Seniman Mengajar, Denyut Tatapan Kebudayaan

oleh Krisnawan Wisnu Adi 

Selama 43 hari pada Juli-September 2019 beberapa seniman terpilih telah mengikuti program Seniman Mengajar 2019 di beberapa lokasi. Seniman Mengajar merupakan program dari kemdikbud yang dirancang untuk menciptakan ruang-ruang dialog, kolaborasi, dan partisipasi antara seniman dan masyarakat untuk berinteraksi, bertukar informasi, pengetahuan, berkarya, serta membangun jejaring seni untuk menciptakan ekosistem seni yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.   

Pada Selasa, 17 September 2019, pukul 3-5 sore bertempat di IVAA, tiga seniman yang mengikuti program Seniman Mengajar 2019 membagikan pengalaman proses kreatifnya di lokasi. Mereka adalah Aik Vela Pratisca (seniman teater), Yessy Yoanne (seniman tari), dan Amanatia Junda (pegiat literasi). Berbagai macam bentuk tatapan kebudayaan yang mereka alami bersama masyarakat setempat dibagikan sebagai bentuk penyebaran pengetahuan. 

Aik menghabiskan waktunya di Kecamatan Larantuka, Flores Timur. Perjumpaan awalnya dengan laut telah menggiring Aik untuk kemudian membicarakan isu perempuan, ritual, dan makanan dalam proses kekaryaannya.  

Dalam konteks adat, keberadaan perempuan di masyarakat Flores Timur cukup dihormati. Mereka bisa dikenakan hukum adat, potong babi misalnya, jika ketahuan bekerja di ladang. Bahkan, ada satu mitologi dari masyarakat Suku Lamaholot (suku tertua di Flores Timur) yang menempatkan perempuan dalam posisi penting. Mitologi itu disebut Tonu Wujo; seorang anak perempuan yang merelakan dirinya dicacah-cacah dan disebar untuk mengatasi kekeringan yang dialami masyarakat. Tonu Wujo kemudian menjadi upacara adat untuk menentukan keberhasilan masa subur desa. Selain itu ada upacara Semana Santa atau pekan suci menjelang Paskah. Di dalam rangkaian upacara itu ada satu proses pengarakan patung Tuan Ma (Bunda Maria) sebagai devosi atau ungkapan syukur atas hasil panen dan tangkapan ikan di laut. 

Namun, Aik melihat bahwa kehormatan posisi perempuan dalam masyarakat tidak seagung mitologi serta upacara adatnya. Tak jarang Aik menemukan para mama justru bekerja terlalu keras. Sebelum beristirahat pada malam hari, mereka harus mengurus suami dan rumah tangga, berkebun, dan memberi makan babi. Fenomena yang ironis seperti patung Tuan Ma, yang meski diarak dalam rangkaian pekan suci, patung tersebut berparas sedih. 

Oleh karena itu Aik memilih untuk melakukan pendampingan penciptaan Teater Mama. Selain ingin berpartisipasi bersama para mama di sana, keberadaan sanggar berusia setahun mendukung kegiatan yang Aik gelar. Aik mencoba menggali kisah hidup mereka dengan metode ‘river of my life’: membagikan tiga peristiwa yang tidak pernah dilupakan di dalam hidup. Rahasia-rahasia sebagai sesuatu yang sukar diceritakan akhirnya dibagikan. Para mama menjadi terbuka untuk membagikan pengalaman sakit dan dicampakkan. Berbagai pengalaman itu kemudian diolah menjadi teks pementasan yang dibuat oleh para mama itu sendiri. Sambil tetap melakukan aktivitas sehari-hari, mereka berlatih teater. 

Selain teater, Aik juga mengajak para mama untuk memikirkan ulang persoalan makanan. Bersama-sama mereka pergi ke kebun mencari tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan. Temuan mereka kemudian dicatat dan digunakan untuk membuat resep baru yang otentik. Poin penting yang ingin diupayakan Aik adalah peran seni sebagai media ekspresi dan mengaktifkan pengalaman berbagi melalui indera.  

Jauh di utara Flores Timur, Yessy melakukan program Seniman Mengajar di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Sebuah daerah perbatasan Indonesia di utara dengan Filipina. Tarian menjadi fokus ketertarikan seniman tari berdarah Manado ini. Bersama masyarakat Yessy mengembangkan gerak tari Ampa Wayer, sebuah tari pergaulan Sangihe bernuansa dansa. Tari ini sebenarnya merupakan warisan Portugis ketika menjajah wilayah Sulawesi. Di sisi lain, masyarakat Sangihe sebenarnya memiliki tari adat mereka sendiri, yakni Salaing Bawine. Tari ini awalnya dibuat oleh masyarakat, bukan kerajaan. Tetapi seiring berangsurnya modernitas, tari Salaing Bawine kian jarang dilakukan. Menurut Yessy, kepunahan tari tersebut juga dilatarbelakangi oleh ketersediaan literatur yang minim serta sistem pendidikan yang kurang memadai. 

Dari persoan di atas, Yessy kemudian membuat tari Sakaeng Masa Sangihe. Sebuah tari yang mengisahkan Suku Sangir (suku pengembara lautan) yang terdiri dari 9 penari (5 laki-laki, 4 perempuan) membentuk formasi perahu. 

Berbeda dari Aik dan Yessy, Natia lebih bekerja di wilayah sastra. Banda Neira menjadi tempat di mana ia menjalankan program Seniman Mengajar. Di sana Natia banyak belajar menulis bersama perempuan-perempuan muda. Barangkali Natia mencoba untuk lebih menguatkan keberadaan komunitas dan festival sastra di sana. 

Natia sempat bingung dengan situasi di Banda Neira. Pala melimpah, perekonomian tinggi, ikan masih banyak, dan tingkat kriminalitas rendah. Seolah tidak ada masalah. Tetapi, Natia justru menemukan bahwa persoalan yang ada di sana adalah tentang narasi sejarah Banda Neira. Masyarakat di sana selalu menempatkan kolonialisme Barat sebagai satu-satunya pilar pokok sejarah mereka. Meskipun demikian, mereka tidak malu untuk menceritakan peristiwa sejarah sesuai versinya masing-masing. 

Berangkat dari konteks tersebut, Natia memilih untuk mendirikan bengkel menulis setiap Senin dan Selasa malam. Ia mengajak orang-orang muda di sana untuk menuliskan pengalaman keseharian mereka sendiri. Meski tetap banyak yang menulis cerita tentang kolonialisme Barat dan drama Korea, Natia berusaha memberi ruang untuk mendiskusikan mitologi-mitologi setempat, misalnya gurita anak manusia. Setelah melalui proses yang tidak mudah, bengkel menulis itu akhirnya melahirkan sebuah buku berjudul Goresan Tinta Anak Banda. 

Salah satu poin yang cukup nampak dari diskusi ini adalah bahwa masyarakat lokal belum menjadi subjek atas pengetahuan mereka sendiri. Entah itu dalam hal seni tari, narasi sejarah, atau mitologi yang menempatkan perempuan di dalam posisi khusus. Kehadiran para partisipan melalui program Seniman Mengajar di satu sisi bisa menjadi pancuran air menyegarkan. Tetapi proses bersama yang hanya terjadi selama 43 hari tidak akan mengubah pancuran air menjadi sumur yang dalam. Pekerjaan yang paling berat justru bukan terletak pada membuat sesuatu yang baru, tetapi mempertahankan kesadaran kolektif atas pengetahuan sebagai bagian dari kebudayaan setempat. Apakah denyut tatapan kebudayaan tersebut akan senantiasa berdenyut?

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.