Category Archives: Kabar IVAA

Kontekstualisasi Arsip, Redefinisi Seni dan Politik

Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sekira kurang dari satu semester, tim program IVAA tengah menyiapkan katalog data dengan tema Seni, Aksi, dan Jogja sebagai Ruang Urban. Buku Katalog Data IVAA ini disusun dari berbagai peristiwa seni budaya yang mengiringi berubahnya arah gerak kota Jogja pasca 1998. Penyusunan buku ini dilatarbelakangi dengan semangat untuk menggarisbawahi beragam aksi seni budaya yang mengambil bagian cukup penting dalam kritik sosial serta produksi pengetahuan. Selain itu, penerbitan ini juga merupakan usaha untuk melakukan kontekstualisasi data dan peristiwa, dengan menarik pembacaan ke ranah persoalan.

Persoalan yang dimaksud di sini ialah berbagai hal yang hadir ketika kota ini sedang digerakkan menuju standar tertentu, seperti standar kota global ataupun untuk mengejar predikat tertentu, sebagai kota wisata budaya dsb. Tepat ketika Yogyakarta sedang digerakkan ke arah tertentu, berbagai respon kreatif juga hadir mewarnai, baik yang datang dari kelompok seniman maupun inisiatif warga. Subjek seni disini juga sengaja kami longgarkan, untuk memeriksa berbagai model kolaborasi yang selama ini sering disebut sebagai metode yang terbuka.

Kehadiran buku katalog data ini kelak akan dijadikan pijakan narasi untuk festival Arsip IVAA yang akan dihelat di jelang penghujung tahun ini. Harapannya, tujuan dan maksud yang menjadi spirit kami untuk menghidupkan arsip sekaligus membuat kerja pengarsipan kontekstual dengan jaman juga tetap terjaga. Selain untuk melakukan kontekstualisasi atas berbagai aksi seni dan budaya yang selama ini dilakukan selama hampir dua dekade pasca 1998.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Persiapan JABN dan Kabar dari Kerja Jaringan Gunungkidul

Oleh: Pitra Hutomo

Tahun 2016 menandai jeda tahun kedua pasca penyelenggaraan Hibah KARYA! (Kembangkan Arsip Budaya!), yang di tahun 2013 membuka kesempatan bagi para pekerja seni untuk mereproduksi gagasan setelah meneliti arsip budaya koleksi anggota Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN). Di tengah periode jeda, IVAA melakukan evaluasi besar menjelang satu dekade pembaruan visi dan misi lembaga. Hasil evaluasi IVAA merumuskan kebutuhan untuk merevitalisasi konsep JABN, agar JABN bisa mewadahi praktik pertukaran pengetahuan melalui kerja pengelolaan dan pengkajian arsip. Misi ini tentu berbeda dengan JABN sebelumnya, yakni menjadi wadah untuk bertukar pengetahuan tentang praktik alih media rekam, sekaligus jejaring antar pembutuh solusi untuk keterbatasan sarana fisik untuk penyimpanan dan preservasi dokumen.

Makna arsip budaya digali lebih dalam pasca IVAA menerbitkan buku “Arsipelago: Kerja Arsip dan Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia.” Buku Arsipelago dibawa ke beberapa kota untuk didiskusikan dengan praktisi arsip, sejarah, dan media baru. Penamaan “Menanam Arsip” sebagai judul rangkaian diskusi bermaksud membangkitkan rekam jejak peradaban manusia di komunitas-komunitas agraris yang terhimpit karena modernitas telah memaksa terjadinya alih fungsi dan hilangnya hak pemanfaatan lahan akibat pergantian kepemilikan. Dalam komunitas yang mudah lupa karena (di antara sebabnya adalah) jarang mencatat, merefleksikan perubahan lingkungan adalah kerja kebudayaan. Konon, semakin canggih kemampuan manusia untuk mewujudkan gagasan artistik karena kecakapan mengolah medium atau tergarapnya ruang-ruang apresiasi seni sebagai ekspresi maupun disiplin, semakin tinggi pula peradaban. Apakah benar demikian jika sejak awal cara mengakses pengetahuan dibatasi otoritas dalam ruang-ruang pendidikan formal?

Kasus di Pantai Kapen/Watukodok sempat mengisi halaman muka Tribun Jogja. Di lokasi konflik, warga mulai ditempa pengalaman menghadapi derasnya arus modal di sekitar mereka, dengan maupun tanpa bukti keterlibatan birokrat setempat atau Kasultanan sekalipun.
Sumber: Tribun Jogja, 30 Mei 2015

Maka, di tahap awal ini IVAA sengaja hendak membebaskan studi literatur dari upaya teorisasi praktik-praktik keterlibatan maupun ketersambungan dalam disiplin seni (participatory and engagement in art). Sebagai pihak yang setiap hari menggeluti laporan kerja budaya terkini lalu mencari konteks pada praktik-praktik masa lampau, mempelajari ekspresi artistik dan perluasannya yang terang-terangan memasang label ‘seni partisipatoris’ hanya akan berhenti sebagai laku pengawetan. Karena itulah metode riset aksi menjawab kebutuhan kontekstualisasi untuk rekaman yang di masa mendatang menyusun tubuh arsip budaya Indonesia. Ruang lingkup yang kami tuju adalah spektrum yang menggunakan seni budaya khususnya seni rakyat, sebagai komoditas. Studi literatur berangkat dari kebijakan nasional tentang kebudayaan, pariwisata, dan pendidikan berdasarkan sejarah nomenklatur kementerian hingga dua tahun belakangan menjadi badan tersendiri. Konteks setempat di lingkungan terdekat IVAA di Yogyakarta mensyaratkan pula pemahaman tentang kebijakan daerah, mulai dari konsekuensi penerapan paradigma Keistimewaan di provinsi hingga desa, sekaligus relasi kuasa yang bekerja karena keberadaan Kraton sebagai simbol budaya dan politik permainan politik identitas.

Peta wisata Gunungkidul yang menunjukkan potensi pariwisata alam.
Sumber: visitingjogja.com

Riset aksi yang mendahului guliran baru JABN berbekal kesamaan melihat potensi fatal komodifikasi budaya di Gunungkidul, khususnya untuk warga pesisir selatan di deretan pantai Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. IVAA bekerja sama dengan Rumah Belajar Rakyat dan beberapa orang warga Watukodok dan Sepanjang mempelajari dan mendokumentasikan apa saja yang berubah sejak pantai-pantai di Desa Kemadang dibuka.

Komposisi profesi di Desa Kemadang. Sumber: kemadang-tanjungsari.desa.id

Data kependudukan Desa Kemadang menunjukkan bahwa warga yang bekerja di sektor pertanian dan perkebunan mencapai lebih dari 2000 jiwa, melampaui jumlah warga yang berprofesi lain. Karena ada kebutuhan mengedepankan nilai budaya setempat sebagai daya tarik untuk wisatawan, Dinas Kebudayaan DIY menerjunkan individu-individu sebagai pendamping budaya.

Kami berangkat dari beberapa pertanyaan penelitian, yakni:

  1. Benarkah warga Desa Kemadang meningkat taraf hidupnya karena membuka warung makan dan kamar mandi di pantai?
  2. Jika pariwisata bisa meningkatkan taraf hidup, mengapa tahun 2015 warga pengelola Pantai Kapen/Watukodok menghadapi ancaman penggusuran oleh pembeli tanah yang membekali dirinya dengan surat kekancingan, atau tanda bukti pemakaian tanah dari kantor pertanahan Kraton?
  3. Bagaimana warga pantai Gunungkidul memaknai kedaulatan mereka melalui ikatan atas tanah warisan nenek moyang?
  4. Apakah warga pernah dilibatkan dalam perencanaan tata ruang desa dan tata letak pantai?
  5. Bagaimana kondisi sebelum dan sesudah pendamping budaya bekerja di desa-desa budaya?
Cuplikan dari lembar presentasi berjudul “Pariwisata Berbasis Budaya sebagai Wujud Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan” yang menurunkan unsur pariwisata budaya menjadi produk (budaya) dan pasar (wisatawan); juga apa saja potensi kebudayaan dan kepariwisataan Kabupaten Gunungkidul
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Desember

Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Jan-Feb 2017 | Memeriksa Kembali Seni dan Bali

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Januari-Februari 2017

Memeriksa Kembali Seni dan Bali

Salam jumpa untuk pembaca semua. Senang rasanya bisa secara rutin menyapa pembaca sekalian melalui buletin dua bulanan ini. Di edisi pertama tahun 2017, kami telah mempersiapkan beberapa sajian untuk dibagi.

Pada edisi sebelumnya, kami melakukan observasi sederhana dan pembacaan arsip mengenai beragam praktik yang dilakukan oleh seniman, yang sering diasosiasikan sebagai praktik riset. Dengan berbekal beberapa pertanyaan dasar, kami mulai penelusuran dengan langkah yang kecil, pembacaan arsip yang harapannya akan mengantar kami pada penyelidikan dan penelusuran lanjut yang akan kami lakukan bertahap.

Kali ini, kami menyoroti fenomena yang sedikit berbeda. Perhatian tim redaksi pada edisi Januari-Februari ini kami arahkan pada kecenderungan identitas etnis yang muncul dalam aktivitas berkesenian kita. Sudah lama diketahui memang, bahwa kelompok seniman berbasis etnis atau daerah ini banyak mewarnai dinamika kesenian di Yogyakarta. Ragam pameran seni rupa yang dikemas dengan istilah yang memiliki asosiasi etnis tertentu atau dengan nama daerah juga tidak hanya satu dua kali muncul. Pertanyaannya tentu bukan pada keaslian atau kekhasan acara yang hadir ke publik. Justru pernyataan-pernyataan yang secara implisit menekankan pada keaslian tradisi ini yang kita periksa satu persatu, kita pertanyakan lagi, dengan membuka beberapa catatan dari koleksi arsip IVAA.

Banyak pembahasan yang bisa dihasilkan ketika menarik fenomena ini ke dalam beberapa bidang, namun kali ini, kami membatasi pada satu pertanyaan, sejauh mana pameran atau perhelatan seni rupa dengan identitas etnis ini juga menjadi bagian dari produksi pengetahuan?

Ulasan yang kami hadirkan disini tentu bukan merupakan jawaban tuntas, namun lebih hadir sebagai pancingan dan penjaga ingatan, yang mengawal pada berbagai tanya selanjutnya.

Selamat membaca dan salam budaya!

Lisistrata Lusandiana
Kepala Redaksi


Baca Arsip

Memeriksa Kembali Seni dan Bali, Melihat Pengetahuan yang Terbagi
Oleh: Tiatira Saputri

Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh : Himawan Kurniadi, Brigitta Engla, Tiatira Saputri, dan Hertiti Titis LW.
a. Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul
b. International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities
c. Contemporary Art from Bali 2016
d. Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”

Sorotan Arsip
Koleksi Arsip Moelyono
Oleh : Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh : Santosa & Lisistrata
a. Post War: Art Between the Pacific and the Atlantic, 1945-1965
b. Perspektif Baru: Penulisan Sejarah Indonesia
c. Menjadi Jogja: Memahami Jatidiri Dan Transformasi Yogyakarta

Agenda RumahIVAA
Persiapan JABN dan Kabar dari Kerja Jaringan Gunungkidul
Oleh: Pitra Hutomo

Kontekstualisasi Arsip, Redefinisi Seni dan Politik
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Archive Showcase: Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa
Oleh : Tiatira Saputri

Pengumuman Kantor
Cerita magang di IVAA
Oleh : Alexander Bloom

Program Magang IVAA – 2017
Poster oleh: Beny Wijaya Cahya

#SorotanDokumentasi Buletin IVAA Dwi Bulanan Jan-Feb 2017

Membuka lembaran daftar perolehan dokumen baru, hingga hari ini tim dokumentasi IVAA tercatat telah merekam sejumlah 27 peristiwa seni budaya di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada awal tahun ini agaknya khalayak seni rupa Indonesia tengah menyusun persiapan penyelenggaraan perhelatan-perhelatan besar yang akan bermunculan mulai pertengahan hingga akhir tahun seperti ArtJOG, Biennale Jogja, dan Jakarta Biennale. Hal ini kami simpulkan demikian karena tidak terlalu banyak penyelenggaraan pameran, diskusi, maupun performance yang kami jumpai sejak kalender baru dipasang hingga tulisan di rubrik Sorotan Dokumentasi ini dibuat. Keadaan ini memberi kesempatan tim dokumentasi IVAA yang beranggotakan peserta Program Magang IVAA dan dikoordinatori oleh Dwi Rachmanto untuk mengambil nafas, mengingat bahwa biasanya kami bagaikan tanpa jeda merekam banyaknya aktivitas seni budaya. Pada rubrik Sorotan Dokumentasi kali ini kami akan menyoroti 4 peristiwa yang kami anggap menarik. Uraian beserta tautan menuju rekaman dokumentasinya dapat disimak di bawah ini.


1. Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul
Oleh : Himawan Kurniadi

2. International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities
Oleh : Brigitta Engla dan Tiatira Saputri

3. Contemporary Art from Bali 2016
Oleh : Hertiti Titis Luhung Weningtyas

4. Pameran Arsip Proyek Milisi Fotocopy 2011-2016: “Ngluruk”
Oleh : Hertiti Titis Luhung Weningtyas


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul

Oleh: Himawan Kurniadi (Kontributor)

Paduan dua kata, ‘Gunungkidul’ dan ‘pariwisata’ bagi segelintir orang bermakna jalan menuju peningkatan taraf hidup. Bagi mereka yang merasa mampu berkontribusi melihat hal ini dalam kerangka proyek pengembangan potensi, sedangkan yang lain berdalih tidak ingin menjadikan warga Gunungkidul sebagai penonton. Diskusi “Sisi Gelap Pariwisata Gunungkidul” adalah upaya menjajaki persepsi sekelumit putra-putri asal kabupaten di sisi tenggara provinsi DI. Yogyakarta ini, khususnya mereka yang bergiat sebagai pekerja LSM, mahasiswa, hingga langganan penggarap proyek negara atau kabupaten. Tujuan diskusi di Angkringan Mrikiniki, Wonosari yang berlangsung 18 Januari 2017 lalu ini bertumpu pada refleksi dan jajak pendapat kalangan masyarakat sipil yang menguasai konteks politik dan ekonomi setempat.

Beberapa pertanyaan kunci diajukan oleh dua pemantik diskusi, Tri Wahyu dari Indonesia Court Monitoring (ICM) dan M. Thonthowi dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam), Nahdlatul Ulama Gunungkidul. Forum semakin menarik karena paparan dan diskusi yang gamblang berlangsung antara pihak-pihak non pemerintah yang merasa selama ini bekerja terpisah dari proyek-proyek pemerintah untuk pengembangan kebudayaan.

Saat membahas gencarnya upaya mencitrakan Gunungkidul sebagai wilayah administratif yang paling membutuhkan skema industrialisasi pariwisata alam dan budaya, forum ini mempertanyakan mengapa pemerintah masih menggunakan proksi dinas provinsi atau investor? Sebagian peserta diskusi juga mengeluhkan cara-cara promosi pemerintah yang abai dengan kesiapan warga di lokasi-lokasi yang terlanjur digenjot sebagai tujuan pariwisata. Seolah-olah bagi pemerintah kabupaten, naiknya kunjungan wisata hanya berdampak pada kenaikan Pendapatan Asli Daerah dari retribusi atau biaya tiket masuk ke klaster area wisata, khususnya di kawasan pesisir selatan.

Pemerintah memang menyediakan sejumlah anggaran untuk dikelola desa dan terkadang disertai intervensi langsung dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan yang mewakili tubuh provinsi di Kabupaten. Selain menyalurkan anggaran yang dikelola desa, pemerintah menempatkan sejumlah sumber daya manusia sebagai ‘Pendamping Desa Budaya’. Desa Budaya adalah salah satu turunan keistimewaan DIY yang ditetapkan dalam Pergub DIY No.36/2014. Keberadaan para pendamping adalah untuk menyelaraskan misi pengelolaan desa dengan arahan utama pertumbuhan ekonomi, melalui skema permodalan untuk Usaha Kecil dan Menengah hingga promosi lokasi tujuan wisata melalui ekspresi seni rakyat.

Percakapan tentang keberadaan para pendamping sebagai tenaga kontrak yang mendapat Upah Minimum Provinsi dari Dana Keistimewaan menggiring forum untuk menyoroti perihal basis modal di Gunungkidul. Skema industrialisasi pariwisata di bidang kebudayaan dicurigai telah mendorong adanya penyeragaman bentuk-bentuk ekspresi setempat dan malah mencabut akar kebutuhan atas seni rakyat itu sendiri. Ini terjadi misalnya untuk “Sedekah Laut” yang sebelum ‘didampingi’ sebatas menandai momen berkumpul antar warga pedukuhan suatu desa setelah panen raya. Acuan waktu yang khas terpaksa diabaikan karena acara budaya harus masuk kalender event budaya reguler Gunungkidul, dan harus dilakukan saat kunjungan tinggi pariwisata (high season).

| Klik disini untuk melihat video |


*Himawan Kurniadi (l.1986) adalah pegiat Rumah Belajar Rakyat di Siraman, Wonosari. Ia lulus dari Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta dan beberapa tahun belakangan intens dalam kerja-kerja pengorganisasian terkait isu pendidikan dan pariwisata.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Archive Showcase: Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa

Sudut Perpustakaan IVAA kini menjadi ruang kecil untuk Archive Showcase. Di tempat ini kami menyediakan sebuah komputer berisi dokumentasi foto, video, makalah & kliping digital, sepilihan katalog & buku, serta poster yang terbuka aksesnya bagi pengunjung untuk sejenak menelusuri koleksi tsb. Archive Showcase ini serupa miniatur pameran arsip karena ini merupakan hasil kurasi kami terhadap dokumentasi IVAA dalam bingkai tema tertentu yang secara rutin kami ganti. Penentuan tema Archive Showcase biasanya tersulut oleh gejala yang baru tumbuh di kancah seni rupa dan kebudayaan pada umumnya; yang kemudian menggelitik kami untuk menggalinya lebih dalam melalui bukti-bukti yang ada di penyimpanan arsip IVAA. Sejak akhir tahun 2016  kami mengamati bermunculannya pelbagai pameran yang diselenggarakan oleh para perupa asal Bali, bahkan pameran yang mengusung tajuk yang mengedepankan “Bali”. Selain menjadi tema Archive Showcase kali ini, lebih lanjut tema seni dan Bali ini juga kami rangkai dengan diskusi publik pada 16 & 17 Februari lalu, serta disusul dengan terbitnya Buletin Dwi Bulanan Edisi Jan-Feb 2017.

Archive Showcase
Melihat Identitas Etnis dalam Seni Rupa
“Seperti berdiri di antara …, apa?”

16 Februari – 20 Maret 2017
di Rumah IVAA

Pengantar oleh: Tiatira Saputri

Akhir-akhir ini beberapa pameran diselenggarakan dengan latar ‘Kebalian’. Lalu saya sendiri bertanya, kenapa ya? Tapi kemudian saya berpikir ulang. Karena pertanyaan ‘kenapa’ ini mengarah pada kondisi di mana saya (mungkin juga publik) merasa seakan berdiri di antara ‘Bali’ dan ‘bukan Bali’. Ini bisa juga terjadi pada pameran berlatar identitas etnis lainnya. Lalu jika menggunakan identitas etnis dalam seni rupa beresiko mengkotak-kotakan, maka pertanyaannya, mengapa ia dihadirkan? Tapi apakah identitas etnis ini benar-benar hadir? Dari sini saya mencoba melihat apa yang dibicarakan oleh seni rupa mengenai identitas etnis. Apakah identitas etnis ini dalam seni rupa melulu dihadirkan oleh sekelompok perupa dari daerah yang sama? Saya berkata demikian karena melihat kecenderungan pameran berlatar identitas etnis berasal dari kelompok-kelompok dengan semangat kedaerahan. Seperti Sanggar Dewata Indonesia (SDI), Kelompok Seni Rupa Jendela, Sanggar Sakato, Sanggar Bidar Sriwijaya, Pasuruhan, dsb. Lalu apa yang dibicarakan pameran kelompok etnis ini mengenai identitas?

Ada yang bicara mengenai eksekusi obyek berdasar pada laku yang selama ini dijalankan. Seperti pengantar kuratorial Enin Supriyanto pada pameran “Cilukba!” Jendela (2007). Ia mengatakan bahwa alusi, moda komunikasi masyarakat Minang dalam bentuk kiasan mempengaruhi cara perupa Jendela (Yunizar, Handiwirman, Yusra Martunus, Jumaldi Alfi, dan Rudi Mantofani) dalam memaparkan obyeknya. Atau sebaliknya, karakter visual ini ditampilkan dari pemberontakan terhadap tradisi yang sudah mapan. Seperti yang saya dapati pada tulisan Suwarno Wisetrotomo untuk pameran “Sebelas Pelukis” SDI (1996). Bahwa gaya abstrak ekspresionis perupa Bali merupakan upaya untuk menerobos tradisi melukis dengan teknik tinggi seperti gaya Ubud, dsb. Ada pula yang berbicara mengenai filosofi melalui tema karya atau pameran. Seperti misalnya konsep BAKABA (berkabar) kelompok Sakato. Berdasar dari kaba (kabar), tradisi berkabar masyarakat Minang melalui musik, gerak tubuh, gestur, pakaian, dsb. Atau konsep makro-mikro kosmos yang tersirat pada tema-tema ekologi karya perupa-perupa Bali.

Tapi apakah identitas etnis dalam seni rupa selalu berkaitan dengan nilai lokal atau tradisi perupa dari daerah atau kelompok yang bersangkutan? Kita mengetahui bahwa di tahun 1990-an Sanggar Dewata Indonesia membuka diri untuk perupa yang tidak berasal dari Bali, begitu juga dengan Sanggar Sakato. Dialog dengan perupa dari berbagai latar belakang disadari sebagai upaya untuk berkembang. Sehingga saya rasa hari ini kurang tepat jika melihat identitas etnis dalam seni rupa sebagai gerakan primordialis. Contohnya, sekarang Kebalian pun hadir pada karya-karya perupa yang tidak punya hubungan kesejarahan atau bahkan darah dengan keturunan Bali. Itu artinya dalam seni rupa ada lebih banyak keleluasaan untuk siapa dan bagaimana merepresentasikan identitas etnis. Oleh sebab itu pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan seni berlatar identitas etnis selalu layak untuk diajukan kembali. Saya pikir kondisi demikian menjadi celah subur bagi produksi pengetahuan. Dan berangkat dari situ kami mulai mengumpulkan arsip serta pustaka yang berkaitan dengan identitas etnis dalam seni rupa.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda RumahIVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities

Oleh: Brigitta Engla* dan Tiatira Saputri

Universitas Sanata Dharma (USD) mengadakan konferensi internasional bertajuk “International Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) Communities” yang dibuka pada Jumat (13/1) bertempat di Auditorium Driyarkara, USD, Yogyakarta. Acara ini berlangsung selama dua hari yakni 13-14 Januari 2017 di Gedung Lembaga Studi Realino, USD. Konferensi ini diadakan khusus untuk mengenang Benedict Anderson, sejarawan Indonesianis asal Amerika Serikat yang dikenal melalui bukunya “Imagined Communities”.

Konferensi ini menghadirkan para dosen, peneliti, juga mahasiswa dari beberapa negara untuk turut serta menjadi pembicara, yakni dari Indonesia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Acara dikemas menjadi dua sesi yakni pleno dan paralel, pada tiap sesi paralel diisi oleh enam pembicara. Untuk peserta yang menghadiri acara sebagai pendengar, konferensi dibuka secara gratis.

Acara dimulai tepat waktu pukul 09.00 WIB yang diawali dengan pembukaan, salah satunya dari Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku rektor Universitas Sanata Dharma. Acara dilanjutkan dengan sesi pleno yang menghadirkan dua orang pembicara dari University of the Philippines, Ramon  Guillermo dan Coeli Barry dari Mahidol University yang dimoderatori oleh Melani Budianta dari Universitas Indonesia. Ruangan seminar terlihat penuh dipadati oleh para tamu serta peserta seminar.

Dalam ulasannya, Ramon Guillermo berbicara mengenai bahasa yang merepresentasikan sebuah kultur tidak bisa dengan mudahnya diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Ada rasa yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa asing. Bagaimana kemudian menghadirkan sebuah istilah dalam sebuah kultur tidak hanya untuk dimengerti tetapi juga dapat menjadi sebuah refleksi bersama.

Lain halnya dengan Gullermo yang membahas keragaman dalam bahasa, Coeli berbicara mengenai keragaman karakter kelompok, khususnya kelompok konservatif dan kelompok ekstrim, dalam hal komunikasi politik. Coeli berpendapat harus ada upaya pendekatan dan stategi komunikasi yang berbeda dari kedua kelompok, agar benturan antara keduanya bisa diminimalisir.

Wacana kosmopolitan dalam kerangka ‘komunitas terbayang’ ala Ben Anderson ini tidak hanya dibahas dalam hal keragaman kultur bahasa dan karakter kelompok politik. Pada sesi-sesi berikutnya para pembicara juga membahas tentang dinamika masyarakat kelas bawah, penerjemahan, pertunjukan seni, dinamika kelompok-kelompok intoleran, gender serta pengaruh karya-karya Ben terhadap akademisi di Indonesia.

“Bagaimana bisa menjadi kosmopolitan tanpa menerjemahkan?”, pertanyaan pembuka ini sekaligus menjadi bekal untuk kami pikirkan selama konferensi berlangsung. Pengalaman hidup Ben Anderson sebagai penerjemah memperkenalkan bahwa tidak semua kata bisa diterjemahkan ke bahasa lain. Ini dikarenakan setiap kebudayaan memiliki konsep berbeda-beda dalam memaknai sesuatu. Roman Guillermo memberi beberapa contoh kasus dari pengalamannya bekerja bersama Ben Anderson dalam proyek penerjemahan. Misalnya, “rasa” tidak bisa diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa Inggris menjadi “feel” karena konsep “rasa” dalam bahasa Indonesia memiliki konsep yang berbeda dengan konsep Barat. Dalam bahasa Indonesia, “rasa” terkait dengan keberadaan manusia dalam jagad raya, sehingga tidak hanya terdiri dari “feel” tapi juga “sense” dan “means”. Sehingga ketika bicara “feeling” jika dalam bahasa Inggris dipahami sebagai memiliki “feel” dalam bahasa Indonesia dipahami sebagai kemampuan indrawi seseorang. Sehingga pada kasus kalimat “Perasaanku cair dan bercampur dengan mereka” yang diterjemahkan menjadi “my own feeling dissolve and mix with their” bisa saja mentah diterjemahkan menjadi “my feeling with faculty liquid and dissolve into their feeling”.

Masih bicara mengenai bahasa. Pada sesi paralel, Arief W. Djati membicarakan kuantitas masyarakat Tionghoa Surabaya sebagai masyarakat kosmopolitan dari jumlah bahasa yang mereka gunakan. Arief menggunakan teori Ben Anderson mengenai kosmopolitanisme kolonial, bahwa mereka yang disebut masyarakat kosmopolitan adalah orang-orang yang memahami beragam budaya dari kemampuan mereka menggunakan berbagai bahasa, bukan karena banyak berpergian ke berbagai tempat. Dikatakan bahwa masyarakat Tionghoa Surabaya fasih dalam menggunakan bahasa Belanda, Jawa, Hokkian dan Melayu. Hal yang juga menarik adalah presentasi dari Popi Primadevi mengenai sosial media. Hari ini sosial media memberi kita keleluasaan dalam membangun identitas sesuai dengan apa yang kita harapkan. Lalu pertanyaannya, komunitas seperti apa yang kita miliki dalam media sosial hingga memerlukan pembentukan identitas yang mungkin saja palsu? Melalui arsip-arsip ‘iseng’nya, Popi mencoba mendokumentasikan dinamika yang terjadi pada sosial media untuk melihat bagaimana image-image identitas ini diterima dan diterjemahkan kembali oleh komunitas maya.


*Brigitta Engla adalah lulusan S1 Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, mengikuti Program Magang IVAA di bulan Desember 2016 – Januari 2017.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Program Magang IVAA – 2017

IVAA membuka kesempatan magang bagi kawan-kawan mahasiswa dan umum yang ingin mendapatkan pengalaman terlibat dalam kerja-kerja pengarsipan seni rupa. Dalam kesempatan kali ini, kawan-kawan yang tertarik magang di IVAA dapat memilih 2 bidang kerja yaitu: (1). Program; dan (2). Kajian Arsip.

Program magang IVAA berlangsung minimal selama 1 (satu) bulan. Peserta magang akan mendapatkan fasilitas keanggotaan KawanIVAA dan menjadi bagian tim kerja IVAA selama periode berlangsung.

Persyaratan dokumen:
1. Resume/ Curriculum Vitae beserta kontak yang bisa dihubungi.
2. Surat lamaran magang (termasuk pilihan bidang)
3. Surat pengantar dari kampus (jika masih berstatus mahasiswa)

Persyaratan magang dan pertanyaan-pertanyaan mengenai program Magang IVAA dapat dilayangkan ke ivaa@ivaa-online.org


* Poster oleh Beny Wijaya Cahya, mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual di Akademi Seni Rupa dan Desain MSD Yogyakarta, Beny saat ini sedang  mengikuti Program Magang IVAA di bagian Dokumentasi.


Rubrik Pengumuman Kantor ini merupakan bagian dari Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

 

Cerita magang di IVAA

Oleh: Alexander Bloom

Selama menjalani magang di IVAA saya mendapat banyak pengalaman menarik; mulai dari mempelajari bagaimana semua orang bekerja untuk membuat organisasi ini berjalan dengan baik, hingga menambah kemampuan saya dalam menyunting video serta merekam dengan kamera video. Sebelumnya saya tidak menyangka IVAA sebegitu terlibatnya di dalam kancah kesenian di Yogyakarta saat ini, dan tidak hanya mengelola rekaman yang sudah ada, tapi IVAA juga terus-menerus mengikuti arah perkembangan dari seniman-seniman serta musisi-musisi yang hebat di Indonesia.

Pekerjaan saya di IVAA lebih banyak menyunting video, oleh sebab itu saya harus belajar menggunakan program penyuntingan standar industri yang digunakan di IVAA, tapi justru dengan demikian saya akan benar-benar merasakan manfaat dari mempelajari program ini di masa mendatang. Saya juga ditugasi untuk merekam pertunjukan secara langsung, yang mana terbukti lebih sulit dari yang saya bayangkan, mengingat bahwa di dalam video kita harus memperhatikan variabel-variabel yang tidak ada di dalam fotografi, yakni bahwa gambar di dalam video adalah gambar bergerak, dan tak ketinggalan variabel lainnya yaitu suara!

Saya sangat berterima kasih kepada Dwe dan semua staf di IVAA untuk kesempatan yang diberikan pada saya dan teman-teman pemagang lain, baik yang sedang ataupun yang pernah magang di IVAA. Efek positif dari magang bisa saya ketahui dengan pasti dengan melihat senyum yang terkembang dari para alumni magang saat berkunjung ke IVAA. Ini adalah batu loncatan untuk memasuki dunia seni yang penuh kreativitas, baik sebagai pengalaman belajar sekaligus menghubungkanmu dengan dunia di luar kantor. Saya merasa sangat diterima di sini, dan sangat menyenangkan bisa bekerja bersama orang-orang yang ramah dan penyabar. Saya harap apa yang telah saya kerjakan di sini akan berguna untuk IVAA, dan karena semua pengalaman, jaringan pertemanan, dan semua gelora yang saya rasakan, saya akan kembali ke Yogyakarta secepatnya!

Banyak cinta, Alex

_________________________________

My internship at IVAA has been a great experience; from learning about the work everyone does to make the organization function, to extending my skills in video editing and recording. I was surprised to find that IVAA is very involved in Jogja’s current art scene, and not just a record of the past -it’s constantly being updated with an array of Indonesia’s awesome musicians and exhibiting artists.

My work has mainly involved editing videos, where I have had to learn an industry standard application, which will help me on my journey significantly. Also, I’ve been recording live performances which has proved much more difficult than expected, with the range of variables that the video medium presents compared to still photography – the pictures are moving, and there’s sound!

I’m very grateful to Dwe and the team at IVAA for the opportunity they have given me as well as many other current and past interns, and it’s easy to see the positive effects by the smiles on the faces of past interns visiting the office. It’s a stepping stone into the creative arts both as a learning experience in itself which extends beyond the office environment, with opportunities to meet and network with people at exhibitions, music gigs. I have felt very welcome and it’s been a blessing to be working alongside such friendly and patient people. I hope that the work I have completed is useful to IVAA and because of this experience, the networks, and the vibe I’ll be returning to Jogja as soon as possible!

Lots of love, Alex


Alexander Bloom adalah mahasiswa Murdoch University asal Australia, dia terpilih menjadi salah satu peserta Program ACICIS Proffesional Practicum 2017. Program ini mengirimkan mahasiswa-mahasiwi dari Australia untuk magang di beberapa organisasi/studio seniman di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Dalam program magangnya Alex bergabung dengan tim dokumentasi IVAA selama satu bulan.


Artikel ini merupakan rubrik Pengumuman Kantor di dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.

Koleksi Arsip Moelyono

Oleh: Putri Alit Mranani

Sejak pertengahan 2016, kami disibukkan dengan digitalisasi arsip yang dikontribusikan oleh sejumlah seniman. Pada buletin edisi lalu di rubrik Sorotan Arsip kami telah mengulas arsip-arsip yang dikontribusikan oleh FX Harsono. Pada edisi kali ini kami mengedepankan kumpulan arsip dari Moelyono. Moelyono dikenal aktif dalam kegiatan seni di tengah masyarakat sejak tahun 1980. Proyek seni Moelyono selalu melibatkan masyarakat di desa atau area tertentu, kemudian dengan seni itu sendiri ia mengupayakan perubahan untuk masyarakat di area tersebut. Tentu tidak mudah menggunakan kesenian sebagai medium perubahan, dibutuhkan strategi khusus. Untuk penyusunan strategi ini Moelyono harus menetap dalam waktu yang tidak sebentar, membaur dengan masyarakat, dan melakukan pengamatan di area yang sedang ia dalami tersebut.Bersama Yayasan yang Ia dirikan tahun 1993 yaitu Yayasan Seni Rupa Komunitas (YSRK), Moelyono menjadikan seni berguna bagi masyarakat. Menurut Moelyono, seniman tidak boleh bersikap netral dengan hanya menjadikan masyarakat sebagai obyek estetik dari karyanya.

Setelah kami amati, arsip dari Moelyono ini dapat dikategorikan menjadi dua macam yakni  materi-materi yang dikumpulkan dalam rangka penelitian untuk persiapan membuat kegiatan seni di tengah masyarakat; dan berkas-berkas dokumentasi dari  kegiatan-kegiatan tersebut, seperti foto, katalog, laporan proyek, liputan media massa, dll. Beberapa proyek seni yang teridentifikasi di koleksi arsip Moelyono diantaranya adalah “Seni Rupa Penyadaran”, “Yang Diikat”, “Atopic Site”, “Consciousness Raising Art”, “Seni Pembebasan Anak Jalanan”, “Untuk Marsinah”, “Seni Rupa Instalasi Refleksi Hak Dasar”, dan “Topografi Ingatan”. Kerja-kerja seni Moelyono di tengah masyarakat telah menjadikan alumni Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia ini menerima penghargaan. Beberapa penghargaan yang telah diterimanya antara lain “Fellowship Innovator for the Public” dari Yayasan Ashoka Indonesia pada tahun 1992, dan “Hadiah Seni Gubernur Jawa Timur” pada tahun 2001.

Seluruh arsip yang dikontribusikan olehMoelyono telah selesai kami pindai. Daftar inventaris arsip dari Moelyono yang terdiri dari 9.598 berkas digital dapat dilihat di dalam tabel berikut ini: http://bit.ly/2khMSrB


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2017.