Category Archives: Kabar IVAA

Sorotan Pustaka | Mei – Juni 2017

1. Sanggar Melati Suci (1974 – 1994)
Oleh: Santosa

Judul Buku: Sanggar Melati Suci (1974-1994)
Redaksi: A.Hari Santosa, Drs. Rakhmat Supriyono, St Nyoman Sigit, Asbiyantoro
Halaman: 98
Tahun Terbit: 1994
Penerbit: Sanggar Melati Suci

Sanggar Melati didirikan tahun 1979 sebagai sanggar lukis bagi anak-anak. Pendirinya adalah A. Hari Santosa, Moralistyo, dan Wahyu Hardianto. Beberapa pameran yang diikuti dan prestasi yang telah dicapai sanggar Melati Suci di ceritakan dalam halaman awal dalam buku ini.

Buku ini diterbitkan di tahun 1994, bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Sanggar Melati Suci yang ke-15. Buku ini merupakan bunga rampai yang ditulis oleh beberapa penulis baik yang berasal dari kalangan seniman maupun akademisi, dalam tujuan saling mempertukarkan pengetahuan dan pengalaman tentang situasi pendidikan kesenian usia TK dan SD di Indonesia dan sekaligus mengajak kita memikirkan berbagai skenario usaha peningkatan mutunya.

Buku ini berusaha disusun berdasarkan klasifikasi masalah dan urutan artikel yang membahas kiat-kiat, jurus-jurus, maupun telaah cara pendidikan kesenian. Walaupun ada beberapa artikel yang terulang atau hampir sama sebut saja di halaman 31 dan 39 tentang gaya corat-coret pada periodisasi anak usia 2-4 tahun.

Bagian selanjutnya berisi catatan-catatan tentang data penyelenggaraan lomba seni lukis anak-anak tahun 80-an khususnya di Jakarta. Fakta menarik yang dipaparkan di sini adalah bahwa jumlah peserta lomba lukis anak-anak yang diselenggarakan di tahun 80-an senantiasa mencapai angka yang fantastis. Di tahun 1982 misalnya, sekitar 20.000 karya anak-anak masuk ke meja panitia. Sayangnya tidak ditemukan data untuk kota-kota lain di Indonesia. Buku ini juga mencurigai adanya sebuah kencenderungan bahwa dunia seni lukis anak dieksploitasi sebagai komoditas. Dengan mengampanyekan seni lukis sebagai media pengembangan kreativitas anak, sekaligus sebagai sarana hiburan bermanfaat “pebisnis lomba seni lukis anak” lantas menata taktik untuk meraup keuntungan.

Anak-anak belajar melukis ternyata sudah merupakan barang lama di Indonesia. Di Museum Sono Budoyo tersimpan segepok lukisan anak-anak bertarikh 1939 dan 1959. Di tahun 1978 ada pameran 84 buah lukisan anak-anak yang telah 29 tahun di simpan oleh gurunya, Dullah. Kemunculan sanggar-sanggar lukis anak ditengarai sejak tahun 1970-an dan tumbuh subur pada dekade berikutnya. Tercatat pernah ada 30 sanggar lukis anak hanya di wilayah DIY saja. Dari data itu lantas muncul pertanyaan, ke manakah sekarang pelukis-pelukis cilik itu?

2. Decade for Culture of Peace and Non-Violence for The Children of The World 2001-2010
Oleh : Prastica Malinda

Judul buku : “Decade for Culture of Peace and Non-Violence for The Children of The World 2001-2010”
Kurator : A. Agung Suryahadi dan M. Dwi Marianto
Artistik : Basuki Sumariono
Diproduksi oleh : PPPG Kesenian Yogyakarta Vedac, Yogyakarta
Tahun terbit : 2006

Ketika melihat lukisan anak-anak, yang terbayangkan adalah dua gunung dengan matahari di sela-selanya dan di ujugnya terdapat jalan menurun ataupun persawahan yang terkadang dilengkapi rumah atau pohon kelapa. Pola ini seperti pada umumnya terbentuk sejak anak-anakmulai mengenyam bangku sekolah dasar. Barangkali pola ini ada lantaran para guru pendidikan kesenian pun memiliki pola yang sama..

Dalam buku berjudul “Decade for Culture of Peace and Non Violence for The Children of The World 2001-2010,” kita bisa menjumpai lukisan anak-anak dari berbagai negara anggota Unesco. Khususnya yang menjadi peserta pameran lukisan anak berjudul sama, yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta, pada 11-17 November 2006. Gambar-gambar atau lukisan yang dihasilkan oleh anak-anak peserta pameran ini merefleksikan bagaimana kehidupan mereka sehari-hari di negaranya masing-masing. Dari mengamati lukisan-lukisan tersebut, saya melihat betapa besar daya imajinasi dan kreatifitas anak-anak. Anak-anak itu memiliki konsep tersendiri yang jujur dan unik. Mereka juga sudah mampu memadupadankan warna dan berani bermain dengan warna-warna cerah, sehingga menjadi satu lukisan atau gambar yang hidup dan memiliki cerita.

Melihat lukisan para peserta dari Indonesia kita bisa langsung mudah saja terhubung dengan kondisi nyata anak-anak Indonesia. Menarik ketika mengamati karya anak-anak dari Paraguai yang menggambarkan situasi konflik atau peperangan mencekam, namun di lukisan lain mereka ingin memperlihatkan  betapa tabahnya orang-orang Paraguai melalui lukisan matahari yang tersenyum berwarna cerah.

Anak-anak selalu mengisyaratkan kejujuran melalui lukisan, tetapi banyak orang tua abai atas kondisi tersebut. Perlu adanya dukungan dan pendekatan lebih dari orang tua terhadap anak-anaknya termasuk pada aktivitasnya saat melukis untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri mereka.

3. Aditya Novali
Oleh: Prastica Malinda

Judul buku : Aditya Novali
Penyunting : Agus Darmawan T.
Penerbit : Yayasan Seni Rupa AIA, Jakarta
Tahun terbit : 1996
Dicetak oleh : Graphos Prima, Jakarta

Buku setebal 99 halaman ini menjelaskan tentang bagaimana gaya lukisan Aditya Novali kecil menjelma menjadi Aditya Novali remaja. Buku ini terdiri dari 14 halaman uraian, dan di 85 halaman berikutnya kita bisa menjumpai kumpulan foto karya Aditya Novali.

Pada bagian uraian terdapat narasi pengantar yang ditulis oleh pengamat seni rupa, Agus Dermawan T., di situ ia bercerita soal perjalanan karir melukis Aditya Novali semenjak seniman itu masih kanak-kanakhingga beranjak remaja. Disusul kata pengantar dari Direktur Eksekutif penyelenggara. Selain itu beberapa pihak lain sebutlah sederet nama pelukis hingga pengajar seni pun juga ikut memberikan kata sambutan terhadap karya lukisan Aditya Novali

Gaya lukisan Aditya Novali tak jauh dari kegiatan sehari-hari. Kemampuan melukisnya dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Perubahan-perubahan tersebut bisa dilihat semasa ia kecil hingga beranjak dewasa. Semasa kecil, lukisan Aditya Novali banyak dipengaruhi tema religi, budaya, dan wayang. Aditya Novali kecil memang gemar mendalang, ini yang banyak mempengaruhi gaya lukisannya.

Saat memasuki usia remaja, lukisan Aditya Novali mengajak kita kembali pada ingatan indah pada masa kecil yang secara ironis telah berubah. Di satu sisi terdapat pemandangan yang indah permai, namun di sisi yang lain terlihat adegan kekacauan masyarakat yang ketakutan. Seperti karyanya yang berjudul “Banjir” (1985). Ada pula lukisan yang menggambarkan gelapnya peperangan, seperti dalam lukisan berjudul “Karya Tanding” dan  “Arjuna Wiwaha”, dua lukisan pewayangannya yang ia lukis pada tahun 1989, dan sisi lain kita bisa melihat sisi religius Aditya Novali pada lukisan-lukisannya berjudul “Yesus Naik Ke Surga”,dan “Yesus Memanggul Salib” yang ia hasilkan pada tahun 1983.

Buku ini menceritakan perjalanan seni Aditya Novali sejak ia kecil hingga beranjak remaja, terangkum rapi dalam semacam katalog ini. Membaca buku ini terbilang tidak memakan waktu lama karena buku ini lebih banyak terdiri dari foto-foto karya. Namun saya mengalami sedikit kesulitan untuk memahami beberapa karya Aditya Novali, karena tidak ada penjelasan yang menyertai setiap lukisannya. Meski lukisan Aditya Novali cukup mudah dipahami dengan mengamati obyek apa yang ia lukiskan, namun bagi orang yang awam dengan dunia seni lukis seperti saya, teks penjelasan barangkali akan membantu saya memahami lukisan tanpa harus mengerutkan kening terlalu lama.


*Prastica Malinda Putri (l.1991) adalah lulusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia. Linda magang di IVAA atas inisiasi pribadi, bukan karena kewajiban dari pihak kampus. Dan ini bukan kali pertama Linda menjadi sukarelawan, karena ia pernah juga melakukannya untuk Greenpeace. Di luar itu ia memang suka berkegiatan, terlibat pada penyelenggaraan acara seni dan pensi juga tidak hanya sekali dilakoninya. Sejak awal Mei lalu, Linda tekun membantu kerja pengelolaan koleksi pustaka IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Berbagi Pengetahuan dalam Pelatihan di Perpustakaan ISI Surakarta

Oleh: Melisa Angela

Pertengahan Mei lalu IVAA mendapat undangan dari ISI Surakarta, lebih tepatnya dari UPT Perpustakaan kampus, yang dulunya bernama STSI Surakarta itu. UPT Perpustakaan yang setiap tahun memiliki program pelatihan, pada tahun ini mengangkat persoalan budaya digital dan teknologi informasi yang kini tak pelak menjadi dunia yang kita hadapi dan hidupi. Perpustakaan, sebuah tempat di mana sekumpulan buku dan dokumen disimpan untuk kemudian ditemukan oleh pihak yang memerlukan referensi ataupun bukti penguat dalam penelitiannya tidak juga terhindar dari rambahan budaya digital ini. Maka dari itu, supaya bisa menggunakan kemudahan dan alih-alih terjegal oleh kemajuan teknologi ini, tidak ada cara lain daripada menguasainya secara teknis serta memahami konsep-konsep dasarnya.

Pelatihan berjudul “Pengemasan Audio Visual sebagai Bahan Informasi Digital di Media Sosial” ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan kemajuan infrastruktur teknologi informasi kepada para pustakawan, baik yang bekerja di UPT Perpustakaan ISI Surakarta, maupun yang dari luar lingkungan kampus tersebut; juga kalangan umum yang tertarik memperdalam pengetahuannya tentang hal ini.

Di acara ini IVAA diundang sebagai pembicara di hari kedua pelatihan yang berlangsung 16-17 Mei 2017 tersebut. Di hari pertama, pelatihan dipandu oleh Pascalis PW., seorang ahli media/multimedia yang berkecimpung di bidang promosi dan pengembangan brand perusahaan. Sedangkan IVAA dipercaya untuk memberikan pengantar mengenai manajemen pengelolaan dokumen audio visual, hingga teknik-teknik dasar dalam membangun sistem temu kembali (retrievel system) yang baik. Kami pun menyambut baik undangan ini, sebagai kesempatan berbagi pengetahuan dari pengalaman kami mengelola arsip IVAA selama ini. Dwi Rahmanto dan saya bertandem untuk mengisi materi pelatihan di hari kedua, penyampaian saya lebih pada dasar-dasar pembangunan sistem temu kembali dengan mengenalkan konsep-konsep dasar mengenai database, diagram konteks, dan diagram relasi antar entitas. Sedangkan Dwi Rahmanto lebih membahas penyimpanan materi audio visual dan pengemasannya secara sederhana menggunakan aplikasi-aplikasi yang dapat dipasang di telepon pintar.

Pelatihan yang kebanyakan pesertanya adalah staf dari instansi perpustakaan dan pengarsipan pemerintahan maupun swasta ini berjalan dengan baik, kendati acap kali terhambat koneksi internet yang tersendat-sendat. Namun pada dasarnya para peserta mendapatkan gambaran tentang pengelolaan berkas audio visual elektronik. Perbincangan pun masih berlanjut di luar forum resmi setelah pelatihan berakhir.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Pameran Kartunis GM Sudarta “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom”

Oleh: Dwi Rahmanto

Siapa tidak kenal dengan sosok yang mengenakan jas bertambal, dengan topi golf di kepalanya, yang berbicara dengan balon-balon kata mengenai kondisi sosial yang sedang berlangsung di Indonesia? Ialah Oom Pasikom, yang kehadiran pertama kalinya dimuat di Harian Kompas pada April 1967.

Sampai kini terhitung 50 tahun sudah ia konsisten muncul di harian yang terbit berskala nasional itu. Pada 9-15 Mei 2017 Bentara Budaya Yogyakarta memamerkan karya-karya terpilih GM Sudarta, dengan tajuk pameran “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom.” Di pameran ini dipajang 120 edisi kartun Oom Pasikom yang merupakan hasil seleksi dari semua yang pernah diterbitkan sejak 1967 hingga 2017.

Keseluruhan karya yang sudah diterbitkan sejak tahun 1967 hingga 2017 sudah mencapai 120 edisi. GM Sudarta lahir dengan nama Gerardus Mayela Sudarta, namun setelah berganti keyakinan ia mengubah namanya menjadi Gafur Muhamad Sudarta. Beliau lahir di Klaten, Jawa Tengah, 20 September 1945. Usai menamatkan SMA di Klaten, tahun 1965 ia meneruskan pendidikan ke ASRI Yogyakarta. Meski GM Sudarta sangat identik dengan karya kartun Oom Pasikom, pada mulanya beliau rajin sekali melukis. Sudarta juga pernah menjadi kartunis di majalah Merah Putih, Jakarta 1966. Di tahun yang sama, beliau bekerja sama dengan Pramono merancang diorama Monumen Nasional. Ia juga ikut andil dalam desain pembangunan Monumen Pahlawan Revolusi Lubang Buaya.

Bagai terlepas dari belenggu, kartun Oom Pasikom semakin kritis sejak Orde Baru berakhir. Pandangan dan ide segarnya bercampur dengan celetukan khas, menjadi cerminan dari situasi yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tinggal di Indonesia, menurut Sudarta, ibarat hidup di tengah pasar malam. Ada sandiwara, ada sirkus, ada dagelan, dan sebagainya. Menurut beliau kehidupan sekarang seperti sebuah dagelan, kendati pun terkadang sangat menyedihkan. Kartun sendiri bagi Sudarta menjadi salah satu media kritik yang sangat efektif. Menurut Sudarta, kartun harus bisa mengukir senyum supaya pihak yang dikritik tidak marah. Dalam hal ini kartun digunakan sebagai upaya perbaikan di ranah sosial.

Saat ini GM Sudarta lebih banyak tinggal dan berkarya di Klaten, Jawa Tengah. Pameran ini menurutnya penting sebagai kilas balik sejarah dan perjalanan politik Indonesia. Menyaksikan pameran ini menyadarkan kita bahwa ada peristiwa yang dulu sudah terjadi, yang kini berulang, lagi dan lagi.

| Klik disini untuk melihat video |


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#SorotanArsip | Dinamika Festival Kesenian Yogyakarta Tahun 1989-2013

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2013 lalu, dalam rangka pembuatan buku “25 Tahun Festival Kesenian Yogyakarta: Refleksi, Retrospeksi, Reposisi,” IVAA mendapatkan banyak sekali arsip terkait Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Total 10.335 berkas digital terkumpul dan terarsipkan di IVAA. Arsip-arsip tersebut terdiri dari foto, video, audio, kliping media massa, poster, undangan, proposal terkait FKY sejak tahun 1989 sampai 2013. Selain merupakan koleksi dokumentasi IVAA, arsip lainnya diperoleh dari berbagai sumber diantaranya; Taman Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Komunitas Gayam 16, Keluarga Bagong Kussudiarjo, Dewan Kesenian Yogyakarta, Panitia FKY, Arief Sukardono, Timboel, Aji, dan Bambang Paningron.

Daftar inventaris arsip Festival Kesenian Yogyakarta dari 1989-2013 dapat dilihat dalam tabel berikut: http://bit.ly/arsipfky. Untuk mendapatkan file-file arsip FKY, silakan menghubungi alamat surel Arsiparis IVAA, archive@ivaa-online.org.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Bioscil 10: Berkunjung ke Dipowinatan

Oleh: Putri Ratna

“Bioscil” merupakan kependekan dari bioskop kecil dan keliling. Layaknya bioskop namun dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kecil yang juga dimaksud di sini menunjuk pada segmen publik yang ingin dilibatkan, yakni anak-anak. Keliling merupakan salah satu konsep yang ditawarkan Bioscil, yang pada mulanya dimaksudkan untuk memfasilitasi penonton usia anak di lokasi yang jauh dari bioskop.

Sebagai ruang alternatif menonton film, Bioscil diinisiasi oleh duo seniman asal Yogyakarta yaitu Hindra Setya Rini (Hindra) dan Rifqi Mansur (Kiki) sejak akhir tahun 2011. Selain sebagai ruang alternatif menonton film-film pendek yang inspiratif, harapannya Bioscil dapat memfasilitasi proses pertemuan kreatif dan interaktif anak-anak dan remaja.

Berawal dari banyaknya anak-anak dari Dipowinatan dan sekitar Rumah IVAA yang sering main game online melalui telepon pintar mereka dengan memanfaatkan wifi IVAA, beberapa orang dari IVAA kemudian terpancing untuk membuat pemutaran film dengan tema yang dekat dengan dunia anak, termasuk soal game online. Pada 18 April 2017 lalu, Bioscil singgah di Rumah IVAA dengan memutarkan dua buah film yang berjudul “Ayo Main” garapan Bambang ‘Ipoenk’ KM dan “Singsot” garapan Wahyu Agung Prasetyo.

Melalui program Bioscil ini, IVAA berupaya mendekatkan diri pada warga sekitar, terutama anak-anak yang sering datang di Rumah IVAA, namun minim interaksi.  Selain sebagai ruang apresiasi, program ringan semacam ini utamanya menekankan pada indahnya interaksi.


*Putri Ratna Dewi Werdiningsih, mahasiswa angkatan 2013 Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang banyak terlibat kegiatan kemahasiswaan di kampusnya; antara lain tergabung dalam Komunitas Lensa 18, Paduan Suara Miracle Voices V, dan Kampung Komunikasi. Dalam magangnya di IVAA sejak awal Maret hingga akhir Mei 2017, Putri membantu kerja pendokumentasian kegiatan seni dan pengelolaan hasil dokumentasi.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Musrary bersama Umar Haen

Oleh: Padma Kurnia

Dalam sembilan lagu yang dibawakannya bersama Arok (nama pemain perkusinya), terlihat berbagai usahanya dalam mengolah tema-tema seputar usia dan waktu.  Petikan senar gitar yang menenangkan mampu menggambarkan kegentingan dari pesan-pesan yang hendak dimunculkan. Umar Haen, solois berambut gondrong ini mengungkapkan bahwa lagu bisa menjadi ‘kulkas emosi.’

Beberapa kisah dimunculkan Umar Haen dalam lagu “Racau di Malam Kacau” dan “Tentang Generasi Kita.” Para penonton yang hadir di RumahIVAA diajak untuk mengingat kampung halaman masing-masing melalui “Kisah Kampungku”, sambil mengintip kampung halaman Umar di Temanggung yang terekam dalam sebuah video pendek.

Anak-anak muda di desanya tidak banyak yang mau tinggal lalu menggarap sawah. “…jadi memang di kampung saya itu, hampir sebagian besar pemuda yang sudah lulus sekolah itu impiannya adalah untuk merantau…” ungkapnya. Sejauh ini Umar belum pernah menemukan pemuda di desanya yang ingin meneruskan bekerja di sawah.

“Kisah Kampungku” juga memuat penggalan kelam program transmigrasi Orde Baru yang berdalih pemerataan pembangunan. Akibatnya, merantau kian membudaya. Pada saat yang bersamaan, generasi di atasnya dibungkam dengan program pangan Orba. Dalam lagu yang berjudul “Nasihat Kakek; Jangan Jual Tanahmu”, Umar teringat akan wejangan kakeknya untuk tidak menjual tanah warisan dan menganggapnya sebagai pamali.

Sebagai lagu penutup, Umar menafsir bagaimana mahasiswa tumbuh di Yogyakarta dengan lagu berjudul “Di Jogja Kita Belajar”. Sembilan lagu yang Umar bawakan merupakan materinya di album pertama yang rencananya rilis setelah Ramadhan.

Hampir semua lagu Umar ciptakan di sepertiga malamnya karena dia merasa waktu itu adalah waktu di mana semua pikiran; ingatan, emosi, dan kegelisahan dipertajam. Musik metal menjadi inspirasi Umar dalam menciptakan lagunya. Tak hanya itu Umar pun punya saluran Youtube favorit yang bisa menginspirasinya pula. Sedangkan untuk inspirasi lirik, Umar banyak mendapatkannya dari buku.

Mendengarkan komposisi musik dan lirik lagu-lagu Umar malam itu, tidak heran jika sudah banyak yang menunggu albumnya. “Semua karya saya memang saya ciptakan di sepertiga malam saat semua orang sudah terlelap. Semoga habis lebaran nanti bisa terealisasi,” ungkap Umar sebagai kalimat penutup pertunjukannya malam itu.

| klik disini untuk melihat video |


*Wahyu Padma Kurnia, (l.1995) mahasiswa kelahiran Kota Tulungagung ini jauh-jauh datang ke IVAA khusus untuk magang. Ia adalah mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Negeri Malang angkatan 2013. Magangnya dimulai pertengahan Mei lalu hingga dua bulan ke depan. Kurnia membantu kerja Tim Dokumentasi, terutama dalam kerja dokumentasi kegiatan seni dan pengolahan file video dan foto.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H | EID MUBARAK!

Pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta V Tahun 1993. Koleksi Taman Budaya Yogyakarta.

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Menyambut Idul Fitri, IVAA akan tutup pada 23 Juni 2017,
dan akan kembali buka pada 3 Juli 2017

Salam hangat,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wish you

Happy Eid 1438H

Welcoming the feast of Eid, IVAA will be closed from the 23th of June 2017
and will be back to operations on the 3th of July, 2017.

Warm regards,
Indonesian Visual Art Archive (IVAA)


Artikel ini merupakan Rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

“Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi

Oleh: David Ganap

“Sebagai catatan, acara ini merupakan ‘pemanasan’, media perkenalan seniman-seniman terpilih perwakilan Indonesia,” ujar Dodo Hartoko, Direktur Biennale Jogja XIV. Puncak acaranya sendiri akan dilaksanakan pada 2-10 November 2017 mendatang. Dalam penyelenggaraan kali ini, Indonesia meminang Brasil sebagai partner ke-4 dalam seri Equator. Terdapat 27 seniman dari berbagai kota di Indonesia yang terpilih. Sementara, dari Brasil akan dipilih 10 seniman.

Brasil merupakan negara terjauh bila disejajarkan dengan posisi Indonesia dalam bentang garis khatulistiwa. Bila ditinjau dari segi kesamaan, sumber daya alam menjadi salah satu ciri utama dari kedua negara ini, terutama dalam hal keragaman hayati. Indonesia menempati posisi kedua tepat setelah Brasil di peringkat pertama dalam deretan negara dengan keanekaragaman hayati terkaya dunia dilansir dari news.unpad.ac.id. Selain itu kedua negara ini juga sama-sama memiliki populasi penduduk yang masif, dengan masing-masing estimasi lebih dari dua ratus juta jiwa.

Berangkat dari persoalan jumlah penduduk, Pius Sigit Kuncoro, kurator terpilih BJ XIV Equator #4 menegaskan bahwa populasi yang padat identik dengan rupa-rupa permasalahan. Brasil memiliki reputasi sebagai salah satu negara yang tingkat kriminalitasnya tertinggi di dunia. Akan tetapi Pius Sigit membaca Brasil melalui hubungan timbal balik manusia dengan ekosistem, masyarakat luas dengan lingkungan sekitar. Tentang kehidupan dilematis yang penuh bayang-bayang kecemasan karena hasrat yang tinggi untuk hidup yang tidak berbanding lurus dengan ketersediaan kebutuhan yang dikehendaki. Sedikit demi sedikit luas hutan semakin terpangkas dikarenakan pembangunan pemukiman. Hal sama terjadi juga di tanah Jawa di mana lahan persawahan kini berubah menjadi bangunan-bangunan rumah kaku yang serba monoton.

Dari persoalan di atas, penting bagi kita untuk sejenak merenungkan dampak dari kepadatan yang kian hari kian berkembang. Seperti di masa depan nanti, lingkungan masyarakat seperti apa yang akan tercipta dari kesesakan ruang yang ada? Apakah persoalan ini memiliki dampak psikologis bagi generasi anak-anak kita dikemudian hari? Lingkungan macam apa yang akan mereka tempati? Apakah kemudian minimnya lapangan pekerjaan di masa yang akan datang akan tetap menjadi isu populer?

Kembali ke persoalan teknis acara, bila dibandingkan dengan Venice Biennale ke-57 yang mengundang 120 seniman undangan dari lima puluh satu negara, Pius menjelaskan bahwa alasan kerjasama dengan Brasil sendiri adalah untuk menghadirkan sensasi keintiman yang eksklusif. Mengingat posisi Biennale Jogja yang merupakan pesta seni dua tahunan terpenting di Yogyakarta, maka seyogianya dibutuhkan lebih dari sekedar konsep yang matang sebagai landasan kolaborasi gagasan dengan negara anggota konstelasi geografis Amerika tersebut. Meskipun demikian, ketika ditanyai tentang tema, ternyata hingga saat ini belum ada isu spesifik yang dielaborasi menjadi objek pembahasan. Sepertinya keragaman hayati, populasi penduduk yang terus melesat hanya berfungsi sebagai pemantik untuk bisa masuk ke dalam dialog yang lebih privat dengan calon mempelai.

Metode yang digunakan kurator untuk penentuan tema bersifat lebih responsif dengan realita sehari-hari, mirip merangkai mozaik yakni mencari kepingan yang cocok untuk disematkan bersama. Dalam beberapa forum seni internasional belakangan ini, tema yang diperbincangkan sifatnya memang lebih universal. Salah satu alasannya adalah proses kerja kreatif seniman yang berkolaborasi dengan riset ilmiah para ilmuwan. Seniman di era kontemporer memiliki kecenderungan memulai pekerjaan kreatifnya dengan mencari permasalahan secara mandiri, kemudian membedahnya untuk melihat berbagai kemungkinan pemecahan masalah.

Sebagai contoh, dalam segi teknis ada perilaku eksperimental yang menjadi karakter seniman untuk menggali potensi media yang digunakan. Arin Dwihartanto, salah satu seniman peserta BJ XIV asal Indonesia bermain-main dengan resin untuk melukis di atas kanvas. Tidak berhenti sampai di situ, seniman lulusan FSRD ITB ini bereksperimentasi dengan serbuk vulkanik yang difungsikan sebagai pewarna bagi resin yang ia gunakan. Lantas yang paling menarik adalah hasil akhir dari karya Arin yang relatif tak terduga karena sifat resin sendiri yang berubah dari zat cair menjadi benda padat.

Berikut daftar nama seniman muda Indonesia yang terpilih menjadi peserta BJ XIV Equator #4, 2017: Adi Dharma a.k.a Stereoflow, Aditya Novali, Arin Dwihartanto Sunaryo, Cinanti Astria Johansjah, Faisal Habibi, Farid Stevy Asta, Gatot Pujiarto, Indieguerillas, Julian “Togar” Abraham, Kinez Riza, Lugas Syllabus, Made Wiguna Valasara, Maria Indriasari, Mulyana, Narpati Awangga a.k.a Oomleo, Ngakan Made Ardana, Nurrachmat Widyasena, Patriot Mukmin, Roby Dwi Antono, Sangkakala, Syaiful Garibaldi, Tattoo Merdeka, Timoteus Anggawan Kusno, Wisnu Auri, Yudha Kusuma Putera a.k.a Fehung, Yunizar, dan Zico Albaiquni.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#Sorotan Pustaka | Maret – April 2017

Oleh: Melisa Angela

Salam jumpa lagi di Rubrik Sorotan Pustaka. Rubrik ini dibuat untuk memberikan pemutakhiran kabar mengenai Perpustakaan IVAA. Bila Anda berkunjung ke RumahIVAA maka begitu memasuki pintu depan, maka Anda akan langsung menjumpai Perpustakaan IVAA di selasar kiri ruang publik IVAA. Di sana Anda bisa membaca-baca buku, katalog pameran seni rupa, majalah, jurnal, berbagai tulisan akademis tentang seni rupa Indonesia, dan koleksi komik indie kami. Namun untuk meminjam, Anda perlu mendaftar menjadi KawanIVAA yang keanggotaannya berlaku seterusnya tanpa kadaluarsa. Dalam seminggu, Anda diperkenankan meminjam dua buah buku. Apabila belum selesai membacanya, Anda bisa memperpanjang masa peminjaman untuk satu minggu berikutnya dengan cara memberitahu terlebih dahulu pustakawan IVAA, Santosa, melalui alamat email ivaa-service@ivaa-online.org atau menelepon RumahIVAA di nomor 0274 375262.

Jumlah koleksi Perpustakaan IVAA yang sudah tercatat ada sejumlah 12.052. Untuk menelusurinya Anda dapat membuka Katalog Perpustakan IVAA di tautan library.ivaa-online.org. Berita baik yang bisa kami kabarkan adalah pada dua bulan terakhir kami mendapatkan banyak sumbangan koleksi baru dari anggota perpustakaan dan rekan-rekan lain, yakni sekitar 350 koleksi baru.

Beberapa koleksi perpustakaan yang menarik perhatian kami telah diulas di dalam rubrik Sorotan Pustaka edisi kali ini. Yang pertama adalah buku/katalog seni fotografi dengan desain sampul yang memukau berjudul “Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese”. Brian Arnold, seniman fotografi asal Amerika Serikat – yang rupa-rupanya sangat mencintai kebudayaan Indonesia – menyusun buku ini. Dalam risetnya selama tiga tahun, beberapa kali Brian mencari data di IVAA; maka setelah menyelesaikan proyeknya ini, ia segera mengirimkan satu bukunya untuk bisa diakses publik di Perpustakan IVAA. Buku kedua yang kami ulas adalah buku program dari sebuah kolektif seniman muda di Yogyakarta, Ace House Collective. Kolektif yang juga mengelola sebuah ruang seni di Jalan Mangkuyudan ini nampaknya tak ingin program-programnya yang telah banyak bergulir terlupakan begitu saja seiring waktu. Di buku ini kita bisa menyimak narasi dan dokumentasi foto dari masing-masing proyek seni yang sekaligus menjadi karya bagi kolektif tersebut. Buku terakhir yang kami ulas adalah buku yang mencerahkan bagi pekerja yayasan seni nirlaba semacam kami. Buku ini berjudul “Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja,” diterbitkan oleh Arkom Jogja bersama INSISTPress. Betapa tidak, buku ini mengemukakan beberapa tegangan dan kegelisahan yang dihadapi para pekerja NGO, dengan berbagai tanggung jawab beserta dosa sosial yang tidak jarang berjalan-beriringan.

Di bawah ini adalah tautan menuju masing-masing ulasan buku, selamat membaca.


1.Identity Crisis:  Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese
Oleh: David Ganap

2.Ace House Collective Workbook
Oleh: Wibi Palgunadi

3.Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja
Oleh: Lisistrata Lusandiana


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Ace House Collective Workbook

Oleh: Wibi Palgunadi

Penerbit: Ace House Collective
Tahun: 2016
Bahasa: Inggris

Buku setebal 70 halaman ini merupakan buku program sebuah kolektif seniman seni rupa muda bernama Ace House Collective. Kolektif yang berdiri di Yogyakarta sejak 2011 ini banyak bergerak di wilayah konteks budaya pop dan budaya anak muda. Nama-nama seperti Rudy ‘Atjeh’, Uji Handoko Eko Saputro a.k.a Hahan, serta Gintani Nur Apresia Swastika adalah beberapa anggota dari Ace House Collective. Kebanyakan dari mereka merupakan satu angkatan di kampus ISI Yogyakarta serta teman nongkrong. Kemudian di 2014, mereka mengelola sebuah ruang fisik bernama “Ace House”, bertempat di Jalan Mangkuyudan nomor 41, Yogyakarta. Dalam mengelola ruang ini mereka menekankan pada pendekatan eksperimental dan eksploratif. Selain itu mereka juga menggali berbagai celah kemungkinan dalam seni rupa melalui berbagai program dan aktivitas, seperti presentasi diskusi, pameran, residensi hingga proyek seni lintas disiplin. Dan buku program ini semacam katalog dari kegiatan apa saja yang telah mereka lakukan. Namun sangat disayangkan saya kesulitan menelusuri buku ini maupun mencari tahu ada berapa banyak kegiatan yang terangkum di dalam buku program ini, karena di buku ini tidak dijumpai daftar isi.  Kata pengantar dan daftar nama penyusun buku ini pun juga tidak saya temukan. Bahkan saya merasa kesulitan mencari tahun kapan tepatnya buku ini dicetak.

Meski demikian di buku program ini kita dapat membaca dan melihat-lihat foto dokumentasi dari proyek ataupun program yang tercetus dari buah pikiran dari Ace House Collective, seperti misalnya “Tak Ada Rotan, Akar Punjabi” (bagian dari Jogja Biennale 2011), “Museum Realis Tekno” (ditampilkan dalam Jakarta Biennale 2013), “Three Musketeers Project” (2014), “Komisi Nasional Pemurnian Seni” (ditampilkan dalam Jogja Biennale 2016), dll. Beberapa dari proyek-proyek seni tersebut sudah pernah dibawa hingga kancah internasional yaitu ke Taiwan dan Korea Selatan.
Salah satu kegiatan menarik yang berhasil diselenggarakan oleh Ace House Collective adalah “Acemart,” yakni bagaimana mereka mampu menghadirkan konsep ruang pamer dengan kemasan minimarket. Karya seni dipajang sedemikian rupa menyerupai barang dagangan yang sering kita jumpai di minimarket waralaba yang menjangkiti banyak kota di Indonesia. Pastinya merupakan pengalaman tersendiri melihat karya seni dipamerkan berdampingan dengan jajanan bocah, gula pasir, kopi instan, deterjen, sikat gigi, dll. “Acemart” agaknya berusaha menjungkirbalikkan pandangan terhadap galeri seni rupa yang umumnya bernuansa ekslusif dan mewah.


*Wibi Palgunadi (l. 1995) tercatat sebagai mahasiswa semester dua Program Studi S1 Manajemen Tatakelola Seni di kampus ISI Yogyakarta. Saat ini Wibi sedang mengikuti program magang di bagian kajian arsip IVAA, terhitung sejak awal Maret 2017.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.