Andalkan Arsip dan Solidaritas, Seni Tradisi Bertahan

oleh Dian Putri Ramadhani

Gedung berlantai dua di Jalan Kabel Pendek No.6 itu tampak sepi. Ratusan bangku berjejer menatap panggung kosong. Tak ada lakon. Tak ada antrean penonton. Set properti di belakang panggung pun membatu ditutupi partikel debu. Gedung Miss Tjitjih tutup sementara.

Tak ada pentas berarti tak ada produksi. Tak ada produksi berarti tak ada pemasukan. Dari jatah 19 pentas dalam setahun yang difasilitasi Pemda DKI Jakarta, Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih (KSS Miss Tjitjih) terhitung baru menghelat tiga kali.  

Sejak 3 Maret 2020, semua rencana pentas terpaksa ditunda atau dibatalkan, mengingat kasus penularan virus corona terus mengalami eskalasi. “Pemasukan utama kami dari setiap uang produksi yang dibiayai Pemda. Kalau kondisinya begini terus otomatis kami gak ada pemasukan sama sekali,” papar Elly, aktor cum bendahara KSS Miss Tjitjih.

Elly tak sendiri. Ia mewakili suara lirih 80 Kepala Keluarga seniman KSS Miss Tjitjih yang tinggal di Rusun Budaya, tepat di belakang Gedung Miss Tjitjih. Selama masa pandemi seluruh aktivitas kesenian resmi berhenti, namun kebutuhan hidup terus berjalan. Inilah yang membuat para seniman KSS Miss Tjitjih bingung menghadapi kondisi ini. 

Meski sebenarnya dalam 91 tahun perjalanan KSS Miss Tjitjih, mengecap pahit manis kehidupan panggung sudah tak asing dialami seluruh anggota, sejak pertama kali memutuskan hijrah dari Tanah Pasundan ke Ibu kota. “Dulu sebelum direlokasi ke sini kami tinggal di Angke. Itu pentas setiap hari uangnya donasi sukarela kadang ada kadang nggak dari warga bantaran kali. Dari situ kami bertahan hidup,” sambung aktor kawakan Miss Tjitjih ini.  

Pun kalau uang donasi tidak cukup untuk menghidupi ratusan anggotanya, mereka terbiasa menyambung napas dengan menjual talenta sebagai aktor, pemain musik, dan penata artistik. Menerima banyak order-an musik sunda, pentas keliling Jawa Barat, melatih teater, event seni budaya, hingga merias wajah. Semua dilakoni dengan senang hati. “Lawakan sunda juga laku, ada aja yang order untuk menghibur penonton,” kenang Elly seraya terkekeh. Namun pandemi ini adalah pengalaman pertama mereka hidup tanpa penghasilan sama sekali. 

Bergulat menghadapi pandemi, KSS Miss Tjitjih tentu tak sendiri. Kelompok seni tradisi lainnya yang hidup di Jakarta, Paguyuban Wayang Orang Bharata pun bicara senada. Kentus selaku sutradara mengaku, pandemi ini menjadi titik terendah dalam 57 tahun perjalanan karirnya bersama Bharata. “Sama sekali tidak ada pemasukan, karena dari jaman kakek kami main wayang orang ya skill kami hanya di seni,” kata Kentus. 

Kelompok wayang orang yang setia menghadirkan lakon Ramayana dalam riuh seni modern dan kontemporer di tanah urban ini mengaku tak punya banyak pilihan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, terlebih masih banyak anak dan cucu para seniman Bharata yang memerlukan biaya sekolah. 

Seperti KSS Miss Tjitjih, Wayang Orang Bharata pun punya jatah pentas dari Pemda DKI Jakarta sebanyak 15 kali. Meski secara kuantitas selisih empat pentas, namun dana untuk kedua kelompok seni tradisi ini bernilai sama. “Kami punya 15 kali tapi karena pandemi ini baru main dua kali di Gedung Wayang Orang Bharata. Meski tidak besar, tapi itu salah satu pemasukan kami. Selebihnya manggung di luar tapi semuanya juga jadi batal karena pandemi ini,” sambung Kentus sembari menunjukan agenda pentas Bharata. 

Gagal pentas yang dialami KSS Miss Tjitjih dan Wayang Orang Bharata menambah panjang daftar pentas seni yang batal selama pandemi. Koalisi Seni Indonesia mencatat (https://koalisiseni.or.id/advokasi/seni-semasa-krisis/), terdapat 234 acara seni yang batal atau ditunda meliputi, 30 proses produksi, rilis, dan festival film, 113 konser, tur, dan festival musik, 2 acara sastra, 33 pameran dan museum seni rupa, 10 pertunjukan tari, 46 pentas teater, pantomime, wayang, dan boneka. 

Merujuk pada data tersebut, apa yang dihadapi KSS Miss Tjitjih dan Wayang Orang Bharata adalah masalah bersama yang dirasakan ratusan bahkan ribuan seniman di seluruh Indonesia, baik yang sudah maupun belum mendaftarkan diri, kehilangan pekerjaan, dan tak memiliki pemasukan selama pandemi.

 

Kebijakan yang Tak Adaptif

KSS Miss Tjitjih dan Wayang Orang Bharata memang gagal pentas karena pandemi, namun baik Elly maupun Kentus menyesalkan tidak ada kejelasan dari Pemda DKI Jakarta, terkait jatah anggaran produksi yang belum cair sepanjang tahun ini. Miss Tjitjih punya 16 kali dan Bharata punya 13 kali. Saat mereka konfirmasi pun jawabannya masih belum pasti, apakah ditunda, dihilangkan, atau dialihkan ke bidang lain yang lebih prioritas.  “Mereka (Pemda DKI) bilang, gak bisa cair mas, kan gak pentas. Lah saya bilang, gimana mau pentas kan lagi begini keadaannya,” kata Kentus. 

Seperti yang dipaparkan Elly di awal, jatah anggaran produksi dari Pemda adalah pemasukan utama bagi kedua kelompok seni tradisi yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan hidup ratusan seniman tradisi di dalamnya. Mereka pun berharap agar Pemda DKI Jakarta mampu membuat keputusan yang lentur dan adaptif terkait pencairan anggaran jatah pentas tersebut sebagai solusi menghadapi krisis ini. Tapi jika tidak, mereka tetap perlu kejelasan dan berharap ada kebijakan lain yang dapat membantu mengatasi krisis finansial selama masa pandemi ini.

Sementara itu, pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan (Ditjenbud) bekerja sama dengan Kementerian Sosial (Kemensos), dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) sejak awal April telah membuka pendataan pekerja seni terdampak pandemi melalui formulir daring (bit.ly/borangpsps), untuk mendata pekerja berpenghasilan di bawah 10 juta yang tak memiliki pekerjaan lain di luar seni. 

Hilmar Farid, mewakili Ditjenbud dalam konferensi pers virtual (21/05) mengatakan, pendataan April menunjukan ada 58 ribu seniman yang mendaftar baik perorangan maupun kelompok.  Ujung dari pendataan ini adalah pemberian uang tunai senilai Rp. 1 juta dalam skema bantuan pertama, selanjutnya akan berkolaborasi dengan Kemensos, Kemenaker, dan Pemda. 

Namun sebagai sampel implementasi dari pendataan tersebut, fakta di lapangan per 4 Juni 2020 menunjukan, baik KSS Miss Tjitjih dan Wayang Orang Bharata mengaku belum menerima sejumlah dana yang dijanjikan. “Kami (KSS Miss Tjitjih dan Bharata) sudah sejak awal mendaftar tapi ya memang belum ada realisasinya sampai saat ini,” ujar Kentus. 

Bisa dipahami, pendataan memang pekerjaan panjang yang memakan waktu apalagi dengan jangkauan berskala luas di seluruh daerah Indonesia. Namun dalam kondisi genting seperti saat ini, lajunya juga harus mempertimbangkan kebutuhan primer para seniman yang terdampak.

 

Andalkan Solidaritas Seniman dan Penggemar

Elly menghela napas panjang tatkala menjawab bagaimana ia dan para seniman KSS Miss Tjitjih bisa bertahan hingga saat ini. Ia tak menyangka di tengah kondisi serba sulit ini masih banyak yang urun tangan memperhatikan keadaan mereka. “Alhamdulillah bantuan berupa sembako dari banyak pihak, tapi mau masak sembako perlu uang untuk beli gas, bayar listrik juga yang paling berat di sini,” ungkap Elly. 

Bantuan tersebut datang dari berbagai pihak di antaranya, Gabungan Seniman Sunda (GAS) yang diinisiasi Melly Goeslaw, Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), dan penggemar setia KSS Miss Tjitjih. Selain sembako, para donatur pun akhirnya memberikan bantuan uang tunai yang digalang dari berbagai acara dan dompet pribadi. Elly selaku bendahara, langsung membagi rata uang donasi tersebut kepada 80 kepala keluarga seniman KSS Miss Tjitjih.

Meski masih jauh dari kata cukup, namun mereka bersyukur perjalanan kelompok seni tradisi yang gemar memainkan lakon mistis, komedi, dan tragedi masih diingat banyak orang hingga urun rembuk membantu. Dalam kondisi serba sulit, para seniman KSS yang tinggal di rusun terbiasa berbagi satu sama lain, “Ya namanya juga sandiwara jadul ini kan, kami masih diingat bersyukur banget. Kurang-kurangnya (kebutuhan), kami saling bantu aja sesama anggota kalau gak punya beras kami bagi, ada yang gak punya lauk kami bagi, yang penting jangan sampe ada yang gak makan,” kata Elly. 

Hal serupa pun dialami Wayang Orang Bharata yang mendapat pasokan sembako dari para penggemar wayang orang di Jakarta. “Banyak yang peduli sama kami, kejadian ini membuat kami banyak berterima kasih pada penggemar dan pemerhati Bharata. Namun banyak juga warga yang bilang, sembako banyak tapi dimasak pakai apa toh pak? Gas gak ada,” papar Kentus.

Hal itu membuatnya memutar otak untuk menggalang donasi. Sebagai salah seorang senior di Wayang Orang Bharata, Kentus memikirkan bagaimana keberlangsungan hidup 68 kepala keluarga seniman yang berdomisili di Sunter, Jakarta Utara tersebut.  

 

Membuka Arsip, Menggalang Donasi

Ramai-ramai seniman memanfaatkan media sosial sebagai panggung digital di kala pandemi, meski terkesan berjarak namun sedikit banyak telah mengobati hasrat artistik bahkan berbagi donasi. Kedua kelompok seni tradisi ini bukan tak ingin melakukan hal serupa, namun mereka mengaku terbentur kendala utama, kurang adaptif dengan teknologi. 

Dari teknis pertunjukan pun, tradisi memiliki kompleksitas tinggi untuk memainkan lakon, mulai dari alat musik tradisional dalam jumlah masif, tata rias, artistik, dan busana berpakem budaya tertentu, dan aktor yang harus main secara berkerumun membuat pentas daring masih jauh dari angan.  “Karena itu kami coba pikir lagi apa yang bisa dipakai untuk menggalang donasi di media sosial. Lalu berembuk dan terpikir untuk mengunggah arsip pentas lama saja,” ujar Kentus. 

Seniman tradisi memang lekat dengan minimnya kesadaran mendokumentasikan arsip karya dalam bentuk teks maupun audio visual, namun Kentus bersyukur Wayang Orang Bharata masih memiliki beberapa video dokumentasi pementasan delapan tahun terakhir. 

Ia bersama generasi muda Wayang Orang Bharata pun mengunggah beberapa lakon seperti, Kongso Adu Jago, Gareng Dadi Ratu, dan Tari Sekarpuri di kanal Youtube WO Bharata Official (https://www.youtube.com/watch?v=KUwLELOa3ow&t=35s). Setelah mengunggah, tak lupa ia pun menyantumkan nomor rekening Wayang Orang Bharata di kolom deskripsi untuk memudahkan penggemar untuk berdonasi.  

Berselang sepekan, usaha mereka pun berbuah manis. Lakon-lakon lama yang diunggah menuai perhatian penonton, donasi pun perlahan mengalir ke kantong Bharata. ”Alhamdulillah setelah itu ada delapan juta rupiah di rekening Bharata, uang itu langsung kami bagi rata. Dari Maret sampai sekarang (Juni) hanya itu pemasukan kami semua untuk hidup ratusan orang di sini,” sambung Kentus. 

Elly mengaku Wayang Orang Bharata selangkah lebih maju untuk memanfaatkan media sosial dan arsip. Hampir satu abad perjalanan KSS Miss Tjitjih, jejak dokumentasi masih minim dan sekadar mengandalkan peliputan media massa. “Setelah pandemi ini mungkin kita akan belajar mengarsip perjalanan KSS Miss Tjitjih karena itu juga bagian dari sejarah panjang seni tradisi Indonesia,” pungkas Elly.

Selain kesadaran mengarsip karya sebagai alternatif penggalangan dana, pandemi ini juga harus menjadi perhatian otoritas untuk mulai membenahi basis data seniman di seluruh Indonesia. Pendataan memang langkah awal untuk membentuk ekosistem seni yang kuat, karenanya sulit efektif jika dilakukan dalam waktu singkat atau terburu-buru seperti ini. 

Urusan dapur tentu tak dapat menunggu lebih lama jika regulasi dimasak terlalu lama. Database yang tak lengkap, keterbatasan aksesibilitas internet, menjadi batu sandung lainnya yang memperlambat mereka yang segera butuh pangan. 

Solidaritas memang mengalir dari banyak pihak, namun para seniman tradisi menyadari betul tak mungkin terus bergantung pada bantuan orang lain. Bertahan di tengah kondisi kesehatan dunia yang tak pasti dan kebijakan yang tak lentur semakin memupuskan rancangan pentas yang sudah tersusun rapi. Mereka pun harus rela mengikat pinggang lebih keras, karena bukan tak mungkin, lakon panjang yang mereka mainkan selama puluhan tahun di tanah rantau ini perlahan mati langkah, secara artistik maupun penghidupan. 


Dian Putri Ramadhani adalah jurnalis purna waktu, pekerja seni paruh waktu. Aktif berteater sejak 2009, salah seorang performer Melati Suryodarmo dalam pameran Why Let The Chicken Run? di Museum MACAN  (2020).

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2020.