Category Archives: Kabar IVAA

Diskusi: Europalia dan Wacana Pseudo Internasionalisme

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pada Jumat, 19 Januari 2018 di Rumah IVAA pukul 15.30, digelar diskusi dengan tajuk “Europalia dan Wacana Pseudo Internasionalisme”. Diskusi tersebut membicarakan dinamika keterlibatan Indonesia di Europalia, sebuah festival budaya dan seni internasional yang diselenggarakan di Belgia dan negara-negara tetangga. Perwakilan seniman dan kurator yang terlibat, yakni Agung Kurniawan, Hestu Setu Legi, Sita Magfira dan Agung ‘Geger’ Firmanto (Lifepatch), serta Alia Swastika hadir sebagai pembicara. Irham Nur Anshari hadir sebagai moderator.

Setelah dibuka oleh Irham, Alia mengawali diskusi ini dengan memberikan penjelasan singkat tentang Europalia. Alia mengatakan bahwa Europalia merupakan acara atau misi kebudayaan untuk kesenian Indonesia di luar negeri. Sebelum Europalia, Indonesia pernah menyelenggarakan misi kebudayaan demikian, 25 tahun silam di era Soeharto pada 1990-1991 dengan nama Pameran KIAS (Kebudyaan Indonesia di Amerika Serikat). Jika KIAS merupakan inisiatif dari pemerintah, Europalia berbeda. Indonesia menjadi negara Asia keempat yang diundang oleh Eropa untuk menjadi tamu setelah Turki, India, dan Cina. Semua pameran dikuratori oleh dua pihak, yakni Indonesia dan Eropa. Bagi Alia, keterlibatan negara dalam situasi globalisasi ini menjadi hal yang menarik.

Namun, bicara soal keterlibatan, Alia menyayangkan adanya ketimpangan dialog, ketika kurator Barat dalam perumusan pameran sudah menawarkan tiga kata kunci konsep yang sulit ditembus. Tiga kata tersebut adalah Archipelago (ke-nusantara-an), Ancestor, dan Biodiversity. Pembiayaan acara yang diberikan oleh Indonesia sekitar 70-80% tidak sebanding dengan keseimbangan perdebatan antara kurator Indonesia dan Barat. Gagasan kurator Indonesia terkait konsep pameran tidak diakomodasi lebih lanjut.

Kemudian Alia sedikit menceritakan pengalamannya ketika menjadi kurator di beberapa pameran saat itu. Salah satunya adalah pameran dari Iswanto Hartono yang digelar di Oude Kerk, salah satu gereja tertua di Amsterdam. Bentuk karyanya adalah patung lilin J. P. Coen, pahlawan besar Belanda, yang dinyalakan di salah satu ruang gereja. Melalui karya ini Iswanto mencoba mengulik koneksi sejarah antara Oude Kerk, yang terkenal sebagai monumen para pahlawan (penjajah); simbol etnosentrisme Eropa pada abad ke-17, dengan masa kolonialisme di Banda. Karya yang dibuat oleh Iswanto ini bisa dilihat sebagai pernyataan politik, apalagi ketika patung lilin J. P. Coen yang dibakar menjadi pembicaraan media nasional dan para akademisi di sana.

Pameran kedua yang diangkat adalah On Paradise yang dibuat oleh Jompet Kuswidananto. Jompet mencoba mencari hubungan antara agama dan politik dengan membuat karya lampu gantung dengan cahaya yang gemerlap. Alia mengatakan bahwa konsep dari karya ini berangkat dari fenomena pemberontakan di Banten pada 1888. Sedikit tentang anti modernisme, tetapi sebenarnya lebih kepada keinginan untuk membangun surga yang utopis. Juga yang menarik adalah ketika masuk ke ruang pameran ini, pengunjung seolah tidak melihat fakta sejarah. Mereka hanya melihat karya visual yang dipamerkan.

Selain Iswanto dan Jompet, Agung ‘Geger’ Firmanto dari Lifepatch juga turut serta memamerkan karya yang dikuratori oleh Alia. The Tale of Tiger and Lion menjadi judul pameran mereka. Melalui pameran ini Sita Maghfira mengatakan bahwa Lifepatch mencoba mengulik hubungan antara dua tokoh kunci sejarah Kolonial Belanda di Indonesia – Hans Christoffel dan Si Singamangaraja XII. Dengan menggabungkan artefak sejarah, materi arsip, dan karya seni, mereka menyampaikan hasil penelitian mereka terhadap koleksi Christoffel (artefak jajahan yang ia bawa ke Belgia) dan temuan di lapangan, yakni daerah Toba, Sumatera Utara. Geger juga menambahkan bahwa Lifepatch ingin menghadirkan narasi sejarah versi pemenang (pemerintah dan akademisi), dan versi lain yang muncul dari kebiasaan atau adat tanah Toba. Sita menambahkan bahwa melalui proyek ini Lifepatch menjadi belajar lebih banyak tentang sejarah, bahwa narasi sejarah tidak pernah tunggal.

Tidak ketinggalan, Hestu Setu Legi juga turut memberikan kontribusi pada ajang internasional ini. Melalui koridor Performance Club, Hestu merespon landscape yang ada di ruang pamer dan sekitarnya. Sesuai ciri khasnya, dengan menggunakan tanah liat untuk membuat mural bentuk pohon lambang kesuburan, situasi industri yang terinspirasi fenomena Kendeng, dan lain-lain.

Di koridor lain, Power and Other Thing, Agung Kurniawan juga memamerkan karyanya. Charles Esche menjadi salah satu kurator yang bekerja bersama Agung untuk proyek ini. Dengan bentuk video mapping, Agung menghadirkan kembali karyanya yang berjudul Gejolak Malam Keramat yang bicara isu ‘65. Apa yang menarik dari karya Agung adalah, ia memilih ruang bawah tanah sebagai lokasi pameran. Bagi dia ruang bawah tanah dimaknai sebagai tempat para tikus bersarang; juga seperti mausoleum (kuburan orang-orang Yahudi), yang mencerminkan perjuangan harkat kemanusiaan. Dalam karya ini, Agung berusaha memaknai koneksi konteks ’65 dengan Eropa yang ternyata ada secara geopolitik.

Setelah cukup lama para pembicara membagikan pengalamannya, sesi diskusi mulai dibuka. Sebuah pertanyaan menarik muncul dari Ngakan Made Ardana. Ia mempertanyakan istilah pseudo yang dipakai; apa yang sebenarnya ingin disampaikan? Kegagalan Europalia? Atau apa?

Pertanyaan tersebut direspon oleh Alia dengan cerita pengalamannya ketika berdebat dengan para kurator Barat. Baginya, label internasional yang disandang Europalia tidak sesuai dengan keterbukaan terhadap kebudayaan lain secara faktual. Alia mengatakan, “Selama proses, standar-standar mereka sulit ditembus.” Maka globalisasi seni tidak terjadi dan konsep internasionalisme yang dibangun masih kuno.

Sedikit berbeda dengan respon Agung yang mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang lain. Ia mengatakan bahwa secara strategis, tujuan dari festival ini belum nampak jelas. Diplomasi kebudayaan yang terlihat perlu untuk diulik lagi. Namun, ada aspek yang cukup melegakan ketika tidak ada batasan untuk seniman yang terlibat. Buktinya, beberapa seniman bisa membuat karya yang cukup sensitif.

Menyambung pembicaraan yang cukup serius ini, Nindityo Adipurnomo ikut bertanya, “Bagaimana dialog bilateralnya? Pertanyaan itu muncul atas kecurigaan terhadap kecenderungan-kecenderungan negara ‘penjajah’ yang ingin mengembalikan artefak-artefak yang telah dicuri. Padahal kita hidup di jaman komunikasi virtual, tapi barang-barang curian itu hendak dikembalikan; barang-barang yang sudah tidak punya konteks. “Ini sama saja menghidupkan mitos yang sudah mati,” ungkap Nindityo. Geger kemudian merespon kegelisahan Nindityo dengan sebuah dialognya bersama Opung Bakara ketika melakukan studi lapangan di Tanah Toba. Ada tiga pandangan dari Opung Bakara terkait artefak dalam konteks kolonialisme dan masa sekarang. Menurut Opung Bakara ada tiga bentuk aktivitas membeli suatu barang: membeli barang dengan membayar, membeli barang dengan barter, dan membeli barang dengan membunuh/ merampas. Bagi beliau, bentuk yang ketiga itulah yang harus diungkap. Bukan persoalan barang, tetapi lebih kepada hal membunuh atau merampas-nya.

Diskusi semakin terkesan serius ketika Linda Mayasari memberikan kritik terhadap para seniman yang terlibat. Berangkat dari pengalamannya yang melihat pameran tersebut secara langsung, ia mengatakan bahwa, “Seniman-seniman di sana dijadikan arkeolog, di-etnografis-kan.” Bagi dia wacana kolonialisme yang masih berkembang kurang diangkat. Agung pun merespon kritik Linda tersebut dengan cukup tegas, bahwa arkeologi itu bukan sesuatu yang cacat. Ia juga merupakan hal besar. “Seniman tidak lebih tinggi dari etnografer. Ia juga bertugas mencatat.” Terkait eksotisme, Agung lebih melihat ini sebagai perjumpaan. “Saya berjumpa dengan rasa kehilangan akan masa lampau,” ungkap Agung. Nindityo, sebagai bentuk keprihatinan, juga menambahkan bahwa kita nampaknya sedang loncat menggunakan legitimasi mereka (Barat) untuk melihat benda-benda kita. Lantas Linda dengan tegas meluruskan apa yang telah dikatakannya dengan, “Aku lebih menekankan pendekatannya, bukan hirarki seniman dan arkeolog.”

Terkait kelanjutan atau pertanggungjawaban dari festival Europalia ini, Agung mengatakan bahwa ia setuju jika pameran tersebut dibawa dan dipamerkan di Indonesia. Baginya pameran itu mampu mengolah aspek intelektual dari benda. Irham menutup diskusi dengan statement yang kurang lebih sama. Harapannya di era globalisasi ini, misi kebudayaan Indonesia tidak terbungkus ke dalam wacana internasionalisme yang semu.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Musrary Edisi ke-6: Slipping Pills

Oleh: Wimpy Nabila F.Z. (Peserta Magang IVAA)

Di akhir Januari ini, menonton konser musik “Musrary” menjadi salah satu alternatif hiburan.  Musrary (Music Library) merupakan program rutin bulanan yang diadakan oleh IVAA. Konsep yang disajikan pada acara ini ialah eksplorasi suara, visual, kolaborasi dengan seniman dan sebagainya untuk merespon ruang perpustakaan IVAA.

Pembeda Musrary dengan acara konser musik lainnya adalah tidak ada pembatas antara penonton dengan performer. Artinya penonton dipersilahkan bertanya dan mengulik tentang karya atau bahkan proses berkarya musisi performer di setiap jeda pertunjukan.

Musrary sempat off selama 2 bulan, akan tetapi pada bulan Desember Musrary kembali  mengadakan pertunjukan dengan menghadirkan Slipping Pills. Mengaku sebagai sebuah ruang untuk bermain dan bergembira, menyiasati dunia yang semakin tua. Dibentuk pada tahun 2011 oleh musisi Teguh Hari Prasetya dan Purnawan Setyo Adi. Slipping Pills beranggotakan Teguh Hari Prasetya (Vokal dan Bass), Hengga Tiyasa (Gitar), Aga Yoga Perkasa (Gitar), dan Gendra Wisnu Buana (Drum). Pada tahun 2012 Slipping Pills telah merilis mini album pertamanya “Kpd. ytc. Lies”.

Dengan dekorasi payung-payung di panggung yang sederhana, menambah kesan teduh malam itu. Slipping Pills membuka pertunjukan dengan lagu yang berjudul “69 di 98”, dianggapnya sebagai lagu politis karena berkaitan dengan negara. Penonton terlihat khidmat menghayati setiap lagu yang dinyanyikan oleh Teguh sang vokalis yang sesekali menghisap rokok. Suasana pecah gelagak tawa penonton menyambar ketika masing-masing personil unjuk kebolehan memainkan alat musiknya. Pesan-pesan yang disampaikan di setiap lagu Slipping Pills sangat dalam.

Dalam Musrary kali ini, Slipping Pills membawakan kurang lebih 8 lagu. Yang menarik adalah ketika Teguh menyampaikan petuah kepada penonton bahwa “Cinta beda agama bukan bagaimana cintanya tapi bagaimana negara sudah masuk ke dalam ranjangnya”. Bisa dibilang lagu-lagu mereka merupakan lagu pemberontakan, salah satunya dengan mengangkat isu terkait pernikahan beda agama di negara Indonesia yang tidak diterima secara sah. Lirik-lirik yang dihadirkan sebagai sindiran, sekaligus pembelaan bagi para penikmatnya.

Di akhir pertunjukan, di tutup dengan penampilan Teguh bernyanyi solo membawakan lagu yang baru saja dibuatnya pagi hari sebelum pertunjukan Musrary dan diberinya judul “perselingkuhan” yang menurut dia sangat zaman now.

 

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Launching IVAA Shop dan Musrary Edisi ke-8: Olski

Oleh: Yeni Arista

Tepat pada 26 Januari 2018 telah dilaksanakan launching IVAA shop. Kali ini IVAA shop muncul dengan wajah baru, dengan tatanan interior yang lebih menarik dan tentu koleksi barang – barang yang bertambah. IVAA shop menjual aneka barang berupa baju, buku, CD dan berbagai pernik lainnya dengan harga bervariasi. Selain itu, IVAA shop juga menerima barang titipan untuk dijual. Apabila anda tertarik untuk mengunjungi IVAA shop atau hendak menitipkan barang yang ingin dijual maka silakan berkunjung ke Rumah IVAA, buka setiap hari Senin–Jumat pukul 09.00-17.00 WIB.

Masih dengan suasana jual beli, pada hari itu juga IVAA mengadakan garage sale, berbagai barang dari gudang IVAA diobral dengan harga yang bersahabat dan bisa dinego. Semua yang dijual adalah barang yang masih layak pakai seperti meja, rak, tape, lensa, monitor dan sebagainya. Pada hari yang sama, Rumah IVAA diramaikan oleh pengunjung yang ingin membeli barang di IVAA shop dan garage sale IVAA.

Masih dengan serangkaian acara yang sama, setelah siang hari disibukan oleh orang– orang yang berdatangan untuk membeli barang, menjelang sore hari ruang perpustakaan IVAA disulap menjadi ruang pertunjukan sederhana. Malam yang dinantikan pun tiba, malam pertunjukan yang akan dimeriahkan oleh Olski. Olski merupakan band dari Jogja, beraliran pop dengan konsep akustik dengan gaya yang manis nan lucu. Pertama kali terbentuk pada tahun 2013, band ini beranggotakan 4 orang :  Febrina Claudya (Vokalis), Shohih Febriansyah (Glockenspil, Pianika, Toy Keyboard), Atika Putri (Perkusi dan Drum) dan Dicki Mahardika (Gitar dan Ukulele). Lagu-lagu yang dibawakan bercerita tentang kehidupan sehari-hari, seperti diary seorang gadis kecil. Olski telah merilis 3 buah single, yaitu “Titik Dua dan Bintang” (2014), “Colors” (2015) dan “Tunggu” (2017). Pada akhir tahun 2017 Olski merilis album pertamanya “In the Wood”.

Sinar lampu remang–remang di ruang perpustakaan IVAA membuat penonton semakin menghayati lagu yang dinyanyikan. Penonton yang memenuhi ruangan IVAA antusias mendengarkan lagu dan candaan di sela – sela penampilan. Penampilan Olski berlangsung sekitar 2 jam dengan menyanyikan 4 lagu, diselingi dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Candra dan Mukti sepasang komika dari Jogja. Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung dengan santai itu ada beberapa hal yang menarik yaitu; walaupun berkarir dalam satu kelompok band ternyata masing–masing dari mereka mengidolai musisi yang berbeda aliran musiknya. Meski demikian, mereka memiliki harapan yang sama untuk tahun 2018 yaitu melakukan konser tunggal. Penampilan Olski dan sesi tanya jawab malam itu diakhiri dengan sebuah pernyataan oleh Dicki Mahardika, bahwa dengan bermusik hal yang “serius” dapat menjadi “fun”, dan hal yang “fun” pun dapat menjadi serius.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

Selamat Hari Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 | Merry Christmas 2016 and Happy New Year 2017

 

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Natal dan Tahun Baru 2018

Menyambut Natal dan Tahun Baru 2017, Perpustakaan & Layanan Publik IVAA tutup pada 26 Desember 2017
dan 1 Januari 2018

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wishes you

a Merry Christmas and Happy New Year 2018
Welcoming the feast of Christmas and New Year 2017, IVAA Library and Public Service closed from December 26, 2017
and January 1, 2018

#Sorotan Arsip September-Desember 2017

Koleksi Arsip IVAA; Poster Peristiwa Seni 1987 – 2015

Oleh: Putri Alit Mranani

Pada 2016, Tim Arsip IVAA dibantu tenaga outsource Esza Parapaga dan Sujatmiko menata ulang serta mendigitalisasikan koleksi poster peristiwa seni yang tersimpan di ruang storage IVAA. Tercatat ada 2.244 poster dalam kurun 1987 – 2015 yang sudah didigitalisasi. Koleksi arsip poster ini diperoleh dari kiriman yang diterima dan dipasang pada papan pengumuman IVAA, serta beberapa poster merupakan sumbangan.

Koleksi arsip poster IVAA yang paling tua adalah poster Pameran Seni Grafis. Pameran itu diselenggarakan oleh Fakutas Seni Rupa dan Desain (FSRD), ISI, Yogyakarta, sebagai pameran tugas akhir Suwarno pada 1987. Di tahun yang sama, terdapat poster bertajuk Forum Komunikasi Seni, yang menginfokan adanya pameran oleh Handrio, V.A. Sudiro, dan Aming Prayitno di Sasana Aji Yasa FSRD, ISI, Yogyakarta.

Tidak semua koleksi poster di IVAA tentang pameran seni rupa. Oleh sebab itu, perlu dikategorisasi sesuai peristiwanya seperti pameran, pertunjukkan, undangan residensi, konser musik, artist’s talk, festival, diskusi, presentasi, bedah buku, workshop, hibah, seminar, konferensi, pemutaran film, peluncuran buku, pembukaan galeri/studio, bazaar, sayembara, penggalangan dana, kompetisi, lowongan pekerjaan, poster band, dan propaganda.

Daftar koleksi poster tersebut dapat dilihat melalui tautan  http://bit.ly/2BsLlVY. Sementara untuk mengakses arsip poter dan koleksi lainnya, silakan membuka tautan http://bit.ly/2nc3vrV. Jadilah KawanIVAA!


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

#Sorotan Dokumentasi September – Desember 2017

Seni Sibuk di Akhir Tahun 2017;
Sekilas Sorotan Dokumentasi

Oleh: Dwi Rachmanto

Salah satu agenda dalam perhelatan Biennale Jogja (BJ) XIV 2017 adalah program bersama komunitas dan galeri seni di Yogyakarta, yang dirangkum dalam Paralel Event. Agenda ini bercabang menjadi 47 program dalam 30 ruang dan melibatkan 300 seniman sepanjang putaran satu purnama lebih, 29 Oktober – 03 Desember 2017.

Kuantitatif event ini cukup membuktikan bahwa Yogyakarta sebagai pusat perhelatan seni rupa di Indonesia. Apresiasi pun tak pernah surut, baik oleh penyelenggara event, seniman, penikmat seni maupun masyarakat umum atas presentasi karya seni yang tanpa henti.

Berjalan mundur dari penyelenggaraan Paralel event Biennale Jogja XIV, kita bisa melihat berbagai kegiatan dengan turunan program dalam jumlah cukup besar. Sebut saja Jogja International Art Festival pada 22 – 26 Oktober 2017. Sejumlah seniman dari Asia –Eropa turut terlibat dalam pameran bersama ini.

Keterlibatan seniman internasional juga terlihat dalam Jogja Street Sculpture Project #2, yang dimulai bersamaan dengan Hari Kesehatan Jiwa Nasional. Event yang dikelola oleh Asosisasi Pematung Indonesia (API) ini, melibatkan seniman patung dari Yogyakarta sendiri, luar kota, dan luar negeri. 54 karya dari 50 pematung menghias wilayah heritage Kotabaru, Yogyakarta.

Sementara itu, Indonesian Visual Art Archive (IVAA) juga urun dalam meramaikan seni di Yogyakarta sejak 19 September – 1 Oktober 2017. Selama 12 putaran matahari itu, IVAA menyelenggarakan Festival Arsip di Pusat Kebudayaan Hadisoemantri (PKKH) dan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Rangkaiannya, selain pameran seni rupa berbasis Arsip yang melibatkan 15 seniman atau kelompok, juga ada pameran komunitas, bursa arsip, dan Seminar Internasional. Secara kuantitatif, keterlibatan seniman, pekerja seni, serta komunitas seni dan budaya tidak kurang dari angka 300.

Dua bulan sebelum IVAA, Studio Grafis Minggiran bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY menyita perhatian warga Yogyakarta selama 18 – 31 Juli 2017. Mereka menggelar Pekan Seni Grafis Yogyakarta untuk kali pertamanya di Jogja Nasional Museum.

522 KM dari Yogyakarta, di Jakarta ada Inaugurasi Museum MACAN dengan judul “Seni Berubah. Dunia Berubah.” Melalui pameran ini, kita diajak menjelajahi koleksi Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) yang memajang 90 karya seniman Indonesia dan internasional sebagai koleksi dari museum itu sendiri. Dikurasi bersama oleh Agung Hujatnika dan Charles Esche, karya-karya yang ditampilkan mengeksplorasi narasi sejarah seni Indonesia dengan dunia dalam kurun waktu 178 tahun.

Di sisi lain ibu kota, perhelatan Jakarta Biennale 2017 dengan judul “JIWA” digelar. Penyelenggaraan event tahunan ini berpusat di Gudang Sarinah Ekosistem, sebuah gudang seluas 3000 meter persegi. Sepanjang 4 November – 10 Desember 2017, rangkaian event ini ingin mempertemukan karya seni dengan lapisan masyarakat yang lebih luas. Beberapa museum pun digaet demi keberhasilan kegiatan Museum Sejarah Jakarta, Museum Tekstil, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Taman Prasasti, dan Museum Wayang.

Jakarta Biennale 2017 dirancang melalui kolaborasi antara Melati Suryodarmo yang bertindak sebagai Direktur Artistik, dengan Annissa Gultom, Vit Havranek, Philippe Pirotte, dan Hendro Wiyanto. Biennale kali ini melibatkan 52 seniman dari dalam negeri maupum mancanegara.

Selain Yogyakarta dan Jakarta, beberapa kota lain juga menggelar event yang serupa dan waktunya tidak terlalu terpaut jauh. Di Makassar kita mengenal Makassar Biennale, yang tahun ini bertajuk Maritim. Event ini dibuka di Pelataran Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar. Selain itu, ada juga Biennale Jatim yang diselenggarakan di Jawa Timur.

Tidak kurang dari 55 event yang berhasil dirangkum oleh Tim Dokumentasi IVAA sepanjang Oktober – November 2017. Dokumentasi itu kini disimpan dan dikelola secara rapi dan tertata. Dari seluruh kegiatan tersebut, Festival Arsip menduduki peringkat pertama dalam hal jumlah agenda, yakni 103 agenda. Pendokumentasi sekian banyak kegiatan itu tidak dilakukan oleh awak IVAA sendiri, melainkan dibantu oleh mahasiswa magang dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, baik dari Jurusan Tata Kelola Seni maupun Media Rekam.



Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

[Sorotan Dokumentasi] Biennale Jogja XIV: Merangkum Peristiwa Sosial dalam Peristiwa Seni

Oleh: Rudi Rinaldi

Biennale Jogja tahun ini fokus bekerja sama dengan negara Brasil, yang secara letak geografisnya sejajar dengan Indonesia, yaitu dilewati oleh garis khatulistiwa. Biennale Equator menjadi upaya nyata untuk membangun definisi baru berkaitan dengan gagasan antarnegara, serta memberikan alternatif terhadap relasi antarnegara dalam kancah globalisasi secara umum.

Pameran Utama

Tujuan dari kerja sama dengan negara dari Benua Amerika tersebut adalah untuk mewujudkan pameran seni rupa sebagai agenda utama dalam gelaran besar dua tahunan ini. Dengan mengangkat tema “Stage Of Hopelessness”, pameran Biennale Jogja XIV: Equator #4 diselenggarakan pada 2 November hingga 10 Desember 2017.

Seluruh gedung pamer Jogja Nasional Museum (JNM) Yogyakarta digunakan sebagai ruang utama pameran yang melibatkan 39 perupa undangan. 27 di antaranya merupakan perupa WNI yang aktif berkarya dalam enam tahun terakhir, 12 sisanya adalah perupa asal Brasil. Tiga di antaranya kemudian mengikuti residensi di Yogyakarta. Pemilihan perupa dari Brasil tersebut berdasarkan rekomendasi Gabriel Bogossian, seorang kurator dan organisasi video asal Brasil.

Bertindak sebagai kurator adalah Sigit Pius Kuncoro, dibantu oleh Forum Ceblang Ceblung sebagai Direktur Artistik. Keduanya bekerja sama merespon ruang pamer dengan format tujuh poin yang bebas diinterpretasi oleh para perupa peserta pameran. Tujuh poin itu adalah Penyangkalan atas Kenyataan, Kemarahan pada Keadaan, Keputusasaan atas Kehilangan, Kepasrahan atas Ketiadaan, Penghiburan atas Kehilangan, Kesadaran pada Keadaan, dan Penerimaan atas Kenyataan.

Selain lukisan, pameran utama ini juga menampilkan beragam medium seperti patung, desain grafis, instalasi, video, dan fotografi. Karya-karya itu ditempatkan di ruang-ruang yang dirancang secara strategis untuk menguatkan masing-masing tema yang disampaikan. Sementara di luar gedung, sebuah karya ditampilkan yang secara eksplisit berintegrasi dengan karya-karya di ruang pamer.

Mencermati karya para seniman, nyaris seluruhnya adalah karya baru. Beberapa karya memang pernah tampil di hadapan publik sebelumnya, namun telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan tema utama pameran. Meski demikian, hal ini tidak akan mengganggu Anda dalam menikmati keseluruhan karya yang dipamerkan.

Agenda Pendukung

Parallel Event diselenggarakan pada 28 Oktober hingga 3 Desember 2017. Program ini terdiri dari pameran di beberapa titik di Yogyakarta dengan merangkul keterlibatan ruang dan komunitas seni yang lebih luas. Pelibatan ini menjadi sangat penting untuk membangun pemahaman bahwa seni bisa dilihat sebagai satu produksi pengetahuan yang tidak hanya ‘terpusat’ pada satu titik tertentu.

Selain agenda di atas, dibentuk pula Biennale Forum sebagai penyelenggara diskusi, kuliah umum, simposium, artist talk, dan workshop yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang kritik serta ruang pembacaan. Agenda ini terlaksana dari 4 November hingga 7 Desember 2017 di beberapa titik di Yogyakarta. Biennale Forum selalu mengangkat tema yang berbeda dan aktual pada setiap sesinya. Hal ini dimaksudkan untuk merespon isu-isu peristiwa seni atau berbagai peristiwa yang sehari-hari menjadi perbincangan hangat di masyarakat kita.

Bagian terakhir dari agenda pendukung pameran utama Biennale Jogja adalah Festival Equator. Diagendakan pada 10 Oktober hingga 2 November 2017, Festival Equator menjadi rangkaian peristiwa untuk mengawali sekaligus mendukung acara sebelum pembukaan Biennale Jogja. Festival ini mengundang beberapa seniman untuk membuat karya yang berhadapan langsung dengan kenyataan sosial. Dengan demikian, diharapkan masyarakat merasakan semangat hajatan berkesenian di tengah dinamika kehidupan sosial.

Tiga Narasi Besar

Sigit Pius Kuncoro selaku kurator secara spesifik menjelaskan 3 narasi besar yang dibangun berkenaan pengelenggaran Biennale Jogja XIV tahun ini, yaitu:

  1. Organizing Chaos

Bagian atau mengorganisasi kekacauan ini menjadi permulaan dari seluruh rangkaian acara yang diwujudkan dalam Festival Equator. Organizing chaos dalam hal ini membicarakan tentang ketidaklaziman yang sulit untuk dimengerti di tengah-tengah masyarakat hingga merebaknya wabah kegilaan sebagai penanda akan terjadinya perubahan.

2. Stage of Hopelessness

Bentuk dari narasi ini adalah pameran utama Biennale Jogja XIV. Di dalamnya terdapat tujuh poin yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.

3. Managing Hope

Bagian ini mengelola harapan, mencoba menawarkan percakapan-percakapan produktif yang dilandasi kesadaran akan hadirnya momen-momen traumatik dalam kehidupan kita sebagai momen estetik.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

[Sorotan Dokumentasi] MACAN di Antara Museum Seni di Indonesia

Dari Grand Launching Musuem Macan
Oleh: Dwi Rahmanto

Haryanto Adikoesoemo, seorang kolektor senior Indonesia, telah menekuni bidangnya kurang lebih 25 tahun. Ia telah mengumpulkan berbagai karya seni rupa, baik dari Indonesia, Asia maupun Eropa. Di antara koleksinya itu, terdapat pula karya-karya dari seniman terkemuka dunia seperti Raden Saleh, I Gusti Nyoman Lempad, Andy warhol sampai Takashi.

Pencapaian selama seperempat abad itu kemudian dipersembahkan dan dipresentasikan dalam Grand Opening The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN) di AKR Tower Level MM, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada 4 November 2017 – 15 Maret 2018. Pameran inagurasi yang menghadirkan 90 karya seniman Indonesia dan Internasional ini memilih tajuk, “Seni Berubah. Dunia Berubah. Menjelajahi Koleksi Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara”.

Pameran yang dikuratori oleh Agung Hujatnika dan Charles Esche ini, menyuguhkan karya berdasarkan periode. Pada periode awal, tampil karya-karya maestro seperti Raden Saleh, Miguel Covarubias, dan Walter Spies. Periode selanjutnya adalah periode kemerdekaan yang diwakili oleh karya-karya Dullah, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, dan Henk Ngantung.

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya-karya dari A.D. Pirous, Ahmad Sadali, Andy Warhol, dan Arahmaiani muncul sebagai representasi periode 1950 – 1960-an. Dan sebagai perwakilan untuk melihat perkembangan periode saat ini, kurator memilih karya-karya dari Cai Gou-Qiang, FX Harsono, Ai Weiwei, dan I Nyoman Masriadi. Untuk pelengkap peristiwa sejarahnya, dihadirkan pula arsip-arsip berupa katalog pameran, kliping berita, dan dokumen terkait perjalanan seni rupa Indonesia dari masa ke masa. Dalam kesempatan istimewa ini, IVAA dan DKJ turut diundang dalam melengkapi arsip pameran.

Pembukaan museum ini merupakan langkah besar dari tumbuhnya infrastruktur seni rupa di Indonesia, selain museum asuhan pemerintah seperti Galeri Nasional dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang berada dalam satu kompleks dengan Museum Fatahilah. Kehadiran museum yang diinisiasi oleh pihak swasta khusus koleksi pribadi ini, juga mengingatkan kita pada Museum OHD yang menyimpan karya-karya seni modern Indonesia.

Tujuan utama dari Museum MACAN adalah sebagai wadah edukasi publik, selain sebagai ruang untuk memamerkan karya. Diharapkan juga, museum tersebut mampu menjadi ikon di level region Asia Tenggara. Kerja keras ini kemudian perlu melihat pada sejauh mana program-program paralelnya mendukung museum tersebut menjadi tempat edukasi yang dinasmis dan eksploratif. Meski sumber dan koleksinya sudah memperlihatkan keberagaman dari sisi sejarah, artistik, dan makna, akan tetapi masih harus dihidup-hidupkan dengan perbagai program.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

#Sorotan Pustaka September-Desember 2017

Judul Buku: Memoar Oei Hiem Hwie dari Pulau Buru sampai Medayu Agung
Penulis: Heru Kridianto (ed.)
Penerbit: PT. Wastu Lanas Grafika
Cetakan: Pertama, September 2015
Tebal: x + 258
Ukuran: 16,5 x 21,5 cm

Cerita atas peristiwa, tokoh yang berhubungan dengannya atau rekaman tentang pengalaman hidupnya yang bisa menjelma menjadi pelurusan sejarah ataupun sebagai sejarah, penting bagi sebuah negeri. Hal inilah yang tampak pada Memoar Oei Hiem Hwie dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung.

Oei Hiem Hwie Lahir 26 November 1935 walau dalam surat dokumentasi tertulis 26 Nop 1938, dilahirkan di Malang, Jawa Timur. Indonesia adalah negara dan kebangsaan yang diperolehnya secara susah payah dan getir. Oei Hiem Hwie memilih menjadi orang Indonesia meskipun ia adalah putra dari seorang papa kelahiran Nan An, Hokkian, Tiongkok.

Kenangan masa kanak-kanaknya di Kota Malang ketika zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan awal kemerdekaan Republik Indonesia. Menjalani zaman ini, bukan perkara mudah bagi seorang yang berasal dari kaum ‘minoritas’ Tionghoa. Kisah-kisah ini mengawali bagian pertama buku tersebut.

Bagian kedua memoar, Hwie yang sudah remaja mulai tumbuh kesadaran politiknya. Ia masuk ke dalam organisasi Baperki dan PPI (1965). Dua organisasi tersebut menjadi ‘rumah’ sekaligus alat untuk mewujudkan isi kepalanya tentang perjuangan menghilangkan diskriminasi, serta bagaimana berintegrasi dengan rakyat lainnya.

Oei Hiem Hwei juga sempat menjadi wartawan di harian Trompet Masjarakat. Aktivitasnya  sebagai wartawan Trompet Masjarakat terhenti berbarengan dengan pecahnya gerakan 1 Oktober 1965. Wartawan-wartawan pengurus PWI pun dipecat dan ditangkap dengan tuduhan sebagai pendukung G30S.

Tanggal 24 November 1965, Hwie ditangkap tentara dengan tuduhan sebagai anggota Baperki dan wartawan Trompet Masjarakat yang berhaluan Soekarnois. Ia ditahan di Kamp Gapsin, Batu. 12 Januari 1966, ia dipindah ke Penjara Lowak waru, Malang, Masuk Blok 10-11. Selama 1970-1978 ia menjadi tahanan politik di Pulau Buru.

Di pembuangan dan penjara ini, ia dipertemukan dengan Pramoedya Ananta Toer. Di masa akhir hukumannya, ia bertemu dengan Haji Masagung dan bekerja di perusahaannya setelah bebas.

Kita bisa belajar dari Pak Hwie bagaimana bisa bertahan hidup, bagaimana menjalani hidup setelah dibebaskan dari penahanan tanpa pengadilan di Pulau Buru, membangun kembali kehidupan pribadi dan sosialnya, serta bagaimana Pak Hwie berkontribusi pada pembangunan untuk menuju masyarakat yang lebih baik. Satu di antara upaya-upayanya adalah mendirikan Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.

Judul Buku: Film, Ideologi, dan Militer
Penulis: Budi Irawanto
Penerbit: Warning Books & Jalan Baru
Cetakan: Kedua, Juli 2017
Tebal: xxxiii + 266
Ukuran: 13×19 Cm

Buku ini berisi kajian semiotik atas tiga ‘film sejarah’, yakni Enam Djam di Jogja (1951) yang diproduksi pada masa Orde Lama, Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar yang diproduksi di masa Orde Baru. Dalam bab awal buku ini, banyak mengulik teori-teori penelitian, metode ataupun cara pandang menggunakan kajian semiotik atas film, khususnya di Indonesia. Penulis juga mengulas teori film dari perspektif substansi film, yaitu film tidak lagi dimaknai sekadar sebagai karya seni, tetapi lebih sebagai praktik sosial serta komunikasi masa.

Buku ini menuturkan bahwa persebaran film pada 1900 dikuasai oleh Eropa dan Amerika. Industri film Barat itu kemudian melakukan ekspansi ke Indonesia pada 1920-an. Sementara pihak yang berwenang melakukan sensor atas film yang masuk ataupun yang diproduksi di Indonesia diatur oleh Belanda. Sistem sensor buatan penjajah ini bahkan dipakai sampai Indonesia merdeka.

Masa-masa awal perkembangan perfilman Indonesia banyak diproduksi oleh etnis Cina. Pada perkembangannya, terutama awal 1960, dua organisasi kebudayaan yang berafiliasi pada partai politik, memainkan peran penting dalam perjuangan dan ketegangan di dunia perfilman Indonesia. Yaitu antara LEKRA dan Manifes Kebudayaan.

Melalui film-film yang diklaim oleh penguasa sebagai film sejarah, keunggulan militer atas sipil sengaja diproduksi. Tiga film sejarah di atas dengan gamblang merepresantasikan keunggulan modus perjuangan bersenjata yang dilakukan oleh militer dibandingkan dengan modus perjuangan diplomasi yang dilakukan elit politik sipil.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

Lokakarya #2 “Jogja Kota Acara”

 

 

 

 

 

 

Dibuka!
Pendaftaran lokakarya penulisan dan pengarsipan seni rupa #2 “Jogja Kota Acara”
Banyaknya acara seni budaya di sekitar kita tentu bukanlah hal baru. Membicarakan ragam tema, sebaran serta posisi strategisnya, kali ini memang bukan kesempatan pertama. Yang dimaksud ‘acara’ di konteks ini merupakan acara-acara yang terbuka untuk publik, yang secara umum sering disebut sebagai ruang seni budaya. Ajakan untuk membicarakan posisi ruang seni budaya di sini merupakan sebuah usaha untuk melakukan pembacaan bersama atas fenomena yang semakin marak dan jauh dari surut. Di atas itu, ini adalah upaya untuk menjaga daya reflektif dan kritis atas perkembangan yang terjadi di sekitar kita. Banyak elemen yang bisa dibahas dan diperdalam dari fenomena ini, mulai dari kaitannya dengan regulasi di tingkat provinsi dan pusat, kaitannya dengan wisata, juga kecenderungan estetiknya. Apakah peningkatan ruang seni-budaya secara kuantitas berbanding lurus dengan mutunya? Sejauh mana ruang seni budaya tersebut mampu menjadi ruang semai pemikiran yang mampu menyediakan cara dalam membincangkan persoalan masyarakat? Atau justru menjadi persoalan itu sendiri?

Persyaratan

  • Peserta berusia max. 35 tahun
  • Memiliki ketertarikan terhadap dunia seni dan budaya
  • Memiliki ketertarikan terhadap dunia penulisan, pengarsipan, dan penelitian
  • Mengirimkan CV dan satu esai terkait tema, 1000-1500 kata.
  • Pendaftar yang terpilih bersedia membayar biaya lokakarya sebesar Rp 150.000,-
  • Bersedia mengikuti seluruh rangkaian program lokakarya penulisan dan pengarsipan yang terdiri dari:
    2 minggu pelatihan (18 – 30 Desember 2017)
    2 minggu penulisan (1 -9 Januari 2018)
    di Yogyakarta.

Ketentuan Lain:

  • Pendaftaran dibuka sampai tanggal 10 Desember 2017 pukul 24.00 WIB. Berkas-berkas terkait dikirimkan ke lokakaryaarsip@gmail.com
  • 10 peserta terpilih akan dihubungi melalui surel dan diumumkan di website dan sosial media IVAA

 

Narahubung : Tiatira (0877-3821-0811)
lokakaryaarsip@gmail.com