Category Archives: Kabar IVAA

Meruang dalam Maya Museum dan Galeri Seni

oleh Yulius Pramana Jati

Bulan Maret 2020 adalah puncak kepanikan di Indonesia terkait pandemi Corona COVID-19. Kepanikan disertai dengan kelangkaan, bahkan hilangnya stok beberapa APD di pasaran seperti masker medis, sabun cuci tangan, cairan antiseptik, alkohol 70% hingga yang paling miris adalah hilangnya pekerjaan, pemasukan hasil usaha, perkuliahan konvensional, dan kebebasan bepergian-berkumpul secara langsung guna mengisi serta merasakan suatu ruang berikut atmosfernya. Dampak yang diakibatkan pandemi virus ini sangatlah kompleks karena hampir menyentuh segala aspek baik material maupun sosial. Bahkan bisa dikatakan jika virus ini adalah virus yang sangat demokratis karena tidak pandang kelas dalam menjangkiti objeknya. 

Tak tanggung-tanggung, pandemi ini juga telah merubah tatanan sosial masyarakat, seperti hilangnya budaya berjabat tangan sehingga tiap individu pun kini semakin berjarak sembari muncul kecurigaan apakah seseorang yang ditemui terjangkit virus atau tidak. Kecurigaan tersebut lumrah terjadi mengingat tidak semua orang berkesempatan melakukan swab test, ditambah vaksin COVID-19 yang belum ada ekstraknya padahal daya tular sedemikian kuatnya. Jadi jika suatu ketika tersiar kabar ketersediaan swab test yang inklusif dan ditemukan vaksin Corona COVID-19, dapat dipastikan itu adalah suatu kabar gembira

Selama belum ada solusi pasti dalam menuntaskan wabah ini, pada akhirnya tindakan pencegahan adalah satu-satunya solusi untuk menanggulangi. Salah satu langkah penanggulangan yang dilakukan pemerintah adalah dengan melarang masyarakat berkerumun dan berkumpul dalam pertemuan politik, kegiatan hiburan, olahraga, akademik, sosial dan budaya seperti yang tertuang dalam Permenkes 9/2020, Pasal 13 ayat (9) dan diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar atau sering disebut dengan PSBB. 

Tak main-main, ada sanksi pidana bagi yang melanggar. Apakah peraturan tersebut tepat dan efektif? Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas hal tersebut melainkan lebih kepada dampak penanggulangan pandemi COVID-19 yang mempengaruhi tatanan sosial masyarakat terutama dalam aspek seni dan budaya. Yang jelas, peraturan sudah ditetapkan dan dapat dipastikan masyarakat tak lagi bebas berkumpul seperti biasanya dan muncul tagar #StayAtHome. Tagar tersebut muncul secara global, karena rata-rata seluruh negara menerapkan peraturan serupa bagi masyarakatnya. Pembatasan tersebut juga berdampak pada ruang gerak kesenian masyarakat seperti tampil dalam perhelatan seni, menonton pertunjukan seni, mengamati koleksi-koleksi dari museum dan galeri seni sembari berswafoto di depan karya. Dari semua hal tersebut, ada yang perlu menjadi perhatian, salah satunya tentang keterbatasan akses masyarakat berkunjung ke galeri dan museum seni. Selain karena banyak museum dan galeri seni yang menutup akses kehadiran pengunjungnya, banyak di antara masyarakat yang juga enggan keluar bepergian karena khawatir terjangkit virus COVID-19.

Foto: Dok. IVAA

Tetapi dari keterbatasan itu muncul berbagai strategi alternatif guna memenuhi hasrat masyarakat dalam berkesenian, salah satunya dalam hal mengunjungi galeri dan museum seni. Untuk sekadar mengakses sebenarnya cukup mudah, yakni dengan mengunjungi laman digital/ website dari museum dan galeri seni tersebut. Tetapi ada fitur menarik jika masyarakat ingin seakan-akan berada di dalam ruang pamer koleksi karya-karya tersebut. Salah satunya dengan fitur virtual tour (tur maya) gratis yang dilakukan beberapa museum dan galeri seni baik di dalam maupun luar negeri. Sebenarnya banyak yang telah menyediakan fasilitas tur maya sebelum masa pandemi, tetapi langkah ini seakan menjawab tantangan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pada aspek seni tanpa harus takut terpapar wabah. Tetapi apakah tur yang bersifat maya ini dapat memenuhi dan menggantikan kebutuhan masyarakat untuk mengunjunginya secara langsung?

Foto: Dok. IVAA, Design: Y. P. Jati

Realitas maya atau virtual merupakan suatu teknologi yang menghadirkan bentuk realitas lain yang merupakan hasil simulasi dari komputer. Orang yang menggunakannya dapat seakan-akan hadir merasakan pengalaman suatu ruang dan keadaan yang ditampilkan dalam realitas maya tersebut. Bahkan dalam pengembangannya kini, realitas maya tak hanya bisa menghadirkan pengalaman visual saja tetapi juga pengalaman indrawi seperti suara asli suatu lingkungan hingga kontur fisik dari objek yang disimulasikan. Yang ditampilkan realitas maya ini bersifat semu, terlihat nyata tetapi bukanlah kenyataan yang sebenarnya walaupun objek yang disimulasikan merupakan objek yang benar-benar ada atau eksis.

Jika dikontekstualisasi dengan pengalaman maya dalam mengunjungi museum dan galeri seni, maka bisa dikatakan masyarakat hanya dapat mengambil keuntungan semu dari fitur ini, yakni hadir dalam waktu yang singkat tanpa harus mengeluarkan banyak waktu, tenaga, dan biaya. Tetapi masyarakat tidak dapat merasakan kenyataan ruang secara riil karena realitas yang diakses tidak secanggih realitas maya yang dapat memberikan informasi indrawi lainnya, mengingat rata-rata hanya menyuguhkan realitas maya secara visual berupa dokumentasi foto 360° yang interaktif. Ini seperti keuntungan menonton film secara streaming, sebuah keuntungan ketika film yang ingin ditonton sudah turun layar. Masih dapat diakses tetapi tidak dapat merasakan pengalaman saat menonton film di bioskop beserta segala teknologi indrawinya (suara 5.1, layar lebar, dan kursi yang nyaman) secara langsung.

Dengan fitur ini kita tidak lagi mendapatkan kesempatan berswafoto secara langsung di depan sebuah karya yang wujud materialnya nyata, walaupun mungkin ada yang kreatif dengan berswafoto di depan layar laptop/ PC ketika mengakses fitur realitas maya tersebut. Tetapi bisa dipastikan sungguh berbeda pengalaman yang didapatkan. Namun ada hal paling berharga yang tidak didapatkan ketika mengakses melalui realitas maya, yakni pengalaman meruang guna merasakan atmosfer suatu museum dan galeri seni yang nyata. Sebuah ruang dan karya seperti sebuah kesatuan yang menubuh menjadi satu. Kesesuaian ruang mampu mempengaruhi perasaan, perspektif, hingga persepsi dari orang yang berada di dalamnya secara nyata.

Pengalaman saya selama mengunjungi museum dan galeri seni; gema, bau, suasana dan tata ruang sangat mempengaruhi pembacaan terhadap sebuah karya. Seolah ada interaksi yang sentimentil antara saya dan karya di mana perasaan tersebut selalu didewasakan oleh pikiran. Di saat yang sama, saya sadari jika sebuah ruang turut andil besar dalam proses tersebut. Selain itu, meruang atau menikmati, merasakan, dan memahami ruang secara nyata juga mampu memberikan nilai historis secara pribadi yang sentimentil pula, karena kita secara nyata benar-benar telah hadir dan berinteraksi dengan karya tersebut berikut ruang yang menaunginya. Ini juga bisa menjadi sebuah penanda kehadiran kita pada sebuah ruang yang mungkin juga dialami orang lain di ruang yang sama sehingga mampu menstimulasi sebuah silang pengalaman terhadap ruang beserta segala karya di dalamnya. 

Itulah mengapa swafoto di depan layar laptop/ PC tidak akan mampu mengalahkan swafoto atau dokumentasi pribadi pada ruang yang nyata. Hal tersebut juga dirasa berlaku pada tur museum dan galeri seni secara maya, ketika kita tidak merasakan pengalaman-pengalaman esensial seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya. Kita memang pernah melihat isi dari suatu ruang seni tetapi tak akan benar-benar menubuh jika kehadiran kita pun bersifat maya, karena yang seakan-akan bukanlah kenyataan.

Kita belum tahu kapan pandemi ini berakhir dan ada banyak prediksi terhadap peristiwa yang akan terjadi pasca pandemi. Tetapi prediksi adalah prediksi, bisa kita jadikan alasan untuk mawas diri tanpa ada tekanan untuk mempercayainya. Termasuk perubahan segala sesuatu yang bersifat fisik akan lebih dilakukan secara daring dan bersifat maya mengingat pandemi ini sangat kuat merubah tatanan sosial masyarakat secara global. Tetapi ada harapan besar jika hal tersebut (maya/ virtual) hanyalah menjadi alternatif saja, bukan yang utama. Kita harus sadar bahwa pandemi ini adalah entitas yang mengajak kita untuk kembali menghargai sebuah interaksi langsung tanpa jarak, di tengah kita yang terlalu lama menghargai sepi dan merindukan peluk serta jabat tangan dari seorang pribadi, dimana masker tak menutupi wajahnya lagi. Semoga wabah ini segera berakhir dengan baik dan ruang gerak berkesenian kita yang terbatasi segera leluasa kembali. Amin!

Foto: Dok. IVAA

Berikut adalah beberapa daftar museum dan galeri seni yang dapat diakses secara daring & gratis:

  1. Galeri Batik YBI
  2. Yayasan Biennale Yogyakarta
  3. Agung Rai Museum of Art
  4. Museum Seni Rupa dan Keramik
  5. Museum Tekstil
  6. Museum Macan
  7. Galeri Nasional
  8. Museum Van Gogh, Amsterdam
  9. Galeri Seni Nasional, Washington D.C.
  10. Museum Guggenheim, New York
  11. National Museum of Modern and Contemporary Art, Seoul

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Reflections on An Internship Cut Short

oleh Grady Textler

I came to IVAA with little experience in art or archiving. Art has always been interesting to me – I’d visit galleries with my dad when I was younger, and tried to go to new exhibitions in the city throughout high school – but it always remained at this surface level interest. I’d never studied or worked in the field of art, and I’d definitely never felt a part of the “art world” in my hometown. Upon coming to Jogja, this inexperience is what drew me to IVAA: the opportunity to learn about something totally new to me, and, moreover, the opportunity to learn about Jogja through the unique window of contemporary art.

In the beginning, I was mostly confused – I read a few large volumes about the history of IVAA and the history of contemporary art in Jogja. I edited pictures from galleries and uploaded them to IVAA’s online archive. But with limited Indonesian language skills, there wasn’t a whole lot I could do. I tried my best to absorb what knowledge I could. Even just being in the office felt like a learning opportunity. Each day offered me a chance to practice Indonesian, or to learn some new thing about art in Jogja.

I proposed my own project – a study of gapura kampung, neighborhood gates – and was able to spend a few days out of the office trekking up and down busy Jogja streets to take photographs of the various ornate gates that the city has to office, each demarcating an RT or an RW, Indonesian neighborhood governmental units. It was hot and sweaty, but interesting to collect these photographs. I was also able to interview one of the Pak RTs, leaders of the neighborhoods. This project culminated in a presentation to the office, in which I contrasted these gates with statues as forms of art in public spaces. This presentation was immensely stressful (I tried my best to do the whole thing in Indonesian, which I’d only had one semester of) but one of the most fun things I did all year. Everyone from the office grilled me on my argument or shared a different perspective and I had a great time talking with everyone.

I was also able to help out with two different exhibitions before the year ended. I helped set up and then “run” a resource room of IVAA-Cuppable-Pryakkum-Pararupayogya at Pekan Budaya Difabel, “Disabled Culture Week.” I also was an exhibition educator for Masa Lalu Belumlah Usai, a showcase of exhibition posters from 1974-2019 by Dicti Art Laboratory. This role had me sitting at the exhibit and helping to answer questions from gallery-viewers about the exhibition. Obviously, language was a limiting factor for me here, but I was grateful to be allowed to help and learned a lot from helping to set up, run and take down an exhibition.

Before my internship was cut short by COVID-19, I had embarked on another (perhaps overly) ambitious task. I wanted to delve into the tattoo culture in Yogyakarta, and so had begun to conduct a series of interviews with tattoo artists about the tattooing community. I had hoped to then string the responses together into one cohesive manuscript that told the story of tattooing in Jogja from community members’ perspectives. I only got through half of the interviews I wanted to, and wasn’t able to complete it. But I’m glad for the work I was able to do – the Indonesian-language interviews helped me develop my language skills and it provided interesting insight into a community I otherwise would have never come across.

This is by no means a comprehensive list of everything I did at IVAA, but these are the things that stand out in my mind as I reflect on my time cut short. I’m immensely grateful to all the staff and interns I met at IVAA. It was quite a challenge to be an intern in a foreign country, and even as I made mistakes I was always met with patience. The organization supported me in pursuing my own independent projects. Even as I’m unsure of the amount of help that I actually provided for the archive, I’m totally sure that I left my internship a different person – someone with a deeper understanding and appreciation of the art world, and someone who can’t wait to be back to Yogyakarta.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.

Workshop Pengelolaan Arsip Fisik dan Koleksi Pustaka

oleh Santosa Werdoyo

Grogol merupakan sebuah dusun yang berjarak kurang lebih 28 km arah selatan Kota Yogyakarta yang terkenal dengan pariwisata pantai Parangtritis. Selain itu masih ada lagi, yakni gumuk pasir yang tentu saja sebagai salah satu magnet pariwisata di daerah paling selatan di Kabupaten Bantul. Selain pariwisata, Grogol juga menyimpan sejarah perjalanan Jenderal Sudirman yang kala itu singgah di Dusun Grogol, bergerilya selama perang revolusi. Pengetahuan sejarah itu hidup melalui cerita-cerita warga setempat dan petilasan berwujud rumah yang dulu jadi tempat istirahat Jenderal Sudirman dan para prajurit. 

Rumah singgah tersebut dimiliki oleh Lurah Hadi Harsono yang dulunya menjadi seorang tentara dengan pangkat terakhir kapten. Pak Hadi kemudian memilih mengabdi menjadi lurah dari 1947-1990. Begitulah tutur Nova, salah satu warga Grogol. Rumah tersebut sudah tidak ditinggali lagi oleh ahli warisnya hingga tidak terawat. Begitu juga dengan arsip-arsip administrasi kantor, foto dan pustaka seperti majalah, serta buku-buku yang ada di rak lemari rumah itu. 

Untuk tetap merawat pengetahuan beserta arsip dan situsnya, warga Grogol bekerja sama dengan IVAA menggelar workshop dan festival sejarah. Kegiatan warga seperti kandang kelompok, produksi makanan oleh ibu-ibu, dan wisata gumuk pasir juga menjadi praktik-praktik yang dibaca ulang sebagai bagian penting dari pengetahuan warga. 

Pada satu kali kesempatan, 11 Januari 2020, IVAA diundang untuk memberikan workshop seputar perpustakaan dan pengarsipan untuk para pemuda Dusun Grogol beserta para mahasiswa KKN UGM yang sedang bertugas di sana. IVAA berbagi pengalamannya mengenai bagaimana selama ini mengolah arsip dan koleksi pustaka. 

Acara dimulai pada pukul 21.00 di sebuah mushola. Pak Kamri, sebagai kepala dukuh, memberikan gambaran tentang kondisi buku dan arsip yang disimpan di dalam rumah singgah Jenderal Sudirman tersebut. Bahwa warga ternyata sudah menata buku dan arsip itu ke dalam beberapa kategori, yakni majalah, buku, foto, dan arsip administrasi. 

Sesi selanjutnya adalah materi seputar pengelolaan koleksi perpustakaan dengan tahap pertama, yakni Metadata Koleksi Pustaka. Tahap ini berisi inventarisasi koleksi pustaka dengan standar deskripsi judul, jenis (buku, majalah, katalog, dll), nomor ISBN, penerbit, tahun terbit, kolasi buku (tinggi, lebar, jumlah halaman), nomor panggil (dibedakan berdasarkan kebutuhan), bahasa, kota terbit, pengarang, subjek, asal, bulan inventarisasi, serta abstrak (gambaran singkat isi pustaka). 

Setelah Metadata Koleksi Pustaka, dilanjutkan dengan penyampulan dan labelling. Label yang ditempelkan di punggung buku memuat informasi tentang:

  • no panggil/ pengarang/ judul pustaka, contoh: 701/Ari/S (tidak berseri)
  • no panggil/ judul pustaka/ edisi/tahun, contoh: 705/G/16/2015 (berseri)

Tahapan selanjutnya adalah penyimpanan. Setelah selesai diberi label, koleksi pustaka tersebut ditata berdasarkan jenis pustaka (buku, majalah, katalog, dll) bersama dengan kategorisasi (seni, filsafat, sejarah, dll), yang mengacu pada nomor panggil yang tertera pada punggung buku.

Setelah berbincang soal pengolahan koleksi pustaka, perihal arsip fisik juga diceritakan. Tahap awal pengolahan arsip fisik IVAA adalah sortir berdasarkan jenis material, misal undangan, surat-surat, foto, dll. Setelah itu tim arsip membuat identitas arsip (kode kategorisasi) dengan format tema/ material/ no urut inventaris/ petugas. Contohnya sebagai berikut:
Tema: pariwisata (PW), kuliner (KL), sejarah (SJ), dll
Material: foto (FT), undangan (UN), poster (PT), surat (SR), dst
Nomor urut inventaris: 01, 02, dst
Petugas: santoso (SS), yoga (YG), dst
Identitas arsip: PW/FT/01/SS 

Setelah menulis identitas arsip, tahap berikutnya adalah menulis lokasi simpan, dengan standar informasi sebagai berikut:
Kode ruangan (A1, A2, dst), kode rak/ lemari (R1, R2, dst), kode box/folder (B1, B2, dst), kode tema (PW, KL, SJ, dst), kode no urut inventaris (01, 02, dst). Contoh lokasi simpan: A1/ R1/ B1/ PW/ 01.

Pengolahan data arsip kemudian dilanjutkan dengan inventarisasi berdasarkan standar deskripsi Dublin Core. Dublin Core merupakan satu set metadata yang dirancang untuk memudahkan sistem temu kembali data arsip. Contohnya demikian: identitas arsip (kode kategorisasi), lokasi simpan, pelaku (orang yang ada di dalam arsip), judul, tahun terciptanya arsip, jenis arsip (foto, undangan, surat, dll), ukuran, dan deskripsi.                                                                                                                                

Workshop ini menjadi upaya IVAA untuk berbagi cara pengelolaan koleksi pustaka dan arsip sebagai gambaran awal. Tujuannya adalah supaya beragam koleksi pustaka dan arsip yang dimiliki oleh warga Grogol dapat tertata dengan rapi dan mudah untuk dicari kembali keberadaannya. Akan sangat disayangkan jika arsip-arsip tinggalan lurah Hadi Harsono dan buku-buku yang sudah berusia tua tidak terkelola dengan tepat. Tentu, pengelolaan koleksi arsip dan pustaka dengan standar-standar di atas bukan menjadi satu-satunya cara untuk merawat pengetahuan. Itu semua hanya melengkapi apa yang sudah warga miliki, entah itu tradisi tutur atau praktik-praktik lain yang bersinggungan dengan pengetahuan-pengetahuan di atas.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Diskusi Panel: Ingatan Bergegas Pulang Hari 1 – Konteks Seni Rupa di Ranah Lainnya

oleh Prima Abadi Sulistyo

Diskusi Panel: INGATAN BERGEGAS PULANG sebagai satu rangkaian dalam pameran tunggal Suvi Wahyudianto di Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat (15/01/20) dimulai saat siang hari, sekitar pukul 14.00 WIB. Tema pertama dalam diskusi panel ini bertajuk “Konteks Seni Rupa di Ranah lainnya” yang dibuka dengan pidato kunci oleh St. Sunardi. Adapun panel 1 mengenai “Seni Rupa, Autoetnografi, dan Rekonsiliasi” dibahas oleh Anne Shakka dan Diah Kusumaningrum. Acara yang dimoderatori Muhammad Abe ini diawali dengan pembacaan puisi dari Suvi Wahyudianto. Pembacaan puisi oleh Suvi kemudian dilanjutkan dengan diskusi. 

Melalui pidato kuncinya dengan judul “Membangun Monumen Masa Depan dengan Jejak-jejak Masa Lalu”, Sunardi membicarakan pembacaannya atas karya Suvi. Sunardi menggunakan pendekatan sastra. Kesan Sunardi juga terlihat ketika menjelaskan bagaimana Suvi, melalui judul karyanya, membuat metafora. Yang dimaksud Sunardi sebagai jejak-jejak bukanlah sebagai tanda atau penanda dari diri Suvi. Ia menjelaskan bahwa sebagai sebuah jejak kita tak perlu untuk menafsirkan, memaknai atau mencari maknanya lagi. Dengan berangkat dari gagasan writing degree zero-nya Roland Barthes, Sunardi melihat bahwa karya Suvi ini sebagai image degree zero. Artinya, orang langsung paham dan mafhum, bahwa karya dari Suvi ini otentik tanpa ada embel-embel tafsirannya (sekali lagi bahasa/ gambaran yang mempunyai kekuatan jejak-jejak). Karena berada dalam tataran jejak-jejak, karya Suvi bisa menjadi rumah dan tempat tinggal kita. 

Dari karya Suvi ini, Sunardi mempunyai pandangan baru terkait rumah, yang jangan-jangan selama ini rumah adalah bagian dari jejak-jejak yang kita lalui. Rumah adalah kumpulan dari jejak-jejak yang bila ditafsirkan oleh penghuninya, maka mulai menjadi tempat yang tidak nyaman bagi si penghuni itu sendiri. Hal itu kemudian disambungkan dengan bentuk kekaryaan Suvi. Seperti rumah, karya Suvi bisa dilihat sebagai jejak dari si penghuni tanpa ada tafsiran-tafsiran lainnya. Apabila boleh saya tafsirkan, hal ini sebagai bentuk otentik karya Suvi Wahyudianto. Kita tahu bahwa Suvi adalah orang Madura. Bentuk karya-karyanya ini adalah pengalaman hidup seorang Madura yang diejawantahkan ke dalam bentuk lukisan dan seni instalasi (wujud dari pergulatan batin seorang Madura –studi kasus konflik Madura Dayak di Sampit medio 2000-an). 

Di dalam pidato kuncinya, Sunardi mengucapkan kalimat kritis nan puitis untuk kekaryaan Suvi: “sepertinya dari pangkalan ini, Suvi mau melawan fatwa dari Adorno”. Sebagai seorang Yahudi yang berlari ke Amerika, Adorno mengatakan bahwa setelah Auschwitz tidak ada lagi puisi. Bagi Sunardi, hal ini tidak berlaku untuk Suvi, karena setelah peristiwa Sambas masih ada puisi dan prosa. Puisi dan prosa Suvi bukan hanya dimaknai sebagai rangkaian kata penuh makna atau hiburan semata. Sunardi menekankan bahwa puisi dan prosa ini dapat dipahami sebagai bangkai-bangkai visual lirik yang menduduki posisi jejak. Melalui jejak kita bisa membangun rumah kembali dan koordinat yang kosong di jagad ini. 

Sunardi mencoba membicarakan kembali kejadian di Sambas waktu itu. Beliau mengatakan peristiwa yang terjadi 20 tahun lalu itu adalah peristiwa yang tidak mau diingat oleh kita, baik penyebabnya, kejadiannya, bahkan hal-hal pasca konflik itu. Sunardi menjelaskan melalui karya Suvi Wahyudianto kita mendapatkan kesempatan untuk berhadapan kembali dengan peristiwa yang selama ini tidak ingin kita ingat dan akui. Bukan melalui aspek sensasional maupun kengeriannya, melainkan pengalaman keruangan (diakronik) dalam berbagai suasana. Salah satu karya yang menarik menurut Sunardi adalah karya Suvi yang berjudul “Sapi dan Reruntuhan”. Dari karya itu kita seperti dilihat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kita lihat.

Dalam pidatonya, hal terakhir yang Sunardi ucapkan adalah bahwa sebuah eksplorasi dari masa lalu, yang dari sana bisa terbangunnya monumen masa depan, bukan sebuah masa lalu (sanctuary) yang cengeng. Sunardi menutup pidato kuncinya dengan nukilan perkataan Jacques Derrida: to forgive the unforgivable (mengampuni sesuatu yang tidak bisa kita ampuni).

Panel 1: Seni Rupa, Autoetnografi, dan Rekonsiliasi

Dalam diskusi panel 1 ini, Anne sedikit banyak membahas tentang autoetnografi. Metode Autoetnografi sama halnya dengan etnografi yang di dalamnya terdapat kajian budaya dan keseharian masyarakat tertentu. Ia menerangkan soal sejarah bagaimana cabang ilmu ini muncul, ketika kecenderungan subjektivitas individu mulai dihargai. Meski Anne merasa asing untuk menyoal seni, ia mencoba menggunakan metode autoetnografi untuk memahami karya Suvi. Meski demikian, Anne memang lebih banyak menjelaskan perihal metode ini, seperti kelebihan dan kekurangannya. Implikasinya adalah hubungan metode ini dengan kekaryaan Suvi tidak terlalu nampak. Anne hanya sedikit membahas pengalaman diri Suvi kecil dan proses penelitiannya saat berada di Pontianak dalam rangka mencari materi untuk berkarya. Tetapi poin menariknya adalah bahwa Anne cukup menekankan pentingnya metode ini untuk terapi atas peristiwa masa lalu bagi seorang seniman. 

Diskusi lalu dilanjutkan oleh Dian Kusumaningrum yang lebih membahas perihal rekonsiliasi.  Ia bercerita tentang pengalamannya saat menangani konflik dan rekonsiliasi di Ambon. Dian mencoba menjelaskan mengapa beberapa kelompok sering terjadi konflik. Salah satu penyebabnya adalah kelangkaan. Dian mengambil contoh konflik agama. Bahwa permasalahan identitas antar agama bukan menjadi faktor utama, tapi lebih ke arah klaim kebenaran dari masing-masing kelompok agama sebagai sesuatu yang langka, dan mengagungkan kebenaran tersebut. Jadi dalam permasalahan konflik tidak saja membahas permasalahan konfliknya tapi juga perilakunya. Dian juga menggambarkan perdamaian sebagai sebuah istilah yang tricky. Banyak unsur peyoratif dalam berbagai kesepakatan damai. 

Rekonsiliasi menurut Dian sendiri dibagi menjadi 2 garis besar. Hal pertama adalah soal hubungan dan yang kedua soal keberanjakan dari konflik sebelumnya. Di Afrika Selatan, tempat di mana rekonsiliasi antar kulit hitam dan kulit putih dianggap paling berhasil pun belum sepenuhnya terjadi peleburan (masih terjadi segmentasi pada sebagian warganya). Mengenai keberanjakan dari konflik masa lalu, Dian mencoba menghubungkan tema rekonsiliasi ini dengan karya Suvi “Menjahit Kertas” yang bermaknakan menjahit luka lama, berdamai dengan diri sendiri, dan membuka sebuah lembaran baru dari konflik yang terjadi di masa sebelumnya (metafora kertas yang dijahit oleh Suvi).

Kekerasan atau konflik masa lalu bagi Dian bukan menjadi sesuatu yang dilupakan. Dian menjelaskan bagaimana pada akhirnya kita justru melipat ingatan soal konflik.  Dian mengambil contoh konflik di daerah Ambon medio 2000. Pernah suatu ketika ada warga muslim yang ketika bertamu di rumah keluarga Kristen, mereka menghargai hidangan yang disuguhkan. Artinya, meski sedang terjadi konflik besar pun, ketika suatu kelompok atau orang sudah tidak lagi menganggap dirinya sebagai korban (victim), tanda-tanda rekonsiliasi akan terjadi. 

Mengenai kekaryaan Suvi Wahyudianto, Dian mengatakan bahwa Suvi telah selesai dengan metode autoetnografinya. Suvi sudah pada tahap membagikan hasil karyanya untuk kita tonton. Maka dari itu, ia tidak lagi memproduksi performans. Melalui proses bertemunya karya dengan publik, karya-karya Suvi telah memunculkan performativitas; ketika ada produksi dan reproduksi makna antara pelaku dan penonton.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Diskusi Panel: Ingatan Bergegas Pulang Hari 2 – Praktik Seni sebagai Praktik Pemberdayaan Diri dan Masyarakat

oleh Krisnawan Wisnu Adi 

Hari kedua diskusi panel pameran tunggal Suvi Wahyudianto kali ini diisi dengan dua diskusi panel dengan tema besar “Praktik Seni sebagai Praktik Pemberdayaan Diri dan Masyarakat”. Sebelumnya, sama seperti di hari pertama, dua diskusi panel tersebut dibuka dengan pidato kunci. Melalui pidatonya, Alia Swastika menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Suvi merupakan sebuah strategi untuk merawat ingatan dan membangun imajinasi visual dari ingatan atas identitas sosial; sebuah strategi yang bisa menjadi langkah produktif untuk pemberdayaan diri dan sosial. Masih senada dengan panel diskusi pertama di hari sebelumnya yang dibawakan oleh Anne Shakka, Alia juga menekankan peran metode autobiografi dan auto-etnografi sebagai upaya perbincangan diri dengan konteks di luar diri yang lebih besar. Salah satunya adalah sejarah. Praktik artistik yang melepaskan kisah-kisah personalnya, selain memunculkan ketegangan antara ruang privat dan publik, juga memberi kemungkinan sejarah dari bawah.

Sekilas menarik ke belakang, Alia mengatakan bahwa pada era Renaisans dan Modern, karya-karya bernuansa autobiografi muncul dalam bentuk potret diri hingga yang lebih menekankan memori di level personal. Karya-karya Rembrandt dan Van Gogh menjadi dua dari sekian banyak karya di wilayah itu. Alia juga mencontohkan kekaryaan dari Frida Kahlo yang mengupayakan kemungkinan-kemungkinan personalitas perempuan dalam sejarah seni. Lalu di dalam seni kontemporer, peran wajah dan tubuh mulai tergantikan oleh sejarah diri yang direpresentasikan melalui kehadiran benda-benda yang mempertanyakan kembali ingatan-ingatan beserta materialnya; mengajukan beragam pertanyaan-pertanyaan sembari mencari kemungkinan lain pasca ingatan.

Poin personalitas dalam singgungannya dengan konteks yang lebih luas di dalam pidato Alia mengantarkan partisipan ke diskusi panel kedua yang bertajuk “Melihat Arah Praktik Berkesenian Perupa Muda Hari Ini”, yang dimoderatori oleh Umi Lestari. Sigit Pius, sebagai pembicara, berangkat dari fenomena ‘sobat ambyar (sebutan untuk kawula muda yang akhir-akhir ini menggandrungi lagu-lagu Didi Kempot)’ yang sedang marak. Bagi Pius, seolah-olah sekarang ini kita hidup dalam satu ambiens; kita diminta untuk bersama-sama mengumpulkan air mata mewadahi penderitaan. Persis seperti apa yang para ‘sobat ambyar’ lakukan.

Ia menambahkan bahwa situasi semacam ini hanya mungkin terjadi ketika suatu kekuasaan memaksakan kehendaknya dan selalu mencari peluang melanggengkan pengaruh di tingkatan vertikal. Sementara di lapisan bawah, mereka berkumpul menangis menghimpun penderitaan. Begitu berbeda dengan jaman 1990-an. Karya-karya yang muncul cenderung bernuansa marah.

Aspek personalitas yang begitu kuat, seperti apa yang Pius utarakan tersebut, cukup senada dengan ungkapan Suvi, bahwa seluruh dimensi material dalam karya-karyanya memang menjadi medium refleksi perasaan. Meski demikian, Anton Rais agak kurang sepakat jika seolah nelangsa menjadi kecenderungan kekaryaan perupa muda saat ini. Ia lebih melihat bahwa mereka juga tidak jarang bersinggungan dengan isu-isu lingkungan, feminisme, dll.

Selain mengulas singkat soal kecenderungan praktik perupa muda, tim Cemeti juga menggelar diskusi panel ketiga dengan tajuk “Seni Berbasis Riset” – Penelitian Artistik dan Praktik Seni Lukis di Mata Perupa Muda, yang dimoderatori oleh Manshur Zikri. Ayos Purwoaji dan Arham Rahman hadir sebagai pembicara.

Bukankah seni itu selalu berbasis riset? Ini adalah pertanyaan yang membuka diskusi. Ayos juga menekankan hal sama, ketika praktik riset dalam kerja artistik sudah dilakukan oleh para seniman terdahulu. Soedjojono (seni lukis sebagai alat observasi sosial), Affandi (observasi di sebuah café di Perancis untuk bahan melukis), Dullah (sewaktu revolusi, menyuruh anak-anak didiknya melukis apa yang terjadi), seniman-seniman Lekra (metode TURBA), Moelyono (seni rupa penyadaran), dan di wilayah kampus (residensi atau observasi dulu untuk kemudian membuat karya).

Selain menekankan bahwa praktik riset dalam kerja artistik bukanlah hal baru, Ayos juga mengatakan bahwa wacana ini juga dekat dengan etnografi. Seperti halnya kedekatan Koentjaraningrat dengan lukisan. Di samping diakuinya beliau sebagai bapak antropologi Indonesia, ternyata Koentjaraningrat sedari kecil gemar melukis dan pernah beberapa kali berpameran. Tetapi apakah lukisan-lukisannya termasuk ke dalam lukisan/ gambar etnografis? Belum tentu.

Apakah riset artistik selalu, bahkan hanya, berhubungan dengan etnografi? Agaknya Arham menjawab tidak. Ia dengan tegas membedakan antara riset artistik dengan seni berbasis riset. Yang terakhir itu merupakan praktik yang sering dilakukan oleh seniman-seniman kontemporer. Di sisi lain, riset artistik adalah penelitian berbasis praktik. Bukan seniman mengkaji subjek lain, melainkan dirinya sendiri; mengkaji praktik artistiknya. Si seniman mensimulasikan kegiatan dalam jangka panjang, bukan memanggil kembali ingatan-ingatan masa lalu yang dikawinkan dengan fenomena sekarang.

Arham menambahkan 3 poin penting, bahwa riset artistik harus (1) eksperimental, (2) self-reflective & self-critical, dan (3) metodologis, yang sebenarnya poin ketiga ini belum mencapai kesepakatan pendapat. Alih-alih membicarakan bagaimana riset artistik dilakukan di skena kesenian kita, Arham justru mengatakan bahwa lebih baik riset artistik tidak masuk dulu, karena kita masih belum matang dengan banyak hal.

Diskusi ini setidaknya dapat memberi penjelasan ketika banyak kawan-kawan yang menggunakan istilah riset artistik dan seni berbasis riset dalam pengertian sama. Kecenderungan semacam itu justru menebalkan pengaruh elemen akademis/ riset/ logis-konseptual di dalam praktik seni kontemporer. Sementara, karya-karya seni dengan pendekatan demikian bisa juga disebut, meminjam perkataan Ayos, karya seni kuasi-antropologis (etnografis).

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Warisan Sudjojono

oleh Gagas Dewantoro

Lukisan terkenal dari seorang Sudjojono memiliki kesan tersendiri khususnya terhadap masyarakat urban pada masanya. Sebagai seseorang yang dianggap menjadi perintis seni rupa modern Indonesia, ia sangat berperan dalam membingkai perdebatan tentang perlunya bentuk visual yang khas “Indonesia”. Estetika dan perannya sebagai guru serta penulis memiliki dampak yang mendalam pada perkembangan seni rupa modern dan kontemporer. 

Pada 20 Januari 2020 Program Studi Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada mengadakan seminar bertajuk “Representation of Urban Culture in Visual Art” yang disampaikan oleh Edwin Jurriens, dosen dari Melbourne University. Hadir juga sebagai penanggap utama, yaitu Aditya Adinegoro. Yang menarik pada diskusi ini adalah tema kultur urban yang mengekspresikan seluruh kebudayaan dan aktivitas masyarakat perkotaan.

Salah satu karya fenomenal Sudjojono yang merepresentasikan kehidupan urban serta sosio-politik pada masanya yaitu “Angkatan 66”. Lukisan ini menggambarkan situasi setelah kejadian G30S yang telah menurunkan Soekarno. Dari lukisan ini Sudjojono menampilkan seorang mahasiswa menggunakan jas merah yang sedang berdemonstrasi menghadap istana merdeka dan sebelah belakangnya adalah bundaran HI atau sekarang lebih dikenal sebagai Monumen Selamat Datang di Jakarta. Selain itu, Sudjojono juga menggambarkan situasi rakyat urban yang kacau pasca orde lama, juga pembangunan Jakarta yang begitu masif. 

Hal menarik lainnya dari Sudjojono yaitu ketika dirinya menolak seni lukis yang lahir dari kebutuhan di luar lingkungan bangsa Indonesia, seperti dari turis-turis maupun orang-orang Belanda yang sudah pensiun. Seni lukis bagi Sudjojono harus muncul dari dalam hidupnya sehari-hari termasuk budaya urban yang ada di sekitarnya. 

Meski demikian, Sudjojono tidak hanya melukis kehidupan budaya urban namun juga gunung, bukit, jalan, dan pohon kelapa. Sudjojono berusaha melukiskan kesadaran tentang alam Indonesia, bebas dari cita rasa turisme. Misal, jika dalam suatu pemandangan yang hendak dilukiskan terdapat menara listrik atau hal-hal lain yang mengganggu pemandangan (menurut cita rasa turis),Sudjojono akan tetap menggambarnya. Lukisannya memiliki karakter goresan ekspresif dan sedikit terstruktur, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Pada periode sebelum kemerdekaan, karya lukis Sudjojono banyak bertema semangat perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah. Setelah jaman kemerdekaan karyanya berubah menjadi bertema pemandangan alam, bunga, cerita budaya dan aktivitas kehidupan masyarakat urban. 

Edwin selanjutnya mencoba menitikberatkan karakter ‘urban’ dalam lukisan Sudjojono tersebut sebagai satu poin penting ketika membicarakan karya-karya seni rupa kontemporer. Bagi Edwin representasi urban seperti dalam beberapa karya Sudjojono seolah terus direproduksi, seolah terwariskan pada karya-karya beberapa seniman kontemporer. Misalnya saja pada karya Agan Harahap yang berjudul sama yakni, Maka Lahirlah Angkatan 66. Jika Sudjojono memakai medium lukis, Agan memilih fotografi. Namun, selain judul, ikon yang dimunculkan juga sama, yakni seorang remaja laki-laki yang membentangkan tangan dalam rangka demonstrasi. Selain karya Agan, tangkapan fenomena urban juga muncul dalam karya Yuswantoro Adi yang berjudul Every Place is The Playground. Bagi Edwin, karya ini senada dengan karya Sudjojono yang berjudul Kota Jakarta. 

Dalam diskusi ini, sebagai bagian dari riset disertasinya, Edwin masih dalam tahap berasumsi bahwa warisan Sudjojono seolah hidup di tengah-tengah kekaryaan beberapa seniman kontemporer melalui representasi kultur urban yang dihadirkan. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Pembukaan Pameran “Masa Lalu Belumlah Usai”

oleh Y. Pramana Jati

Hujan deras mengawali pembukaan pameran poster “Masa Lalu Belumlah Usai” di pendapa Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul. Terlalu deras, sehingga membuat acara yang seharusnya mulai pada pukul 19.00 WIB baru dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Pameran yang dikuratori oleh Mikke Susanto bersama Ko-Kurator Tomi Firdaus ini memamerkan 546 lembar poster dari berbagai pameran seni rupa yang pernah terselenggara, dengan rentang waktu antara 1974 hingga 2019 dan semuanya merupakan koleksi Dicti Art Laboratory. Ketika acara dimulai langit masih mengirimkan rintikan hujan menemani dinamika pembukaan pameran ini. Acara dibuka dengan pertunjukan musik dari Band TUDEIS binaan Sekolah Alam “Nurul Islam” Sleman, D. I. Yogyakarta, serta solo performance dari Bintang. Setelah itu dilanjut sambutan oleh Totok Barata selaku pengelola Rumah Budaya Tembi dan Trisna Pradita Putra sebagai sekretaris Prodi Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta.

Pembukaan pun usai dan diskusi sebagai rangkaian acara utama pada pembukaan kali ini akhirnya dimulai, walaupun banyak kursi yang masih kosong dan hanya terisi di satu sisi saja. Diskusi yang dimoderatori oleh Tomi Firdaus ini menghadirkan tiga pembicara yakni Mikke Susanto sebagai kurator pameran, Hardiwan Prayogo (Yoga) sebagai arsiparis Indonesian Visual Art Archive (IVAA), dan Ong Harry Wahyu sebagai seniman poster. Ketiga pembicara memberikan bahasan seputar pembacaan mereka terhadap arsip-arsip poster pameran seni rupa yang memiliki nilai lebih, yakni bukan hanya sebagai media promosi saja melainkan juga sebagai pembacaan pergerakan dari seni rupa di Indonesia hingga nilai ekonomi yang terkandung di dalamnya.

Materi setiap pembicara sarat akan informasi serta pengkayaan perspektif terhadap arsip poster pameran seni rupa. Mikke membahas pengalamannya ketika pertama kali bergelut ke dalam pergumulan ini beserta bahasan tentang aspek kesejarahan poster-poster pameran seni rupa secara kronologis, meliputi pergerakannya hingga teknik pembuatannya dari masa ke masa, dan membahas peningkatan nilai ekonomi dari suatu poster pasca pameran. Lalu Yoga membahas tentang pentingnya kinerja pengarsipan yang dilakukan IVAA beserta teknik klasifikasi (coding) tiap material arsip poster koleksinya. Dan tak ketinggalan juga materi bahasan Ong sebagai seniman poster yang membaca perkembangan estetika pada seniman poster di Indonesia.

Ada banyak bahasan berbobot yang digulirkan ketiga pembicara. Dari semua pembicaraan itu ada beberapa bahasan yang perlu menjadi perhatian, seperti bagaimana perkembangan seni rupa dengan dinamika yang mengiringinya dapat terbaca melalui pembacaan arsip-arsip poster pameran seni rupa. Tak hanya pembacaan akan perkembangan seni rupa saja, melainkan juga pembacaan tingkat bahasa, tingkat teknologi, dan tingkat fungsi seni suatu masyarakat di mana arsip poster itu berasal. Menjadi demikian karena poster pameran seni rupa selalu mengalami transformasi yang awalnya sebagai medium informasi menjadi prasasti setelah pameran usai, walaupun banyak juga poster-poster pameran yang hilang karena pengaruh rezim yang saat itu berkuasa. Tak luput menjadi perhatian juga adalah tentang bagaimana kinerja di dalam semesta pengarsipan turut mempengaruhi nilai informasi dan nilai bukti dari suatu poster pameran seni. Pembacaan arsip tak hanya berhenti di pengumpulan arsip saja, melainkan juga menjadi siklus pembacaan ulang secara interelasional dengan material arsip lain yang banyak terserak di dalam peristiwa seni lainnya, sehingga pengetahuan dari arsip-arsip poster pameran seni rupa dapat terekstraksi secara holistik. 

Dari sudut pandang penciptaan karya juga tersampaikan bahasan mengenai bagaimana sebuah keterbatasan dan keadaan sekitar membentuk pola pikir, estetika, dan cita rasa seniman poster yang senantiasa berubah. Serta, dengan perkembangan teknologi saat ini yang mempermudah kinerja dalam penciptaan desain, para seniman poster semakin dituntut untuk senantiasa mencapai otentisitas gaya dalam realisasi imajinasinya yang tertuang ke dalam desain. Sehingga peran seniman dalam karya tidak hilang tergantikan oleh daya teknologi dalam mengolah desain, karena hakikat teknologi adalah sebagai piranti pendukung layaknya pena di mana desain itu terbentuk karena desainer yang menggerakkannya.

Mendudukan tiga pembicara dengan latar belakang kerja yang berbeda-beda, yakni sebagai kurator/ kolektor, pekerja sekaligus pengelola arsip, dan seniman poster dalam satu forum diskusi adalah langkah yang tepat. Masing-masing kerja mereka sangatlah berkaitan satu sama lain dan tidak bisa timpang. Logika interelasi peran antar pelaku ini dapat dipahami dengan melihat kerja-kerja yang dilakukan tiap pelaku tersebut. Seperti bagaimana seorang kurator/ kolektor membutuhkan kerja dari pelaku pengarsipan untuk memperkaya pembacaannya atas arsip tersebut karena kerja yang dilakukan oleh pekerja arsip adalah membaca secara interelasional, bahkan intertekstual, terhadap satu arsip yang dikaitkan dengan material arsip lainnya. Kerja kolaboratif semacam ini dapat mendukung upaya mengekstrak informasi dan pengetahuan dari suatu gelaran pameran yang meningkatkan nilai informasi, nilai bukti, dan pada akhirnya juga nilai ekonomi arsip poster pameran seni rupa tersebut. 

Lalu kerja seniman poster jelas dibutuhkan dalam produksi material poster. Demikian juga pengelola arsip, mereka membutuhkan kolektor dan seniman poster untuk senantiasa memperkaya khazanah kearsipan yang senantiasa menjadi siklus pembacaan tanpa henti dari suatu perhelatan seni, agar nilai informasi, nilai pengetahuan, serta nilai bukti dari suatu arsip poster dapat terekstraksi. Dan tentunya seniman poster juga membutuhkan kolektor/ kurator sebagai aktor yang senantiasa membuat si seniman tak berhenti dalam gerak kekaryaannya dan membutuhkan kerja para pekerja/ pengelola arsip sebagai pihak yang tak hanya menampung tapi juga mengapresiasi karyanya dengan pembacaan-pembacaan kritis untuk selanjutnya menjadi referensi seniman/ desainer dalam memperkuat karyanya. Dari alasan-alasan itulah peran tiap aktor tak dapat dipisahkan, karena sedari awal kerja-kerja yang mereka lakukan sangat integratif dan tidak dapat timpang. Capaian tiap pelaku tersebut tidak akan tercapai sempurna tanpa keterkaitan peran satu sama lain.

Diskusi sebagai rangkaian utama dari pembukaan pameran poster seni rupa “Masa Lalu Belumlah Usai” ini memang tidak dihadiri oleh banyak tamu, terutama setelah pertunjukan pembuka di mana tamu berkurang hampir separuhnya. Tetapi walau begitu, tidak mengurangi kualitas materi-materi yang dipaparkan oleh para pembicara. Karena para pembicara memunculkan pembacaan-pembacaan yang ternyata sangat luas dalam membaca material serta kerja dalam perhelatan arsip poster pameran seni rupa kali ini, di mana arsip poster pameran seni rupa tersebut tak hanya berhenti sebagai objek koleksi semata atau sebagai pelampiasan sisi romantis kolektornya saja. Perjuangan menempuh hujan deras untuk datang ke diskusi ini serasa terbayar oleh apa yang disajikan sebagai pengkayaan khazanah ilmu pengetahuan di bidang seni dengan sukacita. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

#GILAVINYL: Obat keusangan, racun untuk pencintanya

Judul : #GILAVINYL Seluk-Beluk Mengumpulkan Rekaman Piringan Hitam
Penulis : Wahyu Acum
Editor : Dandy Nugraha.
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman : 268
Resensi oleh : Yulius Pramana Jati 

Benarlah jika kata usang merupakan kata sifat bagi segala sesuatu yang lekang jaman layaknya batu bara sebagai bahan bakar kereta api, lontar sebagai medium tulis, dan pak pos sebagai penghantar surat cinta kepada yang tersayang. Yang usang seringkali tak bertahan bukan tanpa alasan, karena sesuatu menjadi usang biasanya disebabkan kegunaannya yang tak lagi efektif dan efisien dalam menunjang kebutuhan manusia. Tetapi ada paham yang mampu membuat keusangan bertahan hingga kini, paham itu sering disebut romantisme.

Romantisme secara umum adalah perasaan yang amat takjub terhadap sesuatu, tidak peduli apapun keadaannya baik itu murah, mahal, usang, kekinian, dan sebagainya. Perasaan itu cenderung membuat orang yang ternaung di dalamnya menjadi penuh harapan serta berjuang keras untuk mendapatkan apa yang dia sukai dan biasanya juga disertai imajinasi yang tinggi terhadap segala hal yang ia sukai tersebut. Ketika ketakjuban ini menjadi kegilaan dalam mengakses hingga pengumpulan (mengoleksi) objek-objek kesayangannya, maka ini sering disebut sebagai hobi. Hobi sendiri muncul pada diri seseorang karena pengaruh internal atau eksternal yang sengaja maupun tidak sengaja, seperti dari memori masa lampau, pertukaran pengalaman antar pribadi, hingga pengaruh/ hasutan (dalam konteks kekinian sering disebut sebagai racun). Seringkali sikap-sikap seperti itu tersemat pada suatu objek dan objek yang terpengaruh oleh romantisme ini biasanya mengalami sebuah transformasi dari fungsi awalnya. Salah satunya yaitu vinyl record atau yang sering kita sebut sebagai piringan hitam.

Vinyl merupakan media penyimpanan suara analog yang ditemukan oleh Emile Berliner dan dipatenkan pada 1887. Hingga tulisan ini ditulis, bisa dibilang penemuan ini bertahan selama 133 tahun sebagai medium penyimpanan suara analog, terlebih sebagai media rekam musik. Sebelum kaset, CD, hingga kini yang hanya berupa file, vinyl lebih banyak berfungsi sebagai medium pemuas akan kebutuhan hati dan telinga penikmatnya. Pada awalnya pun vinyl dikoleksi untuk pengkayaan bank data musik atau dokumen rekaman penggunanya. Tetapi kini kegiatan pengoleksiannya bertransformasi menjadi sebuah hobi yang tak hanya sebagai wujud pemuasan diri akan kekhasan suara, melainkan juga pada bentuknya yang eksotis. Bentuk piringan hitam ini tanpa perlu dieksotisasi sudahlah eksotis. Sehingga seringkali vinyl dijadikan pajangan dan ornamen dekorasi. Maka dari itu tidak mengherankan jika objek ini sangat prestisius bagi orang yang menenteng atau memamerkannya kepada orang lain.

Buku #GILAVINYL karya Wahyu Acum ini secara tersirat menggambarkan apa yang saya jabarkan sebelumnya yakni bagaimana hobi vinyl kini sudah masuk ke tataran romantisme yang menggugah nurani pencintanya dalam mencapai sebuah romansa. Melalui buku ini Wahyu Acum menjelaskan apa itu definisi gila dan hobi dalam konteks #GILAVINYL yang memiliki arti: terlanda perasaan sangat suka akan vinyl/ piringan hitam. Judul #GILAVINYL pun juga terintegrasi dengan sosial media yakni Twitter dan Instagram di mana khalayak bisa mengakses tagar tersebut ketika sedang membaca sembari bersosial media guna menambah pemahaman tentang isi buku atau meracuni diri agar masuk ke hobi ini. 

Selain menjelaskan arti #GILAVINYL di track (bab) awal, Wahyu juga menceritakan bagaimana ia bisa masuk ke dalam hobi vinyl ini. Ia menceritakan dinamika perjalanannya berpindah-pindah hobi dari mengoleksi perangko, kartu basket, korek kayu, kaset, CD, hingga akhirnya menemukan kecintaannya, yakni vinyl. Hobi bagi penulis dalam buku #GILAVINYL ini merupakan sebuah pertanda perjalanan manusia yang bahagia. Saya sangat setuju dengan penulis, yakni ketika bisa memiliki sekaligus melakukan hobi itu sangatlah membahagiakan. Mengapa? Karena bagi saya hobi adalah kunci dari segala kunci dalam menemukan waktu tersendiri yang intim bahkan sangat meditatif saat menyatu di dalamnya, dan waktu khusus yang didapatkan saat berhobi ini kerennya disebut “Me time”. Tentunya, “Me Time” ini akan sukses ketika beberapa kewajiban seperti deadline pekerjaan, tugas kuliah, skripsi, dan nafkah bulanan kita sudah tuntas semuanya. Tanpa ketuntasan itu, hobi hanyalah seonggok batu neraka sarat dosa. Percayalah…

Setelah menguak perjalanan spiritualnya akan hobi vinyl, Wahyu selanjutnya memberikan pengantar tentang seluk beluk teknis vinyl meliputi jenis material apa saja yang digunakan dalam pembuatan vinyl, ukuran, fungsi, dan lainnya. Pengantar teknis yang diberikan sudahlah cukup sebagai pengetahuan awal ketika ingin masuk ke dalam hobi ini. Poin menarik adalah penjelasan setelahnya, yakni perihal kenapa vinyl layak dipilih sebagai hobi. Di sini ia menjelaskan beberapa alasan yang umumnya menghinggapi khalayak sehingga mau terikat dengan vinyl ini, seperti putaran vinylnya serta kerepotannya dalam memutar vinyl yang sebenarnya alasan-alasan tersebut sangat personal menurut saya. Tetapi apalah arti hobi jika tidak menghadirkan pengalaman personal bukan?

Setelah berkutat dengan pengantar singkat tentang seluk beluk vinyl, di track (bab) berikutnya Wahyu mengajak pembaca untuk ikut ke dalam petualangannya menyusuri berbagai lokasi penyedia vinyl, dan penelusurannya ini ia sebut dengan istilah “piknik”. Di sini ia memberikan beberapa lokasi penyedia vinyl beserta pengalaman yang ia dapat ketika mencari vinyl-vinyl tercintanya itu. Beberapa lokasi yang ia ceritakan ada di beberapa daerah baik di dalam negeri dan luar negeri seperti Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Bali, Jakarta, Singapura, dan Thailand. Tak hanya offline store yang ia informasikan, melainkan juga bagaimana mendapatkan vinyl melalui online store seperti Ebay dan Stockroom. Ada yang unik dengan Stockroom yakni soal bagaimana online store ini membuat hari Kamis menjadi hari yang sakral bagi para penghobi vinyl dalam mendapatkan objek kecintaan mereka.

Tak hanya itu, Wahyu juga menjelaskan bagaimana serunya Record Fair sebagai perhelatan di mana setiap aktor peng-#GILAVINYL berkumpul dalam perputaran ekonomi serta pengetahuan akan vinyl. Berbagai pengalaman demi pengalaman ia jelaskan, terkesan personal tapi influentif menurut saya. Salah satu pengalaman yang membuat saya terkesan adalah tentang bagaimana ketika “piknik” ia mampu menemukan 20 nama artis dan 10 album baru yang belum pernah ia dengar dalam waktu sehari. Dari pengalamannya tersebut ia menyadari jika kegiatan ini bukan tentang collecting vinyl saja, melainkan perihal penemuan kembali terhadap sesuatu yang lampau namun terlupakan dan ini salah satu kerja pengarsipan.

Track selanjutnya sangat jelas jika tak akan lengkap tanpa menyuguhkan pengalaman personal tiap penghobinya. Di bab ini yaitu “track III: Mereka”, Wahyu mengajak untuk membaca pembacaan yang dilakukan tiap peng-#GILAVINYL dalam membaca hobi mereka ini. Baik tentang pengalaman mereka dalam mendapatkan nilai lebih dalam mengakses vinyl hingga transformasi diri yang didapatkan setelah menggeluti hobi ini. Rata-rata yang diangkat adalah para public figure industri hiburan tanah air. Di sini saya merasa ada yang kurang terhadap pemetaan pelaku yang dilakukan oleh Wahyu, mengingat banyak sekali pelaku di luar kategori tersebut yang bisa dikatakan legend di dunia per-vinyl-an dan saya yakin itu. Dengan pemetaan yang menyeluruh pastilah pembacaan tentang vinyl akan semakin luas beserta kemungkinan-kemungkinan lain yang pasti mengiringinya. Kecuali jika Wahyu memang hanya ingin menstimulasi pembacanya dari tahap interest menuju tahap action selayaknya iklan produk dengan artis-artis sebagai presenternya. Bagi saya sah-sah saja, namanya juga meng-influence. Melakukan hobi jika sendirian juga tidak asik karena cenderung tidak akan ada perputaran pengetahuan yang empiris.

Setelah semua track tersebut terjabarkan, Wahyu menutup dengan bab/ track bertajuk bonus. Di dalam track ini ia menyertakan direktori berbagai penyedia vinyl di Indonesia dan glosarium istilah-istilah yang sering digunakan dalam hobi ini. Ditambah foto-foto dokumentasi selama ia melakukan pencarian vinyl-vinyl di berbagai daerah  yang memicu imajinasi para penggila atau nyaris gila vinyl. Jelas, penutup ini semakin mempersiapkan, bahkan benar-benar berniat mengajak pembaca untuk masuk ke dalam hobi ini. Bagaimana dengan saya? Ya.. Tunggu saja ketika saya dapat rejeki nanti. Apakah saya akan ingat atau lupa pada hobi ini, pokoknya tergantung restu istri.

Bagi saya membaca buku ini seperti dihadapkan pada aplikasi katalog hotel. Ketika memutuskan ingin menginap kita akan disuguhkan profil berbagai hotel beserta lokasi-lokasinya lengkap dengan testimoni para pelanggan yang pernah menginap di sana. Bedanya ada pada pengalaman estetik yang menyentuh nurani manusianya. Sekali lagi, ini perihal pencapaian romansa dan ini kelebihan buku #GILAVINYL. Romansa-romansa ini disajikan dengan bahasa yang ringan tanpa membuat pembaca berpusing-pusing kembali ke teks sebelumnya guna mengartikan bahasa-bahasa tulis yang canggih.

“The whole experience of vinyl is what we’re after. If we don’t see something moving, we lose romance. There’s no romance for me to sing to you about an iPod. But why? Because nothing is moving.”—Jack White

Dengan romantisme pada akhirnya sangat tidak tepat jika menyebut vinyl adalah medium rekaman suara yang usang. Di luar kelebihan dan kekurangannya dalam teknologi, piringan vinyl memiliki sisi romantisnya yang mampu membuatnya sebagai objek yang layak dicintai hingga kini. Di lain sisi proses transmisi vinyl pun mengalami transformasi karena romantisme ini, dari medium rekam suara saja, kini berubah fungsi menjadi objek kolektif bahkan sangat prestisius bagi pencintanya. Transmisi vinyl berlanjut bukan sebagai medium penyimpan lagu dan suara yang ingin kita dengar saja, tetapi kini bertransformasi menjadi vinyl yang memiliki peran dalam menyajikan “rasa” yang membahagiakan kolektornya, bahkan hingga ke ranah yang sangat meditatif.

Memang buku ini terkesan hanya menjabarkan romantisme yang dirasakan penulis beserta penghobi lainnya tentang bagaimana awal hobi mulai bersemi; mengakses berbagai tempat yang menyediakan koleksi piringan vinyl yang tersebar di berbagai tempat. Namun terlihat jelas jika penulis juga memetakan medan sosial dari hobi vinyl ini sehingga kita tahu siapa saja, di mana saja, dan bagaimana kita bisa mengakses medium tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penulis memiliki harapan besar jika komunitas pecinta vinyl ini dapat meluas hingga menyentuh berbagai kalangan. Tetapi barangkali ada kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat digali dari hobi koleksi vinyl, misalnya sebagai medium pembacaan arsip. Entah ada berapa banyak pengetahuan yang terserak di luar ruang penyimpanan arsip formal yang barangkali justru ada di tangan para penggila vinyl ini. Sehingga tak hanya #GILAVINYL yang menyertai, tapi juga #VINYLGILA yang memberkati hobi ini guna menunjukkan potensialitasnya sebagai laku pengetahuan. Aminnnn!!!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Bersama Dullah, Melihat Bung Karno dari Sudut Pandang yang Lain

Judul : BUNG KARNO Pemimpin, Presiden, Seniman
Penulis : Dullah
Editor : Mike Susanto
Penerbit : Museum Dullah
Tahun Terbit : 2019
Resensi Oleh : Ganesha Baja Utama

Buku ini berisi kumpulan tulisan yang dimuat di harian Minggu Merdeka, yang mana merupakan ingatan dan catatan ketika Dullah tinggal di Istana. Catatan-catatan tersebut berisi banyak hal yang apabila dibaca akan memunculkan sudut pandang, imajinasi, fantasi lain mengenai kehidupan seorang presiden, kehidupan pribadi seorang Dullah, dan kehidupan yang terjadi di Istana pada masa itu. Dullah sendiri adalah seorang pelukis yang berperan penting dalam dunia seni rupa di Indonesia. 

Buku ini tidak hanya menyoroti perihal seni. Hal-hal kecil lain yang ternyata merupakan peristiwa penting, seperti keseharian Bung Karno dengan anak-anaknya, Bung Karno dalam menyiapkan pidatonya, kisah cinta, dan bahkan sifat-sifat yang dimiliki oleh Bung Karno dibahas dalam buku ini. Membaca buku ini akan membawa seseorang seolah terjun untuk berfantasi dan membayangkan apa yang dialami Dullah pada saat itu.

Catatan-catatan ini menjadi sebuah warisan karya yang penting bukan hanya untuk dunia seni, melainkan juga untuk sejarah bangsa, dan untuk masyarakat Indonesia sendiri. Bukan semata-mata tulisan yang dikumpulkan dan dirangkai menjadi sebuah buku, kumpulan tulisan ini menjadi jembatan penting bagi kita dalam memahami apa yang telah dilakukan oleh Dullah selain sebagai ahli gambar. Disertai dengan sejumlah foto keterangan terkait hal yang diceritakan dalam tulisan tersebut, membuat saya mudah untuk membayangkan dan seolah mampu menarik mundur waktu, pergi ke situasi di saat foto-foto itu diambil. 

Disebutkan bahwa kumpulan tulisan ini merupakan catatan-catatan selama satu dekade Bung Karno, yaitu pada 1950-1960. Rangkaian catatan yang juga bisa dikatakan sebagai bentuk romantisme seorang Dullah kepada Istrinya. “Ibune Kenung”, begitu panggilan romantis Dullah kepada istrinya dalam catatan-catatan di buku ini. Dullah melukis Fatimah atau Ibune Kenung secara simultan sepanjang waktu, dan benar saja dalam lukisan Dullah tidak ada model yang sering dilukis terkecuali istrinya sendiri. Terlepas dari hubungan antara Dullah dengan Bung Karno ataupun dengan istrinya, buku ini memberi keterangan bahwa sebenarnya hanya terdapat 59 artikel. Bahwa terdapat kekeliruan penomoran oleh redaksi Harian Merdeka pada artikel nomor 23 yang sebenarnya tidak ada. Selain itu judul-judul yang ada pada setiap artikel di buku ini sebenarnya juga tidak ada. Judul-judul ini diberikan digunakan sebagai penanda apa yang akan dibaca oleh pembaca pada setiap artikel.

Setiap catatan benar-benar menggambarkan bagaimana suatu hubungan terjalin. Hubungan yang saya maksud adalah hubungan antara Dullah dan Bung Karno. Pada beberapa artikel Dullah menggambarkan bagaimana dirinya bisa menjadi akrab dengan presiden pertama Indonesia ini. Dullah digambarkan seperti bayangan seorang Sukarno. Bagaimana tidak, di setiap catatan Dullah selalu menceritakan bagaimana dirinya diajak Sukarno bepergian, melukis, menata panggung pentas 17-an, dan banyak kegiatan yang melibatkannya. Setiap pagi seniman besar ini menemani Bung Karno berolahraga, jalan kaki mengelilingi istana. Hubungan ini membuat Dullah dekat dengan keluarga Bung Karno serta paham betul bagaimana si presiden memiliki jiwa seni.

Hal menarik lainnya bagi saya ketika membaca buku ini adalah bahwa Dullah tidak hanya menceritakan tentang Bung Karno, istana, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya. Dullah juga selalu memberikan gambaran bagaimana rakyat menyambut kedatangan seorang Bung Karno ketika mengunjungi daerah-daerah. Catatan-catatan yang telah dituliskan dengan lengkap oleh Dullah ini menjadi tulisan yang layak untuk dibaca dalam rangka memahami Bung Karno dari sudut pandang yang lain.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Komunitas dan Pekerja Seni Malaysia

Judul : PERSPEKTIF Naratif Seni Rupa Malaysia
Penulis : Nur Hanim Khairuddin
Penerbit : RogueArt
Cetakan : Cetakan Pertama
Tahun Terbit : 2019
Halaman : 348 halaman
ISBN : 978-967-10011 9 6
Resensi Oleh : Gagas Dewantoro

Buku yang berisi kumpulan makalah dari 2011 hingga 2017 ini berisi berbagai pandangan masyarakat Malaysia tentang seni rupa. Dengan format seri, buku ini merupakan jilid keempat atau terakhir yang memberikan gambaran komunitas dalam dunia seni di Malaysia. 

Sebagian dari mereka pada dasarnya tidak dikenal sebagai artis tetapi sebagai pekerja kreatif, pendongeng dan pembuat mitos berdasarkan keahlian yang telah mereka dapatkan. Kajian sosiologis oleh Howard Becker pada 1948 yang berjudul Art Worlds menggambarkan bahwa karya seni adalah wujud hasil usaha banyak orang yang membentuk dan mencorak karya seni itu. Sehingga karya seni memiliki nilai serta maknanya di dalam sebuah masyarakat. Nilai yang diberikan kepada sebuah karya seni merupakan usaha bersepadu untuk melahirkan sebuah penghargaan publik terhadap kerja-kerja kreatif oleh para seniman.

Pada dasarnya komunitas merupakan sekumpulan orang yang mempunyai hubungan antara satu sama lain. Hasil hubungan sosial bukan hanya berdasarkan hubungan silsilah keluarga, namun lebih soal ikatan kekeluargaan. Dalam buku ini penulis melihat hubungan seni dengan kehidupan sosial di dalam sebuah komunitas masyarakat yang luas. Keterlibatan sosial menjurus kepada berbagai cara di mana orang melibatkan diri dalam masyarakat, komunitas dan kehidupan politik. Melalui proses ini, seni digunakan sebagai medium untuk mengangkat isu-isu dalam lingkungan masyarakat. Oleh sebab itu secara tidak langsung seni mendapatkan ruang yang khas dalam masyarakat dan wacana. 

Seniman dapat mewujudkan lebih banyak sintesis; mengasimilasi dan menyesuaikan diri ke dalam budaya, konteks sosial tempatan, politik dan ekonomi melalui proses pelibatan dan performance. Seni yang berinteraksi secara langsung dengan masyarakat sosial meliputi pengkuratoran terbuka dan bersifat kolaboratif dalam proses yang menghasilkan. Dalam konteks operasi antara praktis seni dan penghasil wacana tentang seni, kurator adalah hal penting dalam membentuk apa dan bagaimana kita melihat dan mengalami seni yang dihasilkan  pada zaman ini dan yang lalu.

Pemahaman kurator menurut beberapa orang memang berbeda-beda termasuk dari seorang Nur Hanim Khairuddin yang memahami peranan kurator dengan keterlibatan pemilihan tema, seniman dan karya, menyusun objek di ruang pameran, dan dalam beberapa kasus menyumbang teks ringkas yang menerangkan kerja-kerja dan seniman yang terlibat. Namun saat ini dunia kurasi di Malaysia begitu holistik, rumit, bermacam dan banyak peringkat. Kurator memimpin dan mengawal keseluruhan proses pembuatan pameran, serta membangun tema dan konsep berdasarkan kajian mendalam dan rujukan melalui ruang, aliran, konteks dan wacana pameran, untuk menyusun teks kuratorial dan promosi, serta melaksanakan program sampingan. Namun yang paling penting, kurator berfungsi sebagai perantara antara berbagai komponen: seniman, karya seni, institusi, penonton, media, masyarakat umum, bahkan kolektor. Ini menunjukan bahwa kurator memainkan peranan yang lebih aktif.

Pada tahap tertentu, nampaknya terdapat peralihan dalam peranan dan kuasa kurator juga. Dahulu, kita melihat kurator hanya berfungsi sebagai pemilih seniman dan bekerja untuk pameran tanpa memberikan sembarang respons dan kritik. Sekarang mereka merupakan pencipta atau pengarah acara yang mengambil keseluruhan proses menganjurkan pameran dengan sendiri atau bekerja sama dengan kolaborator lain. Lebih jauh lagi muncul juga fenomena kurator sebagai seniman, di mana kurator menganggap pameran yang mereka usahakan sebagai “objek” seni dalam dirinya sendiri.  

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.