Menjamah “Jalan Baru” Seni Rupa: Ngobrol dengan Irene Agrivina Widyaningrum

oleh Hardiwan Prayogo

Irene Agrivina Widyaningrum. Profilnya cukup mudah ditemukan di berbagai tautan jika kita ketik namanya di mesin pencarian google. Pun dapat sejenak disimak portal online archive IVAA: http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/irine-agrivina-widyaningrum. Seniman yang akrab disapa Ira ini meluangkan satu sorenya untuk ngobrol dengan tim IVAA. 

Pada kesempatan itu, kami langsung mengarahkan obrolan pada seputar topik yang sedang diangkat pada Newsletter edisi September-Oktober ini. Beberapa kata kunci yang kami ketengahkan seperti perluasan medium dan objek, distingsi sosial dan estetik seni murni dan terapan; apakah mungkin pembicaraan soal ini harus lebih maju dari pada sekadar mempersoalkan distingsi tersebut. Poin-poin ini coba kami obrolkan dengan Ira, seniman sekaligus kurator yang banyak bergelut dalam berbagai perluasan medium. Pengalamannya begitu nampak melalui karya-karya personal dan kolaborasinya bersama XXLab dan HONF (House of Natural Fiber), tetapi juga pengalamannya mengkurasi pameran seniman-seniman generasi terbaru.

Ira mengaku bahwa proses kreatifnya ingin senantiasa diperkaya dengan berbagai eksperimen atas bermacam medium. Ketertarikan utamanya pada desain, khususnya fashion, justru membawanya menemui pengalaman yang bisa dikatakan berbeda dari arus utama seni rupa. HONF, kolektif di mana ia aktif, memang memiliki prinsip medium is unlimited; bahwa medium dan tools adalah bagian dari seni itu sendiri. Sedangkan XXLab, kolektif lain yang dia bentuk bersama 4 rekannya, memiliki prinsip domestic hacking. Ini berangkat dari pengalaman kerja domestik, misal bahan-bahan dapur yang digunakan sebagai bahan-bahan laboratorium biologi. Pameran atas karya-karyanya juga memajang proses produksi, karena ia yakin bahwa proses di balik karya itu juga seni. Bagi Ira, kolaborasi seni dan teknologi adalah ketika dirinya melakukan hacking.

Hacking menjadi semacam kata kunci dari kerja kekaryaan Ira. Ini cukup menjawab pertanyaan di mana letak teknologi dalam praktiknya, karena bisa saja semua perangkat dikatakan teknologi jika fungsinya memang mempermudah kerja manusia. Hacking adalah prinsip kerja yang berangkat dari pernyataan bahwa teknologi yang membantu kerja manusia seharusnya bisa dibuat oleh siapapun dengan bahan yang murah, terlebih oleh mereka yang ada di ruang-ruang domestik. Melalui satu karya yang dipamerkan di NTU Singapura, Ira membuat fotobioreaktor dari bahan-bahan yang diambilnya dari IKEA. Pun eksperimennya di XXLab juga bermula dari gagasan untuk mengeksplorasi bahan-bahan rumahan. 

Gagasan ini bermula dari apakah mungkin seni melahirkan inovasi yang bisa diterapkan. Sebuah gagasan yang jelas bertentangan dengan pernyataan Theodor Adorno, bahwa “the function of art is its lack of function”. Pada masa Adorno, seni memang dinilai tidak bersifat sehari-hari, agar kita tidak mudah melupakannya seperti hari ini melampaui dan meninggalkan yang kemarin. Berkebalikan, Ira melihat praktiknya bisa ditujukan sebagai gagasan baru baik dalam ranah kesenian, teknologi, hingga sains. Dalam karya fotobioreaktor dari bahan IKEA, Ira meletakkan gagasan keseniannya pada representasi modern sosok dewi padi. Di samping itu, fotobioreaktor memang bisa digunakan dalam dunia pertanian. 

Terbiasa dengan pola penciptaan yang demikian, Ira menajamkan gagasan dan inovasinya dalam kerangka kerja yang lintas disiplin. Perlintasan pengetahuan ini dirasa berjalan cukup jauh meninggalkan infrastruktur dan ekosistem seni yang lebih konvensional. Ira mengaku bahwa yang lebih dapat mengapresiasi karyanya, baik secara finansial dan pemahaman atas konsep, adalah industri. Industri yang dimaksud Ira adalah brand fashion hingga telekomunikasi. Ini menarik karena dalam konteks objek, visual, dan konsep karya Ira sesuai dengan sifat produk massal. 

Ada logika berbeda dari nilai eksklusivitas yang ditawarkan oleh karya seni. Di satu sisi, Ira memprediksi bahwa ini adalah jalan lain dari rantai distribusi seni rupa yang dulu umumnya dijalankan oleh seniman-galeri/ kurator-kolektor. Ira memilih karyanya diapresiasi oleh brand-brand ini, atau setidaknya museum publik, dari pada karya menjadi collectible item yang hanya dimiliki dan bisa dinikmati oleh kolektor, atau kolega-kolega terdekatnya. Secara pribadi Ira lebih berkenan jika karyanya bisa dinikmati banyak orang. 

Pengalamannya menjadi kurator pun sedikit banyak mempertegas keyakinannya atas jalan ini. Seniman-seniman yang karyanya pernah Ira kurasi juga menempuh jalan yang kurang lebih sama. Ada kecenderungan bahwa seniman yang memulai karirnya 3-5 tahun terakhir, lebih menginginkan karyanya bisa diaplikasikan ke berbagai medium terapan. Selain itu kecenderungan berkarya dengan medium found-object juga terus berkembang. Praktik demikian memang akhirnya akan berbenturan dengan galeri seni rupa komersial. Pameran tunggal Dwiky KA (@dwikyka) yang dikurasi oleh Ira di HONF Citizen Lab, Juli 2019 lalu memang langsung menyasar pasar industri, seperti Land of Leisures (@lol.yk). Dengan langsung menjalin kerjasama sebagai commision artist untuk brand-brand demikian, seniman-seniman yang karyanya tidak terlalu dilirik publik seni rupa, tetap menemui muara pasarnya. Seniman-seniman lain yang juga menempuh jalan semacam ini adalah Ryan Ady Putra (@ryanadyputra), dan Ican Harem (@icanharem). Ira sendiri mengakui bahwa karya-karya mereka bisa saja dinilai cheesy dan tidak bernilai secara material, tetapi yang ditawarkan adalah gagasan. Meski gagasan adalah nilai yang terus akan dipertanyakan relevansi dan kontekstualisasinya.

Peluang menembus “jalan baru” ini memang terbuka. Semacam keniscayaan dalam perkembangan teknologi komunikasi digital. Jadi yang bergeser dalam wacana ini tampaknya terletak pada fungsi galeri, atau secara lebih luas, infrastruktur seni. Pertanyaan kemudian bisa dialamatkan pada infrastruktur kesenian: bagaimana menyikapi perluasan medium dan distribusi ini? Lantas di mana posisi kurator, kolektor, dan galeri?. 

Dalam obrolan sore itu, pertanyaan reflektif tersebut menjadi poin utama untuk dikontekstualisasikan dengan tema newsletter edisi September-Oktober 2019. Seperti yang diasumsikan di awal tulisan, barangkali perbincangan mengenai tema demikian tidak lagi mengulang soal distingsi terapan-murni. Perluasan rantai distribusi ternyata mempengaruhi nilai-nilai sosial dan estetis yang tersemat dalam karya seni. Termasuk institusi yang dahulu tunggal dan otoritatif membaptis apa itu seni, juga lambat laun kehilangan kuasanya. Meski demikian, pertanyaan yang tertinggal terletak pada fungsi gagasan, yang juga kerap mengiringi sebuah karya seni. Apakah dia menjadi nilai yang memang ingin dikampanyekan, atau justru menjadi pelumas laju distribusi karya seni ke pasar dan konsumen luas?

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.