25 Tahun IVAA: dari Ruang Alternatif hingga Upaya Mencari Demokrasi yang Lain 

oleh Lisistrata Lusandiana

25 bukanlah angka yang kecil jika mengingat sebuah perjalanan lembaga dengan jatuh bangunnya untuk bertahan, berupaya mengikuti gerak zaman serta memberikan yang terbaik bagi masyarakat. 25 juga bukan angka yang besar jika mempertimbangkan panjangnya kerja kebudayaan, banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam rangka menjadi bagian dari proyek bersama konstruksi demokrasi. Tahun depan, usia IVAA tepat berada di angka 25. Di momen inilah, kami berupaya menata diri, baik secara organisasional maupun menata koleksi, agar lebih mudah diakses. Salah satu output yang bisa dilihat dari penataan kembali koleksi ini adalah ‘mini pop up museum IVAA’ yang menunjukkan dinamika program IVAA, sejak awal berdirinya pada 1995 hingga program-program beberapa tahun belakangan.

Koleksi-koleksi yang kami tempatkan di lantai 2 Rumah IVAA ini merupakan cikal bakal dari penyusunan arsip institusional, data-data dan dokumentasi yang terhimpun dari acara yang diselenggarakan oleh IVAA. Bagi kami, menyusun ulang koleksi, kemudian proses memilah dan memilih merupakan aktivitas yang menyulut semangat. Di sudut pemikiran yang lain, penyusunan ulang ini juga menjadi upaya kita dalam membaca perlahan perjalanan yang dilalui IVAA (yang pada awal berdirinya dengan nama Yayasan Seni Cemeti), di tengah kondisi masyarakat untuk menumbangkan Orde Baru. Di tengah konteks itu, keberadaan lembaga seperti IVAA menjadi salah satu ruang yang berdiri dengan spirit alternatif, menjadi bagian dari gerakan masyarakat yang lain, serta menjadi ruang di luar galeri seni komersial. Dalam perjalanannya IVAA harus melalui serangkaian tantangan dan halangan. Dengan aktivitas pengarsipannya, IVAA juga tidak bisa dilepaskan dari perjuangan kolektif di bidang produksi pengetahuan. Sementara kita cukup paham bahwa pengarsipan sendiri menyimpan masalah yang cukup mendasar, sebagai salah satu warisan kolonial. Dengan kata lain, di dalam pengarsipan juga terkandung sistem pengetahuan kolonial. 

Another Democracy is Possible

Catatan tentang Pengarsipan dan Persoalan Sosialnya 

“Batang Garing atau Pohon Kehidupan berbuah dan berdaun emas. Pucuknya runcing menjulang ke langit seolah-olah menunjuk ke kuasa Ranying Mahatala Langit yang menurunkan para leluhur ke Bumi. Di sekitar pohon terlihat rupa-rupa bentuk. Tampak dua ekor ketam, masing-masing di kiri dan kanan bagian batang yang dekat ke tanah. Saat kedua ketam berpasangan, mereka beranak pinak banyak sekali. Lewat kecerdasan menganyam perempuan-perempuan Dayak Ngaju menuangkan kisah asal muasal mereka langsung dari ingatan menjadi selembar tikar rotan. Ketika hutan menipis, rotan semakin langka.”

Nukilan di atas, diambil dari paragraf awal pidato kebudayaan yang disampaikan oleh Karlina Supelli dengan judul ‘Kebudayaan dan Kegagapan Kita’. Dari situ kita bisa melihat bahwa praktik menganyam tikar rotan yang dilakukan oleh para perempuan Dayak Ngaju menjadi aktivitas yang setara dengan kerja pengarsipan. Kisah asal muasal masyarakat Dayak Ngaju dituangkan dan diturunkan dari generasi ke generasi. Pengetahuan soal pewarna alam serta hubungan manusia dengan alam juga dilestarikan dan disebarluaskan dengan cara tersebut.  

Ilustrasi di atas hanyalah satu contoh dari sekian ribu praktik sosial yang masih berlangsung di masyarakat kita. Beragam praktik sosial yang bermakna di masyarakat kita, yang di dalamnya sudah memiliki substansi pengarsipan, yakni upaya melestarikan tradisi serta transmisi pengetahuan, menjadi alasan kita untuk melihat kembali definisi pengarsipan. Dari sini, kami yakin bahwa salah satu langkah yang perlu kita lakukan ketika membicarakan praktik pengarsipan adalah redefinisi. 

Meski demikian, di sisi lain, IVAA melakukan kerja pengarsipan dalam arti yang paling konvensional, yakni pengumpulan data, pengelolaan penyimpanan hingga penyediaan data seluas-luasnya melalui portal online. Perluasan akses terhadap arsip adalah salah satu langkah dalam demokratisasi pengetahuan. Singkat kata, sambil mempraktikkan kerja-kerja pengarsipan sejauh yang bisa kami lakukan, di sela-selanya kami berupaya mempertanyakan praktik pengarsipan yang kami jalani serta yang berjalan di sekitar kita. 

Catatan ini merupakan renungan dan kegelisahan yang hadir dari kerja harian kami di IVAA, yang selalu berurusan dengan seni budaya dan pengarsipan. Masing-masing lapisan kerjanya memiliki persoalan tersendiri sekaligus konteks yang tidak bisa kita hilangkan. Selain itu, salah satu peristiwa yang melahirkan IVAA adalah reformasi. Tidak hanya peristiwa, reformasi membawa spirit jaman beserta tantangan dan peluang akan hadirnya tata pemerintahan baru, tata sosial baru yang tidak seotoritatif Orde Baru. Singkat kata, reformasi seolah hadir dengan harapan akan munculnya demokrasi yang baru. Pada kenyataannya, benarkah demokrasi yang baru hadir di sekitar kita? 

Sebagai lembaga yang dekat dengan semesta acara kesenian, dunia kreativitas seniman, dan perihal bagaimana pengetahuan disimpan dan disebarluaskan, kami merasa bahwa demokrasi justru hadir melalui tiga wajah: wajah ekonomi kreatif, wajah wisata kebudayaan dan wajah percepatan pembangunan infrastruktur. Wajah ekonomi kreatif sering kali muncul melalui komodifikasi seni, yang mengecilkan nilai kreativitas di hadapan nilai industri dan ekonomi. Hal yang sama terjadi pada wisata kebudayaan yang lebih menekankan pada faktor keuntungan ekonomi dalam menggalakkan kegiatan wisata budaya. Sementara wajah percepatan pembangunan secara fisik hadir dengan rencana pembangunan bandara, pembangunan berbagai sarana penunjang wisata dan bisnis, serta pembangunan berbagai macam industri yang sering tidak sesuai dengan wajah sosial kita. 

Di tengah kondisi yang sedemikian carut-marut dan demokrasi yang hanya berjalan secara prosedural, kita berhadapan dengan pertanyaan yang sangat realistis: di mana posisi seni, aktivitas kesenian dan kerja-kerja pengarsipan? Posisi politis inilah yang sedang ingin kami tegaskan, sebagai lembaga yang sehari-harinya bergelut dengan bermacam kegiatan seni budaya dan pengarsipannya. Kami tidak bisa mengabaikan konteks ataupun tanah di mana kita berdiri dan hidup. Dalam proses penguatan posisi politis tersebut, kami memegang keyakinan bahwa “Demokrasi yang lain itu mungkin!”

Tagline ini sengaja kami garisbawahi untuk mengingatkan pada kita, bahwa demokrasi kita hari-hari ini bukan demokrasi yang kita inginkan. Selain menjadi pengingat, tagline tersebut sengaja kita jadikan pegangan dan spirit, agar aktivitas harian kami selalu diliputi semangat dan energi yang melimpah ruah untuk mewujudkan demokrasi yang kontekstual, demokrasi yang sesuai dengan corak sosial masyarakat kita. 

Dengan semangat untuk melakukan refleksi, melihat kembali praktik seni dan pengarsipan yang selama ini dijalani, IVAA hendak menyambut usianya yang ke-25 dengan memberikan penekanan sekali lagi pada keterhubungan antara seni dan demokrasi.

Artikel ini merupakan rubrik Baca Arsip dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2019.