Category Archives: Kabar IVAA

Muara Market, Kanal Baru Pemasaran Produk Seni di Solo

Oleh: Pitra Hutomo

Pertemuan dengan Tatuk Marbudi yang menginisiasi Muara Market Solo berlangsung hampir tanpa sengaja. Dokumentator IVAA, Dwi Rahmanto adalah kawan lama Tatuk yang mengajak kami mampir sebelum ke tempat tujuan, lokasi diresmikannya Perjanjian Giyanti tahun 1755 di Karanganyar.

Muara Market Solo diresmikan Agustus 2016 di lokasi bekas ruko di Pasar Legi. Karena kami datang lepas tengah hari, belum nampak bagaimana orang Solo memanfaatkan tempat yang mengidentifikasi dirinya sebagai ruang kreatif tersebut. Tatuk datang sekitar 30 menit setelah kami sampai dan kami bercakap-cakap hingga menjelang sore. Percakapan kami direkam oleh Alex Bloom, mahasiswa asal Australia yang sedang bekerja praktik (magang) pada tim arsip IVAA.

Bagi Alex, tempat seperti Muara yang menyebut dirinya market atau pasar di tengah kondisi seni populer yang ia temui di Indonesia, pasti memiliki motif tersendiri. Apalagi ketika pasar yang dimaksud merujuk pada ekosistem yang mendorong seniman berproduksi tanpa mengarahkannya menjadi hajat seni tinggi atau praktik merchandising.

Dengan antusias Tatuk menjelaskan bahwa Muara Market Solo memang didirikan karena tingginya minat berproduksi anak muda Solo. Terang-terangan dia menyebut bahwa orang Solo itu lebih erat dengan budaya dagang jika dibandingkan Yogya. Karena itu, saat tawaran mendirikan UMKM menjadi solusi dari kanal pemasaran produk dari Solo, para produsen rumahan ini tidak terwadahi karena ukuran maupun indikator UMKM berbeda dengan motif dan cara produksi mereka selama ini.

Generalisasi yang dilakukan pemerintah di sektor kebudayaan ataupun industri ini mendorong penjelajahan segelintir orang yang dianggap senior di kalangan produsen indie, di antaranya Tatuk. Dengan gesit, dia dan kedua rekannya mengambil kesempatan untuk memanfaatkan salah satu kompleks ruko yang belum sempat laku selama beberapa lama. Bagi Tatuk, mimpi mereka sederhana dan kiranya mewakili semangat pekerja seni Solo yang ingin menciptakan iklim produksi kompetitif secara organik. Salah satu cara yang selalu mereka tempuh adalah meminta setiap orang yang berniat menggunakan Muara Market Solo untuk menggali mimpi masing-masing dan bersedia berdiskusi tentang pelaksanaannya.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Archive Showcase: Dinamika Ruang Seni Jogja setelah Boom Pasar Lukisan 2008

Archive Showcase: Dinamika Ruang Seni Jogja setelah Boom Pasar Lukisan 2008
24 April – 9 Juni 2017, di Perpustakaan IVAA
Oleh: Tiatira Saputri

Tema ruang seni sebenarnya berangkat dari perbincangan kami mengenai hadirnya ruang fisik di Yogyakarta yang dibangun dan diinisiasi oleh seniman. Asumsi pertama, boom seni di periode 2000-an memicu tumbuh lebih banyak ruang seni yang memfasilitasi transaksi jual-beli langsung dari tangan pertama, sehingga ruang seni ini bisa dikatakan merupakan bagian dari investasi seniman. Atau mungkin seniman-seniman yang mendapatkan rezeki dari boom seni saat itu hanya sekedar ingin berbagi ruang apresiasi dengan seniman lain. Pun jika keduanya benar, apa yang mereka angankan sebagai investasi dan ruang apresiasi? Bukankah kebutuhan tersebut sudah terfasilitasi oleh ruang-ruang seperti galeri atau ruang alternatif? Pertanyaan ini ada kaitannya dengan asumsi yang kedua, bahwa kepentingan dari dibukanya ruang-ruang tersebut tidak jauh berbeda dengan kepentingan seniman dalam menggunakan ruang publik. Ada semacam kebutuhan untuk mendekati publik, hanya saja dengan cara mendatangkan publik ke wilayah teritorinya. Apa yang menjadi motivasi seniman ketika membuka ruangnya untuk publik? Dari sini kami mencoba menelusuri dan melihat apa fungsi dan di mana posisi ruang-ruang tersebut sebagai bagian dari semesta seni. Karena dari melihat dinamika ruang seni di tahun 2009 hingga hari ini, ada cukup banyak ruang yang muncul dan berhenti beroperasi, seperti Kedai Belakang, Coral Gallery, Galeri Biasa, Ars Longa, V-art Gallery, Tujuh Gallery, Roomate, dsb. Namun demikian, hingga hari ini kita pun masih melihat ruang-ruang baru hadir di Yogyakarta, seperti Redbase Foundation, Sewon Art Space, Sesama, dsb. Sehingga bisa jadi kita memang masih membutuhkan banyak ruang seni. Hanya saja mungkin bentuk ruang yang dihadirkan belum sesuai dengan fungsi yang hendak dijalankan.

Beberapa ruang seni yang pernah ada di Yogyakarta. Sumber: dokumentasi IVAA

Bicara ruang dan seni, Yogyakarta memberikan kita pengalaman meruang yang sangat khas. Kita dimudahkan untuk membaca arah mata angin dengan garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi di utara dengan pesisir Pantai Selatan. Kemudian Keraton yang terletak di titik tengah garis imajiner tersebut menjadi landmark sekaligus sumbu perkembangan Yogyakarta. Di bidang kebudayaan, hal tersebut ditandai dengan berkembangnya ruang seni dari wilayah Keraton ke arah Selatan. Mengapa demikian pun menjadi kekhasan Yogyakarta. Karena dua titik yang menentukan arah perkembangan ruang seni di Yogyakarta sebenarnya berasal dari infrastruktur pemerintah yang dibangun pada tahun 80-an. Titik tersebut ditandai dengan kehadiran ruang-ruang yang memfasilitasi kesenian dan kemudian dikenal oleh publik, seperti Seni Sono, gedung pertunjukan Societet Militer, dan ruang pamer Benteng Vredeburg yang berada di sekitar wilayah Keraton atau titik nol Yogyakarta. Kemudian di wilayah selatan Yogyakarta tepatnya di Sewon, Bantul dibangun kampus baru Institut Seni Indonesia yang sebelumnya bertempat di area Gampingan, masih segaris dengan titik nol, kampus baru ini resmi digunakan sejak 1998. Namun demikian, pada perkembangannya di tahun 90-an ruang seni di Yogyakarta hadir secara organik bahkan tanpa campur tangan pemerintah. Berangkat dari njeron beteng, lahir ruang-ruang seni dari kegiatan kolektif dan dikelola secara mandiri oleh seniman dan pekerja seni. Seperti MES56, KUNCI Cultural Studies Center, dan YSC. Mengapa kemudian njeron beteng menjadi pilihan mereka sebagai lokasi membuka ruang seni? Kalau menurut Alia Swastika dalam tulisannya “Seni dan Pertumbuhan Dinamika Sosial Politik Masyarakat Urban”, njeron beteng menjadi pilihan karena lokasinya yang dekat dengan wilayah kampus dan kental dengan suasana kampung. Apakah betul demikian? Bisa jadi ada benarnya, karena pola serupa masih terjadi hingga hari ini. Ruang-ruang seni tumbuh semakin ke selatan, mendekati lingkungan kampus ISI dan berdiri di tengah kampung, jauh dari kepadatan kota.

Pemetaan ruang seni di Yogyakarta tahun 1996 Sumber: Buku “Sanggar-Museum-Galeri Seni Rupa di Yogyakarta” edisi pertama, 1992.
Pemetaan ruang seni oleh Yogyakarta Open Studio tahun 2016Sumber: http://yogyakartaopenstudio.com/map/

 

Dari mewawancarai Djoko Pekik mengenai Plataran, perbincangan mengenai kedekatan seniman dengan masyarakat ini sempat terbahas. Menurut beliau, seniman perlu berada di tengah masyarakat untuk bisa mengolah rasa. Dan itu ia dapatkan di wilayah selatan yang olehnya disebut sebagai wilayah yang masih manusiawi. Jika melihat peta pengembangan kota Yogyakarta, memang wilayah barat-utara-timur diperuntukan sebagai wilayah bisnis, perkantoran, pendidikan, dan fasilitas pelayanan kota lainnya. Hal ini dikarenakan posisi ring road barat-utara-timur menjadi penghubung utama Yogyakarta dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga wilayah yang dilalui jalan arteri barat-utara-timur menjadi wilayah strategis untuk pengembangan kebutuhan kota. Efeknya, kebutuhan jasa yang meningkat menghadirkan lebih banyak pendatang di wilayah barat-utara-timur. Pembawaan yang sangat individualis dari para pendatang inilah yang kemudian disebut sebagai ‘tidak manusiawi’ oleh Djoko Pekik. Dan baginya kondisi demikian tidak kondusif untuk seniman mengolah rasa. Selain itu, dari segi ekonomi, wilayah strategis barat-utara-timur tentunya memiliki kriteria harga lahan yang lebih tinggi dari selatan. Ini juga yang menjadi alasan seniman memilih wilayah selatan sebagai tempat tinggal atau pun ruang produktifnya. Dari empat seniman yang kami wawancarai, tiga di antaranya dengan gamblang mengakui bahwa ‘murah’ menjadi salah satu penentu keputusan mengapa mereka memilih lokasi tersebut. Namun kemudian, apa yang membuat seniman-seniman ini memutuskan untuk membuka ruang teritorinya kepada publik?

Dari wawancara dengan beberapa seniman pemilik ruang seperti Pendhapa Art Space Dunadi, Plataran Djoko Pekik dan Nalarroepa Dedy Sufriadi, ruang-ruang tersebut bertumbuh sebagai ruang seni secara organik. Mereka mengakui bahwa sebelumnya ruang-ruang tersebut memang dibangun hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka akan studio, ruang pajang, atau ruang simpan karya. Tapi dengan adanya permintaan atau inisiatif pihak luar untuk menggunakan ruang mereka, lama kelamaan ruang-ruang ini dibuka untuk publik. Kelayakan ruang untuk menjadi ruang interaksi antara seni dengan publik merupakan latar belakang bagaimana ruang-ruang ini dipilih. Seperti Pendhapa Art Space, ruang yang awalnya adalah ruang produksi patung Dunadi ini kemudian menjadi ruang seni karena teman-teman seni pertunjukan melihatnya sebagai ruang yang sesuai untuk sebuah pertunjukan. Demikian pula dengan Nalarroepa, ruang yang tadinya ditujukan sebagai ruang simpan karya kemudian menjadi ruang pamer karena teman-teman Dedy Sufriadi merasa bahwa fasilitas ruang tersebut memenuhi kriteria ruang pamer. Oleh sebab itu jika dilihat dari perencanaan pembangunannya, gagasan studio untuk publik atau yang biasa disebut artist’s open studio ini bukanlah bagian dari rencana awal mereka membangun ruangan tersebut.

Gagasan open studio di Yogyakarta ini sebenarnya pertama kali dimunculkan oleh Antena Project. Wadah yang oleh Antena Project diberi nama “Yogyakarta Open Studio” ini adalah bentuk upaya Antena Project untuk memaparkan kepada masyarakat mengenai salah satu ruang yang menjadi aspek penting skena seni Yogyakarta, yaitu studio. Hal tersebut diwujudkan dengan menawarkan pada publik waktu berkunjung ke beberapa studio, seperti di tahun pertama (2013), ada Black Goat Studio, PartNER, OFCA International, Studio Yunizar, dan Studio Handiwirman. Sebenarnya program studio visit ini bukanlah hal baru karena kegiatan seperti ini sudah menjadi salah satu agenda yang umumnya ditawarkan oleh tuan rumah residensi dan dilakukan oleh seniman atau pekerja seni yang melakukan residensi di Yogyakarta.

Salah satu kegiatan studio visit oleh seniman “Pasang Air#1” Rumah Seni Cemeti Sumber: http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/4452

 

Tentunya keperluan studio visit seniman dan publik berbeda. Kunjungan residen ke studio seniman memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan, sementara studio visit untuk publik lebih sebagai bentuk lain dari ruang apresiasi. Lalu apa bedanya dengan ruang apresiasi pada galeri? Pertama, jika dilihat dari fungsi dasarnya, galeri baik komersil atau alternatif, merupakan wadah apresiasi publik pada seni. Sehingga yang diutamakan adalah perjumpaan publik dengan karya atau hasil akhir dari gagasan seorang seniman. Sedangkan studio, adalah ruang kreatif seniman, sehingga yang mungkin terjadi adalah perjumpaan publik dengan proses kreatif seniman. Kedua, jika dilihat dari pengelolaannya, galeri bergantung pada program untuk mempertemukan publik dengan seni. Artinya, diperlukan kuratorial dan perencanaan operasional untuk menentukan apa dan kapan seni disuguhkan kepada publik. Sedangkan di studio seniman, untuk mempertemukan publik dengan seni cukup dengan agenda pertemuan dan izin empunya studio. Apa yang akan publik lihat bergantung pada apa yang ada atau sedang terjadi di studio seniman. Itu artinya, studio tidak memerlukan program spesifik untuk bisa mempertemukan seni dan publiknya. Sehingga jika kita kembali pada perbincangan awal mengenai bentuk ruang seni dengan kesesuain fungsi, bisa dikatakan artist’s open studio adalah bentuk baru ruang seni dalam memfasilitasi perjumpaan seni dan publiknya.

Sebenarnya dokumen hasil kerja perekaman IVAA yang berkaitan dengan pembahasan mengenai ruang seni ini cukup banyak dan tidak bisa seluruhnya dirangkum dalam satu tulisan. Oleh sebab itu kami menggunakan kesempatan Archive Showcase yang berlangsung 24 April hingga 9 Juni 2017 untuk menampilkan materi yang kami miliki.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2017.

Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!

Oleh: Grace Ayu Permono Putri

Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Narkotika yang tergabung dalam Paguyuban Tiyang Biasa (PASTI BISA) mengelar Pameran “Perbedaan Itu Indah” dengan tema “Rukun Agawe Santoso”, di Lapas Narkotika Kelas II A pada 2 hingga 4 Februari 2017 lalu. Berbagai macam karya seni ditampilkan, terdapat lukisan, patung, sablon, dan sebagainya. Rangkaian acara lain yang bisa ditemukan ialah workshop cukil serta aktivitas melukis di atas kanvas yang membentang sepanjang 30 meter dan pertunjukan musik hadroh Al-Taibun.

Selain itu ada diskusi seni dengan tema “Seni Penjara dan Posisinya dalam Diskursus Kesenian Indonesia”. Dalam diskusi itu AC. Andre Tanama serta Iwan Wijono menjadi pemantik, sementara yang menjadi moderator ialah salah seorang narapidana. Dalam diskusi tersebut, Andre Tanama mengatakan bahwa ia tidak berkompeten soal ‘seni penjara’ karena narapidanalah yang dapat merasakan apa itu seni di dalam penjara, maka ia pun menjelaskan dengan perspektif pengamat. Ia mengelaborasi makna penjara dalam arti fisik maupun non-fisik. Di lain pihak Iwan Wijono sebagai pemantik kedua menambahkan tentang bagaimana melihat penjara dalam arti spiritual.

“Acara ini merupakan bukti banyaknya agenda dan program positif serta membangun yang dilangsungkan di lapas sebagai wadah aktivitas dengan kreatifitas seni dengan segala keterbatasan yang ada,” ujar Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika kelas II Yogyakarta, Erwedi Supriyatno dalam siaran persnya. Erwedi Supriyatno juga kemudian berkisah bahwa ia pernah menjadi pelukis kaki lima Malioboro pada tahun 1989-1990, sehingga ia bisa memahami warga binaannya yang membutuhkan ruang, waktu, dan kesempatan untuk tetap berkreasi.

Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan ‘makan nasi penjara’ dengan menu berupa sayur, ikan, dan nasi yang menurut beberapa seniman rasanya cukup enak.

Kakanwil Kemenkumham DIY, Dewa Putu Gede, mengatakan bahwa kegiatan yang diinisiasi oleh lapas dan paguyuban seniman-seniman ini dapat mengembangkan segala potensi dalam berkesenian dari setiap warga binaan di lapas. Tujuannya untuk membantu warga binaan meningkatkan kemampuan dalam mengurangi ketergantungan obat-obatan. Harapannya, dengan berkesenian mereka akan kembali mendapatkan dunianya.

Di salah satu rangkaian acaranya yakni mural bersama, seniman senior Kartika Affandi putri dari maestro Indonesia Affandi turut memeriahkannya. “Papi saya jadi seniman besar juga tanpa narkoba, jadi usahakan jangan diulangi lagi ya,” Kartika berpesan.

Pameran yang menampilkan lebih dari 100 karya itu menampilkan cerita dari masing-masing penghuni lapas dengan sebaran tema yang beragam. Dari tema personal yang berbasis pengalaman selama di penjara, lingkungan, hingga tema-tema sosial, yang berupaya menjadi bagian dari kritik atas pembangunan.

Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik Lapas Khusus Narkotika Yogyakarta Marjiyanto mencatat per 2 Februari 2017 ada 226 penghuni lapas dan 35 di antaranya seniman atau memiliki hobi seni; ada perupa, pematung, dan pemusik. Dari situlah lahir Paguyuban Tiyang Biasa pada Desember 2016, yang diketuai oleh Santoso Ari.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


*Grace Ayu Permono Putri (l.1996), mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Tatakelola Seni di kampus ISI Yogyakarta yang sangat tertarik dengan pengelolaan perhelatan acara seni. Maka Grace banyak terlibat di dalam berbagai kepanitiaan pensi, pameran seni rupa, maupun perhelatan budaya lainnya. Dalam magangnya di IVAA, Grace membantu penyelenggaraan kegiatan di RumahIVAA serta menulis resensi sebagai bagian dari kerja pendokumentasian IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Terasiring: Bercerita Tentang Kerinduan dan Kenangan

Oleh: Grace Ayu Permono Putri

Rarya Lakshito (selo) dan Ringga Ferdian (vokalis dan gitar) adalah duo akustik yang menamai diri mereka ‘Terasering.’ Terasering sendiri adalah proyek musik yang dibuat di tahun 2016 dan akan segera merilis mini album. Pada 24 Maret lalu Terasering membawakan 9 buah lagu dalam pertunjukan mini yang digelar oleh IVAA dan sekaligus menjadi awalan program rutin Musrary. Diselingi dengan obrolan ringan dan kuis kecil-kecilan, acara tersebut berlangsung meriah dengan penonton yang memadati ruang pertemuan IVAA sejak pukul 19.00 hingga 21.00.

Sembilan lagu dibawakan dengan apik oleh Rarya dan Ringga dalam beberapa sesi. Diawali dengan 4 lagu pertama, yaitu Kawa, Fatamorgana, Lighthouse Man, dan Terimakasih. Lalu sesi kedua dibawakan 4 buah lagu dengan judul Sweet Afternoon, Catatan Perpisahan, Serumah, serta Air Mata Juli. Sementara di sesi terakhir ditutup dengan Suara Kerinduan.

Melalui program Musrary yang rencananya akan dihelat sebulan sekali ini, IVAA menekankan fungsi ruangnya sebagai ruang apresiasi. Walaupun sehari-harinya IVAA digunakan sebagai ruang kerja, ruang penyimpanan arsip seni rupa, dan perpustakaan publik, namun sebetulnya ruang IVAA tidak tertutup untuk aneka kegiatan yang bersifat ringan, menghibur, namun sesungguhnya merupakan hasil kebudayaan anak muda Indonesia sekarang yang berkualitas. Selain sebagai ruang apresiasi, harapan Musrary cukup sederhana, yakni menyediakan ruang temu antar pegiat musik, yang saling memotivasi dan menghidupkan inspirasi.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#SorotanArsip Menyimpan Apa yang Ditinggalkan Seniwati Gallery

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2012 lalu, atas undangan Mary Northmore tim arsip IVAA bertandang ke Seniwati Gallery yang terletak di Jalan Sriwedari 2B, Banjar Taman, Ubud. Atas berbagai pertimbangan Mary Northmore akan menutup Seniwati Gallery. Oleh sebab itu beliau menawarkan arsipnya untuk dialihformatkan IVAA menjadi arsip digital dan disimpan.

Seniwati Gallery merupakan galeri satu-satunya di Bali yang memberi tempat untuk seniman perempuan berkarya. Mulai beroperasi pada tahun 1991, Mary Northmore menginisiasi berdirinya Seniwati Gallery yang ditujukan untuk pelatihan seni dan ruang pamer seniman perempuan yang tinggal di Bali. Sebelum pulang ke negaranya untuk beberapa waktu pada tahun 2012, Mary Northmore memutuskan untuk tidak meneruskan operasional ruang Seniwati Gallery. 21 tahun mengelola Seniwati Gallery bukan waktu sebentar, telah banyak seniman perempuan Bali yang belajar melukis di sini hingga menjadi seniman perempuan yang mewarnai dinamika seni rupa Indonesia, I GAK Murniasih salah satunya. Mendiang dulunya adalah salah satu remaja peserta pelatihan melukis Seniwati Gallery yang memiliki bakat orisinal hingga di kemudian hari karya-karyanya dikenal di kancah internasional. Setelah menutup Seniwati Gallery, Mary Northmore memutuskan energinya yang tidak sebanyak dulu akan difokuskan untuk kehidupan pribadinya sambil mengelola arsip kekaryaan milik almarhum suaminya yang merupakan seniman Indonesia dari era revolusi, Abdul Aziz. Namun demikian beberapa kegiatan yang dulunya menjadi program Seniwati Gallery seperti kursus melukis untuk perempuan dan anak-anak tetap diteruskan oleh Ni Nyoman Sani, salah satu seniman perempuan yang dahulu pernah bertumbuh bersama Seniwati Gallery.

Arsip Seniwati Gallery yang disumbangkan oleh Mary Northmore terdiri dari kumpulan album foto dan katalog. Arsip foto di sini merupakan foto dokumentasi pameran yang pernah mereka selenggarakan dan foto-foto karya yang dipamerkan. Beberapa foto karya seniman yang ditemui adalah karya oleh Amilia Amini, Cok Mas Astiti, Gusti Ayu Suartini, Sri Haryani, Muntiana Tedja, Ni Made Sriasih. Sedangkan katalog pameran yang menjadi arsip di Seniwati Gallery antara lain Katalog Pameran “Life Style”, Katalog “Great Painters of Indonesia” (Pameran Pelukis Besar Indonesia), Katalog pameran “Fantasi Tubuh” oleh I GAK Munarsih. Selain itu terdapat juga laporan penelitian oleh Tjok Istri Mas Astiti dan beberapa artikel surat kabar.

Seluruh arsip yang disumbangkan oleh Seniwati Gallery telah selesai kami pindai. Daftar inventaris arsip dari Seniwati Gallery yang terdiri dari 1.482 berkas digital dapat dilihat di dalam tabel berikut ini: http://bit.ly/2oMKpph


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Kontekstualisasi Arsip, Redefinisi Seni dan Politik

Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sekira kurang dari satu semester, tim program IVAA tengah menyiapkan katalog data dengan tema Seni, Aksi, dan Jogja sebagai Ruang Urban. Buku Katalog Data IVAA ini disusun dari berbagai peristiwa seni budaya yang mengiringi berubahnya arah gerak kota Jogja pasca 1998. Penyusunan buku ini dilatarbelakangi dengan semangat untuk menggarisbawahi beragam aksi seni budaya yang mengambil bagian cukup penting dalam kritik sosial serta produksi pengetahuan. Selain itu, penerbitan ini juga merupakan usaha untuk melakukan kontekstualisasi data dan peristiwa, dengan menarik pembacaan ke ranah persoalan.

Persoalan yang dimaksud di sini ialah berbagai hal yang hadir ketika kota ini sedang digerakkan menuju standar tertentu, seperti standar kota global ataupun untuk mengejar predikat tertentu, sebagai kota wisata budaya dsb. Tepat ketika Yogyakarta sedang digerakkan ke arah tertentu, berbagai respon kreatif juga hadir mewarnai, baik yang datang dari kelompok seniman maupun inisiatif warga. Subjek seni disini juga sengaja kami longgarkan, untuk memeriksa berbagai model kolaborasi yang selama ini sering disebut sebagai metode yang terbuka.

Kehadiran buku katalog data ini kelak akan dijadikan pijakan narasi untuk festival Arsip IVAA yang akan dihelat di jelang penghujung tahun ini. Harapannya, tujuan dan maksud yang menjadi spirit kami untuk menghidupkan arsip sekaligus membuat kerja pengarsipan kontekstual dengan jaman juga tetap terjaga. Selain untuk melakukan kontekstualisasi atas berbagai aksi seni dan budaya yang selama ini dilakukan selama hampir dua dekade pasca 1998.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Persiapan JABN dan Kabar dari Kerja Jaringan Gunungkidul

Oleh: Pitra Hutomo

Tahun 2016 menandai jeda tahun kedua pasca penyelenggaraan Hibah KARYA! (Kembangkan Arsip Budaya!), yang di tahun 2013 membuka kesempatan bagi para pekerja seni untuk mereproduksi gagasan setelah meneliti arsip budaya koleksi anggota Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN). Di tengah periode jeda, IVAA melakukan evaluasi besar menjelang satu dekade pembaruan visi dan misi lembaga. Hasil evaluasi IVAA merumuskan kebutuhan untuk merevitalisasi konsep JABN, agar JABN bisa mewadahi praktik pertukaran pengetahuan melalui kerja pengelolaan dan pengkajian arsip. Misi ini tentu berbeda dengan JABN sebelumnya, yakni menjadi wadah untuk bertukar pengetahuan tentang praktik alih media rekam, sekaligus jejaring antar pembutuh solusi untuk keterbatasan sarana fisik untuk penyimpanan dan preservasi dokumen.

Makna arsip budaya digali lebih dalam pasca IVAA menerbitkan buku “Arsipelago: Kerja Arsip dan Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia.” Buku Arsipelago dibawa ke beberapa kota untuk didiskusikan dengan praktisi arsip, sejarah, dan media baru. Penamaan “Menanam Arsip” sebagai judul rangkaian diskusi bermaksud membangkitkan rekam jejak peradaban manusia di komunitas-komunitas agraris yang terhimpit karena modernitas telah memaksa terjadinya alih fungsi dan hilangnya hak pemanfaatan lahan akibat pergantian kepemilikan. Dalam komunitas yang mudah lupa karena (di antara sebabnya adalah) jarang mencatat, merefleksikan perubahan lingkungan adalah kerja kebudayaan. Konon, semakin canggih kemampuan manusia untuk mewujudkan gagasan artistik karena kecakapan mengolah medium atau tergarapnya ruang-ruang apresiasi seni sebagai ekspresi maupun disiplin, semakin tinggi pula peradaban. Apakah benar demikian jika sejak awal cara mengakses pengetahuan dibatasi otoritas dalam ruang-ruang pendidikan formal?

Kasus di Pantai Kapen/Watukodok sempat mengisi halaman muka Tribun Jogja. Di lokasi konflik, warga mulai ditempa pengalaman menghadapi derasnya arus modal di sekitar mereka, dengan maupun tanpa bukti keterlibatan birokrat setempat atau Kasultanan sekalipun.
Sumber: Tribun Jogja, 30 Mei 2015

Maka, di tahap awal ini IVAA sengaja hendak membebaskan studi literatur dari upaya teorisasi praktik-praktik keterlibatan maupun ketersambungan dalam disiplin seni (participatory and engagement in art). Sebagai pihak yang setiap hari menggeluti laporan kerja budaya terkini lalu mencari konteks pada praktik-praktik masa lampau, mempelajari ekspresi artistik dan perluasannya yang terang-terangan memasang label ‘seni partisipatoris’ hanya akan berhenti sebagai laku pengawetan. Karena itulah metode riset aksi menjawab kebutuhan kontekstualisasi untuk rekaman yang di masa mendatang menyusun tubuh arsip budaya Indonesia. Ruang lingkup yang kami tuju adalah spektrum yang menggunakan seni budaya khususnya seni rakyat, sebagai komoditas. Studi literatur berangkat dari kebijakan nasional tentang kebudayaan, pariwisata, dan pendidikan berdasarkan sejarah nomenklatur kementerian hingga dua tahun belakangan menjadi badan tersendiri. Konteks setempat di lingkungan terdekat IVAA di Yogyakarta mensyaratkan pula pemahaman tentang kebijakan daerah, mulai dari konsekuensi penerapan paradigma Keistimewaan di provinsi hingga desa, sekaligus relasi kuasa yang bekerja karena keberadaan Kraton sebagai simbol budaya dan politik permainan politik identitas.

Peta wisata Gunungkidul yang menunjukkan potensi pariwisata alam.
Sumber: visitingjogja.com

Riset aksi yang mendahului guliran baru JABN berbekal kesamaan melihat potensi fatal komodifikasi budaya di Gunungkidul, khususnya untuk warga pesisir selatan di deretan pantai Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. IVAA bekerja sama dengan Rumah Belajar Rakyat dan beberapa orang warga Watukodok dan Sepanjang mempelajari dan mendokumentasikan apa saja yang berubah sejak pantai-pantai di Desa Kemadang dibuka.

Komposisi profesi di Desa Kemadang. Sumber: kemadang-tanjungsari.desa.id

Data kependudukan Desa Kemadang menunjukkan bahwa warga yang bekerja di sektor pertanian dan perkebunan mencapai lebih dari 2000 jiwa, melampaui jumlah warga yang berprofesi lain. Karena ada kebutuhan mengedepankan nilai budaya setempat sebagai daya tarik untuk wisatawan, Dinas Kebudayaan DIY menerjunkan individu-individu sebagai pendamping budaya.

Kami berangkat dari beberapa pertanyaan penelitian, yakni:

  1. Benarkah warga Desa Kemadang meningkat taraf hidupnya karena membuka warung makan dan kamar mandi di pantai?
  2. Jika pariwisata bisa meningkatkan taraf hidup, mengapa tahun 2015 warga pengelola Pantai Kapen/Watukodok menghadapi ancaman penggusuran oleh pembeli tanah yang membekali dirinya dengan surat kekancingan, atau tanda bukti pemakaian tanah dari kantor pertanahan Kraton?
  3. Bagaimana warga pantai Gunungkidul memaknai kedaulatan mereka melalui ikatan atas tanah warisan nenek moyang?
  4. Apakah warga pernah dilibatkan dalam perencanaan tata ruang desa dan tata letak pantai?
  5. Bagaimana kondisi sebelum dan sesudah pendamping budaya bekerja di desa-desa budaya?
Cuplikan dari lembar presentasi berjudul “Pariwisata Berbasis Budaya sebagai Wujud Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan” yang menurunkan unsur pariwisata budaya menjadi produk (budaya) dan pasar (wisatawan); juga apa saja potensi kebudayaan dan kepariwisataan Kabupaten Gunungkidul
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Desember

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Jan-Feb 2017 | Memeriksa Kembali Seni dan Bali

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Januari-Februari 2017

Memeriksa Kembali Seni dan Bali

Salam jumpa untuk pembaca semua. Senang rasanya bisa secara rutin menyapa pembaca sekalian melalui buletin dua bulanan ini. Di edisi pertama tahun 2017, kami telah mempersiapkan beberapa sajian untuk dibagi.

Pada edisi sebelumnya, kami melakukan observasi sederhana dan pembacaan arsip mengenai beragam praktik yang dilakukan oleh seniman, yang sering diasosiasikan sebagai praktik riset. Dengan berbekal beberapa pertanyaan dasar, kami mulai penelusuran dengan langkah yang kecil, pembacaan arsip yang harapannya akan mengantar kami pada penyelidikan dan penelusuran lanjut yang akan kami lakukan bertahap.

Kali ini, kami menyoroti fenomena yang sedikit berbeda. Perhatian tim redaksi pada edisi Januari-Februari ini kami arahkan pada kecenderungan identitas etnis yang muncul dalam aktivitas berkesenian kita. Sudah lama diketahui memang, bahwa kelompok seniman berbasis etnis atau daerah ini banyak mewarnai dinamika kesenian di Yogyakarta. Ragam pameran seni rupa yang dikemas dengan istilah yang memiliki asosiasi etnis tertentu atau dengan nama daerah juga tidak hanya satu dua kali muncul. Pertanyaannya tentu bukan pada keaslian atau kekhasan acara yang hadir ke publik. Justru pernyataan-pernyataan yang secara implisit menekankan pada keaslian tradisi ini yang kita periksa satu persatu, kita pertanyakan lagi, dengan membuka beberapa catatan dari koleksi arsip IVAA.

Banyak pembahasan yang bisa dihasilkan ketika menarik fenomena ini ke dalam beberapa bidang, namun kali ini, kami membatasi pada satu pertanyaan, sejauh mana pameran atau perhelatan seni rupa dengan identitas etnis ini juga menjadi bagian dari produksi pengetahuan?

Ulasan yang kami hadirkan disini tentu bukan merupakan jawaban tuntas, namun lebih hadir sebagai pancingan dan penjaga ingatan, yang mengawal pada berbagai tanya selanjutnya.

Selamat membaca dan salam budaya!

Lisistrata Lusandiana
Kepala Redaksi


Baca Arsip

Memeriksa Kembali Seni dan Bali, Melihat Pengetahuan yang Terbagi
Oleh: Tiatira Saputri

Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh : Himawan Kurniadi, Brigitta Engla, Tiatira Saputri, dan Hertiti Titis LW.
a. Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul
b. International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities
c. Contemporary Art from Bali 2016
d. Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”

Sorotan Arsip
Koleksi Arsip Moelyono
Oleh : Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh : Santosa & Lisistrata
a. Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic, 1945-1965
b. Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia
c. Menjadi Jogja: Memahami Jatidiri Dan Transformasi Yogyakarta

Agenda RumahIVAA
Persiapan JABN dan Kabar dari Kerja Jaringan Gunungkidul
Oleh: Pitra Hutomo

Kontekstualisasi Arsip, Redefinisi Seni dan Politik
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Archive Showcase: Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa
Oleh : Tiatira Saputri

Pengumuman Kantor
Cerita magang di IVAA
Oleh : Alexander Bloom

Program Magang IVAA – 2017
Poster oleh: Beny Wijaya Cahya

#SorotanDokumentasi Buletin IVAA Dwi Bulanan Jan-Feb 2017

Membuka lembaran daftar perolehan dokumen baru, hingga hari ini tim dokumentasi IVAA tercatat telah merekam sejumlah 27 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada awal tahun ini agaknya khalayak seni rupa Indonesia tengah menyusun persiapan penyelenggaraan perhelatan-perhelatan besar yang akan bermunculan mulai pertengahan hingga akhir tahun seperti ArtJOG, Biennale Jogja, dan Jakarta Biennale. Hal ini kami simpulkan demikian karena tidak terlalu banyak penyelenggaraan pameran, diskusi, maupun performance yang kami jumpai sejak kalender baru dipasang hingga tulisan di rubrik Sorotan Dokumentasi ini dibuat. Keadaan ini memberi kesempatan tim dokumentasi IVAA yang beranggotakan peserta Program Magang IVAA dan dikoordinatori oleh Dwi Rachmanto untuk mengambil nafas, mengingat bahwa biasanya kami bagaikan tanpa jeda merekam banyaknya aktivitas seni budaya. Pada rubrik Sorotan Dokumentasi kali ini kami akan menyoroti 4 peristiwa yang kami anggap menarik. Uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya dapat disimak di bawah ini.


1. Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul
Oleh : Himawan Kurniadi

2. International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities
Oleh : Brigitta Engla dan Tiatira Saputri

3. Contemporary Art from Bali 2016
Oleh : Hertiti Titis Luhung Weningtyas

4. Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”
Oleh : Hertiti Titis Luhung Weningtyas


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul

Oleh: Himawan Kurniadi (Kontributor)

Paduan dua kata, ‘Gunungkidul’ dan ‘pariwisata’ bagi segelintir orang bermakna jalan menuju peningkatan taraf hidup. Bagi mereka yang merasa mampu berkontribusi melihat hal ini dalam kerangka proyek pengembangan potensi, sedangkan yang lain berdalih tidak ingin menjadikan warga Gunungkidul sebagai penonton. Diskusi “Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul” adalah upaya menjajaki persepsi sekelumit putra-putri asal kabupaten di sisi tenggara provinsi DI. Yogyakarta ini, khususnya mereka yang bergiat sebagai pekerja LSM, mahasiswa, hingga langganan penggarap proyek negara atau kabupaten. Tujuan diskusi di Angkringan Mrikiniki, Wonosari yang berlangsung 18 Januari 2017 lalu ini bertumpu pada refleksi dan jajak pendapat kalangan masyarakat sipil yang menguasai konteks politik dan ekonomi setempat.

Beberapa pertanyaan kunci diajukan oleh dua pemantik diskusi, Tri Wahyu dari Indonesia Court Monitoring (ICM) dan M. Thonthowi dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam), Nahdlatul Ulama Gunungkidul. Forum semakin menarik karena paparan dan diskusi yang gamblang berlangsung antara pihak-pihak non pemerintah yang merasa selama ini bekerja terpisah dari proyek-proyek pemerintah untuk pengembangan kebudayaan.

Saat membahas gencarnya upaya mencitrakan Gunungkidul sebagai wilayah administratif yang paling membutuhkan skema industrialisasi pariwisata alam dan budaya, forum ini mempertanyakan mengapa pemerintah masih menggunakan proksi dinas provinsi atau investor? Sebagian peserta diskusi juga mengeluhkan cara-cara promosi pemerintah yang abai dengan kesiapan warga di lokasi-lokasi yang terlanjur digenjot sebagai tujuan pariwisata. Seolah-olah bagi pemerintah kabupaten, naiknya kunjungan wisata hanya berdampak pada kenaikan Pendapatan Asli Daerah dari retribusi atau biaya tiket masuk ke klaster area wisata, khususnya di kawasan pesisir selatan.

Pemerintah memang menyediakan sejumlah anggaran untuk dikelola desa dan terkadang disertai intervensi langsung dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan yang mewakili tubuh provinsi di Kabupaten. Selain menyalurkan anggaran yang dikelola desa, pemerintah menempatkan sejumlah sumber daya manusia sebagai ‘Pendamping Desa Budaya’. Desa Budaya adalah salah satu turunan keistimewaan DIY yang ditetapkan dalam Pergub DIY No.36/2014. Keberadaan para pendamping adalah untuk menyelaraskan misi pengelolaan desa dengan arahan utama pertumbuhan ekonomi, melalui skema permodalan untuk Usaha Kecil dan Menengah hingga promosi lokasi tujuan wisata melalui ekspresi seni rakyat.

Percakapan tentang keberadaan para pendamping sebagai tenaga kontrak yang mendapat Upah Minimum Provinsi dari Dana Keistimewaan menggiring forum untuk menyoroti perihal basis modal di Gunungkidul. Skema industrialisasi pariwisata di bidang kebudayaan dicurigai telah mendorong adanya penyeragaman bentuk-bentuk ekspresi setempat dan malah mencabut akar kebutuhan atas seni rakyat itu sendiri. Ini terjadi misalnya untuk “Sedekah Laut” yang sebelum ‘didampingi’ sebatas menandai momen berkumpul antar warga pedukuhan suatu desa setelah panen raya. Acuan waktu yang khas terpaksa diabaikan karena acara budaya harus masuk kalender event budaya reguler Gunungkidul, dan harus dilakukan saat kunjungan tinggi pariwisata (high season).

| Klik disini untuk melihat video |


*Himawan Kurniadi (l.1986) adalah pegiat Rumah Belajar Rakyat di Siraman, Wonosari. Ia lulus dari Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta dan beberapa tahun belakangan intens dalam kerja-kerja pengorganisasian terkait isu pendidikan dan pariwisata.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.