Menjelajah Relasi: Medium dengan Persentuhan Problematika Seni Rupa Era Kontemporer

 Judul : Relasi dan Ekspansi Medium Seni Rupa
Penulis : Para staf pengajar di Program Studi Seni Rupa, FSRD, ITB
Penerbit : Direktorat Pengembangan Seni Rupa, ITB
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun : 2018
Resensi oleh : Prima Abadi Sulistyo

Memahami dan membaca seni rupa kiranya juga tak hanya menyoal karya seni rupa yang berdiri sendiri. Membaca seni rupa juga melibatkan persoalan relasi medium. Rizki A. Zaelani, dalam tulisannya mengutip gagasan Achille Bonito Olivia, “Tidak ada kesadaran intelektual terhadap seni”. Tentunya ungkapan tadi ingin menjelaskan adanya sikap ragu bahwa seni mampu merumuskan maknanya secara menyeluruh. Rizki pun mengungkapkan, istilah “medium” bukan hanya sebatas permasalahan bahan/ material seni rupa, tapi lebih soal makna (ekspresi) seni rupa itu sendiri. 

Buku ini seolah dihadirkan karena selama ini peristiwa seni cenderung dipandang sebagai cipta seni, hasil akhir/ produk dari seorang seniman. Buku ini hadir sebagai salah satu alternatif; soal bagaimana untuk meningkatkan dan memahami proses apresiasi yang mempunyai makna, diperlukan perangkat pengetahuan yang memadai. Sebagai bagian proses pemahaman dan penghayatan terhadap suatu karya seni oleh apresiatornya, yaitu pengetahuan seni (art knowledge).

Terbit pada 2018, buku ini digarap oleh staf pengajar perwakilan studio yang ada di Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Teknologi Bandung (ITB). Ditulis oleh 12 penulis yang secara garis besar bicara dalam ranah medium seni rupa, macam-macam seni rupa dan kajiannya, sejarah seni rupa, refleksi seni rupa Indonesia, serta seni rupa kontemporer. Berterbalkan 322 halaman, buku ini dibagi ke dalam beberapa sub tema yang mereka tulis dan kembangkan dari pemikiran mereka.

Tulisan pertama oleh A. Rikrik Kusmara membahas tentang medium seni rupa: konsep, struktur dan perkembangannya. Sedikit banyak membahas tentang fungsi medium, medium dan estetika, serta tipologi medium. Rikrik membagi tipologi medium seni rupa ini ke dalam perspektif modern dan tradisional. Secara deskriptif-naratif ia  juga menjelaskan macam-macam medium seni rupa mulai dari drawing, seni lukis, patung, seni media baru, mixed media, fotografi, video art, sampai seni instalasi.

Di tulisan selanjutnya Didik Sayahdikumullah membahas soal mooi indie dan seni lukis bentang alam. Ia menuliskan bagaimana sejarah seni Indonesia seakan beranggapan bahwa relasi antar manusia dan alam sering dikategorikan sebagai lukisan bentang alam atau mooi indie. Hal ini terasa ketika para pemikir Indonesia dalam menggambarkan “beauty” selalu sebagai fenomena yang merujuk pada seni rupa barat. Fenomena lukisan mooi indie dianggap sebagai sebuah kedangkalan pelukis barat dalam memahami realitas kehidupan sehari-hari negeri tropis ini. Dalam perbedaan cara pandang memahami mooi indie inilah yang kemudian seolah mempresentasikan awal mula konflik estetik yang dipertentangkan oleh sebagian pelukis indonesia. Didik mencoba menelaah dari segi sejarah bagaimana perkembangan lukisan bentang alam ala eropa di masa East India Company, yang selanjutnya menimbulkan pemaknaan dan terminologi lukisan mooi indie di negeri jajahan Belanda. Didik juga membahas ruang lingkup lukisan bentang alam dan mooi indie, serta kemunculan mooi-scape pasca lukisan bentang alam. Tulisan ini kemudian disusul oleh Bambang Ernawan yang mengulas seputar seni lukis abstrak. Dia lebih bercerita soal pengalaman pribadinya yang empiris ketika mencoba melukis lukisan abstrak.

Lain lagi dengan Willy Himawan, ia mencoba mengejawantahkan topik pilar kultural dalam seni lukis Indonesia. Diawali dengan tulisan kunci dari Sanento Yuliman yang berjudul “Seni Lukis Indonesia: persoalan-persoalannya, dulu dan sekarang”, Willy mencoba mendedah seni lukis dari ranah tradisi dan kultur suatu wilayah, semisal seni lukis diaspora Bali. Ia juga menambahkan terkait seni lukis (yang) kultural, yang menurut hemat saya berarti bahwa seni lukis berposisi sebagai sebuah hal yang dinamis dan aplikatif. Seni lukis juga menjadi bagian kultural (relief di candi) dan bagian modern dalam perhelatan di ruang seni rupa macam ARTJOG.

Pada tulisan selanjutnya yang berjudul Seni dan Ruang Publik, Budi Adi Nugroho mencoba mengejawantahkan persoalan seni di ruang publik sebagai seni yang lahir direncanakan dan diproduksi untuk dimiliki oleh masyarakat luas. Ia menjelaskan gagasannya dengan konsep piramida terbalik. Awalnya ia menjelaskan soal sejarah seni dan ruang publik. Kemudian ia menyebutkan macam-macam tipologi seni ruang publik. Melalui pengambilan contoh general genealogi seni ruang publik di Indonesia, Budi kemudian membahas genealogi seni ruang publik di Bandung sebagai salah satu studi kasus seni dan ruang publik. 

Pada tulisan selanjutnya, Setiawan Sabana melalui Seni Grafis di Indonesia dan Tantangannya mencoba menelaah definisi seni grafis dan irisannya dengan cabang seni rupa lainnya. Setiawan Sabana juga mengambil banyak studi seni grafis yang berada di Indonesia. Seni keramik kontemporer juga tak luput dari pembahasan. Lalu Nurdian Ichsan mencoba merunut perkembangan seni keramik dari paradigma craft, paradigma seni modern, lalu paradigma seni kontemporer. Dalam tulisannya yang lain ia juga ingin bicara soal Refleksi Kritis Seni Rupa Kontemporer di Indonesia pada 1990-an. Dilanjutkan oleh Asmudjo J. Irianto dengan judul Fotografi Seni: Modern, Postmodern, Kontemporer yang mencoba menjelaskan bagaimana fotografi berkembang dan menjadi sebuah pertanyaan. Soal bagaimana akhirnya peran dan posisi fotografi di dalam perkembangan seni rupa dewasa ini. 

Tisna Sanjaya dengan tulisannya yang berjudul Imah Budaya (IBU) Cigondewah membahas riset seni atau artistic research yang acap kali sering dianggap oleh seniman sebagai bagian yang jarang dibahas dan diungkapkan. Melalui studi kasus riset seni budaya (IBU) Cigondewah, ia mencoba menjelaskan bagaimana pada akhirnya ,melalui riset, seni juga bisa membuat sebuah alternatif penciptaan dan solusi permasalahan lingkungan hidup. Hemat saya, hal ini difokuskan pada revitalisasi budaya dan pemberdayaan masyarakat melalui seni lingkungan. Senada dengan Tisna Sanjaya yang berkenaan dengan riset seni berbasis lingkungan, Muksin Md memilih tema unsur-unsur tradisi sebagai inspirasi. Muksin mengatakan di dalam seni rupa kontemporer, pemanfaatan unsur-unsur tradisi juga bisa diolah. Sebut saja unsur-unsur tradisi seperti material/ benda tradisi (lokal), kesenian maupun budaya dan tema tema di dalamnya.

Setiawan Sabana melalui Refleksi Spiritualitas dalam Seni Rupa Kontemporer ingin memberikan tanggapan atas situasi dan perkembangan “era ekonomi” ASEAN yang ditandai dengan kegiatan bersama dan bebas dalam bidang perdagangan (AFTA). Adapun dampak dari kebijakan itu juga berpengaruh pada dimensi seni maupun budaya yang sangat terkait dengan aktivitas perdagangan. Hal inilah yang kemudian dipertanyakan oleh beliau. Bahwa seni itu lebih merujuk kepada nilai batin pada diri manusia, sedangkan perdagangan sebaliknya. Ia menggambarkan Asia Tenggara sebagai satu kesatuan budaya dengan ciri-ciri yang hampir sama. Ia mencoba menjelaskan secara singkat tentang kebangkitan kebudayaan Asia Tenggara yang juga terjadi dalam dunia seni rupa Asia Tenggara. Pada poin terakhir kemudian dituliskan mengenai refleksi dalam pencarian nilai (spiritualitas) dalam memahami ekspresi seni rupa kiwari ini.

Pada sub tema lainnya, Dadang Sudrajat menulis soal spiritualitas dalam seni. Ia beranggapan bahwa seniman adalah juga penempuh jalan spiritual, penempuh laku Suluk. Dengan contoh bagan, Dadang mencoba menghubungkan seni, mistisisme, dan keindahan. Penjelasan spiritual dan hubungan dengan salah satu sisi agama juga dijelaskan olehnya dalam memahami spiritualitas seni dan hubungannya dengan individu yang bersifat personal.

Tulisan terakhir dari Rizki A. Zaelani dengan judul yang menarik perhatian, Melihat dengan Ibarat. Dengan pendekatan mistisisme Islam/ tasawuf, Rizki mengatakan bahwa “melihat dengan ibarat” pada prakteknya bukan hanya persoalan melihat (seeing). Lebih dari itu, ia juga soal mengingat (remembering, remembrance) dengan Tuhan sebagai pusat ingatannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.