Category Archives: Kabar IVAA

SOROTAN DOKUMENTASI | JULI-AGUSTUS 2019

Ada 6 figur yang kami ulas dalam konteks membicarakan kerja-kerja manajerial seni-budaya. Mereka adalah Anggi Minarni, Yustina Neni, Riesmiliyana Wijayanti, Godod Sutedjo, Trisni Rahayu, dan Halim HD. Bukan maksud untuk menjadikan mereka sosok paling utama dari para pekerja (manajer) seni lainnya, tetapi ini didasarkan atas pertimbangan ragam metode kerja dan keberangkatannya yang layak dibagikan sebagai pengetahuan, serta kapasitas jangkauan yang dapat kami lakukan. Selain itu kami juga menggarisbawahi satu peristiwa penting, yakni Sekolah (bukan) Arsitektur, yang bicara soal situasi kritisisme dalam dunia arsitektur sebagai bagian dari diskursus kesenian kita.

Hidup Bersama dalam Problem Ruang Publik Kota

oleh Hardiwan Prayogo dan Santosa Werdoyo 

Lahir di Makassar dan menetap di Yogyakarta semenjak menjadi mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada. Pada 1992 Anggi Minarni menjadi direktur Yayasan Karta Pustaka, sebuah lembaga seni-budaya Indonesia-Belanda yang memiliki tiga visi: mempererat persahabatan Indonesia-Belanda melalui budaya, mendukung kegiatan pendidikan masyarakat melalui budaya, dan mendorong upaya-upaya pelestarian pusaka budaya. Anggi juga tercatat sebagai salah satu pendiri dan anggota Jogja Heritage Society (JHS). JHS adalah lembaga edukasi dan konservasi pusaka Indonesia di Yogyakarta. JHS menjadi pihak yang mengusulkan Jalan Malioboro sebagai kawasan pedestrian. Programnya yang lain adalah revitalisasi bangunan bersejarah di Kota Gede, Yogyakarta pasca gempa 2006. Selain di JHS, Anggi pernah tergabung dalam Kerupuk (Kelompok Peduli Ruang Publik Kota Yogyakarta) bersama kawan-kawannya yang terdiri dari arsitek, wartawan, hingga seniman. Kelompok ini aktif pada 2000-an, dengan fokus pada isu tata kota, terutama yang berhubungan dengan ruang publik. 

Salah satu tindakan nyata yang pernah dilakukan oleh Kerupuk adalah aksi “Di Sini akan Dibangun Mall (DADM)” pada Oktober, 2004. Ini merupakan sebuah aksi seni rupa publik yang melibatkan banyak seniman dari berbagai generasi. Intensi utamanya adalah untuk merespon persoalan di sekitar kontroversi pembangunan mall secara kritis, namun dengan cara/ strategi estetik dan artistik, serta eufemistik (halus), seperti karakter masyarakat Yogyakarta yang sering didengungkan. Dalam aksi ini, bahasa seni visual digunakan sebagai terapi kejut atas berbagai kebijakan politik-ekonomi yang ditelurkan dan beredar di pemerintah kota/ provinsi, pemilik modal, pengusaha, dan masyarakat umum.

Saat itu rencana pembangunan 8 mall di sekitar Kota Yogyakarta menimbulkan kontroversi. Kekhawatiran akan terjadi krisis ruang publik karena mall adalah ruang konsumtif mulai muncul. Ruang dialog sosial-budaya menjadi penting untuk dimunculkan. Ini menjadi semacam gerakan moral yang dirangsang oleh para pelaku seni. Aksi yang dilakukan oleh para seniman ini memantik perhatian DPRD untuk mengevaluasi kerja pemerintah. Hingga akhirnya, dari 8 yang direncanakan, hanya 4 mall yang jadi dibangun.

Kerupuk berangkat dari kepedulian atas tata kota kawasan Kota Baru, khususnya di Jalan Suroto. Ketika itu Anggi masih tergabung bersama Karta Pustaka, bertemu dengan kawan-kawan arsitek dan pakar tata kota. Pemerintah belum terbuka dengan rencana tata kota. Dari sini Kerupuk, yang mengetahui ‘bocoran’ rencana tata kota, membuat kritik terhadap pemerintah melalui media massa. Tujuan awalnya jelas, yakni untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap penataan ruang publiknya.

Aksi-aksi yang dilakukan oleh Kerupuk banyak menarik perhatian, termasuk mengintervensi kebijakan-kebijakan tata kota yang dirancang oleh pemerintah daerah. Kerupuk pernah mengusulkan kepada walikota Jogja (ketika itu Herry Zudianto) untuk membuat dan memanfaatkan ruang publik di setiap kampung. Anggi merasa bahwa kampung perlu menyediakan satu ruang publik agar tercipta obrolan antar tetangga.

Kerupuk juga kerap mengkritik penataan media luar ruang. Pada awal 2000-an, Jogja mulai dipenuhi dengan papan-papan iklan berukuran besar. Kerupuk mengusulkan pada harian Kompas edisi Jogja untuk membuat satu rubrik berjudul “Keliling Kota”, sebuah rubrik berisi opini/ kritik publik atas tata ruang kotanya. Dalam wawancara bersama beliau, Anggi mengaku bahwa ketika itu ia bersama rekan-rekannya mendapat banyak dukungan,  khususnya dari pihak media. Pernyataan-pernyataan Kerupuk beberapa kali menjadi berita utama koran. Selain dukungan media, satu hal yang membuat Kerupuk memiliki posisi tawar adalah relasi yang sudah dibangun Anggi dengan pihak-pihak luar negeri seperti Kedutaan Besar Perancis, pemerintah kota Savannah, hingga World Monument Fund ketika menjabat sebagai direktur Karta Pustaka. 

Bagi Kerupuk, audiensi, dialog, atau bahkan ketegangan dengan pemerintah adalah hal biasa. Salah satunya adalah ketika Kerupuk mengupayakan agar pembangunan Ambarukmo Plaza tidak merusak gandok tengen (gandok kanan; gandok adalah bangunan yang menempel di bagian kiri atau kanan rumah utama dalam arsitektur Jawa) dari sebuah bangunan bersejarah yang ada di situ (pendhapa Ambarukmo). Pada akhirnya Ambarukmo Plaza tetap saja dibangun. Meski demikian, Anggi punya satu sikap politis yang terus dilakukan sampai sekarang, bahwa ia tidak akan pernah menginjakkan kaki ke sana.

Anggi Minarni juga terlibat di dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY), yang sekarang sudah masuk ke agenda pariwisata nasional. Gelaran kesenian ini berangkat dari kebutuhan yang sangat internal, yaitu konservasi kawasan Ketandan. Anggi mulai mengupayakan PBTY sejak 2006 sebagai bagian dari tugas JHS. Ketandan sebagai kawasan pecinan Jogja perlu lebih banyak diketahui publik, dalam artian mengurai jarak sosialnya. Maka PBTY sebagai pergelaran seni-budaya dirancang untuk tidak hanya menampilkan representasi Tionghoa tapi juga proses-proses akulturasi dalam busana, kuliner, hingga kesenian. Menurut Anggi, generasi Tionghoa yang paling muda sudah cukup tercerabut dari akar budayanya. Lambat laun situasi ini merubah persepsi orang-orang etnis Tionghoa terhadap lingkungan sosialnya,  terutama di kawasan Ketandan yang cenderung menyendiri dan tertutup. 

Strategi Anggi untuk menggandeng seniman menjadi salah satu cara yang tepat untuk mendukung aksi ini. Sebuah aksi yang sama membutuhkan strategi yang berbeda dan terkait dengan kehadiran sosial media serta tekanan dari pihak-pihak tertentu. Dari pada meromantisasi aktivitas-aktivitas yang dilakukannya bersama Kerupuk sebagai sesuatu yang heroik, Anggi merasa bahwa waktu itu mereka hanya sedang berada dalam momentum yang tepat. Tepat dalam mengumpulkan kegelisahan yang serupa atas kota dari berbagai lapisan masyarakat. Pada saat itu pun, banyak yang melakukan gerakan serupa Kerupuk dengan konsentrasi masing-masing, dan itu dinilai sangat baik.

Dalam kerja manajemen, Anggi adalah pelaku yang berangkat dari kegelisahan atas problem kota, bukan keinginan semata ingin membuat peristiwa kesenian seperti pameran, pertunjukan, dll. Ini terlihat dari cara kerjanya di Kerupuk dan JHS. Problem kota yang dimaksud bukan hanya persoalan bangunan fisik, tetapi juga interaksi sosial yang terjalin di dalamnya. Persoalan ini hadir tidak sekadar sebagai inspirasi, lebih dari itu, justru hidup dan dihidupi bersama. Dalam hal kesenian, Anggi menilai seni akan selalu diapresiasi dengan cara berbeda dari masa ke masa. Peningkatan kuantitas peristiwa seni belakangan ini bisa dinilai bahwa seni mulai tidak dimiliki oleh sekelompok orang saja, meski juga tidak melulu dibarengi dengan peningkatan kualitas. Ini bisa disebut semakin menyemakkan kota, karena di satu sisi membuat kota semakin penuh dan macet. 

Jika kita lihat dari beberapa contoh aksi yang pernah Anggi lakukan bersama rekan-rekannya, seperti DADM dan PBTY, sepertinya memang tidak ada bentuk baku dalam merancang strategi. Yang jelas, Anggi beserta rekan-rekannya selalu memiliki cara kerja tersendiri untuk menghadirkan kesenian dalam upaya utamanya mendekatkan publik pada persoalan kota. Di dalam intervensi terhadap manajemen kota beserta irisan elemen kebudayaannya, Anggi meletakkan kesenian bukan hanya pada judul karya atau teks-teks kuratorial, melainkan sebagai bagian dari cara untuk mempengaruhi kebijakan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Kerja Manajerial itu juga Kerja Kemanusiaan

oleh Krisnawan Wisnu Adi dan Sukma Smita Grah Brillianesti

Bu Neni. Begitulah sapaan akrab yang kerap ditujukan untuk memanggil Yustina Neni Nugraheni, salah satu orang lawas di skena ‘manajemen seni’ di Yogyakarta. Wanita kelahiran Yogyakarta, 16 Juni 1969 ini mulai aktif di skena kesenian sejak ia menempuh studi di Jurusan Sastra Prancis, Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1988. 

Semasa kuliah Bu Neni aktif terlibat di Kelompok Bulak Sumur (KBS). KBS merupakan sebuah kelompok kecil di kampus UGM yang terdiri dari para mahasiswa yang gemar menggambar. Mereka berkumpul, menggambar, dan berdiskusi bersama. Jauh lebih progresif dari UKM lainnya, KBS sering menemui beberapa seniman berpengaruh di Yogyakarta untuk mendalami pernak-pernik kesenian secara serius. 

Pada 1992, ketika sekelompok seniman yang dimotori oleh Dadang Christanto ingin mengkritik keganjilan regulasi dari Biennale Yogyakarta, KBS menjadi sasaran rekan kerja. Karena tidak memiliki legalitas untuk menggelar pameran di ruang publik, sekelompok seniman tersebut kemudian mengajak KBS sebagai payung lembaga. Ketika rekan-rekan KBS yang lain, seperti Hanura, Kris Budiman, dan Bambang Paningron lebih terjun di bidang kekaryaan dan wacana kebebasan ekspresi, Bu Neni berperan sebagai sekretaris. Ia mengurus perijinan dari kelurahan hingga polsek. Strategi administrasi ia kerjakan bersama Agung Kurniawan dan Dadang Christanto. 

Jaringan kesenian Bu Neni menjadi semakin luas. Pada 1995 Mella Jaarsma dan Nindityo mengajaknya untuk membentuk Yayasan Seni Cemeti (sekarang Indonesian Visual Art Archive). Ia dipercayai untuk menjalankan peran bendahara, mengurus cash flow dan tentu sekaligus ikut memelihara cita-cita yayasan kebudayaan ini. Di yayasan inilah Bu Neni mulai belajar dan mempraktikkan kerja-kerja akuntansi secara serius. Tuntutan dari HIVOS sebagai lembaga funding pada waktu itu menjadi latar belakang keseriusannya ini. Ia menjadi paham tentang beberapa prinsip dasar keuangan sederhana, seperti neraca hingga sistem input double entry

Bu Neni juga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa catatan keuangan bukan hanya soal teknis, tetapi juga bagian dari performa organisasi. Kendali budget adalah salah satu mekanisme yang ia terapkan. Sebagai sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang dokumentasi kesenian, YSC sering menerima hibah dokumentasi dari publik. Bagi Bu Neni, menerima hibah secara berlebihan justru mengurangi performa organisasi. Oleh karena itu ia mengalokasikan anggaran untuk pengadaan koleksi serta dokumentasi secara mandiri sebagai bentuk apresiasi karya. “Ngirit itu juga ada ilmunya”, ungkap Bu Neni. Beberapa prinsip serta mekanisme tersebut kemudian diterapkan oleh bendahara-bendahara setelahnya. 

Tidak berhenti di YSC, kemampuan ‘menata’ organisasi kebudayaan dari Bu Neni terus berkembang. Pada 2009, ketika Biennale Yogyakarta membutuhkan mekanisme kerja yang lebih tertata, Dian Anggraini mengajak dirinya untuk ikut terlibat. Oleh karena itu, setahun setelahnya Bu Neni menginisiasi pendirian Yayasan Biennale Yogyakarta. Tujuan dibentuknya yayasan ini: satu, supaya Biennale Yogyakarta tidak hanya berhenti sebagai acara dua tahunan Dinas Kebudayaan, tetapi juga sebagai gelaran kesenian yang berkontribusi dalam diskursus kebudayaan secara progresif; dua, membangun aset yang sifatnya mandiri dan berkelanjutan, tidak hanya kepanitiaan yang bongkar pasang. 

Kiprah Bu Neni di bidang manajemen seni seolah tidak bisa diragukan lagi. Meskipun berangkat dari ketidaktahuannya atas Binal Eksperimental 1992 sebagai peristiwa penting, kerja-kerja manajerial yang telah ia lakukan telah menyumbang kekayaan infrastruktur sosial kesenian di Yogyakarta. Namun, ia tidak peduli dengan atribut ‘manajer seni’. “Sak karepmu, sing penting kowe sregep nyambut gawe (terserah kamu, yang penting kamu bekerja dengan tekun)”. Itu adalah prinsip pengorganisasian yang selalu ia terapkan sebagai bagian dari platform awal kerja bersama. 

Selain tidak peduli dengan atribut, ia juga punya perhatian khusus terhadap manajemen ruang. Ruang menjadi salah satu hal fundamental dari kebutuhan untuk bekerja. “Ruang yang berfungsi publik, dia harus gampang dibersihkan. Dia harus public friendly”, ungkapnya. Salah satu contoh adalah desain ruang Kedai Kebun Forum (KKF), restoran sekaligus ruang seni yang ia dirikan bersama Agung Kurniawan. Karena menjadi ruang yang berhubungan dengan publik luas, KKF didesain agar kuat, tahan lama, dan tidak memerlukan perawatan yang rumit. Semua saluran air selalu ada di luar, sehingga mudah diketahui jika ada yang bocor. Selain itu, ia sangat melarang pegawai-pegawainya untuk kerja lembur. Jika mereka lembur, mereka akan mudah sakit. Jika mereka sakit, semua akan ikut repot. Art follows function, begitulah prinsip manajemen kedua yang ia terapkan. 

Meski tidak terlalu peduli dengan atribut, bagi Bu Neni struktur organisasi tetaplah penting dalam kerja-kerja pengorganisasian seni. Terlebih untuk konteks sekarang, ketika banyak sekali acara yang melibatkan negosiasi dengan pemerintah, struktur organisasi menjadi satu kebutuhan formal yang tidak bisa dihindari. Namun, dalam prakteknya kerja kesenian tidak bisa selalu kaku. Oleh karena itu yang relevan untuk dilakukan adalah rekayasa manajerial. Bahwa yang ideal itu bukan kerja berdasarkan struktur organisasi di atas kertas semata, melainkan berdasarkan kebutuhan bersama secara inklusif. 

Dari sekian banyak pengalaman manajemen seni yang telah ia lakukan, ada satu refleksi menarik yang Bu Neni temukan. Bahwa manajemen itu bukan hanya persoalan teknis. Manajemen itu juga melibatkan laku olah mental. Persinggungan dengan banyak pihak akan menuntut ‘manajer’ untuk terus menegosiasi perasaannya. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah sadar akan keterbatasan dalam menjalankan suatu pekerjaan. Tak lain dan tak bukan, kerja manajerial adalah kerja kemanusiaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Ngopeni Seni, Ngopeni Tubuh

oleh Sukma Smita Grah Brillianesti 

Tegas dan bertangan dingin! Itulah kesan yang selalu terlihat pada sosok perempuan yang akrab dipanggil Mbak Ries. Mulai bekerja secara formal sebagai pengelola ruang seni pada 2008 di Tembi Contemporary, Rismilliana Wijayantimerupakan seorang manajer seni yang telah banyak mengampu berbagai kegiatan seni baik di dalam maupun luar negeri. Mantan dosen Bahasa Inggris di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan pengajar Bahasa Indonesia di beberapa balai bahasa ini adalah Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Sanata Dharma yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan formal pengelolaan seni.

Sejak SMP ia telah memberi bimbingan privat sebagai cara untuk menambah uang saku hingga kemudian memutuskan untuk mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Ries merasa bahwa dirinya was born to be a teacher. Ia pernah menjadi pengajar bahasa Inggris, Indonesia, dan Jawa di Lembaga Bahasa Colorado. Hingga pada suatu waktu, aktivitas mengajar membawa dirinya mengenal Warwick Purser, salah satu murid di kelas Bahasa Indonesia yang ia ampu. Warwick kemudian mengajaknya bekerja bersama di Out of Asia (OOA) pada 2001  untul menjadi Personal Assistant. Kala itu Ries tidak memiliki petunjuk sama sekali tentang apa itu pekerjaan asisten personal. Ia hanya melihat pekerjaan ini sebagai tantangan baru dan memutuskan menerima tawaran Warwick. 

Pekerjaan asisten personal adalah titik tolak karir Ries di bidang manajemen seni. Mengelola segala kebutuhan, kegiatan beberapa rumah hingga galeri seni Warwick Purser membuatnya mau tidak mau harus mempelajari ilmu manajemen. Galeri seni Tembi Contemporary pada awalnya merupakan kolaborasi bersama Warwick Purser dengan Valentine Willie. Sebuah ruang terbuka yang digunakan untuk berbagai kegiatan yang terkait dengan seni dan budaya, yang tidak hanya di Indonesia namun di beberapa galeri milik Valentine Willie di negara-negara lain. Ries mengawal dan mengelola pameran, dari seniman Indonesia yang berpameran di galeri sisters di Kuala Lumpur, Singapore dan Manila atau sebaliknya, mengelola pameran seniman dari wilayah galeri sisters di wilayah Indonesia

Sebagai manajer seni yang belajar secara otodidak, selama bekerja menjadi asisten personal dan pengelola ruang seni, Ries tekun melakukan berbagai refleksi dan pengembangan pada kerja-kerjanya. Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan formal manajemen seni, Ries berupaya untuk menganalisis kebolongan atau kekurangan pekerjaannya secara mandiri. Dalam menambal kebolongan, Ries memiliki beberapa tools kerja yang mempermudah dan membantunya untuk bekerja lebih profesional. Selain itu, perkenalan awalnya dengan Bayu Widodo membuat Ries menyadari bahwa seni rupa merupakan sebuah ruang di mana posisi, peran dan kemampuannya dipertanyakan dan kemudian perlu ditunjukkan. Alasan itu memperkuat Ries untuk lebih dalam belajar ilmu manajemen seni.

Awal bekerja sebagai asisten personal dan pengelola Tembi Contemporary, Ries hanya mengenal beberapa seniman. Salah satu yang kemudian menjadi dekat dengan dirinya adalah Lashita Situmorang. Pengalaman bekerja bersama Lashita dan pengetahuan luas Lashita tentang seni rupa, terutama di Jogja, membuat Ries memutuskan untuk saat itu mendapuk Lashita sebagai art guide-nya, sebagai salah satu tools-nya memahami dunia seni rupa. Dibantu Lashita, Ries tidak hanya diajak ke pembukaan pameran dan dikenalkan dengan banyak seniman, ia juga kemudian ikut terlibat dalam berbagai diskusi dan obrolan tentang seluk beluk seni rupa hingga kesempatan bekerja bersama.

Selain Lashita, Ries juga menggunakan sosial media. Waktu itu hampir semua orang memiliki akun Facebook, termasuk seniman. Oleh karena itu Ries menggunakan Facebook untuk membantunya berkomunikasi dengan seniman di luar Jogja sembari memperluas jaringan. Hingga hari ini, di tengah perkembangan dunia digital dan media sosial, Ries tidak hanya menggunakan Facebook namun memanfaatkan keragaman platform sosial media lain untuk mendukung kebutuhan kerja hariannya. 

Tools berikutnya adalah inisiasi kegiatan bersama. Berenang dan memasak merupakan aktivitas favorit bersama yang kerap Ries adakan dengan mengundang banyak teman-teman pekerja seni. Ruang karaoke menurut Ries adalah ruang di mana semua orang mampu melepaskan label dan beban pekerjaan, dan di saat bersamaan Ries memanfaatkan momen karaoke untuk mengamati dan mengenal lebih dekat seluruh koleganya. Cerita menarik yang Ries bagikan adalah ketika ia mengamati kegemaran Bambang Toko menyanyikan lagu-lagu Amy Search sewaktu karaoke. Dari amatan tersebut, dalam satu kali kesempatan pameran Bambang di Malaysia, yang diorganisir oleh Valentine Willie Fine Art Kuala Lumpur, Ries mengundang Amy Search sebagai tamu pembuka pameran. Beberapa aktivitas keseharian yang terlihat sepele tersebut, bagi Ries mampu memperkokoh arsitektur jaringan yang ia bangun.

Ragam cara penambal bolong yang disebut Ries sebagai tools tidak hanya membuatnya mampu bekerja lebih profesional, namun juga membantu dirinya merawat jaringan dan kemudian menyerap berbagai pengetahuan tentang kerja-kerja kesenian melalui pengalaman kerja bersama dan diskusi-diskusi informal di dalamnya. Kebutuhan Ries untuk menyerap sebanyak-banyaknya pengetahuan melalui jalur informal membentuk dirinya menjadi seorang manajer seni yang serba bisa. Dalam praktik kerja bersama Jogja Contemporary, Ries tidak hanya menjadi pengelola ruang yang mengorganisir aktivitas seni, ia bahkan menyusun konsep program hingga berdiskusi dengan seniman perihal fokus kekaryaan. 

Mirip dengan Tembi Contemporary, Jogja Contemporary adalah ruang yang terbuka untuk penyelenggaraan berbagai proyek seni. Jogja Contemporary dikelola Ries yang pada waktu itu telah mampu membangun sistem manajemen yang mapan untuk Tembi Contemporary dan siap untuk regenerasi. Dalam proses kerja di Jogja Contemporary, Ries selalu terlebih dahulu membangun konsep pameran yang disesuaikan dengan situasi, isu hari ini dan kebutuhan proyek. Dari proses tersebut banyak diskusi yang kemudian terjadi dan bisa disebut jauh dari praktik kerja manajemen seni yang selama ini dipahami. Praktik yang Ries lakukan adalah menawarkan tantangan bagi seniman dan pekerja seni dalam kolaborasi kerja bersama, seperti terlibat dalam diskusi merumuskan bentuk visual presentasi karya hingga tema pameran, memberi usulan penulisan hingga inisiasi diskusi publik. 

Nampak bahwa praktik manajemen seni yang dilakoni Ries sangat cair. Bahwa kerja manajer seni tidak hanya berhenti pada pembuatan timeline dan rencana kerja, mengawasi proses bekerja agar berjalan sesuai rencana kemudian mengevaluasinya. Lebih dari itu, sebagai manajer seni, seseorang harus mampu menguasai berbagai macam bahasa komunikasi dan mampu menyesuaikannya dengan ragam profesi yang bekerja bersama di dalamnya. Mampu ngopeni (merawat) atau membaca kebutuhan tiap pribadi hingga kemudian membantu mengembangkannya. 

Batasan kerja seorang Ries begitu cair, secair metode kerjanya di dunia kesenian. Ries, yang juga merupakan koordinator tim art handler Helutrans ini, di saat bersamaan mampu mengelola hingga lebih dari 5 kegiatan sekaligus. Ia mengaku bahwa dalam kerja pengelolaan seni yang selama ini dilakukannya, ia berperan sebagai individu tanpa terikat dengan organisasi atau komunitas dengan fokus tertentu. Hal tersebut membuatnya bisa lebih mudah untuk masuk, membangun komunikasi dan bekerja bersama dengan siapa saja, seperti pekerja seni, komunitas dan organisasi dari latar belakang yang beragam. 

Dengan perpaduan antara kemauan ngopeni, kesibukan dan ritme kerja yang sangat cair, Ries, yang juga merupakan anggota Dewan Yayasan Biennale Yogyakarta ini, selalu menikmati dan merasa senang dengan segala pekerjaanya. Kepadatan aktivitas selalu dimaknai sebagai ruang belajar dan tantangan baru, meski ia tidak mengelak juga bahwa terkadang ia merasa kelelahan. Inisiasi aktivitas bersama tidak hanya sebagai tools untuk kebutuhan pengembangan profesionalitas, namun juga menjadi cara Ries untuk berhenti dan beristirahat sejenak, menghabiskan waktu berkualitas dengan teman-teman. Aktivitas memasak, berenang dan karaoke adalah bentuk dari bagaimana ia memberi penghargaan pada tubuh yang telah bekerja keras. Ia selalu mengelola kesehatan fisik serta emosi tubuhnya dengan menerapkan batasan kerja. Penting untuk mengatakan ‘cukup’ kepada tubuh yang telah atau bahkan belum lelah.

Bagi Ries, kerja-kerja manajerial adalah pengelolaan eksternal dan internal. Seseorang tidak hanya harus cakap dalam menuntaskan pekerjaan tanpa cela, namun secara internal juga harus mampu mengelola energi serta kapasitas tubuhnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Mekanis Sekaligus Laku Prihatin

oleh Hardiwan Prayogo dan Krisnawan Wisnu Adi

Siapa pelopor pasar seni di Yogyakarta? Pertanyaan tersebut menggiring kami kepada satu nama, Godod Sutedjo. Tidak berawal di Yogyakarta, kiprah Godod di skena pasar seni justru bermula dari Jakarta. Ia adalah koordinator seniman di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara dari 1975 hingga 1990. Entah suatu kebetulan atau tidak, niat Godod untuk menempa kesenimanannya di ibu kota disambut oleh tahun-tahun kejayaan pasar seni antara 1978 dan 1995. Bukan tanpa bekal, seniman kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah ini semasa kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) memang sudah aktif mengorganisasi pameran. 

Godod cukup berhasil dalam mengorganisasi Pasar Seni Ancol. Ia mampu mendatangkan pembeli karya melalui relasi-relasi dengan beberapa orang penting. Salah satunya adalah Joop Ave, staf protokoler Istana Kepresidenan pada waktu itu. Melalui bantuan dari Joop serta Guntur Siswoyo dan Joko Setiyadi, Godod mendapat kesempatan sebulan sekali selama tiga hari untuk berkunjung ke Istana melihat-lihat koleksi lukisan serta belajar manajemen pameran. 

Namun, menjelang akhir dekade 1990-an, Pasar Seni Ancol mulai kehilangan popularitas. Salah satu latar belakangnya adalah pasar seni ini hanya berfungsi sebagai etalase dagangan. Artinya tidak ada lagi seniman yang benar-benar berproses menciptakan karya di sana. Kemunduran ini menjadi pelajaran bagi Godod untuk kiprah selanjutnya ketika ia kembali ke Yogyakarta, terutama di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). 

Sebelum terjun ke FKY, semula Godod bersama enam rekannya mengadakan pameran di Monumen Pers, Surakarta pada 1981. Pengalaman manajemen yang ia dapatkan semasa bekerja di Pasar Seni Ancol dibawa ke sini. Ia ingin sebisa mungkin karya-karya yang dipamerkan terjual. Melalui bantuan Sudarwoto (putra dari Sudarso Sentul), Godod terhubung dengan Adam Malik yang waktu itu menjadi wakil presiden. Adam Malik sangat suka mendapat tamu seniman, karena tidak hanya bisnis yang diobrolkan tapi juga kebudayaan. Akhirnya, Adam Malik membeli beberapa lukisan yang akan ditawarkan Godod. Lukisan-lukisan yang dibeli ini tetap dipamerkan beserta foto dokumentasi pertemuan mereka. Oleh karena itu, banyak orang akhirnya ikut membeli lukisan-lukisan yang belum laku. 

Pada 1995 ia mulai terlibat di FKY, mengorganisir bursa seni. Sebagai manajer ia mempunyai target bahwa karya-karya yang dipamerkan harus laku. Ardiyanto Pranata adalah sosok yang membantu dia untuk mengelola bursa seni. Ada suatu cerita yang menarik. Ketika bursa seni akan dibuka, Ardiyanto menggelar pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Kemudian Godod melihat kesempatan untuk mendatangkan pembeli. Ia mengirim karangan bunga sebagai ucapan selamat kepada Ariyanto di TIM. Karangan bunga ini akhirnya memancing rekan-rekan Ardiyanto untuk datang ke bursa seni FKY. Ketika itu, karya-karya yang dipamerkan di bursa seni FKY adalah dari Fadjar Sidik, Joko Pekik, Rustamadji, Batara Lubis, dll. Godod juga pernah mencoba menggelar FKY di kota lain, seperti Bandung dan Jakarta. Memperluas jaringan pasar seni rupa adalah kekhasannya. 

Dalam mengelola pameran atau bursa seni Godod selalu mempunyai manajemen antisipasi. Ketika di Jakarta, ia merawat kerja sama dengan Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA) yang pada waktu itu diketuai oleh Moetaryanto Poerwoaminoto. Dengan adanya mitra kerja, Godod akan terbantu untuk mendatangkan pembeli. Kemudian di FKY, Godod pernah menerapkan sistem paket. Ketika orang-orang ingin membeli lukisan dari Joko Pekik, mereka juga harus membeli lukisan-lukisan lain yang belum laku. Lagi-lagi mitra kerja, TP Agus Setyoko, yang pada waktu itu bekerja di Bank Umum Nasional adalah sosok yang membantu Godod untuk mencarikan pembeli. 

Bukan tanpa resiko, Godod pernah didemo karena mekanisme yang ia terapkan. Pada 1999, pameran Seni Rupa FKY XI yang dikoordinatori oleh Godod diprotes oleh kelompok S-Tape (Seniman Tanggap Perubahan). Aksi ini diikuti oleh sekitar 100 mahasiswa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Mereka melihat bahwa FKY terlalu menjadi ajang komersial. Pihak panitia dituntut untuk membuat FKY agar lebih melibatkan para perupa muda. 

Ada satu metode lagi yang Godod terapkan di dalam penyelenggaraan pameran atau bursa seni. Ia selalu menggunakan cara kejawen, mempertimbangkan hari-hari baik untuk menentukan kapan pameran atau bursa seni akan dimulai. Metode laku spiritual ini sebenarnya juga ia terapkan sebagai seniman. Ketika ia melukis, pertimbangan waktu dengan iringan puasa menjadi suatu kebutuhan yang harus dilakukan. Dalam wawancaranya dengan The Jakarta Post pada 22 Februari 2008, ia mengatakan, “Itulah yang ingin saya alami dalam melukis, bekerja dengan cara yang mirip dengan bagaimana empu menciptakan senjata suci”. Barangkali, kerja-kerja manajerial seni juga ia perlakukan sebagai kerja-kerja mekanis sekaligus laku prihatin.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Fasilitasi sebagai Panglima Kerja Pengelolaan: Ngobrol Santai dengan Mbak Yayuk 

oleh Lisistrata Lusandiana

Trisni Rahayu atau Mbak Yayuk ialah salah seorang yang langsung saya ingat ketika mendiskusikan kerja pengelolaan peristiwa atau acara seni budaya. Kiprahnya barangkali tidak banyak dilihat. Untuk itulah, pencatatan sederhana yang dilakukan oleh tim IVAA ini punya intensi menggarisbawahi berbagai potensi pengetahuan berbasis pengalaman yang sudah mendarah daging di tubuh-tubuh para pelaku. Yang dimaksud pelaku dalam hal ini ialah pelaku pengelolaan seni budaya. 

Dari berbagai cerita yang dibagikan oleh Mbak Yayuk, terdapat beberapa hal yang perlu ditebalkan, untuk kemudian dielaborasi lebih jauh atau bahkan direfleksikan dan dipantulkan, terutama oleh para pelaku-pelaku yang juga mengalami dan memiliki keterlibatan secara langsung dengan kerja penyelenggaraan acara budaya. 

Mulai dari jam kerja yang sangat perlu siasat, kelola keuangan hingga fasilitasi psikologi yang tidak bisa diterapkan sama pada semua orang, menjadi keseharian Mbak Yayuk. Ia bercerita bahwa seluruh perjalanan kerjanya dalam mengelola peristiwa kebudayaan ini berjalan secara organik, sesederhana pengelolaan manajerial rumah tangga, yang kemudian merembet hingga menjadi bagian dari kelola kebudayaan dalam konteks yang lebih luas. Ia menceritakan bahwa dinamika kerjanya tidak bisa dilepaskan dari perjalanan kesenimanan Ugo Untoro dan MDTL (Museum Dan Tanah Liat) sebagai ruang yang dihidupi bersama dengan kawan-kawan dekat dan komunitas seniman muda, dalam relasi yang saling menginspirasi dan menghidupi satu sama lain. 

Dengan latar belakang sebagai sarjana ekonomi, Mbak Yayuk tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam pengelolaannya. Salah satu tantangan dan kerja intensif yang justru tidak bisa ditinggalkan ialah manajemen psikologis dalam tim, mengingat sifat sekaligus latar belakang manusia yang sangat beragam, ditambah intensi dan kepentingan yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Ketika membicarakan dinamika tim, Mbak Yayuk menyebut beberapa nama orang terdekat yang keberadaannya sangat penting dalam perjalanan kesenimanan Ugo Untoro dan MDTL. Dari ungkapan-ungkapan sederhana ini kita bisa melihat pola pengelolaan acara ataupun peristiwa yang tidak hanya mengedepankan target, tetapi juga mengutamakan penghargaan pada persahabatan serta relasi antar manusia. 

Dalam obrolan ringan kami tersebut, Mbak Yayuk juga menceritakan salah satu pameran yang cukup diingat, yakni Poem of Blood, yang lumayan banyak pertaruhannya, mulai dari segi finansial hingga energi yang sulit untuk dikuantifikasi. Di momen ini juga Mbak Yayuk membagikan ceritanya seputar kawan-kawan dan tim yang bekerja bersama hingga menjadi keluarga dekat.  

Barangkali pencatatan ini terlampau sederhana jika mengingat betapa kompleksnya kerja pengelolaan, mulai dari pengelolaan konten dan statement dari suatu acara, sumber daya manusia, keuangan hingga waktu dan lapisan psikologi yang muncul dari banyaknya elemen kerja. Dari situ kemudian kita bisa merefleksikan lebih jauh, apakah mungkin memformulasikan sistem kerja manajerial dalam bidang seni budaya? Sejauh apa hal itu perlu? Jika telah terjadi, sejauh apa hal itu justru bisa memunculkan problem lain, yang sejauh ini belum bisa kita identifikasi?

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Dokumentasi Wawancara dengan Halim HD

Video berikut adalah dokumentasi wawancara antara Arham Rahman dan Akiq Aw. dengan Halim HD di Studio Plesungan, Surakarta, Jawa Tengah. Wawancara dilakukan sebagai bagian dari Festival Arsip IVAA 2017. 

Halim Hardja atau Halim HD atau Liem Goan Lay merupakan seorang pemerhati kebudayaan, penulis, kritikus sastra, dan networker yang akrab dengan kerja-kerja manajemen seni. Sejak kecil pria kelahiran Serang, Banten pada 25 Juni 1952 ini sudah akrab dengan dunia kesenian, khususnya sastra dan pementasan drama. Keakrabannya ini juga didukung oleh koleksi buku bacaan yang ada di perpustakaan pribadi orang tuanya. Konteks ini kemudian mempengaruhi dinamika Halim ketika hidup di Yogyakarta.  Ia selalu mengikuti acara-acara Kaum Urakan yang dibentuk oleh W.S. Rendra dan Arief Budiman. Perkenalannya dengan Arief Budiman kemudian membawanya untuk bertemu Ariel Heryanto, dan bersama-sama membentuk sarasehan bertajuk Sastra Kontekstual di Taman Budaya Jawa Tengah pada 1984. 

Selain itu, beberapa aktivitas yang ia lakukan adalah menjadi editor Antologi Bulaksumur-Malioboro (1975), pengorganisasian workshop teater bersama Philippines Educational Theater Association (PETA) (1983-1988), dosen tamu di Universitas Michigan (1989-1992), asisten penelitian Benedict Anderson, pembicara dalam Konferensi Studi Indonesia-Asia di Melbourne, Australia (1998), penata produksi Takeya Contemporary Dance Company di Solo (1995), dan Makassar Arts Forum. 

Di dalam video ini, Halim bicara banyak seputar dinamika pengorganisasian kesenian, khususnya dalam hal jaringan. Bahwa hubungan jejaring kerja kesenian kita bergerak di dalam konteks masyarakat primordial; selalu bergantung pada beberapa figur penggerak. Artinya, figur telah menjadi simbol dari masing-masing simpul jaringan. Bukan bermaksud untuk mengunggulkan figur-figur tertentu, Halim HD justru ingin menekankan penerjemahan karakter masyarakat modern ke dalam konteks masyarakat yang telah disebutkan. Bahwa kerja berjejaring dilandaskan atas kerja organ. Selayaknya tubuh, semua elemen saling terkait secara fungsional. Keterkaitan ini diperkuat dengan hubungan personal, mengutamakan praktik tutur dari mulut ke mulut (bukan hanya teknologi komunikasi sosial media) dan kesamaan ketertarikan tema atau isu tertentu. Dan bukan tanpa maksud praktis, mekanisme ini mampu memotong biaya produksi serta manajemen kegiatan seni-budaya. Halim juga mengatakan bahwa bentuk kerja-kerja kebudayaan yang ‘diformalkan’, yang cenderung khawatir dengan uang, barangkali tidak punya aspek spekulatif dan imajinatif.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

Sekolah (bukan) Arsitektur

oleh Vicky Ferdian Saputra dan Muhammad Ziauddin Rosyad Arroyhan

Jaringan ugahari bersama Lembaga Studi Realino, KUNCI Cultural Studies, Indonesian Visual Art Archive (IVAA), dan Galeri Lorong beberapa waktu yang lalu menyelenggarakan sebuah workshop penulisan kritis arsitektur bertajuk “SEKOLAH (BUKAN) ARSITEKTUR: Teks dan Konteks Ruang Hampa Arsitektur Indonesia”. Workshop ini diselenggarakan di ruang kelas Lembaga Studi Realino, Yogyakarta, 9-19 Juli 2019 dari jam 9.00-12.00 WIB tiap harinya. Tujuan diselenggarakannya workshop ini salah satunya adalah untuk memperkaya perspektif kritis dalam menyikapi persoalan-persoalan di lingkup studi arsitektur melalui pendekatan interdisiplin.

Menurut Maria Andriani [Kepala Sekolah (bukan) Arsitektur], ide untuk membuat sekolah ini berangkat dari kegelisahannya melihat ketimpangan lulusan arsitektur yang banyak tetapi tidak terserap di dunia kerja. Selain itu, ada pula ketimpangan lain di mana arsitektur yang dibutuhkan oleh pembangunan, tetapi juga harus berhadapan dan  berkontestasi dengan kuasa-kuasa yang ada di realitas sekarang. Menurut Maria, kebanyakan lulusan arsitektur tidak dibekali pemahaman atas analisis sosial, atau pemahaman atas kuasa ruang yang terjadi, sehingga mereka merasa ada gap yang besar antara pendidikan dengan praktik di dunia arsitektur. Maka dari itu sekolah ini berusaha menyediakan ruang yang menghubungkan keduanya.

Kelas ini berjalan dan diisi berbagai wacana dari berbagai pemateri selama kurang lebih dua minggu. Antusiasme para peserta cukup tinggi, dilihat dari cara mereka merespon materi yang diberikan. Forum-forum diskusi terbangun entah di dalam kelas maupun di luar kelas. Pertentangan di dalam diri para peserta memunculkan gagasan kritis baru seperti yang diharapkan oleh sekolah ini. Maria merasa sangat terkesan dengan apa yang ia lihat di Sekolah (bukan) Arsitektur ini. Namun, ia masih harus menunggu dan melihat apakah sekolah ini bisa benar-benar bertransformasi menjadi tindakan melalui sebuah tulisan kritis maupun tindakan lain yang lebih luas ke depannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.

SOROTAN PUSTAKA | JULI-AGUSTUS 2019

Selama 2 bulan, Juli-Agustus 2019, perpustakaan IVAA melakukan inventarisasi pustaka. Material-material tersebut adalah hibah dari Akademi Samali (269 komik), Singapore Art Museum (6 buku) serta oleh-oleh anjangsana tim IVAA di Pontianak, Filipina dan Myanmar (17 buah). Inventarisasi ini dikerjakan dengan bantuan rekan-rekan magang, yakni Roy, Vicky, dan Ratri. Selain inventarisasi, peminjaman juga tetap berlangsung. Secara khusus Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) meminjam 96 koleksi (katalog, bendel dokumentasi, dan laporan program) sebagai bahan riset mereka. Buku-buku dengan topik etnis Tionghoa dan Lekra juga menjadi koleksi yang dipinjam oleh Kawan IVAA yang lain. Di dalam e-newsletter kali ini, melalui rubrik Sorotan Pustaka, ada 3 buku yang diulas: “Sekolah Salah Didik Uji Coba 1” dari KUNCI Cultural Studies Center; “Cilik-cilik Cina Suk Gedhe Meh Dadi Apa?” karangan Anne Shakka (juga disertakan review acara diskusi buku ini di IVAA); “Basoeki Abdullah, Sang Hanoman Keloyongan” karya Agus Dermawan T.; dan “Play and Display: Dua Moda Pergelaran Reyog Ponorogo di Jawa Timur” karya Lono Simatupang.

Sekolah yang Lain

Judul : Sekolah Salah Didik Uji Coba 1
Editor : Antariksa, Brigitta Isabella, Fiky Daulay, Gatari Surya Kusuma, Khoril Maqin, Nuraini Juliastuti, Rifki Afwakhoir, dan Zita Laras
Penerbit : KUNCI Publication
Tahun Terbit : 2019
Tempat Terbit : Yogyakarta
Halaman : 223
ISBN : 978-602-19692-4-3
Resensi oleh : Muhammad Ziauddin Rosyad Arroyhan

Apa yang terbayangkan di benak kita ketika mendengar kata “sekolah”? Sebagian mungkin akan langsung memikirkan tentang sebuah bangunan atau ruang kelas di mana proses belajar mengajar dilakukan dengan tuntunan seorang guru. Barangkali selama ini guru seolah menjadi titik sentral dari proses transfer informasi dan pengetahuan kepada murid-muridnya. Hubungan mereka menjadi hirarkis. Lantas, apakah kita pernah membayangkan sebuah sekolah di mana hubungan guru-murid itu benar-benar sejajar, teman-teman sekelas yang sama-sama tidak tahu materi apa yang akan dibahas? Sebuah situasi yang mengkondisikan kita untuk belajar sesuatu yang baru. Kira-kira kacau atau tidak?

Itu adalah apa yang coba dilakukan oleh KUNCI Cultural Studies Center melalui program Sekolah Salah Didik (SSD) yang diikuti oleh beberapa partisipan dari latar belakang masyarakat yang berbeda. Hasil dari program tersebut ialah rapor yang diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul SSD Uji Coba 1. Buku ini berisi esai, gambar, puisi, peta, transkrip, dan hasil diskusi dari kegiatan mereka selama 1,5 tahun dari November 2016 sampai April 2018. 

Kejemuan terhadap model sekolah yang telah membentuk murid-murid selama ini menjadi latar belakang program SSD. Apa yang dilakukan KUNCI bagi saya cukup unik, karena mereka berusaha mencari model-model sekolah atau produksi pengetahuan alternatif yang berada di luar model dominan, yang ternyata telah eksis dan bahkan telah dipraktikkan di Indonesia pada masa lalu. 

Salah satu metode yang digunakan adalah metode Jacotot. Sebuah metode yang mengacu pada buku karangan Jacques Ranciere berjudul The Ignorant School Master. Metode ini merupakan satu bentuk produksi pengetahuan di mana hirarki antara guru-murid, antara yang tahu dan yang tidak tahu, berusaha dibongkar. Dalam prosesnya KUNCI hanya berperan  sebagai fasilitator penyedia ruang dan perkakas belajar yang turut berproses secara setara sebagai sesama murid yang ingin belajar mengenai cara belajar. Apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara belajarnya ditentukan secara bersama-sama. Para partisipan semula menjalani proses adaptasi guna memahami satu sama lain. Lalu dalam praktiknya mereka menggunakan beragam medium untuk belajar seperti bahasa isyarat, youtube, film, dll. 

Setelah metode Jacotot, metode kedua yang digunakan adalah ‘turba’ (turun ke bawah), salah satu metode penciptaan seni yang dipratikkan oleh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Banyak seniman pada tahun 50-an bekerja dengan metode ini, pergi ke desa-desa untuk melihat dan memahami kondisi aktual masyarakat pada jaman itu.  turba sendiri memiliki prinsip 1-5-1, yaitu meluas dan meninggi; tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, memadukan tradisi yang baik dan kekinian yang revolusioner, memadukan kreativitas individu dan kearifan massa, serta memadukan realisme sosialis dan romantik revolusioner, melalui cara kerja turun ke bawah. Metode ini juga punya konteks sejarah pada era Soeharto. Kita mengenal Kuliah Kerja Nyata (KKN) di mana mahasiswa diterjunkan ke berbagai daerah pelosok, biasanya desa-desa, untuk melihat realitas dan memahaminya. Dalam konteks SSD, metode ini digunakan untuk menguji kembali relevansi ‘turun ke bawah’ dalam artian turun ke masyarakat. 

Pada praktiknya para partisipan SSD dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil sesuai minat yang ingin dipelajari. Ada yang pergi menjadi petani, tukang ojek online, turun ke lokasi konflik di Kulon Progo, berdinamika di kampung seniman Cilekong, Bandung, serta bersekolah di Ponorogo. Setelah melakukan praktik turba, banyak diskusi dan pelajaran yang muncul. Secara umum topik yang banyak dibahas adalah tentang kerentanan sosial dalam masyarakat. Pengalaman-pengalaman itu kemudian ditulis ulang dan direfleksikan kembali melalui buku ini.

Banyak temuan-temuan yang ditemukan dan lalu dituliskan oleh para murid SSD dengan latar belakang berbeda. Ada yang memulai tulisan dengan ketertarikan mereka terhadap kelas SSD, pengalaman dan hambatan saat proses belajar, hingga perubahan yang terjadi pada masing-masing peserta setelah mengikuti kelas. Berbagai pengalaman tersebut juga dibahas secara personal dengan berbagai perspektif. Beberapa di antaranya adalah pengalaman peserta yang belajar cara menanam padi, bagaimana kondisi guru honorer mendapat cap sebagai pekerjaan kelas bawah, serta soal bagaimana pendidikan formal hari ini yang cenderung menutup pintu eksplorasi dan berjarak dengan realitas kehidupan. 

Banyak pengalaman dari mereka yang dapat kita renungkan dan kita banding-bandingkan dengan pengalaman personal kita masing-masing. Hubungan guru-murid yang begitu cair, kebebasan memilih tempat, waktu, cara belajar dan materi yang ingin dipelajari berdasarkan asas kebersamaan terasa sangat berbeda dengan pendidikan formal pada umumnya. Pendidikan formal cenderung menyeragamkan, mulai dari pakaian, potongan rambut, materi ajar beserta waktu kapan diajarkan, dan peraturan antara guru dan murid. Penyeragaman ini barangkali telah mewariskan ingatan bahwa sekolah itu selalu identik dengan nilai rapor, bangku-bangku, dan papan tulis. Selain itu, kebutuhan industri cenderung lebih diutamakan dari pada masyarakat luas. Lantas, bagaimana jika para lulusan sekolah formal itu dihadapkan dengan realitas bersama masyarakat? 

Buku dengan ilustrasi lucu dari Onyenho ini memuat proses SSD yang berlangsung selama kurang lebih 1,5 tahun. Alih-alih jawaban, sebagai rapor buku ini justru menyuguhkan berbagai pertanyaan yang nampak sepele tapi hampir selalu luput untuk dibicarakan. Apa itu sekolah? Apa itu ruang belajar? Seiring dengan doa dan harapan yang tak sengaja terucap dalam hati seusai membaca buku ini, muncul sebuah refleksi: bukankah pertanyaan adalah awal dari usaha manusia untuk belajar?

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.