Category Archives: Kabar IVAA

Biennale Sumatra Ketiga: Identitas Setempat dan Pertanyaan tentang “Biennale” Daerah

Ditulis oleh Katherine Bruhn, diterjemahkan oleh Pitra Hutomo, sebagai bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin Dwi Bulanan edisi November-Desember 2016.

Biennale Sumatra Ketiga diadakan 19-22 November 2016 di Taman Budaya Jambi, menampilkan karya-karya 60 seniman yang membawa identitas kedaerahan dari 10 propinsi di Sumatra. Perhelatan ini sekaligus menunjukkan bahwa seniman-seniman di Sumatra senantiasa berupaya memantapkan keberadaan dan pertumbuhan mereka kepada kalangan seni Indonesia yang kompetitif dan Jawasentris. Walaupun perhelatan ini semestinya mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk memamerkan karya-karya seniman peserta dan gambaran pertumbuhan seni rupa di Sumatra, acara pembukaan dan penyelenggaraannya justru mengesankan sebaliknya; karakter “biennale” nyaris tak nampak di perhelatan ini. Hadir di pembukaan membuat saya bertanya-tanya tentang peran pemerintah dalam pengembangan seni di daerah, kemudian bagaimanakah makna istilah “biennale” saat diterapkan pada pameran lukisan yang sedikit lebih megah dari biasanya?

Pameran tahun ini menandai ketiga kalinya penyelenggaraan Biennale Sumatra dan untuk pertama kalinya pameran diselenggarakan di Jambi. Sebelumnya pada 2012 dan 2014, Sumatra Barat (Padang) menjadi tuan rumah Biennale Sumatra sekaligus “Pra Biennale” tahun 2011. Dengan membawa perhelatan ini ke Jambi dan selanjutnya ke daerah-daerah lain di Sumatra sesuai rencana, para seniman yang terlibat mengharapkan Biennale Sumatra menjadi serupa daya dorong yang dibutuhkan untuk mengembangkan seni rupa di Sumatra – hasrat yang jamak ditemui dan semakin menguat setelah penyelenggaraan Pameran Lukisan dan Dialog Perupa Se-Sumatra tahun 1993 (PLDPS). Bagaimanapun, Biennale Sumatra Ketiga menunjukkan bahwa upaya mengerahkan daya dorong pun masih terbentur keterbatasan infrastruktur dan utamanya ketersediaan sumber daya manusia, yakni massa kritis yang mampu menyikapi isu-isu dalam wacana seni kontemporer.

Setibanya ke Taman Budaya Jambi, saya terheran-heran mengetahui bahwa bunga papan sebagai penghargaan atas dibukanya Biennale Sumatra Ketiga juga bertuliskan selamat atas dibukanya Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera XIX (PPSS). PPSS yang diadakan bergiliran di Taman-taman Budaya Propinsi di Sumatra setiap tahun sejak 1997, ditujukan untuk memamerkan seni rupa sekaligus mempertunjukkan seni tradisi. Di Jambi, kombinasi dua perhelatan ini sangat kentara saat acara pembukaan yang berlangsung Sabtu malam. Sembari menyaksikan peresmian acara dengan pidato para pejabat pemerintahan antara lain Kepala Taman Budaya Jambi, Anggota Komisi X DPR, dan Gubernur Jambi, di dalam ruang pertunjukan yang penuh sesak, hadirin menyaksikan tarian tradisional dan “fashion show” pakaian adat dari tiap propinsi di Sumatra. Kurator Biennale Sumatra, Suwarno Wisetrotomo maupun seniman peserta pameran tidak menyampaikan pidato. Bahkan hadirin baru bisa memasuki ruang pamer untuk Biennale Sumatra setelah jam 10 malam. Bisa dibayangkan pada jam tersebut sebagian hadirin memilih untuk pulang daripada menonton pameran. Baru belakangan saya tahu bahwa kedua perhelatan ini, Biennale Sumatra Ketiga dan PPSS, digabungkan untuk menarik animo pengunjung Taman Budaya Jambi, terlebih karena mereka tidak menempatkan pegawai khusus untuk mengelola audiens seni kontemporer di Jambi.

Betapapun politisnya, Biennale Sumatra Ketiga layak mendapatkan selamat karena telah berhasil mendatangkan karya-karya dari seniman yang mewakili keragaman propinsi-propinsi di Sumatra. Dalam esai kuratorialnya, Suwarno Wisetrotomo menyatakan bahwa umumnya identitas suatu Biennale terfokus pada kota saja, misalnya di Venezia atau di kota-kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Makassar. Sehingga keinginan merepresentasikan suatu pulau yang terdiri dari beragam kelompok etnis atau suatu kewilayahan di dalamnya seperti Jawa Timur atau yang baru saja berlangsung, di Jawa Tengah, memiliki tantangan tersendiri. Barangkali pertanyaan awal yang harus diajukan adalah seberapa besar kemungkinan untuk menyelenggarakan pameran yang mampu menghadirkan konsep, atau bahkan identitas “Sumatra”?

Pameran tahun ini diselenggarakan dengan menyeleksi karya dari pendaftaran terbuka sekaligus karya-karya yang mewakili seniman visual (pelukis) senior Jambi yang dianggap berperan maupun berpengaruh dalam pengembangan seni rupa di propinsi tersebut. Menurut Suwarno Wisetrotomo para seniman yang melalui proses seleksi dari pendaftaran terbuka adalah generasi muda Sumatra yang akan menentukan arah perkembangan seni kontemporer di Sumatra. Dengan menghadirkan seniman junior yang saat ini aktif bersamaan dengan seniman senior yang sebagian telah meninggal dunia, para hadirin mendapat kesempatan untuk melihat langsung bagaimana estetika seni modern dan kontemporer telah berkembang, khususnya di lingkup Propinsi Jambi. Menarik juga untuk mengamati bagaimana aspek biennale ini dilanjutkan di Biennale 2018 yang akan kembali diselenggarakan di Padang; suatu keputusan yang diambil dalam salah satu “parallel events”, yakni suatu diskusi antar seniman yang diselenggarakan sebagai perpaduan acara biennale dengan PPSS.

Dalam diskusi tersebut para seniman juga diajak mengunjungi kompleks kuil Buddha di kawasan Muaro Jambi, sebagai bagian dari kegiatan sketsa sehari on-the-spot. Di hari yang sama diselenggarakan pula lokakarya untuk guru-guru tentang sejarah seni Indonesia dan apresiasi seni di Taman Budaya Jambi. Lokakarya diampu oleh Tubagus Andre Sukmana, Kepala Galeri Nasional Indonesia dan Suwarno Wisetrotomo. Saya yang mengamati acara-acara ini perlu memuji panitia penyelenggara secara khusus, karena walaupun singkat, acara-acara ini telah memberikan kesempatan untuk para seniman dari penjuru Sumatra untuk tahu lebih banyak tentang kehidupan prasejarah dan kebudayaan tradisional di Jambi. Lokakarya pun telah memberikan pengenalan tentang sejarah seni secara partisipatoris untuk para guru. Acara-acara inilah yang bagi saya menunjukkan perbedaan Biennale Sumatra/PPSS dengan pameran lukisan skala besar lain di Sumatra.

Akhir kata, meskipun penyelenggaraan biennale di Indonesia senantiasa menimbulkan pertanyaan tentang kualitas dan tujuan, acara ini adalah pameran seni rupa (terutama lukisan) yang solid dan diselenggarakan oleh seniman asal Sumatra yang terutama aktif di Sumatra. Kenyataan ini saja merupakan fakta yang butuh dicermati. Selanjutnya, bagaimanakah sumber daya manusia di Sumatra Barat menyelenggarakan Biennale berikut dua tahun mendatang? Bagaimana mereka akan menyelenggarakan suatu acara yang diadakan selaras dengan biennale-biennale lain di Indonesia, untuk senantiasa menunjukkan keberadaan seni rupa di Sumatra sebagai hal yang unik jika dibandingkan dengan seni kontemporer yang ada di Yogyakarta maupun Bandung?

 


image-1
[Gambar 1 – Fashion Show pakaian adat dari 10 propinsi di Sumatra dalam Pembukaan c]

image-2
[Gambar 2 – Para pejabat pemerintahan meresmikan dibukanya Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera XIX]
image-3
[Gambar 3 – Sketsa on the spot di Kompleks Kuil Buddha Muaro Jambi]
 

image-4
[Gambar 4 – Menyusul kunjungan ke Kompleks Kuil Muaro Jambi, para seniman makan siang setelah disiapkan oleh Komunitas Mahligai, suatu komunitas asal kawasan Muaro Jambi yang bekerja untuk mengelola kebudayaan tradisional. Dalam gambar ini adalah para anggota Komunitas Mahligai yang menyambut para seniman]
image-5
[Gambar 5 – Lokakarya melukis untuk guru-guru sekolah di Jambi, presentasi oleh kurator Biennale Sumatra ke Tiga Suwarno Wisetrotomo tentang sejarah seni Indonesia]
image-6
[Gambar 6 – Suasana pameran Biennale Sumatra ke Tiga di Taman Budaya Jambi]
image-7
[Gambar 7 – Suasana pameran Biennale Sumatra ke Tiga di Taman Budaya Jambi]
image-8
[Gambar 8 – Suasana pameran Biennale Sumatra ke Tiga di Taman Budaya Jambi]
image-9
[Gambar 9 – Suasana pameran Biennale Sumatra ke Tiga di Taman Budaya Jambi]

Kembali ke Buletin IVAA edisi Nov/Des 2016.

Selamat Hari Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 | Merry Christmas 2016 and Happy New Year 2017

greetingivaa

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Natal dan Tahun Baru 2017

Menyambut Natal dan Tahun Baru 2017, Perpustakaan & Layanan Publik IVAA tutup pada 25-26 Desember 2016
dan 1-2 Januari 2017

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wishes you

a Merry Christmas and Happy New Year 2017
Welcoming the feast of Christmas and New Year 2017, IVAA Library and Public Service closed from December 25 to 26, 2016
and January 1-2, 2017

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas
Diskusi Berseri, 17 – 16 November 2016, di RumahIVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

“Your Trip, Our Adventure” merupakan rangkaian dua hari diskusi yang berupaya melihat fenomena pertukaran budaya secara mendalam dan meluas. Di hari pertama, fenomena ini ditempatkan sebagai soal yang perlu dibongkar tajam dan dicari relasi kuasanya, semacam usaha untuk zoom in. Sementara diskusi hari ke dua merupakan upaya zoom out, dengan menempatkan fenomena residensi ini pada konteksnya, yakni di tengah usaha percepatan pembangunan dan masifnya pengembangan industri wisata.

Pada diskusi hari pertama, Tiatira hadir sebagai pemantik diskusi. Sebagai peneliti soal residensi yang dilakukan bersama tim kajian arsip IVAA, ia memberikan paparan sejarah residensi, baik ketika ditempatkan sebagai istilah maupun kegiatan. Setelah itu Malcolm Smith, salah satu anggota kolektif Krack! memaparkan sebagian kecil dari penelitiannya soal program pertukaran budaya dan kaitannya dengan struktur kelas sosial. Ia juga memberikan penjelasan soal bagaimana agenda penyandang dana memainkan pengaruhnya dalam aktivitas pertukaran budaya. Sementara di sisi lain terdapat logika pemerintah suatu negara yang selalu ingin menjadi pusat. Elia Nurvista, seniman yang banyak melakukan residensi, membagikan motivasinya dalam melakukan residensi, di tengah konteks kesenimanannya.

Sementara diskusi hari ke dua dengan tema ‘Budaya Berpindah dan Arah Gerak Kota’ lebih membawa pembahasan pada kondisi kota Yogyakartayang laju perubahannya semakin dikencangkan melalui berbagai macam rezim penataan. Dari paparan yang diberikan serta diskusi yang kemudian bergulir selama kurang lebih tiga jam, forum ini mampu mengeksplisitkan berbagai persilangan kuasa dan rezim yang merupakan elemen dari percepatan pembangunan, yang banyak menentukan wajah kota Yogyakartayang dipaksa menjadi urban.Dimulai dari paparan Pitra Hutomo, arsiparis dan peneliti IVAA, yang mengartikulasikan arah gerak perubahan Yogyasebagai ruang hidup beserta peran seniman dalam laju perubahan tersebut. Setelah itu, Maria Adriani, dosen arsitektur UII sekaligus perencana ruang urban, memberikan paparan menyeluruh dari hulu sampai hilir soal bagaimana Yogyakartadipaksa menjadi ruang urban. Sementara pemantik diskusiketiga ialah Rosyid Adiatma, akademisi, yang sedang melakukan penelitian soal identitas dan perebutan ruang. Ia tengah melakukan tahap awal dari penelitian di desa Tambakharjo, Tugurejo, Karanganyar. Dalam paparannya ia membagikan beberapa cara pandangnya yang dipakai dalam penelitiannya tersebut.

Kedua forum ini berlangsung sebagai ruang berbagi masukan, pemikiran, posisi dan strategi hingga sebagai sarana kritik dan otokritik bagi para pelaku dan penggerak aktivitas seni budaya.

Pengantar Meraba Wajah Sosial Kota: Sebuah Catatan Tentang Pojok Arsip IVAA

Pengantar Meraba Wajah Sosial Kota: Sebuah Catatan Tentang Pojok Arsip IVAA

Archive Showcase, 17 November – 31 Desember 2017, di Rumah IVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sekira kurang lebih satu semester ini IVAA secara rutin gelar pojok arsip, yang setiap dua bulan sekali berganti tema. Kali ini, kami menghimpun beberapa kepingan peristiwa yang sengaja kami susun untuk menggarisbawahi berbagai tonggak yang menjadi penanda arah gerak ruang hidup kita. Sebagai warga yang merasa memiliki ruang ini, sebagian dari kita tentu sudah bisa merasakan bahwa kota ini sedang bergerak ke arah yang tidak kita suka atau tidak kita sepakati.

Di satu sisi hampir setiap hari kita terus dihadapkan pada berbagai narasi yang menguatkan model pengembangan dan pembangunan kota dengan narasi istimewanya. Sementara di sisi lain, di tengah narasi dominan keistimewaan, terdapat geliat warga yang tidak diam, merespon situasi ini sebagai kondisi yang tidak baik-baik saja. Terhitung sejak masa reformasi, geliat dan dinamika politik kewargaan hampir selalu ada. Sementara posisi seniman dan pekerja budaya yang hidup di kota Yogyakarta Jogja ini sering kali menjadi bagian di dalamnya.

Peristiwa dan catatan sejarah yang dihadirkan di sini tidak melulu terkait langsung dengan soal peristiwa jadi yang sudah berupa acara dan kegiatan yang kemudian diberi nama peristiwa seni dan budaya. Di tengah proses hadirnya karya ataupun acara selalu terdapat konteks ataupun udara yang membuat nafas dari peristiwa kultural tidak mungkin hidup tanpanya.

Berbagai tonggak, yang tidak harus besar dan monumental, sengaja kami hadirkan, mengingat kecenderungan kita yang memiliki ingatan pendek. Kita seringkali lupa atas beberapa peristiwa yang telah lewat, sehingga tidak jarang kita melakukan pengulangan yang tidak perlu.

Harapannya, kita tidak kemudian begitu saja larut pada wajah kota kita yang dibuat seolah ‘istimewa’, namun lebih terpancing untuk bertanya sambil meraba wajah lainnya yang sesungguhnya lebih nyata. Karena di situlah terdapat wajah sosial dari suatu ruang hidup. Pojok arsip yang sempit ini tentu tidak mampu merepresentasikan seluruh wajah sosial yang berdinamika saat ini. Namun setidaknya ini menjadi awalan dan sebagian kecil dari proses kerja tim program, yang sedang mengumpulkan model-model kerja seni budaya yang ada di sekitar kita dan kaitannya dengan arah gerak ruang hidup yang bernama Yogyakarta. Semoga kita tidak terlalu lama larut dalam lamunan massa.

Sorotan Pustaka | November – Desember 2016

2016-international-symposium-on-art-archives

1. 2016 International Symposium on Art Archives
Katalog
28 Halaman
Penerbit: National Taiwan University of Arts
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Chinese / English

Terbitan ini merupakan buklet yang berisi daftar para pemateri serta urutan acara International Symposium on Art Archives 2016 (ISOAA 2016) yang diselenggarakan di Taiwan pada 10-11 November yang lalu. Simposium internasional ini diselenggaakan oleh National Taiwan University of Arts dan bekerjasama dengan Kementrian Kebudayaan Taiwan. Para pembicara dalam simposium tersebut adalah para arsiparis yang mewakili institusi ataupun pelaku arsip individu (pengumpul arsip), serta para ahli arsip kebudayaan yang berprofesi sebagai peneliti, dosen, maupun perwakilan dari museum. Selain negara penyelenggara yakni Taiwan, di dalam simposium ini dihadirkan perwakilan dari berbagai negara antara lain Kamboja, Singapura, Indonesia, Prancis, Swis, dan Amerika Serikat.

2. Taiwan Annual #1taiwan-annual-2016
Katalog
383 Halaman
Penerbit: Association of the Visual Arts in Taiwan (AVAT)
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Chinese / English

Sejak berdiri pertama kali pada tahun 2001, Association of the Visual Arts in Taiwan (AVAT) telah mengorganisir ARTIST FAIR dan membuatnya menjadi platform pameran alternatif untuk para seniman individu dan bukan seperti model galeri-galeri yang kita biasa lihat pada pameran biasanya. Ketika mereka merayakan peringatan hari jadi ke-15 tahun, mereka  mengganti nama itu dan membuatnya menjadi TAIWAN ANNUAL, sebuah pembeda bagi tren seni kontemporer yang biasanya menamai pameran internasional dengan nama “biennale” atau “trienniale”.

Pada edisi terakhir ARTIST FAIR tahun 2015, mereka telah memetakan sebuah masa depan berkesenian bagi Taiwan Annual: sesi “art project call for proposals”, mereka sangat terbuka bagi projek pameran free-style untuk lebih mempromosikan eksplorasi seni kontemporer. Mereka juga menaikkan jumlah proposal yang diterima dalam “Curators Program” dan “Cinema” untuk mendorong para kurator lokal supaya lebih semangat berkarya.

3. Betbetween-declararions-and-dreamsween Declaratios and Dreams: Art of Southeast Asia since the 19th Century
Katalog
291 Halaman
Penerbit: National Gallery Singapore
Tahun Terbit: 2015
Bahasa: English

Katalog ini berisi kumpulan karya seni rupa di Asia Tenggara. Katalog bertajuk “Between Declarations and Dreams” ini berisi perjalanan sejarah negara-negara di Asia Tenggara dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga paska kemerdekaan. Katalog ini mencoba melihat konsep dari seni itu sendiri di kawasan Asia Tenggara, tentang bagaimana mereka membagi pengalamannya dan terkoneksi satu sama lain. Bagaimana kita melihat kejadian yang mempengaruhi produksi dan bagaimana seni disambut. Katalog yang diterbitkan tahun 2015 oleh National Gallery Singapore ini berisi 4 tulisan kuratorial setebal 291 halaman.

skripta-vol-4

4. Skripta Volume 04/Semester 2/2016
Jurnal
74 Halaman
Penerbit: Soap (Study on Art Practices)
Tahun Terbit:  Volume 04/Semester 2, 2016
Bahasa: Bahasa Indonesia

Jurnal Skripta edisi ke empat ini mengemukakan perihal praktik kuratorial dan perkembangan wacana di sekitarnya. Terdiri dari empat esai. Esai pertama, yang ditulis oleh Arham Rahman, mengulik soal tradisi kritik seni yang salah satunya melahirkan kurator. Serta dijelaskan bagaimana terjadinya pergeseran tradisi kritik, dari kritik seni ke kritik kuratorial. Esai kedua yang ditulis oleh Irham Anshari mengenai kelindan wacana pasar seni dan politik pendanaan yang sering kali luput dibicarakan oleh kurator atau seringkali sengaja dibuat absen dari wacana kekuratoran. Sementara esai ketiga yang ditulis oleh Lisistrata Lusandiana merupakan pembacaan teks kuratorial beberapa pameran bertema gender, yang biasanya diikuti oleh sekelompok seniman perempuan. Melalui pembacaan yang ditempatkan dalam frame perjuangan identitas gender, beberapa teks tersebut justru menunjukkan ketidakmampuannya lepas dari jebakan esensialisme identitas. Pada esai terakhir, Sita Magfira mengulas soal fenomena kemunculan kurator dan kondisi kultural yang membuatnya semakin berkembang. Keunikan kondisi kultural di Indonesia inilah yang diulas. Mulai dari kemunculan forum-forum kurator muda, lokakarya dan pelatihannya serta model kerja kurator yang juga beragam dan dekat dengan eksperimentasi.

galeri-edisi-20

5. GALERI Media Komunikasi Galeri Nasional Indonesia No. 20
Majalah
96 Halaman
Edisi: 20/2016
Penerbit: Galeri Nasional Indonesia
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Indonesia

Majalah Galeri edisi 20 ini memberitakan keberlangsungan WCF (World Culture Forum) 2016 ke-2, yang dihelat di bulan Oktober silam di Bali. WCF 2016 terdiri dari berbagai acara yaitu seminar, kunjungan wisata, karnaval, pertunjukan kesenian, mural dan lukisan, serta reproduksi karya dua maestro Indonesia Raden Saleh dan Affandi. Sementara di rubrik selanjutnya, tersaji laporan soal Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia 2016 yang diselenggarakan di Kota Manado, Sulawesi Utara, yang melibatkan sekitar 80 pelajar dan mahasiswa serta berbagai komunitas di Manado. Ulasan soal Pameran 100 Tahun Otto Djaya pada bulan September hingga Oktober lalu juga dihadirkan di sini. Dalam ulasan tersebut juga disebutkan bahwa pameran tersebut berhasil menghadirkan 171 lukisan Otto Djaya.

Pada bagian selanjutnya terdapat ulasan yang menengahkan soal sudut pandang romantik dalam lukisan-lukisan Basoeki Abdullah dan Fernando Amorsolo. Sudut pandang romantik yang ditemukan dari keduanya didapat karena adanya perubahan lingkungan di istana negara, dari istana negara yang ekslusif menjadi lebih inklusif dengan berbagai sentuhan kultural. Sementara di Bangkok, Raja menurunkan puluhan lukisan karya seniman Eropa yang ada di Istana Popporo, Istana Chakri, Istana Chitralada, serta gedung pemerintahan Ananda Samakhom. Menariknya, semua lukisan itu kemudian diganti dengan karya karya Basoeki Abdullah (1915-1993). Pemasangan lukisan-lukisan Basoeki tersebut dipertahankan sampai raja yang dicintai rakyatnya ini mangkat beberapa waktu lalu.

Selebihnya masih ada beberapa rubrik menarik yang mengulas dinamika seni budaya di berbagai tempat dengan skala yang juga beragam.

Sorotan Dokumentasi November – Desember 2016

Selama dua bulan kami Tim Dokumentasi IVAA, Dwi Rachmanto dibantu para peserta program Magang IVAA telah mengumpulkan sejumlah 46 dokumentasi dari berbagai perhelatan yang kami rekam, dan ditambah pula dengan dokumen-dokumen yang kami terima secara langsung dalam wujud rekaman baik video, foto, maupun katalog. Banyak perhelatan menarik di penghujung tahun ini, salah satunya adalah pameran para eksponen GSRB di Kampus ISI Yogyakarta yang disertai dua sesi seminar. Selain itu kami juga menjadi saksi seremoni yang menandai perubahan Rumah Seni Cemeti menjadi Cemeti Institut Seni dan Masyarakat dengan disertai perubahan kepengurusan pula. Beberapa perhelatan besar juga kami hadiri antara lain Jateng Biennale, Sumatera Biennale, 4th Jakarta Contemporary Ceramic Biennale, serta festival performance art internasional Undisclosed Territory #10. Kami juga dipercaya untuk menjadi tim dokumentasi resmi untuk penyelenggaraan Simposium Khatulistiwa 2016. Di dalam simposium 2 hari ini setiap harinya berlangsung 1 kelas umum dilanjutkan 3 kelas yang berlangsung bersamaan, di masing-masing kelas berlangsung 3 sesi. Sehingga total terdapat 20 kelas yang kami dokumentasikan.

Pada Buletin Daring edisi ini kami menyoroti 5 perhelatan yang kami rekam dalam media video ataupun foto. Dan istimewanya ada dua perhelatan diulas secara komprehensif oleh dua penulis tamu. Pertama adalah Katherine Bruhn (Katie) yang mengulas Biennale Sumatra Ketiga. Katie adalah seorang peraih gelar Ph.D untuk Studi Asia Tenggara di UC Berkeley yang sedang berfokus meneliti tentang aktivitas seni rupa di wilayah Sumatra Barat. November lalu Katie menghadiri perhelatan Biennale Sumatra Ketiga di Jambi, juga dalam rangka kepentingan penelitiannya. Penulis tamu ke dua adalah Krisnawan Wisnu Adi, seorang mahasiswa tingkat akhir di FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sedang mengikuti Program Magang IVAA. Wisnu menulis catatan perjalanannya saat menjadi peserta Simposium Khatulistiwa 2016 dengan sangat teliti. Silakan simak sorotan-sorotan dokumentasi di bawah ini.


1. “Wang Sinawang: Sesrawungan”
16-30 November 2016 | Di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), Yogyakarta

2. “Bercocok Tanah”
Pameran Tunggal Ismal Muntaha (Sunday Screen & Jatiwangi art Factory)
Dikuratori oleh Grace Samboh
23 Desember 2015-23 Januari 2016| di ACE HOUSE, Yogyakarta

3. Tanah/Impian
Pameran Kolektif oleh Krack!
5 Juni-6 Juli 2016 di Krack! Studio

4. Biennale Sumatra Ketiga
19-22 November 2016 di Taman Budaya Jambi, Telanaipura, Jambi

5. Simposium Khatulistiwa 2016
29-30 Oktober 2016 | di Prodi Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Kembali ke Buletin IVAA edisi Nov/Des 2016.

Koleksi Harsono

Koleksi Harsono
Oleh: Putri Alit Mranani

Sejak pertengahan 2016, Tim Arsip disibukkan dengan digitalisasi arsip yang disumbangkan sejumlah seniman. Salah satu seniman yang menyumbangkan arsipnya adalah FX Harsono. Yang disumbangkannya adalah kumpulan slide dan negative film koleksinya, terutama yang berkaitan dengan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI), serta foto-foto lain yang dihasilkannya kala Harsono masih sering memotret menggunakan kamera analog setiap menghadiri pameran-pameran seni rupa. Perupa eksponen GSRB yang karyanya selalu relevan dengan isu sosial di Indonesia ini memang dikenal aktif mendokumentasikan peristiwa-peristiwa terkait kegiatan seni dan aktivisme.

Kami mengidentifikasi arsip FX Harsono menjadi tiga kategori, yaitu (1). kegiatan pribadi, (2). kegiatan yang berhubungan dengan kekaryaannya, dan (3). pameran atau kegiatan yang dianggap penting olehnya. Ia melakukan inisiatif pendokumentasian dengan tujuan sebagai koleksi pribadi sekaligus sebagai bahan presentasi. Yang dipotret Harsono cukup beragam dengan rentang waktu mulai 70 hingga 90-an, mulai dari PIPA hingga Binal Eksperimetal Art 92, ada pula dokumentasi Pameran Keramik Hildawati Sidharta, dokumentasi kekaryaan Moelyono, dan masih banyak lagi. “Karena pada waktu itu saya pikir tidak ada yang fokus terhadap pendokumentasian”, ungkap seniman yang bekerja di salah satu biro periklanan di Jakarta selama hampir dua dekade ini ketika ditanya apa motivasinya untuk mengumpulkan dokumentasi.

Tak kurang sejumlah 3904 foto sumbangan FX Harsono telah selesai didigitalisasi, dan kini masih dalam proses dilengkapi datanya. Daftar inventarisasi dokumen sumbangan arsip FX Harsono dapat dilihat di dalam tabel ini : https://docs.google.com/spreadsheets/d/1qYpjI6sECu6qgKl1zzSK6h1HqC7hqh6l32Vhd_qzh0k/edit?usp=sharing

“Wang Sinawang: Sesrawungan”

“Wang Sinawang: Sesrawungan”
16-30 November 2016
Di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), Yogyakarta

Acara ini lebih menyerupai festival seni budaya tinimbang pameran seni rupa. Di dalamnya ditampilkan berbagai pertunjukan wayang, teater, musik, pameran karya seni, maupun artefak keagamaan dan kebudayaan. Ada 6 komunitas seni yang dilibatkan di dalama acara ini, mewakili 6 agama yang ada di Indonesia, antara lain Buddha Maitreya, Khilafah Arts Network (KHAT), Khonghucu, Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit, Narayana Smrti Ashram, dan Seni Rupa Kristen Indonesia (Seruni). Selain pameran dan pertunjukan, pada rangkaian acara ini juga diadakan serangkaian presentasi dari keenam komunitas, serta satu diskusi yang menjadi penutup rangkaian acara Wang Sinawang Sesrawungan. Acara yang diinisiasi oleh PKKH UGM ini membahas persoalan pluralisme di Indonesia. Akhir-akhir ini kita cenderung berusaha menutup-nutupi perbedaan dan mencari titik persamaan dengan tujuan menghindari konflik. Namun justru dengan demikian masyarakat menjadi tidak terbiasa melihat adanya perbedaan. Menjadi menarik perhatian (kalau tidak dibilang mengundang kontroversi) ketika KHAT dipilih untuk mewakili unsur agama Islam di dalam perhelatan ini, mengingat bahwa KHAT adalah komunitas yang dikenal aktif mengkampanyekan khilafah atau negara Islam, yang sebetulnya bila dicermati prinsipnya bertentangan dengan Pancasila.

ba

diskusi

pembukaan

|klik disini untuk melihat dokumentasi video|

Tanah/Impian

Tanah/Impian
Pameran Kolektif oleh Krack!
5 Juni – 6 Juli 2016 di Krack! Studio

Mundur ke tahun 2014 ada pameran berejudul Tanah Impian yang berlangsung di Krack! Studio, Yogyakarta. Pameran ini digagas oleh Malcom Smith dan kolega-koleganya di Krack! Studio., Mengambil judul “Tanah/Impian”, pameran ini mencoba menjelajahi aspirasi Indonesia sepanjang 100 tahun yang tercermin dalam budaya popular. Pameran ini menyoroti perbedaan—yang acap kali mencolok—antara “Mimpi” dan “Kenyataan”.

Sebanyak 24 karya yang ditampilkan merupakan rancang ulang poster iklan, sampul buku, majalah, kaset hingga korek api yang dikumpulkan dari rentang waktu 100 tahun dan dianggap merepresentasikan mimpi Indonesia pada setiap era. Karya dalam pameran ini pertama kali dipamerkan di Krack! pada 5 Juni 2014, diteruskan ke satu galeri di Footscray Community Art Center, Melbourne dan di Flux Kit, Italia. Dalam pameran pertamanya pada Juni 2014, bertepatan dengan akan diadakannya Pilpres di Indonesia, di mana dalam suasana Pilpres banyak muncul mimpi-mimpi baru dari orang baru, era baru, bahkan kehidupan baru. Karya dalam pameran ini dibuat menggunakan  teknik sablon, merancang ulang gambar-gambar iklan sejak sebelum  Indonesia berdiri, mengumpulkan data tentang poster-poster propaganda yang juga harapan atas berdirinya negara. Mimpi-mimpi yang dibuat ulang dalam konteks sekarang, yang menjadi cerminan harapan Indonesia di masa lalu ditampilkan dalam bentuk karya poster yang kadang satir. Pameran Tanah impian adalah Project dari Krack! Studio dan kolaborasi antara Malcolm Smith, Prihatmoko Moki, Rudi ’Lampung’ Hermawan, serta Antariksa.

img_1680

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|

Simposium Khatulistiwa sebagai Resistensi Kultural: Sebuah Catatan Perjalanan Seorang Hadirin

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Tulisan ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin Dwi Bulanan edisi November-Desember 2016.

“MEMBANGUN DUNIA KEMBALI: Visi Alternatif dari Khatulistiwa.”

Serangkaian kata dalam kalimat yang cukup ambisius di atas adalah tema untuk Simposium Khatulistiwa kali ini. Sebagai bagian dari rangkaian acara Biennale Jogja XIV Seri Equator #4 2017, Yayasan Biennale Yogyakarta menyelenggarakan sebuah simposium guna mengenalkan kepada publik terkait tema besar yang diangkat. Selain itu, simposium ini juga menjadi ruang kolektif untuk berbagi gagasan dalam mengupas beberapa topik atau isu relevan seputar dunia seni rupa kontemporer.

Simposium Khatulistiwa periode ini digelar pada Sabtu dan Minggu, 29 & 30 Oktober 2016, di Gedung Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Baik Sabtu maupun Minggu, acara dimulai pada pukul 09.00 WIB hingga kurang lebih pukul16.30 WIB. Berbeda dengan simposium sebelumnya, kali ini sistem pemberian dan diskusi materi dilakukan dengan sistem kelas, layaknya mahasiswa yang kuliah bersama dosen. Di masing-masing hari, terdapat tiga sesi (pagi, siang, dan sore). Lalu di setiap sesi, diselenggarakan kelas dengan waktu yang bersamaan. Maka peserta mau tidak mau harus memilih salah satu kelas di setiap sesi.

Taman Beringin Soekarno menjadi tempat yang dipilih untuk mengawali simposium ini sekaligus perjumpaan awal dengan publik. Bukan sembarang memilih saya kira, karena Taman Beringin Soekarno cukup menghadirkan memori tentang sosok Bung Karno yang menginisiasi peristiwa Konferensi Asia-Afrika pada 1955 di Bandung. Sebuah peristiwa yang telah menginspirasi langkah tim Biennale Seri Equator untuk mewujudkan visi alternatifnya.

Imperialisme Inggris di Abad ke -19 dan Asia Tenggara Modern
Sesi pertama yang saya ikuti bertajuk “Imperialisme Inggris di Abad ke-19 dan Asia Tenggara Modern” oleh Tyson Tirta, seorang sejarahwan dan peneliti sosial. Dalam topik ini, Tyson hendak menghadirkan studi sejarah imperialisme Inggris dengan pendekatan sejarah global. Pendekatan ini memiliki empat poin inti, yakni; bukan sekedar sejarah peradaban dunia, tetapi juga pemahaman fragmen-fragmen kecil yang saling terkait; bersifat disiplin karena bukan hanya ilmu sejarah yang terlibat; menawarkan konsep kesetaraan bukan sekedar stratifikasi; dan batasan (geografis dan kultural) yang ada tidak membatasi pemahaman akan suatu peradaban, tapi lebih sebagai suatu narasi besar yang mengalami modernisasi.

Ada ungkapan yang menarik dalam kelas itu, bahwa imperialisme Inggris adalah cara yang sama seperti Inggris mendefinisikan dirinya. Artinya adalah imperialisme yang dilakukan Inggris bukan semata-mata praktik eksploitasi manusia dan alam bangsa jajahan. Mereka juga mengusahakan beberapa hal untuk keteraturan dan kemajuan, entah pendidikan atau perdagangan, di wilayah yang dijajah itu.

Sebagai penanggap, Rosyid, mahasiswa pascasarjana Fakultas Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma mengatakan bahwa, meski dengan pendekatan yang demikian setaranya, bagi dia semua itu masih dan tetap saja pada kerangka inferioritas kapitalisme. Narasi kesetaraan yang diwujudkan melalui proses ‘mengadabkan’ negara jajahan sebenarnya hanya sebagai bungkus.

Ia menambahkan bahwa kita perlu melihat sejarah global sebagai strategi. Strategi untuk melihat realitas bukan sekedar yang metafisis, melainkan secara nyata tentang ke mana realitas itu terjadi. Contohnya adalah fenomena pembentukan ASEAN sebagai strategi baru untuk menanggapi situasi global pada kala itu.

Ruang Politis yang Abu-Abu: Dekolonisasi dan Dewesternisasi
Kelas berikutnya yang saya pilih bertajuk “Ruang Politis yang Abu-Abu: Dekolonisasi dan Dewesternisasi” oleh Wayne Lim. Ia adalah seorang seniman dari Singapura yang sedang studi master di Dutch Art Institute.

Situasi mempertanyakan ruang publik dan privat nampaknya menjadi titik tolak gagasan. Bahwa karena laju modernisasi yang sangat kompleks, batasan ruang publik dan privat menjadi kabur. Bahkan yang publik, seperti sekolah, pun sudah diprivatkan untuk kepentingan tertentu dan bersandar pada sumber pengetahuan ‘modern’. Bagi Lim, sangat penting untuk menciptakan sekolah yang mengajarkan self-organizing, meningkatkan intuisi siswa tentang sekolah. Kemandirian tanpa tergantung institusi formal merupakan cara alternatif untuk menanggapi dilema aktivitas di ruang publik atau privat, yang berdasarkan kepentingan kekuasaan.

Selanjutnya dekolonisasi dan dewesternisasi bagi Lim merupakan konsep kunci untuk hidup di era modern. Konsep ini mampu memberikan akses pengetahuan yang otonom, terbebas dari belenggu modernitas neo-kolonialisme. Konferensi Bandung dapat dilihat sebagai titik tolak perjuangan melawan neo-kolonialisme dengan gagasan dekolonisasi dan dewesternisasi.

Rosyid, sebagai penanggap, menambahkan bahwa gagasan di atas sebenarnya adalah masalah yang hampir dialami oleh semua orang; problem ruang, manusia, dan kapitalisme. Melalui resistensi kultural, kiranya problem tersebut dapat diminimalisir secara perlahan. Aktivitas seni-budaya seperti biennale dapat dilihat sebagai sebuah ruang negosiasi baru. Ruang negosiasi baru yang menjadi pintu pembuka untuk membongkar masalah struktural di level makro, yang secara bersama-sama mencoba mendefinisikan kedirian negara-negara dunia ketiga.

Ruang negosiasi secara kultural ini juga berpotensi membentuk kewargaan baru dalam ruang yang sudah dibentuk oleh kapitalisme. Mungkin seperti apa yang dimaksud oleh Lim dengan ruang abu-abu, ruang negosiasi kultural dapat menjadi representasinya. Kerja ruang abu-abu yang tidak hanya merespon ruang publik-privat secara fisik, melainkan juga merujuk kepada level suprastruktur. Level suprastruktur yang di dalamnya terdapat hubungan tiga aspek, seperti apa yang digagas oleh Althusser, yakni aparatus ideologis, lalu turun ke level negara melalui pendidikan dan media massa, dan ide tentang bagaimana kita harus berpikir dan bertindak (kesadaran palsu).

Biennale sebagai ruang negosiasi baru secara kultural telah menjadi bukti keberadaan ruang abu-abu. Tidak hanya itu, ia telah menjadi praktik resistensi kultural dalam rujukannya kepada level suprastruktur, untuk mengusahakan akses pengetahuan baru dalam bingkai negara-negara ekuator; menciptakan kewargaan baru untuk saling terhubung dalam rangkaian diskursus yang memang terlalu abu-abu untuk didefinisikan.

Menyikapi Perubahan Lingkungan Hidup dan Bermasyarakat  
Sesi kali ini sedikit berbeda dengan sesi-sesi sebelumnya, karena yang menjadi bahasan bukan perihal konsep-konsep seni rupa atau sejarah yang rumit, melainkan lebih kepada pengalaman aksi nyata yang dibagikan. Dua narasumber yang dihadirkan adalah Mas Kaca dan Mas Kendal. Mas Kaca adalah pembudidaya burung hantu untuk mendukung keberlangsungan sawah atau kebun dari gangguan hama. Sedangkan Mas Kendal adalah sarjana sosiologi UGM yang memutuskan untuk menjadi petani di tempat asalnya, Kulon Progo.

Awal kisah Mas Kaca berangkat dari peristiwa makan siang bersama temannya di sebuah warung makan. Saat itu ia mendengar keluh kesah dari si penjaja warung makan bahwa mereka akan mendapat ancaman gagal panen padi. Sontak Mas Kaca merasakan situasi yang janggal; ia dan rekannya bisa makan nasi dengan lahap saat seorang penjaja warung makan mengeluh soal gagal panen padi yang menjadi ancaman. Jika gagal panen padi benar-benar terjadi, lantas apa yang akan dimakan orang-orang yang bergantung padanya? Pertanyaan di atas terus mengganggu benak Mas Kaca, dan akhirnya membuat ia dan rekannya berinisiatif untuk menemukan solusi mencegah gagal panen padi.

Kebanyakan faktor yang membuat padi serta tanaman lain seperti buah dan sayur menjadi rusak adalah keberadaan hama. Salah satu hama yang paling dibenci adalah tikus. Menipisnya predator ular membuat jumlah tikus tak terkendali. Oleh karena itu Mas Kaca bersama timnya memutuskan untuk melakukan pembudidayaan burung hantu. Dengan menggunakan salah satu ruang kosong di rumah seorang warga, beberapa burung hantu dikembangbiakkan untuk memangsa hama tikus. Segala perhitungan jarak penempatan kandang, pemantauan aktivitas burung hantu, pertumbuhan anak burung hantu, menjadi aktivitas yang terus mereka lakukan. Tujuannya adalah agar menghasilkan upaya pemberantasan hama secara maksimal.

Berbeda dengan Mas Kaca, Mas Kendal membagikan pengalaman aksi lingkungannya sebagai seorang petani; tentang bagaimana mendorong warga untuk mau bangkit mandiri dalam berkebun dan bertani. Upaya yang dilakukan olehnya adalah dengan sedikit demi sedikit memanfaat lahan kosong di rumahnya untuk dijadikan kebun dan sawah secara organik. Meski tidak cukup luas dan banyak cibiran dari warga yang meragukan, ia sudah beberapa kali merasakan panen padi dari tanah sendiri.

Tidak menggunakan zat kimia seperti pestisida adalah prinsip dari Mas Kendal dalam mengusahakan pertaniannya. Ia memiliki misi mendorong warga untuk tidak tergantung pada pasar dan dapat memenuhi kebutuhan primer dari tanah sendiri, tanpa harus membeli. Perlahan, niatnya ini mendapat dukungan dari warga. Bagi Mas Kendal, kota tidak akan bertahan tanpa keberadaan desa dengan segala potensinya.

Sampai sekarang ia terus mencari cara yang tepat untuk menciptakan pembasmi hama secara natural, bukan dengan bahan kimia. Salah satu cara yang pernah ia terapkan adalah dengan mengembangbiakkan laba-laba sebagai predator untuk hama belalang.

Dua pengalaman yang dibagikan oleh Mas Kaca dan Mas Kendal dapat dipandang sebagai respon masyarakat atas situasi lingkungan hidup yang kian berubah. Simbiosis mutualisme antara masyarakat dan lingkungan yang seharusnya dipahami bukan sebagai eksploitasi alam.

Perihal Kawasan dalam Perspektif Seni Rupa
Memasuki hari ke dua, pada sesi pertama, saya memilih kelas “Perihal Kawasan dalam Perspektif Seni Rupa”. Pius Sigit Kuncoro (kurator untuk Biennale kali ini), Woto Wibowo alias Wok the Rock (kurator untuk Biennale sebelumnya), dan Charles Esche (penulis, kurator, dan direktur Van Abbemuseum, Belanda) menjadi pemateri. Sesi ini dimoderatori oleh Enin Supriyanto (kurator dan pejabat pelaksana Simposium Khatulistiwa).

Banyak sekali detail materi yang masing-masing pemateri sampaikan, tetapi dalam tulisan ini saya hendak mengutarakan poin inti saja. Menyinggung perihal kawasan, sepenangkapan saya kawasan yang dimaksud adalah persoalan atau konteks wilayah tertentu sebagai latar belakang dari kerja seni yang sedang dioperasikan. Khatulistiwa (negara-negara di dalamnya) dapat dilihat sebagai sebuah kawasan yang terbentang luas dengan segala masalah dan tantangan yang dihadapi.

Charles Esche dalam presentasinya mengatakan bahwa Eropa selama ini nampak seperti hanya berkaca di depan cermin secara egois. Hanya diri mereka yang dilihat, tak ada yang lain. Berbagai penemuan teknologi dan ilmu pengetahuan oleh bangsa ‘yang dianggap tidak beradab’ dalam sejarahnya hanya diklaim bangsa Eropa untuk menciptakan orientasi terpusat yang universal. Kemudian sebuah proses panjang terjadi hingga muncul rasionalitas ala barat sebagai tolak ukur menentukan arah modernitas. Hasilnya? Masih ada pembagian antara negara dunia pertama dan dunia ketiga. Pandangannya ini terkuatkan ketika ia ikut berdinamika di Biennale Indonesia, khususnya Jakarta. Suatu kerja seni rupa yang berbeda dari barat. Seakan bersifat postmodern namun juga bukan postmodern. Hal ini ia perkuat dengan gagasan bahwa postmodern, selain tepat digunakan untuk kritik, menjadi kebuntuan serta revisi teoritis yang masih dalam bingkai modernisme. Sedangkan Biennale seri Equator memiliki misi yang besar untuk suatu perubahan solutif melalui kerja seni-budaya.

Selanjutnya Wok the Rock lebih banyak berbagi pengalamannya ketika menjadi kurator Biennale Seri Equator sebelumnya bersama Nigeria. Ia menceritakan dinamika suka dan duka yang dialami. Dari sulitnya menyamakan persepsi dengan seniman Nigeria, hingga sedikitnya dana yang dimiliki untuk menjalankan misi yang sedemikian ambisius. Ia juga menceritakan fenomena para seniman yang lebih tertarik untuk bekerja di Eropa atau Amerika, daripada di negara-negara sepenanggungan yang lebih layak dimitrakan. Ini membuktikan adanya pandangan Eropa-Amerika sentries hasil dari kolonialisme dan imperialisme, bahkan dalam diri segolongan seniman.

Pius Sigit, dalam presentasinya, lebih menjelaskan arah Biennale Equator kali ini. Ia mengawali dengan sebuah pengalaman pribadi yang cukup unik. Ketika ia tahu bahwa negara yang akan menjadi rekan adalah Brazil, ia lantas berpikir bagaimana caranya agar bisa sampai ke sana untuk melakukan proses negosiasi? Bahkan rute pesawat Indonesia-Brazil pun ternyata harus melalui transit di Inggris (baca: negara kaya). Pengalaman ini justru menjadi analogi untuk menjelaskan posisi negara-negara berkembang yang selalu berada di bawah intervensi negara kaya. Akan tetapi justru dari situasi semacam ini, arah Biennale Equator menjadi semakin kuat dan relevan untuk dioperasikan.

Memeriksa Kembali Praktik Seni Rupa Kontemporer dalam Bingkai Pertukaran dan Interaksi Transkultural
Sesi ini dibawakan oleh Jajang Supriyadi, seorang seniman dan pengajar di FDKV Universitas Widyatama, Bandung. Cukup berbeda dari kelas-kelas yang saya ikuti sebelumnya, kelas kali ini cukup berat karena banyak berbicara tentang konsep abstrak dan berani dalam dunia seni rupa kontemporer.

Jajang berusaha menyampaikan bahwa praktik seni rupa kontemporer selama dua dekade terakhir nampaknya telah bertautan dengan situasi regional hingga global. Tentu di dalamnya terdapat proses pertukaran dan interaksi transkultural. Bahkan, ia berpendapat bahwa justru terjadi pencarian imajiner melalui proyeksi lain. Serangkaian proyeksi tersebut menjadi refleksi utuh tentang diri.

Pertukaran dan interaksi transkultural semakin nampak ketika Jajang menggunakan konsep zona kontak. Praktik seni rupa kontemporer telah menghadirkan zona kontak; ruang untuk menafsirkan globalisasi dan kontestasi keberagaman. Ruang transkultural untuk mengatasi keterpilahan fragmentasi budaya yang heterogen.

Jajang juga mengatakan bahwa Biennale telah menjadi sebuah praktik seni rupa kontemporer yang mengandung kecenderungan di atas. Selain itu, Biennale Seri Equator dilihat sebagai usaha untuk menjadi antitesis dari determinisme budaya, dengan cara melihat ‘yang lain’. Lebih beraninya lagi, ia melihat adanya kecenderungan untuk melakukan kreolisasi dalam praktik seni rupa kontemporer. Strategi linguistik yang diadopsi untuk tujuan sama, yakni membangun kekuatan antar negara jajahan.

Pada Akhirnya
Melalui simposium ini tim Biennale Jogja mencoba memberi tahu kepada publik mengenai latar belakang serta arah dari Biennale seri Equator sebagai kerja seni yang kompleks. Satu poin yang saya garis bawahi adalah persoalan hubungan horizontal antara negara-negara berkembang sebagai sebuah upaya resistensi kultural terhadap modernitas yang tak kunjung memenuhi janji. Berkaca dari peristiwa politik Konferensi Asia Afrika 1955, hubungan antar negara jajahan menjadi kembali penting untuk diperjuangkan. Masing-masing bangsa khatulistiwa memiliki epistemologi sendiri untuk menjalankan roda kehidupannya. Melalui kerja di berbagai bidang, khususnya seni-budaya, kekuatan horizontal antar bangsa jajahan dibangun untuk menciptakan ‘modernitas kami’, bukan ‘modernitas mereka’. Yang menjadi lain adalah ketika upaya menghubungkan ini bukan berada di jalur politik, melainkan jalur seni-budaya. Seperti apa yang digagas oleh Walter Mignolo, dalam tulisannya yang berjudul The Darker Side of Modernity, seniman dan museum (atau kerja seni-budaya) memiliki peran penting untuk mengaplikasikan pemikiran dekolonial. Menjadi kondisi yang penting juga bahwa cara ini hanya bisa diwujudkan dalam operasi skala global. Jika saya hubungkan dengan simposium ini, maka bolehlah saya mengatakan bahwa Biennale seri Equator menjadi kerja seni-budaya sebagai resistensi kultural melawan universalisme pemikiran dan praktik modernisme barat di ranah global.

*Krisnawan Wisnu Adi, seorang mahasiswa tingkat akhir di FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sedang mengikuti Program Magang IVAA. Tulisan ini telah mengalami penyuntingan. Silakan unduh artikel ini dalam versi utuh di sini.

Kembali ke Buletin IVAA edisi Nov/Des 2016.