Cek Ombak (Perubahan)

Judul Buku : Ombak Perubahan: Problem Sekitar Seni dan Kritik Kebudayaan
Penulis : Suwarno Wisestrotomo
Penerbit : Nyala
Tahun Terbit : 2020
Resensi oleh : Sukma Smita

Perubahan, satu kata yang sungguh populer beberapa dekade belakangan. Reformasi 1998 menandai perubahan sistem pemerintahan Indonesia. Perkembangan teknologi turut mendorong perubahan perilaku hidup masyarakat. Termasuk digunakannya kembali istilah Revolusi Mental oleh pemerintah saat ini, seturut diikuti jargon Revolusi Teknologi, Reformasi Birokrasi dan sebagainya. Hingga hari ini, wabah Covid-19 ikut mendongkrak popularitas diksi ‘perubahan’ pada level tertinggi. Bulan demi bulan sepanjang tahun 2020 tidak dilalui dengan hal yang bisa dikatakan sebagai rutinitas. Semua orang harus berjaga-jaga untuk memulai hal baru. Selalu bersiap untuk beradaptasi pada tata kebiasaan yang sewaktu-waktu berubah. 

“Ombak Perubahan”, adalah judul utama buku. “Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan” lalu menggenapinya sebagai sub judul buku karya Suwarno Wisetrotomo ini. Pada bagian sampulnya, ada lukisan Entang Wiharso, yang dalam pengantar buku dituliskan bahwa karya tersebut mampu mengilustrasikan situasi saat ini yang penuh gejolak, mampu menggarisbawahi berbagai gelombang yang bergulung-gulung di sekitar dunia seni dan budaya hari ini.

——

Suwarno mengilustrasikan situasi seni dan budaya kita sebagai laut lepas, samudra yang tidak lepas dari berbagai ombak dan badai. Buku ini bermula dari obsesi Suwarno untuk melanjutkan diskusi pidato orasi yang disampaikan dalam Dies Natalis ISI Yogyakarta. Dengan huruf tebal, ia juga menyebut bahwa orasi tersebut diwarnai dengan spirit mencambuk atau secara sarkastis dibilang menghardik para dosen dan generasi muda. Bermula dari orasi, diteruskan menjadi buku yang dibagi dalam beberapa judul-judul pembahasan.

Memasuki halaman buku, pada bagian pengantar dan prolog saya merasa sedikit terasing. Buku ini merupakan bukti cinta kepada seluruh warga ISI Yogyakarta, begitu Suwarno menuliskannya. Dari dua sub bab tersebut, saya sempat merasa bahwa sebagai orang yang hanya berteman dengan mahasiswa ISI Yogyakarta, tidak ada rasa cinta yang ditujukan pada saya. Tapi saya putuskan tetap melanjutkan ke halaman berikutnya untuk mencari tahu lebih jauh, dan cek ombak dulu sebelum lebih jauh menyimpulkan atau baper.

Sesuai pembabakan judul, Bab I: Zaman Bergerak, adalah cerita panjang tentang bagaimana dunia dan peradaban manusia selalu bergerak, bergeser dan berubah yang kemudian memunculkan disrupsi. Suwarno mengutip dari buku Rhenald Kasali bahwa disrupsi adalah sebuah inovasi yang menggantikan sistem lama. Ia menghasilkan suatu kebaruan yang lebih efisien dan efektif namun juga bersifat kreatif dan destruktif. Dari kutipan tersebut, Suwarno melanjutkan dalam paragraf`-paragraf berikutnya bahwa berbagai kemajuan menunjukkan sisi ironisnya, karena disertai hasrat dan ketamakan. Ia menyebut bahwa para pengguna berbagai kemajuan teknologi digital hari ini berada dalam posisi rentan dan cepat atau lambat akan menjadi korban.

Dari bab pertama, saya membayangkan rasa cinta seperti apa yang dimaksud Suwarno di awal tulisan. Kurang lebih seperti rasa khawatir orang tua pada anak remajanya yang selalu asik sendiri dengan gawai dan berbagai aplikasinya. Kemudian pada bab kedua, saya melihat banyak pernyataan asumtif dengan mengedepankan subjektivitas perspektifnya. Suwarno menyebut berbagai perubahan hari ini berjalan beriringan dengan sejumlah ironi serta paradoks. Situasi tersebut menurutnya terjadi karena rendahnya literasi, minat baca dan miskinnya nalar masyarakat kita. Dipaparkan pula berbagai tulisan dan artikel ilmiah tentang brutalitas dunia maya dalam era post truth yang kerap menjerembabkan warganet dalam kubangan hoax maupun fake news. Bab ini diakhiri dengan pertanyaan, apa yang bisa dilakukan oleh seni dan dunia pendidikan (tinggi) seni? Apakah fungsi dan posisi seni atau karya seni hari ini? Hingga apa yang bisa kita pikir dan lakukan terkait dengan organisasi, kepemimpinan, gerak dan kritik kebudayaan? Rangkaian pertanyaan tersebut menarik saya untuk mulai sedikit demi sedikit berenang dan menyelami buku ini setelah cek-cek ombak di pengantar dan prolog buku. 

Bab ketiga buku ini seolah berisi pendalaman atas rasa cinta dan kedekatan Suwarno pada dunia pendidikan tinggi seni. Suwarno memulai dengan pertanyaan tentang situasi dunia pendidikan seni hari ini. Bahwa pendidikan tinggi seni hari ini berhadapan dengan ragam realitas. Secara runut dipaparkan, berangkat dari pemikiran tentang seni interdisiplin, multidisiplin dan transdisipliner, sesungguhnya seni adalah sains. Dua hal tersebut tidak terpisah. Ini bisa diartikan bahwa penciptaan seni merupakan implementasi pengetahuan. Dari runutan tersebut, dilanjutkan dengan pertanyaan tentang kesiapan pendidikan seni hari ini pada perubahan. Beberapa paragraf menerangkan tentang terobosan yang harus dilakukan dunia pendidikan seni. Kemudian dilanjutkan dengan kritik pada situasi birokrasi dunia pendidikan, salah satunya tentang pimpinan yang alergi terhadap kata terobosan. Paragraf-paragraf berikutnya menuliskan 3 poin asumsi atas situasi mental tenaga pendidik, diikuti serangkaian nasehat dan saran.

Pada bab keempat Suwarno memaparkan satu klaim bahwa komik dan animasi merupakan dua ekspresi seni yang mampu mengikuti perkembangan teknologi. Komik dianggap berada dalam puncak piramida influencer bagi khalayak muda hari ini. Berbagai komik dan animasi yang mudah didistribusikan melalui platform digital mampu mengekspresikan dan mengampanyekan pesan-pesan sosial untuk kawula muda. Bab-bab berikutnya berisi uraian pentingnya positioning bagi seorang seniman. Bahwa berkesenian selayaknya memiliki kesadaran memihak: ‘ke atas atau ke bawah’. Ketika para pegiat seni telah memutuskan keberpihakannya, itulah yang menggerakan praktik berkesenian. Pentingnya keberpihakan ini diulas lebih jauh pada bab terakhir dengan mencontohkan beberapa nama kelompok seni dan seniman yang memiliki titik pijak mantap dalam praktiknya dan tergolong dalam kategori ‘seni menggerakkan’. 

——

Suwarno menyatakan bahwa buku ini merupakan upayanya untuk memaparkan realitas hari ini dengan analogi lautan lepas. Situasi hari ini bagaikan gelombang lautan, pasang surut, tidak pernah stabil dan selalu bergantung pada besaran dan arah angin. Ia juga menyebut bahwa buku ini adalah bentuk perhatian atau catatan atas fenomena mutakhir, mulai dari merebaknya pandemi Covid 19 serta pembahasan ulang perkara pergeseran dan perubahan ketimbang perkara kemajuan. Sejak halaman-halaman awal, saya sudah sedikit banyak dapat menangkap perubahan seperti apa yang dimaksud Suwarno, tentang bagaimana pandemi menjungkirbalikan laku dan tata kehidupan kita hari ini. Namun ketika menggunakan laut lepas sebagai analogi, bagi saya laut lepas dan samudra lebih dari badai dan gelombang ombak yang bergulung tinggi. Laut juga berisi beragam kekayaan biota, pemandangan indah, angin yang menyegarkan dan berbagai hal menyenangkan lainnya. “Laut yang tenang tidak melahirkan pelaut yang tangguh”. Saya menemukan pepatah tersebut suatu hari melalui cuitan di Twitter. Tidak tahu siapa yang menciptakannya, saya  langsung merasa ‘pas’ saja. Pepatah tersebut tentu bisa menjadi perspektif lain atas situasi penuh gelombang besar hari ini. 

Dengan sub judul buku Problem Sekitar Fungsi Seni dan Kritik Kebudayaan, sebenarnya cukup samar untuk bisa menangkap permasalahan pada praktik seni-budaya yang dimaksud. Kritik memang banyak ditujukan untuk dunia pendidikan seni dan seluruh elemennya, namun ini pun tidak banyak dielaborasi. Perubahan praktik dan pertanyaan tentang fungsi seni juga lebih banyak dijabarkan melalui pendapat. Memuat nasehat maupun arahan tentang seperti apa seharusnya seni bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Di satu sisi, saya sepakat bahwa beberapa nama pelaku yang disebut memang dapat digolongkan sebagai seni menggerakkan. 

Selain kata perubahan yang tentu bertebaran dalam buku ini, setidaknya kata milenial disebut lebih dari 6 halaman. Milenial merujuk pada pengertian umum atas kata ini, yaitu generasi hari ini, pemuda, seniman muda, mahasiswa dan lain sebagainya. Dalam pendapat pribadi saya, buku ini memposisikan generasi milenial seni sebagai generasi beruntung karena lahir di era yang serba dimudahkan oleh teknologi, memiliki kuasa penuh atas akses informasi namun tidak begitu peka sejarah, sembrono dan memerlukan dukungan institusi pendidikan tinggi (seni) agar tidak terjerembab dan menjadi korban kemajuan teknologi. Di sini Suwarno seolah melihat pergeseran dan perubahan hari ini terutama kaitannya dengan teknologi seperti sebuah palung laut, tampak aman untuk direnangi namun membahayakan, menjebak dan menenggelamkan. 

Kembali pada pepatah yang saya temukan di Twitter. Mungkin kita bisa melihat segala perubahan hari ini, mulai dari tata kehidupan yang dijungkir balikan oleh virus, cepatnya kemajuan teknologi seiring dengan perubahan perilaku dan praktik seni generasi milenial dan generasi Z melalui perspektif yang lain. Bagi saya beberapa pernyataan Suwarno dalam buku ini sedikit terburu-buru, klise dan seperti yang telah saya sebut sebelumnya, subjektif. Melihat pergerakan, perkembangan dan perubahan hari ini, seharusnya tidak bisa lepas dari ragam eksperimentasi dan siasat generasi muda tersebut untuk bertahan pada gelombang tinggi perubahan melalui teknologi. Kita bisa menyebut beberapa nama populer seperti Greta Thunberg atau Malala Yousafzai. Atau lebih dekat dalam skena seni budaya, kelompok seni yang berisi anak zaman now, yang juga memiliki prestasi dan karya besar, tersebar di seluruh Indonesia. Taruhlah para pelaku seni seperti Ketjilbergerak, HONF, Piring Tirbing, Tromarama, Milisi Film atau Ipeh Nur yang karya-karyanya selalu kritis berangkat dari kegelisahan personal, mengambil banyak sumber sejarah namun tetap kontekstual dengan situasi hari ini. Kritikan atau komentar atas situasi sosial politik budaya hari ini juga banyak dilontarkan melalui meme di sosial media, karya audio visual di YouTube hingga aplikasi TikTok.

Saya sebenarnya membayangkan buku ini memberi penawaran dan cara pandang lain dalam melihat dan menikmati lautan luas. Generasi milenial dan generasi Z, di luar segala hardikan dari generasi sebelumnya, memiliki tantangan hidup yang jauh lebih kompleks. Mulai dari minimnya ruang hidup karena okupasi industri, sampai harus berhadapan dengan berbagai kerentanan kesehatan mental, eksploitasi kerja dunia kreatif, dan lain sebagainya. Bagi saya risiko bahaya atas perubahan situasi hidup dan perkembangan teknologi hari ini bukan hanya mengancam generasi muda, namun semua orang yang menggunakan teknologi, lintas generasi. Perubahan situasi hidup kita hari ini berjalan lurus dengan segala inovasi teknologi yang juga beriringan dengan adaptasi dan siasat hidup. 

Sampai kapanpun situasi sosial politik budaya dalam lautan kehidupan kita akan terus bergerak dan berubah. Generasi hari ini adalah yang turut berinovasi pada teknologi hingga memaksimalkannya dalam kehidupan keseharian, maupun sebagai medium praktik seni. Justru inilah bentuk nyata menyiasati jaman. Kita tidak harus bergantung dan pasrah saja pada pasang surut laut. Kita bisa menurunkan layar dan jangkar untuk tak terombang-ambing angin dan badai-badai, bertahan dari gelombang besar dengan meningkatkan sistem aerodinamis kapal, dan berbagai kendali siasat yang lain. Entah dengan berenang, berselancar, menyelam atau bahkan hanya diam menikmati pemandangan laut di senja hari juga merupakan bentuk penyesuaian. Memang, untuk memilih dan menyiasati cara mengarungi lautan lepas kehidupan kiwari, harus dengan cek-cek ombak dulu.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2020.