Category Archives: Kabar IVAA

Jogja Agro Pop: Jalan Alternatif Membongkar Oposisi Biner Seni Rupa Indonesia

Judul : Jogja Agro Pop: Negosiasi Identitas Kultural dalam Seni Visual 
Editor : M. Rain Rosidi
Penulis : Nano Warsono
Penerbit : Jogja Agro Pop
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun Terbit : 2012
Jumlah Halaman : xii + 226
Resensi oleh : Bian Nugroho

Ruangan ukuran 3×3 ini tak tertata rapi. Kertas berserakan di pojok ruangan dekat sebuah cermin yang digantung. Pakaian-pakaian tertumpuk di sudut lain. Ada aroma sambel pecel, menyatu dengan bau keringat pada kasur. Ada setumpuk piring dan gelas di bawah rak buku yang mulai berdebu. Saya tidak tahu itu barang bersih atau kotor. Di sisi tembok ruang bagian timur, sebuah gorden warna hijau lusuh, kelihatan tidak pernah dicuci beserta beberapa poster-poster yang nge-pop sangat kontras dari suasana lembab kamarnya. Makin postmo saja orang ini gumam saya. Memang tujuan utama saya datang ke sana adalah untuk berbincang mengenai postmodernisme di dalam dunia seni Jogja. Entah karena main saya kurang jauh, lebih suka bermalas-malasan di kos dan yang terpenting saya lebih mementingkan kebutuhan biologis saya dari pada kebutuhan estetika. Karena saya bukan tergolong anak muda dunia ketiga yang terseret arus kesenian indie yang terdepan dalam seni tapi lunglai secara ekonomi. Saya tidak pernah melihat gaungan wacana postmodernisme di dalam dunia seni Jogja. “Mainmu kurang jauh, Yan”, begitu katanya dia menyebutkan sebuah nama Jogja Agro Pop. Sebuah kolektif seni rupa yang menurutnya sering bermain di dalam wacana postmodern.

Jogja Agro Pop adalah istilah yang dipakai seorang kurator bernama Rain Rosidi dalam sebuah katalog pameran untuk merujuk beberapa seniman Jogja yang memiliki kesamaan dalam mengadopsi tanda-tanda yang beragam, yang mengekspresikan kehidupan sehari-hari, budaya pop, lokal dan global dalam setiap karya mereka. Komunitas ini muncul dan berkembang melalui semangat independen dan underground yang berakar dari wacana-wacana subkultur yang mereka konsumsi. 

Meminjam pemikiran Benedict Anderson, Jogja Agro Pop secara intrinsik terbentuk karena proses komunikasi. Proses komunikasi ini berlangsung secara organik karena kesamaan wacana yang mereka konsumsi selama ini; apa yang mereka baca, dengar dan lihat. Kesamaan ini akan mempermudah komunikasi para seniman karena ada imajinasi tentang sesuatu yang sama-sama dipercayai sebagai tujuan dalam berkesenian. Hal ini secara tidak langsung membentuk sebuah identitas komunitas tersebut. Dalam hal ini identitas mereka akan terlihat dalam produksi maknanya, yaitu karya seni.

Dalam perjalanannya terlihat bagaimana wacana yang dibawa oleh Jogja Argo Pop agak berbau postmodern. Mereka berusaha mendekonstruksi oposisi biner yang ada sejak dulu di dalam perkembangan dunia seni di Jogja. Jogja Agro Pop berusaha membongkar oposisi biner yang selama ini terbangun, seperti pakem-bermain. Jogja Agro Pop berusaha mengangkat terma pertama yaitu bermain untuk mengusik status quo pakem yang selama ini dianggap sudah final, seperti dalam tradisi Metafisika Kehadiran Dunia barat dari jaman Klasik sampai Modern yang sangat terobsesi untuk mencari genealogi dan finalitas terhadap realitas. Mulai dari Platon mengenai “dunia ide”-nya sampai dengan dealektika Hegelian. 

Jogja Agro Pop akan lebih merespon realitas sosial dengan semangat bermain agar tidak terjebak dalam oposisi biner yang secara tidak langsung akan menegasikan predikat kedua dalam sebuah oposisi biner. Contoh, dalam sebuah fenomena sosial politik, dengan cara yang berbeda mereka akan mengolah sebuah ketegangan menjadi lebih lunak. Sehingga karya yang terlihat tidak berbau amarah, tetapi menjadikannya sebagai semangat perlawanan yang berbeda. 

Dalam sudut pandang lain, hal ini akan menciptakan sebuah dualisme-paradoksal yang hampir mirip dengan prinsip logika Wittgenstenian, yaitu bipolaritas. Jogja Agro Pop mengandung makna sebagai proposisi bipolar yang menghadirkan dua kata berlawanan dalam satu proposisi, sehingga proses pemaknaan dalam setiap karya Jogja Agro Pop tidak akan pernah menuju sebuah finalitas yang dapat mengusik status quo yang sejak dulu menjadi pakem dalam perkembangan dunia seni rupa di Indonesia.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Jean Michel Basquiat: Seni Kontemporer, Seni Pembebasan

Judul : Jean-Michel Basquiat – Raja Seni Jalanan
Penulis : Drajat T Jatmiko, Riska Kahiyang
Penerbit : Phospene  Art Book
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Yogyakarta
Halaman : 233
ISBN : 987-602-53746-2-3
Resensi oleh : Fika Khoirunnisa

Banyak yang mengenal Basquiat melalui gaya hidupnya yang glamour, bersahabat dengan Andy Warhol, karyanya yang nyentrik, hingga gambar-gambar yang tersemat pada beberapa brand ternama, seperti Uniqlo, Reebook, hingga Supreme. Namun, di balik itu semua Basquiat harus melalui jalan panjang penuh liku. Perjalanannya dimulai dari lorong-lorong kota Manhattan ketika ia mulai menggambar grafiti bersama karibnya, Al Diaz. Dua serangkai itu selalu menyertakan simbol SAMO di setiap karya mereka. Meski hal ini terbilang lumrah dalam dunia seni kontemporer, namun Basquiat merupakan salah satu contoh paling spektakuler yang berhasil menaklukkan jalanan untuk menduduki singgasananya sebagai “seniman galeri” dengan nama yang cukup besar di New York.

Basquiat muncul sebagai seniman di saat rakyat Amerika mengalami ketegangan dengan berbagai krisis dan kekhawatiran, khususnya yang dialami oleh orang-orang kulit hitam. Dalam keadaan seperti ini orang membutuhkan cara pandang, ungkapan dan perumpamaan baru guna memahami keadaan sekaligus sebagai solusi bagi persoalan yang muncul. Sementara itu, seharusnya seni rupa memiliki ruang yang dapat menampung itu semua, bukan malah dikotak-kotakkan berdasarkan gender, strata sosial, apalagi menyangkut isu SARA. Jean-Michel Basquiat tentu dengan tegas menolak hal itu. Ia enggan dikaitkan dengan kelompok dan kepentingan politis tertentu, serta menginginkan kebebasan. Melalui karya-karyanya, kita dapat melihat kritik mengenai isu diskriminasi, ketidaksetaraan ras, hingga isu perbudakan yang banyak dikaitkan sebagai produk neo-kolonialisme; yang tanpa disadari telah mengontrol negara-negara bekas jajahan seperti yang terjadi di Afrika dan Asia.

Dalam sebuah wawancara Basquiat berkata, “I’m not a black artist, I am an artist.”

Jelaslah dari pernyataan tersebut kita dapat melihat sekaligus mengenal bagaimana perjuangan pemuda kulit hitam ini dalam meyakini ideologi artistiknya. Basquiat ingin melepaskan diri dari kungkungan diskriminasi, jerat perbudakan, dan berbagai praktik rasial yang selama ini menjerat dirinya dan sebagian besar kaum kulit hitam lainnya. Kemunculan Basquiat di kancah seni tahun 1980-an bertepatan dengan munculnya gerakan neo-ekspresionisme yang ditandai dengan pemakaian material kasar sebagai medium untuk melukis. Namun, jika ditelaah lebih lanjut, karya-karya yang dihasilkan oleh Basquiat sangatlah konsisten. 

Seperti yang dikatakan penulis, unsur-unsur linguistik dalam lukisan Basquiat tidak hanya melibatkan karya dalam wacana sejarah dan budaya, tetapi juga menampilkan harmonisasi mengenai ekonomi-puitis yang memikat, sekaligus kritik terhadap wacana tersebut. Ia kerap memakai unsur bahasa sehari-hari, seperti penggunaan nama merk dagang, citra rasisme, budaya konsumen, dan slogan politik. Basquiat ingin menyampaikan kritiknya terhadap struktur kekuasaan laten yang merujuk pada ironi kesewenang-wenangan dalam satu lembaga sosial masyarakat. Selain itu, ia juga banyak menyorot isu rasisme seperti yang tampak pada lukisannya yang tanpa judul: Untitled/ Rinso (1982).

Dalam liku hidupnya, Basquiat banyak dibenci karena kesuksesannya. Hidupnya penuh dengan fitnah dan celaan yang datang dari para kritikus, dan ia juga harus terisolasi dalam lingkungan yang buruk. Popularitas merupakan tujuan hidupnya sejak awal, maka segala hal buruk yang menimpanya ia anggap sebagai konsekuensi dari itu semua. Dengan latar belakang yang ia miliki seperti image berkulit hitam, muda, dan pecandu heroin, tidak sedikit yang memandangnya sebagai lelucon dan menganggapnya remeh. Namun di balik itu semua, kematian dan kehidupannya, Basquiat tetaplah menjadi komoditas.

Sebagai buku biografi, buku ini mampu menampilkan secara lengkap perjalanan Jean Michel Basquiat sejak kanak-kanak hingga akhir hidupnya. Kisah hidupnya secara pribadi, keluarga, keterlibatannya sebagai minoritas sekaligus seniman dengan nama yang besar, analisis karya, hingga bagaimana ingatan orang terdekat pada detik-detik akhir hidupnya. Beberapa sindiran sarkastik hingga pujian yang dilontarkan para kritikus hingga seniman yang berperan dalam karir Basquiat mampu dihadirkan dengan baik.

Selebihnya, buku ini dapat diposisikan sebagai referensi untuk menelaah lebih jauh praktik hingga liku berkesenian dalam bingkai politis progresif, bersifat provokatif dan dalam ranah kontemporer. Dalam ideologi artistik yang Basquiat anut, paparan kisah hidupnya menitikberatkan pada interkoneksi isu SARA dengan medan kesenirupaan yang ia selami. Pada titik yang cukup agung, seni telah berhasil menjalankan fungsi besarnya sebagai bentuk kritik.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Catatan Program Sandiolo

Judul buku : SANDIOLO
Penulis : Dwiki Nugroho Mukti
Editor : Ayunin Widya Risya
Penerbit : AJRIE Publisher
Tahun terbit : 2016
Tempat terbit : Bukittinggi
Halaman : x+188
ISBN : 978-602-69435-6-9
Resensi oleh : Uray Nadha Nazla

SERBUK KAYU adalah sebuah kolektif seni di Surabaya yang terbentuk pada 2011, yang berangkat dari kalangan mahasiswa. Dwiki Nugroho Mukti, Dwi Janurtanto, Dyan Condro, Indra Prayhogi, RM Mahendra Pradipta, dan Zalfa Robby membentuk kolektif ini sebagai respon atas harga bahan bakar minyak yang naik pada 2011. Melalui aksi seni pertunjukan mereka membuat instalasi mobil kayu yang kemudian dikendarai dengan cara berjalan kaki dari UNESA kampus Lidah Wetan menuju Taman Bungkul. Dalam melakukan praktik keseniannya mereka bermarkas di Sandiolo. 

Buku Sandiolo berisi uraian program-program yang pernah dijalankan oleh SERBUK KAYU sebagai bagian dari gerakan estetika di Surabaya. Kontennya cukup lengkap, dari rancangan program, profil pengisi acara, notulensi, hingga review program. Buku ini bisa menjadi salah satu referensi bagi pembaca untuk melihat perkembangan skena seni di Surabaya pada 2016. 

Beberapa program yang dicatat adalah sebagai berikut:

1. Imgesprach
Program diskusi berkala yang bisa diikuti oleh semua orang secara gratis sebagai upaya distribusi pengetahuan seni bagi masyarakat luas. Dengan berfokus pada materi seni rupa dan berbagai bidang yang memiliki korelasi, selama 2016 telah berlangsung sebanyak 5 kali dengan tema Art Collectivity, As an Artist, Perspektif Seni Rupa dalam Islam, Performative Photography and Performance Art, dan Workshop Penulisan Kritik Seni “Seni Rupa Kelas Terbang”.

2. Surabaya Move On #3
Bentuk edukasi kesenian yang dilakukan di Surabaya dengan memaparkan ritme kesenian tradisional, modern, maupun kontemporer kepada masyarakat. Selain sebagai upaya peleburan seni dengan masyarakat, apresiasi karya seni juga menjadi titik penting. 

3. Servis Vol. 2
Kompetisi bagi para pelaku seni di Universitas Negeri Surabaya untuk menciptakan iklim kompetitif dan peningkatan mutu bagi lingkungan kampus dengan persaingan yang sehat antar mahasiswa seni melalui beragam media dalam karya mereka.

4. SADAP (Sandiolo Residency Program)
Program residensi yang pertama kali dilakukan Sandiolo untuk menghadirkan seniman dari beberapa kota untuk tinggal dan melakukan riset selama satu bulan dengan tema “Surabaya dan Ramadhan”. Hasil riset mereka kemudian diolah menjadi karya dan dipamerkan di Sandiolo. 

5. Gelagat Buruk Remaja 6
Acara gigs musik noise yang diinisiasi oleh kolektif Melawan Kebisingan Kota, yang tidak dirancang secara rapi. Tujuan acara ini memang untuk meluapkan ke-ugal-ugal-an muda-mudi. Biasanya acara ini bisa digelar di mana saja, tetapi untuk kali ini Sandiolo menjadi ruang yang digunakan.

6Pameran Kartini
Pameran seni sebagai pemantik gerakan perempuan untuk berani menunjukkan potensi mereka. 

Kebetulan sekali, rutinitas saya juga tidak jauh dari apa yang disebut sebagai program seni. Sehari-hari saya bekerja bersama Canopy Center, sebuah ruang kolektif di Pontianak, Kalimantan Barat. Uraian berbagai program di dalam buku ini bisa saya tempatkan sebagai referensi untuk menyusun dan menata program di tempat saya bekerja. Bukan semata meniru, tetapi justru meletakkan daya kritis dalam menjalankan suatu program seni secara kontekstual sesuai situasi komunitas yang bersangkutan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Affandi, Pelukis Besar yang Sederhana

Judul                            : Affandi Pelukis
Penulis                        : Nasjah Djamin
Penerbit                     : Penerbit Nyala
Tahun terbit             : 2017
Jumlah halaman    : 98
Ukuran                        : 12 cm x 19 cm
ISBN                             : 978-602-60855-6-6
Resensi oleh            : Aisha Shifa Mutiyara

Agus suka menggambar. Gambarnya bagus, bahkan bisa dibilang sangat bagus jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Pujian dari Ibu Guru dan decak kagum teman sekelasnya selalu terdengar saat mereka melihat gambar Agus. Kemampuan luar biasa Agus dalam menggambar ini membuat Ibu Guru mendoakannya agar bisa sesukses Affandi, pelukis legendaris Indonesia yang mendapat gelar “doktor”.

Namun sayangnya Agus salah mendengar kata “doktor” menjadi “dokter”. Hal ini membuatnya bingung. Jadi, sebenarnya Affandi itu pelukis atau dokter yang mengobati orang sakit? Agus bertanya pada orang tuanya, tetapi mereka tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan. Mereka lalu menyarankan Agus untuk bertanya pada Paman saat berkunjung ke rumah nanti. Pamannya adalah seorang mahasiswa, berbeda dengan mereka yang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Mereka yakin bahwa Paman dapat menjawab pertanyaan Agus.

Pada saat Agus sedang membantu ayahnya di sawah, Paman berkunjung ke rumah sambil membawa kabar gembira: lukisan Agus dimuat di majalah di Jakarta. Agus mendapat banyak hadiah dan uang sebanyak lima ribu rupiah, yang jumlahnya cukup besar saat itu. Kabar dimuatnya karya Agus segera menyebar ke seluruh desa. Pujian datang silih berganti dari tetangganya, teman-teman, dan gurunya. Bahkan Pak Lurah dan Pak Carik pun menyempatkan diri mengunjungi Agus untuk memberi selamat. Semua ikut merasa bangga dengan prestasi Agus.

Di sela-sela obrolannya dengan Paman, ayah Agus menanyakan tentang gelar “doktor” yang membingungkan itu. Pamannya menjelaskan bahwa gelar tersebut merupakan gelar doktor yang didapat oleh seseorang yang “besar jasanya dalam bidang kerjanya”. Gelar kehormatan itu diperoleh Affandi dari Universitas Singapura atas jasanya dalam dunia seni lukis. Paman juga berjanji akan mengajak Agus ke Yogyakarta pada hari Minggu untuk mengunjungi museum dan rumah pelukis Affandi.

Hari yang ditunggu Agus tiba. Pada hari Minggu, Paman menjemput Agus dengan motor bututnya. Mereka berboncengan dari Desa Besi ke Yogyakarta untuk mengunjungi museum Affandi. Agus membawa serta lukisan-lukisannya untuk ditunjukkan kepada Affandi nanti.

Sayangnya, mereka kurang beruntung. Hari itu Affandi dan istrinya sedang tidak ada di rumah dan Pak Tris, yang memegang kunci museum, sedang sakit. Mereka hanya bertemu dengan Pak Karso, yang bertanggungjawab atas rumah Affandi. Akhirnya, mereka hanya dapat singgah di ruang tamu rumah dan berkeliling di sekitar museum.

Agus terheran-heran dengan kesederhanaan Affandi. Yang ia lihat berbeda dengan harapannya. Perabotan Affandi sangatlah sederhana. Di ruang tamu yang dikunjungi tamu-tamu dari mancanegara kursinya terbuat dari bambu, bukan sofa yang empuk. Tidak hanya itu, cerita Paman tentang hidup Affandi yang serba sederhana dan cara melukisnya yang “gembel”; melukis di jalanan bukan di studio lukis, juga tidak dapat dipahami Agus. Bagaimana bisa orang sehebat itu memilih untuk melakukan hal-hal yang dilakukan orang biasa?

Untuk mengobati rasa kecewa Agus karena belum dapat memasuki museum Affandi dan untuk memberinya pengantar supaya nantinya bisa lebih menghayati lukisan-lukisan Affandi, Paman mengajak Agus untuk menemui temannya, Juminten. Ia membuat karangan tentang Affandi untuk anak-anak. Karangan itu menceritakan kehidupan Affandi sejak ia kecil hingga sekarang. Rencananya, karangan ini akan dikirimkan ke majalah anak-anak atau ke penerbit, dan Pamanlah yang mengetik teksnya. Mereka bertemu di warung bakso langganan Paman. Juminten, yang biasa disapa Mbak Jum, mempersilakan Agus untuk membaca karangannya. Sekalian sebagai koreksi, begitu katanya.

Setelah itu, Agus dibawa Paman ke pondokannya. Di sana Agus membaca karangan Mbak Jum yang sudah diketik dengan rapi oleh Paman. Setelah membaca karangan itu, kini Agus lebih bisa memahami Affandi. Bisa dibilang, masa kecil Affandi sangatlah pahit. Ia tidak seberuntung Agus. Tidak ada yang mendukung bakatnya. Ayah dan kakaknya ingin Affandi menjadi akademisi supaya kelak menjadi orang sukses, bertentangan dengan keinginannya untuk menjadi pelukis. Saat itu pun di Indonesia tidak ada sekolah menggambar. Affandi harus memelajarinya sendiri.

Namun kesulitan-kesulitan tersebut bukanlah penghalang bagi Affandi. Ia memang sempat melanjutkan sekolah hingga AMS (Algemeene Middelbare School, setingkat SMA) di Jakarta sesuai dengan keinginan ayah dan kakaknya. Namun, ia tidak menyelesaikannya dan memutuskan untuk melanjutkan dan memperdalam hobi menggambarnya, walaupun dengan konsekuensi hidup mandiri tanpa dibiayai kakaknya.

Begitulah Affandi, yang teguh pendiriannya dan keras kepalanya, yang berani hidup susah demi memenuhi panggilan hatinya. Awalnya, ia memaksakan diri untuk bekerja sebagai guru guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keinginannya untuk menggambar masih membara. Pada tahun 1933, Affandi menikah dengan muridnya, Maryati. Hasrat menggambarnya semakin menjadi, dan didukung pula oleh istrinya. Akhirnya, jika ada pekerjaan kasar yang membutuhkan kemampuan menggambarnya seperti membuat papan nama toko, mengecat pintu, atau membuat poster reklame, ia memilih untuk mengerjakannya dari pada menjadi guru. Walaupun bayarannya jauh lebih kecil, Affandi dengan senang hati melakukannya. Dianggapnya pekerjaan itu sebagai latihan. Mengajar hanya dilakukannya sesekali, jika terpaksa.

Affandi menikmati hidupnya yang melarat itu. Ia mengamati, merasakan, dan terlibat langsung dalam kehidupan rakyat yang melarat. Pengalamannya ini yang menjadikan dasar lukisan-lukisannya. Affandi berbeda dengan Basuki Abdullah, yang hidup di kalangan para konglomerat dan melukis “yang indah-indah”. Affandi lebih suka menggambar sesuai kenyataan, tanpa ada usaha untuk meng-indah-kan. Bentuk-bentuk ekspresif dari cat yang dioleskan langsung dari tubenya adalah ciri khasnya.

Perjuangannya tidak sia-sia. Setelah lebih dari 15 tahun, kemampuannya diakui dunia. Ia mendapat beasiswa untuk belajar di India, yang pada akhirnya ia gunakan sebagai kesempatan untuk mengadakan pameran hingga ke Eropa. Setelah menerima banyak penghargaan, ia tidak lupa untuk pulang ke Indonesia, dan memilih Yogyakarta sebagai tempat tinggalnya.

Begitulah Nasjah Djamin mengisahkan Affandi. Agus adalah refleksi para pembaca yang tidak begitu mengenal Affandi dan awam dengan sejarah seni rupa di Indonesia, namun hidup di masa yang jauh lebih bersahabat dari masa muda Affandi dulu. Biografi Affandi diceritakan dengan sedemikian hidup, supaya pembacanya dapat dengan mudah menghayatinya, dan juga supaya semangat dan keteguhan hati Affandi dapat terbangkitkan dalam jiwa anak-anak muda.

Dan tentu saja, cerita Agus berakhir bahagia. Beberapa hari kemudian, ia bersama Paman dan Mbak Jum pergi ke museum Affandi dan bertemu dengan pelukis besar itu. Agus sangat senang. Pesan Affandi untuknya terus terngiang-ngiang, “Yang rajin belajar. Seperti kakek ini. Sudah tua masih belajar, dan ingin belajar terus.”

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Antara Dunia Wacana, Komersial, dan Gengsi Seni Rupa

oleh Hardiwan Prayogo

Pada sekitar 2007, Raihul Fadjri, melalui harian Tempo, mengulas tiga pameran bertajuk One Month Stop dan New Cock on the Block di Kedai Kebun Forum, dan Fibre Face Yogya 2007 di Rumah Budaya Babaran Segaragunung. Ketiga artikel ini yang menjadi pemicu awal pemilihan terhadap tema newsletter September-Oktober. Narasi yang kemudian dapat disarikan dari pameran-pameran tersebut adalah soal upaya menuangkan gagasan dan keterampilan artistik dalam produk konsumsi sehari-hari. Seniman yang telah berubah dari pencipta mahakarya menjadi seorang pekerja seni normal tanpa pretensi membuat mahakarya. 

Menjelang boom seni lukis 2008, isu penghasilan alternatif, industri kreatif, dan basis ekonomi alternatif bagi pekerja seni visual juga coba diketengahkan. Selain itu juga terdapat usaha meretas gengsi antar medium, seperti seni serat atau media batik. Medium-medium demikian coba dihayati sebagai media dengan jangkauan tertentu agar bisa menampung gagasan ekspresif sebagaimana media cat dan kanvas. Satu ciri khas dari seni serat adalah sentuhan crafting yang tekun dan detail. Sebuah ironi jika praktik budaya massa merubahnya menjadi ringan dan instan. 

Penelusuran lebih jauh, ditemukan nama-nama pelaku seni yang terlibat dalam pameran tersebut, seperti Agung Kurniawan, Uji Handoko, Iyok Prayogo, Krisne Widhiathama, Iwan Effendi, Wedhar Riyadi, dan Irene Agrivina Widyaningrum. Uji Handoko dan Irene Agrivina Widyaningrum akhirnya kami perdalam melalui sub-rubrik Sorotan Dokumentasi. Sedangkan lainnya, membawa kami lebih lanjut pada penelusuran arsip koleksi IVAA. 

Sebuah artikel dengan judul Wacana Bangkrut, Kurator Gendut ditulis oleh Agung Kurniawan dan dimuat di Koran Tempo tertanggal 31 Desember 2008. Agung membicarakan situasi di mana pameran kerap bermimpi merangkum, mencatat, dan menahbiskan wacana baru. Meski sebenarnya yang terjadi hanya menyalin skala ruang, bukan ideologinya. Seluruhnya memang ditujukan untuk membangun strategi bagaimana menjual dan menjual karya. Seperti yang pernah dinyatakan oleh Sanento Yuliman, bahwa kehadiran pasar berpotensi melahirkan keseragaman gaya. Maka pada 2008, Agung menilai skena seni rupa didominasi oleh 2 arus besar. Pertama gaya Juxtapoz dan kedua new painting Eropa. Diawali dari logika pasar yang selalu menuntut “barang baru”, permintaan pasar karya seniman-seniman yang disebut di awal tulisan mulai menggila. Banyaknya pameran dalam kurun waktu yang singkat melahirkan kemandekan wacana karena situasi kejar tayang ini. Dari sini, kami kemudian mencoba mencari kata kunci berikutnya, bukan lagi nama pelaku seni, tetapi diksi-diksi yang beredar dalam wacana ini.

Melalui kata “elitis” dan “seni sehari-hari”, kami menemukan dua artikel. Pertama Menduniawikan Nilai Estetika yang Sakral, kedua Seni Rupa Sehari-hari: Menentang Elitism. Kedua artikel yang ditulis pada 1987 ini merupakan bagian dari Katalog Seni Rupa Baru Proyek 1 Pasaraya Dunia Fantasi. Artikel pertama ditulis oleh Arief Budiman. Tulisan ini diawali dengan pertanyaan tentang nilai mana yang harus diikuti: nilai universal atau kontekstual. Kesenian akhirnya melahirkan dua jenis dikotomis: yang sah-elitis dan seni di kalangan sehari-hari rakyat jelata. Tarikannya kemudian menuju pemaknaan atas pengalaman estetik. Dalam logika nilai universal, pengalaman estetik akan diaktivasi ketika subjek manusia bertemu dengan objek seni. Jika sensasinya tidak muncul, maka ketidakpekaan ada pada manusianya. 

Gagasan ini diafirmasi oleh tulisan kedua, yang mempermasalahkan bahwa ada “kesenian kelas wahid” dan “kesenian kelas kambing”. Lebih konkrit, bila ada seni murni, maka ada seni tidak murni. Kategorisasi ini yang menjadi pangkal dari segregasi citra kesenian. Ini akhirnya mempengaruhi kerja kesenimanan menjadi lebih transendental, ketika seniman membutuhkan kontemplasi dan mengasingkan diri dari lingkungannya demi menciptakan karya yang sensasional. Dengan kata lain otoritas menjadi nilai yang mutlak dan murni dimiliki oleh seniman. 

Paradigma universal ini kemudian melahirkan respon reaksioner, yakni paradigma estetika kontekstual. Ini adalah nilai estetika yang berproses antara manusia. Singkatnya bukan lagi nilai transendental. Estetika universal perlu dilawan dengan nilai-nilai yang lebih demokratis. Tahun 70-an, Soedjoko pernah mencanangkan anti “seni rupa elitis” yang berakar pada paham Yunani dan Renaissance. Secara radikal, Sudjoko kembali pada konsep seni dalam Bahasa Indonesia, yaitu seni yang menyenangkan dan berfaedah bagi orang banyak. Ketika kesenian terpenjara dalam kaidah-kaidah estetik, maka pandangan akan masalah sosial akan selalu dianaktirikan dalam proses penciptaan karya. 

“Pasaraya Dunia Fantasi” berangkat dari kegelisahan ini. Maka yang dipamerkan adalah benda sehari-hari, atau simbol-simbol rupa urban. Kemudian medium yang digunakan dalam praktik semacam ini disebut sebagai found object, atau readymade. Diksi-diksi ini memang belum dikenal pada tahun tersebut. Namun dua artikel ini cukup memberikan gambaran perkembangan wacananya. 

Kami kemudian melanjutkan penelusuran arsip berdasarkan kata kunci lain, yaitu ‘terapan’. Dari kata ini, ditemukan dua peristiwa seni, yakni Pameran Seni Rupa “Eksodus Barang” dan Pameran Seni Terapan 1993-1994: Seni Kriya dalam Budaya Masa Kini. Arsip pertama adalah pengantar yang ditulis oleh Hendro Wiyanto selaku kurator pameran “Eksodus Barang”. Pameran yang diselenggarakan pada 2005 di Nadi Gallery ini memulai dengan pertanyaan reflektif tentang bagaimana mengidentifikasi sesuatu sebagai seni dan bukan seni. 

Semenjak ‘70-an, aneka barang jadi (readymade) maupun objek temuan (found object) gencar memasuki lapangan penciptaan para perupa kita. Pendekatan readymade dan found object tentu menggarisbawahi pergeseran strategi berkarya dan perhatian para seniman. Filosofi medium di masa modern yang memilah objek fisik dan ihwal material diterobos. Seniman merespon objek-objek fisik dan ihwal yang material dengan kepekaan yang lebih, lebih dalam artian secara fungsi, hingga filosofis. Ini adalah filosofi medium di masa modern, ketika seniman bekerja “dengan” mediumnya, bertumpu “pada” alat-alatnya. 

Cukup bertolak belakang dengan anggapan Adorno bahwa “The function of art is its lack of function”. Seni jelas tidak bersifat sehari-hari, sebab jika demikian dengan mudah kita akan melupakannya seperti hari ini melampaui dan meninggalkan yang kemarin. Salah satu paham yang kuat tentang seni adalah paham intensi. Namun kemudian kenyataan bahwa intensi semacam itu sebenarnya juga bisa datang dari luar (pengamat, kritikus, kurator, publik), atau institusi tertentu, menjadi keniscayaan. Setelah Duchamp memajang urinoir di ruang pamer, para seniman seakan justru menemukan intensinya melalui kehadiran dan susunan barang sehari-hari. Lantas pekerjaan utamanya adalah membaptis barang-barang itu sebagai “seni”. “Seni Merayakan Barang” menjadi judul dari esai pengantar pameran ini. Dari judul itu kita dapat berasumsi bahwa memang pada tahun-tahun tersebut, wacana seni rupa berkembang untuk kembali mempertanyakan dan melampaui jarak yang terbentang antara “seni” dan “bukan seni”.

Sekitar 11 tahun sebelum pameran “Eksodus Barang”, digelar pameran bertajuk “Seni Kriya dalam Budaya Masa Kini”. Dengan isu yang kurang lebih sama, kita bisa melacak bagaimana perkembangan diksinya. Memang, pada 1993-1994 belum dikenal frasa-frasa seperti found object atau readymade. Periode ini lebih mengenal istilah murni-terapan untuk membicarakan karya-karya semacam ini, yang praktiknya didominasi oleh karya seni kriya. Praktik ini juga berangkat dari kegelisahan atas gengsi seni kriya yang belum mendapat ekspos dan perhatian seramai seni rupa seperti lukis dan patung. 

Tarikan atas persoalan ini memang cukup jauh dan panjang. Problem dari karya kriya adalah bahwa ia selalu dibicarakan sebagai seni yang diproduksi secara massal dalam waktu yang singkat. Ini menjadi asumsi dasar bahwa kualitas ekspresi benda pakai (terapan) akan selalu berada di bawah seni murni. Berawal dari usaha mendongkrak kualitas ekspresi dan apresiasi, pameran yang diprakarsai oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan ini diselenggarakan. Barangkali jika dilihat dari konteks masa kini, niat demikian dinilai pragmatis. Namun tentu saja ini tidak dapat dilepaskan dari jangkauan dan produksi pengetahuan wacana seni yang pada masa tersebut berbeda dengan jaman sekarang. 

Melalui penelusuran atas arsip IVAA dengan beberapa kata kunci di atas, setidaknya kita dapat menandai beberapa asumsi. Pertama, pergeseran frasa seni tinggi-rendah, murni-terapan/ fungsional, bisa jadi disebabkan oleh kecenderungan bahwa segala hal di dunia memang mengalami komodifikasi, terlebih seni yang bermain dalam arena komoditas. Kedua, bersamaan dengan transaksi yang ikut beriringan dengan nilai-nilai ekonomis, entah disadari atau tidak, setiap pelaku dalam ekosistem seni membutuhkan bukan hanya pertukaran barang dan uang, namun juga wacana dan rujukan (reference). Harus diakui bahwa perbincangan atas tema ini bisa dijamah dari beragam perspektif. Arsip-arsip yang dimiliki IVAA atas tema ini bisa memperkaya sudut pandang sekaligus memperumit bahasan, karena wacana intelektual yang senantiasa dibangun akan selalu beriringan dengan kebutuhan-kebutuhan transaksional. Belum lagi gengsi institusional dan material-materialnya. Perkara seni rupa memang bisa jadi selalu berkutat dalam diskusi seputar wacana, komersial dan gengsi yang melekat.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Mengelola Arsip, Mengelola Pengetahuan 

oleh Vicky Ferdian Saputra

Bagi saya IVAA adalah mesin waktu. Tanpa IVAA, sebagian kenangan seni budaya kita (mungkin) akan hilang. Saya tidak akan menjelaskan siapa atau apa peran mereka, karena saya yakin kawan-kawan sudah mengenal betul siapa mereka (jika membaca sorotan magang ini dari newsletter online IVAA). Saya akan mengawali tulisan ini dengan sedikit kesan dan kesal. Kesan pertama untuk sekelompok orang yang nyempil di lorong sempit di Jalan Ireda ini adalah salut. Salut semuanya obah, kalaupun fisik mereka tampaknya terdiam di antara tumpukan buku dan arsip, pikiran mereka sudah pasti berlalu-lalang ke masa lalu dan masa depan. Kesan kedua ini untuk Rumah IVAA, atau rumah harta karun, atau pabrik pengetahuan, atau apalah itu. Rumah ini menyimpan banyak sekali arsip (dan kenangan) penting yang dapat diolah menjadi produk ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang akhirnya mendorong seni rupa Indonesia untuk terus bergerak ke manapun arahnya. Untuk kesalnya, cuma karena pemilihan waktu magang yang tidak tepat, sehingga saya kurang bisa memaksimalkan proses magang.

Hari pertama magang dimulai dengan berkenalan. Berkenalan dengan kawan-kawan magang, staf IVAA, dan lingkungan kerja di Rumah IVAA. Di periode magang Juli-September ini, total ada tiga partisipan magang termasuk saya. Dua teman lainnya adalah kak Ratri dan kak Roy. Kami bertiga memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Saya sendiri dari Tata Kelola Seni (dengan minat Seni Rupa), kak Roy dari jurusan Televisi (ISI Jogja), sedangkan kak Ratri dari Sastra Jawa. Teman baru berarti wawasan baru.  Mereka berdua juga turut memberikan ilmu dan pengalaman berharga bagi saya lewat obrolan-obrolan kecil di sela-sela proses magang. Untuk mengenal mereka lebih jauh, mungkin kalian dapat membaca juga refleksi magang dari mereka di sini! 

Di periode magang kemarin, semua pekerjaan difokuskan pada pengolahan data fisik dan digital, seperti klasifikasi dan inventarisasi arsip fisik IVAA, dokumentasi foto/ video, pencatatan (metadata dan logging) arsip digital, editing, dan pengunggahan arsip yang telah didigitalisasi. Walaupun ada pekerjaan lain di luar itu seperti kepustakaan dan penulisan newsletter, persentasenya tidak banyak. Awalnya saya berprasangka bahwa kerja pengarsipan akan sangat membosankan dan cenderung monoton. Tapi ternyata tidak begitu buruk. Sistem dan suasana kerja di IVAA ternyata sangat santai, cair, dan fleksibel, asalkan tidak mengesampingkan deadline pekerjaan ya! 

Apa yang menarik dari magang kemarin? Sudah pasti mendapat ilmu dan pengalaman baru. Terutama untuk pemetadataan arsip dan inventarisasi arsip-arsip fisik. Sebelumnya saya sama sekali tidak punya pengalaman di bidang pengarsipan. Beberapa arsip pribadi saya juga belum terorganisir dengan baik, bahkan beberapa di antaranya telah hilang. Jadi saya belajar banyak dari IVAA dalam hal ini. Beberapa sistem pengarsipan di IVAA akhirnya saya terapkan untuk membenahi arsip saya yang cukup amburadul. Walaupun belum sempurna karena tidak banyak yang berhasil saya terapkan, setidaknya saya belajar dan mengembangkan kemampuan saya di bidang pengarsipan.

Selain mendapat pengalaman dalam pengelolaan arsip saya juga mendapat pengalaman baru tentang pengelolaan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah salah satu produk yang diciptakan IVAA dari hasil pengolahan arsip. Ini yang melatarbelakangi persepsi saya tentang pengelolaan arsip di IVAA tidak terlalu membosankan dan monoton. Arsip-arsip di Rumah IVAA ini seperti karya seni di sebuah gudang galeri. Mereka ternyata memiliki siklus untuk tampil di hadapan publik melalui beragam bentuk. Beberapa pameran arsip telah diselenggarakan, berbagai tulisan telah dipublikasikan dari dapur pengarsipan, dibukanya berbagai diskusi dan lokakarya publik, sampai dengan screening arsip videografi, menjadikan semua arsip di sini lebih dapat diapresiasi keberadaannya.

Saya juga mendapatkan kesempatan untuk ikut berkontribusi dalam penulisan newsletter bulan Juli-Agustus dengan topik “Kerja Manajerial, Kerja Kemanusiaan”. Saya mengisi sub-rubrik sorotan dokumentasi dan pustaka. Sorotan dokumentasi untuk liputan program Sekolah Bukan Arsitektur, sedangkan sorotan pustaka untuk mengulas buku karya Agus Dermawan T. yang berjudul “Basoeki Abdullah, Sang Hanoman Keloyongan”. Senang sekali bisa bergabung merasakan kerja kolaboratif di IVAA. Tugas magang saya telah selesai dan proses belajar saya berlanjut di dalam kelas (lagi). Terima kasih Rumah IVAA dengan seluruh penghuninya atas ilmu, pengalaman, dan semangat yang kalian tularkan kepada saya. Salam budaya!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Magang: Jalan Kecil Mendukung IVAA

oleh Ratri Ade Prima Puspita

Akhirnya aku punya pengalaman magang!

Ungkapan syukur itu resmi terlontar ketika aku menyelesaikan program magangku selama tiga bulan di Indonesian Visual Art Archive alias IVAA. Bagaimana tidak, rekaman data magang tidak ada sama sekali di dalam arsip hidupku sebelumnya. Kalau tak percaya, tengoklah Curriculum Vitae-ku. Nol pengalaman magang. Timbul penyesalan kecil ketika aku menyadari ada sebagian waktuku yang berlalu begitu saja tanpa kuisi dengan kegiatan magang. Padahal, kata “magang” telah lama sangat kukenal. Kesempatan magang banyak ditawarkan oleh berbagai organisasi atau perusahaan di Indonesia dengan bidang pekerjaan yang variannya barangkali sekomplit pilihan menu di restoran cepat saji Mc. Donnald. Selagi ada niat dan mau berusaha, setidaknya aku bisa mencicipi kesempatan magang sekali seumur hidup.

IVAA sesungguhnya bukan tempat yang asing bagiku. Sebelumnya, aku pernah berkunjung ke IVAA bersama salah seorang kawan. Pada saat itu, kami hanya menjelajah area perpustakaan di lantai satu saja. Meski sebentar, kunjungan perdana demikian berkesan hingga membekas di ingatan. Pengalaman dolan singkat ke IVAA pun kuceritakan pada teman-teman. Siapa sangka, cerita itu terulang kembali. Kali ini tidak sekadar dolan singkat.

Pilihan untuk magang di IVAA berawal dari postingan di akun Instagram IVAA pada             14 Juni. IVAA menawarkan dua bidang kerja pengarsipan, yakni Olah Data Fisik dan Olah Data Digital. Berlandas pada ketertarikan pada bidang pustaka dan sedikit pengalaman di masa kuliah, aku memberanikan diri melamar bidang Olah Data Fisik. Surat lamaran, CV, dan motivation letter kukirim lewat e-mail tanggal 24 Juni 2019, jam 14.06. Sehari kemudian, IVAA mengirim email balasan yang mengatakan,

Pengumuman peserta magang terpilih akan kami bagikan Jumat, 29 Juni 2019.

Singkatnya, aku diterima magang!

Pada 2 Juli 2019, jam 11.00, aku telah berada di IVAA dalam rangka orientasi. Kembali aku memasuki ruangan yang tidak banyak berubah ketika aku datang pertama kali. Seperangkat kursi dan meja besar terbuat dari kayu masih memenuhi ruangan di lantai satu. Hamparan rak-rak buku tinggi yang disesaki oleh buku-buku aneka genre seakan menyambut kedatanganku. Namun, meski tak lagi asing dengan IVAA, aku tetap saja belum bisa “bersatu” dengan alam IVAA. Adalah bayangan-bayangan kekhawatiran tentang per-magang-an yang mulai memenuhi pikiranku sehingga membuatku kurang nyaman. Aku khawatir tidak bisa bekerja dengan baik selama aku magang lantaran minim pengalaman. Aku khawatir terlihat bodoh di hadapan orang-orang yang bekerja bersamaku nantinya.

Belum tuntas mengatasi rasa khawatir, mentalku pun ikutan menciut ketika teman-teman seangkatan magangku kunilai jauh lebih baik dibanding diriku. Rekan magangku tak lain dua orang mahasiswa Institut Seni Indonesia. Tentu saja latar belakang ilmu mereka jauh lebih pas dipraktikkan di IVAA ketimbang diriku yang berlatar belakang pendidikan sastra. Alhasil, aku lebih banyak diam. Orientasi hari pertama yang diisi dengan perkenalan, home tour, dan pengenalan medan berjalan not so bad. Dan aku takjub dengan ruang kerja yang dilengkapi seperangkat desktop keluaran Apple: iMac. Wow! Pengin rasanya pegang, tapi takut rusak, hahaha.

Hari-hari berikutnya, agenda magangku diisi berbagai kegiatan. Aku dibawa memasuki medan baru yakni unboxing. Unboxing di sini bukan dalam rangka review produk seperti yang dilakukan oleh para Youtuber, ya, melainkan istilah untuk menyebut aktivitas membongkar kontainer plastik yang berisi kumpulan arsip yang belum terklasifikasi. Bersama kru IVAA, kami ramai-ramai mengeroyok si kontainer, mengeluarkan isinya, lalu memilah-memilah seturut kelompok, misalkan per event atau organisasi. Tak jarang, masing-masing dari kami berhenti sejenak dua jenak untuk membaca atau sekadar melihat temuan yang mengundang rasa ingin tahu.

Dunia magang memiliki beragam kesan. Posisi di dalam organisasi menjadi kabur ketika kerja tim. Tidak begitu kentara siapa yang manajer, siapa direktur, siapa staff perpustakaan, maupun pemagang. Ngumpul jadi satu. Dan masing-masing pribadi hadir dengan keunikan masing-masing. Ada saatnya menjadi pribadi yang cuek ketika terlibat dengan pekerjaan masing-masing, serta ada waktunya menjadi manusia yang hangat dan tenggelam di dalam canda. Ada waktunya, ada saatnya. Itulah yang kutangkap di IVAA. Unik. Seunik hal berikut yang kutemui.

Mulai dari awal Juli hingga akhir September, aku magang ditemani oleh Didi Kempot. Tentu saja bukan sebenarnya Didi Kempot. Namun, bisa dibilang, Didi Kempot konser nyaris tiap hari. Laki-laki maupun perempuan terkena serangan virus Lord Didi Kempot. Sedikit jujur, lagu-lagu terkini seniman campursari asal Solo itu justru kudengar pertama kali di IVAA. Satu lagu terlebih dahulu, lalu diikuti lagu-lagu yang lainnya. Lama kelamaan, aku pun khatam dengan lagu Didi Kempot macam Pamer Bojo, Kalung Emas, Cidro. Hmmm, menarik juga! Apakah aku jadi bagian dari sad girls? Nope! Hahaha

Aku lebih banyak berkutat dengan kegiatan menyampul komik sumbangan Akademi Samali, membuat checklist kliping koran, input data ke katalog online perpustakaan. Namun, di sela-sela kegiatan tersebut, aku dilibatkan dalam rapat, bincang buku Cilik-cilik Cina Suk Gedhe Meh Dadi Apa?, Ngobrol IVAA Berbagai Denyut Budaya dari Tatapan Perempuan, kegiatan Happy Sharing sehingga ada kesempatan untuk “menghela napas”, berjarak sesaat supaya tidak bosan. Makan siang bersama juga tak kalah penting. Menunya sederhana, murah meriah, tetapi tetap memancing nafsu makan. Lebih penting lagi, kian menipiskan sekat antara kru IVAA dengan para pemagang.

Omong-omong soal ekspektasi, mungkin bisa dibilang ekspektasiku sederhana dan mendekati konvensional lantaran aku masih belum memiliki pengalaman magang ditambah pengetahuanku masih sebatas dunia kantoran pada umumnya. Memang ada yang luput dan sedikit membingungkan, contohnya jam kerja dan garis koordinasi, tetapi perlahan mulai bisa kumengerti.

Itulah cerita yang bisa kubagikan. Cerita sesungguhnya banyak, tetapi terpaksa dipilah karena tidak semuanya bisa dihadirkan di sini. Cerita soal magang yang tampaknya lebih pas disebut sebagai cerita soal pengalaman menjadi volunteer untuk IVAA. Kuakui, hanya sedikit yang bisa kuberikan untuk IVAA. Lebih dalam lagi, perjalanan menuju IVAA adalah sebentuk ja

lan kecil untuk mendukung IVAA dengan caraku. Terima kasih banyak untuk kesempatan, ilmu, pengalaman, canda, pertemanan yang diberikan oleh IVAA. Segala rupa cerita akan kuarsip dengan rapi di dalam lemari hidupku. Au revoir.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

SOROTAN DOKUMENTASI | JULI-AGUSTUS 2019

Ada 6 figur yang kami ulas dalam konteks membicarakan kerja-kerja manajerial seni-budaya. Mereka adalah Anggi Minarni, Yustina Neni, Riesmiliyana Wijayanti, Godod Sutedjo, Trisni Rahayu, dan Halim HD. Bukan maksud untuk menjadikan mereka sosok paling utama dari para pekerja (manajer) seni lainnya, tetapi ini didasarkan atas pertimbangan ragam metode kerja dan keberangkatannya yang layak dibagikan sebagai pengetahuan, serta kapasitas jangkauan yang dapat kami lakukan. Selain itu kami juga menggarisbawahi satu peristiwa penting, yakni Sekolah (bukan) Arsitektur, yang bicara soal situasi kritisisme dalam dunia arsitektur sebagai bagian dari diskursus kesenian kita.

Hidup Bersama dalam Problem Ruang Publik Kota

oleh Hardiwan Prayogo dan Santosa Werdoyo 

Lahir di Makassar dan menetap di Yogyakarta semenjak menjadi mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada. Pada 1992 Anggi Minarni menjadi direktur Yayasan Karta Pustaka, sebuah lembaga seni-budaya Indonesia-Belanda yang memiliki tiga visi: mempererat persahabatan Indonesia-Belanda melalui budaya, mendukung kegiatan pendidikan masyarakat melalui budaya, dan mendorong upaya-upaya pelestarian pusaka budaya. Anggi juga tercatat sebagai salah satu pendiri dan anggota Jogja Heritage Society (JHS). JHS adalah lembaga edukasi dan konservasi pusaka Indonesia di Yogyakarta. JHS menjadi pihak yang mengusulkan Jalan Malioboro sebagai kawasan pedestrian. Programnya yang lain adalah revitalisasi bangunan bersejarah di Kota Gede, Yogyakarta pasca gempa 2006. Selain di JHS, Anggi pernah tergabung dalam Kerupuk (Kelompok Peduli Ruang Publik Kota Yogyakarta) bersama kawan-kawannya yang terdiri dari arsitek, wartawan, hingga seniman. Kelompok ini aktif pada 2000-an, dengan fokus pada isu tata kota, terutama yang berhubungan dengan ruang publik. 

Salah satu tindakan nyata yang pernah dilakukan oleh Kerupuk adalah aksi “Di Sini akan Dibangun Mall (DADM)” pada Oktober, 2004. Ini merupakan sebuah aksi seni rupa publik yang melibatkan banyak seniman dari berbagai generasi. Intensi utamanya adalah untuk merespon persoalan di sekitar kontroversi pembangunan mall secara kritis, namun dengan cara/ strategi estetik dan artistik, serta eufemistik (halus), seperti karakter masyarakat Yogyakarta yang sering didengungkan. Dalam aksi ini, bahasa seni visual digunakan sebagai terapi kejut atas berbagai kebijakan politik-ekonomi yang ditelurkan dan beredar di pemerintah kota/ provinsi, pemilik modal, pengusaha, dan masyarakat umum.

Saat itu rencana pembangunan 8 mall di sekitar Kota Yogyakarta menimbulkan kontroversi. Kekhawatiran akan terjadi krisis ruang publik karena mall adalah ruang konsumtif mulai muncul. Ruang dialog sosial-budaya menjadi penting untuk dimunculkan. Ini menjadi semacam gerakan moral yang dirangsang oleh para pelaku seni. Aksi yang dilakukan oleh para seniman ini memantik perhatian DPRD untuk mengevaluasi kerja pemerintah. Hingga akhirnya, dari 8 yang direncanakan, hanya 4 mall yang jadi dibangun.

Kerupuk berangkat dari kepedulian atas tata kota kawasan Kota Baru, khususnya di Jalan Suroto. Ketika itu Anggi masih tergabung bersama Karta Pustaka, bertemu dengan kawan-kawan arsitek dan pakar tata kota. Pemerintah belum terbuka dengan rencana tata kota. Dari sini Kerupuk, yang mengetahui ‘bocoran’ rencana tata kota, membuat kritik terhadap pemerintah melalui media massa. Tujuan awalnya jelas, yakni untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap penataan ruang publiknya.

Aksi-aksi yang dilakukan oleh Kerupuk banyak menarik perhatian, termasuk mengintervensi kebijakan-kebijakan tata kota yang dirancang oleh pemerintah daerah. Kerupuk pernah mengusulkan kepada walikota Jogja (ketika itu Herry Zudianto) untuk membuat dan memanfaatkan ruang publik di setiap kampung. Anggi merasa bahwa kampung perlu menyediakan satu ruang publik agar tercipta obrolan antar tetangga.

Kerupuk juga kerap mengkritik penataan media luar ruang. Pada awal 2000-an, Jogja mulai dipenuhi dengan papan-papan iklan berukuran besar. Kerupuk mengusulkan pada harian Kompas edisi Jogja untuk membuat satu rubrik berjudul “Keliling Kota”, sebuah rubrik berisi opini/ kritik publik atas tata ruang kotanya. Dalam wawancara bersama beliau, Anggi mengaku bahwa ketika itu ia bersama rekan-rekannya mendapat banyak dukungan,  khususnya dari pihak media. Pernyataan-pernyataan Kerupuk beberapa kali menjadi berita utama koran. Selain dukungan media, satu hal yang membuat Kerupuk memiliki posisi tawar adalah relasi yang sudah dibangun Anggi dengan pihak-pihak luar negeri seperti Kedutaan Besar Perancis, pemerintah kota Savannah, hingga World Monument Fund ketika menjabat sebagai direktur Karta Pustaka. 

Bagi Kerupuk, audiensi, dialog, atau bahkan ketegangan dengan pemerintah adalah hal biasa. Salah satunya adalah ketika Kerupuk mengupayakan agar pembangunan Ambarukmo Plaza tidak merusak gandok tengen (gandok kanan; gandok adalah bangunan yang menempel di bagian kiri atau kanan rumah utama dalam arsitektur Jawa) dari sebuah bangunan bersejarah yang ada di situ (pendhapa Ambarukmo). Pada akhirnya Ambarukmo Plaza tetap saja dibangun. Meski demikian, Anggi punya satu sikap politis yang terus dilakukan sampai sekarang, bahwa ia tidak akan pernah menginjakkan kaki ke sana.

Anggi Minarni juga terlibat di dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY), yang sekarang sudah masuk ke agenda pariwisata nasional. Gelaran kesenian ini berangkat dari kebutuhan yang sangat internal, yaitu konservasi kawasan Ketandan. Anggi mulai mengupayakan PBTY sejak 2006 sebagai bagian dari tugas JHS. Ketandan sebagai kawasan pecinan Jogja perlu lebih banyak diketahui publik, dalam artian mengurai jarak sosialnya. Maka PBTY sebagai pergelaran seni-budaya dirancang untuk tidak hanya menampilkan representasi Tionghoa tapi juga proses-proses akulturasi dalam busana, kuliner, hingga kesenian. Menurut Anggi, generasi Tionghoa yang paling muda sudah cukup tercerabut dari akar budayanya. Lambat laun situasi ini merubah persepsi orang-orang etnis Tionghoa terhadap lingkungan sosialnya,  terutama di kawasan Ketandan yang cenderung menyendiri dan tertutup. 

Strategi Anggi untuk menggandeng seniman menjadi salah satu cara yang tepat untuk mendukung aksi ini. Sebuah aksi yang sama membutuhkan strategi yang berbeda dan terkait dengan kehadiran sosial media serta tekanan dari pihak-pihak tertentu. Dari pada meromantisasi aktivitas-aktivitas yang dilakukannya bersama Kerupuk sebagai sesuatu yang heroik, Anggi merasa bahwa waktu itu mereka hanya sedang berada dalam momentum yang tepat. Tepat dalam mengumpulkan kegelisahan yang serupa atas kota dari berbagai lapisan masyarakat. Pada saat itu pun, banyak yang melakukan gerakan serupa Kerupuk dengan konsentrasi masing-masing, dan itu dinilai sangat baik.

Dalam kerja manajemen, Anggi adalah pelaku yang berangkat dari kegelisahan atas problem kota, bukan keinginan semata ingin membuat peristiwa kesenian seperti pameran, pertunjukan, dll. Ini terlihat dari cara kerjanya di Kerupuk dan JHS. Problem kota yang dimaksud bukan hanya persoalan bangunan fisik, tetapi juga interaksi sosial yang terjalin di dalamnya. Persoalan ini hadir tidak sekadar sebagai inspirasi, lebih dari itu, justru hidup dan dihidupi bersama. Dalam hal kesenian, Anggi menilai seni akan selalu diapresiasi dengan cara berbeda dari masa ke masa. Peningkatan kuantitas peristiwa seni belakangan ini bisa dinilai bahwa seni mulai tidak dimiliki oleh sekelompok orang saja, meski juga tidak melulu dibarengi dengan peningkatan kualitas. Ini bisa disebut semakin menyemakkan kota, karena di satu sisi membuat kota semakin penuh dan macet. 

Jika kita lihat dari beberapa contoh aksi yang pernah Anggi lakukan bersama rekan-rekannya, seperti DADM dan PBTY, sepertinya memang tidak ada bentuk baku dalam merancang strategi. Yang jelas, Anggi beserta rekan-rekannya selalu memiliki cara kerja tersendiri untuk menghadirkan kesenian dalam upaya utamanya mendekatkan publik pada persoalan kota. Di dalam intervensi terhadap manajemen kota beserta irisan elemen kebudayaannya, Anggi meletakkan kesenian bukan hanya pada judul karya atau teks-teks kuratorial, melainkan sebagai bagian dari cara untuk mempengaruhi kebijakan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Kerja Manajerial itu juga Kerja Kemanusiaan

oleh Krisnawan Wisnu Adi dan Sukma Smita Grah Brillianesti

Bu Neni. Begitulah sapaan akrab yang kerap ditujukan untuk memanggil Yustina Neni Nugraheni, salah satu orang lawas di skena ‘manajemen seni’ di Yogyakarta. Wanita kelahiran Yogyakarta, 16 Juni 1969 ini mulai aktif di skena kesenian sejak ia menempuh studi di Jurusan Sastra Prancis, Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1988. 

Semasa kuliah Bu Neni aktif terlibat di Kelompok Bulak Sumur (KBS). KBS merupakan sebuah kelompok kecil di kampus UGM yang terdiri dari para mahasiswa yang gemar menggambar. Mereka berkumpul, menggambar, dan berdiskusi bersama. Jauh lebih progresif dari UKM lainnya, KBS sering menemui beberapa seniman berpengaruh di Yogyakarta untuk mendalami pernak-pernik kesenian secara serius. 

Pada 1992, ketika sekelompok seniman yang dimotori oleh Dadang Christanto ingin mengkritik keganjilan regulasi dari Biennale Yogyakarta, KBS menjadi sasaran rekan kerja. Karena tidak memiliki legalitas untuk menggelar pameran di ruang publik, sekelompok seniman tersebut kemudian mengajak KBS sebagai payung lembaga. Ketika rekan-rekan KBS yang lain, seperti Hanura, Kris Budiman, dan Bambang Paningron lebih terjun di bidang kekaryaan dan wacana kebebasan ekspresi, Bu Neni berperan sebagai sekretaris. Ia mengurus perijinan dari kelurahan hingga polsek. Strategi administrasi ia kerjakan bersama Agung Kurniawan dan Dadang Christanto. 

Jaringan kesenian Bu Neni menjadi semakin luas. Pada 1995 Mella Jaarsma dan Nindityo mengajaknya untuk membentuk Yayasan Seni Cemeti (sekarang Indonesian Visual Art Archive). Ia dipercayai untuk menjalankan peran bendahara, mengurus cash flow dan tentu sekaligus ikut memelihara cita-cita yayasan kebudayaan ini. Di yayasan inilah Bu Neni mulai belajar dan mempraktikkan kerja-kerja akuntansi secara serius. Tuntutan dari HIVOS sebagai lembaga funding pada waktu itu menjadi latar belakang keseriusannya ini. Ia menjadi paham tentang beberapa prinsip dasar keuangan sederhana, seperti neraca hingga sistem input double entry

Bu Neni juga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa catatan keuangan bukan hanya soal teknis, tetapi juga bagian dari performa organisasi. Kendali budget adalah salah satu mekanisme yang ia terapkan. Sebagai sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang dokumentasi kesenian, YSC sering menerima hibah dokumentasi dari publik. Bagi Bu Neni, menerima hibah secara berlebihan justru mengurangi performa organisasi. Oleh karena itu ia mengalokasikan anggaran untuk pengadaan koleksi serta dokumentasi secara mandiri sebagai bentuk apresiasi karya. “Ngirit itu juga ada ilmunya”, ungkap Bu Neni. Beberapa prinsip serta mekanisme tersebut kemudian diterapkan oleh bendahara-bendahara setelahnya. 

Tidak berhenti di YSC, kemampuan ‘menata’ organisasi kebudayaan dari Bu Neni terus berkembang. Pada 2009, ketika Biennale Yogyakarta membutuhkan mekanisme kerja yang lebih tertata, Dian Anggraini mengajak dirinya untuk ikut terlibat. Oleh karena itu, setahun setelahnya Bu Neni menginisiasi pendirian Yayasan Biennale Yogyakarta. Tujuan dibentuknya yayasan ini: satu, supaya Biennale Yogyakarta tidak hanya berhenti sebagai acara dua tahunan Dinas Kebudayaan, tetapi juga sebagai gelaran kesenian yang berkontribusi dalam diskursus kebudayaan secara progresif; dua, membangun aset yang sifatnya mandiri dan berkelanjutan, tidak hanya kepanitiaan yang bongkar pasang. 

Kiprah Bu Neni di bidang manajemen seni seolah tidak bisa diragukan lagi. Meskipun berangkat dari ketidaktahuannya atas Binal Eksperimental 1992 sebagai peristiwa penting, kerja-kerja manajerial yang telah ia lakukan telah menyumbang kekayaan infrastruktur sosial kesenian di Yogyakarta. Namun, ia tidak peduli dengan atribut ‘manajer seni’. “Sak karepmu, sing penting kowe sregep nyambut gawe (terserah kamu, yang penting kamu bekerja dengan tekun)”. Itu adalah prinsip pengorganisasian yang selalu ia terapkan sebagai bagian dari platform awal kerja bersama. 

Selain tidak peduli dengan atribut, ia juga punya perhatian khusus terhadap manajemen ruang. Ruang menjadi salah satu hal fundamental dari kebutuhan untuk bekerja. “Ruang yang berfungsi publik, dia harus gampang dibersihkan. Dia harus public friendly”, ungkapnya. Salah satu contoh adalah desain ruang Kedai Kebun Forum (KKF), restoran sekaligus ruang seni yang ia dirikan bersama Agung Kurniawan. Karena menjadi ruang yang berhubungan dengan publik luas, KKF didesain agar kuat, tahan lama, dan tidak memerlukan perawatan yang rumit. Semua saluran air selalu ada di luar, sehingga mudah diketahui jika ada yang bocor. Selain itu, ia sangat melarang pegawai-pegawainya untuk kerja lembur. Jika mereka lembur, mereka akan mudah sakit. Jika mereka sakit, semua akan ikut repot. Art follows function, begitulah prinsip manajemen kedua yang ia terapkan. 

Meski tidak terlalu peduli dengan atribut, bagi Bu Neni struktur organisasi tetaplah penting dalam kerja-kerja pengorganisasian seni. Terlebih untuk konteks sekarang, ketika banyak sekali acara yang melibatkan negosiasi dengan pemerintah, struktur organisasi menjadi satu kebutuhan formal yang tidak bisa dihindari. Namun, dalam prakteknya kerja kesenian tidak bisa selalu kaku. Oleh karena itu yang relevan untuk dilakukan adalah rekayasa manajerial. Bahwa yang ideal itu bukan kerja berdasarkan struktur organisasi di atas kertas semata, melainkan berdasarkan kebutuhan bersama secara inklusif. 

Dari sekian banyak pengalaman manajemen seni yang telah ia lakukan, ada satu refleksi menarik yang Bu Neni temukan. Bahwa manajemen itu bukan hanya persoalan teknis. Manajemen itu juga melibatkan laku olah mental. Persinggungan dengan banyak pihak akan menuntut ‘manajer’ untuk terus menegosiasi perasaannya. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah sadar akan keterbatasan dalam menjalankan suatu pekerjaan. Tak lain dan tak bukan, kerja manajerial adalah kerja kemanusiaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.