Category Archives: Kabar IVAA

Pemagang IVAA – FSMR ISI Yogyakarta [Oktober – Desember 2015]

magangoktdes2015Latu Pambudi Nugraha, mahasiswa Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Selama 2 bulan magang di Indonesian Visual Art Archive (IVAA), Ia membantu tim arsip dan dokumentasi dalam melaksanakan dokumentasi video serta editing. Dalam kesempatan ini pula Ia membantu dalam mendokumentasikan program academy di Jakarta Biennale 2015.

Tri Mukti Yuliana, mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Fakultas Seni Media Rekam, Program Studi Fotografi. Selama 2 bulan magang di Indonesia Visual Art Archive (IVAA), Ia membantu tim arsip dan dokumentasi dalam pengambilan foto di berbagai pameran seperti Biennale Jogjakarta 2015, serta editing foto. Ia juga membantu tim arsip dalam proses digitalisasi katalog dan makalah yang diperoleh dalam pemetaan untuk Galeri Nasional.

Muhammad Dzulqornain, mahasiswa Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia membantu tim arsip dalam dokumentasi video dan editing selama 2 bulan magang. Selain turut dalam pendokumentasian penyelenggaraan Biennale Yogyakarta khususnya program Biennale Forum, Ia turut membantu dalam editing video pemetaan Galeri Nasional.

Internship at IVAA for International Students

The School of IVAA/Not The School of Athens.
The School of IVAA/Not The School of Athens.

 

International internship for “RumahIVAA” services. Duration: 2 weeks to 3 months. The program provides direct experience for international students to understand how IVAA Library is operated as well as involvement in organizing forums both in the reading and community space. In 2016, IVAA aims to revitalize its reference provision through the “KawanIVAA” program. Interns will follow a general guideline from the previous program and be requested to conduct their proposed activities that are both engaging the community and enriching their own experience. Written reports are due three months after each internship period ends.

International internship for Archive Transliteration. Duration: 1 month to 6 months. The program allows interns to be immersed in selected subjects based on materials available in IVAA. Interns are expected to be able to read in bahasa Indonesia or arrange their own course to be able to do so before joining the program. Interns will also be a crucial part of IVAA electronic publication on their chosen subject by the end of the program.

International internship for Digitalization and Database. Duration: 6 months to 1 year. The program provides direct experience to work with IVAA archivists in conducting documents conversion, database operations and participate in IVAA online interface development. Interns are expected to have minimum experience with electronic documents, database comprehension and exposed to discourse regarding online media and the Internet.

International internship for Audio Visual Archives. Duration: 6 months to 1 year. The program allows intern to experiment with born-digital audio visual recordings preserved by IVAA. Prior to the program, interns are encouraged to conduct observations within art communities in Indonesia with or without personnel/equipment support from IVAA. Interns are expected to produce at least 1 title of audio visual presentation to be disseminated throughout IVAA online platform.

Structure:
– Application consist of: (1) Curriculum Vitae enlisting personal data/contact, education background and relevant experience (2) Motivation letter for a chosen program, personal conditions related to living in Yogyakarta during the program and how the program can benefit both IVAA and the applicant (3) Optional – personal documentation of experience similar to chosen program

– Application sent by email to ivaa@ivaa-online.org

– Application requirement no.3 (optional) is to be sent as electronic files (JPEG, MP3, MP4) via file storage such as dropbox/google drive or a link for preview in existing website. Please note that Indonesia Internet providers have been blocking Vimeo and Daily Motion, so video links should be provided in YouTube while images are best previewed in Flickr.

– IVAA does not charge for offered programs. However, interns must organize their own funding structure in terms of transport, accommodation and per diem. In certain conditions, IVAA willingly support each individual regarding administrative needs such as: (1) Formal invitation letter for Visa and Funding Applications
(2) Informal introduction to colleagues of IVAA (3) Final report for grading necessities

– Interns are allowed to participate in activities within the art community in Yogyakarta during their internship period with flexible arrangement

– Interns are automatically registered as KawanIVAA membership services program

– Applicants are encouraged to assess their possibility and discuss with IVAA via ivaa@ivaa-online.org prior to sending their application

 

Menanam Arsip Pada Tanah, di Taman Budaya Sumatera Barat

Sarasehan Menghidupkan Arsip IVAA (Indonesian Visual Art Archive)

Menanam Arsip Pada Tanah

Waktu: Sabtu, 7 November 2015 | Jam 15.00 – selesai

Tempat: Taman Budaya, Padang, Sumatera Barat

Pembicara:

  1. Gusti Asnan (Guru besar sejarah, Universitas Andalas, Padang)
  2. Muhidin M Dahlan (iBOEKOE, Yogyakarta)
  3. Yoshi Fajar Kresno Murti (IVAA, Yogyakarta)

Moderator:

Koko Sudarmoko (RKB, Padang)

Term Of Reference:

Pekerjaan arsip dan pengarsipan – merupakan pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. Selalu ada kemungkinan hal baru ditemukan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Selalu ada kemungkinan hal baru tersebut juga didokumentasikan baik pada peristiwa yang terjadi di masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Kemungkinan tak terbatas dari masalah arsip dan kerja pengarsipan ini – mau tidak mau – harus “dibatasi” dengan dasar-dasar konsep dan metodologi yang jelas. Konsep dan metodologi sendiri tidak pernah fiks. Konsep dan metodologi diperlukan sebagai landasan untuk pengambilan posisi. Posisi tersebut (harusnya) lahir dari keterlibatan secara intens dalam gerak hidup bermasyarakat secara terus-menerus: untuk semakin jelas terkait dengan setiap problem yang dihadapi, lalu mengambil posisi diri di setiap problem sosial di dalam konteks atau zaman-nya. Apa itu yang dianggap arsip; Apa saja yang perlu diarsipkan; Untuk apa dan untuk siapa kerja pengarsipan dikerjakan, dan; Bagaimana cara mengarsipkan; dan lain sebagainya… merupakan beberapa pertanyaan dasar yang akan terus-menerus digali dengan kritis dalam kerja arsip dan pengarsipan.

Arsip dan pengarsipan di ranah kebendaannya selalu terkait dengan operasi kuasa (pengetahuan, ekonomi, dan estetika). Operasi kuasa hadir dalam konteks kolonialisme, dalam konteks developmentalisme, maupun di dalam pusaran pasar komoditas. Operasi kuasa telah menghadirkan arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari sumber produksi pengetahuan, ekonomi, dan estetika “mereka yang berkuasa”. Di dalam pasar, arsip dan pengarsipan menjadi sumber estetika produksi-distribusi-konsumsi dari nilai komoditas yang ditawarkan. Menghadirkan wacana, nilai, dan sense yang lepas dari problem sosial-budaya-politik masyarakat. Arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari politik klaim, akses, dan estetika dari operasi kuasa.

Meskipun begitu, banyak dijumpai di dalam kenyataan, berbagai individu, lembaga, atau komunitas masyarakat di luar pemerintah dan perusahaan, telah mengembangkan kerja arsip dan pengarsipan di dalam kerangka konsep dan metodologi produksi pengetahuan yang disesuaikan dengan kegelisahan, kebutuhan, dan persoalan-nya sendiri. Pemahaman mengenai arsip dan kerja pengarsipan meluas, melintasi aspek waktu dan kebendaannya, memasuki ranah bahasa, tubuh, dan ingatan. Proses dan sikap keberpihakan pada realitas yang penuh persoalan lebih diutamakan di dalam kerja arsip dan pengarsipan, menghadirkan berbagai produk pengetahuan, estetika, dan sense yang lebih kongkrit dalam arus pinggiran modernitas-globalisasi.

Arsip dan kerja pengarsipan sesungguhnya sangat penting untuk terus-menerus dipikir ulang, dipraktikkan, dan dieksplorasi di dalam konteks negara bekas jajahan yang terus bergerak dan tidak pernah fiks dalam (identitas) kehidupannya, seperti Indonesia. Sebuah negara bangsa yang tidak pernah bisa menciptakan museumnya dengan benar, yang selalu terengah-engah mengabstraksikan sejarah pengetahuannya, dan yang selalu punya siasat untuk mengacak-acak tatanan fungsinya. Namun, pada semua itulah justru seringkali terletak energi kreatif orang-orangnya: membuat hidup (yang berat) menjadi hidup. Kita, barangkali mempunyai pemahaman arsip dan kerja pengarsipan yang beragam. Museum, ditafsirkan dan dikerjakan dengan cara yang lain.

Arsip dan kerja pengarsipan pada akhirnya tidak hanya perkara mengumpulkan dan memulung dokumen-dokumen serta potongan-potongan rekaman mengenai apa yang pernah terjadi dalam kehidupan (sebagai nation state), namun juga menjadi sebuah lahan luas untuk terus digali dan diolah kembali secara kreatif untuk mengisi celah-celah kosong infrastruktur, ilmu, dan sejarah di negeri ini. Arsip sebagai -bukan hanya- sebuah kebendaan, ataupun sarana yang digunakan sebagai media kerja bersama produksi pengetahuan dan estetika, namun lebih dari itu, ia juga sebuah proses, praktik, dan alam bawah sadar dari strategi kultural kehidupan masyarakat setempat.

Hibah Penelitian Seni Visual 2015

Pendaftaran proposal Hibah Penelitian Seni Visual 2015 dibuka 20 Mei sampai 30 Juni 2015. IVAA kemudian menyerahkan 120 proposal yang lolos seleksi administrasi kepada Dewan Penilai. Ong Hari Wahyu, Dr. Wulan Dirgantoro dan Hendro Wiyanto, sebagai Dewan Penilai, memutuskan tiga pemenang hibah, yaitu Sudarmoko, Brigitta Isabella, dan Galuh Ambar Sasi. Saat tulisan ini disusun, ketiga peraih hibah sedang menyusun tulisan ilmiahnya, setelah mendapat masukan di “Pertemuan dengan Akademisi dan Narasumber Arsip”, pada 1 Oktober 2015. Dalam pertemuan, masing-masing peraih hibah menyampaikan perkembangan penelitiannya yang terdiri dari data yang telah diperoleh dan kesulitan yang dialami. Masukan diberikan oleh para undangan, yakni dosen, peneliti, kurator, dan praktisi seni. Tulisan ilmiah hasil dari penelitian dijadwalkan selesai akhir November 2015.

Sudarmoko – SEMI dan Gerakan Seni Rupa di Sumatera Barat
SEMI merupakan kepanjangan dari Seniman Muda Indonesia yaitu nama sebuah sanggar seni, khususnya seni rupa, yang berdiri di Bukittinggi pada awal tahun 1950an. Komunitas ini didirikan di masa yang dengan gerakan seniman muda Indonesia di berbagai daerah di Indonesia. Komunitas SEMI inilah yang sepertinya menjadi salah satu pelopor kegiatan dan perkembangan seni dan budaya di Sumatera Barat, dan karena itu penting untuk ditelusuri dan diteliti sejarah serta pengaruhnya dalam perjalan seni dan budaya di Sumatera Barat dan Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Sudarmoko ini menggunakan metode studi kepustakaan, khususnya dengan menelusuri tulisan-tulisan yang dimuat di majalah atau surat kabar, baik yang diterbitkan di Sumatera Barat dan terbitan lain di Indonesia, serta laporan-laporan program pemerintah, dan buletin SEMI sendiri. Semua itu untuk menyusun sejarah perkembangan seni rupa di Sumatera Barat pada masa awal kemerdekaan. Selain itu, ia juga akan menelusuri karya-karya para anggota komunitas SEMI untuk melengkapi deskripsi dan ilustrasi karya-karya yang dihasilkan. Wawancara dilakukan terhadap pelaku seni rupa, sejarawan, akademisi, dan pihak-pihak yang berkaitan dengan topik penelitian yang dilakukan.

Brigitta Isabella – Praktik Seni Rupa Seniman Indonesia-Tionghoa 1955-1965
Dalam abstraksi yang dikirim kepada panitia, Brigitta mengawali penelitiannya dengan sebuah pertanyaan: Adakah pengaruh persahabatan akrab antara seni Indonesia-Tionghoa bagi perumusan identitas seni rupa nasional yang modern? Studi pustaka awal menunjukkan belum banyak penelitian yang komprehensif yang dapat menjawab topik tersebut. Dalam mengumpulkan data-data baru, Brigitta memanfaatkan ketersediaan arsip terkait topik tersebut di beberapa institusi seperti Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan HB Jassin. Dari perpustakaan tersebut dapat diperoleh majalah dan jurnal seni era 50-an dan koleksi pribadi beberapa orang seperti kolektor atau pemilik galeri penggemar seni Indonesia-Tionghoa. Penelitian ini akan mengumpulkan, mengategorikan, dan memetakan arsip tentang praktik seni Indonesia-Tionghoa untuk menelusuri informasi mengenai : (1) seniman dan kelompok seniman yang memiliki peranan penting, (2) pameran-pameran yang pernah diadakan, (3) lalu lintas pertukaran pengetahuan dalam misi kebudayaan Indonesia-Tionghoa (4) karya-karya seni yang dibuat, dan (5) opini publik dan media massa.

Galuh Ambar Sasi – Konstruksi Perempuan Indonesia Masa Penjajahan Jepang (Studi Karikatur di Majalah dan Surat Kabar)
Berangkat dari penulisan sejarah Indonesia periode penjajahan Jepang yang datanya minim dan seringnya menggambarkan kekerasan serta penderitaan, Galuh Ambar Sasi menawarkan sebuah penelitian yang menjadikan karikatur dari berbagai majalah dan surat kabar di periode masa penjajahan Jepang tersebut menjadi sumber alternatif untuk memperkaya historiografi. Dengan membandingkan halaman karikatur/komik dengan pariwara di periode yang sama, serta wawancara lisan, Galuh menghasilkan empat temuan sementara : (1) modernisasi perempuan desa, (2) pemiskinan dan kemerosotan sosial perempuan yang dianggap sebagai kelas menengah selama rezim Belanda, (3) upaya Jepang menyusun ulang konstruksi gender supaya berbeda dengan rezim sebelumnya, (4) kebimbangan Jepang dalam menyusun ulang konstruksi gender.

Dokumentasi Foto Pertemuan Peraih Hibah Penelitian Seni Visual 2015 dan Narasumber Arsip, 1 Oktober 2015.

Ngobrol Komik bersama Aji Prasetyo “Membedah Alibasah Sentot Prawirodirjo”

Sampul "Harimau dari Madiun"
Sampul “Harimau dari Madiun”

Ngobrol Komik bersama Aji Prasetyo “Membedah Alibasah Sentot Prawirodirjo”, merupakan tajuk acara di IVAA yang berlangsung pada Jumat, 26 Juni 2015. IVAA bekerja sama dengan Rumah Komik Museum dan Tanah Liat (MDTL), mengundang Aji Prasetyo untuk berbicara mengenai komik barunya yang berjudul “Harimau dari Madiun”. Komik yang ia buat di tahun 2013 ini menceritakan mengenai Sentot Prawirodirjo, panglima perang andalan Pangeran Diponegoro, yang memutuskan berhenti bergerilya dan bergabung dengan militer kerajaan Belanda. Banyak spekulasi tentang motivasi Sentot Prawirodirjo mengakhiri perang. Ngobrol komik ini mengundang Kurnia Harta Winata dan M. Hadid sebagai penanggap, sedangkan Terra Bajraghosa menjadi moderator.

Unduh berkas-berkas presentasi para pembicara di @rsipIVAA, dan simak foto-foto dokumentasi acara diskusi di RumahIVAA melalui facebook IVAA.

Mengapa Sentot Prawirodirjo memutuskan berhenti perang dan bergabung dengan militer kerajaan Belanda? Panglima perang andalan Pangeran Diponegoro itu tidak pernah menulis tentang apa yang dipikirkannya, sehingga hal itu tetap menjadi misteri dalam sejarah. Orang boleh menebak sesukanya. Mungkin saja dia takut mati. Atau mungkin tergiur iming-iming kekayaan yang ditawarkan Belanda. Atau, siapa tahu bangsawan itu sudah tidak kuat lagi hidup bergerilya. Dan masih banyak kemungkinan lain.

“Harimau dari Madiun” adalah komik (atau lebih tepatnya novel grafis, mengingat betapa serius alur dan banyaknya catatan kaki) yang saya buat di tahun 2013 adalah spekulasi saya tentang motivasi pemuda belia itu mengakhiri perang. Butuh banyak literatur untuk memperkuat analisa. Saya pelajari latar belakang keluarganya, perwatakan pribadinya, dan kondisi di medan tempur perang jawa di penghujung tahun keempat. Saya yakin semua itu berkaitan dan menjadi dasar pertimbangan Sentot.

Di antara semua literatur, buku karya Peter Carey lah yang paling banyak saya rujuk. Bagaimana tidak, beliau adalah sejarawan Inggris yang mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk menggali sejarah Diponegoro dan konflik seputar perang jawa. Tak pelak, obsesi mengejar Sentot mempertemukan saya dengan beliau.

Dan impian saya pun akhirnya terwujud. Yaitu memamerkan “Harimau dari Madiun” di publik kota Madiun sekaligus mengupasnya bersama Peter Carey. Warga kota ini sudah terlalu lama tersudutkan oleh dogma sejarah versi orba dengan stigma negatif, yaitu sebagai basis partai terlarang. Jujur harus diakui pendiskreditan sejarah ini membawa efek yang tidak menguntungkan.

Kini saatnya warga Madiun membangun kepercayaan dirinya. Mereka berhak tahu bahwa banyak tokoh legendaris yang lahir dari sana. Bahwa Madiun adalah kampung halaman para petarung, memang begitulah adanya. Karena di sana, naluri melawan penindas sudah terwariskan dari generasi ke generasi.

Aji Prasetyo, Malang, 21 Mei 2015.

‘Taman Bertumbuh’ Kampung Ratmakan

Poster for Taman Bertumbuh http://tamanbertumbuh.tumblr.com/
Poster for Taman Bertumbuh http://tamanbertumbuh.tumblr.com/

Jogja Independent Residency Program (JIRP) kali ini bekerja sama dengan Ketjilbergerak untuk memfasilitasi residensi dua seniman-peneliti The Arts Factory (Hobart, Tasmania), yaitu Jorgen Doyle dan Hannah Ekin pada bulan Agustus hingga Oktober 2015 . Proses mereka tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat di Kampung Ratmakan selama tiga bulan membantu mereka melihat bentuk alternatif ruang publik melalui persepsi anak-anak. “Junk Playground” movement pasca Perang Dunia kedua adalah inspirasi mereka untuk bersama dengan anak-anak, mengolah lahan kosong yang rawan sengketa. Lahan yang sehari-hari dijadikan ruang bersama oleh warga, ditumbuhkan menjadi taman, menjadi sebuah alun-alun yang membuka imajinasi permainan anak melalui prasarana fisik ala playground yang dibangun dari sampah, barang bekas, dan benda sehari-hari.

Simak foto dokumentasi Bincang Sore IVAA bersama Jorgen Doyle dan Hannah Ekin di RumahIVAA Jumat, 9 Oktober 2015 di sini.

Tautan lainnya
JIRP
Taman Bertumbuh

ANNOTATION: Menerawang Ingatan, Gagasan, dan Kerja-kerja Pengarsipan, Seni dan Kebudayaan di Indonesia Kontemporer

12027497_1052267394806713_5243724506243171085_n

RumahIVAA menyelenggarakan sebuah diskusi terbuka bertajuk ‘ANNOTATION: Menerawang Ingatan, Gagasan, dan Kerja-kerja Pengarsipan, Seni dan Kebudayaan di Indonesia Kontemporer’ pada 27 April 2015. Diskusi ini ditujukan untuk menggali pertanyaan-pertanyaan dari wawasan, prediksi, dan spekulasi mengenai situasi seni rupa Indonesia dan praktek-praktek yang beririsan dengannya, selama 10 tahun terakhir. Wawasan tersebut kemudian akan dipertemukan dengan kecenderungan terkini dalam upaya eksternalisasi pengalaman IVAA sebagai lembaga pengarsipan, untuk meraba potensi terjadinya pertukaran gagasan dan pengetahuan. Mengundang pembicara Enin Supriyanto dan ST Sunardi, diskusi ini dimoderatori oleh Wicaksono Adi.

Simak foto-foto dokumentasi acara ini di fanspage IVAA.

Unduh berkas abstraksi pembicara-pembicara dan transkrip diskusi Annotation di @rsipIVAA.

IVAA Circas: Translation of Exhibition Documentation of 1980s to 1990s Art Projects in Jakarta and Yogyakarta

1985_Proses-85_Katalog_Sampul
Cover for Catalogue of Environmental Exhibition Proses 85
Cover for Catalogue of Project I: Department Store Fantasy World
Cover for Catalogue of Project I: Department Store Fantasy World 1987
Cover for Tabloid of Binal Eksperimental Arts
Cover for Tabloid of Binal (Eksperimental Arts) 1992

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cover for Catalogue of the IX Jakarta Biennale 1993
Cover for Catalogue of the IX Jakarta Biennale 1993
Cover for Catalogue of Contemporary Art from Non Aligned Countries Exhibition
Cover for Catalogue of Contemporary Art from Non Aligned Countries Exhibition 1995

In the course of January to March 2015, IVAA had translated bahasa Indonesia documents to English. The documents are related to five art projects in the 1980s to 1990s. We worked with post-graduate students who studied in Yogyakarta, all are excellent speakers of bahasa Indonesia.

We are able to deliver this project with the kind donation from Natasha Sidharta and the SAM Funds for Art, while Asia Art Archive and Ontel Studio are our partner throughout the project. IVAA is currently in the phase of discussing with both parties to further serve the purpose of this project: observe the context of contemporary society in Suharto era through art projects, while at the same time develop methods to enhance practices of art research.

Documents are sourced from a never-ending collaboration on matters of archive with Dewan Kesenian Jakarta (Jakarta Arts Council), Hyphen, FX Harsono and Bonyong Munni Ardhie.

Credits to our beloved translators: Elly Kent, Katherine Bruhn, Colin Cahill, Angie Bexley, Megan Hewitt!

Below are few documents that are already uploaded to @rsipIVAA. Please subscribe to this post from the RSS as we continue to add finalized documents through links below.

All PDFs are downloadable for free.

Environmental Exhibition Proses 85 (Pameran Seni Rupa Lingkungan Proses 85)

Exhibition Catalogue

Project I: Department Store Fantasy World (Proyek I: Pasaraya Dunia Fantasi)

Exhibition Catalogue: A genealogy of modern Indonesian culture

Exhibition Catalogue: Essay by Emmanuel Subangun

Exhibition Catalogue: Essay by Soetjipto Wirsosardjono

Exhibition Catalogue: Essay by Jim Supangkat and Sanento Yuliman

Exhibition Catalogue: Manifesto of Indonesia’s New Art Movement (GSRBI)

Excerpt from Asikin Hasan’s Bachelor Thesis

GSRBI Book (1979): Essay by Siti Adiyati Subangun

Binal (Eksperimental Arts 1992)

About the Binal Eksperimental Art

Tabloid of Binal (Exhibition Report): Binal, a Prologue to be Discussed

Tabloid of Binal (Exhibition Report): Creative Rebellions

 

 

Proyek Menghidupkan Arsip IVAA di Lima Kota: “Menanam Arsip Pada Tanah”

Menanam Arsip Pada Tanah

#Proyek Menghidupkan Arsip IVAA di lima kota

Pekerjaan arsip dan pengarsipan – merupakan pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. Selalu ada kemungkinan hal baru ditemukan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Selalu ada kemungkinan hal baru tersebut juga didokumentasikan baik pada peristiwa yang terjadi di masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Kemungkinan tak terbatas dari masalah arsip dan kerja pengarsipan ini – mau tidak mau – harus “dibatasi” dengan dasar-dasar konsep dan metodologi yang jelas. Konsep dan metodologi sendiri tidak pernah fiks. Konsep dan metodologi diperlukan sebagai landasan untuk pengambilan posisi. Posisi tersebut (harusnya) lahir dari keterlibatan secara intens dalam gerak hidup bermasyarakat secara terus-menerus: untuk semakin jelas dengan setiap problem yang dihadapi, lalu mengambil posisi diri di setiap problem sosial di dalam konteks atau zaman-nya. Apa itu yang dianggap arsip; Apa saja yang perlu diarsipkan; Untuk apa dan untuk siapa kerja pengarsipan dikerjakan, dan; Bagaimana cara mengarsipkan; dan lain sebagainya… merupakan beberapa pertanyaan dasar yang akan terus-menerus digali dengan kritis dalam kerja arsip dan pengarsipan.

Arsip dan pengarsipan di ranah kebendaannya selalu terkait dengan operasi kuasa (pengetahuan dan estetika). Operasi kuasa hadir dalam konteks kolonialisme, dalam konteks developmentalisme, maupun di dalam pusaran pasar komoditas. Operasi kuasa telah menghadirkan arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari sumber produksi pengetahuan dan estetika “mereka yang berkuasa”. Di dalam pasar, arsip dan pengarsipan menjadi sumber estetika produksi-distribusi-konsumsi dari nilai komoditas yang ditawarkan. Menghadirkan wacana, nilai, dan sense yang lepas dari problem sosial-budaya-politik masyarakat. Arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari politik klaim, akses, dan estetika dari operasi kuasa.

Meskipun begitu, banyak dijumpai di dalam kenyataan, berbagai individu, lembaga, atau komunitas masyarakat di luar pemerintah dan perusahaan, telah mengembangkan kerja arsip dan pengarsipan di dalam kerangka konsep dan metodologi produksi pengetahuan yang disesuaikan dengan kegelisahan, kebutuhan, dan persoalan-nya sendiri. Pemahaman mengenai arsip dan kerja pengarsipan meluas, melintasi aspek waktu dan kebendaannya, memasuki ranah bahasa, tubuh, dan ingatan. Proses dan sikap keberpihakan pada realitas yang penuh persoalan lebih diutamakan di dalam kerja arsip dan pengarsipan, menghadirkan berbagai produk pengetahuan, estetika, dan sense yang lebih kongkrit dalam arus pinggiran modernitas-globalisasi.

Arsip dan kerja pengarsipan sesungguhnya sangat penting untuk terus-menerus dipikir ulang, dipraktikkan, dan dieksplorasi di dalam konteks negara bekas jajahan yang terus bergerak dan tidak pernah fiks dalam (identitas) kehidupannya, seperti Indonesia. Sebuah negara bangsa yang tidak pernah bisa menciptakan museumnya dengan benar, yang selalu terengah-engah mengabstraksikan sejarah pengetahuannya, dan yang selalu punya siasat untuk mengacak-acak tatanan fungsinya. Namun, pada semua itulah justru seringkali terletak energi kreatif orang-orangnya: membuat hidup (yang berat) menjadi hidup. Kita, barangkali mempunyai pemahaman arsip dan kerja pengarsipan yang beragam.

Arsip dan kerja pengarsipan pada akhirnya tidak hanya perkara mengumpulkan dan memulung dokumen-dokumen serta potongan-potongan rekaman apa yang pernah terjadi dalam kehidupan (sebagai nation state), namun juga kemudian menjadi sebuah lahan luas untuk terus digali dan diolah kembali secara kreatif untuk mengisi celah-celah kosong infrastruktur, ilmu, dan sejarah di negeri ini. Arsip sebagai -bukan hanya- sebuah kebendaan, ataupun sarana yang digunakan sebagai media kerja bersama produksi pengetahuan dan estetika, namun lebih dari itu, ia juga sebuah proses, praktik, dan alam bawah sadar dari strategi kultural kehidupan masyarakat setempat.

Putaran I:

Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia
Waktu: Sabtu, 29 Agustus 2015
Klik di sini untuk melihat poster acara di Kota Malang.

Putaran II: Kota Lombok

Putaran III: Kota Padang

Putaran IV: (…)

Putaran V: (…)

Pekan Forum Publik IVAA – Juni 2013

Agenda RumahIVAA
Juni 2013
(semua acara terbuka untuk umum dan gratis)
Diskusi IVAA:
Trubus Sudarsono
21 Juni 2013 16.00 WIB-Selesai ()
info (http://us4.campaign-archive1.com/?u=bc0e235544b895c119a7aff3b&id=9b4a1b6520&e=)

Seni adalah Panjang, Hidup adalah Singkat

Pembicara: Hersri Setiawan (Satrawan, Penerjemah, Penulis), Agung Kurniawan (Seniman)
Bagi kosakata seni rupa saat ini, tidak banyak orang mengenal Trubus Sudarsono. Seorang pelukis dan pematung…

[Pemutaran Film] Java Tour 2013: Mengenal Papua Lebih Dekat
Senin, 24 Juni 2013, 16.30 WIB-Selesai, di RumahIVAA
Papuan Voices merupakan sebuah inisiatif pelatihan video-advokasi yang memfasilitasi komunitas-komunitas di Papua Barat untuk membabarkan cerita mereka sendiri.

[Diskusi] Kemana Editor dan Kritikus Komik Kita?
Jumat, 28 Juni 2013, 16.00 WIB-Selesai, di RumahIVAA
Pembicara:
M. Hadid, Dr. Iwan Gunawan, Hikmat Darmawan, Beng Rahadian, Kurnia Harta Winata, Farah Wardani

Moderator:
Terra Bajraghosa

[Diskusi] Sang Pangeran dan Orang Suci: Materialitas, Prestise dan Amnesia pada Mausoleum Hadrami Abad 19 di Jawa Timur
Minggu, 30 Juni 2013, 19.00 WIB-Selesai, di RumahIVAA
Pembicara:
Ismail Fajrie Alatas, kandidat phd Anthropology & History, Michigan University

Moderator:
Heru Prasetia
LEARN MORE (http://www.papuanvoices.net/javatour)

LEARN MORE (http://us4.campaign-archive1.com/?u=bc0e235544b895c119a7aff3b&id=a5b1e41d57&e=)

LEARN MORE (http://ivaa-online.org)

Like us on Facebook (https://www.facebook.com/indonesian.visual.art.archive)
Follow us on Twitter (https://twitter.com/kawanIVAA)

INDONESIAN VISUAL ART ARCHIVE
Jalan Ireda, Gang Hiperkes, Kampung Dipowinatan
MG I / 188 A-B, Keparakan, Yogyakarta 55152, Indonesia
P/F +62 274 375262 | E ivaa@ivaa-online.org (mailto:ivaa@ivaa-online.org)
URL www.ivaa-online.org | Join ivaa-online (http://groups.yahoo.com/group/ivaa-online/) on Y!Groups
Visit Digital Archive of Indonesian Contemporary Art
http://archive.ivaa-online.org

Sent to )
unsubscribe from this list ()
Email Marketing Powered by MailChimp
http://www.mailchimp.com/monkey-rewards/?utm_source=freemium_newsletter&utm_medium=email&utm_campaign=monkey_rewards&aid=bc0e235544b895c119a7aff3b&afl=1