Category Archives: RumahIVAA Review

Musrary Edisi ke-4: Arsip Berjalan Ingatan Kota

Penulis: Era D.S. (Peserta Magang IVAA)

Perpustakaan IVAA disulap oleh Izyudin “Bodhi” Abdussalam (Ruang Gulma) menjadi ruang seperti ruang teater, dia mengeset ruang perpustakaan IVAA dengan pernak-pernik lampu belajar sejumlah lima buah. Sebelum pertunjukan dimulai, ruangan dibuat sedemikian gelap sehingga panggung dan penataannya terlihat begitu anggun. Malam itu penonton memenuhi ruangan IVAA yang berkapasitas maksimal 80 orang itu sehingga terlihat penuh tetapi hangat dan sangat dekat dengan bibir panggung.

Malam itu panggung diisi oleh kelompok band bernama Kota dan Ingatan, mereka adalah Aditya Prasanda (pelafal teks), Addi Setyawan (bass), Indradi Yogatama (gitar), Maliq Adam (gitar), dan Alfin Satriani (drum). Sejak berdiri di tahun 2016 mereka berkali-kali menghiasi panggung musik Yogyakarta khususnya dan memberi pendekatan lain dengan musik dan lirik yang sangat berbeda. Mereka beberapa juga terlibat dalam sebuah gerakan seni dan sosial di Yogyakarta dengan membuat lirik mereka di beberapa lagu begitu lantang tetapi masih sangat puitis.

Penampilan Kota dan Ingatan dalam Musrary edisi ke-4 berlangsung selama satu jam dengan diselingi sesi tanya jawab. Aditya Prasanda dengan kumis uniknya membawakan sembilan lagu. Sesekali pria berkumis unik ini memegang mikrofon dengan kedua tangannya dan merem melek sepertinya terlihat sangat menghayati lagunya.

Proses bermain musik Kota dan Ingatan merupakan upaya mendokumentasikan. Kota dan Ingatan merekam apa yang terjadi di jalan-jalan, di tengah keramaian, di hiruk pikuk kota yang sesak dengan gedung tinggi, dan rencana-rencana tata kota yang berterbangan. Kejadian-kejadian yang begitu marak untuk ditulis, begitu banyak, begitu riuh. Hasil amatan tersebut kemudian dicatat dalam musik. Bermusik adalah mencatat, mencatat guna mengingat.

Di dalam konser mini tunggal mereka ini beberapa lagu masih dalam tahap perekaman dan akan dijadikan album mereka. Materi-materi Kota dan Ingatan beberapa sudah diluncurkan dan dibagi di sosial media, antara lain lagu-lagu yang berjudul Alur dan Peluru. “Alur” adalah sebuah catatan tentang kekerasan serta konflik horizontal yang akhir-akhir ini sering terjadi.

Kesempatan konser ini mereka maksimalkan dengan memberi visual yang digarap oleh Bodhi juga, dari lagu ke lagu visual ditampilkan secara bergantian dengan visual-visual seperti perkotaan dan sebagainya, yang diproyeksikan dalam ukuran besar di rak-rak buku perpustakaan sebagai latarnya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Mural #OTEWE4

Penulis: Anggie Noorida (Peserta Magang IVAA)

Mural #OTEWE4 kali ini bekerja sama dengan IVAA, dengan merespon lantai amphitheater yang ada di Rumah IVAA. Pengerjaan mural selama 2 hari di tanggal 17-18 Juli 2017 dan peluncurannya di 22 Juli 2017, bersamaan dengan acara #UpdateYourCity dari Kindmagz. Untuk konsep sendiri mereka membuat peta Yogyakarta dari sudut pandang yang berbeda. “Pada saat memilih peta Yogyakarta, aku ngobrol dengan Kotrek. Bagaimana jika menggambarkan masalah yang ada di Yogyakarta dengan cara yang berbeda? Sepertinya asik… Kemudian muncullah beberapa karakter di peta seperti Sleman dengan karakter Gunung Merapi, Kulon Progo dengan karakter Bandara, Yogyakarta, Bantul, dan Gunung Kidul dengan karakter manusia yang ada di dalamnya. Bagaimana masyarakat menanggapi adanya pembangunan,” kata Kotrek.

Sebenarnya proyek ini bagi Ismu Ismoyo dan Kotrek sendiri berkenaan dengan proyek Otewe yang sedang mereka garap tentang alat transportasi di Yogyakarta yaitu sepeda. “Ironis ketika Yogyakarta sebagai kota sepeda tapi ternyata minim ruang publik sepeda di Yogyakarta,” ungkap Ismu. Sebelumnya mereka sudah membuat mural di beberapa titik, yaitu Alun-alun Kidul, Nitiprayan, Giwangan, dan di IVAA adalah lokasi ke-4. Untuk mural sendiri rencana mereka ingin membuat 7 sampai 10 mural. Di setiap titiknya menceritakan permasalahan transportasi sepeda yang ada di daerah itu. Untuk gambar yang ada di Rumah IVAA konsepnya adalah bagaimana menceritakan cara pandang kondisi kota Yogyakarta, yang pasti sepeda ada di dalamnya.

Dalam proyek #Otewe ada 3 hal yang menjadi harapan sang inisiator, yaitu membangun ingatan orang tentang kota Yogyakarta sebagai kota sepeda, yang kedua adalah melihat bahwa kota Yogyakarta tidak dirancang untuk kendaraan besar jadi sepeda itu bisa menjadi solusi mengurangi kemacetan, dan yang ketiga adalah membangun sedikit nostalgia seperti sepeda membuat dialog tersendiri dengan warga yang lain (pengguna sepeda). Sebenarnya penggunaan sepeda di kota Yogyakarta besar akan tetapi fasilitas belum mendukung seperti marka jalan yang ada di jalan, ataupun ruang tunggu yang ada di lampu merah.

Lewat pengerjaan mural ini diharapkan segala permasalahan di Yogyakarta dapat direfleksikan lewat kegiatan berkeseniaan, danmural ini salah satunya. Mengkritik Yogyakarta tidak hanya lewat tulisan saja, tetapi berbicara juga bisa melalui jalan kesenian. Hal inilah yang ingin disampaikan Kind Magz kepada publik Yogyakarta.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Art in Context: Seni Dari Warga, Oleh Warga, dan Untuk Warga

Penulis: Artia L. Yohana (Peserta Magang IVAA)

Kamis, 20 Juli 2017, Goethe-Institut Program Jogja mengadakan peluncuran buku dan diskusi yang bekerja sama dengan Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Buku yang diluncurkan adalah sebuah buku yang dikembangkan dari program lokakarya yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia di November 2015 silam yang berjudul “Art In Context”. Acara peluncuran buku dan diskusi ini bertempat di Rumah IVAA.

Selain peluncuran dan bedah buku, acara ini juga disertai dengan diskusi tentang seni kolektif serta berbagi cerita dari pengalaman pembicara. Acara ini kemudian dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama dimulai dengan bedah buku yang menghadirkan Djuwadi dari Taring Padi sebagai pembicara. Djuwadi merupakan salah satu peserta yang terlibat dalam lokakarya tersebut. Dalam sesi ini dipandu oleh Christina Schott (Tina) penanggung jawab dari Goethe-Institut Program Jogja. Pada sesi ini membahas tentang isi dari buku “Art In Context” serta pengalaman dari Djuwadi sebagai peserta yang mengikuti residensi selama 12 hari di Kuala Lumpur. Workshop atau Master Class ini berjudul “Transaction in the Fields”, dihadiri seniman dari 10 negara di Asia salah satunya adalah Indonesia.

Menurut pemaparan Tina, acara yang telah dilaksanakan pada tahun 2015 ini mengambil tema partisipatory art atau socially engaged art, fusion public art, art activation community, dan art education. Kemudian ide dari penerbitan buku ini sendiri menurut Djuwadi tercipta setelah program workshop 12 hari penuh, akhirnya diputuskan untuk mendokumentasikan seluruh hasil kegiatan yang telah dilaksanakan dan di publikasikan dalam bentuk buku. Pembuatan buku ini sendiri memakan 2 tahun yang kemudian diterbitkan oleh Goethe-Institut.

Setelah berbagi pengalaman dari Djuwadi, terdapat pertunjukan kecil yang pernah dibawa Djuwadi ke Malaysia ketika workshop. Pertunjukan yang dilakukan adalah tutorial memanfaatkan sampah sebagai hiasan. Menurutnya ide ini muncul ketika mengikuti karnaval kostum sampah, ia memungut sampah yang ditemuinya sepanjang jalan dan kemudian membentuknya menjadi sebuah hiasan untuk pakaian dengan mengunakan peniti. Karya ini juga merupakan salah satu karya yang di presentasikan oleh Djuwadi ketika mengikuti workshop di Kuala Lumpur.

Sesi kedua diisi dengan diskusi tentang wacana seni partisipatoris yang bersinggungan dengan sifatnya yang kolektif serta bersosialisasi dengan masyarakat. Dalam sesi ini terdapat dua pembicara yang dimoderatori oleh Hardiawan Prayoga. Pembicara yang dihadirkan adalah Djuwadi dari Taring Padi dan yang kedua adalah Ketjilbergerak yang di wakili oleh Britto. Kedua komunitas ini pada garis besarnya bergerak dalam konteks art in community atau dapat dikatakan karya-karya mereka dipersembahkan untuk berpartisipasi dalam membantu masyarakat. Karya seni yang mereka buat bersinggungan dengan isu-isu terbaru yang ada di lingkungan masyarakat.

Sebelum diskusi dimulai, ditampilkan beberapa video dari para pembicara. Djuwadi menampilkan cuplikan hasil kegiatan lokakarya yang telah dibahas sebelumnya. Sedangkan dari Ketjilbergerak menampilkan video hasil karya mereka yang berjudul “Energi Mudamu, Senjatamu!.” Menurut Britto, video yang ditampilkan oleh Ketjilbergerak ini merepresentasikan bahwa Ketjilbergerak memiliki tiga program, yaitu pendidikan alternatif berbasis kesenian, yang kedua adalah bergerak dengan anak muda agar mereka bisa rensponsif dan dapat membaca lingkungan, dan yang terakhir adalah penguatan warga agar mereka dapat membaca dan memahami serta mengambil sikap yang tepat dalam merespon perubahan atau perkembangan yang ada di lingkungan.

Dalam sesi ini juga dibahas latar belakang komunitas tersebut dan fokus dari komunitas serta kegiatan yang dilakukan oleh kedua komunitas tersebut. Menurut pemaparan Djuwadi, Taring Padi merupakan sebuah komunitas yang terlahir di tahun 1998 sebagai organisasi budaya progresif. Taring Padi ini banyak mendedikasikan hasil karya seni mereka untuk berpartisipasi dalam aksi solidaritas bersama masyarakat dengan kata lain membantu masyarakat dalam mengekspresikan maupun mengutarakan pendapat mereka melalui karya kesenian.

Sedangkan Ketjilbergerak merupakan komunitas yang terlahir di tahun 2006 sebagai komunitas kreatif berbasis anak muda sebagai orang yang berjiwa muda. Menurut Britto Ketjilbergerak ini pada awalnya muncul dari keinginan dan niat untuk terjun langsung pada warga. Salah satu karya dari Ketjilbergerak ini salah satunya yaitu pembuatan video yang isinya mengkritik kondisi permasalahan saat itu. Britto memberikan pemaparan tentang alasan mengapa mereka memilih berkarya di musik video walaupun tetap juga aktif berkarya di seni lainnya, menurutnya karena Ketjilbergerak mempunyai metode untuk bergerak dengan media yang menyenangkan sehingga gerakan tersebut tidak membebani.

Kemudian para pembicara juga memaparkan bagaimana mereka berkegiatan di masyarakat. Taring Padi maupun Ketjilbergerak mempunyai metode yang hampir sama ketika mereka mulai berkarya untuk masyarakat. Tujuan dari karya mereka pun sejalan, yaitu menguatkan warga agar mereka dapat membaca situasi atau kondisi yang ada sehingga mampu mengambil sikap atas situasi tersebut. Kemudian mereka juga memaparkan bahwa karya-karya seni yang dihasilkan itu berasal dari ide-ide masyarakat yang kemudian dikembangkan dan dibuat bersama-sama dengan masyarakat. Kemudian ide tersebut berkembang menjadi sebuah hasil karya seni yang berisi ungkapan, suara, pendapat warga tentang situasi atau isu yang berada dilingkungan tersebut. Selain itu, alasan bahwa ide tersebut harus berasal masyarakat adalah karena Ketjilbergerak serta Taring Padi tidak akan selamanya berada di tempat tersebut, sehingga dengan belajar bersama, harapannya masyarakat pada akhirnya mampu berkarya sendiri ketika tidak ada Ketjilbergerak atau Taring Padi.

Secara umum acara ini merupakan sebuah diskusi dan bedah buku di mana tema atau garis bersarnya adalah kolektif seni. Baik buku yang diluncurkan maupun diskusi yang dilaksakan membahas tentang bagaimana seni dapat menjadi sebuah alat untuk mengungkapkan ekspresi, pendapat, dan ide dari masyarakat; sehingga seni tidak hanya dianggap yang hasilnya berupa karya untuk ditampilkan atau dipamerkan, tetapi juga dapat sebagai suatu alat untuk membangun kesadaran masyarakat.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Musrary Edisi ke-5: Jono Terbakar

Penulis: Era D.S. (Peserta Magang IVAA)

Gelaran diskusi musik di Indonesian Visual Art Archive (IVAA) yang baru dirintis sejak Maret 2017 ini merupakan acara yang  mewadahi pertemuan musisi, kritikus dan pendengar musik Yogyakarta. Pada edisi ke-5 Juli 2017 kali ini Musrary menghadirkan Jono Terbakar.

Jono Terbakar adalah duo akustik heavy-mental dari Yogyakarta yang terdiri dari Nihan Lanisy dan M.N. Hidayat. Dalam acara ini Jono (Hidayat) tampak hadir sendiri, rekannya Terbakar (Nihan) tidak hadir kerena sakit usai manggung di Jakarta. Karena Terbakar tidak bisa hadir, malam itu Jono mengajak temannya Mas Tobi dari Gatal Production untuk berkolaborasi dengan video klip yang ditampilkan saat acara berlangsung. Mas Tobi juga sempat mengusulkan agar desain cover album ke-2 dibuat sayembara.

Acara ini dimulai pukul 20.00 WIB diawali dengan sebuah lagu berjudul Sepatu Sporty. Jono Terbakar telah menelurkan satu mini-album (Sugeng Kunduran, 2014) dan satu full-album (Dunyakhirat, 2015) dan beberapa single.

Jono Terbakar membawakan beberapa lagu andalannya seperti: Titik Dua Bintang, Tualang, Ziarah, dan lain-lain. Dalam penampilannya Jono juga menyelipkan komedi sehingga penonton tidak akan bosan untuk menontonnya. Apalagi di lagu ke-3 Jono menyanyikan lagu berjudul Atos (Kudu Piye Tuips) sontak membuat semua penonton tertawa terbahak-bahak karena kelucuan dalam lirik lagu dan cara menyanyikan lagunya. Inilah cuplikan lirik yang membuat semua tertawa:

“Bu, iki teh e kok ora legi yo?”
Lha malah diwangsuli
“Sewu kok njaluk legi, mas!”
“Sewu kok njaluk legi, mas!”
“Sewu kok njaluk legi, mas!”

Di tengah acara Jono terbakar juga membagikan albumnya kepada penonton yang aktif bertanya dalam diskusi musik tersebut. Jono terbakar rupanya sempat lama menghilang dari dunia musik. Dia mengatakan sebab berhenti di dunia musik itu karena terlalu mendalami agama dan menganggap musik itu haram. Waktu itu dia juga persiapan ingin memiliki anak.

Jono membuat semua lagu itu intinya yang happy. “Walaupun liriknya sedih tetapi setelah mendengarkan akan terasa happy mentalnya,” ujar Jono. Dulu proses awalnya Jono Terbakar itu cuman dari gitar klasik sama handphone aja. Seperti lagu cinta yang sering diputar di radio-radio Yogyakarta. Dari usia SMP Jono sudah memainkan gitar elektrik dan lain-lain. Tetapi Jono mengatakan anggota grup band umumnya ada 5 dan itu tidak nyaman, jadi dia bikin 2 personil saja.

Kali ini Jono Terbakar juga berkesempatan untuk menafsirkan film Ziarah melalui kacamatanya dan kemudian dituangkan dalam serangkaian nada khas Jono Terbakar. Film Ziarah adalah karya sahabatnya BW Purbanegara, dia butuh seniman yang bisa memindah mediakan film, musik, tari, dan lain-lain. Di April 2017 ia berencana merilis mini-album “Ziarah” yang di dalamnya terdapat 4 lagu. Lagu-lagu tersebut mencoba menarik pendengarnya ke suasana cinta dalam bentuk perjalanan, pencarian, kesetiaan, dan refleksi akan kematian.

Dalam acara ini Jono Terbakar menutup dengan sebuah lagu berjudul Tualang dan penonton bertepuk tangan dengan meriah.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Tutti Art & Seniman Perempuan: Narasi Keperempuanan Dari Perempuan

Penulis: Annisa Rachmatika (Peserta Magang IVAA dan Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa)

29 Juli 2017, di Rumah IVAA, 16 perempuan baik seniman maupun peserta lain, mendiskusikan persoalan keperempuanan dari sudut pandangnya masing-masing. Acara ini diorganisir oleh Tutti Arts, yakni lembaga yang mendukung seniman disabilitas dalam berkesenian.

Perempuan-perempuan tersebut membuat kolase malalui bahan yang telah disediakan Tutti Arts. Mereka dituntut untuk mendeskripsikan perempuan dan persoalannya melalui karya kolase.

Lashita yang berkolaborasi dengan Uut dan Agnes membuat karya visual performatif berjudul Woman Process. Ketika seniman itu menggabungkan potongan gambar kaki, tangan, dan anggota tubuh manusia yang lain dengan berbagai bagian tubuh hewan bersayap, sebagai personifikasi dari perempuan. Ditambah, pertunjukkan membuat bunga mawar dari kertas krep yang dilipat sedemikian rupa kemudian ditarik, sebagai penanda proses.

Endang, seniman di bidang musik, menciptakan kolase yang menarasikan tentang dirinya sebagai seorang perempuan penyandang disabilitas yang berproses mencapai kesetaraan.

Fitri, seniman di bidang visual, mengkolasekan berbagai gambar perkakas rumah tangga menjadi badan perempuan yang menjinjing satu tas bermerek, dengan potongan gambar keluarga—ayah, ibu, dan anak—sebagai kepalanya. Bagi Fitri, karya ini mewakili kisah perempuan yang mendapatkan tuntutan menikah atas dasar usia yang telah memasuki kepala tiga. Perempuan digambarkan Fitri sebagai figur yang menerima berbagai konstruksi sosial. Diwajibkan bisa memasak, berdandan, dan melayani suami. Konstruksi tersebut dirasa Fitri terlalu merepotkan, namun dirinya sadar bahwa hal ini merupakan sebuah warna-warni kehidupan sosial yang perlu dijalani.

Rika, mengkolasekan gambar gurita dengan berbagai potongan tangan, sebagai ilustrasi tututan wanita yang beragam. Baginya, tuntutan ini tidak proporsional, sebab setiap tubuh manusia memiliki keterbatasan. Terdapat hal-hal yang bisa dikerjakan, dan sebaliknya.

Naomi, dengan karya berjudul Woman’s Match bernarasi soal perempuan yang berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kepantasan dalam berbusana. Bersedia berdesakan dalam antrian atau tempat belanja yang menyediakan diskon besar-besaran. Narasi ini diilustrasikan melalui berbagai potongan tas bermerek yang disusun secara rapi, dan masing-masing potongan tersebut terhubung degan garis mengkilap yang terbuat dari gel glitter.

Restu, menggambarkan wanita yang berada dalam kotak transparant dengan segala bentuk aturan. Disebut kotak transparant karena bentuk dan materi pembuat “kotak” tidak dapat teridentifikasi lebih jelas. Restu menegaskan bahwa, bentuk aturan yang berada dalam kotak ini jika dipandang lebih jauh, bukan hanya menjadi kewajiban dari wanita saja melainkan pihak lain—pria.

Pat Rix melihat bahwa narasi mengenai asal selalu menjadi pembicaraan perempuan. Bahasan nenek moyang, yakni venus—atau ibu pertiwi—digambarkannya melalui berbagai wajah yang disusun berbaris ke bawah terhubung dengan anak panah.

Tiara, pengalamannya sebagai seniman pertunjukkan—tari, menginspirasi karyanya yang menyoal topeng dari perempuan dan mimpi. Bagi Tiara, wanita akan selalu tampil dengan berbagai topeng yang tidak disenanginya akibat tuntutan sosial. Hingga, pada keadaan tertentu menghalanginya dalam meraih mimpi. Tiara menegaskan bahwa, semua perempuan bebas meraih mimpinya dengan atau tanpa melewan struktur sosial.

Selain soal keperempuanan, perhatian mengenai dunia pendidikan menarik perhatian salah satu seniman film, Revita. Perempuan yang kerap berkutat dengan dunia naskah ini melihat gambar-gambar yang disediakan Tutti mengulik kegelisahannya pada dunia keilmuan. Revita mengambil berbagai jenis serangga dan menyusunnya untuk memudahkan anak-anak atau penikmat karya lain melakukan identifikasi.  

Bagi Revita, seluruh persoalan dunia baik keperempuanan atau lainnya, dapat terselesaikan dengan jika pendidikan digerakkan dengan baik. “Mengubah dunia melalui pendidikan”ujarnya dengan mantap.   

Karya Revita seperti merangkum narasi keperempuanan dan hal lainnya dalam diskusi grup ini. Pendidikan menjadi ruang yang memungkinkan penyampaian wacana dalam berbagai persoalan, dalam hal ini, keperempuanan.      


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Update Your City Bersama Kind Magz

Penulis: Anggie Noorida (Peserta Magang IVAA)

UPDATE YOUR CITY (UYC) merupakan program terbaru dari KIND MAGZ, mengajak graffiti/mural artist untuk berbagi informasi mengenai proses berkarya, spot gambar serta perkembangan street art di tiap kotanya masing-masing. Karena kami yakin tiap kota memiliki keunikan tersendiri kata salah satu anggota dari Kind Magz. Lokasi ketiga acara UYC adalah Yogyakarta, setelah sebelumnya diselenggarakan di Semarang dan Bali.

Kind Magz dalam rangkaiannya di Yogyakarta memilih IVAA sebagai kolaborator dalam menggagas acara Update Your City ini. Hal ini tidak terlepas dari IVAA sebagai salah satu lembaga pengarsipan seni visual. Kind Magz juga memilih IVAA karena keberadaan Rumah IVAA yang keren untuk menyelenggarakan acara Update Your City di Yogyakarta seperti yang diungkapkan oleh anggota dari Kind Magz.

UYC Yogyakarta mengambil tema City Invasion, di mana kami menginvasi sejumlah titik titik spot di Yogyakarta untuk dijadikan sebagai kanvas publik para artist yang ikut serta dalam acara ini. Selain itu diselenggarakan pula Kelas Graffiti bagi anak-anak dan artist talk. Konsep acara kali ini di IVAA terdiri dari tiga kegiatan yakni #GraffClass,  #GraffTalk, dan #GraffDuel .

(#GraffClass) seperti di tempat sebelumnya (Bali), diadakan kelas graffiti & street art bagi anak anak, kelas ini bertujuan untuk mengenalkan dasar-dasar street art melalui pemutaran video dan memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa street art bukan vandalism. Selain sesi materi terdapat juga sesi praktek di mana anak-anak langsung diberi alat-alat gambar berupa cat, kuas, dan aerosol untuk berkarya sesuai dengan apa yang ia peroleh saat sesi materi. Dipandu oleh dua mentor yakni Astc (Jogja) dan Walcsix (Jakarta), keduanya memiliki pengalaman mengajar kelas graffiti di beberapa sesi.

(#GraffTalk  & #GraffDuel) di sesi ini menjadi serangkaian malam pembukaan acara UYC Jogja, #GraffTalk adalah sesi sharing dan presentasi oleh beberapa artist lokal maupun orang yang mendukung perkembangan skena tsb (fotografer dll). Bertajuk “Dokumentasi street art dulu hingga kini”, tujuannya adalah untuk memberikan wawasan kepada pendatang baru tentang kesejarahan street art di Yogyakarta dan seberapa pentingnya mendokumentasi dan mengarsipkan sebuah karya. Dipandu oleh Yusuf dari Indonesiart Foundation sebagai pranatacara dan moderator, serta Nsideone (graffiti artist), Graforce (otografer), dan Dwi Rahmanto (IVAA) sebagai narasumber.

#GraffDuel merupakan serangkaian kompetisi dalam tiga babak, yakni babak seleksi, babak Sketch Battle, serta babak Live Duel. Di IVAA diselenggarakan babak kedua yakni Sketch Battle. Sketch Battle merupakan kompetisi membuat sketsa kata-kata yang dipilih secara acak oleh juri, serta dibatasi oleh waktu. Pemenangnya akan masuk ke dalam babak terakhir, yakni Live Duel yang bertempat di suatu titik di samping Hotel Indrakila, Jalan Tirtodipuran.

 

 

 

 

Setelah acara dari Update Your City ini rencana Kind Magz ke depan adalah akan terus melakukan tur di berbagai kota-kota di Indonesia serta merilis aplikasi yang sebelumnya sempat mengalami kendala.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Berbagi Pengetahuan dalam Pelatihan di Perpustakaan ISI Surakarta

Oleh: Melisa Angela

Pertengahan Mei lalu IVAA mendapat undangan dari ISI Surakarta, lebih tepatnya dari UPT Perpustakaan kampus, yang dulunya bernama STSI Surakarta itu. UPT Perpustakaan yang setiap tahun memiliki program pelatihan, pada tahun ini mengangkat persoalan budaya digital dan teknologi informasi yang kini tak pelak menjadi dunia yang kita hadapi dan hidupi. Perpustakaan, sebuah tempat di mana sekumpulan buku dan dokumen disimpan untuk kemudian ditemukan oleh pihak yang memerlukan referensi ataupun bukti penguat dalam penelitiannya tidak juga terhindar dari rambahan budaya digital ini. Maka dari itu, supaya bisa menggunakan kemudahan dan alih-alih terjegal oleh kemajuan teknologi ini, tidak ada cara lain daripada menguasainya secara teknis serta memahami konsep-konsep dasarnya.

Pelatihan berjudul “Pengemasan Audio Visual sebagai Bahan Informasi Digital di Media Sosial” ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan kemajuan infrastruktur teknologi informasi kepada para pustakawan, baik yang bekerja di UPT Perpustakaan ISI Surakarta, maupun yang dari luar lingkungan kampus tersebut; juga kalangan umum yang tertarik memperdalam pengetahuannya tentang hal ini.

Di acara ini IVAA diundang sebagai pembicara di hari kedua pelatihan yang berlangsung 16-17 Mei 2017 tersebut. Di hari pertama, pelatihan dipandu oleh Pascalis PW., seorang ahli media/multimedia yang berkecimpung di bidang promosi dan pengembangan brand perusahaan. Sedangkan IVAA dipercaya untuk memberikan pengantar mengenai manajemen pengelolaan dokumen audio visual, hingga teknik-teknik dasar dalam membangun sistem temu kembali (retrievel system) yang baik. Kami pun menyambut baik undangan ini, sebagai kesempatan berbagi pengetahuan dari pengalaman kami mengelola arsip IVAA selama ini. Dwi Rahmanto dan saya bertandem untuk mengisi materi pelatihan di hari kedua, penyampaian saya lebih pada dasar-dasar pembangunan sistem temu kembali dengan mengenalkan konsep-konsep dasar mengenai database, diagram konteks, dan diagram relasi antar entitas. Sedangkan Dwi Rahmanto lebih membahas penyimpanan materi audio visual dan pengemasannya secara sederhana menggunakan aplikasi-aplikasi yang dapat dipasang di telepon pintar.

Pelatihan yang kebanyakan pesertanya adalah staf dari instansi perpustakaan dan pengarsipan pemerintahan maupun swasta ini berjalan dengan baik, kendati acap kali terhambat koneksi internet yang tersendat-sendat. Namun pada dasarnya para peserta mendapatkan gambaran tentang pengelolaan berkas audio visual elektronik. Perbincangan pun masih berlanjut di luar forum resmi setelah pelatihan berakhir.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Bioscil 10: Berkunjung ke Dipowinatan

Oleh: Putri Ratna

“Bioscil” merupakan kependekan dari bioskop kecil dan keliling. Layaknya bioskop namun dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kecil yang juga dimaksud di sini menunjuk pada segmen publik yang ingin dilibatkan, yakni anak-anak. Keliling merupakan salah satu konsep yang ditawarkan Bioscil, yang pada mulanya dimaksudkan untuk memfasilitasi penonton usia anak di lokasi yang jauh dari bioskop.

Sebagai ruang alternatif menonton film, Bioscil diinisiasi oleh duo seniman asal Yogyakarta yaitu Hindra Setya Rini (Hindra) dan Rifqi Mansur (Kiki) sejak akhir tahun 2011. Selain sebagai ruang alternatif menonton film-film pendek yang inspiratif, harapannya Bioscil dapat memfasilitasi proses pertemuan kreatif dan interaktif anak-anak dan remaja.

Berawal dari banyaknya anak-anak dari Dipowinatan dan sekitar Rumah IVAA yang sering main game online melalui telepon pintar mereka dengan memanfaatkan wifi IVAA, beberapa orang dari IVAA kemudian terpancing untuk membuat pemutaran film dengan tema yang dekat dengan dunia anak, termasuk soal game online. Pada 18 April 2017 lalu, Bioscil singgah di Rumah IVAA dengan memutarkan dua buah film yang berjudul “Ayo Main” garapan Bambang ‘Ipoenk’ KM dan “Singsot” garapan Wahyu Agung Prasetyo.

Melalui program Bioscil ini, IVAA berupaya mendekatkan diri pada warga sekitar, terutama anak-anak yang sering datang di Rumah IVAA, namun minim interaksi.  Selain sebagai ruang apresiasi, program ringan semacam ini utamanya menekankan pada indahnya interaksi.


*Putri Ratna Dewi Werdiningsih, mahasiswa angkatan 2013 Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang banyak terlibat kegiatan kemahasiswaan di kampusnya; antara lain tergabung dalam Komunitas Lensa 18, Paduan Suara Miracle Voices V, dan Kampung Komunikasi. Dalam magangnya di IVAA sejak awal Maret hingga akhir Mei 2017, Putri membantu kerja pendokumentasian kegiatan seni dan pengelolaan hasil dokumentasi.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Musrary bersama Umar Haen

Oleh: Padma Kurnia

Dalam sembilan lagu yang dibawakannya bersama Arok (nama pemain perkusinya), terlihat berbagai usahanya dalam mengolah tema-tema seputar usia dan waktu.  Petikan senar gitar yang menenangkan mampu menggambarkan kegentingan dari pesan-pesan yang hendak dimunculkan. Umar Haen, solois berambut gondrong ini mengungkapkan bahwa lagu bisa menjadi ‘kulkas emosi.’

Beberapa kisah dimunculkan Umar Haen dalam lagu “Racau di Malam Kacau” dan “Tentang Generasi Kita.” Para penonton yang hadir di RumahIVAA diajak untuk mengingat kampung halaman masing-masing melalui “Kisah Kampungku”, sambil mengintip kampung halaman Umar di Temanggung yang terekam dalam sebuah video pendek.

Anak-anak muda di desanya tidak banyak yang mau tinggal lalu menggarap sawah. “…jadi memang di kampung saya itu, hampir sebagian besar pemuda yang sudah lulus sekolah itu impiannya adalah untuk merantau…” ungkapnya. Sejauh ini Umar belum pernah menemukan pemuda di desanya yang ingin meneruskan bekerja di sawah.

“Kisah Kampungku” juga memuat penggalan kelam program transmigrasi Orde Baru yang berdalih pemerataan pembangunan. Akibatnya, merantau kian membudaya. Pada saat yang bersamaan, generasi di atasnya dibungkam dengan program pangan Orba. Dalam lagu yang berjudul “Nasihat Kakek; Jangan Jual Tanahmu”, Umar teringat akan wejangan kakeknya untuk tidak menjual tanah warisan dan menganggapnya sebagai pamali.

Sebagai lagu penutup, Umar menafsir bagaimana mahasiswa tumbuh di Yogyakarta dengan lagu berjudul “Di Jogja Kita Belajar”. Sembilan lagu yang Umar bawakan merupakan materinya di album pertama yang rencananya rilis setelah Ramadhan.

Hampir semua lagu Umar ciptakan di sepertiga malamnya karena dia merasa waktu itu adalah waktu di mana semua pikiran; ingatan, emosi, dan kegelisahan dipertajam. Musik metal menjadi inspirasi Umar dalam menciptakan lagunya. Tak hanya itu Umar pun punya saluran Youtube favorit yang bisa menginspirasinya pula. Sedangkan untuk inspirasi lirik, Umar banyak mendapatkannya dari buku.

Mendengarkan komposisi musik dan lirik lagu-lagu Umar malam itu, tidak heran jika sudah banyak yang menunggu albumnya. “Semua karya saya memang saya ciptakan di sepertiga malam saat semua orang sudah terlelap. Semoga habis lebaran nanti bisa terealisasi,” ungkap Umar sebagai kalimat penutup pertunjukannya malam itu.

| klik disini untuk melihat video |


*Wahyu Padma Kurnia, (l.1995) mahasiswa kelahiran Kota Tulungagung ini jauh-jauh datang ke IVAA khusus untuk magang. Ia adalah mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Negeri Malang angkatan 2013. Magangnya dimulai pertengahan Mei lalu hingga dua bulan ke depan. Kurnia membantu kerja Tim Dokumentasi, terutama dalam kerja dokumentasi kegiatan seni dan pengolahan file video dan foto.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H | EID MUBARAK!

Pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta V Tahun 1993. Koleksi Taman Budaya Yogyakarta.

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Menyambut Idul Fitri, IVAA akan tutup pada 23 Juni 2017,
dan akan kembali buka pada 3 Juli 2017

Salam hangat,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wish you

Happy Eid 1438H

Welcoming the feast of Eid, IVAA will be closed from the 23th of June 2017
and will be back to operations on the 3th of July, 2017.

Warm regards,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)


Artikel ini merupakan Rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.