All posts by 188admin

[Sorotan Pustaka] Film Sejarah di Bawah Cengkeraman Penguasa

Judul Buku: Film, Ideologi, dan Militer
Penulis: Budi Irawanto
Penerbit: Warning Books & Jalan Baru
Cetakan: Kedua, Juli 2017
Tebal: xxxiii + 266
Ukuran: 13×19 Cm

Buku ini berisi kajian semiotik atas tiga ‘film sejarah’, yakni Enam Djam di Jogja (1951) yang diproduksi pada masa Orde Lama, Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar yang diproduksi di masa Orde Baru. Dalam bab awal buku ini, banyak mengulik teori-teori penelitian, metode ataupun cara pandang menggunakan kajian semiotik atas film, khususnya di Indonesia. Penulis juga mengulas teori film dari perspektif substansi film, yaitu film tidak lagi dimaknai sekadar sebagai karya seni, tetapi lebih sebagai praktik sosial serta komunikasi masa.

Buku ini menuturkan bahwa persebaran film pada 1900 dikuasai oleh Eropa dan Amerika. Industri film Barat itu kemudian melakukan ekspansi ke Indonesia pada 1920-an. Sementara pihak yang berwenang melakukan sensor atas film yang masuk ataupun yang diproduksi di Indonesia diatur oleh Belanda. Sistem sensor buatan penjajah ini bahkan dipakai sampai Indonesia merdeka.

Masa-masa awal perkembangan perfilman Indonesia banyak diproduksi oleh etnis Cina. Pada perkembangannya, terutama awal 1960, dua organisasi kebudayaan yang berafiliasi pada partai politik, memainkan peran penting dalam perjuangan dan ketegangan di dunia perfilman Indonesia. Yaitu antara LEKRA dan Manifes Kebudayaan.

Melalui film-film yang diklaim oleh penguasa sebagai film sejarah, keunggulan militer atas sipil sengaja diproduksi. Tiga film sejarah di atas dengan gamblang merepresantasikan keunggulan modus perjuangan bersenjata yang dilakukan oleh militer dibandingkan dengan modus perjuangan diplomasi yang dilakukan elit politik sipil.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

[Sorotan Pustaka] Memoar Menuju Masyarakat yang Lebih Baik

Judul Buku: Memoar Oei Hiem Hwie dari Pulau Buru sampai Medayu Agung
Penulis: Heru Kridianto (ed.)
Penerbit: PT. Wastu Lanas Grafika
Cetakan: Pertama, September 2015
Tebal: x + 258
Ukuran: 16,5 x 21,5 cm

Cerita atas peristiwa, tokoh yang berhubungan dengannya atau rekaman tentang pengalaman hidupnya yang bisa menjelma menjadi pelurusan sejarah ataupun sebagai sejarah, penting bagi sebuah negeri. Hal inilah yang tampak pada Memoar Oei Hiem Hwie dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung.

Oei Hiem Hwie Lahir 26 November 1935 walau dalam surat dokumentasi tertulis 26 Nop 1938, dilahirkan di Malang, Jawa Timur. Indonesia adalah negara dan kebangsaan yang diperolehnya secara susah payah dan getir. Oei Hiem Hwie memilih menjadi orang Indonesia meskipun ia adalah putra dari seorang papa kelahiran Nan An, Hokkian, Tiongkok.

Kenangan masa kanak-kanaknya di Kota Malang ketika zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan awal kemerdekaan Republik Indonesia. Menjalani zaman ini, bukan perkara mudah bagi seorang yang berasal dari kaum ‘minoritas’ Tionghoa. Kisah-kisah ini mengawali bagian pertama buku tersebut.

Bagian kedua memoar, Hwie yang sudah remaja mulai tumbuh kesadaran politiknya. Ia masuk ke dalam organisasi Baperki dan PPI (1965). Dua organisasi tersebut menjadi ‘rumah’ sekaligus alat untuk mewujudkan isi kepalanya tentang perjuangan menghilangkan diskriminasi, serta bagaimana berintegrasi dengan rakyat lainnya.

Oei Hiem Hwei juga sempat menjadi wartawan di harian Trompet Masjarakat. Aktivitasnya  sebagai wartawan Trompet Masjarakat terhenti berbarengan dengan pecahnya gerakan 1 Oktober 1965. Wartawan-wartawan pengurus PWI pun dipecat dan ditangkap dengan tuduhan sebagai pendukung G30S.

Tanggal 24 November 1965, Hwie ditangkap tentara dengan tuduhan sebagai anggota Baperki dan wartawan Trompet Masjarakat yang berhaluan Soekarnois. Ia ditahan di Kamp Gapsin, Batu. 12 Januari 1966, ia dipindah ke Penjara Lowak waru, Malang, Masuk Blok 10-11. Selama 1970-1978 ia menjadi tahanan politik di Pulau Buru.

Di pembuangan dan penjara ini, ia dipertemukan dengan Pramoedya Ananta Toer. Di masa akhir hukumannya, ia bertemu dengan Haji Masagung dan bekerja di perusahaannya setelah bebas.

Kita bisa belajar dari Pak Hwie bagaimana bisa bertahan hidup, bagaimana menjalani hidup setelah dibebaskan dari penahanan tanpa pengadilan di Pulau Buru, membangun kembali kehidupan pribadi dan sosialnya, serta bagaimana Pak Hwie berkontribusi pada pembangunan untuk menuju masyarakat yang lebih baik. Satu di antara upaya-upayanya adalah mendirikan Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.

BULETIN IVAA DWI BULANAN | SEPTEMBER-DESEMBER 2017

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi September-Desember 2017

EDISI KHUSUS PASCA FESTIVAL ARSIP
“SETELAH PERAYAAN”

Salam hangat, Pembaca. Pada purnama terakhir setiap tahunnya, Jogja selalu dirubung oleh acara-acara seni budaya yang semakin lama kian beragam dan tersebar di berbagai penjuru kota. Selain acara rutin tahunan, ada juga acara rutin dua tahunan, seperti Biennale Jogja yang tahun ini menyajikan tema “Age of Hope” di perhelatan yang ke XIV. Beberapa festival film juga secara rutin hadir di penghujung tahun, seperti JAFF dan Festival Film Dokumenter.

Pun demikian dengan acara musik seperti Ngayogjazz dan Pasar Keroncong di Kotagede. Belum lagi sebaran acara seni lainnya, baik berupa pameran seni rupa maupun pertunjukan yang berlangsung di berbagai ruang seni, rumah budaya, dan galeri. Seluruh acara itu seolah menandakan bahwa Jogja bergembira menutup tahun ini, juga riang menyambut tahun selanjutnya.

Di waktu yang sama, IVAA juga cukup padat dengan berbagai kewajiban akhir tahun, baik dari sisi kewajiban organisasi maupun program. Berbagai program sedang kami kerjakan saat ini, di antaranya ialah penyusunan buku Post-event Festival Arsip (Fest!Sip) serta Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Jilid II. Kegiatan kelembagaan yang terkait dengan penguatan organisasi dan visi IVAA, juga menjadi agenda penting yang tak dapat digeser.

Di keriuhan momen itulah, kami memutuskan untuk menghadirkan buletin ke ruang baca Anda dengan edisi khusus. Beberapa rubrik yang biasanya Anda temukan, sengaja kami sembunyikan sementara waktu. Hanya sementara. Sebab di antara paralel kegiatan, kami membutuhkan jeda, sebagaimana Anda butuh piknik di sela kesibukan. Tapi sayangnya, jeda itu bukan piknik bagi kami, melainkan menjadi ruang refleksi, baik untuk kerja IVAA secara keseluruhan maupun kerja IVAA dalam Festival Arsip.

Dalam konteks Festival Arsip misalnya, kami merasa perlu untuk memposisikan keberadaan IVAA sebagai lembaga arsip seni rupa yang sedang berupaya mengevaluasi dan berbenah diri. Festival Arsip ialah satu di antara cara-cara untuk memanen berbagai komentar dan masukan dari publiknya. Dua hal itu menjadi satu dasar dari serentetan titik pijak bagi kami untuk merumuskan arah IVAA di tahun-tahun mendatang. Berbagai penilaian yang muncul pada saat penyelenggaraan Festival Arsip tentu kami hargai sebagai bentuk apresiasi.

Sebagai salah satu acara yang menawarkan konten dan berupaya kerja secara kontekstual, tim Festival Arsip berikhitar untuk menjaga agar Fest!Sip dapat mencengkeram kuat dalam ingatan publik. Harapan kami sederhana. Kami ingin Fest!Sip IVAA diingat melalui kompilasi catatan kritisnya, karena kerja kebudayaan merupakan kerja bersama, kerja kolektif. Sehingga kekurangan dan “bolong”nya suatu acara kebudayaan bisa menjadi catatan bersama, sebab kerja kebudayaan akan terus bergulir dan berlanjut secara estafet.  

Semoga kita semua selalu diberi semangat kebersamaan dalam mewujudkan kerja kebudayaan yang kritis dan berorientasi pada kemanusiaan dan pengetahuan. Selamat menyambut tahun yang baru, selamat membaca dan berdinamika!

Lisistrata Lusandiana
Pimpinan Redaksi


Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Dwi Rachmanto

  • Biennale Jogja XIV: Merangkum Peristiwa Sosial dalam Peristiwa Seni
    Oleh: Rudi Rinaldi
  • MACAN di Antara Museum Seni di Indonesia
    Dari Grand Launching Musuem Macan
    Oleh: Dwi Rachmanto

Sorotan Arsip
Koleksi Arsip IVAA; Poster Peristiwa Seni 1987 – 2015
Oleh: Putri Alit Mranani

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa


Tim Redaksi Buletin IVAA Mei-Juni 2017
Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Sukma Smita ⚫ Penyunting: Fairuzul Mumtaz ⚫ Penulis: Santosa, Dwi Rahmanto, Putri Alit Mranani ⚫ Kontributor: Rudy Rinaldi  ⚫ Ilustrasi Sampul dan Desain Postcard Natal – Tahun Baru: Dwi Rachmanto ⚫ Tata Letak & Distribusi: Tiatira Saputri

Lokakarya #2 “Jogja Kota Acara”

 

 

 

 

 

 

Dibuka!
Pendaftaran lokakarya penulisan dan pengarsipan seni rupa #2 “Jogja Kota Acara”
Banyaknya acara seni budaya di sekitar kita tentu bukanlah hal baru. Membicarakan ragam tema, sebaran serta posisi strategisnya, kali ini memang bukan kesempatan pertama. Yang dimaksud ‘acara’ di konteks ini merupakan acara-acara yang terbuka untuk publik, yang secara umum sering disebut sebagai ruang seni budaya. Ajakan untuk membicarakan posisi ruang seni budaya di sini merupakan sebuah usaha untuk melakukan pembacaan bersama atas fenomena yang semakin marak dan jauh dari surut. Di atas itu, ini adalah upaya untuk menjaga daya reflektif dan kritis atas perkembangan yang terjadi di sekitar kita. Banyak elemen yang bisa dibahas dan diperdalam dari fenomena ini, mulai dari kaitannya dengan regulasi di tingkat provinsi dan pusat, kaitannya dengan wisata, juga kecenderungan estetiknya. Apakah peningkatan ruang seni-budaya secara kuantitas berbanding lurus dengan mutunya? Sejauh mana ruang seni budaya tersebut mampu menjadi ruang semai pemikiran yang mampu menyediakan cara dalam membincangkan persoalan masyarakat? Atau justru menjadi persoalan itu sendiri?

Persyaratan

  • Peserta berusia max. 35 tahun
  • Memiliki ketertarikan terhadap dunia seni dan budaya
  • Memiliki ketertarikan terhadap dunia penulisan, pengarsipan, dan penelitian
  • Mengirimkan CV dan satu esai terkait tema, 1000-1500 kata.
  • Pendaftar yang terpilih bersedia membayar biaya lokakarya sebesar Rp 150.000,-
  • Bersedia mengikuti seluruh rangkaian program lokakarya penulisan dan pengarsipan yang terdiri dari:
    2 minggu pelatihan (18 – 30 Desember 2017)
    2 minggu penulisan (1 -9 Januari 2018)
    di Yogyakarta.

Ketentuan Lain:

  • Pendaftaran dibuka sampai tanggal 10 Desember 2017 pukul 24.00 WIB. Berkas-berkas terkait dikirimkan ke lokakaryaarsip@gmail.com
  • 10 peserta terpilih akan dihubungi melalui surel dan diumumkan di website dan sosial media IVAA

 

Narahubung : Tiatira (0877-3821-0811)
lokakaryaarsip@gmail.com

Buletin IVAA Dwi Bulanan | Juli-Agustus 2017

Pengantar Redaksi
Buletin IVAA Dwi Bulanan Edisi Juli-Agustus 2017

EDISI KHUSUS FESTIVAL ARSIP “KUASA INGATAN”

Salam hangat bagi pembaca yang budiman. Memasuki bulan Juli-Agustus 2017 merupakan momen yang genting sekaligus mendebarkan. Pertama karena Festival Arsip yang sudah dipersiapkan beberapa bulan terakhir, kini sudah mulai hitung mundur. Festival ini akan dimulai 18 September s/d 1 Oktober 2017, dan bulan September sudah di depan mata. Kedua, memasuki bulan Juli berarti harus bersiap dengan kesibukan kota Jogja yang biasanya ramai perayaan dan kegiatan, baik berupa festival, pameran dan bahkan Biennale dan segala macam persiapannya. Selain itu, tim program IVAA bersama dengan sahabat IVAA (para alumni Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa jilid I) juga sedang menggagas rencana pelaksanaan lokakarya jilid II. Selain itu tentu saja pekerjaan harian tim arsip dan penyusunan pengembangan program untuk tahun mendatang juga tidak kami lupakan.

Atas dasar pertimbangan itulah, newsletter IVAA Juli-Agustus kali ini sengaja kami susun sebagai edisi khusus. Terdapat satu rubrik yang sengaja kami hilangkan di sini, yakni rubrik Baca Arsip, yang biasanya menyajikan suatu pembacaan atas tema tertentu, mengidentifikasi data yang bisa di dapat dari Arsip IVAA, melengkapinya jika dirasa kurang kemudian menyusunnya menjadi esai utuh dengan sedikit analitis. Rubrik tersebut sengaja kami hilangkan atas pertimbangan manajemen energi dan perhatian. Namun aktivitas yang terkait dengan pemilahan data dan upaya pembacaannya tidak begitu saja kami hilangkan dari kerja-kerja harian. Dalam persiapannya, tim Festival Arsip juga menyusun beberapa desain narasi dan karya yang didukung oleh kerja pendokumentasian, inventarisasi atau bahkan penyusunan sistem basis data baru.

Selain tim Festival Arsip yang berjibaku, kesibukan dan keceriaan Rumah IVAA juga tak luput akan kami bagikan di edisi ini. Aktivitas Rumah IVAA yang lebih banyak berlangsung di bulan Juli sudah kami siapkan juga sebagai sajian. Sementara di bulan Agustus hingga September kami akan mengurangi porsi kegiatan Rumah IVAA, selain yang masih berkaitan dengan persiapan Festival Arsip dan Biennale Jogja. Karena pada penyelenggaraan Biennale Jogja ke XIV kali ini, IVAA sedikit terlibat dalam persiapannya. Tim program IVAA mengambil peran dalam penyusunan dan pelaksanaan Biennale Forum. Selebihnya, aktivitas harian IVAA yang padat di tambah dengan berbagai ragam programnya, menjadi lebih berwarna dan berenergi karena kehadiran teman-teman magang. Bahkan newsletter yang sedang berada di hadapan kita ini merupakan hasil kerja dari magang IVAA yang kami percaya menjadi redaktur pelaksana. Terima Kasih banyak Martinus Danang atas kerja kerasnya.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan gelora yang besar dalam menderivasi mimpi menjadi pekerjaan harian. Selamat membaca!

Lisistrata Lusandiana
Pemimpin Redaksi


I. FestSip! “Kuasa Ingatan”

Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana, Galih Ristia

II. Kabar IVAA

Sorotan Dokumentasi
Oleh: Annisa Rachmatika, Dwi Rahmanto.

Sorotan Arsip
Menuju Festival Arsip: Cerita di Balik Lemari Arsip IVAA
Oleh: Melisa Angela

Sorotan Pustaka
Oleh: Santosa dan Martinus Danang Pratama Wicaksana

Agenda RumahIVAA
Oleh:  Anggie Noorida, Annisa Rachmatika, Artia L. Yohana, Era D.S.,


Tim Redaksi Buletin IVAA Juli-Agustus 2017
Pemimpin Redaksi: Lisistrata Lusandiana ⚫ Redaktur Pelaksana: Martinus Danang Pratama Wicaksana ⚫ Penyunting: Melisa Angela ⚫ Penulis: Dwi Rahmanto, Melisa Angela, Santosa ⚫Kontributor:  Anggie Noorida, Annisa Rachmatika, Artia L. Yohana,   Era D.S, Galih Ristia, Martinus Danang Pratama Wicaksana ⚫Ilustrasi Sampul: Nanda Putri  ⚫ Tata Letak & Distribusi: Tiatira Saputri

[Sorotan Pustaka] Soekarno: Biografi Politik

Penulis: Santosa

Judul: Sukarno: Biografi Politik
Penulis: Kapitsa M.S. & Maletin N.P.
Penerjemah: B. Soegiharto, Ph.D.
Editor: Bilven
Edisi bahasa Indonesia ini pertama kali diterbitkan oleh Ultimus
Cetakan 2, Juni 2017
xx + 396 hlm.; 14,5 x 20,5 cm
ISBN 978-602-8331-04-3

Nomor panggil IVAA Library: 900 Kap S

Nama Bung Karno mempunyai daya tarik tidak hanya di tanah air, namun juga di kalangan masyarakat internasional. Sejarah kehidupan beliau dalam buku ini diawali masa kanak-kanak Soekarno yang berasal dari kalangan bangsawan bawah, putra seorang muslim dan ibunya Hindu. Diberi nama Koesno, waktu kecil ia sakit-sakitan. Bapaknya mengira bahwa pemberian namanya tidak cocok maka namanya diubah menjadi Soekarno, yang berarti ksatria yang gagah perkasa dan baik. Di usia 12 tahun, anak ini sudah diakui sebagai pemimpin oleh kawan-kawan sebayanya.

Bung Karno sebagai pemimpin perjuangan untuk Indonesia Merdeka dalam buku ini digambarkan berbeda dari analisa-analisa barat, khususnya Belanda yang menuduh Soekarno berkolaborasi dengan Jepang. Para penulis justru memberikan gambaran bahwa itu adalah taktik Soekarno untuk menggunakan bala tentara Jepang dengan tujuan mengenyahkan Belanda dari Indonesia, ini sama saja dengan memintas jalan ke arah kemerdekaan. Bagaimana Soekarno menyatukan kekuatan politik, friksi-friksi Soekarno dengan Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan lainlain yang anti-kolonialisme dengan menggunakan konsep persatuan dalam menghadapi musuh utama, penjajahan Belanda.

Soekarno meletakkan ideologi Pancasila dalam pidatonya 1 Juni 1945. Prinsip Pancasila sebagai perjuangan anti-kolonial, anti imperialis, dan anti-kolonialisme dengan mewujudkan bangsa yang merdeka dan demokratis.

Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya dinilai melahirkan konsepsi yang memperkuat rezim otoriternya. Walau sebenarnya konsep ini muncul karena dorongan dari kekuatan-kekuatan politik yang ada waktu itu, baik kekuatan kanan maupun kiri. Dengan pertumbuhan sistem demokrasi terpimpin yang pada mulanya ditujukan untuk membatasi kekuatan kaum kanan (Masyumi, PSI, kaum militer kanan), akhirnya justru sedikit demi sedikit berubah ke arah sebaliknya. Dalam situasi ini kekuatan kaum kanan kemudian menjadi yang lebih cepat memobilisasi kekuatan politik ke pihaknya dengan menggunakan UU Keadaan Bahaya. UU yang telah meningkatkan peran militer dan penguasaan sektor negara yang dibentuk dari perusahaan asing yang telah dinasionalisasi, khususnya dengan alasan momok komunisme.

Disoroti juga tentang politik konfrontasi Bung Karno dalam menghadapi Malaysia, di mana Soekarno memutuskan Indonesia keluar dari PBB karena Malaysia telah diangkat sebagai anggota sementara PBB. Para penulis menjelaskan radikalnya politik luar negeri Soekarno dikarenakan kedekatannya dengan Peking. Ini berkaitan juga dengan pertentangan di dalam gerakan komunis Tiongkok, hingga Indonesia terseret masuk ke dalam pusarannya.

Mengenai peristiwa 30 September, dalam buku ini dianalisa bahwa ada dukungan masyarakat secara luas dalam peristiwa ini, khususnya di Jateng dan Jatim, dan dukungan dari kalangan militer (AL, AU, Polisi, dan sebagian AD), mereka mencoba merebut kekuasaan presiden dengan memberikan tekanan, intimidasi penggerakan massa dan demonstran, penggunaan mahasiswa dan pelajar (KAMI dan KAPPI) untuk turun ke jalan dengan dukungan dari AD, dan ini berlangsung hampir 3 tahun. Soekarno memang tidak menghendaki perang saudara walaupun jika mau ia mampu mengobarkannya. Soekarno mengeluarkan surat perintah “Supersemar” dan beliau menandaskan surat tersebut bukan pelimpahan kekuasaan negara, tetapi hanya merupakan tugas praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban.

Bung Karno pun sampai di akhir karir politik praktisnya, sebagai seorang profesional-revolusioner yang berjuang sendirian menghadapi keroyokan lawan-lawan politik lamanya yang kemudian melahirkan Orba.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

[Sorotan Pustaka] S. Sudjojono: Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya

Penulis: Martinus Danang Pratama Wicaksana (Pemagang IVAA)

Judul: S. Sudjojono: Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya
Penulis: S. Sudjojono
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Tebal: 304 hal
ISBN: 987-602-424-307-4

Nomor panggil IVAA Library: 709 Sud S

Kisahnya tidak hanya sebagai seorang pelukis saja tetapi dalam dunia politik mengantarkannya sebagai perwakilan PKI dalam anggota parlemen. Sayang kisah cintanya dengan Rose Pandanwangi membuat dirinya harus berpisah dengan PKI.

Sudjojono dikenal sebagai salah satu pelukis Indonesia yang namanya masih harum hingga kini. Meskipun sudah tiada namun keberadaannya sebagai pelukis Indonesia masih terasa hingga saat ini. Melalui lukisan-lukisannya yang hingga kini masih terpajang dengan rapi dalam bekas sanggarnya yang telah menjadi S. Sudjojono Center. Bahkan kini lewat autobografinya ini S. Sudjojono kembali hidup di tengah-tengah sejarah seni lukis Indonesia.

Sebagai seorang pelukis sekaligus politikus, karya-karya Sudjojono berbeda dari yang lain di masa itu. Di masa penjajahan Belanda minat pelukis Indonesia didominasi oleh tema-tema Mooi Indie, di mana mereka melukiskan keindahan alam Hindia Belanda.  Namun lain bagi seorang Sudjojono yang sama-sama hidup pada masa penjajahan Belanda, Sudjojono mengatakan ia anti terhadap tema-tema Mooi Indie. Kedekatan Sudjojono terhadap politik seperti kedekatannya dengan Soekarno dan Adam Malik membuat Sudjojono kemudian memiliki minat untuk menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia di dalam lukisan-lukisannya.

Kedekatan Sudjojono tidak hanya sebatas pada Soekarno dan Adam Malik saja tetapi juga dengan Ki Hadjar Dewantara yang kemudian mengantarkannya menjadi guru. Sebelum menjadi pelukis yang dikenal, Sudjojono merupakan seorang guru di Taman Siswa hingga mengantarkannya ke Rogojampi sebagai guru pembantu di desa terpencil di Banyuwangi itu (hlm 25).

Bagi Sudjojono pekerjaannya sebagai guru sangat diminatinya meskipun dia juga menyambinya dengan melukis. Hal ini tidak terlepas dari dua kata yang diucapkan langsung oleh Ki Hadjar Dewantara kepada Sudjojono “Djon, bekerjalah!” dua kata yang menjadi inspirasi Sudjojono dalam melakukan pekerjaannya sebagai guru (hlm 29). Dididik langsung di bawah arahan Ki Hadjar Dewantara di Taman Siswa ia pun terilhami bahwa pendidikan sangatlah penting bagi anak-anak.

Namun pada akhirnya Sudjojono tidak melanjutkan minatnya dalam bidang pendidikan melainkan memilih untuk berkonsentrasi pada minatnya sebagai pelukis. Pilihannya ini pun tak salah,  Sudjojono bersama teman-temannya berhasil mengadakan pameran lukisan oleh pelukis bangsa Indonesia tanpa campur tangan orang Belanda. Hal ini malahan mengejutkan banyak pihak bagi orang Belanda sendiri bahkan pameran mereka ditolak banyak pihak terutama orang Belanda.

Hal ini menimbulkan kebencian Sudjojono terhadap perlakuan pihak Belanda kepada pelukis-pelukis pribumi ini. Hingga suatu hari Sudjojono bersama teman-temannya mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Sebuah perkumpulan yang sama-sama menyuarakan kemerdekaan namun Persagi lewat lukisan. Sebuah perkumpulan yang sangat politis menyuarakan kemerdekaan mengingat nama perkumpulan tersebut memakai nama Indonesia yang cukup berani pada masa penjajahan Belanda.

Tidak hanya melalui Persagi saja, perjuangan Sudjojono berlanjut pada masa Jepang dengan keberadaan pusat kebudayaan yang dibentuk oleh Jepang. Jepang sangatlah pandai dalam menyuarakan propagandanya melalui kesenian (hlm 72). Bahkan beberapa seniman Persagi begitu pun Sudjojono tergabung secara langsung dalam pusat kebudayaan tersebut. Layaknya Poetera yang diisi oleh Soekarno dan kawan-kawan. Pusat kebudayaan yang dibuat Jepang dimanfaatkan Sudjojono untuk menyuarakan kemerdekaan.

Minat Sudjojono kepada politik juga mengantarkannya masuk ke dalam PKI. Bahkan mengantarkan Sudjojono ke dalam panggung politik yakni ke dalam anggota parlemen mewakili PKI. Namun, Sudjojono kemudian berpisah di tengah jalan dengan PKI karena perbedaan pendapat mengenai keberadaan Tuhan, posisi anggota partai dengan partai yang lain dan rasa cintanya terhadap Rose Pandanwangi yang kemudian menjadi istrinya (hlm 100).

Bagi Sudjojono hal yang paling krusial ketika dia harus berpisah jalan dengan PKI adalah kisah cintanya dengan Rose Pandanwangi. Sudjojono dan Rose telah sama-sama memiliki pasangan yang sah dan anak. Hal inilah yang ditentang oleh Aidit pemimpin PKI saat itu. Namun Sudjojono membalas perkataan Aidit “Tidak adakah rupanya dalam benak Das Kapital tentang cinta?” perkataan yang cukup berani yang dilontarkan Sudjojono kepada Aidit hingga membuat Sudjojono keluar dari PKI (hlm 104).

Setelah keluar dari PKI kemudian Sudjojono menikahi Rose Pandanwangi dan dimulailah petualangan mereka sebagai sepasang suami istri. Pasang surut kehidupan keluarga mereka terus dijalani bersama, apalagi kini Sudjojono tidak berpolitik lagi dan hanya fokus dengan profesinya sebagai pelukis. Bahkan gonjang-ganjing keluarga mereka ketika lukisan-lukisan Sudjojono tidak laku dipasaran akibat fitnahan yang berasal dari anggota PKI. Namun, mereka tetap sabar dan tetap semangat dalam mengarungi kehidupan keluarga mereka.

Bahkan kesabaran mereka mengantarkan Sudjojono kepada karya ciptanya yang besar yakni lukisan “Pertempuran Sultan Agung dan J.P. Coen” yang kini tersimpan baik di Museum Nasional Jakarta. Mahakarya Sudjojono ini menjadi sebuah karya terbaik Sudjojono yang bahkan diminati oleh para pemimpi  negara sahabat. Tidak hanya itu saja, Sudjojono juga sering mengadakan pameran lukisan yang langsung dikoordinir oleh Rose Pandanwangi.

Buku ini menceritakan dengan detail kisah perjalanan Sudjojono untuk menjadi pelukis yang dikenal hingga kini. Bahkan perjalanannya ini dia tulis sendiri. Ssesuatu hal yang sangat perlu diperhatikan lebih detail dalam memperlajari sejarah seni rupa Indonesia. Buku ini menjadi salah satu peninggalan Sudjojono yang akan terus hidup dalam sejarah seni rupa Indonesia, tidak hanya lukisan-lukisannya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

[Sorotan Pustaka] Kisah Mawar Pandanwangi

Penulis: Martinus Danang Pratama Wicaksana (Pemagang IVAA)

Judul:  Kisah Mawar Pandanwangi
Penulis: Sori Siregar & Tim S. Sudjojono Center
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Tebal:  68 hal
ISBN: 978-602-424-317-3

Nomor panggil IVAA Library: 709 Sir K

Kisah cintanya dengan Sudjojono membuat sosok perempuan ini menjadi inspirasi Sudjojono dalam setiap lukisannya.

Rose Pandanwangi begitulah nama panggungnya sebagai penyanyi seriosa kebanggaa Indonesia bahkan kebanggaan Soekarno sendiri. Nama awalnya adalah Rose namun kemudian hari ditambah Pandanwangi oleh Sudjojono dengan alasan bahwa Rose janganlah mendompleng nama Sudjojono untuk menjadi terkenal. Sudjojono ingin Rose dikenal dengan namanya sendiri bukan numpang ketenaran nama Sudjojono.

Rose dikenal sebagai penyanyi seriosa terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Namanya mulai bersinar ketika mengikuti Festival Pemuda di luar negeri mewakili Indonesia. Bahkan namanya juga tidak pernah absen dalam pagelaran bintang radio sehingga membuat dia terus-terusan menjadi langganan juara. Suaranya juga dipuji oleh Soekarno ketika diundang bernyanyi di istana “Apakah kalian dengar? Ini namanya bernyanyi” (hlm 48).

Sama dengan para seniman yang lainnya pada masa awal-awal kemerdekaan di mana kesenian sebagai alat untuk memperjuangkan kemerdekaan. Rose pun ketika awal kemerdekaan Indonesia juga turut memperjuangkan kemerdekaan lewat suaranya di kancah internasional yakni dalam Forum Pemuda. Hal inilah yang menarik bahwa ketika awal kemerdekaan, masyarakat Indonesia masih menenteng senjata mempertahankan kemerdekaan bagi Rose perjuangannya adalah lewat menyanyi.

Pencapaian Rose dalam seni suara membuat nama Indonesia dikenal oleh kalangan internasional. Tidak hanya itu tetapi nama Rose juga dikenal dalam dunia tarik suara secara internasional. Hal ini tidak terlepas dari latihan-latihannya yang keras dalam bernyanyi seriosa. Bakat seriosanya ketika itu berbeda dengan kebanyakan penyanyi lainnya. Suara seriosa Rose memiliki suara yang khas Indonesia begitulah yang dipuji oleh kebanyakan orang yang mendengarkannya.

Perjuangan Rose dalam mengenalkan Indonesia dalam kancah internasional juga mengantarkannya Rose dalam pertemuan pertama dengan Sudjojono. Ketika itu delegasi Indonesia yang juga terdapat Sudjojono berangkat ke Berlin untuk mengikuti festival kesenian. Pada saat itulah pertemuan pertama mereka secara tidak sengaja yakni ketika Rose meminta tanda tangan Sudjojono, namun ketika itu Rose masih belum mengenal siapa itu Sudjojono. Ketika meminta tanda tangan Sudjojono pulpen dari Rose tertinggal dan dibawa oleh Sudjojono. Inilah yang membuat mereka semakin lama semakin dekat.

Kedekatan Sudjojono dengan Rose ditentang banyak pihak salah satunya adalah PKI yang di mana Sudjojono adalah anggota partai tersebut bahkan menjadi wakil dalam dewan. Hal ini dikarenakan bahwa Rose dan Sudjojono sama-sama memiliki pasangan yang sah dan juga sama-sama memiliki anak. Mereka berdua berkeinginan untuk menikah dan menceraikan pasangannya.

Meskipun kisah cintanya banyak ditentang banyak orang, namun kisah cinta mereka mampu mengalahkannya. Meskipun cinta mereka yang menang akibat yang ditanggung pun cukup besar. Salah satunya adalah Sudjojono harus keluar dari PKI yang sebelumnya berbeda pendapat mengenai pilihan cinta Sudjojono. Sehingga Sudjojono harus menghidupi keluarganya hanya dengan mengandalkan profesinya sebagai pelukis (hlm 58).

Tidak hanya itu saja tetapi Sudjojono sampai difitnah oleh beberapa anggota PKI sehingga membuatnya harus kehilangan banyak pelanggan untuk melukis. Hal ini membuat Rose semakin marah atas fitnahan yang dilontarkan oleh anggota PKI. Bahkan Rose sampai harus menantang fitnahan PKI karena rasa cintanya terhadap Sudjojono.

Rasa cinta Rose yang besar terhadap Sudjojono pun juga terlihat ketika penangkapan simpatisan PKI setelah geger 1965. Rose tidak terima dengan penangkapan Sudjojono, hal ini dikarenakan bahwa Sudjojono sudah lama keluar dari PKI dan tidak tahu menahu dengan peristiwa 1965 itu. Sehingga Rose meminta Adam Malik teman dari Sudjojono yang masuk dalam pemerintahan untuk mencari tahu keberadaan Sudjojono. Tidak berselang lama Sudjojono pun kembali ke keluarga.

Rose menjadi salah satu inspirasi Sudjojono dalam melukis. Kadangkala Sudjojono melukis Rose dengan berbagai aktivitasnya ketika Sudjojono kesusahan dalam menuangkan ide-idenya itu. Tidak hanya itu bahkan Rose sampai menunggui Sudjojono ketika melukis bahkan sampai malam menjelang Rose dengan setia mendampingi Sudjojono.

Kisah cinta Sudjojono dengan Rose tergambarkan dengan baik dalam buku ini. Rose tidak hanya dikenal sebagai penyanyi seriosa terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Tetapi Rose juga sebagai inspirator bagi Sudjojono dalam segala karya-karyanya. Inilah sebuah kisah Rose yang mengantarkan Sudjojono hingga namanya menjadi harum semerbak.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Musrary Edisi ke-4: Arsip Berjalan Ingatan Kota

Penulis: Era D.S. (Peserta Magang IVAA)

Perpustakaan IVAA disulap oleh Izyudin “Bodhi” Abdussalam (Ruang Gulma) menjadi ruang seperti ruang teater, dia mengeset ruang perpustakaan IVAA dengan pernak-pernik lampu belajar sejumlah lima buah. Sebelum pertunjukan dimulai, ruangan dibuat sedemikian gelap sehingga panggung dan penataannya terlihat begitu anggun. Malam itu penonton memenuhi ruangan IVAA yang berkapasitas maksimal 80 orang itu sehingga terlihat penuh tetapi hangat dan sangat dekat dengan bibir panggung.

Malam itu panggung diisi oleh kelompok band bernama Kota dan Ingatan, mereka adalah Aditya Prasanda (pelafal teks), Addi Setyawan (bass), Indradi Yogatama (gitar), Maliq Adam (gitar), dan Alfin Satriani (drum). Sejak berdiri di tahun 2016 mereka berkali-kali menghiasi panggung musik Yogyakarta khususnya dan memberi pendekatan lain dengan musik dan lirik yang sangat berbeda. Mereka beberapa juga terlibat dalam sebuah gerakan seni dan sosial di Yogyakarta dengan membuat lirik mereka di beberapa lagu begitu lantang tetapi masih sangat puitis.

Penampilan Kota dan Ingatan dalam Musrary edisi ke-4 berlangsung selama satu jam dengan diselingi sesi tanya jawab. Aditya Prasanda dengan kumis uniknya membawakan sembilan lagu. Sesekali pria berkumis unik ini memegang mikrofon dengan kedua tangannya dan merem melek sepertinya terlihat sangat menghayati lagunya.

Proses bermain musik Kota dan Ingatan merupakan upaya mendokumentasikan. Kota dan Ingatan merekam apa yang terjadi di jalan-jalan, di tengah keramaian, di hiruk pikuk kota yang sesak dengan gedung tinggi, dan rencana-rencana tata kota yang berterbangan. Kejadian-kejadian yang begitu marak untuk ditulis, begitu banyak, begitu riuh. Hasil amatan tersebut kemudian dicatat dalam musik. Bermusik adalah mencatat, mencatat guna mengingat.

Di dalam konser mini tunggal mereka ini beberapa lagu masih dalam tahap perekaman dan akan dijadikan album mereka. Materi-materi Kota dan Ingatan beberapa sudah diluncurkan dan dibagi di sosial media, antara lain lagu-lagu yang berjudul Alur dan Peluru. “Alur” adalah sebuah catatan tentang kekerasan serta konflik horizontal yang akhir-akhir ini sering terjadi.

Kesempatan konser ini mereka maksimalkan dengan memberi visual yang digarap oleh Bodhi juga, dari lagu ke lagu visual ditampilkan secara bergantian dengan visual-visual seperti perkotaan dan sebagainya, yang diproyeksikan dalam ukuran besar di rak-rak buku perpustakaan sebagai latarnya.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.

Menuju Festival Arsip: Peluncuran dan Bedah Buku “JEJAK”

Oleh: Galih Ristia (Peserta Magang IVAA)

“Acara peluncuran buku Jejak ini adalah pre-event dari acara Festival Arsip. Festival Arsip digagas oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA) sebagai upaya membangun gerakan pengarsipan, sekaligus menegaskan posisi kita sebagai basis dari pengetahuan dunia melalui penguatan nilai kesejarahan, terutama sejarah seni rupa Indonesia,” ungkap salah satu peserta lokakarya yang menjadi pembawa acara peluncuran dan bedah buku Jejak ini.

Ruang IVAA dipenuhi oleh para peserta lokakarya, tamu undangan, dan peserta diskusi pada Jumat (11/8). Mereka berkumpul untuk berdiskusi membedah Buku Jejak. Acara ini dimoderatori oleh Lisistrata Lusandiana (IVAA). Dihadiri oleh Fairuzul Mumtaz dan Sita Magfira sebagai pembicara. Fairuzul Mumtaz adalah penulis dan editor. Pada lokakarya ini, Fairuzul Mumtaz bertugas sebagai editor. Sita Magfira adalah penulis dan sering terlibat pada kerja-kerja seni nasional dan internasional. Pada acara bedah buku ini ia sebagai penanggap dan pemantik diskusi.

“JEJAK: Seni dan Pernak-Pernik Dunia Nyata” merupakan kumpulan tulisan dari para peserta Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa yang berlangsung Mei-Juni 2017. Terdiri dari 11 penulis muda dengan berbagai latar belakang dan menghasilkan tema yang beragam pula. Untuk itulah, judul “Jejak” kemudian dipilih. Jejak disini juga dimaknai sebagai jejak pembelajaran.

Fairuzul Mumtaz dalam 30 menit berbicara mengenai proses pendampingan peserta lokakarya dari awal hingga akhir selama dua bulan. Dari 13 peserta, 11 peserta akhirnya lolos seleksi. “Peserta pada awalnya kebingungan mencari tema dan mau menulis apa. Peserta yang tidak pada bidangnya juga akhirnya menulis tidak berdasarkan data, tapi berdasarkan asumsi-asumsi yang ada”, ungkapnya. Dengan begitu, Fairuzul mengaku bahwa dalam proses lokakarya ini, ia sengaja menjadi editor “ganas” di hadapan para peserta. Hal ini sengaja dilakukan untuk membuat para peserta memiliki semangat menulis dan saling suportif di antara mereka.

Berbicara mengenai rentang waktu, yakni dua bulan untuk pelaksanaan lokakarya ini, Fairuzul dengan tegas mengatakan bahwa ia sering menolak tawaran kegiatan workshop atau lokakarya lain dengan jangka waktu yang pendek. “Workshop tidak cukup dengan waktu yang pendek, karena peserta butuh pendampingan,” ucap Fairuzul. Dua bulan untuk lokakarya kali ini menjadi ketertarikan sendiri, dikarenakan adanya nilai pendampingan yang musti diperhatikan pada setiap acara workshop atau lokakarya.

Hal tersebut juga diakui menarik oleh Sita Magfira. Tidak hanya rentang waktu, hal yang menarik bagi Sita ialah karena hasil proses akhir peserta lokakarya dibukukan dan hal semacam ini patut diapresiasi.

Sita ikut terlibat pada awal perumusan lokakarya. Ia memperhatikan bahwa pada awal lokakarya ini terdapat kata “seni rupa” yang disematkan dalam judul Lokakarya Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa. Namun, ketika melihat buku yang telah para peserta susun, bahasannya menjadi lebih meluas dan beragam, tidak hanya pada seni rupa, misalnya film. “Ini bisa terjadi karena peserta punya ketertarikan spesifik personal yang mungkin tidak baik jika dipaksakan. Atau mungkin juga bisa terjadi karena proses lokakaryanya yang tidak terlalu ketat, sehingga para peserta tidak dikondisikan khusus mendekati ‘seni rupa’ pada proses lokakarya ini,” kata Sita. Walau demikian, Sita mengaku dengan adanya bahasan tulisan yang meluas dan beragam membuatnya menjadi tahu hal-hal yang belum ia tahu, misalnya menemukan beberapa seniman yang menurutnya belum pernah ia dengar namanya. Hal ini menjadi wawasan tambahan bagi Sita ataupun calon pembaca lainnya.

Secara personal, pada pembahasan mengenai karya dan seniman, Sita menemukan beberapa tulisan mengenai alasan yang cukup tidak jelas mengapa para peserta mengangkat karya atau tema tersebut. Akan lebih menarik lagi jika peserta bisa menjelaskan pernyataan yang cukup jelas mengenai tema yang diangkat. Di beberapa tulisan lainnya, Sita juga mengaku tidak menemukan rumusan masalah atau persoalan, sehingga mengakibatkan fokus dari tulisan peserta menjadi kabur.

Lisis sebagai moderator kemudian menanyakan mengenai kritik Buku Jejak pada Fairuzul dan Sita. Fairuzul memberi kritik perihal rencana pembuatan buku dari tulisan peserta lokakarya, ada baiknya apabila rencana ini diinformasikan kepada para peserta di awal masuk lokakarya. Fairuzul yakin, dengan demikian akan semakin memancing semangat peserta untuk berlomba menulis lebih bagus, sehingga mereka memiliki gairah menulis yang tinggi. Sita melanjutkan dengan menyarankan proses lokakarya ini ada baiknya ketika para peserta mengirimkan esai, mereka juga diminta untuk mengirimkan proposal tulisan yang akan ia hasilkan dari proses lokakarya, sehingga peserta memiliki bayangan akan menulis apa yang sesuai dengan tema. Sita juga mengkritik mengenai materi lokakarya yang dirasa tumpang tindih, khususnya pada judul “Penulisan dan Pengarsipan Seni Rupa.” Sita menanyakan apakah peserta akan dibekali praktik ataukah wacana. Jikalau keduanya, bagaimana agar hal tersebut tidak jadi hal yang melelahkan bagi peserta.

“Buku Jejak ini akan dijual dengan harga promo 75.000 rupiah. Hasil penjualan ini akan digunakan untuk menyelenggarakan lokakarya selanjutnya,” papar Lisis memberi jeda setelah diskusi. Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap karya tulis peserta lokakarya, membeli Buku Jejak sama halnya dengan berusaha memperkaya diri. Fairuzul menegaskan bahwasannya buku ini menjadi salah satu sumbangan para peserta bagi perkembangan seni rupa dalam perspektif personal yang sebelumnya dikenal menjadi sebaiknya dikenal. Sita dengan mantap menjawab jika buku ini tidak dibaca, tentunya calon pembaca tidak akan tahu bagaimana generasi muda memandang medan seni atau hal visual lainnya yang terjadi pada hari ini.

Terakhir, acara dilanjutkan dengan penandatanganan 11 peserta lokakarya pada Buku Jejak. Kemudian diakhiri dengan pemotongan tumpeng oleh Dewan Penasihat IVAA, Yustina Neni, serta doa yang dipimpin oleh Fairuzul Mumtaz.

“Berpikir jauh itu harus ada yang pertama. Jadikan sesuatu itu untuk menjadi yang pertama,” pesan Neni ketika menutup pengantarnya. Sesuatu yang pertama salah satunya telah terwujud pada pembuatan Buku Jejak yang kini telah diresmikan, sekaligus menjadi penanda satu langkah lebih dekat menuju Festival Arsip “Kuasa Ingatan”.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.