Category Archives: Agenda Rumah IVAA

Outreach IVAA 2019

Kami merekam aktivitas IVAA di beberapa acara di lokasi yang beragam selama kurang lebih 6 bulan terakhir, Juni-November 2019. Mulai dari bincang & workshop seputar pengarsipan, pemanfaatan dana perwalian kebudayaan, hingga partisipasi sebagai resource room. Bukan maksud kami untuk menebalkan legitimasi, justru beragam kegiatan ini merupakan sebentuk upaya untuk merawat sekaligus belajar dari jaringan. Oleh karena itu kami menyebutnya dengan Outreach IVAA.

Silakan klik tautan Outreach IVAAuntuk melihat infografis.

Milang Kori: Beragam Pintu, Beragam Pengetahuan

oleh Santosa Werdoyo dan Dwi Rahmanto 

Video: Milang Kori – Surabaya

Setelah beberapa saat bersafari di dua tempat, yakni di perpustakaan Open Page serta Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman di area Yogyakarta, kami mencoba membuka jaringan lebih luas ke Surabaya dan Madura dalam rangka perjalanan Milang Kori: Jadikan Aku Pustakawan (milang kori, dalam bahasa Jawa berarti “menghitung pintu”, dapat dimaknai sebagai praktik menjelajahi berbagai tempat untuk mempelajari lokalitasnya). Di dua area ini kami bertemu beberapa komunitas dan individu yang cukup intens dalam kerja-kerja pengarsipan, perpustakaan, literasi maupun aktivitas kesenian. 

Bersamaan dengan perjalanan ini, beragam isu nasional sedang berkembang, seperti perihal UU Pelecehan dan Kekerasan Seksual, KPK, represi para aktivis, serta problem pasca pemilu yang tak kunjung usai dan justru memecah belah komunitas. Kadang isu-isu itu membuat kami berkerut dahi. Tetapi pertemuan dengan kawan-kawan dalam perjalanan Milang Kori: Jadikan Aku Pustakawan membuat kami bersemangat lagi. Bersama-sama kami mempertanyakan model demokrasi macam apa hari ini, sekaligus memantulkan pertanyaan itu pada praktik-praktik pengarsipan yang tentu sudah hidup lama di dalam jiwa masyarakat. Bahwa demokrasi dalam pengarsipan juga menjadi hal yang penting untuk dipertanyakan terus-menerus; setiap komunitas memiliki caranya masing-masing untuk mencatat pengetahuan baik melalui kesenian tradisi ataupun keseharian. Menilik kembali praktik-praktik pengarsipan dan pengetahuan lokal barangkali bisa ditempatkan sebagai upaya untuk membentengi kita dari pertikaian bangsa. 

Rabu malam, 18 September 2019, kami tiba di Surabaya dengan kereta ekonomi yang cukup nyaman. Keesokan harinya kami bertemu Oei Hiem Hwie untuk ngobrol secara eksklusif. Cerita demi cerita tentang Medayu Agung ia sampaikan secara runut. Medayu Agung adalah sebuah perpustakaan dua lantai yang menyimpan beragam koleksi buku dan arsip, bertempat di kompleks perumahan yang diprakarsai oleh Oei Hiem Hwie sendiri. Oei Hiem Hwie lahir di Malang pada 1938. Mama dan papanya berasal dari Tiongkok. 

Dalam perjalanan hidupnya, Oei memilih untuk berkewarganegaraan Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan Harian Trompet Masjarakat, sebuah surat kabar yang mendukung politik Soekarno. Tragedi 1 Oktober 1965 membuat Oei tidak bisa bekerja lagi. Ia ditahan di Kamp Gapsin, Batu pada 12 Januari 1966. Lalu ia dipindahkan ke penjara Lowokwaru, Malang, dimasukkan ke Blok 10-11. Tidak hanya itu, pada 1970-1978 Oei menjadi tahanan politik di Pulau Buru. 

Di Pulau Buru ia bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer. Pada waktu itu Pram meminta Oei untuk menyimpan naskah asli tulisannya yang berjudul Ensiklopedi Citrawi Indonesia, yang ditulis tangan dan diketik menggunakan mesin ketik. Naskah itu berhasil keluar dari Pulau Buru bersama Oei dan disimpan di Medayu Agung. 

Medayu Agung berlantai dua. Dari pintu masuk di lantai pertama, kita bisa melihat foto Bung Karno, tempat duduk dan meja untuk tamu, dan rak besi yang berderet setinggi dua setengah meter berisi buku serta majalah. Ada juga lemari kaca berbentuk persegi panjang berisi koleksi surat kabar Suara Rakyat, Api Pancasila, Ampera serta beberapa media massa yang masih terbit hingga saat ini seperti Kedaulatan Rakyat, Kompas, dan Jawa Pos. Selain itu ada tiga kamar yang khusus digunakan untuk menyimpan buku-buku Pramoedya Ananta Toer serta koleksi buku lama dan langka yang sudah tidak diterbitkan lagi. 

Di lantai atas terdapat berderet rak besi yang berisi koleksi surat kabar dari masa kemerdekaan. Terpampang juga buku-buku bertema sosial-budaya, sosial-politik, ekonomi dan beberapa tema lain. Oei juga membuat kliping dengan tema spesifik yang ia letakkan di sudut ruangan lantai ini. Perpustakaan yang begitu kaya akan pengetahuan ini dapat diakses publik pada Senin-Jumat (09.00-16.00) dan Sabtu (09.00-13.00). 

Setelah Medayu Agung, kami berpindah ke Serbuk Kayu, sebuah komunitas kesenian yang dikelola oleh anak-anak muda. Serbuk Kayu terletak di sebuah kontrakan di perumahan yang tidak jauh dari Kampus UNAIR di pinggir Kota Surabaya. Salah satu kegiatan mereka adalah Timur Liar yang bekerjasama dengan Kolega Warna, Darjoclub, Banyu Genuk, Kuas Patis, Tanjung Market, Kolekjos, Taman Langit, Sektor Kotor, Vila Artspace, Tubgraff, dan Sara. Timur Liar merupakan sebuah kegiatan untuk saling bertemu, berkumpul, dan berjejaring dalam rangka membangun pemahaman atas pola seni rupa saat ini. 

Dari pinggir kota kami melanjutkan perjalanan ke tengah. Tibalah kami di C2O Library and Collabtive. Di ruang depan yayasan ini terdapat perpustakaan dengan koleksi sekitar 7000 buku, komik, dan majalah yang telah dikelompokkan. Pengelompokannya berdasarkan disiplin ilmu, seperti sejarah, seni, arsitektur, dll. Masih di ruang yang sama, terdapat tempat untuk menjual buku serta merchandise baik dari C2O ataupun titipan. Tidak hanya itu, C2O juga punya co-working space dan event space sendiri. 

Kami bertemu Beni Wicaksono yang kemudian berbincang soal perkembangan seni rupa khususnya di Surabaya. Dari Beni kami dihantarkan untuk bertemu Nuzurlis Koto, seorang dosen di STKW yang dulu pernah seangkatan dengan seniman Nunung WS. Ia lebih banyak bercerita tentang sejarah seni rupa di Surabaya pada era 1960-an. Nuzurlis Koto memiliki banyak koleksi barang-barang seni di rumahnya. Selain itu ia juga menyimpan kliping maupun surat-surat seniman Nashar. 

Malam hari berikutnya kami menuju ke Lapak Baca Bakteri di Gang Pesapen di daerah bilangan, Surabaya, berjarak kurang lebih 1 km dari Pelabuhan Tanjung Perak. Kami bertemu Rian. Sangat menarik karena ketika kami datang, kami masih sempat menyaksikan sendiri bagaimana lapak itu digelar. Pengendara motor yang lewat harus menuntun motornya. Ada banyak buku, majalah dan komik anak-anak yang disuguhkan melalui lapak selebar kurang lebih 4 meter beralaskan tikar tersebut. Kurang lebih ada 50-an anak dari kampung setempat yang datang dan saling berinteraksi sembari duduk membaca dan menggambar. Perpustakaan keliling itu diadakan seminggu sekali setiap Kamis malam pada pukul 19.00-21.00. Beragam koleksi itu sebagian didapat dari donasi, hasil tukar dengan jaringan, dan beli menggunakan dana sendiri. Lapak Baca Bakteri adalah salah satu praktik nyata pendidikan dan rekreasi yang begitu dekat dengan masyarakat. 

Dari Surabaya kami menyeberangi Selat Madura. Pertemuan pertama kami di sini berlangsung di Kafe Manifesco, Pamekasan bersama dengan kelompok Khoteka. Pada waktu itu banyak seniman serta para pegiat kebudayaan yang hadir dan berbagi pengalaman. Praktik pengarsipan ternyata bukan hal baru bagi mereka. Dari makanan khas Madura, pendapat generasi muda tentang kotanya, dan hal-hal keseharian lainnya menjadi ingatan yang mereka arsipkan. 

Video: Milang Kori – Madura

Keesokan hari kami pindah ke Sumenep, masih di Pulau Madura. Kami mengunjungi Pondok Pesantren Annuqayah yang sudah berdiri sejak 1887 di Guluk-Guluk. Di pondok pesantren tersebut kami bertemu KH. Mohammad Faizi. Selain sebagai seorang kyai, ia adalah penulis yang gemar bermain gitar dan bepergian menggunakan bus umum. Faizi sudah mengarungi rute jalan darat di berbagai kota di Indonesia. Tidak sekedar hobi, ia bahkan mengumpulkan semua tiket bus yang didapatkan selama bertahun-tahun. Perjalanan nampaknya menjadi metode pengarsipannya. 

Kami dibuat takjub ketika Faizi mengajak berkeliling area pondok yang terletak di perbukitan ini. Karena begitu luasnya, kami pun harus menggunakan mobil. Pengaruh seorang kyai begitu kuat di sini. Ketika kami lewat di tengah-tengah ribuan santri dan santriwati, sontak mereka menundukkan kepala dan sama sekali tidak berani menatap wajah Kyai. Ini adalah sebentuk tawadhuk murid kepada guru. 

Cara para guru menyebarkan pengetahuan di Pondok Pesantren Annuqayah juga menarik. Tidak ada struktur yang begitu baku. Mengelola pengetahuan dengan basis sastra sudah bukan barang asing bagi mereka. Ini adalah kesenian dan menjadi bagian penting kebudayaan mereka. Sehingga, membaca puisi di sore hari di atas batu-batu besar sewaktu jeda rutinitas sudah lumrah dilakukan. 

Perjalanan ini kami tutup dengan menginap di Dapur Kultur, sebuah perpustakaan yang dikelola secara kolektif dengan koleksi buku sejumlah 5000-an. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan pulang. Dari Sumenep kami naik bus ke arah Surabaya, lalu disambung dengan kereta ke Yogyakarta. Meski perjalanan kami masih sepenggal, banyak sekali pertemuan dan pengetahuan yang kami peroleh. Tidak hanya pengetahuan soal pengarsipan, tata nilai kehidupan serta jejaring baru juga menjadi bagian penting dari rekam perjalanan kami. Bahwa tiap komunitas punya pintunya masing-masing untuk menjadi subjek atas pengetahuannya.

View this post on Instagram

Berbagai keceriaan & kebaikan dalam beberapa hr ini. Bertemu dg teman-teman yg berdedikasi, berbagi semangat, pengalaman & refleksi. . . Apa yg tengah dipersiapkan oleh tim IVAA dan kawan-kawan baik ini? Tunggu kabar selanjutnya, Semua ada waktunya.. . . Jgn lupa baca berbagai RUU yg membuat kt capek & panas jdi org indonesia! Siapkan stamina utk bergabung & merapatkan barisan! Salam hormat utk kawan2 di garis terdepan ataupun pengorganisasian. Teriring doa utk kawan2 di Papua, Kendari, Jakarta yg hrus mnjdi korban… . . #arsipivaa #dokumentasiivaa #ivaaarchive #documentationivaa #archive #art #senirupa #visualart #arsipsenibudaya #arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa #indonesianvisualartarchive

A post shared by Indonesian Visual Art Archive (@ivaa_id) on

 

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Seniman Mengajar, Denyut Tatapan Kebudayaan

oleh Krisnawan Wisnu Adi 

Selama 43 hari pada Juli-September 2019 beberapa seniman terpilih telah mengikuti program Seniman Mengajar 2019 di beberapa lokasi. Seniman Mengajar merupakan program dari kemdikbud yang dirancang untuk menciptakan ruang-ruang dialog, kolaborasi, dan partisipasi antara seniman dan masyarakat untuk berinteraksi, bertukar informasi, pengetahuan, berkarya, serta membangun jejaring seni untuk menciptakan ekosistem seni yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.   

Pada Selasa, 17 September 2019, pukul 3-5 sore bertempat di IVAA, tiga seniman yang mengikuti program Seniman Mengajar 2019 membagikan pengalaman proses kreatifnya di lokasi. Mereka adalah Aik Vela Pratisca (seniman teater), Yessy Yoanne (seniman tari), dan Amanatia Junda (pegiat literasi). Berbagai macam bentuk tatapan kebudayaan yang mereka alami bersama masyarakat setempat dibagikan sebagai bentuk penyebaran pengetahuan. 

Aik menghabiskan waktunya di Kecamatan Larantuka, Flores Timur. Perjumpaan awalnya dengan laut telah menggiring Aik untuk kemudian membicarakan isu perempuan, ritual, dan makanan dalam proses kekaryaannya.  

Dalam konteks adat, keberadaan perempuan di masyarakat Flores Timur cukup dihormati. Mereka bisa dikenakan hukum adat, potong babi misalnya, jika ketahuan bekerja di ladang. Bahkan, ada satu mitologi dari masyarakat Suku Lamaholot (suku tertua di Flores Timur) yang menempatkan perempuan dalam posisi penting. Mitologi itu disebut Tonu Wujo; seorang anak perempuan yang merelakan dirinya dicacah-cacah dan disebar untuk mengatasi kekeringan yang dialami masyarakat. Tonu Wujo kemudian menjadi upacara adat untuk menentukan keberhasilan masa subur desa. Selain itu ada upacara Semana Santa atau pekan suci menjelang Paskah. Di dalam rangkaian upacara itu ada satu proses pengarakan patung Tuan Ma (Bunda Maria) sebagai devosi atau ungkapan syukur atas hasil panen dan tangkapan ikan di laut. 

Namun, Aik melihat bahwa kehormatan posisi perempuan dalam masyarakat tidak seagung mitologi serta upacara adatnya. Tak jarang Aik menemukan para mama justru bekerja terlalu keras. Sebelum beristirahat pada malam hari, mereka harus mengurus suami dan rumah tangga, berkebun, dan memberi makan babi. Fenomena yang ironis seperti patung Tuan Ma, yang meski diarak dalam rangkaian pekan suci, patung tersebut berparas sedih. 

Oleh karena itu Aik memilih untuk melakukan pendampingan penciptaan Teater Mama. Selain ingin berpartisipasi bersama para mama di sana, keberadaan sanggar berusia setahun mendukung kegiatan yang Aik gelar. Aik mencoba menggali kisah hidup mereka dengan metode ‘river of my life’: membagikan tiga peristiwa yang tidak pernah dilupakan di dalam hidup. Rahasia-rahasia sebagai sesuatu yang sukar diceritakan akhirnya dibagikan. Para mama menjadi terbuka untuk membagikan pengalaman sakit dan dicampakkan. Berbagai pengalaman itu kemudian diolah menjadi teks pementasan yang dibuat oleh para mama itu sendiri. Sambil tetap melakukan aktivitas sehari-hari, mereka berlatih teater. 

Selain teater, Aik juga mengajak para mama untuk memikirkan ulang persoalan makanan. Bersama-sama mereka pergi ke kebun mencari tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan. Temuan mereka kemudian dicatat dan digunakan untuk membuat resep baru yang otentik. Poin penting yang ingin diupayakan Aik adalah peran seni sebagai media ekspresi dan mengaktifkan pengalaman berbagi melalui indera.  

Jauh di utara Flores Timur, Yessy melakukan program Seniman Mengajar di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Sebuah daerah perbatasan Indonesia di utara dengan Filipina. Tarian menjadi fokus ketertarikan seniman tari berdarah Manado ini. Bersama masyarakat Yessy mengembangkan gerak tari Ampa Wayer, sebuah tari pergaulan Sangihe bernuansa dansa. Tari ini sebenarnya merupakan warisan Portugis ketika menjajah wilayah Sulawesi. Di sisi lain, masyarakat Sangihe sebenarnya memiliki tari adat mereka sendiri, yakni Salaing Bawine. Tari ini awalnya dibuat oleh masyarakat, bukan kerajaan. Tetapi seiring berangsurnya modernitas, tari Salaing Bawine kian jarang dilakukan. Menurut Yessy, kepunahan tari tersebut juga dilatarbelakangi oleh ketersediaan literatur yang minim serta sistem pendidikan yang kurang memadai. 

Dari persoan di atas, Yessy kemudian membuat tari Sakaeng Masa Sangihe. Sebuah tari yang mengisahkan Suku Sangir (suku pengembara lautan) yang terdiri dari 9 penari (5 laki-laki, 4 perempuan) membentuk formasi perahu. 

Berbeda dari Aik dan Yessy, Natia lebih bekerja di wilayah sastra. Banda Neira menjadi tempat di mana ia menjalankan program Seniman Mengajar. Di sana Natia banyak belajar menulis bersama perempuan-perempuan muda. Barangkali Natia mencoba untuk lebih menguatkan keberadaan komunitas dan festival sastra di sana. 

Natia sempat bingung dengan situasi di Banda Neira. Pala melimpah, perekonomian tinggi, ikan masih banyak, dan tingkat kriminalitas rendah. Seolah tidak ada masalah. Tetapi, Natia justru menemukan bahwa persoalan yang ada di sana adalah tentang narasi sejarah Banda Neira. Masyarakat di sana selalu menempatkan kolonialisme Barat sebagai satu-satunya pilar pokok sejarah mereka. Meskipun demikian, mereka tidak malu untuk menceritakan peristiwa sejarah sesuai versinya masing-masing. 

Berangkat dari konteks tersebut, Natia memilih untuk mendirikan bengkel menulis setiap Senin dan Selasa malam. Ia mengajak orang-orang muda di sana untuk menuliskan pengalaman keseharian mereka sendiri. Meski tetap banyak yang menulis cerita tentang kolonialisme Barat dan drama Korea, Natia berusaha memberi ruang untuk mendiskusikan mitologi-mitologi setempat, misalnya gurita anak manusia. Setelah melalui proses yang tidak mudah, bengkel menulis itu akhirnya melahirkan sebuah buku berjudul Goresan Tinta Anak Banda. 

Salah satu poin yang cukup nampak dari diskusi ini adalah bahwa masyarakat lokal belum menjadi subjek atas pengetahuan mereka sendiri. Entah itu dalam hal seni tari, narasi sejarah, atau mitologi yang menempatkan perempuan di dalam posisi khusus. Kehadiran para partisipan melalui program Seniman Mengajar di satu sisi bisa menjadi pancuran air menyegarkan. Tetapi proses bersama yang hanya terjadi selama 43 hari tidak akan mengubah pancuran air menjadi sumur yang dalam. Pekerjaan yang paling berat justru bukan terletak pada membuat sesuatu yang baru, tetapi mempertahankan kesadaran kolektif atas pengetahuan sebagai bagian dari kebudayaan setempat. Apakah denyut tatapan kebudayaan tersebut akan senantiasa berdenyut?

View this post on Instagram

Aik Vela, Yessy dan Amanatia adalah tiga dari sekian seniman yang berkesempatan dalam mengikuti program seniman mengajar. Melalui berbagai bidang seni yang ditekuni oleh seniman partisipan program, banyak peristiwa muncul dari pertemuan budaya saat beraktivitas bersama. Seniman perempuan yang bergerak dari identitas personal disentuhkan dalam kondisi sosial budaya yang amat berbeda. Seniman berangkat dari kekuatan masyarakat budaya setempat, menatap lebih luas, mendengar lebih cermat, dan memaknai lebih dalam, perbincangan dalam rutinitas budaya tersebut. Tatapan inilah yang sehangat mungkin ingin dibagi dan diinteraksikan dengan rekan-rekan di luar program Seniman Mengajar 2019, agar lebih panjang bentang pengetahuan baru yang diproduksi bersama. #arsipivaa #dokumentasiivaa #ivaaarchive #documentationivaa #archive #art #senirupa #visualart #arsipsenibudaya #arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa #indonesianvisualartarchive #magang #magangivaa #magangivaaoktoberdesember2019

A post shared by Indonesian Visual Art Archive (@ivaa_id) on

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.

Mengintip Wilayah, Sejarah, dan Sistem Nilai Masyarakat Maluku

oleh Hardiwan Prayogo

Rabu sore, 2 Oktober 2019, Rumah IVAA kedatangan Hikmat Budiman, Pomad Wali, dan Octalyna Puspa Wardany. Mereka sengaja hadir untuk menjadi pemantik dalam diskusi buku yang berjudul Ke Timur Haluan Menuju. Buku ini berangkat dari hasil penelitian lapangan para peneliti Populi Centre di berbagai wilayah di Kepulauan Maluku. Berbagai isu dan persoalan dihadirkan dalam buku setebal 386 halaman ini. Mulai dari yang paling umum ketika membicarakan wilayah timur Indonesia seperti pembangunan infrastruktur. Kemudian mencoba lebih dalam dengan menelisik sejarah panjang tanah Maluku dengan rempah-rempah, masyarakat diaspora antara Seram Timur dan Papua Barat, gerakan adat dan transisi agraria, segregasi sosial dan spasial generasi muda Ambon, hingga studi kepemimpinan adat.

Dalam diskusi ini, arah pembicaraan mencoba dikerucutkan pada persoalan Jawa-sentrisme, khususnya dalam pembangunan wacana dan infrastruktur kesenian. Kurang lebih demikian yang disampaikan oleh Yan Parhas, yang bertindak sebagai moderator diskusi. Dalam wacana ini, ketimpangan juga terjadi. Pertanyaannya adalah apakah ketimpangan lahir karena membayangkan pertumbuhan dan kemajuan yang sama? Apakah justru dengan berbagai ketimpangan, emansipasi justru bisa terjadi? Buku ini kemudian dilihat sebagai pemaknaan ulang atas nilai-nilai kemajuan tersebut. Dengan kata lain, timur sebagai pijakan berkembang. Maka untuk penajaman ke arah ini, dihadirkan Octalyna Puspa Wardany, yang akrab dipanggil Opee. Selain aktif sebagai kurator dan penulis berbagai pameran Opee juga merupakan Pendiri Rumah Produksi Seni Gerimis Ungu, inisiator proyek seni yang melibatkan antropolog dan seniman tahun 2011-2014. Sedangkan Pomad Wali adalah pria asal Maluku alumnus pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, dan telah menyunting beberapa buku.

Sebagai pemantik pertama, Opee menekankan pada rentang pembacaan buku Ke Timur Haluan Menuju yang cukup jauh. Ia bercerita bahwa buku ini membuatnya teringat tentang asal mula rempah-rempah tersebar ke seluruh dunia melalui kebudayaan maritim masyarakat Maluku, mencapai masa keemasan pada abad ke-9, hingga kemudian Eropa menginvasi dan dimulailah kolonisasi. 

Dalam konteks yang lebih luas, Opee menilai bahwa ada 3 pilar wilayah masyarakat adat, yaitu wilayah, sejarah, dan sistem nilai. Masyarakat adat yang selalu hidup dengan alam, menjadi bagian dari upaya dunia menjaga ekosistem alam. Secara sosial, masyarakat adat bisa beradaptasi dengan masyarakat modern. Meski pada akhirnya sosok raja menurun gengsinya, ia masih dianggap memiliki modal sosial yang kuat. Lebih jauh ada situasi di mana tokoh sosial, dalam hal ini raja, dipisahkan dengan tokoh spiritual. Artinya ada pemisahan antara pemimpin lokal dengan pemimpin spiritual. Situasi dalam jangka panjang melahirkan tarikan semakin jauh antara hal-hal yang bermuatan transenden menjadi profan. Akhirnya terjadi pergeseran dari spiritual menjadi sekadar ritual dan pertunjukan akibat pariwisata. Singkatnya tidak ada lagi nilai yang melekat dan bisa diberlangsungkan dalam hidup. 

Pomad kemudian melanjutkan diskusi dengan perspektif yang lain. Sebagai orang yang lahir di wilayah Maluku, telinganya begitu lekat dengan cerita sejarah wilayahnya yang melulu tentang peperangan. Sudut pandang demikianlah yang dihindari oleh buku ini. Pomad mengapresiasi langkah tersebut karena dinilai memberi sentuhan kebaruan. Di satu sisi, Pomad mengerti betul bahwa Maluku bukanlah entitas tunggal, apalagi homogen. Namun Negara masih kerap mengeneralisasinya sebagai ras timur. Jika identitas digeneralisasi, maka tidak mengherankan jika nilai-nilai yang beragam pun ikut dipukul rata dalam tatanan nilai universal.

Dari buku ini, Pomad melihat bahwa rempah-rempah bagi masyarakat Maluku adalah berkah sekaligus kutukan. Ia pun cukup mengetahui bahwa narasumber yang diwawancarai pada buku ini dinilai tidak jujur. Pomad sendiri mengaku mengenal cukup baik narasumber tersebut. Masyarakat Maluku sejatinya tidak mengenal istilah gerakan adat karena masih hidup dalam sistem kesukuan. Sistem ini membantu rekonsiliasi ketika terjadi konflik antar masyarakat. Namun sekarang rekonsiliasi sulit terwujud karena sistem kesukuan tidak lagi diterapkan karena satu dan berbagai hal. Bagi Pomad, pembacaan atas buku ini, jika tidak didampingi oleh buku yang lain, bisa menimbulkan tafsir tunggal yang keliru. 

Kemudian diskusi berkembang cukup luas ketika direspon langsung oleh Hikmat Budiman, editor buku ini yang juga sekaligus direktur Populi Centre. Intinya Hikmat menekankan bahwa penelitian ini ingin mengelaborasi metodologi penelitian lapangan yang kerap dilakukan Populi Centre. Mulai dari perkembangan wacana, hingga menguji problem-problem etik penelitian lapangan. Pemilihan atas wilayah timur Indonesia juga dinilai sebagai langkah strategis juga untuk menggali perspektif pinggiran. Seperti umumnya buku dengan topik yang jarang diangkat, Hikmat menantang pembaca merespon buku ini dengan riset-riset yang lebih komprehensif. Memang sulit mengklaim buku ini telah membuka tabir, namun setidaknya ia mencoba mengintip di antara celah-celah stereotipe yang biasanya melekat pada masyarakat di wilayah timur nusantara. 

Pada akhirnya, diskusi ini memang tidak berhasil secara gamblang untuk dikontekstualisasikan dengan fenomena kesenian, seperti yang diharapkan di awal forum. Pembacaan dari dua pemantik diskusi, dan satu penulis buku memang tidak menajamkan obrolan ke arah sana. Meski demikian, setidaknya ada banyak pertanyaan lebih lanjut yang  bisa digali dari buku ini, mulai dari persoalan metodologi, metode, perilaku etik peneliti, hingga posisi masyarakat lokal sebagai subjek pengetahuan. Buku ini bisa didapatkan dengan menghubungi akun instagram @ivaa_shop, atau langsung mengunjungi Rumah IVAA.

View this post on Instagram

Selama ini ekosistem kesenian di Indonesia cenderung memihak pada pusat-pusat kesenian yang secara geografis berada di wilayah Indonesia Barat dibanding di wilayah Indonesia Timur. Berbagai pertarungan wacana estetika, aktivisme, hingga pasar terjadi di ruang-ruang tertentu yang sebagian besar lokusnya ada di Indonesia Barat. Atau barangkali justru pandangan seperti ini yang bias pusat. Singkatnya, situasi ini dapat ditafsirkan sebagai ketimpangan dalam dunia kesenian Indonesia. Menilik bahwa kesenian memiliki konteks yang erat dengan lingkungan sosialnya secara dialektik, patut dicurigai bahwa kesenian turut berkontribusi dalam mengkonstruksi ketimpangan antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur. #arsipivaa #dokumentasiivaa #ivaaarchive #documentationivaa #archive #art #senirupa #visualart #arsipsenibudaya #arsipsenirupa #rumahivaa #ivaa #indonesianvisualartarchive

A post shared by Indonesian Visual Art Archive (@ivaa_id) on

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.