Category Archives: E-newsletter

Mengingat yang Bertahan dan Berlalu

Mengingat yang Bertahan dan Berlalu
Fragmen Jejak Vol.3 | Buletin IVAA Dwi Bulanan | Mei-Juni 2020

Halo semua!

Akhir-akhir ini, portal kampung sudah mulai dibuka, orang mulai berjejal antre masuk ke mall, kemah ceria di bukit dan pantai, bahkan bersepeda keliling kota setiap hari. Seolah pandemi telah berlalu, itulah normal baru. Lepas dari tepat atau tidak, kita perlu ingat bahwa beberapa bulan sebelumnya hampir semua lini kehidupan berupaya bertahan. Begitu pula dengan ekosistem kesenian. 

Selama kurang lebih 4 bulan (Maret-Juni) IVAA mencoba mencatat beragam praktik seni-budaya yang berlangsung selama geger pandemi. Pencatatan tersebut kami bagi menjadi tiga klaster: Semesta Bertahan, Olah-alih Medium & Kajian, serta Potret Pustaka. Alih-alih menjadi arsip yang holistik, pencatatan ini justru menjadi tangkapan atomistik yang mengajak kita untuk mengakui kerentanan, memikirkan ulang segala praktik seni-budaya beserta pergeserannya. Elaborasi lebih lanjut terkait hal ini dapat dibaca di sub-rubrik Sorotan Dokumentasi, Sorotan Pustaka dan Sorotan Arsip. Rubrik-rubrik ini juga bisa dijadikan gambaran tentang bagaimana lembaga arsip tetap bekerja dalam situasi social dan physical distancing kini.

IVAA juga tak luput dari situasi yang serba bergeser ini. Melalui Agenda Rumah IVAA kami sedikit menceritakan beberapa upaya kami bernegosiasi dengan keadaan. Mulai dari work from home, mekanisme piket harian, donasi, hingga bersih-bersih rumah yang ternyata kerap kali luput dari perhatian. 

Pada bagian Baca Arsip, kami memuat dua tulisan dari dua kontributor. Dian Putri Ramadhani, melalui tulisannya yang berjudul “Andalkan Arsip dan Solidaritas, Seni Tradisi Bertahan”, menyoroti dampak pandemi serta siasat bertahan yang muncul dari dua kelompok seni tradisi. Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih dan Paguyuban Wayang Orang Bharata mengandalkan arsip dan solidaritas untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tulisan Dian Putri seolah disambut oleh Udiarti melalui “Wajah Normal Baru Seni Pertunjukan”. Teknologi digital memang menjadi media yang relevan untuk tetap menghubungkan seni dengan masyarakat di masa pandemi. Akan tetapi, dengan berangkat dari seni ritual rakyat, seperti Jathilan dan Dolalak, Udiarti mencoba mengajak kita berpikir ulang; menyiapkan diri atas kemungkinan pergeseran makna kesenian rakyat yang bisa jadi makin berjarak dengan rakyat. 

Edisi ini mencoba mengajak kita untuk tidak kurang ingatan, memikirkan ulang siapa/ apa yang bertahan dan berlalu. Layaknya karya Yusuf Ismail yang berjudul “kurangingatan” di Festival Arsip IVAA tahun 2017, bahwa media sosial dan pesan pendek sebagai medium relasi personal seringkali mempengaruhi keputusan-keputusan penting perjalanan kesenian, beragam praktik akhir-akhir ini pun berpotensi mendefinisikan tata seni-budaya selanjutnya. 

Selamat membaca!

Krisnawan Wisnu A


I. Pengantar Redaksi
oleh Krisnawan Wisnu Adi

II. Kabar IVAA
Sorotan Dokumentasi
Oleh: Krisnawan Wisnu Adi dan Lisistrata Lusandiana

Sorotan Pustaka
Oleh Santosa Werdoyo

Sorotan Arsip
Oleh Sukma Smita dan Hardiwan Prayogo

III. Agenda Rumah IVAA
Oleh Edy Suharto

IV. Baca Arsip
Oleh Dian Putri Ramadhani dan Udiarti


Pemimpin Redaksi: Krisnawan Wisnu Adi
Redaktur Pelaksana: Krisnawan Wisnu Adi
Penyunting: Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi
Penulis: Sukma Smita Brillianesti, Edy Suharto, Santosa Werdoyo, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi, Lisistrata Lusandiana
Kontributor: Dian Putri Ramadhani, Udiarti
Tata Letak: M Fachriza Ansyari

Meraba Wajah Praktik Seni-Budaya di Atas Tanah yang Bergeser: Catatan Sederhana tentang Pengarsipan di Kala Pandemi

Oleh Lisistrata Lusandiana dan Krisnawan Wisnu Adi

Semakin ke sini, ingatan menjadi semakin berharga tapi juga semakin sulit dikelola. Percepatan dunia yang dimulai oleh revolusi digital seolah membuat kita semakin gelagapan berurusan dengan ingatan, kesenian, dan bahkan peristiwa. Harapan banyak orang bahwa era teknologi digital dapat mengabadikan banyak hal di ‘ruang angkasa’, beriringan dengan potensi hilangnya ingatan di belantara data, atau paling tidak tersesat atau keracunan di dalamnya. Itulah tantangan pengarsipan sekarang.

Tantangan macam itu semakin dipertegas oleh kehadiran pandemi saat ini. Arus dunia digital makin dipercepat ketika ‘jaga jarak’ menjadi kebiasaan. Interaksi virtual menjadi kebutuhan yang membludak. Segala cara hidup beserta perspektifnya seolah sedang diombang-ambing di atas tanah yang bergeser tanpa bisa kita raba dengan jelas arahnya. 

International Council on Archives (ICA) mendeklarasikan pentingnya pengarsipan di tengah situasi pandemi. Bahwa tugas untuk mendokumentasikan tidak berhenti semasa krisis. Kehadirannya justru jadi lebih penting sebagai sumber historis untuk melihat lagi bagaimana negara, masyarakat dan komunitas internasional menghadapi krisis. Mengafirmasi pernyataan UNESCO, mengubah ancaman Covid-19 menjadi peluang untuk pendokumentasian, karena arsip adalah sumber terpercaya untuk menjamin keamanan dan transparansi administratif. Lebih spesifik, arsip dan manajemennya menjadi elemen kunci untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 dalam kaitannya dengan akses informasi.

Pernyataan ICA terkait peran pengarsipan di tengah pandemi yang menjadi lebih penting dan mendesak tersebut, tentu saja tidak salah. Tetapi tidak bisa begitu saja kita terima mentah-mentah. Dalam pernyataannya, ICA lebih banyak didorong oleh kepentingan-kepentingan di sekitar perwujudan tata kelola pemerintah transparan, terbuka dan terukur. Karena hal-hal itulah yang menjadi prasyarat demokrasi. Singkat kata, pengarsipan untuk mendorong praktik good governance. Di Indonesia, perihal ini juga cukup konkret, bisa terlihat dari sengkarut penyaluran bantuan. Akan tetapi, yang menjadi tantangan saat ini yaitu bahwa kita juga perlu menempatkan urgensi pengarsipan, tidak hanya di hadapan kepentingan good governance. Tantangan kita saat ini ialah menempatkan urgensi pengarsipan di atas tanah kebudayaan. 

Kebutuhan merekam peristiwa juga muncul untuk kepentingan nilai kesejarahan dalam koridor disiplin ilmu. A Journal of the Plague Year dari School of Historical, Philosophical and Religious Studies, Arizona State University, melalui laman Share Your Story, mengundang publik untuk mengirimkan arsip mereka yang berkaitan dengan pandemi dalam format digital. Dengan mengantongi keyakinan bahwa penting untuk membayangkan apa yang bisa ditulis oleh para sejarawan mendatang mengenai pandemi, arsip sudah sedari lahir diciptakan untuk kepentingan historis. Orientasi partisipasi publik dengan pandangan sejarah masa kini (history of the present) menjadi kecenderungan yang semakin dipertegas di masa pandemi ini. 

Tidak hanya dilakukan oleh institusi-institusi formal dan melulu berorientasi administratif serta historis, inisiatif pendokumentasian juga dilakukan oleh individu dengan orientasi personal, sepersonal bercerita layaknya kultur sosial media. Rebecca A. Adelman melalui Coronavirus Lost and Found: A Pandemic Archive, mencoba mengundang publik untuk membagikan cerita tentang apa yang hilang dan lahir sebagai habitus baru. Inisiatif ini ia lakukan atas dasar ketertarikannya terhadap peran emosi dalam situasi penderitaan dan bertahan hidup. Selain itu, ada juga betweenyounme.nl oleh Mirjam Linschooten. Melalui laman ini, Mirjam mengajak publik untuk membagikan cerita tentang perubahan objek (personal) apa yang terjadi ketika pandemi. Perhatian atas inisiatif pengarsipan secara individual ini muncul atas dasar kebutuhan orang untuk berbagi cerita, dan/ atau impresi personal. 

Sembari terus berusaha mewujudkannya, kami percaya bahwa pengarsipan harus selalu kontekstual. Ketika semua praktik seni bergeser karena pandemi, kami mencoba untuk merekamnya. Tentu saja tidak mudah untuk merekam praktik-praktik seni-budaya yang bergeser ini, ketika hampir semua mendadak virtual. Akses memang mudah, tetapi agresivitas informasi tak bisa dihiraukan. Oleh karena itu, perlu kami akui bahwa bukan keutuhan dan kemapanan catatan peristiwa yang kami sasar, melainkan tangkapan atomistik tentang bagaimana ekosistem seni-budaya bertarung dengan keadaan, yang mungkin dapat menjadi kontribusi refleksi serta produksi pengetahuan kini dan kelak. 

Dari data-data yang kami kumpulkan, baik itu dari media massa, publikasi sosial media, hibah arsip dari publik, webinar, dan sedikit wawancara, ada tiga klaster yang kami tawarkan kepada publik sebagai bingkai. Pertama, Semesta Bertahan: praktik-praktik bertahan hidup yang dilakukan oleh para pegiat seni-budaya, seperti solidaritas pangan, pameran merespon pandemi secara tematik untuk kepentingan kekaryaan dan donasi, advokasi dan kerumitannya, serta bursa dan arisan karya. Kedua, Olah-alih Medium dan Kajian: beberapa pameran yang beradaptasi menggunakan platform digital serta pembicaraan di seputar itu. Ketiga, Potret Pustaka: tentang bagaimana dunia literasi berdinamika di saat pandemi. 

Pengarsipan yang kami lakukan tentu tidak bisa menjadi acuan tunggal untuk melihat dinamika ekosistem seni-budaya semasa pandemi. Meski demikian, paling tidak kami mencoba untuk meraba wajah praktik seni-budaya, terutama dari tradisi seni visual yang juga sedang berupaya beradaptasi dan mempertahankan nafasnya. 

Pengarsipan tidak hanya menjadi penting di atas tanah yang sedang bergeser. Bahwa sesungguhnya, ingatan akan selalu memiliki urgensinya ketika manusia belum punah. Tanpa menunggu pandemi, ingatan selalu menyimpan kenyataan bahwa kita selalu hidup di tengah bayang-bayang krisis. Kerentanan kita di kala pandemi justru menunjukkan bahwa mungkin kita selalu menyangkal, mengabsenkan keterdesakan untuk keterdesakan lain yang tidak jarang hadir dari luar. Merekam ingatan dan peristiwa di masa pandemi setidaknya menjadi titik bagi kita untuk mengakui kerentanan dan memikirkan ulang segala keterdesakan; menilik kembali segala pembicaraan dan praktik seni, bahkan persoalan-persoalan fundamental seperti ritme dan cara hidup yang sedang bergeser ini. 

Untuk melihat sebaran data Semesta Bertahan, silakan klik link checklist ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Pandemi dan Dunia Literasi Hari Ini

oleh Santoso Werdoyo

Pandemi Covid-19 dan kebijakan pemerintah yang muncul sangat mempengaruhi semua lini kehidupan, salah satu di antaranya adalah dunia literasi, muladi dari penerbitan hingga perpustakaan. Kami berusaha meraba situasi dunia literasi semasa pandemi ini dengan mengumpulkan informasi secara online dan bertegur sapa dengan beberapa pegiat literasi, dari pemerintah dan komunitas. 

Dampak pandemi bagi dunia literasi yang banyak dibicarakan adalah pasar buku konvensional yang anjlok. Himbauan jaga jarak mengakibatkan sebagian besar industri perbukuan mandek. Penjualan buku-buku di berbagai negara turun drastis. Di Indonesia turun sekitar 40-70 persen sejak Maret 2020. Sedangkan untuk penerbit, rata-rata dari April bisa bertahan setidaknya tiga sampai enam bulan, sisanya hanya 4-5 persen yang dapat bertahan satu tahun ke depan. 

Ikatan Penerbit Indonesia berupaya menyampaikan permasalahan ini kepada pemerintah, melalui Kemenparekraf. Mereka berharap pemerintah dapat memfasilitasi penerbit agar bisa menjual buku melalui platform digital. Pemerintah di beberapa negara di Eropa, seperti Inggris, Irlandia, Republik Ceko sudah melakukan upaya tersebut. Mereka membeli buku-buku berformat digital (e-book) dari para penerbit untuk kemudian didistribusikan ke masyarakat secara gratis melalui perpustakaan-perpustakaan negara. 

Di Indonesia, pasar e-book tercatat naik 55% sejak Januari hingga Maret 2020, jika dibandingkan dengan periode 2019. Namun memang masih belum maksimal, pasalnya produksi e-book masih dominan topik pendidikan. Permasalahan lainnya adalah belum ada perlindungan hak cipta secara legal bagi penulis yang menulis buku langsung dengan format digital. 

Selain pasar buku, himbauan jaga jarak juga membuat para pegiat literasi, khususnya perpustakaan merubah mekanisme pelayanan publik atau bahkan menutup untuk sementara waktu. Salah satunya perpustakaan yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY. Sampai sekarang layanan secara fisik hanya diberlakukan untuk pengembalian buku, dengan mekanisme drive-through. Untuk peminjaman buku, perpustakaan pemerintah DIY sudah memiliki mekanisme daring. Publik dapat mengakses buku elektronik melalui aplikasi i-jogja. Selain perpustakaan pemerintah DIY, beberapa perpustakaan lain seperti iPusnas, iJakarta, iJabar, dan iJatim juga melakukan model pelayanan yang sama. 

Selain pelayanan peminjaman buku digital, cara lain yang dilakukan perpustakaan pemerintah adalah menggelar beberapa webinar. Salah satunya adalah webinar bertajuk Bangkit dari Pandemi dengan Literasi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Jakarta pada 17 Juni 2020. Topik-topik yang dibicarakan adalah seputar lompatan pemanfaatan teknologi digital untuk pertukaran informasi, seperti pemanfaatan kanal youtube untuk produksi konten edukatif dan sumber ekonomi, serta penguasaan bahasa yang melampaui teritori. 

Perpustakaan non-pemerintah atau komunitas tentu lebih terdampak karena tidak semua memiliki infrastruktur yang mendukung untuk menghadapi pandemi ini. Sejak pertengahan Maret 2020 layanan onsite perpustakaan IVAA untuk publik ditutup. Baru pada awal Mei 2020, dengan situasi ‘new normal’, layanan onsite kembali dibuka tapi dengan mekanisme janjian, dan tetap menjalankan protokol kesehatan. Publik yang hendak meminjam buku dapat terlebih dahulu melihat koleksi di katalog online

Selain IVAA ada juga perpustakaan Yayasan Umar Kayam. Perpustakaan yang memiliki beragam koleksi pribadi milik almarhum Umar Kayam, yang sebagian besar berisi buku-buku, makalah dan kertas kerja bidang sastra dan sosial-budaya, saat ini juga memberlakukan protokol Covid untuk layanan publik. 

Mau tidak mau, pembatasan akses publik jadi tindakan yang harus dilakukan untuk memutus mata rantai virus. Meski tidak ada pengunjung yang mengakses ruang perpustakaan, deretan buku yang berjejer tetap harus diperhatikan. Kerja inventarisasi, klasifikasi, dan perawatan tetap dilakukan. Buku-buku tetap harus dibersihkan dari debu, harus dibuka-buka agar tidak lengket serta mengantisipasi jamur karena ruangan yang lembab. 

Dan tentu saja seorang pustakawan, atau pecinta buku bisa memanfaatkan waktu ini untuk mengolak-alik koleksi, mempertajam subjek klasifikasi, sembari membaca apa yang belum dibaca atau mengulang baca untuk merawat ingatan. Situasi pandemi ini dapat melahirkan berbagai imajinasi literasi pustakawan yang mungkin dapat dibagikan kepada publik, sebagai bagian dari kerja merawat buku. Salah satunya adalah dengan menulis, karena seperti kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan pustakawan punya amunisi besar untuk hal itu. 

Untuk melihat sebaran data Potret Pustaka, silakan klik link checklist ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Apa yang Berlalu Jika Pandemi Sudah Pergi?

oleh Sukma Smita dan Hardiwan Prayogo

Situasi pandemi, beberapa wilayah sempat melakukan karantina mandiri, jalanan juga sempat sepi, malam terasa lebih cepat datang daripada biasanya. Mudah ditemui berita pembatalan atau penundaan suatu pergelaran kesenian. Namun di sisi lain, setidaknya dari bulan Maret-Mei, IVAA mengarsipkan berbagai bentuk aktivitas seni budaya yang berupaya terus hidup. Berbagai pameran dan pertunjukan tetap digelar, yang tentu saja dengan banyak penyesuaian. Istilah pameran atau pertunjukan virtual menjadi sangat tidak asing. Praktik presentasi artistik seniman menggunakan medium online bisa dikatakan semacam fenomena viral yang menyebar dan menggandakan diri sebagai siasat bersama dan upaya penyesuaian situasi hari ini. 

Situasi ini seperti menjadi ilustrasi dari yang pernah ditulis Slavoj Zizek dalam buku Pandemic! (2020). Zizek menyebut bahwa sebelumnya definisi virus dan viral kerap merujuk pada virus digital yang tanpa disadari menginfeksi web-space. Dalam keseharian istilah viral juga kerap dikaitkan dengan berita atau informasi yang menyebar luas dalam media digital. Maka ada situasi yang barangkali tepat jika disebut kontras, dunia nyata yang sempat sunyi, bersanding dengan dunia maya yang ramai. Masing-masing dari kita tentu bisa menuliskan lebih dari satu acara, baik diskusi via live instagram, webinar, hingga live streaming music yang terlewatkan entah karena lupa atau jadwal yang bertabrakan. Masing-masing dari kita pasti memiliki cerita yang berbeda-beda, tetapi untuk mengawali tulisan, kami ingin memberikan beberapa pameran virtual yang terarsipkan.

Pameran Tunggal Yaksa Agus, “Titir
Titir adalah alarm sosial yang dibunyikan ketika akan datang suatu pageblug, baik bencana alam maupun wabah penyakit. Pameran diadakan secara virtual, dengan menggunakan akun sosial media yaitu laman facebook (Yaksa), instagram (@yaksapedia), dan twitter (Yaksapedia@studioBodo). 

“Farid Stevy, 120 Hour in Social Distancing”
Menurut Farid keterbatasan adalah sumber dari segala kreativitas. Social-physical distancing seharusnya jadi privilese besar bagi para kreator yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Menjadi abnormal adalah normal yang baru. Social-physical distancing yang membuat para kreator terpaksa mengambil jarak itu biasa. Farid mengajak teman-teman untuk “stay action” lewat berbagai kreasi dalam menghadirkan karya baru. Proyek seni “Farid Stevy, 120 Hour in Social Distancing” dilaksanakan dari 22 hingga 27 Maret 2020.

Jaga Jarak Vituart Solo Exhibition Kuart Kuat
Pameran tunggal Kuart Kuat ini berjudul Jaga Jarak, menampilkan karya Kuart melalui akun instagram @kuartkuat. Konsep ruang pamer virtual sengaja dipilih karena merespon situasi pandemi covid 19 ini. 

Pameran Tunggal Temanku Lima Benua “May Day” 
Pameran Tunggal Temanku Lima Benua berjudul May Day. Diselenggarakan pada 1 Mei melalui akun instagram @genz.exhibition, bertepatan dengan hari buruh internasional. Judul pameran yang dipilih disesuaikan dengan momentumnya dan karya-karya yang ditampilkan berusaha merepresentasikan isu tersebut.

Pameran Amal Covid-19
Dalam rangka menyikapi dampak pandemi Covid- 19, Ruang Dalam, NalarRoepa dan Lesbumi DIY menggelar pameran seni rupa virtual. Pameran ini bertujuan untuk amal/ membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Sebanyak 82 seniman-perupa memamerkan 130-an karya dua-tiga matranya. Pameran amal ini dilaksanakan mulai 15 Mei-15 Juni 2020 menggunakan sistem online (virtual) di akun instagram @pameranamalc19

Pameran Online Seni Rupa “Tahun Kembar”
Pameran komunitas seniman Gunungkidul, ABDW ini secara garis besar mencatat proses manusia beradaptasi dengan situasi pandemi, sekaligus refleksinya. Judul pameran Tahun Kembar, mengambil refleksi atas catatan arsip soal keberadaan “kejadian” di masa lampau, yang kadang terlupa. Piweling dalam serat Joyoboyo mengingatkan pada rujukan tahun-tahun dengan angka sama, dimulai tahun 1212 sampai tahun 2020. Tahun 2020 ini manusia mengalami Pandemi covid-19, perubahan besar kehidupan manusia yang melambat secara fisik karena wabah yang menyebar di seluruh dunia. Pameran ini bisa disaksikan di instagram @abdwproject dan ruang virtualnya di https://bit.ly/36gStoi 

Yayasan Mitra Museum Jakarta Peduli
Menghadapi dampak dari Covid19, Yayasan Mitra Museum Jakarta @mitramuseumjkt , berinisiatif melakukan gerakan dukungan kepada para seniman dan komunitas melalui gerakan #YMMJpeduli pada 12-22 Mei 2020, mengusung 40 karya dari 30 seniman asal Bali, Bandung, dan Yogyakarta. Hasil dari penjualan koleksi lukisan akan 100% diberikan kepada para seniman, artisan, dan para pekerjanya. 

Covid Affects Art 2020
Seni yang dianggap sebagai catatan jaman beserta konteks yang mengiringinya, merasa perlu juga mencatat situasi krisis karena pandemi ini. Pameran ini berkonsep virtual exhibition tour, jadi menggunakan e-katalog sebagai media sekaligus ruang pamer lebih dari 180 seniman. Tidak ada akun tersendiri untuk pameran ini. Karya dipamerkan pada masing-masing akun sosial media seniman.

Pameran Virtual Fotografi Historis Bung Karno: Budaya/Seni
Dilaksanakan guna turut serta memperingati bulan Sukarno dan Pancasila pada Juni 2020. Pameran ini menyajikan 30 foto terkait Sukarno dan budaya/seni, ditambah dengan 15 karya seni rupa sebagai konten pendukung pendukung, seperti karya Basoeki Abdullah, Dullah, Lee Mang Fong, Dukut Hendronoto, F. Sigit Santoso, Galam Zulkifli, Galuh Tajimalela, Maspoor Ponorogo, Rina Lukis Kaca, dan lain-lain. Pameran virtual ini dibuka dengan sambutan dari Hilmar Farid, Mikke Susanto, dan Judi Wahjudin. Acara ini menyelenggarakan pameran virtual di akun IG dan FB balaikirti. Selain itu juga diadakan kompetisi imagi digital Bung Karno.

Pameran “Virtual Affordable ’07”
Pameran ini merupakan bentuk solidaritas dari perupa seni lukis ISI Yogyakarta angkatan 2007. Pameran virtual di akun instagram @virtualartexhibition ini juga bertujuan untuk amal untuk seniman terdampak covid-19.

Pameran di Rumah Saja
Sica.asia menggelar pameran online sebagai respon atas situasi covid-19. Pameran ini memanfaatkan media digital sebagai ruang pamer yang bisa diakses semua kalangan. Karya-karya yang ada dalam pameran virtual ini tidak secara eksplisit membicarakan situasi pandemi Covid-19.

Pameran Potret: Tak Kenal Maka Tak Sayang
Ada banyak wacana mengenai praktik melukis maupun membuat potret yang dicatat para ahli, mulai dari patung batu hingga fotografi, yang klasik hingga yang kini. Maka meneropong praktek seni lukis potret dari jaman ke jaman berarti juga menelaah dan merefleksikan kondisi manusia pada konteksnya. Dua seniman: @jamilsupriatna7694 dan @toni_antoniuz seolah menyumbang nilai berbeda pada seni lukis potret. Pameran ini bisa dilihat di instagram @orbitaldago

Peace in Chaos
Pameran ini berawal dari art project yang sudah berjalan pada beberapa bulan sebelumnya. Lahir dari keresahan tatanan sosial atas dunia seni khususnya bagi seniman difabel. Seiring berjalannya waktu beberapa rencana harus berubah dan menyesuaikan kondisi yang tengah terjadi dan memunculkan tema Peace in Chaos. Pameran Virtual ini ingin tetap menjaga asa dan berdamai dalam kondisi pandemi.

Sumur di Ladang
Sumur di Ladang menerapkan pola berbeda dari yang pernah dikerjakan. Pola tersebut yaitu seseorang menggambar sketsa, selanjutnya sketsa difoto atau di-scan dan dikirimkan melalui WhatsApp (WA) ke Sanggar Cetak Gen Druwo (SCGD) untuk dibuatkan klise cetak hingga proses cetak. Pembuat sketsa dengan penyetak adalah dua pihak atau orang yang berbeda. Metode ini dipilih sengaja karena alasan pembatasan sosial di era pandemi.

Inside Maya
Sebuah pameran yang digelar oleh Adhik Kristianto dan Agus Cavalera yang akan diselenggarakan secara online dan offline. Pameran ini mencoba merespon situasi yang kerap digaungkan, yaitu new normal. Pameran ini bisa diakses melalui instagram @barbaradoz dan linktr.ee/INSIDE.MAYA.2020

Montage: Found Object
Situasi pandemi yang memaksa orang berdiam di dalam rumah, membuat orang mengingat kembali bahwa ruang-ruang privat menyimpan artefak kultural penghuninya. Pameran fotografi ini menampilkan benda-benda rumahan yang dipotret menjadi bahasa visual. Pameran ini bisa diakses melalui instagram @milisifilem 

klik gambar di atas untuk melihat infografis dengan lebih jelas

Setiap pameran tentu memiliki narasi masing-masing, terutama jika melihat karyanya secara formalis. Ada yang memang secara tegas menjadikan covid-19 sebagai tema, ada yang tidak, tetapi ada juga yang memanfaatkan (dalam artian positif) situasi berjarak ini seperti proyek Farid Stevy, 120 Hour in Social Distancing. Berbeda kasus jika jadwal pameran memang sudah lama dirancang jauh-jauh hari. Tetapi tidak sedikit pula yang dilaksanakan semata-mata untuk bereaksi terhadap situasi pandemi. Apakah para seniman memiliki ketakutan untuk hilang dari peredaran di masa pandemi ini? Atau semata karena kebutuhan praktis untuk memenuhi kebutuhan? 

Selain guliran perhelatan seni berbasis virtual, penulis dan pengamat seni juga kemudian banyak membaca praktik artistik perubahan medium presentasi ini. Sejauh yang bisa kami arsipkan barulah yang membandingkan ruang pameran/ pertunjukan online/ offline-streaming/ live. Beberapa di antaranya bisa diakses pada tautan ini. Kami juga mengumpulkan arsip kliping media cetak dan digital tentang seni masa corona secara umum, daftarnya bisa diakses pada link berikut.

Argumen yang beredar atas situasi ini memang menarik, terutama pendalaman atas perubahan medium dan perbandingannya. Tetapi jika direnungkan kembali, dalam situasi pandemi yang mengakibatkan pembatasan sosial dan kerumunan, masih relevankah membandingkan keduanya? Dengan kata lain, orang bukannya tidak mau menggelar pameran offline/ fisik, atau live performance, tetapi tidak bisa. Mau tidak mau, maka siasat yang dilakukan adalah memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan media sosial untuk tetap mempertemukan karya-karya seniman dengan publik. Ada persoalan jarak yang coba diretas dengan teknologi. Lantas benarkah kehadiran teknologi telekomunikasi dan medium virtual menjawab persoalan jarak ini?

 

Interaktivitas dan Kolaborasi

Demi merefleksikan praktik artistik dengan medium virtual ini, menjadi menarik untuk melihat sedikit ke belakang sejauh apa seni berbasis medium digital ini telah dipilih oleh seniman sebagai media presentasi. Dari beberapa peristiwa seni, setidaknya IVAA memiliki catatan arsip bahwa presentasi karya berbasis virtual bukanlah hal baru. Pertama adalah Agan Harahap.

Agan menempatkan akun instagramnya @aganharahap sebagai ruang pamer pribadinya, sebagaimana pemaknaan publik atas fungsi Instagram, layaknya jurnal aktivitas pribadi yang terbuka untuk publik. Agan melakukan self-curating dan menentukan karya seperti apa yang bisa ditampilkan untuk dua pilihan ruang pamer, offline dan online. Lebih jauh Agan menempatkan karya fotonya sesuai logika kerja sosial media hari ini hingga interaktivitas penggunanya. Dengan kata lain, instagramnya digunakan untuk memberi tahu orang tentang aktivitas sehari-hari, namun dengan sentuhan manipulasi foto dan caption yang naratif.

Jika salah satu dampak dari pandemi ini adalah membuat orang mencoba mempermainkan keadaan dengan teknologi, pameran Influx: Strategi Seni Multimedia di Indonesia tahun 2011 bisa menjadi contoh kedua tentang bagaimana teknologi menjangkau wilayah-wilayah personal, termasuk kerja para pelaku seni. Acara yang digelar di Taman Ismail Marzuki ini bertepatan dengan peringatan 10 tahun Ruangrupa. Influx menampilkan berbagai macam karya seperti seni bunyi, seni instalasi, dan yang terbanyak adalah seni video dengan berbagai media presentasi. Memang sulit membandingkan pameran yang masih bisa diselenggarakan secara fisik, dengan situasi sekarang yang memaksa pameran hanya bisa digelar secara online/ virtual. Namun satu yang tampaknya bisa menambah panjang nafas obrolan tentang seni masa pandemi adalah wacana estetik pada media dan teknologi. 

Salah satu peserta pameran, Krisna Murti, menilai bahwa gagasan utama dari multimedia adalah interaktivitas (keterlibatan langsung dengan publik). Keterlibatan ini dilakukannya melalui karya (Miss) Call Me Please. Sebuah karya yang mengajak publik untuk melakukan miss call pada ponsel yang terpasang pada unit karya instalasinya untuk menghasilkan bunyi angklung. Pada masa pandemi ini, interaktivitas melalui teknologi semacam ini juga dilakukan oleh Papermoon Puppet Theatre pada karya (In Your Pocket) Story Tailor. Dikutip dari harian Kompas 1 April 2020, Papermoon mengajak penonton dari rumah untuk mengusulkan satu tema cerita sesuai keinginannya. Tema ini kemudian akan dijahit oleh Papermoon dengan dua tema lainnya menjadi sebuah pementasan pendek selama 5-7 hari. Pementasan ini direkam dan dikirimkan langsung ke ponsel setiap penonton.

Selain soal interaktivitas, hal lain yang bisa mulai diretas atas adalah kolaborasi. Sapto Rahardjo menandai jaman perkembangan teknologi ini pada Multimedia Performance “Seni untuk Bumi, Membawa Tradisi Menuju Pencerahan” dengan kolaborasi lintas bidang. Pertunjukan tersebut mengkombinasikan antara live dengan tidak live. Sapto berkolaborasi dengan suara pesinden Bei Mardusari, penulis berkebangsaan Perancis Elizabet, seniman asal Amerika Ray Weisling, komponis Alex Dea, siswa kelas VI SD Berbah Panggah, pemain kendang tunggal Sujud Sutrisno, Jompet Kuswidananto, “tarian” lampu senter dan layar ponsel dari ratusan penonton yang duduk di tribun. Seluruh atraksi dimunculkan di layar dengan alunan musik campur, plus aneka sound effect dari komputer. 

Kurang lebih demikian jalannya pertunjukan yang diliput oleh harian Kompas, yang terbit pada Selasa 14 November 2006. Pertunjukan yang merupakan bagian dari Festival Seni Pertunjukan Internasional tahun 2006 ini mencoba ingin senantiasa mengeksplorasi seni tradisi melalui kolaborasi dengan bantuan multimedia untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Ambisi demikian bisa saja terwujud pada masa pandemi ini. 

 

Tuntutan Pandemi = Replikasi Ruang Nyata ke Ruang Virtual?

Contoh praktik yang memuat kata kunci interaktivitas dan kolaborasi tentu masih sangat banyak jika mau ditelusuri. Bisa diartikan praktik seni berbasis teknologi ini bukan hal baru. Praktik presentasi ini menjadi seperti virus yang viral karena tuntutan situasi hari ini. Barangkali tuntutan situasi lah yang membuat orang seolah melihatnya sebagai temuan baru. 

Brigitta Isabella dalam webinar Estetik dan Politik: Kontinum di Ruang Krisis, mengamati bahwa ada upaya mereplikasi white-cube dalam pameran virtual. Artinya seniman memiliki bayangan interaksi karya dengan publiknya, bahkan dalam pameran virtual pun masih mereplikasi logika white cube. Dengan kata lain, imajinasinya dilandasi atas ruang virtual yang hadir untuk mereplikasi ruang nyata. Coba lihat lagi contoh-contoh pameran di atas, masih digunakannya tanggal pembukaan-penutupan, seremonial pembukaan dan sambutan, hingga dibuatnya ruang pamer virtual. Belum ditemukan upaya memanfaatkan fitur-fitur khas yang dimiliki oleh media sosial ini. Bahwa benar tema dan narasi pameran berusaha kontekstual, namun jika wacana mengenai teknologi bisa diperdalam tidak hanya soal peretas jarak, wacana seni masa pandemi nampaknya bisa lebih reflektif dan beragam. Interaksi publik dan kolaborasi pada karya rasanya perlu semakin dielaborasi pada masa pandemi ini, yang sekali lagi harus diingatkan bahwa, pembatasan sosial membuat manusia dipaksa berinteraksi melalui medium teknologi, khususnya ponsel.

Namun dibalik itu semua sebenarnya apa yang ada di benak para pelaku seni di masa pandemi ini? Apakah secara tidak sadar ada tuntutan bahwa seniman adalah orang yang bertugas harus dengan cepat merespon situasi aktual secara artistik? Atau semata-mata karena hal praktis soal pemenuhan kebutuhan finansial? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa saja digunakan sebagai afirmasi bahwa aktivitas seni di ruang-ruang virtual ini hanyalah P3K di masa krisis. Bahwa benar kita semua harus berpikir positif bahwa pandemi akan berlalu. Tetapi interaksi manusia dengan teknologi telekomunikasi dan media sosial tidaklah akan ikut berlalu. Olah-alih medium bukan fenomena baru dan semata-mata penyelamatan atas situasi darurat. Kita akan mencatat bagaimana ekosistem kesenian bisa bertahan atau justru melakukan serangan balik mematikan pada situasi krisis kesehatan ini.


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Rutinitas Kami Semasa Pandemi

oleh Edy Suharto

Di awal masa pandemi Covid-19, Presiden Jokowi memberikan himbauan kepada seluruh masyarakat untuk berdiam diri di rumah.  Kami sempat ketakutan dan bingung, begitu cepat penularan virus ini. Semua media sosial memberitakan kasus-kasus yang terjadi di beberapa daerah. Tetapi masih ada juga masyarakat yang tidak percaya dengan penyakit ini dan akhirnya mereka tidak melakukan anjuran atau himbauan dari pemerintah yang akhirnya berdampak pada kenaikan jumlah pasien di beberapa daerah. 

Di satu sisi pemerintah sebenarnya juga tidak siap menghadapi pandemi. Masyarakat akhirnya mengambil alih peran pemerintah. Banyak dari masyarakat secara mandiri membuat masker, alat semprot desinfektan, dan memperketat mobilitas warga. Semuanya diupayakan dengan biaya warga. 

Di tengah situasi yang serba tidak jelas itu, kami berpikir, berkoordinasi, dan memutuskan untuk bekerja dari rumah atau bahasa beken-nya WFH (Work From Home). Kami mulai melakukan update harian kerja dengan menggunakan aplikasi daring setiap hari pukul 11.00 WIB kecuali Sabtu dan Minggu. Selain update kerja, kami juga saling berbagi informasi perkembangan situasi pandemi dan memikirkan upaya yang tepat untuk meresponnya, sembari merawat kedekatan emosional antar staf. Satu minggu sudah berlalu, data pasien yang terkena Covid-19 masih belum turun. Tetapi kami harus mulai masuk kerja. Akhirnya kami memutuskan untuk membagi jadwal piket, tentu dengan fleksibilitas waktu bagi masing-masing untuk memikirkan kesehatan.

Situasi pandemi makin parah saja. Banyak orang yang stress karena tidak kuat menerima keadaan. Banyak karyawan pabrik yang ‘dirumahkan’ tanpa ada pesangon. Sebagai respon atas situasi tersebut, kami memutuskan untuk ikut berpartisipasi dalam upaya mengurangi dampak krisis ini, baik melalui dapur umum, mengirim sembako, dan beberapa lainnya. 

Selain itu kami juga mencoba menata kembali Rumah IVAA dengan merapikan dan membersihkan rak-rak buku perpustakaan menggunakan lap basah agar debu tidak berterbangan ke mana-mana. Komik pemberian/ hibah  dari Akademi Samali (Beng Rahardian) kita pindahkan ke ruang arsip agar lebih aman.  Merapikan gudang stock IVAA Shop dan menata kembali tempat buku konsinyasi dan buku IVAA. Selain itu juga membongkar beberapa brankas di ruang arsip dan memilahnya sesuai dengan klasifikasi arsip.


Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Andalkan Arsip dan Solidaritas, Seni Tradisi Bertahan

oleh Dian Putri Ramadhani

Gedung berlantai dua di Jalan Kabel Pendek No.6 itu tampak sepi. Ratusan bangku berjejer menatap panggung kosong. Tak ada lakon. Tak ada antrean penonton. Set properti di belakang panggung pun membatu ditutupi partikel debu. Gedung Miss Tjitjih tutup sementara.

Tak ada pentas berarti tak ada produksi. Tak ada produksi berarti tak ada pemasukan. Dari jatah 19 pentas dalam setahun yang difasilitasi Pemda DKI Jakarta, Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih (KSS Miss Tjitjih) terhitung baru menghelat tiga kali.  

Sejak 3 Maret 2020, semua rencana pentas terpaksa ditunda atau dibatalkan, mengingat kasus penularan virus corona terus mengalami eskalasi. “Pemasukan utama kami dari setiap uang produksi yang dibiayai Pemda. Kalau kondisinya begini terus otomatis kami gak ada pemasukan sama sekali,” papar Elly, aktor cum bendahara KSS Miss Tjitjih.

Elly tak sendiri. Ia mewakili suara lirih 80 Kepala Keluarga seniman KSS Miss Tjitjih yang tinggal di Rusun Budaya, tepat di belakang Gedung Miss Tjitjih. Selama masa pandemi seluruh aktivitas kesenian resmi berhenti, namun kebutuhan hidup terus berjalan. Inilah yang membuat para seniman KSS Miss Tjitjih bingung menghadapi kondisi ini. 

Meski sebenarnya dalam 91 tahun perjalanan KSS Miss Tjitjih, mengecap pahit manis kehidupan panggung sudah tak asing dialami seluruh anggota, sejak pertama kali memutuskan hijrah dari Tanah Pasundan ke Ibu kota. “Dulu sebelum direlokasi ke sini kami tinggal di Angke. Itu pentas setiap hari uangnya donasi sukarela kadang ada kadang nggak dari warga bantaran kali. Dari situ kami bertahan hidup,” sambung aktor kawakan Miss Tjitjih ini.  

Pun kalau uang donasi tidak cukup untuk menghidupi ratusan anggotanya, mereka terbiasa menyambung napas dengan menjual talenta sebagai aktor, pemain musik, dan penata artistik. Menerima banyak order-an musik sunda, pentas keliling Jawa Barat, melatih teater, event seni budaya, hingga merias wajah. Semua dilakoni dengan senang hati. “Lawakan sunda juga laku, ada aja yang order untuk menghibur penonton,” kenang Elly seraya terkekeh. Namun pandemi ini adalah pengalaman pertama mereka hidup tanpa penghasilan sama sekali. 

Bergulat menghadapi pandemi, KSS Miss Tjitjih tentu tak sendiri. Kelompok seni tradisi lainnya yang hidup di Jakarta, Paguyuban Wayang Orang Bharata pun bicara senada. Kentus selaku sutradara mengaku, pandemi ini menjadi titik terendah dalam 57 tahun perjalanan karirnya bersama Bharata. “Sama sekali tidak ada pemasukan, karena dari jaman kakek kami main wayang orang ya skill kami hanya di seni,” kata Kentus. 

Kelompok wayang orang yang setia menghadirkan lakon Ramayana dalam riuh seni modern dan kontemporer di tanah urban ini mengaku tak punya banyak pilihan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, terlebih masih banyak anak dan cucu para seniman Bharata yang memerlukan biaya sekolah. 

Seperti KSS Miss Tjitjih, Wayang Orang Bharata pun punya jatah pentas dari Pemda DKI Jakarta sebanyak 15 kali. Meski secara kuantitas selisih empat pentas, namun dana untuk kedua kelompok seni tradisi ini bernilai sama. “Kami punya 15 kali tapi karena pandemi ini baru main dua kali di Gedung Wayang Orang Bharata. Meski tidak besar, tapi itu salah satu pemasukan kami. Selebihnya manggung di luar tapi semuanya juga jadi batal karena pandemi ini,” sambung Kentus sembari menunjukan agenda pentas Bharata. 

Gagal pentas yang dialami KSS Miss Tjitjih dan Wayang Orang Bharata menambah panjang daftar pentas seni yang batal selama pandemi. Koalisi Seni Indonesia mencatat (https://koalisiseni.or.id/advokasi/seni-semasa-krisis/), terdapat 234 acara seni yang batal atau ditunda meliputi, 30 proses produksi, rilis, dan festival film, 113 konser, tur, dan festival musik, 2 acara sastra, 33 pameran dan museum seni rupa, 10 pertunjukan tari, 46 pentas teater, pantomime, wayang, dan boneka. 

Merujuk pada data tersebut, apa yang dihadapi KSS Miss Tjitjih dan Wayang Orang Bharata adalah masalah bersama yang dirasakan ratusan bahkan ribuan seniman di seluruh Indonesia, baik yang sudah maupun belum mendaftarkan diri, kehilangan pekerjaan, dan tak memiliki pemasukan selama pandemi.

 

Kebijakan yang Tak Adaptif

KSS Miss Tjitjih dan Wayang Orang Bharata memang gagal pentas karena pandemi, namun baik Elly maupun Kentus menyesalkan tidak ada kejelasan dari Pemda DKI Jakarta, terkait jatah anggaran produksi yang belum cair sepanjang tahun ini. Miss Tjitjih punya 16 kali dan Bharata punya 13 kali. Saat mereka konfirmasi pun jawabannya masih belum pasti, apakah ditunda, dihilangkan, atau dialihkan ke bidang lain yang lebih prioritas.  “Mereka (Pemda DKI) bilang, gak bisa cair mas, kan gak pentas. Lah saya bilang, gimana mau pentas kan lagi begini keadaannya,” kata Kentus. 

Seperti yang dipaparkan Elly di awal, jatah anggaran produksi dari Pemda adalah pemasukan utama bagi kedua kelompok seni tradisi yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan hidup ratusan seniman tradisi di dalamnya. Mereka pun berharap agar Pemda DKI Jakarta mampu membuat keputusan yang lentur dan adaptif terkait pencairan anggaran jatah pentas tersebut sebagai solusi menghadapi krisis ini. Tapi jika tidak, mereka tetap perlu kejelasan dan berharap ada kebijakan lain yang dapat membantu mengatasi krisis finansial selama masa pandemi ini.

Sementara itu, pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan (Ditjenbud) bekerja sama dengan Kementerian Sosial (Kemensos), dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) sejak awal April telah membuka pendataan pekerja seni terdampak pandemi melalui formulir daring (bit.ly/borangpsps), untuk mendata pekerja berpenghasilan di bawah 10 juta yang tak memiliki pekerjaan lain di luar seni. 

Hilmar Farid, mewakili Ditjenbud dalam konferensi pers virtual (21/05) mengatakan, pendataan April menunjukan ada 58 ribu seniman yang mendaftar baik perorangan maupun kelompok.  Ujung dari pendataan ini adalah pemberian uang tunai senilai Rp. 1 juta dalam skema bantuan pertama, selanjutnya akan berkolaborasi dengan Kemensos, Kemenaker, dan Pemda. 

Namun sebagai sampel implementasi dari pendataan tersebut, fakta di lapangan per 4 Juni 2020 menunjukan, baik KSS Miss Tjitjih dan Wayang Orang Bharata mengaku belum menerima sejumlah dana yang dijanjikan. “Kami (KSS Miss Tjitjih dan Bharata) sudah sejak awal mendaftar tapi ya memang belum ada realisasinya sampai saat ini,” ujar Kentus. 

Bisa dipahami, pendataan memang pekerjaan panjang yang memakan waktu apalagi dengan jangkauan berskala luas di seluruh daerah Indonesia. Namun dalam kondisi genting seperti saat ini, lajunya juga harus mempertimbangkan kebutuhan primer para seniman yang terdampak.

 

Andalkan Solidaritas Seniman dan Penggemar

Elly menghela napas panjang tatkala menjawab bagaimana ia dan para seniman KSS Miss Tjitjih bisa bertahan hingga saat ini. Ia tak menyangka di tengah kondisi serba sulit ini masih banyak yang urun tangan memperhatikan keadaan mereka. “Alhamdulillah bantuan berupa sembako dari banyak pihak, tapi mau masak sembako perlu uang untuk beli gas, bayar listrik juga yang paling berat di sini,” ungkap Elly. 

Bantuan tersebut datang dari berbagai pihak di antaranya, Gabungan Seniman Sunda (GAS) yang diinisiasi Melly Goeslaw, Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), dan penggemar setia KSS Miss Tjitjih. Selain sembako, para donatur pun akhirnya memberikan bantuan uang tunai yang digalang dari berbagai acara dan dompet pribadi. Elly selaku bendahara, langsung membagi rata uang donasi tersebut kepada 80 kepala keluarga seniman KSS Miss Tjitjih.

Meski masih jauh dari kata cukup, namun mereka bersyukur perjalanan kelompok seni tradisi yang gemar memainkan lakon mistis, komedi, dan tragedi masih diingat banyak orang hingga urun rembuk membantu. Dalam kondisi serba sulit, para seniman KSS yang tinggal di rusun terbiasa berbagi satu sama lain, “Ya namanya juga sandiwara jadul ini kan, kami masih diingat bersyukur banget. Kurang-kurangnya (kebutuhan), kami saling bantu aja sesama anggota kalau gak punya beras kami bagi, ada yang gak punya lauk kami bagi, yang penting jangan sampe ada yang gak makan,” kata Elly. 

Hal serupa pun dialami Wayang Orang Bharata yang mendapat pasokan sembako dari para penggemar wayang orang di Jakarta. “Banyak yang peduli sama kami, kejadian ini membuat kami banyak berterima kasih pada penggemar dan pemerhati Bharata. Namun banyak juga warga yang bilang, sembako banyak tapi dimasak pakai apa toh pak? Gas gak ada,” papar Kentus.

Hal itu membuatnya memutar otak untuk menggalang donasi. Sebagai salah seorang senior di Wayang Orang Bharata, Kentus memikirkan bagaimana keberlangsungan hidup 68 kepala keluarga seniman yang berdomisili di Sunter, Jakarta Utara tersebut.  

 

Membuka Arsip, Menggalang Donasi

Ramai-ramai seniman memanfaatkan media sosial sebagai panggung digital di kala pandemi, meski terkesan berjarak namun sedikit banyak telah mengobati hasrat artistik bahkan berbagi donasi. Kedua kelompok seni tradisi ini bukan tak ingin melakukan hal serupa, namun mereka mengaku terbentur kendala utama, kurang adaptif dengan teknologi. 

Dari teknis pertunjukan pun, tradisi memiliki kompleksitas tinggi untuk memainkan lakon, mulai dari alat musik tradisional dalam jumlah masif, tata rias, artistik, dan busana berpakem budaya tertentu, dan aktor yang harus main secara berkerumun membuat pentas daring masih jauh dari angan.  “Karena itu kami coba pikir lagi apa yang bisa dipakai untuk menggalang donasi di media sosial. Lalu berembuk dan terpikir untuk mengunggah arsip pentas lama saja,” ujar Kentus. 

Seniman tradisi memang lekat dengan minimnya kesadaran mendokumentasikan arsip karya dalam bentuk teks maupun audio visual, namun Kentus bersyukur Wayang Orang Bharata masih memiliki beberapa video dokumentasi pementasan delapan tahun terakhir. 

Ia bersama generasi muda Wayang Orang Bharata pun mengunggah beberapa lakon seperti, Kongso Adu Jago, Gareng Dadi Ratu, dan Tari Sekarpuri di kanal Youtube WO Bharata Official (https://www.youtube.com/watch?v=KUwLELOa3ow&t=35s). Setelah mengunggah, tak lupa ia pun menyantumkan nomor rekening Wayang Orang Bharata di kolom deskripsi untuk memudahkan penggemar untuk berdonasi.  

Berselang sepekan, usaha mereka pun berbuah manis. Lakon-lakon lama yang diunggah menuai perhatian penonton, donasi pun perlahan mengalir ke kantong Bharata. ”Alhamdulillah setelah itu ada delapan juta rupiah di rekening Bharata, uang itu langsung kami bagi rata. Dari Maret sampai sekarang (Juni) hanya itu pemasukan kami semua untuk hidup ratusan orang di sini,” sambung Kentus. 

Elly mengaku Wayang Orang Bharata selangkah lebih maju untuk memanfaatkan media sosial dan arsip. Hampir satu abad perjalanan KSS Miss Tjitjih, jejak dokumentasi masih minim dan sekadar mengandalkan peliputan media massa. “Setelah pandemi ini mungkin kita akan belajar mengarsip perjalanan KSS Miss Tjitjih karena itu juga bagian dari sejarah panjang seni tradisi Indonesia,” pungkas Elly.

Selain kesadaran mengarsip karya sebagai alternatif penggalangan dana, pandemi ini juga harus menjadi perhatian otoritas untuk mulai membenahi basis data seniman di seluruh Indonesia. Pendataan memang langkah awal untuk membentuk ekosistem seni yang kuat, karenanya sulit efektif jika dilakukan dalam waktu singkat atau terburu-buru seperti ini. 

Urusan dapur tentu tak dapat menunggu lebih lama jika regulasi dimasak terlalu lama. Database yang tak lengkap, keterbatasan aksesibilitas internet, menjadi batu sandung lainnya yang memperlambat mereka yang segera butuh pangan. 

Solidaritas memang mengalir dari banyak pihak, namun para seniman tradisi menyadari betul tak mungkin terus bergantung pada bantuan orang lain. Bertahan di tengah kondisi kesehatan dunia yang tak pasti dan kebijakan yang tak lentur semakin memupuskan rancangan pentas yang sudah tersusun rapi. Mereka pun harus rela mengikat pinggang lebih keras, karena bukan tak mungkin, lakon panjang yang mereka mainkan selama puluhan tahun di tanah rantau ini perlahan mati langkah, secara artistik maupun penghidupan. 


Dian Putri Ramadhani adalah jurnalis purna waktu, pekerja seni paruh waktu. Aktif berteater sejak 2009, salah seorang performer Melati Suryodarmo dalam pameran Why Let The Chicken Run? di Museum MACAN  (2020).

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

Wajah Normal Baru Seni Pertunjukan

oleh Udiarti

Setelah tiga bulan lebih Indonesia berjuang melawan pandemi Corona, kini negara tengah bersiap untuk menghadapi kehidupan barunya. Normal baru adalah istilah yang bakal kita lalui di hari-hari ke depan. Perlahan-lahan kita akan mulai menjalani kehidupan sehari-hari seperti sebelum pandemi muncul, namun tetap dengan protokol kesehatan yang sudah dipersiapkan pemerintah Indonesia. Perlahan-lahan pula sistem pada kerja kreatif seniman mau tidak mau juga harus masuk menyelam dalam istilah normal baru. 

Pada masa pandemi seniman dan industri seni kreatif berjuang untuk tetap bertahan dengan aktivitas seninya. Teknologi digital adalah pilihan yang masuk akal untuk mendukung keadaan pada masa pandemi. Seniman bahkan juga pemerintah berlomba menciptakan program dengan memanfaatkan kerja digital. Poster-poster open call berkarya dari rumah bermunculan sebagai upaya untuk tetap menghidupkan proses kreatif. 

Peran arsip juga sangat penting dalam mendukung program-program tersebut. Salah satunya dengan memutar kembali dokumentasi pertunjukan melalui kanal Youtube. Arsip pertunjukan yang tadinya hanya menjadi catatan pada profil seniman kini menjadi bagian penting untuk menghubungkan jarak seniman dan penontonnya. Bahwa masih ada kehidupan seni yang berjalan di tengah-tengah wabah Corona. Tak hanya usaha untuk menunjukan eksistensi seni, namun juga sebagai jalur untuk mengumpulkan donasi. Seperti kemunculan kembali dokumentasi  pementasan The Phantom of The Opera garapan Andrew Lloyd Webber pada channel Youtube bertajuk The Shows Must Go On

Sumber gambar: Youtube “The Shows Must Go On”

Tidak hanya menampilkan arsip-arsip lama, namun teknologi digital juga menampilkan hasil kerja seniman yang terbaru pada masa pandemi. Salah satunya hasil dari open call Distance Parade yang digarap oleh Ditjen Kebudayaan Kemdikbud. Hasil dari peserta seniman yang terpilih kemudian ditampilkan di channel youtube Kemdikbud. Namun tentu saja, hasil yang ditayangkan tetaplah berupa arsip dokumentasi karya para seniman. Pada bagian inilah kejadian pertunjukan seni sulit tercipta pada masa pandemi. Pada akhirnya kita hanya akan mendapat suguhan tayangan ulang. 

Sumber gambar: Website Kemendikbud

Beberapa mencoba untuk menawarkan kebaharuan. Pembacaan naskah langsung melalui platform Zoom misalnya. Penonton dapat melihat aktor atau pembaca naskah pada waktu yang sama, namun terpisah ruang. Tentu tidak sepenuhnya menciptakan kesan ruang pertunjukan yang nyata. Juga tak menyediakan suasana riuhnya penonton seperti pada kursi-kursi di depan panggung pertunjukan yang sebenarnya. Namun hal ini tidak menjadi usaha yang sia-sia dalam dunia seni pertunjukan khususnya. Kita hanya butuh membiasakan diri untuk tidak membatasi makna pertemuan. Kondisi ini juga mau tidak mau mewajibkan para pelaku seni untuk mampu bekerja dengan lintas media. 

Setelah melewati masa pandemi dan memasuki normal baru, bagaimana aktivitas kerja seni ini berlangsung? Apakah ia akan tetap memakai teknologi digital sepenuhnya untuk menyalurkan ide dan gagasan mereka? Tentu ini akan menjadi masalah bagi pelaku seni yang mustahil berselancar bebas dengan teknologi digital. Pada pertunjukan dalam ritual kesenian rakyat misalnya. Apakah kita akan melihat sebuah ritual pada tari Jathilan yang khas dengan pertunjukan trance para penari memakan beling atau pecahan kaca melalui layar komputer masing-masing? Saya membayangkan kita akan kehilangan rasa ngeri dan bergidik ketika melihat penari kerasukan dan memakan apa yang sudah disediakan. 

Sumber gambar: Dok. Penulis

Terlebih aktivitas pertunjukan pada sebuah ritual lebih sering terjadi di dalam desa atau daerah-daerah yang masih menjaga tradisi leluhur mereka. Ini akan menjadi perkara baru bagi seniman yang mendedikasikan hidupnya pada bentuk pertunjukan ritual. Pembatasan pertemuan dengan skala besar yang ditentukan oleh protokol kesehatan sedikit demi sedikit akan ikut menggerus keberadaan pertunjukan ritual. Ia akan memuai, menjadi bentuk ketakutan untuk berkelompok. Upaya-upaya pemerintah sebelumnya untuk membantu proses kreatif ternyata tak cukup membantu keberadaan pertunjukan ritual yang berlangsung di dalam desa-desa. 

Jika pertunjukan ritual tersebut juga akan dipindah pada media digital, maka ia akan hidup sebagai catatan atau dokumenter yang hanya akan berakhir sebagai arsip. Normal baru adalah jalan tertatih bagi pelaku seni pertunjukan pada sebuah ritual. Apakah memungkinkan jika kelak kita melihat penari Jathilan atau penari Dolalak yang tengah kesurupan memakai face shield pada wajah mereka? Barangkali jalan yang dekat untuk menyelamatkan mereka adalah dengan memasang atribut protokol kesehatan pada tubuh mereka. Dan penonton kesenian rakyat pada suatu ritual akan memiliki jarak yang lebih jauh lagi dari keberadaan penari yang sedang beratraksi. Maka kita harus siap dengan kemungkinan pergeseran makna kesenian rakyat menjadi kesenian normal baru yang serba berjarak. Berjarak dengan rakyat itu sendiri.


Udiarti adalah guru tari Taman Kanak-kanak di Jakarta

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.

“KITA WARAS, TAPI TIDAK LUMRAH”

“KITA WARAS, TAPI TIDAK LUMRAH”
Fragmen Jejak Vol. 2 | Buletin IVAA Dwi Bulanan | Maret-April 2020

Halo semua!

Newsletter IVAA edisi ini hadir bersamaan dengan situasi yang tidak menentu karena pandemi. Oleh sebab itu kami menerapkan beberapa penyesuaian konten. Sorotan Dokumentasi yang biasanya diisi dengan liputan atau wawancara tematik secara tatap muka, kami ganti dengan rekomendasi beberapa koleksi arsip video IVAA yang bisa dinikmati di rumah atau di sela-sela waktu kerja. Tapi untung saja, sebelum geger pandemi, masih ada satu ulasan dari Jafar Suryomenggolo yang mengulas pameran Nuestra Isla de Las Especias di Spanyol.

Tidak adanya kegiatan publik di Rumah IVAA juga membuat kami menghilangkan sementara rubrik Agenda Rumah IVAA. Selain itu, hal lain yang bisa kami bagikan saat ini adalah review buku koleksi perpustakaan IVAA. Ada yang terbitan baru, ada juga yang sudah lama. Selain sebagai tawaran bacaan bagi para pembaca sekalian, ini juga menjadi cara kami untuk menjaga kewarasan pikir di tengah ribuan peluru informasi yang menjemukan. Kemudian untuk Sorotan Arsip kami juga mencoba merangkai beberapa koleksi arsip IVAA seputar seni dan lingkungan. Bahwa peleburan seni dengan lingkungan-seni dengan masyarakat senantiasa relevan di kondisi apapun. 

Edisi ini juga memuat beberapa tulisan dari para kontributor. Di Sorotan Magang, Grady Textler, peserta magang dari Universitas Princeton, membagikan refleksinya selama magang di IVAA. Lalu, Yulius Pramana Jati menceritakan impresinya seputar fenomena tur maya museum dan galeri yang akhir-akhir ini jadi platform andalan. Tak ketinggalan, dan masih sebagai bagian dari undangan penulisan esai di Baca Arsip tajuk Fragmen Jejak Vol. 2, Fathun Karib membagikan tulisannya yang berjudul “Arsip dan Kebencanaan: Alternatif Kerja Pengarsipan di Era Covid-19”. 

Judul “Kita Waras, tapi Tidak Lumrah” terinspirasi dari judul karya mixed media Ong Hari Wahyu, yakni “Saya waras, tapi tidak lumrah”. Sebuah karya berbentuk semacam rumah atau bilik kecil yang ditutupi dengan tempelan-tempelan poster Sumanto bergaya capres. Tetapi foto karya itu tidak kami jadikan foto sampul, karena kami tidak ingin kita semua jadi semakin kanibal di situasi yang carut-marut ini. Kami akhirnya memilih foto karya Putu Sutawijaya yang berjudul “Harapan”. Bahwa di tengah ketidaklumrahan ini, yang seolah menelanjangi kita semua, harapan adalah salah satu pengingat agar tetap menjaga kewarasan.

Semoga newsletter ini bisa menjadi bagian dari itu. 
Salam budaya!


I. Pengantar Redaksi
oleh Krisnawan Wisnu Adi

II. Kabar IVAA
Sorotan Dokumentasi
Oleh: Tim Redaksi IVAA, Jafar Suryomenggolo

Sorotan Pustaka
Oleh Sukma Smita Brillianesti, Rosa Pinilih, Hardiwan Prayogo, Santosa Werdoyo, Krisnawan Wisnu Adi, Lisistrata Lusandiana, Edy Suharto

Sorotan Arsip
Oleh Dwi Rahmanto dan Hardiwan Prayogo

Sorotan Magang
Oleh Yulius Pramana Jati, Grady Textler

III. Baca Arsip
Oleh Fathun Karib


Pemimpin Redaksi: Krisnawan Wisnu Adi
Redaktur Pelaksana: Krisnawan Wisnu Adi
Penyunting: Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi
Penulis: Sukma Smita Brillianesti, Edy Suharto, Santosa Werdoyo, Dwi Rahmanto, Hardiwan Prayogo, Krisnawan Wisnu Adi, Lisistrata Lusandiana, Rosa Pinilih
Kontributor: Fathun Karib, Yulius Pramana Jati, Grady Textler
Tata Letak: M Fachriza Ansyari

Stay Safe, Stay Tune

Satu hal yang jelas di tengah ketidakjelasan situasi ini adalah jauhi keramaian. Ada yang bekerja dan belajar di rumah, namun ada pula yang terpaksa tetap beraktivitas di luar dengan segala keterbatasan. Kadar kebosanan jadi membuncah. Untuk itu, tim redaksi IVAA memberi rekomendasi koleksi arsip video yang dapat ditonton di rumah atau di sela jam kerja. Semoga beberapa video berikut dapat menemani teman-teman sekalian. 

Wawancara dengan Gina Lubis
“Bapak saya itu tipe orang yang rajin mengarsip,” ujar Gina, putri seorang pelukis kenamaan Batara Lubis. Semenjak kepergian bapaknya, tanpa tahu banyak kisah masa lalu beliau secara detail, Gina memulai merawat arsip-arsip yang ditinggalkan, dari lukisan, sketsa, hingga tulisan-tulisan. Gina banyak bercerita tentang salah satu anggota Sanggar Pelukis Rakyat ini. Mulai dari sosok beliau yang rapi, kebiasaan baca, kisah kasih dengan istrinya, kemandirian & kesederhanaan, hingga persahabatannya dengan para maestro seperti Hendra Gunawan, Affandi, hingga Joko Pekik.  Sebagai anak, Gina bangga dengan ayahnya yang membuktikan pemikiran dengan karya. Meski dulu tidak diperbolehkan belajar di ISI, Gina yakin bahwa peduli dengan seni itu tidak harus sekolah seni. 

 

Seni Masa Kini: Catatan tentang Kontemporer – Mitha Budhyarto – #1
Mitha Budhyarto dalam Seri Ceramah/ Diskusi Guru-Guru Muda sesi 5, bertempat di Langgeng Art Foundation, 13 Desember 2014, memaparkan kajiannya mengenai ‘kekinian/ kontemporer’ secara filosofis. Dengan gagasan Peter Osborne dan Giorgio Agamben, ia menempatkan Sejarah_X karya Agan Harahap sebagai studi kasus. 

 

Seni Masa Kini: Catatan tentang Kontemporer – Mitha Budhyarto – #2 
Mitha Budhyarto (1983) adalah dosen dan kurator yang berbasis di Jakarta. Setelah menyelesaikan studi magisternya di bidang Filsafat Estetika di University of Sussex (2005) ia mendapat gelar doktoral di bidang Humaniora dan Kajian Budaya di University of London, Birkbeck College. Ia terlibat di beberapa pameran, seperti “Bandung New Emergence Vol. 5” (Selasar Sunaryo Art Space), “Swatata” (ruangrupa), “1 x 25 jam” (Rumah Seni Cemeti), dan “Exi(s)t” (Dia.lo.gue Art Space). 

 

Presentasi Prison Art Programs (PAPs)
PAPs adalah sebuah program seni kolektif  yang mempunyai ikatan kuat dengan memori penjara sebagai ide dasarnya untuk mengembangkan segala konsep dan teknik di seni rupa. Inisiatif program ini dibangun oleh Angki Purbandono dengan beberapa Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) lainnya (Berli Doni, Fatoni, Herman Yoseph, Irien Afianto, Agung Rusmawan, Amir Danial, Gunawan Wirdana dan Ridwan Fatkhurodin) yang bekerja sama dengan pembina utama (Bpk. Yhoga Aditya Ruswanto) dan pembina lainnya (Bpk. Marjiyanto, Bpk M. Syukron A., Bpk. Mulya Adiguna) di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas II A Yogyakarta pada bulan Mei 2013.

 

Gerakan dari Dalam – Seni Inkubasi Performatif
Acara ini diinisiasi sebagai sebuah ephemeral platform dengan basis pertukaran interdisipliner dan lintas budaya melalui beberapa rancangan program. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan pertukaran pengetahuan dan melakukan introspeksi ke dalam diri, dan melakukan eksplorasi nilai kritis terhadap permasalahan di sekitar kita dengan tetap menjaga sikap dan kesadaran sebagai manusia. Perkembangan mesin, sains dan teknologi dalam peradaban manusia hari ini berdampak kompleks, menciptakan ketidakselarasan walaupun bertujuan untuk memajukan kehidupan manusia di bumi. Pertambahan populasi manusia begitu cepat berkejaran dengan kebutuhan dasar yang membengkak, berkaitan dengan politik, ekonomi global, kekuasaan dan modal, perebutan sumber-sumber energi dengan memperalat ideologi, HAM, demokrasi, agama, dan hal-hal rasial.

 

MAKASSAR BIENNALE 2015 – TRAJECTORY
Sebuah video dokumentasi Makassar Biennale 2015 – Trajectory: Makassar dalam Peta Seni Rupa Indonesia. Pameran ini dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo, beranggotakan Faisal MRA, Nur Abdiansyah, Arham Rahman, dan Irfan Palippui. Bertempat di Gedung Kesenian Makassar, Rumata Artspace Makassar dan Gedung Celebes Convention Centre (CCC) Makasar, perhelatan seni ini digelar pada 17-31 Oktober 2015. 

Menggambar sambil Mengelilingi Dunia

oleh Jafar Suryomenggolo

Apa jadinya jika 20 pelukis ikut serta dalam pelayaran kapal laut mengelilingi dunia? Pertanyaan tersebut adalah tema pameran “Nuestra Isla de Las Especias“ (Pulau Rempah-Rempah Milik Kami) yang bertempat di gedung Archivo de Indias, di Kota Sevilla (baca: Seviya), Spanyol. Pameran ini berlangsung sejak 5 September 2019 hingga 31 Maret 2020 (tautan: https://www.omexpedition.ch/index.php/en/).

Gambar 1. Poster pameran di gedung Archivo de Indias

Pameran ini tergolong unik. Pasalnya, 20 pelukis tersebut benar-benar ikut serta dalam pelayaran kapal “Fleur de Passion“ (Bunga Hasrat) selama 4 tahun mengelilingi dunia. Pelayaran ini dimulai sejak 12 April 2015 hingga 4 September 2019, dengan dukungan Fondation Pacifique, suatu lembaga nirlaba yang bermarkas di Jenewa, Swiss.

Menariknya pula, pelayaran Fleur de Passion adalah perjalanan napak-tilas pelayaran Magellan-Elcano. Pelayaran Magellan-Elcano adalah pelayaran perdana mengelilingi dunia, yang terjadi 500 tahun silam (1519-1522), dalam mencari rute menuju Pulau Rempah-Rempah (yakni, Maluku). Dimulai dari kota Sevilla, Magellan-Elcano berlayar melintasi Samudra Atlantik hingga ke Amerika Selatan, lalu melintasi Samudra Pasifik hingga akhirnya tiba di Cebu (Filipina), untuk kemudian lanjut ke Maluku, dan menyeberangi Samudra Hindia dalam perjalanan kembali ke Sevilla. Fleur de Passion mengikuti rute yang sama, dengan beberapa penyesuaian dengan kondisi abad ke-21. Misalnya: mampir di Kaledonia Baru, mampir di Brisbane dan Cairns (Australia), tiba di Maluku untuk menuju ke Cebu, dan mampir di Singapura.  Pelayaran Fleur de Passion juga mengemban misi ilmiah dalam memantau zat gas rumah kaca di permukaan laut.

Pelayaran Fleur de Passion melintasi Indonesia selama Oktober-November 2017 (di Sorong, Maluku dan Menado), dan Maret-April 2018 (melalui kepulauan Riau menuju Jakarta).  Fleur de Passion tiba di bandar Jakarta pada 2 April 2018, berlabuh selama 10 hari, dan melanjutkan perjalanan pada 12 April menuju Madagaskar lewat Samudra Hindia. 

 

Gambar 2. Peta pelayaran Fleur de Passion

Dua puluh pelukis ini terdiri dari 10 perempuan dan 10 laki-laki. Mereka adalah seniman grafis, penggambar komik, dan ilustrator. Mereka ikut serta dalam pelayaran seperti layaknya para pelukis yang ikut serta dalam pelayaran masa lalu. Di dalam pelayaran kapal-kapal di masa lalu, selalu ada pelukis (minimal satu orang) yang ikut serta untuk merekam perjalanan kapal dan tempat-tempat singgah, juga menggambar alam, tumbuhan, hewan dan penduduk setempat. Misalnya, Conrad Martens (1801-1878) yang ikut serta dalam pelayaran HMS Beagle, kapal yang membawa Charles Darwin ke Galapagos.

Berbeda dari para pelukis-kapal masa lalu, kedua puluh pelukis ini bebas merekam dan menggambar apapun selama pelayaran kapal Fleur de Passion. Sebagai pelukis, mereka dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan sendiri, dan menuangkannya dalam bentuk seni rupa/ visual apapun. Ikut serta dalam pelayaran kapal ini menjadi sumber inspirasi bagi mereka.

Gambar 3. Panel karya Mirjana Farkas

Secara khusus, setidaknya ada 4 pelukis yang menggambar berdasarkan pelayaran kapal selama melintasi Indonesia. Mereka adalah Cécile Koepfli (kelahiran 1976), Mirjana Farkas (kelahiran 1970), Alex Baladi (kelahiran 1969), dan Aloys Lolo alias Yves Robellaz (kelahiran 1953).  Beberapa dari karya-karya mereka dapat dinikmati di situs resmi (tautan: https://www.omexpedition.ch/index.php/en/programmes/cultural/illustrators).

Kiranya akan sangat berguna bila pameran ini bisa diselenggarakan juga di tanah air kita, baik di Jakarta, Maluku, Sorong atau kota-kota lainnya. Kami mendorong kedutaan besar Swiss di Jakarta untuk bekerja sama dengan Fondation Pacifique agar menyelenggarakan pameran ini di tanah air kita. Pameran ini bisa menjadi pemantik bagi para pelukis/ seniman visual kita untuk mengembangkan karya-karya mereka. Ini juga bisa membuka pintu kolaborasi seni rupa/ visual bagi seniman kita.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2020.