Category Archives: RumahIVAA Review

Diskusi dan Bedah Buku “Sejarah Estetika”

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Senin (19/9) pukul 19.00-21.30 WIB IVAA bersama beberapa komunitas lain, seperti Kedai Kebun Forum (KKF), KUNCI Cultural Studies, BRIKOLASE, Impian Studio, Jogja Medianet, dan Indie Book Corner mengadakan diskusi dan bedah buku ‘Sejarah Estetika’ di KKF. Acara ini merupakan bagian dari pameran Buku Andalan 2016. Secara khusus, diskusi ini dihelat dalam rangka melakukan apresiasi secara adil, baik bagi penulis dan publik. Di satu sisi harus adil bagi penulis, karena penulis perlu mendapatkan masukan dari pembacaan yang tidak sebatas glorifikasi dan puja-puji, sementara yang dimaksud adil bagi publik ialah bahwa publik juga layak membaca karya yang berkualitas dan setidaknya mendekati komprehensif. Martin Suryajaya sebagai penulis buku Sejarah Estetika turut hadir sebagai pembicara, menceritakan perjalanan penulisan buku ini. Selain itu, hadir juga dua pembahas, yakni Stanislaus Yangni (penulis dan kritikus seni rupa) dan Wahmuji (pegiat Mediasastra.com dan lingkar belajar kritik sastra). Tak kalah seru, diskusi ini dimoderatori oleh Arham Rahman.

Diskusi dan bedah buku ini diawali dengan sambutan oleh Yustina Neni sebagai tuan rumah KKF sekaligus salah satu pemrakarsa pameran Buku Andalan 2016. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya semangat berdagang sebagai kekuatan dan jalur untuk mengusahakan pergerakan secara sosial dan ekonomi. Dari situlah KKF menjadi ruang alternatif untuk menggelar beberapa aktivitas sosial humaniora, salah satunya adalah diskusi dan bedah buku ‘Sejarah Estetika’.

img_2461

img_2466

Martin menjelaskan bahwa porsi utama dalam bukunya ini adalah tentang kajian pemikiran estetika atau filsafat seni. Pada awalnya juga diceritakan latar belakang proyek penulisan yang disponsori oleh Indonesia Contemporary Art Network (ICAN), yang kemudian menjadi alasan bagi Martin dalam menentukan porsi tulisan. Tentu, alasan di atas membawa dampak adanya beberapa kekurangan dalam buku Martin. Diskusi ini diharapkan dapat membuka kritik dan evaluasi yang kelak  dipertimbangkan.

Latar belakang tersebut juga disampaikan Martin pada kuliah umum di gedung pascasarjana ISI Yogyakarta beberapa jam sebelumnya. Dalam kuliah umum tesebut Martin mengatakan secara lebih mendasar bahwa keberadaan buku ini dilatarbelakangi oleh usaha untuk memberi sumbangan kritik seni (seni rupa) dalam bingkai filsafat. Fokus buku ini adalah pada kebaharuan atau perubahan pemikiran manusia tentang estetika dari periode klasik (pra-sejarah) hingga kontemporer. Tujuannya adalah untuk mendobrak bias estetika modernis yang menciptakan pembedaan kesenian secara biner. Dengan menggunakan sumber primer, Martin melakukan penelitian selama setahun untuk menghasilkan buku dengan ketebalan mendekati 1000 halaman tersebut.

Beberapa penilaian muncul dari para pembahas. Wahmuji, memberikan ulasan dengan memblejeti metodologi sejarah atau historiografi yang dipakai oleh Martin. Ia berpendapat bahwa buku karangan Martin lebih tepat disebut ‘Sejarah Estetika Barat’. Sedikitnya ulasan tentang sejarah pemikiran estetika timur, membuat buku ini didominasi oleh pemikiran para tokoh barat. Lalu ia menilai bahwa historiografi yang dilakukan Martin cenderung berkutat pada perdebatan konsep-konsep besar secara dialektis, selalu dalam alur yang bertentangan satu sama lain. Selain itu ia juga berpendapat bahwa buku ini tidak memiliki fokus spesifik pada kritik seni bidang tertentu.

Sementara ulasan kedua diutarakan oleh Stanislaus Yangni (kerap dipanggil Sius). Sius merasa bahwa pembahasan pemikiran tokoh-tokoh di dalam buku ini sudah cukup asik, meski di saat asik-asiknya mengikuti perjalanan konsep dari tiap pemikir, ia harus kecewa karena harus terputus, lalu pindah ke pemikir beserta pemikiran yang lain. Pernyataan Wahmuji soal alur buku yang dialektis juga diiyakan oleh Sius. Bagi Sius, dalam penyusunan sejarah, tidak harus melulu berkutat pada perdebatan dialektis, relasi atau tiap pergeseran estetika nampaknya juga perlu untuk diperlihatkan. Selain itu, ia melihat adanya perubahan posisi estetika paska fenomenologi, di mana estetika semakin lama tidak lagi menjadi objek yang dibicarakan. Estetika menjadi cara bicara itu sendiri. Di sinilah, penulisan sejarah estetika Martin menemui ketidakmungkinannya, namun tetap ditulis. Bagi Sius, penulisan sejarah estetika di bagian-bagian setelah fenomenologi menjadi terasa sangat gamang.

1

Ruang diskursif semakin hidup ketika Martin merespon beberapa kritik di atas. Terkait anggapan terhadap bukunya yang terlalu ‘barat’, Martin menjelaskan bahwa keterbatasan waktu penulisan menjadi faktor awal. Di samping itu kajian sejarah estetika timur membutuhkan metode penelitian yang lama dan tentu dengan dana besar. Terpencarnya berbagai sumber primer di konteks masyarakat timur akan membuat peneliti mengeluarkan tenaga ekstra untuk menelitinya.

Martin menambahkan bahwa buku ini memang ditujukan untuk pemula, pembaca jenjang S1 (bidang seni, filsafat, dan sastra), dan siapapun yang tertarik seputar topik estetika. Ia mengakui bahwa hal ini menyebabkan kurangnya penjelasan yang detail dan lebih bernuansa general. Nuansa demikian diantisipasi Martin dengan menggunakan fokus pada perdebatan konsep-konsep besar secara dialektis. Bagi dia, cara tersebut mampu membantu pembaca untuk mendapat peta pemikiran dengan masing-masing argumennya.

Terkait estetika sebagai pembicaraan, sebagai yang bukan objek lagi, Martin merespon bahwa akan menjadi sangat rumit ketika hal ini diterapkan dalam penulisan buku Sejarah Estetika-nya. Pembaca akan merasa kesulitan memahami isi dari buku. Kendati di sana-sini terdapat kekurangan mendasar dalam penulisan sejarah estetika, buku ini tetap penting sebagai peta yang terbentang untuk mempelajari rimba pemikiran estetika yang luas nan rumit.

Ketika Seni dan Sejarah Beririsan: Ulasan Kuliah Umum Seni dan Sejarah

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

1

Pada Rabu dan Kamis, 14 & 15 September 2016, Ark Galerie mengadakan kuliah umum Seni dan Sejarah, yang menghadirkan Arin Rungjang sebagai pembicara. Kuliah umum hari pertama diadakan di RumahIVAA, sementara pada hari Kamis, kuliah umum diadakan di Universitas Sanata Dharma (USD), bekerja sama dengan PUSDEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik). Selain Arin Rungjang, Yerry Wirawan, seorang dosen sejarah USD, juga menyampaikan materinya.

img_6641

Diskusi ini diawali dengan presentasi karya seni dari Arin yang berjudul Mongkut (dalam bahasa Indonesia berarti mahkota). Melalui video dan pembuatan replika Mongkut, Arin mencoba menghadirkan Mongkut sebagai sebuah simbol dari proses penelitian sejarah yang ia lakukan. Sebuah simbol relasi antara Thailand dengan Perancis pada masa pemerintahan Raja Rama IV (1851-1868) dan Napoleon III (1852-1870). Pada masa itu, sebagai bagian dari strategi menghadapi kolonialisme Perancis dan Inggris, Raja Rama IV memberikan replika Mongkut kepada Perancis dan Inggris, sebagai sebuah tanda persetujuan perdagangan dan beberapa kebijakan politik asing. Melalui karya seni ini Arin juga ingin menunjukkan kedaulatan Thailand dalam menghadapi kolonialisme. Kedaulatan yang tentu mengundang banyak perdebatan.

Dalam proses menghasilkan karya ini, Arin melakukan penelitian sejarah untuk mengetahui relasi antara Thailand dengan Perancis di masa kolonialisme. Yang menarik adalah bahwa ia menggunakan metode penelitian sejarah yang cukup berbeda dengan apa yang dilakukan para sejarawan pada umumnya. Ia menggunakan metode penelitian sejarah dengan perspektif seni. Intuisi yang lahir dari sebuah pengalaman pribadi menjadi dasar pencariannya. Berawal dari relasinya dengan seorang berwarganegara Perancis, dengan berbagai dinamikanya, Arin tergerak untuk mencari tahu relasi antara Thailand dengan Perancis dalam konteks sejarah. Bagi dia, relasi dua negara tersebut dalam konteks sejarah memiliki hubungan dengan pengalaman personalnya. Dari narasi kecil yang sangat personal menuju metanarasi yang kompleks. Menggunakan ‘yang sekarang’ sebagai konteks untuk membuka kembali sejarah yang diketahui sedikit orang.

Secara lebih mendalam, Arin sebagai seorang seniman yang melakukan penelitian sejarah, ingin mengatakan bahwa yang menjadi poin penting adalah bukan melulu soal sejarahnya, melainkan motif di balik tindakan di masa lampau. Tentang bagaimana sejarah itu dibentuk. Kekuatan ide di balik keberadaan objek. “How the object becomes a history,” ujar Arin.

Metode yang unik ini memunculkan respon dari kacamata sejarawan. Yerry Wirawan, seorang dosen sejarah di Universitas Sanata Dharma dalam diskusi ke dua memberikan pendapat bahwa metode penelitian sejarah dengan perspektif seni sebenarnya juga sebuah proses historiografi. Namun, imajinasi dan intuisi mungkin menjadi hal yang lebih menggerakkan para seniman untuk melakukan studi sejarah. Ia juga mengatakan bahwa imajinasi juga diperlukan para sejarawan dalam melakukan penelitian. Dengan imajinasi dan sumber kedua, seperti aktivitas interaksi dengan masyarakat, mendengarkan musik, menikmati suasana tempat ibadah, para sejarawan akan terbantu untuk membangun imajinasi sejarah yang terhubung dengan konteks sekarang.

Pertemuan antara seni dan sejarah bukanlah sebuah pertemuan yang mau menentukan siapa yang akan memenangkan diskursus, akan tetapi sebuah pertemuan menggembirakan yang membuka pandangan baru. Pandangan akan posisi intuisi dan pengalaman personal yang mampu menuntun seniman untuk melihat sejarah, serta soal imajinasi yang mampu membantu sejarawan menghubungkan yang dulu dengan yang sekarang. Seni dan sejarah dapat berjalan beriringan, meski dengan cara yang berbeda.

IVAA dalam Perhelatan Buku Andalan

Oleh: Sukma Smita

Bersama beberapa komunitas dan penerbit buku indie, beberapa pekan lalu IVAA berpartisipasi dalam Buku Andalan. Buku Andalan adalah sebuah ajang literasi yang berlangsung sejak 8 hingga 24 September 2016 di Kedai Kebun Forum. Sebagai ajang literasi yang tidak hanya menempatkan buku dan produk turunannya sebagai komoditas, dan lebih mengedepankan sebagai ruang interaksi, Buku Andalan diisi dengan beragam acara terkait dengan buku, perbukuan dan literasi. Interaksi menjadi titik tekan dari ajang tersebut, karena dalam interaksi terdapat ruang pengetahuan yang sering kali muncul tanpa disadari. Muhammad Hadid bertindak sebagai kurator utama pada ajang tersebut, sementara soal artistik cukup terbuka. Beberapa komunitas yang terlibat aktif hingga pada penyelenggaraan acara diantaranya ialah The Wingit Clan, Impian Studio, dan Indie Book Corner.

Dalam rangkaian acaranya, komunitas yang terlibat dalam pameran ini juga menginisiasi program-program yaitu bedah buku, diskusi buku, hingga workshop. Sebagai rangkaian pameran, IVAA bekerja sama dengan Brikolase, KUNCI Cultural Studies Center, serta Radio Buku mengadakan dua bedah buku yaitu buku “Karya-karya Lengkap Sugiarti Siswadi”, “Hayat Sastrawan Kreatif Lekra”, dan buku “Sejarah Estetika” karya Martin Suryajaya.

Bedah Buku “Karya-karya Sugiarti Siswadi”

Oleh: Tiatira Saputri

Jumat 9 September 2016 yang lalu di KKF (Kedai Kebun Forum) diadakan bedah buku sebagai bagian dari rangkaian kegiatan diskusi Buku Andalan dengan materi buku “Karya-karya Sugiarti Siswadi” yang ditulis oleh Fairuzul Mumtaz dari karya-karya Sugiarti Siswadi yang berhasil ia kumpulkan. Bedah buku dimulai dengan pembacaan Anindita S. Thayf mengenai karya-karya Sugiarti Siswadi periode 40-50-an yang terekam dalam buku tersebut. Satu ciri yang ditemukan oleh Anindita ketika membaca karya Sugiarti dan membandingkannya dengan penulis LEKRA lainnya adalah penyampaian pesan yang dibawakan dengan cara mengolah intuisi serta nurani kemanusiaan pembaca melalui refleksi tokoh dalam cerita. Menurut Anindita dari sinilah sisi feminin Sugiarti bisa dirasakan selain eksplorasi sudut pandangnya terhadap perempuan dan anak-anak yang begitu kental. Sementara Katrin Bandel lebih menyoroti buku “Karya-karya Sugiarti Siswadi” ini sebagai satu produk penting untuk memperkenalkan sejarah kita, khususnya dengan adanya wujud asli dari karya-karya penulis tersebut. Karena dengan demikian kita bisa melihat dan menimbang sendiri melalui perspektif masing-masing mengenai kebenaran sejarah dan kondisi yang dituduhkan pada LEKRA saat itu. Dari kumpulan karya tersebut kita juga bisa melihat bagaimana bentuk serta pola penulisan pada negara yang baru saja merdeka. Di mana didalamnya terdapat pesan-pesan berupa revolusi fisik, mental, serta pengetahuan yang sering kali disampaikan melalui refleksi atau evaluasi penulis secara personal. Dan berita baiknya, Fairuz menemukan beberapa karya lagi, sehingga koleksinya menjadi 18 cerpen, 8 puisi, dan 3 karya terjemahan. Semoga saja semakin banyak karya yang ditemukan, sehingga kita pun memiliki kesempatan untuk menelusuri karya-karya Sugiarti Siswadi dan memahami sejarah kita dari sana.

Seni dan Advokasi: Seniman Belajar Undang-Undang

Pada bulan Juli lalu, Joned Suryatmoko membuka forum diskusi terbatas untuk 12 orang di Umar Kayam, membicarakan undang-undang dengan materi UU no 39 thn. 1999 mengenai HAM, UU no. 11 thn. 2005 mengenai hak ekonomi, sosial, dan budaya, dan UU no. 12 thn. 2005 mengenai hak Sipil dan Politik. Tujuan awalnya adalah untuk membekali serta membuka kembali pemahaman seniman mengenai undang-undang mengingat represi yang terjadi belakangan, baik yang dilakukan ormas maupun polisi. Dalam menghadapi represi tersebut, pembelaan kelompok seniman melulu dengan argumen soal kebebasan berekspresi, tanpa bisa menindaklanjuti menjadi upaya advokasi. Selain itu, metode, alur dan bahan pembelajaran juga dievaluasi oleh forum. Forum ini dihadiri oleh para pekerja seni budaya untuk membagi pengalamannya berhadapan dengan hukum dan potensi represi, juga Ikhwan Sapta Nugraha dari LBH Yogya yang bercerita sekaligus memberi komentar soal sistematika kelas belajar hukum bagi seniman. Ikhwan membenarkan metode kelas belajar yang dimulai dari pembacaan HAM, studi kasus serta pembacaan UU terkait.

IMG-20160826-WA0001

Seniman belajar hukum memang bukan pertama kali, namun upaya untuk terus melakukan kontekstualisasi itu selalu perlu. Diskusi yang dilakukan di hari Jumat, 29 Juli 2016 ini memang ditujukan untuk menajamkan pemahaman bersama soal keberadaan hukum, aparat serta upaya aliansi antar elemennya, agar kita terbuka dengan model-model advokasi yang terkait dengan aktivitas seni budaya.  

 

 

Ruang Publik: Antara Kompetisi dan Interaksi

Oleh: Lisis

Jumat, 5 Agustus 2016, RumahIVAA bekerja sama dengan komunitas Malioboro yang tergabung dalam COMA, menggelar diskusi soal Apeman dan Seni Ruang Publik. Apeman merupakan festival yang diinisiasi oleh COMA dan telah dihelat hingga ke tujuh kalinya. Acara ini berlangsung di sepanjang trotoar Malioboro dan beberapa titik di kota di sepanjang bulan Juni 2016.

Sementara diskusi yang berlangsung di RumahIVAA dimaksudkan untuk menjadi ruang temu dan refleksi antar pegiat budaya dan ruang publik. Imam Rastanegara, inisiator dari festival ini menjadi pembicara pertama yang berbagi kisah soal sejarah Apeman, dari Apeman 1 hingga sekarang. Tak lupa ia juga menceritakan semangat Apeman, yang dimulai dari lingkar yang sangat kecil hingga menjadi acara yang banyak didukung oleh banyak individu serta komunitas tanpa bantuan dana dari pemerintah. Pembicara kedua ialah Wiwiek Pungki, salah seorang seniman yang terlibat dalam perhelatan Apeman dan bekerja dengan bahan bekas.

13891885_1229101317123319_4283639222041687937_n

13902618_1229101440456640_7990778552287353867_n

Kemudian pembicara ketiga ialah Edial Rusli, seorang dosen Fotografi ISI yang sedang berkutat dengan soal reproduksi ingatan di Malioboro, sebagai bagian dari disertasinya. Selain itu, pengalaman hidupnya yang sangat dekat dengan Malioboro membuat kisahnya soal Malioboro menjadi lebih hidup. Pada kesempatan itu, ia menyayangkan arah perubahan yang terjadi di Malioboro. Malioboro seharusnya bisa dikembangan menjadi area wisata sejarah yang edukatif, tidak hanya wisata belanja. Baginya tidak perlu upaya yang terlampau sulit untuk mengubah hal tersebut. Karena di sepanjang Malioboro tersebut terdapat setidaknya 12 cagar budaya yang seharusnya dijadikan pengetahuan yang bisa ditransformasikan dari generasi ke generasi.

13921100_1229101447123306_5205360694826090778_n

13873005_1229101450456639_5248862732808739534_n

Obrolan tersebut kemudian ditanggapi oleh Elanto Wijoyono, seorang pemerhati isu ruang publik yang aktif menyuarakan pendapatnya seputar pembangunan kota yang lebih ramah modal ini. Isu yang berhasil dieksplorasi dalam diskusi tersebut tidak jauh dari soal fungsi dan hakikat Malioboro sebagai ruang publik. Bagaimana pergeseran fungsi-fungsi tersebut menurut kita, sebagai warga, baik sebagai warga kota dan warga budaya. “Idealnya, ruang publik harus dimaksimalkan menjadi ruang interaksi, bukan ruang kompetisi.” Ujar Elanto Wijoyono di bagian akhir diskusi.

Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global)

Bincang Sore Rumah IVAA, 13 Juni 2016

Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global)

Dalam seri Diskusik (Diskusi Asik) kali ini Roemansa Gilda bekerja sama dengan Rumah IVAA menyelenggarakan Bincang Sore dengan tema Pasar Seni (Redefinisi Go International). Diundang dalam diskusi ini dua pembicara yaitu Rully Sabhara (musikus, praktisi musik, berkarya di Zoo, Senyawa, Raung Jagat) dan Ismail Basbeth (sutradara, praktisi film). Beberapa karyanya Another Trip to The Moon, dan Mencari Hilal yang diajak untuk menggali wacana ‘go international’ melalui cara pandang dan pengalaman mereka. Rully dan Ismail berbicara bahwa tidak hanya keberuntungan, namun juga kerja keras, sikap profesional, pembangunan, pengelolaan jaringan, hingga pengembangan potensi merupakan beberapa hal penting yang membuat karya mereka dikenal di dunia internasional. Selain itu diundang pula Irham Anshari (Penggemar Film dan Peneliti SOAP: Study On Art Practice) sebagai penanggap yang berbagi hasil penelitiannya tentang fenomena ‘go international’.

Ketika menempatkan perbincangan ini dalam konteks hubungan geopolitik, Irham menyampaikan pandangan kritisnya bahwa penyelenggaraan program internasional tidak pernah lepas dari politik budaya suatu negara, baik berupa motif promosi negara serta dalam rangka menggeser pusat kebudayaan. Meski di sisi lain, kemandirian para aktor-aktor budaya, seperti para pembicara di atas tetap perlu kita apresiasi. Karena pada akhirnya, menjadi bagian dari dunia internasional bukanlah satu-satunya tujuan. Tujuan utama tetap terletak pada proses, hasil berkualitas serta strategi di tengah jalan dalam menghidupi idealisme dan kreatifitas di tengah dunia yang sudah sedemikian pragmatis.

Foto dokumentasi Bincang Sore Rumah IVAA: Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global) dapat dilihat melalui tautan ini.

Ngobrol Komik bersama Aji Prasetyo “Membedah Alibasah Sentot Prawirodirjo”

Sampul "Harimau dari Madiun"
Sampul “Harimau dari Madiun”

Ngobrol Komik bersama Aji Prasetyo “Membedah Alibasah Sentot Prawirodirjo”, merupakan tajuk acara di IVAA yang berlangsung pada Jumat, 26 Juni 2015. IVAA bekerja sama dengan Rumah Komik Museum dan Tanah Liat (MDTL), mengundang Aji Prasetyo untuk berbicara mengenai komik barunya yang berjudul “Harimau dari Madiun”. Komik yang ia buat di tahun 2013 ini menceritakan mengenai Sentot Prawirodirjo, panglima perang andalan Pangeran Diponegoro, yang memutuskan berhenti bergerilya dan bergabung dengan militer kerajaan Belanda. Banyak spekulasi tentang motivasi Sentot Prawirodirjo mengakhiri perang. Ngobrol komik ini mengundang Kurnia Harta Winata dan M. Hadid sebagai penanggap, sedangkan Terra Bajraghosa menjadi moderator.

Unduh berkas-berkas presentasi para pembicara di @rsipIVAA, dan simak foto-foto dokumentasi acara diskusi di RumahIVAA melalui facebook IVAA.

Mengapa Sentot Prawirodirjo memutuskan berhenti perang dan bergabung dengan militer kerajaan Belanda? Panglima perang andalan Pangeran Diponegoro itu tidak pernah menulis tentang apa yang dipikirkannya, sehingga hal itu tetap menjadi misteri dalam sejarah. Orang boleh menebak sesukanya. Mungkin saja dia takut mati. Atau mungkin tergiur iming-iming kekayaan yang ditawarkan Belanda. Atau, siapa tahu bangsawan itu sudah tidak kuat lagi hidup bergerilya. Dan masih banyak kemungkinan lain.

“Harimau dari Madiun” adalah komik (atau lebih tepatnya novel grafis, mengingat betapa serius alur dan banyaknya catatan kaki) yang saya buat di tahun 2013 adalah spekulasi saya tentang motivasi pemuda belia itu mengakhiri perang. Butuh banyak literatur untuk memperkuat analisa. Saya pelajari latar belakang keluarganya, perwatakan pribadinya, dan kondisi di medan tempur perang jawa di penghujung tahun keempat. Saya yakin semua itu berkaitan dan menjadi dasar pertimbangan Sentot.

Di antara semua literatur, buku karya Peter Carey lah yang paling banyak saya rujuk. Bagaimana tidak, beliau adalah sejarawan Inggris yang mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk menggali sejarah Diponegoro dan konflik seputar perang jawa. Tak pelak, obsesi mengejar Sentot mempertemukan saya dengan beliau.

Dan impian saya pun akhirnya terwujud. Yaitu memamerkan “Harimau dari Madiun” di publik kota Madiun sekaligus mengupasnya bersama Peter Carey. Warga kota ini sudah terlalu lama tersudutkan oleh dogma sejarah versi orba dengan stigma negatif, yaitu sebagai basis partai terlarang. Jujur harus diakui pendiskreditan sejarah ini membawa efek yang tidak menguntungkan.

Kini saatnya warga Madiun membangun kepercayaan dirinya. Mereka berhak tahu bahwa banyak tokoh legendaris yang lahir dari sana. Bahwa Madiun adalah kampung halaman para petarung, memang begitulah adanya. Karena di sana, naluri melawan penindas sudah terwariskan dari generasi ke generasi.

Aji Prasetyo, Malang, 21 Mei 2015.

‘Taman Bertumbuh’ Kampung Ratmakan

Poster for Taman Bertumbuh http://tamanbertumbuh.tumblr.com/
Poster for Taman Bertumbuh http://tamanbertumbuh.tumblr.com/

Jogja Independent Residency Program (JIRP) kali ini bekerja sama dengan Ketjilbergerak untuk memfasilitasi residensi dua seniman-peneliti The Arts Factory (Hobart, Tasmania), yaitu Jorgen Doyle dan Hannah Ekin pada bulan Agustus hingga Oktober 2015 . Proses mereka tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat di Kampung Ratmakan selama tiga bulan membantu mereka melihat bentuk alternatif ruang publik melalui persepsi anak-anak. “Junk Playground” movement pasca Perang Dunia kedua adalah inspirasi mereka untuk bersama dengan anak-anak, mengolah lahan kosong yang rawan sengketa. Lahan yang sehari-hari dijadikan ruang bersama oleh warga, ditumbuhkan menjadi taman, menjadi sebuah alun-alun yang membuka imajinasi permainan anak melalui prasarana fisik ala playground yang dibangun dari sampah, barang bekas, dan benda sehari-hari.

Simak foto dokumentasi Bincang Sore IVAA bersama Jorgen Doyle dan Hannah Ekin di RumahIVAA Jumat, 9 Oktober 2015 di sini.

Tautan lainnya
JIRP
Taman Bertumbuh