Tegur Sapa untuk Pak Warno

Judul : KURATORIAL Hulu Hilir Ekosistem Seni
Penulis : Suwarno Wisetrotomo
Editor : Desy Novita Sari
Penerbit : Penerbit Nyala
Tahun terbit : 2020
Resensi oleh : Krisnawan Wisnu Adi

Saya belum pernah menjadi murid Suwarno Wisetrotomo. Tapi ketika baca buku ini, saya merasa sejenak ikut kelas Pak Warno untuk mata kuliah Kuratorial, jurusan Tata Kelola Seni. Bagaimana tidak, buku ini berisi kumpulan penjelasan tentang kuratorial, mulai dari apa itu kurator, bagaimana kerjanya, hingga kiat sukses menghadapi kritik. Sangat cocok untuk siapa saja yang baru pertama kali tahu istilah kurator dan ingin mengenalnya lebih jauh. 

Apa saja isinya? Saya tidak akan mengulas semuanya. Kalau ingin tahu detailnya, silakan beli buku ini. Cukup dengan 70 ribu rupiah, teman-teman bisa mendapatkannya di IVAA Shop. Oleh karena itu, tulisan ini lebih merupakan tegur sapa saya sebagai pembaca atas isi buku, seperti yang diharapkan Pak Warno melalui Pengantar-nya. 

Buku ini dibagi ke dalam 6 bab: “Kurator dan Tata Kelola Seni”, “Seni dan Ekosistemnya”, “Kurator dan Produknya”, “Kurasi dan Pendekatannya”, “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”, serta “Kurator dan Masa Depannya”. Pada bab “Kurator dan Tata Kelola Seni”, Pak Warno begitu menekankan pentingnya merumuskan tata kelola seni ala Indonesia. Urgensinya adalah ketika tata kelola seni modern semakin meminggirkan praktik-praktik gotong royong, yang menurut beliau menjadi basis penting model tata kelola seni kita. Sejak dari bab ini, saya sudah lumayan ragu dengan gagasan itu. Jangan-jangan tata kelola seni ‘gotong royong’ yang dibayangkan tidak bisa jauh dari kontrak sosial, sebuah konsep klasik tentang dasar pembentukan komunitas politik modern. Keraguan ini sebenarnya berkaitan dengan apa yang disampaikan di Pengantar; bahwa penting melihat dengan saksama praktik tata kelola seni model ‘kita’, dengan mengedepankan profesionalitas, efektivitas, efisiensi, transparansi, dan tanggung jawab. Jelas itu semua atribut modern. 

Lanjut pada bab “Seni dan Ekosistemnya”, Pak Warno banyak menulis tentang perbedaan seni modern dan kontemporer. Ia juga menekankan pentingnya tata kelola seni yang mumpuni, seiring dengan perkembangan ekosistem kesenian yang makin beragam juga kepentingannya. Tak luput juga secara khusus mengulas kritik seni. Bahwa sekarang medan seni lebih suka menghindari perdebatan. Para perupa cenderung tidak membaca kritik seni, dan akhirnya kritik seni sepi peminat. 

Dalam hal atribut identitas, mungkin memang tidak banyak atau belum ada yang mendaku diri sebagai kritikus seni. Tapi dalam hal praktik, saya kira aktor-aktor medan seni cukup gemar berkritik ria. Hanya saja, kadang sulit membedakan mana yang kritik seni, mana yang kritik populer. Yang kedua bisa disebut sebagai penghalusan dari praktik nyinyir cum sentimen personal. 

Pak Warno menganalogikan kurator itu seperti konduktor dalam sebuah orkestra. Layaknya konduktor, kurator adalah ujung tombak sebuah pameran atau pertunjukan seni. Karena itu, kurator harus memenuhi standar ideal. Paparan ini begitu nampak pada bab “Kurator dan Produknya”, “Kurasi dan Pendekatannya”, serta “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”. Apa saja syarat menjadi seorang kurator, bagaimana bentuk ideal produknya, serta langkah-langkah menyusun pameran, semua dibahas di sini. 

Sangat modern, profesional dan formal nampaknya menjadi impresi yang saya dapat dari paparan tersebut. Misal, pada bab “Kurasi sebagai Praktik Tata Kelola”, ada beberapa indikator untuk keberhasilan suatu perhelatan seni. Mulai dari jumlah pengunjung, jumlah liputan media massa, polemik yang muncul, serta serapan pasar (jika memang komersil). Cukup kontradiktif dengan gagasan awal, bahwa buku ini dimaksudkan sebagai bagian dari upaya merumuskan tata kelola seni yang Indonesia banget (baca: Indonesia yang alamiah), tidak jauh dari konsep dan praktik gotong royong. Saya justru membayangkan, anggota tim manajemen yang bebas dari kambuhnya asam lambung selama proses kreatif, juga indikator keberhasilan yang penting. 

Meski demikian, saya setuju dengan pernyataan beliau tentang manajemen konflik pada bab “Kurasi dan Pendekatannya”. Utamanya konflik ketika menghadapi kebobrokan anggota tim manajemen yang meraih keuntungan pribadi di tikungan proses, serta ketika menghadapi segala bentuk kritik. Kita tahu, bahwa perhelatan seni-budaya sudah umum menjadi rutinitas untuk mengawinkan kepentingan serapan anggaran serta komodifikasi sana-sini, banyak mafia bertopeng pegiat seni yang siap menikung. “Langkah terbaik adalah tim manajemen mendepak dari tim kerja, karena akan merusak tatanan dan tujuan.” 

Soal bagaimana kurator menghadapi kritik atas suatu perhelatan, ada satu hal yang saya rasa luput. Memang, “jangan grogi dan hiraukan kritik bernada sentimen personal” menjadi pesan beliau. Tapi pesan itu secara khusus dirancang untuk menghadapi kritik yang dilemparkan melalui kanal-kanal formal seperti media massa atau forum diskusi. Bagaimana dengan kritik nyinyir netizen? Menurut saya ini penting, karena tentu banyak calon kurator muda generasi kini yang semakin sering menjumpai modus kritik demikian. Tidak semudah itu diabaikan seperti saran Pak Warno. Model manajemen konfliknya berbeda. Tidak lucu kalau mereka jadi depresi, sakit mental, amit-amit bunuh diri karena urusan seni-senian.

Pak Warno menutup buku ini dengan bab “Kurator dan Masa Depannya”. Kalau ditilik dari sub judul buku, “Hulu Hilir Ekosistem Seni”, saya membayangkan bahwa bab terakhir akan cenderung berarus tenang dan tak banyak bebatuan besar. Layaknya hilir sungai sebelum menuju ke laut lepas. Tapi ternyata tidak. Beliau justru memilih melemparkan perahunya ke samudera. Wabah Covid-19 menjadi ombak-ombak besarnya sekaligus titik perubahan tata kelola seni. Kurator harus menyesuaikan diri. 

Sebagai pembaca yang juga belum lama mengenal istilah kurator, saya jadi makin ragu dengan berbagai materi kuliah Kuratorial dan wejangan-wejangan Pak Warno dalam buku ini. Tapi saya, dan mungkin teman-teman sekalian, perlu untuk membaca buku beliau selanjutnya, Ombak Perubahan: Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan. Barangkali ada cerita menarik tentang bagaimana perahu kuratorial menerka gelombang samudera. 

Sekian tegur sapa dari saya. 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.