Category Archives: Activities

#SorotanArsip | Dinamika Festival Kesenian Yogyakarta Tahun 1989-2013

Oleh: Putri Alit Mranani

Tahun 2013 lalu, dalam rangka pembuatan buku “25 Tahun Festival Kesenian Yogyakarta: Refleksi, Retrospeksi, Reposisi,” IVAA mendapatkan banyak sekali arsip terkait Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Total 10.335 berkas digital terkumpul dan terarsipkan di IVAA. Arsip-arsip tersebut terdiri dari foto, video, audio, kliping media massa, poster, undangan, proposal terkait FKY sejak tahun 1989 sampai 2013. Selain merupakan koleksi dokumentasi IVAA, arsip lainnya diperoleh dari berbagai sumber diantaranya; Taman Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Daerah Yogyakarta, Komunitas Gayam 16, Keluarga Bagong Kussudiarjo, Dewan Kesenian Yogyakarta, Panitia FKY, Arief Sukardono, Timboel, Aji, dan Bambang Paningron.

Daftar inventaris arsip Festival Kesenian Yogyakarta dari 1989-2013 dapat dilihat dalam tabel berikut: http://bit.ly/arsipfky. Untuk mendapatkan file-file arsip FKY, silakan menghubungi alamat surel Arsiparis IVAA, archive@ivaa-online.org.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.

“Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi

Oleh: David Ganap

“Sebagai catatan, acara ini merupakan ‘pemanasan’, media perkenalan seniman-seniman terpilih perwakilan Indonesia,” ujar Dodo Hartoko, Direktur Biennale Jogja XIV. Puncak acaranya sendiri akan dilaksanakan pada 2-10 November 2017 mendatang. Dalam penyelenggaraan kali ini, Indonesia meminang Brasil sebagai partner ke-4 dalam seri Equator. Terdapat 27 seniman dari berbagai kota di Indonesia yang terpilih. Sementara, dari Brasil akan dipilih 10 seniman.

Brasil merupakan negara terjauh bila disejajarkan dengan posisi Indonesia dalam bentang garis khatulistiwa. Bila ditinjau dari segi kesamaan, sumber daya alam menjadi salah satu ciri utama dari kedua negara ini, terutama dalam hal keragaman hayati. Indonesia menempati posisi kedua tepat setelah Brasil di peringkat pertama dalam deretan negara dengan keanekaragaman hayati terkaya dunia dilansir dari news.unpad.ac.id. Selain itu kedua negara ini juga sama-sama memiliki populasi penduduk yang masif, dengan masing-masing estimasi lebih dari dua ratus juta jiwa.

Berangkat dari persoalan jumlah penduduk, Pius Sigit Kuncoro, kurator terpilih BJ XIV Equator #4 menegaskan bahwa populasi yang padat identik dengan rupa-rupa permasalahan. Brasil memiliki reputasi sebagai salah satu negara yang tingkat kriminalitasnya tertinggi di dunia. Akan tetapi Pius Sigit membaca Brasil melalui hubungan timbal balik manusia dengan ekosistem, masyarakat luas dengan lingkungan sekitar. Tentang kehidupan dilematis yang penuh bayang-bayang kecemasan karena hasrat yang tinggi untuk hidup yang tidak berbanding lurus dengan ketersediaan kebutuhan yang dikehendaki. Sedikit demi sedikit luas hutan semakin terpangkas dikarenakan pembangunan pemukiman. Hal sama terjadi juga di tanah Jawa di mana lahan persawahan kini berubah menjadi bangunan-bangunan rumah kaku yang serba monoton.

Dari persoalan di atas, penting bagi kita untuk sejenak merenungkan dampak dari kepadatan yang kian hari kian berkembang. Seperti di masa depan nanti, lingkungan masyarakat seperti apa yang akan tercipta dari kesesakan ruang yang ada? Apakah persoalan ini memiliki dampak psikologis bagi generasi anak-anak kita dikemudian hari? Lingkungan macam apa yang akan mereka tempati? Apakah kemudian minimnya lapangan pekerjaan di masa yang akan datang akan tetap menjadi isu populer?

Kembali ke persoalan teknis acara, bila dibandingkan dengan Venice Biennale ke-57 yang mengundang 120 seniman undangan dari lima puluh satu negara, Pius menjelaskan bahwa alasan kerjasama dengan Brasil sendiri adalah untuk menghadirkan sensasi keintiman yang eksklusif. Mengingat posisi Biennale Jogja yang merupakan pesta seni dua tahunan terpenting di Yogyakarta, maka seyogianya dibutuhkan lebih dari sekedar konsep yang matang sebagai landasan kolaborasi gagasan dengan negara anggota konstelasi geografis Amerika tersebut. Meskipun demikian, ketika ditanyai tentang tema, ternyata hingga saat ini belum ada isu spesifik yang dielaborasi menjadi objek pembahasan. Sepertinya keragaman hayati, populasi penduduk yang terus melesat hanya berfungsi sebagai pemantik untuk bisa masuk ke dalam dialog yang lebih privat dengan calon mempelai.

Metode yang digunakan kurator untuk penentuan tema bersifat lebih responsif dengan realita sehari-hari, mirip merangkai mozaik yakni mencari kepingan yang cocok untuk disematkan bersama. Dalam beberapa forum seni internasional belakangan ini, tema yang diperbincangkan sifatnya memang lebih universal. Salah satu alasannya adalah proses kerja kreatif seniman yang berkolaborasi dengan riset ilmiah para ilmuwan. Seniman di era kontemporer memiliki kecenderungan memulai pekerjaan kreatifnya dengan mencari permasalahan secara mandiri, kemudian membedahnya untuk melihat berbagai kemungkinan pemecahan masalah.

Sebagai contoh, dalam segi teknis ada perilaku eksperimental yang menjadi karakter seniman untuk menggali potensi media yang digunakan. Arin Dwihartanto, salah satu seniman peserta BJ XIV asal Indonesia bermain-main dengan resin untuk melukis di atas kanvas. Tidak berhenti sampai di situ, seniman lulusan FSRD ITB ini bereksperimentasi dengan serbuk vulkanik yang difungsikan sebagai pewarna bagi resin yang ia gunakan. Lantas yang paling menarik adalah hasil akhir dari karya Arin yang relatif tak terduga karena sifat resin sendiri yang berubah dari zat cair menjadi benda padat.

Berikut daftar nama seniman muda Indonesia yang terpilih menjadi peserta BJ XIV Equator #4, 2017: Adi Dharma a.k.a Stereoflow, Aditya Novali, Arin Dwihartanto Sunaryo, Cinanti Astria Johansjah, Faisal Habibi, Farid Stevy Asta, Gatot Pujiarto, Indieguerillas, Julian “Togar” Abraham, Kinez Riza, Lugas Syllabus, Made Wiguna Valasara, Maria Indriasari, Mulyana, Narpati Awangga a.k.a Oomleo, Ngakan Made Ardana, Nurrachmat Widyasena, Patriot Mukmin, Roby Dwi Antono, Sangkakala, Syaiful Garibaldi, Tattoo Merdeka, Timoteus Anggawan Kusno, Wisnu Auri, Yudha Kusuma Putera a.k.a Fehung, Yunizar, dan Zico Albaiquni.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#Sorotan Pustaka | Maret – April 2017

Oleh: Melisa Angela

Salam jumpa lagi di Rubrik Sorotan Pustaka. Rubrik ini dibuat untuk memberikan pemutakhiran kabar mengenai Perpustakaan IVAA. Bila Anda berkunjung ke RumahIVAA maka begitu memasuki pintu depan, maka Anda akan langsung menjumpai Perpustakaan IVAA di selasar kiri ruang publik IVAA. Di sana Anda bisa membaca-baca buku, katalog pameran seni rupa, majalah, jurnal, berbagai tulisan akademis tentang seni rupa Indonesia, dan koleksi komik indie kami. Namun untuk meminjam, Anda perlu mendaftar menjadi KawanIVAA yang keanggotaannya berlaku seterusnya tanpa kadaluarsa. Dalam seminggu, Anda diperkenankan meminjam dua buah buku. Apabila belum selesai membacanya, Anda bisa memperpanjang masa peminjaman untuk satu minggu berikutnya dengan cara memberitahu terlebih dahulu pustakawan IVAA, Santosa, melalui alamat email ivaa-service@ivaa-online.org atau menelepon RumahIVAA di nomor 0274 375262.

Jumlah koleksi Perpustakaan IVAA yang sudah tercatat ada sejumlah 12.052. Untuk menelusurinya Anda dapat membuka Katalog Perpustakan IVAA di tautan library.ivaa-online.org. Berita baik yang bisa kami kabarkan adalah pada dua bulan terakhir kami mendapatkan banyak sumbangan koleksi baru dari anggota perpustakaan dan rekan-rekan lain, yakni sekitar 350 koleksi baru.

Beberapa koleksi perpustakaan yang menarik perhatian kami telah diulas di dalam rubrik Sorotan Pustaka edisi kali ini. Yang pertama adalah buku/katalog seni fotografi dengan desain sampul yang memukau berjudul “Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese”. Brian Arnold, seniman fotografi asal Amerika Serikat – yang rupa-rupanya sangat mencintai kebudayaan Indonesia – menyusun buku ini. Dalam risetnya selama tiga tahun, beberapa kali Brian mencari data di IVAA; maka setelah menyelesaikan proyeknya ini, ia segera mengirimkan satu bukunya untuk bisa diakses publik di Perpustakan IVAA. Buku kedua yang kami ulas adalah buku program dari sebuah kolektif seniman muda di Yogyakarta, Ace House Collective. Kolektif yang juga mengelola sebuah ruang seni di Jalan Mangkuyudan ini nampaknya tak ingin program-programnya yang telah banyak bergulir terlupakan begitu saja seiring waktu. Di buku ini kita bisa menyimak narasi dan dokumentasi foto dari masing-masing proyek seni yang sekaligus menjadi karya bagi kolektif tersebut. Buku terakhir yang kami ulas adalah buku yang mencerahkan bagi pekerja yayasan seni nirlaba semacam kami. Buku ini berjudul “Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja,” diterbitkan oleh Arkom Jogja bersama INSISTPress. Betapa tidak, buku ini mengemukakan beberapa tegangan dan kegelisahan yang dihadapi para pekerja NGO, dengan berbagai tanggung jawab beserta dosa sosial yang tidak jarang berjalan-beriringan.

Di bawah ini adalah tautan menuju masing-masing ulasan buku, selamat membaca.


1.Identity Crisis:  Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese
Oleh: David Ganap

2.Ace House Collective Workbook
Oleh: Wibi Palgunadi

3.Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja
Oleh: Lisistrata Lusandiana


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Ace House Collective Workbook

Oleh: Wibi Palgunadi

Penerbit: Ace House Collective
Tahun: 2016
Bahasa: Inggris

Buku setebal 70 halaman ini merupakan buku program sebuah kolektif seniman seni rupa muda bernama Ace House Collective. Kolektif yang berdiri di Yogyakarta sejak 2011 ini banyak bergerak di wilayah konteks budaya pop dan budaya anak muda. Nama-nama seperti Rudy ‘Atjeh’, Uji Handoko Eko Saputro a.k.a Hahan, serta Gintani Nur Apresia Swastika adalah beberapa anggota dari Ace House Collective. Kebanyakan dari mereka merupakan satu angkatan di kampus ISI Yogyakarta serta teman nongkrong. Kemudian di 2014, mereka mengelola sebuah ruang fisik bernama “Ace House”, bertempat di Jalan Mangkuyudan nomor 41, Yogyakarta. Dalam mengelola ruang ini mereka menekankan pada pendekatan eksperimental dan eksploratif. Selain itu mereka juga menggali berbagai celah kemungkinan dalam seni rupa melalui berbagai program dan aktivitas, seperti presentasi diskusi, pameran, residensi hingga proyek seni lintas disiplin. Dan buku program ini semacam katalog dari kegiatan apa saja yang telah mereka lakukan. Namun sangat disayangkan saya kesulitan menelusuri buku ini maupun mencari tahu ada berapa banyak kegiatan yang terangkum di dalam buku program ini, karena di buku ini tidak dijumpai daftar isi.  Kata pengantar dan daftar nama penyusun buku ini pun juga tidak saya temukan. Bahkan saya merasa kesulitan mencari tahun kapan tepatnya buku ini dicetak.

Meski demikian di buku program ini kita dapat membaca dan melihat-lihat foto dokumentasi dari proyek ataupun program yang tercetus dari buah pikiran dari Ace House Collective, seperti misalnya “Tak Ada Rotan, Akar Punjabi” (bagian dari Jogja Biennale 2011), “Museum Realis Tekno” (ditampilkan dalam Jakarta Biennale 2013), “Three Musketeers Project” (2014), “Komisi Nasional Pemurnian Seni” (ditampilkan dalam Jogja Biennale 2016), dll. Beberapa dari proyek-proyek seni tersebut sudah pernah dibawa hingga kancah internasional yaitu ke Taiwan dan Korea Selatan.
Salah satu kegiatan menarik yang berhasil diselenggarakan oleh Ace House Collective adalah “Acemart,” yakni bagaimana mereka mampu menghadirkan konsep ruang pamer dengan kemasan minimarket. Karya seni dipajang sedemikian rupa menyerupai barang dagangan yang sering kita jumpai di minimarket waralaba yang menjangkiti banyak kota di Indonesia. Pastinya merupakan pengalaman tersendiri melihat karya seni dipamerkan berdampingan dengan jajanan bocah, gula pasir, kopi instan, deterjen, sikat gigi, dll. “Acemart” agaknya berusaha menjungkirbalikkan pandangan terhadap galeri seni rupa yang umumnya bernuansa ekslusif dan mewah.


*Wibi Palgunadi (l. 1995) tercatat sebagai mahasiswa semester dua Program Studi S1 Manajemen Tatakelola Seni di kampus ISI Yogyakarta. Saat ini Wibi sedang mengikuti program magang di bagian kajian arsip IVAA, terhitung sejak awal Maret 2017.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#SorotanDokumentasi Maret-April 2017

Oleh: Dwi Rahmanto

Sampai dengan pertengahan April 2017 Tim Dokumentasi tercatat telah merekam 36 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan sekitarnya. Tim Dokumentasi yang merupakan bagian dari Bidang Arsip IVAA dalam dua bulan ini dibantu beberapa pemagang dari Modern School of Design Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Gadjah Mada. Para pemagang ini melakukan kerja-kerja mulai dari peliputan, olah data, alih format, dan penyuntingan hingga dokumen tersebut siap diakses publik.

Dalam dua bulan ini kami juga menerima 2 tawaran kerja sama dalam hal media partner dan pendokumentasian acara yang dihelat oleh para mahasiswa seni rupa, antara lain pameran kolaborasi mahasiswa ISI-ITB bertajuk “Bloom in Diversity” di Sangkring Art Space, Yogyakarta. Kemudian ada pula acara tahunan Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, yakni “International Visual Art Exhibition Arteducare #8,” yang diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Tengah di Kota Solo. Pesta seni tahunan dari-oleh-untuk mahasiswa ini sangat akbar dan patut diacungi jempol, lantaran pesta seni ini mampu menghadirkan kontingen mahasiswa pendidikan seni rupa dari Universitas Negeri di seluruh Indonesia.

Kami juga menjalin kerja sama dalam pendokumentasian “Pameran Pra-Biennale” pada 20-25 Maret lalu di PKKH UGM. Pameran Pra-Biennale ini digelar khusus untuk mengawali perhelatan “Biennale Jogja XIV Equator #4” yang sedianya akan dihelat November mendatang. Mengiringi pameran ini terdapat pula acara-acara lain yakni konferensi pers, focus group dicussion antara kurator dengan seniman partisipan, dan juga acara sosialisasi dari Yayasan Biennale Yogyakarta.

Acara menarik dalam dua bulan ini antara lain pameran seniman kawakan Aming Prayitno yang digagas oleh Sarang Building III, kemudian juga beberapa pameran besar tahunan oleh Sanggar Dewata Indonesia di Jogja Gallery, serta Pameran Sanggar Sakato yang juga mengambil tempat di Jogja Gallery.

Dalam rubrik Sorotan Dokumentasi kali ini kami menghadirkan liputan dari sepilihan peristiwa seni rupa yang terjadi dalam dua bulan terakhir. Simak uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya di bawah ini.


a. Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!
Oleh: Grace Ayu Permono Putri

b. Muara Market, Kanal Baru Pemasaran Produk Seni di Solo
Oleh: Pitra Hutomo

c. “Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi
Oleh: David Ganap

d. Menjaring Kesan, Merakit Tema: Metode Kuratorial Biennale Jogja XIV Equator #4
Oleh: Annisa Rachmatika Sari

e. Dramaturgi Ruang Pamer Biennale Jogja XIV Equator #4
Oleh: Annisa Rachmatika Sari

f. Bloom in Diversity: Orkestrasi Rintisan Identitas Baru
Oleh: David Ganap


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Bloom in Diversity: Orkestrasi Rintisan Identitas Baru

Oleh: David Ganap

Malam itu, Sabtu, 25 Maret 2017 ketika ditemui di Bale Banjar Sangkring di sela-sela acara pembukaan pameran bertajuk “Bloom in Diversity”, Rain Rosidi selaku kurator memberi pendapat bahwa perbedaan ideologi perupa Bandung dan Yogyakarta sudah tidak lagi signifikan; justru pameran ini ingin melampaui pembahasan mengenai relasi dua kampus seni. Kedua kampus yang dimaksudkan Rain adalah Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta (FSR ISI Yogyakarta) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), ia mengatakan hal ini tak lain lantaran pameran tersebut merupakan hasil kerja sama mahasiswa kedua kampus seni rupa tertua di Indonesia itu.

Tercatat ada 30 mahasiswa FSR ISI Yogyakarta yang tampil sebagai tuan rumah, sementara itu, Bandung diwakili oleh 25 mahasiswa FSRD ITB. Adapun Pameran “Bloom in Diversity” ini merupakan kerja sama lanjutan. Kerja sama yang pertama diadakan 2014 lalu di Gedung YPK (Yayasan Pusat Kebudayaan) dengan mahasiswa FSRD ITB sebagai tuan rumahnya. Pameran di kota Bandung itu ditajuki “Equal Liberum” dengan mengusung pembicaraan tentang kebebasan yang sama rata atau sepadan. Pihak penyelenggara mengatakan bahwa keinginan untuk menjalin pertemanan di antara mahasiswa kedua kampus itulah yang membuat kerja sama ini dilanjutkan. Tujuan lainnya adalah memberikan ruang apresiasi terhadap sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap perkembangan seni rupa kini.

Kerja sama mahasiswa ISI-ITB sebetulnya bukan hal baru lagi. Di dekade 70-80-an ada sekelompok mahasiswa ISI-ITB yang menamai diri Seni Rupa Baru Indonesia yang menimbulkan polemik besar berkat eksplorasi medium berkaryanya yang masih tak banyak dikenal di waktu itu; namun justru di kemudian hari gerakan kelompok ini acap kali ditengarai memberi pengaruh besar kepada perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.

Kembali ke “Bloom in Diversity”, salah satu karya yang menarik perhatian saya adalah “Unboxing Box #1” dari Mohammad Zakiy Zulkarnaen. Karya berdimensi 15 x 20 x 35 cm ini berlatar gagasan tentang treatment dan pergeseran makna fungsionalitas kayu di masa sekarang. Dari segi ekologi, kayu memiliki fungsi yang fundamental bagi keberlangsungan hidup manusia. Tetapi pasca-manufakturing, sifat kayu yang semula hidup, natural, organik menjadi kerdil dan ‘terbunuh’. Zakiy menganalogikan karyanya dengan pola perilaku sosial yang sempat terkotak-kotakan oleh ideologi dangkal. Harapannya, melalui berbagai perubahan yang dinamis, sifat-sifat limitatif tersebut sekarang bisa lebih terbuka.

Bagaimanapun, secara kasatmata wujud identitas yang mereka suguhkan di pameran “Bloom in Diversity” mencerminkan realitas permasalahan hari ini – yang tidak lagi mempersoalkan corak lokal maupun global. Kesetaraan dalam berkarya menjadi daya hubung yang memicu lahirnya berbagai kemungkinan baru. Alhasil, semerbak aroma karya yang mekar dalam ruang pamer benar-benar adiwarna, tumbuh subur dalam keberagaman.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


*David Ganap (l.1996), mahasiswa Program Studi Tata Kelola Seni, ISI Yogyakarta kelahiran Manado ini tertarik dengan dunia penulisan terutama tentang seni. Selama magangnya di IVAA David lebih banyak dipasrahi pekerjaan mengulas hasil kerja dokumentasi dan koleksi perpustakaan.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Menjaring Kesan, Merakit Tema: Metode Kuratorial Biennale Jogja XIV Equator #4

Oleh: Annisa Rachmatika Sari

Memasuki tahun 2017, Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) mulai mempersiapkan perayaan seni rupa internasional, yakni Biennale Jogja XIV Equator #4. Serangkaian acara dihelat, mulai dari konferensi pers, pameran pra-Biennale hingga sosialisasi sekaligus peluncuran Newsletter “The Equator” Volume 5, No. 1, 2017. Uniknya, pada rangkaian tersebut tidak tersiar tema Biennale Jogja XIV Equator #4 dari Pius Sigit Kuncoro (kurator). Berulang kali Pius Sigit mewacanakan gagasan Biennale – “Kecemasan dan Harapan” melalui uraian hasil riset lapangan di Brasil, pemilihan seniman hingga studi pustaka atas kondisi sosial di Indonesia khususnya Yogyakarta, tanpa meleburnya dalam satu premis.

Pada tahun ini, Biennale Jogja bekerja sama dengan Brasil. Pemilihan tersebut meneruskan wacana tema Equator yang menetapkan tahun 2017 sebagai momen untuk berkolaborasi dengan salah satu negara di Amerika Selatan. Wahyudin dan beberapa pengamat seni lain menakar bahwa Biennale Jogja XIV Equator #4 mampu merekatkan kembali hubungan antara Brasil dan Indonesia yang pernah terputus.

Di sisi yang lain, Pius Sigit menyoroti hubungan Indonesia dan Brasil tidak hanya berada di ranah yang terlihat – Biennale Sao Paulo 1951, melainkan juga pada iklim yang mencetak metode pertahanan hidup secara alamiah. Terlebih karena persoalan iklim ini, diperkeruh dengan masalah sejarah bangsa yang membentuk identitas dari pertahanan hidup tiap negara. Masing-masing negara memiliki bayangan kecemasan yang dicoba untuk diselesaikan yang teraplikasi pada bentuk tata kota, perayaan, dan hingga cara memilih benda pertahanan diri.

Perjalanan Pius dari Brasil hingga kunjungan pribadi ke beberapa seniman terpilih, menghasilkan satu konsep dramaturgi pada ruang pamer. Hal ini kemudian dibicarakan kembali dengan para seniman. Ia berupaya mengakomodasi kesan-kesan dari para seniman terpilih dan meramunya menjadi satu tema yang terpublikasi. Pius menggunakan metode aspiratif dalam membangun tema Biennale Jogja XIV Equator #4. Menarik seniman menjadi subyek perakit tema. Akan tetapi sejauh mana metode kerja ‘dari bawah’ atau akomodatif ini mampu mengakomodasi keseluruhan proses kreatif dan kolaboratif antara seniman dan kurator, antara seniman Indonesia dan seniman Brasil, serta yang tidak kalah penting, bagaimana metode kerja ini mampu memastikan kelahiran karya efektif sebagai medium komunikasi antara seniman dan masyarakat?

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja

Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sebuah Renungan di tengah Pertempuran Politik Harian

Judul Buku: Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja
Penulis: Marsen Sinaga
Pengantar: Yuli Kusworo, Saleh Abdullah
Penyunting: Prima S. Wardhani
Ilustrator Sampul: Lintang Rembulan
Edisi: I, Januari 2017
Penerbit: INSISTPress & ArkomJogja

“Kekuatan-kekuatan kapitalisme itu berjuang mendefinisikan semua aspek kehidupan harian setiap orang seturut bayangan idealnya sendiri. Dia diam-diam mendefinisikan apa yang kita sukai, benci, nikmati, kagumi; dia menuntun kita dengan bujuk rayu iklan tentang apa yang hebat, apa yang keren, dan bagaimana semestinya kita menghabiskan uang dan memakai waktu luang kita. Musuh kita, kapitalisme neoliberal itu, bukan melulu ide atau konsep, melainkan juga mesin pembentuk kebiasaan (habit) dan budaya (culture) yang sistematis dan canggih. Pengaruhnya merasuk jauh dan dalam pada relung-relung sanubari setiap orang.” …  (hal. 105)

Penggalan dari sebuah paragraf di atas sengaja saya kutip untuk pembuka, karena spirit tersebut beberapa kali saya temukan di buku setebal 162 halaman ini. Bukan semata asumsi, pemaknaan di atas merangkum cara baca kita dalam melihat siapa dan bagaimana musuh kita bekerja.

Dibuka dengan dua pengantar yang tidak kalah reflektifnya oleh Yuli Kusworo dan Saleh Abdullah, buku ini terdiri dari himpunan beberapa artikel yang berupaya merefleksikan tiap elemen kerja yang hadir dalam proses kerja pengorganisasian yang mengagendakan perubahan sosial. Setiap elemen yang saling menghidupi dalam kerja pengorganisasian dibongkar, dipertanyakan ulang dan diceritakan, sebagai pembelajaran. Kata kunci dari semua ulasan dan kisah dalam buku ini minimal selalu berupa dua hal; yakni refleksi dan pembelajaran bersama.

Bagi pekerja yang kesehariannya beririsan dengan pengorganisasian ataupun terlibat dalam pengelolaan komunitas yang utamanya bergerak bukan untuk profit, membaca buku ini seperti berbincang dengan diri. Sekali dalam dua atau tiga paragraf, kita akan dibawa meloncat keluar dari teks, karena kita akan kontekstualisasikan dengan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Mengapa demikian? Karena buku ini mendaftar beberapa tegangan dan kegelisahan yang dihadapi para pekerja NGO, dengan berbagai tanggung jawab beserta dosa sosial yang tidak jarang berjalan-beriringan.

Terdapat beberapa poin yang dijadikan kategori pembahasan, di antaranya ialah; dinamika masyarakat dalam politik ruang (pembangunan) dan dinamika masyarakat atau komunitas terdampak pembangunan dengan kelas menengah. Landasannya jelas, bahwa rumah, lahan atau tempat di mana kita hidup, bukan semata tempat atau ruang fisik, namun juga kehormatan. Di sisi itulah dimulai pembicaraan soal ruang, tidak berhenti pada yang fisik, namun yang mental dan kultural. Pada poin ini, politik identitas menjadi bagian tak terpisah dari definisi ruang sebagai arena kontestasi. Tepat di bagian ini juga, persoalan pengorganisasian juga tidak cukup dibicarakan dengan kajian konteks, namun juga pembicaraan soal posisi subyek dan bahasa.

Dari tiap pengalaman refleksi yang ditorehkan di tiap lembarnya, nampak suatu usaha untuk menguak kontradiksi dari rezim yang menguasai keseharian dari pekerja NGO. Dari rezim makro kapitalisme neoliberal beserta turunannya; yang mewujud melalui rezim manajerialisme, politik pendanaan hingga pola konsumsi. Akhir kata, membaca buku ini, seperti diajak untuk selalu menakar tiap sikap, entah berupa optimisme ataupun pesimisme pada sebuah perubahan; agar terhindar dari pembusukan yang dirayakan!


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese

Oleh: David Ganap

Penulis: Brian Arnold
Pengantar: Aminuddin Th. Siregar
Penyunting: Ellen Avril
Ilustrator Sampul: Diandra Galih
Edisi: I, Februari 2017
Penerbit: Afterhours Book (Lans Brahmantyo)
Bahasa: Inggris
Halaman: 134

Buku berjudul “Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese” adalah satu dari hasil akhir penelitian Brian Arnold selama tiga tahun tentang fotografi kontemporer di Pulau Jawa. Hasil lain dari penelitiannya adalah pameran dengan judul sama di Herbert F. Johnson Museum of Art di Universitas Cornell yang dibuka awal Februari lalu. Sehingga buku ini bisa juga disebut sebagai katalog dari pameran tersebut. Sebagai kuratornya, Brian memilih sederet nama seniman Indonesia untuk diikut sertakan karyanya. Ada 10 seniman yang tercatat di dalam buku ini: Krisna Murti, Jim Allen Abel, Wimo Ambala Bayang, Angki Purbandono, Dito Yuwono, Deden Hendan Durahman, Henrycus Napit Sunargo, Arum Tresnaningtyas Dayuputri, Amran Malik Hakim, dan Tino Djumini. Tak kalah menarik, ada catatan pendek dari sejarawan seni rupa Aminuddin Th. Siregar yang memaparkan sejarah seni fotografi di Indonesia yang bisa dijumpai di bagian akhir buku ini.

Brian Arnold, seorang seniman fotografi yang tinggal di New York, mengajar seni di Alfred University dan beberapa universitas lain di Amerika Serikat. Brian yang pada mulanya mendalami etnomusikologi jatuh hati pada fotografi untuk pertama kalinya saat berada di Indonesia. Tak hanya hanya itu, kesempatannya untuk belajar gamelan di Jawa waktu itu juga membuatnya jatuh hati pada kebudayaan Indonesia. Petualangan studinya di tahun 1992 tersebut berdampak signifikan bagi penemuan identitas daya cipta dan kesadaran intelektualnya di kemudian hari.

Menyadari betapa kompleksnya perbedaan atmosfir negeri Paman Sam dan Ibu Pertiwi, Brian memprakarsai riset histori mengenai latar belakang dan dampak kolonialisme, serta peran kesenian dalam proses pembangunan peradaban. Riset tersebut mengerucut pada skeptisisme hebat atas fotografi yang bertahan selama beberapa dekade pada negara-negara bekas jajahan yang baru mekar. Masyarakat di era tersebut, dalam kondisi yang traumatis berspekulasi bahwa fotografi terlalu kebarat-baratan dan kerap dimitoskan sebagai mesin kekuatan kolonial.

Berbicara tentang jati diri bangsa, sudut pandang yang Brian gunakan sebagai pendekatan terhadap imaji arsipelago hari ini adalah konsorsium pegiat seni foto Indonesia dengan berbagai materi karya yang representatif. Salah satu di antaranya adalah trilogi “Uniform Code” milik Jim Allen Abel. Jimbo, sapaan akrabnya menarasikan seragam sebagai konsep identitas yang cenderung taksa. Ambiguitas yang ia suarakan berlatar kesadarannya tentang fungsi seragam sebagai “kamuflase” yang mampu menyamarkan sifat personal suatu individu ke dalam kejamakan komunitas.

Untuk memperjelas, Jimbo mengisahkan insiden jenaka ketika dia terpaksa dicegat polisi atas perkara yang tidak begitu penting. Dalam suatu kesempatan, ia mengendaraai sepeda motor tanpa atribut proteksi standar yang berlaku. Saya membayangkan petugas yang menyaksikan momentum ini sumringah merespon kelakuan Jimbo. Tanpa basa-basi, Jimbo dianggap melanggar prosedur keamanan berkendara. Jimbo yang merupakan anggota Mes 56, kolektif seniman fotografi, membaca peluang konseptual dari peristiwa ini. Dia menyadari unsur metaforis tentang nilai dari seragam korporat. Ketika ia berargumentasi dengan oknum aparat yang bersangkutan, ia mengenali anggota kepolisian negara tersebut sebagai seorang pribadi, insan manusiawi dengan kehidupan personalnya dibalik fungsi seragam yang ia gunakan. Akan tetapi, dalam waktu yang relatif berdekatan, ketika ia mencari aparatus negara tersebut, seketika juga identitas pribadi yang tadinya ia kenali, tersublimasi menjadi komponen dari pasukan pengayom masyarakat dalam citra divisi yang utuh.

Pada akhirnya melalui pameran ini, Brian Arnold kembali menegaskan multikulturalisme sebagai penanda eksistensi masyarakat modern. Di mana ‘pencangkokan’ budaya (apalagi di era digital ini) tidak lagi dibatasi oleh persoalan spasial dan waktu. Di samping itu juga memperkokoh makna simbolik bahasa visual sebagai bahasa universal yang mampu menembus sekat-sekat leksikal. Segala proyek serta dedikasi Brian Arnold terhadap Indonesia semakin memperkaya khazanah pemikiran kita tentang citra bangsa ini di masa lampau, saat ini, dan gambaran kemungkinan masa yang akan datang.


*David Ganap (l.1996), mahasiswa Program Studi Tata Kelola Seni, ISI Yogyakarta kelahiran Manado ini tertarik dengan dunia penulisan terutama tentang seni. Selama magangnya di IVAA David lebih banyak dipasrahi pekerjaan mengulas hasil kerja dokumentasi dan koleksi perpustakaan.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Dramaturgi Ruang Pamer Biennale Jogja XIV Equator #4

Oleh: Annisa Rachmatika Sari

Selasa, 22 Maret 2017, Yayasan Biennale Yogyakarta menggelar Focus Grup Discussion di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada (PKKH UGM) dalam rangka menentukan tema Biennale Jogja XIV Equator #4. Acara ini dihadiri 27 seniman pilihan kurator biennale, Pius Sigit Kuncoro bersama tim kerjanya. Beberapa tawaran ide, mulai dari dasar seleksi hingga konsep pameran yang mengandung misi membangun harapan dalam situasi ketidakpastian disampaikan di forum itu.

Seleksi seniman didasarkan pada dua perbedaan karakter negara – Indonesia dan Brazil – dalam berekspresi, yang disebabkan latar belakang sejarah kehidupan masyarakat.

Pius Sigit menawarkan konsep pameran yang menduplikasi fase psikologi manusia ketika berhadapan dengan realitas. Hal ini direalisasikan melalui pembagian ruang – gedung Jogja Nasional Museum (JNM) – ke dalam tujuh wilayah.

Wilayah pertama berada di lantai pertama sayap kiri gedung JNM. Wilayah ini dimaknai sebagai ruang penampakan realitas semu manusia. Ruang ini ditujukan untuk seniman yang memiliki karya berkarakter glamour, menyenangkan, dan menggoda.

Wilayah kedua dimaknai sebagai ruang yang menunjukkan sisi terdalam dari bersenang-senang, yakni sebuah kenyataan hidup. Ruangan menampung karya-karya yang menyuguhkan sudut pandang seniman dalam tema keras, radikal, dan mengandung nilai-nilai penolakan. Wilayah kedua berada di lantai kedua sayap kiri gedung JNM.

Puncak dari keseluruhan rangkaian ruang pamer berada di wilayah ketiga, keempat, dan kelima. Ketiganya direncanakan untuk menghadirkan perasaan putus asa, pasrah, dan penghiburan dalam kesenyapan.

Wilayah ketiga mengusung karya-karya yang bertema keputusasaan atas kenyataan hidup yang keras, radikal, dan tertolak. Wilayah keempat, meneruskan perasaan putus asa menjadi pasrah. Kemudian di wilayah kelima, perasaan putus asa dan pasrah diredakan melalui karya-karya bertema menghibur. Ketiga tema tersebut di tampilkan pada lantai tiga gedung JNM.

Setelah selesai dengan persoalan batin, pengunjung pameran diarahkan untuk masuk ke dalam wilayah keeenam. Wilayah keenam, direncanakan menjadi ruang yang membangun kesadaran baru pada diri pengunjung melalui karya-karya yang memiliki kesan menggairahkan.

Pengalaman bergairah kemudian diteruskan menuju suasana haru, melalui karya-karya di wilayah tujuh.

Menurut Pius Sigit, konsep pembagian ruang bertujuan untuk membangun pengalaman menonton sebagai pemurni diri. Pemurnian adalah pengalaman penonton ketika memasuki ruang pamer dan melupakan persoalan pribadi. Pius menyebutnya sebagai ‘drama pelarian dari realitas’. Paparan di atas memancing pertanyaan dari salah satu perupa yang mempertanyakan cara dalam merealisasikan konsep yang ditawarkan. Adapun sampai dengan berakhirnya FGD di hari tersebut, nampaknya forum belum berhasil mendapatkan tema Biennale Jogja XIV Equator #4 itu sendiri.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Annisa Rachmatika Sari (l.1990) mahasiswa semester IV Program Studi Pengkajian Film di Pasca-sarjana ISI Surakarta. Nisa magang di bagian program publik IVAA sejak akhir Maret lalu.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2017.