Category Archives: Sorotan Arsip

Sorotan Arsip: Karya dalam Peperangan dan Revolusi

Oleh: Hardiwan Prayogo

Dari secuplik kata pengantar bunga rampai yang diterbitkan untuk menandai 15 tahun Sanggar Melati Suci (SMS), secara eksplisit ingin menyatakan bahwa semangat untuk mengajarkan pendidikan/ kelas melukis bagi anak-anak lebih dari sekedar niat, tetapi tekat yang sudah ditunaikan selama bertahun-tahun. Buku ini dalam wilayah yang lebih luas ingin merangkum bagaimana kesenian, khususnya seni lukis, diajarkan kepada anak-anak dalam jenjang pendidikan TK dan SD. Semangat dari sanggar ini adalah mempertemukan anak dari usia dini dengan beragam tata nilai yang ada dalam aktivitas menggambar.

Selain bunga rampai ini, beberapa arsip IVAA baik katalog hingga buku yang berkaitan dengan inisiatif literasi seni. Lebih jauh bisa sejalan dengan bagaimana menanamkan tata nilai, keterampilan, dan pengetahuan dalam medium seni. Salah satunya adalah buku Karya Dalam Peperangan dan Revolusi.  Buku ini sebenarnya sejenis post-event catalogue, karena juga memuat dokumentasi karya-karya lukis yang dibuat oleh 5 orang anak dalam rentang usia 11-15 tahun. Dilukis langsung oleh mereka pada peristiwa agresi militer 1948-1949 di Yogyakarta. Karya-karya 5 bocah Yogyakarta ini dipamerkan di Gedung Agung Yogyakarta pada Mei 1978. Artinya berselang 30 tahun dari sejak awal gambar-gambar ini diciptakan. Karya-karya ini lantas disimpan di Museum Dullah, seniman yang sekaligus guru mereka.

Adam Malik (Wakil Presiden Indonesia 1978-1983) dalam kata sambutan yang tertulis dalam buku, meyakini lukisan-lukisan ini sebagai salah satu dokumen sejarah yang bernilai. Sejarah yang dimaksud tentu adalah momen perjuangan mempertahankan kemerdekaan republik. Satu hal, melalui arsip-arsip ini kita dapat melihat wajah lain dari bentuk-bentuk perjuangan fisik. Lukisan-lukisan anak-anak ini dibuat langsung pada peristiwa mulai dari Yogyakarta diserbu, dikuasai, hingga diambil alih kembali oleh para gerilyawan. Maka tidak mengherankan jika citra-citra yang dilukis tidak jauh dari iringan truck, pesawat tempur, kepulan asap, puing rumah, gerilyawan yang gugur, tentara Belanda, dan lain sebagainya. Melihat arsip-arsip lukisan cat air di atas kertas ini seakan melihat dokumentasi peristiwa secara kronologis dalam corak yang khas dari lukisan anak-anak, dengan kata lain dalam sudut pandang manusia dalam usia yang masih belia.

Apa kaitan anak-anak ini dengan pelukis Dullah? Diceritakan bahwa Dullah yang sempat mengungsi ketika Yogyakarta diserang oleh tentara Belanda, memutuskan kembali ke kota yang saat itu menjadi Ibukota Republik. Dengan peralatan yang serba terbatas, cat air yang dibuat dari bedak dan lem, dan mengambil sisa-sisa cat kalengan. Dengan alasan keamanan, lukisan -lukisan ini berukuran kecil, hanya 7 x 10,5 cm.

Seluruh anak-anak yang terlibat dalam proyek ini masih berusia dibawah 17 tahun. Mereka adalah Muhammad Affandi (12 tahun), FX Soepono (15 tahun), Sri Suwarno (14 tahun), Sarjito (14 tahun), dan yang termuda diantaranya adalah Muhammad Toha (11 tahun). Muhammad Toha harus menyaru dengan berjualan rokok demi bisa melukis. Maklum, karena Dullah memang mengajarkan anak-anak ini melukis objek langsung ditempat, sehingga terlatih dan selalu mencari cara untuk mencatat peristiwa dalam sketsa-sketsa. Sedangkan Soepono dan Muhammad Affandi, selain melukis, juga menjadi penghubung gerilya dari luar ke dalam kota, dan sebaliknya. Beberapa kisah menarik anak-anak ini diceritakan dalam buku ini. Termasuk nasib malang yang menimpa Sarjito karena tertangkap oleh tentara Belanda, dikirim ke penjara anak-anak di Tangerang, dan divonis kurungan penjara 7 tahun.

Sedangkan Dullah tidak hanya berkontribusi mengajar melukis, tetapi juga menjadi penerima pertama dan mengamankan lukisan-lukisan ini dari penggeledahan serdadu-serdadu Belanda. Pelukis senior, Affandi menjuluki karya anak-anak ini sebagai lukisan dokumenter. Hal yang lumrah ketika anak-anak seusia Toha dan kawan-kawan gemar melukis pesawat atau mobil, namun tentu bukan pesawat tempur yang tengah menggempur lawan, atau mobil yang dibumihanguskan karena tumpahnya adu senjata.

Jika direfleksikan dengan kerja pengarsipan, maka anak-anak pada masa tersebut tengah memproses catatan peristiwa dalam tubuhnya dan dituangkan dalam karya lukis. Hingga akhirnya dari lukisan yang kini kita periksa ulang, terlihat bagaimana setiap zaman dan konteks memiliki caranya masing-masing dalam mencatatkan peristiwa di sekitarnya, membekukan pengalaman, dan memperpanjang usia ingatannya atas setiap peristiwa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

SOROTAN ARSIP | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Oleh: Hardiwan Prayogo

Rubrik sorotan arsip biasanya kami tempatkan sebagai ulasan atas arsip-arsip kontribusi. Tidak hanya mengulas, tetapi juga bagian dari apresiasi kami terhadap publik atas partisipasinya dalam kerja pengarsipan. Juga meletakan arsip dalam relasi data dan wacana yang kami coba letakkan secara kontekstual.

Arsip adalah salah satu sumber pengetahuan, penelitian, hingga penciptaan karya seni. Edisi ini, dua arsip yang kami ulas adalah film tentang Nyoman Gunarsa dan Tino Sidin. Ulasan ini ditulis oleh dua kawan magang, Nisa Adzkiya dan Ulva Ulravidah. Ni Luh Putu Indra Dewi Anjani, menyutradarai film tentang jejak karya Nyoman Gunarsa, kisah perantauannya ke Yogyakarta, dan dorongan merangkul kawan-kawannya dari Bali untuk memperkaya jaringan dalam film berjudul Spirit I Nyoman Gunarsa. Sedangkan tentang kisah dedikasi Tino Sidin yang dijuluki “Guru Gambar Sejuta Umat” ada dalam film Sang Guru Gambar yang disutradarai Kiki Natez.

Selain menjadikan orang-orang terdekat, seperti keluarga hingga kawan kedua seniman di atas, kedua film ini cukup banyak menggunakan potongan gambar/ footage. Arsip tentang Nyoman Gunarsa menggambarkan pengalamannya berinteraksi dengan Presiden, dari era Soeharto hingga Jokowi. Sedangkan Tino Sidin lebih banyak mengambil adegan ketika dirinya sedang mengajar gambar di salah satu program TVRI.

Sorotan Arsip November-Desember 2018
Oleh: Ulva Ulravidah, Nisa Adzkiya

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Tino Sidin: Sang Guru Gambar

Oleh Ulva Ulravidah

Tino Sidin, seorang seniman gambar yang selalu gemar memberi motivasi bahwa sebenarnya tidak ada orang yang tidak bisa menggambar. Dengan metode beliau yang sederhana dan santai, orang seakan diajak untuk memaknai praktik menggambar sebagai aktivitas yang mudah. Ketika orang bisa menulis angka atau huruf, itu sudah menjadi modal untuk menggambar. Gambar adalah bentuk dari ekspresi pikiran seseorang yang tidak boleh hanya dinilai dari wujudnya. Dengan menggunakan konsep Kinder Garden ala Taman Siswa, layaknya kerja LSM atau pendamping, anak-anak dididik agar mempunyai rasa kemerdekaan berimajinasi, berekspresi dengan medium gambar.

Tino sendiri mengajar menggambar untuk anak anak bukan agar mereka kelak menjadi seniman, tetapi agar mereka mencintai kesenian. Terciptanya daya berpikir, berimajinasi, dan kepemilikan rasa kebebasan mengutarakan isi pikiran melalui menggambar oleh anak-anak usia dini adalah harapan Tino. Beliau mengajarkan agar anak-anak dapat menghadapi realita sosial, ketika imajinasi mereka mampu untuk mengubah sesuatu menjadi goresan bentuk. Tino selalu mengakhiri proses menggambar dan mengajarnya dengan kata “bagus”. Bukan sekedar kata yang biasa saja, “bagus” menjadi dorongan semangat untuk terus berkarya.

Dedikasi Tino Sidin yang dijuluki “Guru Gambar Sejuta Murid”, terwujud dalam film Sang Guru Gambar yang disutradarai Kiki Natez. Boleh dikata, julukan ini lahir karena ketekunananya  yang selalu mengajarkan cara menggambar yang interaktif dan imajinatif.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Spirit I Nyoman Gunarsa

Oleh Nisa Adzkiya

Nyoman Gunarsa adalah seorang seniman lukis yang mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia. Kemudian ia menjadi dosen di almamaternya tersebut lebih dari 15 tahun mengajar sketsa yang pada akhirnya mengundurkan diri, dan kembali ke tempat dimana ia dilahirkan yaitu Bali. Pria kelahiran 15 April 1944 ini menorehkan kesan yang berarti bagi anak, mahasiswa, dan teman-teman di sekitarnya.

Anaknya, Gde Artison menyatakan bahwa ayahnya berbeda dari seniman lainnya. Masyarakat biasanya menilai bahwa seniman adalah orang yang berpakaian tidak rapi dan asal-asalan. Namun, Nyoman memiliki perspektif berbeda. Ia berpakaian rapi dan memakai udeng, pakaian khas dari asalnya, Bali. Gde Artison juga menjelaskan bahwa ayahnya mengenalkan seni sedari ia kecil dengan selalu melibatkan keluarganya (istri dan anak) dalam proses seninya.

Adik kelas dan murid-murid dari Nyoman Gunarsa seperti Made Djirna, Gede Supada, dan Made Wianta menjelaskan bahwa Nyoman Gunarsa dalam melukis tidak asal lukis, tetapi merasakan apa yang akan dilukis dan selalu mengangkat tema budaya Bali yang dibuat lebih modern. Gunarsa berani menjual karya seninya secara door to door yang pastinya berbeda dari seniman pada biasanya.

Gunarsa membangun museum seni lukis pada 1990, bertempat di Bali yang kemudian pada 2017 lalu dikunjungi oleh Presiden Joko Widodo bersama istrinya. Pada penghujung 2017, Nyoman Gunarsa meninggal dunia pada 10 September yang disebabkan oleh serangan jantung.

Film garapan Ni Luh Putu Indra Dewi Anjani ini menggunakan rentetan pengalaman orang-orang terdekat Gunarsa selama meniti karir sebagai seniman.  Dalam potongan arsip video di awal dan akhir film pun kita masih dapat merasakan energi besarnya dalam setiap gestur dan tutur kata yang meluncur dari tubuhnya. Pengalaman dari setiap orang yang berbeda ini memiliki satu tarikan nafas, yaitu tentang dedikasi, keberanian, dan totalitas Gunarsa dalam berkesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.