All posts by Tiatira

Pemutaran dan Diskusi Film “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman”

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Sekitar pukul 13.00 WIB pada Senin, 3 Oktober 2016 IVAA kembali menyelenggarakan pemutaran serta diskusi film. “A Short Story of Raden Saleh Syarif Bustaman” adalah film yang kali ini dihadirkan di RumahIVAA. Diskusi ini juga dihadiri langsung oleh sutradara film yakni Subi serta seorang penanggap dari Kunci Cultural Studies Center, Fiky Daulay. Beberapa mahasiswa, pegiat seni, dan kurator pun datang untuk mewarnai diskusi, seperti Wahyudin (kurator independen Yogyakarta) dan Budi Dharmawan (fotografer independen, penulis, dan kurator). Diskusi seusai pemutaran film dimoderatori oleh Lisistrata Lusandiana. Dengan ditemani teh hangat serta cemilan, kehadiran mereka membuat suasana diskusi semakin nikmat.

Film ini mengisahkan perjalanan hidup Raden Saleh, sebagai seorang Jawa yang berdinamika di dunia seni rupa dalam konteks kolonialisme Hindia-Belanda. Sebuah perjalanan Raden Saleh dari lahir, proses formatio-nya di Eropa, hingga kembalinya ia di tanah Jawa. Ada beberapa hal menarik dari film tersebut. Salah satunya adalah pernyataan dari Peter Carey, “Sebagai anak muda, Saleh merupakan orang dengan kecerdasan yang luar biasa dan unik. Dan saya rasa itu merupakan ‘kutukan’ tersendiri. Ia bukan bangsawan yang biasa atau priyayi pada umumnya. Ia tidak bisa menjadi bangsawan normal. Ia juga tidak bisa menjadi orang Jawa biasa karena ia terlahir sebagai bangsawan dan sangat berpendidikan.” Kedirian semacam ini sangat bernuansa dilematis ketika di satu sisi Raden Saleh hidup sebagai orang Jawa di masa kolonialisme, yang memaksa sebagian masyarakat Jawa untuk berperang melawan Belanda, sementara di sisi lain, ia juga banyak bergaul dengan bangsawan Eropa. Seorang antek kolonialiskah Raden Saleh? Atau justru seorang nasionalis yang menggunakan cara lain untuk berperang?

Pada awal penjelasannya, Subi menekankan bahwa film ini dibuat sebagai syarat akademis, untuk menuntaskan kuliahnya di Institut Kesenian Jakarta. Di dalamnya, terdapat narasi yang menyampaikan posisi seorang Raden Saleh dalam dunia seni rupa Indonesia hingga sekarang. Seperti apa yang dikatakan di bagian awal film oleh Suwarno Wisetrotomo, “Betapa kita itu bisa eksotik, bisa penting, bisa berbicara di forum penting di dunia.” Ungkapan dari Suwarno nampaknya dipakai untuk menunjukkan kontribusi Raden Saleh di kancah seni rupa internasional. Meski di sisi yang berbeda juga mengandung soal, jika dikaitkan dengan posisi raden saleh dan cara pandang orang Eropa terhadap Raden Saleh.

radensaleh1

Ketika berkesempatan untuk memberi tanggapan, Fiky menjelaskan bahwa ada kelemahan dan kekuatan yang terkandung di dalam film karya Subi ini. Kekuatannya adalah terletak pada momentum yang diambil, yakni suasana pameran di Galeri Nasional. Pameran menjadi konteks tempat dan suasana di awal dan akhir cerita yang membingkai film tersebut. Akan tetapi ia menyayangkan mengapa film ini tidak mengambil persepsi seniman era sekarang dalam melihat sosok Raden Saleh. Bagi dia akan lebih menarik jika Subi memasukkan unsur tersebut. Sependapat dengan Fiky, Budi mengatakan demikian, “…. bagaimana sosok Raden Saleh dalam konteks masanya, dan bagaimana dia juga hadir kembali dalam konteks sekarang.” Tidak sekedar cerita Raden Saleh dari lahir sampai mati, akan tetapi semesta seperti apa yang terbentuk dari dulu hingga sekarang yang akhirnya memungkinkan kita bisa berbicara soal Raden Saleh, ungkap Budi.

Selain Fiky dan Budi, kritik dari Wahyudin juga cukup berarti. Menurutnya film ini belum menyampaikan sikap atau pandangan dari si sutradara. Subi hanya menggarisbawahi pengetahuan tentang Raden Saleh yang sebenarnya sudah diketahui oleh publik. Artinya adalah bahwa Subi belum menawarkan hal baru untuk menjadi bibit diskursus dalam kajian seni video atau sejarah seni rupa. Apalagi dalam keterkaitan profil Raden Saleh dengan konteks sosial politik Hindia-Belanda, tentang posisinya sebagai orang Jawa yang dekat dengan pemerintah kolonial. Bagi Wahyudin akan lebih menarik jika Subi mampu mengambil satu elemen saja yang masih luput dari pandangan publik.

screeningfilmradensaleh1screeningfilmradensaleh2

Sebenarnya ada banyak sekali poin menarik dan penting yang muncul dalam diskusi ini. Namun kiranya ada satu hal yang memang perlu menjadi perhatian khalayak, yakni bahwa suatu pernyataan atau sikap atas suatu hal, menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi ketika berbicara soal produksi suatu karya. Tidak terbatas dalam karya film atau tulisan jurnalistik atau seni yang lain. Tanpa adanya statement dari pembuat, suatu karya akan datar dan tawar untuk dinikmati. Diskusi ini ditutup dengan komentar dari Ari Bayuaji perupa Indonesia yang berdomisili di Kanada, yang tengah mengikuti program residensi di Redbase. Menurut Ari, film ini akan sangat bermanfaat bila ditemukan dengan audiens yang tepat. Misalnya bagi pelajar SMA atau mahasiswa non-seni rupa, film ini dapat menjadi pengantar yang tepat untuk mulai mengenal sosok Raden Saleh.

Diskusi dan Bedah Buku “Sejarah Estetika”

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Senin (19/9) pukul 19.00-21.30 WIB IVAA bersama beberapa komunitas lain, seperti Kedai Kebun Forum (KKF), KUNCI Cultural Studies, BRIKOLASE, Impian Studio, Jogja Medianet, dan Indie Book Corner mengadakan diskusi dan bedah buku ‘Sejarah Estetika’ di KKF. Acara ini merupakan bagian dari pameran Buku Andalan 2016. Secara khusus, diskusi ini dihelat dalam rangka melakukan apresiasi secara adil, baik bagi penulis dan publik. Di satu sisi harus adil bagi penulis, karena penulis perlu mendapatkan masukan dari pembacaan yang tidak sebatas glorifikasi dan puja-puji, sementara yang dimaksud adil bagi publik ialah bahwa publik juga layak membaca karya yang berkualitas dan setidaknya mendekati komprehensif. Martin Suryajaya sebagai penulis buku Sejarah Estetika turut hadir sebagai pembicara, menceritakan perjalanan penulisan buku ini. Selain itu, hadir juga dua pembahas, yakni Stanislaus Yangni (penulis dan kritikus seni rupa) dan Wahmuji (pegiat Mediasastra.com dan lingkar belajar kritik sastra). Tak kalah seru, diskusi ini dimoderatori oleh Arham Rahman.

Diskusi dan bedah buku ini diawali dengan sambutan oleh Yustina Neni sebagai tuan rumah KKF sekaligus salah satu pemrakarsa pameran Buku Andalan 2016. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya semangat berdagang sebagai kekuatan dan jalur untuk mengusahakan pergerakan secara sosial dan ekonomi. Dari situlah KKF menjadi ruang alternatif untuk menggelar beberapa aktivitas sosial humaniora, salah satunya adalah diskusi dan bedah buku ‘Sejarah Estetika’.

img_2461

img_2466

Martin menjelaskan bahwa porsi utama dalam bukunya ini adalah tentang kajian pemikiran estetika atau filsafat seni. Pada awalnya juga diceritakan latar belakang proyek penulisan yang disponsori oleh Indonesia Contemporary Art Network (ICAN), yang kemudian menjadi alasan bagi Martin dalam menentukan porsi tulisan. Tentu, alasan di atas membawa dampak adanya beberapa kekurangan dalam buku Martin. Diskusi ini diharapkan dapat membuka kritik dan evaluasi yang kelak  dipertimbangkan.

Latar belakang tersebut juga disampaikan Martin pada kuliah umum di gedung pascasarjana ISI Yogyakarta beberapa jam sebelumnya. Dalam kuliah umum tesebut Martin mengatakan secara lebih mendasar bahwa keberadaan buku ini dilatarbelakangi oleh usaha untuk memberi sumbangan kritik seni (seni rupa) dalam bingkai filsafat. Fokus buku ini adalah pada kebaharuan atau perubahan pemikiran manusia tentang estetika dari periode klasik (pra-sejarah) hingga kontemporer. Tujuannya adalah untuk mendobrak bias estetika modernis yang menciptakan pembedaan kesenian secara biner. Dengan menggunakan sumber primer, Martin melakukan penelitian selama setahun untuk menghasilkan buku dengan ketebalan mendekati 1000 halaman tersebut.

Beberapa penilaian muncul dari para pembahas. Wahmuji, memberikan ulasan dengan memblejeti metodologi sejarah atau historiografi yang dipakai oleh Martin. Ia berpendapat bahwa buku karangan Martin lebih tepat disebut ‘Sejarah Estetika Barat’. Sedikitnya ulasan tentang sejarah pemikiran estetika timur, membuat buku ini didominasi oleh pemikiran para tokoh barat. Lalu ia menilai bahwa historiografi yang dilakukan Martin cenderung berkutat pada perdebatan konsep-konsep besar secara dialektis, selalu dalam alur yang bertentangan satu sama lain. Selain itu ia juga berpendapat bahwa buku ini tidak memiliki fokus spesifik pada kritik seni bidang tertentu.

Sementara ulasan kedua diutarakan oleh Stanislaus Yangni (kerap dipanggil Sius). Sius merasa bahwa pembahasan pemikiran tokoh-tokoh di dalam buku ini sudah cukup asik, meski di saat asik-asiknya mengikuti perjalanan konsep dari tiap pemikir, ia harus kecewa karena harus terputus, lalu pindah ke pemikir beserta pemikiran yang lain. Pernyataan Wahmuji soal alur buku yang dialektis juga diiyakan oleh Sius. Bagi Sius, dalam penyusunan sejarah, tidak harus melulu berkutat pada perdebatan dialektis, relasi atau tiap pergeseran estetika nampaknya juga perlu untuk diperlihatkan. Selain itu, ia melihat adanya perubahan posisi estetika paska fenomenologi, di mana estetika semakin lama tidak lagi menjadi objek yang dibicarakan. Estetika menjadi cara bicara itu sendiri. Di sinilah, penulisan sejarah estetika Martin menemui ketidakmungkinannya, namun tetap ditulis. Bagi Sius, penulisan sejarah estetika di bagian-bagian setelah fenomenologi menjadi terasa sangat gamang.

1

Ruang diskursif semakin hidup ketika Martin merespon beberapa kritik di atas. Terkait anggapan terhadap bukunya yang terlalu ‘barat’, Martin menjelaskan bahwa keterbatasan waktu penulisan menjadi faktor awal. Di samping itu kajian sejarah estetika timur membutuhkan metode penelitian yang lama dan tentu dengan dana besar. Terpencarnya berbagai sumber primer di konteks masyarakat timur akan membuat peneliti mengeluarkan tenaga ekstra untuk menelitinya.

Martin menambahkan bahwa buku ini memang ditujukan untuk pemula, pembaca jenjang S1 (bidang seni, filsafat, dan sastra), dan siapapun yang tertarik seputar topik estetika. Ia mengakui bahwa hal ini menyebabkan kurangnya penjelasan yang detail dan lebih bernuansa general. Nuansa demikian diantisipasi Martin dengan menggunakan fokus pada perdebatan konsep-konsep besar secara dialektis. Bagi dia, cara tersebut mampu membantu pembaca untuk mendapat peta pemikiran dengan masing-masing argumennya.

Terkait estetika sebagai pembicaraan, sebagai yang bukan objek lagi, Martin merespon bahwa akan menjadi sangat rumit ketika hal ini diterapkan dalam penulisan buku Sejarah Estetika-nya. Pembaca akan merasa kesulitan memahami isi dari buku. Kendati di sana-sini terdapat kekurangan mendasar dalam penulisan sejarah estetika, buku ini tetap penting sebagai peta yang terbentang untuk mempelajari rimba pemikiran estetika yang luas nan rumit.

Ketika Seni dan Sejarah Beririsan: Ulasan Kuliah Umum Seni dan Sejarah

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

1

Pada Rabu dan Kamis, 14 & 15 September 2016, Ark Galerie mengadakan kuliah umum Seni dan Sejarah, yang menghadirkan Arin Rungjang sebagai pembicara. Kuliah umum hari pertama diadakan di RumahIVAA, sementara pada hari Kamis, kuliah umum diadakan di Universitas Sanata Dharma (USD), bekerja sama dengan PUSDEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik). Selain Arin Rungjang, Yerry Wirawan, seorang dosen sejarah USD, juga menyampaikan materinya.

img_6641

Diskusi ini diawali dengan presentasi karya seni dari Arin yang berjudul Mongkut (dalam bahasa Indonesia berarti mahkota). Melalui video dan pembuatan replika Mongkut, Arin mencoba menghadirkan Mongkut sebagai sebuah simbol dari proses penelitian sejarah yang ia lakukan. Sebuah simbol relasi antara Thailand dengan Perancis pada masa pemerintahan Raja Rama IV (1851-1868) dan Napoleon III (1852-1870). Pada masa itu, sebagai bagian dari strategi menghadapi kolonialisme Perancis dan Inggris, Raja Rama IV memberikan replika Mongkut kepada Perancis dan Inggris, sebagai sebuah tanda persetujuan perdagangan dan beberapa kebijakan politik asing. Melalui karya seni ini Arin juga ingin menunjukkan kedaulatan Thailand dalam menghadapi kolonialisme. Kedaulatan yang tentu mengundang banyak perdebatan.

Dalam proses menghasilkan karya ini, Arin melakukan penelitian sejarah untuk mengetahui relasi antara Thailand dengan Perancis di masa kolonialisme. Yang menarik adalah bahwa ia menggunakan metode penelitian sejarah yang cukup berbeda dengan apa yang dilakukan para sejarawan pada umumnya. Ia menggunakan metode penelitian sejarah dengan perspektif seni. Intuisi yang lahir dari sebuah pengalaman pribadi menjadi dasar pencariannya. Berawal dari relasinya dengan seorang berwarganegara Perancis, dengan berbagai dinamikanya, Arin tergerak untuk mencari tahu relasi antara Thailand dengan Perancis dalam konteks sejarah. Bagi dia, relasi dua negara tersebut dalam konteks sejarah memiliki hubungan dengan pengalaman personalnya. Dari narasi kecil yang sangat personal menuju metanarasi yang kompleks. Menggunakan ‘yang sekarang’ sebagai konteks untuk membuka kembali sejarah yang diketahui sedikit orang.

Secara lebih mendalam, Arin sebagai seorang seniman yang melakukan penelitian sejarah, ingin mengatakan bahwa yang menjadi poin penting adalah bukan melulu soal sejarahnya, melainkan motif di balik tindakan di masa lampau. Tentang bagaimana sejarah itu dibentuk. Kekuatan ide di balik keberadaan objek. “How the object becomes a history,” ujar Arin.

Metode yang unik ini memunculkan respon dari kacamata sejarawan. Yerry Wirawan, seorang dosen sejarah di Universitas Sanata Dharma dalam diskusi ke dua memberikan pendapat bahwa metode penelitian sejarah dengan perspektif seni sebenarnya juga sebuah proses historiografi. Namun, imajinasi dan intuisi mungkin menjadi hal yang lebih menggerakkan para seniman untuk melakukan studi sejarah. Ia juga mengatakan bahwa imajinasi juga diperlukan para sejarawan dalam melakukan penelitian. Dengan imajinasi dan sumber kedua, seperti aktivitas interaksi dengan masyarakat, mendengarkan musik, menikmati suasana tempat ibadah, para sejarawan akan terbantu untuk membangun imajinasi sejarah yang terhubung dengan konteks sekarang.

Pertemuan antara seni dan sejarah bukanlah sebuah pertemuan yang mau menentukan siapa yang akan memenangkan diskursus, akan tetapi sebuah pertemuan menggembirakan yang membuka pandangan baru. Pandangan akan posisi intuisi dan pengalaman personal yang mampu menuntun seniman untuk melihat sejarah, serta soal imajinasi yang mampu membantu sejarawan menghubungkan yang dulu dengan yang sekarang. Seni dan sejarah dapat berjalan beriringan, meski dengan cara yang berbeda.

IVAA dalam Perhelatan Buku Andalan

Oleh: Sukma Smita

Bersama beberapa komunitas dan penerbit buku indie, beberapa pekan lalu IVAA berpartisipasi dalam Buku Andalan. Buku Andalan adalah sebuah ajang literasi yang berlangsung sejak 8 hingga 24 September 2016 di Kedai Kebun Forum. Sebagai ajang literasi yang tidak hanya menempatkan buku dan produk turunannya sebagai komoditas, dan lebih mengedepankan sebagai ruang interaksi, Buku Andalan diisi dengan beragam acara terkait dengan buku, perbukuan dan literasi. Interaksi menjadi titik tekan dari ajang tersebut, karena dalam interaksi terdapat ruang pengetahuan yang sering kali muncul tanpa disadari. Muhammad Hadid bertindak sebagai kurator utama pada ajang tersebut, sementara soal artistik cukup terbuka. Beberapa komunitas yang terlibat aktif hingga pada penyelenggaraan acara diantaranya ialah The Wingit Clan, Impian Studio, dan Indie Book Corner.

Dalam rangkaian acaranya, komunitas yang terlibat dalam pameran ini juga menginisiasi program-program yaitu bedah buku, diskusi buku, hingga workshop. Sebagai rangkaian pameran, IVAA bekerja sama dengan Brikolase, KUNCI Cultural Studies Center, serta Radio Buku mengadakan dua bedah buku yaitu buku “Karya-karya Lengkap Sugiarti Siswadi”, “Hayat Sastrawan Kreatif Lekra”, dan buku “Sejarah Estetika” karya Martin Suryajaya.

Bedah Buku “Karya-karya Sugiarti Siswadi”

Oleh: Tiatira Saputri

Jumat 9 September 2016 yang lalu di KKF (Kedai Kebun Forum) diadakan bedah buku sebagai bagian dari rangkaian kegiatan diskusi Buku Andalan dengan materi buku “Karya-karya Sugiarti Siswadi” yang ditulis oleh Fairuzul Mumtaz dari karya-karya Sugiarti Siswadi yang berhasil ia kumpulkan. Bedah buku dimulai dengan pembacaan Anindita S. Thayf mengenai karya-karya Sugiarti Siswadi periode 40-50-an yang terekam dalam buku tersebut. Satu ciri yang ditemukan oleh Anindita ketika membaca karya Sugiarti dan membandingkannya dengan penulis LEKRA lainnya adalah penyampaian pesan yang dibawakan dengan cara mengolah intuisi serta nurani kemanusiaan pembaca melalui refleksi tokoh dalam cerita. Menurut Anindita dari sinilah sisi feminin Sugiarti bisa dirasakan selain eksplorasi sudut pandangnya terhadap perempuan dan anak-anak yang begitu kental. Sementara Katrin Bandel lebih menyoroti buku “Karya-karya Sugiarti Siswadi” ini sebagai satu produk penting untuk memperkenalkan sejarah kita, khususnya dengan adanya wujud asli dari karya-karya penulis tersebut. Karena dengan demikian kita bisa melihat dan menimbang sendiri melalui perspektif masing-masing mengenai kebenaran sejarah dan kondisi yang dituduhkan pada LEKRA saat itu. Dari kumpulan karya tersebut kita juga bisa melihat bagaimana bentuk serta pola penulisan pada negara yang baru saja merdeka. Di mana didalamnya terdapat pesan-pesan berupa revolusi fisik, mental, serta pengetahuan yang sering kali disampaikan melalui refleksi atau evaluasi penulis secara personal. Dan berita baiknya, Fairuz menemukan beberapa karya lagi, sehingga koleksinya menjadi 18 cerpen, 8 puisi, dan 3 karya terjemahan. Semoga saja semakin banyak karya yang ditemukan, sehingga kita pun memiliki kesempatan untuk menelusuri karya-karya Sugiarti Siswadi dan memahami sejarah kita dari sana.

Sorotan Dokumentasi | September-Oktober 2016

Oleh: Dwi Rachmanto

Aktivitas mendokumentasi perhelatan seni rupa di Yogyakarta masih terus berjalan. Sejak Juni sampai Oktober 2016 rekaman dokumentasi IVAA masih didominasi isu arah perkembangan kota dan konflik pertanahan antara masyarakat DIY dengan pemerintah provinsi. Terhitung sejak Januari hingga Oktober 2016 ini ada 196 judul perhelatan seni yang terdokumentasi. Bentuk dokumentasi yang kami miliki berupa berbagai format media, antara lain video, foto, audio, dan material tekstual seperti katalog pameran seni rupa, kliping, dan makalah diskusi. Ada kabar baik pula, yakni terdapat sederetan seniman dan komunitas yang berinisiasi untuk menghibahkan dokumentasinya untuk menjadi bagian dari arsip IVAA. Di antaranya adalah perupa Moelyono, FX Harsono, pegiat Festival Apeman Malioboro, dan Enny Asrinawati (seniman performance art dari Kota Malang).

Tim Arsip IVAA pada bulan Agustus melakukan perjalanan ke kota Jakarta, untuk mengunjungi beberapa perhelatan seni rupa dan pameran arsip, selain itu kami juga menyempatkan berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Pameran arsip bertajuk “Indonesia Archives” yang diselenggarakan oleh ANRI pada 23-31 Agustus 2016 lalu mengundang rasa penasaran kami. Pameran arsip ini diselenggarakan di salah satu selasar gedung pusat perbelanjaan Sarinah Mall. Pameran ini menampilkan khazanah arsip tekstual, foto dan audiovisual yang disimpan ANRI yang berkaitan dengan kemandirian bangsa Indonesia dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya. Pameran “Indonesian Archives” bertujuan untuk lebih mengenalkan dan mendekatkan khazanah arsip yang begitu kaya akan nilai-nilai cinta tanah air, nilai-nilai kepahlawanan, kesantunan, dan kekayaan budaya bangsa Indonesia kepada masyarakat, terutama para generasi muda di negeri ini,” demikian ucap Kepala ANRI, Mustari Irawan. Namun demikian tema pameran ini terasa terlalu luas, sehingga harapan kami untuk melihat arsip-arsip yang sangat langka dalam lingkup sejarah kebudayaan RI masih belum terpuaskan.

Perjalanan kami berlanjut ke Perpustakaan Nasional RI. Tujuan kami adalah untuk menambah koleksi majalah seni rupa pada tahun 50-an. Dari hasil pencarian yang hanya setengah hari, kami mendapatkan rubrik-rubrik seni rupa dari beberapa majalah antara lain Majalah Budaja, Majalah Indonesia, dan Djaja Budaja.

Kami juga menyempatkan untuk mampir ke Festival Filem Arkipel khususnya di ruang pamer di Gudang Sarinah Jakarta. Festival ini digagas oleh komunitas pegiat pengetahuan media dan seni Forum Lenteng. Festival film Arkipel yang telah berlangsung untuk ke empat kalinya ini berlangsung selama sembilan hari mulai 18 hingga 26 Agustus 2016, mengambil tempat di enam lokasi berbeda. Pemutaran film berlangsung setiap hari di beberapa tempat yakni di GoetheHaus, Kineforum, Gudang Sarinah Ekosistem, Erasmus Huis, @America, dan XXI Taman Ismail Marzuki.

arkipel

Tahun ini, Festival Filem Arkipel mengangkat tajuk Social/Capital, Hafiz Rancajale selaku pendiri Forum Lenteng dan Direktur Artistik Arkipel menjelaskan betapa pentingnya isu-isu sosial yang diangkat lewat film dokumenter. Pameran ini di dipajang dalam bentuk instalasi dengan judul Kultursinema #3: Menangkap Cahaya, bertempat di salah satu ruang pamer Gudang Sarinah Ekosistem, yang menampilkan film-fim Indonesia karya sutradara bumiputera dari periode 1920-an s.d. 1940-an antara lain Kwee Zwan Liang, The Teng Chun, dan Wong Bersaudara.

Dan di bulan Oktober ini kami melakukan wawancara untuk melengkapi pembacaan IVAA mengenai konten e-newsletter bulan ini, yaitu residensi. Pembacaan melalui perspektif pelaku residensi baik penyelenggara maupun seniman residensi kami gunakan untuk melihat bagaimana residensi dimaknai oleh Theodora Agni selaku manager residensi dan juga Ari Bayuaji sebagai seniman yang telah lama tinggal di Canada dan sedang mengikuti program artist in residency RedBase. Dalam wawancara, Agni berbagi cerita mengenai pengalaman Cemeti sendiri melakukan berbagai pengamatan, membongkar-pasang program untuk menemukan bentuk yang paling pas mewakili penyebutan residensi itu sendiri. Dari pengalaman berjejaring berskala internasional hingga hambatan dengan birokrasi negara dibagikan di dalam wawancara. Sementara Ari Bayuaji memaparkan perspektifnya sebagai seorang seniman yang mengikuti residensi di negaranya sendiri, yaitu tentang bagaimana residensi berperan penting pada perkembangan praktik berkeseniannya, baik di dalam dan di luar negeri, dan memiliki pengaruh yang sama besarnya dalam karir kesenimannya.

theodora-agni-resize

ari-bayuaji-resize

 |klik disini untuk lihat video|

 

Sorotan Pustaka | Oktober-November 2016

Katalog “Seni dan Politik Posisi”

Oleh: Sukma & Lisistrata

Di tengah meluasnya rezim pergeseran batas yang telah menguatkan ilusi adanya warga dunia, baik melalui sarana wisata, ekonomi dan budaya, sekali lagi kita dihadapkan pada soal identitas, posisi diri di tengah konstelasi global. Posisi diri yang dimaksud di sini ialah diri yang kolektif. Diri yang selalu menjadi bagian dari. Baik kesatuan kultural, sejarah atau apapun yang sifatnya tidak terberi.

Dalam konteks nasional, kesenian tidak lepas dari proyek bersama pengentalan keindonesiaan. Dalam waktu yang bersamaan, proyek pengentalan identitas dalam cakupan regional juga berlangsung dari waktu ke waktu. Usaha ini bisa terlihat dari model kolaborasi yang dilakukan antar negara Asia, Asia Tenggara atau bahkan dalam lingkup nusantara bahkan propinsi.

Sorotan Pustaka kali ini menyajikan kumpulan katalog pameran seni rupa yang mengangkat spirit tersebut. Spirit kolaborasi antar wilayah dalam cakupan yang beragam, dengan identitas yang jamak, namun bisa dilihat sebagai bagian dari proyek pengentalan identitas. Soal identitas ini tentu menjadi persoalan yang politis ketika kita tempatkan dalam konteks global, yang sarat dengan nuansa geopolitik, bahwa terdapat negara yang lebih kuat, sementara di sisi lain, terdapat yang subordinat. Ada sejarah panjang yang menempatkan perihal geografis, menjadi persoalan yang politis. Agar tidak terburu-buru menyebutnya sebagai upaya dekolonisasi, kita bisa menundanya dengan tanya; sejauh apa upaya-upaya yang ditempuh oleh masyarakat seni ini mampu melampaui dikotomi antara yang lokal dan internasional? Beberapa koleksi yang sudah di seleksi terkait dengan tema ini sempat kami tampilkan di Pojok Katalog dalam acara Buku Andalan, Kedai Kebun Forum, 8-24 September 2016. Kali ini beberapa koleksi ‘andalannya’ kami hadirkan kembali dalam bentuk ringkasan singkatnya, untuk menunjukkan bahwa proyek politik identitas dalam dinamika seni rupa menjadi perjalanannya sendiri yang penting untuk kita catat, baik dalam rangka melanjutkan atau sekadar menangkap spiritnya.  

art-in-southeast-asia-resize1.Katalog “Art in Southeast Asia 1997: Glimpses into the Future”

“Art in Southeast Asia 1997: Glimpses into the Future,” merupakan sebuah pameran yang diselenggarakan bersama antara Museum of Contemporary Art, Tokyo, Hiroshima City Museum of Contemporary Art and Japan Foundation Asia Center. Menampilkan kurang lebih 80 karya seniman dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand, dan menyoroti keragaman seni di Asia Tenggara saat ini

Dalam pameran ini perwakilan dari penyelenggara melakukan kunjungan ke lima negara yang terlibat dan melakukan wawancara kepada sedikitnya 100 seniman serta berdialog dengan kurator dan kritikus seni lokal untuk mencari gambaran tentang situasi seni rupa di negara-negara tersebut, hingga kemudian terpilihlah 17 seniman dan kelompok seni. Seniman-seniman yang terpilih kemudian dibagi menjadi tiga kelompok kategori menurut subyek-subyek utama dalam konten karya mereka. Ketiga kategori tersebut diyakini dapat memberikan panduan untuk melihat gambaran masalah yang dihadapi seniman-seniman Asia Tenggara saat ini dan memahami bagaimana mereka mengkonstruksi bentuk ekspresi mereka dalam karya.

changing-states_resize2. Katalog “Changing States-Contemporary Art and Ideas in an Era of Globalisation”

Diterbitkan dalam rangka memperingati ulang tahun kesepuluh Institute of International Visual Arts (inIVA), menampilkan lebih dari 100 karya seniman dan penulis, antologi ini memang lebih dari katalog, karena upayanya dalam memetakan perubahan lansekap seni dan budaya kontemporer selama satu dekade terakhir dalam konteks ekonomi global dan politik lokal. Terdiri dari berbagai macam ulasan, deskripsi dan esai dari karya-karya seniman dari seluruh dunia yang terlibat dalam proyek-proyek bersama inIVA, baik proyek pameran, penerbitan, multimedia, pendidikan, penelitian, diskusi dan lain sebagainya.

Disusun berdasarkan sepuluh tema bagian, Metropolis, Site, Nation, Performance, Global, Identity, Translation, Making, Archive dan Modern, didalamnya terdapat esai, katalog dan publikasi, reproduksi karya seni, dokumentasi dan berbagai bentuk arsip lainnya.

sumatra-biennale_resize3. Katalog “Sumatra Biennale 2012: Self Discovering”

Merupakan katalog pameran seni rupa Biennale Sumatra tahun 2012 yang diadakan di Sumatera Barat. Seperti katalog pada umumnya, katalog ini juga memuat dokumentasi karya dan biografi seniman yang terlibat serta teks pengantar kuratorial. “Sumatra Biennale 2012: Self Discovering,” adalah pameran seni rupa dua tahunan pertama yang mempresentasikan karya-karya seniman Aceh hingga Lampung. Diikuti oleh 30 seniman dan satu kelompok seni, dikuratori oleh Kuss Indarto yang saat itu merupakan Kurator Galeri Nasional Indonesia, Sumatra Biennale mengambil tema Self Discovering. Tema tersebut diambil demi upaya membangun ruang bersama untuk menilik dan membicarakan lebih lanjut ihwal akar imajinasi dan identitas ke-Indonesia-an. Tema kuratorial tersebut diharapkan mampu mengajak para seniman yang terlibat untuk melakukan pembacaan, pemetaan, penyikapan, dan pelontaran komitmen personal melalui bahasa visual yang merupakan perangkat utama perupa. Di sini soal identitas ditekankan sekali lagi, untuk digali dan jika perlu dibentuk.  

modernisme-asia_resize4. Katalog “Modernisme Asia: Perkembangannya yang Beragam di Indonesia, Filipina, dan Thailand”

Merupakan katalog yang diterbitkan dalam rangka pameran seni rupa “Asian Modernism” yang melibatkan serta diselenggarakan di tiga Negara yaitu Filipina, Thailand dan Indonesia. Katalog ini berisi dokumentasi 139 karya terpilih dari ketiga negara yang dipamerkan di Gedung Pameran Seni Rupa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta pada 21 Juni hingga 7 Juli 1996.

Pameran Asian Modernism diadakan dengan maksud memperlihatkan bagaimana modernisme yang selama ini dipercaya hadir dari barat, berkembang di Asia. Yang menjadi titik tekan disini ialah dinamika modernisme yang terjadi di Indonesia, Filipina dan Thailand, untuk menunjukkan coraknya dan ragam perkembangan modernisme di beberapa bangsa yang berbeda. Kaitan antara seni rupa modern di Asia ditekankan dengan modernisme, yang menunjukkan bahwa dalam dinamikanya, seni rupa di Asia tidak hanya terkait dengan modernitas, namun juga modernisme. Para kurator yang melakukan pengkajian pada perkembangan seni rupa dengan awal modernisasi di Asia pada Abad ke 18/19 (melalui karya-karya Raden saleh, Juan Luna, Hidalgi dan Lozano) menemukan bahwa modernisme di Asia muncul akibat perkembangannya sendiri dan bukan semata karena pengaruh modernisme Barat. Dekonstruksi atas modernisme dalam konteks Asia menunjukkan bahwa di Asia terdapat dimensi berbeda dalam perkembangan modernisme. Di titik inilah, pameran ini menebalkan spiritnya, bahwa modernisme di Asia berbeda dengan modernisme Eropa-Amerika.

idealokal-seni-rupa_resize5. Katalog “Pameran Seni Rupa Nusantara II: Idealokal Seni Rupa Nusantara”

Merupakan katalog untuk “Pameran Seni Rupa Nusantara II: Idealokal Seni Rupa Nusantara,” sebuah pameran lanjutan dari “Pameran Seni Rupa Nusantara I” yang diadakan tahun 2001. Pameran ini diprakarsai Galeri Nasional Indonesia dan Bagian Proyek Wisma Seni Nasional, menjadi ajang pertemuan, tatap muka serta silih asah bagi para perupa dari seluruh pelosok negeri.

Dikutip dari pengantar kuratorial yang ditulis oleh Mamanoor, Pameran Seni Rupa Nusantara II masih terfokus kepada citra dan pencitraan azas kepulauan (bukan kewilayahan atau provinsi sebagai mana dipahami selama ini). Kendati kemodernan seni rupa selalu identik dengan fokus perhatian ke wilayah perkotaan (umumnya lingkungan urban) yang berada di suatu provinsi, tetapi citra dan pencitraan ini bisa diperluas dengan wilayah kepulauan sebagaimana termaktub dalam pemahaman istilah Nusantara. Hal ini dipikirkan sebagai upaya untuk membongkar citra birokrasi kekuasaan yang telah mengkooptasi pencitran (adanya sentralisasi, relasi pusat dan daerah, dsb) yang selama ini turut melanda dunia seni rupa Indonesia. Oleh sebab itu, tak pelak apabila karya-karya yang terpilih tidak diartikan untuk mewakili kota, provinsi, atau wilayah tertentu di sebuah pulau di nusantara dengan latar sosial-budaya dan mengungkapkan idealokal sub-kultur yang diusungnya.

malaya-and-indonesia_resize6. Buku “Revisiting Malaya 2.0 International Conference – Malaya and Indonesia: Links and Fractures In Political and Historical Thought”

Buku ini diterbitkan sebagai pelengkap kegiatan “Revisiting Malaya 2.0 International Conference – Malaya and Indonesia: Links and Fractures In Political and Historical Thought,” berisi panduan dan informasi, serta esei dari setiap pembicara konferensi.

Konferensi ini berlangsung selama dua hari dan terdiri atas empat panel: (1) Identitas Melayu dan Kemelayuan di Nusantara, (2) Literatur dan Kebudayaan Melayu, (3) Perjuangan-perjuangan ideologis, (4) Pergerakan rakyat dalam membuat konstitusi; di mana masing-masing panel berusaha menunjukkan pemikiran politik dan kultural pada periode sejarah yang berbeda. Konferensi Revisiting Malaya ke dua ini diharapkan mampu menjadi pengingat hubungan-hubungan historis antara Malaya dan Indonesia lewat bentuk pandangan spasial yang berbeda. Baik di masa lalu maupun masa kini, Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Komunitas imajiner yang diproyeksikan dalam istilah Melayu Raya, Indonesia Raya, atau Maphilindo memperlihatkan inklusivitas dan ekslusivitas batas-batas geografis di dunia Nusantara, di mana identitas bersama dari “Melayu” Malay atau Kemelayuan selanjutnya diwujudkan di dalam wacana yang relevan.

katalog concept context contestation7. Katalog “Concept Context Contestation: Art and The Collective in Southeast Asia”

Merupakan katalog pameran seni rupa yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Exhibition Department, Bangkok Art and Culture Centre. Katalog ini berisi tulisan lepas dari ketiga kurator pameran, sejarawan seni, seniman dan lain-lain serta arsip dan dokumentasi karya dari seniman yang terlibat pameran. Pameran “Concept Context Contestation” dikuratori oleh tiga kurator pilihan dari Asia Tenggara (Singapura, Indonesia dan Thailand), pameran ini berusaha memberi stimulasi visual untuk masyarakat luas, selain juga menawarkan wawasan sejarah seni ke dalam budaya kekinian kita. Melalui karya-karya seniman dari Thailand, Indonesia, Filipina, Vietnam, Malaysia, Singapura, Myanmar, dan Kamboja, pameran ini berusaha memetakan seni kontemporer dalam suatu kawasan, berakar pada pemikiran konseptual lokal untuk sebagai sarana membentuk ide-ide tentang dan untuk kolektif itu sendiri. Dengan memamerkan hampir 50 karya dari kurang lebih 40 seniman, pameran ini berusaha menunjukkan gagasan bahwa pendekatan konseptual yang digunakan dalam seni kontemporer Asia Tenggara belum tentu diimpor melainkan bersumber dari kebudayaan kita sendiri.

Sorotan Arsip | Residensi dengan Target, Perlu atau Tidak?

Oleh: Melisa Angela

pasang-air-a
Kalangan atau publik seni senantiasa diharapkan menjadi pengamat sekaligus penantang gagasan pembuat karya (dan penyelenggara program residensi). Rumah Seni Cemeti setidaknya mengadakan 2-3 kali forum terbuka setiap periode residensi. Pertama untuk memperkenalkan seniman peserta, selanjutnya untuk berbagi kesan dan pesan sebelum tiap periode program selesai.
Forum reguler antara penyelenggara program residensi dengan seniman peserta adalah salah satu mekanisme agar kedua belah pihak yakin bahwa program terlaksana sesuai harapan masing-masing.

Dalam sebuah periode residensi, seorang seniman diharapkan mengalami dimensi keruangan yang berbeda dari kesehariannya di tempat asal. Ini adalah tujuan utama dari program residensi. Demikianlah sehingga di dalam program residensi meski terdapat agenda-agenda yang sudah ditentukan oleh pihak penyelenggara, harapan akan hasil akhir sebuah program residensi seyogyanya dibuat sangat terbuka terhadap segala kemungkinan. Maka dari itu tak tertutup pula bila seorang seniman residensi “tidak mampu” menyelesaikan karyanya di akhir masa residensinya. Inilah yang dialami beberapa seniman residensi Rumah Seni Cemeti, salah satunya Eva Olthof, seniman residensi Pasang Air #1 asal negeri Belanda. Dalam program residensi yang berlangsung di tahun 2015 ini Eva Olthof tertarik dengan fenomena relokasi warga sekitar Gunung Merapi. Sebuah desa secara administratif dihapuskan oleh pemerintah karena menjadi lokasi bencana erupsi di tahun 1960-an. Tapi setelah direlokasi dengan cara dipaksa mengikuti program transmigrasi, para warga pada akhirnya tetap berpulangan ke tempat asalnya di lereng Merapi. Fenomena ini memicu imaji Olthof terhadap simbol-simbol kewenangan yang terhubung dengan gunung berapi pada tingkatan ilmiah, spiritual, dan politis. Selama proses studi kasus relokasi warga Merapi ini, Olthof mengumpulkan sejumlah materi yang akan membantunya menggali memori tentang kasus ini.

Tiba saat presentasi di akhir masa residensi Pasang Air #1, di ruang pamer Rumah Seni Cemeti, Olthof nyatanya belum selesai mengeksekusi rencana-rencananya. Sehingga untuk berinteraksi dengan publik yang hadir di malam pembukaan Olthof melakukan bincang performatif dengan pengunjung mengenai gagasan-gagasannya. Memamerkan karya yang masih dalam proses atau dengan kata lain belum selesai tentunya dihindari oleh semua penyelenggara program residensi, dalam hal ini Rumah Seni Cemeti. Namun demikian kemungkinan ini tentu tidak terhindarkan. Sekalipun begitu, terlewatnya tenggat waktu dari agenda-agenda yang telah disusun rapi dalam sebuah residensi lantas diartikan sebuah kegagalan, kita pun tidak bisa serta-merta menganggap seniman tersebut tidak profesional, karena toh memang bukan itu yang dicari. Sekali lagi hakikat dari mengikuti sebuah program residensi adalah ‘mengalami’, dan pengalaman baru inilah yang akan membuka perspektif seniman dari hal-hal yang tidak dia lihat ataupun sadari sebelumnya di tempat asal. Proses pembaruan cara pandang ini tidak selamanya berlangsung di sepanjang periode residensi, bisa saja proses itu berlangsung setelah, atau bahkan bertahun-tahun sesudahnya.

 

Pengumuman IVAA | Kawan-kawan Pemagang IVAA

Terdapat 20 pendaftar Magang IVAA sejak awal tahun ini, dan hingga Oktober ini 16 pemagang telah  menyelesaikan program magangnya. Keenambelas pemagang tersebut antara lain:

  • Muhammad Akbar yang tengah menyelesaikan studinya di Ilmu Perpustakan Universitas Padjadjaran Bandung
  • Faida Nur Rachma mahasiswi Ilmu Komunikasi UGM yang juga bekerja paruh waktu di Lir Space
  • Henrike Louise Hoffmann pelajar Studi Transkultural Universitas Heidelberg, Jerman
  • Sukri Ghazali mahasiswa tingkat akhir STSRD Visi yang dikenal aktif di komunitas fotografi Kelas Pagi Yogyakarta
  • Muhammad Amir Setioko mahasiswa tingkat akhir Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro Semarang
  • Anggita Oktafiana yang masih aktif di Lir Space dan telah menyelesaikan studinya di Ilmu Geologi UPN Veteran Yogyakarta
  • Emma Marantika dan Shona Maharany Fuad, keduanya adalah mahasiswi Ilmu Perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya
  • Anisha Riski sarjana Ilmu Perikanan, namun sangat tertarik pada aktivitas kesenian
  • Luthfia Rahmi mahasiswi Jurusan Desain Komunikasi Visual, ISI Yogyakarta
  • Risya Ayudya dari Komunitas Serbuk Kayu Surabaya
  • Krisnawan Wisnu Adi mahasiswa FISIP, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
  • Muhammad Ardiansyah dan Addi Tri Kurniawan, yang meski tidak janjian namun bertemu di IVAA, keduanya dari Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
  • Jeniastuti yang masih menempuh studi di Jurusan Kriya Keramik, ISI Yogyakarta
  • Melalusa Susthira mahasiswi Fakultas Filsafat UGM.

Dalam bulan Oktober ini masih tersisa lima orang pemagang yang masih menjalankan program magangnya di IVAA, sedang sebelas lainnya telah menyelesaikan program magangnya yang berkisar 1-3 bulan.

Selama masa magang, para pemagang ini membantu kerja-kerja harian IVAA di bidang Perpustakaan, Kearsipan, Dokumentasi, Pengkajian serta Program. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan ketelitian seperti input data buku ke katalog online Perpustakaan IVAA, mengisi dan merapikan informasi arsip, mendaftar satu demi satu kumpulan arsip yang baru disumbangkan, alih format arsip dari analog ke digital, atau pemrosesan seperti mengedit rekaman video, mengunggah arsip digital ke website Arsip IVAA, bahkan membuat salinan arsip digital untuk mengantisipasi hilangnya data. Selain itu juga ada pekerjaan dokumentasi yakni merekam, memotret peristiwa-peristiwa kesenian di Yogyakarta yang berlangsung nyaris setiap hari, serta pekerjaan menulis atau mengulas berbagai peristiwa seni maupun profil seniman, hingga pelaksanaan program-program outreach IVAA.

Dengan adanya pemagang, IVAA sangat terbantu dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut dengan lebih cepat, mengingat jumlah arsip yang dimiliki IVAA, jumlah peristiwa seni di Yogyakarta yang berlangsung setiap hari, serta aktivitas penyelenggaraan kegiatan oleh IVAA yang juga membutuhkan perhatian tersendiri.

Sebaliknya, dengan magang di IVAA para pemagang ini juga terluaskan jaringannya, selain dapat mengalami situasi bekerja di dalam tim yang solid. Namun yang tak kalah penting adalah pengalaman baru seperti mengenal teknis pengelolaan pustaka dan pengarsipan dasar, mengenal ruang-ruang seni beserta aktivitasnya di kota Yogyakarta, atau pengetahuan dari mempelajari banyak buku dan tulisan seni rupa.

Program magang di IVAA dibuka untuk mahasiswa dan umum. Tata cara pendaftaran dapat dibaca di situs IVAA ini.

Seni dan Advokasi: Seniman Belajar Undang-Undang

Pada bulan Juli lalu, Joned Suryatmoko membuka forum diskusi terbatas untuk 12 orang di Umar Kayam, membicarakan undang-undang dengan materi UU no 39 thn. 1999 mengenai HAM, UU no. 11 thn. 2005 mengenai hak ekonomi, sosial, dan budaya, dan UU no. 12 thn. 2005 mengenai hak Sipil dan Politik. Tujuan awalnya adalah untuk membekali serta membuka kembali pemahaman seniman mengenai undang-undang mengingat represi yang terjadi belakangan, baik yang dilakukan ormas maupun polisi. Dalam menghadapi represi tersebut, pembelaan kelompok seniman melulu dengan argumen soal kebebasan berekspresi, tanpa bisa menindaklanjuti menjadi upaya advokasi. Selain itu, metode, alur dan bahan pembelajaran juga dievaluasi oleh forum. Forum ini dihadiri oleh para pekerja seni budaya untuk membagi pengalamannya berhadapan dengan hukum dan potensi represi, juga Ikhwan Sapta Nugraha dari LBH Yogya yang bercerita sekaligus memberi komentar soal sistematika kelas belajar hukum bagi seniman. Ikhwan membenarkan metode kelas belajar yang dimulai dari pembacaan HAM, studi kasus serta pembacaan UU terkait.

IMG-20160826-WA0001

Seniman belajar hukum memang bukan pertama kali, namun upaya untuk terus melakukan kontekstualisasi itu selalu perlu. Diskusi yang dilakukan di hari Jumat, 29 Juli 2016 ini memang ditujukan untuk menajamkan pemahaman bersama soal keberadaan hukum, aparat serta upaya aliansi antar elemennya, agar kita terbuka dengan model-model advokasi yang terkait dengan aktivitas seni budaya.