Category Archives: Kabar IVAA

Musrary #10 Sombanusa

Oleh Didit Fadilah (Kawan Magang IVAA)

Sombanusa ialah nama panggung dari pria bernama asli Muhammad Asy’ari. Pria kelahiran Ambon ini menggunakan bahasa Tana, bahasa asli daerah-daerah Maluku, untuk menamai proyeknya ini. Sombanusa sendiri terdiri atas dua kata yaitu, Somba yang berarti ‘menyembah atau berbakti’ serta Nusa yang memiliki arti ‘pulau atau tanah’. Bimbim, panggilan Muhammad Asy’ari, lantas berpendapat bahwa Sombanusa dapat diartikan sebagai ‘berbakti pada tanah yang kita tinggali’. Sempat memiliki sebuah band di periode 2017 dengan nama Asteroidea, bahkan membuat grup hiphop di tahun 2009. Bimbim kini lebih memantapkan diri untuk bermusik seorang diri agar tak perlu lagi menemui permasalahan-permasalahan internal dalam sebuah kelompok.

Malam itu, Kamis, 29 Maret 2018, Sombanusa bekesempatan hadir mengisi Musrary #10. Membawakan lima lagu dalam penampilannya, Sombanusa juga menyuarakan pandangannya terkait isu hangat yang sedang terjadi di Kulonprogo. Sebagai salah satu aktivis yang ikut terlibat membela petani Temon, Sombanusa cukup sering terlibat dalam beberapa kegiatan yang menyangkut isu penggusuran Kulonprogo. Hal ini pula yang menginspirasi salah satu karya Sombanusa yang berjudul “Gadis dan Telaga”.

Dengan berdiri memegang gitar akustik serta diterangi cahaya lampu, Sombanusa memulai penampilan sederhananya dengan lagu bertajuk “Menyulam Renjana”. Judul yang cukup romantis meskipun tidak demikian dengan alasan di baliknya. Lagu ini tercipta atas keresahan Sombanusa pada sikap pemuda-pemudi yang melupakan diri untuk peduli pada hal yang terjadi di sekitarnya. Di masa kini, masa yang menurut Sombanusa tidak baik-baik saja, orang-orang lebih memilih untuk bersenang-senang memuaskan eksistensi diri daripada peduli tentang hal-hal yang tidak benar.

Selanjutnya, “Hikayat Nelayan” lantas lalu dimainkan. Sebuah lagu yang sangat dekat dengan pengalaman pribadi Sombanusa. Sebagai seorang yang besar di Pulau Buru, Sombanusa merasakan terdapat pergeseran kebudayaan di sana. Keresahan atas sikap yang mulai melupakan kegiatan yang bersifat adat membuat Sombanusa menciptakan lagu “Hikayat Nelayan” dengan harapan memunculkan instropeksi atas sikap yang telah dipilih. Dimainkan secara apik dengan ciri khas suaranya, Sombanusa kemudian memainkan lagu ciptaan rekannya.

Sebelum penampilannya ditutup dengan lagu “Bahagia Melawan Lupa”, “Gadis dan Telaga” dimainkan terlebih dahulu. Dengan semangat perlawanan atas isu penggusuran yang terjadi, Sombanusa menjelaskan bahwa lagu ini terinspirasi oleh peristiwa di Kulonprogo. Berisikan narasi tentang cinta yang memiliki makna sangat dekat dengan perdamaian, lagu ini memiliki lirik yang sangat tegas menginginkan perdamaian itu dengan frasa “perlawanan abadi” yang berulang.

Sombanusa ialah sebuah kesatuan utuh tentang perlawanan yang menginginkan perdamaian bagi yang tertindas. Di luar itu, pada Musrary ini pula, selain penampilan musik yang dibawakan dengan sederhana nan intim oleh Sombanusa, diselingi pula dengan sedikit dialog terkait isu yang terjadi di Kulonprogo dari beberapa aktivis yang terlibat. Akhir yang adil tentu yang diharapkan atas peristiwa ini. Mengutip kalimat yang sering dibaca dalam media sosial Sombanusa, “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta”.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

 

Diskusi Lintas Generasi “Setelah Dua Dekade: Seni Setelah 20 Tahun Reformasi”

Oleh Putri R.A.E. Harbie (Kawan Magang IVAA)

Dalam rangka memperingati 20 tahun reformasi, Koalisi Seni Indonesia (KSI) mengadakan diskusi dengan tema seni sebelum dan pasca-reformasi, Senin (27/5) di Rumah IVAA. Sesi diskusi pertama, yang berlangsung dari pukul 13.00-15.30, fokus pada praktik seni pada masa sebelum hingga transisi reformasi dengan moderator Alia Swastika. Muhamad “Ucup” Yusuf, Gunawan Maryanto, Aji Wartono dan Yustina Neni adalah pembicara dalam sesi pertama ini. Sesi kedua lebih membicarakan praktik seni setelah 1998 dengan moderator Brigitta Isabella dari Kunci Cultural Studies. Sesi ini juga menghadirkan 4 pembicara yaitu Fitri DK, Wok The Rock, Heni Matalalang dan Linda Mayasari. Peserta yang hadir juga beragam, dari yang sepantaran usia dengan pembicara di sesi pertama, hingga generasi sesi kedua yang fokus berkarir pada periode tahun 2000an. Diskusi ini diharapkan menjadi jembatan untuk mengatasi kekhawatiran atas gap generasi.

Setelah uraian singkat dari FX Harsono tentang profil KSI, Alia Swastika membuka sesi pertama dimulai dengan mmepersilakan menceritakan kisahnya bersama ASRI, sikapnya dalam menghadapi kerusuhan tahun 1998 hingga terbentuknya Taring Padi generasi pertama. “Ternyata di ruangan tersebut, masih ada teman-teman yang muncul dan kami membuat sebuah organisasi kesenian dan kebudayaan dengan modal buku-buku putih milik kami. Saat itu diberi nama Komite Pemuda Rakyat Perjuangan atau KPRP”, cerita Ucup tentang awal terbentuknya organisasi yang kemudian disebut Taring Padi.

Pembicara kedua yaitu Gunawan Maryanto dari Teater Garasi, yang aktif berpraktik di ranah seni pertunjukan. Gunawan aktif di dunia berkesenian sejak 1994. Saat itu dia tidak begitu mengerti dan menyadari situasi politik yang bergejolak. Gunawan hanya teringat kenangan masa kecilnya, saat disuruh melambaikan tangan pada iringan rombongan presiden Soeharto. Perkenalannya dengan Teater Garasi menjadi permulaan dirinya menjadi lebih peka terhadap politik. Sebagai salah satu aktivitas di kampus, kegiatan Teater Garasi diawali dengan naskah-naskah adaptasi yang kemudian ditampilkan dalam Malam Apresiasi Seni dan Politik sejak tahun 1993. Meski melalui banyak regulasi dan proses pra-sensor terhadap naskah teater mereka, pertunjukan tersebut menjadi katarsis karena didominasi dialog yang tidak mungkin diizinkan berada di luar gedung pertunjukan.

Aji Wartono sebagai pembicara ketiga menceritakan problem represi yang tidak jauh berbeda. Pada masa sebelum reformasi, seluruh musisi wajib memberikan daftar lagu-lagu yang dinyanyikan, tema acara, serta panitia yang bertanggung jawab terhadap kegiatan tersebut. Setiap acara musik selalu dijaga satuan pengamanan. Beberapa teman musisi yang dianggap melanggar, bisa tiba-tiba digiring ke kantor polisi setempat.

Pembicara keempat yaitu Yustina Neni, yang aktif sebagai manajer dan produsen acara seni sejak 1990 dan dikenal sebagai pemilik Kedai Kebun Forum (KKF). Neni bercerita bahwa perencanaan kegiatan kesenian sebelum reformasi tidak selalu wajib mengurus perizinan kepada pihak pemerintah secara formal. Lewat publikasi acara, pihak kepolisian pasti sudah mengetahui pelaksanaan acara tersebut dengan sendirinya. Neni juga menceritakan pengalaman mendapat ancaman misterius via telepon sebelum pembukaan sebuah pameran di KKF.

Sesi ini ditutup dengan tanya jawab. Satu yang menarik, ketika salah seorang peserta diskusi menceritakan pengalamannya menerima kartu pos hasil fotokopi karya Taring Padi saat terjadi konflik horizontal di Sulawesi. Akunya, banyak siswa sekolah menengah di lokasi konflik merasa memiliki harapan baru dari menerima gambar tersebut. Tanggapan berbeda muncul dari Nindityo Adipurnomo, yang juga merupakan seniman pada masa transisi reformasi. Menurutnya seniman tidak melulu merespon tragedi 1998 secara politik. Ada kecenderungan beberapa seniman yang memanfaatkan isu ini sebagai ajang mencari sensasi dan meningkatkan popularitas. Nindityo menekankan bahwa memaknai reformasi seharusnya lebih dalam dari sekedar bumbu-bumbu, tetapi bagaimana fenomena makro ini direfleksikan dalam praktik yang paling mikro.

Tanpa jeda yang terlalu lama, sesi kedua mulai dibuka oleh Brigitta Isabella. Fitri DK menjadi pembicara pertama dalam sesi kedua ini. Fitri menceritakan pengalamannya bergabung dalam organisasi kesenian Sanggar Caping hingga Taring Padi. Meski berkarir pada masa pasca reformasi, Fitri dan rekan-rekannya masih mengalami perlakuan traumatis dari organisasi masyarakat saat pameran Lady Fast 2016 di Survive Garage, Yogyakarta. Mereka disebut melakukan kegiatan asusila dan berbagai kata-kata merendahkan lainnya. Namun pada masa itu, pihak aparat juga tidak memberikan solusi selain mengunci diri di tempat pameran tersebut tanpa melindungi mereka dari oknum-oknum yang mengancam.

Selanjutnya, Wok The Rock membagi perspektif musik setelah reformasi. Wok adalah seniman instalasi dan video, namun dalam diskusi ini lebih fokus membahas kancah musik pada masa tersebut. Di masa awal pasca reformasi, musisi mengalami titik jenuh dari pertunjukan musik yang harus seremonial, akses untuk sampai ke dapur rekaman harus mahal serta banyak lirik yang penuh restriksi. Akhirnya muncul semangat independen untuk membuat pertunjukan kecil seadanya, rekaman dan penggandaan dengan jumlah dan kualitas terbatas, serta distribusi berbasis komunitas.

Kemudian, Heni Matalalang menceritakan perkembangan film pasca reformasi, khususnya film dokumenter. Diakuinya, perkenalannya dengan film cukup traumatis. Saat kelas 3 SD, Heni diwajibkan pemerintah untuk pergi ke bioskop dan menonton film propaganda militer. Heni yang aktif di masa-masa awal berdirinya Festival Film Dokumenter (FFD), menyadari peran film khususnya dokumenter identik  dengan propaganda. Kemudian Heni mencetuskan kegiatan School Docs dengan menontonkan film-film dokumenter ke sekolah-sekolah. Upaya ini dilakukan dengan misi memperkenalkan ulang bahwa dokumenter tidak melulu soal propaganda seperti yang dilakukan oleh Orde Baru. Misi lain yang dibawa adalah menstimulasi lahirnya dokumentaris Indonesia di masa mendatang.

Linda Mayasari menjadi pembicara penutup sesi kedua. Pengalamannya di bidang seni pertunjukan diperoleh dengan pernah bekerja di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), hingga terlibat sebagai peneliti dan kurator Indonesian Dance Festival (IDF). Memori Linda tentang 1998 tidak terlalu jelas karena saat itu masih duduk di bangku SMP, Linda hanya ingat bahwa teman-temannya yang beretnis Tionghoa diamankan oleh aparat saat pecah kerusuhan. Selebihnya Linda justru tidak terlalu menandai reformasi sebagai momentum praktik berkeseniannya secara pribadi.

Sesi ini juga ditutup dengan tanya jawab. Brigita sebagai moderator lebih memprioritaskan respon dari pelaku seni yang segenerasi dengan pembicara-pembicara di sesi kedua. Respon yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan reflektif seputar sejauh apa reformasi benar-benar menjadi tonggak titik balik praktik kesenian yang lebih ekspresif. Dan sejauh apa momentum reformasi dimaknai di seluruh wilayah Indonesia, terutama hingga pelosok daerah Indonesia bagian timur.

Pada akhirnya, reformasi masih menjadi topik yang begitu menarik untuk terus direfleksikan dan dikontekstualisasi. Terlebih memasuki Mei 2018 yang bertepatan dengan 20 tahun reformasi. Begitu banyak acara diskusi mengambil tema serupa, baik dengan irisan politik, sosial, agama, hingga termasuk seni. KSI melihat momentum ini juga sekaligus sebagai ajang sosialisasi peran-peran strategisnya dalam medan kesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

#SOROTANDOKUMENTASI Maret-April 2018

oleh Dwi Rachmanto

Satu pekerjaan penting di periode ini adalah menyeleksi dan mengedit hasil dokumentasi dari tahun 2005-2017, di bantu oleh Sebastian Advent (mahasiswa pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Era digital memang membuat pengambilan foto atau video semakin mudah, kemudian berikutnya yang sangat penting adalah menyeleksi dokumen dengan kriteria standar yang kami terapkan di arsip IVAA. Kami juga dibantu kawan magang bernama Sagita Rani (mahasiswa jurusan fotografi Institut Seni Indonesia Surakarta), secara khusus membantu peliputan dan dokumentasi foto-video. Rani juga mengerjakan repro dokumentasi keluarga Batara Lubis yang berjumlah kurang lebih 800 foto.

Tercatat hingga 10 April kami memperoleh 52 dokumentasi peristiwa seni yang kami rekam sejak awal tahun 2018. Selain peristiwa yang belangsung di Rumah IVAA, kami juga secara aktif meliput acara di luar IVAA sebagai pengayaan arsip IVAA. Pada saat bersamaan, kami juga menginisiasi kerja sama dengan lembaga lain dalam kontribusi arsip mereka. Kami bekerjasama dengan Tyaga Art Management Malang dan Redbase Foundation untuk mengirimkan dokumentasi Pameran Tunggal Citra Sasmita pada IVAA. Sinergi dengan keinginan IVAA untuk aktif dalam distribusi informasi, baik arsip lampau hingga sekarang. Kami menampilkannya di halaman Peristiwa Seni di Online Archive IVAA, diharapkan ini bisa menjembatani penyebaran informasi peristiwa seni yang digagas kawan-kawan perupa dan galeri.

Beberapa highlight peristiwa yang kami catat adalah antara lain Launching Buku Henk Ngantung di Sekolah Pascasarjana UGM, Akuisisi Arsip Keluarga Batara Lubis, Diskusi Gagal 1 Tumbuh 1000 di Mes56, Diskusi Ngaji Dewa Ruci bersama ST Sunardi dan Katrine Bandel di Pondok Pesantren Kaliopak, Pameran Titik Temu di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK), Pameran Dwi Rupa Bumi di Jogja Gallery, Pameran Tunggal Dian Suci Rahmawati di Kedai Kebun Forum, Diskusi Peristiwa dan Romantika di ISI Yogyakarta, Pameran Lukisan Abstrak Ronald Effendi dan Santi Ardi di Musem dan Tanah Liat (MDTL), Pameran Bersama Estetika Domestika di IFI-LIP, Diskusi Buku Melampaui Citra dan Ingatan di Universitas Sanata Dharma, Pameran Tunggal Alie Gopal dan Pameran Tungggal Jupri Abdullah di Taman Budaya Yogyakarta, Pameran Bersama Pengilon dan Pameran Tunggal Budiyono Kampret di Bentara Budaya Yogyakarta.

Dalam periode ini, tidak lupa kami juga aktif upload video dokumentasi di channel Youtube IVAA. 25 video telah bertambah dalam daftar koleksi video kami, antara lain seri diskusi forum Made In Common yang diinisiasi oleh Kunci Cultural Studies dan kolega, wawancara Ong Harry Wahyu, wawancara Keluarga Batara Lubis,  Wawancara dengan Alie Gopal, Musrary #7-#9, Aksi Seni ISI Tolak HTI, Survive Garage – Merayakan Keberagaman, dan Pirsa Kuasa Ingatan.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Ngaji Dewa Ruci: Kondisi Keterjajahan Kita Dewasa Ini

Oleh: Hardiwan Prayoga

Ngaji Dewa Ruci, adalah acara diskusi berkonsep sarasehan setiap Selasa malam di Pesantren Kali Opak, Klenggotan, Srimulyo, Piyungan, Bantul. Acara bertajuk “Ngaji” ini adalah diskusi ilmiah tentang persoalan yang bersinggungan dengan kajian budaya hingga pascakolonial. Tidak mengherankan jika tagline dari acara acara ini adalah “Mendialogkan Ilmu-Ilmu Pesantren, Kaweruh Jawa, dan Humaniora Barat”. “Pengajian” pertama 13 Maret 2018 dengan pembicara St. Sunardi dengan tema “Quo Vadis Kajian Budaya Indonesia?”, kemudian pada 20 Maret 2018 bersama Katrin Bandel dengan topik kajian “Kondisi Keterjajahan Kita Dewasa Ini”. Catatan berikut khusus mengulas tentang edisi diskusi bersama Katrin Bandel yang berbicara mengenai colonial present.

Katrin Bandel adalah salah satu pengajar di Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Karir akademiknya fokus pada kajian seputar pascakolonial, gender, dan kesusastraan. Diskusi malam itu berangkat dari pembacaan atas buku Derek Gregory yang berjudul The Colonial Present. Katrin mengawali dengan bagaimana kajian pascakolonial umumnya diajarkan, yaitu seputar bagaimana kolonialisme dan implikasi kolonialisme terhadap budaya. Tentang bagaimana hubungan yang tidak imbang antara negara-negara terjajah dengan negara penjajah, dengan imbas yang cukup panjang di sektor budaya dan ekonomi. Dalam buku The Colonial Present, ditemukan bahwa peristiwa 11 September (9/11) sebagai momen penting atas apa yang disebut sebagai kolonial atau imperialisme baru. Pasca 9/11 retorika dari Amerika Serikat terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah mulai digencarkan. Retorika ini disebut war on teror.

Menurut Gregory, tindakan menjajah, to colonize, masih terjadi dalam bentuk sangat nyata. Jadi bukan sekadar ideologi imperialis, tetapi memang penjajahan secara fisik masih terjadi. Gregory yang berlatar belakang pendidikan geografi, melihat bahwa batasan geografis bukan sesuatu yang terberi, melainkan berkaitan dengan bagaimana sebuah tempat diambil, yang tidak jarang dengan kekerasan. Salah satu konsepnya yang terpengaruh Edward Said adalah Imaginative Geography. Ini terkait dengan konstruksi stereotype, selalu dikonstruksi bahwa oposisi antara modernitas, yang dikaitkan dengan Barat (kolonial), dihadapkan dengan budaya liyan. Jadi narasi yang muncul selalu “kita vs mereka”. Wilayah-wilayah geografi ini dianggap sebagai papan catur, di mana orang harus berstrategi dengan mengambil, memasuki wilayah tertentu, menguasai manusianya. Gregory mengawalinya dengan melihat ke masa lalu, di mana batas negara selalu warisan kolonial, dan sebagian masalah yang ada sampai saat ini selalu berasal dari momen-momen awal itu. Masalah-masalah yang ada di saat ini sebenarnya berawal dari penarikan garis batas antar Negara, yang berawal dari hanya mengikuti kepentingan kolonial, bukan mengikuti realitas masyarakat setempat.

Barat selalu dikonstruksikan sebagai pusat dunia, dengan kata lain memposisikan diri sebagai pusat dunia yang harus membawa kemajuannya ke tempat-tempat lain. Sementara itu, salah satu spirit dari paskakolonial adalah bahwa masa lalu belum berlalu. Masa lalu yang belum berlalu ini selalu bersifat plural, dalam arti, ada sekian narasi tentang masa lalu. Sekian kejadian di masa lalu, dan pemahaman orang tentangnya kemudian hadir secara riil memengaruhi perilaku orang di masa kini.  Wacana war on terror menjadi usaha baru untuk membuat sebuah narasi tunggal. Di mana otoritas untuk penarasi ada pada pihak tertentu. Dalam kasus pasca 9/11 adalah Amerika Serikat. Jadi ada persoalan penting yaitu narasi tentang geografi, tentang siapa kita-siapa mereka, siapa diri Barat, siapa Timur yang menjadi the Other, juga tentang masa lalu hingga masa kini, dan kemudian persoalan siapa yang punya otoritas untuk bercerita. Ini adalah persoalan relasi kuasa yang sangat penting. Sejak zaman kolonial hingga kini, ruang-ruang tertentu digambarkan/ diwacanakan sebagai asing. Di sini kemudian, Gregory merujuk konsep Edward Said tentang Orientalisme. Orientalisme adalah sebuah repertoar atas sekian imaji yang digunakan sesuai kebutuhan. Pada tingkat lebih lanjut menjadi bangunan arsitektur permusuhan yang performatif. Performatif dalam artian terus-menerus melalui praktik keseharian.

Gregory kemudian fokus membahas bentuk-bentuk awal wacana yang bereaksi terhadap 9/11 di Amerika. Dengan memposisikan diri sebagai korban, Amerika mengajukan pertanyaan, “Why do they hate us?”. Jawaban atas ini dicari pada mereka, pada the Other. Dalam wacana kolonial, selalu penjajah berbicara tentang the Other, yang dijajah, memandang yang lain, memutuskan atau memikirkan bagaimana the Other harus disikapi dengan pandangan yang sangat searah. Pada level selanjutnya, the Other dilihat bukan sebagai manusia dengan kompleksitas historis tertentu, tapi sebagai satu kesatuan yang buruk, yang seakan-akan seperti iblis. Retorika ini kemudian menjadi legitimasi kekejaman, hingga kemudian narasi retorika-retorika berikutnya selalu terasa masuk akal. Dari sekian banyak kelompok manusia dengan ideologi-ideologi yang berbeda, tujuannya berbeda, sejarahnya berbeda, semuanya oleh media Barat disebut sebagai “Islamis”.

Katrin kemudian menyinggung tentang konteks di Indonesia, di mana saat ini pembicaraan tentang ekstremisme cukup mengemuka. Sering kali ada diskusi publik tentang bahaya ekstremisme tidak secara spesifik membedakan antara sekian kelompok dan gejala terkait. Kelompok ini sebetulnya sangat beragam dengan sejarah dan tujuan masing-masing, yang juga berbeda-beda. Katrin mengungkapkan akan jauh lebih menarik kalau dalam hal ini Derek Gregory bisa dijadikan contoh, dengan melihat secara kritis fenomena-fenomena ini, dengan lebih spesifik melihat sejarah dan detail-detail orang/ kelompok yang terlibat di situ. Membaca aspek historisitas kecenderungan retorika masing-masing pelaku, sehingga bisa terlihat konstruksi apa yang sedang dibangun.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Pameran Tunggal Alie Gopal: Main

Oleh: Sagita Rani (Kawan Magang IVAA)

“Main, Bermain, Main-Main” adalah tema dari pameran tunggal Alie Gopal yang diselenggarakan pada 15 Maret – 22 Maret 2018 di Taman Budaya Yogyakarta. Alie adalah perupa yang terakhir kali berpameran tunggal pada tahun 2008. Semenjak itu, Alie merasa memiliki hutang yang harus dilunasi. Berawal dari celotehan beberapa teman saat pembukaan pameran tunggalnya Januari 2008 lalu, bahwa mungkin Alie bisa berpameran tunggal dengan karya-karya khasnya sepuluh tahun lagi. Kalimat itu terngiang terus dalam benaknya, Alie terus berupaya untuk merealisasikannya.

Akhirnya Maret 2018 ini, Alie berhasil melangsungkan pameran tunggal ketiganya, seperti apa yang dibayangkannya sepuluh tahun silam. Pameran bertajuk Main ini menceritakan tentang dunia Alie bermain-main. Bermain dalam berbagai presentasi karya seni rupa dua dan tiga dimensi, dengan medium dan ukuran yang beragam tersaji dalam pameran ini. Karya-karya ini dibuat dalam rentang waktu sepuluh tahun, dari 2008 hingga 2018. Dalam hal karya, Alie mengakui jika dirinya lebih nyaman dengan cara berkarya yang bebas dan tidak berpatok. Ia mengaku sangat senang bereksperimen dengan berbagai media. Bereksperimen melalui berbagai media rupanya telah di lakukan oleh Alie jauh sebelum menjadi seorang seniman. Sejak kecil ia mengakui sering membuat benda-benda di rumahnya menjadi bahan eksperimen. Sedikit banyak inilah yang mengilhami judul dan tema pameran tunggalnya kali ini. Alie bercerita bahwa dengan orang tua berlatar belakang militer, sulit baginya untuk tidak mendapat penolakan keras tentang kecintaan dan gairahnya pada dunia seni. Hingga akhirnya, Alie bersekolah di Yogyakarta untuk mendalami seni rupa, perlahan-lahan dukungan dari keluarga datang juga, hingga akhirnya keluarga kemudian sangat mendukung karirnya.

Jarak tahun antar pameran tunggal yang cukup jauh ini disebabkan oleh berbagai macam alasan. Di samping Alie tetap berusaha konsisten dengan setiap hari terus menerus menghasilkan karya berbentuk apapun. Tetapi, banyaknya ajakan pameran bersama membuatnya bimbang, di satu sisi tidak ingin dianggap sombong jika menolak ikut serta, di sisi lain dia harus mengumpulkan karya untuk pameran tunggal yang sudah dijanjikan pada dirinya sendiri. Adanya kesadaran bahwa eksistensi seorang seniman harus tetap terwujud dalam karya-karyanya, membuat Alie memutuskan beberapa kali “mencomot” karya yang sudah disiapkannya untuk diikutsertakan dalam beberapa pameran bersama.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini pula, Alie lebih sering berperan sebagai partner seniman berkarya. Saat mengikuti pameran bersama pun, karya Alie lebih sederhana dan tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan karya-karya seniman lainnya. Membantu kawan-kawannya untuk mempersiapkan karya dan pameran dalam diskusi yang insentif, bisa jadi membuat Alie kehilangan banyak waktunya sendiri untuk berkarya. Namun, Alie mengakui justru ini adalah proses mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman untuk menghasilkan karya-karya baru. Pameran tunggal ketiganya ini merupakan perwujudan dari proses panjang dan berliku ini, dengan tetap meletakkan imaji-imajinya yang khas.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Pameran Fotografi Sukarno, Pemuda & Seni

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Suatu galeri seni di sudut Alun-Alun Utara menyuguhkan pameran yang tidak biasa. Dianggap tidak biasa karena subjek yang diangkat dalam pameran ini adalah bapak revolusi Indonesia. Tepatnya di Jogja Galery, Seminar dan Pameran Sukarno, Pemuda, dan Seni yang digelar oleh Komunitas Kinara Vidya, resmi dibuka pada 27 September 2017 lalu. Pameran bisa dinikmati pengunjung pada 27-30 September 2017 pukul 09.00-21.00 WIB. Seminar dan pembukaan diisi oleh Mikke Susanto sebagai pembicara sekaligus kurator. Sukarno merupakan pribadi yang menarik untuk ditelusuri. Selain negarawan dengan pidatonya yang menggelegar, Ia menaruh perhatian besar dalam dunia seni. Gairahnya diwujudkan dalam koleksinya yang berjumlah ratusan.

Menurutnya karya seni bukan hanya sebagai hiasan saja, namun juga sebagai wujud perjuangan bangsa. Ia tak hanya berjuang untuk kemerdekaan bangsa, namun juga membuka peluang ruang kreativitas. Sukarno pun turut bergelut dalam pusaran seni rupa Indonesia. Tidak hanya sekadar mengagumi keindahan hasil karya seni rupa, Ia juga bisa menggambar. Siapa sangka jika founding father yang dikenal sebagai orator ulung ini pernah berkata bahwa Ia ingin menjadi pelukis ketimbang presiden.

Perjalanan estetikanya tidak lepas dari peranan sang ibunda, perempuan Bali bernama Ida Ayu Nyoman Ra. Selain itu, Sukarno mulai bergaul dengan banyak seniman sejak kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng, atau sekarang lebih dikenal Institut Teknologi Bandung (ITB). Sejumlah seniman terkenal Indonesia dan berbagai penjuru dunia menjadi kawan akrabnya. Beberapa seniman bahkan didapuk langsung untuk menjadi pelukis istana, sepeti Basuki Abdullah, Dullah, dan Lee Man Fong. Angan-angan nya untuk menjadi pelukis memang tak terwujud, namun koleksinya memberikan makna pada dinamika seni Indonesia. Koleksinya berjumlah ribuan dan masih banyak yang belum sempat terekspos. Koleksi lukisan Sukarno berjumlah ribuan, sampai-sampai Mikke Susanto yang menjadi konsultan kurator lukisan istana kepresidenan, baru mampu mengidentifikasi dua ratusan karya saja. Hal itu dikarenakan senimannya bukan hanya dari Indonesia saja, melainkan dari seluruh penjuru dunia.

Pameran ini menampilkan 130 potret yang menjadi saksi hidup Sukarno, mulai dari kehidupan sehari-hari di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur 56, kegiatan bernegara di istana kepresidenan, maupun lawatan ke luar negeri. Dibalik setiap foto menampilkan kisah yang beragam, seolah-seolah barisan potret yang bercerita pada pengunjung. Koleksi ini merangkum peristiwa dalam periode 1940-1960an. Selain foto-foto reproduksi, buku-buku literatur yang memuat tentang Sukarno dan seni rupa juga ikut serta dalam pameran ini. Pameran ini dihadiri sejumlah pengunjung baik dari pelajar, mahasiswa, jurnalis, dan masyarakat yang memiliki ketertarikan dengan sosok Sukarno dan seni rupa.

Hal menarik ditandai dalam salah satu rangkaian foto, yaitu ketika istana presiden mendapat kunjungan dari tamu-tamu kenegaraan. Sukarno sendiri yang memandu mereka. Ia menjelaskan tiap detil lukisan yang terpampang di ruangan istana. Tamu akan diberi informasi mengenai kisah-kisah dibalik lukisan-lukisan itu mulai dari proses kreatif, siapa senimannya, makna objek lukisannya, hingga perjuangan mendapat lukisan itu. Hal menarik lain perihal interaksi antara Sukarno dan seni rupa adalah dalam kunjungan Sukarno ke luar negeri, Ia selalu menyempatkan untuk berkunjung ke museum seni atau studio milik seniman di negara setempat.

Sukarno juga melibatkan seniman dalam pembuatan ikon-ikon kenegaraan. Langkah ini dimulai dengan menggaet pematung Edhi Sunarso untuk merancang Patung Selamat Datang, Patung Dirgantara dan Patung Pembebasan Irian Barat. Edhi Sunarso merupakan seorang perupa alumni Akademi Seni Rupa Indonesia/ ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta yang diibaratkan sebagai tangan terampil Sukarno. Dalam sub kurasi, ditampilkan foto-foto saat peresmian Patung Pembebasan Irian Barat. Hal ini menujukan seni rupa menjadi bagian penting dalam negara. Oleh Sukarno, melalui seni, bangsa Indonesia diimajinasikan sebagai bangsa yang besar dan kuat.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

[sorotan dokumentasi] Serial Diskusi Agraria #3: Agraria dan Seni sebagai Media Pergerakan: Diskusi Agraria, Seni untuk Melawan

Oleh: M.S Fitriansyah (Kawan Magang IVAA)

Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (KAPSTRA) Fisipol UGM menggelar Serial Diskusi Agraria #3 di Selasar Barat Fisipol UGM, Senin (19/3). “Diskusi tersebut merupakan rangkaian dari serial diskusi sebelumnya. Jadi diskusi diadakan tiga kali, pertama 19 Februari dengan tema Dasar-Dasar Agraria, kedua 5 Maret Agraria dan Industrailisasi, dan terakhir Agraria dan Seni sebagai Media Pergerakan.” ungkap Suci selaku ketua bidang keilmuan. Pada diskusi kali ini KAPSTRA menghadirkan tiga pembicara, yaitu Andrew (Teman Temon), Dwi Rahmanto (Indonesia Visual Art Archive/ IVAA), dan Pitra Ayu (peneliti dan project coordinator Engage Media Yogyakarta).

Diskusi dibuka dengan lantunan lagu Bunga dan Tembok yang dipopulerkan oleh Fajar Merah, dibawakan salah seorang mahasiswa UGM. Lagu tersebut begitu relevan dengan keadaan sekarang di mana perampasan tanah atas nama pembangunan marak dilakukan, begitu sedikit pengantar dari moderator diskusi Asri Widayanti.

Andrew mengawali pembicaraan dengan menceritakan keadaan warga terdampak penggusuran New Yogyakarta International Airport (NYIA). Untuk merespon itu, menurut Andrew, Teman Temon sering melakukan kegiatan. Selain itu seni berperan penting dalam menjalin komunikasi antar warga. “Seni berperan sebagai medium komunikasi dengan warga, dan juga mengomunikasikannya keluar” ungkap Andrew. Andrew mencontohkan, saat mereka membuat mural di salah satu rumah, warga lainnya menyambut dengan ingin juga dibuatkan mural. Andrew dan kawan-kawan mengatakan bahwa tidak menyarankan warga harus ikut seni tertentu, itu hanyalah salah satu cara. Namun, alih-alih seni, Andrew lebih sepakat dengan menyebutnya sebagai produk kreatif.

Pembicara kedua, Dwi Rahmanto yang menguasai seni dan kaitannya dengan agraria mencoba membeberkan catatan-catatan di IVAA, di antaranya merespon isu-isu agraria dan kebutuhan air di kota yang dibalut dalam bentuk aksi dan festival. Menurutnya pembangunan mall dan bangunan vertikal lainnya di Yogyakarta sebenarnya sudah dibayangkan sebelumnya, dan sekarang isu-isu tersebut benar adanya. Dwi menambahakan adanya dorongan karya seni untuk melibatkan masyarakat. Menurutnya ada unsur-unsur bagaimana masyarakat juga berperan, sehingga memang karya seni harus kontekstual dengan masyarakatnya. “Dari hampir semua kemunculan karya-karya itu, kemudian banyak hal yang muncul di sana, salah satunya adalah forum-forum dengan pembahasan spesifik mengenai seni rupa dan sosial” ungkapnya.

Sedang menurut Pitra, ada upaya untuk menggiring orang pada sesuatu. Terkadang menemukan proses pembekuan kerja seni tanpa mengajak pihak-pihak yang mengaksesnya memahami, dan bersama-sama memetakan persoalan. Ini memang, menempatkan seni dalam strata lebih rendah, sehingga jadi betul-betul bisa menjadi alat peraga. “Ada suatu masa yang mempersoalkan seni sebagai alat sehingga ia dihaluskan menjadi medium atau sarana.” Ungkap Pitra. Ia membagi karya menjadi ilustratif, dokumentatif, dan kontemplatif. Katanya, mungkin masalahnya ada pada yang ketiga, ketika mencoba melepaskan diri dari persoalan.

Dari serial diskusi agraria tersebut Suci menyatakan bahwa, tujuan acara ini diadakan agar civitas akademik bisa sadar terhadap berbagai macam isu mengenai agraria. Peserta yang hadir pun tergolong banyak, terdiri dari berbagai macam latar belakang. Suci mengungkapkan bahwa secara akumulatif, diskusi dalam tiga hari ini diikuti total sebanyak 250 peserta.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Musrary #7 Agoni

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Nama Agoni diambil dari kata dasar Agonia yang merujuk pada salah satu tulisan St. Sunardi berjudul “Suara Sang Kala di Tepi Sungai Gajahwong” dalam buku kumpulan esai Vodka dan Birahi Seorang Nabi. Kata Agoni dipilih sebagai representasi dari lagu-lagu mereka. Awalnya ada beberapa rekomendasi dari pemilihan nama, akhirnya dipilih nama Agoni, karena yang dibicarakan banyak mengenai persoalan tentang makna dari kata itu. Diambil dari tiga fase berkesenian; agonia, ekstase, dan joy. Agonia adalah kondisi di mana saat sedang sangat gelisah dan ingin mengungkapkannya tapi tidak bisa. Fase kedua, Ekstase berarti fase di mana si seniman mencurahkan keresahannya lewat media seni. Sedangkan joy adalah satu fase saat sudah selesai membahasakan soal kegelisahan itu.

Mereka merasakan lagu yang lahir dari Agoni itu berasal dari keresahan yang awalnya sulit dibicarakan. Dengan membicarakannya lewat lagu, diharapkan dapat mencapai fase ekstase dan joy. Pendengar diajak untuk merasakan pengalaman yang sama dengan musisi. Akhirnya dipilih fase yang pertama, karena orang cenderung berambisi mencapai joy tanpa melewati fase ekstase dan agoni. Fase agoni cukup penting karena tidak banyak dibicarakan dalam konteks masa sekarang.

Band ini digawangi oleh muda-mudi asal Yogyakarta yakni Fafa (vokal & gitar), Erda (bass), dan Dimas (drum). Agoni dipilih oleh IVAA bukan hanya karena relasi pertemanan saja, melainkan juga ide-ide lewat lagunya yang menarik untuk masyarakat dengar. Lagu-lagu Agoni adalah jelmaan dari perjalanan hidup yang peristiwanya tidak mudah diceritakan. Sejak 2010, Erda dan Fafa hanya sekadar band-band-an, tidak pernah terbayangkan untuk terus ditekuni. Ternyata, Fafa sudah berbakat dalam menulis sejak masih duduk dibagku SMP, dan kemudian mencoba merangkai lirik lebih mendalam. Pada awalnya, Agoni hanya terdiri dua orang, dalam perjalanannya, perlu materi yang lebih lengkap dengan kehadiran drummer. Untuk Musary #7 ini, diajak pula Dicky dan Adam sebagai additional player. Mereka justru menemukan keasyikan dengan berganti-ganti additional player, sebab memiliki warna musik yang beragam.

Musrary #7 merupakan kali pertama IVAA terlibat dalam sebuah acara peluncuran album musik. Berlangsung di Rumah IVAA, Sabtu, 9 Desember 2017. Pertunjukan musik bertajuk Mencari Matahari dilaksanakan dalam launching mini album berjudul Merajut Badai dari Agoni. Sama dengan event-event Musrary yang telah terselenggara sebelumnya, penonton disuguhkan penampilan musik dengan suasana yang intim. Penonton bisa berinteraksi langsung dengan sang musisi.

Malam minggu syahdu penonton disuguhkan 7 lagu dari mini album Merajut Badai, dan satu lagu yang akan ada dalam album full album perdana mereka. Penampilan pertama dibuka dengan “Aku Harap Laguku” yang menyejukan. Lagu kedua adalah “Jantung Kota” yang bercerita tentang keresahan pada kota sendiri. Lagu ini didedikasikan warga Temon, Kulonprogo, masyarakat terdampak proyek pembangunan New Yogyakarta International Airport. Selain perform, juga dijual beberapa merchandise yang keuntungannya disumbangkan pada petani-petani di Kulonprogo yang sedang berjuang mempertahankan hak hidup bersama “Jogja Darurat Agraria”. Lagu berikutnya berjudul “Jurnalis Palsu”, mewakili Fafa dan Erda yang pada saat kuliah aktif dalam pers mahasiswa. Lagu ini terilhami dari pengalaman saat melakukan liputan dan intens bergulat dengan isu-isu yang diangkat.

Musik dipilih sebagai ruang aktualisasi. Menurut Erda, dengan bermusik, ia merasakan apa yang dinamakan katarsis, dan membutuhkannya dalam menjalani kehidupan. Dalam perjalanan karir bermusiknya, mereka sempat “merasa kecil” karena pernah tampil di depan orang-orang yang mereka lawan. Mereka pun pernah mendapat persekusi dari ormas tertentu. Penampilan Sabtu malam itu ditutup dengan lagu “Merajut Badai” yang berkolaborasi dengan Danto (Sisir Tanah), Gonjes (KePAL SPI/ Keluarga Seni Pinggiran Anti-Kapitalisasi Serikat Pengamen Indonesia), Fitri (Dendang Kampungan). Sudah hampir tiga tahun Agoni konsisten mengangkat tema tentang kehidupan manusia, baik dalam masa kegelisahan maupun suka cita. Momentum ini sekaligus dijadikan sebagai penutupan simbolis pada proses penggarapan panjang mini album Merajut Badai.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Musrary #9 Rio Satrio

Oleh: Dwi Rahmanto

Rio Satrio, sejujurnya nama ini masih asing di kancah musik Jogja. Tetapi setelah mendengarkan karyanya, saya yakin musisi ini layak diapresiasi lebih. Dikenal dengan nama panggung Rio Satrio, singer-songwriter asal Samarinda kelahiran 21 Januari 1994 ini bernama asli Muhammad Janwar Rien Satrio. Memulai karir bermusik di usia muda dengan bergabung di berbagai band bermacam aliran. Rio akhirnya menemukan jalur terbaiknya dengan bersolo karir.

Malam 19 Februari 2018 lalu menjadi spesial bagi Musrary #9 dengan kehadiran Rio Satrio. Kali kedua berkunjung ke Yogyakarta sekaligus melakukan mini tour dan mini konser di sejumlah gigs Jogja. Berpakaian serba hitam, dan konser mini dimulai dengan cerita dongeng tentang pengembara dan hujan, juga sosok pria tua dan gubug yang sangat jelek. Dalam kisahnya pengembara dan pria tua saling bertanya setelah melihat hujan sangat lebat, dalam gubug tidak layak huni itu si pengembara melihat si pria tua sangat bahagia dan berteriak. Pria tua sepakat bahwa hujan membawa keberuntungan bagi tanah kita, dan gubug yang hancur bisa dibuat lagi hingga ratusan kali.

Rio Satrio telah merilis sebuah album berjudul Cerita Daun dan Bumi, single dengan judul yang sama menjadi andalan album pertamanya ini. Sisanya berisi 8 single yang menarik untuk didengarkan. Rio membawakan musik folk yang sederhana namun kaya nada. Lirik lagu yang diciptakan biasanya bercerita tentang pengalaman pribadi, kisah orang-orang terdekat, persoalan dan pelajaran hidup, serta kecintaan pada alam. Di akhir mini konsernya, Rio ditantang untuk membuat lagu secara spontan tentang apapun, khususnya yang dia temukan di Rumah IVAA. Lagu dadakan tentang IVAA menjadi penutup meriah dan semakin mencairkan suasana, dibalas dengan tepuk-tangan panjang dan bahagia hadirin Musrary kali ini.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.