadir dari luar. Merekam ingatan dan peristiwa di masa pandemi setidaknya menjadi titik bagi kita untuk mengakui kerentanan dan memikirkan ulang segala keterdesakan; menilik kembali segala pembicaraan dan praktik seni, bahkan persoalan-persoalan fundamental seperti ritme dan cara hidup yang sedang bergeser ini. 

Untuk melihat sebaran data Semesta Bertahan, silakan klik link checklist ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Stay Safe, Stay Tune

Satu hal yang jelas di tengah ketidakjelasan situasi ini adalah jauhi keramaian. Ada yang bekerja dan belajar di rumah, namun ada pula yang terpaksa tetap beraktivitas di luar dengan segala keterbatasan. Kadar kebosanan jadi membuncah. Untuk itu, tim redaksi IVAA memberi rekomendasi koleksi arsip video yang dapat ditonton di rumah atau di sela jam kerja. Semoga beberapa video berikut dapat menemani teman-teman sekalian. 

Wawancara dengan Gina Lubis
“Bapak saya itu tipe orang yang rajin mengarsip,” ujar Gina, putri seorang pelukis kenamaan Batara Lubis. Semenjak kepergian bapaknya, tanpa tahu banyak kisah masa lalu beliau secara detail, Gina memulai merawat arsip-arsip yang ditinggalkan, dari lukisan, sketsa, hingga tulisan-tulisan. Gina banyak bercerita tentang salah satu anggota Sanggar Pelukis Rakyat ini. Mulai dari sosok beliau yang rapi, kebiasaan baca, kisah kasih dengan istrinya, kemandirian & kesederhanaan, hingga persahabatannya dengan para maestro seperti Hendra Gunawan, Affandi, hingga Joko Pekik.  Sebagai anak, Gina bangga dengan ayahnya yang membuktikan pemikiran dengan karya. Meski dulu tidak diperbolehkan belajar di ISI, Gina yakin bahwa peduli dengan seni itu tidak harus sekolah seni. 

 

Seni Masa Kini: Catatan tentang Kontemporer – Mitha Budhyarto – #1
Mitha Budhyarto dalam Seri Ceramah/ Diskusi Guru-Guru Muda sesi 5, bertempat di Langgeng Art Foundation, 13 Desember 2014, memaparkan kajiannya mengenai ‘kekinian/ kontemporer’ secara filosofis. Dengan gagasan Peter Osborne dan Giorgio Agamben, ia menempatkan Sejarah_X karya Agan Harahap sebagai studi kasus. 

 

Seni Masa Kini: Catatan tentang Kontemporer – Mitha Budhyarto – #2 
Mitha Budhyarto (1983) adalah dosen dan kurator yang berbasis di Jakarta. Setelah menyelesaikan studi magisternya di bidang Filsafat Estetika di University of Sussex (2005) ia mendapat gelar doktoral di bidang Humaniora dan Kajian Budaya di University of London, Birkbeck College. Ia terlibat di beberapa pameran, seperti “Bandung New Emergence Vol. 5” (Selasar Sunaryo Art Space), “Swatata” (ruangrupa), “1 x 25 jam” (Rumah Seni Cemeti), dan “Exi(s)t” (Dia.lo.gue Art Space). 

 

Presentasi Prison Art Programs (PAPs)
PAPs adalah sebuah program seni kolektif  yang mempunyai ikatan kuat dengan memori penjara sebagai ide dasarnya untuk mengembangkan segala konsep dan teknik di seni rupa. Inisiatif program ini dibangun oleh Angki Purbandono dengan beberapa Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) lainnya (Berli Doni, Fatoni, Herman Yoseph, Irien Afianto, Agung Rusmawan, Amir Danial, Gunawan Wirdana dan Ridwan Fatkhurodin) yang bekerja sama dengan pembina utama (Bpk. Yhoga Aditya Ruswanto) dan pembina lainnya (Bpk. Marjiyanto, Bpk M. Syukron A., Bpk. Mulya Adiguna) di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas II A Yogyakarta pada bulan Mei 2013.

 

Gerakan dari Dalam – Seni Inkubasi Performatif
Acara ini diinisiasi sebagai sebuah ephemeral platform dengan basis pertukaran interdisipliner dan lintas budaya melalui beberapa rancangan program. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan pertukaran pengetahuan dan melakukan introspeksi ke dalam diri, dan melakukan eksplorasi nilai kritis terhadap permasalahan di sekitar kita dengan tetap menjaga sikap dan kesadaran sebagai manusia. Perkembangan mesin, sains dan teknologi dalam peradaban manusia hari ini berdampak kompleks, menciptakan ketidakselarasan walaupun bertujuan untuk memajukan kehidupan manusia di bumi. Pertambahan populasi manusia begitu cepat berkejaran dengan kebutuhan dasar yang membengkak, berkaitan dengan politik, ekonomi global, kekuasaan dan modal, perebutan sumber-sumber energi dengan memperalat ideologi, HAM, demokrasi, agama, dan hal-hal rasial.

 

MAKASSAR BIENNALE 2015 – TRAJECTORY
Sebuah video dokumentasi Makassar Biennale 2015 – Trajectory: Makassar dalam Peta Seni Rupa Indonesia. Pameran ini dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo, beranggotakan Faisal MRA, Nur Abdiansyah, Arham Rahman, dan Irfan Palippui. Bertempat di Gedung Kesenian Makassar, Rumata Artspace Makassar dan Gedung Celebes Convention Centre (CCC) Makasar, perhelatan seni ini digelar pada 17-31 Oktober 2015. 

Workshop Pengelolaan Arsip Fisik dan Koleksi Pustaka

oleh Santosa Werdoyo

Grogol merupakan sebuah dusun yang berjarak kurang lebih 28 km arah selatan Kota Yogyakarta yang terkenal dengan pariwisata pantai Parangtritis. Selain itu masih ada lagi, yakni gumuk pasir yang tentu saja sebagai salah satu magnet pariwisata di daerah paling selatan di Kabupaten Bantul. Selain pariwisata, Grogol juga menyimpan sejarah perjalanan Jenderal Sudirman yang kala itu singgah di Dusun Grogol, bergerilya selama perang revolusi. Pengetahuan sejarah itu hidup melalui cerita-cerita warga setempat dan petilasan berwujud rumah yang dulu jadi tempat istirahat Jenderal Sudirman dan para prajurit. 

Rumah singgah tersebut dimiliki oleh Lurah Hadi Harsono yang dulunya menjadi seorang tentara dengan pangkat terakhir kapten. Pak Hadi kemudian memilih mengabdi menjadi lurah dari 1947-1990. Begitulah tutur Nova, salah satu warga Grogol. Rumah tersebut sudah tidak ditinggali lagi oleh ahli warisnya hingga tidak terawat. Begitu juga dengan arsip-arsip administrasi kantor, foto dan pustaka seperti majalah, serta buku-buku yang ada di rak lemari rumah itu. 

Untuk tetap merawat pengetahuan beserta arsip dan situsnya, warga Grogol bekerja sama dengan IVAA menggelar workshop dan festival sejarah. Kegiatan warga seperti kandang kelompok, produksi makanan oleh ibu-ibu, dan wisata gumuk pasir juga menjadi praktik-praktik yang dibaca ulang sebagai bagian penting dari pengetahuan warga. 

Pada satu kali kesempatan, 11 Januari 2020, IVAA diundang untuk memberikan workshop seputar perpustakaan dan pengarsipan untuk para pemuda Dusun Grogol beserta para mahasiswa KKN UGM yang sedang bertugas di sana. IVAA berbagi pengalamannya mengenai bagaimana selama ini mengolah arsip dan koleksi pustaka. 

Acara dimulai pada pukul 21.00 di sebuah mushola. Pak Kamri, sebagai kepala dukuh, memberikan gambaran tentang kondisi buku dan arsip yang disimpan di dalam rumah singgah Jenderal Sudirman tersebut. Bahwa warga ternyata sudah menata buku dan arsip itu ke dalam beberapa kategori, yakni majalah, buku, foto, dan arsip administrasi. 

Sesi selanjutnya adalah materi seputar pengelolaan koleksi perpustakaan dengan tahap pertama, yakni Metadata Koleksi Pustaka. Tahap ini berisi inventarisasi koleksi pustaka dengan standar deskripsi judul, jenis (buku, majalah, katalog, dll), nomor ISBN, penerbit, tahun terbit, kolasi buku (tinggi, lebar, jumlah halaman), nomor panggil (dibedakan berdasarkan kebutuhan), bahasa, kota terbit, pengarang, subjek, asal, bulan inventarisasi, serta abstrak (gambaran singkat isi pustaka). 

Setelah Metadata Koleksi Pustaka, dilanjutkan dengan penyampulan dan labelling. Label yang ditempelkan di punggung buku memuat informasi tentang:

  • no panggil/ pengarang/ judul pustaka, contoh: 701/Ari/S (tidak berseri)
  • no panggil/ judul pustaka/ edisi/tahun, contoh: 705/G/16/2015 (berseri)

Tahapan selanjutnya adalah penyimpanan. Setelah selesai diberi label, koleksi pustaka tersebut ditata berdasarkan jenis pustaka (buku, majalah, katalog, dll) bersama dengan kategorisasi (seni, filsafat, sejarah, dll), yang mengacu pada nomor panggil yang tertera pada punggung buku.

Setelah berbincang soal pengolahan koleksi pustaka, perihal arsip fisik juga diceritakan. Tahap awal pengolahan arsip fisik IVAA adalah sortir berdasarkan jenis material, misal undangan, surat-surat, foto, dll. Setelah itu tim arsip membuat identitas arsip (kode kategorisasi) dengan format tema/ material/ no urut inventaris/ petugas. Contohnya sebagai berikut:
Tema: pariwisata (PW), kuliner (KL), sejarah (SJ), dll
Material: foto (FT), undangan (UN), poster (PT), surat (SR), dst
Nomor urut inventaris: 01, 02, dst
Petugas: santoso (SS), yoga (YG), dst
Identitas arsip: PW/FT/01/SS 

Setelah menulis identitas arsip, tahap berikutnya adalah menulis lokasi simpan, dengan standar informasi sebagai berikut:
Kode ruangan (A1, A2, dst), kode rak/ lemari (R1, R2, dst), kode box/folder (B1, B2, dst), kode tema (PW, KL, SJ, dst), kode no urut inventaris (01, 02, dst). Contoh lokasi simpan: A1/ R1/ B1/ PW/ 01.

Pengolahan data arsip kemudian dilanjutkan dengan inventarisasi berdasarkan standar deskripsi Dublin Core. Dublin Core merupakan satu set metadata yang dirancang untuk memudahkan sistem temu kembali data arsip. Contohnya demikian: identitas arsip (kode kategorisasi), lokasi simpan, pelaku (orang yang ada di dalam arsip), judul, tahun terciptanya arsip, jenis arsip (foto, undangan, surat, dll), ukuran, dan deskripsi.                                                                                                                                

Workshop ini menjadi upaya IVAA untuk berbagi cara pengelolaan koleksi pustaka dan arsip sebagai gambaran awal. Tujuannya adalah supaya beragam koleksi pustaka dan arsip yang dimiliki oleh warga Grogol dapat tertata dengan rapi dan mudah untuk dicari kembali keberadaannya. Akan sangat disayangkan jika arsip-arsip tinggalan lurah Hadi Harsono dan buku-buku yang sudah berusia tua tidak terkelola dengan tepat. Tentu, pengelolaan koleksi arsip dan pustaka dengan standar-standar di atas bukan menjadi satu-satunya cara untuk merawat pengetahuan. Itu semua hanya melengkapi apa yang sudah warga miliki, entah itu tradisi tutur atau praktik-praktik lain yang bersinggungan dengan pengetahuan-pengetahuan di atas.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Diskusi Panel: Ingatan Bergegas Pulang Hari 1 – Konteks Seni Rupa di Ranah Lainnya

oleh Prima Abadi Sulistyo

Diskusi Panel: INGATAN BERGEGAS PULANG sebagai satu rangkaian dalam pameran tunggal Suvi Wahyudianto di Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat (15/01/20) dimulai saat siang hari, sekitar pukul 14.00 WIB. Tema pertama dalam diskusi panel ini bertajuk “Konteks Seni Rupa di Ranah lainnya” yang dibuka dengan pidato kunci oleh St. Sunardi. Adapun panel 1 mengenai “Seni Rupa, Autoetnografi, dan Rekonsiliasi” dibahas oleh Anne Shakka dan Diah Kusumaningrum. Acara yang dimoderatori Muhammad Abe ini diawali dengan pembacaan puisi dari Suvi Wahyudianto. Pembacaan puisi oleh Suvi kemudian dilanjutkan dengan diskusi. 

Melalui pidato kuncinya dengan judul “Membangun Monumen Masa Depan dengan Jejak-jejak Masa Lalu”, Sunardi membicarakan pembacaannya atas karya Suvi. Sunardi menggunakan pendekatan sastra. Kesan Sunardi juga terlihat ketika menjelaskan bagaimana Suvi, melalui judul karyanya, membuat metafora. Yang dimaksud Sunardi sebagai jejak-jejak bukanlah sebagai tanda atau penanda dari diri Suvi. Ia menjelaskan bahwa sebagai sebuah jejak kita tak perlu untuk menafsirkan, memaknai atau mencari maknanya lagi. Dengan berangkat dari gagasan writing degree zero-nya Roland Barthes, Sunardi melihat bahwa karya Suvi ini sebagai image degree zero. Artinya, orang langsung paham dan mafhum, bahwa karya dari Suvi ini otentik tanpa ada embel-embel tafsirannya (sekali lagi bahasa/ gambaran yang mempunyai kekuatan jejak-jejak). Karena berada dalam tataran jejak-jejak, karya Suvi bisa menjadi rumah dan tempat tinggal kita. 

Dari karya Suvi ini, Sunardi mempunyai pandangan baru terkait rumah, yang jangan-jangan selama ini rumah adalah bagian dari jejak-jejak yang kita lalui. Rumah adalah kumpulan dari jejak-jejak yang bila ditafsirkan oleh penghuninya, maka mulai menjadi tempat yang tidak nyaman bagi si penghuni itu sendiri. Hal itu kemudian disambungkan dengan bentuk kekaryaan Suvi. Seperti rumah, karya Suvi bisa dilihat sebagai jejak dari si penghuni tanpa ada tafsiran-tafsiran lainnya. Apabila boleh saya tafsirkan, hal ini sebagai bentuk otentik karya Suvi Wahyudianto. Kita tahu bahwa Suvi adalah orang Madura. Bentuk karya-karyanya ini adalah pengalaman hidup seorang Madura yang diejawantahkan ke dalam bentuk lukisan dan seni instalasi (wujud dari pergulatan batin seorang Madura –studi kasus konflik Madura Dayak di Sampit medio 2000-an). 

Di dalam pidato kuncinya, Sunardi mengucapkan kalimat kritis nan puitis untuk kekaryaan Suvi: “sepertinya dari pangkalan ini, Suvi mau melawan fatwa dari Adorno”. Sebagai seorang Yahudi yang berlari ke Amerika, Adorno mengatakan bahwa setelah Auschwitz tidak ada lagi puisi. Bagi Sunardi, hal ini tidak berlaku untuk Suvi, karena setelah peristiwa Sambas masih ada puisi dan prosa. Puisi dan prosa Suvi bukan hanya dimaknai sebagai rangkaian kata penuh makna atau hiburan semata. Sunardi menekankan bahwa puisi dan prosa ini dapat dipahami sebagai bangkai-bangkai visual lirik yang menduduki posisi jejak. Melalui jejak kita bisa membangun rumah kembali dan koordinat yang kosong di jagad ini. 

Sunardi mencoba membicarakan kembali kejadian di Sambas waktu itu. Beliau mengatakan peristiwa yang terjadi 20 tahun lalu itu adalah peristiwa yang tidak mau diingat oleh kita, baik penyebabnya, kejadiannya, bahkan hal-hal pasca konflik itu. Sunardi menjelaskan melalui karya Suvi Wahyudianto kita mendapatkan kesempatan untuk berhadapan kembali dengan peristiwa yang selama ini tidak ingin kita ingat dan akui. Bukan melalui aspek sensasional maupun kengeriannya, melainkan pengalaman keruangan (diakronik) dalam berbagai suasana. Salah satu karya yang menarik menurut Sunardi adalah karya Suvi yang berjudul “Sapi dan Reruntuhan”. Dari karya itu kita seperti dilihat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kita lihat.

Dalam pidatonya, hal terakhir yang Sunardi ucapkan adalah bahwa sebuah eksplorasi dari masa lalu, yang dari sana bisa terbangunnya monumen masa depan, bukan sebuah masa lalu (sanctuary) yang cengeng. Sunardi menutup pidato kuncinya dengan nukilan perkataan Jacques Derrida: to forgive the unforgivable (mengampuni sesuatu yang tidak bisa kita ampuni).

Panel 1: Seni Rupa, Autoetnografi, dan Rekonsiliasi

Dalam diskusi panel 1 ini, Anne sedikit banyak membahas tentang autoetnografi. Metode Autoetnografi sama halnya dengan etnografi yang di dalamnya terdapat kajian budaya dan keseharian masyarakat tertentu. Ia menerangkan soal sejarah bagaimana cabang ilmu ini muncul, ketika kecenderungan subjektivitas individu mulai dihargai. Meski Anne merasa asing untuk menyoal seni, ia mencoba menggunakan metode autoetnografi untuk memahami karya Suvi. Meski demikian, Anne memang lebih banyak menjelaskan perihal metode ini, seperti kelebihan dan kekurangannya. Implikasinya adalah hubungan metode ini dengan kekaryaan Suvi tidak terlalu nampak. Anne hanya sedikit membahas pengalaman diri Suvi kecil dan proses penelitiannya saat berada di Pontianak dalam rangka mencari materi untuk berkarya. Tetapi poin menariknya adalah bahwa Anne cukup menekankan pentingnya metode ini untuk terapi atas peristiwa masa lalu bagi seorang seniman. 

Diskusi lalu dilanjutkan oleh Dian Kusumaningrum yang lebih membahas perihal rekonsiliasi.  Ia bercerita tentang pengalamannya saat menangani konflik dan rekonsiliasi di Ambon. Dian mencoba menjelaskan mengapa beberapa kelompok sering terjadi konflik. Salah satu penyebabnya adalah kelangkaan. Dian mengambil contoh konflik agama. Bahwa permasalahan identitas antar agama bukan menjadi faktor utama, tapi lebih ke arah klaim kebenaran dari masing-masing kelompok agama sebagai sesuatu yang langka, dan mengagungkan kebenaran tersebut. Jadi dalam permasalahan konflik tidak saja membahas permasalahan konfliknya tapi juga perilakunya. Dian juga menggambarkan perdamaian sebagai sebuah istilah yang tricky. Banyak unsur peyoratif dalam berbagai kesepakatan damai. 

Rekonsiliasi menurut Dian sendiri dibagi menjadi 2 garis besar. Hal pertama adalah soal hubungan dan yang kedua soal keberanjakan dari konflik sebelumnya. Di Afrika Selatan, tempat di mana rekonsiliasi antar kulit hitam dan kulit putih dianggap paling berhasil pun belum sepenuhnya terjadi peleburan (masih terjadi segmentasi pada sebagian warganya). Mengenai keberanjakan dari konflik masa lalu, Dian mencoba menghubungkan tema rekonsiliasi ini dengan karya Suvi “Menjahit Kertas” yang bermaknakan menjahit luka lama, berdamai dengan diri sendiri, dan membuka sebuah lembaran baru dari konflik yang terjadi di masa sebelumnya (metafora kertas yang dijahit oleh Suvi).

Kekerasan atau konflik masa lalu bagi Dian bukan menjadi sesuatu yang dilupakan. Dian menjelaskan bagaimana pada akhirnya kita justru melipat ingatan soal konflik.  Dian mengambil contoh konflik di daerah Ambon medio 2000. Pernah suatu ketika ada warga muslim yang ketika bertamu di rumah keluarga Kristen, mereka menghargai hidangan yang disuguhkan. Artinya, meski sedang terjadi konflik besar pun, ketika suatu kelompok atau orang sudah tidak lagi menganggap dirinya sebagai korban (victim), tanda-tanda rekonsiliasi akan terjadi. 

Mengenai kekaryaan Suvi Wahyudianto, Dian mengatakan bahwa Suvi telah selesai dengan metode autoetnografinya. Suvi sudah pada tahap membagikan hasil karyanya untuk kita tonton. Maka dari itu, ia tidak lagi memproduksi performans. Melalui proses bertemunya karya dengan publik, karya-karya Suvi telah memunculkan performativitas; ketika ada produksi dan reproduksi makna antara pelaku dan penonton.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Diskusi Panel: Ingatan Bergegas Pulang Hari 2 – Praktik Seni sebagai Praktik Pemberdayaan Diri dan Masyarakat

oleh Krisnawan Wisnu Adi 

Hari kedua diskusi panel pameran tunggal Suvi Wahyudianto kali ini diisi dengan dua diskusi panel dengan tema besar “Praktik Seni sebagai Praktik Pemberdayaan Diri dan Masyarakat”. Sebelumnya, sama seperti di hari pertama, dua diskusi panel tersebut dibuka dengan pidato kunci. Melalui pidatonya, Alia Swastika menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Suvi merupakan sebuah strategi untuk merawat ingatan dan membangun imajinasi visual dari ingatan atas identitas sosial; sebuah strategi yang bisa menjadi langkah produktif untuk pemberdayaan diri dan sosial. Masih senada dengan panel diskusi pertama di hari sebelumnya yang dibawakan oleh Anne Shakka, Alia juga menekankan peran metode autobiografi dan auto-etnografi sebagai upaya perbincangan diri dengan konteks di luar diri yang lebih besar. Salah satunya adalah sejarah. Praktik artistik yang melepaskan kisah-kisah personalnya, selain memunculkan ketegangan antara ruang privat dan publik, juga memberi kemungkinan sejarah dari bawah.

Sekilas menarik ke belakang, Alia mengatakan bahwa pada era Renaisans dan Modern, karya-karya bernuansa autobiografi muncul dalam bentuk potret diri hingga yang lebih menekankan memori di level personal. Karya-karya Rembrandt dan Van Gogh menjadi dua dari sekian banyak karya di wilayah itu. Alia juga mencontohkan kekaryaan dari Frida Kahlo yang mengupayakan kemungkinan-kemungkinan personalitas perempuan dalam sejarah seni. Lalu di dalam seni kontemporer, peran wajah dan tubuh mulai tergantikan oleh sejarah diri yang direpresentasikan melalui kehadiran benda-benda yang mempertanyakan kembali ingatan-ingatan beserta materialnya; mengajukan beragam pertanyaan-pertanyaan sembari mencari kemungkinan lain pasca ingatan.

Poin personalitas dalam singgungannya dengan konteks yang lebih luas di dalam pidato Alia mengantarkan partisipan ke diskusi panel kedua yang bertajuk “Melihat Arah Praktik Berkesenian Perupa Muda Hari Ini”, yang dimoderatori oleh Umi Lestari. Sigit Pius, sebagai pembicara, berangkat dari fenomena ‘sobat ambyar (sebutan untuk kawula muda yang akhir-akhir ini menggandrungi lagu-lagu Didi Kempot)’ yang sedang marak. Bagi Pius, seolah-olah sekarang ini kita hidup dalam satu ambiens; kita diminta untuk bersama-sama mengumpulkan air mata mewadahi penderitaan. Persis seperti apa yang para ‘sobat ambyar’ lakukan.

Ia menambahkan bahwa situasi semacam ini hanya mungkin terjadi ketika suatu kekuasaan memaksakan kehendaknya dan selalu mencari peluang melanggengkan pengaruh di tingkatan vertikal. Sementara di lapisan bawah, mereka berkumpul menangis menghimpun penderitaan. Begitu berbeda dengan jaman 1990-an. Karya-karya yang muncul cenderung bernuansa marah.

Aspek personalitas yang begitu kuat, seperti apa yang Pius utarakan tersebut, cukup senada dengan ungkapan Suvi, bahwa seluruh dimensi material dalam karya-karyanya memang menjadi medium refleksi perasaan. Meski demikian, Anton Rais agak kurang sepakat jika seolah nelangsa menjadi kecenderungan kekaryaan perupa muda saat ini. Ia lebih melihat bahwa mereka juga tidak jarang bersinggungan dengan isu-isu lingkungan, feminisme, dll.

Selain mengulas singkat soal kecenderungan praktik perupa muda, tim Cemeti juga menggelar diskusi panel ketiga dengan tajuk “Seni Berbasis Riset” – Penelitian Artistik dan Praktik Seni Lukis di Mata Perupa Muda, yang dimoderatori oleh Manshur Zikri. Ayos Purwoaji dan Arham Rahman hadir sebagai pembicara.

Bukankah seni itu selalu berbasis riset? Ini adalah pertanyaan yang membuka diskusi. Ayos juga menekankan hal sama, ketika praktik riset dalam kerja artistik sudah dilakukan oleh para seniman terdahulu. Soedjojono (seni lukis sebagai alat observasi sosial), Affandi (observasi di sebuah café di Perancis untuk bahan melukis), Dullah (sewaktu revolusi, menyuruh anak-anak didiknya melukis apa yang terjadi), seniman-seniman Lekra (metode TURBA), Moelyono (seni rupa penyadaran), dan di wilayah kampus (residensi atau observasi dulu untuk kemudian membuat karya).

Selain menekankan bahwa praktik riset dalam kerja artistik bukanlah hal baru, Ayos juga mengatakan bahwa wacana ini juga dekat dengan etnografi. Seperti halnya kedekatan Koentjaraningrat dengan lukisan. Di samping diakuinya beliau sebagai bapak antropologi Indonesia, ternyata Koentjaraningrat sedari kecil gemar melukis dan pernah beberapa kali berpameran. Tetapi apakah lukisan-lukisannya termasuk ke dalam lukisan/ gambar etnografis? Belum tentu.

Apakah riset artistik selalu, bahkan hanya, berhubungan dengan etnografi? Agaknya Arham menjawab tidak. Ia dengan tegas membedakan antara riset artistik dengan seni berbasis riset. Yang terakhir itu merupakan praktik yang sering dilakukan oleh seniman-seniman kontemporer. Di sisi lain, riset artistik adalah penelitian berbasis praktik. Bukan seniman mengkaji subjek lain, melainkan dirinya sendiri; mengkaji praktik artistiknya. Si seniman mensimulasikan kegiatan dalam jangka panjang, bukan memanggil kembali ingatan-ingatan masa lalu yang dikawinkan dengan fenomena sekarang.

Arham menambahkan 3 poin penting, bahwa riset artistik harus (1) eksperimental, (2) self-reflective & self-critical, dan (3) metodologis, yang sebenarnya poin ketiga ini belum mencapai kesepakatan pendapat. Alih-alih membicarakan bagaimana riset artistik dilakukan di skena kesenian kita, Arham justru mengatakan bahwa lebih baik riset artistik tidak masuk dulu, karena kita masih belum matang dengan banyak hal.

Diskusi ini setidaknya dapat memberi penjelasan ketika banyak kawan-kawan yang menggunakan istilah riset artistik dan seni berbasis riset dalam pengertian sama. Kecenderungan semacam itu justru menebalkan pengaruh elemen akademis/ riset/ logis-konseptual di dalam praktik seni kontemporer. Sementara, karya-karya seni dengan pendekatan demikian bisa juga disebut, meminjam perkataan Ayos, karya seni kuasi-antropologis (etnografis).

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Warisan Sudjojono

oleh Gagas Dewantoro

Lukisan terkenal dari seorang Sudjojono memiliki kesan tersendiri khususnya terhadap masyarakat urban pada masanya. Sebagai seseorang yang dianggap menjadi perintis seni rupa modern Indonesia, ia sangat berperan dalam membingkai perdebatan tentang perlunya bentuk visual yang khas “Indonesia”. Estetika dan perannya sebagai guru serta penulis memiliki dampak yang mendalam pada perkembangan seni rupa modern dan kontemporer. 

Pada 20 Januari 2020 Program Studi Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada mengadakan seminar bertajuk “Representation of Urban Culture in Visual Art” yang disampaikan oleh Edwin Jurriens, dosen dari Melbourne University. Hadir juga sebagai penanggap utama, yaitu Aditya Adinegoro. Yang menarik pada diskusi ini adalah tema kultur urban yang mengekspresikan seluruh kebudayaan dan aktivitas masyarakat perkotaan.

Salah satu karya fenomenal Sudjojono yang merepresentasikan kehidupan urban serta sosio-politik pada masanya yaitu “Angkatan 66”. Lukisan ini menggambarkan situasi setelah kejadian G30S yang telah menurunkan Soekarno. Dari lukisan ini Sudjojono menampilkan seorang mahasiswa menggunakan jas merah yang sedang berdemonstrasi menghadap istana merdeka dan sebelah belakangnya adalah bundaran HI atau sekarang lebih dikenal sebagai Monumen Selamat Datang di Jakarta. Selain itu, Sudjojono juga menggambarkan situasi rakyat urban yang kacau pasca orde lama, juga pembangunan Jakarta yang begitu masif. 

Hal menarik lainnya dari Sudjojono yaitu ketika dirinya menolak seni lukis yang lahir dari kebutuhan di luar lingkungan bangsa Indonesia, seperti dari turis-turis maupun orang-orang Belanda yang sudah pensiun. Seni lukis bagi Sudjojono harus muncul dari dalam hidupnya sehari-hari termasuk budaya urban yang ada di sekitarnya. 

Meski demikian, Sudjojono tidak hanya melukis kehidupan budaya urban namun juga gunung, bukit, jalan, dan pohon kelapa. Sudjojono berusaha melukiskan kesadaran tentang alam Indonesia, bebas dari cita rasa turisme. Misal, jika dalam suatu pemandangan yang hendak dilukiskan terdapat menara listrik atau hal-hal lain yang mengganggu pemandangan (menurut cita rasa turis),Sudjojono akan tetap menggambarnya. Lukisannya memiliki karakter goresan ekspresif dan sedikit terstruktur, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Pada periode sebelum kemerdekaan, karya lukis Sudjojono banyak bertema semangat perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah. Setelah jaman kemerdekaan karyanya berubah menjadi bertema pemandangan alam, bunga, cerita budaya dan aktivitas kehidupan masyarakat urban. 

Edwin selanjutnya mencoba menitikberatkan karakter ‘urban’ dalam lukisan Sudjojono tersebut sebagai satu poin penting ketika membicarakan karya-karya seni rupa kontemporer. Bagi Edwin representasi urban seperti dalam beberapa karya Sudjojono seolah terus direproduksi, seolah terwariskan pada karya-karya beberapa seniman kontemporer. Misalnya saja pada karya Agan Harahap yang berjudul sama yakni, Maka Lahirlah Angkatan 66. Jika Sudjojono memakai medium lukis, Agan memilih fotografi. Namun, selain judul, ikon yang dimunculkan juga sama, yakni seorang remaja laki-laki yang membentangkan tangan dalam rangka demonstrasi. Selain karya Agan, tangkapan fenomena urban juga muncul dalam karya Yuswantoro Adi yang berjudul Every Place is The Playground. Bagi Edwin, karya ini senada dengan karya Sudjojono yang berjudul Kota Jakarta. 

Dalam diskusi ini, sebagai bagian dari riset disertasinya, Edwin masih dalam tahap berasumsi bahwa warisan Sudjojono seolah hidup di tengah-tengah kekaryaan beberapa seniman kontemporer melalui representasi kultur urban yang dihadirkan. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Pembukaan Pameran “Masa Lalu Belumlah Usai”

oleh Y. Pramana Jati

Hujan deras mengawali pembukaan pameran poster “Masa Lalu Belumlah Usai” di pendapa Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul. Terlalu deras, sehingga membuat acara yang seharusnya mulai pada pukul 19.00 WIB baru dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Pameran yang dikuratori oleh Mikke Susanto bersama Ko-Kurator Tomi Firdaus ini memamerkan 546 lembar poster dari berbagai pameran seni rupa yang pernah terselenggara, dengan rentang waktu antara 1974 hingga 2019 dan semuanya merupakan koleksi Dicti Art Laboratory. Ketika acara dimulai langit masih mengirimkan rintikan hujan menemani dinamika pembukaan pameran ini. Acara dibuka dengan pertunjukan musik dari Band TUDEIS binaan Sekolah Alam “Nurul Islam” Sleman, D. I. Yogyakarta, serta solo performance dari Bintang. Setelah itu dilanjut sambutan oleh Totok Barata selaku pengelola Rumah Budaya Tembi dan Trisna Pradita Putra sebagai sekretaris Prodi Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta.

Pembukaan pun usai dan diskusi sebagai rangkaian acara utama pada pembukaan kali ini akhirnya dimulai, walaupun banyak kursi yang masih kosong dan hanya terisi di satu sisi saja. Diskusi yang dimoderatori oleh Tomi Firdaus ini menghadirkan tiga pembicara yakni Mikke Susanto sebagai kurator pameran, Hardiwan Prayogo (Yoga) sebagai arsiparis Indonesian Visual Art Archive (IVAA), dan Ong Harry Wahyu sebagai seniman poster. Ketiga pembicara memberikan bahasan seputar pembacaan mereka terhadap arsip-arsip poster pameran seni rupa yang memiliki nilai lebih, yakni bukan hanya sebagai media promosi saja melainkan juga sebagai pembacaan pergerakan dari seni rupa di Indonesia hingga nilai ekonomi yang terkandung di dalamnya.

Materi setiap pembicara sarat akan informasi serta pengkayaan perspektif terhadap arsip poster pameran seni rupa. Mikke membahas pengalamannya ketika pertama kali bergelut ke dalam pergumulan ini beserta bahasan tentang aspek kesejarahan poster-poster pameran seni rupa secara kronologis, meliputi pergerakannya hingga teknik pembuatannya dari masa ke masa, dan membahas peningkatan nilai ekonomi dari suatu poster pasca pameran. Lalu Yoga membahas tentang pentingnya kinerja pengarsipan yang dilakukan IVAA beserta teknik klasifikasi (coding) tiap material arsip poster koleksinya. Dan tak ketinggalan juga materi bahasan Ong sebagai seniman poster yang membaca perkembangan estetika pada seniman poster di Indonesia.

Ada banyak bahasan berbobot yang digulirkan ketiga pembicara. Dari semua pembicaraan itu ada beberapa bahasan yang perlu menjadi perhatian, seperti bagaimana perkembangan seni rupa dengan dinamika yang mengiringinya dapat terbaca melalui pembacaan arsip-arsip poster pameran seni rupa. Tak hanya pembacaan akan perkembangan seni rupa saja, melainkan juga pembacaan tingkat bahasa, tingkat teknologi, dan tingkat fungsi seni suatu masyarakat di mana arsip poster itu berasal. Menjadi demikian karena poster pameran seni rupa selalu mengalami transformasi yang awalnya sebagai medium informasi menjadi prasasti setelah pameran usai, walaupun banyak juga poster-poster pameran yang hilang karena pengaruh rezim yang saat itu berkuasa. Tak luput menjadi perhatian juga adalah tentang bagaimana kinerja di dalam semesta pengarsipan turut mempengaruhi nilai informasi dan nilai bukti dari suatu poster pameran seni. Pembacaan arsip tak hanya berhenti di pengumpulan arsip saja, melainkan juga menjadi siklus pembacaan ulang secara interelasional dengan material arsip lain yang banyak terserak di dalam peristiwa seni lainnya, sehingga pengetahuan dari arsip-arsip poster pameran seni rupa dapat terekstraksi secara holistik. 

Dari sudut pandang penciptaan karya juga tersampaikan bahasan mengenai bagaimana sebuah keterbatasan dan keadaan sekitar membentuk pola pikir, estetika, dan cita rasa seniman poster yang senantiasa berubah. Serta, dengan perkembangan teknologi saat ini yang mempermudah kinerja dalam penciptaan desain, para seniman poster semakin dituntut untuk senantiasa mencapai otentisitas gaya dalam realisasi imajinasinya yang tertuang ke dalam desain. Sehingga peran seniman dalam karya tidak hilang tergantikan oleh daya teknologi dalam mengolah desain, karena hakikat teknologi adalah sebagai piranti pendukung layaknya pena di mana desain itu terbentuk karena desainer yang menggerakkannya.

Mendudukan tiga pembicara dengan latar belakang kerja yang berbeda-beda, yakni sebagai kurator/ kolektor, pekerja sekaligus pengelola arsip, dan seniman poster dalam satu forum diskusi adalah langkah yang tepat. Masing-masing kerja mereka sangatlah berkaitan satu sama lain dan tidak bisa timpang. Logika interelasi peran antar pelaku ini dapat dipahami dengan melihat kerja-kerja yang dilakukan tiap pelaku tersebut. Seperti bagaimana seorang kurator/ kolektor membutuhkan kerja dari pelaku pengarsipan untuk memperkaya pembacaannya atas arsip tersebut karena kerja yang dilakukan oleh pekerja arsip adalah membaca secara interelasional, bahkan intertekstual, terhadap satu arsip yang dikaitkan dengan material arsip lainnya. Kerja kolaboratif semacam ini dapat mendukung upaya mengekstrak informasi dan pengetahuan dari suatu gelaran pameran yang meningkatkan nilai informasi, nilai bukti, dan pada akhirnya juga nilai ekonomi arsip poster pameran seni rupa tersebut. 

Lalu kerja seniman poster jelas dibutuhkan dalam produksi material poster. Demikian juga pengelola arsip, mereka membutuhkan kolektor dan seniman poster untuk senantiasa memperkaya khazanah kearsipan yang senantiasa menjadi siklus pembacaan tanpa henti dari suatu perhelatan seni, agar nilai informasi, nilai pengetahuan, serta nilai bukti dari suatu arsip poster dapat terekstraksi. Dan tentunya seniman poster juga membutuhkan kolektor/ kurator sebagai aktor yang senantiasa membuat si seniman tak berhenti dalam gerak kekaryaannya dan membutuhkan kerja para pekerja/ pengelola arsip sebagai pihak yang tak hanya menampung tapi juga mengapresiasi karyanya dengan pembacaan-pembacaan kritis untuk selanjutnya menjadi referensi seniman/ desainer dalam memperkuat karyanya. Dari alasan-alasan itulah peran tiap aktor tak dapat dipisahkan, karena sedari awal kerja-kerja yang mereka lakukan sangat integratif dan tidak dapat timpang. Capaian tiap pelaku tersebut tidak akan tercapai sempurna tanpa keterkaitan peran satu sama lain.

Diskusi sebagai rangkaian utama dari pembukaan pameran poster seni rupa “Masa Lalu Belumlah Usai” ini memang tidak dihadiri oleh banyak tamu, terutama setelah pertunjukan pembuka di mana tamu berkurang hampir separuhnya. Tetapi walau begitu, tidak mengurangi kualitas materi-materi yang dipaparkan oleh para pembicara. Karena para pembicara memunculkan pembacaan-pembacaan yang ternyata sangat luas dalam membaca material serta kerja dalam perhelatan arsip poster pameran seni rupa kali ini, di mana arsip poster pameran seni rupa tersebut tak hanya berhenti sebagai objek koleksi semata atau sebagai pelampiasan sisi romantis kolektornya saja. Perjuangan menempuh hujan deras untuk datang ke diskusi ini serasa terbayar oleh apa yang disajikan sebagai pengkayaan khazanah ilmu pengetahuan di bidang seni dengan sukacita. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

BULETIN IVAA DWI BULANAN | NOVEMBER-DESEMBER 2019

Pembaca yang budiman, entah terasa atau tidak, 2019 sudah sampai di penghujung tahun. Ada banyak kegiatan yang orang-orang lakukan untuk menutup tahun babi tanah ini, entah menyusun laporan akhir, tutup buku, evaluasi tahunan, atau liburan. Newsletter IVAA juga tak mau ketinggalan; hadir untuk menemani pembaca sekalian menutup tahun dengan konten-konten yang ringkas. Berbeda dengan edisi sebelumnya yang mengulas perihal materialitas karya dalam seni rupa kontemporer secara khusus, edisi November-Desember ini lebih memuat sebaran dan beberapa refleksi kegiatan-kegiatan IVAA selama akhir 2019. Ada Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol, Pusparagam Pengarsipan: “The Possibility of Socially Engaged Archiving”, dan infografis outreach IVAA ke beberapa tempat untuk merawat jaringan. 

Selain sebagai sebentuk sajian akhir tahun kepada para pembaca sekalian, kegiatan-kegiatan itu juga upaya memperlebar definisi praktek-praktek kerja pengarsipan dan seni visual. Bahwa dua hal tersebut harus selalu dikontekstualisasikan dan tidak melulu menjadi entitas yang kaku dengan kanon-kanonnya. 
Selain itu, kehadiran teman-teman magang seperti Firda, Fika, Shifa, Bian, Nada dan Jati begitu memberi sumbangsih yang berarti untuk dinamika kerja IVAA. Mereka seolah menegaskan bahwa kerja pengarsipan tidaklah kering seperti yang orang-orang imajinasikan. 
Semoga edisi ini dapat menjadi teman baca sembari menutup tahun. Akhir kata, selamat melakukan aktivitas apapun; selamat Natal bagi yang merayakannya; selamat tahun baru 2020, dan selamat membaca!

Salam budaya!

Sorotan Dokumentasi | November-Desember 2019

Sorotan dokumentasi edisi penutup tahun ini kami fokuskan untuk menyorot dua kegiatan penting yang telah kami upayakan: Festival Sejarah: Jejak Sudirman dan Pusparagam Pengarsipan, sekaligus poin-poin refleksi. Dua kegiatan ini menjadi upaya kontekstualisasi yang terus-menerus terhadap kerja pengarsipan serta seni visual itu sendiri, dengan isu serta kebutuhan sekitar. 

Biasanya rubrik ini memang kami gunakan untuk memuat liputan peristiwa seni, wawancara atau profil seniman. Sorotan dokumentasi kali ini juga menandai upaya kerja pengarsipan kami yang berbeda, yaitu tidak melulu berangkat dari mendokumentasikan peristiwa seni. Jika dilihat kembali, maka rubrik sorotan dokumentasi selama 2019 ini mencoba menyorot seni visual dan pengarsipan dalam definisi yang luas. Mulai dari kelas-kelas literasi seni untuk dua edisi, yaitu Belajar Sama-Sama dan Sama-Sama Belajar. Kemudian sosok ‘manajer’ di balik acara kesenian, Kerja Manajerial, Kerja Kemanusiaan, dan terakhir tentang materialitas karya, Beralih Sebelum Meraih Makna. Seluruhnya tidak ada yang secara khusus menyoroti satu atau dua peristiwa seni tertentu. 

Ini merupakan hasil refleksi kami bahwa seni visual dan pengarsipan juga lahir dari inisiasi-inisiasi di luar yang tidak melulu event based. Kerangka demikian yang coba dielaborasi dalam kerja dokumentasi kami. Masih satu tarikan nafas, dua acara yang kami sorot pada edisi ini ingin menebalkan upaya memperluas definisi pengarsipan dan seni visual. Bahwa pengarsipan sebagai metode merawat pengetahuan selayaknya tidak berhenti pada otoritas institusi tunggal, dan seni visual barangkali dapat menjadi bahasa yang inklusif, tidak melulu sebagai entitas yang kaku serta elitis.