Milang Kori: Beragam Pintu, Beragam Pengetahuan

oleh Santosa Werdoyo dan Dwi Rahmanto 

Setelah beberapa saat bersafari di dua tempat, yakni di perpustakaan Open Page serta Perpustakaan dan Arsip Puro Pakualaman di area Yogyakarta, kami mencoba membuka jaringan lebih luas ke Surabaya dan Madura dalam rangka perjalanan Milang Kori: Jadikan Aku Pustakawan (milang kori, dalam bahasa Jawa berarti “menghitung pintu”, dapat dimaknai sebagai praktik menjelajahi berbagai tempat untuk mempelajari lokalitasnya). Di dua area ini kami bertemu beberapa komunitas dan individu yang cukup intens dalam kerja-kerja pengarsipan, perpustakaan, literasi maupun aktivitas kesenian. 

Bersamaan dengan perjalanan ini, beragam isu nasional sedang berkembang, seperti perihal UU Pelecehan dan Kekerasan Seksual, KPK, represi para aktivis, serta problem pasca pemilu yang tak kunjung usai dan justru memecah belah komunitas. Kadang isu-isu itu membuat kami berkerut dahi. Tetapi pertemuan dengan kawan-kawan dalam perjalanan Milang Kori: Jadikan Aku Pustakawan membuat kami bersemangat lagi. Bersama-sama kami mempertanyakan model demokrasi macam apa hari ini, sekaligus memantulkan pertanyaan itu pada praktik-praktik pengarsipan yang tentu sudah hidup lama di dalam jiwa masyarakat. Bahwa demokrasi dalam pengarsipan juga menjadi hal yang penting untuk dipertanyakan terus-menerus; setiap komunitas memiliki caranya masing-masing untuk mencatat pengetahuan baik melalui kesenian tradisi ataupun keseharian. Menilik kembali praktik-praktik pengarsipan dan pengetahuan lokal barangkali bisa ditempatkan sebagai upaya untuk membentengi kita dari pertikaian bangsa. 

Rabu malam, 18 September 2019, kami tiba di Surabaya dengan kereta ekonomi yang cukup nyaman. Keesokan harinya kami bertemu Oei Hiem Hwie untuk ngobrol secara eksklusif. Cerita demi cerita tentang Medayu Agung ia sampaikan secara runut. Medayu Agung adalah sebuah perpustakaan dua lantai yang menyimpan beragam koleksi buku dan arsip, bertempat di kompleks perumahan yang diprakarsai oleh Oei Hiem Hwie sendiri. Oei Hiem Hwie lahir di Malang pada 1938. Mama dan papanya berasal dari Tiongkok. 

Dalam perjalanan hidupnya, Oei memilih untuk berkewarganegaraan Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan Harian Trompet Masjarakat, sebuah surat kabar yang mendukung politik Soekarno. Tragedi 1 Oktober 1965 membuat Oei tidak bisa bekerja lagi. Ia ditahan di Kamp Gapsin, Batu pada 12 Januari 1966. Lalu ia dipindahkan ke penjara Lowokwaru, Malang, dimasukkan ke Blok 10-11. Tidak hanya itu, pada 1970-1978 Oei menjadi tahanan politik di Pulau Buru. 

Di Pulau Buru ia bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer. Pada waktu itu Pram meminta Oei untuk menyimpan naskah asli tulisannya yang berjudul Ensiklopedi Citrawi Indonesia, yang ditulis tangan dan diketik menggunakan mesin ketik. Naskah itu berhasil keluar dari Pulau Buru bersama Oei dan disimpan di Medayu Agung. 

Medayu Agung berlantai dua. Dari pintu masuk di lantai pertama, kita bisa melihat foto Bung Karno, tempat duduk dan meja untuk tamu, dan rak besi yang berderet setinggi dua setengah meter berisi buku serta majalah. Ada juga lemari kaca berbentuk persegi panjang berisi koleksi surat kabar Suara Rakyat, Api Pancasila, Ampera serta beberapa media massa yang masih terbit hingga saat ini seperti Kedaulatan Rakyat, Kompas, dan Jawa Pos. Selain itu ada tiga kamar yang khusus digunakan untuk menyimpan buku-buku Pramoedya Ananta Toer serta koleksi buku lama dan langka yang sudah tidak diterbitkan lagi. 

Di lantai atas terdapat berderet rak besi yang berisi koleksi surat kabar dari masa kemerdekaan. Terpampang juga buku-buku bertema sosial-budaya, sosial-politik, ekonomi dan beberapa tema lain. Oei juga membuat kliping dengan tema spesifik yang ia letakkan di sudut ruangan lantai ini. Perpustakaan yang begitu kaya akan pengetahuan ini dapat diakses publik pada Senin-Jumat (09.00-16.00) dan Sabtu (09.00-13.00). 

Setelah Medayu Agung, kami berpindah ke Serbuk Kayu, sebuah komunitas kesenian yang dikelola oleh anak-anak muda. Serbuk Kayu terletak di sebuah kontrakan di perumahan yang tidak jauh dari Kampus UNAIR di pinggir Kota Surabaya. Salah satu kegiatan mereka adalah Timur Liar yang bekerjasama dengan Kolega Warna, Darjoclub, Banyu Genuk, Kuas Patis, Tanjung Market, Kolekjos, Taman Langit, Sektor Kotor, Vila Artspace, Tubgraff, dan Sara. Timur Liar merupakan sebuah kegiatan untuk saling bertemu, berkumpul, dan berjejaring dalam rangka membangun pemahaman atas pola seni rupa saat ini. 

Dari pinggir kota kami melanjutkan perjalanan ke tengah. Tibalah kami di C2O Library and Collabtive. Di ruang depan yayasan ini terdapat perpustakaan dengan koleksi sekitar 7000 buku, komik, dan majalah yang telah dikelompokkan. Pengelompokannya berdasarkan disiplin ilmu, seperti sejarah, seni, arsitektur, dll. Masih di ruang yang sama, terdapat tempat untuk menjual buku serta merchandise baik dari C2O ataupun titipan. Tidak hanya itu, C2O juga punya co-working space dan event space sendiri. 

Kami bertemu Beni Wicaksono yang kemudian berbincang soal perkembangan seni rupa khususnya di Surabaya. Dari Beni kami dihantarkan untuk bertemu Nuzurlis Koto, seorang dosen di STKW yang dulu pernah seangkatan dengan seniman Nunung WS. Ia lebih banyak bercerita tentang sejarah seni rupa di Surabaya pada era 1960-an. Nuzurlis Koto memiliki banyak koleksi barang-barang seni di rumahnya. Selain itu ia juga menyimpan kliping maupun surat-surat seniman Nashar. 

Malam hari berikutnya kami menuju ke Lapak Baca Bakteri di Gang Pesapen di daerah bilangan, Surabaya, berjarak kurang lebih 1 km dari Pelabuhan Tanjung Perak. Kami bertemu Rian. Sangat menarik karena ketika kami datang, kami masih sempat menyaksikan sendiri bagaimana lapak itu digelar. Pengendara motor yang lewat harus menuntun motornya. Ada banyak buku, majalah dan komik anak-anak yang disuguhkan melalui lapak selebar kurang lebih 4 meter beralaskan tikar tersebut. Kurang lebih ada 50-an anak dari kampung setempat yang datang dan saling berinteraksi sembari duduk membaca dan menggambar. Perpustakaan keliling itu diadakan seminggu sekali setiap Kamis malam pada pukul 19.00-21.00. Beragam koleksi itu sebagian didapat dari donasi, hasil tukar dengan jaringan, dan beli menggunakan dana sendiri. Lapak Baca Bakteri adalah salah satu praktik nyata pendidikan dan rekreasi yang begitu dekat dengan masyarakat. 

Dari Surabaya kami menyeberangi Selat Madura. Pertemuan pertama kami di sini berlangsung di Kafe Manifesco, Pamekasan bersama dengan kelompok Khoteka. Pada waktu itu banyak seniman serta para pegiat kebudayaan yang hadir dan berbagi pengalaman. Praktik pengarsipan ternyata bukan hal baru bagi mereka. Dari makanan khas Madura, pendapat generasi muda tentang kotanya, dan hal-hal keseharian lainnya menjadi ingatan yang mereka arsipkan. 

Keesokan hari kami pindah ke Sumenep, masih di Pulau Madura. Kami mengunjungi Pondok Pesantren Annuqayah yang sudah berdiri sejak 1887 di Guluk-Guluk. Di pondok pesantren tersebut kami bertemu KH. Mohammad Faizi. Selain sebagai seorang kyai, ia adalah penulis yang gemar bermain gitar dan bepergian menggunakan bus umum. Faizi sudah mengarungi rute jalan darat di berbagai kota di Indonesia. Tidak sekedar hobi, ia bahkan mengumpulkan semua tiket bus yang didapatkan selama bertahun-tahun. Perjalanan nampaknya menjadi metode pengarsipannya. 

Kami dibuat takjub ketika Faizi mengajak berkeliling area pondok yang terletak di perbukitan ini. Karena begitu luasnya, kami pun harus menggunakan mobil. Pengaruh seorang kyai begitu kuat di sini. Ketika kami lewat di tengah-tengah ribuan santri dan santriwati, sontak mereka menundukkan kepala dan sama sekali tidak berani menatap wajah Kyai. Ini adalah sebentuk tawadhuk murid kepada guru. 

Cara para guru menyebarkan pengetahuan di Pondok Pesantren Annuqayah juga menarik. Tidak ada struktur yang begitu baku. Mengelola pengetahuan dengan basis sastra sudah bukan barang asing bagi mereka. Ini adalah kesenian dan menjadi bagian penting kebudayaan mereka. Sehingga, membaca puisi di sore hari di atas batu-batu besar sewaktu jeda rutinitas sudah lumrah dilakukan. 

Perjalanan ini kami tutup dengan menginap di Dapur Kultur, sebuah perpustakaan yang dikelola secara kolektif dengan koleksi buku sejumlah 5000-an. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan pulang. Dari Sumenep kami naik bus ke arah Surabaya, lalu disambung dengan kereta ke Yogyakarta. Meski perjalanan kami masih sepenggal, banyak sekali pertemuan dan pengetahuan yang kami peroleh. Tidak hanya pengetahuan soal pengarsipan, tata nilai kehidupan serta jejaring baru juga menjadi bagian penting dari rekam perjalanan kami. Bahwa tiap komunitas punya pintunya masing-masing untuk menjadi subjek atas pengetahuannya.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2019.