Komunitas dan Pekerja Seni Malaysia

Judul : PERSPEKTIF Naratif Seni Rupa Malaysia
Penulis : Nur Hanim Khairuddin
Penerbit : RogueArt
Cetakan : Cetakan Pertama
Tahun Terbit : 2019
Halaman : 348 halaman
ISBN : 978-967-10011 9 6
Resensi Oleh : Gagas Dewantoro

Buku yang berisi kumpulan makalah dari 2011 hingga 2017 ini berisi berbagai pandangan masyarakat Malaysia tentang seni rupa. Dengan format seri, buku ini merupakan jilid keempat atau terakhir yang memberikan gambaran komunitas dalam dunia seni di Malaysia. 

Sebagian dari mereka pada dasarnya tidak dikenal sebagai artis tetapi sebagai pekerja kreatif, pendongeng dan pembuat mitos berdasarkan keahlian yang telah mereka dapatkan. Kajian sosiologis oleh Howard Becker pada 1948 yang berjudul Art Worlds menggambarkan bahwa karya seni adalah wujud hasil usaha banyak orang yang membentuk dan mencorak karya seni itu. Sehingga karya seni memiliki nilai serta maknanya di dalam sebuah masyarakat. Nilai yang diberikan kepada sebuah karya seni merupakan usaha bersepadu untuk melahirkan sebuah penghargaan publik terhadap kerja-kerja kreatif oleh para seniman.

Pada dasarnya komunitas merupakan sekumpulan orang yang mempunyai hubungan antara satu sama lain. Hasil hubungan sosial bukan hanya berdasarkan hubungan silsilah keluarga, namun lebih soal ikatan kekeluargaan. Dalam buku ini penulis melihat hubungan seni dengan kehidupan sosial di dalam sebuah komunitas masyarakat yang luas. Keterlibatan sosial menjurus kepada berbagai cara di mana orang melibatkan diri dalam masyarakat, komunitas dan kehidupan politik. Melalui proses ini, seni digunakan sebagai medium untuk mengangkat isu-isu dalam lingkungan masyarakat. Oleh sebab itu secara tidak langsung seni mendapatkan ruang yang khas dalam masyarakat dan wacana. 

Seniman dapat mewujudkan lebih banyak sintesis; mengasimilasi dan menyesuaikan diri ke dalam budaya, konteks sosial tempatan, politik dan ekonomi melalui proses pelibatan dan performance. Seni yang berinteraksi secara langsung dengan masyarakat sosial meliputi pengkuratoran terbuka dan bersifat kolaboratif dalam proses yang menghasilkan. Dalam konteks operasi antara praktis seni dan penghasil wacana tentang seni, kurator adalah hal penting dalam membentuk apa dan bagaimana kita melihat dan mengalami seni yang dihasilkan  pada zaman ini dan yang lalu.

Pemahaman kurator menurut beberapa orang memang berbeda-beda termasuk dari seorang Nur Hanim Khairuddin yang memahami peranan kurator dengan keterlibatan pemilihan tema, seniman dan karya, menyusun objek di ruang pameran, dan dalam beberapa kasus menyumbang teks ringkas yang menerangkan kerja-kerja dan seniman yang terlibat. Namun saat ini dunia kurasi di Malaysia begitu holistik, rumit, bermacam dan banyak peringkat. Kurator memimpin dan mengawal keseluruhan proses pembuatan pameran, serta membangun tema dan konsep berdasarkan kajian mendalam dan rujukan melalui ruang, aliran, konteks dan wacana pameran, untuk menyusun teks kuratorial dan promosi, serta melaksanakan program sampingan. Namun yang paling penting, kurator berfungsi sebagai perantara antara berbagai komponen: seniman, karya seni, institusi, penonton, media, masyarakat umum, bahkan kolektor. Ini menunjukan bahwa kurator memainkan peranan yang lebih aktif.

Pada tahap tertentu, nampaknya terdapat peralihan dalam peranan dan kuasa kurator juga. Dahulu, kita melihat kurator hanya berfungsi sebagai pemilih seniman dan bekerja untuk pameran tanpa memberikan sembarang respons dan kritik. Sekarang mereka merupakan pencipta atau pengarah acara yang mengambil keseluruhan proses menganjurkan pameran dengan sendiri atau bekerja sama dengan kolaborator lain. Lebih jauh lagi muncul juga fenomena kurator sebagai seniman, di mana kurator menganggap pameran yang mereka usahakan sebagai “objek” seni dalam dirinya sendiri.  

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.