Category Archives: Kabar IVAA

Batas yang Tidak Ada

Presentasi Penelitian “Gazing at The Other: Orientalism, Dance Bodies and Myth about the Exotic Self”

Penulis: Annisa Rachmatika (Peserta Magang IVAA dan Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa)

“Selama ini kalo ngomongin sejarah tari modern atau kontemporer, selalu dipisahkan. Ini Barat ini Timur. Saya bilang enggak! Ini dua-duanya berkaitan! Barat dan Timur sebenernya tidak benar-benar berbatas, mereka itu saling berhubungan”

Tuturannya dengan nada bicara yang meninggi disertai gerakan tangan yang menegaskan, telah menunjukkan kegelisahan Helly Minarti dalam wacana sejarah tari modern. Dalam proses penelitiannya yang sedang berlangsung tersebut, Helly menemukan pola yang mengekalkan batas pemisah antara dunia Barat dan Timur. Temuan ini yang kemudian ditiliknya lebih dalam, hingga menemukan premis bahwa tembok pemisah dunia Barat dan Timur sebenarnya tidak ada.   

Pada diskusi di Cemeti Institute For Art and Society tanggal 18 Juli 2017, Helly menyampaikan bahwa tatapan (gaze) kepada liyan, dalam hal ini tatapan bangsa penjajah terhadap kaum terjajah (Indonesia), menjadi peristiwa yang perlu tercatat pada sejarah tari modern. Lebih detailnya, peristiwa tersebut memiliki andil dalam membentuk estetika tari di Indonesia, dan dunia sekarang ini. Seperti datanya pada kasus Tari Kecak di Bali yang mulanya tidak bernarasi, menjadi bernarasi (bercerita) akibat konsep kolonialisme yang menempatkan Bali sebagai wilayah turistik.        

Estetika tari tersebut menjadi reaksi dari tatapan. Reaksi lainnya nampak pula dalam karya Ruth St. Danis, sebagai orang penting yang tercatat dalam sejarah tari modern dunia. Ruth St. Danis menarikan tarian yang terinspirasi dari Srimpi. Helly menegaskan bahwa yang ditarikan Ruth St. Danis adalah ekspresi diri atas tatapan setelah menyaksikan Srimpi ketika berpergian di Yogyakarta.         

Selain itu, ketika penjajahan kaum Barat mencapai puncaknya di tahun 1889, muncul kegandrungan pada “eksotisisme” sebagai reaksi tatapan di kawasan Eropa. Helly menemukan data bahwa pertunjukkan yang menggunakan kata “eksotis” dalam judul dan menampilkan penari beratribut tari-tarian Jawa seperti, Topeng Cirebon dan lain sebagainya ketika pentas, selalu menarik banyak penonton. Kemudian pertunjukkan empat penari asal Wonogiri (Indonesia) di Universal Exibition Paris, tahun 1889, yang mengispirasi beberapa pelukis dalam berkarya.

Peristiwa yang ditampilkan Helly sebagai data ini menunjukkan bahwa dunia khususnya dalam kesenian tidak benar-benar terpisah, menjadi Barat dan Timur. Pertukaran ide sebagai cikal kemunculan produk. Terjadi peristiwa saling tatap baik pada diri maupun Liyan.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

Pekan Seni Grafis Yogyakarta

Penulis: Dwi Rachmanto

Saat itu (18/7) Yogyakarta diguyur hujan lebat menjelang malam pembukaan Pekan Seni Grafis Yogyakarta (PSGY). PSGY merupakan pameran karya seni grafis yang digagas oleh Studio Grafis Minggiran yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Pembukaannya dimulai pukul 19.00 WIB di ruang pamer Jogja National Museum, pamerannya sendiri berlangsung 18 Juli 2017 hingga 31 Juli 2017.

Malam pembukaan PSGY dimeriahkan oleh pertunjukan musik band-band kenamaan asal kota Yogyakarta, yang mana personelnya kebanyakan adalah pegrafis. Sebut saja Sangkakala, Seek Six Sick, Mulyakarya Band, dan Roll Ringtones, kebanyakan dari personel band-band ini pernah mengenyam pendidikan seni grafis di kampus ISI Yogyakarta. Dan seperti biasa, acara dibuka dengan sambutan perwakilan Dinas Kebudayaan Yogyakarta.

Wacana seni grafis sendiri di Yogyakarta selalu menarik, karena populasi seniman grafis di Yogyakarta bisa dibilang banyak, tetapi aktivitas seni grafis kian menurun. PSGY memiliki harapan untuk bisa menjadi wadah yang mempertemukan para pelaku seni grafis, mempopulerkan kembali seni grafis, sekaligus mewadahi wacana bagaimana mempersatukan antara wilayah seni dan bisnis. Dalam cetak grafis sendiri masyarakat akrab dengan teknik sablon dan stempel karena sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Padahal di dalam seni grafis banyak teknik yang bisa digunakan, dan bisa menjadi bidang eksplorasi seniman. Masuknya seni cetak digital juga menambah satu lembaran teknik cetak yang kini memperkaya eksplorasi seni grafis.

Bambang ‘Toko’ Witjaksono (dosen, kurator, seniman) ditunjuk sebagai kurator PSGY perdana ini. Dalam acara tersebut dipamerkan tak kurang dari 42 karya-karya grafis yang tercipta sejak tahun 1940 hingga 2017. PSGY melibatkan juga Jurusan Seni Grafis ISI Yogyakarta untuk memamerkan 15 karya koleksi kampus.

Menariknya, di dalam pameran ini panitia juga menyuguhkan karya maestro Salvador Dali berjudul “Espana.” Karya ini merupakan koleksi seniman komik dan tato ‘Atonk’ Sapto Raharjo. Menurut keterangan Bambang ‘Toko’ Witjaksono, karya grafis Salvador Dali ini sangat terbatas edisinya karena hanya berjumlah 300. Karya grafis “Espana” ini merupakan duplikat dari karya lukisan Dali sendiri dengan judul yang sama. Lukisan “Espana” diciptakan Dali pada tahun 1938, dan diperbanyak menjadi karya grafis di sekitar tahun 1940-an.

Dalam rangkaian PSGY terdapat pula kegiatan lokakarya 7 teknik cetak dalam seni grafis; yaitu cukil kayu, stensil, alugrafi, photolitografi, etsa, screen printing, dan ukiyo-e (teknik grafis tertua berasal dari Jepang). Program lokakarya ini melibatkan 7 komunitas seni grafis antara lain Grafis Minggiran, Krack! Studio, PQX Studio, Club Etsa, Tori Triastama, Grafis Huruhara,  dan Baren Studio. Digelar pula seminar bertajuk “Perkembangan Seni Grafis dari Teknik Maupun Wacana Seni Grafis di Indonesia” yang sekaligus menjadi kegiatan penutup dari PSGY.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.

“Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” Sebuah Kisah Baru Strategi Kebudayaan

Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana

Budaya tidak boleh dikesampingkan karena budaya yang baik adalah Indonesia hebat,” ungkap pria paruh baya Prof. Panut Mulyono yang masih segar-segarnya menjabat rektor UGM yang baru dalam pidato pembukaan simposium kebudayaan.

Ruangan auditorium pasca sarjana UGM dipenuhi oleh para aktivis dan pegiat kebudayaan pada Kamis (15/6). Ruangan yang sedianya muat oleh 200 orang terisi penuh oleh lautan manusia dari berbagai kalangan. Mereka berkumpul untuk mengadakan diskusi bersama dalam tajuk “Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM.

Simposium kebudayaan kali ini terasa begitu spesial dengan hadirnya Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Kedatangan Hilmar Farid disambut antusias dari para kalangan aktivis dan pegiat kebudayaan yang berkumpul di auditorium. Selama kurang lebih setengah jam Hilmar Farid menyampaikan pidato kebudayaan untuk mengajak setiap lapisan masyarakat lebih peduli dalam mengembangkan kebudayaan nasional.

Menurut Hilmar Farid simposium kebudayaan yang bertajuk strategi kebudayaan ini sudah banyak dibicarakan. Bahkan strategi kebudayaan sudah pernah dicetuskan oleh Ali Moertopo pada masa Orde Baru. Namun, Hilmar beranggapan bahwa strategi kebudayaan ini perlu diadakan terus-menerus karena situasi yang berubah-ubah sehingga perlu dibahas untuk menyesuaikan dengan perubahan keadaan yang sedang terjadi.

“Situasi bangsa kini telah berubah maka strategi kebudayaan juga turut berubah sehingga perlu dibicarakan kembali,” ungkap Aprianus Salam ketua Pusat Studi Kebudayaan UGM. Aprianus setuju bahwa strategi kebudayaan perlu didiskusikan setelah krisis nasionalisme melanda Indonesia. Sehingga bagi Aprianus untuk menanamkan jiwa nasionalisme itu sendiri perlu melakukan pendekatan kebudayaan lewat strategi kebudayaan.

“Strategi kebudayaan berangkat dari Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Hal ini yang perlu dikritisi bahwa kebudayaan itu berkembang bebas jangan diatur oleh undang-undang,” ungkap Hilmar dalam pidatonya. Ini menunjukkan bahwa Himar beranggapan bahwa kebudayaan tidak perlu diatur sedemikian rupa seperti gerak tari yang detail sehingga gerakan tari sama semua. Tetapi pemerintah cukup mendukungnya saja dengan tidak mengekang kebudayaan tersebut.

Dalam pidatonya Hilmar juga menyampaikan strategi kebudayaan yang sangat relevan menurutnya. Bagi Hilmar yang diperlukan dalam strategi kebudayaan adalah mengembangkan budaya literasi dalam masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah berita-berita bohong yang dapat memecah bangsa Indonesia. Sehingga dengan membiasakan masyarakat dengan budaya literasi mereka mampu mengurangi kebiasaan untuk percaya dengan berita bohong. Inilah strategi kebudayaan yang disampaikan Hilmar dalam pidato kebudayaannya.

Mukhtasar Syamsuddin dosen filsafat UGM menyampaikan materi dalam simposium beranggapan senada bahwa kebudayaan itu tidak statis tetapi bersifat dinamis. Sehingga kebudayaan selalu berubah-ubah seturut perkembangan zaman dan tidak bisa diatur. Bagi Mukhtasar melihat kebudayaan yang bersifat dinamis ini perlu adanya strategi kebudayaan untuk mencapai Indonesia yang mandiri.

Hermin Indah Wahyuni seorang dosen ilmu komunikasi UGM dalam materinya di simposium kebudayaan menawarkan strategi kebudayaan lewat Pancasila. Hermin berpendapat bahwa strategi kebudayaan dapat dilakukan dengan cara mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Pancasila sendiri merupakan cerminan dari kebudayaan Indonesia. Sehingga bagi Hermin dengan mengimplementasikan Pancasila dalam strategi kebudayaan juga turut serta mengajarkan tentang nasionalisme.

Salah satu peserta dalam simposium kebudayaan yakni Faiza Mardzoeki seorang pegiat seni menyampaikan gagasannya mengenai strategi kebudayaan. “Untuk memudahkan anak-anak mengetahui tentang Pancasila perlu didekatkan pada sastra, lewat sastra anak-anak dapat belajar untuk mengetahui berbagai macam karakter,” ungkapnya. Bagi Faiza mendekatkan anak-anak pada nasionalisme lewat budaya literasi.

Wening Udasmoro, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM juga menyampaikan materinya tentang strategi kebudayaan. Bagi Wening sudah saatnya nasionalisme perlu dikembangkan dan dibicarakan kembali dalam menetapkan strategi kebudayaan. Hal ini dikarenakan sudah lama Indonesia tidak pernah berbicara tentang nasionalisme hanya seputaran demokrasi saja hingga dampaknya saat ini krisis akan nasionalisme menurut Wening.

Wening juga berpendapat bahwa intolerasansi saat ini berkembang karena lunturnya nasionalisme itu sendiri kurang digelorakan. “Intoleransi berkembang karena para nasionalis sendiri masih belum mau bernarasi sehingga mereka dikalahkan oleh kelompok intoleran yang berteriak begitu kencang,” ungkap Wening. Dalam hal ini Wening mengajak setiap lapisan berani bernarasi menyuarakan nasionalisme untuk mencegah intoleransi.

Hairus Salim yang juga ditunjuk untuk menyampaikan materi dalam simposium kebudayaan ini juga punya pendapat lain. Bagi Hairus perlu diganti dalam penamaan strategi kebudayaan menjadi kebijakan kebudayaan. Hal ini dilakukan Hairus karena strategi kebudayaan kental kaitannya dengan Orde Baru. Supaya tidak terjadi pengulangan dan kesamaan dengan Orde Baru, papar Hairus, maka sebaiknya strategi kebudayaan diganti nama menjadi kebijakan kebudayaan. Sebab kebudayaan saat ini sangatlah berbeda dengan kebudayaan pada masa Orde Baru menurut Hairus.

Sudah banyak strategi kebudayaan yang disampaikan oleh para akademisi yang ditunjuk sebagai pemateri dalam simposium kebudayaan ini. Tujuannya jelas bahwa dengan adanya simposium kebudayaan ini ditawarkan mengenai strategi-strategi kebudayaan dalam menghadapi situasi zaman saat ini. Tawaran-tawaran strategi kebudayaan sudah disampaikan kini tinggal para pegiat kebudayaan bersama masyarakat menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


*Martinus Danang Pratama Wicaksana, (l.1995) mahasiswa asal Surabaya ini aktif berorganisasi sejak SMP. Di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pun ia aktif di Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Natas USD. Di Natas, ia mengawalinya dengan bertanggung jawab sebagai Redaktur Pelaksana hingga kini menjadi Pemimpin Redaksi. Martin memulai magangnya di IVAA pertengahan Juni ini selama dua bulan dan akan diperbantukan dalam Program Biennale Forum yang merupakan kerja sama IVAA-Biennale Jogja tahun ini.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#SorotanDokumentasi Mei-Juni 2017

Oleh: Dwi Rahmanto

Sepanjang Mei-Juni, Yogyakarta menjelma sebagai kota seni super sibuk. Momentum bursa seni rupa megah—Artjog, digunakan banyak pelaku seni sebagai ‘bulan baik’ penyelenggaraan kegiatan. Selama sepuluh tahun penyelenggaraannya, Artjog telah memantik bertumbuhnya kegiatan hingga ruang-ruang seni rupa baru di Yogyakarta. Tak ayal, jika banyak para seniman atau pelaku seni lainnya menyebut moment Artjog sebagai “Lebaran Seni Jogja”. Momen ini menjadi titik bertemunya seluruh penghuni medan seni, mulai dari pelaku, pemerhati, dan pendukung seni rupa hingga pelaku industri kreatif seperti musik dan craft.

Di Rumah IVAA sendiri sejak pertengahan Mei telah berlangsung “Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa”. Acara yang menjadi pembuka dari Festival Arsip di September mendatang, telah menunjukkan partisipasi IVAA pada momentum Yogyakarta kala itu. Lokakarya ini diikuti sekitar 13 partisipan dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa sejarah hingga komikus. Acara berlangsung selama kurang lebih dua minggu, dari pukul 15:00 hingga malam hari, disesuaikan dengan kebutuhan pembahasan. Setelah itu para peserta lokakarya melakukan penelitian mandiri dan beberapa sesi penyuntingan.

Kami selaku Tim Dokumentasi bekerja untuk mengumpulkan dan merekam berbagai peristiwa kesenian. Tidak hanya itu, kami juga bertugas untuk mengelola materi-materi hasil perolehan dari kerja pengumpulan dan perekaman, baik berupa dokumen video, foto, audio, maupun tekstual hingga siap dikelola oleh Tim Arsip dan Pelayanan Publik. Kali ini kami dibantu dua kawan magang, yang sedang kuliah di Universitas Islam Indonesia dan Modern School of Desain. Sejak awal Mei sampai dengan pertengahan Juni 2017 ini kami mencatat telah merekam 63 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan beberapa kota lain.

Dari serangkaian acara dan peristiwa seni budaya yang kami coba dokumentasikan, terdapat satu rapor merah, yakni peristiwa pembredelan pameran drawing “Tribute to Wiji Thukul” oleh Andreas di PUSHAM UII. Sebuah peristiwa yang menandai masih adanya pemberangusan kebebasan berekspresi melalui seni tentu penting untuk kami abadikan. Di sisi lain, ada juga demonstrasi oleh sejumlah aktivis perempuan Yogyakarta atas pameran tunggal Sitok Srengenge yang di laksanakan di Langit Art Space. Sitok seperti kita ketahui, terlibat kasus tindakan asusila yang proses peradilannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di sinilah muncul pertanyaan, apakah pribadi semacam ini patut diamini sebagai seniman, sedangkan seni itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari sisi kemanusiaan. Kami juga merekam acara demonstrasi para alumnus dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang memprotes keberadaan kelompok Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) di ranah civitas akademi ISI Yogyakarta. Demo ini bukan yang pertama, setelah pada tahun 2016 pernah berlangsung demo serupa di kampus tersebut. Dokumentasi dari peristiwa-peristiwa tersebut tersedia di IVAA, dan bisa diakses dengan terlebih dahulu menghubungi Arsiparis IVAA.

Di Rubrik Sorotan Dokumentasi edisi ini kami berbagi rekaman tiga peristiwa (1) “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom” pameran oleh kartunis GM Sudarta di Bentara Budaya Yogyakarta; (2) seminar bertajuk “Meme dan Persebarannya: Diskusi Kritis Mengenai Fenomena Dunia Maya” dengan menghadirkan tiga pembicara: Agan Harahap (seniman), Budi Irawanto (dosen program studi Ilmu Komunikasi UGM), Seno Gumira Ajidarma (dosen Institut Kesenian Jakarta/IKJ) dan dimoderatori oleh Dyna Herlina (dosen Ilmu Komunikasi UNY); dan (3) “Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM.

Simak uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya di bawah ini.


  1. Pameran Kartunis GM Sudarta “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom”
  2. Seminar “Meme dan Persebarannya: Diskusi Kritis Mengenai Fenomena Dunia Maya”
  3. “Simposium Budaya Kebangsaan: Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat” Sebuah Kisah Baru Strategi Kebudayaan

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Seminar “Meme dan Persebarannya: Diskusi Kritis Mengenai Fenomena Dunia Maya”

Oleh: Annisa Rachmatika

27 April 2017, di Hall PKKH UGM kompleks Bulak Sumur, Forum Umar Kayam merespon pesoalan media kini, melalui diskusi berjudul “Meme dan Persebarannya.” Agan Harahap, Budi Irawanto, dan Seno Gumira Ajidarma dipertemukan untuk membaca ulang fenomena Cyber Culture. Ketiganya dipandu oleh Dyna Herlina, seorang pengamat media yang aktif dalam Rumah Sinema.

Diskusi ini dimulai dengan wacana persoalan klasik dunia maya kini, berupa semunya batas kenyataan yang membuat karya,khususnya meme, dapat  diapresiasi dalam perasaan campur aduk, antara lucu, kasihan, merasa bodoh, marah, atau perasaan lainnya.

Sebagai seniman yang memanfaatkan media sosial, Agan Harahap mengaku tidak memiliki tujuan khusus pada karyanya. Dia hanya merespon fenomena masyarakat yang sensitif dengan isu-isu tertentu, tanpa berusaha untuk membela satu kelompok. Misalnya saja karya ikan louhan PKI-nya yang mendapat respon beragam, baik perorangan hingga media berita nasional.

Perlu disadari bahwa ketika karya dipamerkan, benda tersebut berada dalam posisi yang bebas tafsir. Dalam artian, penikmat karya bebas memaknai, tanpa perlu memperdulikan batasan benar salah, serta mempertimbangkan gagasan dari pembuat. Adapun, reaksi emosional seperti tertawa dan lain-lain termasuk bagian dari wujud memaknai karya.

Saat masyarakat memaknai, posisinya menjadi tidak netral. Pengetahuan subyektif yang berperan secara alamiah dalam proses tersebut, menjelaskan bahwa bercanda masuk dalam kategori aktifitas serius. Aktifitas tidak sadar yang melibatkan pemikiran mendalam.             

Budi Irawanto mejelaskan persoalan meme melalui kutipan yang diambil dari buku Richard Dawkins berjudul “The Selfish Gene.” Istilah “meme” pertama kali dikenal pada 1976, sebagai penyebaran gagasan yang bersifat viral. Istilah meme berasal dari kata “minema” dalam bahasa Yunani. Minema berarti sesuatu yang ditiru atau diimitasi. Cara hidup meme diibaratkan seperti gen dalam tubuh manusia, yakni memiliki fase replikasi diri dan berpindah dari seorang ke seseorang. Dengan meminjam kacamata Limor Shifman, Budi pun melihat potensi meme, sebagai alat pembangun fenomena sosial yang diterima bersama. Alat yang mampu mengalahkan rasionalitas para Sarjana.


Annisa Rachmatika Sari, (l.1990) mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta dengan minat Pengkajian Film ini sejak kuliah di Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” sudah mempelajari berbagai metode produksi program televisi dan radio. Sedari SMA tertarik untuk menulis hingga menghantarkan almamaternya menjuarai Lomba Mading antar SMA se-Jateng. Selain itu Nisa juga menyediakan jasa fotografi sebagai penghasilan sampingan. Ketertarikannya pada seni rupa berawal ketika menjadi peserta diskusi Study on Art Practices (SoAP) Ark Galerie 2016. Nisa magang di IVAA sejak akhir Maret, dan mulai Mei lalu mengikuti Lokakarya Penulisan & Pengarsipan Seni Rupa yang IVAA selenggarakan.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Sorotan Pustaka | Mei – Juni 2017

1. Sanggar Melati Suci (1974 – 1994)
Oleh: Santosa

Judul Buku: Sanggar Melati Suci (1974-1994)
Redaksi: A.Hari Santosa, Drs. Rakhmat Supriyono, St Nyoman Sigit, Asbiyantoro
Halaman: 98
Tahun Terbit: 1994
Penerbit: Sanggar Melati Suci

Sanggar Melati didirikan tahun 1979 sebagai sanggar lukis bagi anak-anak. Pendirinya adalah A. Hari Santosa, Moralistyo, dan Wahyu Hardianto. Beberapa pameran yang diikuti dan prestasi yang telah dicapai sanggar Melati Suci di ceritakan dalam halaman awal dalam buku ini.

Buku ini diterbitkan di tahun 1994, bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Sanggar Melati Suci yang ke-15. Buku ini merupakan bunga rampai yang ditulis oleh beberapa penulis baik yang berasal dari kalangan seniman maupun akademisi, dalam tujuan saling mempertukarkan pengetahuan dan pengalaman tentang situasi pendidikan kesenian usia TK dan SD di Indonesia dan sekaligus mengajak kita memikirkan berbagai skenario usaha peningkatan mutunya.

Buku ini berusaha disusun berdasarkan klasifikasi masalah dan urutan artikel yang membahas kiat-kiat, jurus-jurus, maupun telaah cara pendidikan kesenian. Walaupun ada beberapa artikel yang terulang atau hampir sama sebut saja di halaman 31 dan 39 tentang gaya corat-coret pada periodisasi anak usia 2-4 tahun.

Bagian selanjutnya berisi catatan-catatan tentang data penyelenggaraan lomba seni lukis anak-anak tahun 80-an khususnya di Jakarta. Fakta menarik yang dipaparkan di sini adalah bahwa jumlah peserta lomba lukis anak-anak yang diselenggarakan di tahun 80-an senantiasa mencapai angka yang fantastis. Di tahun 1982 misalnya, sekitar 20.000 karya anak-anak masuk ke meja panitia. Sayangnya tidak ditemukan data untuk kota-kota lain di Indonesia. Buku ini juga mencurigai adanya sebuah kencenderungan bahwa dunia seni lukis anak dieksploitasi sebagai komoditas. Dengan mengampanyekan seni lukis sebagai media pengembangan kreativitas anak, sekaligus sebagai sarana hiburan bermanfaat “pebisnis lomba seni lukis anak” lantas menata taktik untuk meraup keuntungan.

Anak-anak belajar melukis ternyata sudah merupakan barang lama di Indonesia. Di Museum Sono Budoyo tersimpan segepok lukisan anak-anak bertarikh 1939 dan 1959. Di tahun 1978 ada pameran 84 buah lukisan anak-anak yang telah 29 tahun di simpan oleh gurunya, Dullah. Kemunculan sanggar-sanggar lukis anak ditengarai sejak tahun 1970-an dan tumbuh subur pada dekade berikutnya. Tercatat pernah ada 30 sanggar lukis anak hanya di wilayah DIY saja. Dari data itu lantas muncul pertanyaan, ke manakah sekarang pelukis-pelukis cilik itu?

2. Decade for Culture of Peace and Non-Violence for The Children of The World 2001-2010
Oleh : Prastica Malinda

Judul buku : “Decade for Culture of Peace and Non-Violence for The Children of The World 2001-2010”
Kurator : A. Agung Suryahadi dan M. Dwi Marianto
Artistik : Basuki Sumariono
Diproduksi oleh : PPPG Kesenian Yogyakarta Vedac, Yogyakarta
Tahun terbit : 2006

Ketika melihat lukisan anak-anak, yang terbayangkan adalah dua gunung dengan matahari di sela-selanya dan di ujugnya terdapat jalan menurun ataupun persawahan yang terkadang dilengkapi rumah atau pohon kelapa. Pola ini seperti pada umumnya terbentuk sejak anak-anakmulai mengenyam bangku sekolah dasar. Barangkali pola ini ada lantaran para guru pendidikan kesenian pun memiliki pola yang sama..

Dalam buku berjudul “Decade for Culture of Peace and Non Violence for The Children of The World 2001-2010,” kita bisa menjumpai lukisan anak-anak dari berbagai negara anggota Unesco. Khususnya yang menjadi peserta pameran lukisan anak berjudul sama, yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta, pada 11-17 November 2006. Gambar-gambar atau lukisan yang dihasilkan oleh anak-anak peserta pameran ini merefleksikan bagaimana kehidupan mereka sehari-hari di negaranya masing-masing. Dari mengamati lukisan-lukisan tersebut, saya melihat betapa besar daya imajinasi dan kreatifitas anak-anak. Anak-anak itu memiliki konsep tersendiri yang jujur dan unik. Mereka juga sudah mampu memadupadankan warna dan berani bermain dengan warna-warna cerah, sehingga menjadi satu lukisan atau gambar yang hidup dan memiliki cerita.

Melihat lukisan para peserta dari Indonesia kita bisa langsung mudah saja terhubung dengan kondisi nyata anak-anak Indonesia. Menarik ketika mengamati karya anak-anak dari Paraguai yang menggambarkan situasi konflik atau peperangan mencekam, namun di lukisan lain mereka ingin memperlihatkan  betapa tabahnya orang-orang Paraguai melalui lukisan matahari yang tersenyum berwarna cerah.

Anak-anak selalu mengisyaratkan kejujuran melalui lukisan, tetapi banyak orang tua abai atas kondisi tersebut. Perlu adanya dukungan dan pendekatan lebih dari orang tua terhadap anak-anaknya termasuk pada aktivitasnya saat melukis untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diri mereka.

3. Aditya Novali
Oleh: Prastica Malinda

Judul buku : Aditya Novali
Penyunting : Agus Darmawan T.
Penerbit : Yayasan Seni Rupa AIA, Jakarta
Tahun terbit : 1996
Dicetak oleh : Graphos Prima, Jakarta

Buku setebal 99 halaman ini menjelaskan tentang bagaimana gaya lukisan Aditya Novali kecil menjelma menjadi Aditya Novali remaja. Buku ini terdiri dari 14 halaman uraian, dan di 85 halaman berikutnya kita bisa menjumpai kumpulan foto karya Aditya Novali.

Pada bagian uraian terdapat narasi pengantar yang ditulis oleh pengamat seni rupa, Agus Dermawan T., di situ ia bercerita soal perjalanan karir melukis Aditya Novali semenjak seniman itu masih kanak-kanakhingga beranjak remaja. Disusul kata pengantar dari Direktur Eksekutif penyelenggara. Selain itu beberapa pihak lain sebutlah sederet nama pelukis hingga pengajar seni pun juga ikut memberikan kata sambutan terhadap karya lukisan Aditya Novali

Gaya lukisan Aditya Novali tak jauh dari kegiatan sehari-hari. Kemampuan melukisnya dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Perubahan-perubahan tersebut bisa dilihat semasa ia kecil hingga beranjak dewasa. Semasa kecil, lukisan Aditya Novali banyak dipengaruhi tema religi, budaya, dan wayang. Aditya Novali kecil memang gemar mendalang, ini yang banyak mempengaruhi gaya lukisannya.

Saat memasuki usia remaja, lukisan Aditya Novali mengajak kita kembali pada ingatan indah pada masa kecil yang secara ironis telah berubah. Di satu sisi terdapat pemandangan yang indah permai, namun di sisi yang lain terlihat adegan kekacauan masyarakat yang ketakutan. Seperti karyanya yang berjudul “Banjir” (1985). Ada pula lukisan yang menggambarkan gelapnya peperangan, seperti dalam lukisan berjudul “Karya Tanding” dan  “Arjuna Wiwaha”, dua lukisan pewayangannya yang ia lukis pada tahun 1989, dan sisi lain kita bisa melihat sisi religius Aditya Novali pada lukisan-lukisannya berjudul “Yesus Naik Ke Surga”,dan “Yesus Memanggul Salib” yang ia hasilkan pada tahun 1983.

Buku ini menceritakan perjalanan seni Aditya Novali sejak ia kecil hingga beranjak remaja, terangkum rapi dalam semacam katalog ini. Membaca buku ini terbilang tidak memakan waktu lama karena buku ini lebih banyak terdiri dari foto-foto karya. Namun saya mengalami sedikit kesulitan untuk memahami beberapa karya Aditya Novali, karena tidak ada penjelasan yang menyertai setiap lukisannya. Meski lukisan Aditya Novali cukup mudah dipahami dengan mengamati obyek apa yang ia lukiskan, namun bagi orang yang awam dengan dunia seni lukis seperti saya, teks penjelasan barangkali akan membantu saya memahami lukisan tanpa harus mengerutkan kening terlalu lama.


*Prastica Malinda Putri (l.1991) adalah lulusan Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia. Linda magang di IVAA atas inisiasi pribadi, bukan karena kewajiban dari pihak kampus. Dan ini bukan kali pertama Linda menjadi sukarelawan, karena ia pernah juga melakukannya untuk Greenpeace. Di luar itu ia memang suka berkegiatan, terlibat pada penyelenggaraan acara seni dan pensi juga tidak hanya sekali dilakoninya. Sejak awal Mei lalu, Linda tekun membantu kerja pengelolaan koleksi pustaka IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Berbagi Pengetahuan dalam Pelatihan di Perpustakaan ISI Surakarta

Oleh: Melisa Angela

Pertengahan Mei lalu IVAA mendapat undangan dari ISI Surakarta, lebih tepatnya dari UPT Perpustakaan kampus, yang dulunya bernama STSI Surakarta itu. UPT Perpustakaan yang setiap tahun memiliki program pelatihan, pada tahun ini mengangkat persoalan budaya digital dan teknologi informasi yang kini tak pelak menjadi dunia yang kita hadapi dan hidupi. Perpustakaan, sebuah tempat di mana sekumpulan buku dan dokumen disimpan untuk kemudian ditemukan oleh pihak yang memerlukan referensi ataupun bukti penguat dalam penelitiannya tidak juga terhindar dari rambahan budaya digital ini. Maka dari itu, supaya bisa menggunakan kemudahan dan alih-alih terjegal oleh kemajuan teknologi ini, tidak ada cara lain daripada menguasainya secara teknis serta memahami konsep-konsep dasarnya.

Pelatihan berjudul “Pengemasan Audio Visual sebagai Bahan Informasi Digital di Media Sosial” ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan kemajuan infrastruktur teknologi informasi kepada para pustakawan, baik yang bekerja di UPT Perpustakaan ISI Surakarta, maupun yang dari luar lingkungan kampus tersebut; juga kalangan umum yang tertarik memperdalam pengetahuannya tentang hal ini.

Di acara ini IVAA diundang sebagai pembicara di hari kedua pelatihan yang berlangsung 16-17 Mei 2017 tersebut. Di hari pertama, pelatihan dipandu oleh Pascalis PW., seorang ahli media/multimedia yang berkecimpung di bidang promosi dan pengembangan brand perusahaan. Sedangkan IVAA dipercaya untuk memberikan pengantar mengenai manajemen pengelolaan dokumen audio visual, hingga teknik-teknik dasar dalam membangun sistem temu kembali (retrievel system) yang baik. Kami pun menyambut baik undangan ini, sebagai kesempatan berbagi pengetahuan dari pengalaman kami mengelola arsip IVAA selama ini. Dwi Rahmanto dan saya bertandem untuk mengisi materi pelatihan di hari kedua, penyampaian saya lebih pada dasar-dasar pembangunan sistem temu kembali dengan mengenalkan konsep-konsep dasar mengenai database, diagram konteks, dan diagram relasi antar entitas. Sedangkan Dwi Rahmanto lebih membahas penyimpanan materi audio visual dan pengemasannya secara sederhana menggunakan aplikasi-aplikasi yang dapat dipasang di telepon pintar.

Pelatihan yang kebanyakan pesertanya adalah staf dari instansi perpustakaan dan pengarsipan pemerintahan maupun swasta ini berjalan dengan baik, kendati acap kali terhambat koneksi internet yang tersendat-sendat. Namun pada dasarnya para peserta mendapatkan gambaran tentang pengelolaan berkas audio visual elektronik. Perbincangan pun masih berlanjut di luar forum resmi setelah pelatihan berakhir.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Pameran Kartunis GM Sudarta “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom”

Oleh: Dwi Rahmanto

Siapa tidak kenal dengan sosok yang mengenakan jas bertambal, dengan topi golf di kepalanya, yang berbicara dengan balon-balon kata mengenai kondisi sosial yang sedang berlangsung di Indonesia? Ialah Oom Pasikom, yang kehadiran pertama kalinya dimuat di Harian Kompas pada April 1967.

Sampai kini terhitung 50 tahun sudah ia konsisten muncul di harian yang terbit berskala nasional itu. Pada 9-15 Mei 2017 Bentara Budaya Yogyakarta memamerkan karya-karya terpilih GM Sudarta, dengan tajuk pameran “50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom.” Di pameran ini dipajang 120 edisi kartun Oom Pasikom yang merupakan hasil seleksi dari semua yang pernah diterbitkan sejak 1967 hingga 2017.

Keseluruhan karya yang sudah diterbitkan sejak tahun 1967 hingga 2017 sudah mencapai 120 edisi. GM Sudarta lahir dengan nama Gerardus Mayela Sudarta, namun setelah berganti keyakinan ia mengubah namanya menjadi Gafur Muhamad Sudarta. Beliau lahir di Klaten, Jawa Tengah, 20 September 1945. Usai menamatkan SMA di Klaten, tahun 1965 ia meneruskan pendidikan ke ASRI Yogyakarta. Meski GM Sudarta sangat identik dengan karya kartun Oom Pasikom, pada mulanya beliau rajin sekali melukis. Sudarta juga pernah menjadi kartunis di majalah Merah Putih, Jakarta 1966. Di tahun yang sama, beliau bekerja sama dengan Pramono merancang diorama Monumen Nasional. Ia juga ikut andil dalam desain pembangunan Monumen Pahlawan Revolusi Lubang Buaya.

Bagai terlepas dari belenggu, kartun Oom Pasikom semakin kritis sejak Orde Baru berakhir. Pandangan dan ide segarnya bercampur dengan celetukan khas, menjadi cerminan dari situasi yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tinggal di Indonesia, menurut Sudarta, ibarat hidup di tengah pasar malam. Ada sandiwara, ada sirkus, ada dagelan, dan sebagainya. Menurut beliau kehidupan sekarang seperti sebuah dagelan, kendati pun terkadang sangat menyedihkan. Kartun sendiri bagi Sudarta menjadi salah satu media kritik yang sangat efektif. Menurut Sudarta, kartun harus bisa mengukir senyum supaya pihak yang dikritik tidak marah. Dalam hal ini kartun digunakan sebagai upaya perbaikan di ranah sosial.

Saat ini GM Sudarta lebih banyak tinggal dan berkarya di Klaten, Jawa Tengah. Pameran ini menurutnya penting sebagai kilas balik sejarah dan perjalanan politik Indonesia. Menyaksikan pameran ini menyadarkan kita bahwa ada peristiwa yang dulu sudah terjadi, yang kini berulang, lagi dan lagi.

| Klik disini untuk melihat video |


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

#SorotanArsip | Dinamika Festival Kesenian Yogyakarta Tahun 1989-2013

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2013 lalu, dalam rangka pembuatan buku “25 Tahun Festival Kesenian Yogyakarta: Refleksi, Retrospeksi, Reposisi,” IVAA mendapatkan banyak sekali arsip terkait Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Total 10.335 berkas digital terkumpul dan terarsipkan di IVAA. Arsip-arsip tersebut terdiri dari foto, video, audio, kliping media massa, poster, undangan, proposal terkait FKY sejak tahun 1989 sampai 2013. Selain merupakan koleksi dokumentasi IVAA, arsip lainnya diperoleh dari berbagai sumber diantaranya; Taman Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Komunitas Gayam 16, Keluarga Bagong Kussudiarjo, Dewan Kesenian Yogyakarta, Panitia FKY, Arief Sukardono, Timboel, Aji, dan Bambang Paningron.

Daftar inventaris arsip Festival Kesenian Yogyakarta dari 1989-2013 dapat dilihat dalam tabel berikut: http://bit.ly/arsipfky. Untuk mendapatkan file-file arsip FKY, silakan menghubungi alamat surel Arsiparis IVAA, archive@ivaa-online.org.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

Bioscil 10: Berkunjung ke Dipowinatan

Oleh: Putri Ratna

“Bioscil” merupakan kependekan dari bioskop kecil dan keliling. Layaknya bioskop namun dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kecil yang juga dimaksud di sini menunjuk pada segmen publik yang ingin dilibatkan, yakni anak-anak. Keliling merupakan salah satu konsep yang ditawarkan Bioscil, yang pada mulanya dimaksudkan untuk memfasilitasi penonton usia anak di lokasi yang jauh dari bioskop.

Sebagai ruang alternatif menonton film, Bioscil diinisiasi oleh duo seniman asal Yogyakarta yaitu Hindra Setya Rini (Hindra) dan Rifqi Mansur (Kiki) sejak akhir tahun 2011. Selain sebagai ruang alternatif menonton film-film pendek yang inspiratif, harapannya Bioscil dapat memfasilitasi proses pertemuan kreatif dan interaktif anak-anak dan remaja.

Berawal dari banyaknya anak-anak dari Dipowinatan dan sekitar Rumah IVAA yang sering main game online melalui telepon pintar mereka dengan memanfaatkan wifi IVAA, beberapa orang dari IVAA kemudian terpancing untuk membuat pemutaran film dengan tema yang dekat dengan dunia anak, termasuk soal game online. Pada 18 April 2017 lalu, Bioscil singgah di Rumah IVAA dengan memutarkan dua buah film yang berjudul “Ayo Main” garapan Bambang ‘Ipoenk’ KM dan “Singsot” garapan Wahyu Agung Prasetyo.

Melalui program Bioscil ini, IVAA berupaya mendekatkan diri pada warga sekitar, terutama anak-anak yang sering datang di Rumah IVAA, namun minim interaksi.  Selain sebagai ruang apresiasi, program ringan semacam ini utamanya menekankan pada indahnya interaksi.


*Putri Ratna Dewi Werdiningsih, mahasiswa angkatan 2013 Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang banyak terlibat kegiatan kemahasiswaan di kampusnya; antara lain tergabung dalam Komunitas Lensa 18, Paduan Suara Miracle Voices V, dan Kampung Komunikasi. Dalam magangnya di IVAA sejak awal Maret hingga akhir Mei 2017, Putri membantu kerja pendokumentasian kegiatan seni dan pengelolaan hasil dokumentasi.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.