All posts by Azwar

Video: Warga Berdaya – Jogja Ora di Dol! oleh: Redot Ebe

Video yang diunggah oleh Redot Ebe pada tanggal 9 November 2014 menampilkan aksi dari warga berdaya dan beberapa seniman Yogyakarta untuk membersihkan sampah visual yang ada di Pojok Beteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso. lalu membuat mural “JOGJA ORA DIDOL!” sebagai aksi protes kepada banyaknya hotel-hotel dan apartemen bermunculan di Yogyakarta akhir-akhir ini.

Video: Jogja Ora Didol (Stop Motion AKINDO ADV 2012)

Stop motion adalah suatu teknik animasi untuk membuat objek yang dimanipulasi secara fisik agar terlihat bergerak sendiri. Setiap pergerakan dari objek tersebut difoto (frame individual), sehingga menciptakan ilusi gerakan ketika serangkaian frame dimainkan berurutan secara berkesinambungan. Dalam video stop motion yang diunggah oleh Dimas Nurendra R menampilkan tentang kondisi kota Yogyakarta yang makin sempit ditambah pula dengan bangunan- bangunan hotel besar, mall dan restoran fast food. Di akhir video tampak sekali Yogyakarta (yang diwakili gambar Tugu) mulai kehilangan identitasnya dan digantikan oleh bangunan- bangunan tersebut.

Dipublikasikan oleh Dimas Nurendra R pada tanggal 12 November 2014.

Video: Warga Berdaya- Jogja Asat

WARGA BERDAYA
JOGJA ASAT
JEMBATAN KEWEK YOGYAKARTA
1 OKTOBER 2014
JOGJA ASAT! merupakan sebuah karya aksi Warga Berdaya yang dikerjakan di sekitar Jembatan Kewek Yogyakarta untuk menyikapi kegelisahan warga kota yang kekeringan air sebagai dampak dari pembangunan hotel dan mall yang marak di Yogyakarta. Sebuah aksi penolakan warga kota terhadap pembangunan hotel dan mall melalui kerja seni jalanan yang membawa suara-suara keberdayaan warga terhadap pemerintah kota yang buta-tuli dan pemilik modal yang rakus.

JOGJA ASAT! merupakan bahasa perlawanan bersama warga Yogyakarta: tua-muda, kaya-miskin, pendatang-penetap, siapapun juga,… yang perduli terhadap maraknya pembangunan hotel dan mall yang gigantis dalam skala kota serta jelas-jelas mengingkari semangat Kota Yogyakarta yang organik. Dilihat dari sudut pandang pikiran yang waras dan berkeadilan sosial, pembangunan hotel dan mall jelas-jelas melanggar aturan tata kota dan mengingkari nilai keadilan, serta membawa dampak semakin menimbulkan kesenjangan sosial yang lebar. Keberadaan hotel dan mall tersebut menyedot sumber daya hidup warga kota di berbagai aspek, merampas kebutuhan dasar warga kota, terutama air. Warga kota yang tinggal di seputar hotel dan mall mengalami kekeringan sumur di musim kemarau, yang baru kali ini terjadi di sepanjang sejarah. Sebentar lagi, seluruh persediaan air Yogyakarta akan mengalami penyusutan dan anak-anak kita kelak tidak akan kebagian. Lingkungan kota kita sudah dan akan terus mengalami percepatan kerusakan secara luar biasa.

JOGJA ASAT! merupakan potret pembangunan kota yang kering-kerontang dari akal sehat tanpa kreativitas, yang diputuskan dari kepentingan sesaat mengejar pertumbuhan pendapatan daerah. Atas nama investasi dan pendapatan daerah, sebagian besar warga kota justru mengalami degradasi kehidupan sosial dan lingkungan alam yang semakin buruk. JOGJA ASAT! merupakan sebuah peringatan kepada Walikota, Bupati Kepala Daerah dan aparatus pemerintahan kota untuk mengembalikan mandat kepada warganya. Supaya mereka sungguh-sungguh bekerja bersama untuk mengelola pembangunan kota secara transparan, demokratis dan mempunyai keberpihakan yang jelas terhadap kesejahteraan orang banyak, serta berwawasan lingkungan.

JOGJA ASAT! merupakan sebuah rangkaian acara yang dikreasi oleh warga kota. Selama pengelolaan pembangunan kota mengingkari nilai kesejahteraan dan keadilan orang banyak, keberdayaan dan warga berdaya tetap akan selalu tumbuh dan berkembang. Kami ada dan akan terus berlipat ganda!
(*Teks dari release WARGA BERDAYA)
Cameramen: Dwi Rahmanto, Galuh Esti
Editor: Fakulti Khasanah
Video Courtesy of Indonesian Visual Art Archive
www.ivaa-online.org
2014

Dipublikasikan pada tanggal 6 Oktober 2014.

Video: Apa Kata Penggagas Festival Hariyadi?

Festival ini untuk memberikan tanda alert (bahaya) bahwa Kota Yogyakarta sudah tidak nyaman lagi. Kemacetan, sampah visual, Pembangunan Hotel- hotel besar yang kian menggusur keberlangsungan keberadaan hotel melati, dan sebagainya. Namun, Walikota orang yang bertanggungjawab terhadap kota ini sulit sekali untuk ditemui.

Wawancara dengan Agung Kurniawan, Penggagas “Festival Mencari Haryadi” memang singkat, namun cukup untuk mengenal festival ini. Festival ini memberikan inspirasi kepada semua orang untuk peduli dengan kotanya. kota yang ramah, kota yang manusiawi.

Dipublikasikan oleh: Tunjukan Aksimu! pada tanggal 30 Oktober 2013.

Video: Festival Seni Mencari Hariyadi- Suara Warga, Suara Kota

FESTIVAL SENI MENCARI HARYADI

Dalam rangka Festival Seni Mencari Haryadi (FSMH), Pengagas mengundang seluruh warga Kota Jogja untuk bersama-sama memanggil Haryadi Suyuti, Walikota Yogyakarta, untuk mendengarkan suara warga. Pesannya, agar Walikota lebih terbuka dan giat bekerja untuk warganya.

Kegiatan berjudul “Suara Warga, Suara Kota” atau vox populi vox polis ini berbentuk paduan suara. “Konsep artistiknya seperti anak kecil yang mengajak temannya untuk ke luar rumah,” jelas Agung Kurniawan, Art Director FSMH.

Minggu, 13 Oktober, pukul 16.30, di depan rumah dinas Walikota.

Berikut Lirik lagu yang dinyanyikan dalam rangka festival:

Mari Har ke Mari
marilah ke mari Har Har Har Har Haryadi
akulah di sini Har Har Har Har Haryadi
mari bergembira Har
bersama sama
hilangkan hati duka lara

*) boleh dua duaan
asal tetap di lingkaran
tapi awas jangan pergi berduaan Har
nenek bilang itu berbahaya Haaaaaaaarrrr

marilah ke mari Har Har Har Har Haryadi
dan kini menari Har Har Har Har Haryadi
mari bergembira Har
bersama sama Har
hilangkan hati duka lara

back to *) and fade

Didokumentasikan oleh: Dwi Rachmanto

Dipublikasikan pada tanggal 5 November 2013

Video: Diskusi Publik – Pergerakan: Warga Berdaya dan Yogyakarta yang Sumpek

PERGERAKAN: WARGA BERDAYA DAN YOGYAKARTA YANG SUMPEK

Hari Jumat, 10 Mei 2013 | Jam 16.00 — selesai
Rumah IVAA | Jalan Ireda Gang Hiperkes 188 A/B
Pembicara:
– Yoan Vallone — (Pegiat Sepeda)
– Elanto Wijoyono — (Pemerhati Warisan Budaya)
– Andrew Lumban Gaol — (Seniman Jalanan)
– Wawies Wisnu Wisdantio — (Arsitek)

Moderator: Yoshi Fajar Kresno Murti

Diskusi ini melihat pada perkembangan dan pembangunan pesat kota Jogja pada saat ini membawa dampak besar pada spesialisasi fungsi ruang publik. Penataan serta pengelolaan ruang publik menjadi titik sorotan untuk dapat menjaga dan mengembangkan integrasi fungsional ruang publik kota. Hal ini mengacu pada kegunaan ruang publik sebagai penghubung utama interaksi masyarakat kota dan juga menjadi cerminan budaya Kota Jogja. Penataan dan pengelolaan kota yang mengabaikan fungsi ruang publik akhirnya berdampak pada keresahan masyarakat yang perduli terhadap perkembangan kotanya. Diskusi ini akan mengangkat pergerakan yang dilakukan oleh “Warga Berdaya” untuk mengkritisasi kebijakan-kebijakan pemerintah dalam penataan dan pengelolaan ruang publik di Kota Jogja. “Warga Berdaya menuntut perawatan dan pengembangan infrastruktur yang terbengkalai dengan cara melakukan beberapa aksi langsung di ruang publik,”

Video: Serangan Umum Satu Maret, Rebut Ruang Kota Jogja!

Serangan Umum Satu Maret, Rebut Ruang Kota Jogja!

Video yang di-publish oleh Budi Laksono ini merekam salah satu aksi anak muda Jogja pada tanggal 1 maret 2013, dalam memprotes komersialisasi di Jembatan Kewek yang seharusnya sebagai ruang publik berubah menjadi tempat iklan. Peristiwa ini sekaligus menjadi peringatan 64 tahun silam, ketika pejuang menduduki Jembatan ini untuk menghadang penjajah dalam Serangan Oemoem Satoe Maret. Massa Berasal dari komunitas pesepeda, Street Artist dan pejalan kaki. Jembatan kereta api ini sejak tahun 2011 sudah masuk dalam potensi Heritage Kota Yogyakarta yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.