Category Archives: Kabar IVAA

LAPAK – ZINE/BUKU/RILISAN FISIK

Jangan lewatkan kesempatan membeli kado untuk diri sendiri, keluarga hingga kolega di akhir pekan ini! IVAA menghandirkan lapak-lapak unik penyongsong tahun baru. Ada buku dari Pojok Cerpen; rilisan fisik dari Jogja Record Store Club; Zine dari Indisczinepartij, Kios 5A, Demisesuapnasi dan Asal Kelihatan Boleh Dibicarakan. Lapak ini mulai bertransaksi dari tanggal 21 hingga 22 Desember 2018.

Jumat, 21 Desember 2018
18:00 – 22:00

Sabtu, 22 Desember 2018
10:00 – 22:00

di Rumah IVAA
Gang Hiperkes 188 A-B Jalan Ireda, Dipowinatan Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta.

BIOSCIL

Ada Bioscil lagi di Rumah IVAA!!

Libur akhir tahun sudah datang, kami memanggil anak-anak untuk datang juga Rumah IVAA. Karena untuk kedua kalinya Bioscil akan berkunjung dan memutar 2 film pilihannya. Bukan hanya menonton film, anak-anak yang penasaran juga bisa ngobrol dan tanya-tanya langsung dengan pembuat filmnya.

– Bawang Kembar (2016, dir. Gangsar Waskito)
– Golek Balung Butho (2018, dir. Khusnul Khitam)

Jangan lupa datang dan
bawa uang 2000 untuk beli karcis. Sampai ketemu di Rumah IVAA!!

Sabtu, 22 Desember 2018
10:00-12:00

Rumah IVAA
Gang Hiperkes 188 A-B Jalan Ireda, Dipowinatan Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta.

WORKSHOP RAWAT COMPACT DISK DAN KASET

Jogja Record Store Club (JSRC) merupakan sebuah komunitas yg mewadahi para penjaja dan juga kolektor rilisan fisik musik (kaset, cd, piringan hitam dan perangkat putarnya) di Yogyakarta. Serangkaian dengan acara Selamatan Indonesian Visual Art Archive (IVAA) bertajuk “Waktu & Ingatan tak Pernah Diam”, kami mengundang para peserta untuk belajar bersama melakukan konservasi, restorasi dan digitalisasi material kaset dan CD bersama Jogja Record Store Club (JRSC). Diharapkan hasil workshop ini dapat berguna untuk menyelamatkan arsip audio yang sangat berharga di masa depan. Peserta dalam workshop ini dibatasi hanya untuk 10 orang. Workshop akan diadakan pada:

Sabtu, 22 Desember 2018
13:00-15:00 WIB

di Rumah IVAA
Jalan Ireda Gang Hiperkes 188 A-B , Dipowinatan,
Keparakan, Mergangsan,
D.I. Yogyakarta
——————————————-
Jogja Record Store Club (JSRC) is a community consist of seller and collector of physical music release (such as casette, compact disk, vinyl record, and music player devices) in Yogyakarta. As a series of Indonesian Visual Art Archive (IVAA) ‘s selametan event “Time & Memories were Never Muted”, we are inviting participant to learn together by doing conservation, restoration and digitalisation from casette and CD material with Jogja Record Store Club (JSRC) in this workshop. We wish the result of this workshop would save valuable audio archive in the future. The participant for this workshop was limited to 10 person. The workshop will be held on:

Saturday, December 22nd 2018
1:00 – 3:00 PM

at Rumah IVAA
Jalan Ireda Gang Hiperkes 188 A-B , Dipowinatan,
Keparakan, Mergangsan,
D.I. Yogyakarta

Limk pendaftaran Http://Bit.ly/RawatKaset

SELAMATAN RUMAH IVAA – PENTAS SAHITA

Di penghujung tahun 2018 ini, IVAA juga turut menghadirkan SAHITA di tengah-tengah kita. Selain menjadi doa di ujung tahun, pertunjukan SAHITA kali ini sekaligus menjadi pengingat dan ruang refleksi bagi kerja-kerja seni budaya di tengah kondisi Jogja yang tidak baik-baik saja, di antara berbagai banyak praktik dan perhelatan budaya yang lebih menonjolkan gimmicknya, serta menjadi sarana bagi kita untuk mengkritisi sambil menertawakan praktik kebudayaan yang juga kita jalani. .
catat tempat dan tanggalnya:


Jumat, 21 Desember 2018
Pukul 18:00
Rumah IVAA
Gang Hiperkes 188 A-B Jl.Ireda, Dipowinatan, Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta .

Archive Showcase IVAA – Waktu dan Ingatan Tak Pernah Diam

Archive Showcase IVAA akan kembali dipenghujung tahun ini. “Waktu dan Ingatan Tak Pernah Diam”.
Judul yang kami pilih untuk menunjukan bahwa arsip adalah organisme yang hidup. Bahan bakar liar untuk menciptakan narasi tunggal atau justru bekal suara yang demokratis.
Archive Showcase kali ini berbeda, IVAA mengajak seniman untuk menginterpretasikan arsip secara artistik. Mereka adalah Ipeh Nur dan Piring Tirbing. Masih dengan wacana seputar tradisi dan identitas. Pameran arsip ini tidak hanya soal memamerkan data, tetapi juga proses dan presentasi akhir dari wacana yang kami eksplorasi dalam setengah tahun terakhir.

Pembukaan:
Jumat, 21 Des 2018
19:00


Tur Pameran:
Sabtu, 22 Des 2018

13:00 || 13:30 || 14:00 || 14:30
Peserta dibatasi 8 orang untuk satu sesi.
Pendaftaran dilakukan dengan mengisi form pada link: http://bit.ly/TurPameranArsip
Pameran berlangsung
21 Desember 2018 – 21 Januari 2019
Buka Senin – Jumat, 09:00 – 17:00

Mari datang dan bagikan cerita tentang arsip dan seni rupa!

Rumah IVAA
Gang Hiperkes 188 A-B Jalan Ireda, Dipowinatan Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta

Waktu & Ingatan tak Pernah Diam

Waktu & Ingatan tak Pernah Diam
21-22 Desember 2018
di Rumah IVAA

WAKTU DAN INGATAN TAK PERNAH DIAM adalah upaya IVAA untuk menggarisbawahi bahwa sejarah adalah fiksi, produksi pengetahuan adalah soal posisionalitas dan politik tidak semata soal kekuasaan.

Pembukaan Pameran Arsip – Selamatan Rumah IVAA – Pertunjukan Sahita – Peluncuran IVAA Shop – Bioscil – Peluncuran & Diskusi Buku NU’U – Workshop rawat kaset dan cd – Lapak rilisan fisik, zine & buku – Tur Pameran – Musrary

Detail: https://www.instagram.com/ivaa_id/

#SOROTANDOKUMENTASI | SEPTEMBER-OKTOBER 2018

Intensitas aktivitas dokumentasi memasuki bulan September tidak setinggi bulan-bulan sebelumnya. Namun kami terus melengkapi arsip dari luar Yogyakarta, beberapa yang sempat kami datangi adalah, Pameran Biennale Jateng #2 The Future of History di Kawasan Kota Lama, Semarang, Festival Nusasonic di Magelang, dan Pameran 20 Tahun Selasar Sunaryo dengan judul SSAS/AS/Ideas dan Lawangkala. Sedangkan untuk donasi kami menerima dari pameran tunggal Achmad Krisgatha Channel Of Light, Pameran Kembang Goyang Mahasiswa Universitas Telkom di Cemara 6 Galeri Jakarta, Pameran Tunggal Hari Prast Hari Bahagia di Uma Seminyak Bali, Pameran Merajut Bentuk Menebar Warna di Museum Sonobudoyo, dan Kuliah Umum Komunitas Hysteria dan Jaringan Kota: dari soal manajemen sampai dengan produk kebudayaan bersama Halim HD dan Adin Hysteria.

Sampai bulan Oktober kami mengumpulkan 43 peristiwa seni dengan penambahan 2587 file arsip foto dan video 47 file, audio 37 file. Di  luar mengerjakan peliputan, tim arsip yang diwakili oleh Dwi Rahmanto dan Lisistrata Lusandiana menjadi narasumber dalam acara Ulang Tahun ke 38 Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan yang tidak kalah pentingnya kami sedang menyempurnakan sistem database (pencatatan arsip) dalam bentuk offline. Kami memaksimalkan sistem ini agar setiap arsip semakin mudah ditemukan kembali. Proses ini dibantu oleh 2 kawan magang dari Jurusan Tata Kelola Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Hal-hal yang Usai dan Tidak dalam Memetakan Arus Bawah di INF 3.0

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Tim IVAA berkesempatan untuk hadir diskusi bertajuk Memetakan Arus Bawah pada Sabtu, 18 Agustus 2018. Diskusi ini merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan dalam Indonesia Netaudio Festival (INF) 3.0 yang mengusung tema Sharing Over Netizen Explosion. Beragam acara dihadirkan seperti performative talk, lokakarya, pertunjukan musik, dan tentu saja pameran seni rupa.

Memetakan Arus Bawah dibungkus dalam bentuk gelar wicara performatif yang tidak hanya interaktif tetapi juga atraktif. Secara umum, benang merah dari sesi diskusi ini membicarakan tentang bagaimana ekosistem internet, infrastruktur berbagi, budaya penggemar, dan perkembangan musik di jagad maya. Topik utama tersebut ditinjau dan dibahas dari tiga studi kasus yakni perkembangan netlabel, seni media, dan dangdut koplo yang disampaikan oleh tiga narasumber; Nuraini Juliastuti, Manshur Zikri, dan Irfan Darajat.

Lokasi acara berada di Pendhapa Ajiyasa, Jogja National Museum. Sekeliling berlatar hitam dengan suasana biru-merah dari lampu sorot juga dari tiga layar besar di atas panggung. Di tengah-tengah berderet kursi yang dibentuk serupa sirkuit―meminjam istilah Syafiatudina, selaku moderator diskusi. Pada lingkar inti adalah wilayah moderator dan ketiga pembicara, kemudian di lingkar kedua adalah tempat duduk para audiens, lingkar selanjutnya keempat layar yang menampilkan materi bahasan dari para pembicara.

Menarik untuk melihat bagaimana kemasan dari diskusi ini yang keluar dari aturan-aturan konvensional diskusi pada umumnya. Menurut Manshur Zikri, ketika dalam diskusi melihat ponsel adalah tabu, justru di sini dianjurkan. Para peserta diskusi dapat bergabung ke dalam grup WhatsApp yang telah dibuat oleh panitia. Dalam grup itu mereka saling bertukar gagasan terkait dengan bahasan-bahasan diskusi yang tengah berlangsung. Para pembicara juga memiliki layarnya masing-masing untuk menampilkan materinya, alih-alih hanya bergantung pada satu layar besar seperti umumnya forum diskusi dan seminar.

Diskusi yang dimulai pukul tiga hingga jelang pukul enam sore itu dibuka oleh Nuraini Juliastuti. Nuning, sapaan akrabnya, membahas mengenai perkembangan netlabel dan segala hal yang berada di pusaran itu. Bahwa peranan atau fungsi netlabel tidak hanya sebagai “rumah” bagi musik yang bersirkulasi di dalamnya, tetapi juga ada praktek pengarsipan. Pendokumentasian atau pengarsipan dilakukan agar musik-musik yang dibagikan (sharing) melalui netlabel tidak sia-sia. Musik tidak hanya sebagai produk seni, tetapi juga artefak dimana energi suatu zaman turut bersamanya. Nuning juga menyinggung pentingnya sosialisasi praktik sharing, dan pengorganisasian festival semacam INF merupakan salah satu bentuk sosialisasi tersebut.

Manshur Zikri sebagai pembicara kedua membahas seni media dan kebudayaan baru yang timbul bersamanya. Zikri menggali topik diskusi dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. Misal tentang bagaimana praktik copying dicap ilegal, sementara repost justru menaikkan posisi seseorang di media sosial. Zikri mengetengahkan meledaknya video kiki challenge di media sosial sebagai pertanyaan, apakah konten ataukah musiknya yang membuat challenge ini meledak di kalangan warganet? Bagaimana konten Youtube dan para youtuber menjadi sedemikian populer dibanding aktris/aktor di layar kaca? Pertanyaan-pertanyaan ini digali dengan tiga poin, yakni; ilusi keaslian, relatibilitas, dan independensi. Zikri mengakhiri sesi dengan merekomendasikan perlunya metode baru dalam literasi media, sebab situasi dan media yang ada kini juga sama sekali baru.

Sesi Irfan Drajat diawali dengan mengajak audiens menyimak sudut pandang baru soal dangdut koplo. Friksi yang terjadi antara dangdut koplo dan dangdut klasik. Ia memetakan tiga wacana yang menekan eksistensi dangdut koplo yakni, moralitas, identitas, dan juga keaslian. Ia menghadirkan studi kasus antara Rhoma Irama yang datang dari kubu dangdut klasik, dengan Inul Daratista dari kubu dangdut koplo. Rhoma Irama yang digelari sebagai Raja Dangdut, menyebut dangdut Inul sama sekali bukan dangdut.

Hal menarik dari pernyataan Irfan ketika ia mengatakan bahwa semua persoalan ada lagu dangdutnya. Lagu dangdut yang berangkat dari isu-isu sosial, politik, budaya yang ada, tetapi tata cara penuturannya selalu dalam bentuk gugatan khas akar rumput. Menurutnya, hingga saat ini Irfan mencatat belum ada lagu dangdut yang dijadikan sebagai medium perlawanan/protes.

Catatan lain dari bahasan Irfan, bahwa dangdut koplo mengguncang moda distribusi, juga mengguncang secara estetis dan gaya. Para pelaku dangdut koplo hidup dari panggung ke panggung, syuting dengan teknologi seadanya namun ekonomi tetap berputar. Tetapi belakangan, setelah dangdut koplo menjadi tren di layar kaca, ada indikasi bahwa dangdut koplo sedang coba “dijinakkan”.

Memang begitu banyak pertanyaan muncul dan tidak sempat untuk mengerucut apalagi terjawab tuntas hingga sesi diskusi berakhir. Termasuk pertanyaan pada detik-detik akhir yakni peranan warganet dalam menjaga kelestarian praktik berbagi (sharing), baik daring (online) maupun luring (offline). Persoalan dalam diskusi ini bisa jadi satu hal yang dirasa penting bagi para audiens dan pembicara, tetapi mungkin ini tidak (atau mungkin belum) menjadi perhatian di tingkat akar rumput.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Biennale Jateng #2: The Future of  History

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Dengan  alunan musik, wanita berjubah putih memasuki halaman utama Taman Srigunting, Kota Lama Semarang. Jubah putih ini kemudian ditorehkan cat dari kurator, pembuka, dan pemberi sambutan pameran. Prosesi ini adalah bentuk simbolis dibukanya Biennale Jateng #2, The Future of  History. Diselingi kelakar tentang betapa repotnya jika tiba-tiba turun hujan, pembukaan pameran ini berlangsung pada Minggu malam, 7 Oktober 2018. Pengunjung yang hadir terlihat antusias walaupun terhitung tidak cukup ramai untuk ukuran pameran seni dwitahunan berskala nasional. Pameran ini sendiri berlangsung mulai 7-21 Oktober 2018.

Dalam kata-kata sambutan malam itu, beberapa kali disinggung alasan dipilihnya Kota Lama Semarang sebagai lokasi Biennale Jateng #2. Semua tak lepas dari latar belakang historis pada lokasi ini. Lokasi yang dirasa tepat untuk membangkitkan kesadaran sejarah, kota yang tengah berproses dan tidak terperangkap pada romantisme masa lalu belaka. Spirit ini yang tampaknya ingin dilekatkan sebagai filosofi Biennale Jateng #2.

Biennale Jateng #2, The Future of History dikuratori oleh Djuli Djatiprambudi dan Wahyudin. Pameran ini diikuti oleh 27 orang seniman yang berasal dari Yogyakarta, Jakarta, Denpasar dan Bandung. Kendati pameran ini berlabelkan Jateng, tak satupun dari 27 seniman utama itu berasal dari Semarang, bahkan Jawa Tengah. Karya-karya dari para seniman yang berupa lukisan, seni instalasi, seni patung, seni obyek, seni multimedia, seni video, dsb, dipamerkan di 5 tempat berbeda yakni, Semarang Contemporary Art Gallery, Gedung Oudetrap, Galeri PPI, Resto Pringsewu, dan Kedai 46.

Terpisah, Gedung Oudetrap menjadi lokasi pameran untuk karya Galam Zulkifli, Tita Rubi, dan Wimo Ambala Bayang. Lokasi ini hanya menampilkan karya dari 3 seniman, namun dalam ukuran karya yang besar. Kemudian Kedai 46 digunakan sebagai lokasi untuk memamerkan karya-karya parallel artist. Sementara itu, Resto Pringsewu memamerkan karya lukis dengan objek desain sampul buku, dan ruangan khusus untuk memperkenalkan sosok Basoeki Abdullah. Lantai kedua restoran ini memang difungsikan sekaligus sebagai Museum Basoeki Abdullah. Di sana pengunjung dapat menemui beberapa lukisan reproduksi karya Basoeki Abdullah, foto-foto tentang kehidupannya, dan sejumput penjelasan singkat terkait sepak terjangnya dalam dunia seni.

Kemudian Semarang Contemporary Art Gallery menampilkan lebih beragam seniman dari berbagai generasi. Mulai dari Hanafi, Heri Dono,  Goenawan Mohamad, Ngakan Made Ardana, Jompet Kuswidananto, dan lain-lain. Didominasi karya lukisan meski karya-karya tiga dimensional dan instalasi juga menarik perhatian.

Sedangkan Galeri PPI, gedung yang awalnya milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) ini memang disulap menjadi galeri. Meski bernama galeri, gedung ini lebih terlihat seperti gudang karena tidak didesain untuk menjadi ruang pamer. Pengalaman mengalami pameran di ruang ini tentu menjadi menarik, dengan cahaya yang cenderung lebih gelap dan tidak berkonsep white cube. Selain karya seni video Agung Kurniawan, seluruh karya berjenis seni instalasi. Venue terakhir adalah Kedai 46, terletak dalam satu bangunan yang sama dengan sebuah rumah makan. Venue ini menjadi ruang pamer bagi parallel artist. Didominasi oleh karya seni lukis, meski tetap ada beberapa karya instalasi hingga patung. Dari karya yang dipresentasikan, kategori parallel artist bisa dipertanyakan, apakah dalam ukuran estetik atau reputasi karir senimannya.

Tema dan narasi pameran tentang “Sejarah” diharapkan dapat kontekstual dan reflektif di masa kini. Bisa jadi tema ini adalah tindak lanjut pemilihan lokasi, yaitu Kota Lama. Terlepas dari itu, Biennale Jateng #2, The Future of History ini selayaknya bisa dijadikan hajatan dwi tahunan khususnya bagi seniman dari Jawa Tengah. Tidak terkesan hanya “meminjam” lokasi pameran dan dicari-cari tema yang sekiranya sesuai dengan common sense publik atas Kawasan Kota Lama, Semarang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.

Menyelami Ruang dan Waktu dalam Selebrasi Dua Dekade Selasar Sunaryo Art Space

Oleh: Andya Sabila (Kawan Magang IVAA)

Sosok Sunaryo dikenal dan sangat berperan dalam perkembangan kancah seni rupa Bandung. Tampil sebagai seniman lukis di era 1970-an. Seiring dengan aktivitas keseniannya, Selasar Seni Sunaryo, yang kini bernama Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) didirikannya pada 5 September 1998. Baginya, SSAS adalah manifestasi dari angan-angan Sunaryo untuk menyediakan wadah bagi seniman-seniman muda dalam belajar dan berkarya. SSAS juga hadir sebagai ruang alternatif, pertemuan antara seniman dengan publik. SSAS lahir bertepatan dengan momentum pasca tumbangnya rezim Orde Baru. Peresmian SSAS dibuka oleh pameran Titik Nadir dan tidak ada selebrasi yang meriah. Kala itu, Sunaryo membungkus karya-karyanya sendiri dan sebagian ruang pamer dengan kain hitam. Kain hitam adalah representasi dari situasi nasional yang dirundung pilu, kekalutan, dan kegelapan.

Dua puluh tahun setelah Titik Nadir, Sunaryo kembali mempersembahkan karya-karyanya melalui pameran tunggal berjudul Lawangkala. Pergolakan sosial-politik pada 1998 menjadi kekuatan dari isu-isu yang diangkat dalam karya-karya instalasi Sunaryo sepanjang dekade 2000-an. Namun, dalam memperingati usia SSAS ke 20 ini, Ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Agung Hujatnikajennong, dalam pengantar kuratorialnya menyebutkan bahwa, “Untuk Sunaryo, pameran yang nyaris seluruh ruang pamer SSAS ini tidak digarap sekadar untuk memperingati ulang tahun ruang seni yang ia dirikan, tetapi sebagai sebuah proyek tersendiri yang mendorongnya melakukan eksplorasi baru.”

Lawangkala memiliki arti sebuah mantra dimana ruang dan waktu menyatu. Lawangkala terdiri atas dua kata yaitu lawang (gerbang) dan kala (waktu). Berbicara tentang salah satu hal yang mendasari kehidupan manusia, yakni kesementaraan. Sunaryo memaknai falsafah Jawa urip iku mung mampir ngombe (hidup itu hanya mampir minum), yang sejatinya usia manusia tidak berarti dihadapan jutaan tahun usia semesta. Gagasan yang diangkat dalam Lawangkala adalah momen-momen saat Sunaryo berhadapan dengan fenomena alam. Termasuk pandangan mengenai kesadaran manusia akan ruang dan waktu.

Perjalanan artistiknya sejak awal tahun 1990-an, Sunaryo mulai bereksplorasi menggunakan pendekatan material alami seperti bambu, padi, rotan, batu, dan kayu. Material-material alami yang tidak bertahan lama mewakili sifat kesementaraan itu sendiri. Hal lain yang menunjukkan ciri khas dari karya Sunaryo adalah ketrampilan tangan. Selain melukis, karya seninya dibuat dengan teknik anyaman, jahitan, tempelan, dan ikatan. Seri lukisan Lawangkala yang terdapat di ruang pamer B dan sayap menampilkan karya-karya lukisannya dengan cara menyayat, merobek kanvas, lalu menjahit dan menambal kembali robekannya. Sunaryo menganalogikan cara menyayat dan menjahit kembali seperti sebuah kesia-siaan manusia yang ingin mengulang waktu yang telah berjalan. Selain karya lukis, instalasi berbentuk terowongan bambu digarap sebagai tubuh utama Lawangkala. Sunaryo membuat sebuah bubu raksasa terbuat dari anyaman bambu yang mengikuti struktur anatomi ruang pamer A.

Perayaan 20 tahun SSAS juga menghadirkan pameran bersama bertajuk SSAS/AS/Ideas yang digelar oleh Bale Project dan dikuratori Hendro Wiyanto. Pameran berlangsung di Bale Tonggoh, menampilkan karya-karya 20 seniman asal Bandung dan luar kota. Mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan SSAS, serta terlibat dalam program residensi dan pameran. Program residensi melibatkan seniman-seniman muda yang tinggal dan bekerja di Bandung. Namun, tak menutup kemungkinan bagi seniman-seniman dari luar Bandung. Seniman yang pernah mengikuti program residensi diantaranya, Made Wiguna Valasara dalam program transit #1 (2011), Iwan Yusuf program transit #2 (2013), dan Hedi Soetardja program transit #4 (2018). Dua seniman asal Jogja, Agus Suwage dan Mella Jaarsma namanya turut berjajar diantara 20 seniman pameran SSAS/AS/Ideas. Karya-karya 20 seniman ini mengangkat tema yang merespon gagasan artistik Sunaryo. Salah satunya instalasi berupa manusia yang diikat dan dibalut kain hitam berjudul “Teduh Dari Paparan. Karya seniman Bandu Darmawan ini merupakan respon dari karya proyek Titik Nadir.

Hal yang menarik diantara karya-karya pameran ini adalah ketika Sunaryo berkolaborasi dengan Hedi Soetardja. Hedi adalah seniman otodidak asal desa Jelekong, Bandung Selatan yang mengikuti program residensi transit #4 2018. Desa asal Hedi, Jelekong terkenal sebagai sentra pengrajin cinderamata dan lukisan pemandangan. Dalam karya kolaborasi “Luruh Hitam dalam Perayaan”, Hedi mengeksplorasi karyanya dari pengalaman yang diperoleh selama residensi. Ia menampilkan abstraksi melalui isyarat kecil yang menyerupai huruf tidak beraturan. Kurator muda SSAS, Chabib Duta Hapsoro menyebut bahasa visual Hedi dengan gumam.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.