Category Archives: E-newsletter

Selamat Hari Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 | Merry Christmas 2016 and Happy New Year 2017

 

Kepada kawan-kawan dan kolega yang berbahagia,
IVAA mengucapkan

Selamat Natal dan Tahun Baru 2018

Menyambut Natal dan Tahun Baru 2017, Perpustakaan & Layanan Publik IVAA tutup pada 26 Desember 2017
dan 1 Januari 2018

***

Dear friends and colleagues,
IVAA wishes you

a Merry Christmas and Happy New Year 2018
Welcoming the feast of Christmas and New Year 2017, IVAA Library and Public Service closed from December 26, 2017
and January 1, 2018

BULETIN IVAA DWI BULANAN | SEPTEMBER-DESEMBER 2017

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi September-Desember 2017

EDISI KHUSUS PASCA FESTIVAL ARSIP
“SETELAH PERAYAAN”

Salam hangat, Pembaca. Pada purnama terakhir setiap tahunnya, Jogja selalu dirubung oleh acara-acara seni budaya yang semakin lama kian beragam dan tersebar di berbagai penjuru kota. Selain acara rutin tahunan, ada juga acara rutin dua tahunan, seperti Biennale Jogja yang tahun ini menyajikan tema “Age of Hope” di perhelatan yang ke XIV. Beberapa festival film juga secara rutin hadir di penghujung tahun, seperti JAFF dan Festival Film Dokumenter.

Pun demikian dengan acara musik seperti Ngayogjazz dan Pasar Keroncong di Kotagede. Belum lagi sebaran acara seni lainnya, baik berupa pameran seni rupa maupun pertunjukan yang berlangsung di berbagai ruang seni, rumah budaya, dan galeri. Seluruh acara itu seolah menandakan bahwa Jogja bergembira menutup tahun ini, juga riang menyambut tahun selanjutnya.

Di waktu yang sama, IVAA juga cukup padat dengan berbagai kewajiban akhir tahun, baik dari sisi kewajiban organisasi maupun program. Berbagai program sedang kami kerjakan saat ini, di antaranya ialah penyusunan buku Post-event Festival Arsip (Fest!Sip) serta Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Jilid II. Kegiatan kelembagaan yang terkait dengan penguatan organisasi dan visi IVAA, juga menjadi agenda penting yang tak dapat digeser.

Di keriuhan momen itulah, kami memutuskan untuk menghadirkan buletin ke ruang baca Anda dengan edisi khusus. Beberapa rubrik yang biasanya Anda temukan, sengaja kami sembunyikan sementara waktu. Hanya sementara. Sebab di antara paralel kegiatan, kami membutuhkan jeda, sebagaimana Anda butuh piknik di sela kesibukan. Tapi sayangnya, jeda itu bukan piknik bagi kami, melainkan menjadi ruang refleksi, baik untuk kerja IVAA secara keseluruhan maupun kerja IVAA dalam Festival Arsip.

Dalam konteks Festival Arsip misalnya, kami merasa perlu untuk memposisikan keberadaan IVAA sebagai lembaga arsip seni rupa yang sedang berupaya mengevaluasi dan berbenah diri. Festival Arsip ialah satu di antara cara-cara untuk memanen berbagai komentar dan masukan dari publiknya. Dua hal itu menjadi satu dasar dari serentetan titik pijak bagi kami untuk merumuskan arah IVAA di tahun-tahun mendatang. Berbagai penilaian yang muncul pada saat penyelenggaraan Festival Arsip tentu kami hargai sebagai bentuk apresiasi.

Sebagai salah satu acara yang menawarkan konten dan berupaya kerja secara kontekstual, tim Festival Arsip berikhitar untuk menjaga agar Fest!Sip dapat mencengkeram kuat dalam ingatan publik. Harapan kami sederhana. Kami ingin Fest!Sip IVAA diingat melalui kompilasi catatan kritisnya, karena kerja kebudayaan merupakan kerja bersama, kerja kolektif. Sehingga kekurangan dan “bolong”nya suatu acara kebudayaan bisa menjadi catatan bersama, sebab kerja kebudayaan akan terus bergulir dan berlanjut secara estafet.  

Semoga kita semua selalu diberi semangat kebersamaan dalam mewujudkan kerja kebudayaan yang kritis dan berorientasi pada kemanusiaan dan pengetahuan. Selamat menyambut tahun yang baru, selamat membaca dan berdinamika!

Lisistrata Lusandiana
Pimpinan Redaksi


Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto

Sorotan Arsip
Koleksi Arsip IVAA; Poster Peristiwa Seni 1987 – 2015
Oleh: Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa
Sorotan Pustaka September-Desember 2017


Tim Redaksi Buletin IVAA Mei-Juni 2017
Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Sukma Smita ⚫ Penyunting: Fairuzul Mumtaz ⚫ Penulis: Santosa, Dwi Rahmanto, Putri Alit Mranani ⚫ Kontributor: Rudy Rinaldi  ⚫ Ilustrasi Sampul dan Desain Postcard Natal – Tahun Baru: Dwi Rachmanto ⚫ Tata Letak & Distribusi: Tiatira Saputri, Melisa Angela

#Sorotan Arsip September-Desember 2017

Koleksi Arsip IVAA; Poster Peristiwa Seni 1987 – 2015

Oleh: Putri Alit Mranani

Pada 2016, Tim Arsip IVAA dibantu tenaga outsource Esza Parapaga dan Sujatmiko menata ulang serta mendigitalisasikan koleksi poster peristiwa seni yang tersimpan di ruang storage IVAA. Tercatat ada 2.244 poster dalam kurun 1987 – 2015 yang sudah didigitalisasi. Koleksi arsip poster ini diperoleh dari kiriman yang diterima dan dipasang pada papan pengumuman IVAA, serta beberapa poster merupakan sumbangan.

Koleksi arsip poster IVAA yang paling tua adalah poster Pameran Seni Grafis. Pameran itu diselenggarakan oleh Fakutas Seni Rupa dan Desain (FSRD), ISI, Yogyakarta, sebagai pameran tugas akhir Suwarno pada 1987. Di tahun yang sama, terdapat poster bertajuk Forum Komunikasi Seni, yang menginfokan adanya pameran oleh Handrio, V.A. Sudiro, dan Aming Prayitno di Sasana Aji Yasa FSRD, ISI, Yogyakarta.

Tidak semua koleksi poster di IVAA tentang pameran seni rupa. Oleh sebab itu, perlu dikategorisasi sesuai peristiwanya seperti pameran, pertunjukkan, undangan residensi, konser musik, artist’s talk, festival, diskusi, presentasi, bedah buku, workshop, hibah, seminar, konferensi, pemutaran film, peluncuran buku, pembukaan galeri/studio, bazaar, sayembara, penggalangan dana, kompetisi, lowongan pekerjaan, poster band, dan propaganda.

Daftar koleksi poster tersebut dapat dilihat melalui tautan  http://bit.ly/2BsLlVY. Sementara untuk mengakses arsip poter dan koleksi lainnya, silakan membuka tautan http://bit.ly/2nc3vrV. Jadilah KawanIVAA!


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Arsip dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

#Sorotan Dokumentasi September – Desember 2017

Seni Sibuk di Akhir Tahun 2017;
Sekilas Sorotan Dokumentasi

Oleh: Dwi Rachmanto

Salah satu agenda dalam perhelatan Biennale Jogja (BJ) XIV 2017 adalah program bersama komunitas dan galeri seni di Yogyakarta, yang dirangkum dalam Paralel Event. Agenda ini bercabang menjadi 47 program dalam 30 ruang dan melibatkan 300 seniman sepanjang putaran satu purnama lebih, 29 Oktober – 03 Desember 2017.

Kuantitatif event ini cukup membuktikan bahwa Yogyakarta sebagai pusat perhelatan seni rupa di Indonesia. Apresiasi pun tak pernah surut, baik oleh penyelenggara event, seniman, penikmat seni maupun masyarakat umum atas presentasi karya seni yang tanpa henti.

Berjalan mundur dari penyelenggaraan Paralel event Biennale Jogja XIV, kita bisa melihat berbagai kegiatan dengan turunan program dalam jumlah cukup besar. Sebut saja Jogja International Art Festival pada 22 – 26 Oktober 2017. Sejumlah seniman dari Asia –Eropa turut terlibat dalam pameran bersama ini.

Keterlibatan seniman internasional juga terlihat dalam Jogja Street Sculpture Project #2, yang dimulai bersamaan dengan Hari Kesehatan Jiwa Nasional. Event yang dikelola oleh Asosisasi Pematung Indonesia (API) ini, melibatkan seniman patung dari Yogyakarta sendiri, luar kota, dan luar negeri. 54 karya dari 50 pematung menghias wilayah heritage Kotabaru, Yogyakarta.

Sementara itu, Indonesian Visual Art Archive (IVAA) juga urun dalam meramaikan seni di Yogyakarta sejak 19 September – 1 Oktober 2017. Selama 12 putaran matahari itu, IVAA menyelenggarakan Festival Arsip di Pusat Kebudayaan Hadisoemantri (PKKH) dan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Rangkaiannya, selain pameran seni rupa berbasis Arsip yang melibatkan 15 seniman atau kelompok, juga ada pameran komunitas, bursa arsip, dan Seminar Internasional. Secara kuantitatif, keterlibatan seniman, pekerja seni, serta komunitas seni dan budaya tidak kurang dari angka 300.

Dua bulan sebelum IVAA, Studio Grafis Minggiran bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY menyita perhatian warga Yogyakarta selama 18 – 31 Juli 2017. Mereka menggelar Pekan Seni Grafis Yogyakarta untuk kali pertamanya di Jogja Nasional Museum.

522 KM dari Yogyakarta, di Jakarta ada Inaugurasi Museum MACAN dengan judul “Seni Berubah. Dunia Berubah.” Melalui pameran ini, kita diajak menjelajahi koleksi Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) yang memajang 90 karya seniman Indonesia dan internasional sebagai koleksi dari museum itu sendiri. Dikurasi bersama oleh Agung Hujatnika dan Charles Esche, karya-karya yang ditampilkan mengeksplorasi narasi sejarah seni Indonesia dengan dunia dalam kurun waktu 178 tahun.

Di sisi lain ibu kota, perhelatan Jakarta Biennale 2017 dengan judul “JIWA” digelar. Penyelenggaraan event tahunan ini berpusat di Gudang Sarinah Ekosistem, sebuah gudang seluas 3000 meter persegi. Sepanjang 4 November – 10 Desember 2017, rangkaian event ini ingin mempertemukan karya seni dengan lapisan masyarakat yang lebih luas. Beberapa museum pun digaet demi keberhasilan kegiatan Museum Sejarah Jakarta, Museum Tekstil, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Taman Prasasti, dan Museum Wayang.

Jakarta Biennale 2017 dirancang melalui kolaborasi antara Melati Suryodarmo yang bertindak sebagai Direktur Artistik, dengan Annissa Gultom, Vit Havranek, Philippe Pirotte, dan Hendro Wiyanto. Biennale kali ini melibatkan 52 seniman dari dalam negeri maupum mancanegara.

Selain Yogyakarta dan Jakarta, beberapa kota lain juga menggelar event yang serupa dan waktunya tidak terlalu terpaut jauh. Di Makassar kita mengenal Makassar Biennale, yang tahun ini bertajuk Maritim. Event ini dibuka di Pelataran Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar. Selain itu, ada juga Biennale Jatim yang diselenggarakan di Jawa Timur.

Tidak kurang dari 55 event yang berhasil dirangkum oleh Tim Dokumentasi IVAA sepanjang Oktober – November 2017. Dokumentasi itu kini disimpan dan dikelola secara rapi dan tertata. Dari seluruh kegiatan tersebut, Festival Arsip menduduki peringkat pertama dalam hal jumlah agenda, yakni 103 agenda. Pendokumentasi sekian banyak kegiatan itu tidak dilakukan oleh awak IVAA sendiri, melainkan dibantu oleh mahasiswa magang dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, baik dari Jurusan Tata Kelola Seni maupun Media Rekam.



Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

[Sorotan Dokumentasi] Biennale Jogja XIV: Merangkum Peristiwa Sosial dalam Peristiwa Seni

Oleh: Rudi Rinaldi

Biennale Jogja tahun ini fokus bekerja sama dengan negara Brasil, yang secara letak geografisnya sejajar dengan Indonesia, yaitu dilewati oleh garis khatulistiwa. Biennale Equator menjadi upaya nyata untuk membangun definisi baru berkaitan dengan gagasan antarnegara, serta memberikan alternatif terhadap relasi antarnegara dalam kancah globalisasi secara umum.

Pameran Utama

Tujuan dari kerja sama dengan negara dari Benua Amerika tersebut adalah untuk mewujudkan pameran seni rupa sebagai agenda utama dalam gelaran besar dua tahunan ini. Dengan mengangkat tema “Stage Of Hopelessness”, pameran Biennale Jogja XIV: Equator #4 diselenggarakan pada 2 November hingga 10 Desember 2017.

Seluruh gedung pamer Jogja Nasional Museum (JNM) Yogyakarta digunakan sebagai ruang utama pameran yang melibatkan 39 perupa undangan. 27 di antaranya merupakan perupa WNI yang aktif berkarya dalam enam tahun terakhir, 12 sisanya adalah perupa asal Brasil. Tiga di antaranya kemudian mengikuti residensi di Yogyakarta. Pemilihan perupa dari Brasil tersebut berdasarkan rekomendasi Gabriel Bogossian, seorang kurator dan organisasi video asal Brasil.

Bertindak sebagai kurator adalah Sigit Pius Kuncoro, dibantu oleh Forum Ceblang Ceblung sebagai Direktur Artistik. Keduanya bekerja sama merespon ruang pamer dengan format tujuh poin yang bebas diinterpretasi oleh para perupa peserta pameran. Tujuh poin itu adalah Penyangkalan atas Kenyataan, Kemarahan pada Keadaan, Keputusasaan atas Kehilangan, Kepasrahan atas Ketiadaan, Penghiburan atas Kehilangan, Kesadaran pada Keadaan, dan Penerimaan atas Kenyataan.

Selain lukisan, pameran utama ini juga menampilkan beragam medium seperti patung, desain grafis, instalasi, video, dan fotografi. Karya-karya itu ditempatkan di ruang-ruang yang dirancang secara strategis untuk menguatkan masing-masing tema yang disampaikan. Sementara di luar gedung, sebuah karya ditampilkan yang secara eksplisit berintegrasi dengan karya-karya di ruang pamer.

Mencermati karya para seniman, nyaris seluruhnya adalah karya baru. Beberapa karya memang pernah tampil di hadapan publik sebelumnya, namun telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan tema utama pameran. Meski demikian, hal ini tidak akan mengganggu Anda dalam menikmati keseluruhan karya yang dipamerkan.

Agenda Pendukung

Parallel Event diselenggarakan pada 28 Oktober hingga 3 Desember 2017. Program ini terdiri dari pameran di beberapa titik di Yogyakarta dengan merangkul keterlibatan ruang dan komunitas seni yang lebih luas. Pelibatan ini menjadi sangat penting untuk membangun pemahaman bahwa seni bisa dilihat sebagai satu produksi pengetahuan yang tidak hanya ‘terpusat’ pada satu titik tertentu.

Selain agenda di atas, dibentuk pula Biennale Forum sebagai penyelenggara diskusi, kuliah umum, simposium, artist talk, dan workshop yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang kritik serta ruang pembacaan. Agenda ini terlaksana dari 4 November hingga 7 Desember 2017 di beberapa titik di Yogyakarta. Biennale Forum selalu mengangkat tema yang berbeda dan aktual pada setiap sesinya. Hal ini dimaksudkan untuk merespon isu-isu peristiwa seni atau berbagai peristiwa yang sehari-hari menjadi perbincangan hangat di masyarakat kita.

Bagian terakhir dari agenda pendukung pameran utama Biennale Jogja adalah Festival Equator. Diagendakan pada 10 Oktober hingga 2 November 2017, Festival Equator menjadi rangkaian peristiwa untuk mengawali sekaligus mendukung acara sebelum pembukaan Biennale Jogja. Festival ini mengundang beberapa seniman untuk membuat karya yang berhadapan langsung dengan kenyataan sosial. Dengan demikian, diharapkan masyarakat merasakan semangat hajatan berkesenian di tengah dinamika kehidupan sosial.

Tiga Narasi Besar

Sigit Pius Kuncoro selaku kurator secara spesifik menjelaskan 3 narasi besar yang dibangun berkenaan pengelenggaran Biennale Jogja XIV tahun ini, yaitu:

  1. Organizing Chaos

Bagian atau mengorganisasi kekacauan ini menjadi permulaan dari seluruh rangkaian acara yang diwujudkan dalam Festival Equator. Organizing chaos dalam hal ini membicarakan tentang ketidaklaziman yang sulit untuk dimengerti di tengah-tengah masyarakat hingga merebaknya wabah kegilaan sebagai penanda akan terjadinya perubahan.

2. Stage of Hopelessness

Bentuk dari narasi ini adalah pameran utama Biennale Jogja XIV. Di dalamnya terdapat tujuh poin yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.

3. Managing Hope

Bagian ini mengelola harapan, mencoba menawarkan percakapan-percakapan produktif yang dilandasi kesadaran akan hadirnya momen-momen traumatik dalam kehidupan kita sebagai momen estetik.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

[Sorotan Dokumentasi] MACAN di Antara Museum Seni di Indonesia

Dari Grand Launching Musuem Macan
Oleh: Dwi Rahmanto

Haryanto Adikoesoemo, seorang kolektor senior Indonesia, telah menekuni bidangnya kurang lebih 25 tahun. Ia telah mengumpulkan berbagai karya seni rupa, baik dari Indonesia, Asia maupun Eropa. Di antara koleksinya itu, terdapat pula karya-karya dari seniman terkemuka dunia seperti Raden Saleh, I Gusti Nyoman Lempad, Andy warhol sampai Takashi.

Pencapaian selama seperempat abad itu kemudian dipersembahkan dan dipresentasikan dalam Grand Opening The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN) di AKR Tower Level MM, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada 4 November 2017 – 15 Maret 2018. Pameran inagurasi yang menghadirkan 90 karya seniman Indonesia dan Internasional ini memilih tajuk, “Seni Berubah. Dunia Berubah. Menjelajahi Koleksi Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara”.

Pameran yang dikuratori oleh Agung Hujatnika dan Charles Esche ini, menyuguhkan karya berdasarkan periode. Pada periode awal, tampil karya-karya maestro seperti Raden Saleh, Miguel Covarubias, dan Walter Spies. Periode selanjutnya adalah periode kemerdekaan yang diwakili oleh karya-karya Dullah, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, dan Henk Ngantung.

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya-karya dari A.D. Pirous, Ahmad Sadali, Andy Warhol, dan Arahmaiani muncul sebagai representasi periode 1950 – 1960-an. Dan sebagai perwakilan untuk melihat perkembangan periode saat ini, kurator memilih karya-karya dari Cai Gou-Qiang, FX Harsono, Ai Weiwei, dan I Nyoman Masriadi. Untuk pelengkap peristiwa sejarahnya, dihadirkan pula arsip-arsip berupa katalog pameran, kliping berita, dan dokumen terkait perjalanan seni rupa Indonesia dari masa ke masa. Dalam kesempatan istimewa ini, IVAA dan DKJ turut diundang dalam melengkapi arsip pameran.

Pembukaan museum ini merupakan langkah besar dari tumbuhnya infrastruktur seni rupa di Indonesia, selain museum asuhan pemerintah seperti Galeri Nasional dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang berada dalam satu kompleks dengan Museum Fatahilah. Kehadiran museum yang diinisiasi oleh pihak swasta khusus koleksi pribadi ini, juga mengingatkan kita pada Museum OHD yang menyimpan karya-karya seni modern Indonesia.

Tujuan utama dari Museum MACAN adalah sebagai wadah edukasi publik, selain sebagai ruang untuk memamerkan karya. Diharapkan juga, museum tersebut mampu menjadi ikon di level region Asia Tenggara. Kerja keras ini kemudian perlu melihat pada sejauh mana program-program paralelnya mendukung museum tersebut menjadi tempat edukasi yang dinasmis dan eksploratif. Meski sumber dan koleksinya sudah memperlihatkan keberagaman dari sisi sejarah, artistik, dan makna, akan tetapi masih harus dihidup-hidupkan dengan perbagai program.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

#Sorotan Pustaka September-Desember 2017

Judul Buku: Memoar Oei Hiem Hwie dari Pulau Buru sampai Medayu Agung
Penulis: Heru Kridianto (ed.)
Penerbit: PT. Wastu Lanas Grafika
Cetakan: Pertama, September 2015
Tebal: x + 258
Ukuran: 16,5 x 21,5 cm

Cerita atas peristiwa, tokoh yang berhubungan dengannya atau rekaman tentang pengalaman hidupnya yang bisa menjelma menjadi pelurusan sejarah ataupun sebagai sejarah, penting bagi sebuah negeri. Hal inilah yang tampak pada Memoar Oei Hiem Hwie dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung.

Oei Hiem Hwie Lahir 26 November 1935 walau dalam surat dokumentasi tertulis 26 Nop 1938, dilahirkan di Malang, Jawa Timur. Indonesia adalah negara dan kebangsaan yang diperolehnya secara susah payah dan getir. Oei Hiem Hwie memilih menjadi orang Indonesia meskipun ia adalah putra dari seorang papa kelahiran Nan An, Hokkian, Tiongkok.

Kenangan masa kanak-kanaknya di Kota Malang ketika zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan awal kemerdekaan Republik Indonesia. Menjalani zaman ini, bukan perkara mudah bagi seorang yang berasal dari kaum ‘minoritas’ Tionghoa. Kisah-kisah ini mengawali bagian pertama buku tersebut.

Bagian kedua memoar, Hwie yang sudah remaja mulai tumbuh kesadaran politiknya. Ia masuk ke dalam organisasi Baperki dan PPI (1965). Dua organisasi tersebut menjadi ‘rumah’ sekaligus alat untuk mewujudkan isi kepalanya tentang perjuangan menghilangkan diskriminasi, serta bagaimana berintegrasi dengan rakyat lainnya.

Oei Hiem Hwei juga sempat menjadi wartawan di harian Trompet Masjarakat. Aktivitasnya  sebagai wartawan Trompet Masjarakat terhenti berbarengan dengan pecahnya gerakan 1 Oktober 1965. Wartawan-wartawan pengurus PWI pun dipecat dan ditangkap dengan tuduhan sebagai pendukung G30S.

Tanggal 24 November 1965, Hwie ditangkap tentara dengan tuduhan sebagai anggota Baperki dan wartawan Trompet Masjarakat yang berhaluan Soekarnois. Ia ditahan di Kamp Gapsin, Batu. 12 Januari 1966, ia dipindah ke Penjara Lowak waru, Malang, Masuk Blok 10-11. Selama 1970-1978 ia menjadi tahanan politik di Pulau Buru.

Di pembuangan dan penjara ini, ia dipertemukan dengan Pramoedya Ananta Toer. Di masa akhir hukumannya, ia bertemu dengan Haji Masagung dan bekerja di perusahaannya setelah bebas.

Kita bisa belajar dari Pak Hwie bagaimana bisa bertahan hidup, bagaimana menjalani hidup setelah dibebaskan dari penahanan tanpa pengadilan di Pulau Buru, membangun kembali kehidupan pribadi dan sosialnya, serta bagaimana Pak Hwie berkontribusi pada pembangunan untuk menuju masyarakat yang lebih baik. Satu di antara upaya-upayanya adalah mendirikan Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.

Judul Buku: Film, Ideologi, dan Militer
Penulis: Budi Irawanto
Penerbit: Warning Books & Jalan Baru
Cetakan: Kedua, Juli 2017
Tebal: xxxiii + 266
Ukuran: 13×19 Cm

Buku ini berisi kajian semiotik atas tiga ‘film sejarah’, yakni Enam Djam di Jogja (1951) yang diproduksi pada masa Orde Lama, Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar yang diproduksi di masa Orde Baru. Dalam bab awal buku ini, banyak mengulik teori-teori penelitian, metode ataupun cara pandang menggunakan kajian semiotik atas film, khususnya di Indonesia. Penulis juga mengulas teori film dari perspektif substansi film, yaitu film tidak lagi dimaknai sekadar sebagai karya seni, tetapi lebih sebagai praktik sosial serta komunikasi masa.

Buku ini menuturkan bahwa persebaran film pada 1900 dikuasai oleh Eropa dan Amerika. Industri film Barat itu kemudian melakukan ekspansi ke Indonesia pada 1920-an. Sementara pihak yang berwenang melakukan sensor atas film yang masuk ataupun yang diproduksi di Indonesia diatur oleh Belanda. Sistem sensor buatan penjajah ini bahkan dipakai sampai Indonesia merdeka.

Masa-masa awal perkembangan perfilman Indonesia banyak diproduksi oleh etnis Cina. Pada perkembangannya, terutama awal 1960, dua organisasi kebudayaan yang berafiliasi pada partai politik, memainkan peran penting dalam perjuangan dan ketegangan di dunia perfilman Indonesia. Yaitu antara LEKRA dan Manifes Kebudayaan.

Melalui film-film yang diklaim oleh penguasa sebagai film sejarah, keunggulan militer atas sipil sengaja diproduksi. Tiga film sejarah di atas dengan gamblang merepresantasikan keunggulan modus perjuangan bersenjata yang dilakukan oleh militer dibandingkan dengan modus perjuangan diplomasi yang dilakukan elit politik sipil.


Artikel ini merupakan Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

Lokakarya #2 “Jogja Kota Acara”

 

 

 

 

 

 

Dibuka!
Pendaftaran lokakarya penulisan dan pengarsipan seni rupa #2 “Jogja Kota Acara”
Banyaknya acara seni budaya di sekitar kita tentu bukanlah hal baru. Membicarakan ragam tema, sebaran serta posisi strategisnya, kali ini memang bukan kesempatan pertama. Yang dimaksud ‘acara’ di konteks ini merupakan acara-acara yang terbuka untuk publik, yang secara umum sering disebut sebagai ruang seni budaya. Ajakan untuk membicarakan posisi ruang seni budaya di sini merupakan sebuah usaha untuk melakukan pembacaan bersama atas fenomena yang semakin marak dan jauh dari surut. Di atas itu, ini adalah upaya untuk menjaga daya reflektif dan kritis atas perkembangan yang terjadi di sekitar kita. Banyak elemen yang bisa dibahas dan diperdalam dari fenomena ini, mulai dari kaitannya dengan regulasi di tingkat provinsi dan pusat, kaitannya dengan wisata, juga kecenderungan estetiknya. Apakah peningkatan ruang seni-budaya secara kuantitas berbanding lurus dengan mutunya? Sejauh mana ruang seni budaya tersebut mampu menjadi ruang semai pemikiran yang mampu menyediakan cara dalam membincangkan persoalan masyarakat? Atau justru menjadi persoalan itu sendiri?

Persyaratan

  • Peserta berusia max. 35 tahun
  • Memiliki ketertarikan terhadap dunia seni dan budaya
  • Memiliki ketertarikan terhadap dunia penulisan, pengarsipan, dan penelitian
  • Mengirimkan CV dan satu esai terkait tema, 1000-1500 kata.
  • Pendaftar yang terpilih bersedia membayar biaya lokakarya sebesar Rp 150.000,-
  • Bersedia mengikuti seluruh rangkaian program lokakarya penulisan dan pengarsipan yang terdiri dari:
    2 minggu pelatihan (18 – 30 Desember 2017)
    2 minggu penulisan (1 -9 Januari 2018)
    di Yogyakarta.

Ketentuan Lain:

  • Pendaftaran dibuka sampai tanggal 10 Desember 2017 pukul 24.00 WIB. Berkas-berkas terkait dikirimkan ke lokakaryaarsip@gmail.com
  • 10 peserta terpilih akan dihubungi melalui surel dan diumumkan di website dan sosial media IVAA

 

Narahubung : Tiatira (0877-3821-0811)
lokakaryaarsip@gmail.com

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Juli-Agustus 2017

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Juli-Agustus 2017

EDISI KHUSUS FESTIVAL ARSIP “KUASA INGATAN”

Salam hangat bagi pembaca yang budiman. Memasuki bulan Juli-Agustus 2017 merupakan momen yang genting sekaligus mendebarkan. Pertama karena Festival Arsip yang sudah dipersiapkan beberapa bulan terakhir, kini sudah mulai hitung mundur. Festival ini akan dimulai 18 September s/d 1 Oktober 2017, dan bulan September sudah di depan mata. Kedua, memasuki bulan Juli berarti harus bersiap dengan kesibukan kota Jogja yang biasanya ramai perayaan dan kegiatan, baik berupa festival, pameran dan bahkan Biennale dan segala macam persiapannya. Selain itu, tim program IVAA bersama dengan sahabat IVAA (para alumni Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa jilid I) juga sedang menggagas rencana pelaksanaan lokakarya jilid II. Selain itu tentu saja pekerjaan harian tim arsip dan penyusunan pengembangan program untuk tahun mendatang juga tidak kami lupakan.

Atas dasar pertimbangan itulah, newsletter IVAA Juli-Agustus kali ini sengaja kami susun sebagai edisi khusus. Terdapat satu rubrik yang sengaja kami hilangkan di sini, yakni rubrik Baca Arsip, yang biasanya menyajikan suatu pembacaan atas tema tertentu, mengidentifikasi data yang bisa di dapat dari Arsip IVAA, melengkapinya jika dirasa kurang kemudian menyusunnya menjadi esai utuh dengan sedikit analitis. Rubrik tersebut sengaja kami hilangkan atas pertimbangan manajemen energi dan perhatian. Namun aktivitas yang terkait dengan pemilahan data dan upaya pembacaannya tidak begitu saja kami hilangkan dari kerja-kerja harian. Dalam persiapannya, tim Festival Arsip juga menyusun beberapa desain narasi dan karya yang didukung oleh kerja pendokumentasian, inventarisasi atau bahkan penyusunan sistem basis data baru.

Selain tim Festival Arsip yang berjibaku, kesibukan dan keceriaan Rumah IVAA juga tak luput akan kami bagikan di edisi ini. Aktivitas Rumah IVAA yang lebih banyak berlangsung di bulan Juli sudah kami siapkan juga sebagai sajian. Sementara di bulan Agustus hingga September kami akan mengurangi porsi kegiatan Rumah IVAA, selain yang masih berkaitan dengan persiapan Festival Arsip dan Biennale Jogja. Karena pada penyelenggaraan Biennale Jogja ke XIV kali ini, IVAA sedikit terlibat dalam persiapannya. Tim program IVAA mengambil peran dalam penyusunan dan pelaksanaan Biennale Forum. Selebihnya, aktivitas harian IVAA yang padat di tambah dengan berbagai ragam programnya, menjadi lebih berwarna dan berenergi karena kehadiran teman-teman magang. Bahkan newsletter yang sedang berada di hadapan kita ini merupakan hasil kerja dari magang IVAA yang kami percaya menjadi redaktur pelaksana. Terima Kasih banyak Martinus Danang atas kerja kerasnya.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan gelora yang besar dalam menderivasi mimpi menjadi pekerjaan harian. Selamat membaca!

Lisistrata Lusandiana
Pemimpin Redaksi


I. FestSip! “Kuasa Ingatan”

Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana, Galih Ristia

II. Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Annisa Rachmatika, Dwi Rahmanto.

Sorotan Arsip
Menuju Festival Arsip: Cerita di Balik Lemari Arsip IVAA
Oleh: Melisa Angela

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa dan Martinus Danang Pratama Wicaksana

Agenda RumahIVAA
Oleh:  Anggie Noorida, Annisa Rachmatika, Artia L. Yohana, Era D.S.,


Tim Redaksi Buletin IVAA Juli-Agustus 2017
Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Martinus Danang Pratama Wicaksana ⚫ Penyunting: Melisa Angela ⚫ Penulis: Dwi Rahmanto, Melisa Angela, Santosa ⚫Kontributor:  Anggie Noorida, Annisa Rachmatika, Artia L. Yohana,   Era D.S, Galih Ristia, Martinus Danang Pratama Wicaksana ⚫Ilustrasi Sampul: Nanda Putri  ⚫ Tata Letak & Distribusi: Tiatira Saputri

[Sorotan Pustaka] Soekarno: Biografi Politik

Penulis: Santosa

Judul: Sukarno: Biografi Politik
Penulis: Kapitsa M.S. & Maletin N.P.
Penerjemah: B. Soegiharto, Ph.D.
Editor: Bilven
Edisi bahasa Indonesia ini pertama kali diterbitkan oleh Ultimus
Cetakan 2, Juni 2017
xx + 396 hlm.; 14,5 x 20,5 cm
ISBN 978-602-8331-04-3

Nomor panggil IVAA Library: 900 Kap S

Nama Bung Karno mempunyai daya tarik tidak hanya di tanah air, namun juga di kalangan masyarakat internasional. Sejarah kehidupan beliau dalam buku ini diawali masa kanak-kanak Soekarno yang berasal dari kalangan bangsawan bawah, putra seorang muslim dan ibunya Hindu. Diberi nama Koesno, waktu kecil ia sakit-sakitan. Bapaknya mengira bahwa pemberian namanya tidak cocok maka namanya diubah menjadi Soekarno, yang berarti ksatria yang gagah perkasa dan baik. Di usia 12 tahun, anak ini sudah diakui sebagai pemimpin oleh kawan-kawan sebayanya.

Bung Karno sebagai pemimpin perjuangan untuk Indonesia Merdeka dalam buku ini digambarkan berbeda dari analisa-analisa barat, khususnya Belanda yang menuduh Soekarno berkolaborasi dengan Jepang. Para penulis justru memberikan gambaran bahwa itu adalah taktik Soekarno untuk menggunakan bala tentara Jepang dengan tujuan mengenyahkan Belanda dari Indonesia, ini sama saja dengan memintas jalan ke arah kemerdekaan. Bagaimana Soekarno menyatukan kekuatan politik, friksi-friksi Soekarno dengan Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan lainlain yang anti-kolonialisme dengan menggunakan konsep persatuan dalam menghadapi musuh utama, penjajahan Belanda.

Soekarno meletakkan ideologi Pancasila dalam pidatonya 1 Juni 1945. Prinsip Pancasila sebagai perjuangan anti-kolonial, anti imperialis, dan anti-kolonialisme dengan mewujudkan bangsa yang merdeka dan demokratis.

Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya dinilai melahirkan konsepsi yang memperkuat rezim otoriternya. Walau sebenarnya konsep ini muncul karena dorongan dari kekuatan-kekuatan politik yang ada waktu itu, baik kekuatan kanan maupun kiri. Dengan pertumbuhan sistem demokrasi terpimpin yang pada mulanya ditujukan untuk membatasi kekuatan kaum kanan (Masyumi, PSI, kaum militer kanan), akhirnya justru sedikit demi sedikit berubah ke arah sebaliknya. Dalam situasi ini kekuatan kaum kanan kemudian menjadi yang lebih cepat memobilisasi kekuatan politik ke pihaknya dengan menggunakan UU Keadaan Bahaya. UU yang telah meningkatkan peran militer dan penguasaan sektor negara yang dibentuk dari perusahaan asing yang telah dinasionalisasi, khususnya dengan alasan momok komunisme.

Disoroti juga tentang politik konfrontasi Bung Karno dalam menghadapi Malaysia, di mana Soekarno memutuskan Indonesia keluar dari PBB karena Malaysia telah diangkat sebagai anggota sementara PBB. Para penulis menjelaskan radikalnya politik luar negeri Soekarno dikarenakan kedekatannya dengan Peking. Ini berkaitan juga dengan pertentangan di dalam gerakan komunis Tiongkok, hingga Indonesia terseret masuk ke dalam pusarannya.

Mengenai peristiwa 30 September, dalam buku ini dianalisa bahwa ada dukungan masyarakat secara luas dalam peristiwa ini, khususnya di Jateng dan Jatim, dan dukungan dari kalangan militer (AL, AU, Polisi, dan sebagian AD), mereka mencoba merebut kekuasaan presiden dengan memberikan tekanan, intimidasi penggerakan massa dan demonstran, penggunaan mahasiswa dan pelajar (KAMI dan KAPPI) untuk turun ke jalan dengan dukungan dari AD, dan ini berlangsung hampir 3 tahun. Soekarno memang tidak menghendaki perang saudara walaupun jika mau ia mampu mengobarkannya. Soekarno mengeluarkan surat perintah “Supersemar” dan beliau menandaskan surat tersebut bukan pelimpahan kekuasaan negara, tetapi hanya merupakan tugas praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban.

Bung Karno pun sampai di akhir karir politik praktisnya, sebagai seorang profesional-revolusioner yang berjuang sendirian menghadapi keroyokan lawan-lawan politik lamanya yang kemudian melahirkan Orba.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.