Category Archives: Sorotan Dokumentasi

Meraba Wajah Praktik Seni-Budaya di Atas Tanah yang Bergeser: Catatan Sederhana tentang Pengarsipan di Kala Pandemi

Oleh Lisistrata Lusandiana dan Krisnawan Wisnu Adi

Semakin ke sini, ingatan menjadi semakin berharga tapi juga semakin sulit dikelola. Percepatan dunia yang dimulai oleh revolusi digital seolah membuat kita semakin gelagapan berurusan dengan ingatan, kesenian, dan bahkan peristiwa. Harapan banyak orang bahwa era teknologi digital dapat mengabadikan banyak hal di ‘ruang angkasa’, beriringan dengan potensi hilangnya ingatan di belantara data, atau paling tidak tersesat atau keracunan di dalamnya. Itulah tantangan pengarsipan sekarang.

Tantangan macam itu semakin dipertegas oleh kehadiran pandemi saat ini. Arus dunia digital makin dipercepat ketika ‘jaga jarak’ menjadi kebiasaan. Interaksi virtual menjadi kebutuhan yang membludak. Segala cara hidup beserta perspektifnya seolah sedang diombang-ambing di atas tanah yang bergeser tanpa bisa kita raba dengan jelas arahnya. 

International Council on Archives (ICA) mendeklarasikan pentingnya pengarsipan di tengah situasi pandemi. Bahwa tugas untuk mendokumentasikan tidak berhenti semasa krisis. Kehadirannya justru jadi lebih penting sebagai sumber historis untuk melihat lagi bagaimana negara, masyarakat dan komunitas internasional menghadapi krisis. Mengafirmasi pernyataan UNESCO, mengubah ancaman Covid-19 menjadi peluang untuk pendokumentasian, karena arsip adalah sumber terpercaya untuk menjamin keamanan dan transparansi administratif. Lebih spesifik, arsip dan manajemennya menjadi elemen kunci untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 dalam kaitannya dengan akses informasi.

Pernyataan ICA terkait peran pengarsipan di tengah pandemi yang menjadi lebih penting dan mendesak tersebut, tentu saja tidak salah. Tetapi tidak bisa begitu saja kita terima mentah-mentah. Dalam pernyataannya, ICA lebih banyak didorong oleh kepentingan-kepentingan di sekitar perwujudan tata kelola pemerintah transparan, terbuka dan terukur. Karena hal-hal itulah yang menjadi prasyarat demokrasi. Singkat kata, pengarsipan untuk mendorong praktik good governance. Di Indonesia, perihal ini juga cukup konkret, bisa terlihat dari sengkarut penyaluran bantuan. Akan tetapi, yang menjadi tantangan saat ini yaitu bahwa kita juga perlu menempatkan urgensi pengarsipan, tidak hanya di hadapan kepentingan good governance. Tantangan kita saat ini ialah menempatkan urgensi pengarsipan di atas tanah kebudayaan. 

Kebutuhan merekam peristiwa juga muncul untuk kepentingan nilai kesejarahan dalam koridor disiplin ilmu. A Journal of the Plague Year dari School of Historical, Philosophical and Religious Studies, Arizona State University, melalui laman Share Your Story, mengundang publik untuk mengirimkan arsip mereka yang berkaitan dengan pandemi dalam format digital. Dengan mengantongi keyakinan bahwa penting untuk membayangkan apa yang bisa ditulis oleh para sejarawan mendatang mengenai pandemi, arsip sudah sedari lahir diciptakan untuk kepentingan historis. Orientasi partisipasi publik dengan pandangan sejarah masa kini (history of the present) menjadi kecenderungan yang semakin dipertegas di masa pandemi ini. 

Tidak hanya dilakukan oleh institusi-institusi formal dan melulu berorientasi administratif serta historis, inisiatif pendokumentasian juga dilakukan oleh individu dengan orientasi personal, sepersonal bercerita layaknya kultur sosial media. Rebecca A. Adelman melalui Coronavirus Lost and Found: A Pandemic Archive, mencoba mengundang publik untuk membagikan cerita tentang apa yang hilang dan lahir sebagai habitus baru. Inisiatif ini ia lakukan atas dasar ketertarikannya terhadap peran emosi dalam situasi penderitaan dan bertahan hidup. Selain itu, ada juga betweenyounme.nl oleh Mirjam Linschooten. Melalui laman ini, Mirjam mengajak publik untuk membagikan cerita tentang perubahan objek (personal) apa yang terjadi ketika pandemi. Perhatian atas inisiatif pengarsipan secara individual ini muncul atas dasar kebutuhan orang untuk berbagi cerita, dan/ atau impresi personal. 

Sembari terus berusaha mewujudkannya, kami percaya bahwa pengarsipan harus selalu kontekstual. Ketika semua praktik seni bergeser karena pandemi, kami mencoba untuk merekamnya. Tentu saja tidak mudah untuk merekam praktik-praktik seni-budaya yang bergeser ini, ketika hampir semua mendadak virtual. Akses memang mudah, tetapi agresivitas informasi tak bisa dihiraukan. Oleh karena itu, perlu kami akui bahwa bukan keutuhan dan kemapanan catatan peristiwa yang kami sasar, melainkan tangkapan atomistik tentang bagaimana ekosistem seni-budaya bertarung dengan keadaan, yang mungkin dapat menjadi kontribusi refleksi serta produksi pengetahuan kini dan kelak. 

Dari data-data yang kami kumpulkan, baik itu dari media massa, publikasi sosial media, hibah arsip dari publik, webinar, dan sedikit wawancara, ada tiga klaster yang kami tawarkan kepada publik sebagai bingkai. Pertama, Semesta Bertahan: praktik-praktik bertahan hidup yang dilakukan oleh para pegiat seni-budaya, seperti solidaritas pangan, pameran merespon pandemi secara tematik untuk kepentingan kekaryaan dan donasi, advokasi dan kerumitannya, serta bursa dan arisan karya. Kedua, Olah-alih Medium dan Kajian: beberapa pameran yang beradaptasi menggunakan platform digital serta pembicaraan di seputar itu. Ketiga, Potret Pustaka: tentang bagaimana dunia literasi berdinamika di saat pandemi. 

Pengarsipan yang kami lakukan tentu tidak bisa menjadi acuan tunggal untuk melihat dinamika ekosistem seni-budaya semasa pandemi. Meski demikian, paling tidak kami mencoba untuk meraba wajah praktik seni-budaya, terutama dari tradisi seni visual yang juga sedang berupaya beradaptasi dan mempertahankan nafasnya. 

Pengarsipan tidak hanya menjadi penting di atas tanah yang sedang bergeser. Bahwa sesungguhnya, ingatan akan selalu memiliki urgensinya ketika manusia belum punah. Tanpa menunggu pandemi, ingatan selalu menyimpan kenyataan bahwa kita selalu hidup di tengah bayang-bayang krisis. Kerentanan kita di kala pandemi justru menunjukkan bahwa mungkin kita selalu menyangkal, mengabsenkan keterdesakan untuk keterdesakan lain yang tidak jarang hadir dari luar. Merekam ingatan dan peristiwa di masa pandemi setidaknya menjadi titik bagi kita untuk mengakui kerentanan dan memikirkan ulang segala keterdesakan; menilik kembali segala pembicaraan dan praktik seni, bahkan persoalan-persoalan fundamental seperti ritme dan cara hidup yang sedang bergeser ini. 

Untuk melihat sebaran data Semesta Bertahan, silakan klik link checklist ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Stay Safe, Stay Tune

Satu hal yang jelas di tengah ketidakjelasan situasi ini adalah jauhi keramaian. Ada yang bekerja dan belajar di rumah, namun ada pula yang terpaksa tetap beraktivitas di luar dengan segala keterbatasan. Kadar kebosanan jadi membuncah. Untuk itu, tim redaksi IVAA memberi rekomendasi koleksi arsip video yang dapat ditonton di rumah atau di sela jam kerja. Semoga beberapa video berikut dapat menemani teman-teman sekalian. 

Wawancara dengan Gina Lubis
“Bapak saya itu tipe orang yang rajin mengarsip,” ujar Gina, putri seorang pelukis kenamaan Batara Lubis. Semenjak kepergian bapaknya, tanpa tahu banyak kisah masa lalu beliau secara detail, Gina memulai merawat arsip-arsip yang ditinggalkan, dari lukisan, sketsa, hingga tulisan-tulisan. Gina banyak bercerita tentang salah satu anggota Sanggar Pelukis Rakyat ini. Mulai dari sosok beliau yang rapi, kebiasaan baca, kisah kasih dengan istrinya, kemandirian & kesederhanaan, hingga persahabatannya dengan para maestro seperti Hendra Gunawan, Affandi, hingga Joko Pekik.  Sebagai anak, Gina bangga dengan ayahnya yang membuktikan pemikiran dengan karya. Meski dulu tidak diperbolehkan belajar di ISI, Gina yakin bahwa peduli dengan seni itu tidak harus sekolah seni. 

 

Seni Masa Kini: Catatan tentang Kontemporer – Mitha Budhyarto – #1
Mitha Budhyarto dalam Seri Ceramah/ Diskusi Guru-Guru Muda sesi 5, bertempat di Langgeng Art Foundation, 13 Desember 2014, memaparkan kajiannya mengenai ‘kekinian/ kontemporer’ secara filosofis. Dengan gagasan Peter Osborne dan Giorgio Agamben, ia menempatkan Sejarah_X karya Agan Harahap sebagai studi kasus. 

 

Seni Masa Kini: Catatan tentang Kontemporer – Mitha Budhyarto – #2 
Mitha Budhyarto (1983) adalah dosen dan kurator yang berbasis di Jakarta. Setelah menyelesaikan studi magisternya di bidang Filsafat Estetika di University of Sussex (2005) ia mendapat gelar doktoral di bidang Humaniora dan Kajian Budaya di University of London, Birkbeck College. Ia terlibat di beberapa pameran, seperti “Bandung New Emergence Vol. 5” (Selasar Sunaryo Art Space), “Swatata” (ruangrupa), “1 x 25 jam” (Rumah Seni Cemeti), dan “Exi(s)t” (Dia.lo.gue Art Space). 

 

Presentasi Prison Art Programs (PAPs)
PAPs adalah sebuah program seni kolektif  yang mempunyai ikatan kuat dengan memori penjara sebagai ide dasarnya untuk mengembangkan segala konsep dan teknik di seni rupa. Inisiatif program ini dibangun oleh Angki Purbandono dengan beberapa Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) lainnya (Berli Doni, Fatoni, Herman Yoseph, Irien Afianto, Agung Rusmawan, Amir Danial, Gunawan Wirdana dan Ridwan Fatkhurodin) yang bekerja sama dengan pembina utama (Bpk. Yhoga Aditya Ruswanto) dan pembina lainnya (Bpk. Marjiyanto, Bpk M. Syukron A., Bpk. Mulya Adiguna) di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas II A Yogyakarta pada bulan Mei 2013.

 

Gerakan dari Dalam – Seni Inkubasi Performatif
Acara ini diinisiasi sebagai sebuah ephemeral platform dengan basis pertukaran interdisipliner dan lintas budaya melalui beberapa rancangan program. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan pertukaran pengetahuan dan melakukan introspeksi ke dalam diri, dan melakukan eksplorasi nilai kritis terhadap permasalahan di sekitar kita dengan tetap menjaga sikap dan kesadaran sebagai manusia. Perkembangan mesin, sains dan teknologi dalam peradaban manusia hari ini berdampak kompleks, menciptakan ketidakselarasan walaupun bertujuan untuk memajukan kehidupan manusia di bumi. Pertambahan populasi manusia begitu cepat berkejaran dengan kebutuhan dasar yang membengkak, berkaitan dengan politik, ekonomi global, kekuasaan dan modal, perebutan sumber-sumber energi dengan memperalat ideologi, HAM, demokrasi, agama, dan hal-hal rasial.

 

MAKASSAR BIENNALE 2015 – TRAJECTORY
Sebuah video dokumentasi Makassar Biennale 2015 – Trajectory: Makassar dalam Peta Seni Rupa Indonesia. Pameran ini dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo, beranggotakan Faisal MRA, Nur Abdiansyah, Arham Rahman, dan Irfan Palippui. Bertempat di Gedung Kesenian Makassar, Rumata Artspace Makassar dan Gedung Celebes Convention Centre (CCC) Makasar, perhelatan seni ini digelar pada 17-31 Oktober 2015. 

Workshop Pengelolaan Arsip Fisik dan Koleksi Pustaka

oleh Santosa Werdoyo

Grogol merupakan sebuah dusun yang berjarak kurang lebih 28 km arah selatan Kota Yogyakarta yang terkenal dengan pariwisata pantai Parangtritis. Selain itu masih ada lagi, yakni gumuk pasir yang tentu saja sebagai salah satu magnet pariwisata di daerah paling selatan di Kabupaten Bantul. Selain pariwisata, Grogol juga menyimpan sejarah perjalanan Jenderal Sudirman yang kala itu singgah di Dusun Grogol, bergerilya selama perang revolusi. Pengetahuan sejarah itu hidup melalui cerita-cerita warga setempat dan petilasan berwujud rumah yang dulu jadi tempat istirahat Jenderal Sudirman dan para prajurit. 

Rumah singgah tersebut dimiliki oleh Lurah Hadi Harsono yang dulunya menjadi seorang tentara dengan pangkat terakhir kapten. Pak Hadi kemudian memilih mengabdi menjadi lurah dari 1947-1990. Begitulah tutur Nova, salah satu warga Grogol. Rumah tersebut sudah tidak ditinggali lagi oleh ahli warisnya hingga tidak terawat. Begitu juga dengan arsip-arsip administrasi kantor, foto dan pustaka seperti majalah, serta buku-buku yang ada di rak lemari rumah itu. 

Untuk tetap merawat pengetahuan beserta arsip dan situsnya, warga Grogol bekerja sama dengan IVAA menggelar workshop dan festival sejarah. Kegiatan warga seperti kandang kelompok, produksi makanan oleh ibu-ibu, dan wisata gumuk pasir juga menjadi praktik-praktik yang dibaca ulang sebagai bagian penting dari pengetahuan warga. 

Pada satu kali kesempatan, 11 Januari 2020, IVAA diundang untuk memberikan workshop seputar perpustakaan dan pengarsipan untuk para pemuda Dusun Grogol beserta para mahasiswa KKN UGM yang sedang bertugas di sana. IVAA berbagi pengalamannya mengenai bagaimana selama ini mengolah arsip dan koleksi pustaka. 

Acara dimulai pada pukul 21.00 di sebuah mushola. Pak Kamri, sebagai kepala dukuh, memberikan gambaran tentang kondisi buku dan arsip yang disimpan di dalam rumah singgah Jenderal Sudirman tersebut. Bahwa warga ternyata sudah menata buku dan arsip itu ke dalam beberapa kategori, yakni majalah, buku, foto, dan arsip administrasi. 

Sesi selanjutnya adalah materi seputar pengelolaan koleksi perpustakaan dengan tahap pertama, yakni Metadata Koleksi Pustaka. Tahap ini berisi inventarisasi koleksi pustaka dengan standar deskripsi judul, jenis (buku, majalah, katalog, dll), nomor ISBN, penerbit, tahun terbit, kolasi buku (tinggi, lebar, jumlah halaman), nomor panggil (dibedakan berdasarkan kebutuhan), bahasa, kota terbit, pengarang, subjek, asal, bulan inventarisasi, serta abstrak (gambaran singkat isi pustaka). 

Setelah Metadata Koleksi Pustaka, dilanjutkan dengan penyampulan dan labelling. Label yang ditempelkan di punggung buku memuat informasi tentang:

  • no panggil/ pengarang/ judul pustaka, contoh: 701/Ari/S (tidak berseri)
  • no panggil/ judul pustaka/ edisi/tahun, contoh: 705/G/16/2015 (berseri)

Tahapan selanjutnya adalah penyimpanan. Setelah selesai diberi label, koleksi pustaka tersebut ditata berdasarkan jenis pustaka (buku, majalah, katalog, dll) bersama dengan kategorisasi (seni, filsafat, sejarah, dll), yang mengacu pada nomor panggil yang tertera pada punggung buku.

Setelah berbincang soal pengolahan koleksi pustaka, perihal arsip fisik juga diceritakan. Tahap awal pengolahan arsip fisik IVAA adalah sortir berdasarkan jenis material, misal undangan, surat-surat, foto, dll. Setelah itu tim arsip membuat identitas arsip (kode kategorisasi) dengan format tema/ material/ no urut inventaris/ petugas. Contohnya sebagai berikut:
Tema: pariwisata (PW), kuliner (KL), sejarah (SJ), dll
Material: foto (FT), undangan (UN), poster (PT), surat (SR), dst
Nomor urut inventaris: 01, 02, dst
Petugas: santoso (SS), yoga (YG), dst
Identitas arsip: PW/FT/01/SS 

Setelah menulis identitas arsip, tahap berikutnya adalah menulis lokasi simpan, dengan standar informasi sebagai berikut:
Kode ruangan (A1, A2, dst), kode rak/ lemari (R1, R2, dst), kode box/folder (B1, B2, dst), kode tema (PW, KL, SJ, dst), kode no urut inventaris (01, 02, dst). Contoh lokasi simpan: A1/ R1/ B1/ PW/ 01.

Pengolahan data arsip kemudian dilanjutkan dengan inventarisasi berdasarkan standar deskripsi Dublin Core. Dublin Core merupakan satu set metadata yang dirancang untuk memudahkan sistem temu kembali data arsip. Contohnya demikian: identitas arsip (kode kategorisasi), lokasi simpan, pelaku (orang yang ada di dalam arsip), judul, tahun terciptanya arsip, jenis arsip (foto, undangan, surat, dll), ukuran, dan deskripsi.                                                                                                                                

Workshop ini menjadi upaya IVAA untuk berbagi cara pengelolaan koleksi pustaka dan arsip sebagai gambaran awal. Tujuannya adalah supaya beragam koleksi pustaka dan arsip yang dimiliki oleh warga Grogol dapat tertata dengan rapi dan mudah untuk dicari kembali keberadaannya. Akan sangat disayangkan jika arsip-arsip tinggalan lurah Hadi Harsono dan buku-buku yang sudah berusia tua tidak terkelola dengan tepat. Tentu, pengelolaan koleksi arsip dan pustaka dengan standar-standar di atas bukan menjadi satu-satunya cara untuk merawat pengetahuan. Itu semua hanya melengkapi apa yang sudah warga miliki, entah itu tradisi tutur atau praktik-praktik lain yang bersinggungan dengan pengetahuan-pengetahuan di atas.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Diskusi Panel: Ingatan Bergegas Pulang Hari 1 – Konteks Seni Rupa di Ranah Lainnya

oleh Prima Abadi Sulistyo

Diskusi Panel: INGATAN BERGEGAS PULANG sebagai satu rangkaian dalam pameran tunggal Suvi Wahyudianto di Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat (15/01/20) dimulai saat siang hari, sekitar pukul 14.00 WIB. Tema pertama dalam diskusi panel ini bertajuk “Konteks Seni Rupa di Ranah lainnya” yang dibuka dengan pidato kunci oleh St. Sunardi. Adapun panel 1 mengenai “Seni Rupa, Autoetnografi, dan Rekonsiliasi” dibahas oleh Anne Shakka dan Diah Kusumaningrum. Acara yang dimoderatori Muhammad Abe ini diawali dengan pembacaan puisi dari Suvi Wahyudianto. Pembacaan puisi oleh Suvi kemudian dilanjutkan dengan diskusi. 

Melalui pidato kuncinya dengan judul “Membangun Monumen Masa Depan dengan Jejak-jejak Masa Lalu”, Sunardi membicarakan pembacaannya atas karya Suvi. Sunardi menggunakan pendekatan sastra. Kesan Sunardi juga terlihat ketika menjelaskan bagaimana Suvi, melalui judul karyanya, membuat metafora. Yang dimaksud Sunardi sebagai jejak-jejak bukanlah sebagai tanda atau penanda dari diri Suvi. Ia menjelaskan bahwa sebagai sebuah jejak kita tak perlu untuk menafsirkan, memaknai atau mencari maknanya lagi. Dengan berangkat dari gagasan writing degree zero-nya Roland Barthes, Sunardi melihat bahwa karya Suvi ini sebagai image degree zero. Artinya, orang langsung paham dan mafhum, bahwa karya dari Suvi ini otentik tanpa ada embel-embel tafsirannya (sekali lagi bahasa/ gambaran yang mempunyai kekuatan jejak-jejak). Karena berada dalam tataran jejak-jejak, karya Suvi bisa menjadi rumah dan tempat tinggal kita. 

Dari karya Suvi ini, Sunardi mempunyai pandangan baru terkait rumah, yang jangan-jangan selama ini rumah adalah bagian dari jejak-jejak yang kita lalui. Rumah adalah kumpulan dari jejak-jejak yang bila ditafsirkan oleh penghuninya, maka mulai menjadi tempat yang tidak nyaman bagi si penghuni itu sendiri. Hal itu kemudian disambungkan dengan bentuk kekaryaan Suvi. Seperti rumah, karya Suvi bisa dilihat sebagai jejak dari si penghuni tanpa ada tafsiran-tafsiran lainnya. Apabila boleh saya tafsirkan, hal ini sebagai bentuk otentik karya Suvi Wahyudianto. Kita tahu bahwa Suvi adalah orang Madura. Bentuk karya-karyanya ini adalah pengalaman hidup seorang Madura yang diejawantahkan ke dalam bentuk lukisan dan seni instalasi (wujud dari pergulatan batin seorang Madura –studi kasus konflik Madura Dayak di Sampit medio 2000-an). 

Di dalam pidato kuncinya, Sunardi mengucapkan kalimat kritis nan puitis untuk kekaryaan Suvi: “sepertinya dari pangkalan ini, Suvi mau melawan fatwa dari Adorno”. Sebagai seorang Yahudi yang berlari ke Amerika, Adorno mengatakan bahwa setelah Auschwitz tidak ada lagi puisi. Bagi Sunardi, hal ini tidak berlaku untuk Suvi, karena setelah peristiwa Sambas masih ada puisi dan prosa. Puisi dan prosa Suvi bukan hanya dimaknai sebagai rangkaian kata penuh makna atau hiburan semata. Sunardi menekankan bahwa puisi dan prosa ini dapat dipahami sebagai bangkai-bangkai visual lirik yang menduduki posisi jejak. Melalui jejak kita bisa membangun rumah kembali dan koordinat yang kosong di jagad ini. 

Sunardi mencoba membicarakan kembali kejadian di Sambas waktu itu. Beliau mengatakan peristiwa yang terjadi 20 tahun lalu itu adalah peristiwa yang tidak mau diingat oleh kita, baik penyebabnya, kejadiannya, bahkan hal-hal pasca konflik itu. Sunardi menjelaskan melalui karya Suvi Wahyudianto kita mendapatkan kesempatan untuk berhadapan kembali dengan peristiwa yang selama ini tidak ingin kita ingat dan akui. Bukan melalui aspek sensasional maupun kengeriannya, melainkan pengalaman keruangan (diakronik) dalam berbagai suasana. Salah satu karya yang menarik menurut Sunardi adalah karya Suvi yang berjudul “Sapi dan Reruntuhan”. Dari karya itu kita seperti dilihat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kita lihat.

Dalam pidatonya, hal terakhir yang Sunardi ucapkan adalah bahwa sebuah eksplorasi dari masa lalu, yang dari sana bisa terbangunnya monumen masa depan, bukan sebuah masa lalu (sanctuary) yang cengeng. Sunardi menutup pidato kuncinya dengan nukilan perkataan Jacques Derrida: to forgive the unforgivable (mengampuni sesuatu yang tidak bisa kita ampuni).

Panel 1: Seni Rupa, Autoetnografi, dan Rekonsiliasi

Dalam diskusi panel 1 ini, Anne sedikit banyak membahas tentang autoetnografi. Metode Autoetnografi sama halnya dengan etnografi yang di dalamnya terdapat kajian budaya dan keseharian masyarakat tertentu. Ia menerangkan soal sejarah bagaimana cabang ilmu ini muncul, ketika kecenderungan subjektivitas individu mulai dihargai. Meski Anne merasa asing untuk menyoal seni, ia mencoba menggunakan metode autoetnografi untuk memahami karya Suvi. Meski demikian, Anne memang lebih banyak menjelaskan perihal metode ini, seperti kelebihan dan kekurangannya. Implikasinya adalah hubungan metode ini dengan kekaryaan Suvi tidak terlalu nampak. Anne hanya sedikit membahas pengalaman diri Suvi kecil dan proses penelitiannya saat berada di Pontianak dalam rangka mencari materi untuk berkarya. Tetapi poin menariknya adalah bahwa Anne cukup menekankan pentingnya metode ini untuk terapi atas peristiwa masa lalu bagi seorang seniman. 

Diskusi lalu dilanjutkan oleh Dian Kusumaningrum yang lebih membahas perihal rekonsiliasi.  Ia bercerita tentang pengalamannya saat menangani konflik dan rekonsiliasi di Ambon. Dian mencoba menjelaskan mengapa beberapa kelompok sering terjadi konflik. Salah satu penyebabnya adalah kelangkaan. Dian mengambil contoh konflik agama. Bahwa permasalahan identitas antar agama bukan menjadi faktor utama, tapi lebih ke arah klaim kebenaran dari masing-masing kelompok agama sebagai sesuatu yang langka, dan mengagungkan kebenaran tersebut. Jadi dalam permasalahan konflik tidak saja membahas permasalahan konfliknya tapi juga perilakunya. Dian juga menggambarkan perdamaian sebagai sebuah istilah yang tricky. Banyak unsur peyoratif dalam berbagai kesepakatan damai. 

Rekonsiliasi menurut Dian sendiri dibagi menjadi 2 garis besar. Hal pertama adalah soal hubungan dan yang kedua soal keberanjakan dari konflik sebelumnya. Di Afrika Selatan, tempat di mana rekonsiliasi antar kulit hitam dan kulit putih dianggap paling berhasil pun belum sepenuhnya terjadi peleburan (masih terjadi segmentasi pada sebagian warganya). Mengenai keberanjakan dari konflik masa lalu, Dian mencoba menghubungkan tema rekonsiliasi ini dengan karya Suvi “Menjahit Kertas” yang bermaknakan menjahit luka lama, berdamai dengan diri sendiri, dan membuka sebuah lembaran baru dari konflik yang terjadi di masa sebelumnya (metafora kertas yang dijahit oleh Suvi).

Kekerasan atau konflik masa lalu bagi Dian bukan menjadi sesuatu yang dilupakan. Dian menjelaskan bagaimana pada akhirnya kita justru melipat ingatan soal konflik.  Dian mengambil contoh konflik di daerah Ambon medio 2000. Pernah suatu ketika ada warga muslim yang ketika bertamu di rumah keluarga Kristen, mereka menghargai hidangan yang disuguhkan. Artinya, meski sedang terjadi konflik besar pun, ketika suatu kelompok atau orang sudah tidak lagi menganggap dirinya sebagai korban (victim), tanda-tanda rekonsiliasi akan terjadi. 

Mengenai kekaryaan Suvi Wahyudianto, Dian mengatakan bahwa Suvi telah selesai dengan metode autoetnografinya. Suvi sudah pada tahap membagikan hasil karyanya untuk kita tonton. Maka dari itu, ia tidak lagi memproduksi performans. Melalui proses bertemunya karya dengan publik, karya-karya Suvi telah memunculkan performativitas; ketika ada produksi dan reproduksi makna antara pelaku dan penonton.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Diskusi Panel: Ingatan Bergegas Pulang Hari 2 – Praktik Seni sebagai Praktik Pemberdayaan Diri dan Masyarakat

oleh Krisnawan Wisnu Adi 

Hari kedua diskusi panel pameran tunggal Suvi Wahyudianto kali ini diisi dengan dua diskusi panel dengan tema besar “Praktik Seni sebagai Praktik Pemberdayaan Diri dan Masyarakat”. Sebelumnya, sama seperti di hari pertama, dua diskusi panel tersebut dibuka dengan pidato kunci. Melalui pidatonya, Alia Swastika menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Suvi merupakan sebuah strategi untuk merawat ingatan dan membangun imajinasi visual dari ingatan atas identitas sosial; sebuah strategi yang bisa menjadi langkah produktif untuk pemberdayaan diri dan sosial. Masih senada dengan panel diskusi pertama di hari sebelumnya yang dibawakan oleh Anne Shakka, Alia juga menekankan peran metode autobiografi dan auto-etnografi sebagai upaya perbincangan diri dengan konteks di luar diri yang lebih besar. Salah satunya adalah sejarah. Praktik artistik yang melepaskan kisah-kisah personalnya, selain memunculkan ketegangan antara ruang privat dan publik, juga memberi kemungkinan sejarah dari bawah.

Sekilas menarik ke belakang, Alia mengatakan bahwa pada era Renaisans dan Modern, karya-karya bernuansa autobiografi muncul dalam bentuk potret diri hingga yang lebih menekankan memori di level personal. Karya-karya Rembrandt dan Van Gogh menjadi dua dari sekian banyak karya di wilayah itu. Alia juga mencontohkan kekaryaan dari Frida Kahlo yang mengupayakan kemungkinan-kemungkinan personalitas perempuan dalam sejarah seni. Lalu di dalam seni kontemporer, peran wajah dan tubuh mulai tergantikan oleh sejarah diri yang direpresentasikan melalui kehadiran benda-benda yang mempertanyakan kembali ingatan-ingatan beserta materialnya; mengajukan beragam pertanyaan-pertanyaan sembari mencari kemungkinan lain pasca ingatan.

Poin personalitas dalam singgungannya dengan konteks yang lebih luas di dalam pidato Alia mengantarkan partisipan ke diskusi panel kedua yang bertajuk “Melihat Arah Praktik Berkesenian Perupa Muda Hari Ini”, yang dimoderatori oleh Umi Lestari. Sigit Pius, sebagai pembicara, berangkat dari fenomena ‘sobat ambyar (sebutan untuk kawula muda yang akhir-akhir ini menggandrungi lagu-lagu Didi Kempot)’ yang sedang marak. Bagi Pius, seolah-olah sekarang ini kita hidup dalam satu ambiens; kita diminta untuk bersama-sama mengumpulkan air mata mewadahi penderitaan. Persis seperti apa yang para ‘sobat ambyar’ lakukan.

Ia menambahkan bahwa situasi semacam ini hanya mungkin terjadi ketika suatu kekuasaan memaksakan kehendaknya dan selalu mencari peluang melanggengkan pengaruh di tingkatan vertikal. Sementara di lapisan bawah, mereka berkumpul menangis menghimpun penderitaan. Begitu berbeda dengan jaman 1990-an. Karya-karya yang muncul cenderung bernuansa marah.

Aspek personalitas yang begitu kuat, seperti apa yang Pius utarakan tersebut, cukup senada dengan ungkapan Suvi, bahwa seluruh dimensi material dalam karya-karyanya memang menjadi medium refleksi perasaan. Meski demikian, Anton Rais agak kurang sepakat jika seolah nelangsa menjadi kecenderungan kekaryaan perupa muda saat ini. Ia lebih melihat bahwa mereka juga tidak jarang bersinggungan dengan isu-isu lingkungan, feminisme, dll.

Selain mengulas singkat soal kecenderungan praktik perupa muda, tim Cemeti juga menggelar diskusi panel ketiga dengan tajuk “Seni Berbasis Riset” – Penelitian Artistik dan Praktik Seni Lukis di Mata Perupa Muda, yang dimoderatori oleh Manshur Zikri. Ayos Purwoaji dan Arham Rahman hadir sebagai pembicara.

Bukankah seni itu selalu berbasis riset? Ini adalah pertanyaan yang membuka diskusi. Ayos juga menekankan hal sama, ketika praktik riset dalam kerja artistik sudah dilakukan oleh para seniman terdahulu. Soedjojono (seni lukis sebagai alat observasi sosial), Affandi (observasi di sebuah café di Perancis untuk bahan melukis), Dullah (sewaktu revolusi, menyuruh anak-anak didiknya melukis apa yang terjadi), seniman-seniman Lekra (metode TURBA), Moelyono (seni rupa penyadaran), dan di wilayah kampus (residensi atau observasi dulu untuk kemudian membuat karya).

Selain menekankan bahwa praktik riset dalam kerja artistik bukanlah hal baru, Ayos juga mengatakan bahwa wacana ini juga dekat dengan etnografi. Seperti halnya kedekatan Koentjaraningrat dengan lukisan. Di samping diakuinya beliau sebagai bapak antropologi Indonesia, ternyata Koentjaraningrat sedari kecil gemar melukis dan pernah beberapa kali berpameran. Tetapi apakah lukisan-lukisannya termasuk ke dalam lukisan/ gambar etnografis? Belum tentu.

Apakah riset artistik selalu, bahkan hanya, berhubungan dengan etnografi? Agaknya Arham menjawab tidak. Ia dengan tegas membedakan antara riset artistik dengan seni berbasis riset. Yang terakhir itu merupakan praktik yang sering dilakukan oleh seniman-seniman kontemporer. Di sisi lain, riset artistik adalah penelitian berbasis praktik. Bukan seniman mengkaji subjek lain, melainkan dirinya sendiri; mengkaji praktik artistiknya. Si seniman mensimulasikan kegiatan dalam jangka panjang, bukan memanggil kembali ingatan-ingatan masa lalu yang dikawinkan dengan fenomena sekarang.

Arham menambahkan 3 poin penting, bahwa riset artistik harus (1) eksperimental, (2) self-reflective & self-critical, dan (3) metodologis, yang sebenarnya poin ketiga ini belum mencapai kesepakatan pendapat. Alih-alih membicarakan bagaimana riset artistik dilakukan di skena kesenian kita, Arham justru mengatakan bahwa lebih baik riset artistik tidak masuk dulu, karena kita masih belum matang dengan banyak hal.

Diskusi ini setidaknya dapat memberi penjelasan ketika banyak kawan-kawan yang menggunakan istilah riset artistik dan seni berbasis riset dalam pengertian sama. Kecenderungan semacam itu justru menebalkan pengaruh elemen akademis/ riset/ logis-konseptual di dalam praktik seni kontemporer. Sementara, karya-karya seni dengan pendekatan demikian bisa juga disebut, meminjam perkataan Ayos, karya seni kuasi-antropologis (etnografis).

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Warisan Sudjojono

oleh Gagas Dewantoro

Lukisan terkenal dari seorang Sudjojono memiliki kesan tersendiri khususnya terhadap masyarakat urban pada masanya. Sebagai seseorang yang dianggap menjadi perintis seni rupa modern Indonesia, ia sangat berperan dalam membingkai perdebatan tentang perlunya bentuk visual yang khas “Indonesia”. Estetika dan perannya sebagai guru serta penulis memiliki dampak yang mendalam pada perkembangan seni rupa modern dan kontemporer. 

Pada 20 Januari 2020 Program Studi Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada mengadakan seminar bertajuk “Representation of Urban Culture in Visual Art” yang disampaikan oleh Edwin Jurriens, dosen dari Melbourne University. Hadir juga sebagai penanggap utama, yaitu Aditya Adinegoro. Yang menarik pada diskusi ini adalah tema kultur urban yang mengekspresikan seluruh kebudayaan dan aktivitas masyarakat perkotaan.

Salah satu karya fenomenal Sudjojono yang merepresentasikan kehidupan urban serta sosio-politik pada masanya yaitu “Angkatan 66”. Lukisan ini menggambarkan situasi setelah kejadian G30S yang telah menurunkan Soekarno. Dari lukisan ini Sudjojono menampilkan seorang mahasiswa menggunakan jas merah yang sedang berdemonstrasi menghadap istana merdeka dan sebelah belakangnya adalah bundaran HI atau sekarang lebih dikenal sebagai Monumen Selamat Datang di Jakarta. Selain itu, Sudjojono juga menggambarkan situasi rakyat urban yang kacau pasca orde lama, juga pembangunan Jakarta yang begitu masif. 

Hal menarik lainnya dari Sudjojono yaitu ketika dirinya menolak seni lukis yang lahir dari kebutuhan di luar lingkungan bangsa Indonesia, seperti dari turis-turis maupun orang-orang Belanda yang sudah pensiun. Seni lukis bagi Sudjojono harus muncul dari dalam hidupnya sehari-hari termasuk budaya urban yang ada di sekitarnya. 

Meski demikian, Sudjojono tidak hanya melukis kehidupan budaya urban namun juga gunung, bukit, jalan, dan pohon kelapa. Sudjojono berusaha melukiskan kesadaran tentang alam Indonesia, bebas dari cita rasa turisme. Misal, jika dalam suatu pemandangan yang hendak dilukiskan terdapat menara listrik atau hal-hal lain yang mengganggu pemandangan (menurut cita rasa turis),Sudjojono akan tetap menggambarnya. Lukisannya memiliki karakter goresan ekspresif dan sedikit terstruktur, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Pada periode sebelum kemerdekaan, karya lukis Sudjojono banyak bertema semangat perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah. Setelah jaman kemerdekaan karyanya berubah menjadi bertema pemandangan alam, bunga, cerita budaya dan aktivitas kehidupan masyarakat urban. 

Edwin selanjutnya mencoba menitikberatkan karakter ‘urban’ dalam lukisan Sudjojono tersebut sebagai satu poin penting ketika membicarakan karya-karya seni rupa kontemporer. Bagi Edwin representasi urban seperti dalam beberapa karya Sudjojono seolah terus direproduksi, seolah terwariskan pada karya-karya beberapa seniman kontemporer. Misalnya saja pada karya Agan Harahap yang berjudul sama yakni, Maka Lahirlah Angkatan 66. Jika Sudjojono memakai medium lukis, Agan memilih fotografi. Namun, selain judul, ikon yang dimunculkan juga sama, yakni seorang remaja laki-laki yang membentangkan tangan dalam rangka demonstrasi. Selain karya Agan, tangkapan fenomena urban juga muncul dalam karya Yuswantoro Adi yang berjudul Every Place is The Playground. Bagi Edwin, karya ini senada dengan karya Sudjojono yang berjudul Kota Jakarta. 

Dalam diskusi ini, sebagai bagian dari riset disertasinya, Edwin masih dalam tahap berasumsi bahwa warisan Sudjojono seolah hidup di tengah-tengah kekaryaan beberapa seniman kontemporer melalui representasi kultur urban yang dihadirkan. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Pembukaan Pameran “Masa Lalu Belumlah Usai”

oleh Y. Pramana Jati

Hujan deras mengawali pembukaan pameran poster “Masa Lalu Belumlah Usai” di pendapa Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul. Terlalu deras, sehingga membuat acara yang seharusnya mulai pada pukul 19.00 WIB baru dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Pameran yang dikuratori oleh Mikke Susanto bersama Ko-Kurator Tomi Firdaus ini memamerkan 546 lembar poster dari berbagai pameran seni rupa yang pernah terselenggara, dengan rentang waktu antara 1974 hingga 2019 dan semuanya merupakan koleksi Dicti Art Laboratory. Ketika acara dimulai langit masih mengirimkan rintikan hujan menemani dinamika pembukaan pameran ini. Acara dibuka dengan pertunjukan musik dari Band TUDEIS binaan Sekolah Alam “Nurul Islam” Sleman, D. I. Yogyakarta, serta solo performance dari Bintang. Setelah itu dilanjut sambutan oleh Totok Barata selaku pengelola Rumah Budaya Tembi dan Trisna Pradita Putra sebagai sekretaris Prodi Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta.

Pembukaan pun usai dan diskusi sebagai rangkaian acara utama pada pembukaan kali ini akhirnya dimulai, walaupun banyak kursi yang masih kosong dan hanya terisi di satu sisi saja. Diskusi yang dimoderatori oleh Tomi Firdaus ini menghadirkan tiga pembicara yakni Mikke Susanto sebagai kurator pameran, Hardiwan Prayogo (Yoga) sebagai arsiparis Indonesian Visual Art Archive (IVAA), dan Ong Harry Wahyu sebagai seniman poster. Ketiga pembicara memberikan bahasan seputar pembacaan mereka terhadap arsip-arsip poster pameran seni rupa yang memiliki nilai lebih, yakni bukan hanya sebagai media promosi saja melainkan juga sebagai pembacaan pergerakan dari seni rupa di Indonesia hingga nilai ekonomi yang terkandung di dalamnya.

Materi setiap pembicara sarat akan informasi serta pengkayaan perspektif terhadap arsip poster pameran seni rupa. Mikke membahas pengalamannya ketika pertama kali bergelut ke dalam pergumulan ini beserta bahasan tentang aspek kesejarahan poster-poster pameran seni rupa secara kronologis, meliputi pergerakannya hingga teknik pembuatannya dari masa ke masa, dan membahas peningkatan nilai ekonomi dari suatu poster pasca pameran. Lalu Yoga membahas tentang pentingnya kinerja pengarsipan yang dilakukan IVAA beserta teknik klasifikasi (coding) tiap material arsip poster koleksinya. Dan tak ketinggalan juga materi bahasan Ong sebagai seniman poster yang membaca perkembangan estetika pada seniman poster di Indonesia.

Ada banyak bahasan berbobot yang digulirkan ketiga pembicara. Dari semua pembicaraan itu ada beberapa bahasan yang perlu menjadi perhatian, seperti bagaimana perkembangan seni rupa dengan dinamika yang mengiringinya dapat terbaca melalui pembacaan arsip-arsip poster pameran seni rupa. Tak hanya pembacaan akan perkembangan seni rupa saja, melainkan juga pembacaan tingkat bahasa, tingkat teknologi, dan tingkat fungsi seni suatu masyarakat di mana arsip poster itu berasal. Menjadi demikian karena poster pameran seni rupa selalu mengalami transformasi yang awalnya sebagai medium informasi menjadi prasasti setelah pameran usai, walaupun banyak juga poster-poster pameran yang hilang karena pengaruh rezim yang saat itu berkuasa. Tak luput menjadi perhatian juga adalah tentang bagaimana kinerja di dalam semesta pengarsipan turut mempengaruhi nilai informasi dan nilai bukti dari suatu poster pameran seni. Pembacaan arsip tak hanya berhenti di pengumpulan arsip saja, melainkan juga menjadi siklus pembacaan ulang secara interelasional dengan material arsip lain yang banyak terserak di dalam peristiwa seni lainnya, sehingga pengetahuan dari arsip-arsip poster pameran seni rupa dapat terekstraksi secara holistik. 

Dari sudut pandang penciptaan karya juga tersampaikan bahasan mengenai bagaimana sebuah keterbatasan dan keadaan sekitar membentuk pola pikir, estetika, dan cita rasa seniman poster yang senantiasa berubah. Serta, dengan perkembangan teknologi saat ini yang mempermudah kinerja dalam penciptaan desain, para seniman poster semakin dituntut untuk senantiasa mencapai otentisitas gaya dalam realisasi imajinasinya yang tertuang ke dalam desain. Sehingga peran seniman dalam karya tidak hilang tergantikan oleh daya teknologi dalam mengolah desain, karena hakikat teknologi adalah sebagai piranti pendukung layaknya pena di mana desain itu terbentuk karena desainer yang menggerakkannya.

Mendudukan tiga pembicara dengan latar belakang kerja yang berbeda-beda, yakni sebagai kurator/ kolektor, pekerja sekaligus pengelola arsip, dan seniman poster dalam satu forum diskusi adalah langkah yang tepat. Masing-masing kerja mereka sangatlah berkaitan satu sama lain dan tidak bisa timpang. Logika interelasi peran antar pelaku ini dapat dipahami dengan melihat kerja-kerja yang dilakukan tiap pelaku tersebut. Seperti bagaimana seorang kurator/ kolektor membutuhkan kerja dari pelaku pengarsipan untuk memperkaya pembacaannya atas arsip tersebut karena kerja yang dilakukan oleh pekerja arsip adalah membaca secara interelasional, bahkan intertekstual, terhadap satu arsip yang dikaitkan dengan material arsip lainnya. Kerja kolaboratif semacam ini dapat mendukung upaya mengekstrak informasi dan pengetahuan dari suatu gelaran pameran yang meningkatkan nilai informasi, nilai bukti, dan pada akhirnya juga nilai ekonomi arsip poster pameran seni rupa tersebut. 

Lalu kerja seniman poster jelas dibutuhkan dalam produksi material poster. Demikian juga pengelola arsip, mereka membutuhkan kolektor dan seniman poster untuk senantiasa memperkaya khazanah kearsipan yang senantiasa menjadi siklus pembacaan tanpa henti dari suatu perhelatan seni, agar nilai informasi, nilai pengetahuan, serta nilai bukti dari suatu arsip poster dapat terekstraksi. Dan tentunya seniman poster juga membutuhkan kolektor/ kurator sebagai aktor yang senantiasa membuat si seniman tak berhenti dalam gerak kekaryaannya dan membutuhkan kerja para pekerja/ pengelola arsip sebagai pihak yang tak hanya menampung tapi juga mengapresiasi karyanya dengan pembacaan-pembacaan kritis untuk selanjutnya menjadi referensi seniman/ desainer dalam memperkuat karyanya. Dari alasan-alasan itulah peran tiap aktor tak dapat dipisahkan, karena sedari awal kerja-kerja yang mereka lakukan sangat integratif dan tidak dapat timpang. Capaian tiap pelaku tersebut tidak akan tercapai sempurna tanpa keterkaitan peran satu sama lain.

Diskusi sebagai rangkaian utama dari pembukaan pameran poster seni rupa “Masa Lalu Belumlah Usai” ini memang tidak dihadiri oleh banyak tamu, terutama setelah pertunjukan pembuka di mana tamu berkurang hampir separuhnya. Tetapi walau begitu, tidak mengurangi kualitas materi-materi yang dipaparkan oleh para pembicara. Karena para pembicara memunculkan pembacaan-pembacaan yang ternyata sangat luas dalam membaca material serta kerja dalam perhelatan arsip poster pameran seni rupa kali ini, di mana arsip poster pameran seni rupa tersebut tak hanya berhenti sebagai objek koleksi semata atau sebagai pelampiasan sisi romantis kolektornya saja. Perjuangan menempuh hujan deras untuk datang ke diskusi ini serasa terbayar oleh apa yang disajikan sebagai pengkayaan khazanah ilmu pengetahuan di bidang seni dengan sukacita. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

BULETIN IVAA DWI BULANAN | NOVEMBER-DESEMBER 2019

Pembaca yang budiman, entah terasa atau tidak, 2019 sudah sampai di penghujung tahun. Ada banyak kegiatan yang orang-orang lakukan untuk menutup tahun babi tanah ini, entah menyusun laporan akhir, tutup buku, evaluasi tahunan, atau liburan. Newsletter IVAA juga tak mau ketinggalan; hadir untuk menemani pembaca sekalian menutup tahun dengan konten-konten yang ringkas. Berbeda dengan edisi sebelumnya yang mengulas perihal materialitas karya dalam seni rupa kontemporer secara khusus, edisi November-Desember ini lebih memuat sebaran dan beberapa refleksi kegiatan-kegiatan IVAA selama akhir 2019. Ada Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol, Pusparagam Pengarsipan: “The Possibility of Socially Engaged Archiving”, dan infografis outreach IVAA ke beberapa tempat untuk merawat jaringan. 

Selain sebagai sebentuk sajian akhir tahun kepada para pembaca sekalian, kegiatan-kegiatan itu juga upaya memperlebar definisi praktek-praktek kerja pengarsipan dan seni visual. Bahwa dua hal tersebut harus selalu dikontekstualisasikan dan tidak melulu menjadi entitas yang kaku dengan kanon-kanonnya. 
Selain itu, kehadiran teman-teman magang seperti Firda, Fika, Shifa, Bian, Nada dan Jati begitu memberi sumbangsih yang berarti untuk dinamika kerja IVAA. Mereka seolah menegaskan bahwa kerja pengarsipan tidaklah kering seperti yang orang-orang imajinasikan. 
Semoga edisi ini dapat menjadi teman baca sembari menutup tahun. Akhir kata, selamat melakukan aktivitas apapun; selamat Natal bagi yang merayakannya; selamat tahun baru 2020, dan selamat membaca!

Salam budaya!

Sorotan Dokumentasi | November-Desember 2019

Sorotan dokumentasi edisi penutup tahun ini kami fokuskan untuk menyorot dua kegiatan penting yang telah kami upayakan: Festival Sejarah: Jejak Sudirman dan Pusparagam Pengarsipan, sekaligus poin-poin refleksi. Dua kegiatan ini menjadi upaya kontekstualisasi yang terus-menerus terhadap kerja pengarsipan serta seni visual itu sendiri, dengan isu serta kebutuhan sekitar. 

Biasanya rubrik ini memang kami gunakan untuk memuat liputan peristiwa seni, wawancara atau profil seniman. Sorotan dokumentasi kali ini juga menandai upaya kerja pengarsipan kami yang berbeda, yaitu tidak melulu berangkat dari mendokumentasikan peristiwa seni. Jika dilihat kembali, maka rubrik sorotan dokumentasi selama 2019 ini mencoba menyorot seni visual dan pengarsipan dalam definisi yang luas. Mulai dari kelas-kelas literasi seni untuk dua edisi, yaitu Belajar Sama-Sama dan Sama-Sama Belajar. Kemudian sosok ‘manajer’ di balik acara kesenian, Kerja Manajerial, Kerja Kemanusiaan, dan terakhir tentang materialitas karya, Beralih Sebelum Meraih Makna. Seluruhnya tidak ada yang secara khusus menyoroti satu atau dua peristiwa seni tertentu. 

Ini merupakan hasil refleksi kami bahwa seni visual dan pengarsipan juga lahir dari inisiasi-inisiasi di luar yang tidak melulu event based. Kerangka demikian yang coba dielaborasi dalam kerja dokumentasi kami. Masih satu tarikan nafas, dua acara yang kami sorot pada edisi ini ingin menebalkan upaya memperluas definisi pengarsipan dan seni visual. Bahwa pengarsipan sebagai metode merawat pengetahuan selayaknya tidak berhenti pada otoritas institusi tunggal, dan seni visual barangkali dapat menjadi bahasa yang inklusif, tidak melulu sebagai entitas yang kaku serta elitis.

Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

Berikut adalah video dokumentasi kegiatan bersama warga Grogol IX, Parangtritis. Diawali dengan acara Siklus 2.0: Bunyi-Bunyi Masa Lalu (25 Oktober 2019) sebagai pengantar, kemudian dilanjutkan Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol (18 November 2019). Dua video dokumentasi tersebut diproduksi oleh teman-teman Kartitedjo: social enterprise yang bergerak dalam bidang audio visual, khususnya yang berkaitan dengan isu sosial dan kebudayaan lokal. 

Pada dua acara di atas, juga terdapat bincang pengalaman warga mengenai singgungan mereka soal kisah-kisah tentang Bung Karno, Sudirman, serta aktivitas masyarakat setempat yang berkaitan makanan lokal seperti rempeyek hingga sayur lodeh, dan kandang kelompok. Bincang tersebut dikemas dengan format talkshow yang rekaman suaranya dapat diakses pada tautan. 

Selain itu, untuk memperdalam refleksi atas kegiatan pengarsipan bersama warga Grogol IX ini, Eko Setyo Raharjo (perwakilan warga Grogol IX yang terlibat penuh sebagai direktur Festival Sejarah) hadir dan bercerita tentang proses pengarsipan warga tersebut. Presentasi ini digelar bersamaan dengan presentasi dari teman-teman KUNCI Study Forum & Collective (Fiki Daulay dan Nuraini Juliastuti) pada Diskusi Publik Hari 1 Pusparagam Pengarsipan di Rumah IVAA pada 19 November 2019 dengan tema Memory and Counter Memory

Moderator:
Mengingat kita pada saat bersamaan melupakan. Karena kita selalu berkomunikasi menggunakan bahasa, dan bahasa selalu reduktif. Kita diajak untuk meyakini bahwa setiap aktivitas kita atau keberadaan kita ambivalen, dan situasi kita menyimpan itu paradox, inilah yang aku tangkap dari tema diskusi ini.
Pengarsipan yang membumi, secara umum yang saya tangkap, kerja pengarsipan yang mempertahankan pengetahuan, banyak dilakukan orang/ lembaga berotoritas tertentu yang nggak jarang berjarak dengan realitas sesungguhnya yang ingin diabadikan. Membuktikan memory and counter memory berkelindan satu sama lain.

Presentasi KUNCI – Heterotropics
Fiki Daulay:
Mei–Juni 2017, KUNCI diundang untuk terlibat dalam proyek Heterotropics melihat koleksi museum Tropenmuseum. Mulai dengan mitos akademisi dan peneliti yaitu akan sangat mudah mendapatkan arsip ketika berada di Belanda. Pada kenyataannya mitos itu sudah nggak berlaku. Kedua, museum lamban melihat realitas, agak sulit berpacu dengan realitas yang ada. Ada satu object koleksi  berusia 350 tahun yang kita jadikan acuan.
Bagaimana memproblematisir pengalaman kita di sana dengan situasi hari ini? Bagaimana memahami pengalaman orang di luar museum?
Kita, alih-alih melihat museum sebagai pusat pengetahuan, kita melakukan penelitian etnografis. Mewawancarai orang yang melakukan praktik pengarsipan, namun bukan praktisi. Kita wawancarai, arsitek, seniman, sejarawan, eksil, dll. Kita mewawancara mereka, mempertanyakan praktik pengarsipan mereka dan bagaimana pengalaman ketika mengunjungi Tropenmuseum.
Pak Sarmadi, eksil yang menetap di Belanda, mengumpulkan dan mencari tahu apa yang terjadi di Indonesia sampai sekarang. Wawancara ini kami gunakan mencari tahu, adakah praktik pengarsipan lain yang dilakukan bersamaan dengan mencari tahu pengalaman mereka dengan Tropenmuseum.
Dari beberapa koleksi berumur 350 tahun, kami menemukan manekin Suwarsih Joyo Puspito, sastrawan yang ternyata di Indonesia tidak begitu populer. Kami ingin menghidupkan kembali manekin ini dan memasukan karakter yang ada di manekin ini. Kemudian manekin ini yang mewakili rangkaian proses kerja kami dalam proyek ini. Kami merekonstruksi kembali karakter Suwarsih dan menghidupkan narasi fiktif yang kami sandingkan dengan peta, yang tentu saja peta merupakan hal yang penting di era kolonial. Suara Suwarsih menjadi audio guide dalam pameran ini.
Bagaimana membagi metode, apa yang kita lakukan di sana dengan masyarakat, yaitu dengan podcast, simposium dan diskusi publik.

Nuraini Juliastuti (Nuning):
Konteks. Kita melakukan proyek ini di Belanda, dimana Belanda tidak hanya menjajah Indonesia, tapi juga negara lain.
Kita melakukan ini di Tropenmuseum, yang didirikan pertama kali sebagai colonial institution yang menyimpan semua temuan-temuan etnografis yang dijajah oleh Belanda. Yang kita hadapi di sana adalah colongan. 
Persiapan yang kita lakukan: spekulasi teori, kita menyiapkan landasan teori, kita membuat seri membaca bersama teman-teman KUNCI yang lain. Membaca buku Ann Laura Stoler (Along Archival Grain), Foucault (Archeology of Knowledge), Derrida. Ini landasan teori yang kami pertimbangkan sebelum kami berangkat ke Belanda. Poin yang kami dapatkan, pentingnya memperhatikan arsip bukan semata-semata sebagai sumber, karena itu adalah mindset yang kita pakai. Kami berusaha menggeser paradigma itu dan melihat arsip sebagai subyek. Kami menelusuri bagaimana arsip digunakan, kami melihat arsip sebagai alat surveillance (pengawasan) untuk mengendalikan kenormalan. Satu poin lain, arsip bukan dilihat sebagai kumpulan artefak atau materi yang dikumpulkan oleh orang, tapi arsip yang punya agenda, yang dikumpulkan orang-orang yang tentu saja punya agenda.
Kami sangat tertarik dengan gagasan Ann Laura Stoler. Kami tidak tertarik untuk melakukan counter, tidak tertarik melihat Belanda sebagai bekas penjajah, kami lebih tertarik untuk melihat apa ada sisa-sisa yang ditinggalkan oleh Belanda.
Kami juga tertarik dengan gagasan, bukan dengan gagasan materiality arsip, tapi lebih melihat wacana, arsip dan bagaimana dia menentukan masa depan. Saya melihat ada kebebasan untuk mengkonseptualisasi masa depan lewat pengumpulan arsip, itu yang ingin kita capai dalam proyek kita. 
Itu hal yang tentang teori. Begitu kami di sana, saya melihat Tropen sebagai museum, bukan hanya fisik tapi juga birokrasi, betapa sulitnya kita mengakses apa yang ada di sana, yang bahkan adalah berasal dari Indonesia. Itu yang jadi refleksi kita. Kita lebih tertarik untuk melihat arsip bukan sebagai legacy atau warisan, kami akhirnya lebih tertarik untuk membongkar, artist and researcher  technology. 
Bagaimana kita mencoba memproduksi gangguan kerapian dan cara artefak ditata di dalam museum itu. Dengan mewawancarai orang-orang dalam berbagai topik, dan  siaran radio, podcast di museum. Itu cara kita melakukan intervensi.
Gagasan audio guide itu, kita sampai di ujung residensi kami berpikir untuk melihat museum lebih dari sebuah institusi tapi bisa bermain-main dengan koleksi yang ada di Tropen.
Kita bertanya, bagaimana colonial archive ini engage dengan perasaan kita, dengan subyek kolonial dulu, dan bagaimana melihat arsip itu sebagai tempat kembali. Bagaimana kita pengguna memandang arsip kolonial bukan hanya sebagai pengingat, tapi bisa mempertanyakan diri sendiri. 
Momentum untuk mempertanyakan Indonesia, bagaimana kita melihat replika ini. Kita melihat Papua dalam kacamata kolonial. Makanya kita pakai Suwarsih ini untuk membaca ulang arsip kolonial.

Moderator:
Menarik bagaimana kita dikonstruksi untuk berada dalam perspektif tertentu ketika kita mengunjungi suatu museum.
Bagaimana rasanya mengarsipkan diri sendiri? 

Eko:
Saya akan bercerita mengenai proses bagaimana cara kita mengarsipkan:

  • Mengadakan workshop dokumentasi yang diadakan oleh IVAA
  • Mengadakan dokumentasi sejarah-sejarah lokal, baik itu sejarah masa lalu, maupun masa kini.
  • Identifikasi: Sejarah apa saja yang dapat kita dokumentasikan: sejarah masa lalu (sejarah Jend. Sudirman dan Bung Karno) dan sejarah yang belum lama (keberadaan gumuk pasir, rempeyek ibu-ibu, dan kandang)
  • Dokumentasi dari hasil sejarah yang telah diidentifikasi: Melakukan foto-foto pada situs, wawancara dan video.
  • Diseminasi berkaitan hasil dokumentasi yang diperoleh: Melaksanakan festival sejarah (Judul: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol)
  • Mencicipi menu favorit Jenderal Sudirman
  • Talkshow dari berbagai narasumber yang berkaitan
  • Melihat pameran hasil dokumentasi warga lokal (foto maupuan video)
  • Tour (mengunjungi situs-situs peninggalan sejarah)

Moderator
Hasil dari kerja tersebut, hal apa yang berkembang dari masyarakat?

Eko
Sebelumnya, masyarakat di area tersebut belum mengetahui adanya situs bersejarah.

Moderator:
Mungkin selanjutnya kita bisa berdiskusi ringan terkait kedua pengalaman kerja pengarsipan.

TANYA:
Mas Fiki, kenapa sosok perempuan dinarasikan sebagai sosok Suwarsih? Sepengetahuan saya Suwarsih banyak membahas karya di bidang feminisme pada saat itu. Kenapa kok Suwarsih?

JAWAB:

  • Dia menjadi bagian koleksi yang penting. Manekin yang sama dipakai berulang kali dipergunakan nama yang sama. Posisi manekin itu berkaitan dengan politik etis. 
  • Karakter ini jarang diproblematisir. Kenapa dia malah terkenal ketika bukunya diterjemahkan oleh lelaki Belanda? Itu menjadi sebuah pertanyaan.
  • Kita membayangkan museum ini sebagai kelas, yang banyak problem di dalamnya dan hal tersebut menjadi titik temu kita dengan Suwarsih ini.

TANYA:
Jika untuk Grogol, pemilihan atau klasifikasi yang layak tampil atau tidak itu dasarnya apa ya? Kenapa kok memilih hal itu?

JAWAB:

  • Karena jika Sudirman dan Soekarno karena berjasa untuk Indonesia ya.
  • Pada zaman dahulu, terdapat kandang ternak yang apabila hujan kotorannya terbawa oleh air hujan dan jadi kotor, maka ada inisiatif untuk memindahkan kandang kelompok dipindahkan ke suatu tempat khusus. Itu alasannya.
  • Jika mengenai kelompok ibu-ibu rempeyek, hal tersebut merupakan kegiatan dari generasi ke generasi.
  • Untuk gumuk pasir, itu merupakan jenis pasir yang langka. Untuk itu kami dokumentasikan.

TANYA:
Yang saya pelajari dari dua presentasi ini, satunya arsip sebagai subjek, yang satu arsip sebagai bahasa. Pertanyaan tadi juga oke, jika di Purwokerto mungkin narasi tentang Sudirman masih sangat kental ya. Ada satu hal yang hilang jika berbicara tentang arsip, jika kita ingin mendekoloni sistem arsip, kita harus mempelajari relasi kuasa. Dalam konteks itu kan audiens penting. Bisa tolong dijelaskan nanti Mas Eko dan Fiki, audiensnya siapa saja?

JAWAB:
Fiki:
Kenapa kita menggunakan suara sebagai medium, gagasan utamanya adalah untuk bisa melampaui ruang dan waktu. Suara itu sendiri punya sebuah kekuatan untuk mengetahui sebuah jarak tertentu. Jika pertanyaannya adalah audiensnya, agak sulit juga didefinisikan.

Nuning

  • Mungkin bukan audiens, tapi untuk siapa arsip itu. Dalam hal ini kita berhadapan dengan kurasi yang merupakan bagian dari power. 
  • Menurut saya yang dilakukan KUNCI di Tropenmuseum berarti kita bertemu banyak ruang untuk berapropriasi. 

Eko

  • Untuk saat ini mungkin hanya untuk warga lokal.
  • Untuk hasil identifikasi yang kita lakukan di Grogol, seperti Gumuk pasir yang langka. Setelah itu warga jadi tahu jikalau tempat itu harus dilestarikan.

Moderator
Saya menangkap dari kedua presentasi tadi yaitu: sejarah akan menemukan audiensnya sendiri.

TANYA:
Saya tertarik terkait arsip yang dijelaskan, apakah kemudian arsip itu bersifat politis? Saya penasaran teman-teman KUNCI ini seperti apa menggunakan arsip ini dan bagaimana bentuk interpretasi akan arsip tersebut?

JAWAB:

  • Tentunya, segala bentuk yang bersifat mengoleksi dan mengarsipkan memiliki elemennya sendiri. Kita harus tau siapa yang membuat dll.
  • Apa yang disebut Nuning sebagai apropriasi adalah salah satu cara relasi kuasa ini bisa dipertanyakan sebagai posisi agensi. 
  • Cara melihatnya begini, arsip menurut definisinya saja sudah politis. Bukan hanya bagaimana dikumpulkan, tapi lebih ke arah mengapa ini layak dan ini tidak? Dari situ saja sudah politis. Arsip selalu soal sertifikasi. Mengapa hal itu penting? Karena semuanya ingin punya agensi.
  • Kita berusaha menggeser paradigma, bahwa tidak mau menilai arsip dari teksnya saja. Kita kembali melakukan tawaran, tidak hanya datang, melihat, dan foto-foto. Tapi juga harus ikut berkontribusi.

Moderator:
Yang harus ditangkap adalah teman-teman KUNCI berusaha untuk mengintervensi arsip-arsip di Tropenmuseum ya. Melawan dominasi arsip lain. 

TANYA:
Aku penasaran gimana caranya berkompromi untuk melakukan apropriasi dengan Tropenmuseum?

JAWAB:

  • Satu sisi kita juga punya kesulitan untuk berurusan dengan birokrasi Museum, butuh 7  hari. Kita mencari jalan-jalan lain ya. Kita lumayan diuntungkan ya. 
  • Mereka sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kita. Dalam level sehari-hari mereka membebaskan kita ngapain aja. Kita mungkin organisasi yang cukup suka dengan ending yang menggantung, bukanlah sesuatu yang definitive, tujuan pasti. Tujuan utama kita adalah menciptakan teks yang kita bisa bermain-main dengan strukturnya.

Lisis:
Sejujurnya, keberadaan patung, dan nama-nama Jenderal Sudirman di kota-kota terlihat memuakkan. Ada nggak sih narasi-narasi di luar itu, kisah-kisah di luar itu yang muncul? Ini berangkat dari asumsi-asumsi Pak Dirman yang muncul selalu berkaitan dengan ABRI, polisi, dll. Pastinya ada alasan-alasan lain. Muncullah titik-titik yang berupa kantung pemikiran yang mengimajinasikan Indonesia ke depan. Menariknya, IVAA harus belajar pengarsipan dari warga. Karena spiritnya berbeda. 

Moderator:

  • Pengarsipan sifatnya selalu politis. Kita harus tetap mengukur sepolitis apa sih.
  • Ternyata arsip itu sendiri tidak bisa kita terima sebagai data yang mati. Harus kita curigai sebagai suatu struktur kuasa yang berkelindan.
  • Semangat dari teman-teman grogol.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.