#GILAVINYL: Obat keusangan, racun untuk pencintanya

Judul : #GILAVINYL Seluk-Beluk Mengumpulkan Rekaman Piringan Hitam
Penulis : Wahyu Acum
Editor : Dandy Nugraha.
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman : 268
Resensi oleh : Yulius Pramana Jati 

Benarlah jika kata usang merupakan kata sifat bagi segala sesuatu yang lekang jaman layaknya batu bara sebagai bahan bakar kereta api, lontar sebagai medium tulis, dan pak pos sebagai penghantar surat cinta kepada yang tersayang. Yang usang seringkali tak bertahan bukan tanpa alasan, karena sesuatu menjadi usang biasanya disebabkan kegunaannya yang tak lagi efektif dan efisien dalam menunjang kebutuhan manusia. Tetapi ada paham yang mampu membuat keusangan bertahan hingga kini, paham itu sering disebut romantisme.

Romantisme secara umum adalah perasaan yang amat takjub terhadap sesuatu, tidak peduli apapun keadaannya baik itu murah, mahal, usang, kekinian, dan sebagainya. Perasaan itu cenderung membuat orang yang ternaung di dalamnya menjadi penuh harapan serta berjuang keras untuk mendapatkan apa yang dia sukai dan biasanya juga disertai imajinasi yang tinggi terhadap segala hal yang ia sukai tersebut. Ketika ketakjuban ini menjadi kegilaan dalam mengakses hingga pengumpulan (mengoleksi) objek-objek kesayangannya, maka ini sering disebut sebagai hobi. Hobi sendiri muncul pada diri seseorang karena pengaruh internal atau eksternal yang sengaja maupun tidak sengaja, seperti dari memori masa lampau, pertukaran pengalaman antar pribadi, hingga pengaruh/ hasutan (dalam konteks kekinian sering disebut sebagai racun). Seringkali sikap-sikap seperti itu tersemat pada suatu objek dan objek yang terpengaruh oleh romantisme ini biasanya mengalami sebuah transformasi dari fungsi awalnya. Salah satunya yaitu vinyl record atau yang sering kita sebut sebagai piringan hitam.

Vinyl merupakan media penyimpanan suara analog yang ditemukan oleh Emile Berliner dan dipatenkan pada 1887. Hingga tulisan ini ditulis, bisa dibilang penemuan ini bertahan selama 133 tahun sebagai medium penyimpanan suara analog, terlebih sebagai media rekam musik. Sebelum kaset, CD, hingga kini yang hanya berupa file, vinyl lebih banyak berfungsi sebagai medium pemuas akan kebutuhan hati dan telinga penikmatnya. Pada awalnya pun vinyl dikoleksi untuk pengkayaan bank data musik atau dokumen rekaman penggunanya. Tetapi kini kegiatan pengoleksiannya bertransformasi menjadi sebuah hobi yang tak hanya sebagai wujud pemuasan diri akan kekhasan suara, melainkan juga pada bentuknya yang eksotis. Bentuk piringan hitam ini tanpa perlu dieksotisasi sudahlah eksotis. Sehingga seringkali vinyl dijadikan pajangan dan ornamen dekorasi. Maka dari itu tidak mengherankan jika objek ini sangat prestisius bagi orang yang menenteng atau memamerkannya kepada orang lain.

Buku #GILAVINYL karya Wahyu Acum ini secara tersirat menggambarkan apa yang saya jabarkan sebelumnya yakni bagaimana hobi vinyl kini sudah masuk ke tataran romantisme yang menggugah nurani pencintanya dalam mencapai sebuah romansa. Melalui buku ini Wahyu Acum menjelaskan apa itu definisi gila dan hobi dalam konteks #GILAVINYL yang memiliki arti: terlanda perasaan sangat suka akan vinyl/ piringan hitam. Judul #GILAVINYL pun juga terintegrasi dengan sosial media yakni Twitter dan Instagram di mana khalayak bisa mengakses tagar tersebut ketika sedang membaca sembari bersosial media guna menambah pemahaman tentang isi buku atau meracuni diri agar masuk ke hobi ini. 

Selain menjelaskan arti #GILAVINYL di track (bab) awal, Wahyu juga menceritakan bagaimana ia bisa masuk ke dalam hobi vinyl ini. Ia menceritakan dinamika perjalanannya berpindah-pindah hobi dari mengoleksi perangko, kartu basket, korek kayu, kaset, CD, hingga akhirnya menemukan kecintaannya, yakni vinyl. Hobi bagi penulis dalam buku #GILAVINYL ini merupakan sebuah pertanda perjalanan manusia yang bahagia. Saya sangat setuju dengan penulis, yakni ketika bisa memiliki sekaligus melakukan hobi itu sangatlah membahagiakan. Mengapa? Karena bagi saya hobi adalah kunci dari segala kunci dalam menemukan waktu tersendiri yang intim bahkan sangat meditatif saat menyatu di dalamnya, dan waktu khusus yang didapatkan saat berhobi ini kerennya disebut “Me time”. Tentunya, “Me Time” ini akan sukses ketika beberapa kewajiban seperti deadline pekerjaan, tugas kuliah, skripsi, dan nafkah bulanan kita sudah tuntas semuanya. Tanpa ketuntasan itu, hobi hanyalah seonggok batu neraka sarat dosa. Percayalah…

Setelah menguak perjalanan spiritualnya akan hobi vinyl, Wahyu selanjutnya memberikan pengantar tentang seluk beluk teknis vinyl meliputi jenis material apa saja yang digunakan dalam pembuatan vinyl, ukuran, fungsi, dan lainnya. Pengantar teknis yang diberikan sudahlah cukup sebagai pengetahuan awal ketika ingin masuk ke dalam hobi ini. Poin menarik adalah penjelasan setelahnya, yakni perihal kenapa vinyl layak dipilih sebagai hobi. Di sini ia menjelaskan beberapa alasan yang umumnya menghinggapi khalayak sehingga mau terikat dengan vinyl ini, seperti putaran vinylnya serta kerepotannya dalam memutar vinyl yang sebenarnya alasan-alasan tersebut sangat personal menurut saya. Tetapi apalah arti hobi jika tidak menghadirkan pengalaman personal bukan?

Setelah berkutat dengan pengantar singkat tentang seluk beluk vinyl, di track (bab) berikutnya Wahyu mengajak pembaca untuk ikut ke dalam petualangannya menyusuri berbagai lokasi penyedia vinyl, dan penelusurannya ini ia sebut dengan istilah “piknik”. Di sini ia memberikan beberapa lokasi penyedia vinyl beserta pengalaman yang ia dapat ketika mencari vinyl-vinyl tercintanya itu. Beberapa lokasi yang ia ceritakan ada di beberapa daerah baik di dalam negeri dan luar negeri seperti Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Bali, Jakarta, Singapura, dan Thailand. Tak hanya offline store yang ia informasikan, melainkan juga bagaimana mendapatkan vinyl melalui online store seperti Ebay dan Stockroom. Ada yang unik dengan Stockroom yakni soal bagaimana online store ini membuat hari Kamis menjadi hari yang sakral bagi para penghobi vinyl dalam mendapatkan objek kecintaan mereka.

Tak hanya itu, Wahyu juga menjelaskan bagaimana serunya Record Fair sebagai perhelatan di mana setiap aktor peng-#GILAVINYL berkumpul dalam perputaran ekonomi serta pengetahuan akan vinyl. Berbagai pengalaman demi pengalaman ia jelaskan, terkesan personal tapi influentif menurut saya. Salah satu pengalaman yang membuat saya terkesan adalah tentang bagaimana ketika “piknik” ia mampu menemukan 20 nama artis dan 10 album baru yang belum pernah ia dengar dalam waktu sehari. Dari pengalamannya tersebut ia menyadari jika kegiatan ini bukan tentang collecting vinyl saja, melainkan perihal penemuan kembali terhadap sesuatu yang lampau namun terlupakan dan ini salah satu kerja pengarsipan.

Track selanjutnya sangat jelas jika tak akan lengkap tanpa menyuguhkan pengalaman personal tiap penghobinya. Di bab ini yaitu “track III: Mereka”, Wahyu mengajak untuk membaca pembacaan yang dilakukan tiap peng-#GILAVINYL dalam membaca hobi mereka ini. Baik tentang pengalaman mereka dalam mendapatkan nilai lebih dalam mengakses vinyl hingga transformasi diri yang didapatkan setelah menggeluti hobi ini. Rata-rata yang diangkat adalah para public figure industri hiburan tanah air. Di sini saya merasa ada yang kurang terhadap pemetaan pelaku yang dilakukan oleh Wahyu, mengingat banyak sekali pelaku di luar kategori tersebut yang bisa dikatakan legend di dunia per-vinyl-an dan saya yakin itu. Dengan pemetaan yang menyeluruh pastilah pembacaan tentang vinyl akan semakin luas beserta kemungkinan-kemungkinan lain yang pasti mengiringinya. Kecuali jika Wahyu memang hanya ingin menstimulasi pembacanya dari tahap interest menuju tahap action selayaknya iklan produk dengan artis-artis sebagai presenternya. Bagi saya sah-sah saja, namanya juga meng-influence. Melakukan hobi jika sendirian juga tidak asik karena cenderung tidak akan ada perputaran pengetahuan yang empiris.

Setelah semua track tersebut terjabarkan, Wahyu menutup dengan bab/ track bertajuk bonus. Di dalam track ini ia menyertakan direktori berbagai penyedia vinyl di Indonesia dan glosarium istilah-istilah yang sering digunakan dalam hobi ini. Ditambah foto-foto dokumentasi selama ia melakukan pencarian vinyl-vinyl di berbagai daerah  yang memicu imajinasi para penggila atau nyaris gila vinyl. Jelas, penutup ini semakin mempersiapkan, bahkan benar-benar berniat mengajak pembaca untuk masuk ke dalam hobi ini. Bagaimana dengan saya? Ya.. Tunggu saja ketika saya dapat rejeki nanti. Apakah saya akan ingat atau lupa pada hobi ini, pokoknya tergantung restu istri.

Bagi saya membaca buku ini seperti dihadapkan pada aplikasi katalog hotel. Ketika memutuskan ingin menginap kita akan disuguhkan profil berbagai hotel beserta lokasi-lokasinya lengkap dengan testimoni para pelanggan yang pernah menginap di sana. Bedanya ada pada pengalaman estetik yang menyentuh nurani manusianya. Sekali lagi, ini perihal pencapaian romansa dan ini kelebihan buku #GILAVINYL. Romansa-romansa ini disajikan dengan bahasa yang ringan tanpa membuat pembaca berpusing-pusing kembali ke teks sebelumnya guna mengartikan bahasa-bahasa tulis yang canggih.

“The whole experience of vinyl is what we’re after. If we don’t see something moving, we lose romance. There’s no romance for me to sing to you about an iPod. But why? Because nothing is moving.”—Jack White

Dengan romantisme pada akhirnya sangat tidak tepat jika menyebut vinyl adalah medium rekaman suara yang usang. Di luar kelebihan dan kekurangannya dalam teknologi, piringan vinyl memiliki sisi romantisnya yang mampu membuatnya sebagai objek yang layak dicintai hingga kini. Di lain sisi proses transmisi vinyl pun mengalami transformasi karena romantisme ini, dari medium rekam suara saja, kini berubah fungsi menjadi objek kolektif bahkan sangat prestisius bagi pencintanya. Transmisi vinyl berlanjut bukan sebagai medium penyimpan lagu dan suara yang ingin kita dengar saja, tetapi kini bertransformasi menjadi vinyl yang memiliki peran dalam menyajikan “rasa” yang membahagiakan kolektornya, bahkan hingga ke ranah yang sangat meditatif.

Memang buku ini terkesan hanya menjabarkan romantisme yang dirasakan penulis beserta penghobi lainnya tentang bagaimana awal hobi mulai bersemi; mengakses berbagai tempat yang menyediakan koleksi piringan vinyl yang tersebar di berbagai tempat. Namun terlihat jelas jika penulis juga memetakan medan sosial dari hobi vinyl ini sehingga kita tahu siapa saja, di mana saja, dan bagaimana kita bisa mengakses medium tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penulis memiliki harapan besar jika komunitas pecinta vinyl ini dapat meluas hingga menyentuh berbagai kalangan. Tetapi barangkali ada kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat digali dari hobi koleksi vinyl, misalnya sebagai medium pembacaan arsip. Entah ada berapa banyak pengetahuan yang terserak di luar ruang penyimpanan arsip formal yang barangkali justru ada di tangan para penggila vinyl ini. Sehingga tak hanya #GILAVINYL yang menyertai, tapi juga #VINYLGILA yang memberkati hobi ini guna menunjukkan potensialitasnya sebagai laku pengetahuan. Aminnnn!!!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2020.