Category Archives: Activities

“Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi

Oleh: David Ganap

“Sebagai catatan, acara ini merupakan ‘pemanasan’, media perkenalan seniman-seniman terpilih perwakilan Indonesia,” ujar Dodo Hartoko, Direktur Biennale Jogja XIV. Puncak acaranya sendiri akan dilaksanakan pada 2-10 November 2017 mendatang. Dalam penyelenggaraan kali ini, Indonesia meminang Brasil sebagai partner ke-4 dalam seri Equator. Terdapat 27 seniman dari berbagai kota di Indonesia yang terpilih. Sementara, dari Brasil akan dipilih 10 seniman.

Brasil merupakan negara terjauh bila disejajarkan dengan posisi Indonesia dalam bentang garis khatulistiwa. Bila ditinjau dari segi kesamaan, sumber daya alam menjadi salah satu ciri utama dari kedua negara ini, terutama dalam hal keragaman hayati. Indonesia menempati posisi kedua tepat setelah Brasil di peringkat pertama dalam deretan negara dengan keanekaragaman hayati terkaya dunia dilansir dari news.unpad.ac.id. Selain itu kedua negara ini juga sama-sama memiliki populasi penduduk yang masif, dengan masing-masing estimasi lebih dari dua ratus juta jiwa.

Berangkat dari persoalan jumlah penduduk, Pius Sigit Kuncoro, kurator terpilih BJ XIV Equator #4 menegaskan bahwa populasi yang padat identik dengan rupa-rupa permasalahan. Brasil memiliki reputasi sebagai salah satu negara yang tingkat kriminalitasnya tertinggi di dunia. Akan tetapi Pius Sigit membaca Brasil melalui hubungan timbal balik manusia dengan ekosistem, masyarakat luas dengan lingkungan sekitar. Tentang kehidupan dilematis yang penuh bayang-bayang kecemasan karena hasrat yang tinggi untuk hidup yang tidak berbanding lurus dengan ketersediaan kebutuhan yang dikehendaki. Sedikit demi sedikit luas hutan semakin terpangkas dikarenakan pembangunan pemukiman. Hal sama terjadi juga di tanah Jawa di mana lahan persawahan kini berubah menjadi bangunan-bangunan rumah kaku yang serba monoton.

Dari persoalan di atas, penting bagi kita untuk sejenak merenungkan dampak dari kepadatan yang kian hari kian berkembang. Seperti di masa depan nanti, lingkungan masyarakat seperti apa yang akan tercipta dari kesesakan ruang yang ada? Apakah persoalan ini memiliki dampak psikologis bagi generasi anak-anak kita dikemudian hari? Lingkungan macam apa yang akan mereka tempati? Apakah kemudian minimnya lapangan pekerjaan di masa yang akan datang akan tetap menjadi isu populer?

Kembali ke persoalan teknis acara, bila dibandingkan dengan Venice Biennale ke-57 yang mengundang 120 seniman undangan dari lima puluh satu negara, Pius menjelaskan bahwa alasan kerjasama dengan Brasil sendiri adalah untuk menghadirkan sensasi keintiman yang eksklusif. Mengingat posisi Biennale Jogja yang merupakan pesta seni dua tahunan terpenting di Yogyakarta, maka seyogianya dibutuhkan lebih dari sekedar konsep yang matang sebagai landasan kolaborasi gagasan dengan negara anggota konstelasi geografis Amerika tersebut. Meskipun demikian, ketika ditanyai tentang tema, ternyata hingga saat ini belum ada isu spesifik yang dielaborasi menjadi objek pembahasan. Sepertinya keragaman hayati, populasi penduduk yang terus melesat hanya berfungsi sebagai pemantik untuk bisa masuk ke dalam dialog yang lebih privat dengan calon mempelai.

Metode yang digunakan kurator untuk penentuan tema bersifat lebih responsif dengan realita sehari-hari, mirip merangkai mozaik yakni mencari kepingan yang cocok untuk disematkan bersama. Dalam beberapa forum seni internasional belakangan ini, tema yang diperbincangkan sifatnya memang lebih universal. Salah satu alasannya adalah proses kerja kreatif seniman yang berkolaborasi dengan riset ilmiah para ilmuwan. Seniman di era kontemporer memiliki kecenderungan memulai pekerjaan kreatifnya dengan mencari permasalahan secara mandiri, kemudian membedahnya untuk melihat berbagai kemungkinan pemecahan masalah.

Sebagai contoh, dalam segi teknis ada perilaku eksperimental yang menjadi karakter seniman untuk menggali potensi media yang digunakan. Arin Dwihartanto, salah satu seniman peserta BJ XIV asal Indonesia bermain-main dengan resin untuk melukis di atas kanvas. Tidak berhenti sampai di situ, seniman lulusan FSRD ITB ini bereksperimentasi dengan serbuk vulkanik yang difungsikan sebagai pewarna bagi resin yang ia gunakan. Lantas yang paling menarik adalah hasil akhir dari karya Arin yang relatif tak terduga karena sifat resin sendiri yang berubah dari zat cair menjadi benda padat.

Berikut daftar nama seniman muda Indonesia yang terpilih menjadi peserta BJ XIV Equator #4, 2017: Adi Dharma a.k.a Stereoflow, Aditya Novali, Arin Dwihartanto Sunaryo, Cinanti Astria Johansjah, Faisal Habibi, Farid Stevy Asta, Gatot Pujiarto, Indieguerillas, Julian “Togar” Abraham, Kinez Riza, Lugas Syllabus, Made Wiguna Valasara, Maria Indriasari, Mulyana, Narpati Awangga a.k.a Oomleo, Ngakan Made Ardana, Nurrachmat Widyasena, Patriot Mukmin, Roby Dwi Antono, Sangkakala, Syaiful Garibaldi, Tattoo Merdeka, Timoteus Anggawan Kusno, Wisnu Auri, Yudha Kusuma Putera a.k.a Fehung, Yunizar, dan Zico Albaiquni.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#SorotanDokumentasi Maret-April 2017

Oleh: Dwi Rahmanto

Sampai dengan pertengahan April 2017 Tim Dokumentasi tercatat telah merekam 36 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan sekitarnya. Tim Dokumentasi yang merupakan bagian dari Bidang Arsip IVAA dalam dua bulan ini dibantu beberapa pemagang dari Modern School of Design Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Gadjah Mada. Para pemagang ini melakukan kerja-kerja mulai dari peliputan, olah data, alih format, dan penyuntingan hingga dokumen tersebut siap diakses publik.

Dalam dua bulan ini kami juga menerima 2 tawaran kerja sama dalam hal media partner dan pendokumentasian acara yang dihelat oleh para mahasiswa seni rupa, antara lain pameran kolaborasi mahasiswa ISI-ITB bertajuk “Bloom in Diversity” di Sangkring Art Space, Yogyakarta. Kemudian ada pula acara tahunan Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, yakni “International Visual Art Exhibition Arteducare #8,” yang diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Tengah di Kota Solo. Pesta seni tahunan dari-oleh-untuk mahasiswa ini sangat akbar dan patut diacungi jempol, lantaran pesta seni ini mampu menghadirkan kontingen mahasiswa pendidikan seni rupa dari Universitas Negeri di seluruh Indonesia.

Kami juga menjalin kerja sama dalam pendokumentasian “Pameran Pra-Biennale” pada 20-25 Maret lalu di PKKH UGM. Pameran Pra-Biennale ini digelar khusus untuk mengawali perhelatan “Biennale Jogja XIV Equator #4” yang sedianya akan dihelat November mendatang. Mengiringi pameran ini terdapat pula acara-acara lain yakni konferensi pers, focus group dicussion antara kurator dengan seniman partisipan, dan juga acara sosialisasi dari Yayasan Biennale Yogyakarta.

Acara menarik dalam dua bulan ini antara lain pameran seniman kawakan Aming Prayitno yang digagas oleh Sarang Building III, kemudian juga beberapa pameran besar tahunan oleh Sanggar Dewata Indonesia di Jogja Gallery, serta Pameran Sanggar Sakato yang juga mengambil tempat di Jogja Gallery.

Dalam rubrik Sorotan Dokumentasi kali ini kami menghadirkan liputan dari sepilihan peristiwa seni rupa yang terjadi dalam dua bulan terakhir. Simak uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya di bawah ini.


a. Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!
Oleh: Grace Ayu Permono Putri

b. Muara Market, Kanal Baru Pemasaran Produk Seni di Solo
Oleh: Pitra Hutomo

c. “Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi
Oleh: David Ganap

d. Menjaring Kesan, Merakit Tema: Metode Kuratorial Biennale Jogja XIV Equator #4
Oleh: Annisa Rachmatika Sari

e. Dramaturgi Ruang Pamer Biennale Jogja XIV Equator #4
Oleh: Annisa Rachmatika Sari

f. Bloom in Diversity: Orkestrasi Rintisan Identitas Baru
Oleh: David Ganap


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!

Oleh: Grace Ayu Permono Putri

Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Narkotika yang tergabung dalam Paguyuban Tiyang Biasa (PASTI BISA) mengelar Pameran “Perbedaan Itu Indah” dengan tema “Rukun Agawe Santoso”, di Lapas Narkotika Kelas II A pada 2 hingga 4 Februari 2017 lalu. Berbagai macam karya seni ditampilkan, terdapat lukisan, patung, sablon, dan sebagainya. Rangkaian acara lain yang bisa ditemukan ialah workshop cukil serta aktivitas melukis di atas kanvas yang membentang sepanjang 30 meter dan pertunjukan musik hadroh Al-Taibun.

Selain itu ada diskusi seni dengan tema “Seni Penjara dan Posisinya dalam Diskursus Kesenian Indonesia”. Dalam diskusi itu AC. Andre Tanama serta Iwan Wijono menjadi pemantik, sementara yang menjadi moderator ialah salah seorang narapidana. Dalam diskusi tersebut, Andre Tanama mengatakan bahwa ia tidak berkompeten soal ‘seni penjara’ karena narapidanalah yang dapat merasakan apa itu seni di dalam penjara, maka ia pun menjelaskan dengan perspektif pengamat. Ia mengelaborasi makna penjara dalam arti fisik maupun non-fisik. Di lain pihak Iwan Wijono sebagai pemantik kedua menambahkan tentang bagaimana melihat penjara dalam arti spiritual.

“Acara ini merupakan bukti banyaknya agenda dan program positif serta membangun yang dilangsungkan di lapas sebagai wadah aktivitas dengan kreatifitas seni dengan segala keterbatasan yang ada,” ujar Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika kelas II Yogyakarta, Erwedi Supriyatno dalam siaran persnya. Erwedi Supriyatno juga kemudian berkisah bahwa ia pernah menjadi pelukis kaki lima Malioboro pada tahun 1989-1990, sehingga ia bisa memahami warga binaannya yang membutuhkan ruang, waktu, dan kesempatan untuk tetap berkreasi.

Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan ‘makan nasi penjara’ dengan menu berupa sayur, ikan, dan nasi yang menurut beberapa seniman rasanya cukup enak.

Kakanwil Kemenkumham DIY, Dewa Putu Gede, mengatakan bahwa kegiatan yang diinisiasi oleh lapas dan paguyuban seniman-seniman ini dapat mengembangkan segala potensi dalam berkesenian dari setiap warga binaan di lapas. Tujuannya untuk membantu warga binaan meningkatkan kemampuan dalam mengurangi ketergantungan obat-obatan. Harapannya, dengan berkesenian mereka akan kembali mendapatkan dunianya.

Di salah satu rangkaian acaranya yakni mural bersama, seniman senior Kartika Affandi putri dari maestro Indonesia Affandi turut memeriahkannya. “Papi saya jadi seniman besar juga tanpa narkoba, jadi usahakan jangan diulangi lagi ya,” Kartika berpesan.

Pameran yang menampilkan lebih dari 100 karya itu menampilkan cerita dari masing-masing penghuni lapas dengan sebaran tema yang beragam. Dari tema personal yang berbasis pengalaman selama di penjara, lingkungan, hingga tema-tema sosial, yang berupaya menjadi bagian dari kritik atas pembangunan.

Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik Lapas Khusus Narkotika Yogyakarta Marjiyanto mencatat per 2 Februari 2017 ada 226 penghuni lapas dan 35 di antaranya seniman atau memiliki hobi seni; ada perupa, pematung, dan pemusik. Dari situlah lahir Paguyuban Tiyang Biasa pada Desember 2016, yang diketuai oleh Santoso Ari.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


*Grace Ayu Permono Putri (l.1996), mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Tatakelola Seni di kampus ISI Yogyakarta yang sangat tertarik dengan pengelolaan perhelatan acara seni. Maka Grace banyak terlibat di dalam berbagai kepanitiaan pensi, pameran seni rupa, maupun perhelatan budaya lainnya. Dalam magangnya di IVAA, Grace membantu penyelenggaraan kegiatan di RumahIVAA serta menulis resensi sebagai bagian dari kerja pendokumentasian IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Archive Showcase: Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa

Sudut Perpustakaan IVAA kini menjadi ruang kecil untuk Archive Showcase. Di tempat ini kami menyediakan sebuah komputer berisi dokumentasi foto, video, makalah & kliping digital, sepilihan katalog & buku, serta poster yang terbuka aksesnya bagi pengunjung untuk sejenak menelusuri koleksi tsb. Archive Showcase ini serupa miniatur pameran arsip karena ini merupakan hasil kurasi kami terhadap dokumentasi IVAA dalam bingkai tema tertentu yang secara rutin kami ganti. Penentuan tema Archive Showcase biasanya tersulut oleh gejala yang baru tumbuh di kancah seni rupa dan kebudayaan pada umumnya; yang kemudian menggelitik kami untuk menggalinya lebih dalam melalui bukti-bukti yang ada di penyimpanan arsip IVAA. Sejak akhir tahun 2016  kami mengamati bermunculannya pelbagai pameran yang diselenggarakan oleh para perupa asal Bali, bahkan pameran yang mengusung tajuk yang mengedepankan “Bali”. Selain menjadi tema Archive Showcase kali ini, lebih lanjut tema seni dan Bali ini juga kami rangkai dengan diskusi publik pada 16 & 17 Februari lalu, serta disusul dengan terbitnya Buletin Dwi Bulanan Edisi Jan-Feb 2017.

Archive Showcase
Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa
“Seperti berdiri di antara …, apa?”

16 Februari – 20 Maret 2017
di Rumah IVAA

Pengantar oleh: Tiatira Saputri

Akhir-akhir ini beberapa pameran diselenggarakan dengan latar ‘Kebalian’. Lalu saya sendiri bertanya, kenapa ya? Tapi kemudian saya berpikir ulang. Karena pertanyaan ‘kenapa’ ini mengarah pada kondisi di mana saya (mungkin juga publik) merasa seakan berdiri di antara ‘Bali’ dan ‘bukan Bali’. Ini bisa juga terjadi pada pameran berlatar identitas etnis lainnya. Lalu jika menggunakan identitas etnis dalam seni rupa beresiko mengkotak-kotakan, maka pertanyaannya, mengapa ia dihadirkan? Tapi apakah identitas etnis ini benar-benar hadir? Dari sini saya mencoba melihat apa yang dibicarakan oleh seni rupa mengenai identitas etnis. Apakah identitas etnis ini dalam seni rupa melulu dihadirkan oleh sekelompok perupa dari daerah yang sama? Saya berkata demikian karena melihat kecenderungan pameran berlatar identitas etnis berasal dari kelompok-kelompok dengan semangat kedaerahan. Seperti Sanggar Dewata Indonesia (SDI), Kelompok Seni Rupa Jendela, Sanggar Sakato, Sanggar Bidar Sriwijaya, Pasuruhan, dsb. Lalu apa yang dibicarakan pameran kelompok etnis ini mengenai identitas?

Ada yang bicara mengenai eksekusi obyek berdasar pada laku yang selama ini dijalankan. Seperti pengantar kuratorial Enin Supriyanto pada pameran “Cilukba!” Jendela (2007). Ia mengatakan bahwa alusi, moda komunikasi masyarakat Minang dalam bentuk kiasan mempengaruhi cara perupa Jendela (Yunizar, Handiwirman, Yusra Martunus, Jumaldi Alfi, dan Rudi Mantofani) dalam memaparkan obyeknya. Atau sebaliknya, karakter visual ini ditampilkan dari pemberontakan terhadap tradisi yang sudah mapan. Seperti yang saya dapati pada tulisan Suwarno Wisetrotomo untuk pameran “Sebelas Pelukis” SDI (1996). Bahwa gaya abstrak ekspresionis perupa Bali merupakan upaya untuk menerobos tradisi melukis dengan teknik tinggi seperti gaya Ubud, dsb. Ada pula yang berbicara mengenai filosofi melalui tema karya atau pameran. Seperti misalnya konsep BAKABA (berkabar) kelompok Sakato. Berdasar dari kaba (kabar), tradisi berkabar masyarakat Minang melalui musik, gerak tubuh, gestur, pakaian, dsb. Atau konsep makro-mikro kosmos yang tersirat pada tema-tema ekologi karya perupa-perupa Bali.

Tapi apakah identitas etnis dalam seni rupa selalu berkaitan dengan nilai lokal atau tradisi perupa dari daerah atau kelompok yang bersangkutan? Kita mengetahui bahwa di tahun 1990-an Sanggar Dewata Indonesia membuka diri untuk perupa yang tidak berasal dari Bali, begitu juga dengan Sanggar Sakato. Dialog dengan perupa dari berbagai latar belakang disadari sebagai upaya untuk berkembang. Sehingga saya rasa hari ini kurang tepat jika melihat identitas etnis dalam seni rupa sebagai gerakan primordialis. Contohnya, sekarang Kebalian pun hadir pada karya-karya perupa yang tidak punya hubungan kesejarahan atau bahkan darah dengan keturunan Bali. Itu artinya dalam seni rupa ada lebih banyak keleluasaan untuk siapa dan bagaimana merepresentasikan identitas etnis. Oleh sebab itu pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan seni berlatar identitas etnis selalu layak untuk diajukan kembali. Saya pikir kondisi demikian menjadi celah subur bagi produksi pengetahuan. Dan berangkat dari situ kami mulai mengumpulkan arsip serta pustaka yang berkaitan dengan identitas etnis dalam seni rupa.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Pengumuman IVAA | Kawan-kawan Pemagang IVAA

Terdapat 20 pendaftar Magang IVAA sejak awal tahun ini, dan hingga Oktober ini 16 pemagang telah  menyelesaikan program magangnya. Keenambelas pemagang tersebut antara lain:

  • Muhammad Akbar yang tengah menyelesaikan studinya di Ilmu Perpustakan Universitas Padjadjaran Bandung
  • Faida Nur Rachma mahasiswi Ilmu Komunikasi UGM yang juga bekerja paruh waktu di Lir Space
  • Henrike Louise Hoffmann pelajar Studi Transkultural Universitas Heidelberg, Jerman
  • Sukri Ghazali mahasiswa tingkat akhir STSRD Visi yang dikenal aktif di komunitas fotografi Kelas Pagi Yogyakarta
  • Muhammad Amir Setioko mahasiswa tingkat akhir Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang
  • Anggita Oktafiana yang masih aktif di Lir Space dan telah menyelesaikan studinya di Ilmu Geologi UPN Veteran Yogyakarta
  • Emma Marantika dan Shona Maharany Fuad, keduanya adalah mahasiswi Ilmu Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya
  • Anisha Riski sarjana Ilmu Perikanan, namun sangat tertarik pada aktivitas kesenian
  • Luthfia Rahmi mahasiswi Jurusan Desain Komunikasi Visual, ISI Yogyakarta
  • Risya Ayudya dari Komunitas Serbuk Kayu Surabaya
  • Krisnawan Wisnu Adi mahasiswa FISIP, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
  • Muhammad Ardiansyah dan Addi Tri Kurniawan, yang meski tidak janjian namun bertemu di IVAA, keduanya dari Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
  • Jeniastuti yang masih menempuh studi di Jurusan Kriya Keramik, ISI Yogyakarta
  • Melalusa Susthira mahasiswi Fakultas Filsafat UGM.

Dalam bulan Oktober ini masih tersisa lima orang pemagang yang masih menjalankan program magangnya di IVAA, sedang sebelas lainnya telah menyelesaikan program magangnya yang berkisar 1-3 bulan.

Selama masa magang, para pemagang ini membantu kerja-kerja harian IVAA di bidang Perpustakaan, Kearsipan, Dokumentasi, Pengkajian serta Program. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan ketelitian seperti input data buku ke katalog online Perpustakaan IVAA, mengisi dan merapikan informasi arsip, mendaftar satu demi satu kumpulan arsip yang baru disumbangkan, alih format arsip dari analog ke digital, atau pemrosesan seperti mengedit rekaman video, mengunggah arsip digital ke website Arsip IVAA, bahkan membuat salinan arsip digital untuk mengantisipasi hilangnya data. Selain itu juga ada pekerjaan dokumentasi yakni merekam, memotret peristiwa-peristiwa kesenian di Yogyakarta yang berlangsung nyaris setiap hari, serta pekerjaan menulis atau mengulas berbagai peristiwa seni maupun profil seniman, hingga pelaksanaan program-program outreach IVAA.

Dengan adanya pemagang, IVAA sangat terbantu dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut dengan lebih cepat, mengingat jumlah arsip yang dimiliki IVAA, jumlah peristiwa seni di Yogyakarta yang berlangsung setiap hari, serta aktivitas penyelenggaraan kegiatan oleh IVAA yang juga membutuhkan perhatian tersendiri.

Sebaliknya, dengan magang di IVAA para pemagang ini juga terluaskan jaringannya, selain dapat mengalami situasi bekerja di dalam tim yang solid. Namun yang tak kalah penting adalah pengalaman baru seperti mengenal teknis pengelolaan pustaka dan pengarsipan dasar, mengenal ruang-ruang seni beserta aktivitasnya di kota Yogyakarta, atau pengetahuan dari mempelajari banyak buku dan tulisan seni rupa.

Program magang di IVAA dibuka untuk mahasiswa dan umum. Tata cara pendaftaran dapat dibaca di situs IVAA ini.

IVAA berpartisipasi di dalam ASIA OPEN DATA HACKATHON

IMG-20160728-WA0017

Linimasa Acara:
30 Juli 2016
Technical Meeting & International Event. Klik ini untuk bergabung dalam keriuhan: http://bit.ly/RoadToAODH
Live streaming: http://bit.ly/2aqy2cH
14 Agustus 2016
Asia Open Data Hackathon

Lokasi:
Kudoplex 2
Jl. Radio Dalam Raya No. 9, Gedung Grand Lucky Lt. 2-3, DKI Jakarta

Asia Open Data Hackathon yang sebelumnya bernama Cross Country Hackathon merupakan kerjasama tiga negara dalam memanfaatkan open data untuk membuat aplikasi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang dipilih oleh masing-masing negara.

Indonesia sebagai salah satu negara yang terlibat memilih tema Seni dan budaya dalam Hackathon kali ini.

Open Data Asia Hackathon hadir sebagai sarana bagi para tech savy di Thailand, Taiwan, dan Indonesia dalam menjawab problem yang sama-sama sedang dihadapi ketiga negara tersebut melalui kompetisi pembuatan aplikasi web dan mobile. Hackathon ini merupakan hasil kerja sama antara Data Science Indonesia, Codepolitan dan Universitas Islam Indonesia dengan Industrial Development Bureau Taiwan dan Electronic Government Agency Thailand.

Indonesia membuat tantangan untuk menciptakan inovasi dalam menjawab masalah pelestarian kesenian dan kebudayaan (art & culture) dengan memanfaatkan open data.

Sementara Thailand akan memberi tantangan untuk memberi solusi atas isu yang berkaitan dengan agrikultur, dan Taiwan akan mengatasi masalah di bidang layanan publik (public service). Kompetisi akan diadakan tanggal 14 agustus di Jakarta (kudoplex 1)

Tantangan dari Indonesia
– Melindungi karya seni, keberagaman, dan kebebasan dalam berekspresi dalam konteks perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia
– Meningkatkan kualitas pengarsipan data art & culture di Indonesia yang berkaitan dengan seluruh aktivitas seni, pelaku seni, segala bentuk benda seni, dll.
– Mendukung dan meningkatkan ekosistem dan art space bagi pelaku seni di Indonesia

Siap menjadi juara di Asia?
Kami menyambut kerjasama para seniman, budayawan dan juga developer untuk membuat aplikasi juara di Asia yang dapat menjawab tantangan kami
> Ajukan Solusimu

Facebook Asia Open Data Hackathon
Twitter @cchackathon2016 Instagram @cchackathon2016

crosscountryhackathon.id

Koleksi Baru Perpustakaan IVAA!

Sorotan Koleksi Perpustakaan Januari-Mei 2016

mes56Cerita Sebuah Ruang, Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang MES 56

Buku ini merupakan upaya reflektif MES 56 membaca diri dan dibaca orang lain setelah lebih dari 10 tahun berkiprah, dengan mengundang penulis-penulis melihat eksistensi MES 56 dari berbagai sudut pandang, yang lebih luas dari perkara kekaryaan, menempatkan konteks kesejarahan seni dan fotografi.

Buku ini disusun berdasar tiga pokok bahasan, yaitu sejarah fotografi di Indonesia, fotografi dalam konteks seni rupa di Indonesia dan diakhiri oleh upaya reflektif yang bergerak ulang alik melihat sejarah dan pertanyan-pertanyaan mendasar yang muncul dari perjalanan MES 56 sendiri.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Agung Nugroho Widhi
Bahasa  : Indonesia
Penerbit : IndoArtNow
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 770 Soe C

 

Sesudah AktivismeSesudah Aktivisme, Sepilihan Esai Seni Rupa 1994–2015

Buku ini merupakan kumpulan esai-esai kuratorial yang menampilkan kekayaan berpikir Enin Supriyanto:

  1. Memikirkan kesejarahan (seni rupa) seperti dalam Belajar dari feminisme; Tak Perlu Mencetak dengan Darah; Yang Terus Putus dan Retak; Ibu Seni Rupa Modern Indonesia?; Ihwal Kritik Seni Rupa yang Berwibawa.
  2. Reflektif terhadap ranah seni rupa secara garis besar berikut beserta infrastrukturnya seperti dalam Lorong-lorong Alternatif; Mencari Jejak, Mencari Pijakan, Mencari Ruang; Bulutangkis, Seni Rupa, dan Fisika; Omong-Omong Soal Pembangunan Kesenian; Boom! Belasan Tahun Kemudian.
  3. Menjadi pengamat sekaligus pencatat perkembangan senirupa Indonesia dalam perspektif seorang kurator seperti dalam Seratus Tahun untuk atau Satu atau Dua Wacana; Reformasi, Perubahan dan Peralihan; Bingkai Waktu (Catatan tentang Masa Lalu, Sejarah, dan Seni Rupa Indonesia); Menjadi Kontemporer, Menjadi Global.

Dari sejumlah naskah praktik kekuratorannya bisa dikenali apa saja latar belakang kerja kekuratoran Enin jalankan, dan bagaimana manifestasinya dalam bentuk esai kuratorial.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Enin Supriyanto
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Hyphen
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Sup S

 

obat kuatObat Kuat

Buku ini berisi kumpulan iklan obat kuat selama 100 tahun yang dikumpulkan dan dijadikan bahan penelitian oleh Malcom Smith, serta direproduksi ulang sebagai karya oleh Krack Studio. Proyek berjudul Obat Kuat ini merupakan proyek lanjutan dari Tanah/ Impian (Dream/ Land), yang mengeksplorasi sejarah iklan cetak di Indonesia, dan secara khusus melihat bagaimana iklan mencerminkan dan membangun bayangan-bayangan kultural di Indonesia. Iklan obat kuat sendiri dilihat sebagai cerminan pemahaman masyarakat Yogyakarta mengenai gender, seksualitas, dan hasrat, yang memperlihatkan adanya dominasi konstruksi maskulinitas di Yogyakarta. Bahkan bisa dilihat hingga hari ini bagaimana spanduk berbicara mengenai penolakan terhadap homoseksual dan represi terhadap kelompok-kelompok perempuan.

Klasifikasi : Buku
Penulis : Malcolm Smith
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Krack Studio
Tahun Terbit : 2016
No. Panggil : 702 Smi O

 

Between DeclarationsBetween Declarations and Dreams: Art of Southeast Asia Since the 19th Century

Pameran Seni Asia Tenggara yang dilaksanakan oleh Gallery Nasional Singapore ini merangkum pengalaman banyak seniman di wilayahnya, dengan menangkap keberadaan mereka diantara deklarasi dan mimpi, atau personal dan politikal. Pameran ini mencoba melihat konsep dari seni itu sendiri di Asia Tenggara, tentang bagaimana mereka membagi pengalamannya dan terkoneksi satu sama lain di Asia Tenggara. Serta melihat kejadian yang mempengaruhi produksi dan bagaimana seni disambut di Asia Tenggara.

Buku yang disumbangkan oleh Resource Centre of National Gallery Singapore ini diterbitkan tahun 2015 berisi 4 tulisan kuratorial setebal 291 halaman.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Low Sze Wee
Bahasa : English
Penerbit : National Gallery Singapore
Tahun Terbit : 2015
No. Panggil : 701 Wee B Ref

 

perjalanan Seorang KolektorPerjalanan Seorang Kolektor Seni Lukis Modern di Indonesia

Buku yang disumbangkan oleh Hendro Tan untuk Perpustakan IVAA ini menampilkan lebih dari 60 karya koleksi Jusuf Wanandi yang dikumpulkan selama 30 tahun. Koleksi Jusuf Wanandi ini masuk dalam kelompok seni modern dalam batasan yang mengacu pada Barat – mengingat modernisme pada sejarah seni lukis Indonesia sangat berbeda dengan Barat. Selera pribadinya tidak mewakili kekhawatiran banyak orang mengenai ambiguitas seni lukis Indonesia. Melalui katalog ini kita diajak untuk tidak canggung mengapresiasi seni lukis ‘bervisi lama’ tersebut.

Klasifikasi : Buku
Penyunting : Garrett Kam
Bahasa : English/ Indonesia
Penerbit : Centre for Strategic and International Studies and Neka Museum
Tahun Terbit : 1996
No. Panggil : 701 Wan A ref

Archive Showcase: Indonesian Performance Art from 1990 to Present

Archive showcase

Perdebatan kami dimulai ketika tiba saatnya mengkelompokkan beberapa dokumen yang IVAA miliki ke dalam kategori performance art (seni rupa pertunjukkan). Dimulai dari pertanyaan apakah ada ‘panggung’ pada performance art? Lalu apa yang membedakan performance art dengan teater yang mencoba melepaskan diri dari mediumnya jika kesadaran akan ‘panggung’ itu juga ada pada performance art? Hal apa sajakah yang perlu kita ketahui untuk bisa menyebut karya sebagai performance art? Walaupun tentu saja dalam satu karya bisa memuat keseluruhan kategori itu. Tapi bagaimana caranya menghadapi kebingungan kami mengolah tumpukan dokumen dengan minimnya kajian mengenai performance art di Indonesia?

Pendekatan kemudian kami lakukan dengan melihat medium performance art itu sendiri. Ini kami pilih karena medium adalah hal yang paling mudah diamati di tengah minim kajian mengenai performance art di Indonesia. Informasi kami dapatkan dari diskusi yang diselenggarakan tahun 2002 oleh Jurnal Karbon dan ruangrupa yang menyampaikan beberapa refleksi dari para penggiat performance art, seperti Pius Sigit Kuncoro yang mengungkapkan bahwa karya Geber Modus Operandi yang saat itu digolongan ke dalam performance art, hadir dari sebuah perlawan terhadap disiplin ilmu mereka masing-masing. Mereka menyadari bahwa keberadaan pelaku yang ditonton dan menonton – serta waktu, adalah elemen dari performance art. Pada Korban yang Terbakar (1998), kesadaran FX. Harsono akan publik dan ruangnya terlihat dari keinginannya mempertontonkan proses penciptaannya yang dilakukan dengan kegiatan ‘merusak’. Sama halnya dengan Arahmaiani yang melibatkan publik dalam karya His-story (2000) dengan mengundang mereka untuk menulis atau menggambar sesuatu pada tubuhnya.

Dari situ lalu kata kunci kami dapatkan, bahwa relasi tubuh performer dengan penonton, ruang, serta waktu adalah kesatuan medium yang dimiliki performance art. Pengalaman dirasakan bersama-sama pada ruang dan waktu yang spesifik, sehingga ketiganya tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu memungkinkan bagi orang di luar seniman – yang memiliki ide – untuk merespon sesuai keinginannya, terlibat aktif pada momen tersebut. Dari situlah kemudian ia disebut sebagai happening art.

Menjadi menarik ketika kami harus membaca koleksi dokumen kami yang berupa video karena membutuhkan kejelian untuk memahami dan menjelaskan kembali perbedaan video yang merekam performance art dengan video yang disebut sebagai video performance itu sendiri. Dalam perkembangannya, performance art bereksplorasi dengan melepaskan tubuh yang secara fisik hadir menjadi tubuh yang maya melalui video. Interaksi terjadi antara individu-individu yang hadir dengan sosok dalam video tersebut, dari sinilah performance art kemudian disebut sebagai video performance. Namun ada juga tubuh-tubuh yang digantikan dengan robot-robot atau media lain, yang kemudian disebut sebagai multimedia performance.

Metode pengkategorian menggunakan medium adalah hal paling dasar dalam seni rupa sehingga apa yang kami bagikan ini lebih cocok disebut sebagai “tutorial pembacaan performance art untuk pemula”. Semoga saja setalah ini akan ada diskursus performance art yang akan membantu IVAA memberi hashtag spesifik mengenai performance art pada perkembangan seni rupa di Indonesia.

Tiatira Saputri, Yogyakarta, 2016

 

Program Diskusi Keliling: Menanam Arsip pada Tanah

Menanam Arsip Pada Tanah merupakan program “berkeliling” IVAA untuk menginisiasi perjumpaan antar orang dan komunitas di berbagai tempat, untuk saling berbagi, sekaligus  mendorong lahirnya inspirasi (dan jaringan) baru mengenai kerja pengarsipan. Apa itu yang dianggap arsip; Apa saja yang perlu diarsipkan; Untuk apa dan untuk siapa kerja pengarsipan dikerjakan, dan; Bagaimana cara mengarsipkan; dan lain sebagainya… merupakan beberapa pertanyaan dasar yang akan terus-menerus digali dengan kritis dalam kerja arsip dan pengarsipan, dan sekaligus menjadi dasar dari Program Menanam Arsip Pada Tanah.

Arsip dan pengarsipan di ranah kebendaannya selalu terkait dengan operasi kuasa (pengetahuan, ekonomi, dan estetika). Operasi kuasa hadir dalam konteks kolonialisme, dalam konteks developmentalisme, maupun di dalam pusaran pasar komoditas. Operasi kuasa telah menghadirkan arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari sumber produksi pengetahuan, ekonomi, dan estetika “mereka yang berkuasa”. Di dalam pasar, arsip dan pengarsipan menjadi sumber estetika produksi-distribusi-konsumsi dari nilai komoditas yang ditawarkan. Menghadirkan wacana, nilai, dan sense yang lepas dari problem sosial-budaya-politik masyarakat. Arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari politik klaim, akses, dan estetika dari operasi kuasa.

Meskipun begitu, banyak dijumpai di dalam kenyataan, berbagai individu, lembaga, atau komunitas masyarakat di luar pemerintah dan perusahaan, telah mengembangkan kerja arsip dan pengarsipan di dalam kerangka konsep dan metodologi produksi pengetahuan yang disesuaikan dengan kegelisahan, kebutuhan, dan persoalan-nya sendiri. Pemahaman mengenai arsip dan kerja pengarsipan meluas, melintasi aspek waktu dan kebendaannya,  memasuki ranah bahasa, tubuh, dan ingatan. Proses dan sikap keberpihakan pada realitas yang penuh persoalan lebih diutamakan di dalam kerja arsip dan pengarsipan, menghadirkan berbagai produk pengetahuan, estetika, dan sense yang lebih kongkrit dalam arus pinggiran modernitas-globalisasi.

Arsip dan kerja pengarsipan sesungguhnya sangat penting untuk terus-menerus dipikir ulang, dipraktikkan, dan dieksplorasi di dalam konteks negara bekas jajahan yang terus bergerak dan tidak pernah fiks dalam (identitas) kehidupannya, seperti Indonesia. Sebuah negara bangsa yang tidak pernah bisa menciptakan museumnya dengan benar, yang selalu terengah-engah mengabstraksikan sejarah pengetahuannya, dan yang selalu punya siasat untuk mengacak-acak tatanan fungsinya. Namun, pada semua itulah justru seringkali terletak energi kreatif orang-orangnya: membuat hidup (yang berat) menjadi hidup. Kita, barangkali mempunyai pemahaman arsip dan kerja pengarsipan yang beragam. Museum, ditafsirkan dan dikerjakan dengan cara yang lain.

Arsip dan kerja pengarsipan pada akhirnya tidak hanya perkara mengumpulkan dan memulung dokumen-dokumen serta potongan-potongan rekaman mengenai apa yang pernah terjadi dalam kehidupan (sebagai nation state), namun juga menjadi sebuah lahan luas untuk terus digali dan diolah kembali secara kreatif untuk mengisi celah-celah kosong infrastruktur, ilmu, dan sejarah di negeri ini. Arsip sebagai -bukan hanya- sebuah kebendaan, ataupun sarana yang digunakan sebagai media kerja bersama produksi pengetahuan dan estetika, namun lebih dari itu, ia juga sebuah proses, praktik, dan alam bawah sadar dari strategi kultural kehidupan masyarakat setempat.

Kota-kota yang sudah disinggahi IVAA untuk mengadakan sarasehan “Menanam Arsip Pada Tanah”, yaitu:

1. Malang, Jawa Timur.
Waktu: Sabtu, 29 Agustus 2015 | Jam 15.00 – 18.00 WIB
Tempat: Kafe Pustaka Universitas Muhammadiyah Malang, Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia

Pembicara:
1.    Aji Prasetyo (Tjangkir17, Malang)
2.    Bramantyo Prijosusilo (Akademi Sekaralas, Madiun)
3.    Yoshi Fajar Kresno Murti (IVAA, Yogyakarta)

Moderator:
Francis Hera (CCFS, Malang)

Lihat album foto di sini.

2. Singapura.
Waktu: Selasa, 22 September 2015 | Jam 16.00 (Singapura)
Tempat: Block 47 Malan Road, #01-25 Singapore Art Archive Project Space By Koh Nguang How, Former NTU CCA Singapore Artist-in-Residence

Lihat album foto di sini.

3. Padang, Sumatra Barat.
Waktu: Sabtu, 7 November 2015 | Jam 15.00 – selesai
Tempat: Taman Budaya, Padang, Sumatera Barat

Pembicara:
1.    Gusti Asnan (Guru besar sejarah, Universitas Andalas, Padang)
2.    Muhidin M Dahlan (iBOEKOE, Yogyakarta)
3.    Yoshi Fajar Kresno Murti (IVAA, Yogyakarta)

Moderator:
Koko Sudarmoko (RKB, Padang)

Lihat album foto di sini.

Pameran Arsip IVAA di National Gallery Singapore

Laci reproduksi arsip tulisan tentang seni rupa Indonesia
Laci reproduksi arsip tulisan tentang seni rupa Indonesia

Pameran berlangsung di National Gallery Singapore, hingga November 2017.

Simak juga foto-foto penyelenggaraan pameran melalui tautan ini.

Salah satu interpretasi arsip diolah khusus menjadi video animasi dengan teknik speed drawing berikut.

 

IVAA menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya pada rekan-rekan pekerja seni yang telah turut membuat pameran ini terpajang dengan optimal. Tak lupa ucapan terima kasih terbesar kami sampaikan pada para pengarsip, peneliti, penulis, dan orang-orang yang telah mengerahkan daya dan upayanya untuk menelusuri dan melestarikan dokumen, rekaman, maupun ingatan mereka.

Sejarah seni rupa Indonesia, dan sejarah pada umumnya di Indonesia, adalah subyek yang berangsur-angsur populis di tengah ketidakmapanan. Karena itulah, kita semua harus cermat menelaah sejarah menurut berbagai versinya, kemudian terang dan jelas memaknai dampak dari berbagai versi tersebut.

Interpretasi arsip yang kami lakukan kiranya dapat dirangkum menjadi pengantar di bawah ini.

“Sangkal Putung, Merangkai sejarah seni rupa Indonesia yang patah-patah”

Dinamika dan perjalanan seni rupa di Indonesia tercatat lebih tua daripada usia Republik Indonesia. Sanento Yuliman, esais dan pendamping Gerakan Seni Rupa Baru menyebutkan bahwa tradisi lukis di Indonesia dimulai sejak zaman prasejarah, dan dibuktikan dengan penemuan cap tangan dan penggambaran lain di dinding gua, terutama di kepulauan Indonesia Timur.

Kesejarahan seni rupa Indonesia tersusun atas serpihan-serpihan informasi yang senantiasa disempurnakan oleh para peneliti. Penulisan sejarah seni rupa modern Indonesia secara linear selalu diawali dengan penokohan Raden Saleh, pelukis yang terdidik di Eropa masa Romantisisme. Namun, kehadiran Raden Saleh tidak secara langsung menentukan arah kajian seni rupa Indonesia selanjutnya, karena melukis dengan kanvas dan cat minyak masih merupakan privilese bagi kalangan bangsawan. Baru setengah abad setelah meninggalnya Raden Saleh, muncul ke permukaan sekumpulan pelukis yang menamakan diri PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Salah satu pendirinya yang kemudian menjadi sekretaris, S. Sudjojono, rajin menuliskan aspirasi dan opininya demi mengukuhkan identitas seni dan seniman di tengah masyarakat Indonesia.

Ketika itu, Sudjojono mengkritik tidak sesuainya lukisan naturalis dipraktekkan oleh para pelukis Indonesia. Penggambaran “Hindia Belanda yang molek” tidak diinginkan lagi oleh para pelukis generasi baru, dan Sudjojono menjadi advokat utama untuk kemunculan lukisan-lukisan dengan sensibilitas sosial masa itu. Maka, tidak heran jika Sudjojono masih diminta menjadi narasumber untuk diskusi-diskusi seni rupa yang terdokumentasikan seksama di dekade 70-80an. Pengalamannya dijadikan sarana reflektif untuk ranah seni budaya yang menginjak kemapanan, di antara situasi sosial politik yang senantiasa bergolak.

Mendengarkan rekaman suara dari diskusi-diskusi tersebut akan membawa kita membayangkan, bagaimana sesungguhnya ranah seni budaya di Indonesia berulang kali dipolitisir untuk kemudian didepolitisi lagi. Terusirnya Belanda oleh Jepang di masa Perang Dunia ke-II, pernyataan kemerdekaan Republik Indonesia, perpindahan ibukota karena krisis pemerintahan, sampai pemberangusan ideologi komunis dan berbagai tragedi penyertanya, tidak mampu menghentikan keinginan pekerja seni Indonesia untuk terus mencari makna dari kecintaan mereka atas kesenian. Meskipun untuk mencapai itu, tak urung mereka harus menciptakan identitas yang terpisah dari kecenderungan masyarakat di masanya.

Secara umum cakupan materi pameran sebagai berikut:

  • Elaborasi mula seni rupa sebagai praktek formal di Indonesia. Penokohan Raden Saleh dan kontroversi seputar penokohan tersebut melalui makalah Harsja W. Bachtiar dan Peter Carey dan rekaman diskusi di TIM antara Dan Soewarjono, Sudjojono, Oesman Effendi.
  • Latar sosial di P. Jawa pasca politik etis, melalui penokohan Ki Hadjar Dewantara dan peran Taman Siswa dalam menumbuhkan identitas kebudayaan Indonesia.
  • Jejak seniman asing di P. Bali melalui penokohan Rudolf Bonnet dan Walter Spies dan peran Pita Maha sebagai infrastruktur sosial bagi orang Bali yang berkesenian sebagai laku budaya dengan asosiasi ritual.
  • Kebutuhan PERSAGI melalui Sudjojono untuk menetapkan kisi-kisi identitas lukisan Indonesia dan mencari pengakuan dari pihak-pihak berkuasa yakni pemerintah kolonial Belanda, lembaga seni budaya bentukan Jepang, kemudian melalui Soekarno.
  • Eksplorasi seniman yang mengalami pendidikan Belanda dan Jepang sebagai upaya melegitimasi praktek masing-masing, melalui pembentukan cikal bakal infrastruktur seni yakni sanggar dan kemudian akademi seni. Masa ini mulai ada rekaman yang menyinggung peran seni untuk masyarakat, keterlibatan seniman dalam kancah politik praktis, dan identifikasi karakter praktek seniman Jogja-Bandung.
  • Latar politik di Indonesia yang menguat karena mapannya Partai Komunis Indonesia, di kesenian melalui aktifnya LEKRA mengirimkan delegasi untuk peristiwa budaya di luar negeri. Bentrok politik 1965 berimbas pada perlakuan buruk untuk anggota LEKRA dan ancaman bagi upaya kesinambungan praktek seni secara keseluruhan. Sikap saling tuding antar seniman karena ideologi politik mewujud melalui dibuatnya Manikebu sebagai kontra dari Manifestasi Politik yang secara eksplisit menyebutkan bahwa praktek seni budaya di Indonesia harus mutlak mendukung visi negara dengan sistem Demokrasi Terpimpin.
  • Di tengah gencarnya penumpasan ideologi komunis di seluruh Indonesia, pemerintahan Suharto digugat karena kebijakan poleksosbud oleh mahasiswa dan kalangan muda, diantaranya seniman. Di kesenian, mahasiswa juga didera stagnasi dari pengajaran seni yang patuh menunggu tren seni rupa Barat. Mahasiswa ASRI dan IKJ berupaya menggoyang status quo di kampus dengan mogok kuliah, pameran karya yang nyleneh menurut standard pengajaran akademi seni rupa, dan menulis di surat kabar. Beberapa mahasiswa dikeluarkan dari akademi, dan bersama beberapa rekannya yang lolos dari sanksi melanjutkan semangat Seni Rupa Baru.
  • Ideologi Seni Rupa Baru kemudian menyenggol beberapa soal di luar wacana seni itu sendiri, yakni pengolahan data tentang lingkungan melalui Proses ‘85, ekspresi tentang perubahan dinamika sosial budaya masyarakat modern melalui Pasaraya Dunia Fantasi, yang kemudian menjejak kemapanan di tingkat birokrasi melalui Biennale Jakarta 1993 dan Pameran Negara-negara Non Blok 1995.
  • Di Yogyakarta, dinamikanya berlangsung dalam tempo perlahan dan sporadis. Perkumpulan tidak resmi di Seni Sono yang membaurkan internalisasi seniman 70an-90an antara seni rupa, sastra, dan seni pertunjukan diantaranya diwujudkan melalui Binal Eksperimental Arts.
  • Berangsur-angsur, praktek seni Yogyakarta-Bandung-Jakarta semakin mapan menurut jalurnya masing-masing. Sorotan terutama diberikan pada naluri seniman untuk membawa seni ke tengah masyarakat, dengan konsep yang beragam tentang penonton, partisipan, hingga tudingan keberpihakan pada komersialisasi seni. Performance art, dianggap sebagai salah satu bentuk ekspresi yang senantiasa aman bagi seniman, dalam rangka berpraktek di tengah asumsi masing-masing atas masyarakat dan belum ternodai komersialisasi seni.

Tim Kerja:

Farah Wardani (Inisiator – National Gallery Singapore)
Hafiz Syed (Inisiator – National Gallery Singapore)
Cheng Jia Yun (Administrator – National Gallery Singapore)
Pitra Hutomo (Kurator Arsip)
Mahardika Yudha (Rancangan Presentasi, Periode I)
Anang Saptoto (Koordinator Reproduksi Materi dan Rancangan Presentasi, Periode II)
Melisa Angela (Koordinator Bahan)
Christy Mahanani (Koordinator Komunikasi)
Sita Magfira (Pengolah Arsip)
Umi Lestari (Pengolah Arsip, Periode I)
Dwi Rahmanto (Koordinator Pemasangan Materi, Editor Video)
Rifqi Mansur Maya (Pengolah Arsip)
Sukma Smita (Pengolah Arsip)
Tiatira Saputri (Pengolah Arsip)
Alit Mranani (Pengolah Arsip)
Prihatmoko Wicaksono (Ilustrator interpretasi arsip)
Aria Pradifta (Tata letak reproduksi cetak)
Maria Uthe (Tata letak buku elektronik)
Viki Bella (Tata letak buku elektronik)
Akiq AW (Tim Pemasangan Materi)
Mirna Adzania (Penerjemah indeks arsip dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris)