Category Archives: Kabar IVAA

Konferensi Asia-Afrika 1955 “Asal-Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti imperialisme”

Oleh Rachma Aprillian Kusuma Wardhani (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku: Konferensi Asia-Afrika 1955 “Asal-Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti imperialisme”
Pengarang : Wildan Sena Utama
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun : Desember 2017
No. Panggil : 300 UTA K

 

Konferensi Asia Afrika tidak asing ditelinga publik. Buku setebal 281 halaman ini bercerita lebih dalam tentang Konferensi Asia-Afrika 1955 dengan judul Konferensi Asia Afrika 1955 Asal Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti imperialisme. Beberapa pernyataan dalam buku ini membenarkan bahwa pada April 1955, delegasi dari 29 negara Asia dan Afrika berkumpul di Bandung, Indonesia, untuk perhelatan Konferensi Asia-Afrika (KAA). Para peserta konferensi, yang kala itu tidak banyak memiliki kekuatan militer atau ekonomi, mencoba mencapai sasaran kebijakan luar negerinya melalui langkah-langkah performatif –yang simbolik–, yang lebih jauh memperluas kemungkinan seluruh peserta memiliki posisi tawar di negerinya masing-masing dan panggung politik internasional sebagai pemerintahan sah dan berdaulat.

KAA adalah suatu peristiwa yang belum ada bandingannya. Mengingat peristiwa ini terjadi ketika negara-negara Asia-Afrika, yang baru dan hampir merdeka, memonopoli panggung politik dunia di pertengahan abad 20. Ini adalah momentum ketika aktor-aktor non-Barat menggunakan pengaruh yang terpadu dan konstruktif untuk menempatkan diri dalam tatanan internasional. Tujuan utamanya adalah agar lebih mengakomodasi persoalan-persoalan Asia-Afrika, baik di bidang ekonomi, politik, hingga sosial.

Gagasan solidaritas Asia-Afrika mencapai puncaknya lewat pertemuan pertama KAA. Meskipun KAA baru berlangsung pada pertengahan 1950an, akar-akar intelektualnya telah malang-melintang sejak awal abad 20. Terutama ketika wacana Westernism masa kolonial dikritik oleh jaringan kaum internasionalis dan gerakan anti imperialisme Asia-Afrika. Dengan demikian KAA adalah buah dari perjuangan panjang jejaring gerakan global.

Pada 18-24 April 1955, KAA berlangsung di Bandung. Dihadiri perwakilan 29 negara merdeka dan hampir merdeka dari kawasan Asia-Afrika. Seperti telah diuraikan sebelumnya, KAA adalah kulminasi dari banyak aspirasi: solidaritas  Asia-Afrika, dekolonisasi, perdamaian dunia, dan kemungkinan membentuk aliansi baru. Hari-hari terakhir KAA pada Sabtu malam, 23 April 1955, komite pengurus tanpa pembahasan bertele-tele menerima naskah yang merekomendasikan 8 negara Asia-Afrika untuk menjadi anggota PBB. Atas dasar prinsip universalitas, direkomendasikan bahwa negara-negara peserta KAA, yaitu Kamboja, Jepang, Yordania, Libya, Nepal, Sri Lanka dan “Vietnam Bersatu” harus diterima sebagai anggota.

Dengan demikian, KAA adalah forum yang penting. Ia mempengaruhi legitimasi politik, pemerintahan, dan masyarakat. Pergulatan simbolik dalam konferensi tersebut dimainkan di hadapan dunia. Sekaligus memiliki konsekuensi nyata bagi diplomasi politiknya. Di sisi lain, Bandung menjadi saksi penting atas bertemunya para pejuang kebebasan dan gerakan anti kolonial. Mewakili kepentingan negaranya, dan masyarakatnya masing-masing. Kepentingan masyarakat yang bebas dari belenggu dan hegemoni kolonial. Kepentingan yang direpresentasikan sendiri, bukan ditafsir oleh dunia Barat.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

“Sanggar Bambu Tidak Akan Dibubarkan, dan Akan Dipertahankan Hingga Anggota Terakhir!”: Koleksi Arsip Sanggar Bambu

Oleh: Hardiwan Prayogo

Ungkapan di atas muncul dalam surat bertanda tangan Soenarto Pr. tertanggal 9 April 1998. Dalam surat yang juga dilampirkan formulir pendaftaran anggota baru ini, adalah tindak lanjut atas pasang-surutnya eksistensi Sanggar Bambu. Soenarto Pr. dengan segala upayanya mengirim surat ini pada anggota-anggota Sanggar Bambu di berbagai daerah untuk merubah pasang-surut menjadi pasang-naik.

Sejak berdiri pada 1 April 1959, Sanggar Bambu aktif melakukan pameran keliling ke berbagai kota. Mulai dari Bogor, Pekalongan, Purwokerto, Balapulang (Tegal), Banyumas, Banjarnegara, Ngawi, Ponorogo, Mojokerto, Situbondo, Malang, Pasuruan, Bangkalan, Pamekasan, dan lain sebagainya. Kota-kota yang oleh publik seni ketahui bersama bukan melulu Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Dalam satu artikel tulisan Kartosudirjo, Sanggar Bambu memiliki 3 komisariat, sebagai “djiwa” (komisariat Yogyakarta), sebagai “napas” (komisariat Jakarta), dan sebagai “tubuh” (komisariat muhibah keliling). Fungsi utama dari tersebarnya komisariat ini adalah menjadikan seluruh pelosok nusantara sebagai persembahan pameran keliling, sekaligus tempat belajar, berdialog, dan bergaul. Misi ini memang implementasi dari mukadimah (ikrar) angkatan dasar Sanggar Bambu 59. Intisari dari ikrar ini juga mengungkapkan keberpihakan pada masyarakat sosialis, yang seirama dengan wacana revolusi pada masa itu.

Satu statement menarik dari artikel terbitan tahun 1964 ini adalah Sanggar Bambu menjadi bukti jika ada yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia tidak mengenal seni abstrak, maka itu adalah kekeliruan. Jawa, Kalimantan, Toraja, hingga Papua, semua identik dengan corak seni abstrak. Sanggar Bambu menjadi pertemuan antara corak seni abstrak dengan realis. Dengan anggapan bahwa seni abstrak tetap berangkat dari titik tolak realitas objektif. Itu pandangan dari sisi formalis karya-karya seniman Sanggar Bambu. Mengenai pandangan politiknya, meskipun tetap menjadikan politik sebagai panglima,  Sanggar Bambu menolak disebut berafiliasi pada partai politik tertentu. Dan sikap tegasnya menolak manifesto kebudayaan (manikebu).

Ikrar ini semacam “diperbarui”, tercatat dalam dokumen tertanggal 15 Desember 1993. Ikrar pertama yang disampaikan pada 1963 dicetuskan sebagai pernyataan sikap di tengah hiruk-pikuk dan gontok-gontokan partai politik hingga lembaga kebudayaannya. Memasuki dekade 1990-an, dimana suhu, iklim, dan perjuangan politik kepartaian sangat berbeda, ikrar Sanggar Bambu diupayakan tetap aktual dengan asas kemandirian politik, kesatuan sikap budayawan, dan seniman untuk menghadapi globalisasi.

Dalam posisi politis dan situasi zaman demikian, Sanggar Bambu nyatanya masih aktif di masa orde baru. Sejauh apa pengaruhnya terhadap presentasi karya seniman-senimannya, tentu bisa diperdebatkan dan membutuhkan penelitian lebih jauh. Namun dalam beberapa liputan media, pameran lukisan Sanggar Bambu tahun 1990-an mencatat hampir seluruhnya menampilkan gaya dekoratif, surealis, dan impresionis, dengan dominasi lukisan tentang figur kuda, alam, lautan, kematian, hingga kitab suci. Di samping itu, teknik dan gaya lukisan mereka cukup matang dan berciri khas.  Pada sebuah pembukaan pameran Sanggar Bambu di Solo, Erik Purnomo mengakui bahwa di tahun 1990-an eksistensi Sanggar Bambu mengalami pasang surut, meski pada masanya pernah memiliki nama besar. Maka setiap pamerannya kini menjadi semacam ujian bagi kelompok ini. Ujian untuk bertahan atau bahkan membawa angin segar dalam kancah seni rupa yang situasi zamannya terus bergerak dinamis. Agus Dermawan T. pernah menyebutkan bahwa Sanggar Bambu berhasil menunjukkan keindonesiaan dalam bentuk dan spirit, dengan kata lain banyak menceritakan peristiwa keseharian yang merakyat.

Tim arsip IVAA pada bulan Oktober ini mendapat donasi arsip Sanggar Bambu dari keluarga seniman, Rusdi. Rusdi adalah seniman dari Solo yang merantau ke Bali untuk menapaki karir kesenimanannya. Rusdi adalah anggota Sanggar Bambu untuk komisariat muhibah keliling daerah Bali. Rusdi pernah berpameran tunggal di Bandung, dan terlibat dalam Pameran Besar Seni Lukis Ke-IV. Selain itu, ikut serta pameran bersama di Tokyo tahun 1976 dalam acara 12th The Asia Modern Art Exhibition.

Dalam perjalanannya sebagai anggota Sanggar Bambu, Rusdi juga aktif dalam kegiatan organisasi. Banyak membantu terselenggaranya berbagai pameran Sanggar Bambu, hingga bertukar kabar dengan pendiri Sanggar Bambu, Soenarto Pr. Sedangkan dalam karir kesenimanannya, Rusdi adalah seniman yang sepenuhnya menyerahkan diri pada aktivitas berkesenian. Seniman yang mencurahkan seluruh waktunya pada kepentingan seni lukis, merenungkan diri dalam rangka perkembangan kekaryaannya. Rusdi punya filosofi bahwa musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri, prinsip ini yang dibawanya dalam berkarya, bahwa lukisannya adalah pengabdian, bukan pesanan seseorang. Entah sejauh apa filosofi berkeseniannya ini berjalan bersama dengan spirit Sanggar Bambu. Tentu menarik jika pertanyaan ini dielaborasi lebih jauh melalui catatan dan koleksi arsip Rusdi yang bisa dijelajahi dengan tautan di bawah ini.

Profil Rusdi dan Sanggar Bambu

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Pengantar Sorotan Magang

Di edisi kali ini, kami menghadirkan Sorotan Magang sebagai sub-rubrik baru dari Kabar IVAA. Sorotan Magang menjadi ruang bagi kawan-kawan magang atau internship untuk berbagi gagasan atau pengalamannya selama berproses bersama IVAA. Tulisan yang dimuat bisa berbentuk refleksi kerja atau esai singkat sebagai bagian dari penelitian selama bekerja di IVAA. Untuk edisi ini terdapat dua tulisan, masing-masing dari Tessel Janse dan Putri R. A. E. Harbie, kawan-kawan magang yang pernah ikut bekerja bersama dengan IVAA.

Tessel, dalam rangka penelitian untuk studi doktoralnya, membagikan sedikit temuan penelitian mengenai dinamika dunia seni Yogyakarta yang fokus pada persoalan interseksi antara yang lokal dan global. Sedangkan Putri, lebih menyuguhkan refleksi pribadi selama bekerja di IVAA, khususnya di bidang pengarsipan dan dokumentasi.

Artikel ini merupakan pengantar Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.

Intersections Between the Local and the Global: Intercultural Dynamics in the Yogyakarta Art World

By Tessel Janse

To a Dutch student of postcolonialism and contemporary art, Yogyakarta, as a crossroads where local and international art worlds converge, brings many relevant topics together.[1] My fascination for the city started when my aunt and uncle, both artists, took part in an artist in residence (AiR) programme with Cemeti in 2008. Their fellow AiR was local artist Wimo Bayang, who made a series of photographs of Jogja locals with water pistols, with the title “Belanda Sudah Dekat!”, or “the Dutch are near!” This references the common Indonesian colonial expression “calm down, the Dutch are still far away,” and I interpreted Bayang’s project as a tongue-in-cheek comment on the presence of my aunt and uncle and perhaps even Cemeti. I became curious about where exactly the friction between the local and the international lay.

During my short stay with the IVAA, I spoke with over twenty artists and art managers from Jogja as well as from some international institutions that call Jogja home. Soon, it became clear to me that the dynamic between the local and the global art worlds is a topic increasingly discussed amongst Jogja’s local artists. In this article, I will shortly present some of my findings on this topic. Implicit in this, I will be speaking for others and therefore inflicting ‘epistemic violence’, by Gayatri Spivak defined as the repressing of another’s voice by ‘overwriting’ it with your own perception of it.[2] Therefore, I will limit myself to asking relevant questions and posing some possible options to move forward, drawn from suggestions by interviewees, rather than presenting set conclusions. Before anything can be said about the dynamics between local and Western international in Jogja, the complexity of its art scene needs to be emphasized: every gallery has a different management structure and approach to power relations or collaboration. The same counts for individuals. Moreover, many power dynamics are not simply traceable along an axis of ‘outsider’ versus Indonesian, but, as anywhere, also run along the divisions between gender, class, ethnicity, age and occupation. Any comprehensive conclusions would require a long-term intersectional study of the micro-politics of Jogja’s art world, which is beyond the scope of this study. However, there are some recurring issues that are specific to the encounter between the local and the international, which have been identified as a pattern of power relations by multiple interviewees.

Without doubt, the international aspect to the Jogja art world brings considerable benefits. Besides its contribution in shaping Jogja as a unique place of cultural exchange and a hotbed for artistic enterprise and international relations, international institutions bring funding and the many visitors generate an economy to the profit of locals. The international audience for Jogja’s artists provides some with the opportunity to travel, take part in international AiRs and address sensitive topics more freely than at home. It is safe to say that the Jogja arts culture would not have been as diverse and outspoken as it is today, without this international collaboration. However, this utopia of intercultural inspiration, as it is portrayed by some international galleries, is not free from the interplay of global relations that are still heavily influenced by colonialism.

Though branding the current dynamic in Jogja as neocolonial may be too rigorous, many local interviewees have expressed that they see similarities between colonial inequality and the Western presence in Jogja’s art scene today. First of all, there is an inequality in opportunity. Though international art spaces in Jogja present themselves as promotors of mutual exchange, this is in practice often slightly one-sided. The funding from home governments means that AiRs are mostly in the benefit of the home country. The result is that artists from that country are supported in travelling to Indonesia, but Indonesian artists rarely have the opportunity to travel the other way. General thresholds like the difficulty of obtaining a visa to Western countries, the difference in exchange rates, and the lack of government funding for the contemporary art sector in Indonesia, mean that accumulating the required time and money is a steep task for local artists. Moreover, as one internationally renowned local artist explained, when Indonesian artists do travel, it is often at the mercy of host organization. This because the devaluation of their money in the West makes them completely reliant on funding, in practice rendering these artists “poor and homeless cosmopolitans.”

Another issue lies in the contrast between how Western visitors to Jogja perceive their role, and how they are perceived by locals. To many locals, Western visiting artists or long-term art managers represent access to international networks and careers and signify a pathway of funding. Therefore, they have a powerful position as people are eager to collaborate and build connections, which entails the risk of exploitation. Western visitors often do not realize this, and misinterpret help and being accommodating for friendship, whilst locals do expect something in return such as fair payment, or an equal return of the favour. One could also ask oneself whether some actors in Jogja become gatekeepers: through their international connections, they could possibly control who becomes internationally successful, and indirectly affect art-historical developments. At the same time, expecting artists to remain culturally authentic would be a patronizing myth.

A third and often mentioned shadow of colonial relations is the presence of orientalist stereotypes in the discourse of Western institutions and artists. In interviews and in gallery publications, the experience of culture shock is very often romanticized, and Jogja and its locals are represented as ‘cultural’, friendly, close to nature and to the past. Several locals expressed their issue with the fact that visitors are invariably intrigued by stereotypically exotic features, but pay no attention to the complexity and modernity of Jogja’s culture. Another problem exists with visitors bringing preconceived ideas, such as the suspicion that locals will try to ‘rip them off’, or are and lazy and unreliable, which in some cases has led to serious conflict. At the same time, it was explained to me that self-exoticization is also a defense mechanism, a way to maintain a ‘right to opacity’ and only show certain aspects to visitors, as Indonesians would be foolish to fully open up to the West again after what happened in the past. Representation thus works both ways.

Though Jogja as a hotbed of creative intercultural exchange definitely rests on a more complex underlying structure, this is not a univocal story of Western perpetrators and the Jogja locals as ‘victims’ without agency. There is much to be said about the power relations in Jogja’s art scene, but its members often have the best intentions but are caught in a complex web of unequal international relations. Limitations to travel and mutual exchange, like difference in currencies or in chances of obtaining a visa or funding, are out of the hands of Jogja’s art world. On a deeper level, the traces of epistemological Eurocentrism in Indonesia invest international visitors with the aforementioned significance and resulting privileges. In this context, both parties have an approach to the other that is influenced by often unnoted colonial representations. Several internationals I spoke with about power relations referred to their own relation with local co-workers or assistants as one of true friendship, and thus devoid of any inequality. At the same time, almost all locals I interviewed spoke of the Javanese culture of being overly hospitable, and of an “inferiority complex” towards Westerners specifically that leads to measuring the ‘own’ culture against the West, which prevents them from saying no and setting boundaries. Is the term friendship in some cases too swiftly applied, with the effect of circumnavigating discussions of inequality?

The complex network of influences on Jogja’s art world makes it difficult to envision straightforward solutions. Nevertheless, several practical recommendations were voiced that could lead to improvement. A key aspect is better communication and self-reflexivity, between the locals and internationals, but also as part of the AiR policy of expat institutions. Visitors’ awareness of their own significance, Jogja’s culture, intercultural communication and fair payment could be increased, for instance by institutions providing more information before visiting artists commence their AiR. It was also explained that the inferiority complex and being overly accommodating towards Westerners could be circumnavigated, if Westerners took a more pro-active stance by asking questions about what is appropriate regarding payment or asking for assistance, rather than sit back and enjoy. Structural changes such as the discouragement of personal assistants to AiR visitors could be beneficial, since having a local assistant is reminiscent of the colonial hierarchy, and often involves misconceptions about proper payment. Also, when AiRs communicate directly with the institution and locals and are more self-reliant, they get to know Jogja’s society better, learn new things and approach the other more as equal.

Following from these suggestions, the way forward for now lies in individual and institutionalized self-reflexivity, communication, some structural changes, and in making the problematic visible and discussable. These solutions are small-scale but within reach, as the extensive problems of global inequality are not so easily tackled. Importantly, they require participation from both the internationals and locals of Jogja.

 

[1] This article is the result of a research placement with the Indonesian Visual Art Archives in April 2018, and can be read as an excerpt of a larger dossier for the Masters program Postcolonial Culture and Global Policy at Goldsmiths, University of London.

[2] Spivak, Gayatri Chakravorty. 1998. Can the Subaltern Speak? In Marxism and the Interpretation of Culture, edited by Cary Nelson and Lawrence Grossberg, 271-313. Urbana, Illinois: University of Illinois Press. Pp. 279-283.

Laporan Naratif Magang di Indonesian Visual Art Archive periode Mei-Agustus

oleh Putri R.A.E. Harbie

Saya memutuskan untuk magang di Indonesian Visual Art Archive karena rasa ingin tahu yang besar tentang pengarsipan seni. Selain itu saya diarahkan untuk mengunjungi IVAA oleh mantan dosen saya di Tangerang. Kebetulan film tugas akhir saya memang melibatkan arsip dan memanfaatkan archival look, sehingga menurut beliau IVAA bisa menjadi wadah yang tepat untuk ketertarikan saya terhadap arsip dan kompleksitasnya. Selain untuk alasan tersebut, saya juga ingin memperluas pengetahuan dan pengalaman sebelum masuk kuliah di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Mempelajari dinamika seni di Yogyakarta tidak cukup jika hanya mengandalkan perkuliahan saja, saya yakin kesempatan observasi 3 bulan di IVAA akan sangat berguna untuk saya.

Secara pribadi, saya lebih suka menganalisa arsip daripada sekedar membaca buku untuk meneliti suatu karya, fenomena atau perhelatan seni. Menurut saya, arsip memiliki aktualitas yang tidak dimiliki beberapa tulisan penulis atau peneliti dengan subjektivitas dan kepentingan masing-masing. Terdapat kesempatan untuk menikmati arsip sebagai sebuah pengalaman yang dapat diinterpretasikan berbeda seiring berjalannya waktu.

Umumnya pengarsipan seni hanya dilakukan masing-masing organisasi dengan akses yang terbatas. Pendekatan IVAA sangat berbeda dengan organisasi lainnya, usaha aktivasi arsip benar-benar ditujukan untuk masyarakat luas. Sebagai perwujudan usaha tersebut, tahun lalu IVAA pernah menggelar Festival Arsip untuk membangun kepedulian masyarakat tentang arsip secara umum maupun arsip seni. Saya tidak terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, namun ada beberapa dokumentasi yang saya edit agar bisa menjadi arsip yang utuh. Melalui proses tersebut saya merasa IVAA telah berhasil membangun jembatan pengetahuan dan hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Beberapa peneliti dan seniman residensi dari seluruh dunia sering datang ke IVAA untuk membaca fenomena seni yang terjadi di Indonesia. Mahasiswa seni juga sering datang untuk menyelesaikan karya ilmiahnya. Ada juga anak-anak dari sekitar IVAA yang datang untuk memanfaatkan akses internet yang ada (meskipun bukan untuk kegiatan literasi). Orang-orang yang datang ke IVAA cukup beragam dan lintas generasi, sehingga selalu ada dialog-dialog menarik yang terjadi di IVAA.

Selama magang, saya berada di bagian pengarsipan dan dokumentasi. Tanggung jawab saya kurang lebih adalah merekam dan mengedit materi audio visual (beberapa sudah bisa diakses di Youtube channel @rsip IVAA dan Instagram ivaa_id), terkadang juga membantu mengunggah materi arsip online untuk newsletter dan menulis. Setelah 2 minggu melakukan magang, kantor IVAA mulai dipenuhi kawan magang dari berbagai universitas di Indonesia. Akhirnya saya bisa fokus mengolah audio visual saja. Pekerjaan dokumentasi bisa dilakukan kawan magang lainnya. Namun ada kendala lain ketika melibatkan terlalu banyak personel dokumentasi di lapangan yaitu kesulitan mengontrol kebutuhan teknis dan distribusi alat. Setiap hari banyak peristiwa seni yang terjadi di Yogyakarta, sehingga sangat sulit mendokumentasikan semuanya. Untuk melengkapi arsip dan dokumentasi, IVAA membuka peluang donasi.

Seluruh video yang saya edit memiliki kesannya masing-masing, tapi ada satu video paling berkesan yaitu video promosional untuk Archive Showcase “Jiwa Kita”. Video ini melibatkan beberapa arsip video art, performance dan dokumentasi peristiwa seni yang dirangkai menjadi satu. Saya mengalami dialog yang sangat kuat antara elemen visual dengan audio yang berasal dari arsip berbeda tanpa saling menutupi potensi dan intensinya.  Tujuan saya membuat video ini adalah karena menyadari bahwa masih ada jarak antara pengunjung perpustakaan IVAA dengan Archive Showcase, meskipun berada dalam satu ruangan. Pengunjung masih ‘takut-takut’ untuk melihat isi komputer dan arsip-arsip yang dipamerkan. Saya harap arsip bisa lebih approachable dengan cara tersebut.

Secara keseluruhan, IVAA sangat baik dalam bertukar  pengalaman, ilmu dan pemikiran. Banyak kegiatan yang diinisiasi untuk memenuhi kebutuhan para kawan magang, seperti kunjungan ke museum OHD, kunjungan untuk melihat koleksi Istana RI Yogyakarta dan kunjungan ke studio seniman (Pak Subandi Giyanto). Kegiatan magang di IVAA sangat bermanfaat dan membuka pikiran terutama bagi teman-teman yang hendak mengenali situasi seni rupa dan acara seni di Yogyakarta.

Saran saya antara lain adalah agar IVAA bisa mulai berafiliasi dengan lini-lini di seluruh Indonesia, supaya tidak hanya seni rupa Yogyakarta saja yang bisa dicakup tapi seluruh Indonesia. Saya harap setelah IVAA selesai renovasi, IVAA bisa menambah program-program baru di ruang yang baru dan menambah SDM yang lebih banyak. Semoga rasa cinta seluruh staff IVAA terhadap arsip bisa terus ditularkan kepada seluruh individu di dunia seni.

Workshop Konservasi Koleksi Kertas

Oleh: Hardiwan Prayogo

Senin-Selasa 22-23 Oktober, IVAA mengikuti workshop konservasi kertas di Museum Sonobudoyo. Acara ini diselenggarakan dengan mengundang beberapa instansi dan komunitas yang bersinggungan dengan pengelolaan arsip, khususnya kertas. Dimulai dari pukul 08.00-16.00, workshop berjalan dengan intens dan menyenangkan. Materi workshop disampaikan oleh Ery Sustiyadi, kepala seksi koleksi, konservasi, dan dokumentasi Museum Sonobudoyo. Panitia juga menyediakan seluruh bahan yang akan digunakan workshop, yang hampir seluruhnya berasal dari luar Indonesia.

Hari pertama diawali dengan pengenalan standar peralatan konservasi kertas. Baru kemudian dijelaskan dengan cukup detail langkah-langkah konservasinya. Penyebab kerusakan koleksi kertas berasal dari dua hal. Pertama dari materialnya, yaitu kertas yang lapuk, tinta yang memudar, perekat, asam, noda dan lain-lain. Kedua dari faktor eksternal, seperti tingkat kelembaban, kestabilan suhu udara, intensitas cahaya, polusi, hama, hingga bencana alam. Sementara itu, tahapan konservasi juga harus dilakukan secara berurutan, mulai dari laporan kondisi (condition report), pemilihan bahan dan teknik konservasi, dan dokumentasi selama proses konservasi. Workshop hari pertama diakhiri dengan pelatihan membuat lem dari bahan CMC dan akuades, kemudian melakukan proses penyambungan kertas menggunakan japanese paper, bondina paper, dan bloting paper.

Kemudian dilanjutkan hari kedua, yaitu pelatihan binding. Binding adalah proses penjilidan dengan teknik menjahit. Proses ini lebih sederhana dan bahan yang digunakan pun relatif mudah diakses. Binding dengan teknik ini lebih aman dan tahan lama untuk koleksi kertas. Binding dengan staples dan lem memang harus dihindari karena tidak tahan lama dan berpotensi merusak material kertas. Secara keseluruhan dua hari, workshop demikian sangat bermanfaat karena sekaligus mempertemukan IVAA dengan individu/komunitas yang juga bergerak dalam sektor pengarsipan. Baik dari museum hingga mahasiswa kearsipan, saling bertukar cerita metodenya masing-masing dalam mengelola koleksi kertas atau arsip fisiknya.

Konservasi pada intinya bertujuan untuk mengembalikan informasi dari material-material fisik yang diperbaiki. Prinsip dari konservasi sendiri adalah intervensi seminimal mungkin, singkatnya hanya fokus pada bagian yang mengalami kerusakan. Selain standar teknis yang juga harus dipenuhi seperti kesesuaian bahan dan teknik konservasi. Dan persoalan lain tersendiri mengingat bahan baku dan standar peralatan konservasi sulit dan relatif mahal didapatkan di Indonesia. Pada intinya, tolak ukur konservasi bukanlah angka, atau kuantitas koleksi yang dikonservasi, tetapi berpatokan pada prioritas informasi dalam setiap material. Artinya konservasi bukan semata persoalan fisik dan material, tetapi juga merawat ingatan dan nilai tak kasat matanya.

IVAA Berkunjung ke Hysteria

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

Setelah menghadiri pameran Biennale Jawa Tengah #2 di kawasan Kota Lama, Semarang, IVAA berkunjung ke Hysteria. Hysteria adalah sebuah kolektif seniman di Semarang yang fokus pada isu kota, anak muda, dan komunitas. Kali ini kami tidak sendiri karena ditemani Nurul Fajri (Ruri), kawan magang IVAA yang datang dari Makassar untuk ikut belajar dan berpetualang bersama. Selain itu ada juga Iyok, gitaris dari Half Eleven PM (band Gregorian di Yogyakarta) dan Widi Benang yang menambah suasana keakraban.

Sekilas tentang Hysteria, kelompok seniman yang sudah aktif sejak 11 September 2004 ini menekankan produksi artistik berdasar hasil riset pengetahuan keseharian di masyarakat. Dengan visi menumbuhkan ekosistem kebudayaan yang baik, Hysteria tidak hanya memposisikan diri dalam ketegangan negosiasi seni dan non-seni, melainkan juga menegaskan kerja-kerja berkesenian sebagai bagian dari intervensi sosial untuk mendinamisasi peradaban yang lebih baik. Oleh karena itu, kolektif ini memiliki beberapa program menarik seperti Kotak Listrik, Gerobak Bioskop, Art Lab, dan platform Peka Kota.

Dalam kunjungan ini, kami ngobrol ringan seputar program-program apa yang sedang dikerjakan oleh Hysteria maupun IVAA. Kami pun diajak oleh Andi Kartun, salah satu penggerak Hysteria, untuk mengelilingi bagian-bagian rumah kolektif keren ini. Salah satunya adalah bagian belakang yang terdapat ruang bersama dengan panggung kecil untuk acara santai, entah untuk gigs atau sekedar duduk bersama dan bercerita.

Kurang lebih satu jam bersilaturahmi, kami undur diri untuk kembali ke Yogyakarta. Kunjungan ini kami maknai sebagai salah satu upaya untuk memelihara jaringan serta spirit kerja seni-budaya. Khususnya dengan pelaku/pegiat yang berada di luar Jogja.

#SOROTANDOKUMENTASI | JULI-AGUSTUS 2018

oleh : Dwi Rahmanto

Periode Juli-Agustus ini, tim arsip dibantu oleh 8 kawan magang dari berbagai perguruan tinggi merekam sekitar 18 peristiwa seni. Khusus untuk newsletter edisi ini kami menyoroti beberapa peristiwa yang kami bagi kedalam 3 tema, yaitu Keragaman lokasi, Keragaman lintas medium, dan Terkait dengan tema ‘Nusantara/ Lokalitas’.  Selain yang tertulis dalam newsletter kali ini, dokumentasi lainnya dapat dijelajahi di kanal-kanal online kami http://archive.ivaa-online.org/, dan https://www.youtube.com/user/IVAAVideoArchive. Dan sebagai upaya kontribusi memperluas jaringan publikasi peristiwa seni, dapat diakses di tautan http://ivaa-online.org/art-events-calendar/.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Panji Dalam Berbagai Ekspresi Seni

Oleh: Topan Bagus Permadi (Kawan Magang IVAA)

Siang itu, 5 Juli 2018, ruang galeri museum Sonobudoyo memajang karya-karya seni rupa dengan satu inspirasi cerita, yaitu Panji. 16 seniman dan beberapa koleksi Museum Sonobudoyo meramaikan pameran yang merupakan rangkaian dari Festival Panji Internasional ini. Festival ini sendiri secara keseluruhan digelar pada 27 Juni-13 Juli 2018 di 8 kota di Indonesia (Denpasar, Pandaan, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Yogyakarta dan Jakarta). Yogyakarta menjadi kota kelima dalam festival yang melibatkan 3 negara Asean ini. Indonesia, Kamboja dan Thailand berkolaborasi dalam upaya kerjasama budaya Panji yang lebih erat. Acara ini memang program dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Untuk penyelenggaraan di Yogyakarta menggandeng Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pameran ini bertajuk Panji Dalam Berbagai Ekspresi Seni. Berbagai karya seni lukis, patung, topeng, dan naskah-naskah serta buku-buku tentang Panji dipamerkan selama empat hari. Pameran yang dibuka oleh Penasehat Mendikbud RI, Wardiman Djojonegoro ini menginterpretasikan berbagai versi turunan cerita Panji. Diungkapkan dalam pembukaan bahwa pameran ini digelar dengan semangat mempromosikan budaya Panji diantara Negara ASEAN untuk memperkuat jalinan diplomasi kebudayaan.

Dalam pidatonya, Wardiman Djojonegoro memaparkan bahwa pameran ini mengusung tiga pesan utama. Pertama sebagai bentuk perayaan. Terhitung 31 Oktober 2017, UNESCO menerima naskah panji yang ada di Indonesia, Malaysia, Kamboja, hingga yang tersimpan di Museum Belanda dan London sebagai memory of the world atau warisan budaya dunia. Kedua, pameran ini sebagai ajang pelestarian. Harapannya adalah panji mampu membentengi generasi muda dari serbuan budaya asing. Generasi muda Indonesia agaknya dapat membentuk ideologinya melalui identitas lokalnya. Kemudian yang ketiga, keberadaan panji sudah menyeberangi lautan hingga melingkupi hampir semua negara ASEAN, artinya panji telah menjadi warisan bersama sebagai budaya tak benda dari nenek moyang.

Suasana ‘lokal’ sangat terasa ketika memasuki ruang pamer tersebut. Di pintu masuk ruangan sisi utara, kita disuguhkan lukisan-lukisan wayang yang direkonstruksi menjadi wayang kontemporer tanpa melepaskan identitas lokalnya. ‘Gumreg di Tanah Emas‘ karya Subandi Giyanto. Lukisan cat akrilik di atas kanvas berukuran 150 x 150 cm ini menggambarkan seekor kerbau yang di tubuh dan latar belakangnya dipenuhi ornamen dan sosok wayang. Narasi dari lukisan ini adalah bagaimana manusia memuliakan hewan sebagai mitranya bercocok tanam dan mencari nafkah. Kemudian di ruang tengah terdapat patung ‘Cindelaras‘ karya Sumidal dan satu set Wayang Klithik karya Kemiskidi Wikyo Suprapto. ‘Cindelaras‘ adalah patung seorang pria jongkok sambil memegang seekor ayam berukuran 40 x 30 x 40 cm. Patung ini ingin menceritakan kisah hidup Cindelaras. Sedangkan Wayang Klithik ingin menceritakan Majapahit dalam pimpinan Ratu Dewi Suhita yang berhasil menaklukkan banyak daerah. Karya ini menarik karena mediumnya terbuat dari kayu jati.

Ruangan sisi selatan memajang beberapa topeng Panji serta Dewi Sekartaji koleksi dari Museum Sonobudoyo, dan beberapa karakter Panji dalam wujud Wayang Golek dan wujud Wayang Kulit. Selanjutnya ada satu ruangan yang berisi buku serta naskah-naskah yang berkaitan dengan panji. Dan di ruang sebelah selatan pintu masuk, terdapat karya 3 dimensional dari Giring Prihatyasono. Karya yang dibentuk seperti gulungan ini berjudul ‘Puisi Cinta Bait yang Tersisa‘ berukuran 18 x 177 cm berbahan aluminium, etsa, dan kulit kayu. Melalui karya ini, Giring menginterpretasikan cerita panji sebagai kisah asmara yang berbalut dan bernuansa politik.

Cerita Panji  merupakan sebuah kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri. Berisi cerita kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya, yaitu Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Pameran dengan sebuah tema yang identik dengan cerita pewayangan kini telah direspon dalam berbagai medium seni rupa. Dari lukisan, patung, instalasi, hingga wayang itu sendiri. Menarik dalam pameran ini karena hampir seluruh karya, disertai caption yang tidak hanya berisi nama seniman, judul karya, medium, dimensi, dan tahun pembuatan, tetapi juga dilengkapi dengan narasi singkat cerita yang diangkat dalam karya tertentu. Dalam karya seni rupa yang statis, kehadiran narasi cerita ini bisa sedikit banyak bisa membantu apresiasi yang lebih dalam. Terlebih pameran ini dalam catatan kuratorial yang ditulis Timbul Raharjo, menyebutkan bahwa Pameran ini ingin menumbuhkan kecintaan budaya nusantara melalui pendidikan dengan kegiatan apresiasi dan edukasi budaya seni rupa indonesia. Singkatnya ada upaya literasi visi kebaikan kebudayaan Indonesia dalam pameran ini. Bisa jadi visi ini juga yang mendasari alasan pameran ini digelar di Museum Sonobudoyo, yang berlokasi di salah satu titik keramaian Yogyakarta. Karya-karya dalam pameran ini berusaha merespon cerita panji dengan gayanya masing-masing, termasuk interpretasi dan upaya kontekstualisasinya masing-masing. Dengan gaya yang dominan tentu saja ornamen wayang. Menarik untuk diikuti lebih jauh, apakah pameran panji di daerah lain juga didominasi corak khasnya masing-masing.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.

Perempuan Modern dan Jiwa Jawa

Oleh Dwi Rahmanto

Seorang perempuan dengan satu set pakaian pernikahan jawa menumbuk bawang merah dan bawang putih di atas cobek. Dilakukannya berulang kali hingga bau bawang menusuk hidung dan air mata. Di punggungnya juga tertulis tegas dengan cat hitam ‘Power Blessing’, ‘Faith Eternal’, ‘Pride’, ‘Dignity’, dan sebagainya. Ini adalah sebuah pertunjukan berjudul ‘Lingga dan Yoni’ dalam rangkaian pembukaan pameran tunggal Fractura Hepatica; Love, Pride and Dignity oleh Andita Purnama Sari. Pameran ini berlangsung di Cemara 6 Galeri-Museum, tanggal 1 – 10 Agustus 2018, dengan kurator Christine Cocca. Andita memajang sekitar 13 karya seni rupa yang meliputi karya-karya lukisan, patung, instalasi dan  performance art. Karya-karyanya memaparkan unsur-unsur yang berpijak pada nilai-nilai perempuan dan tradisi dalam narasi yang penuh simbol dan makna.

Cocca menyebutkan bahwa Andita dalam pameran ini berbicara tentang kemuliaan cinta, harapan tentang hidup dan harga diri serta harkat martabat sebagai perempuan. Andita mencoba merefleksikan dedikasi, cinta yang tulus dan pengorbanan jiwa raga seorang perempuan yang dibalut dalam konsepsi pandangan hidup orang Jawa. Cocca menilai bahwa Andita adalah perempuan modern yang berada dalam momen-momen sakral, dalam situasi tradisi jawa sangat kuat melekat baginya. Ada interseksi antara konsep perempuan idealnya dalam tradisi dengan perempuan modern. Bagaimana keduanya bertemu dengan satu tubuh perempuan, bagaimana ini eksis dan bernegosiasi dalam hidup modern tapi membawa prinsip yang lama. Andita tidak hanya melakukan ini secara personal tetapi mengkontekstualisasikan dengan perempuan di jawa masa kini.

Fenomena kawin siri/kontrak di Indonesia bukan hanya menjadi gosip dan isapan jempol belaka. 2017 lalu terdengar kabar situs nikahsirri.com (kini sudah diblokir oleh Kemenkominfo) yang menggegerkan publik. (sumber: https://www.dream.co.id/news/prostitusi-berkedok-nikah-siri-di-puncak-bogor-1-170926z.html)

Melihat ini, Andita Purnama sebagai seniman tergugah untuk mengadvokasi berbagai kasus dalam praktik nikah siri dan kawin kontrak. Bersama Komnas Perempuan Jakarta, Andita meneliti dan menelusuri, kemudian menjadi lebih banyak tahu resiko-resiko buruk dari praktik ini. Barangkali inilah yang membuat Cocca menyatakan pameran ini sebagai jalan baru dari fase dimana Andita berada dalam situasi ‘heartbreak‘.

Entang Wiharso yang juga membuka pameran ini mengungkapkan bagaimana seni rupa kini tidak terbatas dan sangat universal. Seni tidak mengenal gender, bisa hadir di mana saja, seni sebagai pengait umat manusia. Entang menyoroti bahwa Andita memilih material bukan hanya pertimbangan estetis, tapi juga membicarakan nilai-nilainya secara kritis. Material ini semacam dialog antara yang rapuh dengan yang keras, sekaligus refleksi atas ekualitas gender. Narasi ini yang secara implisit ingin diutarakan dalam pameran ini, dan Entang cukup menggarisbawahi poin tersebut.

Andita sendiri memiliki proses pengkaryaan yang beragam. Mulai dari pemilihan material, cara mengolah material, instalasi, dan isu yang diangkat pun menggunakan berbagai sudut pandang. Sudut pandang ini dikolaborasikan dengan pendekatan idiom idiom jawa. Nilai-nilai  ini sengaja dihadirkan karena menurutnya semua orang akan selalu kembali kepada nilai awal dia berada, dalam hal ini Andita dengan pengalamannya sebagai orang Jawa. Material karyanya juga banyak mengambil dari barang-barang milik pribadi Anditya, seperti stagen, rambut, hingga tempat tidur. Benda-benda personalnya ini dibawa dalam satu rangkaian pintu narasi yang lebih luas, perempuan, modern, dan jawa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.