Category Archives: Activities

Kunjungan dari Partisipan Traveller, Guangzhou

Oleh Ahmad Muzakki (Kawan Magang IVAA)

Bertukar informasi dalam dunia seni sangat dibutuhkan. Tidak hanya antar seniman, pertukaran informasi juga penting dilakukan dengan aktor-aktor dari bidang yang lain. Praktik semacam ini akan mendorong perkembangan kesenian dan bidang lain yang bersentuhan dengannya.

Pada Rabu, 24 April 2019 lalu IVAA mendapat kesempatan untuk berdialog bersama para pegiat seni dari Guangzhou. Rumah IVAA menjadi salah satu tujuan tour mereka di Yogyakarta dalam program Traveller. Traveller merupakan sebuah program yang diprakarsai oleh seniman Li Zhiyong, Ce Zhenhao dan Zhu Jianlin pada 2016. Program ini dimaksudkan untuk membangun atau mentransfer hubungan sementara antara ruang dan waktu, hanya dengan berkeliaran di kota-kota. Dengan menyelidiki apa arti kota hari ini, dan lebih jauh lagi, dengan membedakan pemahaman soal “place”, “on-site”, “native” dan “local”, program ini berusaha mengurai hubungan antara kota dengan praktik/ penciptaan, serta mendorong kemungkinan kolaborasi.

Pada 2016, didukung oleh “Banyan Commune” dari Times Museum dan HB Station, “Banyan Travel Agency” pertama diluncurkan oleh Traveller. Proyek pertama Traveler ini berhasil diselenggarakan dengan tujuan ke Shunde, Tokyo, Shanghai, Shenyang, Wuhan, Hong Kong, Guangzhou, dll. Melalui “Banyan Travel Agency”, para inisiator mengundang seniman, kurator, dan peneliti yang berminat untuk mengulik isu seputar kota.

Mereka terhubung dengan para pegiat seni dan institusi setempat untuk berkolaborasi dalam suatu bentuk kerja. Harapan yang diusung melalui program ini adalah adanya situasi menembus batasan geografis dan stereotip, melepaskan diri dari inersia ruang/ praktik, untuk meningkatkan koneksi, pengembangan, dan wawasan tentang pengalaman praktis.

Dari Maret hingga Juli 2019, dengan dukungan dari HAF, Traveller meluncurkan perjalanan di kawasan Asia Tenggara. Asia Tenggara lebih mereka maknai sebagai konsep kultural dari pada sebentuk wilayah geografis saja, yang memiliki kesamaan dengan Guangzhou. Beberapa wilayah yang dikunjungi adalah Bangkok (Thailand), Hanoi (Vietnam), Jakarta dan Yogyakarta (Indonesia). IVAA menjadi salah satu tempat yang mereka kunjungi untuk wilayah Yogyakarta.

Saat singgah di Rumah IVAA para pegiat seni dari Guangzhou ini dikenalkan dengan banyak hal mengenai IVAA. Lisistrata Lusandiana, selaku direktur IVAA, memulainya dengan mengajak mereka berkeliling di setiap sudut ruang IVAA. Banyak dari mereka yang mengamati detil ruangan beserta barang-barang yang ada, seperti buku, bentuk arsitektur, hingga papan time table. Setelah berkeliling, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama di amphitheater, mendiskusikan isu kota dan kaitannya dengan arsip serta praktik-praktik kesenian di sekitarnya.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

Seni Jalanan; Jalan Kaki Lebih dari 10 Menit

Oleh Rully Adi Perdana (Kawan Magang IVAA)

Pada Rabu, 10 April 2019, IVAA menggelar sesi diskusi bertajuk “Seni Jalan; Jalan Kaki Lebih dari 10 Menit”. Esha Jain, salah satu peserta magang di IVAA membagi pengalamannya ketika menyusuri jalanan Yogyakarta. Kesempatan diskusi tersebut diikuti oleh seluruh staff IVAA bersama lima orang peserta magang di IVAA. Esha, dengan perhatian lebih pada seni jalanan (street art), menampilkan ragam visual yang ia temui, baik berupa mural, graffiti, maupun bentuk seni jalanan lainnya.

Mural di kantor PKBI Yogyakarta

Sesi yang berlangsung selama dua jam sejak pukul 10.00 tersebut mengundang percakapan yang hangat di antara seluruh peserta diskusi. Masing-masing staff dan peserta magang membagikan cerita dan pengalamannya mengenal dunia street art. Berbagai nama seniman jalanan yang karyanya berhasil direkam oleh Esha menjadi bahan perbincangan, berikut karya-karya yang pernah mereka buat di waktu dan tempat yang berbeda serta cerita-cerita di balik karya-karya tersebut.

Mural oleh Ketjil Bergerak Jalan Ahmad Dahlan Yogyakarta

Malioboro, Kotagede, Mantrijeron, dan titik lain yang ditelusuri Esha menghadirkan berbagai macam seni jalanan dengan bentuk dan tafsiran cerita yang berbeda-beda. Sebagian bercerita tentang toleransi, beberapa tentang politik, sementara sebagian lainnya sekadar menjadi penanda area dengan membuat tag. Selain memaparkan tentang seni jalanan di daerah Yogyakarta, Esha juga mengenalkan The High Line yang berada di tepi barat Manhattan di New York City. The High Line dibangun di atas area bekas New York Central Railroad dan desainnya merupakan hasil kolaborasi James Corner Field Operations, Diller Scofidio + Renfro, serta Piet Oudolf. Jalur sepanjang 2.33 kilometer yang dibuka sejak tahun 2009 itu telah menjadi tempat bagi lebih dari 500 spesies tanaman dan karya seni yang dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung secara gratis.

Sumber tambahan:

https://www.thehighline.org/#

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.

#NgobrolIVAA:  Warisan Kolonial & Seni Kontemporer – Jithinlal N R dan Kerstin Winking

#NgobrolIVAA
Warisan Kolonial & Seni Kontemporer
.
Thursday, 21st February 2019
4-6 PM
At Rumah IVAA


.
Hai Kawan IVAA,
Jithinlal N R dan Kerstin Winking akan mampir ke IVAA dan membagikan kisahnya dalam mempersiapkan pameran berjudul ‘Mindful Circulations’. Mempertemukan 12 seniman dari Indonesia, India dan Belanda, ‘Mindful Circulations’ mengeksplorasi tema seputar warisan kolonial dan kaitannya dengan praktik seni kontemporer, dan akan berlangsung di Museum Dr. Bhau Daji Lad, Mumbai, India.
Jithinlal N R ialah seniman dari Kerala yang berdomisili di Vadodara, India, yang banyak menaruh perhatian pada representasi komunitas terpinggirkan di negara asalnya. Melalui keterlibatannya ia memeriksa sejauh mana struktur sosial berdampak pada gagasan, identitas dan estetika.
Sampai Besok…
.
.
Dear Kawan IVAA,
Jithinlal N R and Kerstin Winking will visit IVAA and share the exhibition concept of ‘Mindful Circulation’. The exhibition features 12 artists from Indonesia, India and Netherland who engage with colonial legacies in relation to contemporary art. The exhibition will take place in Dr. Bhau Daji Lad Mumbai City Museum, India.
Jithinlal N R is India based artist who pays much attention to the representation of marginalized communities in his home country. Through his social involvement he examined the extent to which social structures have an impact on ideas, identity and aesthetics.
Please come and join the talk 🙂

#arsipivaa#dokumentasiivaa #ivaaarchive#documentationivaa #archive #art#senirupa #visualart #arsipsenibudaya#arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa#indonesianvisualartarchive

Jogja Noise Bombing: From The Street To The Stage, a documentary book about Jogja Noise Bombing

.

@warningbooks & Jogja Noise Bombing present:

Book launching and discussion by
Sean Stellfox @bossbattle_
@IndraMenus
@SoniTriantoro
@AzziefKhaliq
.

Performance by:
1. Mahamboro @ahamborr x Tesla Manaf
2. Eira
3. Made Dharma @rustynailsssss
4. Pierre Pierre Pierre (France)
.

26th January 2019
7-9 PM
At @IVAA_id
Gang Hiperkes 188 A-B Jalan Ireda, Dipowinatan Keparakan, Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta.

.
Supported by:
@warningmagz
@warningbooks
@bukuakik
@ykbooking .

Seni Rupa di Lombok thn 1960-1990an

Hai..hai.. Sasih Gunalan akan mampir ke IVAA & bercerita tentang Seni Rupa di Lombok thn 1960-1990an. Bersama dg tim riset biennale jogja juga, acara ngobrol-ngobrol santai ini tentunya bisa diikuti oleh teman-teman yg berminat.
Seni rupa Lombok merupakan salah satu wacana kehidupan seni rupa yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Sebagai daerah yang, berada jauh dari pusat seni rupa yang ada di pulau Jawa. Lombok memiliki kehidupan sendiri yang ditopang oleh berbagai aspek yang lain. Kehidupan seni rupa modern di Lombok, yang tidak begitu menyeruak pada medan seni rupa nasional. Menjadi sebuah pemicu bagaimana menariknya menelusuri jejak-jejak kehidupan seni rupa Lombok yang tidak pernah diperbincangkan. Semoga, dengan segudang pundi-pundi karya seniman yang tertinggal, mampu menghantarkan kita bercerita banyak tentang berbagai aspek yang menghantarkan karya-karya tersebut dilahirkan.

Besok jumat, 25 januari. Pukul 15:00 di. RumahIVAA.

 

Pra Kongres Kebudayaan 2018, Ragam Masalah dan Rekomendasi Menuju Strategi Kebudayaan

Oleh Krisnawan Wisnu Adi

Sebagai lembaga yang dekat dengan kerja kebudayaan, IVAA mendapat undangan untuk mengikuti Pra Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) pada 4-6 November 2018. Acara yang bertempat di The Sultan Hotel & Residence Jakarta ini digelar oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pra KKI merupakan forum diskusi yang melibatkan para ahli dan pekerja kebudayaan, yang terbagi ke dalam 11 forum dari total 24 forum, yang mendiskusikan serangkaian aspirasi ruang sektoral terkait ekosistem kebudayaan, untuk menyusun rekomendasi dalam kepentingan perumusan Strategi Nasional/ Strategi Kebudayaan.

Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menjadi titik tolak diselenggarakannya Pra KKI. Sebagai langkah pemerintah yang berbeda dari seluruh KKI sebelumnya, Pra KKI dimaksudkan untuk mengawali KKI 2018 dengan rekomendasi berbasis forum diskusi. Pra KKI menjadi bagian besar dari proses perumusan Strategi Nasional/ Strategi Kebudayaan yang telah didasarkan atas penyusunan PPKD (Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah) dari kabupaten sejak Maret 2018.

Dari 11 forum, IVAA berpartisipasi ke dalam forum Kajian dan Pendidikan Tinggi Kebudayaan. Forum ini diikuti oleh mereka yang dianggap sebagai representasi pendidikan tinggi (seni), institusi riset, asosiasi keilmuan, pusat studi, dan eksekutif birokrasi. Oleh karena itu, forum ini dipecah kembali ke dalam dua kelompok, yakni Kelompok Gabungan 1 (institusi riset, pusat studi, eksekutif birokrasi) dan Kelompok Gabungan 2 (asosiasi keilmuan dan perguruan tinggi). Secara ringkas, tujuan dari forum ini adalah untuk mengidentifikasi masalah kebudayaan apa yang muncul, inisiatif apa yang sudah dilakukan, dan merumuskan rekomendasi yang layak ditempuh.

Dalam Kelompok Gabungan 1 ada empat isu yang dibicarakan selama proses diskusi. Pertama, soal diskonektivitas antar stakeholder dan antar bagian dalam institusi. Bahwa masih ada jarak yang lebar antara proses dan hasil penelitian kebudayaan dengan dinamika masyarakat. Selain itu diskonektivitas juga terjadi antar institusi pendidikan dengan pemangku kebijakan. Pemerintah di level daerah tidak menjalankan fungsinya sebagai badan penyalur hasil penelitian kepada masyarakat. Persoalan diskonektivitas ini membuat pemanfaatan hasil penelitian atau kajian untuk perumusan kebijakan dan ranah pendidikan tidak terjadi.

Isu kedua adalah bahwa stakeholder masih memiliki visi dan misi yang terbatas tentang pentingnya kebudayaan dalam pembangunan. Kebudayaan beserta ilmu mengenainya masih didudukkan lebih rendah dari kepentingan industri dan ilmu eksak. Oleh sebab itu, perhatian terhadap kajian kebudayaan bersifat terbatas sehingga informasi tentang kebudayaan pun sangat minim. Namun, inventarisasi data kebudayaan melalui PPKD dapat menjadi pintu masuk yang cukup potensial.

Isu ketiga masih berkaitan dengan perihal visi dan misi, bahwa stakeholder memiliki visi dan misi yang parsial. Tidak ada visi dan misi yang solid dari seluruh daerah terkait pemajuan kebudayaan. Kompleksitas isu kebudayaan di daerah tidak terpetakan dan terpotret dengan baik oleh ilmuwan. Tulung Agung menjadi contoh kasus yang diangkat. Dulu ada ratusan kelompok ketoprak, tapi sekarang tidak ada lembaga yang mampu memberi data tentang itu. Jadi ketika kita bicara soal ketoprak, kita hanya bicara soal imajinasi.

Persoalan diseminasi menjadi isu yang terakhir dibicarakan dalam kelompok ini. Para peserta melihat bahwa hasil riset atau kajian kebudayaan tidak didiseminasikan dengan tepat. Tidak ada proses translasi dari bahasa riset ke bahasa masyarakat dan bahasa kebijakan untuk sistem pendidikan. Pengelolaan informasi yang buruk (lack of information management) juga muncul, terutama di level daerah.

Dari keempat isu itu, kelompok ini menghasilkan rekomendasi sebagai berikut:

  1. Penciptaan ruang-ruang kolaboratif di berbagai tingkat dengan cara membentuk MoU, pokja (kelompok kerja), dan perjanjian kerja sama.
  2. Membuka akses perguruan tinggi kepada sumber data (dokumen PPKD) yang dimiliki.
  3. Harus ada executive review PPKD di level nasional dan tingkat kabupaten/ kota yang menjadi acuan.
  4. Pembentukan pokja untuk menindaklanjuti dan me-review dokumen PPKD untuk dituangkan sebagai renstra (rencana strategis) pemerintah kabupaten/ kota.
  5. Optimalisasi fungsi litbang baik di tingkat nasional/ kabupaten/ kota untuk menstimulasi koordinasi lintas pihak intra dan ekstra instansi.
  6. Mengintegrasikan fungsi litbang dan humas untuk mengolah hasil penelitian agar bisa dikelola dan didiseminasikan.

Kelompok Gabungan 2 juga memiliki poin-poin masalah yang telah diidentifikasi. Pertama, berhubungan dengan poin masalah dari Kelompok Gabungan 1, adalah soal sinergitas. Bahwa konektivitas antar asosiasi keilmuan atau lintas lembaga dengan masyarakat belum maksimal. Dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah serta lembaga negara yang lain pun, sinergitasnya belum terwujud dengan baik. Bagi kelompok ini, masalah konektivitas juga terkait dengan beberapa masalah lain, seperti belum seluruh disiplin ilmu bidang kebudayaan memiliki asosiasi lembaga keilmuan murni dan terapan, asosiasi keilmuan belum berdaya dalam penguatan SDM dan infrastrukturnya, belum seluruh asosiasi keilmuan memiliki dewan etik dan kode etik, dan belum adanya rekomendasi secara berkala dan kontekstual dari asosiasi keilmuan mengenai pemajuan kebudayaan.

Isu yang kedua adalah soal regulasi. Ada beberapa poin masalah seperti belum terbitnya PP pelaksanaan UU Pemajuan Kebudayaan dan regulasi turunannya untuk mengatur peran lembaga perguruan tinggi, belum ada perlindungan keamanan yang maksimal dari negara terhadap kegiatan berkebudayaan baik kepada perguruan tinggi maupun masyarakat, dan ada kecenderungan keterbatasan perspektif dalam studi seni (skripsi, tesis, dan disertasi).

Isu program juga menjadi sorotan dalam perbincangan, bahwa program pendampingan, event-event kebudayaan, riset, kekaryaan oleh perguruan tinggi bidang kebudayaan belum maksimal. Mungkin masalah itu berhubungan dengan persoalan anggaran atau pendanaan. Kelompok menilai bahwa belum ada anggaran pemajuan kebudayaan yang tersalurkan kepada perguruan tinggi terkait riset bidang kebudayaan.

Dari beberapa masalah tersebut kelompok ini memberikan beberapa poin rekomendasi:

  1. Pengelola kebudayaan harus mengarusutamakan pemahaman dari perspektif pemilik kebudayaan terkait dengan upaya perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan secara berkelanjutan.
  2. Inventarisasi dan identifikasi kajian-kajian kebudayaan secara berkesinambungan yang berorientasi pada pengembangan keberagaman, pemberdayaan sumber daya, penguatan jati diri melalui Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu yang dipublikasikan melalui portal pemajuan kebudayaan yang dapat diakses publik.
  3. Debirokratisasi sistem pelaksanaan riset kebudayaan dalam rangka optimalisasi pengembangan ilmu-ilmu kebudayaan.
  4. Sinergitas peran pemerintah pusat dan daerah, lembaga negara yang lain, swasta, dan masyarakat penyangga dalam mewujudkan gerakan nasional penguatan ekosistem pendidikan tinggi dan kajian kebudayaan.
  5. Mendesak penerbitan regulasi dalam semua tingkatan hirarki perundang-undangan dalam hal penguatan pendidikan tinggi dan kajian kebudayaan dalam rangka pemajuan kebudayaan.
  6. Meningkatkan peran dan posisi pendidikan tinggi dan asosiasi keilmuan bidang kebudayaan dalam pembangunan yang berkelanjutan berbasis kebudayaan melalui forum tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional (dunia).
  7. Optimalisasi peran pendidikan tinggi dan asosiasi keilmuan bidang kebudayaan dalam program diplomasi kebudayaan sebagai upaya peran aktif negara dalam mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia.

Ada satu lagi poin yang didiskusikan, yakni soal kebudayaan maritim. Forum menilai bahwa kebudayaan maritim belum tersentuh sebagai objek penelitian keilmuan budaya maupun pemanfaatannya sebagai sumber daya kebudayaan. Oleh karena itu, rekomendasi yang diajukan adalah pengembangan peran PELNI sebagai Universitas Kebudayaan Maritim dan pengembangan program pembelajaran yang terintegrasi di bidang penyelenggaraan festival, pameran, pertunjukkan di atas kapal PELNI, sekaligus perjalanan budaya yang memfasilitasi dosen dan mahasiswa dalam rangka pengembangan literasi kebudayaan.

Poin-poin masalah dan rekomendasi di atas hanyalah satu dari sebelas forum lainnya. Belum lagi tiga belas forum di luar acara Pra KKI. Bisa dibayangkan betapa banyak masalah dan rekomendasi perihal kebudayaan yang nanti akan dirumuskan ke dalam satu komando Strategi Kebudayaan. Rasa kepemilikan yang tinggi menjadi harapan dari ambisi pemerintah untuk mencoba merumuskan Strategi Kebudayaan yang berangkat dari konteks daerah, seperti penggalan sambutan Hilmar Farid demikian,

“Yang penting dari penyelenggaraan KKI 2018 ini adalah rasa kepemilikan yang tinggi. Ini karena basis data-data yang dihimpun adalah dari seluruh provinsi/ kabupaten/ kota di Indonesia. Aspirasi dari daerah-daerah, diberikan ruang untuk menjadi penyusun strategi kebudayaan. Ini yang membedakan penyelenggaraan KKI 2018 dari yang sebelum-belumnya.”

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Indonesia Philanthropy Festival

Oleh: Hardiwan Prayogo

Dari 15 hingga 17 November 2018 di Plenary Hall Jakarta Convention Centre, tim IVAA mengunjungi Indonesia Philanthropy Festival. Acara ini adalah semacam pameran produk CSR dari lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta. Selain itu juga terdapat lembaga-lembaga independen (non pemerintah) yang berpotensi mendapat bantuan philanthropy. Lembaga ini beragam, mulai dari yang bergerak di ranah lingkungan, pengelolaan sampah plastik, peternakan, perjuangan hak disabilitas hingga seni-budaya. Acara berlangsung selama 3 hari dengan rangkaian acara mulai dari pameran, talkshow, hingga diskusi kelompok terarah.

IVAA bergabung dalam booth milik Koalisi Seni Indonesia (KSI), lembaga yang menaungi pelaku seni baik kelompok maupun individu. Booth ini menampilkan video profil dari para pelaku seni, hingga rilisan dan buku terbitannya. Melalui booth tersebut KSI berharap atensi dari lembaga-lembaga philanthropy dalam mendukung kegiatan seni-budaya yang selama ini masih minim dapat meningkat.

KSI mendapat satu slot di panggung utama untuk menggelar talkshow sekaligus peluncuran buku pada hari ketiga. Buku yang diluncurkan berjudul Dampak Seni di Masyarakat, menampilkan 12 Gerakan dan Komunitas Seni, sekaligus ingin menunjukkan sedikit dari banyak komunitas seni budaya yang tersebar di Indonesia dan melahirkan inisiatif-inisiatif lokal. Bersama dengan peluncuran buku, talkshow diisi oleh perwakilan dari Jatiwangi Art Factory (JAF) dan Pasa Harau.

Sebagai bagian dari upaya menyambut Kongres Kebudayaan Indonesia yang akan digelar pada 5-9 Desember 2018, KSI juga mendapat slot untuk menggelar FGD. Diskusi intensif ini mempertemukan antara perwakilan lembaga seni-budaya dengan lembaga philanthropy. Masing-masing berdiskusi untuk saling mempertemukan persoalan. Inti persoalan dari kedua pihak itu adalah masih sulitnya mengakses informasi tentang philanthropy dalam negeri, perlunya basis data terpadu soal potensi seni-budaya yang mendesak dan perlu dukungan, dan cara menakar tingkat efektivitas dan kesuksesan seni-budaya yang tentu tidak bisa semata menggunakan kuantifikasi ekonomi. Hilmar Farid, selaku Direktur Jenderal Kebudayaan, menyampaikan sebuah pidato sebagai penutup FGD dan menyatakan bahwa poin-poin dalam acara ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam Kongres Kebudayaan Indonesia.

Rangkaian Indonesia Philanthropy Festival akhirnya ditutup di malam hari pada 17 November 2018. Acara ini memiliki tagline “From Innovation To Impact”. Titik temu agar benar-benar memiliki “impact” antara lembaga seni-budaya dan lembaga philanthropy tentu akan sulit terealisasi dalam satu kali perhelatan. Perjalanannya bisa panjang dan berliku, atau bahkan jika ukuran yang digunakan hanya soal komoditas ekonomi, pertemuan itu bisa menjadi semakin utopis, atau hanya beredar dalam lingkaran yang kecil.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Selamatan Rumah IVAA

Oleh Sukma Smita

Tumpeng nasi kuning komplit dengan lauk-pauk yang diletakkan di tengah amphiteater mengiringi rangkaian acara pembukaan Selamatan Rumah IVAA, pada petang 21 Desember 2018. Dalam bahasa Jawa, tumpeng merupakan akronim dari yen metu kudu mempeng, atau secara bebas dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan dengan ‘harus penuh kesungguhan jika muncul’. Nasi kuning kerap menjadi menu hidangan utama dalam suatu kegiatan perayaan. Juga tumpeng nasi kuning merupakan simbol rasa syukur, doa untuk kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan. Acara selamatan yang diselenggarakan selama 2 hari, yaitu 21-22 Desember 2018 dengan mengundang publik seni dan warga sekitar untuk turut merayakan dan mendoakan, adalah wujud rasa syukur IVAA atas selesai dan dibukanya ruang baru serta doa keselamatan untuk beberapa rencana program mendatang IVAA.

Pada pembukaannya, acara selamatan diawali dengan sambutan oleh Ibu Rini Widarti selaku Lurah Keparakan dan Yoshi Fajar selaku Ketua Yayasan IVAA. Dalam sambutannya Yoshi menyampaikan bahwa IVAA perlu melakukan refleksi dan penguatan posisi terutama dalam kerja-kerja pengarsipan seni budaya yang sudah dilakukan lebih dari 23 tahun. Penguatan posisi perlu diambil selain karena melihat situasi politik dan kaitannya dengan seni budaya hari ini, juga karena kerja pengarsipan IVAA memiliki peran penting dalam menentukan arah demokrasi yang lain, terutama di tengah 3 rezim yang tengah berlangsung yaitu Wisata, Percepatan Pembangunan dan Industri Kreatif. Selepas beberapa sambutan yang diutarakan, Gunawan Maryanto diundang untuk memimpin refleksi sederhana serta doa keselamatan yang kemudian disambung oleh pertunjukan Sahita, kelompok teater ibu-ibu dari Surakarta yang diundang secara khusus untuk melakukan pementasan. Pembukaan selamatan ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Lisistrata yang kemudian diserahkan kepada perwakilan warga Dipowinatan, dilanjutkan dengan dhahar kembul atau memakan nasi kuning bersama-sama.

Sebagai penanda dibukanya ruang baru, yaitu ruang pamer, IVAA mengadakan pameran arsip dan tafsirnya. Dalam pameran yang bertajuk Waktu dan Ingatan Tak Pernah Diam, IVAA mengajak Ipeh Nur -seniman muda perempuan yang tertarik merespon situasi di sekitarnya melalui karya-karya yang interaktif-, Piring Tirbing -kelompok seniman yang fokus bekerja dengan medium audio-visual-, serta Arga Aditya –kurator muda yang pernah terlibat dalam Festival Arsip IVAA 2017 sebagai asisten direktur artistik-. Melalui pameran tersebut, Ipeh Nur dan Piring Tirbing ditantang untuk merespon arsip menjadi karya artistik dan melakukan eksplorasi atas tema Tradisi dan Identitas, yaitu eksplorasi berjalan tim Newsletter IVAA yang tertuang dalam 3 edisi terakhir selama Mei hingga Oktober 2018. Reading Identity menjadi judul karya Ipeh Nur, dan Out of the Circle menjadi judul karya Piring Tirbing.

Selain pameran, juga diadakan peluncuran kembali IVAA Shop, yaitu salah satu bidang usaha IVAA yang muncul atas semangat kemandirian pada segi pendanaan. Kali ini IVAA Shop mengajak 3 orang seniman untuk berkerja bersama dalam merancang, memproduksi dan menjual produk merchandise melalui tema Fashion as Statement. Tiga seniman yang diajak yaitu Agan Harahap, Hendra ‘Blankon’ Priyadhani dan Vendy Methodos. Selama dua hari acara, diajak pula beberapa komunitas untuk terlibat yaitu teman-teman pegiat zine, antara lain Asal kelihatan Boleh Dibicarakan, Indischzine Partij, Kios 5A, Demi Sesuap Nasi, dan pameran buku oleh Pojok Cerpen serta lapak musik oleh Jogja Record Store Day.

Rangkaian kegiatan pada hari kedua diawali dengan pemutaran 2 film pendek untuk anak-anak oleh Bioscil. Ini merupakan kali kedua IVAA sengaja mengundang Biocil untuk memutarkan film pilihannya. IVAA mengajak anak-anak sekitar untuk terlibat. Mereka adalah anak-anak sekitar yang selama liburan sekolah biasa menghabiskan waktu untuk bermain game online menggunakan wifi Rumah IVAA. Aktifitas lain di hari kedua yaitu workshop merawat kaset oleh Jogja Record Store Day, tur pameran, serta diskusi dan peluncuran buku berjudul Nu’u. Buku ini berisi tulisan hasil pengamatan Lifepatch selama 45 hari tinggal di Nusa Tenggara Timur. Acara Selamatan Rumah IVAA ditutup dengan semarak dalam Musrary yang menampilkan 3 kelompok music, yaitu Doa Ibu, Help Me Touch Me dan Didi Kempits Hits Collection.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

MUSRARY – MUSIC ON LIBRARY

Music on Library penutup tahun 2018 menampilkan musisi lintas-genre yang super spesial. Diadakan tepat pada hari ibu maka kami mengundang band pop DOA IBU, lalu untuk merespon cuaca dingin di bulan Desember kami memberi sentuhan kehangatan dari band HELP ME TOUCH ME, dan terakhir adalah kolaborasi kontemporer antara RD HITS SELECTION dan DIDI KEMPIT. Save the date!

Sabtu, 22 Desember 2018
18:30 – 21:30

di Rumah IVAA
Gang Hiperkes 188 A-B Jalan Ireda, Dipowinatan Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta.

PELUNCURAN DAN DISKUSI BUKU NU’U

Nu’u adalah kumpulan tujuh cerita (tulisan), merupakan hasil pengamatan Lifepatch selama 45 hari tinggal di 16 lokasi, di Pulau Timor Barat dan Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perjalanan ini adalah bagian dari rangkaian Sarinah Apa Kabarmu?, sebuah penelusuran atas ideologi gender dari sudut pandang lokal, bekerja sama dengan Birmingham Open Media, serta mendapat dukungan dari British Council.
.
Bagi yang ingin mengunduh bukunya,

klik link: http://bit.ly/NU-U-IND
.
catat tempat dan tanggalnya:
Sabtu, 22 Desember 2018
Pukul 15:00-18:00
Rumah IVAA
Gang Hiperkes 188 A-B. Jl. Ireda, Dipowinatan, Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta.