Category Archives: Kabar IVAA

SOROTAN DOKUMENTASI | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Oleh Dwi Rahmanto

Dari empat puluh acara seni-budaya yang telah kami kumpulkan dan seleksi, acara yang kami pilih untuk dokumentasikan adalah Undisclosed Territory (festival seni pertunjukkan skala internasional di Surakarta), diskusi dan presentasi proyek seni dengan isu gender dari penerima hibah Cipta Media Ekspresi, simposium dengan isu seni dan teknologi yang digagas oleh HONF, Kongres Kebudayaan Indonesia di Jakarta, ARISAN Tenggara (forum dan jejaring antar kolektif seni lingkup Asia Tenggara), pameran arsip dan seni rupa-seni politik oleh ISI Yogyakarta dan Taring Padi yang bertajuk Bara Lapar Jadikan Palu, kemudian Penanda Kosong pameran tunggal Nindityo Adipurnomo, pameran tiga seniman dari Asia (Arahmaiani, Lee Mingwei, dan On Kawara ) berjudul The Past Has Not Passed yang diselenggarakan oleh Museum MACAN, proyek seni “situs seni” di kampung petilasan Keraton Mataram di Bantul, pameran arsip sejarah kelompok sepak bola PSIM This Is Away oleh Dimaz Maulana di Kedai Kebun Forum, pementasan teater Selamatan Anak Cucu Sumilah, sebuah proyek seni untuk rekonsiliasi yang melibatkan penyintas 65 di Fisipol UGM oleh Teater Tamara, dan diskusi buku Cita-Cita Seni Lukis Indonesia Modern 1900-1995 karya Helena Spanjaard.

Banyak sekali isu yang menjadi muatan dari acara-acara seni-budaya di atas, seperti gender, politik, teknologi, sejarah komunitas dan kampung, aktivisme, lingkungan, kesetaraan, dan HAM. Beragam isu ini menjadi catatan penting bagi kami untuk mengetahui lebih jauh kerja-kerja kesenian yang muncul di bulan-bulan ini; sejauh mana kesenian memunculkan perkembangannya.

Selain itu, beberapa kawan kami di Bali, Malang, Jakarta, dan Yogyakarta yang berbagi arsip untuk kami kelola, di Bali dari Kulden Art Space Bali, pameran oleh Firmansyah berjudul Suka Ria, Di Kota Batu dan Malang kita mendapat dokumentasi pameran September Art Project oleh Studio Jaring Malang, dari Galeri Semarang kita mendapatkan dokumentasi aktifitas mereka selama tahun 2018, di Yogyakarta kawan kawan seni rupa mengadakan acara Serufo Day Anagata di Jogja National Museum.

Di sepanjang proses pembacaan dan pengelolaan arsip, beberapa dari kami berkesempatan untuk menjadi pemantik diskusi dalam beberapa forum, yakni Festival Film Dokumenter di IFI Yogyakarta, peluncuran buku Yayasan Kelola di UGM, Urban Social Forum di Lokananta Record Surakarta. Semua informasi singkat seputar kegiatan tersebut dapat dilihat di sosial media kami (www.instagram.com/ivaa_id).

Tentu kami tidak lupa bahwa dalam mengelola arsip kami dibantu oleh beberapa kawan magang dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, dan satu kawan dari New Jersey, Amerika Serikat. Kerja-kerja mengelola arsip beserta masalah-masalah yang menyertainya kami diskusikan baik secara rutin maupun dalam pertemuan-pertemuan yang mendadak. Semoga proses ini menjadi pembelajaran yang mampu diterapkan oleh kawan-kawan magang, sekaligus membangun kesadaran pengarsipan secara lebih luas.

Di samping itu kami juga masih terlibat dalam kerja-kerja lain seperti, workshop, perancangan sistem pengarsipan offline, pengelolaan beberapa permintaan arsip onsite dan online melalui online archive, dan kunjungan para mahasiswa kearsipan UGM, peneliti, serta para kolega lain yang tentu menambah riuh senang pekerjaan kami. Akhir kata, keriuhan yang menyenangkan ini beriringan dengan upaya kami, secara khusus pada bagian Arsip, untuk bereflekai dan merancang program kerja selama lima tahun mendatang.

Sorotan Dokumentasi November-Desember 2018
Oleh: Dwi Rachmanto, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi, Muhammad Indra Maulana

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Undisclosed Territory #11: We Are What We Eat

Oleh: Hardiwan Prayogo

Undisclosed Territory tahun 2018 ini telah memasuki gelaran ke 11. Event performance art ini mengawali rangkaian acaranya dengan berbagai macam diskusi hingga kuliah umum. Dengan mengambil tema We Are What We Eat, gagasan mengenai performance art dibawa dalam melihat ulang relasi manusia dengan makanan. Bagaimana makanan menjadi salah satu penanda dalam ritus-ritus hidup manusia. Bagaimana makanan menjadi elemen tradisi yang penting dan mewujud dalam simbol-simbol dalam makanan. Lebih jauh, seniman-seniman performance menampilkan karya dengan merespon isu-isu tersebut.

Berlangsung dari 6 hingga 11 November 2018 di studio Plesungan, Karanganyar. 6-8 November berlangsung PALA Project dan Sound Scoring Workshop. Diskusi panel pada 9 November. Kemudian pertunjukan dimulai dari 9 sampai 11 November. Tim IVAA berkesempatan hadir menyaksikan langsung pada hari Minggu, 11 November.

Meskipun bernama studio, Studio Plesungan bukanlah berbentuk bangunan, tapi didominasi oleh tanah lapang dengan pohon rimbun di sekelilingnya. Pertunjukan pertama dimulai pada pukul 15.00, bertajuk “Pseudo Delight” dari Fransisca Retno, yang mereka ulang postingan makanan-makanan mewah di Instagram. Dengan membuat instalasi satu set meja makan lengkap dengan menu makanannya, dengan dikelilingi kursi yang diatasnya diletakkan makanan. Menu makanan yang ditampilkan seperti serabi, gembus, pukis, dan lain-lain. Disampaikan Fransisca bahwa karya ini semacam “rasa iri” memandang kawan-kawan karibnya yang hampir setiap hari memamerkan santapannya di sosial media. Maka pertunjukan ini pun bersifat interaktif, mengajak audiens untuk membuat menu makanannya sendiri, kemudian diunggah ke sosial media masing-masing. Set makanan ini dipertahankan hingga malam.

Sementara itu, dalam waktu yang berdekatan, dimulai juga pertunjukan dari Sakinah Alatas dengan judul “Sekarang Saya Sudah Mau Makan Itu?”. Sakinah menggantung kain putih transparan di satu ranting pohon. Pada kain tersebut dijahitnya suatu benda berwarna coklat berukuran kecil. Seluruh performance menampilkan Sakinah menjahit yang berlangsung selama sekitar 60 menit.

Di tempat lain, Jef Carnay sudah memulai pertunjukannya yang berjudul “Sweet Dreams”. Berbeda dari yang lain, pertunjukan Jef menggunakan iringan musik dan berlokasi di dalam ruangan. Dengan hanya menampung sekitar 20 orang dalam ruang terbatas, pertunjukan ini terasa lebih intens. Jef menampilkan tubuh yang didalam mulutnya sedang menyimpan sesuatu dan berusaha mengeluarkannya. Di akhir pertunjukan, apa yang di dalam mulutnya dikeluarkan dan diletakkan di atas tumpukan yang tampak seperti gula.

Usai pertunjukan Jef, langsung disambut oleh performance dari Ragil Dwi Putra, yang berjudul “I Trace Myself”. Kembali mengambil lokasi di luar ruang, berdekatan dengan instalasi pertunjukan Fransisca Retno. Ragil menampilkan tubuh yang berjongkok di bawah meja. Di atas meja terdapat piring dan gelas yang berisi minyak. Ragil mencoba berdiri sambil membopong meja tersebut. Dalam kesulitannya untuk menyeimbangkan diri, kakinya juga disibukkan dengan melipat-lipat kertas minyak. Pertunjukan ini berakhir ketika Ragil sudah melipat kertas dengan ukuran terkecil.

Tidak lama, penonton diajak berpindah lagi ke satu spot yang memang nampak seperti “panggung” pertunjukan. Graciela Ovejero Postigo, dengan performancenya yang berjudul “Why An Elm Should Give Pears?”. Pertunjukan ini juga menggunakan unsur makanan, yaitu jagung, juga properti lain seperti kain putih, kursi, sapu lidi, dan beberapa bilah bambu. Graciela seperti ingin menunjukan relasi antara makanan dan perempuan pekerja. Penampilannya dilakukan tanpa iringan musik, suara hanya berasal dari aktivitas Graciela menyeret karung berisi jagung, memainkan kain putih dan bambu, membenamkan diri dalam tumpukan jagung. Graciela adalah penutup dari sesi pertama pada hari itu.

Pertunjukan kembali dilanjutkan setelah jeda 60 menit. Dimulai dari Retno Sulistyorini, tampil di lokasi yang sama dengan Graciela. Penonton bisa menyaksikan dengan jarak lebih dekat, berada satu area dengan panggung pertunjukan, melingkari Retno yang tampil berdua dengan seorang pria. Retno lebih menampilkan koreografi tari ketimbang performance seperti penampil-penampil lainnya. Menggunakan iringan musik bersuasana mistis, tarian Retno dan rekannya memperlihatkan intensitas yang cukup dalam. Dengan gerakan sederhana namun terlihat sangat menguras tenaga. Terlihat dari deras keringat yang mengalir dari keduanya. Pertunjukan berakhir setelah 15 menit yang terlihat sangat melelahkan. Penonton pun kembali ke tempat duduknya, sementara panitia bergegas menyiapkan properti pertunjukan performer berikutnya.

Wilawan Wiangthong, seniman asal Thailand ini membawa streamer berisi air berwarna putih, dan satu potongan ranting pohon.  Wilawan membasuhkan air tersebut ke kepalanya, mengangkat satu tempat nasi berisi air ke atas kepalanya, dan berjalan menyeimbangkan diri di atas ranting pohon. Wilawan terus mengulangi aktivitas ini sampai ranting pohon tersebut patah. Alhasil, panggung pertunjukan menjadi penuh tumpahan air dan patahan ranting pohon.

Penampil terakhir adalah Skank. Melati Suryodharmo memperkenalkannya sebagai seniman performance dari Jepang yang sudah sering terlibat proyek kerjasama dengan Studio Plesungan. Skank tidak menggunakan banyak properti, hanya satu pengeras suara berukuran besar yang dibawanya. Pertunjukan ini menjadi satu-satunya yang melibatkan dialog. Skank mengajak satu rekan yang beradegan menanyakan seputar kewarganegaraan, kepercayaan agama, hingga orientasi seksual. Pertanyaan berbahasa Indonesia ini hanya dijawab Skank dengan “Yes” atau “No”. Antara Skank dengan si penanya, selalu dipisahkan jarak antara penonton dan panggung. Jika Skank di panggung, maka si penanya ada di barisan penonton, begitu sebaliknya. Total ada sekitar 50 pertanyaan yang diajukan yang terbagi dalam 3 bagian. Setiap bagian selalu diakhiri dengan Skank yang melompat hingga kelelahan. Pertunjukan diakhiri ketika keduanya bertemu di panggung. Skank menjadi penampil terakhir sekaligus menutup rangkaian acara Undisclosed Territory #11.

Narasi pergelaran festival performance art ini secara umum ingin membicarakan tentang posisi makanan tradisi dan struktur masyarakat tertentu. Sebelum hari pertunjukan, seniman juga diajak untuk berkunjung ke pasar-pasar di Karanganyar. Makanan diyakini sebagai bagian organik dari sebuah tatanan masyarakat. Mulai dari makanan sebagai kebutuhan primer, sebagai mata pencaharian, sebagai gaya hidup, hingga pemaknaan filosofis tentang makanan sebagai metafora atas proses identifikasi diri. Ini jelas nampak dari beragamnya tafsir masing-masing seniman atas makanan. Harus diakui meski publik penikmat kesenian ini terbatas. Namun upaya Undisclosed Territory dalam mendekatkan narasinya melalui persoalan yang relational dengan publik, yaitu makanan, bisa dimaknai secara reflektif sebagai upaya menghadirkan kesenian secara lebih dekat dengan publiknya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

 

Penanda Kosong: Pameran Tunggal Nindityo Adipurnomo

Oleh: Hardiwan Prayogo

Nindityo Adipurnomo, seniman yang bermain dengan berbagai medium. Ini yang tampak dari pameran tunggalnya Penanda Kosong. Pameran yang dilangsungkan di Gallery Semarang dari 22 November-30 Desember 2018 ini memamerkan karya-karya 2 dan 3 dimensional. Pameran ini dibuka dengan sambutan dari beberapa orang, yang intinya ingin membicarakan tentang posisi Nindityo sebagai seniman dengan refleksi dan pemaknaan ulang mendalam atas realitas yang terwujud dalam karya-karyanya.

Dengan menggunakan 2 lantai galeri, audiens akan disuguhkan lebih banyak karya 3 dimensional di lantai pertama. “Penanda Kosong #13” adalah karya yang dibuat dari konstruksi rotan pirit dan kasur lurik. Berjumlah 5 karya, didesain sedemikian rupa, dengan display menggantung dan diletakkan di lantai. Selain itu karya 3 dimensional lainnya berjudul “Gamelan Toa”. Karya ini ingin mengedepankan pengalaman aural audiens. Dengan menampilkan 7 kain batik berukuran besar, dan di antaranya terdapat semacam cetakan wajah. Karya ini mengajak kita untuk berinteraksi, dengan meletakkan kepalanya di cetakan wajah, maka audiens tidak akan bisa melihat apapun, hanya mendengar suaranya sendiri. Karya ini sebelumnya pernah dipamerkan di pameran Serupa Bunyi Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, 2018.

Karya lainnya didominasi karya 2 dimensional. Hampir seluruhnya diberi judul “Penanda Kosong” yang diikuti dengan tanda pagar. “Penanda Kosong #11”, bermedium cetak flat bed di atas tikar mendong. Medium ini tentu bukan yang lazimnya digunakan untuk karya 2 dimensional, khususnya seni lukis. Karya lain berjudul “Penanda Kosong #1”, dengan medium charcoal, gouache, dan cetak flat bed di atas kertas. Kemudian medium charcoal, gouache, pastel, dan cetak flat bed di atas kertas untuk karya berjudul “Penanda Kosong #3” dan “Penanda Kosong #5”. Selain itu masih banyak karya dengan bahan serupa. Satu yang juga menarik adalah disediakannya 3 album foto yang berisi kliping, potongan pamflet, hingga dokumentasi yang berkaitan dengan isu yang dominan diangkat Nindityo, yaitu religiusitas. Total terdapat 22 seri karya berjudul “Penanda Kosong”. Dari sedemikian banyak karya, “Penanda Kosong #17” bisa dikatakan yang paling provokatif dan eksplisit. Pesan dan isu yang diangkat sangat jelas, yaitu agama.

Pameran Tunggal Nindityo kali ini nampaknya ingin lebih dekat dengan isu aktual, meski tidak seluruh karyanya secara eksplisit mewujudkan itu. Bisa jadi ini bagian dari cara tutur Nindityo dalam membahasakan ulang realitas. Seperti seri karya Konde, yang dibuatnya untuk membicarakan tentang perempuan, jawa, dan sensualitas. Maka Penanda Kosong, tidak hanya ingin dimaknai dari aspek kesenian yaitu eksplorasi medium, tetapi juga menyentuh konteks yang lebih aktual, yaitu agama dan kepercayaan. Kewajiban beragama seolah hanya menjadi penanda kosong dalam kolom KTP. Lebih jauh, Nindityo tidak hanya ingin mewujudkan gagasan melalui karya seni, tetapi melalui konstruksi kompleksitas pameran dan keterkaitannya dengan sistem kerja medan seni rupa kontemporer saat ini. Penanda kosong juga merupakan upaya pemaknaan ulang atas tanda-tanda yang diklaim secara sepihak dan melekat pada diri dan sekitar kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Seni Politik Taring Padi

Oleh Dwi Rahmanto

Bara Lapar Jadikan Palu, judul pameran Taring Padi (TP) yang cukup provokatif di antara sekian banyak pameran yang berseliweran di bulan-bulan ini. Pameran yang digagas oleh Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini merupakan rangkaian pameran yang menampilkan kelompok/komunitas seni di Indonesia, setelah sebelumnya menghadirkan Sanggar Bambu pada 7 Desember 2017 di tempat yang sama yakni Galeri RJ Katamsi Yogyakarta. Dalam sambutannya Arya Sucitra (Kepala Galeri Katamsi ISI Yogyakarta) menyebutkan beberapa unsur yang mendasari pemilihan Taring Padi, yaitu karya mereka teruji prestasi dan keilmuan, kemampuan komunitas berkontribusi secara akademik di medan seni rupa, dan kesesuaian dengan fungsi Galeri RJ Katamsi sebagai ruang transfer pengetahuan khususnya di ranah pendidikan.

Taring Padi, kelompok yang dibentuk pada 21 Desember 1998, sebagai sebuah organisasi budaya progresif, menetapkan bahwa tugas mereka adalah membangun kembali “Budaya Kerakyatan”, dan mengadvokasi siasat front bersatu dalam rangka mendorong perubahan demokratik yang berwatak populer di Indonesia. Mukadimah Taring Padi ditandatangani sejumlah aktivis budaya, mahasiswa, pekerja seni, dan pelukis otodidak. (https://www.taringpadi.com/)

Kembali ke judul pameran ini, dengan frasa ‘bara lapar’, saya jadi membayangkan gerakan 1998. Ketika mereka bersama anak-anak muda yang benar-benar haus atas nilai-nilai keadilan berhadapan dengan musuh bersama (Orde Baru), tidak sekali dua kali saja mereka terlibat aksi. Dengan memilih Lembaga Bantuan Hukum sebagai tempat mendeklarasikan diri, kehadiran Taring Padi menjadi satu tanda bahwa tarik-menarik antara pemerintah dan masyarakat sipil menjadi tanda perlawanan atas kegagalan rezim otoriter Orde Baru. Mereka tegas menggunakan istilah seni untuk rakyat dan menentang istilah seni untuk seni.

Banyak sekali aksi yang mereka rancang. Salah satu yang sering dilakukan adalah terlibat aktifnya mereka di dalam gerakan menurunkan Soeharto di sepanjang Malioboro dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Aksi seni budaya dengan membuat propaganda visual berbentuk rontek, boneka, poster, wayang dan instalasi dengan kolaborasi bersama kawan-kawan aktivis memberi nilai dalam cara-cara menyuarakan pendapatnya.

Di pembukaan pameran ini saya sempat bertemu dengan Muhammad Yusuf dan Setu Legi sebagai anggota pendiri yang masih aktif sampai hari ini. Terkait tentang apa yang membuat Taring Padi sangat progresif di tahun itu, dengan sedikit berkelakar, dia menyebut bahwa di zaman itu memang kepentingannya tidak sebanyak sekarang. Bahwa kelompok ini hadir dengan ideologi yang sangat dipegang teguh, memilih di mana mereka harus bergerak, berani menolak yang berseberangan dengan ideologi mereka, dan pastinya para anak muda ini tidak terbanjiri kepentingan keluarga dan sosial media yang seperti sekarang ini menyibukkan orang-orang. Mungkin juga, Bara dan Lapar akan berbeda bunyinya ketika dikontekstualisasikan dengan jaman sekarang.

Di saat generasi pertama sudah cukup dengan pertarungan di dalam dirinya sendiri, pameran retrospektif Taring Padi ini dikelola oleh generasi kedua dari mereka. Masih dengan anak-anak muda yang mempunyai energi bara dan lapar, Taring Padi tetap menganut sistem keanggotaan terbuka yang prasyaratnya adalah komitmen terhadap garis kerakyatan seperti sejak awal mereka berdiri. Merujuk kepada Bayu Widodo, Fitri DK dengan Survive Garage-nya, pameran 20 Tahun Taring Padi ini menjadi penanda pergeseran dan perubahan kepentingan para anggota di dalamnya. Meski demikian, mereka tetap menawarkan isu-isu kerakyataan di dalam kesenian sampai saat ini.

Seorang pematung Dolorosa Sinaga dalam sambutannya menyebutkan bahwa Taring Padi merupakan contoh bagaimana sebuah kelompok yang menajamkan wilayah seni rupa ke ‘seni politik’ menjadi inspirasi bagi banyak kelompok seniman di luar Yogyakarta dengan serangkaian isu kemanusiaan. Disposisi semacam ini dilakukan sejak sebelum dan pasca reformasi. Dolorosa merupakan satu dari sekian orang yang ikut menyaksikan deklarasi TP 20 tahun yang lalu.

Indonesia sendiri mengalami banyak periode gerakan di ranah visual. Peristiwa Desember Hitam (1974), pameran Kepribadian APA (1975, 1979), dan Gerakan Seni Rupa Baru (1975-1979) adalah sebagian dari aksi-aksi ketidakpuasan paling fenomenal yang tercatat dalam sejarah seni rupa Indonesia era 1970-an. Ketiganya bisa dibilang sebagai upaya mengembalikan muatan sosial-politik ke dalam seni rupa, sekaligus memperluas “kemungkinan berkarya” dengan merontokkan sekat-sekat kategoris dalam seni rupa Indonesia selama ini (http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/3878). Taring Padi merupakan generasi selanjutnya yang punya metode sendiri dalam membicarakan isu sosial politik di Indonesia sebelum reformasi dan sesudah reformasi.

Pameran Taring Padi ini dibagi menjadi dua lantai. Di lantai bawah mereka menampilkan karya-karya poster, banner, dsb yang menjadi saksi kehadiran mereka di gerakan seni dan budaya. Di lantai ini kita akan dituntun untuk menyaksikan propaganda-propaganda menarik yang dikerjakan secara kolektif. Ada satu ruangan khusus yang didedikasikan untuk Eks Presiden Taring Padi, yakni Almarhum Yustoni Volunteero.

Kemudian di lantai atas merupakan karya baru kolaborasi mereka, menampilkan arsip-arsip sebagai bagian dari pameran. Arsip-arsip ini menjadi bagian penting dari sejarah panjang kelompok ini. Bambang Toko sebagai kurator menyebut bahwa karya dan arsip yang dipamerkan sangat fungsional dan menjadi refleksi Taring Padi. Juga, kita bisa tahu bagaimana isu kerakyatan dan sepenggal situasi sosial politik Indonesia selama 20 tahun disampaikan secara visual.

Pameran ini mungkin bisa menjadi pemantik atau palu bagi Taring padi sendiri dan kawan kawan yang bergerak di isu sosial politik. Setiap zaman pasti berbeda dan akan memberikan tantangan lain dalam gerakan sosial politik dan seni rupa secara spesifik. Akan ada banyak metode gerakan/ aktivisme yang bisa dipelajari, dan tentunya harus mengarah pada capaian-capaian yang nyata di masyarakat. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa pameran ini menjadi bagian dari pembelajaran bersama merenungkan daya yang bisa merubah bara lapar menjadi palu.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

 

Arisan: Forum Kolektif Seni Asia Tenggara

Oleh Krisnawan Wisnu Adi dan Muhammad Indra Maulana (Kawan Magang IVAA)

Keprihatinan atas ketidakterhubungan satu dengan yang lain, terutama mengenai bagaimana kolektif bekerja, menjadi latar belakang dibentuknya Arisan: Forum Kolektif Seni Asia Tenggara (selanjutnya disebut Arisan). Ace House Collective, sebuah kolektif yang menempatkan diri sebagai laboratorium seni bergaya visual popular dan merespon konsumerisme visual, menjadi inisiator dari proyek Arisan ini. Tujuan dari Arisan adalah membentuk forum dialog sebagai katalisator untuk membuka rahasia dapur beberapa kolektif, dengan intensi yang saling dipelajari dan dikritisi. Sebagai platform awal, beberapa hal yang ingin diupayakan adalah perumusan pengetahuan tata kelola ruang, modus untuk tetap eksis, dan jejaring kolektif seni se-Asia Tenggara.

Arisan ini diikuti oleh sebelas kolektif yang berasal dari Yogyakarta dan wilayah lain di Asia Tenggara. Dari Yogyakarta, beberapa kolektif itu adalah Krack! Studio, Lifepatch, Ruang Gulma, Ruang MES 56, dan SURVIVE! Garage. Lalu dari wilayah Asia Tenggara, ada Tentacles (Bangkok, Thailand), Tanah Indie (Makassar, Indonesia), WSK! (Manila, Filipina), Rumah Api (Kuala Lumpur, Malaysia), Rekreatif (Dili, Timor Leste), dan Gembel Art Collective (Dili, Timor Leste). Selain kolektif-kolektif partisipan di atas, proyek ini didukung oleh tim lain seperti penanggung jawab program, fasilitator, dan pencatat proses. IVAA dalam kesempatan kali ini mendapat peran sebagai dokumentator.

Proyek yang bisa dikatakan cukup ambisius ini, mengingat cakupan wilayah Asia Tenggara yang hanya diwakilkan oleh sebelas kolektif saja, digelar selama kurang lebih 7 minggu, dari 10 Oktober-26 November 2018. Dalam waktu yang cukup singkat ini, Arisan dibingkai dengan 4 topik, yakni dasar gagasan (ideologi) pembentukan kolektif, pengelolaan program (modal kultural), pembangunan jaringan (modal sosial), dan strategi ekonomi (modal ekonomi).

Dari keempat topik di atas, rencana pelaksanaan Arisan semula diproyeksikan dengan format presentasi dan diskusi interaktif oleh masing-masing kolektif dengan arahan fasilitator. Berdasarkan 4 topik pembingkai, presentasi dan diskusi akan dilakukan selama 4 minggu. Namun, format semacam ini hanya bertahan selama 2 minggu pertama, untuk kerangka topik ideologi dan modal kultural. Beberapa hal yang dibicarakan adalah alasan dan gagasan pembentukan kolektif beserta garis perjuangannya (politis ataupun artistik), serta aliansi seperti apa yang dibangun untuk menopang aktivitas kolektif dan bagaimana kolektif menghidupinya.

Format presentasi dan diskusi, meski interaktif dan dilengkapi minuman fermentasi sebagai stimulus antusiasme, ternyata membuat beberapa partisipan merasa bosan. Seolah menjadi hambar ketika Arisan, sebagai platform awal pembentukan kolektif seni Asia Tenggara, tidak melibatkan dimensi praktik. Kebosanan ini nampak ketika dalam proses diskusi, muncul obrolan-obrolan kecil (obrolan di dalam obrolan) dari beberapa partisipan. Tak jarang juga ketika diskusi berlangsung cukup lama, beberapa orang nampak tidur atau sekedar melamun. Oleh karena itu, pada minggu 3 dan 4, mekanisme atau format Arisan diubah menjadi diskusi dan perumusan proyek bersama. Jika pada minggu 1 dan 2 sudah membicarakan topik ideologi dan modal kultural, pada tahap ini lebih menekankan penerapan topik modal sosial dan ekonomi.

Ada beberapa poin penting yang muncul di tahap kedua. Pertama, mengenai pendanaan program Arisan. Pendanaan yang berasal dari Dana Keistimewaan Provinsi DIY ini sempat menjadi sumber perhatian. Ruang Gulma, kolektif muda dengan spirit kemandiriannya, bersikap hati-hati dengan pendanaan ini. Selain itu, Rumah Api, sebagai kolektif yang anti otoritarianisme, semula mengira bahwa pendanaan Arisan dilakukan dengan etos DWO (do it with others).

Kedua, dengan metode kocokan (lotre), layaknya acara arisan pada umumnya, dirumuskanlah 6 proyek yang akan dikerjakan secara kolaboratif. Enam proyek dengan komponen anggota yang sudah campur antar kolektif ini, menjadi manifestasi penyelarasan topik dengan praktik, sekaligus peleburan hubungan tuan rumah (kolektif-kolektif dari Yogyakarta) dan residen (kolektif dari Makassar dan wilayah lain di Asia Tenggara). Proyek-proyek itu adalah Pusing-pusing, Commons Credit Cooperative (CCC), pameran fotografi, Trashure, Arisan-lab, dan Spirit Tenggara.

Pusing-pusing adalah sebuah proyek panggung musik keliling yang akan tampil di empat titik di Kota Yogyakarta. Keempat titik itu adalah perempatan Taman Siswa, Pakualaman, Kridosono, dan Tugu. Dengan hanya berbekal ijin dari warga sekitar, tanpa mengajukan ijin ke pihak kepolisian, Pusing-pusing ingin menguji keamanan ruang publik Yogyakarta sebagai ruang ekspresi.

Commons Credit Cooperative (CCC) adalah sebuah proyek koperasi yang menekankan sistem pertukaran keahlian dan alat dari para anggotanya. Setiap sumber daya yang diinvestasikan akan dihitung atau diukur sebagai kredit. Kredit itu selanjutnya bisa ditukarkan dengan sumber daya lain. Tujuan dari CCC adalah untuk memetakan dan mengatur sumber daya dalam rangka mendukung produksi artistik para anggota.

Selanjutnya adalah pameran fotografi. Dengan tema mobilitas, para seniman partisipan Arisan yang terlibat didorong untuk menafsirkan dan mengkontekstualisasikan konsep mobilitas ruang dan waktu ke dalam material foto.

Isu lingkungan juga menjadi perhatian khusus dari Arisan. Hal ini termanifestasikan ke dalam Trashsure. Trashsure adalah sebuah proyek pengumpulan sampah hasil dari aktivitas seni, yang kemudian dikelola melalui Workshop Trashsure.  Melalui workshop itu sampah direspon ulang menjadi instrumen musik yang nanti akan digunakan untuk mendukung pertunjukkan musik yang mereka gelar.

Selanjutnya adalah Arisan-lab. Gagasan untuk membantu pembangunan perpustakaan kolektif di Timor Leste menjadi dasar proyek ini. Arisan-lab, yang bisa dikatakan sebagai proyek perpustakaan, dilakukan dengan dua mekanisme kerja. Pertama, untuk jangka pendek, diterapkan mekanisme bagi setiap pengunjung di proyek-proyek Arisan yang lain untuk membawa satu buku sebagai tiket. Buku itu selanjutnya akan disumbangkan untuk pembangunan perpustakaan kolektif di Timor Leste. Untuk mendukung mekanisme jangka pendek ini digelar juga workshop membajak dan mencetak buku, serta pembuatan zine kolektif. Sedangkan untuk mekanisme jangka panjang, akan dibuat buku audio dan sebuah platform berbagi secara digital berupa database buku elektronik beserta review dari buku-buku yang relevan.

Terakhir, sebagai penguat simpul ikatan kolektif Arisan, Spirit Tenggara hadir. Pada dasarnya proyek ini merupakan usaha untuk berbagai pengetahuan berbasis potensi lokal. Salah satunya adalah proses pembuatan minuman fermentasi sebagai respon atas ekspansi industri modern yang menggerus proses produksi rumahan. Resep dari minuman ini juga dirumuskan agar dapat diimplementasikan sesuai konteks geo-spasial dari masing-masing kolektif partisipan Arisan. Untuk lebih mempererat ikatan kolektif ini, Spirit Tenggara juga membuat anthem secara kolaboratif, baik dari lirik hingga nadanya.

Sebagai sebuah platform awal, tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus dipikirkan dan dilakukan oleh Arisan. Salah satunya adalah persoalan keberlanjutan. Tidak sekedar melanjutkan proyek saja, masalah hubungan antara kemandirian kerja forum dan modal ekonomi menjadi kekhawatiran yang terus dipertimbangkan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

 

SOROTAN PUSTAKA | NOVEMBER-DESEMBER 2018

Oleh Santosa Werdoyo

Salah satu hasil dari revitalisasi Rumah IVAA untuk perpustakaan adalah adanya balkon yang terletak di lantai dua. Dengan bertambahnya ruang, harapan yang tentu muncul adalah agar para pengguna pustaka dapat lebih nyaman mencari tempat untuk membaca koleksi-koleksi perpustakaan.

Selama ini, aktivitas membaca dan meminjam dari para pengguna perpustakaan IVAA banyak berkenaan dengan pustaka yang berhubungan dengan seniman progresif, seni rupa modern dan Biennale Jogja. Sementara, ada beberapa tambahan koleksi pustaka yang kami peroleh dari hibah, hunting pameran, dan pembelian. Ada 30 katalog, 15 majalah, dan 53 buku yang diinventarisasi dan diinput ke Senayan Library Manajemen Sistem (SLiMS).

Untuk newsletter edisi ini, ada beberapa buku baru yang diulas, yakni Soembawa, 1900-1950; Gunungkidulan; Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990; dan Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial, dan Kemanusiaan.

Sorotan Pustaka November-Desember 2018
Oleh: Santosa, Esha Jain, Muhammad Indra Maulana

Artikel ini merupakan pengantar rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990

Title : Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990
Edited : Stephen H Whiteman, Sarena Abdullah, Yvonne Low, Phoebe Scott
Book Description : 248 x 172 mm, 335 pages
Publisher: Power Publications and National Gallery Singapore
Originally published July 2018
Call Number: 701 Whit A

Reviewed by : Esha Jain

Ambitious Alignments: New Histories of Southeast Asian Art, 1945-1990 seeks to separate the art of the Southeast Asian countries from the stereotypes, expectations, and assumptions traditionally “Western” societies hold about it that are byproducts of the Cold War. It consists of ten essays created in partnership between “eastern” and “western” institutions such as the National Gallery Singapore and the University of Sydney’s Power Institute. The pretense of the book in itself is unique. It created “a regional network of emerging and senior scholars” in one year, with an emphasis on archiving. The archival lens provides a unique historical and cultural perspective throughout the book.

As a result of returning to the art of the era long after the influential events have occurred, the authors are able to explore the lasting impact the era had on the country, artist, and culture. Not only does the basis of archiving allow the reader to have an enhanced reading experience with visual aids, but it also enables both the audience and author to explore a facet of culture from the perspective of an often overlooked historical context in conjunction with the examination of artwork. The archiving and documenting aspect allows the audience to understand the cultural implication both during the time period, as well as the impacts on preservation and expression today.

For example, the process of collecting research and archiving was heavily reflective of the impact of the Cold War on countries in the region. For instance, Cambodia’s art experienced mass and systematic destruction at the hands of the Khmer Rouge. In the essay “‘The Work the Nation Depends On’: Landscapes and Women in the Paintings of Nhek Dim,” Roger Nelson describes the difficulties he faced in trying to obtain documents pertaining to the work of Dim. However, because Nelson has a background in archiving, he was able to provide an underrepresented perspective into the impact foreign involvement in Cambodia had on cultural preservation.

The book’s strength lies not only in its archival lens, but in that it does not attempt to broadly generalize “Southeast Asian art” during 1945-1990. Rather, each author investigates in depth one person, topic, or event. This allows for specific issues to be explored from a fresh, focused lens. Specifically, in terms of Indonesia, the book explores both the impact of Indonesia remaining neutral during the Cold War as well as art movements after the 1965 killings. Especially regarding the incidents of 1965, the author was able to explore a taboo topic. Even today, communism and the acts of 1965 are still widely left out of conversation. The essay investigates how, “…this traumatic period impacted Indonesian modern art history from the perspective of those who witnessed it firsthand.” As an archivist and art historian, Wulan Dirgantoro was able to review a largely untouched subject through art, providing a perspective on the emotional toll of a national tragedy.

Ultimately the book attempts to remove the western lens from Southeast Asian art. Each author attempts to separate themselves from what they have been taught through traditional Eurocentric education. Too often, parts of history are written over by hegemonic powers. Stories are left unread and undiscovered, creating a single narrative, often unrepresentative of large swaths of the world. This collection of essays seeks to share these overlooked stories.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Gunungkidulan

Judul : Gunungkidulan
Pengarang : Wonggunung
Penerbit : BaturAgung
Tahun : 2018
Deskripsi : 823 Halaman + XVI ; 17,6 x 25 Cm
No Panggil : 300 Won g

Resensi oleh : Muhammad Indra Maulana

Mitos adalah pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (arbitrer) sehingga sesuatu dianggab alamiah. Mitos, melalui fakta yang bisa digambarkan konsekuensinya, adalah Bahasa. Mitos adalah bentuk wicara” – Roland Barthes

Lahirnya kumpulan tulisan “gunungkidulan” ini hanya pemenuhan-emosional atas panguda-rasa penulis terhadap pawacana, atau paralambang purwa yang telah tergelar dengan cetha-ngegla di bumi Gunungkidul khususnya dan Jawa umumnya. Berdasarkan ilmu para winasis yang ia pahami, penulis membuat jejaring secara ala kadarnya. Cukup menarik bagi saya, ketika penulis menyarankan agar jangan terlalu serius membaca kumpulan tulisan ini. Jika membacanya terlalu serius, bisa jadi isinya menjadi tak serius dan banyak yang ngawur.

Terdapat banyak kumpulan mitos-mitos Gunungkidul di buku yang berhalaman 823 ini, yang akan membuat Anda mengantuk pada lembar-lembar awal. Jadi masuk akal ketika penulis menyarankan agar jangan terlalu serius membacanya. Salah satu mitos yang menarik untuk dibaca adalah “Gadhung”. Mitos ini dibungkus dalam sebuah esai yang membahas pohon sebagai materi yang ingin hidup. Artinya, oleh kapedal yang mewakili opini sekelompok orang atau masyarakat umum, dianggap mati. Aneh, bukan? Ya, itulah mitos.

Mitos adalah sistem komunikasi. Di dalamnya tersimpan pesan-pesan. Mitos merupakan sebentuk Bahasa. Bahasa mitos tak hanya berbentuk Bahasa yang berasal dari tulisan. Benda-benda, mahkluk, foto, dsb bias dimaknai sebagai tulisan, asalkan memiliki  ‘kosa kata’. Kata-kata, khususnya dalam kebudayaan kulawangsa Gunungkidul (Jawa), tentu memiliki sejarah epistemologinya sendiri. Maka inilah ikatan temalinya: mitos Gunungkidulan adalah pengungkapan kata-kata atas berbagai gambar, bentuk, benda, konsep hingga pemikiran Gunungkidulan.

Sempat terpikir kenapa sang penulis ini menggunakan dua bahasa dalam buku ini, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa jawa. Sebenarnya, jika dikaitkan dengan ilmu-ilmu guru dan murid dalam khasanah pengetahuan Jawa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa adalah tunggal guru: sama-sama berguru pada bahasa induk atau indung Nusantara. Artinya kedua bahasa ini memiliki sifat universal dari sesuatu yang disebut bahasa, yakni komunikatif. Bahwa bahasa adalah penyatu keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam seluruh kegiatannya.

Nalar penokohan si simbok seperti Dewi Sri, Nawang Wulan, Talang Warih, R(L)embayung, Rara Resmi, Rara Sudarmi, Rara kuning, Gadhung Mlati, dan penyebutan lainnya adalah gambaran penalaran peradaban Gunungkidul yang telah terikat kuat dengan ‘sejarah’ Siti atau Bumi Gunungkidul. Gambaran ini juga sekaligus metafora atas kontrak sosial masyarakat Gunungkidul dengan paralambang atau simbol yang amat dihormati dan ditinggikan: indu(k/ng).

Ketika di Eropa, pada dekade 40-an, Barthes selama dua tahun menulis tentang mitos-mitos (pos)modern orang Perancis seperti bubuk sabun dan deterjen, mainan anak-anak, otak Einstein dan lain-lain. Penulis, lewat pepenthan tulisan ini, mencoba bercerita tentang mitos-mitos wangsa tradisional Gunungkidul yang beberapa di antaranya berhubungan erat dengan bidang kerja keseharian para simbok (perempuan) di desa, seperti dhudhuh, tela, gathot, endhang-endhang, laron, weksa, menthol, pencok, thiwul, tempe, jangan lombok, ngliwet, utri dan lainnya. Tentu, topik-topik yang diinterpretasikan melalui buku ini bisa diasumsikan menggambarkan penalaran kehidupan wanita Jawa yang muncul dari beraneka totem tersebut, yang seakan-akan berbeda kutub dengan apa yang dilakukan Barhes. Seolah seperti mitos pramodern versus mitos (pos)modern.

Mitos bukanlah hal yang asing dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, buku ini sangat menarik untuk diselami agar kita selalu ingat bahwa kita senantiasa hidup berdambingan dengannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Soembawa, 1900-1950: Arsip Foto Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal

Judul : Soembawa, 1900-1950: Arsip Foto Sebagai Sumber Penulisan Sejarah Lokal
Penulis : Yuli Andari Merdikaningtyas
Penerbit : CV. Esa Media Tama, bekerjasama dengan Sumbawa, dan didukung oleh Lembaga Adat Tana Samawa
Halaman dan Ukuran : 120 hlm; 13 x 20 cm

Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Buku ini ditulis berdasarkan foto-foto yang dimiliki keluarga Sultan Muhammad Kaharuddin III di Bala Kuning (1931-1952).  Komunitas Sumbawa Cinema Society dan KITLV Digital Image Library adalah pihak yang mengoleksi katalog foto-foto tersebut. Dari dua sumber arsip foto yang berbeda, digunakan dua perspektif untuk meresponnya. Untuk sumber arsip foto pertama kacamata orang Eropa yang melihat dan mengimajinasikan Sumbawa sebagai tempat tinggal di Hindia Belanda menjadi perspektif yang digunakan. Sedangkan untuk sumber arsip kedua, perspektif yang digunakan lebih untuk membaca representasi Indonesia. Seleksi foto dilakukan dengan memilah foto-foto berangka tahun yang sama dengan sumber pertama.

Mengacu pada metodologi disiplin sejarah, posisi arsip dilihat sebagai sumber sejarah yang menempati kedudukan  tertinggi dibandingkan dengan sumber sejarah lainnya, atau dapat dikatakan sebagai sumber sejarah primer. Dalam pengantar buku ini,  disampaikan bahwa penulisan sejarah lokal sangat kering karena jauh dari pusat kekuasaan. Juga, tidak banyak yang berminat menulis sejarah lokal. Selanjutnya, pembicaraan tentang sejarah lokal Sumbawa yang bersumber dari foto dibicarakan di halaman 34 dengan berdirinya studio foto Sinar di Kota Sumbawa Besar. Tentu, untuk mampu membaca arsip foto, kita memerlukan konteks. Oleh karena itu,  diperlukan sumber-sumber lain, seperti teks foto, catatan harian penulis, maupun arsip lain yang mendukung dan relevan dengan arsip foto yang dimaksud.

Dalam halaman-halaman terakhir, foto-foto bernarasi dipaparkan. Foto-foto itu banyak tentang keluarga, pejabat-pejabat pemerintahan Belanda dan Kerajaan Sumbawa, dan sebuah perayaan maupun aktivitas yang diselenggarakan oleh kerajaan.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.

Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial dan Kemanusiaan

Judul : Lukisan Basoeki Abdullah: Perjuangan, Sosial dan Kemanusiaan
Penyusun : Agus Aris Munandar, Joko Madsono, Aris Ibnu Darodjad, Irna Trilestari, Linda Sunarti, dan Budi Eriyoko
Penerbit : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Museum Basoeki Abdullah

Resensi oleh : Santosa Werdoyo

Buku ini merupakan salah satu kajian tentang karya lukis Basoeki Abdullah yang dilakukan oleh Museum Basoeki Abdullah. Dengan berangkat dari tema-tema lukisan Basoeki Abdullah secara berkesinambungan pada 2009, kajian pertama diterbitkan dengan judul Lukisan Basoeki Abdullah: Tema Dongeng, Legenda, Mitos, dan Tokoh Kajian. Kajian kedua, pada 2011, berjudul Lukisan Potret Basoeki Abdullah. Sedangkan kajian ketiga, dituangkan ke dalam buku pada 2018, bertema Perjuangan Bangsa, Kehidupan Sosial dan Kemanusiaan.

Secara singkat, buku ini terdiri atas dua bagian. Pertama, lebih kepada penjelasan soal kerangka dan metode-metode kajian. Selanjutnya, baru mengulas soal tema yang dikaji beserta objek lukisan-lukisan Basoeki Abdullah, baik yang disimpan di museum, perorangan, ataupun tempat lain yang masih berada di Indonesia.

Dalam buku ini lukisan-lukisan yang dikaji telah dikumpulkan dan dikelompokkan secara tematis, disertai tabel beserta deskripsi lukisan. Dari ketiga tema yang disuguhkan, untuk tema Perjuangan terdapat 7 lukisan dengan 2 peristiwa yang digambarkan yaitu 4 Gerakan Non Blok dan 2 Sketsa Revolusi. Untuk tema Sosial dan Kemanusiaan terdapat 16 lukisan, antara lain lukisan aktifitas di sawah, di pasar, di pelabuhan, figur nenek dan monyet, dan figur anak. Selain itu, beberapa lukisan karya Basoeki Abdullah juga dibandingkan dengan lukisan-lukisan karya pelukis lain dengan kriteria kesamaan objek yang digambar.

Penutup dalam buku ini berisi kesimpulan dari bab-bab yang dijelaskan sebelumnya, bahwa lukisan-lukisan Basoeki Abdullah cenderung realis. Dengan tidak melepaskan unsur keindahan dalam objek yang dilukis, pada perbandingan karya lukis Basoeki Abdulah dengan Dullah, Henk Ngantung, dan Rustamaji, hakekatnya adalah sama; bahwa lukisan mereka itu menyampaikan peristiwa sejarah dan visualisasi keadaan sosial.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.