Kemurnian Lisan Tak Lepas dari Tulisan?

Judul : Metodologi Kajian Tradisi Lisan (Edisi Revisi)
Editor : Pudentia, MPSS.
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan : Cetakan pertama, Edisi Keempat
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : 542
Resensi oleh : Yulius Pramana Jati

Tradisi lisan berarti sebuah sistem wacana yang bukan aksara. Sehingga sebuah lisan identik dengan wacana yang diucapkan baik itu yang murni lisan maupun yang dari tulisan/ aksara. Demikian arti tradisi lisan menurut buku ini.

Buku yang memuat kumpulan metodologi berbagai pakar dalam mengkaji tradisi lisan ini terinisiasi dari terbitnya hasil penelitian seni tradisi lisan Nusantara delapan belas tahun yang lalu (1993) oleh Yayasan Obor Indonesia dan Asosiasi Tradisi Lisan. Uraian yang disajikan terkesan bertentangan satu sama lain, tetapi hal tersebut justru membuktikan jika memang diskusi serta pengkajian tradisi lisan ini tidak akan pernah usai. 

Buku ini sudah empat kali diterbitkan, yakni dari 1998 hingga 2015. Semua informasi yang tertuang di dalam buku terbitan pertama, kedua, dan ketiga masih memiliki uraian informasi yang sama, hanya saja terdapat perbaikan beberapa kekurangan dan rata-rata pada kesalahan cetaknya. Tetapi di terbitan terkini, yakni terbitan keempat (2015), terdapat tambahan satu artikel karya Aone van Engelenhoven dari Universitas Leiden yang berjudul “Mengenai Falsafah Folklor: Tinjauan dan Usulan”.

Buku ini memiliki dua bagian. Bagian pertama meliputi bahan diskusi pada Pelatihan Peneliti muda ATL dan beberapa artikel dari lokakarya internasional Metodologi Kajian Tradisi Lisan yang diselenggarakan pada tahun yang berbeda yakni pertengahan 1998. Lalu, bagian kedua merupakan tambahan kumpulan tulisan multidisiplin dari para pakar berbagai bidang keilmuan yang tentunya membahas metodologi kajian tradisi lisan.

Tradisi lisan yang dikaji pun tak hanya meliputi tradisi dari beberapa suku di Indonesia saja misal Dayak dan Jawa, melainkan hingga Kelantan dan Siberia. Dari beberapa kajian tersebut bisa dimengerti bagaimana peran tradisi lisan dalam membentuk makna kelisanan tiap budaya di lain daerah yang bisa terlihat sama tetapi memiliki makna hingga rasa yang berbeda.

Buku ini mengajak kita memahami bagaimana tradisi lisan berlaku dan berjalan melalui kumpulan metodologi ilmiah hasil pengamatan para ahli. Salah satu pemahaman akan tradisi lisan yang didapat dari buku ini adalah bagaimana bahasa suara, bahasa gerak, dan bahasa visual memiliki perbedaan makna berdasarkan konteks demografinya. Lain ladang lain belalang; istilah yang sangat tepat menggambarkan keberagaman makna tradisi lisan tiap daerah. Dengan kata lain, tidak bisa digeneralisasi makna dari bunyi, intonasi, mimik, gesture, dan guratan antar daerah dengan ragam tradisinya.

Hampir seluruh peneliti dalam buku ini membahas tradisi lisan berdasar dari pengamatan ketika menonton seni pertunjukan dan sastra. Dalam pengamatannya tak ayal para peneliti juga menghadapi problematika metodologis. Salah satu yang menarik adalah saat bagaimana seorang peneliti menemukan bahwa lisan murni yang notabene berasal dan berakhir tanpa keaksaraan pun pada akhirnya membutuhkan aksara/ tulisan juga dalam mereproduksi tradisi lisannya. Bahkan dalam pengkajiannya tetap membutuhkan tulisan karena mau tak mau, mengkaji tradisi lisan adalah bentuk usaha keberaksaraan dari tradisi lisan itu sendiri. Uraian metodologi dari salah satu peneliti tersebut sangat menggugah akal sehat karena menyuguhkan realita bagaimana sulitnya di abad ke 21 ini menemukan wacana-wacana lisan yang murni dan tidak terpengaruh oleh tulisan. Bahkan banyak tradisi lisan yang diucapkan merupakan manifestasi dari teks yang sebelumnya dipersiapkan oleh si pengarang.

Yang tak kalah penting, buku ini bukan hanya membahas tentang simbolisasi sebuah wacana yang terucap (tradisi lisan) ke dalam bentuk aksara, melainkan juga betapa pentingnya peran diskusi panjang dan mendalam antara pikiran serta perasaan guna memindahkan rasa ke dalam bentuk aksara seperti yang identik dilakukan dalam sastra Jawa. Itu adalah hal yang sangat sulit; bagaimana mengaksarakan bermacam rasa yang fungsinya sangat bisa mempengaruhi makna suatu wacana walau terucap sama.

Dua contoh uraian di atas hanyalah sebagian kecil. Masih banyak metodologi yang secara ilmiah teraksara oleh para pakar dari berbagai lintas disiplin ilmu di dalam edisi revisi dari buku Metodologi kajian Tradisi Lisan ini. Mungkin sekilas terasa ada pertentangan antara metodologi yang satu dengan lainnya, tetapi hal itu tidak mengurangi bobot keilmiahan dari para pakar yang menuangkan hasil penelitian mereka tentang tradisi lisan ini. Buku ini menegaskan soal bagaimana metode lisan sebagai cara transfer pengetahuan yang sudah terjadi turun temurun dari abad terdahulu, khususnya pada pengetahuan akan seni dan budaya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.