Category Archives: RumahIVAA Review

Bioscil 10: Berkunjung ke Dipowinatan

Oleh: Putri Ratna

“Bioscil” merupakan kependekan dari bioskop kecil dan keliling. Layaknya bioskop namun dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kecil yang juga dimaksud di sini menunjuk pada segmen publik yang ingin dilibatkan, yakni anak-anak. Keliling merupakan salah satu konsep yang ditawarkan Bioscil, yang pada mulanya dimaksudkan untuk memfasilitasi penonton usia anak di lokasi yang jauh dari bioskop.

Sebagai ruang alternatif menonton film, Bioscil diinisiasi oleh duo seniman asal Yogyakarta yaitu Hindra Setya Rini (Hindra) dan Rifqi Mansur (Kiki) sejak akhir tahun 2011. Selain sebagai ruang alternatif menonton film-film pendek yang inspiratif, harapannya Bioscil dapat memfasilitasi proses pertemuan kreatif dan interaktif anak-anak dan remaja.

Berawal dari banyaknya anak-anak dari Dipowinatan dan sekitar Rumah IVAA yang sering main game online melalui telepon pintar mereka dengan memanfaatkan wifi IVAA, beberapa orang dari IVAA kemudian terpancing untuk membuat pemutaran film dengan tema yang dekat dengan dunia anak, termasuk soal game online. Pada 18 April 2017 lalu, Bioscil singgah di Rumah IVAA dengan memutarkan dua buah film yang berjudul “Ayo Main” garapan Bambang ‘Ipoenk’ KM dan “Singsot” garapan Wahyu Agung Prasetyo.

Melalui program Bioscil ini, IVAA berupaya mendekatkan diri pada warga sekitar, terutama anak-anak yang sering datang di Rumah IVAA, namun minim interaksi.  Selain sebagai ruang apresiasi, program ringan semacam ini utamanya menekankan pada indahnya interaksi.


*Putri Ratna Dewi Werdiningsih, mahasiswa angkatan 2013 Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang banyak terlibat kegiatan kemahasiswaan di kampusnya; antara lain tergabung dalam Komunitas Lensa 18, Paduan Suara Miracle Voices V, dan Kampung Komunikasi. Dalam magangnya di IVAA sejak awal Maret hingga akhir Mei 2017, Putri membantu kerja pendokumentasian kegiatan seni dan pengelolaan hasil dokumentasi.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Musrary bersama Umar Haen

Oleh: Padma Kurnia

Dalam sembilan lagu yang dibawakannya bersama Arok (nama pemain perkusinya), terlihat berbagai usahanya dalam mengolah tema-tema seputar usia dan waktu.  Petikan senar gitar yang menenangkan mampu menggambarkan kegentingan dari pesan-pesan yang hendak dimunculkan. Umar Haen, solois berambut gondrong ini mengungkapkan bahwa lagu bisa menjadi ‘kulkas emosi.’

Beberapa kisah dimunculkan Umar Haen dalam lagu “Racau di Malam Kacau” dan “Tentang Generasi Kita.” Para penonton yang hadir di RumahIVAA diajak untuk mengingat kampung halaman masing-masing melalui “Kisah Kampungku”, sambil mengintip kampung halaman Umar di Temanggung yang terekam dalam sebuah video pendek.

Anak-anak muda di desanya tidak banyak yang mau tinggal lalu menggarap sawah. “…jadi memang di kampung saya itu, hampir sebagian besar pemuda yang sudah lulus sekolah itu impiannya adalah untuk merantau…” ungkapnya. Sejauh ini Umar belum pernah menemukan pemuda di desanya yang ingin meneruskan bekerja di sawah.

“Kisah Kampungku” juga memuat penggalan kelam program transmigrasi Orde Baru yang berdalih pemerataan pembangunan. Akibatnya, merantau kian membudaya. Pada saat yang bersamaan, generasi di atasnya dibungkam dengan program pangan Orba. Dalam lagu yang berjudul “Nasihat Kakek; Jangan Jual Tanahmu”, Umar teringat akan wejangan kakeknya untuk tidak menjual tanah warisan dan menganggapnya sebagai pamali.

Sebagai lagu penutup, Umar menafsir bagaimana mahasiswa tumbuh di Yogyakarta dengan lagu berjudul “Di Jogja Kita Belajar”. Sembilan lagu yang Umar bawakan merupakan materinya di album pertama yang rencananya rilis setelah Ramadhan.

Hampir semua lagu Umar ciptakan di sepertiga malamnya karena dia merasa waktu itu adalah waktu di mana semua pikiran; ingatan, emosi, dan kegelisahan dipertajam. Musik metal menjadi inspirasi Umar dalam menciptakan lagunya. Tak hanya itu Umar pun punya saluran Youtube favorit yang bisa menginspirasinya pula. Sedangkan untuk inspirasi lirik, Umar banyak mendapatkannya dari buku.

Mendengarkan komposisi musik dan lirik lagu-lagu Umar malam itu, tidak heran jika sudah banyak yang menunggu albumnya. “Semua karya saya memang saya ciptakan di sepertiga malam saat semua orang sudah terlelap. Semoga habis lebaran nanti bisa terealisasi,” ungkap Umar sebagai kalimat penutup pertunjukannya malam itu.

| klik disini untuk melihat video |


*Wahyu Padma Kurnia, (l.1995) mahasiswa kelahiran Kota Tulungagung ini jauh-jauh datang ke IVAA khusus untuk magang. Ia adalah mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Negeri Malang angkatan 2013. Magangnya dimulai pertengahan Mei lalu hingga dua bulan ke depan. Kurnia membantu kerja Tim Dokumentasi, terutama dalam kerja dokumentasi kegiatan seni dan pengolahan file video dan foto.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H | EID MUBARAK!

Pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta V Tahun 1993. Koleksi Taman Budaya Yogyakarta.

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Menyambut Idul Fitri, IVAA akan tutup pada 23 Juni 2017,
dan akan kembali buka pada 3 Juli 2017

Salam hangat,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wish you

Happy Eid 1438H

Welcoming the feast of Eid, IVAA will be closed from the 23th of June 2017
and will be back to operations on the 3th of July, 2017.

Warm regards,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)


Artikel ini merupakan Rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Seni, Bali, dan Identitas Etnis

Oleh: Hertiti Titis dan Sukma Smita

Secara harfiah, Arus Bawah berarti aliran air yang mengalir di bawah permukaan. Sedangkan sebagai idiom, ia merujuk pada perasaan atau tendensi tersembunyi yang sering kali berbeda dengan apa yang mudah dilihat dan dipahami.

Kalimat di atas merupakan kutipan tulisan pembuka Sita Magfira dalam katalog Pameran “Arus Bawah” yang diselenggarakan di Jogja Contemporary, 7-24 Februari lalu. Pameran ini diikuti oleh enam orang seniman asal Bali yang masih menyandang status sebagai mahasiswa Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta, yaitu I Made Agus Darmika (Solar), I Putu Adi Suanjaya (Kencut), Kadek Marta Dwipayana (Temles), Ngakan Putu Agus Arta Wijaya (Dewo), Pande Giri Ananda (Rahwono), serta Putu Sastra Wibawa (Sas). Judul “Arus Bawah” dipilih demi merangkum proses bekerja para seniman, serta untuk melihat ulang karya keenam seniman tersebut, mempertanyakan corak kebalian menurut pandangan mereka sekaligus mencari tahu ada tidaknya corak kebalian itu sendiri di dalam karya-karya mereka.

Sebagai bagian dari rangkaian pameran, Jogja Contemporary bersama IVAA menggagas serial diskusi bertajuk “Seni, Bali, dan Identitas Etnis” yang berlangsung selama dua hari pada 16-17 Februari 2017, di Rumah IVAA. Seri diskusi tersebut dimoderatori oleh Sita Magfira yang ikut terlibat dan mengamati proses berkaya keenam seniman, kemudian menuliskan pengalaman dan temuan-temuannya di dalam katalog Pameran “Arus Bawah”.

Wicara Seniman
Pada acara hari pertama yang berbentuk wicara seniman ini dihadirkan enam seniman peserta Pameran “Arus Bawah” untuk bercerita mengenai karya mereka, baik latar belakang maupun proses kreatif yang mereka lalui. Perbincangan yang dimulai pukul 15.30 dan dimoderatori Sita Magfira ini diawali cerita Dewo dan Solar tentang kesenian di Bali. Menurut Dewo, memandang kesenian di tempat asalnya itu tak lepas dari konsep dasar Hindu Bali; Satya (kebenaran), Siwam (kesucian), dan Sundaram (keindahan). Ketiganya merupakan unsur yang selalu ada dalam kegiatan ritual keagamaan maupun kehidupan masyarakat Bali sehari-hari, tak lepas pula di dalam kesenian.

Hampir mirip dengan yang dikatakan Dewo, Solar yang dalam pameran tersebut menampilkan karya instalasi berupa berbagai macam kue sesaji dalam ritual keagamaan menyatakan bahwa kesenian sudah sebegitu mengakarnya dalam kehidupan masyarakat Bali, namun ini tidak mereka rasakan, karena sejak mereka kecil kehidupan yang mereka jalani sudah seperti itu. Justru sejak berjarak dengan tempat asalnya itu, Solar bisa melihat bahwa segala aspek dalam kehidupan di Bali tak lepas dengan kesenian.

Kencut berusaha bercerita tentang isu sosial yang ada di sekitarnya melalui karyanya yang berbentuk boneka. Dalam pandangan Kencut orang-orang selalu ingin menjadi yang paling terlihat. Seniman keempat yaitu Rahwono, lahir di keluarga pandai besi di Bali. Karena terbiasa melihat bagaimana proses pembuatan keris, Rahwono membayangkan dirinya adalah Empu Gandring yang terlahir kembali, kemudian ia melukiskan senjata-senjata modern baru khayalannya. Karyanya yang berupa ukir-ukiran memakai teknik plototan juga dipengaruhi oleh pengalamannya bekerja sebagai pengukir di pura. Seniman selanjutnya Temles adalah yang paling gemar berpetualang dengan berbagai jenis medium. Ia bercerita tentang perjalanannya mengeksplorasi berbagai teknik dan medium mulai dari plototan cat dan kemudian plototan lem kayu. Ia selalu menghadirkan bentuk atau figur manusia dalam setiap karyanya. Pada tahun 2012, Temles mencoba bereksperimen dengan media lidi, tampah, robekan kardus bekas, hingga mencoba menganyam kanvas.

Sas merupakan seniman terakhir yang mendapat kesempatan bicara. Masa kecilnya di area Sukawati yang bertebaran dengan tempat produksi maupun pasar seni sempat membuat Sas merasa jenuh dengan kesenian, ditambah lagi ia pun terlahir di keluarga perupa. Kejenuhan tersebut membuatnya berusaha keluar dari seni. Tapi malangnya saat mencoba kuliah di jurusan ekonomi otaknya tak sanggup mempelajari ilmu tersebut, dan semenjak itu pula ia menyadari bahwa ia tak bisa lepas dari kesenian. Maka ia pindah ke Yogya untuk melanjutkan kuliah di bidang seni. Sas tertarik untuk mengeksplorasi berbagai bahan maupun teknik, kini ia gemar menghadirkan plat aluminium dalam bidang kanvasnya. Objek dalam lukisannya pun terus berubah, mulai dari figur perempuan hingga titik, garis, maupun bidang.

Serangkaian proses eksperimen dan eksplorasi yang dilakukan keenam seniman dalam kekaryaan mereka mengundang pertanyaan dari salah satu hadirin, yakni tentang hasil apa yang sudah dicapai dari berbagai eksplorasi yang dilakukan, hal tersebut berkaitan dengan banyaknya seniman ternama asal Bali yang memiliki ciri khas kuat dalam karyanya. Pertanyaan tersebut ditanggapi keenam seniman dengan cukup menarik. Yang pertama bahwa sebagai seniman muda mereka masih ingin sebebas mungkin menjajaki berbagai kemungkinan teknik maupun medium. Kedua, proses pencarian ciri khas ini justru mereka anggap sebagai suatu hambatan, karena tidak semua ide bisa divisualisasikan di dalam kekhasan yang ingin dibangun. Bahkan salah seorang seniman, Temles, mempertanyakan makna dari ‘ciri khas’, apakah karakter seniman ditentukan oleh seniman itu sendiri atau muncul seiring proses kesenimanannya.

Seni Bali dan Identitas Etnis
Pada perbincangan hari kedua yang juga dimoderatori oleh Sita Magfira, dihadirkan dua  orang pemantik diskusi, yakni Tiatira Saputri yang menyajikan hasil pendalamannya tentang seni rupa dan Bali. Pemantik kedua adalah A. Anzieb yang menyampaikan pandangannya tentang identitas etnis. Tia yang merupakan salah satu staf IVAA bagian Kajian Arsip mengutip pernyataan Arya Sucitra bahwa, “Orang Bali itu sejauh-jauhnya dia pergi dari Bali pasti akan kembali lagi ke Bali, karena mereka terikat dengan banjar”. Fakta mengenai banjar ini rupanya memancing keingintahuan Tia mengenai banjar itu sendiri. Banjar merupakan kesatuan masyarakat yang sifatnya komunal, di mana kelompok lebih dominan dari individu. Iklim berkesenian di Bali juga sangat dipengaruhi oleh budaya komunalnya, mereka lebih melihat teknik dan keterampilan daripada autentisitas karya masing-masing. Ini terlihat dari karya-karya yang bersifat homogen. Poin kedua yang disampaikan adalah tentang laku mereka yang selalu terikat dengan kepercayaan. Walau di dalam kesenian mereka dibebaskan untuk berekspresi, tapi sering kali tetap dijumpai beberapa elemen yang menyiratkan pengetahuan yang mereka yakini. Para perupa Bali yang tinggal di Yogya, karena berjarak dengan kelompoknya mencoba mendalami autentisitas karya masing-masing. Sebagai upaya paling dasar, mereka merombak apa yang selama ini sudah disepakati di dalam kelompoknya. Di sisi lain Tia juga melihat pembentukan Sanggar Dewata Indonesia (SDI) salah satunya adalah sebagai wujud rasa kehilangan yang dialami para perupa Bali yang berkuliah di Yogya saat terlepas dari banjarnya, dengan kata lain sanggar didirikan sebagai representasi dari banjar. Akibatnya mereka pun cenderung kembali lagi pada iklim berkarya yang homogen. Fakta menarik adalah bahwa di tahun 90-an SDI membuka keanggotaannya untuk perupa selain Bali seperti Heri Dono, Eddie Hara, Ivan Sagito dll. Dengan hal tersebut, kita tak lagi bisa mengatakan landasan pendirian SDI hanya kesamaan tempat asal saja. Keterbukaan ini juga menandakan bahwa SDI ingin terlepas dari homogenitas yang menjadi stereotip yang acap kali ditujukan pada perupa Bali.

Pemantik diskusi kedua A. Anzieb, merupakan kurator pameran SDI tahun ini. Anzieb memberikan pemaparan tentang identitas dan etnis dalam seni rupa. Menurutnya SDI merupakan komunitas seni rupa pertama yang dibentuk di Yogyakarta atas dasar kesamaan etnis. Mereka secara bersama-sama ‘mengeksklusifkan diri’ di dalam bidang sosial kesenian. Asumsi Anzieb mengenai digunakannya kesamaan etnis sebagai identitas komunitas adalah karena ada kecanggungan atau ketidakpercayadirian dalam berkarya secara individu. Pengertian identitas dalam seni rupa itu sendiri menjadi sangat luas, pemahaman identitas bisa mengarah pada persoalan asal-usul budaya, ada tidaknya kebudayaan, dan lain sebagainya. Lagi pula untuk mendefinisikannya persoalan identitas dibutuhkan ruang dan waktu tersendiri. Anzieb berpendapat bahwa identitas terbentuk atas dua konstruksi kata, yaitu kodefikasi dan komersialisasi. Kodefikasi berguna untuk memahami kode-kode visual yang lebih dekat dengan seniman-seniman — terutama seniman muda — di mana hal tersebut tentu merupakan modal usaha yang menjadi keniscayaan. Sementara komersialisasi sangat dekat dengan bisnis, terkait sifatnya yang berantai dari tangan ke tangan, dari relasi ke relasi. Komersialisasi membutuhkan pelantang sebagai corong media, selain juga strategi atau kemasan yang lebih dekat dengan pasar.

Para hadirin perbincangan pun menanggapi pemaparan para pemantik. Salah satunya yang menarik adalah hadirin yang berpandangan saat ini tidak hanya pameran kelompok yang mengatasnamakan etnis, di banyak kesempatan masalah kewilayahan dielaborasikan dalam perhelatan. Yang perlu dipertanyakan adalah sejauh mana kita membawa persoalan-persoalan kewilayahan ataupun identitas di tengah tarik-menarik kepentingan antara rezim wisata yang menjual ekosistem lokal dengan nilai tinggi, di sisi lain ada pula penyeragaman yang mengatasnamakan globalisasi.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas (l.1995) adalah mahasiswa D3 Bahasa Prancis Universitas Gadjah Mada, mengikuti program magang di bagian arsip sejak awal Februari 2017 selama dua bulan.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Terasiring: Bercerita Tentang Kerinduan dan Kenangan

Oleh: Grace Ayu Permono Putri

Rarya Lakshito (selo) dan Ringga Ferdian (vokalis dan gitar) adalah duo akustik yang menamai diri mereka ‘Terasering.’ Terasering sendiri adalah proyek musik yang dibuat di tahun 2016 dan akan segera merilis mini album. Pada 24 Maret lalu Terasering membawakan 9 buah lagu dalam pertunjukan mini yang digelar oleh IVAA dan sekaligus menjadi awalan program rutin Musrary. Diselingi dengan obrolan ringan dan kuis kecil-kecilan, acara tersebut berlangsung meriah dengan penonton yang memadati ruang pertemuan IVAA sejak pukul 19.00 hingga 21.00.

Sembilan lagu dibawakan dengan apik oleh Rarya dan Ringga dalam beberapa sesi. Diawali dengan 4 lagu pertama, yaitu Kawa, Fatamorgana, Lighthouse Man, dan Terimakasih. Lalu sesi kedua dibawakan 4 buah lagu dengan judul Sweet Afternoon, Catatan Perpisahan, Serumah, serta Air Mata Juli. Sementara di sesi terakhir ditutup dengan Suara Kerinduan.

Melalui program Musrary yang rencananya akan dihelat sebulan sekali ini, IVAA menekankan fungsi ruangnya sebagai ruang apresiasi. Walaupun sehari-harinya IVAA digunakan sebagai ruang kerja, ruang penyimpanan arsip seni rupa, dan perpustakaan publik, namun sebetulnya ruang IVAA tidak tertutup untuk aneka kegiatan yang bersifat ringan, menghibur, namun sesungguhnya merupakan hasil kebudayaan anak muda Indonesia sekarang yang berkualitas. Selain sebagai ruang apresiasi, harapan Musrary cukup sederhana, yakni menyediakan ruang temu antar pegiat musik, yang saling memotivasi dan menghidupkan inspirasi.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Kontekstualisasi Arsip, Redefinisi Seni dan Politik

Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sekira kurang dari satu semester, tim program IVAA tengah menyiapkan katalog data dengan tema Seni, Aksi, dan Jogja sebagai Ruang Urban. Buku Katalog Data IVAA ini disusun dari berbagai peristiwa seni budaya yang mengiringi berubahnya arah gerak kota Jogja pasca 1998. Penyusunan buku ini dilatarbelakangi dengan semangat untuk menggarisbawahi beragam aksi seni budaya yang mengambil bagian cukup penting dalam kritik sosial serta produksi pengetahuan. Selain itu, penerbitan ini juga merupakan usaha untuk melakukan kontekstualisasi data dan peristiwa, dengan menarik pembacaan ke ranah persoalan.

Persoalan yang dimaksud di sini ialah berbagai hal yang hadir ketika kota ini sedang digerakkan menuju standar tertentu, seperti standar kota global ataupun untuk mengejar predikat tertentu, sebagai kota wisata budaya dsb. Tepat ketika Yogyakarta sedang digerakkan ke arah tertentu, berbagai respon kreatif juga hadir mewarnai, baik yang datang dari kelompok seniman maupun inisiatif warga. Subjek seni disini juga sengaja kami longgarkan, untuk memeriksa berbagai model kolaborasi yang selama ini sering disebut sebagai metode yang terbuka.

Kehadiran buku katalog data ini kelak akan dijadikan pijakan narasi untuk festival Arsip IVAA yang akan dihelat di jelang penghujung tahun ini. Harapannya, tujuan dan maksud yang menjadi spirit kami untuk menghidupkan arsip sekaligus membuat kerja pengarsipan kontekstual dengan jaman juga tetap terjaga. Selain untuk melakukan kontekstualisasi atas berbagai aksi seni dan budaya yang selama ini dilakukan selama hampir dua dekade pasca 1998.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Persiapan JABN dan Kabar dari Kerja Jaringan Gunungkidul

Oleh: Pitra Hutomo

Tahun 2016 menandai jeda tahun kedua pasca penyelenggaraan Hibah KARYA! (Kembangkan Arsip Budaya!), yang di tahun 2013 membuka kesempatan bagi para pekerja seni untuk mereproduksi gagasan setelah meneliti arsip budaya koleksi anggota Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN). Di tengah periode jeda, IVAA melakukan evaluasi besar menjelang satu dekade pembaruan visi dan misi lembaga. Hasil evaluasi IVAA merumuskan kebutuhan untuk merevitalisasi konsep JABN, agar JABN bisa mewadahi praktik pertukaran pengetahuan melalui kerja pengelolaan dan pengkajian arsip. Misi ini tentu berbeda dengan JABN sebelumnya, yakni menjadi wadah untuk bertukar pengetahuan tentang praktik alih media rekam, sekaligus jejaring antar pembutuh solusi untuk keterbatasan sarana fisik untuk penyimpanan dan preservasi dokumen.

Makna arsip budaya digali lebih dalam pasca IVAA menerbitkan buku “Arsipelago: Kerja Arsip dan Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia.” Buku Arsipelago dibawa ke beberapa kota untuk didiskusikan dengan praktisi arsip, sejarah, dan media baru. Penamaan “Menanam Arsip” sebagai judul rangkaian diskusi bermaksud membangkitkan rekam jejak peradaban manusia di komunitas-komunitas agraris yang terhimpit karena modernitas telah memaksa terjadinya alih fungsi dan hilangnya hak pemanfaatan lahan akibat pergantian kepemilikan. Dalam komunitas yang mudah lupa karena (di antara sebabnya adalah) jarang mencatat, merefleksikan perubahan lingkungan adalah kerja kebudayaan. Konon, semakin canggih kemampuan manusia untuk mewujudkan gagasan artistik karena kecakapan mengolah medium atau tergarapnya ruang-ruang apresiasi seni sebagai ekspresi maupun disiplin, semakin tinggi pula peradaban. Apakah benar demikian jika sejak awal cara mengakses pengetahuan dibatasi otoritas dalam ruang-ruang pendidikan formal?

Kasus di Pantai Kapen/Watukodok sempat mengisi halaman muka Tribun Jogja. Di lokasi konflik, warga mulai ditempa pengalaman menghadapi derasnya arus modal di sekitar mereka, dengan maupun tanpa bukti keterlibatan birokrat setempat atau Kasultanan sekalipun.
Sumber: Tribun Jogja, 30 Mei 2015

Maka, di tahap awal ini IVAA sengaja hendak membebaskan studi literatur dari upaya teorisasi praktik-praktik keterlibatan maupun ketersambungan dalam disiplin seni (participatory and engagement in art). Sebagai pihak yang setiap hari menggeluti laporan kerja budaya terkini lalu mencari konteks pada praktik-praktik masa lampau, mempelajari ekspresi artistik dan perluasannya yang terang-terangan memasang label ‘seni partisipatoris’ hanya akan berhenti sebagai laku pengawetan. Karena itulah metode riset aksi menjawab kebutuhan kontekstualisasi untuk rekaman yang di masa mendatang menyusun tubuh arsip budaya Indonesia. Ruang lingkup yang kami tuju adalah spektrum yang menggunakan seni budaya khususnya seni rakyat, sebagai komoditas. Studi literatur berangkat dari kebijakan nasional tentang kebudayaan, pariwisata, dan pendidikan berdasarkan sejarah nomenklatur kementerian hingga dua tahun belakangan menjadi badan tersendiri. Konteks setempat di lingkungan terdekat IVAA di Yogyakarta mensyaratkan pula pemahaman tentang kebijakan daerah, mulai dari konsekuensi penerapan paradigma Keistimewaan di provinsi hingga desa, sekaligus relasi kuasa yang bekerja karena keberadaan Kraton sebagai simbol budaya dan politik permainan politik identitas.

Peta wisata Gunungkidul yang menunjukkan potensi pariwisata alam.
Sumber: visitingjogja.com

Riset aksi yang mendahului guliran baru JABN berbekal kesamaan melihat potensi fatal komodifikasi budaya di Gunungkidul, khususnya untuk warga pesisir selatan di deretan pantai Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. IVAA bekerja sama dengan Rumah Belajar Rakyat dan beberapa orang warga Watukodok dan Sepanjang mempelajari dan mendokumentasikan apa saja yang berubah sejak pantai-pantai di Desa Kemadang dibuka.

Komposisi profesi di Desa Kemadang. Sumber: kemadang-tanjungsari.desa.id

Data kependudukan Desa Kemadang menunjukkan bahwa warga yang bekerja di sektor pertanian dan perkebunan mencapai lebih dari 2000 jiwa, melampaui jumlah warga yang berprofesi lain. Karena ada kebutuhan mengedepankan nilai budaya setempat sebagai daya tarik untuk wisatawan, Dinas Kebudayaan DIY menerjunkan individu-individu sebagai pendamping budaya.

Kami berangkat dari beberapa pertanyaan penelitian, yakni:

  1. Benarkah warga Desa Kemadang meningkat taraf hidupnya karena membuka warung makan dan kamar mandi di pantai?
  2. Jika pariwisata bisa meningkatkan taraf hidup, mengapa tahun 2015 warga pengelola Pantai Kapen/Watukodok menghadapi ancaman penggusuran oleh pembeli tanah yang membekali dirinya dengan surat kekancingan, atau tanda bukti pemakaian tanah dari kantor pertanahan Kraton?
  3. Bagaimana warga pantai Gunungkidul memaknai kedaulatan mereka melalui ikatan atas tanah warisan nenek moyang?
  4. Apakah warga pernah dilibatkan dalam perencanaan tata ruang desa dan tata letak pantai?
  5. Bagaimana kondisi sebelum dan sesudah pendamping budaya bekerja di desa-desa budaya?
Cuplikan dari lembar presentasi berjudul “Pariwisata Berbasis Budaya sebagai Wujud Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan” yang menurunkan unsur pariwisata budaya menjadi produk (budaya) dan pasar (wisatawan); juga apa saja potensi kebudayaan dan kepariwisataan Kabupaten Gunungkidul
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Desember

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Contemporary Art from Bali 2016

oleh: Hertiti Titis Luhung Weningtyas*

Bali, sebagai entitas dikenal dengan ciri artistik yang khas; kental dengan budaya tradisi, namun diterpa dengan derasnya arus kebudayaan modern. Pameran Seni Kontemporer Bali memberi pendekatan yang kritikal kepada sejarah seni dan budaya, baik di Bali maupun secara luas. Tujuannya melihat dan membaca ulang bagaimana pebentukan sejarah seni rupa di Bali serta pemahaman kembali apa itu seni lukis (drawing-painting). Perkembangan seni rupa Bali tradisi-modern-postmodern-kontemporer dalam konteks seni rupa Indonesia sekarang. Bagaimana gagasan maupun eksplorasi para seniman yang menunjukan potensi artistik dari cara pandang dan konsepsi yang hybrid ke dalam bentuk lukisan, drawing, maupun bentuk karya tiga dimensional.

Baru-baru ini Langgeng Art Foundation bersama Equator Art Projects mengadakan pameraran bertajuk “Contemporary Art from Bali”, tepatnya pada 15 Desember 2016-31 Januari 2017. Pameran berlokasi di Langgeng Art Foundation, Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta.

Rifky Effendy dan Gede Mahendra Yasa sebagai kurator pameran ini memilih karya-karya yang sebagian besar berupa lukisan dan drawing, serta beberapa karya tiga dimensi. Seperti tajuknya, karya-karya dalam pameran ini menujukkan kecenderungan kancah seni rupa Bali sekarang yang sangat beragam, yang diramaikan oleh seniman, baik seniman lokal (asli Bali) maupun seniman pendatang.

Seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini antara lain Ketut Sumadi, Kemalezedine, Aswino Aji, Ketut Moniarta, Ketut Susena, Teja Astawa, Marco Cassani, Natisa Jones, Wayan Mandiyasa, Wayan Upadana, Ketut Suwidiarta, Valasara, Ashley Bickerton, Putu Wirantawan, Filippo Sciascia, dan Rodney Glick.

| Klik disini untuk melihat dokumentasi foto |


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas adalah mahasiswa D3 Bahasa Perancis Universitas Gadjah Mada yang sedang mengikuti Program Magang IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas
Diskusi Berseri, 17 – 16 November 2016, di RumahIVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

“Your Trip, Our Adventure” merupakan rangkaian dua hari diskusi yang berupaya melihat fenomena pertukaran budaya secara mendalam dan meluas. Di hari pertama, fenomena ini ditempatkan sebagai soal yang perlu dibongkar tajam dan dicari relasi kuasanya, semacam usaha untuk zoom in. Sementara diskusi hari ke dua merupakan upaya zoom out, dengan menempatkan fenomena residensi ini pada konteksnya, yakni di tengah usaha percepatan pembangunan dan masifnya pengembangan industri wisata.

Pada diskusi hari pertama, Tiatira hadir sebagai pemantik diskusi. Sebagai peneliti soal residensi yang dilakukan bersama tim kajian arsip IVAA, ia memberikan paparan sejarah residensi, baik ketika ditempatkan sebagai istilah maupun kegiatan. Setelah itu Malcolm Smith, salah satu anggota kolektif Krack! memaparkan sebagian kecil dari penelitiannya soal program pertukaran budaya dan kaitannya dengan struktur kelas sosial. Ia juga memberikan penjelasan soal bagaimana agenda penyandang dana memainkan pengaruhnya dalam aktivitas pertukaran budaya. Sementara di sisi lain terdapat logika pemerintah suatu negara yang selalu ingin menjadi pusat. Elia Nurvista, seniman yang banyak melakukan residensi, membagikan motivasinya dalam melakukan residensi, di tengah konteks kesenimanannya.

Sementara diskusi hari ke dua dengan tema ‘Budaya Berpindah dan Arah Gerak Kota’ lebih membawa pembahasan pada kondisi kota Yogyakartayang laju perubahannya semakin dikencangkan melalui berbagai macam rezim penataan. Dari paparan yang diberikan serta diskusi yang kemudian bergulir selama kurang lebih tiga jam, forum ini mampu mengeksplisitkan berbagai persilangan kuasa dan rezim yang merupakan elemen dari percepatan pembangunan, yang banyak menentukan wajah kota Yogyakartayang dipaksa menjadi urban.Dimulai dari paparan Pitra Hutomo, arsiparis dan peneliti IVAA, yang mengartikulasikan arah gerak perubahan Yogyasebagai ruang hidup beserta peran seniman dalam laju perubahan tersebut. Setelah itu, Maria Adriani, dosen arsitektur UII sekaligus perencana ruang urban, memberikan paparan menyeluruh dari hulu sampai hilir soal bagaimana Yogyakartadipaksa menjadi ruang urban. Sementara pemantik diskusiketiga ialah Rosyid Adiatma, akademisi, yang sedang melakukan penelitian soal identitas dan perebutan ruang. Ia tengah melakukan tahap awal dari penelitian di desa Tambakharjo, Tugurejo, Karanganyar. Dalam paparannya ia membagikan beberapa cara pandangnya yang dipakai dalam penelitiannya tersebut.

Kedua forum ini berlangsung sebagai ruang berbagi masukan, pemikiran, posisi dan strategi hingga sebagai sarana kritik dan otokritik bagi para pelaku dan penggerak aktivitas seni budaya.

Pemutaran dan Diskusi Film “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman”

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Sekitar pukul 13.00 WIB pada Senin, 3 Oktober 2016 IVAA kembali menyelenggarakan pemutaran serta diskusi film. “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman” adalah film yang kali ini dihadirkan di RumahIVAA. Diskusi ini juga dihadiri langsung oleh sutradara film yakni Subi serta seorang penanggap dari Kunci Cultural Studies Center, Fiky Daulay. Beberapa mahasiswa, pegiat seni, dan kurator pun datang untuk mewarnai diskusi, seperti Wahyudin (kurator independen Yogyakarta) dan Budi Dharmawan (fotografer independen, penulis, dan kurator). Diskusi seusai pemutaran film dimoderatori oleh Lisistrata Lusandiana. Dengan ditemani teh hangat serta cemilan, kehadiran mereka membuat suasana diskusi semakin nikmat.

Film ini mengisahkan perjalanan hidup Raden Saleh, sebagai seorang Jawa yang berdinamika di dunia seni rupa dalam konteks kolonialisme Hindia-Belanda. Sebuah perjalanan Raden Saleh dari lahir, proses formatio-nya di Eropa, hingga kembalinya ia di tanah Jawa. Ada beberapa hal menarik dari film tersebut. Salah satunya adalah pernyataan dari Peter Carey, “Sebagai anak muda, Saleh merupakan orang dengan kecerdasan yang luar biasa dan unik. Dan saya rasa itu merupakan ‘kutukan’ tersendiri. Ia bukan bangsawan yang biasa atau priyayi pada umumnya. Ia tidak bisa menjadi bangsawan normal. Ia juga tidak bisa menjadi orang Jawa biasa karena ia terlahir sebagai bangsawan dan sangat berpendidikan.” Kedirian semacam ini sangat bernuansa dilematis ketika di satu sisi Raden Saleh hidup sebagai orang Jawa di masa kolonialisme, yang memaksa sebagian masyarakat Jawa untuk berperang melawan Belanda, sementara di sisi lain, ia juga banyak bergaul dengan bangsawan Eropa. Seorang antek kolonialiskah Raden Saleh? Atau justru seorang nasionalis yang menggunakan cara lain untuk berperang?

Pada awal penjelasannya, Subi menekankan bahwa film ini dibuat sebagai syarat akademis, untuk menuntaskan kuliahnya di Institut Kesenian Jakarta. Di dalamnya, terdapat narasi yang menyampaikan posisi seorang Raden Saleh dalam dunia seni rupa Indonesia hingga sekarang. Seperti apa yang dikatakan di bagian awal film oleh Suwarno Wisetrotomo, “Betapa kita itu bisa eksotik, bisa penting, bisa berbicara di forum penting di dunia.” Ungkapan dari Suwarno nampaknya dipakai untuk menunjukkan kontribusi Raden Saleh di kancah seni rupa internasional. Meski di sisi yang berbeda juga mengandung soal, jika dikaitkan dengan posisi raden saleh dan cara pandang orang Eropa terhadap Raden Saleh.

radensaleh1

Ketika berkesempatan untuk memberi tanggapan, Fiky menjelaskan bahwa ada kelemahan dan kekuatan yang terkandung di dalam film karya Subi ini. Kekuatannya adalah terletak pada momentum yang diambil, yakni suasana pameran di Galeri Nasional. Pameran menjadi konteks tempat dan suasana di awal dan akhir cerita yang membingkai film tersebut. Akan tetapi ia menyayangkan mengapa film ini tidak mengambil persepsi seniman era sekarang dalam melihat sosok Raden Saleh. Bagi dia akan lebih menarik jika Subi memasukkan unsur tersebut. Sependapat dengan Fiky, Budi mengatakan demikian, “…. bagaimana sosok Raden Saleh dalam konteks masanya, dan bagaimana dia juga hadir kembali dalam konteks sekarang.” Tidak sekedar cerita Raden Saleh dari lahir sampai mati, akan tetapi semesta seperti apa yang terbentuk dari dulu hingga sekarang yang akhirnya memungkinkan kita bisa berbicara soal Raden Saleh, ungkap Budi.

Selain Fiky dan Budi, kritik dari Wahyudin juga cukup berarti. Menurutnya film ini belum menyampaikan sikap atau pandangan dari si sutradara. Subi hanya menggarisbawahi pengetahuan tentang Raden Saleh yang sebenarnya sudah diketahui oleh publik. Artinya adalah bahwa Subi belum menawarkan hal baru untuk menjadi bibit diskursus dalam kajian seni video atau sejarah seni rupa. Apalagi dalam keterkaitan profil Raden Saleh dengan konteks sosial politik Hindia-Belanda, tentang posisinya sebagai orang Jawa yang dekat dengan pemerintah kolonial. Bagi Wahyudin akan lebih menarik jika Subi mampu mengambil satu elemen saja yang masih luput dari pandangan publik.

screeningfilmradensaleh1screeningfilmradensaleh2

Sebenarnya ada banyak sekali poin menarik dan penting yang muncul dalam diskusi ini. Namun kiranya ada satu hal yang memang perlu menjadi perhatian khalayak, yakni bahwa suatu pernyataan atau sikap atas suatu hal, menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi ketika berbicara soal produksi suatu karya. Tidak terbatas dalam karya film atau tulisan jurnalistik atau seni yang lain. Tanpa adanya statement dari pembuat, suatu karya akan datar dan tawar untuk dinikmati. Diskusi ini ditutup dengan komentar dari Ari Bayuaji perupa Indonesia yang berdomisili di Kanada, yang tengah mengikuti program residensi di Redbase. Menurut Ari, film ini akan sangat bermanfaat bila ditemukan dengan audiens yang tepat. Misalnya bagi pelajar SMA atau mahasiswa non-seni rupa, film ini dapat menjadi pengantar yang tepat untuk mulai mengenal sosok Raden Saleh.