Category Archives: Kabar IVAA

Perayaan Akhir-akhir Ini: Sebuah Impresi Awal

oleh Krisnawan Wisnu Adi dan Lisistrata Lusandiana

Biasanya semester kedua itu dipenuhi oleh perayaan-perayaan seni-budaya, entah pameran, pertunjukan, seminar, festival dan lain-lainnya. Juga, semester kedua identik dengan bulan-bulan wisata. Banyak wisatawan mancanegara maupun domestik yang piknik menikmati waktu luang. Wisata dan perayaan seolah menjadi paket liburan yang menyenangkan. 

Wabah corona kemudian memukul berat dunia perayaan dan wisata sejak awal 2020. Meski begitu, pada semester kedua ini suasananya agak beda. Wisata memang masih belum seramai biasanya, tapi tidak untuk perayaan. Ada beberapa hajatan seni-budaya yang tetap digelar dengan menyesuaikan situasi yang serba terbatas. Sebagian besar mengandalkan wahana daring, sebagian lainnya mencoba luring. Dua-duanya seolah sama-sama gagap. Yang daring susah payah mengupayakan komunikasi virtual secara maksimal, yang luring kesulitan menghadapi publik yang tidak sepenuhnya menerapkan protokol kesehatan dan pendaftaran kunjungan. 

Kami cukup penasaran, membayangkan bagaimana perayaan yang biasanya dipenuhi kerumunan orang di suatu tempat tertentu, harus berhadap-hadapan dengan perubahan saat ini. Dinamika keruangan macam apa yang muncul? 

Merayakan Yang Virtual

Festival Sumonar bisa dibilang cukup getol menyambut perubahan sosial akhir-akhir ini. Secara khusus, melalui tema ‘Mantra Lumina’ (5-13 Agustus 2020) festival seni cahaya ini mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan baru dari ruang maya. Kemungkinan baru yang dimaksud adalah interaktivitas. 

Melalui “Optimisme dalam Hiperteks” dalam e-katalognya, Sujud Dartanto sebagai kurator mengurai bahwa acara ini bukan acara dokumentasi dari karya-karya yang terekam, namun, melalui wahana ‘online’ ini makna ritual akses sesungguhnya sudah berbeda dengan ritual akses dalam cara ‘offline’. Ritual akses secara ‘online’ menandai cara mengada (ontologi) acara ini yang berbeda dengan cara mengada ‘offline’. Cara mengada berdampak pada bentuk presentasi dan interaksi yang terjadi. Pengakses akan membuka laman situs, berselancar di dalamnya, dan menikmati karya-karya ‘architectural projection/ video mapping’ dan instalasi cahaya dengan kebebasan melakukan ‘play’ kapan saja, di mana saja. 

Festival Sumonar memandang kultur digital macam ini sebagai peluang dan inspirasi dari keniscayaan perubahan. Menegaskan pengalaman estetika baru, ketika karya bisa terus direproduksi, disebarkan secara massif, dan bahkan direspon oleh pengunjung. 

Galeri Nasional melalui pameran dua tahunannya, Manifesto, juga tak kalah ketinggalan merespon perubahan besar ini. Untuk perayaan Manifesto VII (8 Agustus-6 Desember 2020), Galeri Nasional menggelar pameran daring bertema ‘Pandemi’ yang menyuguhkan 217 karya video dari 204 peserta lolos seleksi. Semua berupa karya video. Melalui pameran ini, Galeri Nasional ingin melebarkan sebaran peserta pameran. Selain mereka yang punya karir seni, boleh mengirimkan karya. Harapannya, Manifesto VII mampu menjadi saksi sejarah, menandai zaman. 

Serentak virtual nampaknya jadi pemantik untuk mempertegas kultur teknologi era 2000-an ini. Bicara soal itu, ada tulisan menarik dari Antariksa, Nuraini Juliastuti dan Djudjur T. Susilo (2000) berjudul “NetArt: Penyelidikan Awal”. Tulisan yang dibuat untuk acara diskusi NetArt di Galeri Benda Yogyakarta pada 12 Juni 2000 ini bicara soal virtualitas dalam konteks pertemuan internet dan seni. 

Dengan merujuk gagasan Nicholas Mirzoeff, mereka menulis bahwa virtualitas merupakan ruang yang tidak nyata tapi tampak (that is not real but appears to be). Sesuatu yang berada di antara, seperti halnya ketika kita sedang bertelepon. Peralihan dari realitas eksternal tiga dimensional ke realitas internal poli-dimensi. Dalam konteks ruang sosial pameran, peralihan ini bergerak dari ruang sosial di mana pengunjung dapat mengakses karya (virtual antiquity), lalu representasi dari karya (pictorial space), hingga ruang mental pengunjung ketika representasi bertemu persepsi. 

Seiring berjalannya waktu, virtualitas bergeser dari ruang mental ke ruang arsitektur virtual, utamanya ketika internet hadir. Perbedaan menonjol terletak pada interaksinya. Pengunjung punya kontrol untuk merespon karya. Pengalaman estetik bukan lagi perihal kontemplasi, melainkan aksi. Otentisitas dan orisinalitas sang seniman diruntuhkan. 

Sepertinya menarik kalau kita coba hadapkan penyelidikan awal 20 tahun silam itu dengan fenomena hari ini. Mari kita lihat kembali Festival Sumonar. Ada sekitar 25 seniman yang terlibat: 11 untuk projection mapping dan 14 untuk instalasi cahaya. Semua karya itu ditampilkan secara daring melalui website Festival Sumonar. Jika kita lihat dengan paradigma virtualitas dalam pengertian ruang arsitektur virtual, kebebasan pengunjung memang menonjol. Kita dapat leluasa menentukan kapan akan menyaksikan karya-karya tersebut. Ruang pamer virtualnya pun begitu artifisial; berdiri di tengah perempatan 0 km Jogja melalui layar, bebas mau dari kiri atau kanan sembari memilih ruang mana yang mau kita tengok. Festival Sumonar nampak betul-betul menyambut perubahan besar ini secara serius. Mereka membangun secanggih mungkin arsitektur ruang virtualnya. 

Akan tetapi dalam hal interaksi dengan karya, setidaknya hanya ada satu karya yang betul-betul menunjukkan aspek itu. “E-xorcism: A Self Digital Exorcism” dari Krack Studio. Karya berwujud video ini menampilkan ‘mantra’ yang diambil dari percakapan keseharian yang disesuaikan dengan aura pengunjung. Masing-masing penglihat akan melihat warna aura yang berbeda, begitu pula mantra-mantra dan musik yang muncul setelah mengklik tombol ‘interact with artwork’. Namun, jika kita cermati keseluruhan karya dalam pameran ini, rasa-rasanya belum menciptakan interaktivitas yang betul-betul melahirkan reproduksi lanjut oleh pengunjung. Seolah, Festival Sumonar belum terlalu ikhlas kalau orisinalitas karya dicabut begitu saja. Memang ini perkara rumit, apalagi berkaitan dengan teknologi digital yang butuh kemahiran berbeda dari produksi seni non-NetArt. 

Manifesto VII dari Galeri Nasional, meski juga ada dalam posisi yang sama, punya fokus yang agak lain. Mereka memanfaatkan metode daring untuk menghapus sekat antara seniman profesional dengan yang bukan. Ada karya-karya yang dibuat oleh dokter, guru, pegawai, ibu rumah tangga, perawat dan pelajar. Tepat sekali kalau gebyar virtual ini dipandang sebagai momen menghapus sekat. Akan tetapi entah kenapa hanya karya berbentuk video yang diterima. Argumen ‘mengutamakan durasi’ seperti yang dijelaskan di pengantar-pengantarnya terasa kurang meyakinkan, dan agak bertabrakan dengan kemungkinan-kemungkinan lain dari wacana seni dan internet. 

Dua perayaan di atas, dan mungkin juga beberapa perayaan lainnya, menyambut ‘yang virtual’ secara lebih tegas. Jika perubahan ini menjadi rezim ke depan, nalar keruangan seni tentu akan semakin kompleks. Memang, interaktivitas baru sebagai kemungkinan yang dibayangkan mungkin belum sepenuhnya NetArt, kalau meminjam gagasan dalam tulisan Antariksa dkk. Akan tetapi, atas nama eksperimentasi seni, perayaan ‘yang virtual’ ini sangat patut diapresiasi. 

Arus Balik: Refleksi dan Kritik atas Ruang yang Timpang

Tak semua perayaan getol menyambut gebyar virtual. Ada beberapa perayaan yang bergerak dengan dinamika keruangan yang berbeda. 

ArtJog dengan tema ‘Resiliensi’ mencoba menempatkan hajatan pada 2020 ini sebagai momentum refleksi, memikirkan ulang perjalanan mereka selama 12 tahun. “Kami memberanikan diri untuk menyelenggarakan lagi bukan karena latah untuk mengikuti tata kebiasaan baru. Festival tahun ini tidak hanya didasari oleh keinginan untuk bangkit, tapi lebih pada upaya untuk menguji kembali ketahanan kita, melihat lagi apa-apa yang sudah kami capai sebagai sebuah festival yang telah 12 tahun berjalan. Kami juga ingin melihat apa yang bisa kami perbuat di tengah situasi yang masih tidak menentu ini. Kami harus bisa beradaptasi dengan berbagai keadaan, bahkan di masa yang sulit sekalipun”, ungkap Heri Pemad dalam press release

Selain menggunakan platform online untuk menampilkan karya, mereka tetap menyiapkan mekanisme pameran secara fisik di Jogja National Museum dengan protokol kesehatan. Nampaknya mereka belum mau terlalu yakin bahwa ruang arsitektur virtual betul-betul menjamin pengalaman estetik. Pembauran luring dan daring jadi pilihan.

Kehati-hatian mereka ini begitu nampak dari pembukaan pamerannya. Dikemas dalam bentuk videotaping, sudut-sudut ruang Jogja National Museum tetap menjadi latar tempatnya, bukan green screen. Diawali dengan ruang demi ruang yang kosong, pernyataan dan sambutan dari kurator, seniman, hingga pejabat pemerintah dipantulkan ke tembok menggunakan proyektor. Elemen fisik seolah tetap ingin dihadirkan, sebagai kehati-hatian sekaligus kerinduan. 

Sikap untuk tidak terburu-buru itu semakin dipertegas dengan refleksi yang muncul dari beberapa seniman yang bicara. Salah satunya adalah Ugo Untoro, “Karya seni memang tidak bisa langsung berhubungan atau memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Sekarang ketika perkembangan teknologi demikian cepatnya, saya melihat ada gejala makin menjauhnya perupa dengan masyarakatnya. Perupa lebih banyak terlibat atau melibatkan diri dalam art market daripada melibatkan diri dengan masyarakat, walaupun ada beberapa komunitas yang turun langsung ke masyarakat.” Di tengah gebyar virtual ini, ArtJog mengajak publik seni untuk selain berefleksi juga mengkritik jagat seni itu sendiri. 

Sikap yang lain juga muncul dari kolaborasi biennale (Jakarta, Jogja, dan Makassar). Ketika solidaritas global dielu-elukan bersamaan dengan gebyar virtual yang serentak, mereka tetap mencoba untuk mengajukan kritik atas internasionalisme. Kritik yang sempat panas pada awal masa pandemi mereka teruskan melalui jalan kesenian. Secara spesifik tawaran ini muncul dari narasi yang dibawa oleh Biennale Jogja dan Makassar Biennale. Kalau Jogja mengusulkan ‘menggeser pusat’ dari ketimpangan sumber daya alam dan ekonomi dunia (melanjutkan agenda Biennale Equator-nya), Makassar mengajak merespon lebih lanjut praktik-praktik pengobatan lokal yang muncul kembali sebagai tanda kerentanan sistem global. Jakarta, lebih menarik problem pandemi ini ke ranah yang luas, seperti disrupsi digital, krisis lingkungan, hak asasi manusia, dsb. 

Semacam arus balik, tak mau terburu-buru menyambut virtualitas baru. Entah karena memang tak mau dicap latah atau tidak, perayaan-perayaan dalam wilayah ini justru ingin mengajak publik untuk merayakan optimisme dengan cara lain. Bahwa ada persoalan ketimpangan dan perebutan ruang yang terus bergulir, seiring dengan gerak maju kultur teknologi digital. 

Berada di frekuensi yang sama, beberapa bulan yang lalu (Juni hingga pertengahan Agustus 2020) juga telah digelar Kongres Kebudayaan Desa di Panggungharjo, Bantul, DIY. Acara ini digelar oleh Sanggar Inovasi Desa yang bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemendesa (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), dan GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit). Pandemi memantik inisiatif perlawanan dan perumusan tatanan baru kemasyarakatan. Desa menjadi titik awal gerakan ini, karena desa diyakini sebagai entitas terdekat dengan pemerintahan. 

Berawal dari riset dan diperkaya dengan serangkaian diskusi webinar, kongres ini berupaya untuk membayangkan tatanan baru yang berangkat dari desa dengan segala persoalannya. Langkah konkret yang disasar adalah pembentukan RPJMDes. Festival Kebudayaan Nusantara sebagai sebuah perayaan juga digelar untuk memeriahkan niat ini, sekaligus menguatkan representasi desa-desa sebagai ruang yang dipinggirkan. 

Kita tahu bahwa desa sempat mendapatkan angin segar dengan adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014. Bertriliun-triliun uang digelontorkan untuk mendukung gerak hidup masyarakat desa yang telah lama terpinggirkan. Bukan tanpa persoalan, kehadiran UU itu juga tak menyiutkan jumlah kasus korupsi di birokrasi pemerintah desa. Ditambah lagi, perkembangan infrastruktur dan pemasukan dari sektor wisata seolah sudah sah mewakili inisiatif dari bawah. 

Melalui Kongres Kebudayaan Desa, warga berupaya untuk mendobrak tekanan-tekanan ini, menempatkan kembali desa sebagai subjek negara. Tak hanya mengutamakan sektor wisata dan infrastruktur, problem kesenian dan ruang turut dibicarakan. Salah satunya, dalam diskusi webinar “Mengkonstruksi Ulang Alam Pikiran Nusantara sebagai Basis Peradaban dan Tata Nilai Indonesia Baru” pada 6 Juli 2020, Rachmi Diyah Larasati mengutarakan opininya yang relevan dengan konteks perayaan dan dinamika keruangan saat ini. Bahwa seni dalam konteks gebyar virtual harus betul-betul dicermati; seberapa jauh mampu menjawab tantangan di dalam konteks konstituen desa. 

Setidaknya ada dua kecenderungan. Pertama, perubahan sosial yang ditandai dengan serentak virtual disambut dengan cukup tegas. Bahwa kultur teknologi digital sebagai keniscayaan harus ditanggapi dengan pencarian segala kemungkinan. Ruang arsitektur virtual menjadi eksperimentasi awal untuk mengupayakan interaktivitas baru dalam jagat perayaan kebudayaan. Meski, kecurigaan-kecurigaan soal klaim, latah, dan lain-lainnya tetap penting untuk mengawal hasrat ini. Kedua, lebih pada suasana peralihan, perubahan sosial ini ditanggapi dengan begitu hati-hati. Bahwa wacana dan praktik alih wahana tak melulu soal ruang arsitektur virtual, melainkan juga persoalan ruang sosial yang timpang hingga kritik atas ekosistem seni itu sendiri yang jangan-jangan memang bobrok, arogan tapi rentan. 

Masing-masing perayaan mungkin sudah menentukan posisinya yang beda satu sama lain. Yang jelas, ada satu benang merah. Semegah atau secanggih apapun perayaannya, persoalan kedekatan dunia seni-budaya dengan ruang sosialnya akan terus jadi pekerjaan rumah, tak cukup hanya jargon. Kurang lebih seperti itulah impresi awal kami setelah mencermati perayaan dan dinamika keruangannya akhir-akhir ini. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Hibah Pustaka dan Arsip

oleh Santosa Werdoyo

Koleksi perpustakaan IVAA, bisa diperoleh dari membeli buku atau menerima hibah. Pembelian buku baru akan berdasar pada kebutuhan penelitian hingga melengkapi referensi dan literatur, yang berkait dan memperdalam wawasan seni-budaya. Sedangkan hibah diperoleh dari kolega dekat IVAA, baik dari perorangan maupun lembaga. 

Hibah pustaka dan arsip bulan Juli-Agustus 2020 dari Melani Setiawan dan Irsan Aditya. Irsan adalah lulusan Pendidikan Seni Kerajinan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pernah mengikuti program magang di IVAA tahun 2015 silam. Irsan sekarang menjadi  guru Seni dan Budaya di MTS Negeri 1 Kendal, Jawa Tengah. Sumbangan dari Irsan berjumlah 29 buku. Empat belas di antaranya berkenaan dengan buku pendidikan untuk tingkat SMA. Selain itu juga ada beberapa buku pegangan tentang kriya keramik dan batik tingkat mahasiswa/ perguruan tinggi. Tentu buku ini dihibahkan tidak hanya agar dirawat lebih baik, tetapi juga pengetahuan di dalamnya bisa diakses orang lebih banyak. Terlebih koleksi pustaka IVAA terkait tema kriya keramik dan batik memang belum terlalu banyak.

Sedangkan hibah dari Melani Setiawan berupa jenis arsip yang beragam. Di antaranya, 49 kliping yang bersumber dari majalah dan surat kabar. Selain itu juga ada beberapa arsip undangan dan 9 katalog pameran seni rupa. Hibah katalog dari Bu Melani ini berasal dari dalam dan luar negeri, seperti Hongkong, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Australia, Belanda dan beberapa dari Amerika Serikat.

Bicara mengenai koleksi katalog, sebaran yang dimiliki IVAA memang masih didominasi koleksi dari Yogyakarta. Maka dari itu, katalog hibah sangat membantu IVAA untuk  bisa menjangkau koleksi dari wilayah yang lebih luas. Mengoleksi katalog juga merupakan langkah yang penting mengingat di dalamnya terdapat berbagai potensi pengetahuan. Mulai dari catatan atau pengantar kuratorial, profil seniman, hingga dokumentasi dan deskripsi karya. Memang setiap katalog memiliki kelengkapan informasi yang berbeda-beda. Tetapi kehadirannya tetap penting sebagai bagian dari arsip-arsip ephemera.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Tegur Sapa untuk Pak Warno

Judul : KURATORIAL Hulu Hilir Ekosistem Seni
Penulis : Suwarno Wisetrotomo
Editor : Desy Novita Sari
Penerbit : Penerbit Nyala
Tahun terbit : 2020
Resensi oleh : Krisnawan Wisnu Adi

Saya belum pernah menjadi murid Suwarno Wisetrotomo. Tapi ketika baca buku ini, saya merasa sejenak ikut kelas Pak Warno untuk mata kuliah Kuratorial, jurusan Tata Kelola Seni. Bagaimana tidak, buku ini berisi kumpulan penjelasan tentang kuratorial, mulai dari apa itu kurator, bagaimana kerjanya, hingga kiat sukses menghadapi kritik. Sangat cocok untuk siapa saja yang baru pertama kali tahu istilah kurator dan ingin mengenalnya lebih jauh. 

Apa saja isinya? Saya tidak akan mengulas semuanya. Kalau ingin tahu detailnya, silakan beli buku ini. Cukup dengan 70 ribu rupiah, teman-teman bisa mendapatkannya di IVAA Shop. Oleh karena itu, tulisan ini lebih merupakan tegur sapa saya sebagai pembaca atas isi buku, seperti yang diharapkan Pak Warno melalui Pengantar-nya. 

Buku ini dibagi ke dalam 6 bab: “Kurator dan Tata Kelola Seni”, “Seni dan Ekosistemnya”, “Kurator dan Produknya”, “Kurasi dan Pendekatannya”, “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”, serta “Kurator dan Masa Depannya”. Pada bab “Kurator dan Tata Kelola Seni”, Pak Warno begitu menekankan pentingnya merumuskan tata kelola seni ala Indonesia. Urgensinya adalah ketika tata kelola seni modern semakin meminggirkan praktik-praktik gotong royong, yang menurut beliau menjadi basis penting model tata kelola seni kita. Sejak dari bab ini, saya sudah lumayan ragu dengan gagasan itu. Jangan-jangan tata kelola seni ‘gotong royong’ yang dibayangkan tidak bisa jauh dari kontrak sosial, sebuah konsep klasik tentang dasar pembentukan komunitas politik modern. Keraguan ini sebenarnya berkaitan dengan apa yang disampaikan di Pengantar; bahwa penting melihat dengan saksama praktik tata kelola seni model ‘kita’, dengan mengedepankan profesionalitas, efektivitas, efisiensi, transparansi, dan tanggung jawab. Jelas itu semua atribut modern. 

Lanjut pada bab “Seni dan Ekosistemnya”, Pak Warno banyak menulis tentang perbedaan seni modern dan kontemporer. Ia juga menekankan pentingnya tata kelola seni yang mumpuni, seiring dengan perkembangan ekosistem kesenian yang makin beragam juga kepentingannya. Tak luput juga secara khusus mengulas kritik seni. Bahwa sekarang medan seni lebih suka menghindari perdebatan. Para perupa cenderung tidak membaca kritik seni, dan akhirnya kritik seni sepi peminat. 

Dalam hal atribut identitas, mungkin memang tidak banyak atau belum ada yang mendaku diri sebagai kritikus seni. Tapi dalam hal praktik, saya kira aktor-aktor medan seni cukup gemar berkritik ria. Hanya saja, kadang sulit membedakan mana yang kritik seni, mana yang kritik populer. Yang kedua bisa disebut sebagai penghalusan dari praktik nyinyir cum sentimen personal. 

Pak Warno menganalogikan kurator itu seperti konduktor dalam sebuah orkestra. Layaknya konduktor, kurator adalah ujung tombak sebuah pameran atau pertunjukan seni. Karena itu, kurator harus memenuhi standar ideal. Paparan ini begitu nampak pada bab “Kurator dan Produknya”, “Kurasi dan Pendekatannya”, serta “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”. Apa saja syarat menjadi seorang kurator, bagaimana bentuk ideal produknya, serta langkah-langkah menyusun pameran, semua dibahas di sini. 

Sangat modern, profesional dan formal nampaknya menjadi impresi yang saya dapat dari paparan tersebut. Misal, pada bab “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”, ada beberapa indikator untuk keberhasilan suatu perhelatan seni. Mulai dari jumlah pengunjung, jumlah liputan media massa, polemik yang muncul, serta serapan pasar (jika memang komersil). Cukup kontradiktif dengan gagasan awal, bahwa buku ini dimaksudkan sebagai bagian dari upaya merumuskan tata kelola seni yang Indonesia banget (baca: Indonesia yang alamiah), tidak jauh dari konsep dan praktik gotong royong. Saya justru membayangkan, anggota tim manajemen yang bebas dari kambuhnya asam lambung selama proses kreatif, juga indikator keberhasilan yang penting. 

Meski demikian, saya setuju dengan pernyataan beliau tentang manajemen konflik pada bab “Kurasi dan Pendekatannya”. Utamanya konflik ketika menghadapi kebobrokan anggota tim manajemen yang meraih keuntungan pribadi di tikungan proses, serta ketika menghadapi segala bentuk kritik. Kita tahu, bahwa perhelatan seni-budaya sudah umum menjadi rutinitas untuk mengawinkan kepentingan serapan anggaran serta komodifikasi sana-sini, banyak mafia bertopeng pegiat seni yang siap menikung. “Langkah terbaik adalah tim manajemen mendepak dari tim kerja, karena akan merusak tatanan dan tujuan.” 

Soal bagaimana kurator menghadapi kritik atas suatu perhelatan, ada satu hal yang saya rasa luput. Memang, “jangan grogi dan hiraukan kritik bernada sentimen personal” menjadi pesan beliau. Tapi pesan itu secara khusus dirancang untuk menghadapi kritik yang dilemparkan melalui kanal-kanal formal seperti media massa atau forum diskusi. Bagaimana dengan kritik nyinyir netizen? Menurut saya ini penting, karena tentu banyak calon kurator muda generasi kini yang semakin sering menjumpai modus kritik demikian. Tidak semudah itu diabaikan seperti saran Pak Warno. Model manajemen konfliknya berbeda. Tidak lucu kalau mereka jadi depresi, sakit mental, amit-amit bunuh diri karena urusan seni-senian.

Pak Warno menutup buku ini dengan bab “Kurator dan Masa Depannya”. Kalau ditilik dari sub judul buku, “Hulu Hilir Ekosistem Seni”, saya membayangkan bahwa bab terakhir akan cenderung berarus tenang dan tak banyak bebatuan besar. Layaknya hilir sungai sebelum menuju ke laut lepas. Tapi ternyata tidak. Beliau justru memilih melemparkan perahunya ke samudera. Wabah Covid-19 menjadi ombak-ombak besarnya sekaligus titik perubahan tata kelola seni. Kurator harus menyesuaikan diri. 

Sebagai pembaca yang juga belum lama mengenal istilah kurator, saya jadi makin ragu dengan berbagai materi kuliah Kuratorial dan wejangan-wejangan Pak Warno dalam buku ini. Tapi saya, dan mungkin teman-teman sekalian, perlu untuk membaca buku beliau selanjutnya, Ombak Perubahan: Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan. Barangkali ada cerita menarik tentang bagaimana perahu kuratorial menerka gelombang samudera. 

Sekian tegur sapa dari saya. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Cek Ombak (Perubahan)

Judul Buku : Ombak Perubahan: Problem Sekitar Seni dan Kritik Kebudayaan
Penulis : Suwarno Wisestrotomo
Penerbit : Nyala
Tahun Terbit : 2020
Resensi oleh : Sukma Smita

Perubahan, satu kata yang sungguh populer beberapa dekade belakangan. Reformasi 1998 menandai perubahan sistem pemerintahan Indonesia. Perkembangan teknologi turut mendorong perubahan perilaku hidup masyarakat. Termasuk digunakannya kembali istilah Revolusi Mental oleh pemerintah saat ini, seturut diikuti jargon Revolusi Teknologi, Reformasi Birokrasi dan sebagainya. Hingga hari ini, wabah Covid-19 ikut mendongkrak popularitas diksi ‘perubahan’ pada level tertinggi. Bulan demi bulan sepanjang tahun 2020 tidak dilalui dengan hal yang bisa dikatakan sebagai rutinitas. Semua orang harus berjaga-jaga untuk memulai hal baru. Selalu bersiap untuk beradaptasi pada tata kebiasaan yang sewaktu-waktu berubah. 

“Ombak Perubahan”, adalah judul utama buku. “Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan” lalu menggenapinya sebagai sub judul buku karya Suwarno Wisetrotomo ini. Pada bagian sampulnya, ada lukisan Entang Wiharso, yang dalam pengantar buku dituliskan bahwa karya tersebut mampu mengilustrasikan situasi saat ini yang penuh gejolak, mampu menggarisbawahi berbagai gelombang yang bergulung-gulung di sekitar dunia seni dan budaya hari ini.

——

Suwarno mengilustrasikan situasi seni dan budaya kita sebagai laut lepas, samudra yang tidak lepas dari berbagai ombak dan badai. Buku ini bermula dari obsesi Suwarno untuk melanjutkan diskusi pidato orasi yang disampaikan dalam Dies Natalis ISI Yogyakarta. Dengan huruf tebal, ia juga menyebut bahwa orasi tersebut diwarnai dengan spirit mencambuk atau secara sarkastis dibilang menghardik para dosen dan generasi muda. Bermula dari orasi, diteruskan menjadi buku yang dibagi dalam beberapa judul-judul pembahasan.

Memasuki halaman buku, pada bagian pengantar dan prolog saya merasa sedikit terasing. Buku ini merupakan bukti cinta kepada seluruh warga ISI Yogyakarta, begitu Suwarno menuliskannya. Dari dua sub bab tersebut, saya sempat merasa bahwa sebagai orang yang hanya berteman dengan mahasiswa ISI Yogyakarta, tidak ada rasa cinta yang ditujukan pada saya. Tapi saya putuskan tetap melanjutkan ke halaman berikutnya untuk mencari tahu lebih jauh, dan cek ombak dulu sebelum lebih jauh menyimpulkan atau baper.

Sesuai pembabakan judul, Bab I: Zaman Bergerak, adalah cerita panjang tentang bagaimana dunia dan peradaban manusia selalu bergerak, bergeser dan berubah yang kemudian memunculkan disrupsi. Suwarno mengutip dari buku Rhenald Kasali bahwa disrupsi adalah sebuah inovasi yang menggantikan sistem lama. Ia menghasilkan suatu kebaruan yang lebih efisien dan efektif namun juga bersifat kreatif dan destruktif. Dari kutipan tersebut, Suwarno melanjutkan dalam paragraf`-paragraf berikutnya bahwa berbagai kemajuan menunjukkan sisi ironisnya, karena disertai hasrat dan ketamakan. Ia menyebut bahwa para pengguna berbagai kemajuan teknologi digital hari ini berada dalam posisi rentan dan cepat atau lambat akan menjadi korban.

Dari bab pertama, saya membayangkan rasa cinta seperti apa yang dimaksud Suwarno di awal tulisan. Kurang lebih seperti rasa khawatir orang tua pada anak remajanya yang selalu asik sendiri dengan gawai dan berbagai aplikasinya. Kemudian pada bab kedua, saya melihat banyak pernyataan asumtif dengan mengedepankan subjektivitas perspektifnya. Suwarno menyebut berbagai perubahan hari ini berjalan beriringan dengan sejumlah ironi serta paradoks. Situasi tersebut menurutnya terjadi karena rendahnya literasi, minat baca dan miskinnya nalar masyarakat kita. Dipaparkan pula berbagai tulisan dan artikel ilmiah tentang brutalitas dunia maya dalam era post truth yang kerap menjerembabkan warganet dalam kubangan hoax maupun fake news. Bab ini diakhiri dengan pertanyaan, apa yang bisa dilakukan oleh seni dan dunia pendidikan (tinggi) seni? Apakah fungsi dan posisi seni atau karya seni hari ini? Hingga apa yang bisa kita pikir dan lakukan terkait dengan organisasi, kepemimpinan, gerak dan kritik kebudayaan? Rangkaian pertanyaan tersebut menarik saya untuk mulai sedikit demi sedikit berenang dan menyelami buku ini setelah cek-cek ombak di pengantar dan prolog buku. 

Bab ketiga buku ini seolah berisi pendalaman atas rasa cinta dan kedekatan Suwarno pada dunia pendidikan tinggi seni. Suwarno memulai dengan pertanyaan tentang situasi dunia pendidikan seni hari ini. Bahwa pendidikan tinggi seni hari ini berhadapan dengan ragam realitas. Secara runut dipaparkan, berangkat dari pemikiran tentang seni interdisiplin, multidisiplin dan transdisipliner, sesungguhnya seni adalah sains. Dua hal tersebut tidak terpisah. Ini bisa diartikan bahwa penciptaan seni merupakan implementasi pengetahuan. Dari runutan tersebut, dilanjutkan dengan pertanyaan tentang kesiapan pendidikan seni hari ini pada perubahan. Beberapa paragraf menerangkan tentang terobosan yang harus dilakukan dunia pendidikan seni. Kemudian dilanjutkan dengan kritik pada situasi birokrasi dunia pendidikan, salah satunya tentang pimpinan yang alergi terhadap kata terobosan. Paragraf-paragraf berikutnya menuliskan 3 poin asumsi atas situasi mental tenaga pendidik, diikuti serangkaian nasehat dan saran.

Pada bab keempat Suwarno memaparkan satu klaim bahwa komik dan animasi merupakan dua ekspresi seni yang mampu mengikuti perkembangan teknologi. Komik dianggap berada dalam puncak piramida influencer bagi khalayak muda hari ini. Berbagai komik dan animasi yang mudah didistribusikan melalui platform digital mampu mengekspresikan dan mengampanyekan pesan-pesan sosial untuk kawula muda. Bab-bab berikutnya berisi uraian pentingnya positioning bagi seorang seniman. Bahwa berkesenian selayaknya memiliki kesadaran memihak: ‘ke atas atau ke bawah’. Ketika para pegiat seni telah memutuskan keberpihakannya, itulah yang menggerakan praktik berkesenian. Pentingnya keberpihakan ini diulas lebih jauh pada bab terakhir dengan mencontohkan beberapa nama kelompok seni dan seniman yang memiliki titik pijak mantap dalam praktiknya dan tergolong dalam kategori ‘seni menggerakkan’. 

——

Suwarno menyatakan bahwa buku ini merupakan upayanya untuk memaparkan realitas hari ini dengan analogi lautan lepas. Situasi hari ini bagaikan gelombang lautan, pasang surut, tidak pernah stabil dan selalu bergantung pada besaran dan arah angin. Ia juga menyebut bahwa buku ini adalah bentuk perhatian atau catatan atas fenomena mutakhir, mulai dari merebaknya pandemi Covid 19 serta pembahasan ulang perkara pergeseran dan perubahan ketimbang perkara kemajuan. Sejak halaman-halaman awal, saya sudah sedikit banyak dapat menangkap perubahan seperti apa yang dimaksud Suwarno, tentang bagaimana pandemi menjungkirbalikan laku dan tata kehidupan kita hari ini. Namun ketika menggunakan laut lepas sebagai analogi, bagi saya laut lepas dan samudra lebih dari badai dan gelombang ombak yang bergulung tinggi. Laut juga berisi beragam kekayaan biota, pemandangan indah, angin yang menyegarkan dan berbagai hal menyenangkan lainnya. “Laut yang tenang tidak melahirkan pelaut yang tangguh”. Saya menemukan pepatah tersebut suatu hari melalui cuitan di Twitter. Tidak tahu siapa yang menciptakannya, saya  langsung merasa ‘pas’ saja. Pepatah tersebut tentu bisa menjadi perspektif lain atas situasi penuh gelombang besar hari ini. 

Dengan sub judul buku Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan, sebenarnya cukup samar untuk bisa menangkap permasalahan pada praktik seni-budaya yang dimaksud. Kritik memang banyak ditujukan untuk dunia pendidikan seni dan seluruh elemennya, namun ini pun tidak banyak dielaborasi. Perubahan praktik dan pertanyaan tentang fungsi seni juga lebih banyak dijabarkan melalui pendapat. Memuat nasehat maupun arahan tentang seperti apa seharusnya seni bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Di satu sisi, saya sepakat bahwa beberapa nama pelaku yang disebut memang dapat digolongkan sebagai seni menggerakkan. 

Selain kata perubahan yang tentu bertebaran dalam buku ini, setidaknya kata milenial disebut lebih dari 6 halaman. Milenial merujuk pada pengertian umum atas kata ini, yaitu generasi hari ini, pemuda, seniman muda, mahasiswa dan lain sebagainya. Dalam pendapat pribadi saya, buku ini memposisikan generasi milenial seni sebagai generasi beruntung karena lahir di era yang serba dimudahkan oleh teknologi, memiliki kuasa penuh atas akses informasi namun tidak begitu peka sejarah, sembrono dan memerlukan dukungan institusi pendidikan tinggi (seni) agar tidak terjerembab dan menjadi korban kemajuan teknologi. Di sini Suwarno seolah melihat pergeseran dan perubahan hari ini terutama kaitannya dengan teknologi seperti sebuah palung laut, tampak aman untuk direnangi namun membahayakan, menjebak dan menenggelamkan. 

Kembali pada pepatah yang saya temukan di Twitter. Mungkin kita bisa melihat segala perubahan hari ini, mulai dari tata kehidupan yang dijungkir balikan oleh virus, cepatnya kemajuan teknologi seiring dengan perubahan perilaku dan praktik seni generasi milenial dan generasi Z melalui perspektif yang lain. Bagi saya beberapa pernyataan Suwarno dalam buku ini sedikit terburu-buru, klise dan seperti yang telah saya sebut sebelumnya, subjektif. Melihat pergerakan, perkembangan dan perubahan hari ini, seharusnya tidak bisa lepas dari ragam eksperimentasi dan siasat generasi muda tersebut untuk bertahan pada gelombang tinggi perubahan melalui teknologi. Kita bisa menyebut beberapa nama populer seperti Greta Thunberg atau Malala Yousafzai. Atau lebih dekat dalam skena seni budaya, kelompok seni yang berisi anak zaman now, yang juga memiliki prestasi dan karya besar, tersebar di seluruh Indonesia. Taruhlah para pelaku seni seperti Ketjilbergerak, HONF, Piring Tirbing, Tromarama, Milisi Film atau Ipeh Nur yang karya-karyanya selalu kritis berangkat dari kegelisahan personal, mengambil banyak sumber sejarah namun tetap kontekstual dengan situasi hari ini. Kritikan atau komentar atas situasi sosial politik budaya hari ini juga banyak dilontarkan melalui meme di sosial media, karya audio visual di YouTube hingga aplikasi TikTok.

Saya sebenarnya membayangkan buku ini memberi penawaran dan cara pandang lain dalam melihat dan menikmati lautan luas. Generasi milenial dan generasi Z, di luar segala hardikan dari generasi sebelumnya, memiliki tantangan hidup yang jauh lebih kompleks. Mulai dari minimnya ruang hidup karena okupasi industri, sampai harus berhadapan dengan berbagai kerentanan kesehatan mental, eksploitasi kerja dunia kreatif, dan lain sebagainya. Bagi saya risiko bahaya atas perubahan situasi hidup dan perkembangan teknologi hari ini bukan hanya mengancam generasi muda, namun semua orang yang menggunakan teknologi, lintas generasi. Perubahan situasi hidup kita hari ini berjalan lurus dengan segala inovasi teknologi yang juga beriringan dengan adaptasi dan siasat hidup. 

Sampai kapanpun situasi sosial politik budaya dalam lautan kehidupan kita akan terus bergerak dan berubah. Generasi hari ini adalah yang turut berinovasi pada teknologi hingga memaksimalkannya dalam kehidupan keseharian, maupun sebagai medium praktik seni. Justru inilah bentuk nyata menyiasati jaman. Kita tidak harus bergantung dan pasrah saja pada pasang surut laut. Kita bisa menurunkan layar dan jangkar untuk tak terombang-ambing angin dan badai-badai, bertahan dari gelombang besar dengan meningkatkan sistem aerodinamis kapal, dan berbagai kendali siasat yang lain. Entah dengan berenang, berselancar, menyelam atau bahkan hanya diam menikmati pemandangan laut di senja hari juga merupakan bentuk penyesuaian. Memang, untuk memilih dan menyiasati cara mengarungi lautan lepas kehidupan kiwari, harus dengan cek-cek ombak dulu.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Sebuah Teater Bernama Indonesia

Judul buku : Pasfoto Sang Iblis
Penyunting dan Esai Pengantar : Hendro Wiyanto 
Penerbit : Gang Kabel 
Tahun terbit : Juni 2020
Resensi oleh : Lisistrata Lusandiana

“Adalah bangsa yang besar – bangsa yang dapat menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan–pekerjaan biasa.” 

Petikan di atas menjadi akhir dari esai berjudul “Dalam Bayangan Sang Pahlawan”. Satu dari sekian banyak esai yang menarik perhatian saya. Ketika sampai di titik ini, seketika saya ‘mak deg’ karena kedahsyatan penutup esai tersebut. Penggunaan bahasanya sangat sederhana dan mengena. Saya deg-degan senang sekaligus menyesal. Menyesal karena kenapa tidak dari dulu saya membaca tulisan-tulisan Sanento Yuliman yang sudah banyak disebut-sebut sebagai kritikus seni rupa di Indonesia. Memang buku kumpulan esai Pasfoto Sang Iblis ini baru terbit, tetapi sebelum-sebelumnya sudah ada kumpulan esai Dua Seni Rupa dan Estetika yang Merabunkan. Kita bersyukur ada kerja keras yang telah mewujudkan penyusunan buku ini. 

Kembali ke esai yang membuat saya deg-degan. Ia berjudul “Dalam Bayangan Sang Pahlawan”. Dipublikasikan pertama kali pada 25 Februari 1968, di Mahasiswa Indonesia, Sanento Yuliman menyoroti nilai heroisme yang pada masa itu kian menguat. Penanaman nilai heroisme itu dilakukan sejak kita, masyarakat Indonesia, masih berada dalam kandungan. Artinya, penanaman nilai ini dilangsungkan sebagai proyek kebudayaan di periode yang tidak singkat, dalam suatu pertunjukan teater bernama Indonesia. Mengapa teater Indonesia? Karena dalam proses pembangunan kebudayaannya, ia menekankan penggunaan berbagai elemen teater patriotik; mulai dari penggunaan kostum-kostum, penyelenggaraan upacara-upacara dalam melegitimasi kekuasaan, penekanan pada retorika yang mampu menyihir kerumunan, kehadiran dramaturgi konflik, penggunaan iring-iringan musik, hingga kehadiran penonton yang ditempatkan sebagai subjek yang menangkap pesona dan keagungan ‘sang pahlawan’ dalam teater bernama Indonesia. 

Jika sekilas kita baca demikian, maka jelas, esai ini merupakan sindiran atas hegemoniknya politik retoris ala bung besar. Akan tetapi, kritik ala Sanento Yuliman tidak berhenti pada kritik kekuasaan. Lebih jauh ia mengembangkan esainya sebagai kritik kebudayaan. Ia menyasar pada nilai heroisme yang menjadi penyakit dari masyarakat kita, yang bisa menjangkiti siapa saja, termasuk aku, kamu, dan kita semua.

Problemnya sudah jelas, bahwa kebesaran nilai heroisme ini menempatkan gerakan massa sebagai hal yang terpenting dalam kehidupan. Pada saat yang bersamaan, ia menelan kekuatan individu yang sesungguhnya berperan penting sebagai subjek politik. Sanento Yuliman sangat keberatan jika kehadiran subjek hanya ditempatkan sebagai perantara kebenaran. Sementara politik retoris yang hidup pada saat itu, menempatkan masyarakat di posisi tersebut. Di tengah politik yang kebesaran mulut itu, ia menekankan pentingnya hal-hal yang sifatnya keseharian, kecil dan rutin, yakni kerja-kerja konkret yang dilakukan dan dinikmati oleh individu, sehingga memunculkan kualitas kerja. Bagi Sanento Yuliman, di situlah letak kesenian. Seni sebagai kualitas kerja, yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Sekali lagi, siapa saja yang melakukan kerja-kerja konkret! 

Dari satu esai ini saja, kita mendapati daya analitis sekaligus kemarahan seorang aktivis yang reflektif. Saya sebut aktivis karena sorotan tajamnya pada kekuasaan, sekaligus reflektif karena ketajamannya untuk sensitif pada bahasa-bahasa kekuasaan yang berpotensi menjadi virus-virus sosial. Dan YA, tulisan dengan nada semarah ini ditulis oleh Sanento Yuliman, yang kelak dikenal sebagai kritikus seni rupa Indonesia. 

Pasfoto Sang Iblis ini merupakan bunga rampai esai-esai yang pernah dipublikasikan pada 1966-1990. Dari sini, kita bisa menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman sebelum ‘seni rupa banget’. Tulisan-tulisan dengan nada marah. Tulisan-tulisan yang sudah sangat peka pada cara-cara subtil kekuasaan beroperasi atau bekerja. Tulisan-tulisan yang sudah menunjukkan ketajaman sikap politik sebelum masuk ke ranah kuasa yang lebih subtil, yakni seni.

Membaca kumpulan esai ini, saya seperti diingatkan bahwa pendekatan lintas disiplin dalam membaca fenomena sosial tidak hanya dikenalkan oleh para teorisi kajian budaya. Sejak 1960-an, esai-esai ini sudah menunjukkan bahwa tradisi meneropong dan menulis lintas disiplin sudah hidup sejak kita dipaksa untuk hidup di tengah berbagai tantangan dan konflik. Hanya saja, disiplin ilmu kadang khilaf, sering lupa untuk melibatkan unsur ‘heteronomi kehidupan’ kita dalam tradisi belajar yang sudah terlalu nyaman berada dalam kotaknya. 

Selebihnya, catatan baca ini hanyalah remah-remah dari keripik kenikmatan yang muncul dari lembar demi lembar hingga halaman 232. Tentu saja tidak ada pembacaan yang sempurna. Sama halnya dengan tulisan. Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dibuat. Untuk itulah buku hadir dalam kehidupan kita, agar ia bisa menemani heteronomi keseharian kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Buku dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Spirit Revivalis yang Menandai Masa Krisis

oleh Hardiwan Prayogo

Awal April 2020, ketika Covid-19 di Indonesia mencapai angka 1000 kasus, berbagai lini merespon dengan berbagai cara. Berbagai webinar digelar untuk bersama-sama mendiskusikan bagaimana wabah ini berdampak bagi kesenian; bagaimana siasat-siasat perlu dilakukan dan pengetahuan apa yang mungkin bisa diekstraksi dari situasi ini. Salah satu webinar yang berjudul “Festival Warga di Masa Krisis” menunjukkan bagaimana para pelaku festival sedang mencari siasat bagaimana sebuah acara kesenian tetap digelar dengan pembatasan sosial. Di samping itu juga ada dorongan untuk memaknai ulang perayaan, dalam hal ini festival, dan relevansinya dengan situasi mutakhir. 

Akhir Agustus 2020, kasus Covid-19 di Indonesia telah menyentuh angka 200.000. Belum terlihat tanda-tanda kurva akan melandai. Namun, dalam pandangan sekilas mata pun terlihat bahwa respon masyarakat sudah berbeda dari ketika kasus baru mencapai 1000. Bisa jadi memang bukan lagi pada kuantitas angka kasus yang membuat warga resah, tetapi tentang bagaimana nasib ketahanan dan cara bertahan hidup dalam situasi wabah ini. 

Situasi krisis kali ini tampaknya membuat orang-orang cenderung melihat kembali nilai-nilai lokal dalam dirinya. Upaya tersebut terlihat dalam beberapa festival kesenian berskala cukup besar yang tetap digelar pada semester kedua 2020. Beberapa di antaranya seperti ArtJog 2020 Resilience, Sumonar 2020: Mantra Lumina, Makassar Biennale: Maritim: Sekapur Sirih, dan Biennale Jogja: Cur(e)ating the Earth, Shifting the Center: Tata Bumi Baru, Tata Seni Baru.

Jika ditarik dari premis bahwa situasi krisis membuat orang melihat kembali laku dan nilai-nilai lokal, krisis ekonomi dan politik tahun 1998, dan krisis karena gempa dan erupsi Merapi tahun 2006 menunjukan tren serupa. 

Pertama adalah Ruwatan Bumi ‘98. Disebutkan dalam arsip tersebut, menurut kitab Sabdhatama, pada jaman krisis, tidak ada aktivitas kesenian yang lebih relevan selain ruwatan. Selama April 1998, para pekerja budaya, pelaku seni, cendekiawan, melakukan 170-an kegiatan, mulai dari pameran, pertunjukan, ceramah, dll. Kegiatan ini dilakukan di desa-desa di lereng Merapi, pulau Samalona di lepas pantai Makassar, hingga Berkeley, Amerika. Salah satu karya yang ditampilkan adalah karya dari Jemek Supardi, yang mengumumkan dan melakukan prosesi kematiannya sendiri di tengah Kota Yogyakarta. Kegiatan yang tersebar ini telah menunjukkan hubungan patron non-hirarkis, komunikasi luwes dan cepat, menandai lahirnya mass society.

Sementara itu, menurut David Riesman, mass society yang terbentuk karena teknologi adalah lonely crowd (kerumunan yang kesepian). Ini ditandai dengan karakteristik seperti mundurnya kehidupan keluarga, teralienasi karena pekerjaan, kemunduran komunitas lokal, memudarnya nilai-nilai etnik, agama, dll, dan merosotnya atensi pada kegiatan-kegiatan sukarela. Identitas baru dari orang-orang yang tercerabut dari akar ini kemudian diciptakan oleh teknologi media. Hal ini semakin didesak karena lahirnya situasi krisis. 

Salah satu pernyataan dari Ruwatan Bumi adalah “modernisme dalam kesenian tidak memiliki konsep mengenai keselamatan”. Prosedur yang ditempuh adalah pemberontakan terhadap konvensi. Padahal konsep keselamatan dalam masyarakat merupakan totemisme, acuan terhadap kosmologi bersama yang ekologis; melakukan upacara keselamatan bersama, membebaskan diri dari bala bencana, dan membersihkan desa dari roh jahat. Dalam kacamata budaya, kegiatan ruwatan ini diklaim oleh penyelenggara sama pentingnya dengan aksi mahasiswa. Ruwatan 1998 ini menandai masa di mana simpul jaringan kebudayaan bisa dilakukan oleh setiap individu, dengan isu sentral kehidupan manusia Indonesia yang dibingkai dalam kerangka masyarakat kontemporer.

Delapan tahun kemudian, pada 2006, Yogyakarta diguncang gempa dan erupsi Merapi dalam waktu yang berdekatan. Komunitas Merapi menggelar pameran bertajuk Mengerti Merapi di Arta Pustaka, 6-12 Agustus 2006. Pameran yang menampilkan lukisan, patung, dan hasil pertanian organik warga Kecamatan Turi, Pakem, serta Cangkringan ini berangkat dari kegelisahan warga lereng Merapi yang resah karena gunung itu yang bagi masyarakat setempat adalah sumber kehidupan, dijadikan alat kepentingan politik dan proyek. Warga setempat hanya dijadikan objek dramatis. Kepekaan warga lokal terhadap Merapi dianggap irasional oleh teknologi modern dan pembuat kebijakan. Padahal ini justru menghilangkan ikatan antara Merapi dengan manusianya. 

Lain lagi dengan Stefan Buana, yang coba merespon gempa Jogja 2006 dengan karya batik Parang Lindu. Batik deformatif dari motif batik Parang Rusak ini tak lagi menampilkan dimensi eksklusivitas pemakainya, namun telah menjelma menjadi motif kain yang menengarai kentalnya pola relasi sosial yang inklusif. Lindu atau gempa, bagi Stefan, memberi inspirasi yang kuat dalam menumbuhkan spirit kolektivitas dan inklusivitas tersebut. Karyanya ini ditampilkan pada pameran berjudul Homo Lindhuicus, di Taman Budaya Yogyakarta, 10-20 Agustus 2006. 

Dari arsip-arsip di atas, ruwatan, kepekaan warga lokal terhadap Merapi, dan motif batik, adalah laku-laku lokalitas yang ditilik kembali di masa krisis. Maka kecenderungan tema pada pergelaran dan festival seni yang disebutkan pada awal tulisan bukanlah hal yang baru muncul pada krisis karena Covid-19 ini. Meski tentu kita sepakat bahwa krisis kali ini berbeda dari 1998 dan 2006. Tetapi bahwa godaan arus balik atau revivalisme ini kembali mencuat sebagai narasi utama. Jika 1998 sudah coba melakukannya, dan pola serupa terjadi kembali tahun 2006, pertanyaan lebih lanjut adalah nilai dan laku lokalitas apa yang tertinggal dan terasa hingga kini? Kemudian bagaimana dengan konteks 2020 ini? Guna merefleksikan pertanyaan-pertanyaan tersebut, konsep ko-imunisme cukup menarik untuk dielaborasi.

~~

Co-immunism (ko-imunisme), sebuah konsep dari Peter Sloterdijk tentang sistem kekebalan tubuh yang ditumbuhkan dan disadarkan secara kolektif. Ini berangkat dari tesis bahwa jaman teknologi algoritma membuat manusia semakin jauh dari perasaan yang sama secara kolektif. Sementara itu, wabah Covid-19 melampaui batasan-batasan spasial dan rasial. Maka kekebalan atas virus ini seharusnya tidak terbatas pada organisme individu, tetapi berbentuk mutualisme yang dicapai secara kolektif.

Fidelis Regi Waton, dalam tulisannya Resiliensi dan ‘Ko-Imun’ di Harian Kompas, 11 Agustus 2020,  berujar bahwa krisis adalah awal masa depan dan peluang melahirkan pola hidup baru. Pola baru yang dilahirkan oleh krisis kali ini harus mengkonstruksi bangunan hidup yang lebih tangguh. Langkah nostalgia dinilai salah kaprah. Membayangkan dunia kembali seperti jaman pra-corona adalah kesia-siaan. Resiliensi dan ko-imunisme, digarisbawahi sebagai kata kunci untuk merancang kebiasaan baru yang lebih tangguh dari ancaman krisis. 

Berbagai perayaan dan peristiwa seni yang tetap digelar pada semester kedua 2020 ini akan bisa dimaknai sebagai resiliensi, jika pada praktiknya tidak hanya menjadi P3K. Tetapi bahwa berbagai macam inovasi teknologi dan interaksinya menjadi pengetahuan yang bisa dilakukan, ketika segala macam pembatasan karena wabah ini sudah dilalui, seperti yang pernah dielaborasi pada Sorotan Arsip edisi Mei-Juni 2020, yang berjudul Apa yang Berlalu Jika Pandemi Sudah Pergi?

Sedangkan ko-imunisme, bisa dilihat dari praktik-praktik ruwatan. Cukup memberi gambaran bagaimana masyarakat mencoba menuju kekebalan kolektif tersebut. Ruwatan, atau praktik semacamnya, selalu melibatkan masyarakat secara kolektif dan berbagai lintas latar belakang. Ruwatan Sengkolo di Klaten, Ruwatan Tolak Bala di Jepara, dan lain sebagainya menjadi contoh peristiwa mutakhir pada masa pandemi Covid-19.

~~

Sorotan Arsip edisi ini ingin melihat bagaimana revivalisme menjadi semacam kecenderungan untuk bertahan di masa krisis, bagaimanapun pola dan model krisisnya. Kehidupan modern sudah tidak perlu ditegaskan kerentanannya. Salah satu yang paling kentara adalah situasi bahwa kehidupan masyarakat modern bertumpu pada keuntungan finansial (profit) untuk dapat bertahan hidup. Berbagai pembatasan sosial karena Covid-19 menjadi badai yang mengguncang tatanan itu. Di tengah badai, manusia akan mencari pegangan. Kecenderungan untuk menilik kembali laku-laku dan nilai lokalitas menjadi salah satu wujudnya. 

Wajar jika berbagai konsep, inovasi, hingga jargon-jargon dan berbagai klaim yang terlihat baru banyak muncul pada situasi extraordinary. Spirit revivalis, jika dilihat dari pola yang ada sejak krisis 1998 hingga 2020, muncul sebagai upaya untuk membuat pergelaran kesenian tetap relevan dengan konteks sekarang. Tetapi seperti yang kita tahu, bahwa relevansi memiliki relativitas sesuai dengan konteks jamannya.

Festival dan berbagai pergelaran seni 3 bulan terakhir ini dengan cukup jelas mengucapkan bagaimana kita harus bertahan di tengah krisis dengan nilai-nilai dan laku lokalitas. Dan yang tidak terucap adalah sebaliknya, bagaimana nilai dan laku ini masih akan bertahan di masyarakat pasca krisis berlalu. Dari krisis-krisis yang sebelumnya pernah terjadi, nilai dan laku ini memang masih bertahan, tetapi cuma sebagai tema sebuah perayaan acara kesenian.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.

Undangan terbuka menulis esai di Newsletter IVAA – Edisi Juli-Agustus 2020

Kami mengundang rekan-rekan sekalian untuk membagikan buah pikir dan pengalamannya melalui rubrik Baca Arsip, newsletter IVAA edisi Juli-Agustus 2020. “Membaca semesta perayaan” menjadi tema yang kami tawarkan. Perayaan yang dimaksud di sini bisa berupa festival, ruwatan hingga ritus sosial yang hidup di sekitar kita, yang berurusan dengan orang banyak. Gagasan ini hadir di awal semester kedua tahun kembar ini, tepat ketika beragam festival tengah menyiapkan kehadirannya di tengah-tengah publik, dan pandemi belum juga bosan berurusan dengan kita.
Rekan-rekan dapat membagikan pandangannya dalam bentuk karya tulis, yang analitis, disampaikan dengan bahasa yang renyah, bisa menggunakan pendekatan teoritis (jika diperlukan), jika tidak juga tidak apa. Tidak ada batasan jumlah kata yang kami tentukan; penulis bisa mengukur sendiri. Tulisan paling lambat diterima pada 17 Agustus 2020.

Jika berminat, berikut syarat dan ketentuannya:
1. Kirim tulisan ke email ivaa@ivaa-online.org dengan subjek NLD2020

2. Semua tulisan yang masuk tetap menjadi hak milik kontributor. Jika tulisan terpilih untuk kami muat, kami akan segera menghubungi penulis 1 minggu setelah proses seleksi.

3. Bagi kawan IVAA yang tulisannya dimuat di newsletter IVAA berhak mendapatkan honorarium sepantasnya.

4. Kontributor yang tulisannya dimuat di newsletter IVAA boleh menerbitkan ulang tulisannya di tempat atau media lain, minimal satu minggu setelah dimuat di newsletter IVAA, dengan syarat bahwa tulisan tersebut telah dimuat di newsletter IVAA.

5. Jika setelah satu minggu tulisan yang dikirimkan belum mendapatkan balasan dari kami, penulis berhak menerbitkan atau mengirimkan ke media lain.

6. Tulisan dikirim sebagai dokumen terlampir (format word). Jika ada foto/ gambar, alangkah lebih baik juga disertakan sebagai file terlampir.

7. Sebelum dimuat di newsletter IVAA, redaksi berhak melakukan penyuntingan pada tulisan yang akan dimuat.

8. Wajib melampirkan identitas dan scan KTP. Identitas terdiri dari nama lengkap, domisili, nomor kontak, akun media sosial, foto pribadi, dan profil singkat. Jangan lupa untuk menyertakan nomor rekening (beserta nama bank, nama KCP bank dan nama nasabah).

9. Mau tanya-tanya? Chat saja ke 0857-2611-1410 (Wisnu).

Meraba Wajah Praktik Seni-Budaya di Atas Tanah yang Bergeser: Catatan Sederhana tentang Pengarsipan di Kala Pandemi

Oleh Lisistrata Lusandiana dan Krisnawan Wisnu Adi

Semakin ke sini, ingatan menjadi semakin berharga tapi juga semakin sulit dikelola. Percepatan dunia yang dimulai oleh revolusi digital seolah membuat kita semakin gelagapan berurusan dengan ingatan, kesenian, dan bahkan peristiwa. Harapan banyak orang bahwa era teknologi digital dapat mengabadikan banyak hal di ‘ruang angkasa’, beriringan dengan potensi hilangnya ingatan di belantara data, atau paling tidak tersesat atau keracunan di dalamnya. Itulah tantangan pengarsipan sekarang.

Tantangan macam itu semakin dipertegas oleh kehadiran pandemi saat ini. Arus dunia digital makin dipercepat ketika ‘jaga jarak’ menjadi kebiasaan. Interaksi virtual menjadi kebutuhan yang membludak. Segala cara hidup beserta perspektifnya seolah sedang diombang-ambing di atas tanah yang bergeser tanpa bisa kita raba dengan jelas arahnya. 

International Council on Archives (ICA) mendeklarasikan pentingnya pengarsipan di tengah situasi pandemi. Bahwa tugas untuk mendokumentasikan tidak berhenti semasa krisis. Kehadirannya justru jadi lebih penting sebagai sumber historis untuk melihat lagi bagaimana negara, masyarakat dan komunitas internasional menghadapi krisis. Mengafirmasi pernyataan UNESCO, mengubah ancaman Covid-19 menjadi peluang untuk pendokumentasian, karena arsip adalah sumber terpercaya untuk menjamin keamanan dan transparansi administratif. Lebih spesifik, arsip dan manajemennya menjadi elemen kunci untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 dalam kaitannya dengan akses informasi.

Pernyataan ICA terkait peran pengarsipan di tengah pandemi yang menjadi lebih penting dan mendesak tersebut, tentu saja tidak salah. Tetapi tidak bisa begitu saja kita terima mentah-mentah. Dalam pernyataannya, ICA lebih banyak didorong oleh kepentingan-kepentingan di sekitar perwujudan tata kelola pemerintah transparan, terbuka dan terukur. Karena hal-hal itulah yang menjadi prasyarat demokrasi. Singkat kata, pengarsipan untuk mendorong praktik good governance. Di Indonesia, perihal ini juga cukup konkret, bisa terlihat dari sengkarut penyaluran bantuan. Akan tetapi, yang menjadi tantangan saat ini yaitu bahwa kita juga perlu menempatkan urgensi pengarsipan, tidak hanya di hadapan kepentingan good governance. Tantangan kita saat ini ialah menempatkan urgensi pengarsipan di atas tanah kebudayaan. 

Kebutuhan merekam peristiwa juga muncul untuk kepentingan nilai kesejarahan dalam koridor disiplin ilmu. A Journal of the Plague Year dari School of Historical, Philosophical and Religious Studies, Arizona State University, melalui laman Share Your Story, mengundang publik untuk mengirimkan arsip mereka yang berkaitan dengan pandemi dalam format digital. Dengan mengantongi keyakinan bahwa penting untuk membayangkan apa yang bisa ditulis oleh para sejarawan mendatang mengenai pandemi, arsip sudah sedari lahir diciptakan untuk kepentingan historis. Orientasi partisipasi publik dengan pandangan sejarah masa kini (history of the present) menjadi kecenderungan yang semakin dipertegas di masa pandemi ini. 

Tidak hanya dilakukan oleh institusi-institusi formal dan melulu berorientasi administratif serta historis, inisiatif pendokumentasian juga dilakukan oleh individu dengan orientasi personal, sepersonal bercerita layaknya kultur sosial media. Rebecca A. Adelman melalui Coronavirus Lost and Found: A Pandemic Archive, mencoba mengundang publik untuk membagikan cerita tentang apa yang hilang dan lahir sebagai habitus baru. Inisiatif ini ia lakukan atas dasar ketertarikannya terhadap peran emosi dalam situasi penderitaan dan bertahan hidup. Selain itu, ada juga betweenyounme.nl oleh Mirjam Linschooten. Melalui laman ini, Mirjam mengajak publik untuk membagikan cerita tentang perubahan objek (personal) apa yang terjadi ketika pandemi. Perhatian atas inisiatif pengarsipan secara individual ini muncul atas dasar kebutuhan orang untuk berbagi cerita, dan/ atau impresi personal. 

Sembari terus berusaha mewujudkannya, kami percaya bahwa pengarsipan harus selalu kontekstual. Ketika semua praktik seni bergeser karena pandemi, kami mencoba untuk merekamnya. Tentu saja tidak mudah untuk merekam praktik-praktik seni-budaya yang bergeser ini, ketika hampir semua mendadak virtual. Akses memang mudah, tetapi agresivitas informasi tak bisa dihiraukan. Oleh karena itu, perlu kami akui bahwa bukan keutuhan dan kemapanan catatan peristiwa yang kami sasar, melainkan tangkapan atomistik tentang bagaimana ekosistem seni-budaya bertarung dengan keadaan, yang mungkin dapat menjadi kontribusi refleksi serta produksi pengetahuan kini dan kelak. 

Dari data-data yang kami kumpulkan, baik itu dari media massa, publikasi sosial media, hibah arsip dari publik, webinar, dan sedikit wawancara, ada tiga klaster yang kami tawarkan kepada publik sebagai bingkai. Pertama, Semesta Bertahan: praktik-praktik bertahan hidup yang dilakukan oleh para pegiat seni-budaya, seperti solidaritas pangan, pameran merespon pandemi secara tematik untuk kepentingan kekaryaan dan donasi, advokasi dan kerumitannya, serta bursa dan arisan karya. Kedua, Olah-alih Medium dan Kajian: beberapa pameran yang beradaptasi menggunakan platform digital serta pembicaraan di seputar itu. Ketiga, Potret Pustaka: tentang bagaimana dunia literasi berdinamika di saat pandemi. 

Pengarsipan yang kami lakukan tentu tidak bisa menjadi acuan tunggal untuk melihat dinamika ekosistem seni-budaya semasa pandemi. Meski demikian, paling tidak kami mencoba untuk meraba wajah praktik seni-budaya, terutama dari tradisi seni visual yang juga sedang berupaya beradaptasi dan mempertahankan nafasnya. 

Pengarsipan tidak hanya menjadi penting di atas tanah yang sedang bergeser. Bahwa sesungguhnya, ingatan akan selalu memiliki urgensinya ketika manusia belum punah. Tanpa menunggu pandemi, ingatan selalu menyimpan kenyataan bahwa kita selalu hidup di tengah bayang-bayang krisis. Kerentanan kita di kala pandemi justru menunjukkan bahwa mungkin kita selalu menyangkal, mengabsenkan keterdesakan untuk keterdesakan lain yang tidak jarang hadir dari luar. Merekam ingatan dan peristiwa di masa pandemi setidaknya menjadi titik bagi kita untuk mengakui kerentanan dan memikirkan ulang segala keterdesakan; menilik kembali segala pembicaraan dan praktik seni, bahkan persoalan-persoalan fundamental seperti ritme dan cara hidup yang sedang bergeser ini. 

Untuk melihat sebaran data Semesta Bertahan, silakan klik link checklist ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Pandemi dan Dunia Literasi Hari Ini

oleh Santoso Werdoyo

Pandemi Covid-19 dan kebijakan pemerintah yang muncul sangat mempengaruhi semua lini kehidupan, salah satu di antaranya adalah dunia literasi, muladi dari penerbitan hingga perpustakaan. Kami berusaha meraba situasi dunia literasi semasa pandemi ini dengan mengumpulkan informasi secara online dan bertegur sapa dengan beberapa pegiat literasi, dari pemerintah dan komunitas. 

Dampak pandemi bagi dunia literasi yang banyak dibicarakan adalah pasar buku konvensional yang anjlok. Himbauan jaga jarak mengakibatkan sebagian besar industri perbukuan mandek. Penjualan buku-buku di berbagai negara turun drastis. Di Indonesia turun sekitar 40-70 persen sejak Maret 2020. Sedangkan untuk penerbit, rata-rata dari April bisa bertahan setidaknya tiga sampai enam bulan, sisanya hanya 4-5 persen yang dapat bertahan satu tahun ke depan. 

Ikatan Penerbit Indonesia berupaya menyampaikan permasalahan ini kepada pemerintah, melalui Kemenparekraf. Mereka berharap pemerintah dapat memfasilitasi penerbit agar bisa menjual buku melalui platform digital. Pemerintah di beberapa negara di Eropa, seperti Inggris, Irlandia, Republik Ceko sudah melakukan upaya tersebut. Mereka membeli buku-buku berformat digital (e-book) dari para penerbit untuk kemudian didistribusikan ke masyarakat secara gratis melalui perpustakaan-perpustakaan negara. 

Di Indonesia, pasar e-book tercatat naik 55% sejak Januari hingga Maret 2020, jika dibandingkan dengan periode 2019. Namun memang masih belum maksimal, pasalnya produksi e-book masih dominan topik pendidikan. Permasalahan lainnya adalah belum ada perlindungan hak cipta secara legal bagi penulis yang menulis buku langsung dengan format digital. 

Selain pasar buku, himbauan jaga jarak juga membuat para pegiat literasi, khususnya perpustakaan merubah mekanisme pelayanan publik atau bahkan menutup untuk sementara waktu. Salah satunya perpustakaan yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY. Sampai sekarang layanan secara fisik hanya diberlakukan untuk pengembalian buku, dengan mekanisme drive-through. Untuk peminjaman buku, perpustakaan pemerintah DIY sudah memiliki mekanisme daring. Publik dapat mengakses buku elektronik melalui aplikasi i-jogja. Selain perpustakaan pemerintah DIY, beberapa perpustakaan lain seperti iPusnas, iJakarta, iJabar, dan iJatim juga melakukan model pelayanan yang sama. 

Selain pelayanan peminjaman buku digital, cara lain yang dilakukan perpustakaan pemerintah adalah menggelar beberapa webinar. Salah satunya adalah webinar bertajuk Bangkit dari Pandemi dengan Literasi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Jakarta pada 17 Juni 2020. Topik-topik yang dibicarakan adalah seputar lompatan pemanfaatan teknologi digital untuk pertukaran informasi, seperti pemanfaatan kanal youtube untuk produksi konten edukatif dan sumber ekonomi, serta penguasaan bahasa yang melampaui teritori. 

Perpustakaan non-pemerintah atau komunitas tentu lebih terdampak karena tidak semua memiliki infrastruktur yang mendukung untuk menghadapi pandemi ini. Sejak pertengahan Maret 2020 layanan onsite perpustakaan IVAA untuk publik ditutup. Baru pada awal Mei 2020, dengan situasi ‘new normal’, layanan onsite kembali dibuka tapi dengan mekanisme janjian, dan tetap menjalankan protokol kesehatan. Publik yang hendak meminjam buku dapat terlebih dahulu melihat koleksi di katalog online

Selain IVAA ada juga perpustakaan Yayasan Umar Kayam. Perpustakaan yang memiliki beragam koleksi pribadi milik almarhum Umar Kayam, yang sebagian besar berisi buku-buku, makalah dan kertas kerja bidang sastra dan sosial-budaya, saat ini juga memberlakukan protokol Covid untuk layanan publik. 

Mau tidak mau, pembatasan akses publik jadi tindakan yang harus dilakukan untuk memutus mata rantai virus. Meski tidak ada pengunjung yang mengakses ruang perpustakaan, deretan buku yang berjejer tetap harus diperhatikan. Kerja inventarisasi, klasifikasi, dan perawatan tetap dilakukan. Buku-buku tetap harus dibersihkan dari debu, harus dibuka-buka agar tidak lengket serta mengantisipasi jamur karena ruangan yang lembab. 

Dan tentu saja seorang pustakawan, atau pecinta buku bisa memanfaatkan waktu ini untuk mengolak-alik koleksi, mempertajam subjek klasifikasi, sembari membaca apa yang belum dibaca atau mengulang baca untuk merawat ingatan. Situasi pandemi ini dapat melahirkan berbagai imajinasi literasi pustakawan yang mungkin dapat dibagikan kepada publik, sebagai bagian dari kerja merawat buku. Salah satunya adalah dengan menulis, karena seperti kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan pustakawan punya amunisi besar untuk hal itu. 

Untuk melihat sebaran data Potret Pustaka, silakan klik link checklist ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Apa yang Berlalu Jika Pandemi Sudah Pergi?

oleh Sukma Smita dan Hardiwan Prayogo

Situasi pandemi, beberapa wilayah sempat melakukan karantina mandiri, jalanan juga sempat sepi, malam terasa lebih cepat datang daripada biasanya. Mudah ditemui berita pembatalan atau penundaan suatu pergelaran kesenian. Namun di sisi lain, setidaknya dari bulan Maret-Mei, IVAA mengarsipkan berbagai bentuk aktivitas seni budaya yang berupaya terus hidup. Berbagai pameran dan pertunjukan tetap digelar, yang tentu saja dengan banyak penyesuaian. Istilah pameran atau pertunjukan virtual menjadi sangat tidak asing. Praktik presentasi artistik seniman menggunakan medium online bisa dikatakan semacam fenomena viral yang menyebar dan menggandakan diri sebagai siasat bersama dan upaya penyesuaian situasi hari ini. 

Situasi ini seperti menjadi ilustrasi dari yang pernah ditulis Slavoj Zizek dalam buku Pandemic! (2020). Zizek menyebut bahwa sebelumnya definisi virus dan viral kerap merujuk pada virus digital yang tanpa disadari menginfeksi web-space. Dalam keseharian istilah viral juga kerap dikaitkan dengan berita atau informasi yang menyebar luas dalam media digital. Maka ada situasi yang barangkali tepat jika disebut kontras, dunia nyata yang sempat sunyi, bersanding dengan dunia maya yang ramai. Masing-masing dari kita tentu bisa menuliskan lebih dari satu acara, baik diskusi via live instagram, webinar, hingga live streaming music yang terlewatkan entah karena lupa atau jadwal yang bertabrakan. Masing-masing dari kita pasti memiliki cerita yang berbeda-beda, tetapi untuk mengawali tulisan, kami ingin memberikan beberapa pameran virtual yang terarsipkan.

Pameran Tunggal Yaksa Agus, “Titir
Titir adalah alarm sosial yang dibunyikan ketika akan datang suatu pageblug, baik bencana alam maupun wabah penyakit. Pameran diadakan secara virtual, dengan menggunakan akun sosial media yaitu laman facebook (Yaksa), instagram (@yaksapedia), dan twitter (Yaksapedia@studioBodo). 

“Farid Stevy, 120 Hour in Social Distancing”
Menurut Farid keterbatasan adalah sumber dari segala kreativitas. Social-physical distancing seharusnya jadi privilese besar bagi para kreator yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Menjadi abnormal adalah normal yang baru. Social-physical distancing yang membuat para kreator terpaksa mengambil jarak itu biasa. Farid mengajak teman-teman untuk “stay action” lewat berbagai kreasi dalam menghadirkan karya baru. Proyek seni “Farid Stevy, 120 Hour in Social Distancing” dilaksanakan dari 22 hingga 27 Maret 2020.

Jaga Jarak Vituart Solo Exhibition Kuart Kuat
Pameran tunggal Kuart Kuat ini berjudul Jaga Jarak, menampilkan karya Kuart melalui akun instagram @kuartkuat. Konsep ruang pamer virtual sengaja dipilih karena merespon situasi pandemi covid 19 ini. 

Pameran Tunggal Temanku Lima Benua “May Day” 
Pameran Tunggal Temanku Lima Benua berjudul May Day. Diselenggarakan pada 1 Mei melalui akun instagram @genz.exhibition, bertepatan dengan hari buruh internasional. Judul pameran yang dipilih disesuaikan dengan momentumnya dan karya-karya yang ditampilkan berusaha merepresentasikan isu tersebut.

Pameran Amal Covid-19
Dalam rangka menyikapi dampak pandemi Covid- 19, Ruang Dalam, NalarRoepa dan Lesbumi DIY menggelar pameran seni rupa virtual. Pameran ini bertujuan untuk amal/ membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Sebanyak 82 seniman-perupa memamerkan 130-an karya dua-tiga matranya. Pameran amal ini dilaksanakan mulai 15 Mei-15 Juni 2020 menggunakan sistem online (virtual) di akun instagram @pameranamalc19

Pameran Online Seni Rupa “Tahun Kembar”
Pameran komunitas seniman Gunungkidul, ABDW ini secara garis besar mencatat proses manusia beradaptasi dengan situasi pandemi, sekaligus refleksinya. Judul pameran Tahun Kembar, mengambil refleksi atas catatan arsip soal keberadaan “kejadian” di masa lampau, yang kadang terlupa. Piweling dalam serat Joyoboyo mengingatkan pada rujukan tahun-tahun dengan angka sama, dimulai tahun 1212 sampai tahun 2020. Tahun 2020 ini manusia mengalami Pandemi covid-19, perubahan besar kehidupan manusia yang melambat secara fisik karena wabah yang menyebar di seluruh dunia. Pameran ini bisa disaksikan di instagram @abdwproject dan ruang virtualnya di https://bit.ly/36gStoi 

Yayasan Mitra Museum Jakarta Peduli
Menghadapi dampak dari Covid19, Yayasan Mitra Museum Jakarta @mitramuseumjkt , berinisiatif melakukan gerakan dukungan kepada para seniman dan komunitas melalui gerakan #YMMJpeduli pada 12-22 Mei 2020, mengusung 40 karya dari 30 seniman asal Bali, Bandung, dan Yogyakarta. Hasil dari penjualan koleksi lukisan akan 100% diberikan kepada para seniman, artisan, dan para pekerjanya. 

Covid Affects Art 2020
Seni yang dianggap sebagai catatan jaman beserta konteks yang mengiringinya, merasa perlu juga mencatat situasi krisis karena pandemi ini. Pameran ini berkonsep virtual exhibition tour, jadi menggunakan e-katalog sebagai media sekaligus ruang pamer lebih dari 180 seniman. Tidak ada akun tersendiri untuk pameran ini. Karya dipamerkan pada masing-masing akun sosial media seniman.

Pameran Virtual Fotografi Historis Bung Karno: Budaya/Seni
Dilaksanakan guna turut serta memperingati bulan Sukarno dan Pancasila pada Juni 2020. Pameran ini menyajikan 30 foto terkait Sukarno dan budaya/seni, ditambah dengan 15 karya seni rupa sebagai konten pendukung pendukung, seperti karya Basoeki Abdullah, Dullah, Lee Mang Fong, Dukut Hendronoto, F. Sigit Santoso, Galam Zulkifli, Galuh Tajimalela, Maspoor Ponorogo, Rina Lukis Kaca, dan lain-lain. Pameran virtual ini dibuka dengan sambutan dari Hilmar Farid, Mikke Susanto, dan Judi Wahjudin. Acara ini menyelenggarakan pameran virtual di akun IG dan FB balaikirti. Selain itu juga diadakan kompetisi imagi digital Bung Karno.

Pameran “Virtual Affordable ’07”
Pameran ini merupakan bentuk solidaritas dari perupa seni lukis ISI Yogyakarta angkatan 2007. Pameran virtual di akun instagram @virtualartexhibition ini juga bertujuan untuk amal untuk seniman terdampak covid-19.

Pameran di Rumah Saja
Sica.asia menggelar pameran online sebagai respon atas situasi covid-19. Pameran ini memanfaatkan media digital sebagai ruang pamer yang bisa diakses semua kalangan. Karya-karya yang ada dalam pameran virtual ini tidak secara eksplisit membicarakan situasi pandemi Covid-19.

Pameran Potret: Tak Kenal Maka Tak Sayang
Ada banyak wacana mengenai praktik melukis maupun membuat potret yang dicatat para ahli, mulai dari patung batu hingga fotografi, yang klasik hingga yang kini. Maka meneropong praktek seni lukis potret dari jaman ke jaman berarti juga menelaah dan merefleksikan kondisi manusia pada konteksnya. Dua seniman: @jamilsupriatna7694 dan @toni_antoniuz seolah menyumbang nilai berbeda pada seni lukis potret. Pameran ini bisa dilihat di instagram @orbitaldago

Peace in Chaos
Pameran ini berawal dari art project yang sudah berjalan pada beberapa bulan sebelumnya. Lahir dari keresahan tatanan sosial atas dunia seni khususnya bagi seniman difabel. Seiring berjalannya waktu beberapa rencana harus berubah dan menyesuaikan kondisi yang tengah terjadi dan memunculkan tema Peace in Chaos. Pameran Virtual ini ingin tetap menjaga asa dan berdamai dalam kondisi pandemi.

Sumur di Ladang
Sumur di Ladang menerapkan pola berbeda dari yang pernah dikerjakan. Pola tersebut yaitu seseorang menggambar sketsa, selanjutnya sketsa difoto atau di-scan dan dikirimkan melalui WhatsApp (WA) ke Sanggar Cetak Gen Druwo (SCGD) untuk dibuatkan klise cetak hingga proses cetak. Pembuat sketsa dengan penyetak adalah dua pihak atau orang yang berbeda. Metode ini dipilih sengaja karena alasan pembatasan sosial di era pandemi.

Inside Maya
Sebuah pameran yang digelar oleh Adhik Kristianto dan Agus Cavalera yang akan diselenggarakan secara online dan offline. Pameran ini mencoba merespon situasi yang kerap digaungkan, yaitu new normal. Pameran ini bisa diakses melalui instagram @barbaradoz dan linktr.ee/INSIDE.MAYA.2020

Montage: Found Object
Situasi pandemi yang memaksa orang berdiam di dalam rumah, membuat orang mengingat kembali bahwa ruang-ruang privat menyimpan artefak kultural penghuninya. Pameran fotografi ini menampilkan benda-benda rumahan yang dipotret menjadi bahasa visual. Pameran ini bisa diakses melalui instagram @milisifilem 

klik gambar di atas untuk melihat infografis dengan lebih jelas

Setiap pameran tentu memiliki narasi masing-masing, terutama jika melihat karyanya secara formalis. Ada yang memang secara tegas menjadikan covid-19 sebagai tema, ada yang tidak, tetapi ada juga yang memanfaatkan (dalam artian positif) situasi berjarak ini seperti proyek Farid Stevy, 120 Hour in Social Distancing. Berbeda kasus jika jadwal pameran memang sudah lama dirancang jauh-jauh hari. Tetapi tidak sedikit pula yang dilaksanakan semata-mata untuk bereaksi terhadap situasi pandemi. Apakah para seniman memiliki ketakutan untuk hilang dari peredaran di masa pandemi ini? Atau semata karena kebutuhan praktis untuk memenuhi kebutuhan? 

Selain guliran perhelatan seni berbasis virtual, penulis dan pengamat seni juga kemudian banyak membaca praktik artistik perubahan medium presentasi ini. Sejauh yang bisa kami arsipkan barulah yang membandingkan ruang pameran/ pertunjukan online/ offline-streaming/ live. Beberapa di antaranya bisa diakses pada tautan ini. Kami juga mengumpulkan arsip kliping media cetak dan digital tentang seni masa corona secara umum, daftarnya bisa diakses pada link berikut.

Argumen yang beredar atas situasi ini memang menarik, terutama pendalaman atas perubahan medium dan perbandingannya. Tetapi jika direnungkan kembali, dalam situasi pandemi yang mengakibatkan pembatasan sosial dan kerumunan, masih relevankah membandingkan keduanya? Dengan kata lain, orang bukannya tidak mau menggelar pameran offline/ fisik, atau live performance, tetapi tidak bisa. Mau tidak mau, maka siasat yang dilakukan adalah memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan media sosial untuk tetap mempertemukan karya-karya seniman dengan publik. Ada persoalan jarak yang coba diretas dengan teknologi. Lantas benarkah kehadiran teknologi telekomunikasi dan medium virtual menjawab persoalan jarak ini?

 

Interaktivitas dan Kolaborasi

Demi merefleksikan praktik artistik dengan medium virtual ini, menjadi menarik untuk melihat sedikit ke belakang sejauh apa seni berbasis medium digital ini telah dipilih oleh seniman sebagai media presentasi. Dari beberapa peristiwa seni, setidaknya IVAA memiliki catatan arsip bahwa presentasi karya berbasis virtual bukanlah hal baru. Pertama adalah Agan Harahap.

Agan menempatkan akun instagramnya @aganharahap sebagai ruang pamer pribadinya, sebagaimana pemaknaan publik atas fungsi Instagram, layaknya jurnal aktivitas pribadi yang terbuka untuk publik. Agan melakukan self-curating dan menentukan karya seperti apa yang bisa ditampilkan untuk dua pilihan ruang pamer, offline dan online. Lebih jauh Agan menempatkan karya fotonya sesuai logika kerja sosial media hari ini hingga interaktivitas penggunanya. Dengan kata lain, instagramnya digunakan untuk memberi tahu orang tentang aktivitas sehari-hari, namun dengan sentuhan manipulasi foto dan caption yang naratif.

Jika salah satu dampak dari pandemi ini adalah membuat orang mencoba mempermainkan keadaan dengan teknologi, pameran Influx: Strategi Seni Multimedia di Indonesia tahun 2011 bisa menjadi contoh kedua tentang bagaimana teknologi menjangkau wilayah-wilayah personal, termasuk kerja para pelaku seni. Acara yang digelar di Taman Ismail Marzuki ini bertepatan dengan peringatan 10 tahun Ruangrupa. Influx menampilkan berbagai macam karya seperti seni bunyi, seni instalasi, dan yang terbanyak adalah seni video dengan berbagai media presentasi. Memang sulit membandingkan pameran yang masih bisa diselenggarakan secara fisik, dengan situasi sekarang yang memaksa pameran hanya bisa digelar secara online/ virtual. Namun satu yang tampaknya bisa menambah panjang nafas obrolan tentang seni masa pandemi adalah wacana estetik pada media dan teknologi. 

Salah satu peserta pameran, Krisna Murti, menilai bahwa gagasan utama dari multimedia adalah interaktivitas (keterlibatan langsung dengan publik). Keterlibatan ini dilakukannya melalui karya (Miss) Call Me Please. Sebuah karya yang mengajak publik untuk melakukan miss call pada ponsel yang terpasang pada unit karya instalasinya untuk menghasilkan bunyi angklung. Pada masa pandemi ini, interaktivitas melalui teknologi semacam ini juga dilakukan oleh Papermoon Puppet Theatre pada karya (In Your Pocket) Story Tailor. Dikutip dari harian Kompas 1 April 2020, Papermoon mengajak penonton dari rumah untuk mengusulkan satu tema cerita sesuai keinginannya. Tema ini kemudian akan dijahit oleh Papermoon dengan dua tema lainnya menjadi sebuah pementasan pendek selama 5-7 hari. Pementasan ini direkam dan dikirimkan langsung ke ponsel setiap penonton.

Selain soal interaktivitas, hal lain yang bisa mulai diretas atas adalah kolaborasi. Sapto Rahardjo menandai jaman perkembangan teknologi ini pada Multimedia Performance “Seni untuk Bumi, Membawa Tradisi Menuju Pencerahan” dengan kolaborasi lintas bidang. Pertunjukan tersebut mengkombinasikan antara live dengan tidak live. Sapto berkolaborasi dengan suara pesinden Bei Mardusari, penulis berkebangsaan Perancis Elizabet, seniman asal Amerika Ray Weisling, komponis Alex Dea, siswa kelas VI SD Berbah Panggah, pemain kendang tunggal Sujud Sutrisno, Jompet Kuswidananto, “tarian” lampu senter dan layar ponsel dari ratusan penonton yang duduk di tribun. Seluruh atraksi dimunculkan di layar dengan alunan musik campur, plus aneka sound effect dari komputer. 

Kurang lebih demikian jalannya pertunjukan yang diliput oleh harian Kompas, yang terbit pada Selasa 14 November 2006. Pertunjukan yang merupakan bagian dari Festival Seni Pertunjukan Internasional tahun 2006 ini mencoba ingin senantiasa mengeksplorasi seni tradisi melalui kolaborasi dengan bantuan multimedia untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Ambisi demikian bisa saja terwujud pada masa pandemi ini. 

 

Tuntutan Pandemi = Replikasi Ruang Nyata ke Ruang Virtual?

Contoh praktik yang memuat kata kunci interaktivitas dan kolaborasi tentu masih sangat banyak jika mau ditelusuri. Bisa diartikan praktik seni berbasis teknologi ini bukan hal baru. Praktik presentasi ini menjadi seperti virus yang viral karena tuntutan situasi hari ini. Barangkali tuntutan situasi lah yang membuat orang seolah melihatnya sebagai temuan baru. 

Brigitta Isabella dalam webinar Estetik dan Politik: Kontinum di Ruang Krisis, mengamati bahwa ada upaya mereplikasi white-cube dalam pameran virtual. Artinya seniman memiliki bayangan interaksi karya dengan publiknya, bahkan dalam pameran virtual pun masih mereplikasi logika white cube. Dengan kata lain, imajinasinya dilandasi atas ruang virtual yang hadir untuk mereplikasi ruang nyata. Coba lihat lagi contoh-contoh pameran di atas, masih digunakannya tanggal pembukaan-penutupan, seremonial pembukaan dan sambutan, hingga dibuatnya ruang pamer virtual. Belum ditemukan upaya memanfaatkan fitur-fitur khas yang dimiliki oleh media sosial ini. Bahwa benar tema dan narasi pameran berusaha kontekstual, namun jika wacana mengenai teknologi bisa diperdalam tidak hanya soal peretas jarak, wacana seni masa pandemi nampaknya bisa lebih reflektif dan beragam. Interaksi publik dan kolaborasi pada karya rasanya perlu semakin dielaborasi pada masa pandemi ini, yang sekali lagi harus diingatkan bahwa, pembatasan sosial membuat manusia dipaksa berinteraksi melalui medium teknologi, khususnya ponsel.

Namun dibalik itu semua sebenarnya apa yang ada di benak para pelaku seni di masa pandemi ini? Apakah secara tidak sadar ada tuntutan bahwa seniman adalah orang yang bertugas harus dengan cepat merespon situasi aktual secara artistik? Atau semata-mata karena hal praktis soal pemenuhan kebutuhan finansial? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa saja digunakan sebagai afirmasi bahwa aktivitas seni di ruang-ruang virtual ini hanyalah P3K di masa krisis. Bahwa benar kita semua harus berpikir positif bahwa pandemi akan berlalu. Tetapi interaksi manusia dengan teknologi telekomunikasi dan media sosial tidaklah akan ikut berlalu. Olah-alih medium bukan fenomena baru dan semata-mata penyelamatan atas situasi darurat. Kita akan mencatat bagaimana ekosistem kesenian bisa bertahan atau justru melakukan serangan balik mematikan pada situasi krisis kesehatan ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.