Category Archives: RumahIVAA Review

Archive Showcase: Jejak Kesenian di Malioboro

Berlangsung 11 Juli – 4 September 2017
di RumahIVAA

Archive Showcase kali ini ingin menampilkan jejak-jejak kesenian di Malioboro, mengingat pada tahun 1970-an Malioboro banyak berperan sebagai rumah kesenian di Yogyakarta. Konon, Malioboro adalah rumah kedua atau ruang belajar seniman setelah ISI. Hingga hari ini, Malioboro masih juga menjadi ruang ekspresi bagi kesenian di Yogyakarta. Apa yang menjadi daya Malioboro hingga ia mampu menjadi ruang hidup kesenian di Yogyakarta? Berangkat dari pertanyaan tersebut, kami mencoba mengumpulkan arsip-arsip IVAA dengan harapan melalui seni kita bisa melihat kembali bagaimana kondisi atau posisi Malioboro sebagai denyut seni di Yogyakarta.

Melihat rangkaian sejarahnya, Malioboro memiliki daya negosiasi yang terkondisikan sejak abad ke-10. Sebagai jalan utama kerajaan ia banyak menjadi ruang kegiatan seremonial. Pada masa kolonial, Malioboro pun hidup sebagai ruang diplomasi, memfasilitasi agenda-agenda pertemuan Kesultanan dengan pejabat-pejabat Eropa. Semangat ini masih bisa kita rasakan hingga periode 90-an. Apalagi setelah Senisono diaktifkan sebagai ruang seni di tahun 60-an dan seni mulai hidup di wilayah Malioboro, kita bisa melihat bagaimana seni pun menjadi moda negosiasi masyarakat Yogyakarta. Seperti misalnya Panggung Solidaritas yang digelar  oleh Teater Jiwa atau happening art “Aksi Cinta Kasih” di tahun 1990-an, sebagai respon atas rencana pemerintah dalam menghancurkan Senisono.

 Namun di tahun 2000-an, Malioboro mulai kehilangan karismanya. Pengembangan Malioboro menjadi wilayah bisnis mempengaruhi pola interaksi di dalamnya. Logika kapling menjadikan publik melihat lahan Malioboro sebagai ruang investasi. Sehingga yang menjadi masalah bukan hanya kondisi ruang bersama yang semakin minim, tapi juga masyarakat yang semakin individualis, memikirkan ruang personal di ruang publik bernama Malioboro. Pun jikalau ada, negosiasi terjadi bukan karena tiap individu memahami posisinya masing-masing melainkan sebuah bentuk kewaspadaan satu terhadap yang lainnya. Di sinilah seni mengambil posisi dan mencari celah, menjadi cara negosiasi yang tanpa syarat dan kewaspadaan. Seperti yang dilakukan oleh teman-teman komunitas Malioboro (COMA) atau komunitas Pinggir Kali (Girli), melalui kegiatan tahunan seperti Apeman dan Gelar Kreativitas Girli. Dari sana mereka berdialog dengan masyarakat untuk membangun Malioboro menjadi ruang yang lebih cair. Persis seperti apa yang sastrawan Umbu Landu Paranggi pernah paparkan, bahwa mau dijungkir-jempalikan seperti apapun, kondisi Malioboro bergantung pada manusia yang menghidupkannya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Berbagi Pengetahuan dalam Pelatihan di Perpustakaan ISI Surakarta

Oleh: Melisa Angela

Pertengahan Mei lalu IVAA mendapat undangan dari ISI Surakarta, lebih tepatnya dari UPT Perpustakaan kampus, yang dulunya bernama STSI Surakarta itu. UPT Perpustakaan yang setiap tahun memiliki program pelatihan, pada tahun ini mengangkat persoalan budaya digital dan teknologi informasi yang kini tak pelak menjadi dunia yang kita hadapi dan hidupi. Perpustakaan, sebuah tempat di mana sekumpulan buku dan dokumen disimpan untuk kemudian ditemukan oleh pihak yang memerlukan referensi ataupun bukti penguat dalam penelitiannya tidak juga terhindar dari rambahan budaya digital ini. Maka dari itu, supaya bisa menggunakan kemudahan dan alih-alih terjegal oleh kemajuan teknologi ini, tidak ada cara lain daripada menguasainya secara teknis serta memahami konsep-konsep dasarnya.

Pelatihan berjudul “Pengemasan Audio Visual sebagai Bahan Informasi Digital di Media Sosial” ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan kemajuan infrastruktur teknologi informasi kepada para pustakawan, baik yang bekerja di UPT Perpustakaan ISI Surakarta, maupun yang dari luar lingkungan kampus tersebut; juga kalangan umum yang tertarik memperdalam pengetahuannya tentang hal ini.

Di acara ini IVAA diundang sebagai pembicara di hari kedua pelatihan yang berlangsung 16-17 Mei 2017 tersebut. Di hari pertama, pelatihan dipandu oleh Pascalis PW., seorang ahli media/multimedia yang berkecimpung di bidang promosi dan pengembangan brand perusahaan. Sedangkan IVAA dipercaya untuk memberikan pengantar mengenai manajemen pengelolaan dokumen audio visual, hingga teknik-teknik dasar dalam membangun sistem temu kembali (retrievel system) yang baik. Kami pun menyambut baik undangan ini, sebagai kesempatan berbagi pengetahuan dari pengalaman kami mengelola arsip IVAA selama ini. Dwi Rahmanto dan saya bertandem untuk mengisi materi pelatihan di hari kedua, penyampaian saya lebih pada dasar-dasar pembangunan sistem temu kembali dengan mengenalkan konsep-konsep dasar mengenai database, diagram konteks, dan diagram relasi antar entitas. Sedangkan Dwi Rahmanto lebih membahas penyimpanan materi audio visual dan pengemasannya secara sederhana menggunakan aplikasi-aplikasi yang dapat dipasang di telepon pintar.

Pelatihan yang kebanyakan pesertanya adalah staf dari instansi perpustakaan dan pengarsipan pemerintahan maupun swasta ini berjalan dengan baik, kendati acap kali terhambat koneksi internet yang tersendat-sendat. Namun pada dasarnya para peserta mendapatkan gambaran tentang pengelolaan berkas audio visual elektronik. Perbincangan pun masih berlanjut di luar forum resmi setelah pelatihan berakhir.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Bioscil 10: Berkunjung ke Dipowinatan

Oleh: Putri Ratna

“Bioscil” merupakan kependekan dari bioskop kecil dan keliling. Layaknya bioskop namun dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kecil yang juga dimaksud di sini menunjuk pada segmen publik yang ingin dilibatkan, yakni anak-anak. Keliling merupakan salah satu konsep yang ditawarkan Bioscil, yang pada mulanya dimaksudkan untuk memfasilitasi penonton usia anak di lokasi yang jauh dari bioskop.

Sebagai ruang alternatif menonton film, Bioscil diinisiasi oleh duo seniman asal Yogyakarta yaitu Hindra Setya Rini (Hindra) dan Rifqi Mansur (Kiki) sejak akhir tahun 2011. Selain sebagai ruang alternatif menonton film-film pendek yang inspiratif, harapannya Bioscil dapat memfasilitasi proses pertemuan kreatif dan interaktif anak-anak dan remaja.

Berawal dari banyaknya anak-anak dari Dipowinatan dan sekitar Rumah IVAA yang sering main game online melalui telepon pintar mereka dengan memanfaatkan wifi IVAA, beberapa orang dari IVAA kemudian terpancing untuk membuat pemutaran film dengan tema yang dekat dengan dunia anak, termasuk soal game online. Pada 18 April 2017 lalu, Bioscil singgah di Rumah IVAA dengan memutarkan dua buah film yang berjudul “Ayo Main” garapan Bambang ‘Ipoenk’ KM dan “Singsot” garapan Wahyu Agung Prasetyo.

Melalui program Bioscil ini, IVAA berupaya mendekatkan diri pada warga sekitar, terutama anak-anak yang sering datang di Rumah IVAA, namun minim interaksi.  Selain sebagai ruang apresiasi, program ringan semacam ini utamanya menekankan pada indahnya interaksi.


*Putri Ratna Dewi Werdiningsih, mahasiswa angkatan 2013 Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang banyak terlibat kegiatan kemahasiswaan di kampusnya; antara lain tergabung dalam Komunitas Lensa 18, Paduan Suara Miracle Voices V, dan Kampung Komunikasi. Dalam magangnya di IVAA sejak awal Maret hingga akhir Mei 2017, Putri membantu kerja pendokumentasian kegiatan seni dan pengelolaan hasil dokumentasi.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Musrary bersama Umar Haen

Oleh: Padma Kurnia

Dalam sembilan lagu yang dibawakannya bersama Arok (nama pemain perkusinya), terlihat berbagai usahanya dalam mengolah tema-tema seputar usia dan waktu.  Petikan senar gitar yang menenangkan mampu menggambarkan kegentingan dari pesan-pesan yang hendak dimunculkan. Umar Haen, solois berambut gondrong ini mengungkapkan bahwa lagu bisa menjadi ‘kulkas emosi.’

Beberapa kisah dimunculkan Umar Haen dalam lagu “Racau di Malam Kacau” dan “Tentang Generasi Kita.” Para penonton yang hadir di RumahIVAA diajak untuk mengingat kampung halaman masing-masing melalui “Kisah Kampungku”, sambil mengintip kampung halaman Umar di Temanggung yang terekam dalam sebuah video pendek.

Anak-anak muda di desanya tidak banyak yang mau tinggal lalu menggarap sawah. “…jadi memang di kampung saya itu, hampir sebagian besar pemuda yang sudah lulus sekolah itu impiannya adalah untuk merantau…” ungkapnya. Sejauh ini Umar belum pernah menemukan pemuda di desanya yang ingin meneruskan bekerja di sawah.

“Kisah Kampungku” juga memuat penggalan kelam program transmigrasi Orde Baru yang berdalih pemerataan pembangunan. Akibatnya, merantau kian membudaya. Pada saat yang bersamaan, generasi di atasnya dibungkam dengan program pangan Orba. Dalam lagu yang berjudul “Nasihat Kakek; Jangan Jual Tanahmu”, Umar teringat akan wejangan kakeknya untuk tidak menjual tanah warisan dan menganggapnya sebagai pamali.

Sebagai lagu penutup, Umar menafsir bagaimana mahasiswa tumbuh di Yogyakarta dengan lagu berjudul “Di Jogja Kita Belajar”. Sembilan lagu yang Umar bawakan merupakan materinya di album pertama yang rencananya rilis setelah Ramadhan.

Hampir semua lagu Umar ciptakan di sepertiga malamnya karena dia merasa waktu itu adalah waktu di mana semua pikiran; ingatan, emosi, dan kegelisahan dipertajam. Musik metal menjadi inspirasi Umar dalam menciptakan lagunya. Tak hanya itu Umar pun punya saluran Youtube favorit yang bisa menginspirasinya pula. Sedangkan untuk inspirasi lirik, Umar banyak mendapatkannya dari buku.

Mendengarkan komposisi musik dan lirik lagu-lagu Umar malam itu, tidak heran jika sudah banyak yang menunggu albumnya. “Semua karya saya memang saya ciptakan di sepertiga malam saat semua orang sudah terlelap. Semoga habis lebaran nanti bisa terealisasi,” ungkap Umar sebagai kalimat penutup pertunjukannya malam itu.

| klik disini untuk melihat video |


*Wahyu Padma Kurnia, (l.1995) mahasiswa kelahiran Kota Tulungagung ini jauh-jauh datang ke IVAA khusus untuk magang. Ia adalah mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Negeri Malang angkatan 2013. Magangnya dimulai pertengahan Mei lalu hingga dua bulan ke depan. Kurnia membantu kerja Tim Dokumentasi, terutama dalam kerja dokumentasi kegiatan seni dan pengolahan file video dan foto.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H | EID MUBARAK!

Pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta V Tahun 1993. Koleksi Taman Budaya Yogyakarta.

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Menyambut Idul Fitri, IVAA akan tutup pada 23 Juni 2017,
dan akan kembali buka pada 3 Juli 2017

Salam hangat,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wish you

Happy Eid 1438H

Welcoming the feast of Eid, IVAA will be closed from the 23th of June 2017
and will be back to operations on the 3th of July, 2017.

Warm regards,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)


Artikel ini merupakan Rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Seni, Bali, dan Identitas Etnis

Oleh: Hertiti Titis dan Sukma Smita

Secara harfiah, Arus Bawah berarti aliran air yang mengalir di bawah permukaan. Sedangkan sebagai idiom, ia merujuk pada perasaan atau tendensi tersembunyi yang sering kali berbeda dengan apa yang mudah dilihat dan dipahami.

Kalimat di atas merupakan kutipan tulisan pembuka Sita Magfira dalam katalog Pameran “Arus Bawah” yang diselenggarakan di Jogja Contemporary, 7-24 Februari lalu. Pameran ini diikuti oleh enam orang seniman asal Bali yang masih menyandang status sebagai mahasiswa Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta, yaitu I Made Agus Darmika (Solar), I Putu Adi Suanjaya (Kencut), Kadek Marta Dwipayana (Temles), Ngakan Putu Agus Arta Wijaya (Dewo), Pande Giri Ananda (Rahwono), serta Putu Sastra Wibawa (Sas). Judul “Arus Bawah” dipilih demi merangkum proses bekerja para seniman, serta untuk melihat ulang karya keenam seniman tersebut, mempertanyakan corak kebalian menurut pandangan mereka sekaligus mencari tahu ada tidaknya corak kebalian itu sendiri di dalam karya-karya mereka.

Sebagai bagian dari rangkaian pameran, Jogja Contemporary bersama IVAA menggagas serial diskusi bertajuk “Seni, Bali, dan Identitas Etnis” yang berlangsung selama dua hari pada 16-17 Februari 2017, di Rumah IVAA. Seri diskusi tersebut dimoderatori oleh Sita Magfira yang ikut terlibat dan mengamati proses berkaya keenam seniman, kemudian menuliskan pengalaman dan temuan-temuannya di dalam katalog Pameran “Arus Bawah”.

Wicara Seniman
Pada acara hari pertama yang berbentuk wicara seniman ini dihadirkan enam seniman peserta Pameran “Arus Bawah” untuk bercerita mengenai karya mereka, baik latar belakang maupun proses kreatif yang mereka lalui. Perbincangan yang dimulai pukul 15.30 dan dimoderatori Sita Magfira ini diawali cerita Dewo dan Solar tentang kesenian di Bali. Menurut Dewo, memandang kesenian di tempat asalnya itu tak lepas dari konsep dasar Hindu Bali; Satya (kebenaran), Siwam (kesucian), dan Sundaram (keindahan). Ketiganya merupakan unsur yang selalu ada dalam kegiatan ritual keagamaan maupun kehidupan masyarakat Bali sehari-hari, tak lepas pula di dalam kesenian.

Hampir mirip dengan yang dikatakan Dewo, Solar yang dalam pameran tersebut menampilkan karya instalasi berupa berbagai macam kue sesaji dalam ritual keagamaan menyatakan bahwa kesenian sudah sebegitu mengakarnya dalam kehidupan masyarakat Bali, namun ini tidak mereka rasakan, karena sejak mereka kecil kehidupan yang mereka jalani sudah seperti itu. Justru sejak berjarak dengan tempat asalnya itu, Solar bisa melihat bahwa segala aspek dalam kehidupan di Bali tak lepas dengan kesenian.

Kencut berusaha bercerita tentang isu sosial yang ada di sekitarnya melalui karyanya yang berbentuk boneka. Dalam pandangan Kencut orang-orang selalu ingin menjadi yang paling terlihat. Seniman keempat yaitu Rahwono, lahir di keluarga pandai besi di Bali. Karena terbiasa melihat bagaimana proses pembuatan keris, Rahwono membayangkan dirinya adalah Empu Gandring yang terlahir kembali, kemudian ia melukiskan senjata-senjata modern baru khayalannya. Karyanya yang berupa ukir-ukiran memakai teknik plototan juga dipengaruhi oleh pengalamannya bekerja sebagai pengukir di pura. Seniman selanjutnya Temles adalah yang paling gemar berpetualang dengan berbagai jenis medium. Ia bercerita tentang perjalanannya mengeksplorasi berbagai teknik dan medium mulai dari plototan cat dan kemudian plototan lem kayu. Ia selalu menghadirkan bentuk atau figur manusia dalam setiap karyanya. Pada tahun 2012, Temles mencoba bereksperimen dengan media lidi, tampah, robekan kardus bekas, hingga mencoba menganyam kanvas.

Sas merupakan seniman terakhir yang mendapat kesempatan bicara. Masa kecilnya di area Sukawati yang bertebaran dengan tempat produksi maupun pasar seni sempat membuat Sas merasa jenuh dengan kesenian, ditambah lagi ia pun terlahir di keluarga perupa. Kejenuhan tersebut membuatnya berusaha keluar dari seni. Tapi malangnya saat mencoba kuliah di jurusan ekonomi otaknya tak sanggup mempelajari ilmu tersebut, dan semenjak itu pula ia menyadari bahwa ia tak bisa lepas dari kesenian. Maka ia pindah ke Yogya untuk melanjutkan kuliah di bidang seni. Sas tertarik untuk mengeksplorasi berbagai bahan maupun teknik, kini ia gemar menghadirkan plat aluminium dalam bidang kanvasnya. Objek dalam lukisannya pun terus berubah, mulai dari figur perempuan hingga titik, garis, maupun bidang.

Serangkaian proses eksperimen dan eksplorasi yang dilakukan keenam seniman dalam kekaryaan mereka mengundang pertanyaan dari salah satu hadirin, yakni tentang hasil apa yang sudah dicapai dari berbagai eksplorasi yang dilakukan, hal tersebut berkaitan dengan banyaknya seniman ternama asal Bali yang memiliki ciri khas kuat dalam karyanya. Pertanyaan tersebut ditanggapi keenam seniman dengan cukup menarik. Yang pertama bahwa sebagai seniman muda mereka masih ingin sebebas mungkin menjajaki berbagai kemungkinan teknik maupun medium. Kedua, proses pencarian ciri khas ini justru mereka anggap sebagai suatu hambatan, karena tidak semua ide bisa divisualisasikan di dalam kekhasan yang ingin dibangun. Bahkan salah seorang seniman, Temles, mempertanyakan makna dari ‘ciri khas’, apakah karakter seniman ditentukan oleh seniman itu sendiri atau muncul seiring proses kesenimanannya.

Seni Bali dan Identitas Etnis
Pada perbincangan hari kedua yang juga dimoderatori oleh Sita Magfira, dihadirkan dua  orang pemantik diskusi, yakni Tiatira Saputri yang menyajikan hasil pendalamannya tentang seni rupa dan Bali. Pemantik kedua adalah A. Anzieb yang menyampaikan pandangannya tentang identitas etnis. Tia yang merupakan salah satu staf IVAA bagian Kajian Arsip mengutip pernyataan Arya Sucitra bahwa, “Orang Bali itu sejauh-jauhnya dia pergi dari Bali pasti akan kembali lagi ke Bali, karena mereka terikat dengan banjar”. Fakta mengenai banjar ini rupanya memancing keingintahuan Tia mengenai banjar itu sendiri. Banjar merupakan kesatuan masyarakat yang sifatnya komunal, di mana kelompok lebih dominan dari individu. Iklim berkesenian di Bali juga sangat dipengaruhi oleh budaya komunalnya, mereka lebih melihat teknik dan keterampilan daripada autentisitas karya masing-masing. Ini terlihat dari karya-karya yang bersifat homogen. Poin kedua yang disampaikan adalah tentang laku mereka yang selalu terikat dengan kepercayaan. Walau di dalam kesenian mereka dibebaskan untuk berekspresi, tapi sering kali tetap dijumpai beberapa elemen yang menyiratkan pengetahuan yang mereka yakini. Para perupa Bali yang tinggal di Yogya, karena berjarak dengan kelompoknya mencoba mendalami autentisitas karya masing-masing. Sebagai upaya paling dasar, mereka merombak apa yang selama ini sudah disepakati di dalam kelompoknya. Di sisi lain Tia juga melihat pembentukan Sanggar Dewata Indonesia (SDI) salah satunya adalah sebagai wujud rasa kehilangan yang dialami para perupa Bali yang berkuliah di Yogya saat terlepas dari banjarnya, dengan kata lain sanggar didirikan sebagai representasi dari banjar. Akibatnya mereka pun cenderung kembali lagi pada iklim berkarya yang homogen. Fakta menarik adalah bahwa di tahun 90-an SDI membuka keanggotaannya untuk perupa selain Bali seperti Heri Dono, Eddie Hara, Ivan Sagito dll. Dengan hal tersebut, kita tak lagi bisa mengatakan landasan pendirian SDI hanya kesamaan tempat asal saja. Keterbukaan ini juga menandakan bahwa SDI ingin terlepas dari homogenitas yang menjadi stereotip yang acap kali ditujukan pada perupa Bali.

Pemantik diskusi kedua A. Anzieb, merupakan kurator pameran SDI tahun ini. Anzieb memberikan pemaparan tentang identitas dan etnis dalam seni rupa. Menurutnya SDI merupakan komunitas seni rupa pertama yang dibentuk di Yogyakarta atas dasar kesamaan etnis. Mereka secara bersama-sama ‘mengeksklusifkan diri’ di dalam bidang sosial kesenian. Asumsi Anzieb mengenai digunakannya kesamaan etnis sebagai identitas komunitas adalah karena ada kecanggungan atau ketidakpercayadirian dalam berkarya secara individu. Pengertian identitas dalam seni rupa itu sendiri menjadi sangat luas, pemahaman identitas bisa mengarah pada persoalan asal-usul budaya, ada tidaknya kebudayaan, dan lain sebagainya. Lagi pula untuk mendefinisikannya persoalan identitas dibutuhkan ruang dan waktu tersendiri. Anzieb berpendapat bahwa identitas terbentuk atas dua konstruksi kata, yaitu kodefikasi dan komersialisasi. Kodefikasi berguna untuk memahami kode-kode visual yang lebih dekat dengan seniman-seniman — terutama seniman muda — di mana hal tersebut tentu merupakan modal usaha yang menjadi keniscayaan. Sementara komersialisasi sangat dekat dengan bisnis, terkait sifatnya yang berantai dari tangan ke tangan, dari relasi ke relasi. Komersialisasi membutuhkan pelantang sebagai corong media, selain juga strategi atau kemasan yang lebih dekat dengan pasar.

Para hadirin perbincangan pun menanggapi pemaparan para pemantik. Salah satunya yang menarik adalah hadirin yang berpandangan saat ini tidak hanya pameran kelompok yang mengatasnamakan etnis, di banyak kesempatan masalah kewilayahan dielaborasikan dalam perhelatan. Yang perlu dipertanyakan adalah sejauh mana kita membawa persoalan-persoalan kewilayahan ataupun identitas di tengah tarik-menarik kepentingan antara rezim wisata yang menjual ekosistem lokal dengan nilai tinggi, di sisi lain ada pula penyeragaman yang mengatasnamakan globalisasi.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas (l.1995) adalah mahasiswa D3 Bahasa Prancis Universitas Gadjah Mada, mengikuti program magang di bagian arsip sejak awal Februari 2017 selama dua bulan.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Archive Showcase: Dinamika Ruang Seni Jogja setelah Boom Pasar Lukisan 2008

Archive Showcase: Dinamika Ruang Seni Jogja setelah Boom Pasar Lukisan 2008
24 April – 9 Juni 2017, di Perpustakaan IVAA
Oleh: Tiatira Saputri

Tema ruang seni sebenarnya berangkat dari perbincangan kami mengenai hadirnya ruang fisik di Yogyakarta yang dibangun dan diinisiasi oleh seniman. Asumsi pertama, boom seni di periode 2000-an memicu tumbuh lebih banyak ruang seni yang memfasilitasi transaksi jual-beli langsung dari tangan pertama, sehingga ruang seni ini bisa dikatakan merupakan bagian dari investasi seniman. Atau mungkin seniman-seniman yang mendapatkan rezeki dari boom seni saat itu hanya sekedar ingin berbagi ruang apresiasi dengan seniman lain. Pun jika keduanya benar, apa yang mereka angankan sebagai investasi dan ruang apresiasi? Bukankah kebutuhan tersebut sudah terfasilitasi oleh ruang-ruang seperti galeri atau ruang alternatif? Pertanyaan ini ada kaitannya dengan asumsi yang kedua, bahwa kepentingan dari dibukanya ruang-ruang tersebut tidak jauh berbeda dengan kepentingan seniman dalam menggunakan ruang publik. Ada semacam kebutuhan untuk mendekati publik, hanya saja dengan cara mendatangkan publik ke wilayah teritorinya. Apa yang menjadi motivasi seniman ketika membuka ruangnya untuk publik? Dari sini kami mencoba menelusuri dan melihat apa fungsi dan di mana posisi ruang-ruang tersebut sebagai bagian dari semesta seni. Karena dari melihat dinamika ruang seni di tahun 2009 hingga hari ini, ada cukup banyak ruang yang muncul dan berhenti beroperasi, seperti Kedai Belakang, Coral Gallery, Galeri Biasa, Ars Longa, V-art Gallery, Tujuh Gallery, Roomate, dsb. Namun demikian, hingga hari ini kita pun masih melihat ruang-ruang baru hadir di Yogyakarta, seperti Redbase Foundation, Sewon Art Space, Sesama, dsb. Sehingga bisa jadi kita memang masih membutuhkan banyak ruang seni. Hanya saja mungkin bentuk ruang yang dihadirkan belum sesuai dengan fungsi yang hendak dijalankan.

Beberapa ruang seni yang pernah ada di Yogyakarta. Sumber: dokumentasi IVAA

Bicara ruang dan seni, Yogyakarta memberikan kita pengalaman meruang yang sangat khas. Kita dimudahkan untuk membaca arah mata angin dengan garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi di utara dengan pesisir Pantai Selatan. Kemudian Keraton yang terletak di titik tengah garis imajiner tersebut menjadi landmark sekaligus sumbu perkembangan Yogyakarta. Di bidang kebudayaan, hal tersebut ditandai dengan berkembangnya ruang seni dari wilayah Keraton ke arah Selatan. Mengapa demikian pun menjadi kekhasan Yogyakarta. Karena dua titik yang menentukan arah perkembangan ruang seni di Yogyakarta sebenarnya berasal dari infrastruktur pemerintah yang dibangun pada tahun 80-an. Titik tersebut ditandai dengan kehadiran ruang-ruang yang memfasilitasi kesenian dan kemudian dikenal oleh publik, seperti Seni Sono, gedung pertunjukan Societet Militer, dan ruang pamer Benteng Vredeburg yang berada di sekitar wilayah Keraton atau titik nol Yogyakarta. Kemudian di wilayah selatan Yogyakarta tepatnya di Sewon, Bantul dibangun kampus baru Institut Seni Indonesia yang sebelumnya bertempat di area Gampingan, masih segaris dengan titik nol, kampus baru ini resmi digunakan sejak 1998. Namun demikian, pada perkembangannya di tahun 90-an ruang seni di Yogyakarta hadir secara organik bahkan tanpa campur tangan pemerintah. Berangkat dari njeron beteng, lahir ruang-ruang seni dari kegiatan kolektif dan dikelola secara mandiri oleh seniman dan pekerja seni. Seperti MES56, KUNCI Cultural Studies Center, dan YSC. Mengapa kemudian njeron beteng menjadi pilihan mereka sebagai lokasi membuka ruang seni? Kalau menurut Alia Swastika dalam tulisannya “Seni dan Pertumbuhan Dinamika Sosial Politik Masyarakat Urban”, njeron beteng menjadi pilihan karena lokasinya yang dekat dengan wilayah kampus dan kental dengan suasana kampung. Apakah betul demikian? Bisa jadi ada benarnya, karena pola serupa masih terjadi hingga hari ini. Ruang-ruang seni tumbuh semakin ke selatan, mendekati lingkungan kampus ISI dan berdiri di tengah kampung, jauh dari kepadatan kota.

Pemetaan ruang seni di Yogyakarta tahun 1996 Sumber: Buku “Sanggar-Museum-Galeri Seni Rupa di Yogyakarta” edisi pertama, 1992.
Pemetaan ruang seni oleh Yogyakarta Open Studio tahun 2016Sumber: http://yogyakartaopenstudio.com/map/

 

Dari mewawancarai Djoko Pekik mengenai Plataran, perbincangan mengenai kedekatan seniman dengan masyarakat ini sempat terbahas. Menurut beliau, seniman perlu berada di tengah masyarakat untuk bisa mengolah rasa. Dan itu ia dapatkan di wilayah selatan yang olehnya disebut sebagai wilayah yang masih manusiawi. Jika melihat peta pengembangan kota Yogyakarta, memang wilayah barat-utara-timur diperuntukan sebagai wilayah bisnis, perkantoran, pendidikan, dan fasilitas pelayanan kota lainnya. Hal ini dikarenakan posisi ring road barat-utara-timur menjadi penghubung utama Yogyakarta dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga wilayah yang dilalui jalan arteri barat-utara-timur menjadi wilayah strategis untuk pengembangan kebutuhan kota. Efeknya, kebutuhan jasa yang meningkat menghadirkan lebih banyak pendatang di wilayah barat-utara-timur. Pembawaan yang sangat individualis dari para pendatang inilah yang kemudian disebut sebagai ‘tidak manusiawi’ oleh Djoko Pekik. Dan baginya kondisi demikian tidak kondusif untuk seniman mengolah rasa. Selain itu, dari segi ekonomi, wilayah strategis barat-utara-timur tentunya memiliki kriteria harga lahan yang lebih tinggi dari selatan. Ini juga yang menjadi alasan seniman memilih wilayah selatan sebagai tempat tinggal atau pun ruang produktifnya. Dari empat seniman yang kami wawancarai, tiga di antaranya dengan gamblang mengakui bahwa ‘murah’ menjadi salah satu penentu keputusan mengapa mereka memilih lokasi tersebut. Namun kemudian, apa yang membuat seniman-seniman ini memutuskan untuk membuka ruang teritorinya kepada publik?

Dari wawancara dengan beberapa seniman pemilik ruang seperti Pendhapa Art Space Dunadi, Plataran Djoko Pekik dan Nalarroepa Dedy Sufriadi, ruang-ruang tersebut bertumbuh sebagai ruang seni secara organik. Mereka mengakui bahwa sebelumnya ruang-ruang tersebut memang dibangun hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka akan studio, ruang pajang, atau ruang simpan karya. Tapi dengan adanya permintaan atau inisiatif pihak luar untuk menggunakan ruang mereka, lama kelamaan ruang-ruang ini dibuka untuk publik. Kelayakan ruang untuk menjadi ruang interaksi antara seni dengan publik merupakan latar belakang bagaimana ruang-ruang ini dipilih. Seperti Pendhapa Art Space, ruang yang awalnya adalah ruang produksi patung Dunadi ini kemudian menjadi ruang seni karena teman-teman seni pertunjukan melihatnya sebagai ruang yang sesuai untuk sebuah pertunjukan. Demikian pula dengan Nalarroepa, ruang yang tadinya ditujukan sebagai ruang simpan karya kemudian menjadi ruang pamer karena teman-teman Dedy Sufriadi merasa bahwa fasilitas ruang tersebut memenuhi kriteria ruang pamer. Oleh sebab itu jika dilihat dari perencanaan pembangunannya, gagasan studio untuk publik atau yang biasa disebut artist’s open studio ini bukanlah bagian dari rencana awal mereka membangun ruangan tersebut.

Gagasan open studio di Yogyakarta ini sebenarnya pertama kali dimunculkan oleh Antena Project. Wadah yang oleh Antena Project diberi nama “Yogyakarta Open Studio” ini adalah bentuk upaya Antena Project untuk memaparkan kepada masyarakat mengenai salah satu ruang yang menjadi aspek penting skena seni Yogyakarta, yaitu studio. Hal tersebut diwujudkan dengan menawarkan pada publik waktu berkunjung ke beberapa studio, seperti di tahun pertama (2013), ada Black Goat Studio, PartNER, OFCA International, Studio Yunizar, dan Studio Handiwirman. Sebenarnya program studio visit ini bukanlah hal baru karena kegiatan seperti ini sudah menjadi salah satu agenda yang umumnya ditawarkan oleh tuan rumah residensi dan dilakukan oleh seniman atau pekerja seni yang melakukan residensi di Yogyakarta.

Salah satu kegiatan studio visit oleh seniman “Pasang Air#1” Rumah Seni Cemeti Sumber: http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/4452

 

Tentunya keperluan studio visit seniman dan publik berbeda. Kunjungan residen ke studio seniman memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan, sementara studio visit untuk publik lebih sebagai bentuk lain dari ruang apresiasi. Lalu apa bedanya dengan ruang apresiasi pada galeri? Pertama, jika dilihat dari fungsi dasarnya, galeri baik komersil atau alternatif, merupakan wadah apresiasi publik pada seni. Sehingga yang diutamakan adalah perjumpaan publik dengan karya atau hasil akhir dari gagasan seorang seniman. Sedangkan studio, adalah ruang kreatif seniman, sehingga yang mungkin terjadi adalah perjumpaan publik dengan proses kreatif seniman. Kedua, jika dilihat dari pengelolaannya, galeri bergantung pada program untuk mempertemukan publik dengan seni. Artinya, diperlukan kuratorial dan perencanaan operasional untuk menentukan apa dan kapan seni disuguhkan kepada publik. Sedangkan di studio seniman, untuk mempertemukan publik dengan seni cukup dengan agenda pertemuan dan izin empunya studio. Apa yang akan publik lihat bergantung pada apa yang ada atau sedang terjadi di studio seniman. Itu artinya, studio tidak memerlukan program spesifik untuk bisa mempertemukan seni dan publiknya. Sehingga jika kita kembali pada perbincangan awal mengenai bentuk ruang seni dengan kesesuain fungsi, bisa dikatakan artist’s open studio adalah bentuk baru ruang seni dalam memfasilitasi perjumpaan seni dan publiknya.

Sebenarnya dokumen hasil kerja perekaman IVAA yang berkaitan dengan pembahasan mengenai ruang seni ini cukup banyak dan tidak bisa seluruhnya dirangkum dalam satu tulisan. Oleh sebab itu kami menggunakan kesempatan Archive Showcase yang berlangsung 24 April hingga 9 Juni 2017 untuk menampilkan materi yang kami miliki.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2017.

Terasiring: Bercerita Tentang Kerinduan dan Kenangan

Oleh: Grace Ayu Permono Putri

Rarya Lakshito (selo) dan Ringga Ferdian (vokalis dan gitar) adalah duo akustik yang menamai diri mereka ‘Terasering.’ Terasering sendiri adalah proyek musik yang dibuat di tahun 2016 dan akan segera merilis mini album. Pada 24 Maret lalu Terasering membawakan 9 buah lagu dalam pertunjukan mini yang digelar oleh IVAA dan sekaligus menjadi awalan program rutin Musrary. Diselingi dengan obrolan ringan dan kuis kecil-kecilan, acara tersebut berlangsung meriah dengan penonton yang memadati ruang pertemuan IVAA sejak pukul 19.00 hingga 21.00.

Sembilan lagu dibawakan dengan apik oleh Rarya dan Ringga dalam beberapa sesi. Diawali dengan 4 lagu pertama, yaitu Kawa, Fatamorgana, Lighthouse Man, dan Terimakasih. Lalu sesi kedua dibawakan 4 buah lagu dengan judul Sweet Afternoon, Catatan Perpisahan, Serumah, serta Air Mata Juli. Sementara di sesi terakhir ditutup dengan Suara Kerinduan.

Melalui program Musrary yang rencananya akan dihelat sebulan sekali ini, IVAA menekankan fungsi ruangnya sebagai ruang apresiasi. Walaupun sehari-harinya IVAA digunakan sebagai ruang kerja, ruang penyimpanan arsip seni rupa, dan perpustakaan publik, namun sebetulnya ruang IVAA tidak tertutup untuk aneka kegiatan yang bersifat ringan, menghibur, namun sesungguhnya merupakan hasil kebudayaan anak muda Indonesia sekarang yang berkualitas. Selain sebagai ruang apresiasi, harapan Musrary cukup sederhana, yakni menyediakan ruang temu antar pegiat musik, yang saling memotivasi dan menghidupkan inspirasi.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas
Diskusi Berseri, 17 – 16 November 2016, di RumahIVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

“Your Trip, Our Adventure” merupakan rangkaian dua hari diskusi yang berupaya melihat fenomena pertukaran budaya secara mendalam dan meluas. Di hari pertama, fenomena ini ditempatkan sebagai soal yang perlu dibongkar tajam dan dicari relasi kuasanya, semacam usaha untuk zoom in. Sementara diskusi hari ke dua merupakan upaya zoom out, dengan menempatkan fenomena residensi ini pada konteksnya, yakni di tengah usaha percepatan pembangunan dan masifnya pengembangan industri wisata.

Pada diskusi hari pertama, Tiatira hadir sebagai pemantik diskusi. Sebagai peneliti soal residensi yang dilakukan bersama tim kajian arsip IVAA, ia memberikan paparan sejarah residensi, baik ketika ditempatkan sebagai istilah maupun kegiatan. Setelah itu Malcolm Smith, salah satu anggota kolektif Krack! memaparkan sebagian kecil dari penelitiannya soal program pertukaran budaya dan kaitannya dengan struktur kelas sosial. Ia juga memberikan penjelasan soal bagaimana agenda penyandang dana memainkan pengaruhnya dalam aktivitas pertukaran budaya. Sementara di sisi lain terdapat logika pemerintah suatu negara yang selalu ingin menjadi pusat. Elia Nurvista, seniman yang banyak melakukan residensi, membagikan motivasinya dalam melakukan residensi, di tengah konteks kesenimanannya.

Sementara diskusi hari ke dua dengan tema ‘Budaya Berpindah dan Arah Gerak Kota’ lebih membawa pembahasan pada kondisi kota Yogyakartayang laju perubahannya semakin dikencangkan melalui berbagai macam rezim penataan. Dari paparan yang diberikan serta diskusi yang kemudian bergulir selama kurang lebih tiga jam, forum ini mampu mengeksplisitkan berbagai persilangan kuasa dan rezim yang merupakan elemen dari percepatan pembangunan, yang banyak menentukan wajah kota Yogyakartayang dipaksa menjadi urban.Dimulai dari paparan Pitra Hutomo, arsiparis dan peneliti IVAA, yang mengartikulasikan arah gerak perubahan Yogyasebagai ruang hidup beserta peran seniman dalam laju perubahan tersebut. Setelah itu, Maria Adriani, dosen arsitektur UII sekaligus perencana ruang urban, memberikan paparan menyeluruh dari hulu sampai hilir soal bagaimana Yogyakartadipaksa menjadi ruang urban. Sementara pemantik diskusiketiga ialah Rosyid Adiatma, akademisi, yang sedang melakukan penelitian soal identitas dan perebutan ruang. Ia tengah melakukan tahap awal dari penelitian di desa Tambakharjo, Tugurejo, Karanganyar. Dalam paparannya ia membagikan beberapa cara pandangnya yang dipakai dalam penelitiannya tersebut.

Kedua forum ini berlangsung sebagai ruang berbagi masukan, pemikiran, posisi dan strategi hingga sebagai sarana kritik dan otokritik bagi para pelaku dan penggerak aktivitas seni budaya.

Pemutaran dan Diskusi Film “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman”

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Sekitar pukul 13.00 WIB pada Senin, 3 Oktober 2016 IVAA kembali menyelenggarakan pemutaran serta diskusi film. “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman” adalah film yang kali ini dihadirkan di RumahIVAA. Diskusi ini juga dihadiri langsung oleh sutradara film yakni Subi serta seorang penanggap dari Kunci Cultural Studies Center, Fiky Daulay. Beberapa mahasiswa, pegiat seni, dan kurator pun datang untuk mewarnai diskusi, seperti Wahyudin (kurator independen Yogyakarta) dan Budi Dharmawan (fotografer independen, penulis, dan kurator). Diskusi seusai pemutaran film dimoderatori oleh Lisistrata Lusandiana. Dengan ditemani teh hangat serta cemilan, kehadiran mereka membuat suasana diskusi semakin nikmat.

Film ini mengisahkan perjalanan hidup Raden Saleh, sebagai seorang Jawa yang berdinamika di dunia seni rupa dalam konteks kolonialisme Hindia-Belanda. Sebuah perjalanan Raden Saleh dari lahir, proses formatio-nya di Eropa, hingga kembalinya ia di tanah Jawa. Ada beberapa hal menarik dari film tersebut. Salah satunya adalah pernyataan dari Peter Carey, “Sebagai anak muda, Saleh merupakan orang dengan kecerdasan yang luar biasa dan unik. Dan saya rasa itu merupakan ‘kutukan’ tersendiri. Ia bukan bangsawan yang biasa atau priyayi pada umumnya. Ia tidak bisa menjadi bangsawan normal. Ia juga tidak bisa menjadi orang Jawa biasa karena ia terlahir sebagai bangsawan dan sangat berpendidikan.” Kedirian semacam ini sangat bernuansa dilematis ketika di satu sisi Raden Saleh hidup sebagai orang Jawa di masa kolonialisme, yang memaksa sebagian masyarakat Jawa untuk berperang melawan Belanda, sementara di sisi lain, ia juga banyak bergaul dengan bangsawan Eropa. Seorang antek kolonialiskah Raden Saleh? Atau justru seorang nasionalis yang menggunakan cara lain untuk berperang?

Pada awal penjelasannya, Subi menekankan bahwa film ini dibuat sebagai syarat akademis, untuk menuntaskan kuliahnya di Institut Kesenian Jakarta. Di dalamnya, terdapat narasi yang menyampaikan posisi seorang Raden Saleh dalam dunia seni rupa Indonesia hingga sekarang. Seperti apa yang dikatakan di bagian awal film oleh Suwarno Wisetrotomo, “Betapa kita itu bisa eksotik, bisa penting, bisa berbicara di forum penting di dunia.” Ungkapan dari Suwarno nampaknya dipakai untuk menunjukkan kontribusi Raden Saleh di kancah seni rupa internasional. Meski di sisi yang berbeda juga mengandung soal, jika dikaitkan dengan posisi raden saleh dan cara pandang orang Eropa terhadap Raden Saleh.

radensaleh1

Ketika berkesempatan untuk memberi tanggapan, Fiky menjelaskan bahwa ada kelemahan dan kekuatan yang terkandung di dalam film karya Subi ini. Kekuatannya adalah terletak pada momentum yang diambil, yakni suasana pameran di Galeri Nasional. Pameran menjadi konteks tempat dan suasana di awal dan akhir cerita yang membingkai film tersebut. Akan tetapi ia menyayangkan mengapa film ini tidak mengambil persepsi seniman era sekarang dalam melihat sosok Raden Saleh. Bagi dia akan lebih menarik jika Subi memasukkan unsur tersebut. Sependapat dengan Fiky, Budi mengatakan demikian, “…. bagaimana sosok Raden Saleh dalam konteks masanya, dan bagaimana dia juga hadir kembali dalam konteks sekarang.” Tidak sekedar cerita Raden Saleh dari lahir sampai mati, akan tetapi semesta seperti apa yang terbentuk dari dulu hingga sekarang yang akhirnya memungkinkan kita bisa berbicara soal Raden Saleh, ungkap Budi.

Selain Fiky dan Budi, kritik dari Wahyudin juga cukup berarti. Menurutnya film ini belum menyampaikan sikap atau pandangan dari si sutradara. Subi hanya menggarisbawahi pengetahuan tentang Raden Saleh yang sebenarnya sudah diketahui oleh publik. Artinya adalah bahwa Subi belum menawarkan hal baru untuk menjadi bibit diskursus dalam kajian seni video atau sejarah seni rupa. Apalagi dalam keterkaitan profil Raden Saleh dengan konteks sosial politik Hindia-Belanda, tentang posisinya sebagai orang Jawa yang dekat dengan pemerintah kolonial. Bagi Wahyudin akan lebih menarik jika Subi mampu mengambil satu elemen saja yang masih luput dari pandangan publik.

screeningfilmradensaleh1screeningfilmradensaleh2

Sebenarnya ada banyak sekali poin menarik dan penting yang muncul dalam diskusi ini. Namun kiranya ada satu hal yang memang perlu menjadi perhatian khalayak, yakni bahwa suatu pernyataan atau sikap atas suatu hal, menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi ketika berbicara soal produksi suatu karya. Tidak terbatas dalam karya film atau tulisan jurnalistik atau seni yang lain. Tanpa adanya statement dari pembuat, suatu karya akan datar dan tawar untuk dinikmati. Diskusi ini ditutup dengan komentar dari Ari Bayuaji perupa Indonesia yang berdomisili di Kanada, yang tengah mengikuti program residensi di Redbase. Menurut Ari, film ini akan sangat bermanfaat bila ditemukan dengan audiens yang tepat. Misalnya bagi pelajar SMA atau mahasiswa non-seni rupa, film ini dapat menjadi pengantar yang tepat untuk mulai mengenal sosok Raden Saleh.