Timurliar: Kesadaran atas Perubahan melalui Pameran

Judul : Timurliar, Serawung Kolektif: Unfine Art Exhibition Report  Book
Penyusun : Dwiki Nugroho Mukti
Penerbit : Serbukayu
Tahun terbit : 2019
Tempat terbit : Surabaya
Halaman : 210 hlm
Resensi oleh : Firda Rihatusholihah

Perubahan perilaku masyarakat turut dipengaruhi oleh perubahan lingkungan di sekitarnya. Misal, pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi perumahan, pembangunan apartemen/ hotel di tengah kawasan pemukiman, menjamurnya kedai kopi, tercemarnya aliran sungai yang akhirnya tidak dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, serta perubahan lainnya. Akibat perubahan-perubahan tersebut, perilaku masyarakat dapat berubah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Contohnya ialah pergesaran perilaku masyarakat di Banyuwangi, bahwa pesatnya laju arus informasi memudahkan masyarakat untuk mencari dan membeli suatu barang, tetapi di sisi lain menyebabkan meningkatnya perilaku konsumtif. Fenomena-fenomena demikian diangkat menjadi tema pameran seni Timurliar, yaitu perubahan pada “folks” atau orang-orang, yang diinisiasi oleh komunitas seni Serbukayu di Surabaya, dari Januari hingga April 2019. Pameran tersebut diikuti oleh 13 kolektif maupun  komunitas seni lainnya dan diadakan di beberapa kota di Jawa Timur, yakni Malang, Banyuwangi, Pasuruan, Sidarjo, Pare, Lamongan, Kediri, Surabaya, Jember, dan terakhir Tuban. 

Persiapan dimulai pada bulan Januari. Selama sebulan penuh para seniman diberi kesempatan untuk melalukan pengamatan, salah satunya mengenai perubahan perilaku masyarakat di wilayah tempat tinggalnya hingga merealisasikannya dalam suatu karya. Kota Malang, melalui Kolekjos, menjadi tuan rumah pertama rangkaian pameran pada 9-11 Februari 2019. Para seniman yang terlibat dalam pameran di Malang sepakat untuk mengangkat isu pencemaran Sungai Brantas yang diwujudkan melalui medium yang cukup beragam, mulai dari video, resin, gabungan dari benda temuan, hingga simulator penampakan kondisi  sungai. Tur pameran ditutup di Tuban pada 20 Maret 2019. Berbeda dengan pameran di Malang, pameran yang diadakan oleh komunitas Tubgraff merespon situasi di Tuban melalui seni grafitti. Setelahnya, karya-karya yang telah dipamerkan di masing-masing kota kembali diperlihatkan dalam pameran utama Timurliar di Surabaya, 8-10 April 2019. 

Selain Kolekjos di Malang dan Tubgraff di Tuban, masih ada 11 kolektif seni lainnya yang juga mengadakan pameran di berbagai kota. Beberapa kolektif maupun komunitas secara lugas menyertakan isu-isu perubahan lingkungan dan perilaku masyarakat di wilayah mereka sebagai tema pameran. Misalnya seperti yang dilakukan kolektif Sesendang Rasa, Lamongan, dalam merespon gap generasi tua dan muda  terkait perkembangan teknologi digital dan seni. Ada pula Villa Art Space di Kediri yang menyoroti masalah-masalah yang bermunculan setelah beroperasinya pabrik rokok Gudang Garam. Termasuk di antaranya ialah penduduk sekitar yang terjangkit ISPA akibat polusi pabrik. Di sisi lain, Darjo Club dari Sidoarjo mengangkat masalah tata ruang kota, seperti perebutan ruang dan kemacetan.

Sebagai sebuah laporan kegiatan, buku ini cukup informatif. Meski demikian, tidak semua pameran membicarakan isu perubahan perilaku masyarakat dan lingkungan. Misalnya seperti kolektif Kuas Patis dan Jare yang lebih mengangkat kesenian lokal yang sudah lama tidak digiatkan kembali. Dengan begitu, pameran Timurliar telah menjadi pembangkit kesadaran masyarakat. Tidak hanya sadar atas perubahan lingkungan, tetapi juga sadar terhadap kurangnya aktivitas kesenian di daerah masing-masing sehingga dibangkitkan kembali melalui pameran.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.