Category Archives: Kabar IVAA

Sorotan Pustaka | Oktober-November 2016

Katalog “Seni dan Politik Posisi”

Oleh: Sukma & Lisistrata

Di tengah meluasnya rezim pergeseran batas yang telah menguatkan ilusi adanya warga dunia, baik melalui sarana wisata, ekonomi dan budaya, sekali lagi kita dihadapkan pada soal identitas, posisi diri di tengah konstelasi global. Posisi diri yang dimaksud di sini ialah diri yang kolektif. Diri yang selalu menjadi bagian dari. Baik kesatuan kultural, sejarah atau apapun yang sifatnya tidak terberi.

Dalam konteks nasional, kesenian tidak lepas dari proyek bersama pengentalan keindonesiaan. Dalam waktu yang bersamaan, proyek pengentalan identitas dalam cakupan regional juga berlangsung dari waktu ke waktu. Usaha ini bisa terlihat dari model kolaborasi yang dilakukan antar negara Asia, Asia Tenggara atau bahkan dalam lingkup nusantara bahkan propinsi.

Sorotan Pustaka kali ini menyajikan kumpulan katalog pameran seni rupa yang mengangkat spirit tersebut. Spirit kolaborasi antar wilayah dalam cakupan yang beragam, dengan identitas yang jamak, namun bisa dilihat sebagai bagian dari proyek pengentalan identitas. Soal identitas ini tentu menjadi persoalan yang politis ketika kita tempatkan dalam konteks global, yang sarat dengan nuansa geopolitik, bahwa terdapat negara yang lebih kuat, sementara di sisi lain, terdapat yang subordinat. Ada sejarah panjang yang menempatkan perihal geografis, menjadi persoalan yang politis. Agar tidak terburu-buru menyebutnya sebagai upaya dekolonisasi, kita bisa menundanya dengan tanya; sejauh apa upaya-upaya yang ditempuh oleh masyarakat seni ini mampu melampaui dikotomi antara yang lokal dan internasional? Beberapa koleksi yang sudah di seleksi terkait dengan tema ini sempat kami tampilkan di Pojok Katalog dalam acara Buku Andalan, Kedai Kebun Forum, 8-24 September 2016. Kali ini beberapa koleksi ‘andalannya’ kami hadirkan kembali dalam bentuk ringkasan singkatnya, untuk menunjukkan bahwa proyek politik identitas dalam dinamika seni rupa menjadi perjalanannya sendiri yang penting untuk kita catat, baik dalam rangka melanjutkan atau sekadar menangkap spiritnya.  

art-in-southeast-asia-resize1.Katalog “Art in Southeast Asia 1997: Glimpses into the Future”

“Art in Southeast Asia 1997: Glimpses into the Future,” merupakan sebuah pameran yang diselenggarakan bersama antara Museum of Contemporary Art, Tokyo, Hiroshima City Museum of Contemporary Art and Japan Foundation Asia Center. Menampilkan kurang lebih 80 karya seniman dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand, dan menyoroti keragaman seni di Asia Tenggara saat ini

Dalam pameran ini perwakilan dari penyelenggara melakukan kunjungan ke lima negara yang terlibat dan melakukan wawancara kepada sedikitnya 100 seniman serta berdialog dengan kurator dan kritikus seni lokal untuk mencari gambaran tentang situasi seni rupa di negara-negara tersebut, hingga kemudian terpilihlah 17 seniman dan kelompok seni. Seniman-seniman yang terpilih kemudian dibagi menjadi tiga kelompok kategori menurut subyek-subyek utama dalam konten karya mereka. Ketiga kategori tersebut diyakini dapat memberikan panduan untuk melihat gambaran masalah yang dihadapi seniman-seniman Asia Tenggara saat ini dan memahami bagaimana mereka mengkonstruksi bentuk ekspresi mereka dalam karya.

changing-states_resize2. Katalog “Changing States-Contemporary Art and Ideas in an Era of Globalisation”

Diterbitkan dalam rangka memperingati ulang tahun kesepuluh Institute of International Visual Arts (inIVA), menampilkan lebih dari 100 karya seniman dan penulis, antologi ini memang lebih dari katalog, karena upayanya dalam memetakan perubahan lansekap seni dan budaya kontemporer selama satu dekade terakhir dalam konteks ekonomi global dan politik lokal. Terdiri dari berbagai macam ulasan, deskripsi dan esai dari karya-karya seniman dari seluruh dunia yang terlibat dalam proyek-proyek bersama inIVA, baik proyek pameran, penerbitan, multimedia, pendidikan, penelitian, diskusi dan lain sebagainya.

Disusun berdasarkan sepuluh tema bagian, Metropolis, Site, Nation, Performance, Global, Identity, Translation, Making, Archive dan Modern, didalamnya terdapat esai, katalog dan publikasi, reproduksi karya seni, dokumentasi dan berbagai bentuk arsip lainnya.

sumatra-biennale_resize3. Katalog “Sumatra Biennale 2012: Self Discovering”

Merupakan katalog pameran seni rupa Biennale Sumatra tahun 2012 yang diadakan di Sumatera Barat. Seperti katalog pada umumnya, katalog ini juga memuat dokumentasi karya dan biografi seniman yang terlibat serta teks pengantar kuratorial. “Sumatra Biennale 2012: Self Discovering,” adalah pameran seni rupa dua tahunan pertama yang mempresentasikan karya-karya seniman Aceh hingga Lampung. Diikuti oleh 30 seniman dan satu kelompok seni, dikuratori oleh Kuss Indarto yang saat itu merupakan Kurator Galeri Nasional Indonesia, Sumatra Biennale mengambil tema Self Discovering. Tema tersebut diambil demi upaya membangun ruang bersama untuk menilik dan membicarakan lebih lanjut ihwal akar imajinasi dan identitas ke-Indonesia-an. Tema kuratorial tersebut diharapkan mampu mengajak para seniman yang terlibat untuk melakukan pembacaan, pemetaan, penyikapan, dan pelontaran komitmen personal melalui bahasa visual yang merupakan perangkat utama perupa. Di sini soal identitas ditekankan sekali lagi, untuk digali dan jika perlu dibentuk.  

modernisme-asia_resize4. Katalog “Modernisme Asia: Perkembangannya yang Beragam di Indonesia, Filipina, dan Thailand”

Merupakan katalog yang diterbitkan dalam rangka pameran seni rupa “Asian Modernism” yang melibatkan serta diselenggarakan di tiga Negara yaitu Filipina, Thailand dan Indonesia. Katalog ini berisi dokumentasi 139 karya terpilih dari ketiga negara yang dipamerkan di Gedung Pameran Seni Rupa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta pada 21 Juni hingga 7 Juli 1996.

Pameran Asian Modernism diadakan dengan maksud memperlihatkan bagaimana modernisme yang selama ini dipercaya hadir dari barat, berkembang di Asia. Yang menjadi titik tekan disini ialah dinamika modernisme yang terjadi di Indonesia, Filipina dan Thailand, untuk menunjukkan coraknya dan ragam perkembangan modernisme di beberapa bangsa yang berbeda. Kaitan antara seni rupa modern di Asia ditekankan dengan modernisme, yang menunjukkan bahwa dalam dinamikanya, seni rupa di Asia tidak hanya terkait dengan modernitas, namun juga modernisme. Para kurator yang melakukan pengkajian pada perkembangan seni rupa dengan awal modernisasi di Asia pada Abad ke 18/19 (melalui karya-karya Raden saleh, Juan Luna, Hidalgi dan Lozano) menemukan bahwa modernisme di Asia muncul akibat perkembangannya sendiri dan bukan semata karena pengaruh modernisme Barat. Dekonstruksi atas modernisme dalam konteks Asia menunjukkan bahwa di Asia terdapat dimensi berbeda dalam perkembangan modernisme. Di titik inilah, pameran ini menebalkan spiritnya, bahwa modernisme di Asia berbeda dengan modernisme Eropa-Amerika.

idealokal-seni-rupa_resize5. Katalog “Pameran Seni Rupa Nusantara II: Idealokal Seni Rupa Nusantara”

Merupakan katalog untuk “Pameran Seni Rupa Nusantara II: Idealokal Seni Rupa Nusantara,” sebuah pameran lanjutan dari “Pameran Seni Rupa Nusantara I” yang diadakan tahun 2001. Pameran ini diprakarsai Galeri Nasional Indonesia dan Bagian Proyek Wisma Seni Nasional, menjadi ajang pertemuan, tatap muka serta silih asah bagi para perupa dari seluruh pelosok negeri.

Dikutip dari pengantar kuratorial yang ditulis oleh Mamanoor, Pameran Seni Rupa Nusantara II masih terfokus kepada citra dan pencitraan azas kepulauan (bukan kewilayahan atau provinsi sebagai mana dipahami selama ini). Kendati kemodernan seni rupa selalu identik dengan fokus perhatian ke wilayah perkotaan (umumnya lingkungan urban) yang berada di suatu provinsi, tetapi citra dan pencitraan ini bisa diperluas dengan wilayah kepulauan sebagaimana termaktub dalam pemahaman istilah Nusantara. Hal ini dipikirkan sebagai upaya untuk membongkar citra birokrasi kekuasaan yang telah mengkooptasi pencitran (adanya sentralisasi, relasi pusat dan daerah, dsb) yang selama ini turut melanda dunia seni rupa Indonesia. Oleh sebab itu, tak pelak apabila karya-karya yang terpilih tidak diartikan untuk mewakili kota, provinsi, atau wilayah tertentu di sebuah pulau di nusantara dengan latar sosial-budaya dan mengungkapkan idealokal sub-kultur yang diusungnya.

malaya-and-indonesia_resize6. Buku “Revisiting Malaya 2.0 International Conference – Malaya and Indonesia: Links and Fractures In Political and Historical Thought”

Buku ini diterbitkan sebagai pelengkap kegiatan “Revisiting Malaya 2.0 International Conference – Malaya and Indonesia: Links and Fractures In Political and Historical Thought,” berisi panduan dan informasi, serta esei dari setiap pembicara konferensi.

Konferensi ini berlangsung selama dua hari dan terdiri atas empat panel: (1) Identitas Melayu dan Kemelayuan di Nusantara, (2) Literatur dan Kebudayaan Melayu, (3) Perjuangan-perjuangan ideologis, (4) Pergerakan rakyat dalam membuat konstitusi; di mana masing-masing panel berusaha menunjukkan pemikiran politik dan kultural pada periode sejarah yang berbeda. Konferensi Revisiting Malaya ke dua ini diharapkan mampu menjadi pengingat hubungan-hubungan historis antara Malaya dan Indonesia lewat bentuk pandangan spasial yang berbeda. Baik di masa lalu maupun masa kini, Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Komunitas imajiner yang diproyeksikan dalam istilah Melayu Raya, Indonesia Raya, atau Maphilindo memperlihatkan inklusivitas dan ekslusivitas batas-batas geografis di dunia Nusantara, di mana identitas bersama dari “Melayu” Malay atau Kemelayuan selanjutnya diwujudkan di dalam wacana yang relevan.

katalog concept context contestation7. Katalog “Concept Context Contestation: Art and The Collective in Southeast Asia”

Merupakan katalog pameran seni rupa yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Exhibition Department, Bangkok Art and Culture Centre. Katalog ini berisi tulisan lepas dari ketiga kurator pameran, sejarawan seni, seniman dan lain-lain serta arsip dan dokumentasi karya dari seniman yang terlibat pameran. Pameran “Concept Context Contestation” dikuratori oleh tiga kurator pilihan dari Asia Tenggara (Singapura, Indonesia dan Thailand), pameran ini berusaha memberi stimulasi visual untuk masyarakat luas, selain juga menawarkan wawasan sejarah seni ke dalam budaya kekinian kita. Melalui karya-karya seniman dari Thailand, Indonesia, Filipina, Vietnam, Malaysia, Singapura, Myanmar, dan Kamboja, pameran ini berusaha memetakan seni kontemporer dalam suatu kawasan, berakar pada pemikiran konseptual lokal untuk sebagai sarana membentuk ide-ide tentang dan untuk kolektif itu sendiri. Dengan memamerkan hampir 50 karya dari kurang lebih 40 seniman, pameran ini berusaha menunjukkan gagasan bahwa pendekatan konseptual yang digunakan dalam seni kontemporer Asia Tenggara belum tentu diimpor melainkan bersumber dari kebudayaan kita sendiri.

Sorotan Arsip | Residensi dengan Target, Perlu atau Tidak?

Oleh: Melisa Angela

pasang-air-a
Kalangan atau publik seni senantiasa diharapkan menjadi pengamat sekaligus penantang gagasan pembuat karya (dan penyelenggara program residensi). Rumah Seni Cemeti setidaknya mengadakan 2-3 kali forum terbuka setiap periode residensi. Pertama untuk memperkenalkan seniman peserta, selanjutnya untuk berbagi kesan dan pesan sebelum tiap periode program selesai.
Forum reguler antara penyelenggara program residensi dengan seniman peserta adalah salah satu mekanisme agar kedua belah pihak yakin bahwa program terlaksana sesuai harapan masing-masing.

Dalam sebuah periode residensi, seorang seniman diharapkan mengalami dimensi keruangan yang berbeda dari kesehariannya di tempat asal. Ini adalah tujuan utama dari program residensi. Demikianlah sehingga di dalam program residensi meski terdapat agenda-agenda yang sudah ditentukan oleh pihak penyelenggara, harapan akan hasil akhir sebuah program residensi seyogyanya dibuat sangat terbuka terhadap segala kemungkinan. Maka dari itu tak tertutup pula bila seorang seniman residensi “tidak mampu” menyelesaikan karyanya di akhir masa residensinya. Inilah yang dialami beberapa seniman residensi Rumah Seni Cemeti, salah satunya Eva Olthof, seniman residensi Pasang Air #1 asal negeri Belanda. Dalam program residensi yang berlangsung di tahun 2015 ini Eva Olthof tertarik dengan fenomena relokasi warga sekitar Gunung Merapi. Sebuah desa secara administratif dihapuskan oleh pemerintah karena menjadi lokasi bencana erupsi di tahun 1960-an. Tapi setelah direlokasi dengan cara dipaksa mengikuti program transmigrasi, para warga pada akhirnya tetap berpulangan ke tempat asalnya di lereng Merapi. Fenomena ini memicu imaji Olthof terhadap simbol-simbol kewenangan yang terhubung dengan gunung berapi pada tingkatan ilmiah, spiritual, dan politis. Selama proses studi kasus relokasi warga Merapi ini, Olthof mengumpulkan sejumlah materi yang akan membantunya menggali memori tentang kasus ini.

Tiba saat presentasi di akhir masa residensi Pasang Air #1, di ruang pamer Rumah Seni Cemeti, Olthof nyatanya belum selesai mengeksekusi rencana-rencananya. Sehingga untuk berinteraksi dengan publik yang hadir di malam pembukaan Olthof melakukan bincang performatif dengan pengunjung mengenai gagasan-gagasannya. Memamerkan karya yang masih dalam proses atau dengan kata lain belum selesai tentunya dihindari oleh semua penyelenggara program residensi, dalam hal ini Rumah Seni Cemeti. Namun demikian kemungkinan ini tentu tidak terhindarkan. Sekalipun begitu, terlewatnya tenggat waktu dari agenda-agenda yang telah disusun rapi dalam sebuah residensi lantas diartikan sebuah kegagalan, kita pun tidak bisa serta-merta menganggap seniman tersebut tidak profesional, karena toh memang bukan itu yang dicari. Sekali lagi hakikat dari mengikuti sebuah program residensi adalah ‘mengalami’, dan pengalaman baru inilah yang akan membuka perspektif seniman dari hal-hal yang tidak dia lihat ataupun sadari sebelumnya di tempat asal. Proses pembaruan cara pandang ini tidak selamanya berlangsung di sepanjang periode residensi, bisa saja proses itu berlangsung setelah, atau bahkan bertahun-tahun sesudahnya.

 

Pengumuman IVAA | Kawan-kawan Pemagang IVAA

Terdapat 20 pendaftar Magang IVAA sejak awal tahun ini, dan hingga Oktober ini 16 pemagang telah  menyelesaikan program magangnya. Keenambelas pemagang tersebut antara lain:

  • Muhammad Akbar yang tengah menyelesaikan studinya di Ilmu Perpustakan Universitas Padjadjaran Bandung
  • Faida Nur Rachma mahasiswi Ilmu Komunikasi UGM yang juga bekerja paruh waktu di Lir Space
  • Henrike Louise Hoffmann pelajar Studi Transkultural Universitas Heidelberg, Jerman
  • Sukri Ghazali mahasiswa tingkat akhir STSRD Visi yang dikenal aktif di komunitas fotografi Kelas Pagi Yogyakarta
  • Muhammad Amir Setioko mahasiswa tingkat akhir Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang
  • Anggita Oktafiana yang masih aktif di Lir Space dan telah menyelesaikan studinya di Ilmu Geologi UPN Veteran Yogyakarta
  • Emma Marantika dan Shona Maharany Fuad, keduanya adalah mahasiswi Ilmu Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya
  • Anisha Riski sarjana Ilmu Perikanan, namun sangat tertarik pada aktivitas kesenian
  • Luthfia Rahmi mahasiswi Jurusan Desain Komunikasi Visual, ISI Yogyakarta
  • Risya Ayudya dari Komunitas Serbuk Kayu Surabaya
  • Krisnawan Wisnu Adi mahasiswa FISIP, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
  • Muhammad Ardiansyah dan Addi Tri Kurniawan, yang meski tidak janjian namun bertemu di IVAA, keduanya dari Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
  • Jeniastuti yang masih menempuh studi di Jurusan Kriya Keramik, ISI Yogyakarta
  • Melalusa Susthira mahasiswi Fakultas Filsafat UGM.

Dalam bulan Oktober ini masih tersisa lima orang pemagang yang masih menjalankan program magangnya di IVAA, sedang sebelas lainnya telah menyelesaikan program magangnya yang berkisar 1-3 bulan.

Selama masa magang, para pemagang ini membantu kerja-kerja harian IVAA di bidang Perpustakaan, Kearsipan, Dokumentasi, Pengkajian serta Program. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan ketelitian seperti input data buku ke katalog online Perpustakaan IVAA, mengisi dan merapikan informasi arsip, mendaftar satu demi satu kumpulan arsip yang baru disumbangkan, alih format arsip dari analog ke digital, atau pemrosesan seperti mengedit rekaman video, mengunggah arsip digital ke website Arsip IVAA, bahkan membuat salinan arsip digital untuk mengantisipasi hilangnya data. Selain itu juga ada pekerjaan dokumentasi yakni merekam, memotret peristiwa-peristiwa kesenian di Yogyakarta yang berlangsung nyaris setiap hari, serta pekerjaan menulis atau mengulas berbagai peristiwa seni maupun profil seniman, hingga pelaksanaan program-program outreach IVAA.

Dengan adanya pemagang, IVAA sangat terbantu dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut dengan lebih cepat, mengingat jumlah arsip yang dimiliki IVAA, jumlah peristiwa seni di Yogyakarta yang berlangsung setiap hari, serta aktivitas penyelenggaraan kegiatan oleh IVAA yang juga membutuhkan perhatian tersendiri.

Sebaliknya, dengan magang di IVAA para pemagang ini juga terluaskan jaringannya, selain dapat mengalami situasi bekerja di dalam tim yang solid. Namun yang tak kalah penting adalah pengalaman baru seperti mengenal teknis pengelolaan pustaka dan pengarsipan dasar, mengenal ruang-ruang seni beserta aktivitasnya di kota Yogyakarta, atau pengetahuan dari mempelajari banyak buku dan tulisan seni rupa.

Program magang di IVAA dibuka untuk mahasiswa dan umum. Tata cara pendaftaran dapat dibaca di situs IVAA ini.

Seni dan Advokasi: Seniman Belajar Undang-Undang

Pada bulan Juli lalu, Joned Suryatmoko membuka forum diskusi terbatas untuk 12 orang di Umar Kayam, membicarakan undang-undang dengan materi UU no 39 thn. 1999 mengenai HAM, UU no. 11 thn. 2005 mengenai hak ekonomi, sosial, dan budaya, dan UU no. 12 thn. 2005 mengenai hak Sipil dan Politik. Tujuan awalnya adalah untuk membekali serta membuka kembali pemahaman seniman mengenai undang-undang mengingat represi yang terjadi belakangan, baik yang dilakukan ormas maupun polisi. Dalam menghadapi represi tersebut, pembelaan kelompok seniman melulu dengan argumen soal kebebasan berekspresi, tanpa bisa menindaklanjuti menjadi upaya advokasi. Selain itu, metode, alur dan bahan pembelajaran juga dievaluasi oleh forum. Forum ini dihadiri oleh para pekerja seni budaya untuk membagi pengalamannya berhadapan dengan hukum dan potensi represi, juga Ikhwan Sapta Nugraha dari LBH Yogya yang bercerita sekaligus memberi komentar soal sistematika kelas belajar hukum bagi seniman. Ikhwan membenarkan metode kelas belajar yang dimulai dari pembacaan HAM, studi kasus serta pembacaan UU terkait.

IMG-20160826-WA0001

Seniman belajar hukum memang bukan pertama kali, namun upaya untuk terus melakukan kontekstualisasi itu selalu perlu. Diskusi yang dilakukan di hari Jumat, 29 Juli 2016 ini memang ditujukan untuk menajamkan pemahaman bersama soal keberadaan hukum, aparat serta upaya aliansi antar elemennya, agar kita terbuka dengan model-model advokasi yang terkait dengan aktivitas seni budaya.  

 

 

Ruang Publik: Antara Kompetisi dan Interaksi

Oleh: Lisis

Jumat, 5 Agustus 2016, RumahIVAA bekerja sama dengan komunitas Malioboro yang tergabung dalam COMA, menggelar diskusi soal Apeman dan Seni Ruang Publik. Apeman merupakan festival yang diinisiasi oleh COMA dan telah dihelat hingga ke tujuh kalinya. Acara ini berlangsung di sepanjang trotoar Malioboro dan beberapa titik di kota di sepanjang bulan Juni 2016.

Sementara diskusi yang berlangsung di RumahIVAA dimaksudkan untuk menjadi ruang temu dan refleksi antar pegiat budaya dan ruang publik. Imam Rastanegara, inisiator dari festival ini menjadi pembicara pertama yang berbagi kisah soal sejarah Apeman, dari Apeman 1 hingga sekarang. Tak lupa ia juga menceritakan semangat Apeman, yang dimulai dari lingkar yang sangat kecil hingga menjadi acara yang banyak didukung oleh banyak individu serta komunitas tanpa bantuan dana dari pemerintah. Pembicara kedua ialah Wiwiek Pungki, salah seorang seniman yang terlibat dalam perhelatan Apeman dan bekerja dengan bahan bekas.

13891885_1229101317123319_4283639222041687937_n

13902618_1229101440456640_7990778552287353867_n

Kemudian pembicara ketiga ialah Edial Rusli, seorang dosen Fotografi ISI yang sedang berkutat dengan soal reproduksi ingatan di Malioboro, sebagai bagian dari disertasinya. Selain itu, pengalaman hidupnya yang sangat dekat dengan Malioboro membuat kisahnya soal Malioboro menjadi lebih hidup. Pada kesempatan itu, ia menyayangkan arah perubahan yang terjadi di Malioboro. Malioboro seharusnya bisa dikembangan menjadi area wisata sejarah yang edukatif, tidak hanya wisata belanja. Baginya tidak perlu upaya yang terlampau sulit untuk mengubah hal tersebut. Karena di sepanjang Malioboro tersebut terdapat setidaknya 12 cagar budaya yang seharusnya dijadikan pengetahuan yang bisa ditransformasikan dari generasi ke generasi.

13921100_1229101447123306_5205360694826090778_n

13873005_1229101450456639_5248862732808739534_n

Obrolan tersebut kemudian ditanggapi oleh Elanto Wijoyono, seorang pemerhati isu ruang publik yang aktif menyuarakan pendapatnya seputar pembangunan kota yang lebih ramah modal ini. Isu yang berhasil dieksplorasi dalam diskusi tersebut tidak jauh dari soal fungsi dan hakikat Malioboro sebagai ruang publik. Bagaimana pergeseran fungsi-fungsi tersebut menurut kita, sebagai warga, baik sebagai warga kota dan warga budaya. “Idealnya, ruang publik harus dimaksimalkan menjadi ruang interaksi, bukan ruang kompetisi.” Ujar Elanto Wijoyono di bagian akhir diskusi.

Festival Kathok Abang: peringatan 1 tahun perjuangan warga Pantai Watu Kodok

 

jagalah lingkungan

Festival Kathok Abang merupakan acara yang dihelat warga di sekitar area pantai Watu Kodok, Kelor Kidul, Kecamatan Tanjung Sari, Wonosari pada 25 Mei 2016. Acara ini dihelat atas dasar inisiatif warga yang kemudian bekerjasama dengan beberapa komunitas, baik yang berada di kabupaten maupun kota. Pada 25 Mei 2016 tersebut, warga memperingati satu tahun perjuangannya dalam mempertahankan lahan hidup di sekitar Pantai Watu Kodok, yang terancam rusak oleh rencana pembangunan area wisata berskala besar. Tidak hanya kerusakan alam yang dikhawatirkan oleh warga, hubungan dan interaksi antara manusia pun juga dikhawatirkan akan bergeser, dari interaksi sosial yang lebih organik, menjadi interaksi yang lebih berorientasi sempit pada bisnis.

13244727_10153121809449229_2434386999470759691_n

13237660_10153121808814229_501043637309589490_n

Upacara bendera menjadi puncak dari festival ini, yang kemudian dilanjutkan dengan orasi-orasi kebudayaan. Dalam upacara bendera ini, semua warga yang terlibat mengenakan seragam merah putih, seragam anak sekolah dasar. Di sini warga memainkan hinaan yang pernah ditujukan pada mereka, yang sempat ditujukan oleh salah seorang dari pihak investor, yang  meremehkan usaha dari warga untuk bertahan di lahan yang mereka jaga dan hidupi.

investor rakus

Bagi pihak investor, warga yang sebagian besar merupakan lulusan SD, hanya ber-kathok abang, tidak akan berhasil memenangkan lahannya. Hinaan tersebut terus tersimpan di benak para warga, hingga setahun kemudian pada bulan Mei 2016, warga kemudian menghelat Festival Kathok Abang, yang secara khusus ditujukan secara khusus untuk menertawai hinaan yang sempat ditujukan pada mereka.

performance art

IVAA berpartisipasi di dalam ASIA OPEN DATA HACKATHON

IMG-20160728-WA0017

Linimasa Acara:
30 Juli 2016
Technical Meeting & International Event. Klik ini untuk bergabung dalam keriuhan: http://bit.ly/RoadToAODH
Live streaming: http://bit.ly/2aqy2cH
14 Agustus 2016
Asia Open Data Hackathon

Lokasi:
Kudoplex 2
Jl. Radio Dalam Raya No. 9, Gedung Grand Lucky Lt. 2-3, DKI Jakarta

Asia Open Data Hackathon yang sebelumnya bernama Cross Country Hackathon merupakan kerjasama tiga negara dalam memanfaatkan open data untuk membuat aplikasi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang dipilih oleh masing-masing negara.

Indonesia sebagai salah satu negara yang terlibat memilih tema Seni dan budaya dalam Hackathon kali ini.

Open Data Asia Hackathon hadir sebagai sarana bagi para tech savy di Thailand, Taiwan, dan Indonesia dalam menjawab problem yang sama-sama sedang dihadapi ketiga negara tersebut melalui kompetisi pembuatan aplikasi web dan mobile. Hackathon ini merupakan hasil kerja sama antara Data Science Indonesia, Codepolitan dan Universitas Islam Indonesia dengan Industrial Development Bureau Taiwan dan Electronic Government Agency Thailand.

Indonesia membuat tantangan untuk menciptakan inovasi dalam menjawab masalah pelestarian kesenian dan kebudayaan (art & culture) dengan memanfaatkan open data.

Sementara Thailand akan memberi tantangan untuk memberi solusi atas isu yang berkaitan dengan agrikultur, dan Taiwan akan mengatasi masalah di bidang layanan publik (public service). Kompetisi akan diadakan tanggal 14 agustus di Jakarta (kudoplex 1)

Tantangan dari Indonesia
– Melindungi karya seni, keberagaman, dan kebebasan dalam berekspresi dalam konteks perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia
– Meningkatkan kualitas pengarsipan data art & culture di Indonesia yang berkaitan dengan seluruh aktivitas seni, pelaku seni, segala bentuk benda seni, dll.
– Mendukung dan meningkatkan ekosistem dan art space bagi pelaku seni di Indonesia

Siap menjadi juara di Asia?
Kami menyambut kerjasama para seniman, budayawan dan juga developer untuk membuat aplikasi juara di Asia yang dapat menjawab tantangan kami
> Ajukan Solusimu

Facebook Asia Open Data Hackathon
Twitter @cchackathon2016 Instagram @cchackathon2016

crosscountryhackathon.id

Kesempatan Magang di IVAA

14690881_1290500704316713_223858476972001973_n

IVAA membuka kesempatan magang bagi kawan-kawan mahasiswa dan umum yang ingin mendapatkan pengalaman terlibat dalam kerja-kerja pengarsipan seni rupa. Kawan-kawan yang tertarik dapat memilih bidang-bidang kerja di IVAA yaitu: (1). Pengelolaan Arsip dan Pustaka; (2). Kajian Arsip; (3). Pengelolaan Ruang; (4). Dokumentasi Peristiwa Seni. Program magang IVAA berlangsung minimal selama 1 (satu) bulan. Peserta magang akan mendapatkan fasilitas keanggotaan KawanIVAA dan menjadi bagian tim kerja IVAA selama periode berlangsung.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Persyaratan magang dan pertanyaan-pertanyaan mengenai program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org

Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global)

Bincang Sore Rumah IVAA, 13 Juni 2016

Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global)

Dalam seri Diskusik (Diskusi Asik) kali ini Roemansa Gilda bekerja sama dengan Rumah IVAA menyelenggarakan Bincang Sore dengan tema Pasar Seni (Redefinisi Go International). Diundang dalam diskusi ini dua pembicara yaitu Rully Sabhara (musikus, praktisi musik, berkarya di Zoo, Senyawa, Raung Jagat) dan Ismail Basbeth (sutradara, praktisi film). Beberapa karyanya Another Trip to The Moon, dan Mencari Hilal yang diajak untuk menggali wacana ‘go international’ melalui cara pandang dan pengalaman mereka. Rully dan Ismail berbicara bahwa tidak hanya keberuntungan, namun juga kerja keras, sikap profesional, pembangunan, pengelolaan jaringan, hingga pengembangan potensi merupakan beberapa hal penting yang membuat karya mereka dikenal di dunia internasional. Selain itu diundang pula Irham Anshari (Penggemar Film dan Peneliti SOAP: Study On Art Practice) sebagai penanggap yang berbagi hasil penelitiannya tentang fenomena ‘go international’.

Ketika menempatkan perbincangan ini dalam konteks hubungan geopolitik, Irham menyampaikan pandangan kritisnya bahwa penyelenggaraan program internasional tidak pernah lepas dari politik budaya suatu negara, baik berupa motif promosi negara serta dalam rangka menggeser pusat kebudayaan. Meski di sisi lain, kemandirian para aktor-aktor budaya, seperti para pembicara di atas tetap perlu kita apresiasi. Karena pada akhirnya, menjadi bagian dari dunia internasional bukanlah satu-satunya tujuan. Tujuan utama tetap terletak pada proses, hasil berkualitas serta strategi di tengah jalan dalam menghidupi idealisme dan kreatifitas di tengah dunia yang sudah sedemikian pragmatis.

Foto dokumentasi Bincang Sore Rumah IVAA: Diskusik – Jalin Jual (Jalan Licin Menuju Global) dapat dilihat melalui tautan ini.

Koleksi Baru Perpustakaan IVAA!

Sorotan Koleksi Perpustakaan Januari-Mei 2016

mes56Cerita Sebuah Ruang, Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang MES 56

Buku ini merupakan upaya reflektif MES 56 membaca diri dan dibaca orang lain setelah lebih dari 10 tahun berkiprah, dengan mengundang penulis-penulis melihat eksistensi MES 56 dari berbagai sudut pandang, yang lebih luas dari perkara kekaryaan, menempatkan konteks kesejarahan seni dan fotografi.

Buku ini disusun berdasar tiga pokok bahasan, yaitu sejarah fotografi di Indonesia, fotografi dalam konteks seni rupa di Indonesia dan diakhiri oleh upaya reflektif yang bergerak ulang alik melihat sejarah dan pertanyan-pertanyaan mendasar yang muncul dari perjalanan MES 56 sendiri.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Agung Nugroho Widhi
Bahasa  : Indonesia
Penerbit : IndoArtNow
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 770 Soe C

 

Sesudah AktivismeSesudah Aktivisme, Sepilihan Esai Seni Rupa 1994–2015

Buku ini merupakan kumpulan esai-esai kuratorial yang menampilkan kekayaan berpikir Enin Supriyanto:

  1. Memikirkan kesejarahan (seni rupa) seperti dalam Belajar dari feminisme; Tak Perlu Mencetak dengan Darah; Yang Terus Putus dan Retak; Ibu Seni Rupa Modern Indonesia?; Ihwal Kritik Seni Rupa yang Berwibawa.
  2. Reflektif terhadap ranah seni rupa secara garis besar berikut beserta infrastrukturnya seperti dalam Lorong-lorong Alternatif; Mencari Jejak, Mencari Pijakan, Mencari Ruang; Bulutangkis, Seni Rupa, dan Fisika; Omong-Omong Soal Pembangunan Kesenian; Boom! Belasan Tahun Kemudian.
  3. Menjadi pengamat sekaligus pencatat perkembangan senirupa Indonesia dalam perspektif seorang kurator seperti dalam Seratus Tahun untuk atau Satu atau Dua Wacana; Reformasi, Perubahan dan Peralihan; Bingkai Waktu (Catatan tentang Masa Lalu, Sejarah, dan Seni Rupa Indonesia); Menjadi Kontemporer, Menjadi Global.

Dari sejumlah naskah praktik kekuratorannya bisa dikenali apa saja latar belakang kerja kekuratoran Enin jalankan, dan bagaimana manifestasinya dalam bentuk esai kuratorial.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Enin Supriyanto
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Hyphen
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Sup S

 

obat kuatObat Kuat

Buku ini berisi kumpulan iklan obat kuat selama 100 tahun yang dikumpulkan dan dijadikan bahan penelitian oleh Malcom Smith, serta direproduksi ulang sebagai karya oleh Krack Studio. Proyek berjudul Obat Kuat ini merupakan proyek lanjutan dari Tanah/ Impian (Dream/ Land), yang mengeksplorasi sejarah iklan cetak di Indonesia, dan secara khusus melihat bagaimana iklan mencerminkan dan membangun bayangan-bayangan kultural di Indonesia. Iklan obat kuat sendiri dilihat sebagai cerminan pemahaman masyarakat Yogyakarta mengenai gender, seksualitas, dan hasrat, yang memperlihatkan adanya dominasi konstruksi maskulinitas di Yogyakarta. Bahkan bisa dilihat hingga hari ini bagaimana spanduk berbicara mengenai penolakan terhadap homoseksual dan represi terhadap kelompok-kelompok perempuan.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Malcolm Smith
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Krack Studio
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 702 Smi O

 

Between DeclarationsBetween Declarations and Dreams: Art of Southeast Asia Since the 19th Century

Pameran Seni Asia Tenggara yang dilaksanakan oleh Gallery Nasional Singapore ini merangkum pengalaman banyak seniman di wilayahnya, dengan menangkap keberadaan mereka diantara deklarasi dan mimpi, atau personal dan politikal. Pameran ini mencoba melihat konsep dari seni itu sendiri di Asia Tenggara, tentang bagaimana mereka membagi pengalamannya dan terkoneksi satu sama lain di Asia Tenggara. Serta melihat kejadian yang mempengaruhi produksi dan bagaimana seni disambut di Asia Tenggara.

Buku yang disumbangkan oleh Resource Centre of National Gallery Singapore ini diterbitkan tahun 2015 berisi 4 tulisan kuratorial setebal 291 halaman.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Low Sze Wee
Bahasa : English
Penerbit : National Gallery Singapore
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Wee B Ref

 

perjalanan Seorang KolektorPerjalanan Seorang Kolektor Seni Lukis Modern di Indonesia

Buku yang disumbangkan oleh Hendro Tan untuk Perpustakan IVAA ini menampilkan lebih dari 60 karya koleksi Jusuf Wanandi yang dikumpulkan selama 30 tahun. Koleksi Jusuf Wanandi ini masuk dalam kelompok seni modern dalam batasan yang mengacu pada Barat – mengingat modernisme pada sejarah seni lukis Indonesia sangat berbeda dengan Barat. Selera pribadinya tidak mewakili kekhawatiran banyak orang mengenai ambiguitas seni lukis Indonesia. Melalui katalog ini kita diajak untuk tidak canggung mengapresiasi seni lukis ‘bervisi lama’ tersebut.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Garrett Kam
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Centre for Strategic and International Studies and Neka Museum
Tahun Terbit : 1996
No. Panggil : 701 Wan A ref