Category Archives: Kabar IVAA

Program Magang Perpustakaan IVAA – 2017

IVAA membuka kesempatan magang bagi kawan-kawan mahasiswa dan umum yang ingin mendapatkan pengalaman terlibat dalam kerja-kerja pengarsipan seni rupa.

Program magang IVAA berlangsung minimal selama 1 (satu) bulan. Peserta magang akan mendapatkan fasilitas keanggotaan KawanIVAA dan menjadi bagian tim kerja IVAA selama periode berlangsung.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Persyaratan magang dan pertanyaan-pertanyaan mengenai program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org


* Poster oleh Arya Febrianto


Artikel ini merupakan rubrik Pengumuman Kantor dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

“Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi

Oleh: David Ganap

“Sebagai catatan, acara ini merupakan ‘pemanasan’, media perkenalan seniman-seniman terpilih perwakilan Indonesia,” ujar Dodo Hartoko, Direktur Biennale Jogja XIV. Puncak acaranya sendiri akan dilaksanakan pada 2-10 November 2017 mendatang. Dalam penyelenggaraan kali ini, Indonesia meminang Brasil sebagai partner ke-4 dalam seri Equator. Terdapat 27 seniman dari berbagai kota di Indonesia yang terpilih. Sementara, dari Brasil akan dipilih 10 seniman.

Brasil merupakan negara terjauh bila disejajarkan dengan posisi Indonesia dalam bentang garis khatulistiwa. Bila ditinjau dari segi kesamaan, sumber daya alam menjadi salah satu ciri utama dari kedua negara ini, terutama dalam hal keragaman hayati. Indonesia menempati posisi kedua tepat setelah Brasil di peringkat pertama dalam deretan negara dengan keanekaragaman hayati terkaya dunia dilansir dari news.unpad.ac.id. Selain itu kedua negara ini juga sama-sama memiliki populasi penduduk yang masif, dengan masing-masing estimasi lebih dari dua ratus juta jiwa.

Berangkat dari persoalan jumlah penduduk, Pius Sigit Kuncoro, kurator terpilih BJ XIV Equator #4 menegaskan bahwa populasi yang padat identik dengan rupa-rupa permasalahan. Brasil memiliki reputasi sebagai salah satu negara yang tingkat kriminalitasnya tertinggi di dunia. Akan tetapi Pius Sigit membaca Brasil melalui hubungan timbal balik manusia dengan ekosistem, masyarakat luas dengan lingkungan sekitar. Tentang kehidupan dilematis yang penuh bayang-bayang kecemasan karena hasrat yang tinggi untuk hidup yang tidak berbanding lurus dengan ketersediaan kebutuhan yang dikehendaki. Sedikit demi sedikit luas hutan semakin terpangkas dikarenakan pembangunan pemukiman. Hal sama terjadi juga di tanah Jawa di mana lahan persawahan kini berubah menjadi bangunan-bangunan rumah kaku yang serba monoton.

Dari persoalan di atas, penting bagi kita untuk sejenak merenungkan dampak dari kepadatan yang kian hari kian berkembang. Seperti di masa depan nanti, lingkungan masyarakat seperti apa yang akan tercipta dari kesesakan ruang yang ada? Apakah persoalan ini memiliki dampak psikologis bagi generasi anak-anak kita dikemudian hari? Lingkungan macam apa yang akan mereka tempati? Apakah kemudian minimnya lapangan pekerjaan di masa yang akan datang akan tetap menjadi isu populer?

Kembali ke persoalan teknis acara, bila dibandingkan dengan Venice Biennale ke-57 yang mengundang 120 seniman undangan dari lima puluh satu negara, Pius menjelaskan bahwa alasan kerjasama dengan Brasil sendiri adalah untuk menghadirkan sensasi keintiman yang eksklusif. Mengingat posisi Biennale Jogja yang merupakan pesta seni dua tahunan terpenting di Yogyakarta, maka seyogianya dibutuhkan lebih dari sekedar konsep yang matang sebagai landasan kolaborasi gagasan dengan negara anggota konstelasi geografis Amerika tersebut. Meskipun demikian, ketika ditanyai tentang tema, ternyata hingga saat ini belum ada isu spesifik yang dielaborasi menjadi objek pembahasan. Sepertinya keragaman hayati, populasi penduduk yang terus melesat hanya berfungsi sebagai pemantik untuk bisa masuk ke dalam dialog yang lebih privat dengan calon mempelai.

Metode yang digunakan kurator untuk penentuan tema bersifat lebih responsif dengan realita sehari-hari, mirip merangkai mozaik yakni mencari kepingan yang cocok untuk disematkan bersama. Dalam beberapa forum seni internasional belakangan ini, tema yang diperbincangkan sifatnya memang lebih universal. Salah satu alasannya adalah proses kerja kreatif seniman yang berkolaborasi dengan riset ilmiah para ilmuwan. Seniman di era kontemporer memiliki kecenderungan memulai pekerjaan kreatifnya dengan mencari permasalahan secara mandiri, kemudian membedahnya untuk melihat berbagai kemungkinan pemecahan masalah.

Sebagai contoh, dalam segi teknis ada perilaku eksperimental yang menjadi karakter seniman untuk menggali potensi media yang digunakan. Arin Dwihartanto, salah satu seniman peserta BJ XIV asal Indonesia bermain-main dengan resin untuk melukis di atas kanvas. Tidak berhenti sampai di situ, seniman lulusan FSRD ITB ini bereksperimentasi dengan serbuk vulkanik yang difungsikan sebagai pewarna bagi resin yang ia gunakan. Lantas yang paling menarik adalah hasil akhir dari karya Arin yang relatif tak terduga karena sifat resin sendiri yang berubah dari zat cair menjadi benda padat.

Berikut daftar nama seniman muda Indonesia yang terpilih menjadi peserta BJ XIV Equator #4, 2017: Adi Dharma a.k.a Stereoflow, Aditya Novali, Arin Dwihartanto Sunaryo, Cinanti Astria Johansjah, Faisal Habibi, Farid Stevy Asta, Gatot Pujiarto, Indieguerillas, Julian “Togar” Abraham, Kinez Riza, Lugas Syllabus, Made Wiguna Valasara, Maria Indriasari, Mulyana, Narpati Awangga a.k.a Oomleo, Ngakan Made Ardana, Nurrachmat Widyasena, Patriot Mukmin, Roby Dwi Antono, Sangkakala, Syaiful Garibaldi, Tattoo Merdeka, Timoteus Anggawan Kusno, Wisnu Auri, Yudha Kusuma Putera a.k.a Fehung, Yunizar, dan Zico Albaiquni.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#Sorotan Pustaka | Maret – April 2017

Oleh: Melisa Angela

Salam jumpa lagi di Rubrik Sorotan Pustaka. Rubrik ini dibuat untuk memberikan pemutakhiran kabar mengenai Perpustakaan IVAA. Bila Anda berkunjung ke RumahIVAA maka begitu memasuki pintu depan, maka Anda akan langsung menjumpai Perpustakaan IVAA di selasar kiri ruang publik IVAA. Di sana Anda bisa membaca-baca buku, katalog pameran seni rupa, majalah, jurnal, berbagai tulisan akademis tentang seni rupa Indonesia, dan koleksi komik indie kami. Namun untuk meminjam, Anda perlu mendaftar menjadi KawanIVAA yang keanggotaannya berlaku seterusnya tanpa kadaluarsa. Dalam seminggu, Anda diperkenankan meminjam dua buah buku. Apabila belum selesai membacanya, Anda bisa memperpanjang masa peminjaman untuk satu minggu berikutnya dengan cara memberitahu terlebih dahulu pustakawan IVAA, Santosa, melalui alamat email ivaa-service@ivaa-online.org atau menelepon RumahIVAA di nomor 0274 375262.

Jumlah koleksi Perpustakaan IVAA yang sudah tercatat ada sejumlah 12.052. Untuk menelusurinya Anda dapat membuka Katalog Perpustakan IVAA di tautan library.ivaa-online.org. Berita baik yang bisa kami kabarkan adalah pada dua bulan terakhir kami mendapatkan banyak sumbangan koleksi baru dari anggota perpustakaan dan rekan-rekan lain, yakni sekitar 350 koleksi baru.

Beberapa koleksi perpustakaan yang menarik perhatian kami telah diulas di dalam rubrik Sorotan Pustaka edisi kali ini. Yang pertama adalah buku/katalog seni fotografi dengan desain sampul yang memukau berjudul “Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese”. Brian Arnold, seniman fotografi asal Amerika Serikat – yang rupa-rupanya sangat mencintai kebudayaan Indonesia – menyusun buku ini. Dalam risetnya selama tiga tahun, beberapa kali Brian mencari data di IVAA; maka setelah menyelesaikan proyeknya ini, ia segera mengirimkan satu bukunya untuk bisa diakses publik di Perpustakan IVAA. Buku kedua yang kami ulas adalah buku program dari sebuah kolektif seniman muda di Yogyakarta, Ace House Collective. Kolektif yang juga mengelola sebuah ruang seni di Jalan Mangkuyudan ini nampaknya tak ingin program-programnya yang telah banyak bergulir terlupakan begitu saja seiring waktu. Di buku ini kita bisa menyimak narasi dan dokumentasi foto dari masing-masing proyek seni yang sekaligus menjadi karya bagi kolektif tersebut. Buku terakhir yang kami ulas adalah buku yang mencerahkan bagi pekerja yayasan seni nirlaba semacam kami. Buku ini berjudul “Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja,” diterbitkan oleh Arkom Jogja bersama INSISTPress. Betapa tidak, buku ini mengemukakan beberapa tegangan dan kegelisahan yang dihadapi para pekerja NGO, dengan berbagai tanggung jawab beserta dosa sosial yang tidak jarang berjalan-beriringan.

Di bawah ini adalah tautan menuju masing-masing ulasan buku, selamat membaca.


1.Identity Crisis:  Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese
Oleh: David Ganap

2.Ace House Collective Workbook
Oleh: Wibi Palgunadi

3.Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja
Oleh: Lisistrata Lusandiana


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Ace House Collective Workbook

Oleh: Wibi Palgunadi

Penerbit: Ace House Collective
Tahun: 2016
Bahasa: Inggris

Buku setebal 70 halaman ini merupakan buku program sebuah kolektif seniman seni rupa muda bernama Ace House Collective. Kolektif yang berdiri di Yogyakarta sejak 2011 ini banyak bergerak di wilayah konteks budaya pop dan budaya anak muda. Nama-nama seperti Rudy ‘Atjeh’, Uji Handoko Eko Saputro a.k.a Hahan, serta Gintani Nur Apresia Swastika adalah beberapa anggota dari Ace House Collective. Kebanyakan dari mereka merupakan satu angkatan di kampus ISI Yogyakarta serta teman nongkrong. Kemudian di 2014, mereka mengelola sebuah ruang fisik bernama “Ace House”, bertempat di Jalan Mangkuyudan nomor 41, Yogyakarta. Dalam mengelola ruang ini mereka menekankan pada pendekatan eksperimental dan eksploratif. Selain itu mereka juga menggali berbagai celah kemungkinan dalam seni rupa melalui berbagai program dan aktivitas, seperti presentasi diskusi, pameran, residensi hingga proyek seni lintas disiplin. Dan buku program ini semacam katalog dari kegiatan apa saja yang telah mereka lakukan. Namun sangat disayangkan saya kesulitan menelusuri buku ini maupun mencari tahu ada berapa banyak kegiatan yang terangkum di dalam buku program ini, karena di buku ini tidak dijumpai daftar isi.  Kata pengantar dan daftar nama penyusun buku ini pun juga tidak saya temukan. Bahkan saya merasa kesulitan mencari tahun kapan tepatnya buku ini dicetak.

Meski demikian di buku program ini kita dapat membaca dan melihat-lihat foto dokumentasi dari proyek ataupun program yang tercetus dari buah pikiran dari Ace House Collective, seperti misalnya “Tak Ada Rotan, Akar Punjabi” (bagian dari Jogja Biennale 2011), “Museum Realis Tekno” (ditampilkan dalam Jakarta Biennale 2013), “Three Musketeers Project” (2014), “Komisi Nasional Pemurnian Seni” (ditampilkan dalam Jogja Biennale 2016), dll. Beberapa dari proyek-proyek seni tersebut sudah pernah dibawa hingga kancah internasional yaitu ke Taiwan dan Korea Selatan.
Salah satu kegiatan menarik yang berhasil diselenggarakan oleh Ace House Collective adalah “Acemart,” yakni bagaimana mereka mampu menghadirkan konsep ruang pamer dengan kemasan minimarket. Karya seni dipajang sedemikian rupa menyerupai barang dagangan yang sering kita jumpai di minimarket waralaba yang menjangkiti banyak kota di Indonesia. Pastinya merupakan pengalaman tersendiri melihat karya seni dipamerkan berdampingan dengan jajanan bocah, gula pasir, kopi instan, deterjen, sikat gigi, dll. “Acemart” agaknya berusaha menjungkirbalikkan pandangan terhadap galeri seni rupa yang umumnya bernuansa ekslusif dan mewah.


*Wibi Palgunadi (l. 1995) tercatat sebagai mahasiswa semester dua Program Studi S1 Manajemen Tatakelola Seni di kampus ISI Yogyakarta. Saat ini Wibi sedang mengikuti program magang di bagian kajian arsip IVAA, terhitung sejak awal Maret 2017.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

#SorotanDokumentasi Maret-April 2017

Oleh: Dwi Rahmanto

Sampai dengan pertengahan April 2017 Tim Dokumentasi tercatat telah merekam 36 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan sekitarnya. Tim Dokumentasi yang merupakan bagian dari Bidang Arsip IVAA dalam dua bulan ini dibantu beberapa pemagang dari Modern School of Design Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Gadjah Mada. Para pemagang ini melakukan kerja-kerja mulai dari peliputan, olah data, alih format, dan penyuntingan hingga dokumen tersebut siap diakses publik.

Dalam dua bulan ini kami juga menerima 2 tawaran kerja sama dalam hal media partner dan pendokumentasian acara yang dihelat oleh para mahasiswa seni rupa, antara lain pameran kolaborasi mahasiswa ISI-ITB bertajuk “Bloom in Diversity” di Sangkring Art Space, Yogyakarta. Kemudian ada pula acara tahunan Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, yakni “International Visual Art Exhibition Arteducare #8,” yang diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Tengah di Kota Solo. Pesta seni tahunan dari-oleh-untuk mahasiswa ini sangat akbar dan patut diacungi jempol, lantaran pesta seni ini mampu menghadirkan kontingen mahasiswa pendidikan seni rupa dari Universitas Negeri di seluruh Indonesia.

Kami juga menjalin kerja sama dalam pendokumentasian “Pameran Pra-Biennale” pada 20-25 Maret lalu di PKKH UGM. Pameran Pra-Biennale ini digelar khusus untuk mengawali perhelatan “Biennale Jogja XIV Equator #4” yang sedianya akan dihelat November mendatang. Mengiringi pameran ini terdapat pula acara-acara lain yakni konferensi pers, focus group dicussion antara kurator dengan seniman partisipan, dan juga acara sosialisasi dari Yayasan Biennale Yogyakarta.

Acara menarik dalam dua bulan ini antara lain pameran seniman kawakan Aming Prayitno yang digagas oleh Sarang Building III, kemudian juga beberapa pameran besar tahunan oleh Sanggar Dewata Indonesia di Jogja Gallery, serta Pameran Sanggar Sakato yang juga mengambil tempat di Jogja Gallery.

Dalam rubrik Sorotan Dokumentasi kali ini kami menghadirkan liputan dari sepilihan peristiwa seni rupa yang terjadi dalam dua bulan terakhir. Simak uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya di bawah ini.


a. Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!
Oleh: Grace Ayu Permono Putri

b. Muara Market, Kanal Baru Pemasaran Produk Seni di Solo
Oleh: Pitra Hutomo

c. “Pameran Pra Biennale” Biennale Jogja XIV Equator #4: Mengintip Hubungan Intim Dua Negara Padat Populasi
Oleh: David Ganap

d. Menjaring Kesan, Merakit Tema: Metode Kuratorial Biennale Jogja XIV Equator #4
Oleh: Annisa Rachmatika Sari

e. Dramaturgi Ruang Pamer Biennale Jogja XIV Equator #4
Oleh: Annisa Rachmatika Sari

f. Bloom in Diversity: Orkestrasi Rintisan Identitas Baru
Oleh: David Ganap


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Bloom in Diversity: Orkestrasi Rintisan Identitas Baru

Oleh: David Ganap

Malam itu, Sabtu, 25 Maret 2017 ketika ditemui di Bale Banjar Sangkring di sela-sela acara pembukaan pameran bertajuk “Bloom in Diversity”, Rain Rosidi selaku kurator memberi pendapat bahwa perbedaan ideologi perupa Bandung dan Yogyakarta sudah tidak lagi signifikan; justru pameran ini ingin melampaui pembahasan mengenai relasi dua kampus seni. Kedua kampus yang dimaksudkan Rain adalah Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta (FSR ISI Yogyakarta) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), ia mengatakan hal ini tak lain lantaran pameran tersebut merupakan hasil kerja sama mahasiswa kedua kampus seni rupa tertua di Indonesia itu.

Tercatat ada 30 mahasiswa FSR ISI Yogyakarta yang tampil sebagai tuan rumah, sementara itu, Bandung diwakili oleh 25 mahasiswa FSRD ITB. Adapun Pameran “Bloom in Diversity” ini merupakan kerja sama lanjutan. Kerja sama yang pertama diadakan 2014 lalu di Gedung YPK (Yayasan Pusat Kebudayaan) dengan mahasiswa FSRD ITB sebagai tuan rumahnya. Pameran di kota Bandung itu ditajuki “Equal Liberum” dengan mengusung pembicaraan tentang kebebasan yang sama rata atau sepadan. Pihak penyelenggara mengatakan bahwa keinginan untuk menjalin pertemanan di antara mahasiswa kedua kampus itulah yang membuat kerja sama ini dilanjutkan. Tujuan lainnya adalah memberikan ruang apresiasi terhadap sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap perkembangan seni rupa kini.

Kerja sama mahasiswa ISI-ITB sebetulnya bukan hal baru lagi. Di dekade 70-80-an ada sekelompok mahasiswa ISI-ITB yang menamai diri Seni Rupa Baru Indonesia yang menimbulkan polemik besar berkat eksplorasi medium berkaryanya yang masih tak banyak dikenal di waktu itu; namun justru di kemudian hari gerakan kelompok ini acap kali ditengarai memberi pengaruh besar kepada perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.

Kembali ke “Bloom in Diversity”, salah satu karya yang menarik perhatian saya adalah “Unboxing Box #1” dari Mohammad Zakiy Zulkarnaen. Karya berdimensi 15 x 20 x 35 cm ini berlatar gagasan tentang treatment dan pergeseran makna fungsionalitas kayu di masa sekarang. Dari segi ekologi, kayu memiliki fungsi yang fundamental bagi keberlangsungan hidup manusia. Tetapi pasca-manufakturing, sifat kayu yang semula hidup, natural, organik menjadi kerdil dan ‘terbunuh’. Zakiy menganalogikan karyanya dengan pola perilaku sosial yang sempat terkotak-kotakan oleh ideologi dangkal. Harapannya, melalui berbagai perubahan yang dinamis, sifat-sifat limitatif tersebut sekarang bisa lebih terbuka.

Bagaimanapun, secara kasatmata wujud identitas yang mereka suguhkan di pameran “Bloom in Diversity” mencerminkan realitas permasalahan hari ini – yang tidak lagi mempersoalkan corak lokal maupun global. Kesetaraan dalam berkarya menjadi daya hubung yang memicu lahirnya berbagai kemungkinan baru. Alhasil, semerbak aroma karya yang mekar dalam ruang pamer benar-benar adiwarna, tumbuh subur dalam keberagaman.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


*David Ganap (l.1996), mahasiswa Program Studi Tata Kelola Seni, ISI Yogyakarta kelahiran Manado ini tertarik dengan dunia penulisan terutama tentang seni. Selama magangnya di IVAA David lebih banyak dipasrahi pekerjaan mengulas hasil kerja dokumentasi dan koleksi perpustakaan.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Menjaring Kesan, Merakit Tema: Metode Kuratorial Biennale Jogja XIV Equator #4

Oleh: Annisa Rachmatika Sari

Memasuki tahun 2017, Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) mulai mempersiapkan perayaan seni rupa internasional, yakni Biennale Jogja XIV Equator #4. Serangkaian acara dihelat, mulai dari konferensi pers, pameran pra-Biennale hingga sosialisasi sekaligus peluncuran Newsletter “The Equator” Volume 5, No. 1, 2017. Uniknya, pada rangkaian tersebut tidak tersiar tema Biennale Jogja XIV Equator #4 dari Pius Sigit Kuncoro (kurator). Berulang kali Pius Sigit mewacanakan gagasan Biennale – “Kecemasan dan Harapan” melalui uraian hasil riset lapangan di Brasil, pemilihan seniman hingga studi pustaka atas kondisi sosial di Indonesia khususnya Yogyakarta, tanpa meleburnya dalam satu premis.

Pada tahun ini, Biennale Jogja bekerja sama dengan Brasil. Pemilihan tersebut meneruskan wacana tema Equator yang menetapkan tahun 2017 sebagai momen untuk berkolaborasi dengan salah satu negara di Amerika Selatan. Wahyudin dan beberapa pengamat seni lain menakar bahwa Biennale Jogja XIV Equator #4 mampu merekatkan kembali hubungan antara Brasil dan Indonesia yang pernah terputus.

Di sisi yang lain, Pius Sigit menyoroti hubungan Indonesia dan Brasil tidak hanya berada di ranah yang terlihat – Biennale Sao Paulo 1951, melainkan juga pada iklim yang mencetak metode pertahanan hidup secara alamiah. Terlebih karena persoalan iklim ini, diperkeruh dengan masalah sejarah bangsa yang membentuk identitas dari pertahanan hidup tiap negara. Masing-masing negara memiliki bayangan kecemasan yang dicoba untuk diselesaikan yang teraplikasi pada bentuk tata kota, perayaan, dan hingga cara memilih benda pertahanan diri.

Perjalanan Pius dari Brasil hingga kunjungan pribadi ke beberapa seniman terpilih, menghasilkan satu konsep dramaturgi pada ruang pamer. Hal ini kemudian dibicarakan kembali dengan para seniman. Ia berupaya mengakomodasi kesan-kesan dari para seniman terpilih dan meramunya menjadi satu tema yang terpublikasi. Pius menggunakan metode aspiratif dalam membangun tema Biennale Jogja XIV Equator #4. Menarik seniman menjadi subyek perakit tema. Akan tetapi sejauh mana metode kerja ‘dari bawah’ atau akomodatif ini mampu mengakomodasi keseluruhan proses kreatif dan kolaboratif antara seniman dan kurator, antara seniman Indonesia dan seniman Brasil, serta yang tidak kalah penting, bagaimana metode kerja ini mampu memastikan kelahiran karya efektif sebagai medium komunikasi antara seniman dan masyarakat?

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja

Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sebuah Renungan di tengah Pertempuran Politik Harian

Judul Buku: Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja
Penulis: Marsen Sinaga
Pengantar: Yuli Kusworo, Saleh Abdullah
Penyunting: Prima S. Wardhani
Ilustrator Sampul: Lintang Rembulan
Edisi: I, Januari 2017
Penerbit: INSISTPress & ArkomJogja

“Kekuatan-kekuatan kapitalisme itu berjuang mendefinisikan semua aspek kehidupan harian setiap orang seturut bayangan idealnya sendiri. Dia diam-diam mendefinisikan apa yang kita sukai, benci, nikmati, kagumi; dia menuntun kita dengan bujuk rayu iklan tentang apa yang hebat, apa yang keren, dan bagaimana semestinya kita menghabiskan uang dan memakai waktu luang kita. Musuh kita, kapitalisme neoliberal itu, bukan melulu ide atau konsep, melainkan juga mesin pembentuk kebiasaan (habit) dan budaya (culture) yang sistematis dan canggih. Pengaruhnya merasuk jauh dan dalam pada relung-relung sanubari setiap orang.” …  (hal. 105)

Penggalan dari sebuah paragraf di atas sengaja saya kutip untuk pembuka, karena spirit tersebut beberapa kali saya temukan di buku setebal 162 halaman ini. Bukan semata asumsi, pemaknaan di atas merangkum cara baca kita dalam melihat siapa dan bagaimana musuh kita bekerja.

Dibuka dengan dua pengantar yang tidak kalah reflektifnya oleh Yuli Kusworo dan Saleh Abdullah, buku ini terdiri dari himpunan beberapa artikel yang berupaya merefleksikan tiap elemen kerja yang hadir dalam proses kerja pengorganisasian yang mengagendakan perubahan sosial. Setiap elemen yang saling menghidupi dalam kerja pengorganisasian dibongkar, dipertanyakan ulang dan diceritakan, sebagai pembelajaran. Kata kunci dari semua ulasan dan kisah dalam buku ini minimal selalu berupa dua hal; yakni refleksi dan pembelajaran bersama.

Bagi pekerja yang kesehariannya beririsan dengan pengorganisasian ataupun terlibat dalam pengelolaan komunitas yang utamanya bergerak bukan untuk profit, membaca buku ini seperti berbincang dengan diri. Sekali dalam dua atau tiga paragraf, kita akan dibawa meloncat keluar dari teks, karena kita akan kontekstualisasikan dengan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Mengapa demikian? Karena buku ini mendaftar beberapa tegangan dan kegelisahan yang dihadapi para pekerja NGO, dengan berbagai tanggung jawab beserta dosa sosial yang tidak jarang berjalan-beriringan.

Terdapat beberapa poin yang dijadikan kategori pembahasan, di antaranya ialah; dinamika masyarakat dalam politik ruang (pembangunan) dan dinamika masyarakat atau komunitas terdampak pembangunan dengan kelas menengah. Landasannya jelas, bahwa rumah, lahan atau tempat di mana kita hidup, bukan semata tempat atau ruang fisik, namun juga kehormatan. Di sisi itulah dimulai pembicaraan soal ruang, tidak berhenti pada yang fisik, namun yang mental dan kultural. Pada poin ini, politik identitas menjadi bagian tak terpisah dari definisi ruang sebagai arena kontestasi. Tepat di bagian ini juga, persoalan pengorganisasian juga tidak cukup dibicarakan dengan kajian konteks, namun juga pembicaraan soal posisi subyek dan bahasa.

Dari tiap pengalaman refleksi yang ditorehkan di tiap lembarnya, nampak suatu usaha untuk menguak kontradiksi dari rezim yang menguasai keseharian dari pekerja NGO. Dari rezim makro kapitalisme neoliberal beserta turunannya; yang mewujud melalui rezim manajerialisme, politik pendanaan hingga pola konsumsi. Akhir kata, membaca buku ini, seperti diajak untuk selalu menakar tiap sikap, entah berupa optimisme ataupun pesimisme pada sebuah perubahan; agar terhindar dari pembusukan yang dirayakan!


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.

Dramaturgi Ruang Pamer Biennale Jogja XIV Equator #4

Oleh: Annisa Rachmatika Sari

Selasa, 22 Maret 2017, Yayasan Biennale Yogyakarta menggelar Focus Grup Discussion di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada (PKKH UGM) dalam rangka menentukan tema Biennale Jogja XIV Equator #4. Acara ini dihadiri 27 seniman pilihan kurator biennale, Pius Sigit Kuncoro bersama tim kerjanya. Beberapa tawaran ide, mulai dari dasar seleksi hingga konsep pameran yang mengandung misi membangun harapan dalam situasi ketidakpastian disampaikan di forum itu.

Seleksi seniman didasarkan pada dua perbedaan karakter negara – Indonesia dan Brazil – dalam berekspresi, yang disebabkan latar belakang sejarah kehidupan masyarakat.

Pius Sigit menawarkan konsep pameran yang menduplikasi fase psikologi manusia ketika berhadapan dengan realitas. Hal ini direalisasikan melalui pembagian ruang – gedung Jogja Nasional Museum (JNM) – ke dalam tujuh wilayah.

Wilayah pertama berada di lantai pertama sayap kiri gedung JNM. Wilayah ini dimaknai sebagai ruang penampakan realitas semu manusia. Ruang ini ditujukan untuk seniman yang memiliki karya berkarakter glamour, menyenangkan, dan menggoda.

Wilayah kedua dimaknai sebagai ruang yang menunjukkan sisi terdalam dari bersenang-senang, yakni sebuah kenyataan hidup. Ruangan menampung karya-karya yang menyuguhkan sudut pandang seniman dalam tema keras, radikal, dan mengandung nilai-nilai penolakan. Wilayah kedua berada di lantai kedua sayap kiri gedung JNM.

Puncak dari keseluruhan rangkaian ruang pamer berada di wilayah ketiga, keempat, dan kelima. Ketiganya direncanakan untuk menghadirkan perasaan putus asa, pasrah, dan penghiburan dalam kesenyapan.

Wilayah ketiga mengusung karya-karya yang bertema keputusasaan atas kenyataan hidup yang keras, radikal, dan tertolak. Wilayah keempat, meneruskan perasaan putus asa menjadi pasrah. Kemudian di wilayah kelima, perasaan putus asa dan pasrah diredakan melalui karya-karya bertema menghibur. Ketiga tema tersebut di tampilkan pada lantai tiga gedung JNM.

Setelah selesai dengan persoalan batin, pengunjung pameran diarahkan untuk masuk ke dalam wilayah keeenam. Wilayah keenam, direncanakan menjadi ruang yang membangun kesadaran baru pada diri pengunjung melalui karya-karya yang memiliki kesan menggairahkan.

Pengalaman bergairah kemudian diteruskan menuju suasana haru, melalui karya-karya di wilayah tujuh.

Menurut Pius Sigit, konsep pembagian ruang bertujuan untuk membangun pengalaman menonton sebagai pemurni diri. Pemurnian adalah pengalaman penonton ketika memasuki ruang pamer dan melupakan persoalan pribadi. Pius menyebutnya sebagai ‘drama pelarian dari realitas’. Paparan di atas memancing pertanyaan dari salah satu perupa yang mempertanyakan cara dalam merealisasikan konsep yang ditawarkan. Adapun sampai dengan berakhirnya FGD di hari tersebut, nampaknya forum belum berhasil mendapatkan tema Biennale Jogja XIV Equator #4 itu sendiri.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


Annisa Rachmatika Sari (l.1990) mahasiswa semester IV Program Studi Pengkajian Film di Pasca-sarjana ISI Surakarta. Nisa magang di bagian program publik IVAA sejak akhir Maret lalu.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2017.

Seni, Bali, dan Identitas Etnis

Oleh: Hertiti Titis dan Sukma Smita

Secara harfiah, Arus Bawah berarti aliran air yang mengalir di bawah permukaan. Sedangkan sebagai idiom, ia merujuk pada perasaan atau tendensi tersembunyi yang sering kali berbeda dengan apa yang mudah dilihat dan dipahami.

Kalimat di atas merupakan kutipan tulisan pembuka Sita Magfira dalam katalog Pameran “Arus Bawah” yang diselenggarakan di Jogja Contemporary, 7-24 Februari lalu. Pameran ini diikuti oleh enam orang seniman asal Bali yang masih menyandang status sebagai mahasiswa Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta, yaitu I Made Agus Darmika (Solar), I Putu Adi Suanjaya (Kencut), Kadek Marta Dwipayana (Temles), Ngakan Putu Agus Arta Wijaya (Dewo), Pande Giri Ananda (Rahwono), serta Putu Sastra Wibawa (Sas). Judul “Arus Bawah” dipilih demi merangkum proses bekerja para seniman, serta untuk melihat ulang karya keenam seniman tersebut, mempertanyakan corak kebalian menurut pandangan mereka sekaligus mencari tahu ada tidaknya corak kebalian itu sendiri di dalam karya-karya mereka.

Sebagai bagian dari rangkaian pameran, Jogja Contemporary bersama IVAA menggagas serial diskusi bertajuk “Seni, Bali, dan Identitas Etnis” yang berlangsung selama dua hari pada 16-17 Februari 2017, di Rumah IVAA. Seri diskusi tersebut dimoderatori oleh Sita Magfira yang ikut terlibat dan mengamati proses berkaya keenam seniman, kemudian menuliskan pengalaman dan temuan-temuannya di dalam katalog Pameran “Arus Bawah”.

Wicara Seniman
Pada acara hari pertama yang berbentuk wicara seniman ini dihadirkan enam seniman peserta Pameran “Arus Bawah” untuk bercerita mengenai karya mereka, baik latar belakang maupun proses kreatif yang mereka lalui. Perbincangan yang dimulai pukul 15.30 dan dimoderatori Sita Magfira ini diawali cerita Dewo dan Solar tentang kesenian di Bali. Menurut Dewo, memandang kesenian di tempat asalnya itu tak lepas dari konsep dasar Hindu Bali; Satya (kebenaran), Siwam (kesucian), dan Sundaram (keindahan). Ketiganya merupakan unsur yang selalu ada dalam kegiatan ritual keagamaan maupun kehidupan masyarakat Bali sehari-hari, tak lepas pula di dalam kesenian.

Hampir mirip dengan yang dikatakan Dewo, Solar yang dalam pameran tersebut menampilkan karya instalasi berupa berbagai macam kue sesaji dalam ritual keagamaan menyatakan bahwa kesenian sudah sebegitu mengakarnya dalam kehidupan masyarakat Bali, namun ini tidak mereka rasakan, karena sejak mereka kecil kehidupan yang mereka jalani sudah seperti itu. Justru sejak berjarak dengan tempat asalnya itu, Solar bisa melihat bahwa segala aspek dalam kehidupan di Bali tak lepas dengan kesenian.

Kencut berusaha bercerita tentang isu sosial yang ada di sekitarnya melalui karyanya yang berbentuk boneka. Dalam pandangan Kencut orang-orang selalu ingin menjadi yang paling terlihat. Seniman keempat yaitu Rahwono, lahir di keluarga pandai besi di Bali. Karena terbiasa melihat bagaimana proses pembuatan keris, Rahwono membayangkan dirinya adalah Empu Gandring yang terlahir kembali, kemudian ia melukiskan senjata-senjata modern baru khayalannya. Karyanya yang berupa ukir-ukiran memakai teknik plototan juga dipengaruhi oleh pengalamannya bekerja sebagai pengukir di pura. Seniman selanjutnya Temles adalah yang paling gemar berpetualang dengan berbagai jenis medium. Ia bercerita tentang perjalanannya mengeksplorasi berbagai teknik dan medium mulai dari plototan cat dan kemudian plototan lem kayu. Ia selalu menghadirkan bentuk atau figur manusia dalam setiap karyanya. Pada tahun 2012, Temles mencoba bereksperimen dengan media lidi, tampah, robekan kardus bekas, hingga mencoba menganyam kanvas.

Sas merupakan seniman terakhir yang mendapat kesempatan bicara. Masa kecilnya di area Sukawati yang bertebaran dengan tempat produksi maupun pasar seni sempat membuat Sas merasa jenuh dengan kesenian, ditambah lagi ia pun terlahir di keluarga perupa. Kejenuhan tersebut membuatnya berusaha keluar dari seni. Tapi malangnya saat mencoba kuliah di jurusan ekonomi otaknya tak sanggup mempelajari ilmu tersebut, dan semenjak itu pula ia menyadari bahwa ia tak bisa lepas dari kesenian. Maka ia pindah ke Yogya untuk melanjutkan kuliah di bidang seni. Sas tertarik untuk mengeksplorasi berbagai bahan maupun teknik, kini ia gemar menghadirkan plat aluminium dalam bidang kanvasnya. Objek dalam lukisannya pun terus berubah, mulai dari figur perempuan hingga titik, garis, maupun bidang.

Serangkaian proses eksperimen dan eksplorasi yang dilakukan keenam seniman dalam kekaryaan mereka mengundang pertanyaan dari salah satu hadirin, yakni tentang hasil apa yang sudah dicapai dari berbagai eksplorasi yang dilakukan, hal tersebut berkaitan dengan banyaknya seniman ternama asal Bali yang memiliki ciri khas kuat dalam karyanya. Pertanyaan tersebut ditanggapi keenam seniman dengan cukup menarik. Yang pertama bahwa sebagai seniman muda mereka masih ingin sebebas mungkin menjajaki berbagai kemungkinan teknik maupun medium. Kedua, proses pencarian ciri khas ini justru mereka anggap sebagai suatu hambatan, karena tidak semua ide bisa divisualisasikan di dalam kekhasan yang ingin dibangun. Bahkan salah seorang seniman, Temles, mempertanyakan makna dari ‘ciri khas’, apakah karakter seniman ditentukan oleh seniman itu sendiri atau muncul seiring proses kesenimanannya.

Seni Bali dan Identitas Etnis
Pada perbincangan hari kedua yang juga dimoderatori oleh Sita Magfira, dihadirkan dua  orang pemantik diskusi, yakni Tiatira Saputri yang menyajikan hasil pendalamannya tentang seni rupa dan Bali. Pemantik kedua adalah A. Anzieb yang menyampaikan pandangannya tentang identitas etnis. Tia yang merupakan salah satu staf IVAA bagian Kajian Arsip mengutip pernyataan Arya Sucitra bahwa, “Orang Bali itu sejauh-jauhnya dia pergi dari Bali pasti akan kembali lagi ke Bali, karena mereka terikat dengan banjar”. Fakta mengenai banjar ini rupanya memancing keingintahuan Tia mengenai banjar itu sendiri. Banjar merupakan kesatuan masyarakat yang sifatnya komunal, di mana kelompok lebih dominan dari individu. Iklim berkesenian di Bali juga sangat dipengaruhi oleh budaya komunalnya, mereka lebih melihat teknik dan keterampilan daripada autentisitas karya masing-masing. Ini terlihat dari karya-karya yang bersifat homogen. Poin kedua yang disampaikan adalah tentang laku mereka yang selalu terikat dengan kepercayaan. Walau di dalam kesenian mereka dibebaskan untuk berekspresi, tapi sering kali tetap dijumpai beberapa elemen yang menyiratkan pengetahuan yang mereka yakini. Para perupa Bali yang tinggal di Yogya, karena berjarak dengan kelompoknya mencoba mendalami autentisitas karya masing-masing. Sebagai upaya paling dasar, mereka merombak apa yang selama ini sudah disepakati di dalam kelompoknya. Di sisi lain Tia juga melihat pembentukan Sanggar Dewata Indonesia (SDI) salah satunya adalah sebagai wujud rasa kehilangan yang dialami para perupa Bali yang berkuliah di Yogya saat terlepas dari banjarnya, dengan kata lain sanggar didirikan sebagai representasi dari banjar. Akibatnya mereka pun cenderung kembali lagi pada iklim berkarya yang homogen. Fakta menarik adalah bahwa di tahun 90-an SDI membuka keanggotaannya untuk perupa selain Bali seperti Heri Dono, Eddie Hara, Ivan Sagito dll. Dengan hal tersebut, kita tak lagi bisa mengatakan landasan pendirian SDI hanya kesamaan tempat asal saja. Keterbukaan ini juga menandakan bahwa SDI ingin terlepas dari homogenitas yang menjadi stereotip yang acap kali ditujukan pada perupa Bali.

Pemantik diskusi kedua A. Anzieb, merupakan kurator pameran SDI tahun ini. Anzieb memberikan pemaparan tentang identitas dan etnis dalam seni rupa. Menurutnya SDI merupakan komunitas seni rupa pertama yang dibentuk di Yogyakarta atas dasar kesamaan etnis. Mereka secara bersama-sama ‘mengeksklusifkan diri’ di dalam bidang sosial kesenian. Asumsi Anzieb mengenai digunakannya kesamaan etnis sebagai identitas komunitas adalah karena ada kecanggungan atau ketidakpercayadirian dalam berkarya secara individu. Pengertian identitas dalam seni rupa itu sendiri menjadi sangat luas, pemahaman identitas bisa mengarah pada persoalan asal-usul budaya, ada tidaknya kebudayaan, dan lain sebagainya. Lagi pula untuk mendefinisikannya persoalan identitas dibutuhkan ruang dan waktu tersendiri. Anzieb berpendapat bahwa identitas terbentuk atas dua konstruksi kata, yaitu kodefikasi dan komersialisasi. Kodefikasi berguna untuk memahami kode-kode visual yang lebih dekat dengan seniman-seniman — terutama seniman muda — di mana hal tersebut tentu merupakan modal usaha yang menjadi keniscayaan. Sementara komersialisasi sangat dekat dengan bisnis, terkait sifatnya yang berantai dari tangan ke tangan, dari relasi ke relasi. Komersialisasi membutuhkan pelantang sebagai corong media, selain juga strategi atau kemasan yang lebih dekat dengan pasar.

Para hadirin perbincangan pun menanggapi pemaparan para pemantik. Salah satunya yang menarik adalah hadirin yang berpandangan saat ini tidak hanya pameran kelompok yang mengatasnamakan etnis, di banyak kesempatan masalah kewilayahan dielaborasikan dalam perhelatan. Yang perlu dipertanyakan adalah sejauh mana kita membawa persoalan-persoalan kewilayahan ataupun identitas di tengah tarik-menarik kepentingan antara rezim wisata yang menjual ekosistem lokal dengan nilai tinggi, di sisi lain ada pula penyeragaman yang mengatasnamakan globalisasi.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto dan video|


*Hertiti Titis Luhung Weningtyas (l.1995) adalah mahasiswa D3 Bahasa Prancis Universitas Gadjah Mada, mengikuti program magang di bagian arsip sejak awal Februari 2017 selama dua bulan.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.