Category Archives: Kabar IVAA

Menggambar Masa-Masa

oleh Uray Nadha Nazla

Terhitung selama kurang lebih dua bulan, September-Oktober 2019, saya berdinamika di Yogyakarta untuk belajar bersama IVAA tentang pengarsipan. Tentu ini bukan misi pribadi, tetapi tugas Canopy Center, tempat saya bekerja yang beralamat di Pontianak. Singkatnya, Canopy Center sedang ingin membangun sistem pengarsipan digital. Maka saya dikirim ke IVAA untuk mempelajari pengarsipan. Jadi sorotan arsip kali ini akan sedikit berbeda karena tidak akan mengulas satu-dua konten arsip tertentu, namun lebih menyoroti bagaimana IVAA bekerja mengelola arsip digital, khususnya dokumentasi peristiwa seni. Namun sebelumnya, saya akan bercerita sedikit tentang proses apa saja yang saya alami selama di IVAA, agar kita mendapat gambaran umum soal bagaimana kerja pengelolaan arsip IVAA saling terintegrasi.

Secara berurutan, selama saya belajar bersama IVAA, proses pengarsipan dimulai dari praktik dokumentasi peristiwa, digitalisasi kliping, inventarisasi kliping, mengisi data dan pencatatan arsip. Kemudian dilanjutkan dengan editing website, pengelolaan website (khususnya website organisasi yang meliputi uploading dan pencatatan –metadata dan logging). Rangkaian proses ini terlihat cukup panjang dan rumit, namun sebenarnya bisa dipahami jika mengalami prosesnya satu per satu.

Rangkaian proses kerja pengarsipan inilah yang saya bayangkan untuk diterapkan pada arsip-arsip digital Canopy Center. Untuk Canopy Center sendiri, saya lebih fokus untuk bertanggung jawab mengelola arsip event-event yang pernah terselenggara di sana. Saya mulai dengan membuat tabel profil komunitas yang pernah terlibat dengan Canopy Center, sebagaimana IVAA juga melakukan pendataan semacam ini. Profil memang menjadi salah satu rangkaian informasi yang ada dalam arsip peristiwa seni. Informasi ini berguna untuk menjadi bagian dari catatan perkembangan dinamika ruang-ruang dan komunitas di suatu wilayah. Selain itu pencatatan yang dilakukan adalah arsip poster dan dokumentasi foto-video. Poster dan dokumentasi ini berguna untuk dipublikasikan di website event Canopy Center, yaitu https://voiceofborneo.id/. Informasi poster dan dokumentasi ini berisi profil komunitas dan tema acara. Catatan ini menjadi sangat penting karena menjadi bagian yang merekam perkembangan isu pada event-event yang terselenggara di Canopy Centre. Poin penting lain dari logika kerja pengarsipan ini adalah bagaimana arsip memiliki nilai informasi yang bila saling berelasi akan menjadi nilai bukti. 

Logika pengelolaan arsip digital yang saya pelajari di IVAA ini saya bawa kembali ke Pontianak, sembari merencanakan dan merancang program di tahun 2020. Tentu apa yang saya dapat di IVAA masih sangat mungkin disesuaikan dengan kebutuhan Canopy Center. Inti dari belajar bersama IVAA bukan hanya di perkara-perkara teknis, tetapi pada bagaimana memaknai kerja pengarsipan sebagai siklus. Singkatnya, logika pengarsipan dirancang dalam imajinasi soal bagaimana arsip-arsip ini ingin diakses, baik oleh publik atau Canopy Centre sendiri. Rasanya, kerja pengarsipan memang sangat kontekstual, sangat berangkat dari memaknai arsip itu sendiri dan relasinya dengan publik. Cara pemaknaan ini menjadi pangkal dari keluhan kita soal tidak terkelolanya dokumentasi dan arsip secara rapi.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

Merangkai Rasi dalam Semesta Arsip

oleh Bian Nugroho

“Bila seseorang menatap langit malam tak berbulan di suatu daerah tropis pada musim kemarau, akan tampak kanopi dari bintang-bintang statis, tak ada yang menghubungkan sekumpulan bintang tersebut selain gelap malam dan imajinasi.” -Benedict Anderson-

Saat itu, bersamaan dengan hujan yang turun dengan malu kepada matahari, di sebuah ruang di mana dua orang sedang duduk fokus menghadap laptopnya masing-masing di atas meja panjang, adalah kali kedua saya berada di sana sampai larut malam. Maklum saja, minggu itu IVAA disibukkan dengan tiga acara yang berlangsung secara bersamaan. Pusparagam Pengarsipan, Pekan Budaya Difabel dan Festival Sejarah: Jejak Sudirman (Sudirman Project) di Grogol, Parangtritis, Bantul. 

Sebagai anak magang yang diancam arus hype 4.0 saya sangat antusias untuk berpartisipasi dalam rangkaian acara tersebut. Saya berkesempatan ikut serta dalam acara Pusparagam Pengarsipan yang perdana, membantu teman-teman IVAA menyeleksi tulisan-tulisan para pendaftar guna menentukan siapa saja yang akan jadi partisipan. Selepas menyeleksi beberapa berkas, kami dihampiri oleh Mas Jati, teman magang IVAA pada periode yang sama dengan saya. Tiba-tiba ia melemparkan pertanyaan yang sedang diperdebatkan di grup WA-nya, mengenai perbedaan antara metode dengan metodologi. Malam sudah semakin larut dan perbincangan kami sampai pada pembahasan astronomi.

Pusparagam Pengarsipan merupakan program yang mempertemukan para praktisi yang bekerja dengan arsip atau siapa saja yang memiliki ketertarikan dengan dunia arsip. Dengan tema The Possibility of Socially Engaged Archiving saya berasumsi bahwa tema ini akan mengarah pada upaya melihat bagaimana arah pengarsipan selama ini beserta implikasinya dalam perkembangan pengetahuan-pengetahuan lokal yang ada di tengah ketakutan-ketakutan. Ketakutan gelombang hype 4.0 yang “diberikan” oleh pemerintah dan bagaimana posisi pemerintah melalui Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Sebagai anak magang yang sebelumnya tidak pernah menyentuh dunia arsip, menjadi menyenangkan dapat terlibat dalam Pusparagam Pengarsipan kali ini. Berikut adalah refleksi saya terhadap tema dan dinamika yang terjadi selama acara berlangsung. 

***

Persoalan dekolonisasi dalam negara-negara eks-koloni memang menjadi tema yang menarik untuk selalu diperbincangkan. Hal ini juga terjadi dalam dunia pengarsipan. Pertanyaan yang muncul dalam Pusparagam Pengarsipan kurang lebih adalah bagaimana posisi arsip dalam proyek dekolonisasi negara-negara eks-koloni? 

Ada yang menarik dalam jalannya acara, di sebuah forum diskusi yang mengundang perwakilan dari KUNCI Study Forum & Collective dan Festival Sejarah (Sudirman Project). Saya melihat penawaran alternatif dari mereka untuk memposisikan arsip dalam proyek dekolonisasi. Pertama, KUNCI menawarkan pembacaan arsip ala filsafat pasca modern. Misal, Foucault maupun Derrida melihat makna arsip dari perspektif kuasa dan kontrol. Bagi Foucault, arsip merepresentasikan kuasa untuk menentukan tindakan dan identitas masyarakat, sementara Derrida memaknai arsip sebagai ide hukum yang menunjukkan kuasa otoritas. 

KUNCI sempat mengikuti program residensi di Tropenmuseum di Belanda yang terkenal dengan koleksi arsip Hindia Belanda-nya. Dengan pendekatan pasca modern KUNCI berupaya membedah epistemologi alternatif dan merekayasa jejak-jejak kolonialisme melalui bahasa arsip dan politik ingatan. Dengan demikian arsip-arsip yang di-dekonstruksi oleh KUNCI setidaknya dapat mengusik para pengunjung setelah berkunjung ke Tropenmuseum. Hegemoni Belanda terhadap arsip-arsip tersebut diusik melalui narasi baru yang ditawarkan oleh KUNCI. 

Salah satu program KUNCI pada waktu itu adalah membuat simposium sebagai acara penutup proyek residensi mereka di Tropenmuseum. Simposium yang diberi tajuk “Tropical Dissonance: Decolonizing knowledge through ethnographic archives” mempertemukan para cendekiawan, kurator, dan seniman dari berbagai praktik untuk mengeksplorasi titik temu antara penelitian dekolonialisasi, praktik artistik, dan produksi pengetahuan alternatif. Berfokus pada penggunaan benda-benda etnografis, atau arsip kolonial yang lebih luas dalam formasi pengetahuan dinastik dan pasca dinasistik di Indonesia, KUNCI ingin menjelajahi berbagai warisan yang kerap kali tersembunyi dari masa lalu kolonial ini di masa kini dan dampaknya pada cara memahami dunia saat ini. Para kontributor simposium ini membahas berbagai metodologi mempelajari arsip dan epistemologi kolonial, melalui berbagai pendekatan dan pengalaman sensoris. 

Masih senada dengan apa yang dilakukan oleh KUNCI, masyarakat Grogol, Parangtritis mencoba memahami ulang jejak Jendral Sudirman, mengingat desa mereka pernah menjadi tempat singgah Sudirman ketika masa gerilya. Semua itu dibungkus dalam sebuah festival yang diberi tajuk “Festival Sejarah: Jejak Sudirman yang Tertinggal di Grogol”. Festival ini mengajak kita untuk napak tilas ke lokasi-lokasi yang pernah disinggahi oleh Jendral Sudirman dan mencicipi menu-menu makan kesukaannya. Hal ini menjadi sebuah alternatif bagi kita untuk mengingat bagaimana hegemoni narasi sejarah selalu berbau militeristik/ heroisme, mengeksklusi posisi warga. 

Apa yang dilakukan KUNCI dan warga Grogol dapat menjadi alternatif di tengah agenda dekolonisasi yang digandrungi oleh negara-negara eks-koloni. Kerja-kerja yang “membumi” seperti ini bisa menjadi tamparan keras bagi intelektual-intelektual kelas menengah yang sering memilih untuk berjuang di jalan sunyi mereka. Para intelektual ini acap kali tanpa sadar melupakan aspek terpenting dalam agenda dekolonisasi, yaitu masyarakat negara-negara eks-koloni itu sendiri. Bahkan, tidak jarang masyarakat mendapatkan efek samping dari gejolak yang ditimbulkan para intelektual tersebut. Masih ingat dengan konflik Sejarah Nasional Indonesia? Apa yang dilakukan KUNCI dan warga Grogol menjadi pembeda. KUNCI berusaha mengubah fungsi Tropenmuseum untuk agenda dekolonisasi; melibatkan pengunjung museum dengan cara mengusik mereka melalui pembacaan arsip-arsip kolonial secara dekonstruktif. Lalu warga Grogol yang mencoba merajut sejarah gerilya Jenderal Sudirman yang ada di desa mereka. 

Maka dari itu kita harus menengok kembali bagaimana kerja-kerja pengarsipan selama ini dilakukan. Ditambah melalui pengesahan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, pemerintah mulai melirik untuk memetakan kekayaan pengetahuan tradisional yang dimiliki Indonesia selama ini. Indonesia sebagai negara yang memiliki sejarah panjang perdagangan yang mengandaikan pertukaran informasi khususnya mengenai manfaat dari rempah-rempah yang dihasilkan. Lihat perdagangan kapur barus yang dihasilkan dari wilayah Sumatra ke Mesir sekitar 2500 tahun lalu yang dimanfaatkan sebagai pengawet mayat di Mesir kuno. Namun, mulai sekitar abad ke-16 ada gelombang “arus balik’ kompendium pengetahuan yang dulu mengalir dari Indonesia ke Utara sekarang mengalir dari Utara dengan modifikasi dan kembangan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih ilmiah dan baru, yang membuat kita tidak mengenalnya lagi. Hal ini yang kurang lebih membuat anggapan ketika ingin belajar mengenai kebudayaan Indonesia maka datanglah ke Belanda.

Indonesia dengan kekayaan kompendium seperti itu sebenarnya juga sudah menciptakan beberapa kota besar seperti Aceh dan Makasar, tetapi dengan kontribusi yang minim dan lebih sering menerima gelombang pengetahuan dari Barat. Mengingat untuk menciptakan sebuah kompendium peta pengetahuan tradisional yang emansipatoris dibutuhkan kerjasama antar unsur masyarakat dan para arsiparis pun harus mencoba untuk keluar dari jalan sunyi mereka dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam kerja-kerja pengarsipan. Kompendium pengetahuan tradisional seperti bintang-bintang bertebaran membentuk kanopi di tengah semesta dan tugas arsiparis adalah menyambungkan bintang-bintang tersebut menjadi kanopi yang terintegrasi satu sama lain.

Dengan demikian apa yang akan terjadi dalam kerja-kerja pengarsipan memiliki hubungan aksidental dan kausal dengan koordinat tindakan terkecil yang dilakukan manusia detik ini. Jika boleh saya mengambil kesimpulan, kerja pengarsipan yang membumi adalah mencatat sejarah sebagai praksis dari titik terkecil, hal sepele. Membuka horizon peristiwa lewat momen dari celah kecil, subjek kecil yang sering ‘dinistakan’. Menyingkap kabut-kabut ilusif tentang kekinian yang stabil, tenang, damai, dan mooi yang dicipta oleh status quo keilmuan maupun politik, untuk kemudian sampai pada cerita tentang manusia yang disebut Ong Hok Ham ‘Take a significant individual who is under stress. Follow what happens to that person. That is history”. 

Terima kasih untuk semua yang terlibat dalam proses berkembang saya untuk mengetahui kerja-kerja pengarsipan yang belum pernah saya jamah. Teman-teman magang Muntimun, Fika, Om Jati, Dek Nada, Grady Bin Agus dengan roti bule-nya, dan Firda. Juga teman-teman IVAA Mas San dan Mas Ed atas tempe dan sambal terinya, Mas Yoga, Mas Wis atas dunia ikannya, Kak Ros bersama kremes kiloannya, Mbak Sukma, Papa Dwe dengan tebak-tebakan lucunya dan Mbak Lisis dengan anjingnya yang saya lupa namanya. Juga tak lupa untuk pengunjung di IVAA yang pernah berpapasan, diam, tersenyum, menyapa, marah, bahagia, bersedih dan lupa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2019.

BULETIN IVAA DWI BULANAN | September-Oktober 2019

Pembaca yang budiman, menjelang penghujung 2019 kita seolah dihadapkan dengan keramaian-keramaian yang cukup menyesakkan. Mulai dari keramaian perayaan kesenian, kerusakan lingkungan, hingga riuhnya berbagai aksi massa merespon dinamika politik yang ternyata sama gerahnya dengan musim kemarau tak berkesudahan akhir-akhir ini. 

Di sela-sela keramaian itu, beriringan dengan perhelatan Biennale Jogja XV (20 Oktober-30 November), kami tetap mencoba untuk berbagi amatan melalui e-newsletter IVAA. Di edisi September-Oktober ini, kami coba menilik kembali sesuatu yang mungkin terkesan usang dalam skena seni rupa kontemporer kita. Saking usangnya, ia seolah tidak penting lagi untuk dibicarakan. Ia adalah medium, atau istilah yang kami pilih adalah materialitas karya. Alasannya sederhana saja: kebingungan publik yang kerap muncul ketika menonton karya di suatu pameran seni rupa kontemporer. Memang terdengar usang bagi kita yang bermain di lingkar terdekat ekosistem kesenian, tetapi urusan materialitas karya belum tentu tuntas di hadapan publik. 

Ketika semua benda dan praktik bisa dinobatkan sebagai karya seni kontemporer, gagasan seolah menjadi aspek yang paling penting. Kita perlu ingat bahwa sekuat-kuatnya gagasan seniman, artikulasi paling nyata di hadapan publik terletak pada objek. Memang, jika dihadapkan dengan pernyataan Farah Wardhani dalam “Media, Trend, Alternatif, dan Generasi Baru” (2004), bahwa pada akhirnya seni rupa kontemporer itu seperti assemblage yang selalu dalam keadaan transien, beralih sebelum sempat meraih maknanya, seolah pembicaraan seputar materialitas tidak akan menemukan titik terang. Tetapi dalam konteks relasi karya dengan publik, kami percaya bahwa menilik ulang materialitas karya adalah sebentuk upaya untuk menjaga kesadaran agar tidak tenggelam ketika hanyut dalam keberserakan assemblage tersebut. 

E-newsletter edisi September-Oktober ini tentu tidak akan bisa tergarap tanpa kontribusi penting dari Shifa, Firda, Fika, Bian, dan Jati. Mereka adalah rekan-rekan magang yang telah bekerja dengan keras, seraya tetap melakukan kerja-kerja harian IVAA seperti dokumentasi, pencatatan data buku, transkrip, dll. 

Semoga secuil hasil eksplorasi kami ini dapat menjadi bagian dari upaya kita bersama untuk sedikit menyegarkan obrolan kesenian yang makin lama makin ramai dan makin rumit saja. 

Selamat membaca, salam budaya!
Krisnawan Wisnu Adi


I. Pengantar Redaksi
oleh Krisnawan Wisnu Adi

II. Kabar IVAA
Sorotan Dokumentasi
oleh Krisnawan Wisnu Adi, Hardiwan Prayogo, Sukma Smita, Fika Khoirunnisa, Yulius Pramana Jati, Jafar Suryomenggolo

Sorotan Pustaka
oleh Uray Nadha Nazla, Bian Nugroho, Firda Rihatusholihah, Aisha Shifa Mutiyara, Fika Khoirunnisa, Yulius Pramana Jati

Sorotan Arsip
oleh Hardiwan Prayogo

Sorotan Magang
oleh Vicky Ferdian Saputra, Ratri Ade Prima Puspita 

III. Agenda RumahIVAA
oleh  Dwi Rahmanto, Santosa Werdoyo, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi

IV. Baca Arsip
oleh Krisnawan Wisnu Adi

Tim Redaksi Buletin IVAA September-Oktober 2019

Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana
Redaktur Pelaksana: Krisnawan Wisnu Adi
Penyunting: Krisnawan Wisnu Adi, Hardiwan Prayogo
Penulis: Dwi Rahmanto, Santosa Werdoyo, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi 
Kontributor: Ratri Ade Prima Puspita, Vicky Ferdian Saputra, Uray Nadha Nazla, Bian Nugroho, Firda Rihatusholihah, Aisha Shifa Mutiyara, Fika Khoirunnisa, Yulius Pramana Jati, Jafar Suryomenggolo
Tata Letak & Distribusi: M Fachriza Ansyari

SOROTAN DOKUMENTASI | September-Oktober 2019

Ketika kami datang dengan beberapa pertanyaan seputar materialitas karya seni, Uji “Hahan” Handoko banyak mengaitkan hal kebendaan karyanya dengan mekanisme pasar seni rupa. Beririsan dengan itu, Irene Agrivina berangkat dari fungsi terapan karya seni yang pada tahap tertentu bersinggungan dengan brand-brand massal. Di sisi lain, seniman rajut Mulyana lebih menempatkan materialitas karyanya dalam konteks permenungan eksistensi diri. Berbeda lagi dari sudut pandang kurator. Menurut Arham Rahman, aspek artikulasi dan respon dari objek itu sendiri adalah hal yang tidak boleh dilupakan. 

Selain obrolan bersama empat orang di atas, kami juga memuat sebuah tulisan ulasan pameran tentang Marie Antoinette dari Jafar Suryomenggolo ketika berkunjung ke Paris. Jafar adalah penulis, peneliti, dan asisten profesor di National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS), Tokyo, yang sering menulis seputar isu perburuhan. Tulisannya dapat kita tempatkan sebagai satu contoh bagaimana publik memahami karya seni di sebuah pameran.

Memperpanjang Kemungkinan Karya melalui Medium

oleh Krisnawan Wisnu Adi

Kurang lebih satu jam, 10 September 2019 sore, saya bersama Dwi Rahmanto berkesempatan ngobrol bersama Uji “Hahan” Handoko di Ace House. Hahan banyak bercerita kepada kami tentang bagaimana dia memaknai medium karya seninya. 

Pada masa awal kekaryaannya, keterbatasan finansial untuk mengakses “artist material (salah satunya adalah kanvas)” menjadi latar belakang pertama mengapa ia memilih benda-benda bekas seperti kayu dan bungkus makanan sebagai medium karya seninya. Selain itu, latar belakangnya sebagai orang yang dekat dengan dunia seni grafis dan budaya pop juga cukup mempengaruhi bagaimana ia memutuskan menggunakan medium non-konvensional. Misal, dari pada menggambar di kanvas yang cukup mahal dan membutuhkan energi lebih banyak, ia dan kawan-kawannya lebih memilih tembok yang sudah siap untuk dimural. 

Situasi keterbatasan yang demikian, sekitar 2007-an, justru terjadi ketika pasar seni rupa sedang menggila. Tetapi karya-karya dengan gaya kartunal, street art, ilustrasi atau istilah lain yang umumnya dikaitkan dengan budaya pop, belum diterima oleh pasar seni rupa. Situasi ini berimplikasi pada akses ke infrastruktur ruang pamer. Oleh karena itu, Hahan dan kawan-kawannya menggunakan ruang-ruang alternatif untuk mengadakan pameran kelompok. Salah satunya adalah kontrakan teman sendiri. 

Tahun 2014 menjadi titik perubahan bagaimana Hahan memaknai medium. Ketika sebelumnya medium non-konvensional digunakan karena pertimbangan keterbatasan akses, pada masa ini Hahan merasa bahwa suatu objek sudah memiliki nilai sendiri. Objek punya kekuatan untuk mengerucutkan ide atau konsep dari si seniman. 

Ia terinspirasi oleh karya seniman asal Filipina, Alvin Zafra, pada pameran Medium at Large di Singapore Art Museum (SAM), April 2014-2015. Alvin Zafra memamerkan karya serinya tentang figur-figur pejuang Filipina yang mati ditembak. Ia menggambar Pepe dan Marcial Bonifacio dengan menggunakan 5 peluru M16 di atas kertas amplas untuk masing-masing figur. Bagi Hahan, pilihan peluru dan kertas amplas sebagai medium sangat kuat untuk menyampaikan gagasan tentang bagaimana perjuangan kebebasan di Filipina terjadi. Berangkat dari inspirasi tersebut, Hahan kemudian lebih hati-hati dalam memilih medium untuk karya seninya. 

Perihal seni yang mulai menjadi hiburan, salah satunya sebagai objek foto, menjadi isu yang ia pilih untuk dieksplorasi. Konteks ini juga ia kaitkan dengan ketertarikannya sejak 2007-an, ketika kekaryaannya lebih banyak bersentuhan dengan dinamika pasar seni rupa. Hahan merasa bahwa praktik mengoleksi karya harus diperluas, tidak hanya milik kolektor privat saja. Oleh karena itu, pada 2016 ia memulai proyek Speculative Entertainment. Salah satunya adalah dengan memecah lukisannya menjadi beberapa bagian, agar publik dapat mengoleksi karya seni secara lebih demokratis. Lebih jauh lagi, pilihan objek-objek seperti proyek toys, t-shirt, dan affordable print menjadi kelanjutan upaya menjangkau publik seluas-luasnya. Satu poin penting yang Hahan katakan, 

“Bentuk-bentuk baru, objek-objek yang dekat sama kita itu adalah salah satu jalan untuk memperpanjang ide dari karya tersebut. … Aku ingin memperpanjang kemungkinan dari karya tersebut.”

Di tahun ini, Hahan sedang membuat commission work bekerjasama dengan Kota Dresden, Jerman. Dresden adalah salah satu kota di Eropa yang pernah menjadi tempat tinggal Raden Saleh selama 10 tahun. Di kota inilah pelukis modern Indonesia tersebut menemukan teman sejati dan gaya romantismenya. Pertanyaan seputar Raden Saleh selama di Dresden menjadi bekal Hahan untuk eksplorasi. Ia kemudian menemukan satu arsip foto daftar menu makanan Raden Saleh selama sebulan. Dari arsip ini Hahan kemudian berpikir bahwa bertahan hidup adalah satu hal yang paling dekat dan krusial bagi seniman. Tetapi justru dengan karya seni, kemungkinan bertahan hidup itu dapat dijembatani. 

Setelah melakukan studi arsip, perjalanan kemudian menjadi metode selanjutnya. Dalam perjalanannya Hahan menemukan sebuah lapidarium. Lapidarium secara umum dipahami sebagai sebuah ruang untuk menyimpan atau memamerkan monumen yang bersangkutan dengan kepentingan arkeologis. Dalam konteks Dresden, lapidarium yang Hahan temukan berfungsi sebagai ruang untuk menyimpan berbagai patung serta monumen lain yang rusak, atau yang tidak diinginkan secara ideologis. Ketika Perang Dunia II, Dresden beserta capaian karya di ruang publiknya diluluhlantakkan oleh sekutu. Sekarang, publik bisa mengakses benda-benda ruang publik yang masih tersisa tersebut melalui lapidarium. 

Format lapidariuim dipakai Hahan dalam proyeknya yang berjudul The Curious Deal ini. Semua hasil budaya yang ia temukan selama eksplorasi ia kumpulkan dan direpresentasikan dalam bentuk lukisan ukuran 280 cm x 900cm yang dipotong menjadi beberapa bagian. Publik Dresden dapat mengoleksi potongan-potongan lukisan tersebut dengan sistem barter; lukisan ditukar dengan objek serta cerita orang-orang yang berhubungan dengan bertahan hidup. 

Keterbatasan akses material hingga upaya memperpanjang kemungkinan karya menjadi satu perjalanan bagaimana Hahan memaknai medium karya seninya. Medium yang dekat dengan keseharian dan ingatan kolektif publik menjadi pilihannya untuk membicarakan satu elemen yang selalu membuat orang penasaran, yakni pasar seni rupa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Menjamah “Jalan Baru” Seni Rupa: Ngobrol dengan Irene Agrivina Widyaningrum

oleh Hardiwan Prayogo

Irene Agrivina Widyaningrum. Profilnya cukup mudah ditemukan di berbagai tautan jika kita ketik namanya di mesin pencarian google. Pun dapat sejenak disimak portal online archive IVAA: http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/irine-agrivina-widyaningrum. Seniman yang akrab disapa Ira ini meluangkan satu sorenya untuk ngobrol dengan tim IVAA. 

Pada kesempatan itu, kami langsung mengarahkan obrolan pada seputar topik yang sedang diangkat pada Newsletter edisi September-Oktober ini. Beberapa kata kunci yang kami ketengahkan seperti perluasan medium dan objek, distingsi sosial dan estetik seni murni dan terapan; apakah mungkin pembicaraan soal ini harus lebih maju dari pada sekadar mempersoalkan distingsi tersebut. Poin-poin ini coba kami obrolkan dengan Ira, seniman sekaligus kurator yang banyak bergelut dalam berbagai perluasan medium. Pengalamannya begitu nampak melalui karya-karya personal dan kolaborasinya bersama XXLab dan HONF (House of Natural Fiber), tetapi juga pengalamannya mengkurasi pameran seniman-seniman generasi terbaru.

Ira mengaku bahwa proses kreatifnya ingin senantiasa diperkaya dengan berbagai eksperimen atas bermacam medium. Ketertarikan utamanya pada desain, khususnya fashion, justru membawanya menemui pengalaman yang bisa dikatakan berbeda dari arus utama seni rupa. HONF, kolektif di mana ia aktif, memang memiliki prinsip medium is unlimited; bahwa medium dan tools adalah bagian dari seni itu sendiri. Sedangkan XXLab, kolektif lain yang dia bentuk bersama 4 rekannya, memiliki prinsip domestic hacking. Ini berangkat dari pengalaman kerja domestik, misal bahan-bahan dapur yang digunakan sebagai bahan-bahan laboratorium biologi. Pameran atas karya-karyanya juga memajang proses produksi, karena ia yakin bahwa proses di balik karya itu juga seni. Bagi Ira, kolaborasi seni dan teknologi adalah ketika dirinya melakukan hacking.

Hacking menjadi semacam kata kunci dari kerja kekaryaan Ira. Ini cukup menjawab pertanyaan di mana letak teknologi dalam praktiknya, karena bisa saja semua perangkat dikatakan teknologi jika fungsinya memang mempermudah kerja manusia. Hacking adalah prinsip kerja yang berangkat dari pernyataan bahwa teknologi yang membantu kerja manusia seharusnya bisa dibuat oleh siapapun dengan bahan yang murah, terlebih oleh mereka yang ada di ruang-ruang domestik. Melalui satu karya yang dipamerkan di NTU Singapura, Ira membuat fotobioreaktor dari bahan-bahan yang diambilnya dari IKEA. Pun eksperimennya di XXLab juga bermula dari gagasan untuk mengeksplorasi bahan-bahan rumahan. 

Gagasan ini bermula dari apakah mungkin seni melahirkan inovasi yang bisa diterapkan. Sebuah gagasan yang jelas bertentangan dengan pernyataan Theodor Adorno, bahwa “the function of art is its lack of function”. Pada masa Adorno, seni memang dinilai tidak bersifat sehari-hari, agar kita tidak mudah melupakannya seperti hari ini melampaui dan meninggalkan yang kemarin. Berkebalikan, Ira melihat praktiknya bisa ditujukan sebagai gagasan baru baik dalam ranah kesenian, teknologi, hingga sains. Dalam karya fotobioreaktor dari bahan IKEA, Ira meletakkan gagasan keseniannya pada representasi modern sosok dewi padi. Di samping itu, fotobioreaktor memang bisa digunakan dalam dunia pertanian. 

Terbiasa dengan pola penciptaan yang demikian, Ira menajamkan gagasan dan inovasinya dalam kerangka kerja yang lintas disiplin. Perlintasan pengetahuan ini dirasa berjalan cukup jauh meninggalkan infrastruktur dan ekosistem seni yang lebih konvensional. Ira mengaku bahwa yang lebih dapat mengapresiasi karyanya, baik secara finansial dan pemahaman atas konsep, adalah industri. Industri yang dimaksud Ira adalah brand fashion hingga telekomunikasi. Ini menarik karena dalam konteks objek, visual, dan konsep karya Ira sesuai dengan sifat produk massal. 

Ada logika berbeda dari nilai eksklusivitas yang ditawarkan oleh karya seni. Di satu sisi, Ira memprediksi bahwa ini adalah jalan lain dari rantai distribusi seni rupa yang dulu umumnya dijalankan oleh seniman-galeri/ kurator-kolektor. Ira memilih karyanya diapresiasi oleh brand-brand ini, atau setidaknya museum publik, dari pada karya menjadi collectible item yang hanya dimiliki dan bisa dinikmati oleh kolektor, atau kolega-kolega terdekatnya. Secara pribadi Ira lebih berkenan jika karyanya bisa dinikmati banyak orang. 

Pengalamannya menjadi kurator pun sedikit banyak mempertegas keyakinannya atas jalan ini. Seniman-seniman yang karyanya pernah Ira kurasi juga menempuh jalan yang kurang lebih sama. Ada kecenderungan bahwa seniman yang memulai karirnya 3-5 tahun terakhir, lebih menginginkan karyanya bisa diaplikasikan ke berbagai medium terapan. Selain itu kecenderungan berkarya dengan medium found-object juga terus berkembang. Praktik demikian memang akhirnya akan berbenturan dengan galeri seni rupa komersial. Pameran tunggal Dwiky KA (@dwikyka) yang dikurasi oleh Ira di HONF Citizen Lab, Juli 2019 lalu memang langsung menyasar pasar industri, seperti Land of Leisures (@lol.yk). Dengan langsung menjalin kerjasama sebagai commision artist untuk brand-brand demikian, seniman-seniman yang karyanya tidak terlalu dilirik publik seni rupa, tetap menemui muara pasarnya. Seniman-seniman lain yang juga menempuh jalan semacam ini adalah Ryan Ady Putra (@ryanadyputra), dan Ican Harem (@icanharem). Ira sendiri mengakui bahwa karya-karya mereka bisa saja dinilai cheesy dan tidak bernilai secara material, tetapi yang ditawarkan adalah gagasan. Meski gagasan adalah nilai yang terus akan dipertanyakan relevansi dan kontekstualisasinya.

Peluang menembus “jalan baru” ini memang terbuka. Semacam keniscayaan dalam perkembangan teknologi komunikasi digital. Jadi yang bergeser dalam wacana ini tampaknya terletak pada fungsi galeri, atau secara lebih luas, infrastruktur seni. Pertanyaan kemudian bisa dialamatkan pada infrastruktur kesenian: bagaimana menyikapi perluasan medium dan distribusi ini? Lantas di mana posisi kurator, kolektor, dan galeri?. 

Dalam obrolan sore itu, pertanyaan reflektif tersebut menjadi poin utama untuk dikontekstualisasikan dengan tema newsletter edisi September-Oktober 2019. Seperti yang diasumsikan di awal tulisan, barangkali perbincangan mengenai tema demikian tidak lagi mengulang soal distingsi terapan-murni. Perluasan rantai distribusi ternyata mempengaruhi nilai-nilai sosial dan estetis yang tersemat dalam karya seni. Termasuk institusi yang dahulu tunggal dan otoritatif membaptis apa itu seni, juga lambat laun kehilangan kuasanya. Meski demikian, pertanyaan yang tertinggal terletak pada fungsi gagasan, yang juga kerap mengiringi sebuah karya seni. Apakah dia menjadi nilai yang memang ingin dikampanyekan, atau justru menjadi pelumas laju distribusi karya seni ke pasar dan konsumen luas?

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Gurita dari Benang Itu adalah Mulyana

oleh Sukma Smitha dan Y. P. Jati

Gurita, koral, dan pernak-pernik kehidupan bawah laut lainnya menjadi visualitas yang erat dengan kekaryaan Mulyana. Seniman kelahiran Bandung, 1984 ini menggunakan benang dan kain sebagai medium untuk menciptakan karya-karya tersebut. Bukan tanpa alasan, kekaryaannya didasarkan atas refleksi perihal identitas dan peran entitas transendental secara personal yang telah menuntunnya kepada skena seni rupa kontemporer. Mulai dari masa kecil, hidup di Pondok Pesantren Gontor, menjadi mahasiswa di Pendidikan Seni Rupa UPI, Bandung, hingga sekarang yang sudah melanglang buana ke banyak tempat untuk pameran. Ia lebih memilih bawah laut dari pada daratan. Dalam konteks materialitas seni rupa kontemporer, Mulyana tidak begitu peduli karyanya dilabeli dengan kategori apa. Yang jelas, ia cukup yakin mengatakan bahwa itu semua hanyalah permainan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Artikulasi: Antara Medium dan Gagasan

oleh Fika Khoirunnisa 

Di sela-sela kesibukan menyiapkan pameran Biennale Jogja Equator #5, Arham Rahman menyempatkan diri untuk ngobrol bersama kami di JNM, 14 September 2019 sore. Kami datang dengan membawa pertanyaan seputar posisi materialitas dalam seni rupa kontemporer akhir-akhir ini. Secara serampangan istilah benda temuan (found object), terapan, dan keseharian muncul dalam pertanyaan-pertanyaan kami. 

Arham menjelaskan bahwa penggunaan benda temuan bukanlah hal baru. Latar belakang dari praktik kesenian yang demikian, dalam konteks wacana seni rupa barat, adalah keterbatasan medium seni konvensional (seperti grafis, patung, dan lukis). Para seniman yang muak dengan keterbatasan itu kemudian membangun asumsi bahwa material apapun bisa menjadi objek artistik. Ini adalah fenomena dematerialisasi seni; ketika seni tidak lagi bergantung pada objek yang spesifik, tetapi lebih menekankan konsep. Seperti dalam buku The Art of Not Making karya Michael Petry, Arham menambahkan, bahwa titik tumpu kesenian lebih pada gagasan. 

Dalam konteks Indonesia, salah satu peristiwa penting dalam sejarah seni rupa yang berkaitan dengan medium non-konvensional adalah Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). Tetapi menurut Arham, kita tidak bisa mengatakan bahwa GSRB adalah pencetus dan penentu perkembangan skena seni rupa saat ini. Selain tidak ada bukti yang nyata, para seniman yang lahir setelah masa itu pun tidak semua menggunakan metode yang sama seperti pada jaman GSRB. Bahkan, penggunaan medium non-konvensional dalam praktik seni di daerah, misalnya di Makassar, tidak jarang dilakukan karena faktor kebetulan. Mereka meniru saja apa yang dilakukan oleh pengajarnya. 

Lalu kami menanyakan apakah penggunaan medium non-konvensional yang tetap ada sampai sekarang masih berhubungan dengan wacana dikotomi seni atas-bawah. Bagi Arham, dalam konteks seni rupa kontemporer, dikotomi tersebut sudah tidak relevan. Setiap seniman dengan mediumnya masing-masing bertarung di dalam medan seni yang berbeda. Dikotomi seni atas-bawah telah lebur hingga membentuk semangat baru dalam menemukan berbagai macam bentuk artistik serta gagasan baru. 

Meski demikian, dikotomi itu justru lebih terasa ketika dikaitkan dengan seni kriya-kerajinan. Bahwa seni kriya itu berbeda dengan seni kerajinan. Produk kriya seperti keris, tombak, dll lahir dari lingkungan elit atau kerajaan. Sedangkan produk kerajinan seperti rajut, anyaman, gerabah lebih dekat dengan kehidupan masyarakat ‘biasa’. Dikotomi seni semakin terasa ketika seni kriya-kerajinan ini dihadapkan dengan seni rupa kontemporer, terutama di lingkungan pendidikan formal yang selanjutnya berimplikasi di wilayah keseharian skena kesenian. Padahal dua hal itu sangatlah berbeda. Dengan demikian dikotomi seni atas-bawah, dalam konteks seni rupa kontemporer di Indonesia, adalah hasil dari reproduksi sosial yang muncul secara simtomatik di wilayah gagasan, bukan medium. 

Mau tidak mau obrolan kami mengarah pada upaya untuk memahami seperti apa seni kontemporer itu. Gagasan seolah menjadi elemen yang paling ditonjolkan. Meski demikian, Arham menekankan bahwa seni kontemporer itu tidak hanya perkara gagasan saja. Persoalan materialitasnya juga penting, karena hal pertama yang dilihat publik adalah materialnya. Dengan agak dibarengi candaan, Arham mengatakan, 

“Kalau aku secara pribadi tidak menganggap karya yang terlalu berat di gagasan dan produknya hanya tulisan. Tulisan dalam pengertian statement tok kayak mading itu menurutku bukan karya seni.”

Karya seni harus memiliki artikulasi yang berhubungan dengan konteks yang sedang dibicarakan. Dalam hal ini medium tidak bisa dikesampingkan. Medium sering kali digunakan sebagai idiom mengartikulasikan intensi, kisah, gagasan personal, nilai-nilai seniman sebagai individu, atau bahkan kritik mengenai isu-isu sosial. Bahwa yang membuat karya seni itu berbeda dari laporan ilmiah adalah bentuk artikulasinya. Arham menekankan, 

“Seni tetap mempunyai bentuk artikulasi yang khas, sehingga kita bisa menyebutnya sebagai karya seni. Kayak di sastra, kalau tidak ada fiksionalitasnya maka itu bukan sastra, karena itu prasyarat utamanya.” 

Ruang seni rupa yang cair akan senantiasa menarik ketika hal-hal yang bersifat paradoksal dapat menjadi pintu masuk membangun wacana-wacana baru. Ambil contoh karya Hahan yang hadir dalam perhelatan pasar namun sekaligus mengkritik pasar. Menarik, ironis, namun juga sah untuk dilakukan. Hal tersebut jelas menawarkan gagasan baru, bahwa publik dapat melihat mekanisme pasar bekerja, sekaligus melihat celah-celah di antara pekerjaan tersebut. Karya Hahan tidak hanya memiliki wacana yang kuat, namun pemilihan dan pengolahan medium dilakukan dengan kecakapan teknik & gagasan yang matang sehingga karyanya cukup artikulatif. 

Tanpa efektifitas fungsi, medium tidak akan mampu menyampaikan gagasan. Seni harus memiliki daya ungkap yang melebihi wacana tertulis itu sendiri. Artikulasi macam apa yang dihadirkan oleh medium menjadi poin yang penting untuk memahami karya seni saat ini yang semakin kompleks dan membingungkan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Dari Putri Lugu ke Ratu Boros sampai Idola Milenial: Pameran tentang Marie Antoinette

oleh Jafar Suryomenggolo

Siapa yang tidak kenal Marie Antoinette (dibaca: Mari On-twa-net), sang ratu Perancis yang dipenggal kepalanya akibat Revolusi 1789?  

Banyak dari kita yang ingat pelajaran sejarah di sekolah tentang Revolusi Perancis yang merontokkan sendi-sendi aristokrasi. Marie Antoinette adalah salah satu korban gilotin (guillotine).  Di antara pembaca mungkin juga ada yang teringat kisah Lady Oscar sebagai pengawal pribadi Marie Antoinette di dalam cerita manga Rose of Versailles, yang populer sepanjang dekade 1980-an. Juga mungkin ada pembaca yang tak bisa lupa adegan Kirsten Dunst menuangkan teh di dalam film yang disutradarai oleh Sofia Coppola. Di dalam film itu, Kirsten Dunst berperan sebagai sang ratu saat muda. 

Beragam gambaran tentang Marie Antoinette adalah tema yang diangkat dalam pameran ini. Berlangsung sejak 16 Oktober 2019 sampai 26 Januari 2020, pameran ini mengambil tempat di gedung kastil Conciergerie, di kota Paris. 

Gedung kastil Conciergerie (dibaca: Konsier-jeri) adalah kastil yang selama Abad Pertengahan akhir (abad ke-10 hingga abad ke-14) berfungsi sebagai kediaman raja Perancis. Kini, kastil itu telah menjadi salah satu museum utama di kota Paris. Menariknya, gedung ini sempat berfungsi sebagai penjara selama masa Revolusi Perancis. Marie Antoinette juga dipenjara di sini selama dua minggu lebih, yakni dari 1 Agustus 1793 hingga hari eksekusinya pada tanggal 16 Agustus 1793. Jadi, gedung ini adalah penjara terakhirnya.    

Susunan Pameran 

Pameran ini diawali dengan bagian kronologi ringkas kisah hidup Marie Antoinette. Pada bagian ini disuguhkan perjalanan hidupnya sedari lahir sebagai putri bungsu ratu Austria, ratu Maria Theresa, pada 1755 hingga akhir hayatnya di dalam penjara. 

Menariknya, penyajian kronologi hidup ini tidak bertele-tele. Pengunjung langsung dibawa ke suasana masa Revolusi Perancis dengan “pengadilan” yang menghukum pancung Marie Antoinette. Ada tiga dakwaan terhadap dirinya, yakni memboroskan keuangan negara, konspirasi yang membahayakan keamanan internal dan eksternal negara, dan pengkhianatan atas negara. Pada bagian ini dipamerkan surat dakwaan tersebut, dan juga lukisan wajah Marie Antoinette saat di penjara.

Foto 1. Satu sudut pameran kronologi hidup Marie Antoinette. 

Selanjutnya, pengunjung diajak untuk melihat beragam karya seni (lukisan, patung, film) tentang Marie Antoinette. Pada bagian ini tersaji berbagai lukisan karya sejumlah pelukis dari abad ke-18, abad ke-20 hingga seniman era modern. Juga ada berbagai film yang mengangkat kisah Marie Antoinette. Setidaknya terdapat 14 film, yaitu dari film bisu karya sutradara Van Dyke (1938), film biopic karya sutradara Jean Delannoy (1955), hingga film karya sutradara Benoît Jacquot (2012). Juga sejumlah aktor papan atas, di antaranya Sarah Bernhardt, Jeanne Provost, Tenna Kraft, Norma Sheare, Jane Seymour, Kirsten Dunst dan Diane Kruger.

Pada bagian ini terdapat juga ruang teater mini yang memutar beberapa adegan dari film-film yang ada tentang Marie Antoinette. Lewat film-film ini, pengunjung diajak untuk melihat perubahan visualisasi citra perihal Marie Antoinette. Tiap film punya sudut tersendiri dan gambaran tertentu yang disuguhkan kepada penonton.  

 Foto 2. Beberapa lukisan Marie Antoinette karya berbagai seniman. 

Selanjutnya pameran menyuguhkan tiga topik utama gambaran tentang Marie Antoinette, yakni gaya rambut, tubuh, dan kepala yang terpancung. Terdapat berbagai karya seni yang mengangkat fokus tiga topik tersebut. Pengunjung dapat melihat bahwa gaya rambut Marie Antoinette tidak pernah sama. Gambaran model rambut ini berubah dan berkembang sesuai jamannya – dan juga, sesuai tafsir sang seniman. 

Demikian juga dengan gambaran tentang tubuh Marie Antoinette. Tubuh Marie Antoinette tidak pernah sama, dan dibalut dengan kostum yang selalu berubah sesuai tafsir jaman. Marie Antoinette menjadi ikon ratu dunia fashion. Pada bagian ini, pengunjung juga dapat melihat sejumlah buku yang menggambarkan tubuh sang ratu, sesuai tafsir si penulisnya. Sejak jaman Revolusi Perancis, gambaran tubuh Marie Antoinette tidak pernah sama dan selalu penuh kontroversi. Maklum, salah satu gambaran yang ada adalah Marie Antoinette yang sering dengan pengawalnya, dan sering mengadakan pesta seks di istana Versailles. 

Gambaran kepala yang terpancung menjadi akhir tragis hidup Marie Antoinette. Beberapa pamflet dari abad ke-18 dan ke-19 menggambarkan eksekusi Marie Antoinette secara realistis, meski sesungguhnya sang seniman tidak benar-benar menyaksikan langsung. Kepala yang terpancung juga menjadi gambaran horor Revolusi Perancis: di satu sisi sebagai hukuman pidana yang sadis, dan di sisi lain sebagai akhir aristokrasi dan awal berdirinya Republik Perancis.   

Foto 3. Beberapa boneka Marie Antoinette. Salah satunya adalah tokoh Miss Piggy sebagai Marie Antoinette.

Di bagian akhir, pameran menyajikan gambaran tentang Marie Antoinette sebagai barang komersial dalam pasar global. Hal ini terkait perubahan budaya dan juga perkembangan dunia modern sepanjang abad ke-20 yang mendorong konsumsi barang-barang menjadi semakin tak kenal batas. Gambaran pop tentang Marie Antoinette menjadi bagian dari konsumerisme global. 

Ada berbagai macam barang komersial yang berikon Marie Antoinette, dari bedak muka, sepatu, boneka anak-anak, hingga teh. Juga terdapat sejumlah iklan komersial yang menggambarkan Marie Antoinette, dari minuman bersoda, kopi, hingga pizza cepat saji. Di dalam berbagai iklan tersebut, gambaran tentang Marie Antoinette tidak pernah sama. Sebab, gambaran tersebut disesuaikan dengan produk, tak peduli sesuai kenyataan atau fantasi belaka. Hal ini menandakan bahwa gambaran tentang Marie Antoinette punya nilai jual dalam pasar global.  

Foto 4. Satu bagian dalam pameran. 

Kisah sejarah yang hidup

Pameran ini menyajikan gambaran sejarah yang hidup. Berbagai gambaran tentang Marie Antoinette (dan perubahannya) yang terjadi sepanjang abad ke-18 hingga sekarang ini tersaji apik. Lewat berbagai gambaran tersebut, pameran ini mengajak pengunjung untuk melihat sejarah hidup Marie Antoinette secara lebih hidup.  

Foto 5. Pemandu pameran bagi anak-anak memberikan peragaan tentang hidup Marie Antoinette.

Menariknya, hal ini bukan berarti sejarah tentang Marie Antoinette menjadi telah tuntas atau selesai. Justru sebaliknya, sejarah tentang kehidupan Marie Antoinette akan tetap menjadi tema yang tidak pernah tuntas. Berbagai buku, baik fiksi maupun non-fiksi, akan tetap ditulis berbagai pengarang. Berbagai film akan tetap dihasilkan oleh berbagai sutradara. Berbagai karya seni tentang Marie Antoinette akan tetap menjadi objek imajinasi oleh berbagai seniman. Demikian juga, berbagai barang konsumsi akan tetap diproduksi untuk memuaskan konsumen global.   

Foto 6. Beberapa buku tentang Marie Antoinette yang dijual dalam pameran.

Bagi kita di Indonesia, pameran ini menunjukkan bahwa kisah hidup seorang tokoh tidak pernah mati. Kisahnya menjadi bagian dari imajinasi budaya, sosial, dan politik bangsanya. Indonesia punya banyak tokoh sejarah yang masih perlu kita gali, angkat dan poles sebagai bagian dari perjalanan bangsa kita bersama – dan mungkin juga, bagi bangsa lainnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

SOROTAN PUSTAKA | September-Oktober 2019

Koleksi perpustakaan IVAA selama beberapa bulan terakhir telah diakses untuk beberapa keperluan. Teman-teman panitia pameran Biennale Jogja Equator #5 2019 mengakses 45 koleksi, meliputi buku, majalah, dan katalog dengan tema seputar gender dan kawasan Asia Tenggara. Selanjutnya, para pengurus pameran tunggal Ugo Untoro juga menggunakan folder arsip profil Ugo Untoro sebagai bahan kajian. Folder tersebut berisi 60 lembar kliping media cetak, katalog, foto cetak, dan DVD dokumentasi yang berkaitan dengan Ugo Untoro. Selain akses koleksi oleh publik, aktivitas lain yang dilakukan selama kurang lebih dua bulan ini, September dan Oktober, adalah inventarisasi pustaka sebanyak 99 buku dan input data 104 pustaka ke Senayan Library Management System (SLiMS). Kemudian, dari proses unboxing arsip (membongkar, memilah, mengelompokkan, dan pembuatan checklist) kami membuat beberapa bendel kliping Seni dan Budaya yang tentu dapat diakses oleh publik. Perpustakaan IVAA juga menerima koleksi baru dari beberapa kegiatan: 3 buku dari kunjungan ANRI, 4 buku dari kegiatan Milang Kori: Jadikan Aku Pustakawan di Surabaya dan Madura, dan dari pembelian serta kunjungan pameran secara mandiri. Terakhir, melalui e-newsletter edisi ini, tentunya dengan bantuan rekan-rekan magang, kami mengulas 5 buku (Timurliar, Jean Michel Basquiat, Sandiolo, Affandi Pelukis, Jogja Agro Pop, dan Metodologi Kajian Tradisi Lisan) yang semoga dapat memantik minat publik untuk membacanya.