Category Archives: Kabar IVAA

Workshop Pengelolaan Arsip Fisik dan Koleksi Pustaka

oleh Santosa Werdoyo

Grogol merupakan sebuah dusun yang berjarak kurang lebih 28 km arah selatan Kota Yogyakarta yang terkenal dengan pariwisata pantai Parangtritis. Selain itu masih ada lagi, yakni gumuk pasir yang tentu saja sebagai salah satu magnet pariwisata di daerah paling selatan di Kabupaten Bantul. Selain pariwisata, Grogol juga menyimpan sejarah perjalanan Jenderal Sudirman yang kala itu singgah di Dusun Grogol, bergerilya selama perang revolusi. Pengetahuan sejarah itu hidup melalui cerita-cerita warga setempat dan petilasan berwujud rumah yang dulu jadi tempat istirahat Jenderal Sudirman dan para prajurit. 

Rumah singgah tersebut dimiliki oleh Lurah Hadi Harsono yang dulunya menjadi seorang tentara dengan pangkat terakhir kapten. Pak Hadi kemudian memilih mengabdi menjadi lurah dari 1947-1990. Begitulah tutur Nova, salah satu warga Grogol. Rumah tersebut sudah tidak ditinggali lagi oleh ahli warisnya hingga tidak terawat. Begitu juga dengan arsip-arsip administrasi kantor, foto dan pustaka seperti majalah, serta buku-buku yang ada di rak lemari rumah itu. 

Untuk tetap merawat pengetahuan beserta arsip dan situsnya, warga Grogol bekerja sama dengan IVAA menggelar workshop dan festival sejarah. Kegiatan warga seperti kandang kelompok, produksi makanan oleh ibu-ibu, dan wisata gumuk pasir juga menjadi praktik-praktik yang dibaca ulang sebagai bagian penting dari pengetahuan warga. 

Pada satu kali kesempatan, 11 Januari 2020, IVAA diundang untuk memberikan workshop seputar perpustakaan dan pengarsipan untuk para pemuda Dusun Grogol beserta para mahasiswa KKN UGM yang sedang bertugas di sana. IVAA berbagi pengalamannya mengenai bagaimana selama ini mengolah arsip dan koleksi pustaka. 

Acara dimulai pada pukul 21.00 di sebuah mushola. Pak Kamri, sebagai kepala dukuh, memberikan gambaran tentang kondisi buku dan arsip yang disimpan di dalam rumah singgah Jenderal Sudirman tersebut. Bahwa warga ternyata sudah menata buku dan arsip itu ke dalam beberapa kategori, yakni majalah, buku, foto, dan arsip administrasi. 

Sesi selanjutnya adalah materi seputar pengelolaan koleksi perpustakaan dengan tahap pertama, yakni Metadata Koleksi Pustaka. Tahap ini berisi inventarisasi koleksi pustaka dengan standar deskripsi judul, jenis (buku, majalah, katalog, dll), nomor ISBN, penerbit, tahun terbit, kolasi buku (tinggi, lebar, jumlah halaman), nomor panggil (dibedakan berdasarkan kebutuhan), bahasa, kota terbit, pengarang, subjek, asal, bulan inventarisasi, serta abstrak (gambaran singkat isi pustaka). 

Setelah Metadata Koleksi Pustaka, dilanjutkan dengan penyampulan dan labelling. Label yang ditempelkan di punggung buku memuat informasi tentang:

  • no panggil/ pengarang/ judul pustaka, contoh: 701/Ari/S (tidak berseri)
  • no panggil/ judul pustaka/ edisi/tahun, contoh: 705/G/16/2015 (berseri)

Tahapan selanjutnya adalah penyimpanan. Setelah selesai diberi label, koleksi pustaka tersebut ditata berdasarkan jenis pustaka (buku, majalah, katalog, dll) bersama dengan kategorisasi (seni, filsafat, sejarah, dll), yang mengacu pada nomor panggil yang tertera pada punggung buku.

Setelah berbincang soal pengolahan koleksi pustaka, perihal arsip fisik juga diceritakan. Tahap awal pengolahan arsip fisik IVAA adalah sortir berdasarkan jenis material, misal undangan, surat-surat, foto, dll. Setelah itu tim arsip membuat identitas arsip (kode kategorisasi) dengan format tema/ material/ no urut inventaris/ petugas. Contohnya sebagai berikut:
Tema: pariwisata (PW), kuliner (KL), sejarah (SJ), dll
Material: foto (FT), undangan (UN), poster (PT), surat (SR), dst
Nomor urut inventaris: 01, 02, dst
Petugas: santoso (SS), yoga (YG), dst
Identitas arsip: PW/FT/01/SS 

Setelah menulis identitas arsip, tahap berikutnya adalah menulis lokasi simpan, dengan standar informasi sebagai berikut:
Kode ruangan (A1, A2, dst), kode rak/ lemari (R1, R2, dst), kode box/folder (B1, B2, dst), kode tema (PW, KL, SJ, dst), kode no urut inventaris (01, 02, dst). Contoh lokasi simpan: A1/ R1/ B1/ PW/ 01.

Pengolahan data arsip kemudian dilanjutkan dengan inventarisasi berdasarkan standar deskripsi Dublin Core. Dublin Core merupakan satu set metadata yang dirancang untuk memudahkan sistem temu kembali data arsip. Contohnya demikian: identitas arsip (kode kategorisasi), lokasi simpan, pelaku (orang yang ada di dalam arsip), judul, tahun terciptanya arsip, jenis arsip (foto, undangan, surat, dll), ukuran, dan deskripsi.                                                                                                                                

Workshop ini menjadi upaya IVAA untuk berbagi cara pengelolaan koleksi pustaka dan arsip sebagai gambaran awal. Tujuannya adalah supaya beragam koleksi pustaka dan arsip yang dimiliki oleh warga Grogol dapat tertata dengan rapi dan mudah untuk dicari kembali keberadaannya. Akan sangat disayangkan jika arsip-arsip tinggalan lurah Hadi Harsono dan buku-buku yang sudah berusia tua tidak terkelola dengan tepat. Tentu, pengelolaan koleksi arsip dan pustaka dengan standar-standar di atas bukan menjadi satu-satunya cara untuk merawat pengetahuan. Itu semua hanya melengkapi apa yang sudah warga miliki, entah itu tradisi tutur atau praktik-praktik lain yang bersinggungan dengan pengetahuan-pengetahuan di atas.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Diskusi Panel: Ingatan Bergegas Pulang Hari 1 – Konteks Seni Rupa di Ranah Lainnya

oleh Prima Abadi Sulistyo

Diskusi Panel: INGATAN BERGEGAS PULANG sebagai satu rangkaian dalam pameran tunggal Suvi Wahyudianto di Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat (15/01/20) dimulai saat siang hari, sekitar pukul 14.00 WIB. Tema pertama dalam diskusi panel ini bertajuk “Konteks Seni Rupa di Ranah lainnya” yang dibuka dengan pidato kunci oleh St. Sunardi. Adapun panel 1 mengenai “Seni Rupa, Autoetnografi, dan Rekonsiliasi” dibahas oleh Anne Shakka dan Diah Kusumaningrum. Acara yang dimoderatori Muhammad Abe ini diawali dengan pembacaan puisi dari Suvi Wahyudianto. Pembacaan puisi oleh Suvi kemudian dilanjutkan dengan diskusi. 

Melalui pidato kuncinya dengan judul “Membangun Monumen Masa Depan dengan Jejak-jejak Masa Lalu”, Sunardi membicarakan pembacaannya atas karya Suvi. Sunardi menggunakan pendekatan sastra. Kesan Sunardi juga terlihat ketika menjelaskan bagaimana Suvi, melalui judul karyanya, membuat metafora. Yang dimaksud Sunardi sebagai jejak-jejak bukanlah sebagai tanda atau penanda dari diri Suvi. Ia menjelaskan bahwa sebagai sebuah jejak kita tak perlu untuk menafsirkan, memaknai atau mencari maknanya lagi. Dengan berangkat dari gagasan writing degree zero-nya Roland Barthes, Sunardi melihat bahwa karya Suvi ini sebagai image degree zero. Artinya, orang langsung paham dan mafhum, bahwa karya dari Suvi ini otentik tanpa ada embel-embel tafsirannya (sekali lagi bahasa/ gambaran yang mempunyai kekuatan jejak-jejak). Karena berada dalam tataran jejak-jejak, karya Suvi bisa menjadi rumah dan tempat tinggal kita. 

Dari karya Suvi ini, Sunardi mempunyai pandangan baru terkait rumah, yang jangan-jangan selama ini rumah adalah bagian dari jejak-jejak yang kita lalui. Rumah adalah kumpulan dari jejak-jejak yang bila ditafsirkan oleh penghuninya, maka mulai menjadi tempat yang tidak nyaman bagi si penghuni itu sendiri. Hal itu kemudian disambungkan dengan bentuk kekaryaan Suvi. Seperti rumah, karya Suvi bisa dilihat sebagai jejak dari si penghuni tanpa ada tafsiran-tafsiran lainnya. Apabila boleh saya tafsirkan, hal ini sebagai bentuk otentik karya Suvi Wahyudianto. Kita tahu bahwa Suvi adalah orang Madura. Bentuk karya-karyanya ini adalah pengalaman hidup seorang Madura yang diejawantahkan ke dalam bentuk lukisan dan seni instalasi (wujud dari pergulatan batin seorang Madura –studi kasus konflik Madura Dayak di Sampit medio 2000-an). 

Di dalam pidato kuncinya, Sunardi mengucapkan kalimat kritis nan puitis untuk kekaryaan Suvi: “sepertinya dari pangkalan ini, Suvi mau melawan fatwa dari Adorno”. Sebagai seorang Yahudi yang berlari ke Amerika, Adorno mengatakan bahwa setelah Auschwitz tidak ada lagi puisi. Bagi Sunardi, hal ini tidak berlaku untuk Suvi, karena setelah peristiwa Sambas masih ada puisi dan prosa. Puisi dan prosa Suvi bukan hanya dimaknai sebagai rangkaian kata penuh makna atau hiburan semata. Sunardi menekankan bahwa puisi dan prosa ini dapat dipahami sebagai bangkai-bangkai visual lirik yang menduduki posisi jejak. Melalui jejak kita bisa membangun rumah kembali dan koordinat yang kosong di jagad ini. 

Sunardi mencoba membicarakan kembali kejadian di Sambas waktu itu. Beliau mengatakan peristiwa yang terjadi 20 tahun lalu itu adalah peristiwa yang tidak mau diingat oleh kita, baik penyebabnya, kejadiannya, bahkan hal-hal pasca konflik itu. Sunardi menjelaskan melalui karya Suvi Wahyudianto kita mendapatkan kesempatan untuk berhadapan kembali dengan peristiwa yang selama ini tidak ingin kita ingat dan akui. Bukan melalui aspek sensasional maupun kengeriannya, melainkan pengalaman keruangan (diakronik) dalam berbagai suasana. Salah satu karya yang menarik menurut Sunardi adalah karya Suvi yang berjudul “Sapi dan Reruntuhan”. Dari karya itu kita seperti dilihat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kita lihat.

Dalam pidatonya, hal terakhir yang Sunardi ucapkan adalah bahwa sebuah eksplorasi dari masa lalu, yang dari sana bisa terbangunnya monumen masa depan, bukan sebuah masa lalu (sanctuary) yang cengeng. Sunardi menutup pidato kuncinya dengan nukilan perkataan Jacques Derrida: to forgive the unforgivable (mengampuni sesuatu yang tidak bisa kita ampuni).

Panel 1: Seni Rupa, Autoetnografi, dan Rekonsiliasi

Dalam diskusi panel 1 ini, Anne sedikit banyak membahas tentang autoetnografi. Metode Autoetnografi sama halnya dengan etnografi yang di dalamnya terdapat kajian budaya dan keseharian masyarakat tertentu. Ia menerangkan soal sejarah bagaimana cabang ilmu ini muncul, ketika kecenderungan subjektivitas individu mulai dihargai. Meski Anne merasa asing untuk menyoal seni, ia mencoba menggunakan metode autoetnografi untuk memahami karya Suvi. Meski demikian, Anne memang lebih banyak menjelaskan perihal metode ini, seperti kelebihan dan kekurangannya. Implikasinya adalah hubungan metode ini dengan kekaryaan Suvi tidak terlalu nampak. Anne hanya sedikit membahas pengalaman diri Suvi kecil dan proses penelitiannya saat berada di Pontianak dalam rangka mencari materi untuk berkarya. Tetapi poin menariknya adalah bahwa Anne cukup menekankan pentingnya metode ini untuk terapi atas peristiwa masa lalu bagi seorang seniman. 

Diskusi lalu dilanjutkan oleh Dian Kusumaningrum yang lebih membahas perihal rekonsiliasi.  Ia bercerita tentang pengalamannya saat menangani konflik dan rekonsiliasi di Ambon. Dian mencoba menjelaskan mengapa beberapa kelompok sering terjadi konflik. Salah satu penyebabnya adalah kelangkaan. Dian mengambil contoh konflik agama. Bahwa permasalahan identitas antar agama bukan menjadi faktor utama, tapi lebih ke arah klaim kebenaran dari masing-masing kelompok agama sebagai sesuatu yang langka, dan mengagungkan kebenaran tersebut. Jadi dalam permasalahan konflik tidak saja membahas permasalahan konfliknya tapi juga perilakunya. Dian juga menggambarkan perdamaian sebagai sebuah istilah yang tricky. Banyak unsur peyoratif dalam berbagai kesepakatan damai. 

Rekonsiliasi menurut Dian sendiri dibagi menjadi 2 garis besar. Hal pertama adalah soal hubungan dan yang kedua soal keberanjakan dari konflik sebelumnya. Di Afrika Selatan, tempat di mana rekonsiliasi antar kulit hitam dan kulit putih dianggap paling berhasil pun belum sepenuhnya terjadi peleburan (masih terjadi segmentasi pada sebagian warganya). Mengenai keberanjakan dari konflik masa lalu, Dian mencoba menghubungkan tema rekonsiliasi ini dengan karya Suvi “Menjahit Kertas” yang bermaknakan menjahit luka lama, berdamai dengan diri sendiri, dan membuka sebuah lembaran baru dari konflik yang terjadi di masa sebelumnya (metafora kertas yang dijahit oleh Suvi).

Kekerasan atau konflik masa lalu bagi Dian bukan menjadi sesuatu yang dilupakan. Dian menjelaskan bagaimana pada akhirnya kita justru melipat ingatan soal konflik.  Dian mengambil contoh konflik di daerah Ambon medio 2000. Pernah suatu ketika ada warga muslim yang ketika bertamu di rumah keluarga Kristen, mereka menghargai hidangan yang disuguhkan. Artinya, meski sedang terjadi konflik besar pun, ketika suatu kelompok atau orang sudah tidak lagi menganggap dirinya sebagai korban (victim), tanda-tanda rekonsiliasi akan terjadi. 

Mengenai kekaryaan Suvi Wahyudianto, Dian mengatakan bahwa Suvi telah selesai dengan metode autoetnografinya. Suvi sudah pada tahap membagikan hasil karyanya untuk kita tonton. Maka dari itu, ia tidak lagi memproduksi performans. Melalui proses bertemunya karya dengan publik, karya-karya Suvi telah memunculkan performativitas; ketika ada produksi dan reproduksi makna antara pelaku dan penonton.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Diskusi Panel: Ingatan Bergegas Pulang Hari 2 – Praktik Seni sebagai Praktik Pemberdayaan Diri dan Masyarakat

oleh Krisnawan Wisnu Adi 

Hari kedua diskusi panel pameran tunggal Suvi Wahyudianto kali ini diisi dengan dua diskusi panel dengan tema besar “Praktik Seni sebagai Praktik Pemberdayaan Diri dan Masyarakat”. Sebelumnya, sama seperti di hari pertama, dua diskusi panel tersebut dibuka dengan pidato kunci. Melalui pidatonya, Alia Swastika menyampaikan bahwa apa yang dilakukan Suvi merupakan sebuah strategi untuk merawat ingatan dan membangun imajinasi visual dari ingatan atas identitas sosial; sebuah strategi yang bisa menjadi langkah produktif untuk pemberdayaan diri dan sosial. Masih senada dengan panel diskusi pertama di hari sebelumnya yang dibawakan oleh Anne Shakka, Alia juga menekankan peran metode autobiografi dan auto-etnografi sebagai upaya perbincangan diri dengan konteks di luar diri yang lebih besar. Salah satunya adalah sejarah. Praktik artistik yang melepaskan kisah-kisah personalnya, selain memunculkan ketegangan antara ruang privat dan publik, juga memberi kemungkinan sejarah dari bawah.

Sekilas menarik ke belakang, Alia mengatakan bahwa pada era Renaisans dan Modern, karya-karya bernuansa autobiografi muncul dalam bentuk potret diri hingga yang lebih menekankan memori di level personal. Karya-karya Rembrandt dan Van Gogh menjadi dua dari sekian banyak karya di wilayah itu. Alia juga mencontohkan kekaryaan dari Frida Kahlo yang mengupayakan kemungkinan-kemungkinan personalitas perempuan dalam sejarah seni. Lalu di dalam seni kontemporer, peran wajah dan tubuh mulai tergantikan oleh sejarah diri yang direpresentasikan melalui kehadiran benda-benda yang mempertanyakan kembali ingatan-ingatan beserta materialnya; mengajukan beragam pertanyaan-pertanyaan sembari mencari kemungkinan lain pasca ingatan.

Poin personalitas dalam singgungannya dengan konteks yang lebih luas di dalam pidato Alia mengantarkan partisipan ke diskusi panel kedua yang bertajuk “Melihat Arah Praktik Berkesenian Perupa Muda Hari Ini”, yang dimoderatori oleh Umi Lestari. Sigit Pius, sebagai pembicara, berangkat dari fenomena ‘sobat ambyar (sebutan untuk kawula muda yang akhir-akhir ini menggandrungi lagu-lagu Didi Kempot)’ yang sedang marak. Bagi Pius, seolah-olah sekarang ini kita hidup dalam satu ambiens; kita diminta untuk bersama-sama mengumpulkan air mata mewadahi penderitaan. Persis seperti apa yang para ‘sobat ambyar’ lakukan.

Ia menambahkan bahwa situasi semacam ini hanya mungkin terjadi ketika suatu kekuasaan memaksakan kehendaknya dan selalu mencari peluang melanggengkan pengaruh di tingkatan vertikal. Sementara di lapisan bawah, mereka berkumpul menangis menghimpun penderitaan. Begitu berbeda dengan jaman 1990-an. Karya-karya yang muncul cenderung bernuansa marah.

Aspek personalitas yang begitu kuat, seperti apa yang Pius utarakan tersebut, cukup senada dengan ungkapan Suvi, bahwa seluruh dimensi material dalam karya-karyanya memang menjadi medium refleksi perasaan. Meski demikian, Anton Rais agak kurang sepakat jika seolah nelangsa menjadi kecenderungan kekaryaan perupa muda saat ini. Ia lebih melihat bahwa mereka juga tidak jarang bersinggungan dengan isu-isu lingkungan, feminisme, dll.

Selain mengulas singkat soal kecenderungan praktik perupa muda, tim Cemeti juga menggelar diskusi panel ketiga dengan tajuk “Seni Berbasis Riset” – Penelitian Artistik dan Praktik Seni Lukis di Mata Perupa Muda, yang dimoderatori oleh Manshur Zikri. Ayos Purwoaji dan Arham Rahman hadir sebagai pembicara.

Bukankah seni itu selalu berbasis riset? Ini adalah pertanyaan yang membuka diskusi. Ayos juga menekankan hal sama, ketika praktik riset dalam kerja artistik sudah dilakukan oleh para seniman terdahulu. Soedjojono (seni lukis sebagai alat observasi sosial), Affandi (observasi di sebuah café di Perancis untuk bahan melukis), Dullah (sewaktu revolusi, menyuruh anak-anak didiknya melukis apa yang terjadi), seniman-seniman Lekra (metode TURBA), Moelyono (seni rupa penyadaran), dan di wilayah kampus (residensi atau observasi dulu untuk kemudian membuat karya).

Selain menekankan bahwa praktik riset dalam kerja artistik bukanlah hal baru, Ayos juga mengatakan bahwa wacana ini juga dekat dengan etnografi. Seperti halnya kedekatan Koentjaraningrat dengan lukisan. Di samping diakuinya beliau sebagai bapak antropologi Indonesia, ternyata Koentjaraningrat sedari kecil gemar melukis dan pernah beberapa kali berpameran. Tetapi apakah lukisan-lukisannya termasuk ke dalam lukisan/ gambar etnografis? Belum tentu.

Apakah riset artistik selalu, bahkan hanya, berhubungan dengan etnografi? Agaknya Arham menjawab tidak. Ia dengan tegas membedakan antara riset artistik dengan seni berbasis riset. Yang terakhir itu merupakan praktik yang sering dilakukan oleh seniman-seniman kontemporer. Di sisi lain, riset artistik adalah penelitian berbasis praktik. Bukan seniman mengkaji subjek lain, melainkan dirinya sendiri; mengkaji praktik artistiknya. Si seniman mensimulasikan kegiatan dalam jangka panjang, bukan memanggil kembali ingatan-ingatan masa lalu yang dikawinkan dengan fenomena sekarang.

Arham menambahkan 3 poin penting, bahwa riset artistik harus (1) eksperimental, (2) self-reflective & self-critical, dan (3) metodologis, yang sebenarnya poin ketiga ini belum mencapai kesepakatan pendapat. Alih-alih membicarakan bagaimana riset artistik dilakukan di skena kesenian kita, Arham justru mengatakan bahwa lebih baik riset artistik tidak masuk dulu, karena kita masih belum matang dengan banyak hal.

Diskusi ini setidaknya dapat memberi penjelasan ketika banyak kawan-kawan yang menggunakan istilah riset artistik dan seni berbasis riset dalam pengertian sama. Kecenderungan semacam itu justru menebalkan pengaruh elemen akademis/ riset/ logis-konseptual di dalam praktik seni kontemporer. Sementara, karya-karya seni dengan pendekatan demikian bisa juga disebut, meminjam perkataan Ayos, karya seni kuasi-antropologis (etnografis).

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Warisan Sudjojono

oleh Gagas Dewantoro

Lukisan terkenal dari seorang Sudjojono memiliki kesan tersendiri khususnya terhadap masyarakat urban pada masanya. Sebagai seseorang yang dianggap menjadi perintis seni rupa modern Indonesia, ia sangat berperan dalam membingkai perdebatan tentang perlunya bentuk visual yang khas “Indonesia”. Estetika dan perannya sebagai guru serta penulis memiliki dampak yang mendalam pada perkembangan seni rupa modern dan kontemporer. 

Pada 20 Januari 2020 Program Studi Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada mengadakan seminar bertajuk “Representation of Urban Culture in Visual Art” yang disampaikan oleh Edwin Jurriens, dosen dari Melbourne University. Hadir juga sebagai penanggap utama, yaitu Aditya Adinegoro. Yang menarik pada diskusi ini adalah tema kultur urban yang mengekspresikan seluruh kebudayaan dan aktivitas masyarakat perkotaan.

Salah satu karya fenomenal Sudjojono yang merepresentasikan kehidupan urban serta sosio-politik pada masanya yaitu “Angkatan 66”. Lukisan ini menggambarkan situasi setelah kejadian G30S yang telah menurunkan Soekarno. Dari lukisan ini Sudjojono menampilkan seorang mahasiswa menggunakan jas merah yang sedang berdemonstrasi menghadap istana merdeka dan sebelah belakangnya adalah bundaran HI atau sekarang lebih dikenal sebagai Monumen Selamat Datang di Jakarta. Selain itu, Sudjojono juga menggambarkan situasi rakyat urban yang kacau pasca orde lama, juga pembangunan Jakarta yang begitu masif. 

Hal menarik lainnya dari Sudjojono yaitu ketika dirinya menolak seni lukis yang lahir dari kebutuhan di luar lingkungan bangsa Indonesia, seperti dari turis-turis maupun orang-orang Belanda yang sudah pensiun. Seni lukis bagi Sudjojono harus muncul dari dalam hidupnya sehari-hari termasuk budaya urban yang ada di sekitarnya. 

Meski demikian, Sudjojono tidak hanya melukis kehidupan budaya urban namun juga gunung, bukit, jalan, dan pohon kelapa. Sudjojono berusaha melukiskan kesadaran tentang alam Indonesia, bebas dari cita rasa turisme. Misal, jika dalam suatu pemandangan yang hendak dilukiskan terdapat menara listrik atau hal-hal lain yang mengganggu pemandangan (menurut cita rasa turis),Sudjojono akan tetap menggambarnya. Lukisannya memiliki karakter goresan ekspresif dan sedikit terstruktur, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Pada periode sebelum kemerdekaan, karya lukis Sudjojono banyak bertema semangat perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah. Setelah jaman kemerdekaan karyanya berubah menjadi bertema pemandangan alam, bunga, cerita budaya dan aktivitas kehidupan masyarakat urban. 

Edwin selanjutnya mencoba menitikberatkan karakter ‘urban’ dalam lukisan Sudjojono tersebut sebagai satu poin penting ketika membicarakan karya-karya seni rupa kontemporer. Bagi Edwin representasi urban seperti dalam beberapa karya Sudjojono seolah terus direproduksi, seolah terwariskan pada karya-karya beberapa seniman kontemporer. Misalnya saja pada karya Agan Harahap yang berjudul sama yakni, Maka Lahirlah Angkatan 66. Jika Sudjojono memakai medium lukis, Agan memilih fotografi. Namun, selain judul, ikon yang dimunculkan juga sama, yakni seorang remaja laki-laki yang membentangkan tangan dalam rangka demonstrasi. Selain karya Agan, tangkapan fenomena urban juga muncul dalam karya Yuswantoro Adi yang berjudul Every Place is The Playground. Bagi Edwin, karya ini senada dengan karya Sudjojono yang berjudul Kota Jakarta. 

Dalam diskusi ini, sebagai bagian dari riset disertasinya, Edwin masih dalam tahap berasumsi bahwa warisan Sudjojono seolah hidup di tengah-tengah kekaryaan beberapa seniman kontemporer melalui representasi kultur urban yang dihadirkan. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Pembukaan Pameran “Masa Lalu Belumlah Usai”

oleh Y. Pramana Jati

Hujan deras mengawali pembukaan pameran poster “Masa Lalu Belumlah Usai” di pendapa Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul. Terlalu deras, sehingga membuat acara yang seharusnya mulai pada pukul 19.00 WIB baru dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Pameran yang dikuratori oleh Mikke Susanto bersama Ko-Kurator Tomi Firdaus ini memamerkan 546 lembar poster dari berbagai pameran seni rupa yang pernah terselenggara, dengan rentang waktu antara 1974 hingga 2019 dan semuanya merupakan koleksi Dicti Art Laboratory. Ketika acara dimulai langit masih mengirimkan rintikan hujan menemani dinamika pembukaan pameran ini. Acara dibuka dengan pertunjukan musik dari Band TUDEIS binaan Sekolah Alam “Nurul Islam” Sleman, D. I. Yogyakarta, serta solo performance dari Bintang. Setelah itu dilanjut sambutan oleh Totok Barata selaku pengelola Rumah Budaya Tembi dan Trisna Pradita Putra sebagai sekretaris Prodi Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta.

Pembukaan pun usai dan diskusi sebagai rangkaian acara utama pada pembukaan kali ini akhirnya dimulai, walaupun banyak kursi yang masih kosong dan hanya terisi di satu sisi saja. Diskusi yang dimoderatori oleh Tomi Firdaus ini menghadirkan tiga pembicara yakni Mikke Susanto sebagai kurator pameran, Hardiwan Prayogo (Yoga) sebagai arsiparis Indonesian Visual Art Archive (IVAA), dan Ong Harry Wahyu sebagai seniman poster. Ketiga pembicara memberikan bahasan seputar pembacaan mereka terhadap arsip-arsip poster pameran seni rupa yang memiliki nilai lebih, yakni bukan hanya sebagai media promosi saja melainkan juga sebagai pembacaan pergerakan dari seni rupa di Indonesia hingga nilai ekonomi yang terkandung di dalamnya.

Materi setiap pembicara sarat akan informasi serta pengkayaan perspektif terhadap arsip poster pameran seni rupa. Mikke membahas pengalamannya ketika pertama kali bergelut ke dalam pergumulan ini beserta bahasan tentang aspek kesejarahan poster-poster pameran seni rupa secara kronologis, meliputi pergerakannya hingga teknik pembuatannya dari masa ke masa, dan membahas peningkatan nilai ekonomi dari suatu poster pasca pameran. Lalu Yoga membahas tentang pentingnya kinerja pengarsipan yang dilakukan IVAA beserta teknik klasifikasi (coding) tiap material arsip poster koleksinya. Dan tak ketinggalan juga materi bahasan Ong sebagai seniman poster yang membaca perkembangan estetika pada seniman poster di Indonesia.

Ada banyak bahasan berbobot yang digulirkan ketiga pembicara. Dari semua pembicaraan itu ada beberapa bahasan yang perlu menjadi perhatian, seperti bagaimana perkembangan seni rupa dengan dinamika yang mengiringinya dapat terbaca melalui pembacaan arsip-arsip poster pameran seni rupa. Tak hanya pembacaan akan perkembangan seni rupa saja, melainkan juga pembacaan tingkat bahasa, tingkat teknologi, dan tingkat fungsi seni suatu masyarakat di mana arsip poster itu berasal. Menjadi demikian karena poster pameran seni rupa selalu mengalami transformasi yang awalnya sebagai medium informasi menjadi prasasti setelah pameran usai, walaupun banyak juga poster-poster pameran yang hilang karena pengaruh rezim yang saat itu berkuasa. Tak luput menjadi perhatian juga adalah tentang bagaimana kinerja di dalam semesta pengarsipan turut mempengaruhi nilai informasi dan nilai bukti dari suatu poster pameran seni. Pembacaan arsip tak hanya berhenti di pengumpulan arsip saja, melainkan juga menjadi siklus pembacaan ulang secara interelasional dengan material arsip lain yang banyak terserak di dalam peristiwa seni lainnya, sehingga pengetahuan dari arsip-arsip poster pameran seni rupa dapat terekstraksi secara holistik. 

Dari sudut pandang penciptaan karya juga tersampaikan bahasan mengenai bagaimana sebuah keterbatasan dan keadaan sekitar membentuk pola pikir, estetika, dan cita rasa seniman poster yang senantiasa berubah. Serta, dengan perkembangan teknologi saat ini yang mempermudah kinerja dalam penciptaan desain, para seniman poster semakin dituntut untuk senantiasa mencapai otentisitas gaya dalam realisasi imajinasinya yang tertuang ke dalam desain. Sehingga peran seniman dalam karya tidak hilang tergantikan oleh daya teknologi dalam mengolah desain, karena hakikat teknologi adalah sebagai piranti pendukung layaknya pena di mana desain itu terbentuk karena desainer yang menggerakkannya.

Mendudukan tiga pembicara dengan latar belakang kerja yang berbeda-beda, yakni sebagai kurator/ kolektor, pekerja sekaligus pengelola arsip, dan seniman poster dalam satu forum diskusi adalah langkah yang tepat. Masing-masing kerja mereka sangatlah berkaitan satu sama lain dan tidak bisa timpang. Logika interelasi peran antar pelaku ini dapat dipahami dengan melihat kerja-kerja yang dilakukan tiap pelaku tersebut. Seperti bagaimana seorang kurator/ kolektor membutuhkan kerja dari pelaku pengarsipan untuk memperkaya pembacaannya atas arsip tersebut karena kerja yang dilakukan oleh pekerja arsip adalah membaca secara interelasional, bahkan intertekstual, terhadap satu arsip yang dikaitkan dengan material arsip lainnya. Kerja kolaboratif semacam ini dapat mendukung upaya mengekstrak informasi dan pengetahuan dari suatu gelaran pameran yang meningkatkan nilai informasi, nilai bukti, dan pada akhirnya juga nilai ekonomi arsip poster pameran seni rupa tersebut. 

Lalu kerja seniman poster jelas dibutuhkan dalam produksi material poster. Demikian juga pengelola arsip, mereka membutuhkan kolektor dan seniman poster untuk senantiasa memperkaya khazanah kearsipan yang senantiasa menjadi siklus pembacaan tanpa henti dari suatu perhelatan seni, agar nilai informasi, nilai pengetahuan, serta nilai bukti dari suatu arsip poster dapat terekstraksi. Dan tentunya seniman poster juga membutuhkan kolektor/ kurator sebagai aktor yang senantiasa membuat si seniman tak berhenti dalam gerak kekaryaannya dan membutuhkan kerja para pekerja/ pengelola arsip sebagai pihak yang tak hanya menampung tapi juga mengapresiasi karyanya dengan pembacaan-pembacaan kritis untuk selanjutnya menjadi referensi seniman/ desainer dalam memperkuat karyanya. Dari alasan-alasan itulah peran tiap aktor tak dapat dipisahkan, karena sedari awal kerja-kerja yang mereka lakukan sangat integratif dan tidak dapat timpang. Capaian tiap pelaku tersebut tidak akan tercapai sempurna tanpa keterkaitan peran satu sama lain.

Diskusi sebagai rangkaian utama dari pembukaan pameran poster seni rupa “Masa Lalu Belumlah Usai” ini memang tidak dihadiri oleh banyak tamu, terutama setelah pertunjukan pembuka di mana tamu berkurang hampir separuhnya. Tetapi walau begitu, tidak mengurangi kualitas materi-materi yang dipaparkan oleh para pembicara. Karena para pembicara memunculkan pembacaan-pembacaan yang ternyata sangat luas dalam membaca material serta kerja dalam perhelatan arsip poster pameran seni rupa kali ini, di mana arsip poster pameran seni rupa tersebut tak hanya berhenti sebagai objek koleksi semata atau sebagai pelampiasan sisi romantis kolektornya saja. Perjuangan menempuh hujan deras untuk datang ke diskusi ini serasa terbayar oleh apa yang disajikan sebagai pengkayaan khazanah ilmu pengetahuan di bidang seni dengan sukacita. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

#GILAVINYL: Obat keusangan, racun untuk pencintanya

Judul : #GILAVINYL Seluk-Beluk Mengumpulkan Rekaman Piringan Hitam
Penulis : Wahyu Acum
Editor : Dandy Nugraha.
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman : 268
Resensi oleh : Yulius Pramana Jati 

Benarlah jika kata usang merupakan kata sifat bagi segala sesuatu yang lekang jaman layaknya batu bara sebagai bahan bakar kereta api, lontar sebagai medium tulis, dan pak pos sebagai penghantar surat cinta kepada yang tersayang. Yang usang seringkali tak bertahan bukan tanpa alasan, karena sesuatu menjadi usang biasanya disebabkan kegunaannya yang tak lagi efektif dan efisien dalam menunjang kebutuhan manusia. Tetapi ada paham yang mampu membuat keusangan bertahan hingga kini, paham itu sering disebut romantisme.

Romantisme secara umum adalah perasaan yang amat takjub terhadap sesuatu, tidak peduli apapun keadaannya baik itu murah, mahal, usang, kekinian, dan sebagainya. Perasaan itu cenderung membuat orang yang ternaung di dalamnya menjadi penuh harapan serta berjuang keras untuk mendapatkan apa yang dia sukai dan biasanya juga disertai imajinasi yang tinggi terhadap segala hal yang ia sukai tersebut. Ketika ketakjuban ini menjadi kegilaan dalam mengakses hingga pengumpulan (mengoleksi) objek-objek kesayangannya, maka ini sering disebut sebagai hobi. Hobi sendiri muncul pada diri seseorang karena pengaruh internal atau eksternal yang sengaja maupun tidak sengaja, seperti dari memori masa lampau, pertukaran pengalaman antar pribadi, hingga pengaruh/ hasutan (dalam konteks kekinian sering disebut sebagai racun). Seringkali sikap-sikap seperti itu tersemat pada suatu objek dan objek yang terpengaruh oleh romantisme ini biasanya mengalami sebuah transformasi dari fungsi awalnya. Salah satunya yaitu vinyl record atau yang sering kita sebut sebagai piringan hitam.

Vinyl merupakan media penyimpanan suara analog yang ditemukan oleh Emile Berliner dan dipatenkan pada 1887. Hingga tulisan ini ditulis, bisa dibilang penemuan ini bertahan selama 133 tahun sebagai medium penyimpanan suara analog, terlebih sebagai media rekam musik. Sebelum kaset, CD, hingga kini yang hanya berupa file, vinyl lebih banyak berfungsi sebagai medium pemuas akan kebutuhan hati dan telinga penikmatnya. Pada awalnya pun vinyl dikoleksi untuk pengkayaan bank data musik atau dokumen rekaman penggunanya. Tetapi kini kegiatan pengoleksiannya bertransformasi menjadi sebuah hobi yang tak hanya sebagai wujud pemuasan diri akan kekhasan suara, melainkan juga pada bentuknya yang eksotis. Bentuk piringan hitam ini tanpa perlu dieksotisasi sudahlah eksotis. Sehingga seringkali vinyl dijadikan pajangan dan ornamen dekorasi. Maka dari itu tidak mengherankan jika objek ini sangat prestisius bagi orang yang menenteng atau memamerkannya kepada orang lain.

Buku #GILAVINYL karya Wahyu Acum ini secara tersirat menggambarkan apa yang saya jabarkan sebelumnya yakni bagaimana hobi vinyl kini sudah masuk ke tataran romantisme yang menggugah nurani pencintanya dalam mencapai sebuah romansa. Melalui buku ini Wahyu Acum menjelaskan apa itu definisi gila dan hobi dalam konteks #GILAVINYL yang memiliki arti: terlanda perasaan sangat suka akan vinyl/ piringan hitam. Judul #GILAVINYL pun juga terintegrasi dengan sosial media yakni Twitter dan Instagram di mana khalayak bisa mengakses tagar tersebut ketika sedang membaca sembari bersosial media guna menambah pemahaman tentang isi buku atau meracuni diri agar masuk ke hobi ini. 

Selain menjelaskan arti #GILAVINYL di track (bab) awal, Wahyu juga menceritakan bagaimana ia bisa masuk ke dalam hobi vinyl ini. Ia menceritakan dinamika perjalanannya berpindah-pindah hobi dari mengoleksi perangko, kartu basket, korek kayu, kaset, CD, hingga akhirnya menemukan kecintaannya, yakni vinyl. Hobi bagi penulis dalam buku #GILAVINYL ini merupakan sebuah pertanda perjalanan manusia yang bahagia. Saya sangat setuju dengan penulis, yakni ketika bisa memiliki sekaligus melakukan hobi itu sangatlah membahagiakan. Mengapa? Karena bagi saya hobi adalah kunci dari segala kunci dalam menemukan waktu tersendiri yang intim bahkan sangat meditatif saat menyatu di dalamnya, dan waktu khusus yang didapatkan saat berhobi ini kerennya disebut “Me time”. Tentunya, “Me Time” ini akan sukses ketika beberapa kewajiban seperti deadline pekerjaan, tugas kuliah, skripsi, dan nafkah bulanan kita sudah tuntas semuanya. Tanpa ketuntasan itu, hobi hanyalah seonggok batu neraka sarat dosa. Percayalah…

Setelah menguak perjalanan spiritualnya akan hobi vinyl, Wahyu selanjutnya memberikan pengantar tentang seluk beluk teknis vinyl meliputi jenis material apa saja yang digunakan dalam pembuatan vinyl, ukuran, fungsi, dan lainnya. Pengantar teknis yang diberikan sudahlah cukup sebagai pengetahuan awal ketika ingin masuk ke dalam hobi ini. Poin menarik adalah penjelasan setelahnya, yakni perihal kenapa vinyl layak dipilih sebagai hobi. Di sini ia menjelaskan beberapa alasan yang umumnya menghinggapi khalayak sehingga mau terikat dengan vinyl ini, seperti putaran vinylnya serta kerepotannya dalam memutar vinyl yang sebenarnya alasan-alasan tersebut sangat personal menurut saya. Tetapi apalah arti hobi jika tidak menghadirkan pengalaman personal bukan?

Setelah berkutat dengan pengantar singkat tentang seluk beluk vinyl, di track (bab) berikutnya Wahyu mengajak pembaca untuk ikut ke dalam petualangannya menyusuri berbagai lokasi penyedia vinyl, dan penelusurannya ini ia sebut dengan istilah “piknik”. Di sini ia memberikan beberapa lokasi penyedia vinyl beserta pengalaman yang ia dapat ketika mencari vinyl-vinyl tercintanya itu. Beberapa lokasi yang ia ceritakan ada di beberapa daerah baik di dalam negeri dan luar negeri seperti Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Bali, Jakarta, Singapura, dan Thailand. Tak hanya offline store yang ia informasikan, melainkan juga bagaimana mendapatkan vinyl melalui online store seperti Ebay dan Stockroom. Ada yang unik dengan Stockroom yakni soal bagaimana online store ini membuat hari Kamis menjadi hari yang sakral bagi para penghobi vinyl dalam mendapatkan objek kecintaan mereka.

Tak hanya itu, Wahyu juga menjelaskan bagaimana serunya Record Fair sebagai perhelatan di mana setiap aktor peng-#GILAVINYL berkumpul dalam perputaran ekonomi serta pengetahuan akan vinyl. Berbagai pengalaman demi pengalaman ia jelaskan, terkesan personal tapi influentif menurut saya. Salah satu pengalaman yang membuat saya terkesan adalah tentang bagaimana ketika “piknik” ia mampu menemukan 20 nama artis dan 10 album baru yang belum pernah ia dengar dalam waktu sehari. Dari pengalamannya tersebut ia menyadari jika kegiatan ini bukan tentang collecting vinyl saja, melainkan perihal penemuan kembali terhadap sesuatu yang lampau namun terlupakan dan ini salah satu kerja pengarsipan.

Track selanjutnya sangat jelas jika tak akan lengkap tanpa menyuguhkan pengalaman personal tiap penghobinya. Di bab ini yaitu “track III: Mereka”, Wahyu mengajak untuk membaca pembacaan yang dilakukan tiap peng-#GILAVINYL dalam membaca hobi mereka ini. Baik tentang pengalaman mereka dalam mendapatkan nilai lebih dalam mengakses vinyl hingga transformasi diri yang didapatkan setelah menggeluti hobi ini. Rata-rata yang diangkat adalah para public figure industri hiburan tanah air. Di sini saya merasa ada yang kurang terhadap pemetaan pelaku yang dilakukan oleh Wahyu, mengingat banyak sekali pelaku di luar kategori tersebut yang bisa dikatakan legend di dunia per-vinyl-an dan saya yakin itu. Dengan pemetaan yang menyeluruh pastilah pembacaan tentang vinyl akan semakin luas beserta kemungkinan-kemungkinan lain yang pasti mengiringinya. Kecuali jika Wahyu memang hanya ingin menstimulasi pembacanya dari tahap interest menuju tahap action selayaknya iklan produk dengan artis-artis sebagai presenternya. Bagi saya sah-sah saja, namanya juga meng-influence. Melakukan hobi jika sendirian juga tidak asik karena cenderung tidak akan ada perputaran pengetahuan yang empiris.

Setelah semua track tersebut terjabarkan, Wahyu menutup dengan bab/ track bertajuk bonus. Di dalam track ini ia menyertakan direktori berbagai penyedia vinyl di Indonesia dan glosarium istilah-istilah yang sering digunakan dalam hobi ini. Ditambah foto-foto dokumentasi selama ia melakukan pencarian vinyl-vinyl di berbagai daerah  yang memicu imajinasi para penggila atau nyaris gila vinyl. Jelas, penutup ini semakin mempersiapkan, bahkan benar-benar berniat mengajak pembaca untuk masuk ke dalam hobi ini. Bagaimana dengan saya? Ya.. Tunggu saja ketika saya dapat rejeki nanti. Apakah saya akan ingat atau lupa pada hobi ini, pokoknya tergantung restu istri.

Bagi saya membaca buku ini seperti dihadapkan pada aplikasi katalog hotel. Ketika memutuskan ingin menginap kita akan disuguhkan profil berbagai hotel beserta lokasi-lokasinya lengkap dengan testimoni para pelanggan yang pernah menginap di sana. Bedanya ada pada pengalaman estetik yang menyentuh nurani manusianya. Sekali lagi, ini perihal pencapaian romansa dan ini kelebihan buku #GILAVINYL. Romansa-romansa ini disajikan dengan bahasa yang ringan tanpa membuat pembaca berpusing-pusing kembali ke teks sebelumnya guna mengartikan bahasa-bahasa tulis yang canggih.

“The whole experience of vinyl is what we’re after. If we don’t see something moving, we lose romance. There’s no romance for me to sing to you about an iPod. But why? Because nothing is moving.”—Jack White

Dengan romantisme pada akhirnya sangat tidak tepat jika menyebut vinyl adalah medium rekaman suara yang usang. Di luar kelebihan dan kekurangannya dalam teknologi, piringan vinyl memiliki sisi romantisnya yang mampu membuatnya sebagai objek yang layak dicintai hingga kini. Di lain sisi proses transmisi vinyl pun mengalami transformasi karena romantisme ini, dari medium rekam suara saja, kini berubah fungsi menjadi objek kolektif bahkan sangat prestisius bagi pencintanya. Transmisi vinyl berlanjut bukan sebagai medium penyimpan lagu dan suara yang ingin kita dengar saja, tetapi kini bertransformasi menjadi vinyl yang memiliki peran dalam menyajikan “rasa” yang membahagiakan kolektornya, bahkan hingga ke ranah yang sangat meditatif.

Memang buku ini terkesan hanya menjabarkan romantisme yang dirasakan penulis beserta penghobi lainnya tentang bagaimana awal hobi mulai bersemi; mengakses berbagai tempat yang menyediakan koleksi piringan vinyl yang tersebar di berbagai tempat. Namun terlihat jelas jika penulis juga memetakan medan sosial dari hobi vinyl ini sehingga kita tahu siapa saja, di mana saja, dan bagaimana kita bisa mengakses medium tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penulis memiliki harapan besar jika komunitas pecinta vinyl ini dapat meluas hingga menyentuh berbagai kalangan. Tetapi barangkali ada kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat digali dari hobi koleksi vinyl, misalnya sebagai medium pembacaan arsip. Entah ada berapa banyak pengetahuan yang terserak di luar ruang penyimpanan arsip formal yang barangkali justru ada di tangan para penggila vinyl ini. Sehingga tak hanya #GILAVINYL yang menyertai, tapi juga #VINYLGILA yang memberkati hobi ini guna menunjukkan potensialitasnya sebagai laku pengetahuan. Aminnnn!!!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Bersama Dullah, Melihat Bung Karno dari Sudut Pandang yang Lain

Judul : BUNG KARNO Pemimpin, Presiden, Seniman
Penulis : Dullah
Editor : Mike Susanto
Penerbit : Museum Dullah
Tahun Terbit : 2019
Resensi Oleh : Ganesha Baja Utama

Buku ini berisi kumpulan tulisan yang dimuat di harian Minggu Merdeka, yang mana merupakan ingatan dan catatan ketika Dullah tinggal di Istana. Catatan-catatan tersebut berisi banyak hal yang apabila dibaca akan memunculkan sudut pandang, imajinasi, fantasi lain mengenai kehidupan seorang presiden, kehidupan pribadi seorang Dullah, dan kehidupan yang terjadi di Istana pada masa itu. Dullah sendiri adalah seorang pelukis yang berperan penting dalam dunia seni rupa di Indonesia. 

Buku ini tidak hanya menyoroti perihal seni. Hal-hal kecil lain yang ternyata merupakan peristiwa penting, seperti keseharian Bung Karno dengan anak-anaknya, Bung Karno dalam menyiapkan pidatonya, kisah cinta, dan bahkan sifat-sifat yang dimiliki oleh Bung Karno dibahas dalam buku ini. Membaca buku ini akan membawa seseorang seolah terjun untuk berfantasi dan membayangkan apa yang dialami Dullah pada saat itu.

Catatan-catatan ini menjadi sebuah warisan karya yang penting bukan hanya untuk dunia seni, melainkan juga untuk sejarah bangsa, dan untuk masyarakat Indonesia sendiri. Bukan semata-mata tulisan yang dikumpulkan dan dirangkai menjadi sebuah buku, kumpulan tulisan ini menjadi jembatan penting bagi kita dalam memahami apa yang telah dilakukan oleh Dullah selain sebagai ahli gambar. Disertai dengan sejumlah foto keterangan terkait hal yang diceritakan dalam tulisan tersebut, membuat saya mudah untuk membayangkan dan seolah mampu menarik mundur waktu, pergi ke situasi di saat foto-foto itu diambil. 

Disebutkan bahwa kumpulan tulisan ini merupakan catatan-catatan selama satu dekade Bung Karno, yaitu pada 1950-1960. Rangkaian catatan yang juga bisa dikatakan sebagai bentuk romantisme seorang Dullah kepada Istrinya. “Ibune Kenung”, begitu panggilan romantis Dullah kepada istrinya dalam catatan-catatan di buku ini. Dullah melukis Fatimah atau Ibune Kenung secara simultan sepanjang waktu, dan benar saja dalam lukisan Dullah tidak ada model yang sering dilukis terkecuali istrinya sendiri. Terlepas dari hubungan antara Dullah dengan Bung Karno ataupun dengan istrinya, buku ini memberi keterangan bahwa sebenarnya hanya terdapat 59 artikel. Bahwa terdapat kekeliruan penomoran oleh redaksi Harian Merdeka pada artikel nomor 23 yang sebenarnya tidak ada. Selain itu judul-judul yang ada pada setiap artikel di buku ini sebenarnya juga tidak ada. Judul-judul ini diberikan digunakan sebagai penanda apa yang akan dibaca oleh pembaca pada setiap artikel.

Setiap catatan benar-benar menggambarkan bagaimana suatu hubungan terjalin. Hubungan yang saya maksud adalah hubungan antara Dullah dan Bung Karno. Pada beberapa artikel Dullah menggambarkan bagaimana dirinya bisa menjadi akrab dengan presiden pertama Indonesia ini. Dullah digambarkan seperti bayangan seorang Sukarno. Bagaimana tidak, di setiap catatan Dullah selalu menceritakan bagaimana dirinya diajak Sukarno bepergian, melukis, menata panggung pentas 17-an, dan banyak kegiatan yang melibatkannya. Setiap pagi seniman besar ini menemani Bung Karno berolahraga, jalan kaki mengelilingi istana. Hubungan ini membuat Dullah dekat dengan keluarga Bung Karno serta paham betul bagaimana si presiden memiliki jiwa seni.

Hal menarik lainnya bagi saya ketika membaca buku ini adalah bahwa Dullah tidak hanya menceritakan tentang Bung Karno, istana, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya. Dullah juga selalu memberikan gambaran bagaimana rakyat menyambut kedatangan seorang Bung Karno ketika mengunjungi daerah-daerah. Catatan-catatan yang telah dituliskan dengan lengkap oleh Dullah ini menjadi tulisan yang layak untuk dibaca dalam rangka memahami Bung Karno dari sudut pandang yang lain.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Komunitas dan Pekerja Seni Malaysia

Judul : PERSPEKTIF Naratif Seni Rupa Malaysia
Penulis : Nur Hanim Khairuddin
Penerbit : RogueArt
Cetakan : Cetakan Pertama
Tahun Terbit : 2019
Halaman : 348 halaman
ISBN : 978-967-10011 9 6
Resensi Oleh : Gagas Dewantoro

Buku yang berisi kumpulan makalah dari 2011 hingga 2017 ini berisi berbagai pandangan masyarakat Malaysia tentang seni rupa. Dengan format seri, buku ini merupakan jilid keempat atau terakhir yang memberikan gambaran komunitas dalam dunia seni di Malaysia. 

Sebagian dari mereka pada dasarnya tidak dikenal sebagai artis tetapi sebagai pekerja kreatif, pendongeng dan pembuat mitos berdasarkan keahlian yang telah mereka dapatkan. Kajian sosiologis oleh Howard Becker pada 1948 yang berjudul Art Worlds menggambarkan bahwa karya seni adalah wujud hasil usaha banyak orang yang membentuk dan mencorak karya seni itu. Sehingga karya seni memiliki nilai serta maknanya di dalam sebuah masyarakat. Nilai yang diberikan kepada sebuah karya seni merupakan usaha bersepadu untuk melahirkan sebuah penghargaan publik terhadap kerja-kerja kreatif oleh para seniman.

Pada dasarnya komunitas merupakan sekumpulan orang yang mempunyai hubungan antara satu sama lain. Hasil hubungan sosial bukan hanya berdasarkan hubungan silsilah keluarga, namun lebih soal ikatan kekeluargaan. Dalam buku ini penulis melihat hubungan seni dengan kehidupan sosial di dalam sebuah komunitas masyarakat yang luas. Keterlibatan sosial menjurus kepada berbagai cara di mana orang melibatkan diri dalam masyarakat, komunitas dan kehidupan politik. Melalui proses ini, seni digunakan sebagai medium untuk mengangkat isu-isu dalam lingkungan masyarakat. Oleh sebab itu secara tidak langsung seni mendapatkan ruang yang khas dalam masyarakat dan wacana. 

Seniman dapat mewujudkan lebih banyak sintesis; mengasimilasi dan menyesuaikan diri ke dalam budaya, konteks sosial tempatan, politik dan ekonomi melalui proses pelibatan dan performance. Seni yang berinteraksi secara langsung dengan masyarakat sosial meliputi pengkuratoran terbuka dan bersifat kolaboratif dalam proses yang menghasilkan. Dalam konteks operasi antara praktis seni dan penghasil wacana tentang seni, kurator adalah hal penting dalam membentuk apa dan bagaimana kita melihat dan mengalami seni yang dihasilkan  pada zaman ini dan yang lalu.

Pemahaman kurator menurut beberapa orang memang berbeda-beda termasuk dari seorang Nur Hanim Khairuddin yang memahami peranan kurator dengan keterlibatan pemilihan tema, seniman dan karya, menyusun objek di ruang pameran, dan dalam beberapa kasus menyumbang teks ringkas yang menerangkan kerja-kerja dan seniman yang terlibat. Namun saat ini dunia kurasi di Malaysia begitu holistik, rumit, bermacam dan banyak peringkat. Kurator memimpin dan mengawal keseluruhan proses pembuatan pameran, serta membangun tema dan konsep berdasarkan kajian mendalam dan rujukan melalui ruang, aliran, konteks dan wacana pameran, untuk menyusun teks kuratorial dan promosi, serta melaksanakan program sampingan. Namun yang paling penting, kurator berfungsi sebagai perantara antara berbagai komponen: seniman, karya seni, institusi, penonton, media, masyarakat umum, bahkan kolektor. Ini menunjukan bahwa kurator memainkan peranan yang lebih aktif.

Pada tahap tertentu, nampaknya terdapat peralihan dalam peranan dan kuasa kurator juga. Dahulu, kita melihat kurator hanya berfungsi sebagai pemilih seniman dan bekerja untuk pameran tanpa memberikan sembarang respons dan kritik. Sekarang mereka merupakan pencipta atau pengarah acara yang mengambil keseluruhan proses menganjurkan pameran dengan sendiri atau bekerja sama dengan kolaborator lain. Lebih jauh lagi muncul juga fenomena kurator sebagai seniman, di mana kurator menganggap pameran yang mereka usahakan sebagai “objek” seni dalam dirinya sendiri.  

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Menjelajah Relasi: Medium dengan Persentuhan Problematika Seni Rupa Era Kontemporer

 Judul : Relasi dan Ekspansi Medium Seni Rupa
Penulis : Para staf pengajar di Program Studi Seni Rupa, FSRD, ITB
Penerbit : Direktorat Pengembangan Seni Rupa, ITB
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun : 2018
Resensi oleh : Prima Abadi Sulistyo

Memahami dan membaca seni rupa kiranya juga tak hanya menyoal karya seni rupa yang berdiri sendiri. Membaca seni rupa juga melibatkan persoalan relasi medium. Rizki A. Zaelani, dalam tulisannya mengutip gagasan Achille Bonito Olivia, “Tidak ada kesadaran intelektual terhadap seni”. Tentunya ungkapan tadi ingin menjelaskan adanya sikap ragu bahwa seni mampu merumuskan maknanya secara menyeluruh. Rizki pun mengungkapkan, istilah “medium” bukan hanya sebatas permasalahan bahan/ material seni rupa, tapi lebih soal makna (ekspresi) seni rupa itu sendiri. 

Buku ini seolah dihadirkan karena selama ini peristiwa seni cenderung dipandang sebagai cipta seni, hasil akhir/ produk dari seorang seniman. Buku ini hadir sebagai salah satu alternatif; soal bagaimana untuk meningkatkan dan memahami proses apresiasi yang mempunyai makna, diperlukan perangkat pengetahuan yang memadai. Sebagai bagian proses pemahaman dan penghayatan terhadap suatu karya seni oleh apresiatornya, yaitu pengetahuan seni (art knowledge).

Terbit pada 2018, buku ini digarap oleh staf pengajar perwakilan studio yang ada di Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Teknologi Bandung (ITB). Ditulis oleh 12 penulis yang secara garis besar bicara dalam ranah medium seni rupa, macam-macam seni rupa dan kajiannya, sejarah seni rupa, refleksi seni rupa Indonesia, serta seni rupa kontemporer. Berterbalkan 322 halaman, buku ini dibagi ke dalam beberapa sub tema yang mereka tulis dan kembangkan dari pemikiran mereka.

Tulisan pertama oleh A. Rikrik Kusmara membahas tentang medium seni rupa: konsep, struktur dan perkembangannya. Sedikit banyak membahas tentang fungsi medium, medium dan estetika, serta tipologi medium. Rikrik membagi tipologi medium seni rupa ini ke dalam perspektif modern dan tradisional. Secara deskriptif-naratif ia  juga menjelaskan macam-macam medium seni rupa mulai dari drawing, seni lukis, patung, seni media baru, mixed media, fotografi, video art, sampai seni instalasi.

Di tulisan selanjutnya Didik Sayahdikumullah membahas soal mooi indie dan seni lukis bentang alam. Ia menuliskan bagaimana sejarah seni Indonesia seakan beranggapan bahwa relasi antar manusia dan alam sering dikategorikan sebagai lukisan bentang alam atau mooi indie. Hal ini terasa ketika para pemikir Indonesia dalam menggambarkan “beauty” selalu sebagai fenomena yang merujuk pada seni rupa barat. Fenomena lukisan mooi indie dianggap sebagai sebuah kedangkalan pelukis barat dalam memahami realitas kehidupan sehari-hari negeri tropis ini. Dalam perbedaan cara pandang memahami mooi indie inilah yang kemudian seolah mempresentasikan awal mula konflik estetik yang dipertentangkan oleh sebagian pelukis indonesia. Didik mencoba menelaah dari segi sejarah bagaimana perkembangan lukisan bentang alam ala eropa di masa East India Company, yang selanjutnya menimbulkan pemaknaan dan terminologi lukisan mooi indie di negeri jajahan Belanda. Didik juga membahas ruang lingkup lukisan bentang alam dan mooi indie, serta kemunculan mooi-scape pasca lukisan bentang alam. Tulisan ini kemudian disusul oleh Bambang Ernawan yang mengulas seputar seni lukis abstrak. Dia lebih bercerita soal pengalaman pribadinya yang empiris ketika mencoba melukis lukisan abstrak.

Lain lagi dengan Willy Himawan, ia mencoba mengejawantahkan topik pilar kultural dalam seni lukis Indonesia. Diawali dengan tulisan kunci dari Sanento Yuliman yang berjudul “Seni Lukis Indonesia: persoalan-persoalannya, dulu dan sekarang”, Willy mencoba mendedah seni lukis dari ranah tradisi dan kultur suatu wilayah, semisal seni lukis diaspora Bali. Ia juga menambahkan terkait seni lukis (yang) kultural, yang menurut hemat saya berarti bahwa seni lukis berposisi sebagai sebuah hal yang dinamis dan aplikatif. Seni lukis juga menjadi bagian kultural (relief di candi) dan bagian modern dalam perhelatan di ruang seni rupa macam ARTJOG.

Pada tulisan selanjutnya yang berjudul Seni dan Ruang Publik, Budi Adi Nugroho mencoba mengejawantahkan persoalan seni di ruang publik sebagai seni yang lahir direncanakan dan diproduksi untuk dimiliki oleh masyarakat luas. Ia menjelaskan gagasannya dengan konsep piramida terbalik. Awalnya ia menjelaskan soal sejarah seni dan ruang publik. Kemudian ia menyebutkan macam-macam tipologi seni ruang publik. Melalui pengambilan contoh general genealogi seni ruang publik di Indonesia, Budi kemudian membahas genealogi seni ruang publik di Bandung sebagai salah satu studi kasus seni dan ruang publik. 

Pada tulisan selanjutnya, Setiawan Sabana melalui Seni Grafis di Indonesia dan Tantangannya mencoba menelaah definisi seni grafis dan irisannya dengan cabang seni rupa lainnya. Setiawan Sabana juga mengambil banyak studi seni grafis yang berada di Indonesia. Seni keramik kontemporer juga tak luput dari pembahasan. Lalu Nurdian Ichsan mencoba merunut perkembangan seni keramik dari paradigma craft, paradigma seni modern, lalu paradigma seni kontemporer. Dalam tulisannya yang lain ia juga ingin bicara soal Refleksi Kritis Seni Rupa Kontemporer di Indonesia pada 1990-an. Dilanjutkan oleh Asmudjo J. Irianto dengan judul Fotografi Seni: Modern, Postmodern, Kontemporer yang mencoba menjelaskan bagaimana fotografi berkembang dan menjadi sebuah pertanyaan. Soal bagaimana akhirnya peran dan posisi fotografi di dalam perkembangan seni rupa dewasa ini. 

Tisna Sanjaya dengan tulisannya yang berjudul Imah Budaya (IBU) Cigondewah membahas riset seni atau artistic research yang acap kali sering dianggap oleh seniman sebagai bagian yang jarang dibahas dan diungkapkan. Melalui studi kasus riset seni budaya (IBU) Cigondewah, ia mencoba menjelaskan bagaimana pada akhirnya ,melalui riset, seni juga bisa membuat sebuah alternatif penciptaan dan solusi permasalahan lingkungan hidup. Hemat saya, hal ini difokuskan pada revitalisasi budaya dan pemberdayaan masyarakat melalui seni lingkungan. Senada dengan Tisna Sanjaya yang berkenaan dengan riset seni berbasis lingkungan, Muksin Md memilih tema unsur-unsur tradisi sebagai inspirasi. Muksin mengatakan di dalam seni rupa kontemporer, pemanfaatan unsur-unsur tradisi juga bisa diolah. Sebut saja unsur-unsur tradisi seperti material/ benda tradisi (lokal), kesenian maupun budaya dan tema tema di dalamnya.

Setiawan Sabana melalui Refleksi Spiritualitas dalam Seni Rupa Kontemporer ingin memberikan tanggapan atas situasi dan perkembangan “era ekonomi” ASEAN yang ditandai dengan kegiatan bersama dan bebas dalam bidang perdagangan (AFTA). Adapun dampak dari kebijakan itu juga berpengaruh pada dimensi seni maupun budaya yang sangat terkait dengan aktivitas perdagangan. Hal inilah yang kemudian dipertanyakan oleh beliau. Bahwa seni itu lebih merujuk kepada nilai batin pada diri manusia, sedangkan perdagangan sebaliknya. Ia menggambarkan Asia Tenggara sebagai satu kesatuan budaya dengan ciri-ciri yang hampir sama. Ia mencoba menjelaskan secara singkat tentang kebangkitan kebudayaan Asia Tenggara yang juga terjadi dalam dunia seni rupa Asia Tenggara. Pada poin terakhir kemudian dituliskan mengenai refleksi dalam pencarian nilai (spiritualitas) dalam memahami ekspresi seni rupa kiwari ini.

Pada sub tema lainnya, Dadang Sudrajat menulis soal spiritualitas dalam seni. Ia beranggapan bahwa seniman adalah juga penempuh jalan spiritual, penempuh laku Suluk. Dengan contoh bagan, Dadang mencoba menghubungkan seni, mistisisme, dan keindahan. Penjelasan spiritual dan hubungan dengan salah satu sisi agama juga dijelaskan olehnya dalam memahami spiritualitas seni dan hubungannya dengan individu yang bersifat personal.

Tulisan terakhir dari Rizki A. Zaelani dengan judul yang menarik perhatian, Melihat dengan Ibarat. Dengan pendekatan mistisisme Islam/ tasawuf, Rizki mengatakan bahwa “melihat dengan ibarat” pada prakteknya bukan hanya persoalan melihat (seeing). Lebih dari itu, ia juga soal mengingat (remembering, remembrance) dengan Tuhan sebagai pusat ingatannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.

Poster dalam Semesta Arsip

oleh Hardiwan Prayogo

Pertengahan Januari, ketika Mikke Susanto sedang mempersiapkan Pameran Poster Seni Rupa tahun 1974-2019, yang bertajuk Masa Lalu Belumlah Usai, ia menghubungi IVAA untuk menjadi salah satu narasumber di diskusi yang digelar pada hari pembukaan pameran, yaitu 22 Januari 2020. IVAA diminta untuk membicarakan poster dalam perspektif pengelolaan arsipnya. Alhasil, guna mempersiapkan materi obrolan, saya membuka lagi ribuan lembaran arsip poster koleksi IVAA. Melihat kembali fungsi utama IVAA yang bergerak di bidang pengarsipan dan seni rupa, poster menjadi salah satu rasi dalam semesta koleksi arsip IVAA. Secara umum, poster koleksi IVAA terbagi ke dalam poster promosi peristiwa seni dan poster yang bersifat propaganda. Selanjutnya, persoalan bagaimana poster berelasi dengan arsip-arsip lainnya akan diulas dalam sorotan arsip kali ini. Lebih jauh lagi, yang akan diulas adalah arsip poster event atau peristiwa seni.

 

 

 

 

 

 

Sebagai arsip, poster terhitung sebagai arsip yang cukup jarang diakses publik. Untuk menjawab persoalan ini tentu memerlukan pelacakan lebih panjang dan mendalam di lain waktu. Terlepas dari akses dan atensi publik pada arsip poster, IVAA menyimpan lebih dari 2500-an poster mulai dari 1987 hingga awal 2020 ini. Meski belum seluruhnya terinventarisasi dalam pencatatan, pameran tugas akhir Suwarno, dan pameran Forum Komunikasi Seni tercatat sebagai poster tertua sejauh ini, dengan tahun 1987. Kenapa IVAA juga merasa perlu menyimpan poster? Salah satu alasan filosofisnya adalah IVAA meyakini bahwa arsip selalu memiliki 2 aspek, yaitu nilai informasi (informational value), dan nilai bukti (evidence value). Selain memang memiliki informational value, sebagai evidence value kehadiran poster saya kira perlu disandingkan dengan arsip-arsip lain seperti katalog, foto/video dokumentasi, hingga liputan media. 

 

 

 

 

 

 

 

Lantas informasi apa yang umumnya dimiliki oleh selembar poster? Poster selalu memiliki informasi mengenai siapa saja pelaku seni yang terlibat, judul acara, waktu dan tempat pelaksanaan. Dalam sekilas pandang sambil lalu, setidaknya sebagian informasi tersebut akan diperoleh. Beberapa poster, salah satunya dalam peristiwa seni yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta, selalu mencantumkan satu esai pengantar yang biasanya ditulis oleh kurator pameran. Informasi-informasi general dalam poster ini jelas terbatas, maka perlu dicari relasinya dengan arsip-arsip lain. Mari kita mulai membuka kembali lembaran-lembaran poster koleksi IVAA.

Contoh pertama adalah Proyek Seni Rupa Yuswantoro Adi yang berjudul Bermain & Belajar. Poster yang kemudian menjadi bagian dari event ephemera ini juga memiliki katalog. Dari sebaran arsip peristiwa seni yang dimiliki IVAA, terlihat bahwa poster event menggambarkan bahwa acara ini bertema seputar anak-anak. Namun, bagaimana anak-anak direpresentasikan dalam pameran ini? Dari arsip katalog dan dokumentasi lainnya, kita akan mendapati bahwa Yuswantoro tidak hanya menggunakan figur-figur anak kecil sebagai objek kritik sosial, tetapi juga mensetting galeri menjadi taman bermain.

Contoh kedua adalah Biennale Yogyakarta VII tahun 2003. Poster pameran ini mengilustrasikan bola dunia dengan latar belakang warna merah muda. Selain menampilkan tema pameran yaitu Countrybution, poster ini menampilkan informasi general seperti lokasi, tanggal, rangkaian program dan seniman yang terlibat. Tentu sulit melacak informasi lebih lanjut terkait pameran, terlebih isu dan konteks yang mengelilingi Biennale kali ini. Maka informasi-informasi ini bisa diperoleh melalui katalog pameran yang memuat  pengantar dari Antena Project, esai kuratorial dari Hendro Wiyanto, deskripsi karya, dan profil seniman partisipan. Hendro menyebut bahwa ini adalah pertama kalinya perhelatan Biennale Yogyakarta merujuk pada sebuah tema/ tajuk tertentu: Countrybution. Biennale Yogyakarta ini sejatinya dilaksanakan pada 2001, namun mundur 2 tahun karena persoalan dana. Tema ini dipilih karena menyoroti penyelenggaraan Biennale di negara berkembang yang umumnya menghabiskan cukup banyak biaya, sementara kebutuhan dasar yang lebih vital bagi warga belum memadai.

Contoh ketiga adalah pameran tunggal Hanafi, berjudul Waktu/ Times. Poster pameran ini menggunakan ilustrasi lukisan abstrak karya Hanafi. Tentu juga masih ada informasi general dalam poster ini. Tetapi sama seperti contoh kedua, informasi lebih jauh berada di katalog. Jim Supangkat, sebagai kurator pameran, menyebut karya Hanafi sebagai dekonstruksi seni lukis abstrak. Karena jika secara teoritis seni lukis abstrak bersifat non-representasional, karya Hanafi justru merupakan seni lukis abstrak representasional yang pada pameran ini membicarakan isu objek, ruang, dan manusia. 

Kemudian yang terakhir, serangkaian poster event Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XV tahun 2003. Selain poster utama, terdapat juga poster untuk program-program terkait yaitu pameran/ gelar seni rupa yang bertajuk Reply, dan pameran tunggal fotografi Yudhi Soerjoatmodjo berjudul Facade. Dan isu apa yang tertulis dalam katalog? Disebutkan bahwa tantangan FKY edisi ini adalah mengakomodir sebanyak-banyaknya seniman, dengan berbagai kecenderungan ragam, sekaligus menghadirkan mutu. Rain Rosidi dan Sujud Dartanto mengambil benang merah ‘anak muda’, dengan spirit bahwa ini adalah cara anak muda menjawab tantangan zaman. Seluruh seniman yang berpameran merupakan hasil pendaftaran (bukan undangan). Seperti hal paling umum dari pembacaan arsip, kita kerap menemukan problem atau isu dalam seni yang berulang-ulang dari tahun ke tahun. Hal yang sama juga muncul ketika saya membuka kembali arsip yang diawali dari pembacaan poster-poster ini. 

Poin penting apa yang muncul ketika poster disandingkan dengan arsip-arsip yang lain? Poin itu adalah posisi arsip sebagai evidence value. Ketika arsip-arsip poster dengan informational value-nya masing-masing dirangkai bersama arsip lain, maka arsip-arsip tersebut mampu berfungsi sebagai evidence value, karena mereka berpotensi memunculkan konteks yang lebih luas atas suatu peristiwa. Poster sebagai arsip memang tidak bisa berdiri sendiri. Kehadirannya sangat perlu ditunjang oleh kehadiran arsip lain agar nilai-nilai informasi yang termuat dalam selembar poster ini bisa memiliki nilai bukti yang lebih kontekstual. Bukan berarti salah ketika poster dapat ditinjau secara tunggal dari aspek desain, teknik cetak, dan hal-hal formalis lainnya. Namun, dalam konteks pembacaan yang lebih komprehensif, tentu relasi dengan material arsip lain menjadi sangat penting. 

Dalam kepentingan inilah lembaga arsip seperti IVAA bekerja, bahwa logika pengelolaan arsip perlu bertumpu pada ketelitian menemukan informasi dan menjahitnya sebagai upaya menemukan kemungkinan-kemungkinan lain dalam suatu pembacaan atas peristiwa. Singkatnya, dengan logika demikianlah arsip poster dikelola di IVAA. Lebih jauh, cara kerja demikian seturut dengan kenyataan bahwa pengetahuan yang beredar di sekitar kita, termasuk seni, memang berserak. Lanskap isu yang mengitari sebuah peristiwa tidak bisa hanya dibaca melalui satu arsip poster. Ini menjadi tantangan sekaligus harapan dari kerja pengarsipan. Sebuah tantangan, karena kerja pengarsipan itu bagai pekerjaan yang tidak pernah usai dan tidak selalu sesuai dengan satu atau dua metode baku. Dan sebuah harapan bahwa potensi pengetahuan dalam arsip tidak akan menemui titik, selalu berjalan dalam koma.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.