Category Archives: Activities

Rangkaian kunjungan ke Rumah IVAA Studi Ekskursi Program Studi Arsitektur UTY  dan Balai Penelitian Batik

Oleh Elis Sriwahyuni (Kawan Magang IVAA)

IVAA adalah suatu lembaga arsip yang membuka peluang informasi bagi setiap masyarakat, baik dari lembaga hingga universitas, dan berbagai kalangan (peneliti, mahasiswa, waratan, seniman, kurator, dan lain-lain) dengan tidak membatasi siapa saja yang mau berkunjung. Seperti halnya pada tanggal 3 mei 2018, IVAA mendapatkan kunjungan sekitar 80 mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) dari program studi Arsitektur, Fakultas Sains & Teknologi dalam rangka kegiatan Studi Ekskursi mata kuliah Sejarah Arsitektur Indonesia.

Kunjungan ini menjadi kesempatan berbagi pengalaman, cerita tentang ruang seni, konsep ruang, dan pengarsipan. Para mahasiswa ini cukup antusias dan merespon dengan baik penjelasan dari IVAA, yang diwakili oleh Dwi Rachmanto, Hardiwan Prayoga, dan Santosa. Mereka bertiga bercerita cukup panjang tentang sejarah berdirinya IVAA, lengkap dengan dinamika ruangnya. IVAA yang berdiri pada 1995 telah melakukan 2 kali perpindahan, pertama di Ngadisuryan, kemudian pindah ke Patehan Tengah, dan sejak 2011 mulai menempati “rumah” sendiri di Dipowinatan. Dwi Rachmanto dan Santosa yang sudah bergabung dengan IVAA sejak 2003 bercerita bahwa konsep Rumah IVAA yang sekarang, disebut sebagai yang paling ideal karena sudah milik sendiri. Dengan kata lain, desain ruang IVAA dibuat senyaman mungkin untuk kegiatan belajar dan diskusi. Namun sekaligus tidak melupakan standar keamanan, karena juga berfungsi sebagai rumah penyimpan arsip. Desain rumah yang didominasi oleh bahan kayu, dimaksudkan agar Rumah IVAA jauh dari kesan mewah yang dapat membuat sungkan publik untuk berkunjung. Setelah sesi “kuliah” singkat ini, para mahasiswa ini berkeliling melihat-lihat setiap ruangan yang ada di IVAA. Mereka melihat dengan cukup detail mulai dari perpustakaan di lantai 1 dan 2, ruang arsip, ruang server, dan ruang editing dokumentasi.

Dalam kesempatan berbeda 18 Mei 2018, IVAA juga mendapat kunjungan dari Balai Penelitian Batik. Kunjungan ini lebih dalam tujuan melihat IVAA mengelola arsip dan hal-hal teknis yang berkaitan dengannya. Balai Penelitian Batik dalam waktu dekat ini sedang akan membangun basis kerja kearsipan, yang sesuai dengan kebutuhan baik secara penelitian maupun kelembagaan. IVAA sebagai lembaga yang bekerja untuk publik, selalu membuka kesempatan bertukar pengalaman dan cerita dengan siapapun tentang bagaimana mengelola ruang seni sebagai salah satu wadah diseminasi pengetahuan.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Diskusi Lintas Generasi “Setelah Dua Dekade: Seni Setelah 20 Tahun Reformasi”

Oleh Putri R.A.E. Harbie (Kawan Magang IVAA)

Dalam rangka memperingati 20 tahun reformasi, Koalisi Seni Indonesia (KSI) mengadakan diskusi dengan tema seni sebelum dan pasca-reformasi, Senin (27/5) di Rumah IVAA. Sesi diskusi pertama, yang berlangsung dari pukul 13.00-15.30, fokus pada praktik seni pada masa sebelum hingga transisi reformasi dengan moderator Alia Swastika. Muhamad “Ucup” Yusuf, Gunawan Maryanto, Aji Wartono dan Yustina Neni adalah pembicara dalam sesi pertama ini. Sesi kedua lebih membicarakan praktik seni setelah 1998 dengan moderator Brigitta Isabella dari Kunci Cultural Studies. Sesi ini juga menghadirkan 4 pembicara yaitu Fitri DK, Wok The Rock, Heni Matalalang dan Linda Mayasari. Peserta yang hadir juga beragam, dari yang sepantaran usia dengan pembicara di sesi pertama, hingga generasi sesi kedua yang fokus berkarir pada periode tahun 2000an. Diskusi ini diharapkan menjadi jembatan untuk mengatasi kekhawatiran atas gap generasi.

Setelah uraian singkat dari FX Harsono tentang profil KSI, Alia Swastika membuka sesi pertama dimulai dengan mmepersilakan menceritakan kisahnya bersama ASRI, sikapnya dalam menghadapi kerusuhan tahun 1998 hingga terbentuknya Taring Padi generasi pertama. “Ternyata di ruangan tersebut, masih ada teman-teman yang muncul dan kami membuat sebuah organisasi kesenian dan kebudayaan dengan modal buku-buku putih milik kami. Saat itu diberi nama Komite Pemuda Rakyat Perjuangan atau KPRP”, cerita Ucup tentang awal terbentuknya organisasi yang kemudian disebut Taring Padi.

Pembicara kedua yaitu Gunawan Maryanto dari Teater Garasi, yang aktif berpraktik di ranah seni pertunjukan. Gunawan aktif di dunia berkesenian sejak 1994. Saat itu dia tidak begitu mengerti dan menyadari situasi politik yang bergejolak. Gunawan hanya teringat kenangan masa kecilnya, saat disuruh melambaikan tangan pada iringan rombongan presiden Soeharto. Perkenalannya dengan Teater Garasi menjadi permulaan dirinya menjadi lebih peka terhadap politik. Sebagai salah satu aktivitas di kampus, kegiatan Teater Garasi diawali dengan naskah-naskah adaptasi yang kemudian ditampilkan dalam Malam Apresiasi Seni dan Politik sejak tahun 1993. Meski melalui banyak regulasi dan proses pra-sensor terhadap naskah teater mereka, pertunjukan tersebut menjadi katarsis karena didominasi dialog yang tidak mungkin diizinkan berada di luar gedung pertunjukan.

Aji Wartono sebagai pembicara ketiga menceritakan problem represi yang tidak jauh berbeda. Pada masa sebelum reformasi, seluruh musisi wajib memberikan daftar lagu-lagu yang dinyanyikan, tema acara, serta panitia yang bertanggung jawab terhadap kegiatan tersebut. Setiap acara musik selalu dijaga satuan pengamanan. Beberapa teman musisi yang dianggap melanggar, bisa tiba-tiba digiring ke kantor polisi setempat.

Pembicara keempat yaitu Yustina Neni, yang aktif sebagai manajer dan produsen acara seni sejak 1990 dan dikenal sebagai pemilik Kedai Kebun Forum (KKF). Neni bercerita bahwa perencanaan kegiatan kesenian sebelum reformasi tidak selalu wajib mengurus perizinan kepada pihak pemerintah secara formal. Lewat publikasi acara, pihak kepolisian pasti sudah mengetahui pelaksanaan acara tersebut dengan sendirinya. Neni juga menceritakan pengalaman mendapat ancaman misterius via telepon sebelum pembukaan sebuah pameran di KKF.

Sesi ini ditutup dengan tanya jawab. Satu yang menarik, ketika salah seorang peserta diskusi menceritakan pengalamannya menerima kartu pos hasil fotokopi karya Taring Padi saat terjadi konflik horizontal di Sulawesi. Akunya, banyak siswa sekolah menengah di lokasi konflik merasa memiliki harapan baru dari menerima gambar tersebut. Tanggapan berbeda muncul dari Nindityo Adipurnomo, yang juga merupakan seniman pada masa transisi reformasi. Menurutnya seniman tidak melulu merespon tragedi 1998 secara politik. Ada kecenderungan beberapa seniman yang memanfaatkan isu ini sebagai ajang mencari sensasi dan meningkatkan popularitas. Nindityo menekankan bahwa memaknai reformasi seharusnya lebih dalam dari sekedar bumbu-bumbu, tetapi bagaimana fenomena makro ini direfleksikan dalam praktik yang paling mikro.

Tanpa jeda yang terlalu lama, sesi kedua mulai dibuka oleh Brigitta Isabella. Fitri DK menjadi pembicara pertama dalam sesi kedua ini. Fitri menceritakan pengalamannya bergabung dalam organisasi kesenian Sanggar Caping hingga Taring Padi. Meski berkarir pada masa pasca reformasi, Fitri dan rekan-rekannya masih mengalami perlakuan traumatis dari organisasi masyarakat saat pameran Lady Fast 2016 di Survive Garage, Yogyakarta. Mereka disebut melakukan kegiatan asusila dan berbagai kata-kata merendahkan lainnya. Namun pada masa itu, pihak aparat juga tidak memberikan solusi selain mengunci diri di tempat pameran tersebut tanpa melindungi mereka dari oknum-oknum yang mengancam.

Selanjutnya, Wok The Rock membagi perspektif musik setelah reformasi. Wok adalah seniman instalasi dan video, namun dalam diskusi ini lebih fokus membahas kancah musik pada masa tersebut. Di masa awal pasca reformasi, musisi mengalami titik jenuh dari pertunjukan musik yang harus seremonial, akses untuk sampai ke dapur rekaman harus mahal serta banyak lirik yang penuh restriksi. Akhirnya muncul semangat independen untuk membuat pertunjukan kecil seadanya, rekaman dan penggandaan dengan jumlah dan kualitas terbatas, serta distribusi berbasis komunitas.

Kemudian, Heni Matalalang menceritakan perkembangan film pasca reformasi, khususnya film dokumenter. Diakuinya, perkenalannya dengan film cukup traumatis. Saat kelas 3 SD, Heni diwajibkan pemerintah untuk pergi ke bioskop dan menonton film propaganda militer. Heni yang aktif di masa-masa awal berdirinya Festival Film Dokumenter (FFD), menyadari peran film khususnya dokumenter identik  dengan propaganda. Kemudian Heni mencetuskan kegiatan School Docs dengan menontonkan film-film dokumenter ke sekolah-sekolah. Upaya ini dilakukan dengan misi memperkenalkan ulang bahwa dokumenter tidak melulu soal propaganda seperti yang dilakukan oleh Orde Baru. Misi lain yang dibawa adalah menstimulasi lahirnya dokumentaris Indonesia di masa mendatang.

Linda Mayasari menjadi pembicara penutup sesi kedua. Pengalamannya di bidang seni pertunjukan diperoleh dengan pernah bekerja di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), hingga terlibat sebagai peneliti dan kurator Indonesian Dance Festival (IDF). Memori Linda tentang 1998 tidak terlalu jelas karena saat itu masih duduk di bangku SMP, Linda hanya ingat bahwa teman-temannya yang beretnis Tionghoa diamankan oleh aparat saat pecah kerusuhan. Selebihnya Linda justru tidak terlalu menandai reformasi sebagai momentum praktik berkeseniannya secara pribadi.

Sesi ini juga ditutup dengan tanya jawab. Brigita sebagai moderator lebih memprioritaskan respon dari pelaku seni yang segenerasi dengan pembicara-pembicara di sesi kedua. Respon yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan reflektif seputar sejauh apa reformasi benar-benar menjadi tonggak titik balik praktik kesenian yang lebih ekspresif. Dan sejauh apa momentum reformasi dimaknai di seluruh wilayah Indonesia, terutama hingga pelosok daerah Indonesia bagian timur.

Pada akhirnya, reformasi masih menjadi topik yang begitu menarik untuk terus direfleksikan dan dikontekstualisasi. Terlebih memasuki Mei 2018 yang bertepatan dengan 20 tahun reformasi. Begitu banyak acara diskusi mengambil tema serupa, baik dengan irisan politik, sosial, agama, hingga termasuk seni. KSI melihat momentum ini juga sekaligus sebagai ajang sosialisasi peran-peran strategisnya dalam medan kesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.

Pelatihan Menulis Wikipedia: Bias Gender Dalam Seni

Oleh: M.S Fitriansyah (Kawan Magang IVAA)

Sebelum 23 maret 2018, Wikipedia Indonesia baru memiliki 46 halaman pelukis dan pematung Indonesia. Terlebih hanya ada tiga profil seniman perempuan. Beranjak dari kegelisahan bahwa pengetahuan harus bisa diakses siapapun secara bebas dan gratis, Wikimedia selaku lembaga yang menangani produksi artikel di laman wikipedia indonesia, bersama IVAA dan Kunci Cultural Studies mengadakan acara untuk menaikan seniman perempuan Indonesia ke permukaan. Kemudian digelarlah kegiatan Edit-A-Thon: Wikipedia Seni dan Perempuan. Kegiatan tersebut berlangsung di Rumah IVAA. Pemilihan tema perempuan pelaku seni tidak hanya pertimbangan akan kurangnya jumlah halaman tentang seni di Wikipedia Indonesia, namun juga mempersoalkan bias gender dalam dinamik dunia seni.

Kegiatan tersebut dihelat pada Jumat, 23 Maret 2018 dan diikuti sekitar 21 peserta umum. Lisis mengungkapkan latarbelakang acara tersebut adalah berangkat dari penulisan sejarah seni rupa yang bias gender. “Acara ini bagi IVAA sebagai pengingat, karena kita mengarsipkan dan lumayan berpartisipasi dalam penulisan sejarah. Kalau kita tidak diingatkan, penulisan sejarah seni rupa Indonesia itu sexist, nah itu lumayan bahaya,” ungkapnya,” saat memberi sambutan pada acara tersebut, Jumat (23/3). Lisis berharap bahwa acara tersebut tidak cuma di sini, tetapi didorong kelanjutannya oleh semua pihak. Dalam acara ini IVAA bertindak sebagai fasilitator ruang, dan referensi baik buku maupun tautan digital.

Argumen juga dilontarkan Gita dari perwakilan Kunci. Gita berpendapat bahwa peran perempuan di dalam ranah seni seperti dilupakan begitu saja. “Mungkin standar-standar yang diciptakan dunia seni cukup patriarkis,” katanya. Bagi Gita dunia secara umum membuat perempuan tidak dapat berperan aktif sebagai seniman, misalnya karena urusan-urusan domestik. Harapannya, lanjut Gita, selain menulis lebih banyak seniman perempuan, juga harus terus bersama-sama memikirkan aktifitas kehidupan sehari-hari, misalnya pembagian kerja domestik tadi.

Peserta cukup antusias dalam mengikuti alur kegiatan yang dipandu oleh mentor dari wikimedia. Acara yang berlangsung selama 4 jam ini menarik perhatian khalayak luas, dari berbagai kalangan dan latar belakang. Peserta yang hadir pun tidak hanya datang dari perempuan, tetapi ada pula kaum adam ikut serta dalam kegiatan tersebut. Setelah peserta berlatih step by step menulis di Wikipedia Indonesia, dilakukan diskusi pendek yang membahas peran seniman perempuan di Indonesia.

Obrolan berjalan cukup intens ketika terjadi tarik menarik soal konsistensi penggunanaan istilah, apakah mau menggunakan seniman perempuan, pelaku seni perempuan, perempuan pelaku seni, ataru justru seniwati. Akhirnya setelah berdiskusi, istilah yang disepakati adalah perempuan pelaku seni. Dengan pertimbangan bahwa istilah pelaku seni mencakup lebih banyak profesi di bidang seni, tidak hanya seniman namun juuga kurator, manajer seni, wartawan dan lain-lain. juga meletakkan kata perempuan di depan sebagai rujukan orangnya, bukan orientasi karyanya. Acara berakhir sekitar pukul 17.00 WIB.

Perempuan pelaku seni yang di-input adalah sebagai berikut: Yustina Neni, Tamara Pertamina, Mary Northmore, Tintin Wulia, Mia Bustam, Marida Nasution, I GAK Murniasih, Nunung WS, Erna Pirous, Siti Adiyati, Hildawati Soemantri, Kelompok Nuansa, Umi Dachlan, Edith Ratna, Trijoto Abdullah.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

Mozaik Mimpi Koalisi Seni

Oleh: Hardiwan Prayogo

Berangkat dari semangat untuk melakukan perubahan dan perbaikan ekosistem kesenian di Indonesia, Koalisi Seni Indonesia (KSI) pada 17-18 Maret 2018 berlokasi di Westlake Resto mengadakan pertemuan yang diberi tajuk Mozaik Mimpi Koalisi Seni. Dengan agenda utama berupa Focus Group Dicussion (FGD) antara anggota KSI di area Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. IVAA diwakili oleh Lisistrata Lusandiana dan Hardiwan Prayoga berkesempatan untuk terlibat dalam diskusi antara berbagai sektor pelaku seni ini.

Pada Sabtu 17 Maret 2018, diskusi terbagi dalam beberapa sesi, pertama adalah sesi “Percakapan #1 Pembelajaran”. Tujuan dari sesi ini adalah mendengar capaian dan strategi masing-masing pelaku seni, baik individu maupun kolektif dalam praktek kesenimanannya. Lingkungan seni, khususnya di Yogyakarta, tidak membentuk kultur/ perilaku seniman yang berpikir panjang. Dengan kata lain strategi yang ditempuh adalah kerja-kerja yang taktis, bukan strategis. Maka secara organik akan lahir jarak antara kebutuhan pelaku seni yang jangka pendek dengan logika kerja KSI yang cenderung jangka panjang. Kemudian diskusi bergulir hingga kondisi bahwa sebenarnya sumber dana selalu ada di sekitar kita, salah satunya adalah dana desa. Perlu dibangun kesadaran bahwa persoalan mengenai dana tidak melulu harus diselesaikan di pusat. Dengan demikian, pelaku seni sekaligus akan menjadi salah satu pilar yang aktif dalam struktur masyarakat, tampil sebagai salah satu kontributor utama dalam sektor riil. Para anggota berharap bahwa KSI menjadi jembatan atau platform akan akses ini. Bahwa seniman bukan hanya soal berkarya, tetapi juga memikirkan posisi sosial dari kerja infrastruktur.

Sesi kedua berjudul “Percakapan #2 Inspirasi”. Setelah saling berbagi tentang bagaimana selama pelaku seni bertahan hidup dengan berbagai macam cara, para anggota mencoba mencari bentuk ideal dari cara kerja KSI yang implementatif dengan kebutuhan anggotanya. Diawali dengan kesadaran bahwa kesenian kini semakin multidisiplin, KSI perlu menjadi wadah yang inklusif antar anggota untuk saling berbagai pengetahuan dan potensi. Pada dasarnya pelaku seni dimanapun senantiasa membutuhkan jejaring dalam lingkup regional, terutama dalam rangka memperkaya refrensi tekstualnya. Lebih lanjut agar semua sektor kesenian ikut terlibat dalam peningkatan daya apresiasi seni dari publik.
Sesi ketiga hari pertama ini ditutup dengan sosialisasi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan (UUPK). Undang-Undang ini adalah kebijakan yang secara aktif dikawal oleh KSI dalam 5 tahun terakhir. Disampaikan bahwa UUPK bersifat ofensif, dengan tidak menganggap globalisasi sebagai ancaman, namun justru peluang untuk pengkayaan teks dan jejaring. Objek UUPK ada 10, yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat, ritus, pengetahuan tradisi, seni, bahasa, teknologi tradisional, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. Pemilahan ini tidak bersifat kategoris, tetapi tagging, artinya satu produk/bidang bisa terdiri lebih dari satu objek. UUPK menggunakan logika pemajuan, bukan pelestarian karena menuntut untuk dikembangkan, tidak hanya dilestarikan. Dalam hal ini yang dikembangkan adalah relasi antara kajian dan penciptaan, memberikan kesempatan berkesenian yang sama, dan lain-lain.

UUPK dimulai dengan dokumen perencanaan bernama Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang disusun dari partisipasi masyarakat di tingkat kabupatan/kota, lalu diajukan ke tingkat provinsi, kemudian akan dikumpulkan dalam satu rumusan strategi kebudayaan nasional. Ini adalah tahap pertama dari implementasi UUPK berskala nasional namun dilaksanakan berdasar pada potensi dan urgensi setiap daerah.

Hari kedua, 18 Maret 2018, dimulai dengan sesi “Percakapan #3 Aspirasi”. Sesi ini membagi peserta dalam kelompok diskusi yang lebih kecil, 2-3 orang per kelompok. Antar kelompok diberi tugas berbeda yang secara garis besar menyusun strategi dan program ideal KSI untuk periode 2017-2022. Kelompok yang bertugas merumuskan strategi mengawali dengan bahasan bahwa secara umum publik seni masih canggung untuk mengartikulasikan bahwa seni adalah klaim politik. Berkaca pada fakta bahwa seni di Indonesia tidak pernah kritis secara jumlah, menunjukkan bahwa persoalan tidak terletak pada sumber dana, tetapi keberanian publik seni mengeksplisitkan klaim politiknya. Dalam kerangka ini KSI perlu menjadi lembaga yang juga bisa mengadvokasi, memberi perlindungan dan solidaritas jika ada anggotanya yang tertekan akibat klaim politik tertentu. Diakui bahwa kultur berkoalisi secara organik sudah tumbuh di daerah-daerah, terutama daerah yang infrastruktur seninya terbilang minim. Dengan kata lain KSI perlu mendorong sosialisasi paralegal, agar anggotanya memiliki kesadaran hukum. Di sisi lain, KSI sangat perlu untuk memperluas/ menambah anggota, dengan tidak melupakan syarat yaitu jejaring yang solid. Kemudian secara program, KSI perlu membuat peta, atau mapping kebutuhan infrastruktur seni setiap daerah, dan menyasar tokoh strategis sebagai sasaran audiensi. Dengan asumsi bahwa setiap responden akan aktif dan dapat mengidentifikasi problem, yang lebih penting adalah melakukan campaign apa keuntungan terbesar dari anggota yang aktif.

Hari kedua yang sekaligus menjadi hari penutup ini berlangsung dengan lebih cair. Semua gagasan yang mencuat dalam 2 hari ini akan dijadikan pegangan oleh para pengurus KSI. Pegangan agar KSI menjadi lembaga inklusif yang menjembatani keterbatasan dan kepanjangan tangan dari publik seni di Indonesia. KSI sendiri melanjutkan agenda serupa di daerah lain, yaitu Temu Anggota Jakarta, Jawa Barat dan Sumatra, dan Temu Anggota Indonesia Timur dan Bali.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.

#sorotanpustaka Januari-Februari 2018

Oleh: Santosa

Dalam dua bulan ini perpustakaan IVAA berbenah, melakukan penataan kembali, membuat sign system dan merapikan koleksi agar semakin mudah dan cepat ditemukan. Tiga orang kawan magang membantu dalam proses entri data ke dalam Senayan Library Management System (SLIMS)  dan meletakkan buku sesuai dengan kode rak-nya masing-masing. Sedangkan publik, yang mengakses koleksi pustaka memiliki kecenderungannya, Beberapa koleksi yang banyak diakses dalam dua bulan ini diantaranya ialah referensi seputar fotografi, film, teori dan sejarah seni, biografi seniman terutama Affandi.  Ada juga yang membaca ataupun meminjam dengan topik – topik tertentu, umumnya sebagai bahan penulisan skripsi hingga tesis. Topik mengenai Desember hitam 1974 dan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) masih banyak dicari. Dengan tinjauan-tinjauan buku serta katalog yang melingkupinya seperti, Biennnale Jakarta, Outlet: Peta Seni Rupa Yogyakarta, Sejarah Seni Rupa Indonesia, Lekra Tak Membakar Buku, Tuan Tanah Kawin Muda. Topik lain yang berkenaan dengan mural, yang dikaji antara lain Katalog Mural Sama Sama, Mural Rasa Jogja, Kode Art Project, buku tentang ruang kota, Jalan Seni Jalanan Yogyakarta, dan  beberapa skripsi berkenaan dengan mural dan pertarungan  seni di ruang publik.

Untuk tambahan pustaka kali ini berdasar jenis terdapat 15 Buku, 3 Jurnal, 25 Majalah dan 55 Katalog. Sedangkan berdasar subyek terdapat Performance Art, Film, Musik, Ilmu Sosial, Seni Rupa. Dalam tambahan pustaka baru ada 3 yang kita tampilkan ulasannya di sini, pertama “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)”, kedua buku kumpulan tulisan “Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968 – 2017”. Kemudian yang ketiga adalah “Journal Southeast Of Now Directions in Contemporary and Modern Art In Asia” No 1 tahun 2017. Khusus untuk buku ketiga sorotan ditulis dalam bahasa Inggris oleh kontributor Angela Wittwer.

Oleh: Santosa, Eka Chintya Putri, dan Angela Wittwer

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN PUSTAKA] Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968-2017

Penulis; Bambang Bujono
Editor: Ardi Yunanto
Esai pengantar: Hendro Wiyanto
Peneliti dan pengarsip: Berto Tukan
Editor bahasa: Ninus D. Andarnuswari
Desain: Andang Kelana
Diterbitkan oleh Yayasan Jakarta Biennale
Cetakan pertama, November 2017
Tebal: xxxii + 576 hlm; 13,8 x 20,3 cm

Oleh: Santosa

“Melampaui Citra dan Ingatan” adalah kumpulan tulisan Bambang Boejono dari berbagai media massa, buku, katalog ataupun makalah dirangkum dan diklasifikasikan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan seni rupa tahun 1968 hingga 2017, total 432 tulisan Bambang Boejono terkumpul hingga Oktober 2017. Terseleksi 101 tulisan yang kemudian dibagi dalam lima bab, disajikan dalam buku setebal dari 576 halaman. Tulisan-tulisan dalam buku ini disusun secara diakronik dan diberi kerangka bab sebagai bagian dari pembingkaian esai.

Bab pertama membicarakan peristiwa seni rupa selama lebih dari empat dekade- khususnya di Jakarta- diawali apresiasi lukisan Affandi dengan revolusi bentuk dan penemuan teknik sebagai bagian dari seni lukis modern. Pembaca juga disuguhi cara analisis, telaah karya dengan beberapa contoh pelukis dengan sapuan yang khas seperti Srihadi Sudarsono, Fadjar Sidik, dan Nazar di Pameran Seni Lukis Indonesia 1972.

Bab kedua mencermati karya pameran dan seniman secara urut. Mengenali sosok yang berpengaruh dalam sejarah seni rupa, dari pameran kelompok, pameran tunggal dan beberapa tonggak perjalanan seni rupa seperti Pameran Besar Seni Lukis Indonesia, Biennale Jakarta, momentum yang disebut melahirkan Seni Lukis Modern, Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), hingga Seni Rupa Kontemporer.

Dalam bab-bab selanjutnya, buku ini menggambarkan landskap sejarah seni rupa, khususnya di Jakarta sejak Taman Ismail Marzuki (TIM) menjadi pusat seni rupa di Jakarta. Perkembangannya mulai dari sejak masih didominasi lukisan dan patung, sampai muncul objek instalasi, video art hingga new media art. Juga perjalanan pameran yang dulunya dikerjakan secara mandiri oleh seniman dan galeri, hingga kini populer profesi kurator sebagai pengawal sebuah pameran.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[SOROTAN PUSTAKA] Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)

Judul Buku : Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)
Penulis : Aiko Kurasawa, Ajip Rosidi, Akba Yumni, Bonnie Triyana, Fuad Fauji, Hafiz Rancajale
Penerbit : Forum Lenteng
Tebal : xxiv + 112
Ukuran : 14,8×21 cm

Oleh: Eka Chintya Putri 

Sebuah memoar seorang tokoh yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengawetkan wacana dan memaknainya kembali sebagai sumber sejarah perfilman Indonesia, dengan buah karyanya yaitu Sinematek Indonesia. Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlap (Sang Arsip)” adalah buku yang menceritakan Misbach Yusa Biran, tokoh yang memutuskan berhenti sebagai sutradara dan memilih menjadi pengarsip film.

Misbach Yusa Biran, lahir di Rangkasbitung 11 September 1933. Saat di bangku sekolah, Misbach sudah mempunyai jiwa kesenimanan. Banyak tokoh kebudayaan Indonesia yang sudah Misbach jumpai, yang kemudian mendorongnya untuk menghasilkan beberapa karya dan masuk di majalah Merdeka. Tahun 1952, Misbach yang kala itu masih SMA berusaha masuk dunia film. Usaha yang ia lakukan sendiri dan dianggapnya sebagai sesuatu yang agak nekat. Tekad Misbach tidak pernah padam untuk dapat terjun ke dunia film. Dorongan Misbach di dunia film, banyak dilatari oleh film Pulang karya Basuki Effendi. Pekerjaan pertama Misbach di dunia yaitu pencatat skrip pada film Nya’ Abbas Akup, berjudul Heboh (1954).

Menurut pemikiran Misbach, Sinematek Indonesia (SI) menjadi pusat pengarsipan film pertama sekaligus terbesar di Asia Tenggara. SI tidak bisa dilihat hanya sebagai ruang penyimpanan artefak bersejarah, namun sebagai ruang pelestarian sejarah dan film Indonesia. Karena sejarah jika tidak dikelola secara baik, situasinya memburuk dan mengancam sejarah itu sendiri. SI sendiri merupakan lembaga ilmiah yang bergerak dalam kegiatan pengarsipan film, dengan cara dokumentasi, perpustakaan dan penelitian. Buku ini memiliki 2 sudut pandang dari generasi yang berbeda. Tujuannya, untuk mengetahui bagaimana cara memaknai arsip dan gagasan film Indonesia. Dari hal tersebut didapat sebuah benturan dan kolaborasi dengan mengkonstuksikan masalah, kemudian menafsir catatan sejarah untuk kemungkinan yang terjadi dimasa kini. Sebagai kaum terpelajar, diharapkan generasi muda dapat melanjutkan cita-cita Misbach terhadap Sinematek Indonesia. Sekaligus menjadikan Sinematek sebagai tempat belajar menghasilkan karya-karya bermutu, agar dapat memberikan kontribusi positif khususnya bagi perfilman.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[Sorotan Pustaka] Journal Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia

by: Angela Wittwer (Peserta Magang IVAA)

Discomfort in the framework of regionalism forms the theme of the first volume of “Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia”, a scholarly journal on art and visual culture. “What comfort might there be in discomfort? Might the sensations of being at ease and ill at ease—for the scholar, the artist, the curator, the reader—be as inextricable as is history from historiography, as the “southeast” from the “north” and the “west”, as the “now” from the past, and the yet to be?,” the editorial collective asks in the editorial. Addressing these questions, the publication offers a range of perspectives informed by recent discourses of the art of the region referred to as Southeast Asia. Its contributing writers and researchers engage a particular focus on a regional context or artist/s, their analysis informed by a historical approach.

The topics discussed in the issue include a queer and postnational “Thainess” in contemporary Thai art (Brian Curtin), the notion of a “third avant-garde” in Southeast Asia that unshackles the Euro-American concept of “avant-garde” (Leonor Veiga), or artistic responses to recent street protests in Kuala Lumpur (Fiona Lee), among others. Two authors focus on the context of Indonesian Modern Art:

Brigitta Isabella from KUNCI Cultural Studies Center and member of the journal’s editorial collective provides a translation of the text “Kami Tahu Kemana Seni Lukis Indonesia Akan Kami Bawa” (“We Know Where We Will Be Taking Indonesian Art”) by Indonesian artist, writer and activist S. Sudjojono. The text dated from 1946 marks a crucial moment in the self-definition of Indonesian Modern Art during Indonesia’s struggle for independence. “About the future of Indonesian art, we as Indonesians are quite capable of deciding for ourselves. […] If the Dutch writer […] wishes to interfere with this matter, we do not need them to meddle in our affairs. They have never really proven to be competent in this matter for the past 350 years,” Sudjojono flamingly writes.

Australian scholar and curator Matt Cox contributes an article on “The Painting of Prostitutes in Indonesian Modern Art”, focusing on works by S. Sudjojono, Otto Djaya and Mohammed Hadi. Cox describes their paintings depicturing so-called “base” women, as a site of self-primitivising. His captivating observation: Even though these paintings disrupt both elite Javanese and Dutch bourgeois sensibilities, they reinforce the myth of the heroic and authentic anti-colonial modern artist. As such, the paintings stand both for discomfort and the search for an alternative male subjectivity, as well as for the re-assuring desire for the untamed other.

In the journal, Matt Cox also provides a translation of the “Untitled Letter to Editor”, another resonating text for today’s artistic practice by S. Sudjojono, written in fragmentary manner in 1942. The contributions by Cox and Isabella can be seen as inquiries into anxieties und potentials regarding societal change in Indonesia observed in reference to key figures in Indonesian Modern Art. They also open a broader reception and discussion: Both texts authored by S. Sudjojono were previously unavailable in English.

((Additional detail))

The journal “Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia” is published online and in print twice yearly. The published articles are selected on the basis of a call for papers on a different theme for each issue.

Issue: Volume 1, Number 2, October 2017
Title : Into the un/comfort zone
Editorial Collective: Isabel Ching, Brigitta Isabella, Yvonne Low, Roger Nelson, Vuth Lyno, Thanavi Chotpradit, Eileen Legaspi-Ramirez, Vera Mey, Simon Soon
Authors: Yin Ker, Matt Cox, Fiona Lee, Leonor Veiga, Brian Curtin, S. Sudjojono, Brigitta Isabella, Clare Veal, Fiona Amundsen
Publisher: NUS Press Pte Ltd, Singapore
Language: English
ISSN: 2424-9947
E-ISSN: 2425-0147

Download free digital issue: https://muse.jhu.edu/issue/37275

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

#SorotanArsip | Arsip Red District Project

Oleh: Revano Septian (Peserta Magang IVAA)

Red District Project (RDP) merupakan kegiatan bersama dengan warga yang diinisisasi oleh seniman bernama Lashita Situmorang. Kegiatan yang dimaksud meliputi unsur penelitian dan pengorganisasian, berlokasi di kampung Sosrowijayan, lebih tepatnya Sosrowijayan Kulon. Setelah dua kali penyelenggaraannya, dokumentasi dari kegiatan ini sangat melimpah, mulai dari catatan administratif, foto kegiatan, hingga keseharian warga.

Keberadaan dokumentasi tentang Sosrowijayan ini memang tidak selalu disukai warga, karena banyaknya pemberitaan stereotip terhadap mereka. Dimana semata menampilkan Sosrowijayan sebagai wilayah prostitusi, dan menutup diri dari berbagai potensi dan prestasi. Padahal banyak aspek dan elemen kolaborasi warga yang hidup.

Dokumentasi dan data seputar RDP yang telah dikumpulkan oleh Lashita Situmorang saat ini telah terdata dan memungkinkan untuk dijadikan sumber data, sejauh mengetahui secara terukur kerangka dan tujuan dari penelitian ataupun proyek seni kita. Di atas itu, jika ada kebutuhan untuk meninjau dan menggunakan dokumentasi dari RDP ini, baiknya diawali dengan berkomunikasi dengan Lashita Situmorang.

Link Katalog RDP 

Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.

[Sorotan Pustaka] Soekarno: Biografi Politik

Penulis: Santosa

Judul: Sukarno: Biografi Politik
Penulis: Kapitsa M.S. & Maletin N.P.
Penerjemah: B. Soegiharto, Ph.D.
Editor: Bilven
Edisi bahasa Indonesia ini pertama kali diterbitkan oleh Ultimus
Cetakan 2, Juni 2017
xx + 396 hlm.; 14,5 x 20,5 cm
ISBN 978-602-8331-04-3

Nomor panggil IVAA Library: 900 Kap S

Nama Bung Karno mempunyai daya tarik tidak hanya di tanah air, namun juga di kalangan masyarakat internasional. Sejarah kehidupan beliau dalam buku ini diawali masa kanak-kanak Soekarno yang berasal dari kalangan bangsawan bawah, putra seorang muslim dan ibunya Hindu. Diberi nama Koesno, waktu kecil ia sakit-sakitan. Bapaknya mengira bahwa pemberian namanya tidak cocok maka namanya diubah menjadi Soekarno, yang berarti ksatria yang gagah perkasa dan baik. Di usia 12 tahun, anak ini sudah diakui sebagai pemimpin oleh kawan-kawan sebayanya.

Bung Karno sebagai pemimpin perjuangan untuk Indonesia Merdeka dalam buku ini digambarkan berbeda dari analisa-analisa barat, khususnya Belanda yang menuduh Soekarno berkolaborasi dengan Jepang. Para penulis justru memberikan gambaran bahwa itu adalah taktik Soekarno untuk menggunakan bala tentara Jepang dengan tujuan mengenyahkan Belanda dari Indonesia, ini sama saja dengan memintas jalan ke arah kemerdekaan. Bagaimana Soekarno menyatukan kekuatan politik, friksi-friksi Soekarno dengan Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan lainlain yang anti-kolonialisme dengan menggunakan konsep persatuan dalam menghadapi musuh utama, penjajahan Belanda.

Soekarno meletakkan ideologi Pancasila dalam pidatonya 1 Juni 1945. Prinsip Pancasila sebagai perjuangan anti-kolonial, anti imperialis, dan anti-kolonialisme dengan mewujudkan bangsa yang merdeka dan demokratis.

Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya dinilai melahirkan konsepsi yang memperkuat rezim otoriternya. Walau sebenarnya konsep ini muncul karena dorongan dari kekuatan-kekuatan politik yang ada waktu itu, baik kekuatan kanan maupun kiri. Dengan pertumbuhan sistem demokrasi terpimpin yang pada mulanya ditujukan untuk membatasi kekuatan kaum kanan (Masyumi, PSI, kaum militer kanan), akhirnya justru sedikit demi sedikit berubah ke arah sebaliknya. Dalam situasi ini kekuatan kaum kanan kemudian menjadi yang lebih cepat memobilisasi kekuatan politik ke pihaknya dengan menggunakan UU Keadaan Bahaya. UU yang telah meningkatkan peran militer dan penguasaan sektor negara yang dibentuk dari perusahaan asing yang telah dinasionalisasi, khususnya dengan alasan momok komunisme.

Disoroti juga tentang politik konfrontasi Bung Karno dalam menghadapi Malaysia, di mana Soekarno memutuskan Indonesia keluar dari PBB karena Malaysia telah diangkat sebagai anggota sementara PBB. Para penulis menjelaskan radikalnya politik luar negeri Soekarno dikarenakan kedekatannya dengan Peking. Ini berkaitan juga dengan pertentangan di dalam gerakan komunis Tiongkok, hingga Indonesia terseret masuk ke dalam pusarannya.

Mengenai peristiwa 30 September, dalam buku ini dianalisa bahwa ada dukungan masyarakat secara luas dalam peristiwa ini, khususnya di Jateng dan Jatim, dan dukungan dari kalangan militer (AL, AU, Polisi, dan sebagian AD), mereka mencoba merebut kekuasaan presiden dengan memberikan tekanan, intimidasi penggerakan massa dan demonstran, penggunaan mahasiswa dan pelajar (KAMI dan KAPPI) untuk turun ke jalan dengan dukungan dari AD, dan ini berlangsung hampir 3 tahun. Soekarno memang tidak menghendaki perang saudara walaupun jika mau ia mampu mengobarkannya. Soekarno mengeluarkan surat perintah “Supersemar” dan beliau menandaskan surat tersebut bukan pelimpahan kekuasaan negara, tetapi hanya merupakan tugas praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban.

Bung Karno pun sampai di akhir karir politik praktisnya, sebagai seorang profesional-revolusioner yang berjuang sendirian menghadapi keroyokan lawan-lawan politik lamanya yang kemudian melahirkan Orba.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.