All posts by suryax

Pekerja Seni Mukim Sementara: Residensi sebagai Modus Operandi Seni Visual Indonesia

Oleh: Pitra Hutomo dan Tiatira Saputri

Dalam artikel Pulang Retret di Tirtodipuran muncul dua istilah yang mengganti penyebutan ‘residensi seniman’, yakni mondok dan retret. Keduanya merujuk pada fakta bahwa seniman visual yang mengikuti Program Residensi Rumah Seni Cemeti bermukim sementara di venue untuk berkarya lalu berpameran. Program residensi periodik berjudul Landing Soon (2006-2009) ini menyediakan tiga bulan “untuk  sepenuhnya konsentrasi bekerja dan melakukan uji coba dan interaksi dengan sesama seniman, profesional, maupun komunitas tertentu”.

Residensi adalah salah satu istilah yang melekat pada praktik sehingga telah menjadi modus operandi seni visual Indonesia. Berbagai pihak senantiasa mereproduksi makna residensi sambil membongkar pasang teknik penggarapannya. Residensi seni bisa jadi serupa dengan mondok, retret, live-in, karena ia bermaksud menciptakan atmosfer spesifik untuk kerja-kerja seni. Setidaknya sejak satu dekade terakhir, residensi seni (kontemporer) merambah ranah kerja pengelolaan melalui penyelenggaraan program untuk manajer pameran dan kurator. Kosa kata yang kerap dibubuhkan menyertai paparan residensi antara lain uji coba, belajar, pertukaran, eksplorasi, keragaman, dan idiom lain yang mengamplifikasi kebutuhan atas proses.

RRREC Fest in The Valley menghadirkan kegiatan yang berupaya untuk mengintegrasikan seni dan ilmu pengetahuan alam secara komprehensif melalui Program Residensi Seniman. Program ini memberikan kesempatan bagi seniman untuk melakukan penelitian, kolaborasi, presentasi dan juga produksi dengan menggunakan sumber daya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
RRREC Fest in The Valley menghadirkan kegiatan yang berupaya untuk mengintegrasikan seni dan ilmu pengetahuan alam secara komprehensif melalui Program Residensi Seniman. Program ini memberikan kesempatan bagi seniman untuk melakukan penelitian, kolaborasi, presentasi dan juga produksi dengan menggunakan sumber daya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Makna bermukim sementara bagi seniman (Indonesia) akan lekat pada kondisi masyarakat di mana mereka berasal. Tanpa menutup mata pada kultur masyarakat adat yang mewajarkan perjalanan dan mobilitas fisik, Indonesia bukan negara yang terkenal handal menyediakan moda transportasi publik. Sehingga, menempuh perjalanan darat, laut, dan udara di dalam Indonesia hampir sama sulitnya dengan ke luar negeri. Proyek desentralisasi yang menyangkut jaminan akses apalagi pemerataan kualitas hidup masih tertatih-tatih. Pusat seni Indonesia berada di Jawa bagi banyak penduduk luar Jawa, sedangkan pusat seni dunia berada di negara maju bagi banyak pekerja seni Indonesia. Hubungan global dan lokal mensyaratkan kontak antara pusat dan pinggiran. Sehingga mobilitas gagasan dan transaksi pengetahuan dibayangkan berlangsung simultan di kawasan pusat-pinggiran (peripheral centres) dengan seni kontemporer sebagai salah satu kursnya.

Catatan tentang seniman Indonesia yang menempuh studi ke luar negeri kerap dimulai sejak Raden Saleh. Residensi, betapapun terstrukturnya tidak serta merta diklasifikasikan sebagai pendidikan formal seni. Namun memperoleh (beasiswa) residensi mampu mendatangkan prestise dan terutama akses pada pusat maupun pusat-pinggiran seni. Keberadaan fisik yang terikat pada lokasi geografis akan berkorespondensi dengan kecenderungan sosial-antropologisnya. Lebih luas lagi, relasi kuasa yang hinggap pada ruang-ruang liminal akan patuh pada intensi politik ekonomi. Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, analisis praktik residensi seni perlu berangkat dari kesadaran atas ruang dan transaksi kepentingan di dalamnya.

Pada tahun 1940-an hingga pasca kemerdekaan, semangat nasionalisme menuntun seniman pada gagasan perwujudan identitas. Kebijakan budaya pemerintahan Soekarno seolah mendambakan agenda-agenda kesenian pada perwujudan identitas ke-Indonesia-an yang berdiri di atas keragaman (etnis), di mana tidak ada dikotomi Barat-Timur ataupun komunis anti-komunis pada tubuh Indonesia.

Namun bukankah menjelang kup yang dilakukan Orde Baru, Soekarno justru menunjukkan kuatnya relasi kebudayaan Indonesia dengan negara-negara sosialis-komunis? Apalagi dengan berdirinya LEKRA yang semakin mengukuhkan keinginan mengidentifikasi kebudayaan nasional sebagai laku kerakyatan. Karena itulah ketika jejak kebudayaan di dua dekade awal kemerdekaan RI selalu penting untuk dikaji ulang. Keterbatasan bahan rujukan menunjukkan bahwa masa itu sengaja dibumihanguskan oleh rezim pemerintahan selanjutnya, dan belum pernah secara resmi dijadikan bagian sejarah kebudayaan nasional hingga hari ini.

Anggota Ensembel “Gembira” pentas di Beijing, 1963 untuk merayakan Hari Nasional RRC tanggal 1 Oktober. Sumber: “LEKRA and ensembles: Tracing the Indonesian musical stage” oleh Rhoma Dwi Aria Yuliantri dalam “Heirs to World Culture”, KITLV, 2012.

Rancangan kebudayaan nasional yang dipublikasikan dalam Majalah Budaya Maret 1954/Tahun ke III oleh Mr. Muh. Yamin berjudul Hubungan Internasional dilapangan Pengadjaran dan Kebudajaan, menunjukkan tiga ragam persetujuan khusus yang perlu dibuat dalam hubungan persahabatan dan pelaksanaan politik bebas aktif. Persetujuan terkait pengajaran dan kebudayaan dianggap tidak mungkin dijalankan serentak sehingga perlu dipisahkan, namun kerja diplomatis ini berlangsung di atas suatu persetujuan kembar yang pencetusannya serempak. Negara-negara yang dianggap cukup strategis untuk model perjanjian khusus ini antara lain Mesir, Syria, Pakistan, India – Barat, dan RR Tiongkok.

Yamin memaparkan bahwa Indonesia tidak hanya menerima fellowship ataupun scholarship dari negara lain, tetapi juga memberikan bantuan kepada pelajar dari undeveloped countries. Beberapa seniman seperti Affandi, Trubus, dan Henk Ngantung turut mewakili Indonesia untuk misi tersebut. Istilah undeveloped/underdeveloped countries yang terjemahan langsungnya negara belum berkembang, merujuk pada kriteria tertentu dalam hal perkembangan kesejahteraan manusia di suatu negara. Dari tulisan Yamin kita mengetahui bahwa pemerintah Indonesia menetapkan strategi diplomasi kebudayaan melalui: (1) Tuntutan pengembalian artefak, arsip, dan catatan fisik tentang kebudayaan Indonesia di Belanda, (2) Pemberian beasiswa belajar ke luar negeri, (3) Penempatan 8 orang atase kebudayaan di Eropa, Amerika, Mesir, New Delhi, Bangkok, Peking, dan (4) Melakukan lobi pada Sekretaris Jenderal UNESCO untuk menempatkan wakilnya di Badan Pekerja di Paris.

Kembali ke artikel di awal tulisan, Rumah Seni Cemeti adalah perintis hubungan-hubungan kebudayaan antar negara di bidang seni kontemporer, khususnya seni rupa. Theodora Agni yang ditunjuk sebagai manajer residensi, mengafirmasi bahwa program yang dia kelola berangkat dari keinginan menyediakan prasyarat penciptaan gagasan di tengah hiruk pikuk seni global. Dapat dikatakan bahwa seniman, kurator, atau peneliti yang mondok di Rumah Seni Cemeti mendapat beasiswa belajar kebudayaan di Yogyakarta. Sedangkan ujian atas kesempatan tersebut diletakkan di penghujung proses melalui event yang jamaknya berbentuk pameran dan artist talk.

Mengapa seniman membutuhkan dinamika ruang hidup untuk mendukung penciptaan? Menurut Ari Bayuaji, peserta residensi di Redbase Contemporary Yogyakarta, setelah 11 tahun menetap di Montreal, Kanada, selalu ada kebutuhan menengok lagi (apa yang berlangsung di) Indonesia. Keputusan Ari untuk hidup di tempat yang memudahkannya menjangkau pusat-pusat seni, menunjukkan bahwa keputusan individulah yang berperan membentuk lintasan karir seniman. Namun, ketika dia memilih untuk residensi di Yogyakarta sebagai pusat seni di Jawa/Indonesia, persinggungan budaya yang berlangsung sepanjang masa mukim sementara inilah penentu gagasan penciptaannya.

Mungkinkah berlangsung hubungan kebudayaan antara Indonesia dan Kanada melalui keinginan individu seperti Ari Bayuaji? Tentu kemungkinan ini tidak hanya perlu ditelusuri dari kebutuhan praktis seperti biaya dan kepesertaan. Visi hubungan diplomatis kedua negara yang tersirat dalam kebijakan kebudayaan nasional pasti mempengaruhi karakter penyelenggaraan program.

Setelah jenuh dengan penyempitan makna misi kebudayaan ala Orde Baru, para pekerja seni memanfaatkan pergeseran agenda negara pasca Reformasi terkait desentralisasi dengan menumpang di atas perjanjian-perjanjian ekonomi politik tingkat regional. Ranah seni visual mengalami gejolak pasar karya dan sumber daya manusia menjelang penghujung dekade awal milenium kedua. Dinamika ini telah mempercepat gerak kebudayaan Indonesia dengan mengalihkan sejenak dominasi Jawa dan menggiring publik seni pada cara-cara apresiasi baru.

Di sinilah perbedaan pendidikan formal seni dengan residensi. Bagi pekerja seni di Jawa, berpindah-pindah adalah kesempatan yang belakangan relatif mudah didapat. Meskipun pekerja seni di luar Jawa saat ini masih cenderung menunggu inisiatif pemerintah daerah atau ‘orang-orang Jawa’ untuk membangun di daerahnya, keinginan mendobrak batas-batas geografi-ekonomi-sosial-politik telah nampak melalui operasi pertukaran yang difasilitasi event skala besar yang periodik seperti Festival Kebudayaan dan Biennale.

Asialink adalah salah satu penyelenggara residensi seniman Australia ke Indonesia yang beroperasi sejak penghujung 90-an.
Asialink adalah salah satu penyelenggara residensi seniman Australia ke Indonesia yang beroperasi sejak penghujung 90-an.

Residensi seni, studi banding, mondok, atau retret adalah pengalaman meruang yang mewadahi kontestasi gagasan di luar modus operandi standard seperti pameran atau pertunjukan. Tantangan terbesar bagi para pekerja seni adalah bagaimana ruang-ruang ini mampu mendobrak kemapanan cara kerja seni sekaligus memperkaya nilai interaksi hajat seni dengan publiknya.

Hal terpenting, program residensi seni perlu digugat jika tidak dimanfaatkan melampaui fungsinya hari ini, yakni sebagai titian karir atau pembuktian profesionalisme pekerja seni.

“Belum Menggali, Sudah Ketemu” – Pojok Arsip IVAA di Ring of Performance

Hari Sabtu dan Minggu pekan ini (13-14 Februari 2016), IVAA memajang seleksi reproduksi materi untuk menyertai catatan pengamatan arsip Performance Art Indonesia. Kegiatan ini adalah respon IVAA atas undangan partisipasi dalam Ring of Performance, Jaringan Performance Art Nusantara.

Tiatira Saputri, anggota tim Kajian IVAA, menulis pengantar di bawah ini untuk pengamatan dan seleksi yang berlangsung sejak Januari 2016. Tulisan lain oleh Pitra Hutomo disampaikan dalam diskusi yang berlangsung di Melting Pot Eatery & Coffee, Jl. Suryodiningratan 37 B, Yogyakarta, 13 Februari 2016 mulai jam 15.00 WIB.

sket-performanceart-ind

“Belum Menggali, Sudah Ketemu”

Catatan praktis pengamatan arsip performance art di IVAA

Kumpulan dokumen yang dimiliki IVAA saat ini, memperlihatkan pertumbuhan dalam tubuh performer dari periode 90an hingga kini. Pola umum yang terlihat adalah adanya perkembangan dari tubuh performer menjadi kebutuhan massa. Dari yang awalnya adalah individu atau kelompok dengan pemahaman dan konsepsi yang sama mengenai performance lalu berkembang menjadi penggabungan dari individu ataupun kelompok yang berbeda-beda konsep mengenai performance. Keragaman yang terjadi itu menciptakan ruang dimana didalamnya terdapat kejadian-kejadian dan interaksi yang bukan hanya performance.

Kami mencoba melihat performance melalui kacamata kebutuhan perekaman performance sebagai dokumen yang nantinya bisa disalurkan kembali sebagai arsip. Performance art sebagai salah satu kesenian yang paling lengkap memanfaatkan pengindraan manusia dalam ikatan ruang dan waktu memiliki karakter dasar yang bisa ditangkap media rekam. Yaitu yang pertama adalah penggunaan atau ruang yang disasar, bisa berupa ruang seni seperti museum, galeri, dsb. Atau ruang publik seperti toilet umum, bus, pusat perbelanjaan, dsb. Dari karakter tersebut akan ditemukan konten respon yang berbeda. Pada kedua ruang tersebut bisa diprediksi tingkat kontrol terhadap respon audience, tetapi pada ruang publik performer harus lebih fleksibel dengan kondisi yang tidak terkontrol karena sifatnya performer mendatangi ruang tersebut, bukan audience yang mendatangi ruang tersebut. Sehingga terkontrol atau tidaknya respon menjadi karakter kedua. Hal ini juga bergantung pada keterlibatan audience di dalamnya. Ketika performance melibatkan audience, terkadang alur performance pun bergantung pada audience yang terlibat, sehingga kontrol justru pada audience bukan performer.

Harapannya tiga hal tersebut membantu memudahkan manusia awam untuk memancing dirinya sendiri mempertanyakan kehadiran performance art itu sendiri, seperti misalnya mengapa dilakukan di ruang publik, apa yang disasar, hal apa saja yang berusaha disalurkan oleh pelaku kepada audience hingga membutuhkan keterlibatan, atau sejauh apa tingkat kesadaran audience yang menjadi target performer hingga melepaskan kontrol dari performance yang terlaksana?

 

Februari 2016

tiatirasa@gmail.com

 

Performance Art dalam Arsip: (Isu) apa, (oleh) dan (untuk) siapa?

Pernyataan penulis:

Saat tulisan ini disusun, saya sedang mempertimbangkan ragam komunikasi yang evaluatif. Tulisan dalam bahasa yang saya kenal terasa selalu mengungkung makna dari pengamatan; karenanya, reduksi dihadirkan dengan pendekatan subyektif.

Aspek lain yang menjadi pijakan penulisan adalah pengalaman pribadi berinteraksi dengan para pelaku Performance Art, menjadi performer, hadir untuk menonton, hingga belakangan lebih banyak membaca rekaman visual dan teks.

Setiap rujukan dipilih untuk mencari alternatif cara pandang, dengan harapan bisa mencapai narasi yang luas sebagai bahan diskusi lanjutan.

 

Performance Art dalam Arsip: (Isu) apa, (oleh) dan (untuk) siapa?

Mencermati penyelenggaraan Ring of Performance tidak bisa dilepaskan dari upaya lacak balik performance art sebagai praktek seni rupa. Pertama-tama, saya hendak menyamakan istilah yang digunakan dalam tulisan ini, sebagai berikut:

  1. Performance art tidak diterjemahkan menjadi seni performans supaya para pelakunya, termasuk akademisi seni, tetap tergelitik mencari padanan yang tepat dengan ragam praktek dan wacana pendamping di Indonesia.
  1. Istilah performance (saja) telah mewakili naluri bongkar pasang dan meleburkan aneka ekspresi. Karena itu, performance meliputi terjadinya pinjam meminjam praktek seni menjadi tindakan.
  1. Performer adalah pihak yang diidentifikasi melakukan performance, dengan atau tanpa kesadaran menjadikannya kesenian. Sebutan seniman performance dipertahankan, dan latar belakang disiplin tertentu tidak menjadi perhatian pokok.
  1. Indonesia digunakan dengan kesadaran bahwa cakupan isu yang diekspresikan performer merefleksikan opini dalam konteks sosial-politik-budaya lokal dan nasional.
  1. Nusantara barangkali menjadi alternatif yang dicetuskan untuk mengusung solidaritas, sekaligus sindiran untuk keterbatasan pemerintah Indonesia dalam memahami sejarah.

Diskusi tentang tulisan ini bisa saja mengubah cara mengarsipkan performance art. Sebagai subyek, ia telah menjadi bagian dari telaah praktek seni di Indonesia selama kurang lebih lima dekade. Performance art jamak diikat pada lingkup seni rupa atau visual, karena rasionalisasi dari tindak soliter seniman membuat karya rupa. Di sisi lain, jika pelakunya berlatar belakang disiplin seni pertunjukan, performance art jamak diduga performing art.

Kondisi di atas biasanya disiasati dengan mencari penjelasan dari pelaku, demi memperoleh kejelasan motif. Bagaimanapun, paparan motif berkarya menjadi kaya jika pemberi dan penerima informasi tidak terburu-buru melakukan kategorisasi praktek. Validitas penjelasan dari pelaku menjadi tidak mutlak karena yang mutlak sebagai karakter kerja kreatif adalah pertumbuhan.

Perbedaan performer dengan seniman performance memang pada pilihan lintasan yang ingin ditekuni. Seorang performer bisa bertumpu pada keinginannya semata untuk berekspresi dan mengkomunikasikan pendapatnya dengan tindakan. Penyebutan performer dalam konteks ini terikat pada siapa yang menyebutnya demikian, misalnya seorang seniman performance.

Seniman performance bisa saja melihat kesehariannya sebagai performance art. Namun kesehariannya butuh ketertiban layaknya orang yang bekerja sebagai seniman: seniman lukis melukis, seniman teater menyajikan pertunjukan, dsb. Dalam perjalanannya, seorang seniman menemui konteks yang khas, di mana konteks tersebut sekarang tidak bisa dipisahkan dari mekanisme industri. Ketika berkesenian adalah pekerjaan, maka dengan sendirinya internalisasi gagasan melibatkan pula stimuli dari pergaulan, dan tindakan dalam ruang pikir-laku yang sistemik.

Maka ketika arsip dihasilkan dari perekaman, yang eksplisit adalah identifikasi siapa, di mana, kapan, dan seolah-olah tentang apa. Pilihan bekerja sebagai seniman performance erat dengan logika sistem yang menggiring tercetusnya pola. Ekspresi seorang seniman performance menjadi karya, sehingga perlu apresiasi, perlu penonton. Pertanyaan lanjutan yang kadang muncul adalah mengapa. Mengapa memilih isu tersebut? Mengapa modus penyampaiannya begitu? Mengapa pakai properti? Mengapa telanjang? Mengapa ada panggung?

Tapi pernahkah sesama pekerja seni bertanya, mengapa perlu menyelenggarakannya sebagai hajat/event?

Bagi seorang perekam, pertanyaan di atas pasti mengubah tradisi dokumentasi seni kontemporer. Performance art menjadi sangat butuh perekaman karena sifat penyajiannya yang fana. Upaya pengekalan bisa ditempuh dengan meninggalkan jejak, menjadikannya ritual, menghadirkan sebanyak-banyaknya orang supaya terbentuk memori kolektif, perekaman, atau cara-cara lain yang saya belum tahu.

Namun, perlukah ia menjadi kekal?

Saya mengurungkan niat untuk memperoleh jawaban ya atau tidak. Secara pragmatis, atas nama pelestarian memori kolektif, rekaman video menghasilkan produk yang lebih luwes sejak manusia tidak lagi canggung menghadapi layar televisi. Penonton rekaman video performance art sekarang dengan segera bisa mengubahnya jadi video yang sama sekali berbeda. Secara gradual, upaya klasifikasi ‘video art’, ‘video performance, ‘dokumentasi video dari performance’ turut lebur. Maka, digunakanlah data untuk mengeksplisitkan rekaman menjadi arsip, demi menjadikan rekaman tersebut obyektif.

 

Kritik terhadap obyektivitas arsip

Bukan barang baru. Membuat arsip sebagai acuan (yang juga adalah kata ganti dari objective) adalah upaya menyajikan informasi, berita, memvalidasi bisik-bisik menjadi fakta.

Untuk masyarakat yang terdidik dengan sistem pendidikan di Indonesia, mengarsipkan adalah warisan kolonial. Saya rasa terlalu dini jika kita bersegera mendekonstruksi makna arsip, semata-mata karena Derrida menegaskan kehadiran otoritas mutlak tak terhindarkan untuk tindak klasifikasi. Apakah resolusinya adalah mengujicobakan berbagai sistem klasifikasi, karena bangunan pengetahuan arsip di antara masyarakat Indonesia belum mengadaptasi bentuk-bentuk pasca-kolonial?

Orang Indonesia terlanjur mengenal Pancasila, terdesak menjadi nasionalis, dan dengan ringan mengamini solidaritas. Penyederhanaan saya bertujuan untuk menyampaikan bahwa sistem (pengelolaan) masyarakat Indonesia dibangun di atas landasan absolut. Maknanya, sistem musyawarah untuk mufakat atau gotong royong, mengarahkan masyarakat untuk percaya pada konsep demi kebaikan bersama. Sistem tersebut kemudian diangkat pada hirarki tertentu, misalnya nilai tradisi dan warisan bangsa, juga diasosiasikan untuk proses memahami demokrasi.

Saya juga urung menggeser kegelisahan saya pada obyektivisme menurut Ayn Rand, yang menyatakan bahwa nilai ditentukan dan relatif pada pencetus atau penerimanya. Untuk tujuan penulisan ini, arsip performance art esensinya bukan untuk melayani kebutuhan relatif seniman performance, atau semata-mata melayani kebutuhan medan sosial seni. Karena toh, ia tidak berperan signifikan untuk menjadikan performer sebagai seniman performance. Memori kolektif tentang ritual, ekspresi dan opini yang tidak dilestarikan kolonial, terlanjur pupus dan kita hanya bisa meratapi nasib. Dalam masa remang-remang seperti sekarang, pahlawan sejarah dirayakan, dan kita berjanji sepakat untuk tidak mengulangi kealpaan yang sama.

ANRI melakukannya untuk catatan pemerintahan dan kaleidoskop sosial budaya; pendirian museum negara dan swasta disertai misi preservasi benda non artefak; seniman mempercayai ekspresinya akan lestari melalui diversifikasi media -konon hal pertama yang ditanyakan seniman pada pihak yang membantu penyelenggaraan hajat seninya adalah dokumentasi.

Kabar (gembira?) untuk para seniman, belakangan museum kontemporer skala internasional lebih gencar mengumpulkan (membeli) arsip dari hajat temporer, terutama yang berbasis partisipatoris dan asumsinya mengandung dialektika praktek seni.

Perbedaan tujuan pengumpulan museum dengan peneliti atau pengajar seni tercermin pada produknya. Museum adalah suatu sistem yang mengelola bahan/materi, sedangkan peneliti menggunakan sistem untuk mensintesis bahan dengan teori(nya). Keduanya bisa bekerja bersama, biasanya dalam sistem yang lebih mapan dan taktil. Kecenderungan baru ini masih marak dipromosikan oleh kalangan akademis dan pemerintah, agaknya sebagai reaksi dari pengakuan gradual atas teori pusat dan pinggiran dalam pengelolaan pengetahuan.

 

Penutup

Tulisan ini dihadirkan menyertai laku sistematis medan sosial seni: hajat performance art yang masih signifikan untuk pertumbuhan melalui pertukaran bahasa ungkap. Saya mengandaikan Ring of Performance ini sebagai wadah profesi, seperti Ikatan Dokter Indonesia atau Paguyuban Pemuka Adat.

Optimisme saya tidak terletak pada glorifikasi demokratisasi latar belakang, pinggiran menginflitrasi pusat atau bahkan mengandaikan pusat selain institusi pemerintah di Indonesia itu ada. Sebagai salah satu pencatat, saya optimis bahwa jika performance art tidak lagi mampu bernegosiasi di medan sosial seni, ia perlu diujicobakan pada konstruksi lain yang lebih bisa memanfaatkannya.

 

Februari 2016

pitra.hutomo@gmail.com

 

 

// Kabar IVAA: Desember 2015 – Kegiatan dan Koleksi // Selamat Natal dan Tahun Baru! //

Lihat tampilan html

ivaa-christmas-newyear
Arsip Sanggar Bambu (1968)

Halo KawanIVAA!

Selamat Natal 2015 dan Menyambut Tahun 2016 dengan gemilang!

Telah dua bulan berlalu dari terbitan kabar elektronik IVAA yang pertama. Sepanjang masa itu pula, tim dengan koordinator Dwi Rahmanto panen rekaman dari perhelatan seni rupa dua tahunan: Makassar Biennale 2015, Biennale Jogja XIII Equator #3, Biennale Jatim 6, Jakarta Biennale 2015. Laporan khusus akan kami sampaikan dua bulan dari terbitnya kabar elektronik ini.

Kami hendak membagi kisah-kisah di balik beberapa kegiatan yang berlangsung setahun belakangan, antara lain
Menanam Arsip, Pameran Arsip IVAA di National Gallery Singapore, Hibah Penelitian Seni Rupa, dan Pembangunan Basis Data Pameran Temporer sekaligus Pemetaan Seniman Nusantara, kerja sama IVAA – Galeri Nasional Indonesia.

Album foto dari kegiatan di Ruang Bertemu RumahIVAA telah terunggah
di sini.

Simak juga sorotan rekaman audio visual dari beberapa bulan terakhir, dengan penambahan signifikan dari serial wawancara dengan para pelaku seni Indonesia. Daftar lengkapnya dapat diunduh
di sini.

Sedangkan, daftar penambahan koleksi pustaka IVAA sepanjang 2015 tersedia
di sini.

Kegiatan Terseleksi 2015
Menanam Arsip pada Tanah yang digawangi Yoshi Fajar berangkat dari pengalaman IVAA berinteraksi dengan Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN). Serial diskusi dengan komunitas pengumpul dan penyedia arsip budaya nusantara ini, gagasannya dirintis sejak IVAA menyelenggarakan Hibah KARYA! (2013) dan tahun berikutnya menerbitkan kumpulan esai berjudul Arsipelago: Kerja Arsip dan Pengarsipan Budaya di Indonesia. Simak refleksi Yoshi di sini.

Untuk Pameran Arsip IVAA di National Gallery Singapore, tim IVAA membawa sejumlah hasil penelitian terseleksi tentang seni, seni rupa, pendidikan, dan makna bekerja sebagai seniman di Indonesia. Berkas-berkas ini direproduksi, dirangkai, dan diinterpretasi ulang sebagai materi audio visual dan bahan bacaan yang meliputi dinamika ranah seni rupa Indonesia sejak pra Kemerdekaan hingga pasca Reformasi. Pengantar pameran oleh Pitra Hutomo dapat dibaca di sini.

Setelah melalui proses penyelenggaraan Hibah KARYA! 2013, tim IVAA melanjutkan dengan Hibah Penelitian Seni Visual 2015. Awal Desember 2015, para pemenang hibah telah menyelesaikan esai mereka dan menyerahkannya pada kami.

Ikuti terus Kabar IVAA, karena di edisi mendatang kami akan menyediakan hasil-hasil penelitian melalui situs web @rsipivaa.

Tahun ini adalah tahap ketiga kerja sama IVAA dengan Galeri Nasional Indonesia (GNI).
Melisa Angela menuliskan refleksinya mengkoordinir Pemetaan Seniman Nusantara. Basis data Pameran Temporer GNI saat ini telah dibuka aksesnya melalui tautan ini.

Pembaruan Organisasi
Sepanjang 2015, IVAA menyelenggarakan rangkaian pertemuan internal untuk mempelajari dinamika keorganisasian yang berlangsung sejak 2007. Proses kami lakukan perlahan dan menyeluruh, di tingkat struktur maupun program. Memasuki 2016, RumahIVAA akan tutup mulai 4 hingga 15 Januari 2016, karena kami melakukan beberapa perubahan di Ruang Baca sekaligus pertemuan internal untuk merancang kerja satu tahun ke depan.
Melalui kabar elektronik ini, kami sekaligus hendak memperkenalkan wajah-wajah yang bisa Anda temui melalui layanan online maupun di RumahIVAA. Mari bertegur sapa!

Memasuki tahun 2016, IVAA kembali membuka kesempatan magang dan kerja praktek untuk mahasiswa S1 tanpa spesifikasi jurusan. Tiga muda-mudi bersemangat dari FSMR ISI Yogyakarta telah usai dan meluluskan program kerja prakteknya di IVAA sepanjang Oktober-Desember 2015. Anda dapat simak profil mereka di sini.

Tak lupa, kami selalu mengundang partisipasi Anda: pelaku, penggerak, dan pencinta seni Indonesia, untuk bersama-sama memasuki tahun 2016 sembari menghidupi dinamika pengetahuan yang terinspirasi seni. Kontribusi Anda selama ini telah memberi makna pada keberadaan IVAA. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan, semoga daya upaya yang telah kita kerahkan turut membangun rakyat Indonesia pada kehidupan yang lebih baik.

Salam,
Pitra, Christy, Melisa, Yoshi, Dwi, Santosa, Rosa, Edy, Alit, Sukma, Tia.

** // Highlights //
————————————————————


Jogja Street Sculpture Project 2015 (JSSC), merupakan pameran yang menampilkan karya 32 seniman patung. Pameran ini mengambil tema “Antawacana” yang dalam pewayangan berati dialog. Menurut ketua JSSP 2015 Hedi Hariyanto, pameran ini bertujuan membangun dialog melalui patung, serta karena di Jogja sendiri banyak orang dari berbagai latar belakang saling bertemu, untuk saling berdialog. Pameran dibuka pada 30 Oktober 2015 dan berlangsung hingga 15 Desember 2015, di sepanjang jalan Mangkubumi hingga Kleringan Yogyakarta.


Trashgender, Alternative Queer Performance Art Night
Diselenggarakan di Indonesian Contemporary Art Network (iCAN), 10 Oktober 2015. Selama 2 minggu Ming Wong (Singapura-Berlin) bersama dengan 4 seniman lainnya dari Indonesia dan Australia: Otniel Tasman, Shahmen Suku, Tamara Pertamina, dan Bradd Edwards, melakukan workshop dan belajar mengenai tari klasik Jawa maupun tari kontemporer. Ming dan rekan-rekannya memilih Yogyakarta karena nilai sejarah dan mitos yang kuat mampu berinteraksi dengan kebudayaan kontemporer. Proyek ini menghasilkan karya video dan dokumentasi pendukung dari proses workshop. Video dan pertunjukan di iCAN ini dibawa lagi untuk berpartisipasi dalam The 8th Asia Pacific Triennial di Brisbane, Australia.


Ratmakan Taman Bertumbuh Permainan Hari Siapa Saja/ Playground Open Day
Setelah tinggal dan bekerja di Kampung Ratmakan, Jorgen Doyle dan Hannah Ekin akhirnya membuka “Alun-Alun Ratmakan : Junk Playground”. Minggu, 18 Oktober 2015, Alun-alun Ratmakan dimeriahkan dengan bom air, perang tepung, bermain air semprot-menyemprot, bermain cat, flying fox, dan perosotan. Dimeriahkan pula dengan penampilan Barongsai, K-Pop dan I-pop dance generasi penerus Ratmakan, acara musik serta hiburan lainnya. Di area yang diberi nama alun-alun Ratmakan itu, kita bisa melihat dan belajar “Junkology” yaitu pemanfaatan sampah menjadi sebuah karya. Bertempat di tanah kosong bantaran Kali Code, Jorgen dan Hannah bekerja setiap hari membongkar timbunan sampah, memilah-milah tanah, dan mengumpulkan barang bekas yang semuanya itu kemudian digunakan untuk membangun sebuah taman bermain yang terus bertumbuh. Proyek ini difasilitasi oleh Jogja Independent Residency Project (JIRP) dan Ketjilbergerak.

** // Interview Series //
————————————————————

Frigidanto Agung dan kisah prakteknya sebagai kurator dan produsen acara seni.

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Muhammad Yatim Mustafa (Medan)

https://www.youtube.com/watch?v=ZFcqJT_SR_E

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Rasinta Tarigan (Medan)


Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Kelompok Simpassri – Simpaian Seniman Senirupa Indonesia (Medan)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Husin Nanang (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Lalu M. Syaukani (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Handono Hadi (Medan)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Agus Priyatno (Medan)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Franky Pandana (Medan)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
I Nyoman Putra ‘Mantra’ Ardhana (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Joko Prayitno (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Fitri Evita (Medan)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Komunitas Pasir Putih (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Tarfi Abdullah (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
I Wayan Pengsong (Nusa Tenggara Barat)

Pemetaan Seniman Nusantara IVAA – GNI:
Kepala Taman Budaya Nusa Tenggara Barat

============================================================

// February 2016 Edition:
Art Biennale(s) in Indonesia, a study of thematic approach //

Program Diskusi Keliling: Menanam Arsip pada Tanah

Menanam Arsip Pada Tanah merupakan program “berkeliling” IVAA untuk menginisiasi perjumpaan antar orang dan komunitas di berbagai tempat, untuk saling berbagi, sekaligus  mendorong lahirnya inspirasi (dan jaringan) baru mengenai kerja pengarsipan. Apa itu yang dianggap arsip; Apa saja yang perlu diarsipkan; Untuk apa dan untuk siapa kerja pengarsipan dikerjakan, dan; Bagaimana cara mengarsipkan; dan lain sebagainya… merupakan beberapa pertanyaan dasar yang akan terus-menerus digali dengan kritis dalam kerja arsip dan pengarsipan, dan sekaligus menjadi dasar dari Program Menanam Arsip Pada Tanah.

Arsip dan pengarsipan di ranah kebendaannya selalu terkait dengan operasi kuasa (pengetahuan, ekonomi, dan estetika). Operasi kuasa hadir dalam konteks kolonialisme, dalam konteks developmentalisme, maupun di dalam pusaran pasar komoditas. Operasi kuasa telah menghadirkan arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari sumber produksi pengetahuan, ekonomi, dan estetika “mereka yang berkuasa”. Di dalam pasar, arsip dan pengarsipan menjadi sumber estetika produksi-distribusi-konsumsi dari nilai komoditas yang ditawarkan. Menghadirkan wacana, nilai, dan sense yang lepas dari problem sosial-budaya-politik masyarakat. Arsip dan pengarsipan menjadi bagian dari politik klaim, akses, dan estetika dari operasi kuasa.

Meskipun begitu, banyak dijumpai di dalam kenyataan, berbagai individu, lembaga, atau komunitas masyarakat di luar pemerintah dan perusahaan, telah mengembangkan kerja arsip dan pengarsipan di dalam kerangka konsep dan metodologi produksi pengetahuan yang disesuaikan dengan kegelisahan, kebutuhan, dan persoalan-nya sendiri. Pemahaman mengenai arsip dan kerja pengarsipan meluas, melintasi aspek waktu dan kebendaannya,  memasuki ranah bahasa, tubuh, dan ingatan. Proses dan sikap keberpihakan pada realitas yang penuh persoalan lebih diutamakan di dalam kerja arsip dan pengarsipan, menghadirkan berbagai produk pengetahuan, estetika, dan sense yang lebih kongkrit dalam arus pinggiran modernitas-globalisasi.

Arsip dan kerja pengarsipan sesungguhnya sangat penting untuk terus-menerus dipikir ulang, dipraktikkan, dan dieksplorasi di dalam konteks negara bekas jajahan yang terus bergerak dan tidak pernah fiks dalam (identitas) kehidupannya, seperti Indonesia. Sebuah negara bangsa yang tidak pernah bisa menciptakan museumnya dengan benar, yang selalu terengah-engah mengabstraksikan sejarah pengetahuannya, dan yang selalu punya siasat untuk mengacak-acak tatanan fungsinya. Namun, pada semua itulah justru seringkali terletak energi kreatif orang-orangnya: membuat hidup (yang berat) menjadi hidup. Kita, barangkali mempunyai pemahaman arsip dan kerja pengarsipan yang beragam. Museum, ditafsirkan dan dikerjakan dengan cara yang lain.

Arsip dan kerja pengarsipan pada akhirnya tidak hanya perkara mengumpulkan dan memulung dokumen-dokumen serta potongan-potongan rekaman mengenai apa yang pernah terjadi dalam kehidupan (sebagai nation state), namun juga menjadi sebuah lahan luas untuk terus digali dan diolah kembali secara kreatif untuk mengisi celah-celah kosong infrastruktur, ilmu, dan sejarah di negeri ini. Arsip sebagai -bukan hanya- sebuah kebendaan, ataupun sarana yang digunakan sebagai media kerja bersama produksi pengetahuan dan estetika, namun lebih dari itu, ia juga sebuah proses, praktik, dan alam bawah sadar dari strategi kultural kehidupan masyarakat setempat.

Kota-kota yang sudah disinggahi IVAA untuk mengadakan sarasehan “Menanam Arsip Pada Tanah”, yaitu:

1. Malang, Jawa Timur.
Waktu: Sabtu, 29 Agustus 2015 | Jam 15.00 – 18.00 WIB
Tempat: Kafe Pustaka Universitas Muhammadiyah Malang, Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia

Pembicara:
1.    Aji Prasetyo (Tjangkir17, Malang)
2.    Bramantyo Prijosusilo (Akademi Sekaralas, Madiun)
3.    Yoshi Fajar Kresno Murti (IVAA, Yogyakarta)

Moderator:
Francis Hera (CCFS, Malang)

Lihat album foto di sini.

2. Singapura.
Waktu: Selasa, 22 September 2015 | Jam 16.00 (Singapura)
Tempat: Block 47 Malan Road, #01-25 Singapore Art Archive Project Space By Koh Nguang How, Former NTU CCA Singapore Artist-in-Residence

Lihat album foto di sini.

3. Padang, Sumatra Barat.
Waktu: Sabtu, 7 November 2015 | Jam 15.00 – selesai
Tempat: Taman Budaya, Padang, Sumatera Barat

Pembicara:
1.    Gusti Asnan (Guru besar sejarah, Universitas Andalas, Padang)
2.    Muhidin M Dahlan (iBOEKOE, Yogyakarta)
3.    Yoshi Fajar Kresno Murti (IVAA, Yogyakarta)

Moderator:
Koko Sudarmoko (RKB, Padang)

Lihat album foto di sini.

Pameran Arsip IVAA di National Gallery Singapore

Laci reproduksi arsip tulisan tentang seni rupa Indonesia
Laci reproduksi arsip tulisan tentang seni rupa Indonesia

Pameran berlangsung di National Gallery Singapore, hingga November 2017.

Simak juga foto-foto penyelenggaraan pameran melalui tautan ini.

Salah satu interpretasi arsip diolah khusus menjadi video animasi dengan teknik speed drawing berikut.

 

IVAA menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya pada rekan-rekan pekerja seni yang telah turut membuat pameran ini terpajang dengan optimal. Tak lupa ucapan terima kasih terbesar kami sampaikan pada para pengarsip, peneliti, penulis, dan orang-orang yang telah mengerahkan daya dan upayanya untuk menelusuri dan melestarikan dokumen, rekaman, maupun ingatan mereka.

Sejarah seni rupa Indonesia, dan sejarah pada umumnya di Indonesia, adalah subyek yang berangsur-angsur populis di tengah ketidakmapanan. Karena itulah, kita semua harus cermat menelaah sejarah menurut berbagai versinya, kemudian terang dan jelas memaknai dampak dari berbagai versi tersebut.

Interpretasi arsip yang kami lakukan kiranya dapat dirangkum menjadi pengantar di bawah ini.

“Sangkal Putung, Merangkai sejarah seni rupa Indonesia yang patah-patah”

Dinamika dan perjalanan seni rupa di Indonesia tercatat lebih tua daripada usia Republik Indonesia. Sanento Yuliman, esais dan pendamping Gerakan Seni Rupa Baru menyebutkan bahwa tradisi lukis di Indonesia dimulai sejak zaman prasejarah, dan dibuktikan dengan penemuan cap tangan dan penggambaran lain di dinding gua, terutama di kepulauan Indonesia Timur.

Kesejarahan seni rupa Indonesia tersusun atas serpihan-serpihan informasi yang senantiasa disempurnakan oleh para peneliti. Penulisan sejarah seni rupa modern Indonesia secara linear selalu diawali dengan penokohan Raden Saleh, pelukis yang terdidik di Eropa masa Romantisisme. Namun, kehadiran Raden Saleh tidak secara langsung menentukan arah kajian seni rupa Indonesia selanjutnya, karena melukis dengan kanvas dan cat minyak masih merupakan privilese bagi kalangan bangsawan. Baru setengah abad setelah meninggalnya Raden Saleh, muncul ke permukaan sekumpulan pelukis yang menamakan diri PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Salah satu pendirinya yang kemudian menjadi sekretaris, S. Sudjojono, rajin menuliskan aspirasi dan opininya demi mengukuhkan identitas seni dan seniman di tengah masyarakat Indonesia.

Ketika itu, Sudjojono mengkritik tidak sesuainya lukisan naturalis dipraktekkan oleh para pelukis Indonesia. Penggambaran “Hindia Belanda yang molek” tidak diinginkan lagi oleh para pelukis generasi baru, dan Sudjojono menjadi advokat utama untuk kemunculan lukisan-lukisan dengan sensibilitas sosial masa itu. Maka, tidak heran jika Sudjojono masih diminta menjadi narasumber untuk diskusi-diskusi seni rupa yang terdokumentasikan seksama di dekade 70-80an. Pengalamannya dijadikan sarana reflektif untuk ranah seni budaya yang menginjak kemapanan, di antara situasi sosial politik yang senantiasa bergolak.

Mendengarkan rekaman suara dari diskusi-diskusi tersebut akan membawa kita membayangkan, bagaimana sesungguhnya ranah seni budaya di Indonesia berulang kali dipolitisir untuk kemudian didepolitisi lagi. Terusirnya Belanda oleh Jepang di masa Perang Dunia ke-II, pernyataan kemerdekaan Republik Indonesia, perpindahan ibukota karena krisis pemerintahan, sampai pemberangusan ideologi komunis dan berbagai tragedi penyertanya, tidak mampu menghentikan keinginan pekerja seni Indonesia untuk terus mencari makna dari kecintaan mereka atas kesenian. Meskipun untuk mencapai itu, tak urung mereka harus menciptakan identitas yang terpisah dari kecenderungan masyarakat di masanya.

Secara umum cakupan materi pameran sebagai berikut:

  • Elaborasi mula seni rupa sebagai praktek formal di Indonesia. Penokohan Raden Saleh dan kontroversi seputar penokohan tersebut melalui makalah Harsja W. Bachtiar dan Peter Carey dan rekaman diskusi di TIM antara Dan Soewarjono, Sudjojono, Oesman Effendi.
  • Latar sosial di P. Jawa pasca politik etis, melalui penokohan Ki Hadjar Dewantara dan peran Taman Siswa dalam menumbuhkan identitas kebudayaan Indonesia.
  • Jejak seniman asing di P. Bali melalui penokohan Rudolf Bonnet dan Walter Spies dan peran Pita Maha sebagai infrastruktur sosial bagi orang Bali yang berkesenian sebagai laku budaya dengan asosiasi ritual.
  • Kebutuhan PERSAGI melalui Sudjojono untuk menetapkan kisi-kisi identitas lukisan Indonesia dan mencari pengakuan dari pihak-pihak berkuasa yakni pemerintah kolonial Belanda, lembaga seni budaya bentukan Jepang, kemudian melalui Soekarno.
  • Eksplorasi seniman yang mengalami pendidikan Belanda dan Jepang sebagai upaya melegitimasi praktek masing-masing, melalui pembentukan cikal bakal infrastruktur seni yakni sanggar dan kemudian akademi seni. Masa ini mulai ada rekaman yang menyinggung peran seni untuk masyarakat, keterlibatan seniman dalam kancah politik praktis, dan identifikasi karakter praktek seniman Jogja-Bandung.
  • Latar politik di Indonesia yang menguat karena mapannya Partai Komunis Indonesia, di kesenian melalui aktifnya LEKRA mengirimkan delegasi untuk peristiwa budaya di luar negeri. Bentrok politik 1965 berimbas pada perlakuan buruk untuk anggota LEKRA dan ancaman bagi upaya kesinambungan praktek seni secara keseluruhan. Sikap saling tuding antar seniman karena ideologi politik mewujud melalui dibuatnya Manikebu sebagai kontra dari Manifestasi Politik yang secara eksplisit menyebutkan bahwa praktek seni budaya di Indonesia harus mutlak mendukung visi negara dengan sistem Demokrasi Terpimpin.
  • Di tengah gencarnya penumpasan ideologi komunis di seluruh Indonesia, pemerintahan Suharto digugat karena kebijakan poleksosbud oleh mahasiswa dan kalangan muda, diantaranya seniman. Di kesenian, mahasiswa juga didera stagnasi dari pengajaran seni yang patuh menunggu tren seni rupa Barat. Mahasiswa ASRI dan IKJ berupaya menggoyang status quo di kampus dengan mogok kuliah, pameran karya yang nyleneh menurut standard pengajaran akademi seni rupa, dan menulis di surat kabar. Beberapa mahasiswa dikeluarkan dari akademi, dan bersama beberapa rekannya yang lolos dari sanksi melanjutkan semangat Seni Rupa Baru.
  • Ideologi Seni Rupa Baru kemudian menyenggol beberapa soal di luar wacana seni itu sendiri, yakni pengolahan data tentang lingkungan melalui Proses ‘85, ekspresi tentang perubahan dinamika sosial budaya masyarakat modern melalui Pasaraya Dunia Fantasi, yang kemudian menjejak kemapanan di tingkat birokrasi melalui Biennale Jakarta 1993 dan Pameran Negara-negara Non Blok 1995.
  • Di Yogyakarta, dinamikanya berlangsung dalam tempo perlahan dan sporadis. Perkumpulan tidak resmi di Seni Sono yang membaurkan internalisasi seniman 70an-90an antara seni rupa, sastra, dan seni pertunjukan diantaranya diwujudkan melalui Binal Eksperimental Arts.
  • Berangsur-angsur, praktek seni Yogyakarta-Bandung-Jakarta semakin mapan menurut jalurnya masing-masing. Sorotan terutama diberikan pada naluri seniman untuk membawa seni ke tengah masyarakat, dengan konsep yang beragam tentang penonton, partisipan, hingga tudingan keberpihakan pada komersialisasi seni. Performance art, dianggap sebagai salah satu bentuk ekspresi yang senantiasa aman bagi seniman, dalam rangka berpraktek di tengah asumsi masing-masing atas masyarakat dan belum ternodai komersialisasi seni.

Tim Kerja:

Farah Wardani (Inisiator – National Gallery Singapore)
Hafiz Syed (Inisiator – National Gallery Singapore)
Cheng Jia Yun (Administrator – National Gallery Singapore)
Pitra Hutomo (Kurator Arsip)
Mahardika Yudha (Rancangan Presentasi, Periode I)
Anang Saptoto (Koordinator Reproduksi Materi dan Rancangan Presentasi, Periode II)
Melisa Angela (Koordinator Bahan)
Christy Mahanani (Koordinator Komunikasi)
Sita Magfira (Pengolah Arsip)
Umi Lestari (Pengolah Arsip, Periode I)
Dwi Rahmanto (Koordinator Pemasangan Materi, Editor Video)
Rifqi Mansur Maya (Pengolah Arsip)
Sukma Smita (Pengolah Arsip)
Tiatira Saputri (Pengolah Arsip)
Alit Mranani (Pengolah Arsip)
Prihatmoko Wicaksono (Ilustrator interpretasi arsip)
Aria Pradifta (Tata letak reproduksi cetak)
Maria Uthe (Tata letak buku elektronik)
Viki Bella (Tata letak buku elektronik)
Akiq AW (Tim Pemasangan Materi)
Mirna Adzania (Penerjemah indeks arsip dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris)

Internship at IVAA for International Students

The School of IVAA/Not The School of Athens.
The School of IVAA/Not The School of Athens.

 

International internship for “RumahIVAA” services. Duration: 2 weeks to 3 months. The program provides direct experience for international students to understand how IVAA Library is operated as well as involvement in organizing forums both in the reading and community space. In 2016, IVAA aims to revitalize its reference provision through the “KawanIVAA” program. Interns will follow a general guideline from the previous program and be requested to conduct their proposed activities that are both engaging the community and enriching their own experience. Written reports are due three months after each internship period ends.

International internship for Archive Transliteration. Duration: 1 month to 6 months. The program allows interns to be immersed in selected subjects based on materials available in IVAA. Interns are expected to be able to read in bahasa Indonesia or arrange their own course to be able to do so before joining the program. Interns will also be a crucial part of IVAA electronic publication on their chosen subject by the end of the program.

International internship for Digitalization and Database. Duration: 6 months to 1 year. The program provides direct experience to work with IVAA archivists in conducting documents conversion, database operations and participate in IVAA online interface development. Interns are expected to have minimum experience with electronic documents, database comprehension and exposed to discourse regarding online media and the Internet.

International internship for Audio Visual Archives. Duration: 6 months to 1 year. The program allows intern to experiment with born-digital audio visual recordings preserved by IVAA. Prior to the program, interns are encouraged to conduct observations within art communities in Indonesia with or without personnel/equipment support from IVAA. Interns are expected to produce at least 1 title of audio visual presentation to be disseminated throughout IVAA online platform.

Structure:
– Application consist of: (1) Curriculum Vitae enlisting personal data/contact, education background and relevant experience (2) Motivation letter for a chosen program, personal conditions related to living in Yogyakarta during the program and how the program can benefit both IVAA and the applicant (3) Optional – personal documentation of experience similar to chosen program

– Application sent by email to ivaa@ivaa-online.org

– Application requirement no.3 (optional) is to be sent as electronic files (JPEG, MP3, MP4) via file storage such as dropbox/google drive or a link for preview in existing website. Please note that Indonesia Internet providers have been blocking Vimeo and Daily Motion, so video links should be provided in YouTube while images are best previewed in Flickr.

– IVAA does not charge for offered programs. However, interns must organize their own funding structure in terms of transport, accommodation and per diem. In certain conditions, IVAA willingly support each individual regarding administrative needs such as: (1) Formal invitation letter for Visa and Funding Applications
(2) Informal introduction to colleagues of IVAA (3) Final report for grading necessities

– Interns are allowed to participate in activities within the art community in Yogyakarta during their internship period with flexible arrangement

– Interns are automatically registered as KawanIVAA membership services program

– Applicants are encouraged to assess their possibility and discuss with IVAA via ivaa@ivaa-online.org prior to sending their application

 

Kabar IVAA // Oktober 2015

View this as html in your browser.

Lihat post ini dalam tata letak html

811a8425-1204-4a82-8900-a17ddece2999

 

Salam, KawanIVAA!

Mulai edisi ini, kami akan secara berkala mengirimkan sepilihan kabar kegiatan IVAA. Anda dapat berlangganan dengan memasukkan alamat email di sini, atau meramaikan halaman Facebook dan Twitter IVAA.

IVAA makin memantapkan posisinya sebagai salah satu organisasi yang memiliki mandat untuk senantiasa mengembangkan wacana pengarsipan seni budaya di Indonesia. Berkaitan dengan itu, awal September 2015 lalu, kami melakukan rangkaian pertemuan internal untuk menyegarkan visi dan misi IVAA yang mewujud dalam penajaman kegiatan arsip, dokumentasi, dan layanan pustaka seni rupa.

Sejak awal tahun ini IVAA menambahkan sejumlah koleksi yang dapat diakses melalui @rsipIVAA dan katalog perpustakaan online. Perolehan total dokumentasi dari Januari 2015 adalah 160 judul yang disimpan sebagai audio, foto, video digital, dalam kurun waktu yang sama 1000 judul terbitan seni rupa dapat diakses langsung di Perpustakaan IVAA.

Simak profil organisasi dan tim kerja IVAA di sini. Anda pun dapat mendaftar menjadi anggota perpustakaan dengan mengisi formulir ini serta membayar biaya pendaftaran.

Berjejaring dengan lembaga-lembaga pengarsipan seni budaya di Indonesia, IVAA tergabung dalam Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN). Program JABN mulai disegarkan kembali di 2016.

** // Upcoming at RumahIVAA //
————————————————————

** Art and Politics between Visual and Text | Victor Ehikhamenor @RumahIVAA, Selasa/Tuesday, 27 Oktober 2015, 16.00-18.00 WIB
————————————————————
Part of Biennale Jogja 2015 Discussion Series. Talk moderated by Adelina Luft in English.
See also: http://program.ivaa-online.org/events/event/art-and-politics-between-visuals-and-text-victor-ehikhamenor/

** Film Screening and Talk with Patricia Chen | @RumahIVAA, Senin/Monday, 2 November 2015, 16.00-18.00 WIB
————————————————————
China’s Art Missionary gives a glimpse into the art collecting universe of legendary Swiss collector Uli Sigg – his dogged determination and dispassionate approach to create a “historical document” of Chinese contemporary art, uninhibited by controversies and societal taboos. It is an inspiring journey of a westerner entering the heart of the Chinese cultural space, as a preserver and custodian of cultural assets which are not his own.

Run time: 19 minutes
Language: English & Chinese (in English Subtitles)
Talk in English. For the premiere in Yogyakarta, Patricia Chen displays an accompanying book specifically published to proceed the film production. Visitors of this event are encouraged to purchase said book.
See also: http://program.ivaa-online.org/events/event/screening-for-chinas-art-missionary-chen-uli-sigg/

** // Highlights //
————————————————————

** Perkembangan Hibah Penelitian Seni Visual 2015
————————————————————
IVAA menerima 120 proposal untuk Hibah Penelitian Seni Visual 2015. Dewan Penilai yang terdiri dari Ong Hari Wahyu, Dr. Wulan Dirgantoro dan Hendro Wiyanto; menghasilkan keputusan peraih hibah yaitu Sudarmoko, Brigitta Isabella, dan Galuh Ambar Sasi. Kini ketiga peraih hibah sedang menyusun tulisan ilmiah masing-masing, setelah memperoleh masukan dari pertemuan dengan akademisi dan narasumber arsip, yang kami adakan 1 Oktober lalu. Dalam pertemuan para peraih hibah mempresentasikan temuan awal yang dikomentari oleh para hadirin. Tulisan ilmiah dari penelitian selesai pada akhir November 2015. Selengkapnya >>

** // Collections //
————————————————————

** Dokumentasi Seri Ceramah/ Diskusi “Guru-guru Muda”
————————————————————
IVAA menyambut tawaran kerja sama dari Langgeng Art Foundation (LAF) untuk mendokumentasikan Seri Ceramah/ Diskusi “Guru-guru Muda”. Sorotan untuk kabar kali ini adalah tentang Seri Ceramah #2 bersama Terra Bajraghosa: Membaca Komik Mandiri, 5 Mei 2015. Terdapat dokumentasi video dan essay oleh Terra untuk ceramahnya. Selengkapnya >>

————————————————————

** Wawancara dengan Theresia Agustina Sitompul
————————————————————
IVAA mewawancarai Theresia Agustina Sitompul (Tere) saat pembukaan pameran tunggalnya di Bentara Budaya Yogyakarta, 7 Maret silam. Pameran ini berjudul ‘Pada Tiap Rumah Hanya ada Seorang Ibu”. Tere (lahir di Pasuruan, 1981), menjelaskan latar belakang ide pameran yang banyak dipengaruhi kehidupan masa kecil. Selengkapnya >>

————————————————————

** Peluncuran Buku dan Diskusi ‘Kurasi dan Kuasa: Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer Indonesia’
————————————————————
Peluncuran Buku dan Diskusi ‘Kurasi dan Kuasa: Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer Indonesia’, 9 Mei 2015 di Rumah Seni Cemeti. Agung Hujatnikajennong diundang menjadi pembicara yang menjelaskan prosesnya mengalihformatkan disertasi menjadi buku teks seni rupa. Selengkapnya >>

————————————————————

** Performance Art ‘Floating Soul’
————————————————————
Performance Art ‘Floating Soul’ berlangsung di Kersan Art Studio, 14 Juni 2015. Performance ini berawal dari konsep instalasi Floating Soul, tentang jiwa-jiwa Indonesia yang mengambang. Fitri Setyaningsih dan Neri Novita mengembangkan konsep tersebut dalam gerak meditasi. Musik ditata oleh Michal Mitro menggunakan instrumen bambu dan daun tebu. Selengkapnya >>

————————————————————

** Arsip Gerakan Sosial di Wilayah Seputaran Gunung Kendeng
————————————————————
Attakk dari Roemah Goegah (Pati) berbagi dokumentasi kelompoknya kepada IVAA, yakni kumpulan liputan media massa, tentang pergerakan bertemakan lingkungan di daerah Pati dan sekitarnya. Tradisi lokal dan ekosistem merupakan isu yang gencar diserukan di Pati, baik oleh kelompok penggiat seni baik perorangan ataupun berkelompok seperti seperti Cah Juwana Pluralitas (CJP), Komunitas Boemi, Imam Bucah, dan Azis Wisanggeni, yang membahasakan kepedulian mereka terhadap lingkungan melalui kesenian. Selengkapnya >>

————————————————————

** Het Ideaal Van Een Moderne Indonesische Schilderkunst 1900 – 1995
————————————————————
Buku yang dicetak sendiri oleh Helena Spaanjard ini merupakan olahan dari tulisan pasca studi doktoralnya. Tema tulisannya adalah gagasan para pelukis modern Indonesia yang berkarya sejak 1900 hingga 1995, mengenai seni rupa Indonesia, yang hendak merevisi asosiasi dunia barat bahwa seni di Indonesia bukan hanya sisa peninggalan Hindu Jawa. Buku ditulis dalam bahasa Belanda, dengan ringkasan berbahasa Inggris di bagian belakang. Terbit tahun 1998 di Amsterdam. Selengkapnya >>
————————————————————

** Asian Modernities Chinese and Thai Art Compared, 1980 To 1999
————————————————————
Buku ini ditulis John Clark dari penelitian primernya atas tulisan vernakular dan materi wawancara, saat meneliti jejak modernitas di Cina dan Thailand. Tulisannya mengungkap sudut pandang teoritis tentang genealogi modernitas dan dualisme antar globalisasi dengan identitas artistik transnasional di kedua wilayah tersebut. Berbahasa Inggris, terbit 2006 di Sydney. Selengkapnya >>

————————————————————

** Jeihan Sang Maestro, Pemikir, Penyair, Perupa
————————————————————
Buku ini ditulis oleh Jakob Sumardjo dan Mamannoor. Figur–figur manusia Jeihan Sukmantoro dalam lukisan memiliki ciri bermata hitam tajam, dengan simbol-simbol pewarnaan terang dan gelap. Buku ini juga memapaparkan perjalanan kehidupan Jeihan dalam proses belajar melalui pengamatan lingkungan, pergaulan, pemikiran, dan proses kreatif. Berbahasa Indonesia, 130 halaman, terbit 2015 atas prakarsa Jeihan Institute. Selengkapnya >>

————————————————————

** Ars Longa Vita Brevis
————————————————————
Katalog ini menampilkan karya-karya para perupa Indonesia yang berkiprah tahun 40-50an. Untuk pameran Ars Longa Vita Brevis (Seni Panjang Hidup Pendek), ditampilkan pula 41 karya di atas kertas berbagai ukuran. Dilengkapi tulisan dan ulasan para kritikus seperti Dan Soewarjono, Kusnadi, Basuki Resobowo, juga Laporan Seminar “Sejarah Seni Rupa Indonesia” di UGM tahun 1956. Diterbitkan 2011 oleh Bentara Budaya Yogyakarta. Selengkapnya >>

————————————————————

** // Outreach //
————————————————————

** Penerjemahan Dokumen Terpilih Seni Rupa Indonesia 1980an – 1990an
————————————————————
IVAA bekerjasama dengan SAM Fund dan Asia Art Archive menerjemahkan sejumlah dokumentasi seni rupa dari bahasa Indonesia menjadi bahasa Inggris. Dokumentasi teks yang diterjemahkan seluruhnya terkait lima perhelatan seni rupa terpilih yang berlangsung di Jakarta dan Yogyakarta sepanjang 1980an – 1990an. Selengkapnya >>

————————————————————

** Arsip Opini “Menggembosi Jogja”
————————————————————
Menggembosi Jogja adalah upaya IVAA mengamati kembali topik bahasan yang menghangat di Yogyakarta, khususnya mengenai isu keistimewaan. Melalui Menggembosi, kami hendak mengumpulkan sebanyak-banyaknya opini masyarakat yang tertampung di Internet, mewujud dalam aksi seni khususnya seni jalanan, dan opini yang muncul dalam forum tatap muka. Menggembosi adalah rintisan kegiatan membaca arsip yang dilakukan IVAA, untuk topik yang tidak secara langsung berkaitan dengan seni rupa.

————————————————————

** // RumahIVAA //
————————————————————

** ‘Lalu Lintas Pengetahuan Seni Rupa BDG-YK’, 9 April 2015
————————————————————
Acara ini bagian dari rangkaian Pameran ‘Karyawisata’ di Jogja Contemporary yang dikuratori Chabib Duto Hapsoro. ‘Karyawisata’ diikuti 6 perupa muda Bandung. Dalam program ini mereka masing-masing mengunjungi studio seniman pilihannya di Yogya. Seniman yang dikunjungi lantas dilibatkan sebagai referensi pembuatan karya. Selengkapnya >>

————————————————————

** ‘Annotation’, 27 April 2015
————————————————————
RumahIVAA menyelenggarakan sebuah diskusi terbuka bertajuk ‘ANNOTATION: Menerawang Ingatan, Gagasan, dan Kerja-kerja Pengarsipan, Seni dan Kebudayaan di Indonesia Kontemporer’. Diskusi ini ditujukan untuk menggali pertanyaan-pertanyaan dari wawasan, prediksi, dan spekulasi mengenai situasi seni rupa Indonesia selama 10 tahun terakhir. Selengkapnya >>

————————————————————

** ‘Membedah Alibasah Sentot Prawirodirjo’, 26 Juni 2015
————————————————————
Aji Prasetyo berbicara mengenai komiknya, ‘Harimau dari Madiun’. Komik ini menceritakan Sentot Prawirodirjo, panglima perang andalan Pangeran Diponegoro yang memutuskan bergabung dengan militer kerajaan Belanda. Ngobrol komik ini mengundang Kurnia H. Winata dan M. Hadid sebagai penanggap, dan dimoderatori Terra Bajraghosa. Kegiatan ini terselenggara dari kerjasama IVAA dengan Rumah Komik Museum dan Tanah Liat (MDTL).
Selengkapnya >>

————————————————————

** ‘Kelas Seni Protes’, 29-30 September 2015
————————————————————
Kegiatan ini bertujuan mengasah sensibilitas terhadap keadaan saat ini, kemudian mengajak berpikir perlukah untuk melakukan protes, siapa yang akan diprotes, serta bagaimana cara melakukan protes. Kelas berlangsung 2 hari, diampu 2 seniman yakni Iwan Wijono dan Arahmaiani. Selengkapnya >>

————————————————————

** ‘Taman Bertumbuh’, 9 Oktober 2015
————————————————————
Jogja Independent Residency Program (JIRP) kali ini bekerja sama dengan Ketjilbergerak untuk memfasilitasi residensi dua seniman-peneliti The Arts Factory (Hobart, Tasmania), yaitu Jorgen Doyle dan Hannah Ekin pada bulan Agustus hingga Oktober 2015. Proses mereka tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat di Kampung Ratmakan. Selengkapnya >>

————————————————————

** Kunjungan Europalia, 11 April 2015
————————————————————

Lihat galeri foto
————————————————————

** Kunjungan Friends of Museum Singapore, 17 April 2015
————————————————————

Lihat galeri foto
————————————————————

** Kunjungan Erudio School of Art, 5 Juni 2015
————————————————————

Lihat galeri foto
————————————————————

============================================================

Subscribe as KawanIVAA here / Jadilah KawanIVAA dengan mengisi formulir ini

Receive #KabarIVAA via e-mail by registering here / Daftarkan alamat e-mail Anda untuk menerima #KabarIVAA langsung di inbox e-mail, dengan mengisi formulir ini.

Hibah Penelitian Seni Visual 2015

Pendaftaran proposal Hibah Penelitian Seni Visual 2015 dibuka 20 Mei sampai 30 Juni 2015. IVAA kemudian menyerahkan 120 proposal yang lolos seleksi administrasi kepada Dewan Penilai. Ong Hari Wahyu, Dr. Wulan Dirgantoro dan Hendro Wiyanto, sebagai Dewan Penilai, memutuskan tiga pemenang hibah, yaitu Sudarmoko, Brigitta Isabella, dan Galuh Ambar Sasi. Saat tulisan ini disusun, ketiga peraih hibah sedang menyusun tulisan ilmiahnya, setelah mendapat masukan di “Pertemuan dengan Akademisi dan Narasumber Arsip”, pada 1 Oktober 2015. Dalam pertemuan, masing-masing peraih hibah menyampaikan perkembangan penelitiannya yang terdiri dari data yang telah diperoleh dan kesulitan yang dialami. Masukan diberikan oleh para undangan, yakni dosen, peneliti, kurator, dan praktisi seni. Tulisan ilmiah hasil dari penelitian dijadwalkan selesai akhir November 2015.

Sudarmoko – SEMI dan Gerakan Seni Rupa di Sumatera Barat
SEMI merupakan kepanjangan dari Seniman Muda Indonesia yaitu nama sebuah sanggar seni, khususnya seni rupa, yang berdiri di Bukittinggi pada awal tahun 1950an. Komunitas ini didirikan di masa yang dengan gerakan seniman muda Indonesia di berbagai daerah di Indonesia. Komunitas SEMI inilah yang sepertinya menjadi salah satu pelopor kegiatan dan perkembangan seni dan budaya di Sumatera Barat, dan karena itu penting untuk ditelusuri dan diteliti sejarah serta pengaruhnya dalam perjalan seni dan budaya di Sumatera Barat dan Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Sudarmoko ini menggunakan metode studi kepustakaan, khususnya dengan menelusuri tulisan-tulisan yang dimuat di majalah atau surat kabar, baik yang diterbitkan di Sumatera Barat dan terbitan lain di Indonesia, serta laporan-laporan program pemerintah, dan buletin SEMI sendiri. Semua itu untuk menyusun sejarah perkembangan seni rupa di Sumatera Barat pada masa awal kemerdekaan. Selain itu, ia juga akan menelusuri karya-karya para anggota komunitas SEMI untuk melengkapi deskripsi dan ilustrasi karya-karya yang dihasilkan. Wawancara dilakukan terhadap pelaku seni rupa, sejarawan, akademisi, dan pihak-pihak yang berkaitan dengan topik penelitian yang dilakukan.

Brigitta Isabella – Praktik Seni Rupa Seniman Indonesia-Tionghoa 1955-1965
Dalam abstraksi yang dikirim kepada panitia, Brigitta mengawali penelitiannya dengan sebuah pertanyaan: Adakah pengaruh persahabatan akrab antara seni Indonesia-Tionghoa bagi perumusan identitas seni rupa nasional yang modern? Studi pustaka awal menunjukkan belum banyak penelitian yang komprehensif yang dapat menjawab topik tersebut. Dalam mengumpulkan data-data baru, Brigitta memanfaatkan ketersediaan arsip terkait topik tersebut di beberapa institusi seperti Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan HB Jassin. Dari perpustakaan tersebut dapat diperoleh majalah dan jurnal seni era 50-an dan koleksi pribadi beberapa orang seperti kolektor atau pemilik galeri penggemar seni Indonesia-Tionghoa. Penelitian ini akan mengumpulkan, mengategorikan, dan memetakan arsip tentang praktik seni Indonesia-Tionghoa untuk menelusuri informasi mengenai : (1) seniman dan kelompok seniman yang memiliki peranan penting, (2) pameran-pameran yang pernah diadakan, (3) lalu lintas pertukaran pengetahuan dalam misi kebudayaan Indonesia-Tionghoa (4) karya-karya seni yang dibuat, dan (5) opini publik dan media massa.

Galuh Ambar Sasi – Konstruksi Perempuan Indonesia Masa Penjajahan Jepang (Studi Karikatur di Majalah dan Surat Kabar)
Berangkat dari penulisan sejarah Indonesia periode penjajahan Jepang yang datanya minim dan seringnya menggambarkan kekerasan serta penderitaan, Galuh Ambar Sasi menawarkan sebuah penelitian yang menjadikan karikatur dari berbagai majalah dan surat kabar di periode masa penjajahan Jepang tersebut menjadi sumber alternatif untuk memperkaya historiografi. Dengan membandingkan halaman karikatur/komik dengan pariwara di periode yang sama, serta wawancara lisan, Galuh menghasilkan empat temuan sementara : (1) modernisasi perempuan desa, (2) pemiskinan dan kemerosotan sosial perempuan yang dianggap sebagai kelas menengah selama rezim Belanda, (3) upaya Jepang menyusun ulang konstruksi gender supaya berbeda dengan rezim sebelumnya, (4) kebimbangan Jepang dalam menyusun ulang konstruksi gender.

Dokumentasi Foto Pertemuan Peraih Hibah Penelitian Seni Visual 2015 dan Narasumber Arsip, 1 Oktober 2015.

IVAA Circas: Translation of Exhibition Documentation of 1980s to 1990s Art Projects in Jakarta and Yogyakarta

1985_Proses-85_Katalog_Sampul
Cover for Catalogue of Environmental Exhibition Proses 85
Cover for Catalogue of Project I: Department Store Fantasy World
Cover for Catalogue of Project I: Department Store Fantasy World 1987
Cover for Tabloid of Binal Eksperimental Arts
Cover for Tabloid of Binal (Eksperimental Arts) 1992

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cover for Catalogue of the IX Jakarta Biennale 1993
Cover for Catalogue of the IX Jakarta Biennale 1993
Cover for Catalogue of Contemporary Art from Non Aligned Countries Exhibition
Cover for Catalogue of Contemporary Art from Non Aligned Countries Exhibition 1995

In the course of January to March 2015, IVAA had translated bahasa Indonesia documents to English. The documents are related to five art projects in the 1980s to 1990s. We worked with post-graduate students who studied in Yogyakarta, all are excellent speakers of bahasa Indonesia.

We are able to deliver this project with the kind donation from Natasha Sidharta and the SAM Funds for Art, while Asia Art Archive and Ontel Studio are our partner throughout the project. IVAA is currently in the phase of discussing with both parties to further serve the purpose of this project: observe the context of contemporary society in Suharto era through art projects, while at the same time develop methods to enhance practices of art research.

Documents are sourced from a never-ending collaboration on matters of archive with Dewan Kesenian Jakarta (Jakarta Arts Council), Hyphen, FX Harsono and Bonyong Munni Ardhie.

Credits to our beloved translators: Elly Kent, Katherine Bruhn, Colin Cahill, Angie Bexley, Megan Hewitt!

Below are few documents that are already uploaded to @rsipIVAA. Please subscribe to this post from the RSS as we continue to add finalized documents through links below.

All PDFs are downloadable for free.

Environmental Exhibition Proses 85 (Pameran Seni Rupa Lingkungan Proses 85)

Exhibition Catalogue

Project I: Department Store Fantasy World (Proyek I: Pasaraya Dunia Fantasi)

Exhibition Catalogue: A genealogy of modern Indonesian culture

Exhibition Catalogue: Essay by Emmanuel Subangun

Exhibition Catalogue: Essay by Soetjipto Wirsosardjono

Exhibition Catalogue: Essay by Jim Supangkat and Sanento Yuliman

Exhibition Catalogue: Manifesto of Indonesia’s New Art Movement (GSRBI)

Excerpt from Asikin Hasan’s Bachelor Thesis

GSRBI Book (1979): Essay by Siti Adiyati Subangun

Binal (Eksperimental Arts 1992)

About the Binal Eksperimental Art

Tabloid of Binal (Exhibition Report): Binal, a Prologue to be Discussed

Tabloid of Binal (Exhibition Report): Creative Rebellions