Category Archives: Activities

Pelatihan Menulis Wikipedia: Bias Gender Dalam Seni

Oleh: M.S Fitriansyah (Kawan Magang IVAA)

Sebelum 23 maret 2018, Wikipedia Indonesia baru memiliki 46 halaman pelukis dan pematung Indonesia. Terlebih hanya ada tiga profil seniman perempuan. Beranjak dari kegelisahan bahwa pengetahuan harus bisa diakses siapapun secara bebas dan gratis, Wikimedia selaku lembaga yang menangani produksi artikel di laman wikipedia indonesia, bersama IVAA dan Kunci Cultural Studies mengadakan acara untuk menaikan seniman perempuan Indonesia ke permukaan. Kemudian digelarlah kegiatan Edit-A-Thon: Wikipedia Seni dan Perempuan. Kegiatan tersebut berlangsung di Rumah IVAA. Pemilihan tema perempuan pelaku seni tidak hanya pertimbangan akan kurangnya jumlah halaman tentang seni di Wikipedia Indonesia, namun juga mempersoalkan bias gender dalam dinamik dunia seni.

Kegiatan tersebut dihelat pada Jumat, 23 Maret 2018 dan diikuti sekitar 21 peserta umum. Lisis mengungkapkan latarbelakang acara tersebut adalah berangkat dari penulisan sejarah seni rupa yang bias gender. “Acara ini bagi IVAA sebagai pengingat, karena kita mengarsipkan dan lumayan berpartisipasi dalam penulisan sejarah. Kalau kita tidak diingatkan, penulisan sejarah seni rupa Indonesia itu sexist, nah itu lumayan bahaya,” ungkapnya,” saat memberi sambutan pada acara tersebut, Jumat (23/3). Lisis berharap bahwa acara tersebut tidak cuma di sini, tetapi didorong kelanjutannya oleh semua pihak. Dalam acara ini IVAA bertindak sebagai fasilitator ruang, dan referensi baik buku maupun tautan digital.

Argumen juga dilontarkan Gita dari perwakilan Kunci. Gita berpendapat bahwa peran perempuan di dalam ranah seni seperti dilupakan begitu saja. “Mungkin standar-standar yang diciptakan dunia seni cukup patriarkis,” katanya. Bagi Gita dunia secara umum membuat perempuan tidak dapat berperan aktif sebagai seniman, misalnya karena urusan-urusan domestik. Harapannya, lanjut Gita, selain menulis lebih banyak seniman perempuan, juga harus terus bersama-sama memikirkan aktifitas kehidupan sehari-hari, misalnya pembagian kerja domestik tadi.

Peserta cukup antusias dalam mengikuti alur kegiatan yang dipandu oleh mentor dari wikimedia. Acara yang berlangsung selama 4 jam ini menarik perhatian khalayak luas, dari berbagai kalangan dan latar belakang. Peserta yang hadir pun tidak hanya datang dari perempuan, tetapi ada pula kaum adam ikut serta dalam kegiatan tersebut. Setelah peserta berlatih step by step menulis di Wikipedia Indonesia, dilakukan diskusi pendek yang membahas peran seniman perempuan di Indonesia.

Obrolan berjalan cukup intens ketika terjadi tarik menarik soal konsistensi penggunanaan istilah, apakah mau menggunakan seniman perempuan, pelaku seni perempuan, perempuan pelaku seni, ataru justru seniwati. Akhirnya setelah berdiskusi, istilah yang disepakati adalah perempuan pelaku seni. Dengan pertimbangan bahwa istilah pelaku seni mencakup lebih banyak profesi di bidang seni, tidak hanya seniman namun juuga kurator, manajer seni, wartawan dan lain-lain. juga meletakkan kata perempuan di depan sebagai rujukan orangnya, bukan orientasi karyanya. Acara berakhir sekitar pukul 17.00 WIB.

Perempuan pelaku seni yang di-input adalah sebagai berikut: Yustina Neni, Tamara Pertamina, Mary Northmore, Tintin Wulia, Mia Bustam, Marida Nasution, I GAK Murniasih, Nunung WS, Erna Pirous, Siti Adiyati, Hildawati Soemantri, Kelompok Nuansa, Umi Dachlan, Edith Ratna, Trijoto Abdullah.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Mozaik Mimpi Koalisi Seni

Oleh: Hardiwan Prayogo

Berangkat dari semangat untuk melakukan perubahan dan perbaikan ekosistem kesenian di Indonesia, Koalisi Seni Indonesia (KSI) pada 17-18 Maret 2018 berlokasi di Westlake Resto mengadakan pertemuan yang diberi tajuk Mozaik Mimpi Koalisi Seni. Dengan agenda utama berupa Focus Group Dicussion (FGD) antara anggota KSI di area Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. IVAA diwakili oleh Lisistrata Lusandiana dan Hardiwan Prayoga berkesempatan untuk terlibat dalam diskusi antara berbagai sektor pelaku seni ini.

Pada Sabtu 17 Maret 2018, diskusi terbagi dalam beberapa sesi, pertama adalah sesi “Percakapan #1 Pembelajaran”. Tujuan dari sesi ini adalah mendengar capaian dan strategi masing-masing pelaku seni, baik individu maupun kolektif dalam praktek kesenimanannya. Lingkungan seni, khususnya di Yogyakarta, tidak membentuk kultur/ perilaku seniman yang berpikir panjang. Dengan kata lain strategi yang ditempuh adalah kerja-kerja yang taktis, bukan strategis. Maka secara organik akan lahir jarak antara kebutuhan pelaku seni yang jangka pendek dengan logika kerja KSI yang cenderung jangka panjang. Kemudian diskusi bergulir hingga kondisi bahwa sebenarnya sumber dana selalu ada di sekitar kita, salah satunya adalah dana desa. Perlu dibangun kesadaran bahwa persoalan mengenai dana tidak melulu harus diselesaikan di pusat. Dengan demikian, pelaku seni sekaligus akan menjadi salah satu pilar yang aktif dalam struktur masyarakat, tampil sebagai salah satu kontributor utama dalam sektor riil. Para anggota berharap bahwa KSI menjadi jembatan atau platform akan akses ini. Bahwa seniman bukan hanya soal berkarya, tetapi juga memikirkan posisi sosial dari kerja infrastruktur.

Sesi kedua berjudul “Percakapan #2 Inspirasi”. Setelah saling berbagi tentang bagaimana selama pelaku seni bertahan hidup dengan berbagai macam cara, para anggota mencoba mencari bentuk ideal dari cara kerja KSI yang implementatif dengan kebutuhan anggotanya. Diawali dengan kesadaran bahwa kesenian kini semakin multidisiplin, KSI perlu menjadi wadah yang inklusif antar anggota untuk saling berbagai pengetahuan dan potensi. Pada dasarnya pelaku seni dimanapun senantiasa membutuhkan jejaring dalam lingkup regional, terutama dalam rangka memperkaya refrensi tekstualnya. Lebih lanjut agar semua sektor kesenian ikut terlibat dalam peningkatan daya apresiasi seni dari publik.
Sesi ketiga hari pertama ini ditutup dengan sosialisasi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan (UUPK). Undang-Undang ini adalah kebijakan yang secara aktif dikawal oleh KSI dalam 5 tahun terakhir. Disampaikan bahwa UUPK bersifat ofensif, dengan tidak menganggap globalisasi sebagai ancaman, namun justru peluang untuk pengkayaan teks dan jejaring. Objek UUPK ada 10, yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat, ritus, pengetahuan tradisi, seni, bahasa, teknologi tradisional, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. Pemilahan ini tidak bersifat kategoris, tetapi tagging, artinya satu produk/bidang bisa terdiri lebih dari satu objek. UUPK menggunakan logika pemajuan, bukan pelestarian karena menuntut untuk dikembangkan, tidak hanya dilestarikan. Dalam hal ini yang dikembangkan adalah relasi antara kajian dan penciptaan, memberikan kesempatan berkesenian yang sama, dan lain-lain.

UUPK dimulai dengan dokumen perencanaan bernama Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang disusun dari partisipasi masyarakat di tingkat kabupatan/kota, lalu diajukan ke tingkat provinsi, kemudian akan dikumpulkan dalam satu rumusan strategi kebudayaan nasional. Ini adalah tahap pertama dari implementasi UUPK berskala nasional namun dilaksanakan berdasar pada potensi dan urgensi setiap daerah.

Hari kedua, 18 Maret 2018, dimulai dengan sesi “Percakapan #3 Aspirasi”. Sesi ini membagi peserta dalam kelompok diskusi yang lebih kecil, 2-3 orang per kelompok. Antar kelompok diberi tugas berbeda yang secara garis besar menyusun strategi dan program ideal KSI untuk periode 2017-2022. Kelompok yang bertugas merumuskan strategi mengawali dengan bahasan bahwa secara umum publik seni masih canggung untuk mengartikulasikan bahwa seni adalah klaim politik. Berkaca pada fakta bahwa seni di Indonesia tidak pernah kritis secara jumlah, menunjukkan bahwa persoalan tidak terletak pada sumber dana, tetapi keberanian publik seni mengeksplisitkan klaim politiknya. Dalam kerangka ini KSI perlu menjadi lembaga yang juga bisa mengadvokasi, memberi perlindungan dan solidaritas jika ada anggotanya yang tertekan akibat klaim politik tertentu. Diakui bahwa kultur berkoalisi secara organik sudah tumbuh di daerah-daerah, terutama daerah yang infrastruktur seninya terbilang minim. Dengan kata lain KSI perlu mendorong sosialisasi paralegal, agar anggotanya memiliki kesadaran hukum. Di sisi lain, KSI sangat perlu untuk memperluas/ menambah anggota, dengan tidak melupakan syarat yaitu jejaring yang solid. Kemudian secara program, KSI perlu membuat peta, atau mapping kebutuhan infrastruktur seni setiap daerah, dan menyasar tokoh strategis sebagai sasaran audiensi. Dengan asumsi bahwa setiap responden akan aktif dan dapat mengidentifikasi problem, yang lebih penting adalah melakukan campaign apa keuntungan terbesar dari anggota yang aktif.

Hari kedua yang sekaligus menjadi hari penutup ini berlangsung dengan lebih cair. Semua gagasan yang mencuat dalam 2 hari ini akan dijadikan pegangan oleh para pengurus KSI. Pegangan agar KSI menjadi lembaga inklusif yang menjembatani keterbatasan dan kepanjangan tangan dari publik seni di Indonesia. KSI sendiri melanjutkan agenda serupa di daerah lain, yaitu Temu Anggota Jakarta, Jawa Barat dan Sumatra, dan Temu Anggota Indonesia Timur dan Bali.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

#sorotanpustaka Januari-Februari 2018

Oleh: Santosa

Dalam dua bulan ini perpustakaan IVAA berbenah, melakukan penataan kembali, membuat sign system dan merapikan koleksi agar semakin mudah dan cepat ditemukan. Tiga orang kawan magang membantu dalam proses entri data ke dalam Senayan Library Management System (SLIMS)  dan meletakkan buku sesuai dengan kode rak-nya masing-masing. Sedangkan publik, yang mengakses koleksi pustaka memiliki kecenderungannya, Beberapa koleksi yang banyak diakses dalam dua bulan ini diantaranya ialah referensi seputar fotografi, film, teori dan sejarah seni, biografi seniman terutama Affandi.  Ada juga yang membaca ataupun meminjam dengan topik – topik tertentu, umumnya sebagai bahan penulisan skripsi hingga tesis. Topik mengenai Desember hitam 1974 dan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) masih banyak dicari. Dengan tinjauan-tinjauan buku serta katalog yang melingkupinya seperti, Biennnale Jakarta, Outlet: Peta Seni Rupa Yogyakarta, Sejarah Seni Rupa Indonesia, Lekra Tak Membakar Buku, Tuan Tanah Kawin Muda. Topik lain yang berkenaan dengan mural, yang dikaji antara lain Katalog Mural Sama Sama, Mural Rasa Jogja, Kode Art Project, buku tentang ruang kota, Jalan Seni Jalanan Yogyakarta, dan  beberapa skripsi berkenaan dengan mural dan pertarungan  seni di ruang publik.

Untuk tambahan pustaka kali ini berdasar jenis terdapat 15 Buku, 3 Jurnal, 25 Majalah dan 55 Katalog. Sedangkan berdasar subyek terdapat Performance Art, Film, Musik, Ilmu Sosial, Seni Rupa. Dalam tambahan pustaka baru ada 3 yang kita tampilkan ulasannya di sini, pertama “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)”, kedua buku kumpulan tulisan “Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968 – 2017”. Kemudian yang ketiga adalah “Journal Southeast Of Now Directions in Contemporary and Modern Art In Asia” No 1 tahun 2017. Khusus untuk buku ketiga sorotan ditulis dalam bahasa Inggris oleh kontributor Angela Wittwer.

Oleh: Santosa, Eka Chintya Putri, dan Angela Wittwer

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN PUSTAKA] Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968-2017

Penulis; Bambang Bujono
Editor: Ardi Yunanto
Esai pengantar: Hendro Wiyanto
Peneliti dan pengarsip: Berto Tukan
Editor bahasa: Ninus D. Andarnuswari
Desain: Andang Kelana
Diterbitkan oleh Yayasan Jakarta Biennale
Cetakan pertama, November 2017
Tebal: xxxii + 576 hlm; 13,8 x 20,3 cm

Oleh: Santosa

“Melampaui Citra dan Ingatan” adalah kumpulan tulisan Bambang Boejono dari berbagai media massa, buku, katalog ataupun makalah dirangkum dan diklasifikasikan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan seni rupa tahun 1968 hingga 2017, total 432 tulisan Bambang Boejono terkumpul hingga Oktober 2017. Terseleksi 101 tulisan yang kemudian dibagi dalam lima bab, disajikan dalam buku setebal dari 576 halaman. Tulisan-tulisan dalam buku ini disusun secara diakronik dan diberi kerangka bab sebagai bagian dari pembingkaian esai.

Bab pertama membicarakan peristiwa seni rupa selama lebih dari empat dekade- khususnya di Jakarta- diawali apresiasi lukisan Affandi dengan revolusi bentuk dan penemuan teknik sebagai bagian dari seni lukis modern. Pembaca juga disuguhi cara analisis, telaah karya dengan beberapa contoh pelukis dengan sapuan yang khas seperti Srihadi Sudarsono, Fadjar Sidik, dan Nazar di Pameran Seni Lukis Indonesia 1972.

Bab kedua mencermati karya pameran dan seniman secara urut. Mengenali sosok yang berpengaruh dalam sejarah seni rupa, dari pameran kelompok, pameran tunggal dan beberapa tonggak perjalanan seni rupa seperti Pameran Besar Seni Lukis Indonesia, Biennale Jakarta, momentum yang disebut melahirkan Seni Lukis Modern, Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), hingga Seni Rupa Kontemporer.

Dalam bab-bab selanjutnya, buku ini menggambarkan landskap sejarah seni rupa, khususnya di Jakarta sejak Taman Ismail Marzuki (TIM) menjadi pusat seni rupa di Jakarta. Perkembangannya mulai dari sejak masih didominasi lukisan dan patung, sampai muncul objek instalasi, video art hingga new media art. Juga perjalanan pameran yang dulunya dikerjakan secara mandiri oleh seniman dan galeri, hingga kini populer profesi kurator sebagai pengawal sebuah pameran.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN PUSTAKA] Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)

Judul Buku : Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)
Penulis : Aiko Kurasawa, Ajip Rosidi, Akba Yumni, Bonnie Triyana, Fuad Fauji, Hafiz Rancajale
Penerbit : Forum Lenteng
Tebal : xxiv + 112
Ukuran : 14,8×21 cm

Oleh: Eka Chintya Putri 

Sebuah memoar seorang tokoh yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengawetkan wacana dan memaknainya kembali sebagai sumber sejarah perfilman Indonesia, dengan buah karyanya yaitu Sinematek Indonesia. Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)” adalah buku yang menceritakan Misbach Yusa Biran, tokoh yang memutuskan berhenti sebagai sutradara dan memilih menjadi pengarsip film.

Misbach Yusa Biran, lahir di Rangkasbitung 11 September 1933. Saat di bangku sekolah, Misbach sudah mempunyai jiwa kesenimanan. Banyak tokoh kebudayaan Indonesia yang sudah Misbach jumpai, yang kemudian mendorongnya untuk menghasilkan beberapa karya dan masuk di majalah Merdeka. Tahun 1952, Misbach yang kala itu masih SMA berusaha masuk dunia film. Usaha yang ia lakukan sendiri dan dianggapnya sebagai sesuatu yang agak nekat. Tekad Misbach tidak pernah padam untuk dapat terjun ke dunia film. Dorongan Misbach di dunia film, banyak dilatari oleh film Pulang karya Basuki Effendi. Pekerjaan pertama Misbach di dunia yaitu pencatat skrip pada film Nya’ Abbas Akup, berjudul Heboh (1954).

Menurut pemikiran Misbach, Sinematek Indonesia (SI) menjadi pusat pengarsipan film pertama sekaligus terbesar di Asia Tenggara. SI tidak bisa dilihat hanya sebagai ruang penyimpanan artefak bersejarah, namun sebagai ruang pelestarian sejarah dan film Indonesia. Karena sejarah jika tidak dikelola secara baik, situasinya memburuk dan mengancam sejarah itu sendiri. SI sendiri merupakan lembaga ilmiah yang bergerak dalam kegiatan pengarsipan film, dengan cara dokumentasi, perpustakaan dan penelitian. Buku ini memiliki 2 sudut pandang dari generasi yang berbeda. Tujuannya, untuk mengetahui bagaimana cara memaknai arsip dan gagasan film Indonesia. Dari hal tersebut didapat sebuah benturan dan kolaborasi dengan mengkonstuksikan masalah, kemudian menafsir catatan sejarah untuk kemungkinan yang terjadi dimasa kini. Sebagai kaum terpelajar, diharapkan generasi muda dapat melanjutkan cita-cita Misbach terhadap Sinematek Indonesia. Sekaligus menjadikan Sinematek sebagai tempat belajar menghasilkan karya-karya bermutu, agar dapat memberikan kontribusi positif khususnya bagi perfilman.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[Sorotan Pustaka] Journal Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia

by: Angela Wittwer (Peserta Magang IVAA)

Discomfort in the framework of regionalism forms the theme of the first volume of “Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia”, a scholarly journal on art and visual culture. “What comfort might there be in discomfort? Might the sensations of being at ease and ill at ease—for the scholar, the artist, the curator, the reader—be as inextricable as is history from historiography, as the “southeast” from the “north” and the “west”, as the “now” from the past, and the yet to be?,” the editorial collective asks in the editorial. Addressing these questions, the publication offers a range of perspectives informed by recent discourses of the art of the region referred to as Southeast Asia. Its contributing writers and researchers engage a particular focus on a regional context or artist/s, their analysis informed by a historical approach.

The topics discussed in the issue include a queer and postnational “Thainess” in contemporary Thai art (Brian Curtin), the notion of a “third avant-garde” in Southeast Asia that unshackles the Euro-American concept of “avant-garde” (Leonor Veiga), or artistic responses to recent street protests in Kuala Lumpur (Fiona Lee), among others. Two authors focus on the context of Indonesian Modern Art:

Brigitta Isabella from KUNCI Cultural Studies Center and member of the journal’s editorial collective provides a translation of the text “Kami Tahu Kemana Seni Lukis Indonesia Akan Kami Bawa” (“We Know Where We Will Be Taking Indonesian Art”) by Indonesian artist, writer and activist S. Sudjojono. The text dated from 1946 marks a crucial moment in the self-definition of Indonesian Modern Art during Indonesia’s struggle for independence. “About the future of Indonesian art, we as Indonesians are quite capable of deciding for ourselves. […] If the Dutch writer […] wishes to interfere with this matter, we do not need them to meddle in our affairs. They have never really proven to be competent in this matter for the past 350 years,” Sudjojono flamingly writes.

Australian scholar and curator Matt Cox contributes an article on “The Painting of Prostitutes in Indonesian Modern Art”, focusing on works by S. Sudjojono, Otto Djaya and Mohammed Hadi. Cox describes their paintings depicturing so-called “base” women, as a site of self-primitivising. His captivating observation: Even though these paintings disrupt both elite Javanese and Dutch bourgeois sensibilities, they reinforce the myth of the heroic and authentic anti-colonial modern artist. As such, the paintings stand both for discomfort and the search for an alternative male subjectivity, as well as for the re-assuring desire for the untamed other.

In the journal, Matt Cox also provides a translation of the “Untitled Letter to Editor”, another resonating text for today’s artistic practice by S. Sudjojono, written in fragmentary manner in 1942. The contributions by Cox and Isabella can be seen as inquiries into anxieties und potentials regarding societal change in Indonesia observed in reference to key figures in Indonesian Modern Art. They also open a broader reception and discussion: Both texts authored by S. Sudjojono were previously unavailable in English.

((Additional detail))

The journal “Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia” is published online and in print twice yearly. The published articles are selected on the basis of a call for papers on a different theme for each issue.

Issue: Volume 1, Number 2, October 2017
Title : Into the un/comfort zone
Editorial Collective: Isabel Ching, Brigitta Isabella, Yvonne Low, Roger Nelson, Vuth Lyno, Thanavi Chotpradit, Eileen Legaspi-Ramirez, Vera Mey, Simon Soon
Authors: Yin Ker, Matt Cox, Fiona Lee, Leonor Veiga, Brian Curtin, S. Sudjojono, Brigitta Isabella, Clare Veal, Fiona Amundsen
Publisher: NUS Press Pte Ltd, Singapore
Language: English
ISSN: 2424-9947
E-ISSN: 2425-0147

Download free digital issue: https://muse.jhu.edu/issue/37275

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

#SorotanArsip | Arsip Red District Project

Oleh: Revano Septian (Peserta Magang IVAA)

Red District Project (RDP) merupakan kegiatan bersama dengan warga yang diinisisasi oleh seniman bernama Lashita Situmorang. Kegiatan yang dimaksud meliputi unsur penelitian dan pengorganisasian, berlokasi di kampung Sosrowijayan, lebih tepatnya Sosrowijayan Kulon. Setelah dua kali penyelenggaraannya, dokumentasi dari kegiatan ini sangat melimpah, mulai dari catatan administratif, foto kegiatan, hingga keseharian warga.

Keberadaan dokumentasi tentang Sosrowijayan ini memang tidak selalu disukai warga, karena banyaknya pemberitaan stereotip terhadap mereka. Dimana semata menampilkan Sosrowijayan sebagai wilayah prostitusi, dan menutup diri dari berbagai potensi dan prestasi. Padahal banyak aspek dan elemen kolaborasi warga yang hidup.

Dokumentasi dan data seputar RDP yang telah dikumpulkan oleh Lashita Situmorang saat ini telah terdata dan memungkinkan untuk dijadikan sumber data, sejauh mengetahui secara terukur kerangka dan tujuan dari penelitian ataupun proyek seni kita. Di atas itu, jika ada kebutuhan untuk meninjau dan menggunakan dokumentasi dari RDP ini, baiknya diawali dengan berkomunikasi dengan Lashita Situmorang.

Link Katalog RDP 

Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[Sorotan Pustaka] Soekarno: Biografi Politik

Penulis: Santosa

Judul: Sukarno: Biografi Politik
Penulis: Kapitsa M.S. & Maletin N.P.
Penerjemah: B. Soegiharto, Ph.D.
Editor: Bilven
Edisi bahasa Indonesia ini pertama kali diterbitkan oleh Ultimus
Cetakan 2, Juni 2017
xx + 396 hlm.; 14,5 x 20,5 cm
ISBN 978-602-8331-04-3

Nomor panggil IVAA Library: 900 Kap S

Nama Bung Karno mempunyai daya tarik tidak hanya di tanah air, namun juga di kalangan masyarakat internasional. Sejarah kehidupan beliau dalam buku ini diawali masa kanak-kanak Soekarno yang berasal dari kalangan bangsawan bawah, putra seorang muslim dan ibunya Hindu. Diberi nama Koesno, waktu kecil ia sakit-sakitan. Bapaknya mengira bahwa pemberian namanya tidak cocok maka namanya diubah menjadi Soekarno, yang berarti ksatria yang gagah perkasa dan baik. Di usia 12 tahun, anak ini sudah diakui sebagai pemimpin oleh kawan-kawan sebayanya.

Bung Karno sebagai pemimpin perjuangan untuk Indonesia Merdeka dalam buku ini digambarkan berbeda dari analisa-analisa barat, khususnya Belanda yang menuduh Soekarno berkolaborasi dengan Jepang. Para penulis justru memberikan gambaran bahwa itu adalah taktik Soekarno untuk menggunakan bala tentara Jepang dengan tujuan mengenyahkan Belanda dari Indonesia, ini sama saja dengan memintas jalan ke arah kemerdekaan. Bagaimana Soekarno menyatukan kekuatan politik, friksi-friksi Soekarno dengan Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan lainlain yang anti-kolonialisme dengan menggunakan konsep persatuan dalam menghadapi musuh utama, penjajahan Belanda.

Soekarno meletakkan ideologi Pancasila dalam pidatonya 1 Juni 1945. Prinsip Pancasila sebagai perjuangan anti-kolonial, anti imperialis, dan anti-kolonialisme dengan mewujudkan bangsa yang merdeka dan demokratis.

Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya dinilai melahirkan konsepsi yang memperkuat rezim otoriternya. Walau sebenarnya konsep ini muncul karena dorongan dari kekuatan-kekuatan politik yang ada waktu itu, baik kekuatan kanan maupun kiri. Dengan pertumbuhan sistem demokrasi terpimpin yang pada mulanya ditujukan untuk membatasi kekuatan kaum kanan (Masyumi, PSI, kaum militer kanan), akhirnya justru sedikit demi sedikit berubah ke arah sebaliknya. Dalam situasi ini kekuatan kaum kanan kemudian menjadi yang lebih cepat memobilisasi kekuatan politik ke pihaknya dengan menggunakan UU Keadaan Bahaya. UU yang telah meningkatkan peran militer dan penguasaan sektor negara yang dibentuk dari perusahaan asing yang telah dinasionalisasi, khususnya dengan alasan momok komunisme.

Disoroti juga tentang politik konfrontasi Bung Karno dalam menghadapi Malaysia, di mana Soekarno memutuskan Indonesia keluar dari PBB karena Malaysia telah diangkat sebagai anggota sementara PBB. Para penulis menjelaskan radikalnya politik luar negeri Soekarno dikarenakan kedekatannya dengan Peking. Ini berkaitan juga dengan pertentangan di dalam gerakan komunis Tiongkok, hingga Indonesia terseret masuk ke dalam pusarannya.

Mengenai peristiwa 30 September, dalam buku ini dianalisa bahwa ada dukungan masyarakat secara luas dalam peristiwa ini, khususnya di Jateng dan Jatim, dan dukungan dari kalangan militer (AL, AU, Polisi, dan sebagian AD), mereka mencoba merebut kekuasaan presiden dengan memberikan tekanan, intimidasi penggerakan massa dan demonstran, penggunaan mahasiswa dan pelajar (KAMI dan KAPPI) untuk turun ke jalan dengan dukungan dari AD, dan ini berlangsung hampir 3 tahun. Soekarno memang tidak menghendaki perang saudara walaupun jika mau ia mampu mengobarkannya. Soekarno mengeluarkan surat perintah “Supersemar” dan beliau menandaskan surat tersebut bukan pelimpahan kekuasaan negara, tetapi hanya merupakan tugas praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban.

Bung Karno pun sampai di akhir karir politik praktisnya, sebagai seorang profesional-revolusioner yang berjuang sendirian menghadapi keroyokan lawan-lawan politik lamanya yang kemudian melahirkan Orba.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

[Sorotan Pustaka] S. Sudjojono: Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya

Penulis: Martinus Danang Pratama Wicaksana (Pemagang IVAA)

Judul: S. Sudjojono: Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya
Penulis: S. Sudjojono
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Tebal: 304 hal
ISBN: 987-602-424-307-4

Nomor panggil IVAA Library: 709 Sud S

Kisahnya tidak hanya sebagai seorang pelukis saja tetapi dalam dunia politik mengantarkannya sebagai perwakilan PKI dalam anggota parlemen. Sayang kisah cintanya dengan Rose Pandanwangi membuat dirinya harus berpisah dengan PKI.

Sudjojono dikenal sebagai salah satu pelukis Indonesia yang namanya masih harum hingga kini. Meskipun sudah tiada namun keberadaannya sebagai pelukis Indonesia masih terasa hingga saat ini. Melalui lukisan-lukisannya yang hingga kini masih terpajang dengan rapi dalam bekas sanggarnya yang telah menjadi S. Sudjojono Center. Bahkan kini lewat autobografinya ini S. Sudjojono kembali hidup di tengah-tengah sejarah seni lukis Indonesia.

Sebagai seorang pelukis sekaligus politikus, karya-karya Sudjojono berbeda dari yang lain di masa itu. Di masa penjajahan Belanda minat pelukis Indonesia didominasi oleh tema-tema Mooi Indie, di mana mereka melukiskan keindahan alam Hindia Belanda.  Namun lain bagi seorang Sudjojono yang sama-sama hidup pada masa penjajahan Belanda, Sudjojono mengatakan ia anti terhadap tema-tema Mooi Indie. Kedekatan Sudjojono terhadap politik seperti kedekatannya dengan Soekarno dan Adam Malik membuat Sudjojono kemudian memiliki minat untuk menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia di dalam lukisan-lukisannya.

Kedekatan Sudjojono tidak hanya sebatas pada Soekarno dan Adam Malik saja tetapi juga dengan Ki Hadjar Dewantara yang kemudian mengantarkannya menjadi guru. Sebelum menjadi pelukis yang dikenal, Sudjojono merupakan seorang guru di Taman Siswa hingga mengantarkannya ke Rogojampi sebagai guru pembantu di desa terpencil di Banyuwangi itu (hlm 25).

Bagi Sudjojono pekerjaannya sebagai guru sangat diminatinya meskipun dia juga menyambinya dengan melukis. Hal ini tidak terlepas dari dua kata yang diucapkan langsung oleh Ki Hadjar Dewantara kepada Sudjojono “Djon, bekerjalah!” dua kata yang menjadi inspirasi Sudjojono dalam melakukan pekerjaannya sebagai guru (hlm 29). Dididik langsung di bawah arahan Ki Hadjar Dewantara di Taman Siswa ia pun terilhami bahwa pendidikan sangatlah penting bagi anak-anak.

Namun pada akhirnya Sudjojono tidak melanjutkan minatnya dalam bidang pendidikan melainkan memilih untuk berkonsentrasi pada minatnya sebagai pelukis. Pilihannya ini pun tak salah,  Sudjojono bersama teman-temannya berhasil mengadakan pameran lukisan oleh pelukis bangsa Indonesia tanpa campur tangan orang Belanda. Hal ini malahan mengejutkan banyak pihak bagi orang Belanda sendiri bahkan pameran mereka ditolak banyak pihak terutama orang Belanda.

Hal ini menimbulkan kebencian Sudjojono terhadap perlakuan pihak Belanda kepada pelukis-pelukis pribumi ini. Hingga suatu hari Sudjojono bersama teman-temannya mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Sebuah perkumpulan yang sama-sama menyuarakan kemerdekaan namun Persagi lewat lukisan. Sebuah perkumpulan yang sangat politis menyuarakan kemerdekaan mengingat nama perkumpulan tersebut memakai nama Indonesia yang cukup berani pada masa penjajahan Belanda.

Tidak hanya melalui Persagi saja, perjuangan Sudjojono berlanjut pada masa Jepang dengan keberadaan pusat kebudayaan yang dibentuk oleh Jepang. Jepang sangatlah pandai dalam menyuarakan propagandanya melalui kesenian (hlm 72). Bahkan beberapa seniman Persagi begitu pun Sudjojono tergabung secara langsung dalam pusat kebudayaan tersebut. Layaknya Poetera yang diisi oleh Soekarno dan kawan-kawan. Pusat kebudayaan yang dibuat Jepang dimanfaatkan Sudjojono untuk menyuarakan kemerdekaan.

Minat Sudjojono kepada politik juga mengantarkannya masuk ke dalam PKI. Bahkan mengantarkan Sudjojono ke dalam panggung politik yakni ke dalam anggota parlemen mewakili PKI. Namun, Sudjojono kemudian berpisah di tengah jalan dengan PKI karena perbedaan pendapat mengenai keberadaan Tuhan, posisi anggota partai dengan partai yang lain dan rasa cintanya terhadap Rose Pandanwangi yang kemudian menjadi istrinya (hlm 100).

Bagi Sudjojono hal yang paling krusial ketika dia harus berpisah jalan dengan PKI adalah kisah cintanya dengan Rose Pandanwangi. Sudjojono dan Rose telah sama-sama memiliki pasangan yang sah dan anak. Hal inilah yang ditentang oleh Aidit pemimpin PKI saat itu. Namun Sudjojono membalas perkataan Aidit “Tidak adakah rupanya dalam benak Das Kapital tentang cinta?” perkataan yang cukup berani yang dilontarkan Sudjojono kepada Aidit hingga membuat Sudjojono keluar dari PKI (hlm 104).

Setelah keluar dari PKI kemudian Sudjojono menikahi Rose Pandanwangi dan dimulailah petualangan mereka sebagai sepasang suami istri. Pasang surut kehidupan keluarga mereka terus dijalani bersama, apalagi kini Sudjojono tidak berpolitik lagi dan hanya fokus dengan profesinya sebagai pelukis. Bahkan gonjang-ganjing keluarga mereka ketika lukisan-lukisan Sudjojono tidak laku dipasaran akibat fitnahan yang berasal dari anggota PKI. Namun, mereka tetap sabar dan tetap semangat dalam mengarungi kehidupan keluarga mereka.

Bahkan kesabaran mereka mengantarkan Sudjojono kepada karya ciptanya yang besar yakni lukisan “Pertempuran Sultan Agung dan J.P. Coen” yang kini tersimpan baik di Museum Nasional Jakarta. Mahakarya Sudjojono ini menjadi sebuah karya terbaik Sudjojono yang bahkan diminati oleh para pemimpi  negara sahabat. Tidak hanya itu saja, Sudjojono juga sering mengadakan pameran lukisan yang langsung dikoordinir oleh Rose Pandanwangi.

Buku ini menceritakan dengan detail kisah perjalanan Sudjojono untuk menjadi pelukis yang dikenal hingga kini. Bahkan perjalanannya ini dia tulis sendiri. Ssesuatu hal yang sangat perlu diperhatikan lebih detail dalam memperlajari sejarah seni rupa Indonesia. Buku ini menjadi salah satu peninggalan Sudjojono yang akan terus hidup dalam sejarah seni rupa Indonesia, tidak hanya lukisan-lukisannya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

[Sorotan Pustaka] Kisah Mawar Pandanwangi

Penulis: Martinus Danang Pratama Wicaksana (Pemagang IVAA)

Judul:  Kisah Mawar Pandanwangi
Penulis: Sori Siregar & Tim S. Sudjojono Center
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Tebal:  68 hal
ISBN: 978-602-424-317-3

Nomor panggil IVAA Library: 709 Sir K

Kisah cintanya dengan Sudjojono membuat sosok perempuan ini menjadi inspirasi Sudjojono dalam setiap lukisannya.

Rose Pandanwangi begitulah nama panggungnya sebagai penyanyi seriosa kebanggaa Indonesia bahkan kebanggaan Soekarno sendiri. Nama awalnya adalah Rose namun kemudian hari ditambah Pandanwangi oleh Sudjojono dengan alasan bahwa Rose janganlah mendompleng nama Sudjojono untuk menjadi terkenal. Sudjojono ingin Rose dikenal dengan namanya sendiri bukan numpang ketenaran nama Sudjojono.

Rose dikenal sebagai penyanyi seriosa terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Namanya mulai bersinar ketika mengikuti Festival Pemuda di luar negeri mewakili Indonesia. Bahkan namanya juga tidak pernah absen dalam pagelaran bintang radio sehingga membuat dia terus-terusan menjadi langganan juara. Suaranya juga dipuji oleh Soekarno ketika diundang bernyanyi di istana “Apakah kalian dengar? Ini namanya bernyanyi” (hlm 48).

Sama dengan para seniman yang lainnya pada masa awal-awal kemerdekaan di mana kesenian sebagai alat untuk memperjuangkan kemerdekaan. Rose pun ketika awal kemerdekaan Indonesia juga turut memperjuangkan kemerdekaan lewat suaranya di kancah internasional yakni dalam Forum Pemuda. Hal inilah yang menarik bahwa ketika awal kemerdekaan, masyarakat Indonesia masih menenteng senjata mempertahankan kemerdekaan bagi Rose perjuangannya adalah lewat menyanyi.

Pencapaian Rose dalam seni suara membuat nama Indonesia dikenal oleh kalangan internasional. Tidak hanya itu tetapi nama Rose juga dikenal dalam dunia tarik suara secara internasional. Hal ini tidak terlepas dari latihan-latihannya yang keras dalam bernyanyi seriosa. Bakat seriosanya ketika itu berbeda dengan kebanyakan penyanyi lainnya. Suara seriosa Rose memiliki suara yang khas Indonesia begitulah yang dipuji oleh kebanyakan orang yang mendengarkannya.

Perjuangan Rose dalam mengenalkan Indonesia dalam kancah internasional juga mengantarkannya Rose dalam pertemuan pertama dengan Sudjojono. Ketika itu delegasi Indonesia yang juga terdapat Sudjojono berangkat ke Berlin untuk mengikuti festival kesenian. Pada saat itulah pertemuan pertama mereka secara tidak sengaja yakni ketika Rose meminta tanda tangan Sudjojono, namun ketika itu Rose masih belum mengenal siapa itu Sudjojono. Ketika meminta tanda tangan Sudjojono pulpen dari Rose tertinggal dan dibawa oleh Sudjojono. Inilah yang membuat mereka semakin lama semakin dekat.

Kedekatan Sudjojono dengan Rose ditentang banyak pihak salah satunya adalah PKI yang di mana Sudjojono adalah anggota partai tersebut bahkan menjadi wakil dalam dewan. Hal ini dikarenakan bahwa Rose dan Sudjojono sama-sama memiliki pasangan yang sah dan juga sama-sama memiliki anak. Mereka berdua berkeinginan untuk menikah dan menceraikan pasangannya.

Meskipun kisah cintanya banyak ditentang banyak orang, namun kisah cinta mereka mampu mengalahkannya. Meskipun cinta mereka yang menang akibat yang ditanggung pun cukup besar. Salah satunya adalah Sudjojono harus keluar dari PKI yang sebelumnya berbeda pendapat mengenai pilihan cinta Sudjojono. Sehingga Sudjojono harus menghidupi keluarganya hanya dengan mengandalkan profesinya sebagai pelukis (hlm 58).

Tidak hanya itu saja tetapi Sudjojono sampai difitnah oleh beberapa anggota PKI sehingga membuatnya harus kehilangan banyak pelanggan untuk melukis. Hal ini membuat Rose semakin marah atas fitnahan yang dilontarkan oleh anggota PKI. Bahkan Rose sampai harus menantang fitnahan PKI karena rasa cintanya terhadap Sudjojono.

Rasa cinta Rose yang besar terhadap Sudjojono pun juga terlihat ketika penangkapan simpatisan PKI setelah geger 1965. Rose tidak terima dengan penangkapan Sudjojono, hal ini dikarenakan bahwa Sudjojono sudah lama keluar dari PKI dan tidak tahu menahu dengan peristiwa 1965 itu. Sehingga Rose meminta Adam Malik teman dari Sudjojono yang masuk dalam pemerintahan untuk mencari tahu keberadaan Sudjojono. Tidak berselang lama Sudjojono pun kembali ke keluarga.

Rose menjadi salah satu inspirasi Sudjojono dalam melukis. Kadangkala Sudjojono melukis Rose dengan berbagai aktivitasnya ketika Sudjojono kesusahan dalam menuangkan ide-idenya itu. Tidak hanya itu bahkan Rose sampai menunggui Sudjojono ketika melukis bahkan sampai malam menjelang Rose dengan setia mendampingi Sudjojono.

Kisah cinta Sudjojono dengan Rose tergambarkan dengan baik dalam buku ini. Rose tidak hanya dikenal sebagai penyanyi seriosa terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Tetapi Rose juga sebagai inspirator bagi Sudjojono dalam segala karya-karyanya. Inilah sebuah kisah Rose yang mengantarkan Sudjojono hingga namanya menjadi harum semerbak.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.