Category Archives: Kabar IVAA

Pengumuman IVAA | Kawan-kawan Pemagang IVAA

Terdapat 20 pendaftar Magang IVAA sejak awal tahun ini, dan hingga Oktober ini 16 pemagang telah  menyelesaikan program magangnya. Keenambelas pemagang tersebut antara lain:

  • Muhammad Akbar yang tengah menyelesaikan studinya di Ilmu Perpustakan Universitas Padjadjaran Bandung
  • Faida Nur Rachma mahasiswi Ilmu Komunikasi UGM yang juga bekerja paruh waktu di Lir Space
  • Henrike Louise Hoffmann pelajar Studi Transkultural Universitas Heidelberg, Jerman
  • Sukri Ghazali mahasiswa tingkat akhir STSRD Visi yang dikenal aktif di komunitas fotografi Kelas Pagi Yogyakarta
  • Muhammad Amir Setioko mahasiswa tingkat akhir Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang
  • Anggita Oktafiana yang masih aktif di Lir Space dan telah menyelesaikan studinya di Ilmu Geologi UPN Veteran Yogyakarta
  • Emma Marantika dan Shona Maharany Fuad, keduanya adalah mahasiswi Ilmu Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya
  • Anisha Riski sarjana Ilmu Perikanan, namun sangat tertarik pada aktivitas kesenian
  • Luthfia Rahmi mahasiswi Jurusan Desain Komunikasi Visual, ISI Yogyakarta
  • Risya Ayudya dari Komunitas Serbuk Kayu Surabaya
  • Krisnawan Wisnu Adi mahasiswa FISIP, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
  • Muhammad Ardiansyah dan Addi Tri Kurniawan, yang meski tidak janjian namun bertemu di IVAA, keduanya dari Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
  • Jeniastuti yang masih menempuh studi di Jurusan Kriya Keramik, ISI Yogyakarta
  • Melalusa Susthira mahasiswi Fakultas Filsafat UGM.

Dalam bulan Oktober ini masih tersisa lima orang pemagang yang masih menjalankan program magangnya di IVAA, sedang sebelas lainnya telah menyelesaikan program magangnya yang berkisar 1-3 bulan.

Selama masa magang, para pemagang ini membantu kerja-kerja harian IVAA di bidang Perpustakaan, Kearsipan, Dokumentasi, Pengkajian serta Program. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan ketelitian seperti input data buku ke katalog online Perpustakaan IVAA, mengisi dan merapikan informasi arsip, mendaftar satu demi satu kumpulan arsip yang baru disumbangkan, alih format arsip dari analog ke digital, atau pemrosesan seperti mengedit rekaman video, mengunggah arsip digital ke website Arsip IVAA, bahkan membuat salinan arsip digital untuk mengantisipasi hilangnya data. Selain itu juga ada pekerjaan dokumentasi yakni merekam, memotret peristiwa-peristiwa kesenian di Yogyakarta yang berlangsung nyaris setiap hari, serta pekerjaan menulis atau mengulas berbagai peristiwa seni maupun profil seniman, hingga pelaksanaan program-program outreach IVAA.

Dengan adanya pemagang, IVAA sangat terbantu dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut dengan lebih cepat, mengingat jumlah arsip yang dimiliki IVAA, jumlah peristiwa seni di Yogyakarta yang berlangsung setiap hari, serta aktivitas penyelenggaraan kegiatan oleh IVAA yang juga membutuhkan perhatian tersendiri.

Sebaliknya, dengan magang di IVAA para pemagang ini juga terluaskan jaringannya, selain dapat mengalami situasi bekerja di dalam tim yang solid. Namun yang tak kalah penting adalah pengalaman baru seperti mengenal teknis pengelolaan pustaka dan pengarsipan dasar, mengenal ruang-ruang seni beserta aktivitasnya di kota Yogyakarta, atau pengetahuan dari mempelajari banyak buku dan tulisan seni rupa.

Program magang di IVAA dibuka untuk mahasiswa dan umum. Tata cara pendaftaran dapat dibaca di situs IVAA ini.

Seni dan Advokasi: Seniman Belajar Undang-Undang

Pada bulan Juli lalu, Joned Suryatmoko membuka forum diskusi terbatas untuk 12 orang di Umar Kayam, membicarakan undang-undang dengan materi UU no 39 thn. 1999 mengenai HAM, UU no. 11 thn. 2005 mengenai hak ekonomi, sosial, dan budaya, dan UU no. 12 thn. 2005 mengenai hak Sipil dan Politik. Tujuan awalnya adalah untuk membekali serta membuka kembali pemahaman seniman mengenai undang-undang mengingat represi yang terjadi belakangan, baik yang dilakukan ormas maupun polisi. Dalam menghadapi represi tersebut, pembelaan kelompok seniman melulu dengan argumen soal kebebasan berekspresi, tanpa bisa menindaklanjuti menjadi upaya advokasi. Selain itu, metode, alur dan bahan pembelajaran juga dievaluasi oleh forum. Forum ini dihadiri oleh para pekerja seni budaya untuk membagi pengalamannya berhadapan dengan hukum dan potensi represi, juga Ikhwan Sapta Nugraha dari LBH Yogya yang bercerita sekaligus memberi komentar soal sistematika kelas belajar hukum bagi seniman. Ikhwan membenarkan metode kelas belajar yang dimulai dari pembacaan HAM, studi kasus serta pembacaan UU terkait.

IMG-20160826-WA0001

Seniman belajar hukum memang bukan pertama kali, namun upaya untuk terus melakukan kontekstualisasi itu selalu perlu. Diskusi yang dilakukan di hari Jumat, 29 Juli 2016 ini memang ditujukan untuk menajamkan pemahaman bersama soal keberadaan hukum, aparat serta upaya aliansi antar elemennya, agar kita terbuka dengan model-model advokasi yang terkait dengan aktivitas seni budaya.  

 

 

Ruang Publik: Antara Kompetisi dan Interaksi

Oleh: Lisis

Jumat, 5 Agustus 2016, RumahIVAA bekerja sama dengan komunitas Malioboro yang tergabung dalam COMA, menggelar diskusi soal Apeman dan Seni Ruang Publik. Apeman merupakan festival yang diinisiasi oleh COMA dan telah dihelat hingga ke tujuh kalinya. Acara ini berlangsung di sepanjang trotoar Malioboro dan beberapa titik di kota di sepanjang bulan Juni 2016.

Sementara diskusi yang berlangsung di RumahIVAA dimaksudkan untuk menjadi ruang temu dan refleksi antar pegiat budaya dan ruang publik. Imam Rastanegara, inisiator dari festival ini menjadi pembicara pertama yang berbagi kisah soal sejarah Apeman, dari Apeman 1 hingga sekarang. Tak lupa ia juga menceritakan semangat Apeman, yang dimulai dari lingkar yang sangat kecil hingga menjadi acara yang banyak didukung oleh banyak individu serta komunitas tanpa bantuan dana dari pemerintah. Pembicara kedua ialah Wiwiek Pungki, salah seorang seniman yang terlibat dalam perhelatan Apeman dan bekerja dengan bahan bekas.

13891885_1229101317123319_4283639222041687937_n

13902618_1229101440456640_7990778552287353867_n

Kemudian pembicara ketiga ialah Edial Rusli, seorang dosen Fotografi ISI yang sedang berkutat dengan soal reproduksi ingatan di Malioboro, sebagai bagian dari disertasinya. Selain itu, pengalaman hidupnya yang sangat dekat dengan Malioboro membuat kisahnya soal Malioboro menjadi lebih hidup. Pada kesempatan itu, ia menyayangkan arah perubahan yang terjadi di Malioboro. Malioboro seharusnya bisa dikembangan menjadi area wisata sejarah yang edukatif, tidak hanya wisata belanja. Baginya tidak perlu upaya yang terlampau sulit untuk mengubah hal tersebut. Karena di sepanjang Malioboro tersebut terdapat setidaknya 12 cagar budaya yang seharusnya dijadikan pengetahuan yang bisa ditransformasikan dari generasi ke generasi.

13921100_1229101447123306_5205360694826090778_n

13873005_1229101450456639_5248862732808739534_n

Obrolan tersebut kemudian ditanggapi oleh Elanto Wijoyono, seorang pemerhati isu ruang publik yang aktif menyuarakan pendapatnya seputar pembangunan kota yang lebih ramah modal ini. Isu yang berhasil dieksplorasi dalam diskusi tersebut tidak jauh dari soal fungsi dan hakikat Malioboro sebagai ruang publik. Bagaimana pergeseran fungsi-fungsi tersebut menurut kita, sebagai warga, baik sebagai warga kota dan warga budaya. “Idealnya, ruang publik harus dimaksimalkan menjadi ruang interaksi, bukan ruang kompetisi.” Ujar Elanto Wijoyono di bagian akhir diskusi.

Festival Kathok Abang: peringatan 1 tahun perjuangan warga Pantai Watu Kodok

 

jagalah lingkungan

Festival Kathok Abang merupakan acara yang dihelat warga di sekitar area pantai Watu Kodok, Kelor Kidul, Kecamatan Tanjung Sari, Wonosari pada 25 Mei 2016. Acara ini dihelat atas dasar inisiatif warga yang kemudian bekerjasama dengan beberapa komunitas, baik yang berada di kabupaten maupun kota. Pada 25 Mei 2016 tersebut, warga memperingati satu tahun perjuangannya dalam mempertahankan lahan hidup di sekitar Pantai Watu Kodok, yang terancam rusak oleh rencana pembangunan area wisata berskala besar. Tidak hanya kerusakan alam yang dikhawatirkan oleh warga, hubungan dan interaksi antara manusia pun juga dikhawatirkan akan bergeser, dari interaksi sosial yang lebih organik, menjadi interaksi yang lebih berorientasi sempit pada bisnis.

13244727_10153121809449229_2434386999470759691_n

13237660_10153121808814229_501043637309589490_n

Upacara bendera menjadi puncak dari festival ini, yang kemudian dilanjutkan dengan orasi-orasi kebudayaan. Dalam upacara bendera ini, semua warga yang terlibat mengenakan seragam merah putih, seragam anak sekolah dasar. Di sini warga memainkan hinaan yang pernah ditujukan pada mereka, yang sempat ditujukan oleh salah seorang dari pihak investor, yang  meremehkan usaha dari warga untuk bertahan di lahan yang mereka jaga dan hidupi.

investor rakus

Bagi pihak investor, warga yang sebagian besar merupakan lulusan SD, hanya ber-kathok abang, tidak akan berhasil memenangkan lahannya. Hinaan tersebut terus tersimpan di benak para warga, hingga setahun kemudian pada bulan Mei 2016, warga kemudian menghelat Festival Kathok Abang, yang secara khusus ditujukan secara khusus untuk menertawai hinaan yang sempat ditujukan pada mereka.

performance art

IVAA berpartisipasi di dalam ASIA OPEN DATA HACKATHON

IMG-20160728-WA0017

Linimasa Acara:
30 Juli 2016
Technical Meeting & International Event. Klik ini untuk bergabung dalam keriuhan: http://bit.ly/RoadToAODH
Live streaming: http://bit.ly/2aqy2cH
14 Agustus 2016
Asia Open Data Hackathon

Lokasi:
Kudoplex 2
Jl. Radio Dalam Raya No. 9, Gedung Grand Lucky Lt. 2-3, DKI Jakarta

Asia Open Data Hackathon yang sebelumnya bernama Cross Country Hackathon merupakan kerjasama tiga negara dalam memanfaatkan open data untuk membuat aplikasi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang dipilih oleh masing-masing negara.

Indonesia sebagai salah satu negara yang terlibat memilih tema Seni dan budaya dalam Hackathon kali ini.

Open Data Asia Hackathon hadir sebagai sarana bagi para tech savy di Thailand, Taiwan, dan Indonesia dalam menjawab problem yang sama-sama sedang dihadapi ketiga negara tersebut melalui kompetisi pembuatan aplikasi web dan mobile. Hackathon ini merupakan hasil kerja sama antara Data Science Indonesia, Codepolitan dan Universitas Islam Indonesia dengan Industrial Development Bureau Taiwan dan Electronic Government Agency Thailand.

Indonesia membuat tantangan untuk menciptakan inovasi dalam menjawab masalah pelestarian kesenian dan kebudayaan (art & culture) dengan memanfaatkan open data.

Sementara Thailand akan memberi tantangan untuk memberi solusi atas isu yang berkaitan dengan agrikultur, dan Taiwan akan mengatasi masalah di bidang layanan publik (public service). Kompetisi akan diadakan tanggal 14 agustus di Jakarta (kudoplex 1)

Tantangan dari Indonesia
– Melindungi karya seni, keberagaman, dan kebebasan dalam berekspresi dalam konteks perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia
– Meningkatkan kualitas pengarsipan data art & culture di Indonesia yang berkaitan dengan seluruh aktivitas seni, pelaku seni, segala bentuk benda seni, dll.
– Mendukung dan meningkatkan ekosistem dan art space bagi pelaku seni di Indonesia

Siap menjadi juara di Asia?
Kami menyambut kerjasama para seniman, budayawan dan juga developer untuk membuat aplikasi juara di Asia yang dapat menjawab tantangan kami
> Ajukan Solusimu

Facebook Asia Open Data Hackathon
Twitter @cchackathon2016 Instagram @cchackathon2016

crosscountryhackathon.id

Kesempatan Magang di IVAA

14690881_1290500704316713_223858476972001973_n

IVAA membuka kesempatan magang bagi kawan-kawan mahasiswa dan umum yang ingin mendapatkan pengalaman terlibat dalam kerja-kerja pengarsipan seni rupa. Kawan-kawan yang tertarik dapat memilih bidang-bidang kerja di IVAA yaitu: (1). Pengelolaan Arsip dan Pustaka; (2). Kajian Arsip; (3). Pengelolaan Ruang; (4). Dokumentasi Peristiwa Seni. Program magang IVAA berlangsung minimal selama 1 (satu) bulan. Peserta magang akan mendapatkan fasilitas keanggotaan KawanIVAA dan menjadi bagian tim kerja IVAA selama periode berlangsung.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Persyaratan magang dan pertanyaan-pertanyaan mengenai program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org

Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global)

Bincang Sore Rumah IVAA, 13 Juni 2016

Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global)

Dalam seri Diskusik (Diskusi Asik) kali ini Roemansa Gilda bekerja sama dengan Rumah IVAA menyelenggarakan Bincang Sore dengan tema Pasar Seni (Redefinisi Go International). Diundang dalam diskusi ini dua pembicara yaitu Rully Sabhara (musikus, praktisi musik, berkarya di Zoo, Senyawa, Raung Jagat) dan Ismail Basbeth (sutradara, praktisi film). Beberapa karyanya Another Trip to The Moon, dan Mencari Hilal yang diajak untuk menggali wacana ‘go international’ melalui cara pandang dan pengalaman mereka. Rully dan Ismail berbicara bahwa tidak hanya keberuntungan, namun juga kerja keras, sikap profesional, pembangunan, pengelolaan jaringan, hingga pengembangan potensi merupakan beberapa hal penting yang membuat karya mereka dikenal di dunia internasional. Selain itu diundang pula Irham Anshari (Penggemar Film dan Peneliti SOAP: Study On Art Practice) sebagai penanggap yang berbagi hasil penelitiannya tentang fenomena ‘go international’.

Ketika menempatkan perbincangan ini dalam konteks hubungan geopolitik, Irham menyampaikan pandangan kritisnya bahwa penyelenggaraan program internasional tidak pernah lepas dari politik budaya suatu negara, baik berupa motif promosi negara serta dalam rangka menggeser pusat kebudayaan. Meski di sisi lain, kemandirian para aktor-aktor budaya, seperti para pembicara di atas tetap perlu kita apresiasi. Karena pada akhirnya, menjadi bagian dari dunia internasional bukanlah satu-satunya tujuan. Tujuan utama tetap terletak pada proses, hasil berkualitas serta strategi di tengah jalan dalam menghidupi idealisme dan kreatifitas di tengah dunia yang sudah sedemikian pragmatis.

Foto dokumentasi Bincang Sore Rumah IVAA: Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global) dapat dilihat melalui tautan ini.

Koleksi Baru Perpustakaan IVAA!

Sorotan Koleksi Perpustakaan Januari-Mei 2016

mes56Cerita Sebuah Ruang, Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang MES 56

Buku ini merupakan upaya reflektif MES 56 membaca diri dan dibaca orang lain setelah lebih dari 10 tahun berkiprah, dengan mengundang penulis-penulis melihat eksistensi MES 56 dari berbagai sudut pandang, yang lebih luas dari perkara kekaryaan, menempatkan konteks kesejarahan seni dan fotografi.

Buku ini disusun berdasar tiga pokok bahasan, yaitu sejarah fotografi di Indonesia, fotografi dalam konteks seni rupa di Indonesia dan diakhiri oleh upaya reflektif yang bergerak ulang alik melihat sejarah dan pertanyan-pertanyaan mendasar yang muncul dari perjalanan MES 56 sendiri.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Agung Nugroho Widhi
Bahasa  : Indonesia
Penerbit : IndoArtNow
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 770 Soe C

 

Sesudah AktivismeSesudah Aktivisme, Sepilihan Esai Seni Rupa 1994–2015

Buku ini merupakan kumpulan esai-esai kuratorial yang menampilkan kekayaan berpikir Enin Supriyanto:

  1. Memikirkan kesejarahan (seni rupa) seperti dalam Belajar dari feminisme; Tak Perlu Mencetak dengan Darah; Yang Terus Putus dan Retak; Ibu Seni Rupa Modern Indonesia?; Ihwal Kritik Seni Rupa yang Berwibawa.
  2. Reflektif terhadap ranah seni rupa secara garis besar berikut beserta infrastrukturnya seperti dalam Lorong-lorong Alternatif; Mencari Jejak, Mencari Pijakan, Mencari Ruang; Bulutangkis, Seni Rupa, dan Fisika; Omong-Omong Soal Pembangunan Kesenian; Boom! Belasan Tahun Kemudian.
  3. Menjadi pengamat sekaligus pencatat perkembangan senirupa Indonesia dalam perspektif seorang kurator seperti dalam Seratus Tahun untuk atau Satu atau Dua Wacana; Reformasi, Perubahan dan Peralihan; Bingkai Waktu (Catatan tentang Masa Lalu, Sejarah, dan Seni Rupa Indonesia); Menjadi Kontemporer, Menjadi Global.

Dari sejumlah naskah praktik kekuratorannya bisa dikenali apa saja latar belakang kerja kekuratoran Enin jalankan, dan bagaimana manifestasinya dalam bentuk esai kuratorial.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Enin Supriyanto
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Hyphen
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Sup S

 

obat kuatObat Kuat

Buku ini berisi kumpulan iklan obat kuat selama 100 tahun yang dikumpulkan dan dijadikan bahan penelitian oleh Malcom Smith, serta direproduksi ulang sebagai karya oleh Krack Studio. Proyek berjudul Obat Kuat ini merupakan proyek lanjutan dari Tanah/ Impian (Dream/ Land), yang mengeksplorasi sejarah iklan cetak di Indonesia, dan secara khusus melihat bagaimana iklan mencerminkan dan membangun bayangan-bayangan kultural di Indonesia. Iklan obat kuat sendiri dilihat sebagai cerminan pemahaman masyarakat Yogyakarta mengenai gender, seksualitas, dan hasrat, yang memperlihatkan adanya dominasi konstruksi maskulinitas di Yogyakarta. Bahkan bisa dilihat hingga hari ini bagaimana spanduk berbicara mengenai penolakan terhadap homoseksual dan represi terhadap kelompok-kelompok perempuan.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Malcolm Smith
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Krack Studio
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 702 Smi O

 

Between DeclarationsBetween Declarations and Dreams: Art of Southeast Asia Since the 19th Century

Pameran Seni Asia Tenggara yang dilaksanakan oleh Gallery Nasional Singapore ini merangkum pengalaman banyak seniman di wilayahnya, dengan menangkap keberadaan mereka diantara deklarasi dan mimpi, atau personal dan politikal. Pameran ini mencoba melihat konsep dari seni itu sendiri di Asia Tenggara, tentang bagaimana mereka membagi pengalamannya dan terkoneksi satu sama lain di Asia Tenggara. Serta melihat kejadian yang mempengaruhi produksi dan bagaimana seni disambut di Asia Tenggara.

Buku yang disumbangkan oleh Resource Centre of National Gallery Singapore ini diterbitkan tahun 2015 berisi 4 tulisan kuratorial setebal 291 halaman.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Low Sze Wee
Bahasa : English
Penerbit : National Gallery Singapore
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Wee B Ref

 

perjalanan Seorang KolektorPerjalanan Seorang Kolektor Seni Lukis Modern di Indonesia

Buku yang disumbangkan oleh Hendro Tan untuk Perpustakan IVAA ini menampilkan lebih dari 60 karya koleksi Jusuf Wanandi yang dikumpulkan selama 30 tahun. Koleksi Jusuf Wanandi ini masuk dalam kelompok seni modern dalam batasan yang mengacu pada Barat – mengingat modernisme pada sejarah seni lukis Indonesia sangat berbeda dengan Barat. Selera pribadinya tidak mewakili kekhawatiran banyak orang mengenai ambiguitas seni lukis Indonesia. Melalui katalog ini kita diajak untuk tidak canggung mengapresiasi seni lukis ‘bervisi lama’ tersebut.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Garrett Kam
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Centre for Strategic and International Studies and Neka Museum
Tahun Terbit : 1996
No. Panggil : 701 Wan A ref

Archive Showcase: Indonesian Performance Art from 1990 to Present

Archive showcase

Perdebatan kami dimulai ketika tiba saatnya mengkelompokkan beberapa dokumen yang IVAA miliki ke dalam kategori performance art (seni rupa pertunjukkan). Dimulai dari pertanyaan apakah ada ‘panggung’ pada performance art? Lalu apa yang membedakan performance art dengan teater yang mencoba melepaskan diri dari mediumnya jika kesadaran akan ‘panggung’ itu juga ada pada performance art? Hal apa sajakah yang perlu kita ketahui untuk bisa menyebut karya sebagai performance art? Walaupun tentu saja dalam satu karya bisa memuat keseluruhan kategori itu. Tapi bagaimana caranya menghadapi kebingungan kami mengolah tumpukan dokumen dengan minimnya kajian mengenai performance art di Indonesia?

Pendekatan kemudian kami lakukan dengan melihat medium performance art itu sendiri. Ini kami pilih karena medium adalah hal yang paling mudah diamati di tengah minim kajian mengenai performance art di Indonesia. Informasi kami dapatkan dari diskusi yang diselenggarakan tahun 2002 oleh Jurnal Karbon dan ruangrupa yang menyampaikan beberapa refleksi dari para penggiat performance art, seperti Pius Sigit Kuncoro yang mengungkapkan bahwa karya Geber Modus Operandi yang saat itu digolongan ke dalam performance art, hadir dari sebuah perlawan terhadap disiplin ilmu mereka masing-masing. Mereka menyadari bahwa keberadaan pelaku yang ditonton dan menonton – serta waktu, adalah elemen dari performance art. Pada Korban yang Terbakar (1998), kesadaran FX. Harsono akan publik dan ruangnya terlihat dari keinginannya mempertontonkan proses penciptaannya yang dilakukan dengan kegiatan ‘merusak’. Sama halnya dengan Arahmaiani yang melibatkan publik dalam karya His-story (2000) dengan mengundang mereka untuk menulis atau menggambar sesuatu pada tubuhnya.

Dari situ lalu kata kunci kami dapatkan, bahwa relasi tubuh performer dengan penonton, ruang, serta waktu adalah kesatuan medium yang dimiliki performance art. Pengalaman dirasakan bersama-sama pada ruang dan waktu yang spesifik, sehingga ketiganya tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu memungkinkan bagi orang di luar seniman – yang memiliki ide – untuk merespon sesuai keinginannya, terlibat aktif pada momen tersebut. Dari situlah kemudian ia disebut sebagai happening art.

Menjadi menarik ketika kami harus membaca koleksi dokumen kami yang berupa video karena membutuhkan kejelian untuk memahami dan menjelaskan kembali perbedaan video yang merekam performance art dengan video yang disebut sebagai video performance itu sendiri. Dalam perkembangannya, performance art bereksplorasi dengan melepaskan tubuh yang secara fisik hadir menjadi tubuh yang maya melalui video. Interaksi terjadi antara individu-individu yang hadir dengan sosok dalam video tersebut, dari sinilah performance art kemudian disebut sebagai video performance. Namun ada juga tubuh-tubuh yang digantikan dengan robot-robot atau media lain, yang kemudian disebut sebagai multimedia performance.

Metode pengkategorian menggunakan medium adalah hal paling dasar dalam seni rupa sehingga apa yang kami bagikan ini lebih cocok disebut sebagai “tutorial pembacaan performance art untuk pemula”. Semoga saja setalah ini akan ada diskursus performance art yang akan membantu IVAA memberi hashtag spesifik mengenai performance art pada perkembangan seni rupa di Indonesia.

Tiatira Saputri, Yogyakarta, 2016

 

Program Diskusi Keliling: Menanam Arsip pada Tanah

Menanam Arsip Pada Tanah merupakan program “berkeliling” IVAA untuk menginisiasi perjumpaan antar orang dan komunitas di berbagai tempat, untuk saling berbagi, sekaligus  mendorong lahirnya inspirasi (dan jaringan) baru mengenai kerja pengarsipan. Apa itu yang dianggap arsip; Apa saja yang perlu diarsipkan; Untuk apa dan untuk siapa kerja pengarsipan dikerjakan, dan; Bagaimana cara mengarsipkan; dan lain sebagainya… merupakan beberapa pertanyaan dasar yang akan terus-menerus digali dengan kritis dalam kerja arsip dan pengarsipan, dan sekaligus menjadi dasar dari Program Menanam Arsip Pada Tanah.

Arsip dan pengarsipan di ranah kebendaannya selalu terkait dengan operasi kuasa (pengetahuan, ekonomi, dan estetika). Operasi kuasa hadir dalam konteks kolonialisme, dalam konteks developmentalisme, maupun di dalam pusaran pasar komoditas. Operasi kuasa telah menghadirkan arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari sumber produksi pengetahuan, ekonomi, dan estetika “mereka yang berkuasa”. Di dalam pasar, arsip dan pengarsipan menjadi sumber estetika produksi-distribusi-konsumsi dari nilai komoditas yang ditawarkan. Menghadirkan wacana, nilai, dan sense yang lepas dari problem sosial-budaya-politik masyarakat. Arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari politik klaim, akses, dan estetika dari operasi kuasa.

Meskipun begitu, banyak dijumpai di dalam kenyataan, berbagai individu, lembaga, atau komunitas masyarakat di luar pemerintah dan perusahaan, telah mengembangkan kerja arsip dan pengarsipan di dalam kerangka konsep dan metodologi produksi pengetahuan yang disesuaikan dengan kegelisahan, kebutuhan, dan persoalan-nya sendiri. Pemahaman mengenai arsip dan kerja pengarsipan meluas, melintasi aspek waktu dan kebendaannya,  memasuki ranah bahasa, tubuh, dan ingatan. Proses dan sikap keberpihakan pada realitas yang penuh persoalan lebih diutamakan di dalam kerja arsip dan pengarsipan, menghadirkan berbagai produk pengetahuan, estetika, dan sense yang lebih kongkrit dalam arus pinggiran modernitas-globalisasi.

Arsip dan kerja pengarsipan sesungguhnya sangat penting untuk terus-menerus dipikir ulang, dipraktikkan, dan dieksplorasi di dalam konteks negara bekas jajahan yang terus bergerak dan tidak pernah fiks dalam (identitas) kehidupannya, seperti Indonesia. Sebuah negara bangsa yang tidak pernah bisa menciptakan museumnya dengan benar, yang selalu terengah-engah mengabstraksikan sejarah pengetahuannya, dan yang selalu punya siasat untuk mengacak-acak tatanan fungsinya. Namun, pada semua itulah justru seringkali terletak energi kreatif orang-orangnya: membuat hidup (yang berat) menjadi hidup. Kita, barangkali mempunyai pemahaman arsip dan kerja pengarsipan yang beragam. Museum, ditafsirkan dan dikerjakan dengan cara yang lain.

Arsip dan kerja pengarsipan pada akhirnya tidak hanya perkara mengumpulkan dan memulung dokumen-dokumen serta potongan-potongan rekaman mengenai apa yang pernah terjadi dalam kehidupan (sebagai nation state), namun juga menjadi sebuah lahan luas untuk terus digali dan diolah kembali secara kreatif untuk mengisi celah-celah kosong infrastruktur, ilmu, dan sejarah di negeri ini. Arsip sebagai -bukan hanya- sebuah kebendaan, ataupun sarana yang digunakan sebagai media kerja bersama produksi pengetahuan dan estetika, namun lebih dari itu, ia juga sebuah proses, praktik, dan alam bawah sadar dari strategi kultural kehidupan masyarakat setempat.

Kota-kota yang sudah disinggahi IVAA untuk mengadakan sarasehan “Menanam Arsip Pada Tanah”, yaitu:

1. Malang, Jawa Timur.
Waktu: Sabtu, 29 Agustus 2015 | Jam 15.00 – 18.00 WIB
Tempat: Kafe Pustaka Universitas Muhammadiyah Malang, Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia

Pembicara:
1.    Aji Prasetyo (Tjangkir17, Malang)
2.    Bramantyo Prijosusilo (Akademi Sekaralas, Madiun)
3.    Yoshi Fajar Kresno Murti (IVAA, Yogyakarta)

Moderator:
Francis Hera (CCFS, Malang)

Lihat album foto di sini.

2. Singapura.
Waktu: Selasa, 22 September 2015 | Jam 16.00 (Singapura)
Tempat: Block 47 Malan Road, #01-25 Singapore Art Archive Project Space By Koh Nguang How, Former NTU CCA Singapore Artist-in-Residence

Lihat album foto di sini.

3. Padang, Sumatra Barat.
Waktu: Sabtu, 7 November 2015 | Jam 15.00 – selesai
Tempat: Taman Budaya, Padang, Sumatera Barat

Pembicara:
1.    Gusti Asnan (Guru besar sejarah, Universitas Andalas, Padang)
2.    Muhidin M Dahlan (iBOEKOE, Yogyakarta)
3.    Yoshi Fajar Kresno Murti (IVAA, Yogyakarta)

Moderator:
Koko Sudarmoko (RKB, Padang)

Lihat album foto di sini.